Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
Rate : M for Save no LEMON yaa...
Sasuke 25 tahun / Sakura 16 tahun
.
.
Don't Like Don't Read
.
~ my little wife~
[chapter 07]
.
.
.
Sakura masuk ke dalam kamarnya dan membuangnya dirinya di kasur, yang seharusnya dia mengatakan. 'Apa kau marah padaku?' dan malah yang keluar adalah 'Aku membencimu!'. Sakura memeluk bantal gulingnya erat-erat, dia merasa bodoh sekarang. Apa suasana seperti di gunung es akan di rasakannya terus-menerus. Sakura merasa Sasuke membencinya. Dia benar-benar sangat jauh dan sulit untuk di gapai Sakura.
Sakura merasakan sakit pada hatinya. Tiba-tiba saja dia menangis dan segera masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan shower dan menangis di sana, dia tidak ingin Sasuke mendengar suaranya. Kembali kepikiran, untuk apa dia menangis. Sakura merasa aneh pada dirinya sendiri, jika Sasuke menjauhinya itu bukan masalah besar, bukan? Sasuke tidak memiliki hak apa-apa untuk membuatnya bersedih atau menyakitinya. Sakura menutup mulutnya dengan tangannya, mana mungkin dia menyukai Sasuke. Apa perasaan sakitnya ini karena Sasuke menjauhinya. Sakura menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran itu.
.
.
OOO
.
.
Pagi hari, Sasuke akan mengantar Sakura. Mereka tengah berada di dalam mobil. Sakura hanya terdiam. Saat membuat sarapan pun, Sakura tidak berbicara apa-apa. Sasuke melirik sejenak ke arah Sakura yang seakan-akan pikirannya entah kemana, tatapannya kosong, dia seperti melamun. Sorot mata Sasuke terfokus pada wajah Sakura. Wajahnya tidak berseri-seri seperti biasanya, terlihat padam dan matanya sedikit bengkak. Sasuke merasa sedikit bersalah sudah membuat Sakura menangis. Dia merasa perlu mengakhiri hukuman ini, yaah, mungkin setelah dia pulang kerja.
Mobil sedan hitam itu melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. Setelah sampai di depan gerbang. Sakura membuka sabuk pengamannya, menatap sejenak ke arah Sasuke yang tidak juga menatapnya balik. Tatapan Sasuke fokus ke depan. Sakura menghela napas dan turun dari mobil tanpa ucapan apapun. Sakura sudah berjalan masuk ke gerbang dan tatapan Sasuke beralih ke arahnya. Mungkin jika Sakura tahu dia sedang di hukum, Sasuke harus siap-siap mendapat pukulan keras dari Sakura. Mobil sedan itu kembali melaju ke jalan raya.
Sakura berjalan dengan malas ke arah kelasnya. Suasana hatinya sedang tidak bersahabat, dia terlihat ogah-ogahan untuk berjalan.
"Pagi, Sakura." Ucap Ino berlari dari arah belakang dan langsung memeluk Sakura.
"Pagi." Ucap Sakura dengan nada datar dan tidak berniat menoleh ke arah Ino.
"Ada apa? Wajahmu aneh sekali? Apa kau sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Wajahmu sedikit pucat, apa ke UKS saja?"
"Tidak perlu, aku tidak sakit kok Ino."
"Hei, jangan cuman tinggal diam di koridor, kalian akan telat." Ucap Temari yang juga baru datang.
"Temari, sepertinya Sakura tidak baik-baik saja."
"Kalian apa-apaan sih, aku tidak sakit kok. Ayolah, nanti kita telat masuk." Ucap Sakura. memperlihatkan wajah cerianya, dan berjalan lebih dulu dari Ino dan Temari, setelah itu, wajahnya berubah kembali lagi, datar dan tatapan yang kosong.
Ino dan Temari saling berpandangan, mungkin cuma perasaan mereka saja. Sakura terlihat ceria seperti biasanya. Mereka berjalan mengikuti Sakura dari belakang. Ino dan Temari tiba-tiba mulai berlari ke arah Sakura, tapi lumayan jauh. Mereka tidak akan sempat menahan Sakura.
"Hei, jangan melamun." Ucap Sasori yang langsung menarik pelan lengan Sakura untuk menjauhkannya dari tembok kelas.
Sakura kaget, dia sendiri tidak sadar jika ada tembok besar yang sedang berada di depannya.
"Sa-Sasori."
"Ada apa? Kau melamun sambil berjalan, apa tembok ini tidak cukup besar untuk penglihatanmu?"
"Aku tidak melihatnya. Maaf." Ucap Sakura menundukkan wajahnya.
"Sakura. Kau tidak apa-apa? Ya ampun, kau hampir menabrak tembok ini." Ucap Ino.
"Biar kami yang membawanya ke kelas." Ucap Temari dan menarik lengan Sakura dari genggaman Sasori.
Mereka bertiga berjalan di depan dan susul Sasori dari belakang. Sasori merasa ada yang aneh pada Sakura, akhir-akhir ini dia sering melamun dan jarang berbicara. Wajah cerianya menghilang. Apa sudah terjadi sesuatu Sakura, apa hal ini ada hubungannya dengan Sasuke. Sakura sama sekali tidak ingin berbicara apapun, bahkan kedua sahabatnya, Ino dan Temari tidak juga mengetahui apapun. Sakura adalah tipe orang yang pintar untuk menyembunyikan rahasianya sendiri.
