Last chap :
"Sekarang bangunlah. Aku sudah menyiapkan baju kerjamu di sofa, seperti biasa. Bergegaslah, aku rasa air hangatnya sudah mulai dingin di dalam bathup"
"Kita bisa memanaskannya. Mau mandi bersamaku pagi ini?
"Dalam mimpimu, Tuan Jung" JaeJoong mendorong tubuh Yunho yang baru berdiri ke dalam kamar mandi.
"Pelit sekali~ tunggu satu minggu lagi. Kau tak akan bisa mengelak lagi"
'Satu minggu lagi? Ohh Tuhan.. Kenapa cepat sekali. Aku belum siap meninggalkannya, Tuhan' JaeJoong bergegas keluar kamar.
…
…
Enno KimLee Presents
"i'll protect you – Chap 6"
Main Cast : YunJae
Slight : ChunJae, Jessica
Rate : T+
Warn : BoyxBoy, hurt (?), romance, alur maju-mundur
Don't Like..? Don't Read..!
If you've read, please leave a comment
It's easy, Right.
No Copas.. Okeh..
inspirated : Promises, Promises
YunJae saling memiliki..
YunJae saling melengkapi..
YunJae punya orang tua, saudara-saudara mereka, cassie, serta shipper.
Dan cerita ini, murni milik saya!
Yunho terbangun dan ia merasakan tenggorokannya kering. Ohh ia ingat bahwa semenjak tadi, ia belum meninum air mineral. Tapi seketika gerakannya terhenti saat indera penciumannya menghirup aroma yang sangat di hafalnya. Kemudian ia memutar badannya dan menemukan JaeJoong yang tertidur dilantai dengan kepala berada diatas ranjang bertumpu kedua lengannya.
'Ia menemaniku?' gumam Yunho tak percaya.
Yunho perlahan bangun dan memindahkan tubuh JaeJoong ke atas ranjangnya. Ia tak akan membiarkan JaeJoong sakit karenanya, tubuh itu langsung bersentuhan dengan lantai, tanpa sesuatu untuk melapisinya. Hal itu pula yang membuat Yunho meminta karpet bulu dengan sedikit tebal, agar mereka bisa duduk dilantai.
Mereka? Yaa.. Mereka!
Yunho sudah membulatkan tekadnya untuk membuat JaeJoong kembali menjadi miliknya. Ia sudah membicarakan hal ini dengan keluarganya dan keluarga JaeJoong. Appa Shim tak berkata apa-apa selain "Aku tak mengerti dengan kalian. Terserah kalian saja"
Setelah Yunho membaringkan tubuh JaeJoong di ranjangnya. Ia mengusap lembut pipi JaeJoong dan mengecupnya perlahan. Yunho tak mau jika nanti JaeJoong terbangun dan mendapatinya sedang mencuri ciumannya. Bisa-bisa, JaeJoong langsung memutuskan hubungan kerja mereka.
Yunho tersenyum saat melihat wajah polos yang sedang tertidur itu. Ia kembali mengingat bagaimana indahnya kebersamaan mereka dulu.
..flashback..
"Kenapa lama sekali? Aku kedinginan" ujar Yunho saat melihat JaeJoong memasuki kamarnya.
"Kenapa menunggu aku memakaikan pakaianmu jika kau bisa sendiri?" JaeJoong memutar kedua bola matanya saat melihat Yunho yang memakai singlet dan bokser bergelung di dalam selimut.
"Karena aku menginginkannya" Yunho menjawab dan segera berdiri di hadapan JaeJoong.
"Hahh~ Bagaimana jika aku tak ada? Apa kau akan begini sampai aku datang?"
"Jika kau tak ada, aku akan memakainya sendiri" Yunho tersenyum puas melihat JaeJoong yang sedang memakaikan kemeja hitamnya dan memasangkan kancing.
"Kalau begitu. Besok aku akan pergi, agar kau tak manja seperti ini" lalu JaeJoong memakaikan celana bahan hitamnya dan memakaikan ikat pinggang.
