Tik.. Tok.. Tik.. Tok..

Jongin menggeliat dalam tidurnya, ia sedikit menyerit saat merasakan dibeberapa bagian tubuhnya terasa sakit terlebih pada bagian pinggang kebawah.

"Sial, rasanya aku akan mati saat ini". Jongin bergumam pelan ketika ia menggerakan tubuhnya.

"Ungh..". Jongin terdiam, ia menajamkan pendengarannya saat mendengar suara orang lain selain suaranya. Pergerakan kecil Jongin rasakan di sampingnya.

Jongin menoleh dan tubuhnya tiba-tiba saja membeku saat menyadari siapa sosok yang kini terbaring disebelahnya dengan keadaan yang sama dengannya, full naked.

Ingatan kejadian semalam terlintas dengan acak di kepala Jongin. Desahan, darah dan sperma. Itulah hal yang benar-benar Jongin ingat dengan jelas di dalam fikirannya.

'Fuck!, kenapa aku bisa melakukan hal ini dengan... Anakkku?!'. Batin Jongin menjerit, ia merutiki dirinya sendiri yang terbawa oleh nafsu sehingga menikmati semua yang dilakukan Sehun terhadap dirinya. Liquid bening jatuh begitu saja saat mata Jongin berkedip.

'Maafkan aku.. Aku benar-benar berdosa'. Lagi, Jongin menyesali semua yang sudah terjadi terhadap dirinya.

Perasaannya benar-benar campur aduk saat ini. Menyesal? Tentu saja, tapi mau bagaimana lagi? Ini semua sudah terjadi, walaupun Jongin menangisi hal ini semuanya pun tak akan kembali seperti sebelumnya.

Kini, rasa panik menyerang Jongin. Sehun kembali menggeliat dalam tidurnya menandakan jika sebentar lagi ia akan terbangun. Gelisah, tapi Jongin tetap terdiam membeku dalam posisinya. Seolah-olah jika ia bergerak itu akan semakin menambah masalah baginya.

Kelopak mata Sehun terbuka, pandangan mereka bertemu. Jongin tetap terdiam, entah bagaimana tapi di dalam hati kecil Jongin ia 'sedikit' mengharapkan bahwa yang tengah terbangun dihadapannya saat ini adalah Willis.

"K.. K-kau?!!". Inilah puncaknya, Jongin ingin sekali menenggelamkan dirinya di lautan sehingga ia tak dapat lagi untuk menunjukan wajahnya kepada seluruh dunia.

Sehun segera bangkit, ia menarik selimut hingga menutupi tubuh nakednya. Tatapan tajamnya tak lepas dari sosok dihadapannya. Pandangannya mengisyaratkan bahwa ia meminta penjelasan tentang apa yang ia lihat sekarang.

Jongin tersenyum miris, kenapa sekarang ia terlihat seperti tersangka dalan hal ini padahal sudah jelas bahwa Jongin adalah korban dari semua yang terjadi.

"Apa yang kau lakukan padaku?!". Pandangan itu, Jongin merasakan Sehun tengah menilainya menjijikan dan rendahan. Dan fakta itu sukses menohok hatinya.

"S-sehun.. Aku bisa jelaskan. Sungguh". Jongin sedikit ragu, ia menundukkan kepalanya. Enggan menatap sang lawan bicara, nyalinya terlalu kecil jika menyangkut tentang Sehun.

"Kau murahan! Bahkan dengan tak tahu malunya kau tidur dengan anakmu sendiri? Menjijikan!". Sakit, begitu sakit saat kata-kata itu keluar begitu mudahnya. Jongin menggigit pipi dalamnya untuk memendam suara isakannya, ia terus menununduk dan meneteskan air matanya.

"Kau bahkan terlalu menjijikan untuk menjadi ayahku. Kau fikir di dunia ini ada seorang anak yang menginginkan seorang gigolo sebagai ayahnya?! Hanya orang gila yang menginginkan hal itu. Aku menyesal terlahir karena benihmu".

'Cukup! Ku mohon berhenti berkata seperti itu. Ku mohon jangan tambahkan sayatan baru pada hatiku'

"S-se.. Hun..". Bibir Jongin bergetar, air mata tak hentinya terus mengalir membentuk anak sungai pada pipinya.

