Tales of the Steel Flower Princess


[Halo, readers sekalian! Jumpa lagi dengan Kaien di chapter ke-7 dari Tales of the Steel Flower Princess! Baiklah...sebelum mulai ceritanya, Kaien balas dulu review para reviewers sekalian :D

1. Teddygirl: Hahaha...kalau updatenya juga ga bisa terlalu sering, tergantung apakah saya punya waktu luang atau tidak :)

-o-

2. Saika Tsuruhime: Wah...makasih untuk pernyataannya, Saika-san ^^

-o-

3. Zephyrus 123: Hmm...setelah saya melihat 3 reviewan Anda, saya menyadari kesalahan pada chapter sebelumnya. Tapi, setau saya untuk penulisan 'dimana', 'nafas', 'gagang' seharusnya sudah betul. Tapi yang 'nafas' itu memang terkadang ada yang tulis nafas, ada yang tulis napas. Oh...namanya tidak terlalu sulit dihafal kok tapi mungkin karena tulisan han zi-nya saja yang membuat Anda sulit menghafalnya. Makasih untuk review dan comment-nya ^^

-o-

4. Black Roses 00: Iya, Yin kena timeslip hahaha. Kan asalnya dia dari Beijing dan pada saat terjadinya timeslip itu tahun ini :D. Kalau untuk pertanyaan yang dia bakal balik atau tidak, masih rahasia :D

-Zhao Yun: Huang Jin ganggu acara aku nembak cewe nih #ngambek

-Cao Yin: #ga sempet denger kata-kata Zhao Yun jadinya bingung kenapa Zhao Yun ngambek

Kalau cerita tentang Zhao Yun...nanti ada dimulai di chapter yang kelihatannya bakal jauh dari chapter sekarang..hahaha :D Terima kasih untuk reviewnya :D

-o-

5. Anon desu: Pertama, saya ucapkan terima kasih atas review dan kritik Anda. Saya akui kalau cerita saya memang cukup banyak typo-nya dan mengenai karakter saya yang Mary-sue itu, saya akan berusaha untuk menghilangkan mary-sue itu. Wah...malah saya tidak menganggap kritik Anda sebagai 'flame' loh. Ahaha..my bad... Baiklah, sekali lagi, saya ucapkan terima kasih. Mohon maklumi jika cerita saya masih ada typo dan lain-lain, saya masih author pemula di sini dan baru pertama kali ini bikin cerita seperti ini.

6. Mocca-Marrochi: Saya ucapkan terima kasih banyak atas follow dari Mocca-senpai :D Iya, di chapter 5 itu ada personal quotenya Cao Yin :D Terima kasih atas review dan follow dari Anda. Mengenai yang nasib mereka nanti... *smirk* ditunggu saja updatenya lol *ditusuk backstab*

-o-

Baiklah...langsung ke ceritanya! #author hilang jadi asap (emang ninja?)]


Disclaimer: I don't own the DW charas and a new OC here that will be introduce in this chapter :D I just own the storyline, Cao Yin, Liu Xingyun and some others...and, there will be another new OC here but, this OC's not mine. The author Marysykess does own this OC. Thank you very much to Marysykess-san for lending me your OC.


Chapter 7: A new year, new friend, new experience.

[Winter, January, 186 A.D, Chenliu]

Keadaan kota Chenliu tetap saja sibuk seperti sebelumnya, hanya saja kali ini adalah hari tersibuk Chenliu di tahun ini karena...hari yang sangat di tunggu-tunggu oleh rakyat Han terjadi pada hari yang cerah ini! Seluruh warga kota sedang mempersiapkan segala keperluan yang tersisa untuk malam tahun baru ini. Hiruk pikuk kota bertambah seiring dengan hari yang semakin siang. Karena hari ini adalah tahun baru, tentu saja yi fu mendapatkan ijin libur dari kaisar sehingga ia bisa pulang dan bersama kami merayakan tahun baru.

Di pagi yang sangat sibuk ini, aku, yi fu, Xing-Xing serta beberapa orang pelayan laki-laki pergi ke pasar untuk membeli berbagai macam barang-barang untuk merayakan tahun baru; mulai dari makanan, arak, pernak-pernik, baju baru dan lain-lain. Banyak sekali orang yang mengunjungi pasar sampai berjalan pun harus berhimpitan. Tak ayal, kami harus berdesak-desakan dan merasa sesak nafas akibat terjebak di lautan manusia ini.