Kelas berakhir. Ino dan Temari tak kunjung mendapat cerita apapun dari Sakura. Mereka menghela napas sejenak dan berpamitan dengan Sakura.
Sebuah motor sport putih melaju ke arah Sakura dan berhenti pas di hadapan Sakura.
"Naiklah, aku akan mengantarmu."
"Apa tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak, aku tidak pernah repot jika harus mengantarmu."
Sasori memberikan helm ke arah Sakura. Detik berikutnya, motor Sasori sudah melaju ke arah jalan raya. Tidak jauh dari motor Sasori, sebuah mobil silver mengikuti mereka dari arah belakang.
"Sasori."
"Ya?"
"Bisa membawaku ke suatu tempat, terserah kemana saja, aku tidak ingin pulang."
"Kau mau kemana?"
"Terserah kau saja."
"Uhm, baiklah."
Sasori mengubah arah jalannya menuju apartemennya. Sasori membawa Sakura ke sana.
Mereka tiba di sebuah apartemen yang mewah. Motor Sasori sudah terparkir di basement. Mereka menaiki lif dan naik ke lantai 15. Kamar nomer 2204. Sasori mengambil kunci di sakunya dan membuka pintu.
"Selamat datang di istana kecilku." Ucap Sasori.
Sakura tersenyum dan masuk ke dalamnya. Di dalam di dominasi dengan warna putih. Sasori sepertinya suka dengan yang berwarna putih. Motornya juga memiliki warna yang sama.
"Anggap saja rumah sendiri."
Sakura duduk di sofa dan masih sibuk memperhatikan apartemen Sasori yang bisa di bilang sangat rapi untuk seorang pria, dia lupa Sasuke juga adalah seorang pria dan dia sangat menjaga kerapian di rumah mereka. mengingatnya kembali membuat wajah Sakura menjadi sedih.
"Apa kau ada masalah? Mau menceritakannya padaku?"
"Tidak Sasori, aku tidak punya masalah."
"Kau tidak bisa berbohong Sakura."
Sakura terdiam. Dia tidak ingin membahas apapun tentang Sasuke saat ini.
"Apa kau tinggal sendirian?" Sakura mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Tapi ayah dan kakakku akan datang ke sini, biasanya sebulan sekali."
"Uhm. Jadi mereka meninggalkanmu di Konoha sendirian."
"Yaa, begitulah. Aku sudah terbiasa dengan pindah-pindah kota."
"Pindah-pindah kota? Apa kau tidak pernah menetap lama di satu kota?"
"Kadang-kadang, tapi mungkin di kota ini aku akan tinggal lama."
"Jadi, kau selama ini pindah-pindah sekolah?"
"Tentu saja. Aku akan tetap melanjutkan sekolahku. Menurutku sekolah adalah tempat yang paling menarik."
"Pacarmu?"
"Pacar? Tidak Sakura, aku tidak memiliki pacar, aku masih single kok."
"Apa tidak ada yang menarik perhatianmu."
"yaa... semuanya menarik perhatianku"
"Benarkah? Kau tahu, kau satu-satunya pangeran di sekolah, kata beberapa murid di sana."
"Hahahahaha, pangeran? Apa memakai kuda putih, oh iya, motorku berwarna putih yaa. Hahaha." Ucap Sasori, merasa ini sangat lucu. Dia di cap pangeran di konoha gakuen.
Sakura tersenyum menatap Sasori yang terus saja tertawa sambil memegang perutnya. Sasori merasa hal itu konyol dan membuatnya tidak berhenti tertawa.
"Ahk, baiklah, biarkan saja mereka mengatakan hal itu. Mau minum sesuatu? Teh, kopi, jus, atau kau ingin minuman bersoda?"
"Minuman bersoda, berapa pun yang kau punya dan yang dingin."
"Apa kau sedang kehausan?"
"Mungkin."
"Tunggu yaa, akan ku ambilkan."
Sakura menyandarkan punggungnya dan kepalanya ke sofa. Dia butuh istirahat. Sedikit lelah dan semalaman dia kesulitan untuk tidur, untung saja tidak terlambat di pagi hari. Kembali matanya melirik ke seluruh ruang tamu Sasori. Tapi tidak ada yang menarik perhatiannya.
Sasori keluar membawa 5 kaleng minuman bersoda non alkohol dan menaruhnya di meja. Sasori duduk di sofa yang berhadapan dengan Sakura.
"Kau sakit?"
"Sakit? Aku tidak sakit."
"Wajahmu lumayan pucat."
"Mungkin perasaanmu saja."
Sakura mengambil sekaleng, membuka dan meneguknya beberapa kali.
"Mungkin hanya di sini saja aku bisa minum soda, di rumah Sasuke akan melarangku jika meminumnya."
"Pria yang perhatian."
"Aku tidak suka. Dia terlalu banyak melarang beberapa hal padaku. Aku malas untuk bertemu dengannya." Sakura meneguknya kembali.
"Apa ada masalah antara kalian?"
Sakura hampir menyemburkan minumannya.
"T-tidak, aku tidak ada masalah dengannya."
"Di sini hanya kita berdua. Kau bebas mengatakan apapun."
Sakura terdiam. tangannya memainkan kaleng sodanya dan sorot matanya menjadi kosong.
"Aku tidak tahu apa yang membuat Sasuke marah padaku. Dia seperti menjauh." Ucap Sakura.
"Kau sudah menanyakannya?"
