SRATTT SREETTT

Ia terus berkutat dengan kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Keningnya berkerut sejak setengah jam yang lalu dan mungkin akan menimbulkan kerutan permanen disana.

Ia menopang kepalanya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya sibuk mencoret-coret kertas dihadapannya.

"Ini… Ini… Ini juga… Dan ini… Lihat ini!", katanya sambil membuat bulatan tebal diatas kertas dengan tinta merah.

"W-waeyo?!", tanya orang lain disana dengan nada cemas.

"Ini SALAHHH!"

"EEHHHHH?! Wae? Kenapa masih salah jugaaa~", orang itu menarik kertas dan yaa banyak sekali tanda merah disana.

"Kenapa malah balik bertanya?! Apa kau tidak mengikuti petunjuk yang kuberikan, eoh?! Apa kau tidak memperhatikan apa yang ku jelaskan sejak dua jam yang lalu, EOH?!"

"Ta-tapi, Joongie sudah mengerjakan semuanya sesuai dengan apa yang Oppa ajarka—"

"Lalu kenapa masih salah?! Aish!", ia meremas rambutnya sendiri, frustasi.

"Jangan terlalu keras begitu, Yunho-ah…", suara seseorang dari dapur.

"HAHHH! Ini sulit dipercaya!", Yunho, ia membaringkan dirinya ke lantai, meluruskan punggungnya, mencoba menenangkan diri.

"*Hiks* Ummaa~"

"Berhenti merengek dan memanggil Umma seperti itu, Kim Jaejoong!"

"U-umma… *hiks… Hueeee~*"

Ah! Dia berhenti merengek tapi malah menangis sekarang. Jung Yunho… Ini salahmu!

.

.

HARD TO BELIEVE
Genre: Romance/Humor(
Drama)
Warning: GENDERSWICH, TYPOS, not-so-experience-author
Disclaimer: Semua pemeran adalah milik Tuhan dan keluarganya.
Main Cast: YUNJAE!
Tidak suka? Jangan Baca ^^

BAB VII
PROJEK 80, RUMAH SAKIT, PERSAINGAN

.

.

Di sebuah rumah megah, di ruang kerja seseorang disana…

TOK TOK TOK

"Masuk", sahut orang itu dari dalam ruangannya. Ruangan dengan nuansa Eropa abad pertengahan, kontras sekali dengan penghuni didalamnya yang adalah orang Asia.

"Sajang-nim, Tuan Park ingin bertemu denganmu.", kata seorang butler.

"Aaa~ Suruh dia masuk! Aku memang sedang menunggunya.", perintahnya pada butler itu.

Si butler membungkuk hormat lalu kembali keluar ruangan. Tak berapa lama, tamu yang di maksud pun masuk.

"Annyeonghasseyo, Halabeoji. Bagaimana kabarmu?", sapa si tamu sambil melangkah mendekat.

"Aku amat sangat baik… Mendekatlah Yoochunie… Apa kau membawa apa yang ku pesan padamu?", kata pria 70-an tahun itu pada tamunya.

"Ne… Tentu saja, dan sangat banyak!", Yoochun, ia tersenyum bangga lalu meletakkan amplop ukuran cukup besar di atas meja dihadapan kakek itu.

Si kakek membukanya dan mengeluarkan isinya.

"Aaa~ Kerjamu bagus, aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu Yoochunie…", katanya sambil melihat-lihat apa yang baru saja ia keluarkan dari dalam amplop itu.

"Oh iya, dan ini ada beberapa yang diambil terpisah, seorang teman membantuku mendapatkannya…", lanjut Yoochun sambil menyerahkan amplop lain yang berukuran sama.

"Jinjjayo?! Aigo… Lain kali kau harus mengajak temanmu itu, aku harus berterima kasih padanya."

"Ne, lain kali aku akan datang bersamanya, Halabeoji…", balas Yoochun sambil tersenyum. Ia membungkuk tanda pamit pada kakek itu lalu keluar dari ruangan.

