standard warning applied. OOC / Typos. Excessive in some part.

ENJOY ! :D


Repeated


Disclaimer :

Character © Masashi Kishimoto, 1999

Story © karinuuzumaki, 2010


CHAPTER 6 : ONCE AGAIN

"Kamu terlambat lagi, Ra." Ujar Naruto ketika mendapati sang istri yang baru saja ditemuinya setelah seharian. Di meja makan sudah terhidang berbagai makanan yang terlihat begitu menggugah selera. Hanya saja makanan itu sekarang sudah mendingin. "Nagisa sampai ketiduran nungguin kamu."

Sang wanita yang berambut pink pun menilik jam di pergelangan tangan kirinya, pukul 21.45. Ah, Ya Tuhan. Dia melupakan janjinya yang akan pulang tepat waktu agar dapat makan malam dengan keluarganya ini. "Ya ampun, Nar. Aku lupa!" ungkapnya dengan nada menyesal. "Tapi kalian udah makan duluan kan? Kamu udah ajak Nagisa makan kan?"

Lelaki berambut jabrik kuning itu hanya menghela napas lelah, "Kamu tahu sendiri kan? Dia nggak akan mau makan kalau nggak ada kamu." Ujar Naruto. "Memang kamu dari mana saja sih? Udah seminggu ini kamu pulang terlambat terus."

Ragu berkata sejujurnya, wanita itu merasa perlu mengarang suatu cerita. Tapi toh otaknya buntu jua. Banyak kepalsuan yang telah dia lontarkan pada sang suami, menutupi hal yang sebenarnya, membuat dirinya kehilangan akal untuk kembali berdusta. Tiba-tiba sebuah getar dan bunyi ringtone keluar dari smartphone wanita itu. Sakura segera meminta waktu sejenak dari sang suami, buru-buru dikeluarkan ponsel tersebut, sepertinya waktu sedang berpihak kepadanya. Bahkan diberinya sedikit kesempatan untuk mencari ide ceritanya sembari menilik ponselnya.

Atau, tidak.

Pesan yang tertera dalam ponsel justru lebih mematikan idenya,

Sudah sampai rumah? Jangan lupa, besok sore di coffee shop.

[sender : sasuke]

Mata zamrud wanita itu terangkat dari layar ponselnya, menatap wajah lelaki jabrik kuning yang sedari tadi sudah menatapnya. Tatapan wanita itu menyorotkan keraguan, pun kegelisahan. Tatapan itu sudah sering dilancarkan oleh Sakura, dan Naruto bukannya tak sadar akan semuanya. Dia sadar benar, ada sesuatu diantara mereka sedari beberapa minggu lalu.

"Siapa?" tanya Naruto singkat, menatap lurus Sakura.

Kali ini sang wanita yang menghindari bertemu pandang dengan mata lelaki dihadapannya, bola matanya pun bergerak-gerak tak jenak. Bisa saja Sakura mengatakan yang sebenarnya, namun hatinya terus memaksa berkata tidak. Mengingat ingat akan kejadian tempo hari, semakin buat hatinya ragu.

•••

FLASHBACK : ON

Rapat bersama klien Uchiha baru saja berakhir, meski belum menghasilkan sebuah kesepakatan kerja sama antara Uchiha Corp dan Akatsuki enterprise. Tak disangka rapat mereka memakan waktu cukup lama. Rapat diadakan ketika mentari masih berada di titik tertinggi, berakhir ketika sang pemilik hari telah berguling condong ke arah barat.

Sakura menghela napas lega mengetahui rapatnya berjalan lancar. Lebih lega lagi karena mengetahui bahwa dirinya sama sekali tak mendapati batang hidup sang klien utamanya yang bernama Sasuke itu. Yang menghadiri rapat hanya beberapa karyawan dan bukanlah sang bos itu sendiri. Hatinya tenang, tapi toh dia tak dapat menolak adanya kekecewaan dalam batinnya. Sudah mati-matian dia menata hatinya untuk bertemu kembali dengan pemuda masa lalunya itu, tapi ternyata tak guna juga.