Sakura menaruh kalengnya di atas meja dan kembali menyandarkan punggungnya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kami tidak pernah berbicara dan aku malah berucap 'benci' padanya. Apa aku salah?"
"Tentu. Seharusnya kau berbicara dengannya, katakan alasannya, kenapa dia marah padamu. Jika kalian tidak berbicara, kalian akan seperti ini terus."
Sakura menurunkan tangannya menatap ke arah Sasori.
"Ini sulit, Sasori. Apa yang ingin ku ucapkan dan yang keluar adalah kata-kata kasar. Mungkin sekarang ini dia semakin benci padaku."
"Latihan berbicara? Apa mau aku bantu."
"Tidak usah Sasori, aku sedang malas." Sakura kembali meneguk minumannya hingga habis. Kaleng kedua, Sakura meminumnya lagi beberapa kali, meneguk dan berhenti, kembali Sakura meneguknya hingga habis. kaleng ketiga. Sasori menjauhkan kaleng itu dari Sakura.
"Perutmu akan kena masalah jika kau meminumnya secara berlebihan."
"Tidak Sasori, berikan padaku."
"Sudah cukup Sakura. kau tidak boleh meminumnya."
"Aku benar-benar kehausan."
"Tidak akan. Sebaiknya kau minum air mineral saja."
"Aku tidak mau."
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Aku tidak mau pulang."
"Sakura."
"Aku benci padanya."
Sasori terdiam dan menghela napas sejenak. Sakura adalah tipe orang yang keras kepala. Sasori sendiri bingung untuk membuat Sakura tenang.
"Jika kau tidak memberikan kaleng itu, kau juga akan ku benci." Ucap Sakura kesal.
"Kaleng terakhir dan kau akan berhenti."
"Iya-iya. Kemari kan cepat."
Sasori memberikan kaleng ketiga Sakura. meneguknya beberapa kali hingga habis. Sakura mulai merasa tidak enak pada perutnya. Sasuke sudah melarangnya untuk meminum minuman bersoda dan Sakura tidak memperdulikannya.
"Sepertinya aku butuh toiletmu."
"Di sebelah sana." Sasori menunjukkan sebuah ruangan dengan pintu berwarna coklat. Sakura terburu-buru masuk ke toilet dan benar saja, perutnya sudah tidak tahan dengan soda-soda itu, Sakura memuntahkan semua soda yang di minumnya.
"Aku setuju dengan Sasuke, kau tidak boleh meminumnya." Teriak Sasori dari arah ruang tamu saat mendengar suara muntah Sakura.
Sakura membuang muka tidak perduli dengan kata-kata Sasori.
"Aku lapar, mau keluar untuk membeli suatu?"
"Tidak usah, mana dapurmu? Apa bahan-bahanmu lengkap?"
"Mungkin tidak selengkap dapurmu, tapi setidaknya ada beberapa bahan yang bisa di masak. Aku jarang masak, kakakku yang menaruhnya"
"Baiklah. Aku akan membuatkanmu makanan."
"Kau bisa masak?"
"Tentu."
Sakura mulai memasak. Sasori berjalan ke kamarnya untuk mengganti baju. Sasori baru mengetahui hal ini, Sakura bisa memasak, dia pikir Sakura hanya gadis galak yang sulit beradaptasi dengan dapur.
Setengah jam berlalu. Beberapa hidangan sudah tertata di meja makan. Sangat harum dan membuat Sasori tidak sabar untuk mencicipinya.
"Apa sesuai lidahmu?"
"Uhm, enak, aku suka masakanmu."
"Terima kasih."
"Ahk, aku jadi iri dengan Sasuke, dia setiap hari memakan masakanmu."
"Hahahaha, apaan sih. Jika aku tidak masak, Sasuke akan makan apa. Aku tidak suka dia makan di luar." Sakura menutup mulut. Dia keceplosan sendiri.
"Tidak perlu kau tutupi, dia suamimu dan wajar saja."
Sakura tertunduk malu dan mulai ikut makan. Sesekali Sakura akan bercerita pada Sasori. Sakura merindukan Sasuke yang mendengarnya bercerita setiap mereka makan bersama.
.
.
OOO
.
.
Sasuke sudah pulang dan langsung masuk ke kamarnya. Suasana rumah kembali sepi, jika seperti ini, Sakura selalu berada di kamarnya.
Sasuke sudah mandi dan mengganti pakaiannya. Dia akan berbicara dengan Sakura dan menghentikan hukuman yang membuatnya ikut merasa menderita sendiri. Dia sangat rindu menyentuh Sakura dan mengganggunya.
Ketukan beberapa kali dan tidak ada jawaban dari dalam kamar Sakura. Sasuke memutar gagang pintu dan tidak terkunci. Membuka perlahan pintu kamar Sakura dan melirik ke seluruh ruangan. Mata Sasuke tertuju pada gadisnya yang sudah tertidur nyenyak di kasur. Dia sudah tidur di jam segini. Tidak biasanya. Sasuke masuk dan berdiri di sisi ranjang Sakura. menatap istrinya yang terlihat kelelahan dan sepertinya dia selalu bersedih. Sasuke duduk di sisi ranjang Sakura dengan pelan, berharap Sakura tidak bangun. Tangannya mengusap pipi dan membelai perlahan rambut Sakura.
