Jujur, sebenarnya aku ngerasa jahat gak bales ripiu kalian satu persatu, tapi mohon maklum, ya. T.T
Dan jangan pernah bosen RnR fic abal ini.

.

.

.

Sementara Sakura yang baru keluar dari toilet terus menengok ke kiri dan kanan, mencari sosok yang seharusnya berada di pesta. Pesta juga terlihat sepi karena jumlah dari Konoha yang mulanya ada 30 orang, tapi yang datang hanya 27 orang karena 3 orang tidak bisa datang. Dan Sakura terus mencari-cari dengan bola matanya sampai sebuah suara mengagetkannya.

"Oi, Sakura-chan. Sedang apa melamun?" tegur lelaki jabrig ditemani kekasih manisnya.

Sakura menengok dan tersenyum, "Naruto, Hinata. Aku sedang mencari Sasuke-kun. Kira-kira ke mana, ya? Apa kalian melihatnya?" tanya Sakura pada sepasang kekasih itu.

"Aku tidak melihatnya..." jawab Naruto menggaruk pipinya.

"Ah, aku melihatnya." jawab Hinata lain dengan Naruto, Sakura memandang Hinata penasaran, "Benarkah? Di mana?"

Dengan suara yang lemah lembut khas dirinya, Hinata menjawab, "Tadi kulihat dia diam setelah kau terburu-buru ke toilet, kan? Lalu dia menghampiri..."

Naruto © Masashi Kishimoto

Datte, Kimi Ga Warau Kara © Haruno Mey

WARNING : AU, OOC(maybe), Typo(pengennya sih ga ada), Alur mondar-mandir(?), dan sejenisnya.

Rated : M

PERINGATAN PENTING : Fic ini hanya untuk 17+ dan untuk di bawah 17 tahun, silahkan klik 'back'!

Sudah diperingatkan masih tetap dibaca? Oke, dosa ditanggung masing-masing.^^

DON'T LIKE? DON'T READ, PLEASE!

ENJOY...!

.

.

.

Datte, Kimi Ga Warau Kara : CHAPTER 6

Tapi tiba-tiba mata Hinata menengok ke arah belakang Sakura. "Ah, itu dia!" seru Hinata menunjuk ke arah belakang Sakura, membuat wanita pink itu menengok. Iris klorofilnya langsung menemukan sosok yang sedari tadi ia cari. Sosok itu nampak sedang menuruni tangga entah dari mana.

"Sasuke-kun," panggil wanita itu langsung menghampirinya.

Sasuke yang melihat hanya tersenyum tipis dan masih memasang wajah stoic. Sakura yang berlari kecil akhirnya sampai di hadapan Sasuke. "Kau kemana saja? Aku mencarimu." Sakura memiringkan kepalanya, "Kau kelihatan lemas sekali, apa yang baru kau lakukan sih, Sasuke-kun?"

Sasuke menggeleng pelan, "Mungkin aku hanya lelah saja, bagaimana kalau kita pulang saja?"

"Hm... Baiklah." Sakura mengusap pelan lengan Sasuke.

Setelah izin pada semua, Sasuke dan Sakura pun langsung menaiki mobil menuju kediaman Uchiha. Kota Paris nampak begitu indah dengan nuansa cahaya lampu-lampu kota. Tak membutuhkan waktu lama, mobil mereka sampai dan di sambut para pelayan Uchiha. Sasuke yang sudah sangat letih itu langsung memasuki rumah, diikuti oleh Sakura. Hingga sampai di tangga, Sasuke tanpa sadar cuek pada Sakura. Mungkin terlalu lelah. Sekiranya begitu fikir Sakura.

Sasuke yang hendak belok ke arah yang bersebrangan dengan kamar Sakura itu langsung ditarik lengannya oleh Sakura. "Ah, Sasuke-kun!"

Sasuke melirik sebentar, kini iris onyxnya begitu sayu. Wanita itu menatap Sasuke penuh arti, "Oyasumi," ucap Sakura. Sebenarnya Sakura tahu, saat ia pergi ke toilet tadi Sasuke pasti minum alkohol. Karena walau hanya minum sedikit, jelas sekali bau alkohol yang tercium. Tapi Sakura tidak mempersalahkannya, mungkin ia memang terlalu lelah.

Sasuke tersenyum dan mencium lembut kening Sakura, "Oyasuminasai..." Dan setelah itu Sasuke segera melanjutkan langkahnya, begitupun Sakura yang berbalik untuk menuju kamarnya. Dan malam ini begitu sunyi sepi karena tak ada sepatah kata pun terdengar.

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

PAGI HARI MENJELANG PERTUNANGAN...

Hari berjalan begitu cepat, tak terasa kini wanita itu akan berpenampilan bak seorang putri. Di mana ia mewujudkan impiannya untuk mengikat hubungan yang kuat bersama orang yang dicintainya. Menaiki hubungan yang akan membawa mereka ke jenjang berikutnya yang dinamakan pertunangan. Tapi... Walau harusnya ini adalah hari bahagianya, kini ia begitu terlihat gelisah. Tersirat dari pancaran emeraldnya. Membuat para maid yang meriasnya ikut sedikit panik.

"Apa ada yang kau khawatirkan, Sakura?" tanya salah seorang maid yang sudah dianggap seperti kakak sendiri oleh sang wanita. Lawan bicaranya hanya melirik wajah maid yang menanyakannya tadi kemudian menggeleng, "Aku tidak apa-apa, kak Ayame..."

"Tapi sedari tadi kau terlihat gelisah," Maid berambut pirang pucat di sana ikut mengkhawatirkan kondisi wanita yang tengah duduk di depan kaca riasnya.

Sakura tersenyum, "Mungkin aku hanya sedikit canggung..."

"Ah, bicara apa kau? Sebentar lagi Itachi-sama dan Konan-sama akan datang, jadi kau harus siap!" seru Ayame menyemangati. Diikuti oleh Shion yang juga tersenyum, "Iya, kami mendukungmu! Semangat!"

Wanita yang nampak mempesona dengan gaun cream itu langsung tersenyum lebar dan memeluk kedua maid yang sudah seperti saudara kandungnya itu. "Terima kasih. Aku sayang kalian!" ucapnya.

"Kami juga!" Ayame dan Shion kompak balas memeluk Sakura.

Karena pernikahan Itachi adalah di Paris yang sangat tidak memungkinkan keberadaan kuil, keluarga Itachi harus mendatangi kediaman Konan yang sudah di persiapkan bangunan kuil sederhana. Meminta restu dari keluarga dan membawa Konan agar menyandang nama Uchiha, ikut ke mana ia akan dipimpin sang kepala keluarga barunya, yaitu Itachi.

Akad nikah yang berlangsung pun berakhir begitu cepat, mengharuskan perayaan pernikahan Itachi dan Konan akan dimulai. Juga sesuai jadwal yang telah ditentukan, selama berlangsungnya perayaan pernikahan, pengumuman untuk pertunangan Sasuke dan Sakura akan berlangsung. Dan tepat, kini suara keramaian datang dari lantai bawah, menandakan para tamu yang menyaksikan akad nikah Itachi-Konan telah datang, dan sebentar lagi tiba waktunya wanita itu akan turun ke bawah.

Bingo, seorang pelayan datang memberitahu Sakura untuk segera turun ke lantai bawah. Dan entah mengapa, justru raut wajah Sakura makin pucat, tapi ia tetap memaksakan diri untuk tersenyum pada Ayame dan Shion.