"Err, Nona Uzumaki..." panggil salah seorang karyawan Uchiha Corp. Nona katanya? Yang benar saja, apakah orang ini salah membaca CV nya atau bagaimana? Baru saja Sakura ingin melontarkan protes, pemuda berkemeja putih itu lantas kembali melanjutkan kalimatnya. "...Tuan besar Fugaku dan Tuan muda Sasuke menanti anda di ruang direktur."

Wanita pink itu menautkan alisnya, Sasuke menantinya? Dan lagi, sampai Fugaku Uchiha pun menantinya? Pertanyaan mulai berlalu lalang dalam benaknnya. Tetapi dia tak ingin menahan penasarannya lebih lama, segera diucapkannya terima kasih pada lelaki kemeja putih itu, kemudian dengan segera melangkah ke arah ruang direktur yang telah ditunjukkan oleh lelaki tersebut.

"Wanita ini yang bernama Sakura?" tanya lelaki paruh baya itu kepada lelali muda disebelahnya ketika baru saja Sakura dipersilakan masuk. "Diluar dugaan, Sasuke. Matamu jeli juga."

Sakura masih menatap bingung kedua lelaki dihadapannya, belum sempat pula wanita itu melontarkan keheranannya, lelaki yang lebih muda menyela. "Ya Ayah, dia adalah Sakura." Ujarnya sopan, sungguh berbeda dengan yang dulu dikenal Sakura.

Lelaki paruh baya itu mengangguk singkat tanda mengerti, kemudian mendekat ke arah Sakura. Ditatapnya wanita itu seksama, kemudian tersenyum puas. "Tak kusangka wanita pilihanmu sangat cantik, Sasuke. Dia sempurna." Puji Fugaku kembali. Raut wajah Sakura bertambah aneh pula, wanita pilihan? Tunggu dulu, apa maksudnya semua ini? "Katakan nak, kau lulusan universitas mana?"

"Ng.. Universitas Konoha, Pak." Jawab Sakura ragu.

Sekali lagi Fugaku menangguk mengerti. "Bagus, itu Universitas terbaik di negeri kan?" ujar Fugaku dengan nada senang. "dan lagi, nak, panggil aku Ayah, jangan pak lagi."

Kontan mata Sakura membulat, "A-ayah?"

"Ya, tentu saja. Kau akan menjadi menantuku kan?" lelaki paruh baya itu semakin cerah binar wajahnya. Kontras sekali dengan raut wajah Sakura yang semakin aneh, segera ditatapnya lelaki muda di belakang Fugaku itu tajam. Sasuke memberi tanda agar Sakura menutup mulutnya sejenak. "Baiklah, Sasuke, Sakura. Ayah tinggal dulu, kalian bicaralah."

Sejurus kemudian lelaki paruh baya itu melangkah keluar ruangan, tinggalah sepasang mantan kekasih itu berhadapan. Sakura masih menatap Sasuke, tak ada yang berubah dari sosok tersebut. Ketampanannya masih begitu sempurna, pembawaannya tetap tenang dan tak banyak bicara, masih juga serius dan terkesan cool. Mustahil, dengan hati yang pernah dibuat merana akibatnya, Sakura masih merasakan debar kecil dalam hatinya. Meski begitu, sebisa mungkin dia menghindari temu pandang sang lelaki itu. Jujur, dia tak ingin ada kontak apapun lagi dengan lelaki ini.

Sudah cukup kan dirinya tersakiti?

"Lama tak jumpa, Sakura." Ujar lelaki itu. Sakura menatap Sasuke heran, bisa-bisanya lelaki ini bersikap begitu tenang. Hilang ingatan atau bagaimana? "Tak kusangka kau bisa diterima bekerja di Akatsuki enterprise. Kau beruntung Sakura, Akatsuki perusahaan bergengsi."

Sakura mengernyitkan dahinya menyusul rasa kesal yang tiba-tiba merayapi hatinya, menatap sikap pemuda itu yang masih begitu tenang. "Langsung saja, Sasuke. Apa maksud semuanya tadi?" ungkap Sakura. "dan lagi, menantu? Apa maksudnya?"

"Nampaknya 5 tahun cukup untuk merubahmu," komentar lelaki muda itu santai, tak terbawa wanita dihadapannya yang terkesan panik. Beranjak lelaki itu menilik kembali sebuah kertas berisi identitas klien dari Akatsuki enterprise ini. Sakura Uzumaki. Sebuah seringai tak nyaman muncul dari bibirnya. "dan juga nama belakangmu, Uzumaki, benar?"