Akhirnya, rombongan kami terpaksa meminggir dan mencari ruangan yang lebih terbuka. Kami memutuskan untuk beristirahat sementara di tangga sebuah kelenteng. Aku berusaha untuk mengatur nafasku kembali. Uap dingin keluar dari hidung dan mulutku seiring dengan nafas yang kuhembuskan. Yi fu duduk disampingku, menggosok kedua tangannya untuk menghangatkan diri. Melihat yi fu seperti itu, aku langsung melepas mantelku dan memakaikannya ke yi fu. Yi fu menyadarinya, menatap ke arahku.

"Yi fu pasti kedinginan."

"Aku tidak apa-apa, Yin. Lebih baik kau pakai kembali mantelmu. Aku tidak mau kau sakit karena kau melepas mantelmu untukku." Yi fu berkata sementara tangannya hendak melepas ikatan tali mantel yang mengintar di sekitar lehernya.

Melihatnya, tentu saja aku langsung memegang tangannya, menghentikannya. "Kesehatan yi fu lebih penting dibandingku. Yi fu telah menyelamatkan nyawaku dan aku sangat berutang budi pada yi fu. Aku rela kedinginan asal yi fu tetap hangat."

Yi fu tampaknya bisa mengerti kemauanku dan tidak jadi melepas mantelnya. "Terima kasih, Yin."

Aku menghanturkan hormat sebelum kembali duduk di sebelahnya, menunggu sampai keadaan jalan sedikit lebih longgar.

"Xiao jie tidak kedinginan?"

Aku menengok ke belakang, melihat ekspresi kekhawatiran yang terpasang di wajah Xingyun. Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak."

"Tapi xiao jie, udaranya sangat dingin sampai menusuk sumsum. Kalau xiao jie tidak memakai mantelmu..."

"Aku tidak apa-apa. Aku sudah terlatih untuk terbiasa dengan udara dingin, tenang saja. Xing-Xing tidak perlu khawatir." Aku melemparkan seulas senyum kecil padanya.

"Xiao jie yakin?"

"Tentu saja." Aku mengangguk dan mengalihkan padanganku ke jalan. "Aku lebih mengkhawatirkan kondisi Yun-Yun sekarang."

"Yun-Yun?"

Aku mengangguk. "Ya. Teman sekampungku, Zhao Yun." Kedua tanganku merangkul kedua lututku yang tertekuk.

"Memangnya...apa yang terjadi padanya, xiao jie?" Ia duduk di sebelahku.

Aku tau ia tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi pada Yun-Yun.

"Aku...terpisah darinya pada saat penyerangan Huang Jin ke Changshan."

Ekspresi khawatirnya berubah menjadi ekspresi sedih bercampur simpati.

"Ah iya, aku pernah mendengar kalau Huang Jin pernah menyerang Changshan waktu itu."

Aku mengangguk. "Aku terpisah darinya dan..." Setetes air mata mengalir turun dari mataku. "Aku tidak tau keberadaannya sekarang."

Xingyun terkejut olehnya. "Xiao...xiao jie..."

"Aku tidak tau apakah ia masih hidup atau tidak!" Aku menunduk, menangis dalam rangkulan tanganku sendiri.

Yi fu menyadarinya. "Xingyun, kenapa Yin menangis?" Ia lalu memelukku, berusaha menenangkanku.

"Cao...Cao da ren...maafkan hamba. Hamba tidak bermaksud membuat xiao jie menangis karena teringat akan temannya yang bernama Zhao Yun dari Changshan."

"Yin, sudahlah. Jangan menangis. Aku yakin ia pasti masih hidup, tenang saja. Sudah...jangan menangis." Yi fu berusaha menenangkanku.

Aku terus menangis pelan selama beberapa menit. Setelah aku merasa lebih tenang, aku mengangkat kepalaku dan berusaha tersenyum tetapi, semua itu nampaknya sia-sia.

"Xi-xiao jie...a-aku minta maaf...aku tidak bermaksud untuk membuat xiao jie sedih."