"Sasuke...~"
Sasuke terkejut dan langsung menarik tangannya. Tidak, Sakura tidak bangun, dia hanya mengigau dan masih tertidur. Sasuke menatapnya cukup lama, memajukan wajahnya ke arah Sakura dan mencium bibir Sakura. Merindukan bibir mungil istrinya. Menciumnya cukup lama dan sedikit melumatnya pelan, dia masih hati-hati untuk tidak membangunkan Sakura. Sasuke segera menyudahinya dan menjauhi Sakura, dia tidak ingin terbawa suasana lagi dan malah akan menuntut lebih di saat Sakura masih tertidur. Sasuke bergegas keluar dan menutup pelan pintu kamar Sakura.
Keesokan paginya. Sakura bangun tepat waktu, sedikit malas tapi dia harus bersiap-siap untuk ke sekolah. Menguap perlahan dan meregangkan otot-ototnya. Sasori mengantarnya pulang setelah mereka makan bersama. Sedikit lebih lega saat Sakura menceritakannya pada Sasori, mungkin dia butuh seseorang untuk mendengar keluh kesalnya. Dia tidak ingin menceritakannya pada Ino dan Temari, mereka akan menceramahi Sakura habis-habisan. Mereka seperti kubu Sasuke yang lebih mendukung Sasuke dari pada dia.
Berjalan malas ke arah kamar mandi. Sejenak memperhatikan wajahnya di cermin. Sakura menyadari wajahnya yang terlihat lebih kusut dari biasanya. Sikap Sasuke sepertinya sangat berpengaruh padanya. Sakura merasa ada yang aneh, apa seekor serangga diam-diam menggigit bibirnya, seperti terlihat sedikit bengkak pada bibir bawahnya. Tapi jika serangga, bibirnya akan memerah, yang ada hanya bengkak saja. Sakura mengabaikannya dan mandi untuk bersiap-siap.
Sarapan bersama dan Sakura terlihat tidak begitu bersemangat. Sasuke yang ingin menyapanya duluan malah menjadi gengsi dan tidak ingin berbicara apa-apa. Keinginannya semalam untuk berbicara menghilang begitu saja. Dia merasa Sakura yang harus menyadari kesalahannya dan meminta maaf padanya.
Sarapan pagi berakhir dengan tidak adanya pembicaraan apa-apa. Sasuke menjadi ogah-ogahan dan Sakura merasa seperti sedang di kutub utara. Sikap Sasuke semakin dingin padanya.
Sepulang sekolah Sakura merengek pada Sasori untuk mengajaknya lagi ke apartemennya, di sana ada PS3 dan membuat Sakura betah berlama-lama. Kebiasaannya bermain game kembali, sedikit risih dengan Sasuke yang melarangnya sering-sering bermain game, Sakura harus selalu belajar dan kadang mendapat teguran keras dari Sasuke.
Sudah sore hari dan pandangan Sakura tidak lepas dari layar tv dan tangannya yang sibuk menekan-nekan tombol. Sasori duduk di sofa dan hanya sebagai penonton.
"Sudah sore, jam berapa kau akan pulang?"
"Sebentar lagi."
"Sasuke akan mencarimu."
"Dia pulang malam."
"Sakura."
"Ap- hmm! Hmm!"
Dengan sangat keras Sakura mendorong Sasori untuk menjauh darinya. Sakura sangat terkejut dengan Sasori yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya dan mencium bibirnya dengan paksa dan kasar.
"Apa yang kau lakukan!" Ucap Sakura, dia terlihat sangat marah.
"Aku sudah tidak bisa menahannya." Ucap Sasori dan tersenyum di depan Sakura. Lebih tepatnya sebuah seringai.
"Ada apa denganmu?"
"Ahk, sudahlah, aku bosan menunggumu Sakura. Apa kau tidak bisa peka sedikit saja?"
"A-apa maksudmu?"
"Aku menyukaimu, meskipun kau sudah memiliki suami, lagi pula kau tidak pernah menganggapnya suamimu kan, Sakura?"
Sakura terkejut menatap Sasori, seakan-akan dia bukan Sasori seperti biasanya. Tubuhnya bergetar mendengar ucapan Sasori.
"Tu-tunggu dulu Sasori, aku menganggapmu teman, teman baik."
"Aku tidak bisa menganggapmu teman, Sakura."
Sakura mulai merasa tidak suka dengan suasana ini, tatapan Sasori berubah dan membuatnya mulai ketakutan.
"Sebaiknya aku pulang." Ucap Sakura dan berjalan mengambil tasnya.
Sasori tidak tinggal diam dan malah merangkul perut Sakura dan menahanya untuk pergi.
"S-Sasori! lepas!" Teriak Sakura.
"Sebentar saja."
Sakura merasa aneh pada bagian lehernya yang ternyata sudah di kecup dan sedikit ada gigitan di sana membuatnya sedikit berdarah. Sakura merontah-rontah dan sekali rangkulan Sasori melonggar, Sakura bersigap berbalik dan.
Bughhhtt..!
"Sa..ku..ra.." Sasori tumbang.
Sakura mengutuk tubuhnya sendiri yang terlalu kecil untuk sebagian pria. Tapi, dia tidak akan pernah takut untuk menghajar mereka. Tubuh Sakura memang kecil, tapi pukulannya begitu kuat dan membuat Sasori pingsan. Tubuhnya masih gemetaran, membuat kakinya seakan-akan mati rasa dan sulit untuk di gerakan. Untuk pertama kalinya ada yang berani macam-macam dengannya dan itu adalah Sasori, orang yang sudah di anggapnya sebagai teman.