Refleks dirinya mengepal erat tangan kanannya, muncul keinginan untuk menengelamkan jari manis yang terlingkar oleh cincin emas perkawinannya. Namun kala itu juga dia tersadar, kenapa malah dia ingin menutupi kenyataan bahwa dirinya telah menikah? "Ya, aku dan Naruto memang sudah menikah."

Batin Sasuke tergelak, tapi sama sekali tak ada perubahan dari wajahnya. Tak disangka, lima tahun dia tak kembali ke Konoha. Nama itu-itu lagi yang ditemuinya. Naruto Uzumaki? Bikin geli saja. Tak disangka pemuda jabrik yang dahulu dikenalnya sebagai salah satu teman seangkatan paling berisik itu, telah menikahi wanita yang dulu menjadi salah satu kekasihnya. Bisa dikatakan mendengar pernyataan tersebut membuat dirinya sedikit kecewa. Dia kembali untuk mengambil wanita ini, bukannya merebut istri orang.

"Kenapa memangnya?" lanjut Sakura ketika hampir semenit penuh dalam diam.

Sasuke tak langsung menjawab, dia justru beranjak menuju pojok bar pribadinya. "Duduklah," ujarnya mempersilakan, sembari menuangkan kopi ke dalam dua cangkir putih. "Ada banyak hal yang harus kita bicarakan."

Lelaki itu lantas menyodorkan secangkir kopi pada wanita yang masih belum juga duduk itu. Sementara lelaki itu sendiri menghirup kopinya sendiri dan duduk di kursi besar 'direktur' yang kini menjadi miliknya.

Sakura masih menatap lelaki yang malah asik dengan kopinya itu heran, "Kita bisa selesaikan semuanya dengan cepat. Katakan saja apa maksudnya semua ini, lantas aku bisa pergi." Ujarnya berusaha setegas dan sesingkat mungkin.

"Sudah kubilang, ada banyak hal yang harus kita bicarakan." Ulang Sasuke jauh lebih tegas dan menghakimi. "Séreiusement (1), Sakura. Duduklah dahulu."

Jantungnya kian berdebar kencang, menerka apapun yang akan dihadapinnya pada menit-menit kedepan jika terus bersama dengan sang mantan kekasih ini. Tapi toh akhirnya dia duduk jua di kursi hitam yang terletak tepat didepan meja Sasuke. Dia duduk dalam diam, tak juga ditatapnya wajah lelaki itu.

"Jadi... bagaimana kabarmu?" tanya lelaki itu singkat, mengawali pembicaraan panjang.

Seperti mantra rupanya, tapi toh mereka berdua berbicara panjang lebar. Bercerita kembali apa yang terjadi dalam lima tahun terakhir, melontarkan apapun yang ada dalam diri mereka setelah sekian lama. Cerita dominan berkutat pada bagaimana hidup sang wanita, karena tentu lelaki punya hidup sempurna sebagaimana mestinya―melanjutkan studi di universitas terpandang di Perancis, mendapatkan IP 4 koma sekian, mengantarkan keluar dari naungan studi dengan sertifikat sarjana dan toga.

Berbeda dengan wanita. Memang hidupnya yang sekarang bahagia, hanya saja tak selurus jembatan nasib. Perlahan kisah meluncur dari bibirnya, banyak pahit terungkap. Jatuh bangun dirinya akan hidup, dimana dirinya harus mengemis segala izin dari para orang tua, tapi toh ditolak jua terucap disana. Cerita berujung pada sebuah akhir bahwa wanita itu menikahi lelaki lain.

Lelaki raven itu kini baik mampus, sama seperti ketika awal wanita itu mengenalnya di awal semester pertama kulihannya. Lelaki itu mendengarkan semua cerita itu dengan seksama, memasang tampan prihatin. Benar prihatin, terutama ketika sadar dirinyalah penyebab wanita itu menderita. Tapi tiliklah barang sedikit dari pandangan lelaki itu, bukan maksud dirinya minggat dari Konoha dan membuat hidup makin susah dipikul wanita ini. Dia hanya menuruti segala ingin keluarganya.