Pada akhirnya, kaki jenjangnya harus melangkah juga. Perlahan keluar dari kamar dan menuruni tangga. Di lantai bawah, tepatnya di samping tangga, Sakura sudah melihat Sasuke yang sedang berdiri menantinya. Sasuke begitu terlihat tersenyum tulus melihat kedatangan wanita yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya itu, lain dengan Sakura yang menuruni tangga dengan kakinya yang gemetar. Sampai akhirnya ia sampai di bawah, didampingi Sasuke yang begitu menawan dengan jas yang sewarna dengan Sakura.

Sasuke menggandeng tangan Sakura, "Sekarang kita kesana, ayah akan mengumumkan pertunangan kita sebentar lagi." kata Sasuke.

"Ya..." jawab Sakura memaksakan tersenyum.

'Aku harus bisa! Harusnya ini mudah untukku, karena setelah ini kami tidak akan merasa kesusahan lagi...' batin Sakura yang mulai merasa kacau dalam fikirannya. Ditambah lagi... Saat Sakura dan Sasuke berjalan, wanita pinky itu tanpa sengaja menemukan sosok yang tak asing di matanya. Sosok berambut blonde yang memperhatikan dirinya dengan tatapan sendu.

Dheg!

Seketika nyali Sakura menciut melihat tatapan itu. Ia takkan tega melihatnya. Sahabat yang selalu ia kenal ceria dan selalu menyemangatinya, bahkan mengubahnya menjadi pemberani. Kini, hanya karena masalah cinta, wajah barbie itu nampak begitu memancarkan kesedihan. Dan itu disebabkan olehnya. Sakura berfikir apa dia orang yang tidak memikirkan perasaannya? Tidak, bukan begitu. Tentu karena ia juga tak mau melepasnya. Melepas pria yang sangat ia cintai. Lalu, apa Sakura masih belum percaya dengan Sasuke?

Wanita itu hanya tak mau menanggung beban untuk ke depan. Jika ia memilih ini, untuk ke depannya mungkin berdampak buruk. Ia akan kehilangan sahabat terbaiknya. Ia hanya ingin mencintai seseorang dan didukung oleh sahabatnya yang nantinya akan mengucapkan 'selamat' untuk pertunangan mereka, bukan tatapan sedih seakan Sakura hanyalah perebut kebahagiaan sahabat yang telah memberikan segalanya.

"Para tamu undangan yang saya hormati, mohon perhatiannya sebentar." Suara yang tak asing di telinga Sakura mulai terdengar dari mic yang bersambung ke home teather di ruangan ini. Membuat seluruh tubuh Sakura mulai panas dingin, Sasuke yang merasakannya langsung menengok ke arah Sakura, "Ada apa? Kau gugup?" tanya Sasuke.

"Sepertinya begitu," jawab Sakura sekenanya. Sebelah tangannya mencengkram dadanya yang begitu berdenyut terasa perih karena alat pemompa darahnya begitu berdetak cepat.

Iris emeraldnya kembali melirik ke arah belakangnya, dan dapat ia lihat, sosok itu masih sama. Wajah Ino masih terlihat seperti itu. Ia menunduk, membuat poninya sedikit menutupi matanya, tapi jelas terlihat ia sangat gelisah serasa ada di ambang kematian. Pasti akan begitu perih karena sebentar lagi kisah cintanya akan berakhir...

Tangan Sakura makin bergetar, tubuhnya seakan mati rasa. Sementara semua tamu sudah berkumpul di hadapan Fugaku, Mikoto, dan kedua orangtua Sakura.

"Setelah sahnya pernikahan Itachi, saya selaku kepala keluarga Uchiha ingin memberitahukan," Fugaku memberi jeda sebentar, "bahwa putra kedua kami, Uchiha Sasuke,"

Dheg... dheg... dheg...

suara detak jantung Sakura makin kencang, membuat tubuhnya tak terkontrol. Sakura mulai merasa pusing, entah mengapa semua yang ada di kepalanya serasa ingin pecah, dan semua berubah menjadi gelap seketika.

"SAKURA!"

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

"Sakura-chan, jangan menangis, ya! Tenang saja, ada aku!"

"Ino-chan... Kau terlalu baik padaku. Aku tidak tahu bagaimana harus membalasmu..."

"Hm... Kalau begitu, aku hanya ingin kamu untuk selalu jujur padaku, ya."

Gelap. Setelah merasa ia kembali ke masa lalu melewati mimpi, sekejap semua menjadi gelap. Jika boleh memilih, ia ingin tetap berada di saat-saat itu. Tapi saat ini waktu terus berjalan, bahkan saat ini ia telah merasakan kembali kepalanya yang berdenyut-denyut. Perlahan, mata jadenya terbuka, penglihatannya samar-samar melihat sosok pria tampan yang sedari tadi menunggunya sadar. Dan beberapa detik kemudian, penglihatannya mulai jelas meski pusing masih terasa di kepalanya.

Pria yang berwajah khawatir itu langsung bangun dari kursi yang ia duduki di sebelah ranjang, memilih untuk lebih dekat menatap klorofil wanita itu. Ia genggam tangan Sakura yang masih terasa dingin, "Sepertinya kau shock hingga pingsan. Kau terlalu gugup, Sakura... Katakan jika kau gugup, agar aku bisa menenangkanmu, agar pertunangan kita—"

"Sasuke-kun..." Sakura tahu ini tidak baik karena memotong pembicaraan orang seenaknya. Tapi cukup! Ia sudah cukup dengan semua beban ini, ia sudah ada di batas kesabaran.

Air mata sudah membuat mata Sakura perlahan berkaca-kaca dan turun mengalir membasahi pipi dan telinganya karena posisinya yang terlentang. Yang ia inginkan hanya satu. Membalas semua yang telah Ino berikan. Sudah cukup Ino memberikan semua, walau tanpa sadar, sebenarnya dirinya yang terlalu banyak memberikan sahabatnya. Tapi bagi Sakura, semua tak sebanding daripada harus mengalami sesal di kemudian hari. Dan inilah yang Sakura pilih.

"A-aku... Ingin pertunangan kita dibatalkan saja..."

Seketika Sasuke merasakan lidahnya kelu, tubuhnya melemas, membuat ia memundurkan dirinya. Ia membelalakan matanya mendengar kalimat Sakura barusan. Lelucon macam apa ini? Bahkan ini bukan April mop. Beberapa detik Sasuke mencerna kalimat Sakura, tangannya yang semula menggenggam Sakura langsung terlepas. Ia menundukkan wajahnya menahan emosi yang sepertinya akan segera keluar.

"Apa maksudmu?" Sakura bisa merasakan nada suara Sasuke yang begitu dingin. Dengan kekuatan yang tersisa, Sakura memaksakan diri untuk bangun dan duduk di tepi ranjang. Wanita muda itu memegang tangan Sasuke yang menjambak rambutnya—

PLAK!

Tapi kemudian Sasuke menepis tangan Sakura. Mata Sakura membulat sambil memegang tangannya yang tadi ditepis Sasuke, "S-Sas—"

"Apa yang kau lakukan? Apa kau hanya mempermainkanku? Kau dan Ino sama saja! Kalian membuatku muak!" Sasuke seakan berbicara hanya pada bayangan Sakura, buktinya ia sama sekali tidak menatapnya. Kejam. Itulah kesimpulan yang diambil Sakura mendengar kalimat-kalimat Sasuke.