Si kakek masih terus saja memperhatikan lembar demi lembar photo-photo yang ada ditangannya. Ia berhenti dan memperhatikan salah satu photo lebih lama. Photo yang mengabadikan potret seorang gadis manis yang sedang tertawa lepas.

"Jadi… Ini pilihanmu, hem? Seleramu sangat bagus! Hhh, semoga kau tidak melakukan kebodohan yang sama seperti appa-mu dulu. Anak bodoh itu. Aish, kau benar-benar anak bodoh!", kata si kakek emosi sambil menatap marah photo lain yang ia pajang dimejanya, photo tiga namja, satu adalah dirinya dan satu namja lain yang lebih muda darinya sedang memangku namja kecil yang memeluk boneka beruang.

BRAKKK!

Pintu ruangan itu dibuka dengan kasar.

"Tu-tuan Muda, Anda seharusnya tidak boleh seperti itu…", kata seorang butler dengan wajah pucat pasi.

"Biarkan saja, kau boleh pergi.", kata si kakek pada butler yang lalu membungkuk kemudian pergi.

"Halabeoji… Sedang sibuk apa?", ucap pembuat onar itu dengan wajah santai.

"Kau! Kau ingin melihatku cepat mati karena serangan jantung, EOH?!", marah si kakek.

"Aigo~ Itu yang akan membuatmu kena serangan jantung, memarahiku.", sanggah namja muda itu, si kakek hanya mengeleng-geleng, ia lelah selalu kalah jika sudah perang kata dengan cucunya yang satu ini.
"Eh? Ini siapa, Halabeoji? Oo~ cantik sekali~", lanjutnya sambil menarik photo yang tengah di pegang sang kakek.

"Wae? Kau menyukainya?! Jangan harap! Dia akan menjadi cucu-mantuku, kau tahu?!"

"Tapi aku cucumu, Halabeoji~"

"Ahh~ kau benar *diam*. Aish, kau hanya membuatku pusing! Kembalikan photo itu!", kata si kakek mencoba menggapai photo tersebut dari tangan cucunya.

"Eits… Aku ambil ini untuk ku simpan, ne~", ucap namja itu lalu melesat keluar.

"YA! Kembali kemari! YA! Jung Yonghwa!"

.

.

===HARD TO BELIEVE===

2 minggu menjelang ujian semester…

"*nyam nyam* Kau sedang tidak bersemangat, Jaejoongie?", tanya Changmin saat jam istirahat.

Changmin , Jaejoong, Kibum dan Junsu menghabiskan waktu istirahat mereka bersama-sama di kantin.

"*geleng-geleng* Joongie hanya sedikit capek hari ini, Changminie…", jawab Jaejoong yang menyandarkan kepalanya ke meja kantin. Hanya dia yang tidak makan saat itu.

"Aigo~ Kau pasti tertekan soal nilai 80 itu, ne?", tanya Junsu sambil mengelus pelan kepala Jaejoong.

"Kau seharusnya bilang pada Yunho Sunbae-nim kalau kau memang tidak sanggup, jangan memaksakan diri begitu, itu tidak akan membuat keadaan jadi lebih baik…", nasehat Kibum. Duo ChangSu mengangguk setuju.

"Aniyo…", Jaejoong kembali duduk dengan benar, "Ini bukan karena Yunho-Oppa dan keinginannya untuk membuat nilaiku jadi bagus. Tapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan mendapatkan nilai itu, apapun yang terjadi, hm!", Jaejoong mengepalkan tangan kanannya ke udara. *fighting umma!*

"Yaa… Terserah kau saja lah…", timpal Kibum lalu melanjutkan acara membacanya.

"Kau tidak makan, Jaejoongie?", tanya Junsu.