Dan jangan salahkan dirinya pula telah menjadi makhluk keparat tak punya hati, nama besar yang disandangnya dan didikan keluarga yang telah begitu tajam membuat hidupnya buta cinta. Yang dia tahu hanya bersenang-senang dan segala urusan harga diri tinggi keluarga beres; entah bagaimana caranya.

Akibat keluarganya pula, kali ini dia harus kembali ke Konoha. Menjalankan bisnis keluarga, mencari kembali sejejak cinta lama yang jujur tak pernah terasa olehnya, mencari gadis lama itu untuk dikawininya, menuntaskan tanggung jawab yang tertunda selama lima tahun, dan mempersembahkan seorang pewaris di keluarga terpandang ini, karena ketidakmampuan sang pewaris utama―Itachi Uchiha, menghasilkan anak.

Apa yang dia lakukan jika ternyata gadis lama itu telah menikah dengan orang lain?

"Lantas bagaimana dengan..." Sasuke memotong kalimatnya, berusaha bersiap sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "...anak kita? Dia masih hidup bukan? Maksudku, kau tak jadi menggugurkannya kan?"

Sakura menatap wajah dihadapannya dengan air mata yang siap tumpah dari kedua bola matanya. Segera pula dialihkan pandangannya ke arah bawah, menunduk. Bagaimanapun pertanyaan itu masih terlalu menyiksa baginya untuk dijawab. Kenyataan bahwa dia gagal merawat anak mereka itu menyakitkan, "Aku terpaksa..." ujarnya getir. "'dia' berada diluar kandungan, dan... dan..."

Oh Tuhan, wanita itu tak sanggup lagi membendung tangis. Mengingat betapa pedihnya kenangan yang dia punya ketika kehamilan pertamanya itu memasuki bulan ketiga. Sakit bukan main selalu menjamah janinnya, sekali itu dia pingsan, dan pemuda yang baru saja menjadi suaminya itu membawanya ke rumah sakit.

Saat itu, dokter mendiagnosis kehamilannya diluar kandungan, dan harus segera digugurkan karena jika tidak akan bersifat membahayakan. Hal itu jelas memukul hati rapuh Sakura. Dia merasa kemelut kehidupan seakan tak henti menimpanya, baru sejenak dia merasakan tenang pasca menikah dan mulai menata kembali kehidupannya, ternyata nasib tak main-main mencobanya. Masih diberinya lagi penderitaan yang harus dia hadapi. Jelas dalam ingatannya, bagaimana pisau operasi merenggut denyut kehidupan sang janin yang belum bernyawa itu. Sakit betul, tak hanya fisik, tapi juga mentalnya.

Tangis serasa takkan berhenti mengucur dari mata zamrudnya, membuat lelaki raven dihadapannya merasakan sesuatu perasaan tak enak juga. Canggung, tapi perlahan dia beranjak dari kursinya, tulus dia merangkul pundak wanita yang bergetar itu. "Maafkan aku, aku tak ada di saat-saat terberatmu." Bisik lelaki itu.

Perlahan tangis berubah jadi isak, nafasnya pun masih naik turun akibat kesedihan. Namun dia merasa nyaman. Wanita itu sungguh merasa seperti pulang ke rumah setelah tersesat begitu jauh, rasanya begitu benar dalam dekapan lelaki ini. Perasaan ini begitu menyenangkan, perasaan yang selalu dirindukannya dalam kurun waktu sekian lama.

"Izinkan aku menebus kesalahanku, Sakura. Menikahlah denganku." Rajuk Sasuke begitu pelan, namun cukup jelas untuk wanita itu mendengar. Tak tahu apakah ini tulus atau bukan, yang jelas rasa bahagia menyeruak dalam batin Sakura. "keluargaku menginginkanku untuk segera mencari pendamping, dan kau lah satu-satunya yang kuharapkan menjadi pendampingku."

Susah bagi Sakura mempercayai apa yang telah diucapkan pemuda itu, tetapi lebih sulit lagi menahan kebahagiaan yang kini melandanya. Kata-kata itu adalah kalimat yang selalu ia ingin dengar dari lelaki ini. Lelaki ini adalah yang selalu dia inginkan, betapapun busuknya dirinya. Perlahan jarak diantara mereka berkurang, nafas bertemu nafas, seiring pula dengan bibir yang bertemu bibir. Mereka bersatu, ciuman itu melenyapkan pikul derita yang selalu membebani sang wanita.