"Dasar Jalang!". Tak memperdulikan Jongin yang terus menunduk, Sehun segera bangkit dan memunguti semua pakaiannya. "Kau menjijikan". Setelah mengatakan hal itu Sehun benar-benar pergi meninggalkan Jongin yang masih terdiam pada tempatnya.

'Apa yang harus aku lakukan?' - KJI

.

.

.

_Daddy Is My Sex Partner_

.

.

.

Pukul 7 pagi. Jongin telah bersiap untuk mengantar Sehun ke sekolah tapi ia tetap enggan untuk bangkit dari duduknya. Takut, ia terlalu takut dan malu untuk menampakan wajahnya dihadapan Sehun. Pikirannya berkecamuk, bingung ingin mengambil tindakan seperti apa yang baik bagi dirinya dan juga Sehun.

"Lebih baik aku menjelaskan semuanya". Dengan ragu Jongin bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya.

Pandangan yang pertama kali ia tangkap saat keluar dari kamarnya adalah TV yang menyala dan seseorang yang tengah memunggunginya.

Jongin tersenyum, rasa takutnya perlahan menghilang. Ia menghela nafas lega karena mengetahui siapa orang yang tengah memunggunginya.

"Hyung?". Panggil Jongin pelan. Pria itu menoleh dan tersenyum ke arah Jongin.

"Pagi, Jongin". Jongin menghampiri pria itu, dan mendudukan dirinya di samping pria yang ia sebut 'Hyung'.

"Kemarin aku tak melihatmu. Pergi dengan pacarmu huh?". Jongin mengakhiri ucapannya dengan senyuman mengejek, dan dibalas dengan dengusan menyebalkan dari sang lawan bicara.

"Yah.. Minho mengajakku pergi hingga lupa waktu kemarin. Kau iri? Carilah pacar sana". Taemin mengibas-ngibaskan tangannya mengisyaratkan Jongin untuk pergi dengan candaan.

"Cih, aku tidak perlu komitmen dalam hidup". Taemin tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari Jongin.

"Kau lucu, bodoh. Memangnya kau fikir hidup hanya penuh dengan sex? Kau harus punya pendamping agar hari tuamu tidak kesepian. Coba bayangkan saat kau sudah tua dan sudah tidak bisa mendesah. Kau pasti akan merasa iri karena aku nanti akan hidup bahagia dengan anak dan cucuku, sedangkan kau? Terduduk sendirian, kasihan. Mungkin hanya Sehun yang akan menemanimu tapi memangnya Sehun mau tinggal denganmu? Aku yakin dia lebih memilih untuk tinggal bersama ibunya". Jongin terdiam, semua ucapan Taemin masuk ke dalam kepalanya.

Jongin benar-benar memikirkan semuanya, tentang pasangan, keluarga, kerabat, kebahagiaan Jongin sungguh menginginkannya. Sehun, benar juga. Sehun pasti lebih memilih untuk tinggal bersama ibunya dibandingkan dengannya, terlebih mengingat kejadian tadi pagi.

Pintu kamar Sehun perlahan terbuka, menimbulkan suara deritan pelan. Jongin dan Taemin secara bersamaan menoleh, menatap Sehun yang sudah siap dengan seragam sekolah yang melekat pada tubuhnya, dan penampilannya tetap sama seperti kemarin.

Taemin kembali mengalihkan pandangannya ke arah televisi ia masa bodoh dengan 'keluarga kecil' Jongin. Yang ia tau Jongin harus membayar double untuk uang sewa apartemennya.

Berbeda dengan Taemin, Jongin segera bangkit dan berjalan ke arah Sehun. Dengan rasa ragu ia terseyum ke arah Sehun dan menyapanya.

"P-pagi.. Se-sehun". Jongin merutuki dirinya saat menyadari suara yang ia keluarkan terdengar putus-putus.

Sehun berdecih, ia segera berlalu melewati Jongin. Refleks Jongin menarik lengan Sehun agar menghentikan langkahnya.

"B-biar aku yang mengantarmu". Jongin gugup, ini pertama kalinya ia bersentuhan dengan Sehun terlebih dulu. Tentu saja, karena yang semalam 'menyentuh'nya adalah sosok lain dari Sehun.

Sehun menepis tangan Jongin yang mengenggam lengannya dengan kasarnya. Jongin sedikit meringis, tapi ia tak peduli dengan rasa sakitnya. Ia hanya ingin Sehun mendengarkan penjelasannya dan memaafkannya.