"*geleng-geleng* Aku tidak begitu lapar Junsuie. Lagipula bekalku tertinggal lagi hari ini… Dan aku malas membeli makanan disini, tidak ada yang enak.", jawab Jaejoong.

"Omooo~ Kau mau makan bekalku? Kau harus makan biarpun sedikit.", tawar Junsu tapi hanya dibalas gelengan kepala oleh Jaejoong.

"Kalau begitu biar aku saja yang memakannya, nee~", ucap Changmin sambil menarik kotak makan Junsu.

PLAKK!

Junsu menepis tangan-panjang itu dan menarik kembali kotak makannya. Changmin hanya mem-pout-kan bibirnya.

"Pelit!", kata Changmin.

"Ini, makan punyaku saja. Aku terlalu banyak membawa bekal hari ini.", Kibum menyodorkan kotak makannya.

"Aaaa~ Gomawo, Kibumie~ Kau yang terbaik!", Changmin dengan senang hati menarik Kibum ke rangkulannya.

"Heu.. heu.. Changminie dan Kibumie terlihat seperti pasangan kekasih ne~", komentar Jaejoong sambil cekikikan.

Kibum menyembunyikan pipi merahnya dengan buku yang ia pegang. Sementara Changmin… dia sedang berkonsentrasi menikmati makanan dari Kibum. Menurutnya, makanan itu makanan terenak kedua yang pernah ia makan setalah makanan buatan Jaejoong.

"Yo! Jaejoongie!", seseorang tiba-tiba muncul di samping Jaejoong.

"HA! Omoo~ Yoochun Sunbae-nim, kau membuatku kaget…", kata Jaejoong sambil mengelus dada. Kini Jaejoong duduk diantara Junsu dan Yoochun.

"Sedang apa disini, Sunbae-nim?", tanya Junsu.

"YA! Apa kau tidak punya pertanyaan lain ketika melihatku, eoh? Kenapa kau tidak bertanya 'Apa kau ingin makan bekal buatanku, Sunbae-nim?'", kata Yoochun sambil menirukan suara wanita. *iyyyuhhh~*

"Bilang saja kau memang ingin makan bekal buatanku, kan?", tanya Junsu, tepat ke sasaran.

"A! Aku ketahuan…", jawab Yoochun lalu menundukkan kepala.

"Aigo~ Sayang sekali… Tapi, bekalku sudah habis.", balas Junsu datar.

Jaejoong yang berada di tengah seperti sedang menyaksikan permainan bola pingpong, pandangannya terarah pada Junsu dan Yoochun secara bergantian.

"EHH?!", teriak Yoochun kecewa.

"Heu.. Heu.. Kalian juga terlihat seperti sepasang kekasih ne~", komentar Jaejoong kemudian.

"Dan kau sendiri kekasih Yunho, kan?!"/"Dan kau sendiri kekasih Yunho Sunbae-nim!", balas YooSu bersamaan.

Mereka berempat pun tertawa sementara Jaejoong berusaha mencari cara menyembunyikan pipinya yang merah dengan kedua tangannya.

.

.

===HARD TO BELIEVE===

"Selesai… Tolong di periksa, Oppa…", Jaejoong menyerahkan kertas jawabannya pada Yunho.

Seperti biasa, hari itu sepulang sekolah, Jaejoong dan Yunho pulang bersama untuk belajar di rumah Yunho. Ujian semester tinggal sebentar lagi, dan Jaejoong bertekad kuat untuk mendapatkan nilai rata-rata 80 kali ini.

"Hm… Lumayan, tapi, nomor 7 masih salah. Kau harus lebih teliti lagi. Nomor 15 dan 19 juga. Kerjakan lagi…", Yunho menyerahkan kembali kertasnya pada Jaejoong.

"Ne~", jawab Jaejoong.

'Eh? Tumben sekali dia tidak berisik…', batin Yunho melihat Jaejoong yang lebih 'tenang' dari biasanya.