"Sasuke..." panggil Sakura pilu. Ini salah, semuanya salah. Lelaki ini memang kembali, dan itu yang dia inginkan. Tapi kini dia sudah menjadi milik orang lain, dia sudah terikat sebuah tali pernikahan. Dia tak boleh merasakan debar dosa yang kini menghampirinya. "I-ini tidak benar, aku sudah... ini tidak benar Sasuke, aku tidak boleh..."

"Apakah semua ini terasa tidak benar?" ujar Sasuke menatap kembali wanita itu dengan sorot mata penuh keyakinan. "Katakan, Sakura, apa kau sudah tak mencintaiku?"

Sakura tak dapat menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya memang masih begitu mencintai lelaki ini, apapun yang terjadi, bagaimanapun dia telah menyakitinya. Konyol memang, tapi kalau sudah masalah hati begini, siapa hendak punya kuasa?

"A-aku, masih... aku mencintaimu..." bisiknya dalam pedih. Cinta telah mempermainkannya, begitu dalam. Hingga rasanya hatinya tak dapat membedakan mana luka, mana bahagia. "Tapi, aku sudah menikah, dan kamu... pasti bakal nyakitin aku lagi..."

"Aku tak ingin munafik. Aku mungkin bakal nyakitin kamu lagi," ujar lelaki itu mendekap tubuh Sakura. "Aku benar buta tentang cinta, maka aku ingin kau yang membimbingku..." lanjutnya merasakan tubuh Sakura yang masih bergetar melawan tangisnya. "...bisakah, Sakura?"

Wanita itu rasanya ingin menjerit dalam tangisnya, menyerah dalam segala frustasinya. Ikatan dengan pemuda jabrik disana pun masih mengikatnya, namun kenyataan perasaannya masih begitu kuat di dalam lelaki ini. Hatinya dirajam pilu, toh setelah menghela nafas, dia menangguk sembari memejamkan matanya.

"Aku bersedia..."

FLASHBACK : OFF

•••

"Siapa, Sakura?" ulang Naruto ketika beberapa detik telah berlalu.

Sudah beberapa hari, tepatnya dua minggu setelah kejadian itu, Sakura masih belum juga mengatakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jujur, dia tak ingin membuat hati lelaki ini terluka jika dia hanya diam saja. Namun bisikan hati tetap menyuruhnya untuk bungkam, dan mengatakan kebohongan lain.

"Klien," jawab Sakura akhirnya, tak sepenuhnya dusta memang―Sasuke memang kliennya bukan? Dengan segera kemudian, dia berpaling meraih sebuah gelas. Dia segera mengisinya dengan air putih dan menegak habis isinya, sepertinya berdusta sudah membuatnya larut dalam dahaga.

Naruto tak percaya begitu saja, meski kenyataannya dia ingin mempercayai apa yang dikatakan Sakura. Dia berusaha mempercayai apapun yang diucapkan oleh istrinya, dasar hubungan yang baik adalah dengan saling percaya bukan? "Siapa klien-mu?" tanya lelaki itu akhirnya, tetap berusaha meniadakan nada kecurigaan disana. "Kulihat kau selalu sibuk dengan klien-mu, siapa memangnya?"

"Ng.. itu.." Sakura seperti sulit untuk berkata-kata, disinikah ujung segala kamuflase yang telah dia ciptakan? Sungguh, hatinya tak kuasa berbuat dosa lagi. Dia sudah berlumur dosa asmara, tak ingin lagi menambahnya dengan kepingan-kepingan dusta yang selalu terucap. "..klien itu.."

"Ya?" tanya Naruto sedikit tak sabar, tapi seketika dia tertegun dengan nama yang diucapkan Sakura.

"Sasuke Uchiha."

TBC


(1) adalah bahasa perancis, jika di inggris kan berarti : Seriously

wao, saya kaget bisa meng-update chapternya secepat ini ! hehe, bahagia deh ^^ buat siapapun yang review, makasih banyak ! *hugz*

please gimme a review !

edited at 21.12.10 for some warning and A/N needs