Tok tok tok
Suara ketokan pintu apartemen Sasori terdengar sangat keras. Sakura terkejut dan bingung mau melakukan apa. Dia takut jika orang yang melihat situasi ini salah paham dan malah akan melaporkannya.
"Nyonya Sakura!"
Sakura mendengar seseorang meneriaki namanya dari arah pintu dan ketokan pintu itu masih terdengar dan sangat keras, tapi bukan sebuah ketokan, pintu itu seperti di dobrak paksa. Seorang pria berbadan tinggi dan tegap, lebih tinggi dari Sasuke. Memakai setelan serba hitam dan berjalan menghampiri Sakura.
"Anda baik-baik saja nyonya?"
Sakura masih ketakutan dan malah mundur perlahan.
"Si-siapa?"
"Akan aku jelas saat di mobil. Sebaiknya anda pulang sekarang, nyonya." Pria itu melirik sejenak ke arah Sasori yang sudah tumbang. Cukup membuatnya terkesan. Untung saja Sakura jauh lebih kuat dari Sasori.
Tidak ada ide lain yang terlintas di kepala Sakura. Pria di hadapannya ini begitu asing baginya, tapi dia seperti penyelamat bagi Sakura. Sakura mengikutinya untuk keluar dari apartemen dan meninggalkan Sasori yang masih belum sadarkan diri.
Pria itu bernama Jugo, dia adalah salah satu pelayan pribadi Sasuke di kediaman Uchiha. Sasuke menyuruhnya untuk menjaga Sakura sepanjang hari di sekolah, mengabarinya jika ada gerak-gerik mencurigakan, hal ini Sasuke lakukan setelah tahu, Sasori anak Akasuna Rasa bersekolah di sekolah yang sama dengan Sakura.
Mobil silver itu melaju ke arah jalan raya. Jugo sudah menjelaskannya pada Sakura. Dia hanya mengangguk dan terlihat masih ketakutan. Jugo memilih menghubungi Sasuke sebelum memutuskan akan membawa Sakura pulang atau tidak.
"Tuan, aku bersama nyonya."
"Bawa dia ke kantorku."
"Baiklah."
Jugo mematikan ponselnya dan membawa Sakura ke arah kantor Sasuke. Sakura masih terdiam dan hanya mengangguk lagi saat Jugo mengatakan mereka akan ke kantor Sasuke.
Setengah jam berlalu. Mereka sudah sampai di sebuah gedung pencakar langit dengan berlambangkan kipas raksasa pada atapnya. Jugo mengantar Sakura segera ke ruangan Sasuke. Mereka tiba di ruangan direktur utama, Sasuke yang sementara sedang menandatangani berkas yang di bawa Karin, menghentikan kegiatannya, menyuruh Karin untuk kembali ke ruangannya dan Jugo pamit untuk keluar.
Hanya ada mereka berdua di ruangan Sasuke. Tatapan Sasuke mengarah ke Sakura yang terlihat sedikit berantakan pada seragamnya. Seakan-akan dia sudah di terjang oleh hewan buas.
"Kau baik-baik saja?" Ucap Sasuke. Sejujurnya dia sangat khawatir, tapi tak terlihat dari wajah datarnya.
Sakura menggelengkan kepalanya dan tertunduk sedih. Sakura masih malu untuk menghampiri Sasuke, mengingat Sasuke tidak pernah menegurya beberapa hari ini dan hampir seminggu.
"Kemarilah." Ucap Sasuke.
Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke, Berjalan perlahan-lahan dan langsung berlari ke arahnya, memeluk Sasuke erat, sangat erat. Tubuhnya kembali gemetaran. Sasuke membalas pelukkan Sakura dan sama seperti Sakura, dia memeluknya erat dan mengusap perlahan punggung Sakura untuk menenangkannya. Tatapan Sasuke tertuju pada noda darah di kerah seragam Sakura. di gesernya kerah Sakura dan memperlihatkan bekas luka gigitan di sana.
"Apa dia yang melakukannya?"
Sakura hanya mengangguk. Dia menahan dirinya untuk tidak menangis dan masih dalam pelukkan Sasuke.
"Maaf aku tidak mendengarkan ucapanmu."
"Hmm. Sebaiknya kita pulang."
Sasuke melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Sakura. Sasuke pulang lebih awal. Sasuke Mengajak Sakura untuk keluar dari ruangan menuju lif dan segera berada di dalam mobil. Sasuke mengendarai dengan satu tangan dan tangan satunya masih menggenggam tangan Sakura yang tidak juga melepaskan tangan Sasuke. Sakura masih membutuhkan Sasuke di dekatnya.
Mereka sudah tiba di rumah. Sasuke meminta Sakura untuk mengganti seragam sekolahnya dulu sebelum lukanya di obati. Tidak menunggu lama, di ruang tengah, mereka duduk di sofa panjang, Sasuke sedang membersihkan darah yang mulai pengering. Baju yang di kenakan Sakura cukup memperlihatkan bekas lukanya. Sesekali Sakura akan merintih, merasa perih pada lukanya. Sasuke selesai dan luka Sakura sudah di beri plester. Mata Sasuke masih mencari-cari luka yang mungkin masih ada dan dia tidak menemukan luka lain.
"Apa dia hanya melakukan itu padamu?" Tanya Sasuke menunjuk luka di leher Sakura.