Sakura menggeleng cepat, "Tidak! Demi Tuhan, aku sama sekali tidak mempermainkanmu..."

"Lalu kenapa...?" Sasuke mengangkat wajahnya, kemudian ia cengkram bahu mungil Sakura dan menatapnya tajam, "KENAPA SAAT ITU KAU MEMINTAKU UNTUK MENIDURIMU? KAU BILANG AGAR KAU PERCAYA PADAKU, TAPI KENAPA SEKARANG KAU RAGU, HAH?!" Tak dapat dibendung lagi, air mata Uchiha bungsu itu keluar begitu saja, membuat lawan bicaranya ketakutan.

Sementara di depan kamar perdebatan mereka, sosok wanita berambut blonde disana mendadak merosot, jatuh terduduk di depan pintu sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air mata mengalir begitu saja mendengar perdebatan di dalam. Walau kamar ini kedap suara, tapi wanita itu begitu pintar menguping dengan caranya menempelkan telinga pada sela-sela pintu. Walau tidak terlalu jelas, tapi teriakan Sasuke tadi benar-benar terucap jelas, membuat wanita blonde itu menjadi seperti ini sekarang.

Lama ia dalam posisi itu, kemudian ia segera bangun dan berlari entah akan kemana. Bercanda? Tidak! Yang didengar wanita tadi membuatnya seperti pisau yang mengiris urat nadinya. Apa yang barusan ia dengar adalah orang yang ia cintai... Telah bercinta dengan sahabatmu sendiri.

Sementara di dalam, Sakura yang tak sanggup melihat wajah Sasuke kini hanya menunduk. Air mata keduanya masih tak mau berhenti, dan Sakura hanya menggeleng menanggapi ucapan Sasuke tadi. "Kenapa kau bilang? Kau bilang aku mempermainkanmu?" Sakura kembali menatap Sasuke, membalas tatapan tajamnya, "Lalu, apakah kau tahu bagaimana tersiksanya aku? APA KAU TAHU BERAPA LAMA AKU MENANGGUNG BEBAN INI?! SELAMA BERHUBUNGAN DENGANMU, AKU HARUS MEMBOHONGI PERASAANKU, MEMBOHONGI SAHABATKU! KAU TAHU?!"

"Bahkan aku menderita karena keraguanmu! Tapi aku selalu berusaha untuk meyakinkanmu, Sakura..." ucap Sasuke seketika melembut, menempelkan dahinya di dahi Sakura.

Sakura menggeleng, "Tidak... Aku tahu kau selalu berusaha, tapi nyatanya... Aku hanya ingin melihat Ino bahagia..."

Pria berambut emo itu masih menatap tajam Sakura, "Lalu apa kau fikir dengan bahagianya Ino akan membuatku bahagia?"

"Jika kau melakukannya untukku..."

"Kebahagiaanku hanyalah dirimu..." Sasuke dengan kasar menempelkan bibirnya dengan Sakura, memaksa wanita cantik itu untuk membuka mulutnya, membiarkan lidah pria itu menjelajah dalam mulutnya. Ia tak suka ini. Sasuke yang ia kenal bukanlah seperti ini. Di sela-sela ciumannya, Sakura berusaha berbicara. "Hen-tikanh...!"

Tapi Sasuke tak mengindahkannya, justru ia turun ke leher Sakura dan meremas payudara Sakura dengan kasar, membuatnya meringis kesakitan. Tangan Sakura yang tak sebanding dengan tenaga Sasuke masih berusaha mendorong tubuh Sasuke yang justru kini mendorong tubuhnya, membuatnya terpaksa jatuh ke ranjang, membuat posisi Sasuke menindih Sakura.

"AH! Hentikan!" Sakura kembali merasakan sakit setelah Sasuke membuat kiss-mark di lehernya dengan ganas. Membuat air mata Sakura yang awalnya mengalir karena kesedihan, kini air mata itu mengalir juga karena sakit.

"Kau hanya milikku!"

"Tidak! Ini sakit! Kumohon hentikan..." Sedikit lagi Sakura berusaha, dan akhirnya dengan sekuat tenang ia dorong tubuh Sasuke hingga terdorong ke samping kanannya. Dan dapat Sakura rasakan tubuhnya nyeri seperti ditusuk ribuan jarum tak kasat mata. Tapi daripada itu, hatinya lebih sakit.

Tanpa sadar, ternyata bahkan ada bekas cakaran Sasuke di bahunya, juga lehernya yang perih dan dadanya yang begitu nyeri. Sakura berdiri dan membelakangi Sasuke yang kini terduduk di lantaisambil menjambak rambut ravennya. Sakura memegangi bahunya yang terasa perih, "Kau keterlaluan..." Sakura pun langsung berlari keluar kamar, meninggalkan Sasuke yang langsung menenggelamkan wajahnya di tepi ranjang.

Pintu kamar tertutup, menandakan Sakura telah pergi dan menyisakan Sasuke yang hanya berteriak frustasi.

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

"Sakura, keluarlah, keluarga Uchiha ingin mengatakan sesuatu. Kami tunggu di ruang tamu, ya."

Sakura mendengar jelas suara ibunda yang begitu lembut di depan kamar. Wanita iris jade yang sedari tadi bersembunyi di selimutnya kini mulai menampakkan diri dan melihat jam. Sudah pukul 20:05. Padahal sudah dua jam lalu kejadian di kamar Sasuke, tapi rasanya kejadian tadi terasa baru terjadi 10 menit yang lalu. Rasa sakit luar dalam masih menggerayanginya.

Para tamu pasti sudah pulang, dan kini saatnya membicarakan masalahnya. Tentu saja tadi ibunya mengatakan itu, pasti karena pagi tadi ia pingsan mendadak dan begitu lama dalam mimpinya. Membuat acara entah bagaimana tadi.

Dengan berat hati Sakura menuruni tangga dan menuju ruang tamu. Baru ia berharap semoga tidak bertemu dengan orang yang saat ini sedang ia tepis di fikirannya, tapi justru setelah ia berbelok menuju ruang tamu, sosoknya justru sudah terlihat jelas.

"Ah, sudah datang. Kemarilah, Sakura." Fugaku memerintah Sakura duduk di sebelah kedua orangtuanya.

Tanpa basa-basi, Fugaku memegang tangan Sakura seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan keadaan anaknya. "Keadaanmu sudah membaik?"

Sakura hanya mengangguk sambil tersenyum. Fugaku kembali bicara, "Sakura, katakanlah jika kau masih belum siap bertunangan. Karena jika untuk bertunangan saja kau belum siap, nanti untuk menikah akan menjadi paksaan."

"Itu benar, nak. Walau kalian siap batin, kalian harus siap mental juga. Karena untuk menikah bukanlah hal untuk main-main." Ayah Sakura ikut bersuara. Sementara itu Sakura melirik Sasuke, dan yang didapat hanyalah tatapan sinis dan aura yang begitu dingin. Sakura langsung menunduk takut.

"A-Aku... Aku minta maaf... Jika aku siap, aku pasti akan mengatakannya."

