"Malfoy, kau…"

"Pukul aku, Hermione. Pukul aku,"

PLAKK!

"Kau memintaku untuk memukulmu kan? Sudah kulakukan! Jadi mulai sekarang, jangan pernah muncul di hadapanku lagi!"


Aduh! Maafkan saya ya, para readers. Saya update-nya kelamaan. Malah fic ini hampir diterlantarkan. Maaf banget ya semuanya. Tapi kali ini saya update ^^

Oke, Enjoy this story!

Harry Potter always belongs to JK. Rowling


Hermione berjalan keluar dari kantor Prof. Snape dengan langkah terburu-buru. Wajahnya sudah dipenuhi oleh air mata. Sekeras mungkin dia mencoba agar tidak terisak, namun usahanya itu sia-sia. Isak tangisnya terdengar, menggema di koridor yang dia lewati. Untung saja koridor ini sepi, jadi tidak ada yang melihatnya menangis.

Draco. Pemuda itu untuk yang kesekian kalinya membuat air mata Hermione mengalir deras. Tidak bisakah pemuda itu membiarkan Hermione hidup tenang? Entahlah. Hermione saja masih bertanya-tanya tentang hal itu.

Setelah kemarin pemuda itu membuatnya menangis semalaman akibat kata-kata kasar yang dia ucapkan dari mulutnya, kali ini pemuda itu datang menemui Hermione dan meminta gadis itu untuk memukulnya. Tahukah dia kalau Hermione itu tidak ingin menemuinya? Tahukah dia kalau Hermione itu butuh waktu untuk sendirian?

"Pukul aku, Hermione. Pukul aku,"

Hermione menggelengkan kepalanya dan semakin mempercepat langkah kakinya. Suara Draco yang memintanya untuk memukulnya kembali terngiang di kepalanya, suara pemuda itu seperti penuh dengan keputus-asaan.

Hermione berhenti berjalan. Kakinya sudah terasa pegal, dia kemudian duduk di sebuah bangku di koridor Hogwarts. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangisannya semakin keras saja.

Sudah satu jam lamanya Hermione menangis. Sekarang air matanya sudah tidak keluar lagi, dia sudah mulai tenang. Hermione bersandar pada dinding di belakangnya. Matanya yang sembab terpejam.

"Draco," sebuah nama terucap dari bibirnya diiringi dengan setetes air mata yang kembali mengalir.

.

.

.

Draco berjalan menuju Aula Besar dengan langkah terburu-buru. Sekumpulan murid-murid Hogwarts yang berada di koridor menuju Aula Besar menatapnya aneh. Pipi kirinya membiru sementara pipi kanannya memerah. Astaga, malang sekali nasib Draco.

"Demi Merlin! Kenapa dengan pipimu, mate?" tanya Blaise ketika Draco sampai di meja Slytherin. Draco menghela napas.

"Hanya insiden kecil," jawabnya pendek. Blaise meringis seakan-akan dia bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang dihadapi oleh seorang Draco Malfoy.

"Lebih baik kau ke Madam Pomfrey, Draco. Pipimu itu butuh perawatan," saran Theo. Draco menggeleng, dia kemudian meminum jus labunya sampai habis. Tangan gadis itu masih terasa di pipi kanannya. Walaupun hanya sebuah tamparan tidak bertenaga yang diberikan oleh Hermione, namun semua perasaan gadis itu ada disana, tersampaikan dengan baik kepadanya. Draco bisa merasakan rasa sakit yang Hermione rasakan ketika gadis itu menamparnya.

"Eh, kau sudah menjenguk Astoria di rumah sakit?" tanya Blaise kepada Theo. Theo menggeleng dan menatap Draco.

"Kau mau menjenguknya, Draco?" tanya Theo. Draco mendengus, wajahnya yang runcing semakin meruncing. Dia memaki-maki Astoria dalam hatinya. Karena gadis itu dia jadi bertengkar dengan Hermione.

Karena Astoria eh? Bukannya kau yang pengecut Draco? Kau tidak mau dibilang pecinta Darah-Lumpur oleh teman-teman Slytherinmu, sehingga kau mengikuti apa yang disuruh oleh Astoria.

Draco terdiam. Memang benar dia pengecut. Tapi bukankah semua ini tidak akan terjadi jika Astoria tidak memintanya melakukan hal tersebut di depan seluruh anak-anak Slytherin? Jadi, Astoria juga berhak disalahkan atas kejadian ini.