Sakura mengalihkan pandangnya. Dia sangat malu jika harus mengatakan jika Sasori juga sudah menciumnya di bibir.
"Katakan saja."
Sakura masih tidak berbicara dan kembali tertunduk sedih.
"Sakura. Aku hanya ingin tahu apa yang sudah di perbuatnya. Tidak apa-apa jika kau berkata jujur, aku tidak akan marah padamu."
Sakura menunjuk bibirnya dengan takut-takut. Tapi tidak ada satu pun suara yang keluar dari mulut Sakura. Dia merasa seperti gadis yang sangat gampangan untuk di sentuh orang lain selain Sasuke.
Paham dengan maksud Sakura, Sasuke mendekatkan perlahan wajahnya, hanya tinggal beberapa senti tapi Sasuke tidak melakukannya. Wajah Sakura masih tertunduk. Sasuke mengingat kembali wajah Sakura yang takut jika di ciumnya.
"Sakura."
Sakura tidak menoleh dan masih setia pada tatapannya ke bawah.
"Tatap aku jika kau mengijinkan ku untuk melakukannya." Ucap Sasuke lagi.
Sakura mengangkat wajahnya perlahan dan menatap Sasuke, menatap mata kelamnya yang membuat wajah Sakura merona. Detik berikutnya Sasuke sudah mencium bibir Sakura, perlahan-lahan dan sedikit menjilatnya. Sakura menutup matanya, merasa kelembutan di bibirnya. Sasuke menyudahinya dan menjauhkan wajahnya dari Sakura.
"Aku harap bekas itu akan menghilang. Dia tidak melakukan lebih dari itu?"
Blusssh...
Wajah Sakura memerah. Jika Sasori melakukan lebih, maka Sasuke akan melakukannya juga. Membayangkannya saja membuat Sakura akan segera pingsan, wajahnya sangat memerah saat ini . Sakura terdiam dan bisa membedakan antara Sasori yang kasar padanya dan Sasuke yang lembut padanya, hanya saja Sakura tidak suka sikap tegas Sasuke. Sedikit terkejut dengan Sakura langsung memeluk erat Sasuke.
"Aku merindukanmu. Maaf jika aku sudah mengatakan benci padamu." Ucap Sakura.
"Hn. Tidak apa-apa, aku sudah melupakkannya." Sasuke membalas pelukkan Sakura dan dia juga sangat merindukannya.
"Aku ingin mendengar apa pun tentang Sasori." Ucap Sakura. Dia masih tidak ingin melepaskan pelukkannya dari Sasuke.
Sasuke mulai menceritakan tentang Sasori yang selalu berpindah-pindah sekolah. Mungkin setelah kelakuannya pada Sakura, dia akan pindah di sekolah khusus laki-laki dengan pengawasan yang ketat. Sasuke akan melaporkan kejadian ini pada orang tua Sasori.
Sasori adalah anak bungsu dan sangat di manjakan oleh kakaknya Gaara, bahkan kedua orang tuanya. Sikapnya yang selalu baik, pintar, dan selalu terlihat perfect di mata orang, tapi di balik semua itu, Dia hanya anak manja yang selalu menuntun. Dia memiliki masalah tentang menyukai, jika dia menyukainya, dia akan menuntutnya sampai dapat. Sasori tumbuh menjadi anak yang suka melakukan seks bebas pada beberapa teman sekolahnya dan tidak ada satu pun yang mau mengakui kesalahan Sasori. Sasori mengancam mereka dengan kekuasaan keluarganya.
Gaara diam-diam mengawasi Sasori dan meminta ayahnya untuk memindahkan Sasori ke luar kota. Bukannya jerah, Sasori malah kembali dengan sikap buruknya itu, Gaara sampai pusing untuk memindahkan Sasori kemana lagi dan akhirnya Sasori ditinggalkan di Konoha. Mungkin beberapa teman-teman sekolah Sakura sudah melakukannya bersama Sasori.
Sakura yang mendengar semuanya menjadi takut untuk bertemu kembali dengan Sasori. Pelukkannya semakin erat pada Sasuke.
"Tenanglah, dia akan segera di pindahkan." Ucap Sasuke dan mengusap perlahan punggung Sakura, menenangkannya.
"Aku tidak ingin berteman dengannya lagi."
"Uhm, itu lebih baik."
Sakura tersadar dan langsung melepaskan pelukkannya, menjauh dari Sasuke.
"Ma-maaf." Wajahnya menunduk dan sudah sangat memerah. Sakura terbawa suasana sedihnya dan lupa jika dia terus-terusan saja memeluk Sasuke.
"Apa kau takut padaku?"
"Ti-tidak."
"Hn?"
"Aku benar-benar belum terbiasa." Ucap Sakura masih dengan rona menghiasi wajahnya.
Sasuke memegang tangan Sakura, membimbingnya untuk mendekatinya di sofa.
"Duduklah." Ucap Sasuke menepuk-nepuk di sebelahnya.
"Apa kau marah padaku akhir-akhir ini?" Akhirnya Sakura berani mengucapkan apa yang sejak dulu terlintas di pikirannya.
"Hn. Aku sangat marah padamu."
"Maaf. Tapi, kau tidak bisa mendiamkanku begitu saja! Rasanya seperti hidup sendirian." Sakura kembali tertunduk sedih, mengingat beberapa hari yang lalu, Sasuke mengabaikannya. "S-Sasuke, apa yang kau lakukan!" Sakura terkejut saat Sasuke menariknya untuk duduk di atas pangkuan Sasuke. Saling berhadapan dan Sangat dekat. Sakura tidak bisa menahan wajahnya yang sudah malu dan berasa ingin meledak jika sedekat ini dengan Sasuke.