Fugaku dan Mikoto tersenyum. Tapi salah satu Uchiha di sana justru beranjak dari duduknya masih dengan aura yang sama. "Buang-buang waktu saja. Jika memang belum waktunya ya tidak usah, menyebalkan!" Kemudian Sasuke berjalan, tidak menghiraukan ayahnya yang hendak menghampirinya dan memukulnya. Beruntung Mikoto menahannya untuk beranjak dari duduknya.

'Aku menyebalkan ya, Sasuke-kun? Tentu saja... Orang seperti aku ini memang pantas mendapatkan hal semacam ini...' batin Sakura sesak. Ingin sekali menangis sekencang-kencangnya, tapi sayang Sakura tidak mungkin melakukannya saat ini.

Fugaku dan Mikoto menunduk berbarengan, "Maafkan putra kami, dia memang seperti itu jika marah." ucap Fugaku mewakili. "Tapi tenanglah, dia akan baik lagi, Sakura." sambung Mikoto. Sakura mengangguk paham, tapi dalam hati ia tahu, marah Sasuke saat ini benar-benar serius. Ia tak tahu apakah nantinya Sasuke akan kembali bersikap biasa atau tidak.

Fugaku kembali fokus pada percakapannya menatap jade Sakura, "Satu lagi. Kita akan kembali ke Konoha lusa, sedangkan tamu-tamu yang lain berangkat besok. Jadi siapkanlah dirimu untuk lusa, ya."

"I-Iya..."

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

Pada akhirnya Sakura sama sekali tidak mengantar tamu-tamu undangan yang akan pulang ke Konoha. Lagi pula kondisinya saat ini kurang baik. Entah kenapa ia jadi lebih sering ingin berkutat pada ranjangnya karena tidak jarang tubuhnya akhir-akhir ini terasa lemas, kepala Sakura juga jadi sering pusing. Mungkin karena terlalu banyak memikirkan kejadian kemarin. Smpai-sampai porsi makannya menurun, ia lebih sering makan camilan.

Hingga seharian Sakura hanya di kamar, membuat keluarga Uchiha dan Haruno itu gigit jari, salah satu penghuni di sana justru berdecak kesal. Cukup satu nama. Sasuke.

Tok tok tok.

Ketukan pintu kamar Sakura terdengar, tapi tak ada jawaban, membuat pengetuk pintu menggeram, "Bukalah! Tidak ada gunanya kau mengurung diri seperti itu! Kau malah menyusahkan!"

Lama Sasuke menunggu. Hingga akhirnya pemilik kamar menyerah dan memilih membuka pintu. Dapat dilihat Sasuke, wanita itu terlihat kusut dengan piyama hijau tua miliknya, rambutnya yang acak-acakan, juga wajahnya yang terlihat pucat tak ada semangat. Sasuke memaksa masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.

Sakura yang langsung panik segera memegang tangan Sasuke yang mengunci pintu, tapi tenaga Sasuke lebih kuat dan akhirnya Sasuke berhasil kemudian membuang kuncinya ke sembarang arah. "Apa yang kau lakukan?!" ketus Sakura. Sasuke menatapnya hingga menyandar ke tembok dan Sasuke terus menatapnya tajam.

Brak!

Mata Sakura tertutup revleks, dan setelah membuka mata, itu adalah tangan Sasuke yang menggebrak tembok. "Apa saja yang kau lakukan seharian di kamar?"

"..."

"Sakura, jawab aku!"

"Tanpa dijawab kau sudah tahu, kan?!"

Sasuke mengernyit, tatapan tajamnya seketika luluh melihat wajah Sakura yang ingin menangis. "Yang ada difikiranmu hanya pertunangan saja... Bahkan sampai-sampai kau bukan hanya melukai fisikku... Tapi juga hatiku..."

Pria Uchiha itu langsung memeluk Sakura. Lain dengan saat kemarin, kali ini Sasuke memeluknya begitu hangat, membuat Sakura begitu nyaman. Sasuke mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di bahu Sakura, "Maaf... Maaf aku telah menyakitimu..."

Sakura menggeleng, "Tidak apa-apa, Sasuke-kun... Aku yang lebih tahu tentangmu..."

"Tetaplah bersamaku, Sakura..."

"Ya..." Sakura kembali merasakan sakit di hatinya. Mungkin ia mudah bicara seperti itu, tapi untuk ke depannya ia tak yakin untuk tetap di sisinya. Di sisi Sasuke.

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

Konoha. Disinilah Sakura sekarang. Sudah seminggu keluarga Haruno dan Sasuke pulang ke Konoha. Setelah seminggu pula Sasuke tinggal di kediamannya yang dulu, kini ia tempati kembali walau hanya sendiri karena ia akan melanjutkan hidupnya di sini, di asal kelahirannya. Sementara Sakura masih tidak berhibungan dengan Ino selama seminggu ini.

Dan kini, di kediaman sederhana milik Uchiha, lelaki berambut blonde yang kini sedang asyik tidur-tiduran di ranjang sambil berkutat dengan ponselnya itu melirik sekilas sahabatnya yang tengah sibuk membereskan pakaian, "Hey, Sasuke." Panggil pemuda tampan itu.

"Hn,"

"Hinata kirim sms, dia bilang, Ino ingin bertemu denganmu."

Pria lawan bicaranya itu langsung menghentikan aktifitasnya dan mengernyit menatap Naruto, "Untuk apa?"

Naruto bangun dari tidurannya dan mengangkat bahunya, "Aku juga tidak tahu. Hinata hanya bilang begitu karena dia tidak sengaja bertemu dengan Ino di dekat toserba."

"Maksudmu...?" Tanpa menunggu kalimat sempurna Sasuke, lelaki beriris shappire itu mengerti. Ia mengangguk dengan wajah serius, "Ya, dia sedang di jalan menuju kesini." ucap Naruto.

.

.

Di waktu yang sama, Sakura sedang bercermin menyisir rambutnya. Setelah selesai menyisir rambut gulalinya yang panjang, ia langsung mengambil sweater biru tosca yang tergantung di belakang pintu, kemudian langsung ke lantai bawah. Di meja makan sudah terdapat Azuki, ibu Sakura, yg sedang membungkus rapi bento buatannya.

Sakura menghampiri ibunya, "Sudah selesai?"

"Iya, ini. Setelah memberikannya kau boleh menemani Sasuke dulu, tapi jangan menginap, ya." nasehat Azuki sambil menyerahkan bento pada Sakura. Dan memang, sejak Sasuke tinggal sendirian di sini, Azuki selalu membuatkan makanan untuk Sasuke. Tak jarang pula Sakura menginap di rumah Sasuke, juga terkadang Sasuke mengunjungi kediaman Haruno. Selama seminggu Sakura dan Sasuke melanjutkan kuliah, mereka tak pernah bertemu dengan Ino ataupun Sai. Mungkin mereka mengambil jam kuliah lain.

Tapi justru hal itu menguntungkan untuk Sasuke dan Sakura karena seakan keadaan kembali stabil, walau Sakura sendiri bingung apa yang terjadi. Ingin rasanya Sakura mendatangi kediaman Yamanaka, tapi ia terlalu sulit bicara atas apa yang sudah terjadi.

"Baik! Aku pergi dulu, ya." Sakura langsung melesat keluar rumah. Sudah sangat rindu pada Uchiha itu, eh?

"Hati-hati," ucap ibunya yang mungkin sudah tidak terdengar oleh Sakura.