"Aku tak sudi berdekatan denganmu. Kau terlalu kotor untukku". Nyuut, ngilu. Itulah yang Jongin rasakan di hulu hatinya karena ucapan Sehun yang dengan mudahnya terlontar dari bibir tipisnya. Bibir yang semalam membuainya.

Jongin menggeleng, ia ingin menghapuskan ingatannya tentang semalam. Tanpa disadari Sehun sudah menghilang dibalik pintu apartemennya.

Tepukan pelan Jongin rasakan dipundaknya. Ia menoleh, melihat Taemin yang tersenyum getir kepadanya.

"Dia sudah tau ya?". Jongin mengangguk menjawab pertanyaan Taemin, kepalanya tertunduk lemas.

Taemin mengusap punggung Jongin pelan, ia merasa iba terhadap Jongin. Pasti sakit dihina dan di rendahkan oleh seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, pikir Taemin.

.

.

.

_Daddy Is My Sex Partner_

.

.

.

Disinilah Jongin berdiri sekarang. Didepan sebuah pintu kayu bercat coklat pekat dengan coretan tinta dan stiker-stiker aneh di setiap sisinya. Dengan langkah gontai Jongin masuk kedalamnya. Ruangan dengan minim penerangan menyapanya, ia mendengus ruangan ini sama seperti hatinya suram, gelap dan sepi.

"Kai hyung?". Merasa namnya dipanggil Jongin menoleh, ia terseyum mendapati seseorang yang dikenalnya tengah berdiri dengan membawa beberapa kantung sampah ditangannya.

"Apa yang kau lakukan disini? Ini bukan waktunya aku untuk buka". Jongin mengacuhkan pertanyaan seseorang yang memanggilnya hyung itu, tanpa memperdulikan protesan sosok itu Jongin dengan santainya berjalan ke arah meja bar dan menurunkan salah satu kursi kayu yang berada di atasnya.

"Aku hanya ada perlu sebentar". Ucap Jongin pelan setelah mendudukan dirinya di atas kursi yang ia ambil barusan.

"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan menyelesaikan ini dulu". Sosok itu mengangkat kedua tangannya dan menunjukan kantung sampah yang dibawanya. Jongin mengerti dan mengangguk pelan.

Tak lama kemudian pria itu muncul dihadapan Jongin dengan meja bar yang berada di antara mereka.

"Sekarang apalagi? Apa karena Kris Wu yang sampai saat ini masih ingin melamarmu? Atau karena Choi Siwon yang telah menceraikan istrinya demi dirimu?". Jongin menggeleng pelan.

"Tidak, ini hanya masalah keluargaku". Pria itu terdiam. Menatap Jongin dengan tatapan iba.

"Jadi, apakah kau bisa membantuku? Aku butuh peran mu disini". Pria itu terdiam sejenak, menimang permintaan Jongin.

"Kau serius? Bahkan ini terlalu pagi untuk mabuk". Jongin menggeleng, ia tidak menerima penolakan sekarang.

"Baiklah, tunggu sebentar disini".

"Kau yang terbaik Park!". Jongin tersenyum dan berteriak kepada pria yang mulai pergi dari hadapannya.

"Yah, dan kau bodoh Kim!". Jongin terkekeh mendengar ucapan pria itu, namun tanpa ia sadari Jongin tersenyum kecut di akhir kekehannya karena marga 'palsu' -nya.

Pria itu kembali dengan sebuah gelas kecil dan sebotol Champagne digenggamannya. Perlahan pria itu membuka tutup botol itu dan menuangkan isinya kedalam gelas yang tadi ia bawa.

Saat, pria itu memberikan gelasnya kepada Jongin, bukannya menerima gelas itu Jongin justru meraih botol hijau tua itu dengan serampangan dan menebaknya cepat.

"Hei, hyung! Kau bisa mati jika begitu!!". Pria itu menarik dengan paksa botol yang kini sudah Jongin pegang erat.

"Ya! Park pendek Jimin! Kembalikan minumanku!". Pria itu–Jimin mendelik tak suka ke arah Jongin karena panggilan menyebalkan yang dengan mudahnya dilontarkan Jongin.

"Aku tidak pendek!". Jimin berteriak, ia bahkan sudah tak perduli saat botol itu sudah berhasil di rebut Jongin dengan mudahnya.