"Akan aku maafkan. Tapi, hukuman terakhir." Bisik Sasuke dan terlihat seperti sebuah seringai yang terpampang di wajahnya. Berbeda dengan Sasori yang membuat Sakura menjadi takut, tapi saat Sasuke yag mengucapkannya, dia menjadi malu.
"A-apa?"
Sasuke kembali mencium bibir Sakura dan sedikit menuntut di sana. Sakura tidak bisa mengimbangi apa-apa dari Sasuke. Dia hanya mengikut perintah dan permainan Sasuke. Lama-kelamaan Sakura merasa sesak pada dadanya, menjaukan bibirnya dari bibir Sasuke dengan paksa. Napasnya tidak karuan. Sasuke terlalu lama menciumnya dan membuatnya kehabisan oksigen. Seperti sebuah pemandangan indah untuk Sasuke. Wajah Sakura yang merona, napasnya yang masih memburu dan mata sayupnya, sungguh manis bagi Sasuke.
"Su-suda-h?" Ucap Sakura masih mengatur napasnya.
Sasuke mengangguk dan memeluk Sakura. memeluknya sangat erat. Sakura bisa merasakan detak jantung Sasuke. Terdengar stabil, sedangkan Sakura harus bersusah payah menenangkan detak jantungnya yang sudah deg-degan sejak tadi.
.
.
OOO
.
.
Suasana pagi di sekolah yang tidak biasanya. Sakura berpapasan dengan beberapa murid cewek dan wajah mereka terlihat sedih. Sakura merasa kebingungan. Beberapa murid lain sibuk berbisik-bisik dan seperti sedang menggosipkan sesuatu.
Tiba di kelas, suasana kelas tidak jauh beda dengan koridor, sama-sama terlihat ada yang aneh. Beberapa murid menatap Sakura sejenak dan kemudian mereka kembali sibuk berbisik.
Temari sudah ada di kursinya dan membuat Sakura sedikit lega, dia masih penasaran dengan apa yang terjadi di sekolahnya.
"Sakura, temani aku ke toilet." Ucap Temari.
"Uhm, baiklah." Ucap Sakura dan menyimpan tasnya di meja.
Sakura mengikuti Temari berjalan menuju toilet. Suasana toilet yang masih sepi dan tidak ada orang di sana. Temari hanya mencuci tangannya dan menatap cermin besar yang ada di dinding.
"Apa kau sudah tahu jika Sasori tiba-tiba di pindahkan?"
Sakura sedikit terkejut. Secepat itu Sasori langsung di pindahkan dari Konoha gakuen.
"Kapan?"
"Hari ini, dan kabar itu cepat sekali beredar, entah siapa yang sibuk menggosipkannya sepagi ini."
"Uhm."
"Kau dekat dengannya, apa dia ada masalah?"
Sakura tertunduk. Dia sedang tidak ingin membicarakannya.
"Apa dia melukaimu?"
"Tidak."
"Kau tahu, gosip yang beredar. Beberapa murid cewek di sekolah kita sudah di tiduri olehnya. Mereka hebat sekali membuat gosip seperti itu."
Sakura terdiam, itu bukanlah gosip, melainkan sebuah kenyataan, yang seharusnya tidak perlu di bongkar. Mungkin saja ada pihak yang mengambil keuntungan dari hal ini dengan membongkar rahasia terburuk Sasori yang di cap murid teladan dan sangat pintar di konoha gakuen. Temari melirik ke arah Sakura dan merasakan ada yang tidak beres.
"Sakura, jika kau benar-benar punya masalah, aku harap kau bisa menceritakannya padaku."
Sakura menatap Temari dan merasa sedikit bersalah, Temari adalah sahabat baiknya dan dia seharusnya tidak berdiam diri saja dengan masalahnya sendiri.
Tangan Sakura naik ke atas kerahnya dan menggesernya perlahan, menampakkan sebuah plester coklat pada Temari.
"Apa dia yang melakukannya? Apa Sasori pelakunya?"
Sakura mengangguk dan memalingkan arah tatapannya.
"Benar saja perasaanku selama ini, dia adalah pria yang buruk. Seharusnya aku memukulnya lebih dulu sebelum dia angkat kaki dari sini."
"Sudahlah Temari, aku sudah memukulnya hingga pingsan." Ucap Sakura.
"Apa? Pingsan?" Temari terdiam. "Hahahahaha. Kau memukulnya hingga pingsan? Hahahaa." Temari tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sakura. Dipikirannya, Sakura tidak akan berani memukul Sasori yang sejak awal Temari tahu, Sasori memiliki perasaan terhadap Sakura dan Sakura sendiri sangat baik pada Sasori.
"Shhhtt...! pelankan suaramu Temari."
"Maaf, aduh perutku sakit. Kau hebat Sakura. Aku salut padamu."
Sakura langsung memeluk Temari. "Terima kasih sudah menjagaku. Maaf atas sikapku."
"Tidak perlu minta maaf, aku senang bisa menjaga kalian." Ucap Temari mengusap-ngusap perlahan puncuk kepala Sakura. "Ya sudah, kita kembali ke kelas, mungkin Ino sudah datang. Eh, apa Sasuke marah besar padamu?" Ucap Temari dan mereka mulai berjalan keluar toilet.