Dengan semangat wanita itu berlari-lari kecil dengan wajah tersenyum. Beruntung kawasan sepi karena sudah menjelang malam, jadi tidak akan ada yang menyangkanya kurang waras. Tapi begitulah Sakura, selalu ceria setiap akan ke rumah Sasuke. Ia pasti akan disambut dengan senyum memikat Sasuke, menatap iris obsidiannya yang nampak indah dengan sinar rembulan, juga kecupan di keningnya yang selalu terasa hangat.

.

.

Sementara posisi Sasuke saat ini adalah di depan pintu, masih diam belum mau membuka pintu yang sedari tadi diketuk. Lelaki berambut blonde yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri hanya mengangguk, kemudian ia kembali masuk ke kamar milik sahabatnya itu. Dan kini ia sudah mantap untuk membuka pintu.

Krieeet...

Suara pintu mulai terbuka. Dan benar dugaannya, di ambang pintu menampakkan sosok yang tengah memakai beju ungu lengan panjang dan celana jeans pendek di atas lutut. Poni menjuntai miliknya sedikit tertiup semilir angin malam yang lewat, dan kemudian wajahnya yang tertunduk itu mulai terangkat, menampakan sinar aquamarine yang nampak bersedih.

Walau sebenarnya Sasuke sangat membenci wanita ini, tapi dia adalah pria baik-baik sehingga membuka pintunya lebar, "Masuklah," perintah Sasuke.

"Tidak perlu, aku hanya ingin bicara sebentar."

Beberapa menit terjadi jeda diantara mereka. "Kalau begitu bicaralah." ucap Sasuke dingin.

"Sasuke-kun, katakan padaku apa saat di Paris, saat pesta perayaan kedatangan tamu kau mabuk?"

Sasuke menyipitkan matanya, tidak mengerti dengan Ino yang tiba-tiba bertanya seperti itu. Tapi tak dapat dipungkiri, saat itu ia memang meneguk minuman itu. "Kenapa kau bertanya hal itu?" Bukan menjawab, Sasuke bertanya balik. Tanpa mereka sadari, sosok pinky tengah menguping percakapan mereka di balik tembok gerbang.

Ino menunduk dan menahan tangis, "Jadi kejadian itu memang benar kau...?"

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke makin tidak mengerti dengan ucapan Ino yang menurutnya makin tidak jelas itu.

"Aku telah mengandung Uchiha kecil, Sasuke-kun."

Dheg!

Seakan dunia berhenti berputar setelah Sasuke, juga Sakura yang mendengar kalimat Ino barusan. Bahkan Naruto yang mendengar dari dalam kamar yang tak jauh dari sana juga ikut kaget. Bagaimana bisa terjadi? 'Mengandung' dia bilang? Uchiha? Sungguh susah sekali mencerna kalimat wanita barbie itu, tapi jelas sekali, itulah yang ia katakan. Tapi ini tidak masuk akal, walau saat itu Sasuke minum alkohol dan sudah berada di luar kesadaran, dia masih ingat betul saat itu dia tidak mabuk berat.

Kepala Sakura terasa ingin pecah. Dia masih terbelalak mendengar kalimat Ino barusan, membuatnya seperti mayat hidup seketika. Bahkan untuk menangis pun, air mata enggan mengaliri pipinya. Hanya ada rasa yang begitu perih di dalam dadanya. Rasanya ada yang ingin mencopot jantungnya. Sementara Sasuke sendiri langsung kaget setengah mati. Apa ini? Ucapan itu bisa merubah segalanya dengan mudah, jadi jangan asal! Membuat pria itu mendadak pusing setengah mati.

PRAK!

Bento yang sudah susah payah dibuatkan ibunda Sakura menjadi berantakan di jalan. Dan karena suara nyaringnya, Sasuke dan Ino menengok ke asal suara, dan Sasuke langsung menghampiri pagar. Betapa kagetnya dia saat ia mengetahui ternyata itu adalah sosok merah jambu yang sedang menangis sambil berjongkok di samping pagar. Sementara Ino masih menangis ditempat.

"Sakura!"

Sakura yang menyadari kedatangan Sasuke langsung berdiri hendak berlari, tapi lengannya terlanjur ditarik Sasuke, "Tunggu dulu, Sakura!" Sasuke mencoba menahan Sakura, dan Sakura menepisnya.

Sudah cukup! Takdir memang sudah berindak lain. Ini adalah keinginan Kami-sama agar hubungan ini tidak perlu dilanjutkan. Sasuke masih mencoba menahan Sakura, "Apa kau tidak percaya padaku?"

"Bukan masalah percaya atau tidak, tapi kita memang sudah tidak bisa bersatu!"

"Itu pendapatmu! Tapi pendapatku berbeda!" timpal Sasuke. Sakura mengelap air matanya dan mencoba untuk berbicara. "Sasuke-kun, kau mencintaiku, kan? Kau bilang kau akan melakukan apapun demi aku..." ucap Sakura sesenggukan. Tangan Sasuke membelai lembut pipi Sakura san menganggukan kepalanya, setuju dengan perkataan Sakura.

"Ini demi aku... Kumohon... Nikahi Ino." Sasuke langsung lemas dengan ucapan Sakura. Ini berat, tapi inilah yang terbaik. Kemudian Ino menghampiri keduanya, melihat kondisi di luar sana. Dan untuk terakhir kali, Sakura memegang pipi Sasuke, "Dan mulai sekarang... Belajarlah untuk melupakanku..."

Setelah itu Sakura segera pergi, meninggalkan Sasuke yang berlutut lemas. Ia tak dapat menahannya, tak dapat menahan wanita itu. Kata-katanya terlalu menusuk. Emosi Sasuke mulai meluap-luap, ia mulai berdiri dan menatap tajam Ino.

"Kau itu gila? Bahkan aku tidak pernah tidur denganmu, Ino!" bentak Sasuke mulai kacau. Wanita itu langsung menjatuhkan tetesan air murninya menerima jawaban seperti itu, kemudian menatap onyx Sasuke yang berkilat-kilat amarah. "Tidak pernah kau bilang?" suara Ino mulai bergetar. Bodohnya dia, saat itu ia sendiri dalam kondisi mabuk berat. Tapi jelas, Ino jelas melihat bola mata berwarna onyx itu, membelai rambut hitam kelam itu.

"Kau tidak ingat pernah meniduriku, Sasuke-kun? Hiks..."

Sasuke mendadak merasakan kepalanya ingin pecah. Saat itu ia memang tidak terlalu ingat dengan kejadian di Paris karena alkohol sialan itu. Persetan! Cobaan apa lagi ini? Bahkan Sasuke sendiri tidak bisa menyangkal, dia hanya ingat samar-samar setelah meminum alkohol itu, ia hanya ingat potongan-potongan kejadian malam itu. Yang ia ingat adalah gambaran saat ia menuruni tangga, melihat bayangan seorang wanita yang tersenyum, entah siapa itu. Kemudian yang ia ingat selanjutnya saat tangannya membelai bahu seseorang, dan juga mencium kening orang itu. Tapi begitu samar, sehingga ia tidak tahu siapa wanita itu.

"Katakan apa yang terjadi saat itu..." tanya Sasuke dengan suara yang pelan.

"Jangan tanya aku... Aku sendiri mabuk berat. Tapi aku bisa mengingat baik saat kau menarikku dan membawaku menaiki tangga. Kau mencium keningku, kemudian mulai melakukan hal yang—"

"Cukup! Jangan diteruskan!" Sasuke menjambak rambut emonya, membuatnya menjadi berantakan. "Tidak, ini tidak mungkin!" sambung Sasuke.