Jongin segera menegak minuman itu hingga tak tersisa, ia meminumnya hanya dengan satu tarikan nafas. Ia meletakan botol itu di atas meja bar dengan sedikit bantingan, nafasnya memburu dan setelahnya kesadarannya menghilang.

.

.

.

_Daddy Is My Sex Partner _

.

.

.

Jongin mengerjapkan matanya saat merasakan bias cahaya masuk kedalam retina matanya. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk memegang kepalanya yang terasa berdenyut ketika pandangannya sudah mulai jelas.

Dengan menahan rasa pusing dikepalanya, Jongin mencoba untuk mengenali tempatnya berada sekarang. Merasa familiar dengan tempatnya sekarang ia hanya menyerit bingung, bagaimana ia bisa ada di sini? Kira-kira itulah yang sedang berada dipikirannya sekarang.

Jongin mengumpat pelan ketika menyadari sesuatu, pandangannya kini mengarah pada tubuhnya lebih tepatnya keadaan pakaiannya, ia menghela nafas lega karena prasangkanya kali ini tidak benar. Bagaimana mungkin Jongin tak berpikir buruk tentang keadaannya, masalahnya sekarang ia sedang berada di dalam kamar Kris, seseorang yang terobsesi akan durinya. Bukannya Jongin munafik untuk mengatakan bahwa ia benci disentuh saat keadaan tubuhnya sedang tidak sadar tapi ia jadi tidak memiliki alasan untuk meminta imbalan atau uang jika melakukannya dalam keadaan tubuhnya sedang tidak sadar.

Saat Jongin tengah berkecamuk dengan pikirannya sendiri tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka menampilkan seorang pria yang lebih tinggi darinya dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku melekat pada tubuh profesional miliknya.

"Kau yang membawaku kemari?". Pria itu hanya berdehem kecil, dan Jongin menaikan sebelah alisnya menatap heran kepada sikap Kris yang berbeda dari biasanya. Bahkan sekarang Kris masih berdiri di ambang pintu dengan tatapan dinginnya.

"Apa ada yang salah dengan 'ku?". Dari jarak yang tidak terlalu jauh ini Jongin dapat melihat Kris tengah menghembuskan nafasnya dengan kasar.

Kris berjalan ke arahnya, tatapannya sulit di artikan. Jongin menatapnya dengan was-was karena jujur saja, ini pertama kalinya Kris bersikap seperti ini padanya ia hanya takut Kris melakukan hal yang tak terduga seperti membunuhnya atau apapun itu.

"Siapa Sehun?". Tanya Kris ketika tubuhnya sudah bersebelahan dengan tubuh Jongin yang masih terduduk di atas ranjangnya.

"Huh?".

"Kau terus menyebutkan nama itu. Siapa dia Kai? Kau menyukai sosok bernama Sehun itu? Jawab aku Kai!!". Tubuh Jongin tersentak, tak mengira sedikitpun jika Kris akan membentaknya. Dari raut wajahnya Jongin menilai Kris tengah sangat marah sekarang tapi kenapa? Cemburu?! Tapi, mereka bahkan tidak memiliki hubungan apapun.

"Kau.. Membentakku?? Baiklah Kris, aku tak akan bertemu denganmu lagi". Jongin bangkit, ia merapihkan sedikit tatanan rambutnya dan berniat pergi dari ruangan itu namun sayang tangan kanannya sudah terlebih dulu ditahan oleh Kris.

Tangan kiri Jongin terulur untuk melepaskan pegangan Kris pada kedua tangannya, bukannya terlepas justru kini tubuh Jongin terhuyung karena tarikan Kris pada tubuhnya untuk mendekat ke arahnya. Dengan gerakan cepat Kris melahap bibir penuh Jongin untuk menahan pekikan terkejut Jongin karena tindakannya yang tiba-tiba.

Jongin yang sudah benar-benar lemah dengan lumatan serta kuluman yang Kris berikan pada bibirnya hanya dapat menyerah dan pasrah, ia mengalukan tangan kanannya ke belakang kepala Kris dan menariknya agar ciuman mereka lebih dalam sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menuntun kedua tangan Kris menuju ke bokongnya untuk diremas.

"Ungh.. Kriss". Sebuah lenguhan keluar begitu saja ketika kedua tangan Kris berkerja dengan baik di belakang tubuh Jongin.