"Yunho-ah? Bisa kau tolong antarkan ini sebentar ke rumah Nyonya Goo? Sebentar saja, ne?", Jung Umma menyerahkan kotak yang-entah-berisi-apa pada Yunho.

"Baiklah, aku antar sekarang…", Yunho bangkit, membawa kotak dari Jung Umma lantas pergi.

"Tidak apa-apa kan Jaejoongie di tinggal Yunho sebentar?", tanya Jung Umma merasa bersalah pada Jaejoong yang sedang sibuk mengerjakan soal.

"Gwaenchana, Umma…", jawab Jaejoong sambil tersenyum kearah Jung Umma.

"Ya sudah, Umma tinggal sebentar, ne? Kalau butuh apa-apa, umma ada di halaman belakang, ne?",

"HmHm…", Jaejoong hanya menggumam sambil mengangguk.

Setelah Jung Umma pergi, Jaejoong kembali mencoba mengerjakan soal yang sedang ia kerjakan sebelumnya.

"Baiklah… Jadi ini… Harus dicari dulu… Lalu…", Jaejoong terus bergumam tidak jelas sambil menggoreskan pensilnya diatas kertas.
"Hmm…? Kenapa angka-angkanya tidak mau diam… Ih!", Jaejoong menutup kertas itu dengan kedua tangannya.

Ah~ Bukan angka yang tidak mau diam, tapi Jaejoong sedang pusing sehingga pandangannya kabur dan mulai berkunang-kunang.

"Joongie ngantuuk~"

Ia mengambil beberapa bantal di atas sofa, lalu membaringkan dirinya di atas karpet, mencari posisi yang enak untuk tidur sejenak. Tak lama ia tertidur.

Sekitar 20 menit kemudian…

CKLEK!

"Aku pulaaang~", sapa Yunho yang baru saja kembali.

Ia melihat Jaejoong yang tertidur dengan posisi memeluk lututnya diatas karpet.

"Astaga… Anak ini! Apa dia tidak bisa sekali saja berbuat sesuatu dengan benar? Kalau tidur di karpet seperti itu bisa masuk angin… Ck!", Yunho bersimpuh dihadapan Jaejoong lalu mengguncangkan bahunya pelan.
"Hey, Jaejoongie… Bangun… Jangan tidur seperti ini, kau bisa sakit! Hey!", Yunho berusaha membangunkan Jaejoong.

"Hnggggh… Oppa…", erang Jaejoong.

'Apa-apaan dia ini? Membuatku ingin menyerangnya saja.', batin Yunho. *serang appa!* #ditoyor-umma

"Bangun… Kalau mau tidur, kau bisa berbaring di sofa, jangan disini…", Yunho hendak mengangkat Jaejoong ketika Jaejoong menggenggam kuat lengannya. Dan…

"Jaejoongie?! Kenapa tanganmu beku seperti ini, eoh? Gwaenchana?", Yunho mulai panik saat mendapati wajah Jaejoong yang pucat dan berkeringat dingin.

"O-Oppa… Perutku sakiit… Rasanya seperti mau meledak…", kata Jaejoong lemah sebelum akhirnya jatuh pingsan di pelukan Yunho.

"Jaejoongie?! Kim Jaejoong?! Bangun, jangan menakutiku seperti ini, YA!", Yunho menepuk-nepuk pipi Jaejoong berusaha membuatnya bangun.

"Ada apa, Yunho-ah?! Kenapa berteriak-teriak?!", tanya Jung Umma sambil berjalan menghampiri Yunho.
"OMO?! Jaejoongie? Astaga, badannya panas!", kata Jung Umma juga panik setelah meraba kening dan leher Jaejoong.

"Umma, apa yang harus kulakukan?!", tanya Yunho, pikirannya sama sekali kosong saking paniknya.

"Umma panggil taksi, ne? Kita bawa Joongie ke rumah sakit!", Jung Umma lalu pergi memanggil taksi.