"Kau fikir aku ingin? Bahkan aku tidak ingin hal ini terjadi! Tapi semua terjadi begitu saja... Kau dan aku... Hiks..." suara Ino makin serak. Matanya masih tertuju pada Sasuke yang kini masih menunduk menggeram. Tidak percaya dengan semua. Kejadian yang terjadi begitu cepat, membuahkan karunia yang Kami-sama berikan dalam rahim wanita itu. Takdir sudah diputuskan. Bahwa diharuskan agar pria onyx itu harus bersamanya. Ya, mungkin ini sudah kehendak Kami-sama. Mungkin Sasuke memang harus bersamanya. Bersama Ino, bukan wanitanya, Sakura.

Ino memegang perutnya yang masih berumuran seminggu itu, "Kau harus lakukan sesuatu, Sasuke-kun... Atau aku gugurkan kandungan ini..."

"Jangan bertindak semaumu!" Sasuke menatap tajam Ino. Sekali lagi, walau tak ada rasa cinta terhadap wanita ini, Sasuke adalah pria baik-baik, dan juga pria yang bertanggung jawab. Sasuke menenangkan dirinya sejenak, memijat pelan pelipisnya, "Bisa kau beri aku tanda kehamilanmu?"

"Aku masih menyimpan test-pack yang kugunakan pagi tadi. Hasilnya benar-benar positive... Karena sejak tiga hari lalu aku merasa pusing dan tidak enak badan, makanya..."

"..." Sasuke memejamkan matanya sebentar, menghirup nafas agar menenangkan dadanya yang sesak dan saraf otaknya yang kacau. Kemudian masih dalam posisi itu, Sasuke menghela nafas.

"Aku akan segera menikahimu."

Dan itulah salah satu bentuk sikap tanggung jawab yang dimiliki Sasuke. Ia sudah tidak tahu bagaimana nanti ke depannya, tapi ini lebih baik daripada nanti perut Ino semakin membesar, dan justru akan mencoreng martabat keluarga Uchiha.

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

BUAGH!

Pukulan keras membuat sosok itu terjatuh ke lantai, dan itu berasal dari sang ayah. Sementara sang ibunda menghampiri putera bungsunya dan membantunya berdiri.

"Anak kurang ajar! Memalukan!" tuding Fugaku pada Sasuke yang masih dalam posisi duduk di lantai sambil memegangi pipinya yang memar dan mengeluarkan sedikit darah, membuat indera pengecapnya merasakan rasa anyir. Mikoto yang memegangi tubuh putranya itu masih gemetar menahan tangis.

Gigi Fugaku bergemelutuk. Jika boleh ingin rasanya ia menghajar anaknya hingga babak belur, tapi batinnya sebagai seorang ayah tidak bisa. Ia hanya mengatur nafasnya yang tidak terkontrol itu, "Setelah kami mempercayaimu untuk menjaga Sakura, lalu apa yang kau lakukan Sasuke?! Mau taruh dimana wajah orangtuamu di depan keluarga Haruno?!"

"Sayang, kita bisa bicarakan baik-baik." Mikoto mencoba menenagkan Fugaku. Sementara Sasuke sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Fugaku padanya.

.

.

"Sakura-chan..." gadis beriris lavender itu itu mencoba meredakan tangis Sakura yang sedari tadi tidak juga berhenti. Ia terus menangis di pelukan gadis itu, membuat bajunya basah di sisi bahu.

Sehari setelah insiden itu, Sasuke menghubungi orangtuanya untuk datang. Dan sehari setelah itu pula Sakura merasa dirinya sudah mati. Tapi kali ini, Hinata datang dan menawarkan dirinya untuk tempat peraduan Sakura. Menawarkan diri menggantikan sosok pahlawan sahabatnya, Ino. Dan itu membuat Sakura langsung membuka segala bebannya di depan Hinata. Dan sekarang, Sakura masih terus menangis, mengadu pada Hinata.

Hinata hanya bisa mengelus-elus kepala Sakura, walau sebagai sahabat, Hinata juga merasakan derita yang ditanggung Sakura. Harus memikul semua sendirian. Maka dari itu untuk kali ini Hinata ingin dirinya ikut serta menjadi pahlawan Sakura. Tidak perduli meski dibilang mencampuri urusannya atau tidak, tapi Sakura justru terlihat sangat tertolong dengan uluran tangan Hinata.

Bukan hanya Hinata, di sebelah kedua insan itu juga terlihat sang lelaki rubah tampan yang ikut menyertakan diri menjadi sandarannya. Naruto sungguh menyesal dengan dirinya sendiri. Kenapa? Jelas karena sahabatnya yang keterlaluan itu. Awalnya Naruto pun tidak tahu jika ternyata Sakura berada di sana saat Ino mengunjungi Sasuke.

Awalnya Naruto dan Hinata berkunjung untuk menyerahkan undangan pernikahan mereka. Ya, mereka akan mengikat janji suci. Tapi siapa sangka ternyata Sakura sudah mengetahui semua yang hendak dikatakan Naruto, saksi pembicaraan Sasuke dan Ino saat itu. Sakura bahagia atas pernikahan mereka yang akan diadakan seminggu lagi, tapi tidak untuk hal cintanya saat ini...

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

Derasnya air shower yang membasahi tubuh wanita itu membuat aliran air matanya tidak jelas terlihat, tapi bisa dilihat dari matanya yang merah, menandakan bahwa ia sedang menangis. Rambut pirang yang biasa ia kuncir itu kini tergerai, basah kuyup oleh air. Perlahan ia usap perutnya yang masih kempes itu, kemudian senyum mengembang di wajahnya, "Aku menang, kan? Harusnya aku senang..." ucapnya dengan suara yang bergetar.

Tubuhnya merosot, membuatnya terduduk diguyuri air shower. Ia menundukkan wajahnya, "Aku ini seperti orang bodoh saja. Padahal akhirnya aku mendapatkannya!" Entah apa yang ada dalam fikiran wanita itu, ia merasa puas dengan janin yang ada dalam rahimnya, yang akan membuatnya segera menikah dengan Sasuke. Tapi ada segelintir perasaan yang mengganjal. Apa itu? Rasanya seperti membebaninya.

Fikirannya kemudian melayang-layang. Inikah penderitaan yang 'dia' alami? Ternyata begitu sakit. Jadi inilah yang membuat'nya' ragu menjalin hubungan? Karena persahabatan. Wanita itu kini merasakan sakit itu. Merasakan apa yang dialami wanita dalam fikiran wanita itu.

"Sakura-chan..." gumamnya.

Tapi ia sudah tidak perduli. Setan yang menjelma dalam tubuhnya sudah mencuci otaknya untuk tetap melanjutkan semuanya. Jika Sakura ragu, Ino tidak. Ia berfikir tidak akan ragu dengan kebahagiaan yang didapatnya. Tidak peduli jika harus menjadi iblis, ia akan mendapat kebahagiaan itu daripada meragukan semua hanya karena persahabatan yang menurutnya adalah bodoh. Lantas air mata apa itu? Rasa sakit apa itu? Ino sendiri belum bisa menterjemahkan arti dari semua ini.