"Mau kupakaikan dasi dan jas atau sarapan dahulu?"
"Kau bergantilah dulu, aku menunggumu" Yunho mendorong tubuh JaeJoong ke lemari pakaiannya.
…
…
"Yun~ mau menemaniku berjalan-jalan tidak? Sore ini aku ingin ke sungai Han"
"Untuk apa, Boo?" Ucap Yunho seraya mempererat pelukannya pada tubuh JaeJoong.
"Hanya inngin berjalan-jalan. Bukankah hari ini terakhir kita bersama?" JaeJoong mengusap tangan Yunho yang melingkar di pinggang rampingnya.
"Kenapa cepat sekali tiga hari ini terlewati. Aku masih ingin bersamamu. Ak-"
Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuat JaeJoong terkekeh. JaeJoong tau jika Yunho merasa kesal jika waktu sore harinya di kantor di ganggu oleh sekretarisnya. Yunho sudah memberitahu bahwa batas gangguan hanya sampai jam 5, tak lebih. Dan kini baru setengah lima, wajar bukan jika ada suara ketokan?
Yunho melepas pelukannya dan berjalan menuju meja kerjanya, sedangkan JaeJoong tetap berdiri di dekat jendela. JaeJoong terkekeh melihat tampang Yunho yang merenggut "Yunho-ah~ wajahmu!"
Yunho pun berdehem dan menampilkan senyum simpulnya ketika ia menyuruh masuk sekretarisnya itu. "Kenapa kau datang sore hari huh? Bukankah aku mengatakan siang, Park Yoochun?" ujar Yunho kesal ketika melihat sosok yang di bawa sekretarisnya.
Sekretaris kembali menutup pintu setelah melihat Yoochun menghampiri Yunho yang berdiri sambil berkacak pinggang. "Slow down Yunho hyung. Ahh Jae hyung.." Yoochun berbelok ketika melihat JaeJoong di dekat jendela.
"Nee Chunnie-ah.. Apa kabarmu?" sapa JaeJoong ramah, menimbulkan gemuruh aneh di dada Yunho.
"Kabarku baik. Hmm bagaimana dengan Changminie? Ia tak mengabariku jika sudah kembali ke Jepang bulan lalu."
"Changmin titip salam padamu. Dan ia berkata, jika kau tak menghubunginya saat aku bertemu denganmu, ia ak-"
"Ya! Dia tidak memberitahuku nomor ponselnya. Ya! Yunho hyung~ bagaimana ini? Ini kesempatanku. Ahh bagaimana ini?" Yoochun panik saat ia ingat tak punya nomor ponsel Changmin.
Waktu ia menyatakan rasa sukanya pada Changmin setelah keluar rumah sakit, hanya Changmin yang menyimpan nomor Yoochun. Yoochun harus mencari nomor Changmin dan Yunho tak diperbolehkan memberitahu oleh JaeJoong.
"Tenanglah.. Aku akan memberikan nomornya" JaeJoong mengeluarkan ponselnya. Seketika itu juga, Yoochun memeluk JaeJoong dan membuat seorang Jung Yunho berteriak.
"Ya! Ya! Jidat lebar! Lepaskan! Ya!" Yunho berjalan menghampiri mereka berdua.
"Tenanglah hyung.. Aku tak akan merebutnya" Yoochun melepaskan pelukannya pada JaeJoong dan mengeluarkan ponselnya. Yoochun mencatat nomor ponsel Changmin dan melirik Yunho.
Cup..
"Gumawoo Jae hyung~" Yoochun mencium pipi kanan JaeJoong dan langsung melesat keluar sebelum ia di lempar dari lantai 5 kantor Yunho.
"Ya! Park Yoochun! Awas kau!" Teriakkan Yunho hanya di balas kekehan Yoochun.
"Kau mau terus berteriak atau menemaniku jalan-jalan, Yun? Aku ingin sekali ke sungai Han" JaeJoong membalikkan tubuhnya menghadap Yunho. Ia melingkarkan sebelah lengannya ke leher Yunho.