"Tidak apa-apa, Xing-Xing. Kau tidak bersalah. Aku sendiri yang tidak bisa menahan kesedihanku." Aku mengusap air mata yang tersisa di sudut mataku dengan lengan baju kananku.

"Yin, kau mau pulang?"

Aku menggeleng. "Tidak. Yi fu tenang saja, aku tidak apa-apa." Aku lalu berdiri. "Kelihatannya jalanannya sudah sedikit lebih sepi. Mari kita lanjutkan pencarian kita, yi fu, Xing-Xing!" Aku berbalik sambil tersenyum.

Mereka mengangguk dan berdiri lalu kami bersama-sama kembali berkeliling pasar, mencari barang-barang yang kami butuhkan untuk perayaan nanti malam. Baru beberapa menit saja, tangan-tangan pelayan sudah penuh dengan belanjaan. Kami lalu memutuskan untuk pulang karena merasa tidak ada lagi yang harus dibeli. Aku hendak berbalik saat teriakan salah seorang dari pelayan terdengar.

"Anak perempuan itu mencuri barang kita!"

Ia berseru dan jari telunjuknya menunjuk seorang perempuan seumurku berbaju kusam yang sedang berlari menjauh dengan membawa daging yang telah kami beli.

"Yi fu, aku akan mengejar anak itu!" Aku langsung mengejar si pencuri itu.

"Ah, Yin-!"

-X-

"Hei! Tunggu kau!"

Aku mengejarnya keluar masuk pasar, hingga akhirnya kami sampai di sebuah jalan buntu. Ia menengok ke kanan-kiri, hendak mencari sesuatu yang bisa membantunya mencapai atas tembok namun semuanya sia-sia karena tidak ada sama sekali kotak kayu atau apapun yang ia butuhkan. Merasa terjebak, akhirnya ia memutuskan untuk berbalik.

Sekarang aku bisa melihat jelas wajahnya. Wajahnya mulus, matanya berwarna hitam dan rambutnya berwarna coklat tua.

"Akhirnya hah...kau hah...berhenti juga..." Aku berbicara sambil terus berusaha mengatur nafasku.

Ia meletakan daging curiannya lalu mengambil sebuah belati kecil dari dalam lengan bajunya, bersiaga dalam posisi bertarungnya. Heh, semangatnya sudah bagus hanya saja kuda-kudanya belum mantap.

"Kau ingin menempuh jalan kekerasan hah?"

Ia tidak menjawab, hanya membalasku dengan tatapan tajam yang matanya tunjukan. Tipe yang pendiam sekali, huh?

Ia langsung maju dan menusukan belatinya. Aku bergeser ke kanan dan menangkap lengannya lalu memelintirnya ke belakang.

"Hei, dengar. Aku tidak mau melukaimu."

Ia tidak menjawab dan sebuah belati muncul dari lengan bajunya yang lain. Ia mengayunkannya ke arahku dan aku langsung melompat ke belakang untuk menghindari serangan itu. Ia langsung kembali berlari ke arahku dan hendak mengayunkan kedua belatinya ke arahku.

"Kau sih serius saja...aku tidak bersenjata begini mau kau lawan...tidak adil..." Aku mengerutkan dahiku dan meletakan kedua tanganku di pinggangku.

Ia menusukan belati di tangan kanannya dan aku langsung bergeser, menahan lengannya dengan lenganku sendiri. Kudekatkan wajahku ke arahnya.

"Kau ingin menempuh jalan kekerasan? Boleh saja..." Aku tersenyum menantang.

Ia menatap tajam dari sudut matanya dan langsung berputar ke belakangku, menusukan belati kirinya ke punggungku. Dengan sigap kutangkap pergelangan tangannya. Sekarang, kami berada dalam kondisi terkunci, tidak ada yang bisa bergerak.

"Kau ini...keras kepala sekali." Aku langsung mengerakkan kaki kananku, membungkuk dan berputar untuk membanting si perempuan.

"Heyah!"

Bruk!

"Ah!" Ia berteriak.

"A...aduh..." Tubuhku mengencet tubuhnya, membuatnya tidak bisa bergerak sementara belatinya sudah terlempar jauh darinya.

Aku memegang pinggangku, meringis kesakitan. "A-aduh...ternyata sakit juga teknik itu..."

Aku berdiri dan berjongkok di sampingnya. "Oi, kau tidak apa-apa kan?"