"Jaejoongie, bangunlah… Maafkan Oppa, kumohon bangunlah…", ucap Yunho sambil memeluk Jaejoong yang tidak sadarkan diri.

.

.

Di rumah sakit.

Yunho dan Jung Umma menunggu Jaejoong yang sedang diperiksa dokter. Tidak lama Tuan Shin dan Jun Ahjumma bergabung. Mereka berempat menunggu dengan cemas.

"Apa Tuan Besar dan Tuan Muda Hyunjoong sudah tahu soal ini?", tanya Tuan Shin pada Jun Ahjumma.

"Ne… Aku sudah memberitahu Tuan Muda, tapi ia bilang ia akan memberitahukan Tuan Besar sendiri...", jelas Jun Ahjumma.

"Apa Jaejoongie hanya tinggal bersama kalian?", tanya Jung Umma.

"Eh? N-ne, Tuan Besar menetap di Hongkong beberapa tahun ini dan Tuan Muda Hyunjoong juga dipindahtugaskan ke Jepang baru-baru ini…", jelas Tuan Shin.

"Aigo~ Kasihan Jaejoongie… Kenapa dia tidak ikut mereka saja?", tanya Jung Umma tidak bisa menutupi rasa ingin tahunya.

"Aniyo… Nona bersikeras ingin tetap di Korea, itu membuatnya merasa dekat dengan Umma-nya.", jawab Jun Ahjumma.

"Memang Umma-nya dimana?", tanya Jung Umma.

"Nyo-nyonya… Nyonya… sudah…", lanjut Jun Ahjumma ragu.

"Ah! Aku mengerti aku mengerti, maafkan aku…", sela Jung Umma.

Tidak lama setelah itu, dokter yang menangani Jaejoong keluar.

"Bagaimana Joongie, dokter? Dia baik-baik saja kan? Dia tidak kenapa-kenapa kan? Katakan dokter!", tanya Yunho bertubi-tubi.

"Tenanglah, Yunho-ah…", Jung Umma menarik Yunho sedikit menjauh dari dokter itu.

"Apa kalian keluarganya?", tanya dokter.

"Kami pengasuhnya!", jawab Tuan Shin dan Jun Ahjumma bersamaan.

"Ah, begitu. Apa Nona Kim sering melewatkan jam makannya belakangan ini?", tanya dokter lagi.

"Ani… Nona, selalu makan tepat waktu…", jawab Jun Ahjumma.

"Begitu? Lalu, apa Nona Kim sering mengkonsumsi makanan instan?", lanjut si dokter.

"RAMEN!", jawab Yunho, Jung Umma dan Jun Ahjumma bersamaan.

"Belakangan ini, hampir setiap hari Nona selalu minta di buatkan ramen instan, dokter.", jawab Jun Ahjumma.

"Aaa… Pantas saja. Ada sedikit infeksi di lambungnya, tapi tidak terlalu parah. Beruntung cepat di bawa ke rumah sakit. Setelah ini, Nona Kim harus rawat inap, setidaknya untuk 3 sampai 4 hari dan tolong perhatikan makanannya, jangan sampai dia makan makanan instan lagi untuk waktu dekat ini. Nona Kim sudah dipindahkan ke ruang rawat, kalian bisa menjenguknya.", jelas dokter itu lalu mohon diri.

Yunho yang mendengarnya bergegas pergi ke ruangan Jaejoong. Dibukanya pintu ruangan itu dan memperlihatkan Jaejoong yang terbaring diatas tempat tidur dengan piyama rumah sakit, selang infus terpasang di pergelangan tangan kirinya. Ia menghampiri Jaejoong yang tertidur pulas.

"Jaejoongie… Kau membuatku hampir gila, kau tahu itu?!", kata Yunho sambil membawa tangan kanan Jaejoong ke pipinya lalu mengecupnya lembut.