"Hey~ kau seperti mengidam" Yunho meraih pinggang JaeJoong dengan lengan kirinya, sedangkan lengan kanannya ia usap perut JaeJoong dari luar.
"Yunho pabbo~ mau menemani tidak?"
"Baiklah~ kajja" Yunho menautkan jari mereka dan akan menemani JaeJoong.
..flashback off..
Tiga minggu sudah berlalu ketika Yunho pindah kerumahnya walau belum sepenuhnya selesai di desain oleh JaeJoong. Tinggal dapur yang kembali Yunho minta desain ulang dan pembuatan taman kecil di belakang rumah itu.
Jung Yunho dan Kim JaeJoong pun sudah tak dalam keadaan 'dingin' ataupun menghindar. Mereka sudah memulai hubungan baru walau JaeJoong masih suka mengacuhkan Jung Yunho.
Tapi seperti yang dikatakan Jung Yunho, ia tak akan melepaskan JaeJoong lagi. Tidak akan membiarkan orang lain merusak hubungan 'baik' tiga minggu ini. Tak akan membiarkan usahanya dalam pendekatan kembali hubungan mereka sia-sia.
Seperti saat ini..
Kim JaeJoong menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sedih..?
Terluka..?
Marah..?
"Lebih baik kau pulang dan temani Jessica. Bukankah kalian sedang bersenang-senang? Lalu mengapa kau malah datang kesini?" ujar JaeJoong.
Yunho mengerutkan alis mendengar ucapan JaeJoong saat ia datang ke rumahnya. Ia menatap JaeJoong yang sedang bersedekap di samping jendela dan berjalan mendekatinya.
"Untuk apa lagi kau datang kemari? Aku sudah menelfonmu untuk membatalkan janji kita kan" lanjut JaeJoong.
"Menelfon? Ponselku ter-"
"Bukankah kau sedang menikmati malammu dengan Jessica? Membuatnya mendesahkan namamu"
JaeJoong menggigit bibirnya dengan keras. Apa yang sudah dikatakannya? Ia tak bermaksud seperti itu. Melihat Yunho yang berdiri mamatung di depannya membuat hatinya terasa perih. Melihat kilatan kaget di mata Yunho membuatnya ingin menarik kembali kata-katanya.
JaeJoong juga merasa tertohok dengan kata-katanya sendiri, ia merasa tersakiti. Sakit dengan kenyataan bahwa Jung Yunho, orang yang masih sangat dicintainya masih berstatus suami orang.
JaeJoong menarik napasnya perlahan.
Yunho yang tersadar setelah mendengar nama Jessica langsung mendekat ke JaeJoong dan memeluknya erat.
"Apa yang kau katakan Boo? Aku tak mengerti" bisik Yunho di telinga JaeJoong.
JaeJoong menggerakkan tubuhnya, berusaha melepas pelukan Yunho dan ternyata berhasil. JaeJoong melangkahkan kakinya kearah pintu lalu membukanya. "Pulanglah. Aku tak mau ia datang kemari dan melihat kalian memadu kasih"
"Tapi aku ti-"
"Pulanglah Yun.."
Dengan tak rela, Yunho mengikuti ucapan JaeJoong dan pulang kerumahnya. Meninggalkan JaeJoong yang bersandar pada balik pintu dan menatap lurus ke depan. Yunho tak ingin membuat JaeJoong menjauh lagi. Tak ingin.
Laju mobil itu terlihat bagai rollercoaster. Memecah jalanan sepi di daerah Seoul. Lelaki bermata tajam bagai musang itu memegang erat setir mobil. Rahangnya mengatup keras dan kilatan marah terpancar dari tatapan matanya.
"Shit! Apa yang diperbuat Jessica sampai JaeJoong berkata seperti itu" geram Yunho ketika ia tiba dirumahnya bersama Jessica.
Yunho membanting pintu mobil dengan kasar dan berjalan cepat memasuki rumahnya. Ia memasukkan kunci ke lubang kunci kemudian memutarnya dan langsung masuk menuju kamar Jessica.