Ia berusaha berdiri sambil menahan sakit karena kubanting tadi. Aku yang melihatnya merasa bersalah telah membantingnya seperti itu dan memutuskan untuk membantunya. Aku melingkari lengannya di sekitar leherku, membantunya berdiri. Ia menunjuk daging yang tergeletak di atas tanah. Aku mengambilnya dan kami berdua duduk di anak tangga yang tidak jauh dari tempat kami bertarung tadi.

"Bagaimana punggungmu? Apakah masih sakit?" Tanyaku setelah kami duduk.

Ia menggelengkan kepalanya.

"Syukurlah kalau begitu." Aku mengulurkan daging itu padanya. "Kau mau ini kan?"

Ia mengangguk dan mengambil daging itu dari tanganku. Tidak ada dari kami yang memulai percakapan apapun setelahnya, membuat suasana terasa sangat canggung. Aku tidak tahan dengan kesunyian ini dan memutuskan untuk memulai percakapan baru.

"Siapa namamu?"

Ia tidak menjawab.

"Hei...aku tau kau ini pendiam tapi jangan sampai tidak menjawab pertanyaanku dong!" Aku menepuk pundaknya.

"Cao Malie."

Akhirnya kata-kata ia keluarkan dari mulutnya...

"Oh, tidak disangka kita mempunyai marga yang sama!" Seruku. "Perkenalkan, namaku Cao Yin." Aku mengulurkan tangan kananku tetapi ia tidak menyambutnya.

Kami berdua diam saja selama beberapa saat, tidak ada yang mau memulai pembicaraan sama sekali. Akhirnya aku yang tidak tahan dengan kesunyian ini langsung memulai percakapan baru.

"Kalau begitu, apakah aku boleh memanggilmu Lie-Lie?"

Ia mengangguk.

"Baiklah, Lie-Lie. Aku ingin bertanya padamu. Kenapa kau mencuri belanjaan kami?"

Ia menengok untuk menatap mataku secara langsung.

"Karena...aku harus memberi makan ibuku sakit dan juga adik-adikku yang sedang menantiku di rumah..."

"Ibumu sakit?"

Ia mengangguk. "Ibuku sakit sehingga tidak bisa mencari uang untuk aku dan adik-adikku. Aku terpaksa harus mencuri untuk ibu dan adik-adikku makan."

"Oh..." Aku mulai merasa simpati pada nasibnya. Ia seorang pendekar yang hebat tetapi sayang sekali, ia harus mencuri karena kondisi keluarganya yang seperti itu.

"Kalau begitu, ayo! Akan kuajak kau bertemu dengan yi fu! Siapa tau ia bisa membantumu!" Aku langsung menarik lengannya namun ia tampaknya menolaknya.

"Ada apa? Ayolah...kau tidak perlu sungkan seperti itu!"

Ia menggeleng kepalanya. Huh, keras kepala sekali!

Aku terus saja memaksanya dan akhirnya, ia mau ikut denganku. Pada saat kami hendak berjalan, yi fu datang beserta rombongannya. Kami langsung menghampirinya dan aku membungkuk hormat padanya.

"Jadi, Yin, dia ini pencurinya?"

"Hormat yi fu. Ya, dia adalah pencuri tadi. Tapi, ia mencuri karena sebuah alasan!"

"Alasan?"

Aku langsung menceritakan kehidupan keras yang dijalani oleh Cao Malie dan yi fu rupanya bisa memahami kondisi Lie-Lie. Aku juga berkata padanya bahwa Lie-Lie adalah seorang petarung yang sangat hebat.

"Ah, rupanya begitu ya." Ia mengangguk dan menepuk bahu Malie. "Kalau begitu, aku akan membiayai biaya pengobatan ibumu." Ia menghadap ke Xing-Xing. "Xingyun, kau pergi ke desa yang berjarak sekitar 3 li di selatan Chenliu."

Xing-Xing membungkuk hormat dan langsung pergi ke desa selatan untuk memanggil si tabib. Sementara itu, yi fu menyuruh para pelayan pulang terlebih dahulu dan kami berdua ikut Lie-Lie ke tempat tinggalnya. Ia dan keluarganya tinggal di sebuah gubuk tua yang terletak di pinggiran kota yang memang merupakan daerah kumuh. Kami masuk ke dalam gubuk itu dan menemukan seorang wanita berusia sekitar 40-an yang terbaring lemas diatas sebuah tikar. Lie-Lie langsung membantu ibundanya duduk tegak.