Dengan pemikiran itupun, Ino bersedia untuk segera siap dinikahi Sasuke. Meninggalkan segala bayang-bayang yang menghantuinya. Ia akan terus maju. Hingga pada akhirnya orangtua Sasuke mendatangi kediaman Yamanaka dan meminta restu ayahanda Ino yang sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Bahkan mungkin ibunda Ino di sana juga sangat kecewa pada Ino yang dengan mudah menjadi seperti ini hanya karena minuman setan itu. Memang benar, andai saat itu mereka tidak meminum minuman itu, mungkin tak akan terjadi kejadian seperti ini.

Tak pernah terbayang oleh keluarga Uchiha jika nantinya akan mengangkat salah satu anggota dari Yamanaka. Karena keluarga Sasuke hanya mengira-ngira jika nantinya yang akan mendampingi Sasuke adalah keluarga dari Haruno. Begitupun Ino yang tak pernah menyangka jika akan dilamar oleh Uchiha dengan mudah. Andai ia tidak hamil, jangan harap keluarga Uchiha melangkah ke kediaman Yamanaka untuk melamar.

Dan dengan ini, pernikahan akan diadakan dengan cepat dan diadakan di Konoha, di kediaman lama Uchiha. Dengan berat hati dan penuh penyesalan pula mereka mendatangi keluarga Haruno. Saat mendatangi keluarga Haruno pun Sakura tidak ada di rumah entah sengaja atau tidak ia keluar rumah. Malu memang harus mengatakan hal ini, tapi keluarga Sakura mengerti dengan baik, walau tidak menyangka jika akan terjadi hal seperti ini.

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

Hinata dan Naruto duduk di kursi panjang yang berada di taman. Wajah mereka masih jelas terlihat kusut. Bagaimana tidak, manusia yang sedang mereka cari-cari tidak kunjung ditemukan. Membuat Naruto kini menyandarkan tubuhnya dan menghela nafas, "Kita harus mencari Sakura-chan di mana lagi?"

Gadis di sebelahnya memilih untuk diam, karena dia sendiri bingung harus bagaimana. Hari sudah sore, tapi sosok yang mereka cari dari pagi belum juga ketemu. Semilir angin menerpa wajah keduanya, kemudian Hinata membuka suara, "Pernikahan Sasuke-san dan Ino diadakan... Minggu depan, kan? Berbarengan dengan acara pernikahan kita..."

Naruto membulatkan matanya. Padahal pasgi tadi ia sudah menerima undangan, tapi ia baru sadar sekarang jika pernikahannya berbarengan dengan pernikahan Sasuke. "Ini buruk! Jika tidak cepat mengatakannya, semua bisa kacau!" ucap Naruto.

"Aku tahu, tapi bagaimana cara kita menjelaskannya?"

"Sudah terlanjur, kau tahu, kan?" Naruto ikut khawatir melihat kecemasan yang tergambar di mata lavender Hinata.

Naruto kembali menghela nafas, "Hanya ada satu cara. Yaitu..." Naruto menggantungkan kalimatnya, membuat Hinata terus menunggu kalimat Naruto.

"Menunggu sampai anak itu lahir."

.

.

Di waktu yang sama, di sebuah laut. Dan tepat di balik batu-batu karang besar, di sanalah sosok wanita itu. Ia hanya mengenakan baju putih lengan panjangnya dan rok merak marun selutut. Kepalanya ia sandarkan pada bebatuan yang pasti terasa sakit itu. Tapi ia tidak memperdulikannya, yang ia butuhkan sekarang hanyalah menyendiri. Ia tahu, di sini tak akan ada yang menemukannya.

Tujuan utamanya adalah melupakan Sasuke, tapi justru bayang-bayang Sasuke terus muncul, memaksanya memutar kembali kenangan yang terekam di otaknya. Dari awal hingga akhir, semua kembali teringat. Saat pertama kali ia bertemu di SMP, menjadi pertemuan yang begitu menyakitkan. Membuatnya terjerumus, jatuh cinta pada seorang Uchiha. Memberikan segalanya, bahkan—kesuciannya.

Mungkin saat itu ia mengira tak akan menyesal memberikannya, tapi nyatanya penyesalan memang selalu datang belakangan. Datang di saat semua sudah terlanjur, sudah tidak bisa diulang kembali dan merubah semua di masa lalu. Hingga tak perlu merasakan rasa sakit seperti sekarang ini. Tapi benar-benar sudah tidak bisa. Semua hanya percuma. Ya, percuma. Menyesali pun tak ada arti. Karena pada akhirnya Sasuke akan menikahi Ino. Pada akhirnya ia harus memaksakan diri untuk melupakan semuanya, semua tentang kisah cinta yang akan berakhir tragis.

"Hey, Sasuke-kun, mungkin suatu saat dengan berjalannya waktu, aku akan melupakanmu. Benar, kan?" Sakura bertanya sendiri.

Angin berhembus kencang seiring air mata Sakura turun, seakan ingin menghusap air mata Sakura dan menyuruh Sakura untuk tidak menangis. Ini adalah yang ia inginkan, dia harus tegar.

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

Merah jambu. Itulah warna rambut yang sedang ditata Haruno Azuki. Tapi bukan rambutnya, melainkan rambut anaknya yang sudah sepanjang pinggang rampingnya. Hanya perasaan saja atau tidak, tapi waktu memang berlalu begitu cepat. Malam ini adalah di mana Sakura akan segera menguatkan mentalnya untuk besok, yaitu menyanggupi diri menerima Sasuke yang akan menikahi Ino. Selama seminggu setelah Sakura sering menyendiri di bebatuan karang laut, akhirnya ia pulang dengan berdiri tegar. Hingga sampai saat ini, ia terlihat seperti tak ada beban di wajahnya.

Azuki menatap bayangan Sakura di cermin rias, "Kau yakin akan pergi?"

"Ibu, tenanglah. Setelah aku menghadiri acara Naruto dan Hinata, aku akan datang ke acara Sasuke-kun dan Ino." kata Sakura tersenyum. Ibunya tersenyum dan mencium puncak kepala Sakura, "Kau memang anak ibu yang ceria."

Kenapa Sakura memilih menghadiri Naruto dan Hinata terlebih dahulu? Sebab ia tidak sanggup jika harus ikut mengantar pengantin ke kuil mengucapkan janji suci di depan matanya. Itu terlalu menyakitkan. Jadi biarlah nanti Sakura datang setelah mereka sah menjadi suami-istri.

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

Dengan lincah ia berdiri menggunakan sepatu high hellsnya, melihat sekali lagi bayangannya dalam cermin. Setelah memastikan ia sudah rapi dengan gaun terusan warna cokelat tua yang terlihat manis dengan hiasan pita di pinggangnya, ia langsung pamit pada ibunya dan melesat keluar rumah untuk menghadiri acara pertamanya, menyaksikan Naruto dan Hinata di kuil. Tidak terasa, teman-teman seangkatannya sudah akan berumah tangga. Mungkin, hanya Sakura saja yang masih belum menemukan orang yang tepat. Tapi suatu saat pasti. Sakura percaya itu.

.

.

"Pengantin wanita belum datang, mungkin sebentar lagi." ucap Fugaku melihat alroji di tangannya. Sasuke yang sudah rapi dengan montsuki*nya kini masih terus mencari sosok di tengah keramaian. Bukan mencari pasangannya, tapi mencari belahan jiwanya yang sudah seminggu ini membuatnya gelisah. Ingin rasanya ia menghancurkan tempat suci ini agar ia tidak perlu menikahi Ino. Yang ia bayangkan hanyalah ia yang mengikrar janji suci dengan Sakura, bukan dengan Ino. Tapi saat matanya tengah mencari-cari, tiba-tiba pendengarannya menangkap sebuah suara.