Beberapa jam kemudian…

Yunho tertidur dikursinya disamping tempat tidur Jaejoong, tangannya tidak pernah lepas menggenggam tangan Jaejoong. Sampai ia terbangun ketika merasakan gerakan halus dari tangan pujaan hatinya itu.

Ia bangkit lalu mengusap kepala Jaejoong.

"Jaejoongie… Kau bisa mendengarku? Apa kau sudah bangun? Apa yang kau rasakan, hem?", tanya Yunho penuh perhatian.

"Oppa… perutku sakit…", jawab Jaejoong lemah.

"Ini gara-gara kau selalu makan ramen instan, kau tahu itu? Aku tidak akan mengijinkanmu menyentuh ramen setelah ini, arra?!", Yunho tak bisa menahan rasa marahnya, marah karena sayang tentunya.

"Mianhae… Oppa… Aku selalu menyusahkanmu…", jawab Jaejoong sedih.

"Sshhh… Sudahlah, sekarang istirahat ne? Dokter bilang kau akan tinggal disini untuk 3 sampai 4 hari, kau butuh banyak istirahat…", Yunho berkata sambil merapikan poni Jaejoong.

"Lalu… Bagaimana dengan ujianku, aku harus tetap belajar, ne Oppa? Aku harus dapat nilai 80—"

"Jangan pikirkan itu sekarang, ne? Perhatikan saja kesehatanmu, itu yang lebih penting dari apa pun…", sela Yunho.

Jaejoong mengangguk lemah. Yunho membawa wajahnya lebih dekat dengan Jaejoong, disibakkannya poni yang telah ia rapikan lalu mengecup sayang kening Jaejoong.

CHUU~

Jaejoong menutup matanya dan tersenyum. Ia sangat bersyukur bisa bersama Yunho.

Yunho menjauhkan wajahnya dan mengusap pipi Jaejoong dengan punggung tangannya sambil tersenyum. Lalu…

CKLEK! BRAKK!

Pintu ruangan itu dibuka sedikit kasar.

Seorang pria paruh baya masuk dengan tergesa, bisa di bilang ia berlari kearah Jaejoong berada.

"Appa! Tenanglah, ini rumah sakit…", kata seorang pria lain di belakangnya yang sudah tidak asing lagi untuk Yunho, pria yang sempat mendaratkan pukulan di wajahnya. Siapa lagi kalau bukan Hyunjoong.

"Appa… Hyunjoong-Oppa…", gumam Jaejoong.

Orang yang Jaejoong panggil appa itu pun langsung memeluk Jaejoong disana. Yunho melangkah mundur memberi ruang pada keluarga kecil itu.

"Appa…", panggil Jaejoong menyadari appa-nya menangis ketika memeluknya.

"Anak nakal! Kau ingin membuat orang tua ini mati khawatir, eoh?!", katanya setelah melepaskan pelukan pada putri kesayangannya itu.

"Appa… Mianhae… Joongie tidak bermaksu—"

"Setelah ini, kau ikut appa, ne?! Sudah ku kira, memang bukan hal yang tepat meninggalkanmu sendirian di Korea. Kita pindah ke Hongkong, hem?", kata Kim Appa sambil mengelus kepala putrinya.

Mendengar itu, Jaejoong dan Yunho membuka mata lebar karena kaget, mereka saling bertatapan, mencari kekuatan di satu sama lain.

"Kau urus semuanya, Hyunjoong-ah…", kata Kim Appa pada anak pertamanya.

Hyunjoong melirik Jaejoong dan Yunho yang saling menatap. Kim Appa belum tahu menahu soal hubungan Jaejoong dan Yunho. Tapi satu hal yang bisa Hyunjoong pastikan, ia atau siapa pun, tidak bisa membantah apa yang dikatakan Kim Appa.

.

.

===HARD TO BELIEVE===

Beberapa hari sejak Jaejoong di rawat di rumah sakit.