Kris melepaskan pangutannya dan menatap Jongin yang tengah balik menatapnya dengan tatapan sok polos miliknya. Tangan kanan Jongin terulur ke arah rahang Kris, dengan perlahan dan gerakan sensual jarinya menari di atas permukaan kulit pipi Kris kemudian merambat ke arah tulang selangkanya.

"Aku tak akan menyukai siapapun, kau harus tau itu. Pria yang kau sebut tadi, dia hanya salah satu dari mimpi burukku yang seharunya ku lupakan. Kau tenang saja, sayang". Jongin kembali membelai rahang Kris dan mengecupnya singkat.

Suasana yang tadinya nampak tenang kini menjadi sedikit lebih berantakan, Kris mendorong begitu saja tubuh Jongin hingga tubuh Jongin terhempas ke atas ranjang itu kembali. Kris kembali mendekat ke arah Jongin, melumat kembali bibir yang menjadi candunya terlebih saat ini bibir itu memiliki aroma champagne yang sangat khas.

"Tubuhmu memang bukan milikku Kai, tapi aku tak akan membiarkan hatimu dimiliki orang lain". Kris kini semakin bernafsu, setelah mengatkan hal itu ia memainkan tangan hingga bibirnya ditubuh Jongin.

"Nggh.. Ahh". Jongin kembali mendesah, jika sudah seperti ini tubuhnya tak bisa bertindak lebih. Kris sudah sangat menguasai tubuhnya.

Kris melepaskan seluruh pakaian yang melekat pada tubuh Jongin tanpa terkecuali, tatapannya tertuju pada kedua nipple Jongin yang mencuat karena rangsangan yang diberikan.

Awalnya sebuah kecupan kecil tak berarti Kris berikan pada dada Jongin tanpa menyentuh nipple-nya membiarkan sang empunya mengerang tertahan karena friksinya tak tersampaikan.

"Kriissh.. Ah!". Jongin memekik keras begitu tangan Kris meremas ereksinya dengan kuat.

"Call me daddy, Bear". Kris menyeringai saat mendapati ekspresi wajah Jongin yang tengah menahan hasratnya.

"Daddh.. Please". Jongin memohon, ia mengulurkan kedua tangannya mengisyaratkan Kris untuk mendekatkan tubuhnya. Tapi bukan Kris namanya jika akan langsung menuruti keinginan pria tan dihadapannya ini.

Tak memperdulikan desahan Jongin yang semakin lema semakin keras dan nyaring, kini Kris menaik-turunkan tangannya dengan tempo lambat pada batang ereksi Jongin.

"Keyword, baby". Kembali, Kris meremas penis Jongin agar keinginannya tercapai. Keinginannya untuk mendengar dirty talk milik Jongin yang sudah sangat ia rindukan.

"Ahh.. Dadhh.. Cukup main-mainnya. Memangnya daddy tidak merindukan lubang Kai-ei hem?". Jongin membuka pahanya lebar, membiarkan Kris melihat dengan jelas lubangnya yang tengah berkedut.

"Bahkan dia sangat merindukan penis daddy, oh dad... Aku rasa lubang ku ini sudah hampir lupa bagaimana besar dan bentuk penis daddy saat berada didalamnya, apakah daddy ti– akh!!". Jongin memekik begitu Kris melesakkan kedua jarinya ke dalam lubangnya tanpa persiapan apapun.

"Ucapanmu benar-benar membuatku selalu mengutuk bibir manismu, Kai". Kris kembali melumat bibir Jongin dengan brutal, kedua jarinya ia diamkan didalam sana menikmati pijatan lembut dari dinding rektum Jongin kepada kedua jarinya.

Jongin melepas tautan itu pertama kali, ia membuka kacing-kancing kemeja Kris dengan cepat hingga akhirnya semua pakaian yang Kris pakai berhasil ia lucuti.

"Kemari dad.. Rasakan lubangku". Jongin menjilat bibir bawahnya sensual, memancing gairah Kris yang semakin melonjak.

Kris mengangkat tubuh Jongin ke atas pangkuannya. Tangannya ia gerakan di pinggang Jongin mengelusnya dengan lembut.

"Hari ini kau yang bekerja, Sayang". Jongin mengangguk, ia mengarahkan kedua tangannya ke penis Kris dan mengarahkannya didepan lubangnya.