"Apa yang ka-" ucapannya terhenti ketika melihat Jessica tidur berpelukan bersama seorang lelaki.
Yunho menghela nafasnya "Hah.. Jadi ini masalahnya" dan Yunho mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi JaeJoong.
Tuut.. Tuut..
Tuut.. Tuut..
Sudah belasan kali tapi sambungan telfon tak juga terangkat.
"Angkat telfonku atau aku akan membawamu paksa untuk bertemu Jessica" pada akhirnya Yunho mengirimi JaeJoong sms. Lalu setelah itu, ia membuat sambungan video call.
Sambungan terangkat namun hanya menampakan lampu dimeja nakas.
"Ada apa?" JaeJoong akhirnya bersuara setelah keheningan melanda mereka beberapa menit.
"Kau harus melihatnya dan dengarkan aku" pinta Yunho tegas.
"Kau memaksaku huh?"
"Tidak. Aku ingin kau melihatnya. Aku tau kau tak akan percaya jika aku hanya berkata"
"Aku mendengar suaramu, kau memanggil nama Jessica. Dan ia memanggil namamu. Jadi apa aku salah dengar?"
"Kau salah paham Jae, lihatlah.." Setelah berkata seperti itu, Yunho menghadapkan ponselnya pada Jessica yang tertidur sambil berpelukan.
Tak ada suara, kembali keheningan yang mereka ciptakan. Hingga "Kau sudah melihatnya kan?" ujar Yunho.
"Tutuplah Yun, aku ingin tidur" suara JaeJoong membuat Yunho membalik telfonnya dan memperlihatkan wajahnya.
"Aku bertanya padamu, Kim JaeJoong" suara Yunho kini terdengar dingin dan menuntut.
"Tak bisakah kau tak selalu memaksakan mau mu? Aku benar-benar ingin tidur, Yun" suara JaeJoong terdengar sedikit serak.
"Tapi aku ingin melihatmu dulu sebelum menutup telfonnya" ujar Yunho dengan suara yang kembali lembut dan berjalan keluar dari kamar Jessica.
Yunho hanya bisa menghela nafasnya saat ia membuka pintu kamarnya dan ia duduk di tepi ranjangnya tapi tak ada jawaban dari perkataannya tadi.
"Tidurlah kalau begitu. Istirahatlah.. Aku mencintaimu" pik. Sambungan diputus oleh Yunho dengan berat hati.
"Mencintaiku? Bolehkan aku juga bilang bahwa aku mencintaimu? Masih mencintaimu hingga hanya mampu menahan sesak saat bersikap acuh padamu" lirih JaeJoong saat sambungan telfonnya dengan Yunhoterputus.
..To be continued..
Thanks to :
Trililililili :: Guest :: Kim soo nie :: meirah.1111 :: carol :: blackwhite28 :: NaraYuuki :: meyy-chaan :: vermilion :: YukimaruNara :: BlaueFEE :: aii chan :: YuyaLoveSungmin :: JennyChan :: rara
A/N :
Pada bingung dengan flashbacknya di chap kemarin yah?
Padahal diatas udah aku kasih Warn loh.
Warn : BoyxBoy, hurt (?), romance, alur maju-mundur
Untuk NaraYuuki, makasih buat koreksinya. Daku ga sempet baca ulang, yang terlintas langsung diketik dan langsung publish.
Chap ini pun sama dengan chap kemarin, tanpa baca ulang, jadi silahkan ketik saran dan kritik kalian ^^
Terima kasih juga untuk kalian yang udah follow dan fav ff ini ^^ #hugAll
Btw, udah liat teaser rekaman album Solo JJ yang genre Rock itu?
Aigooo~ Denger suara JJ yang seperti itu, bikin aku nelen ludah.
Kasian banget tuh pita suara.
Jangan-jangan, itu penyebab FanMeet Doi di Indo kemarin tak bisa mengeluarkan suaranya sedikitpun?
Molla~
So.. Gimme Your Review…?