Di sekolah.

Seorang namja tampan dengan senyum manis itu memasuki kantin sekolah SMA Toho untuk pertama kalinya. Dia melirik kesana kemari mencari bangku yang kosong. Tak lama ia mendapati tempat kosong dekat wastafel.

Ia duduk dan mulai menyantap makanannya. Di belakangnya duduk sekelompok siswa lain, yang ia yakini adalah sunbae-nya, yaa karena ia siswa tingkat satu disini, maka, sebagian besar siswa disana pastilah sunbae-nya.

"Ya! Apa kalian ikut menengok Jaejoongie hari ini?", tanya seorang namja dengan suara husky-nya pada tiga orang lain yang ada dimeja itu.

'Jaejoongie? Apa mereka sedang membicarakan Kim Jaejoong?', batin si anak baru.

"Tentu saja… Kita semua harus pergi menjenguknya!', jawab orang disana dengan suara mirip lumba-lumba.

"Hmm… Aku dan Changmin akan mampir ke toko buah sebelum ke rumah sakit.", lanjut yeoja berkacamata diantara mereka.

"Baiklah, kita bertemu dirumah sakit jam 4 sore, eotte?", tanya namja yang paling tinggi daripada namja bersuara husky tadi.

Ketiga lainnya mengangguk setuju.

"Eumm… Permisi… Apa kalian sedang membicarakan Kim Jaejoong?", tanya si anak baru setelah membalikkan kursinya menghadap pada sunbae itu.

"Eh? Kau siapa?", tanya Junsu. Yoochun yang duduk membelakangi si anak baru tidak langsung mencari tahu siapa orang itu, meskipun ia merasa ada yang aneh, karena ia merasa tidak asing dengan suara si anak baru.

"Aku siswa baru disini, tingkat satu. Perkenalkan, Jung Yonghwa imnida…", si anak baru yang menyebut dirinya Jung Yonghwa itu pun membungkuk hormat pada para sunbae dihadapannya.

Mendengar marga Jung disebut, Yoochun langsung mengarahkan pandangannya pada anak baru tersebut.

"Kau—"

"Yo! Yoochun-hyung… ", sapa Yonghwa sambil melambaikan tangan kanannya pada Yoochun.

"Eh? Kalian saling mengenal?", tanya Junsu bingung.

"Hemm.. Begitulah. Aku tidak sengaja mendengar obrolan kalian tentang menjenguk Jaejoongie, apa yang kalian maksud itu Kim Jaejoong? Apa dia sedang sakit..?", tanyanya innocent.

"Ya, Kim Jaejoong, dan tidak, dia sedang melakukan fashion-show disana. Tentu saja dia sedang sakit, maka dari itu dia berada di rumah sakit. Kau itu, pabbo…", celetuk Changmin yang mendapat 'sikutan-sayang' dari Kibum.

"Ah! Sakit~", keluh Changmin sambil mengusap lengan bawahnya.

"Lupakan omongan bodohnya.", kata Kibum.

"Ahhaha… Tidak apa Sunbae-nim… Jadi apa aku boleh ikut kalian menengok Jaejoongie?", tanya Yonghwa lagi.

"'Jaejoongie'?! Apa hubungan kalian? Dia itu seniormu, kau jangan tidak sopan seperti itu!", kata Junsu sedikit emosi.

"Hem… Jaejoongie itu, eum… bisa dibilang adalah calon istriku dimasa depan…", jawab Yonghwa enteng.

*hening*

"MWO?!", Changmin, Junsu, Kibum, termasuk Yoochun berteriak kaget dengan pernyataan hoobae mereka itu sampai-sampai seluruh isi kantin ikut hening dibuatnya.

"Begitulah…", lanjut Yonghwa sambil tersenyum lebar.

.

.

.

===To be continued===

.

.

.