"Hn. Kau saja yang menjenguknya, aku tidak akan ikut." Jawab Draco.

"Kau pasti sangat marah dengannya," bisik Blaise. Pernyataan yang sangat bodoh. Tentu saja Draco marah. Karena dialah hubungan Draco dan Hermione kembali memburuk.

"Hn." Draco bangkit dari posisi duduknya dan berjalan keluar Aula Besar. Dia tidak selera makan dan sedang ingin sendirian. Saat Blaise memanggilnya pun, dia tidak menoleh sama sekali.

Hermione POV

Aku berjalan dengan langkah gontai menuju Asrama Gryffindor. Awalnya aku akan pergi ke Aula Besar, tapi aku sedang tidak lapar. Kalau ke Asrama Ketua Murid, aku takut jika Draco ada disana. Aku belum siap untuk menemuinya. Jadi aku putuskan untuk pergi ke Asrama Gryffindor. Lagipula sudah lama juga aku tidak pergi kesana.

Aku menyebutkan kata sandi dan masuk ke dalam. Tata letak ruangan ini sama sekali tidak berubah. Aku mendudukkan diriku di sofa ruang rekreasi, keadaan ruang rekreasi sangat sepi. Pasti semua murid sedang menikmati acara makan siang mereka di Aula Besar.

"Hei, Mione! Tumben sekali kau kemari." Aku membuka mataku yang tadinya terpejam. Dan aku melihat dua orang yang sangat aku kenali berdiri di hadapanku.

"Memangnya tidak boleh? Aku hanya ingin istirahat disini." Sahutku. Harry dan Ron mengangguk-angguk, mereka kemudian duduk di sampingku. Seperti kembali ke masa lampau, aku, Harry dan Ron duduk di sofa ruang rekreasi Gryffindor yang berada di depan perapian.

"Sudah lama ya kita tidak seperti ini," ucapku. Harry dan Ron menatapku dengan alis terangkat.

"Maksudmu?"

"Sejak aku menjadi Ketua Murid Putri, Harry menjadi Kapten Tim Quidditch Gryffindor dan Ron menjadi Keeper, kita jarang menghabiskan waktu bersama. Kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing."

Yah, terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Dulu saat hubunganku dengan Draco membaik, aku tidak pernah keluar dari Asrama Ketua Murid. Aku selalu diam disana, menunggu Draco kembali. Tapi itu dulu, aku tidak tahu sekarang.

"Kau benar, Mione. Ah, bagaimana kalau liburan akhir tahun ini kita habiskan bersama?" usul Ron.

"Kemana?" tanyaku.

"Bagaimana kalau kita pergi ke The Burrow, kita berlibur bersama-sama Keluarga Weasley!" sahut Harry. Aku menimbang-nimbang. Ide berlibur bersama bagus juga.

"Baiklah, aku akan mengirimkan surat kepada Orang Tuaku." Ucapku sambil tersenyum. Well, setidaknya liburan ini bisa membuatku melupakan segala masalah yang sedang kuhadapi sekarang.

.

.

.

Aku, Harry dan Ron menghabiskan waktu di ruang rekreasi Gryffindor. Ginny dan Lavender pun ikut bergabung. Kami membicarakan hal-hal yang lucu. Dan hal-hal itu sukses membuatku tertawa. Well, hari ini aku bisa melupakan sedikit masalahku dengan Draco. Hanya sedikit. Karena setiap aku tertawa bersama teman-temanku, aku selalu membayangkan Draco ada disampingku dan ikut tertawa bersamaku. Aneh memang. Sejak kapan Draco Malfoy mau tertawa bersama kami?

"Saat itu, kau benar-benar seperti orang gila, Ron! Hahahaha!" suara tawa Harry menggema di ruang rekreasi Gryffindor. Sementara wajah Ron sudah memerah karena malu. Kami sedang membicarakan Ron yang terkena ramuan Amortentia buatan Romilda Vane. Awalnya ramuan itu diberikan untuk Harry, namun karena kerakusan Ron, malah dia yang terkena ramuan itu.

"Diamlah, Harry! Itu semua tidak lucu!" geram Ron. Wajahnya makin memerah saja ketika dia melihat Harry yang memperagakan bagaimana keadaan Ron saat itu.

"Hei, teman-teman. Sepertinya aku harus kembali ke Asramaku." Ujarku yang membuat tawa mereka terhenti.

"Kau yakin akan kembali sekarang, Mione?" tanya Ginny.