"Mu qin, kita kedatangan tamu. Namanya Cao Mengde dan Cao Yin."

Ibunya langsung terkejut begitu mendengar marga 'Cao' disebut dan langsung sujud dihadapan kami. Aku langsung membantunya bangun dan memintanya untuk tidak bersujud dan berlutut di hadapan kami. Ibu itu langsung berterima kasih dan duduk tegak di atas tikarnya sementara Malie duduk di sebelahnya. Ibu Lie-Lie menanyakan kenapa orang terhormat seperti kami mau mampir ke gubuknya.

"Aku sudah dengar penyakit yang kau derita dari anakmu dan aku akan membiayai pengobatanmu hingga kau sembuh." Yi fu menjelaskan.

Ibu itu hendak menolaknya tetapi yi fu tetap ingin membiayai pengobatannya sehingga ibu Malie menerimanya dan berterima kasih pada yi fu.

"Terima kasih banyak, Cao da ren!" Ia bersujud kembali dan aku langsung menangkap tubuhnya sebelum ia sepenuhnya mencapai lantai.

"Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Seharusnya kau berterima kasih pada anakmu." Yi fu tersenyum ringan. "Kalau saja anakmu tidak bertemu dengan anakku, maka aku tidak akan pernah bisa membantumu."

Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Ia langsung memeluk Malie. Mereka saling merangkul satu sama lain selama beberapa saat. Isak tangis kebahagiaan terdengar dari keduanya. Aku berusaha untuk tidak menangis tetapi apa daya, akhirnya aku larut dalam suasana dan menangis, bukan menangis sedih tetapi menangis bahagia.

Setelah beberapa saat berbincang, Xing-Xing datang bersama seorang pelayan dan si tabib. Mereka menghaturkan hormat pada kami.

"Da ren, hamba telah membawa tabib Dong."

"Bagus. Kalau begitu, tabib Dong, kau tau apa yang harus kau lakukan, bukankah begitu?"

"Hamba mengerti." Ia membungkuk hormat dan aku, yi fu, Xing-Xing dan si pelayan laki-laki keluar dari dalam gubuk.

Kami menunggu pemberitahuan hasil diagnosa si tabib di luar. Akhirnya setelah beberapa menit, si tabib keluar dari dalam gubuk bersama Malie.

"Wanita itu menderita tekanan darah rendah dan asma. Ia harus banyak istirahat dan makan makanan yang bisa menambah staminanya. Untuk meredakan penyakit asmanya, sebaiknya ia tidak tinggal di gubuk ini lagi. Hamba sudah memberinya obat untuk mengatasi tekanan darah rendahnya."

Yi fu mengangguk kemudian menyuruh Xing-Xing memberi uang pada tabib Dong. Xing-Xing mengambil sebuah kotak kayu berisikan perak dan beberapa emas. Yi fu hendak memberinya kepada tabib Dong tetapi tabib itu menolak.

"Anda tidak perlu membayar untuk pengobatannya. Apa yang da ren lakukan untuk desa hamba sudah lebih dari cukup bagi hamba. Hamba tidak berani menerimanya." Ia membungkuk hormat.

"Tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai tambahan untuk memajukan tempat pengobatanmu supaya kau bisa melayani masyarakat lebih baik lagi."

Tabib Dong menerimanya dan berterima kasih banyak pada yi fu. Ia kemudian pamit dan yi fu mengijinkannya pulang. Setelah tabib Dong pergi, kini saatnya bagi kami untuk pulang karena hari sudah sore dan kami harus bersiap-siap untuk pesta tahun baru. Atas saran tabib Dong, kami membawa serta Malie sekeluarga untuk tinggal di rumahnya yang baru. Ibu Malie awalnya menolak tetapi karena didesak oleh yi fu terus-menerus, akhirnya mereka ikut bersama kami ke rumah baru mereka. Kebetulan di dekat rumah kami ada sebuah rumah yang baru saja selesai dibangun dan yi fu langsung membelinya. Rumahnya cukup besar, luasnya sekitar 10 kali 12 meter. Letaknya juga tidak jauh dari rumah kami jadi...aku bisa kapan saja datang untuk berkunjung ke rumah Lie-Lie. Asyik!