Kris melenguh ketika kepala penisnya masuk dengan lambat kedalam lubang Jongin. Merasa tidak puas dengan pergerakan Jongin yang lamban, Kris menghentakan tubuh Jongin begitu saja.

"Ng... Aaaah!". Kepala Jongin mengadah ke atas merasakan benda yang besar sudah memenuhi lubangnya hingga terasa sesak.

"Rasamu tetap sama Sayang, selalu nikmat". Kris menggeram di akhir kalimatnya, merasakan perasan yang luar biasanya pada penisnya.

"Kau juga Kris, begitu menggairahkan dan jan-aah!". Jongin berteriak ketika Kris dengan tiba-tiba menghentakan pinggangnya sehingga seluruh lubangnya penuh oleh ereksi milik Kris.

"Kau mulai berani baby, jangan lupakan panggilanmu padaku atau kau benar-benar tidak akan berjalan besok". Jongin kembali mendesah, tubuhnya kini sudah sepenuhnya berada didalam kekuasaan Kris walaupun posisinya sekarang ini tengah menunggangi penis Kris namun tetap saja sisi dominan Kris dapat dengan mudah melumpuhkan seluruh syarafnya.

"Move sayang". Jongin menuruti perintah mutlak dari Kris, perlahan ia mengangkat bokongnya hingga lubangnya dapat merasakan bentuk penis Kris yang mulai keluar dan setelahnya ia memghentakan tubuhnya hingga penis Kris kembali tertanam dengan sempurna di lubangnya.

Jongin terus menghentakkan tubuhnya berkali-kali untuk mendapatkan kesenangannya sendiri, sedangkan Kris tengah sibuk mempermainkan mulut dan lidahnya dipermukaan kulit leher dan dada Jongin serta kedua tangannya yang tengah mengerjai penis serta bongkahan pantat Jongin tak jarang Kris juga mengikut sertakan jari-jarinya untuk bergabung menikmati ketat dan hangatnya lubang milik Jongin.

"Ahn... Dad.. I wan– ahh..ahh naa ahh cumhh". Jongin mendesah keras ketika merasakan jika dirinya sudah dekat, Kris yang mendengar kode dari Jongin segera menutup lubang kencing pada ereksi Jongin dengan kencang sehingga cairan putih yang di nanti-nanti Jongin sulit keluar.

"Aahh bajingan! Kris lepas!". Jongin mengumpat dan menyumpah serapah Kris yang telah menutup lubang kencingnya sedangkan tubuhnya masih terhentak-hentak dengan bantuan Kris yang menaik turunkan tubuhnya dengan cepat sambil meremas bongkahan pantat Jongin.

"Aku selalu gemas dengan bibirmu yang berucap kotor". Kris memajukan wajahnya dan menggigit bibir bawah Jongin dan menariknya.

"Ahh dadh.. Jangan mengerjaiku". Jongin memohon dengan mata yang sayu.

"Aku tidak ingin ini cepat berakhir". Kris kini mengubah posisi mereka, ia menidurkan Jongin dan dengan perlahan menggerakan pinggulnya tanpa memperdulikan Jongin yang tengah meringis akibat gerakan Kris yang kurang cepat.

"Ahhh, lihatlah betapa cantiknya dirimu Jongin. Kau ingin mengatakan sesuatu?". Kris benar-benar menghentakan kejantanannya dengan tempo yang pelan namun dengan kuat ia menumbuk sisi dalam Jongin.

"Akh.. Dad.. Kumohon ahh perkosa aku dengan kuat dan kasar". Mendengar itu Kris tersenyum simpul kemudian ia menuruti perintah Jongin untuk menumbuknya dengan kuat dan kasar sehingga tubuh ramping berkulit Tan itu terlonjak-lonjak dengan kasar.

Setelah beberapa saat mereka bersetubuh dengan posisi seperti itu akhirnya Jongin mendapatkan orgasmenya dan Kris memuntahkan cairan putih hangat kedalam hole Jongin.

"Ronde kedua, baby?".

"Yes, daddy".

.

.

.

.

.

.

TBC

Chapter ini udh di up di wattpad yaa.. buat yang nanya kenapa yg di wattpad blm juga update jawabnnya karena saya lagi kehilangan mood untuk nulis. Saya minta maaf untuk itu *bow*