"Ya, bagaimana dengan err—Malfoy?" tanya Lavender. Dapat kulihat Harry dan Ron mendengus.

"Sudahlah, tidak akan terjadi apa-apa kok. Aku pergi dulu ya!" Aku pun berjalan meninggalkan Asrama Gryffindor.

Well, aku tidak bisa selamanya menghindari Draco. Walaupun sebenarnya aku ingin. Tapi cepat atau lambat, aku harus bisa menyesuaikan diriku. Aku harus bisa menemuinya dan aku juga harus bersikap seperti biasanya. Bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi antara aku dan dirinya.

"Kau pasti bisa, Hermione."

Normal POV

Draco berjalan menuju Asrama Ketua Murid. Dia baru saja pergi ke Hutan Terlarang untuk menenangkan diri. Benar-benar tempat menenangkan diri yang aneh.

Draco sudah mengucapkan kata sandi dan hendak masuk. Namun dirinya ragu, dia takut akan menemui Hermione di dalam sana. Dia takut akan melihat wajah masam dari gadis yang dicintainya itu.

"Ck! Sudahlah, kalaupun aku bertemu dengannya, tidak akan ada masalah." Draco kemudian masuk ke dalam dan—Syukurlah! Hermione tidak ada disana. Dia tidak menemukan sosok gadis itu dimanapun.

"Mungkin dia belum kembali." Lirih Draco. Pemuda itu kemudian berjalan menuju kamarnya. Saat masuk, dia menemukan burung hantu Keluarga Malfoy di tempat tidurnya.

Sebelah alis Draco terangkat. Dia bertanya-tanya ada hal penting apakah sehingga keluarganya mengiriminya surat.

Draco duduk di tepi tempat tidurnya dan mengambil sebuah perkamen yang terikat di kaki burung hantu tersebut. Dia membukanya dan membacanya.

Dear Draco,

Draco, kami membawakan sebuah kabar baik untukmu. Kau akan dijodohkan dengan anak dari Keluarga Greengrass, Astoria. Ayahmu dan Ayahnya sudah setuju dengan perjodohan ini. Liburan akhir semester ini, kami akan membicarakannya lebih lanjut. Jadi, kau harus mengajak Astoria dan Daphne ke rumah kita.

Itu saja yang ingin Ibu sampaikan. Semoga harimu di Hogwarts menyenangkan.

Salam,

Narcissa Malfoy

Draco terbelalak kaget ketika membaca isi perkamen tersebut. Dijodohkan? Dengan Astoria?

"Cih! Ini gila!" geram Draco.

TBC

Fiuh! Gimana nih readers? Bagus ga? Gaje ya?

Aduh, maafkan kesalahan author yang telat update ya? Nah, sekarang bales review dulu ah.

Aichiruchan Phantomhive: Ini udah update ^^ makasih ya atas reviewnya. Maafkan juga karena Draconya terlalu OOC dan sayanya telat update.

Zhavier Malfoy: Ini udah update^^ makasih ya atas reviewnya. Dan maafkan karena telat—banget—updatenya.

puputkawaii: Hehe, boleh kok kalau mau mukul Draco—ditendang—. Ini sudah update, tapi telat T_T

Diggory Malfoy: Makasih atas reviewnya^^ CedMione ya? Dipertimbangkan dulu deh

Amutia Blossom Saver: Makasih atas reviewnya^^ Feel-nya kurang ya? Saya emang rada-rada susah buat feel yang bagus dan kerasa

yowkid: Makasih atas reviewnya^^ Ini sudah update, tapi telat. Dipukul ga ya? Hehe, ada noh jawabannya di atas.

DracoDramione79: Makasih atas reviewnya^^ Iya ya, dasar author tidak bertanggung jawab! Hehe, sudah update tapi telat. Maaf ya

uchihyuu nagisa: Makasih atas reviewnya^^ Baikkan? Hmm, tunggu chap berikutnya deh. Hehehe

Chwyn: Makasih atas reviewnya^^ Ini sudah update

ohjack: Makasih atas reviewnya^^ Ini sudah update kok

Zee konaqii: Makasih atas reviewnya^^ Udah update nih. Dagdigdug bunyi hujan di atas genting—plakk—

Arisa Nakamura: Ini sudah dilanjutkan. Makasih ya reviewnya^^

Terimakasih buat semua yang sudah mereview dan membaca fic ini^^ Semoga chap ini bisa memuaskan readers. Akhir kata saya ucapkan...

R E V I E W P L E A S E