Ini...! Benar-benar Sulit Dipercayaaaa...!
Nahhhh ya. Pemirsa Yunjae di seluruh galaksi! *whuuuu~*
Author tahu, author tahu, setelah ini akan ada yang memberi author beragam racun serangga. Ckck.
Dan author udah nambahin Drama di genrenya… So, kayanya HTB emang bakal jadi complicated *apaaa coba* #siapin-tali-gantung-diri.
Dan gatau kenapa, sekuat apapun author bertekad membuat cerita ini lebih panjang, kalo udah nyampe 10 halaman Word, udah, WUZZHH~, idenya menghilang…
Mianhae *bow bow bow*

.

.

.

===Balesan Review===

meirah.1111 : aigo~ jangan begitu lah.. sini-sini *peluk*. Nah, kan! Ketahuan oknum yg dari Iceland wkwk. Soalnya mencolok sekali, cuman sebiji di traffic stats-nya lol. Ne, udah dapet restu tuh, aseek *joged-bareng-yunppa*. Awas! Jangan terlalu menghayati peran umma, nanti ketularan #dijewer

desi2121 : Mianhaeyoooo~ Author ga usah jawab pertanyaan chingu yang ini ya #ditabok. Nanti ada bab spesial ko chingu, isinya sesuatu yang spesial yang terlewatkan di main story-nya HTB.. *jawaban-aneh*

Nara-chan : bukan yunppa namanya kalo ga suka godain jaemma. Haha. Author juga ga usah jawab pertanyaan Nara-chan… Udah bisa menemukan jawabannya? *kabur*

Aichan : malah tadinya mau dibikin tunangannya umma loh! Tapi author masih sayang nyawa *lirik-pemirsa*. Ayahnya yunppa gituuu ^3^ ? Yakiiin? Gahahahaa #tawa-setan

Julie Yunjae : Yo! Chingu! Update udah sekilat kiriman paket tiki nih! Susah emang bikin appa bukan jadi orang kaya, karakter bangsawannya tuh melekat erat gimana gitu *yah-keceplosan-deh*

noviuknow : tunggu bab spesial untuk menjawab pertanyaanmu nee~ ^_^v. umma ga dibully appa ko, Cuma digodain aja, nyahahahaa

aku suka ff : gomawo~ udah lanjut nih, baca lagi ne~

Guest : UDAH NIH LANJUUUUT! *capslock-dimonopoli-sama-Jiji*

Yunii : Rusuh rusuh rusuh, inilah chingu, prahara rumah tangga Yunjae *woaa~*

Nina317Elf : *phew* baguslah… Ne, jaemma dicintai semua orang #peluk-umma. Udah panjang belom neh? Mesti nambah berapa meter lagi? *gaya-tukang-kain-tanah-abang*

Han Neul Ra : Anyeooongg~ Senangnya ada pemirsa baru (o^.^)o fufufufu~ itu bukan orangnya Hyunjoong neee~ lalu orang siapa ya? Orang-orang sawah kah? #tabok.

LeeKim : yah sudahlah, yang penting nongol lagi aja dimari, yak?! Siapa ya? Aduh siapa tuh? Siapa dong? #dibakar.

gery miku : annyeoonngg~. Iya nih, jadi drama begini ceritanya, sesat nih authornya. Ohohohoooo~ pastinya Happy ending, Cuma perjalanan menuju happy-nya aja yang agak berat chingu, ckckck #diarak-pemirsa

riska0122 : annyeong~ jangan ngebut2 chingu, kalem aja kalem~ ne, ne, Yunjae saling melengkapi wuhuuu! Jangan di tebar-tebar gitu, nanti Junsu marahin author gimana? *sembunyi-dari-Junsu*. Udah asap nih, sampe *uhuk-uhuk*, tuh, ampe batuk chingu ._.a

.

.

Promo lagi pemirsa…
Mari bercengkrama bersama author sinting ini di _ikkimassu on twitter
^3^