"Baiklah, mulai hari ini kalian tinggal di sini." Yi fu menunjuk rumah yang baru saja dibelinya itu untuk keluarga Lie-Lie.

Mereka semua langsung berterima kasih dan yi fu tersenyum puas melihat mereka senang. Malie maju dan menghormat pada yi fu.

"Cao da ren telah banyak sekali membantu keluargaku. Aku berterima kasih sekali pada da ren atas kebaikan da ren."

Yi fu mengangguk. "Kau seharusnya berterima kasih pada Yin. Kalau tidak ada dia, mungkin kau malah kena hukuman akibat perbuatan nekatmu tadi." Ia tertawa.

Malie menatapku dan menghormat padaku. "Aku harus berterima kasih padamu, Cao xi-"

"Kau tidak perlu memanggilku xiao jie! Cukup panggil aku Cao Yin saja!"

Tidak seperti Xing-Xing yang sedikit lebih keras kepala dibandingnya dalam urusan ini, ia mengangguk dan memanggilku dengan 'Cao Yin' saja. Aku tersenyum puas karena aku tidak harus beradu mulut dengannya sampai ia memanggilku dengan 'Cao Yin'.

"Bagaimana kalau kalian nanti malam datang ke rumahku untuk merayakan tahun baru bersama kami?" Tanya yi fu.

"Tapi...da ren..."

Yi fu hanya diam saja menatap mereka.

"Ba-baiklah..." Ibu Malie menerima ajakan yi fu. "Maaf jadi merepotkan Cao da ren seperti ini..."

"Aku sama sekali tidak keberatan, fu ren."

"Horeee!" Aku langsung memeluk Malie. "Kita akan sama-sama merayakan tahun baru, Lie-Lie!"

Malie hanya diam saja dan ekspresinya datar seperti saat aku bertemu dengannya tadi siang.

"Yah...dia jadi pendiam lagi..." Batinku.

Tiba-tiba ia tersenyum. "Iya, Cao Yin."

Kami semua tertawa bersama dan kembali ke rumah masing-masing untuk bersiap merayakan tahun baru.

Malam ini terasa begitu ramai. Suara petasan, genderang, musik-musik tahun baru, tawa canda, percakapan dan lain-lain memeriahkan suasana malam yang cerah ini. Bulan bersinar terang seperti menunjukan saat ini sang dewi rembulan sedang tersenyum senang melihat kegembiraan kami semua. Sungguh, aku merasa senang sekali malam ini, apalagi setelah melihat wajah gembira yang terlukiskan di wajah keluarga Lie-Lie dan dirinya. Tetapi...

Aku tidak tau apakah Yun-Yun dan ibu Zhao juga melewati malam tahun baru ini seperti yang sedang kami lakukan di sini...

To Be Continued...


Yin: Hore! Dapat teman baru! #memeluk Cao Malie

Malie: ...

Yin: Yah...mode diam lagi... #suram di pojok ruangan

Malie, Kaien, Cao Cao: *sweatdrop* ...

Malie: ...Mind to RnR?


Author's note:

[Okay...untuk chapter ini tidak ada finishing notenya. Cao Malie bukan OC saya, dia adalah OC dari Marysykess-san yang ia pinjamkan untuk fict ini :D

Tabib Dong inipun saya rekayasa sendiri kok hahaha :D Author juga tidak yakin bahwa pada tahun 186, tahun barunya jatuh pada bulan Januari... :D

Dan jika ada hal-hal yang tidak menyenangkan di cerita ini bagi Anda seperti typo dan segala unsur lainnya, Anda bisa mengkritik saya lewat review atau PM tapi saya harap, jangan sampai bahasa yang terlalu kasar seperti (maaf...) 'Brengsek', 'Cacat' dan sejenis ini karena jika Anda mereview dengan kata-kata seperti itu, Anda mungkins secara sadar atau tidak sadar mampu melumpuhkan semangat si Author. Saya harap Anda sekalian bisa memahami hal ini. Tidak, ini bukan berarti saya tidak menerima flame.

Stay tuned on 'Tales of the Steel Flower Princess' :D]