"Sasuke,"

Sasuke menengok, mendapati sosok yang sudah ia kenal. Tak disangka, kakaknya akan datang dari Paris untuk mendatangi pernikahannya. Baru ia tersenyum, "Kakak—"

"Jangan panggil aku dengan sebutan 'kakak', Sasuke! Sasuke, adikku yang kukenal adalah lelaki sejati. Tapi sekarang kau berbuat hal semacam ini. Aku kecewa denganmu." Itachi sudah datang membawa tatapan seperti ingin membunuh adiknya ini. Itachi sudah sangat sayang pada Sakura, menganggap Sakura seperti adik sendiri, maka dari itu ia sangat setuju dengan hubungan adiknya. Tapi siapa sangka, justru hanya karena kecerobohan Sasuke mengharuskan Sakura menjadi korban.

"Mempelai wanita sudah tiba!"

Suara kerumunan pun membuat omelan Itachi cukup sampai disana. Keduanya menengok, melihat calon isteri Sasuke yang datang dengan menggandeng sang ayah. Saat itu juga, pandangan Sasuke tak bisa lepas. Ino datang dengan mengenakan kimono putih yang nampak anggun, serasi dengan kulit porselennya, wajahnya juga merona merah karena hiasan wajahnya, membuat pipinya lebih terlihat mempesona, bibirnya nampak merekah, juga iris shappirenya yang bertambah terlihat terang dengan polesan-polesan eyeliner juga mascara. Dan tak dapat dipungkiri Sasuke, Ino begitu terlihat cantik.

Bukan hanya Sasuke, ternyata Ino juga menantikan seseorang. Yaitu malaikatnya. Ia ingin ada 'dia' di sini, menyaksikan dirinya. Entah kenapa, walau tempat ini ramai, tapi hatinya begitu sepi. Karena yang bisa membuatnya tersenyum dan tertawa dengan tulus hanyalah 'dia'. Sai.

"Ayah," panggil Ino.

"Ada apa, sayang?"

"Apa Sai juga tidak tahu tentang pernikahan ini?"

Inoichi—nama ayah Ino—ia hanya menghela nafas, "Setelah sepulang dari Paris, dia tidak ada kabar. Tou-san sudah berusaha menghubunginya tapi tidak bisa. Ia juga jarang di kost-annya."

"Begitu, ya..." Ino menunduk lesu. Ayah Ino tersenyum dan mengajak Ino melanjutkan jalan, "Ayo," dan Ino hanya mengangguk.

Pernikahan pun berjalan mulus. Dimulai dengan upacara pernikahan yang dimurnikan oleh Dewa Shinto**, kemudian juga Sasuke dan Ino berpartisipasi dalam ritual san-sankudo***, juga saat keluarga dan kerabat dekat menjadi saksi dengan ucapan janji suci mereka dengan bergantian meminum sake, hingga penutupan dengan menyerahkan sesaji berupa ranting Sakaki****.

Dan dengan demikian, Sasuke dan Ino telah sah menjadi sepasang suami-isteri. Meski dengan paksaan batin pastinya.

.

.

Di tempat lain, sosok bermata onyx sedang menghampiri wanita yang sedari tadi terus melamun di pojok pesta pernikahan Naruto Hinata.

"Sakura,"

Sakura tersadar dari lamunannya, "E-eh, Sai. Sai? Bagaimana kau bisa disini?" Sakura kaget mendapati Sai, yang sudah seperti orang hilang karena tak ada kabar, kini berdiri di sini. "Kau kemana saja?" sambung Sakura.

"Aku study tour dari kampus. Aku sangat kaget mendengar semua ini. Ini tak masuk akal, Sakura!"

Sakura memiringkan kepalanya, "A-aku tidak mengerti..."

"Sakura, Ino pasti sudah selesai ikrar dengan Sasuke, kenapa kau tidak mencegahnya?!" Sai mengguncang-guncangkan bahu Sakura. Sakura menatap dalam onyx Sai, ia tahu sahabat satunya ini sangat mencintai Ino.

Kemudian Sakura menunduk, "Aku... Sudah akan menyerah,"

Sai menatap Sakura tidak percaya. Semudah inikah ia mengalah? Pada akhirnya Sai kembali buka mulut, "Sakura, pernikahan ini adalah karena kebodohanku! Andai setelah sepulang dari Paris aku terus di sini sehingga aku tahu Ino sedang mengandung, jadi Ino tidak perlu menikah dengan Sasuke!"

"Sai!" Sakura membanting suara. Ia benar-benar tidak mengerti dengan perkataan Sai yang malah membuatnya bingung. "Tenangkan dirimu, dan bicara yang buat aku mengerti." sambung Sakura.

Bukan menjawab, Sai justru melepas pegangannya pada bahu Sakura dan menunduk sambil mengepalkan tangannya, membuat wanita iris emerald itu makin bingung. Sai menarik nafas berat dan kembali memegang bahu Sakura.

"Anak dalam kandungan Ino... Adalah anakku..."

.

.

.

Tsuzuku . . .

.

.

.

Datte, Kimi Ga Warau Kara by AsaManis TomatCeri

© 2012

.

.

.

*montsuki: Pakaian pernikahan pria adat Jepang.
**Dewa Shinto: Semacam pendeta atau penghulu.
***Ritual san-sankudo: Ritual yang mengharuskan mempelai pria dan wanita menghirup sake sebanyak sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan.
****Ranting Sakaki: Sejenis pohon keramat yang bertujuan mengusir roh-roh jahat dengan cara pembersihan, doa dan persembahan kepada Dewa.

Untuk typo, gomen. Karena aku ngetik buru-buru.^^v Hayo~ Apa masih ada yang penasaran? Hehehe, ditunggu aja untuk selanjutnya, ya. Dan maaf untuk Ino-chan, aku membuatmu begitu jahat di sini, juga Saku-chan yang begitu menderita. Nanti ada masa-masa bahagianya kok. ;) Sip, segitu aja cuap-cuapnya. Terima kasih untuk kalian semua yang setia dengan fic ini!*hug*

SPECIAL THANKS :

Andri, Wakamiya Hikaru, widyan tk login, FhYyLvRhYy ELF, ndyyCeulCeul, SS, Sindi 'Kucing Pink, IzuYume SaitouKanagaki, Jang Yue Ri, sukariwehsendiri, rex, Aii Sakuraii, A-tan, Saranghae ThunderSiwonOppa, Amabelle Caltha, sasachan, Andy's Aysakura, KIMI, Doremi saku-chan, Hikari Meiko EunJo, Obsinyx Virderald, Hikari Uchiwa, Kikyo Fujikazu, sssk, PetaLs, Karasu Uchiha, akai tori-chan, Kenshin, nisa, iraira, Uchiha Itu Sasuke, BlueHaruchi Uchiha, saitou ayumu Uchiha, Retno love sasusaku, Soo Dana, Hotaru no Hikari AnimeLovers, Mey Hanazaki.

Dan para readers yang numpang lewat aja. Arigatou. ;)

See You Of The Next Chapter...!^^

R

E

V

I

E

W

?