Wajah Sakura memerah, dia mengingat hukuman terakhir dari Sasuke.
"I-iya, dia sangat marah padaku." Ucap Sakura gugup.
"Kenapa wajahmu memerah?"
"Bu-bu-bukan apa-apa. Heheheh."
"Hayoloh..~ ada apa tuh, apa Sasuke benar-benar marah atau...?"
"Di-dia marah kok. Sangat marah dan sampai seminggu tidak mau bicara padaku."
"Uhm.. begitu yaaa. Tapi, sudah baikan kan?"
"Hu uhm, sudah. Kami sudah baikkan."
"Jaga perasaannya, meskipun kau tidak menyukainya, dia tetap suamimu, Sakura."
Sakura menggangguk malu. Sejujurnya dia mulai menyukai Sasuke. menyukai dalam artian mengagumi Sasuke sebagai seseorang yang sangat perduli dan perhatian padanya.
.
.
TBC
.
.
Sudah update yaa... *ngomong sambil berlinang air mata* readernya serem eeh, kalau review nunggu next chapter.
-Curhatan author-
Adoohh... reader yang sabar yaa.., author masih punya kehidupan di dunia nyata..., jadi sabar untuk kelanjutannya *mojok di sudut* udah tiap hari di usahain ngetik tiap baris, tiap baris. Sempat udah curhat, lupa di chapter keberapa kalau author sibuk dan punya jangka waktu untuk update itu 2 minggu. *mojok suram* ya sudah, semoga curhat ini di baca lagi, sepertinya beberapa reader tidak minat baca curhatan author yaa..., *mojok*
Koflik pertama, tapi cepat..., author malas bikin konflik lama-lama dan berlarut-larut, berasa nyesek sendiri pas ngetiknya. Hahahahaha. nantilah konflik lain lagi muncul.
Saku bukannya lemah atau apa karena di bully tayuya and geng, saku itu kuat, tegas, galak. dia nggak ada takut sama tayuya, tapi kembali lagi, sikap saku nggak kayak yang sok-sok-an, mentang-mentang jago dan sebagainya. dia lebih ke melindungi temannya tanpa pakai kekerasan. untuk masalah ancaman tayuya nanti deh author bahas di chapter selanjutnya. penasaran kan, hayooo penasaran, hohohohoho.
Udah tahu Sasori jeleknya gimana, tuh anak sumpah jelek banget (sikapnya) rahasianya Cuma itu, nggk lebih dan nggak kurang. Bayeeee... sasori...~
Khusus chapter ini buat para reader yang minta jeruk nipis tapi nggak di kasih, *dilempar sendal* segini aja, author udah senyum-senyum gaje pas ngetiknya, hahahahahahah
Untuk review, sebenarnya author sedikit bingung, apa benar fic ini bisa di pahami yaa..., padahal author buat dengan bahasa yang sangat sederhana dan ringan, jadi nggak terlalu ribet dan berat untuk di baca. Tapi sepertinya beberapa hal tersirat yang author buat hanya di pahami beberapa reader.. *nggak mau pindah dari tempat pojokkan*
Okeylah segitu aja. curhatannya kepanjangan eeeh..., hahahahaha.
- Balas Review -
UchiHaruno Sya-Chan : okey, terima kasih atas pengertiannya. sudah update yaa.
Niayuki : update..
ONE AY : author suka kalau SASU cemburu, ohohohoho..., mereka udah baikan. XD
raizel's wife : Saku akan dewasa pada waktunya, mengikut step by step di chapter ini. okey, udah update.
Cherrynia Uchiha : nggak nyesek-nyesek amat kok.
sjxjs : reviewnya udah di jawab deh sama chapter ini eheheheh, saku dewasa? sabar yaa., selama beberapa chapter berikutnya akan beriringan dengan sikap dan umur saku.
OnadVia : kayaknya author udah pernah bikin cerita yang sedih2 gitu deh, judulnya "punishment" *promosi*, nggk lama update kok, kalau udah kelar ngetik, langsung di update.
Miyuki : uhmm... coba baca curhatan author, udah aku jawab di situ,
Kazama Sakura : halo juga, huuaaa... reader pengertian, terima kasih atas reviewnya. mungkin jawabannya sudah ada di curhatan author di atas XD
yencherry : sudah update yaa... terima kasih...
yuma : lanjuttt..~
Misa safitri3 : soalnya saku di ancam... *bersambung*
haruko saki : sudah update, dan di chapter ini sedang konflik
meganeko-chan : emang tuh abang sasu, jahat banget yaaa, tapi saku nggak peka sih, oke update yaaa
Alzena Ridasmara : uhm, sudah di jawab sama chapter ini XD
williewillydoo : bener juga..., nantilah, di buatin, tapi nggk lemon dan nggak ada hot-hotnya, hahahahahahaha
Jamurlumutan462 : ngancem apa yaaa. nanti deh di bahas di chapter selanjutnya. sudah di jawab sama chapter ini yaaa.
teeeneji : sepertinya author udah salah ganggu-gangguin akun, makanya kemarin tidak bisa lihat apa-apa, bahkan author sendiri nggk bisa lihat review. sasu jeleknya apa yaaa...anggap aja cemburu itu kejelakannya, hahahah, semua pertanyaannya udah di jawab di chapter ini yaaa XD
Miyasato : okey, sarannya di tampung yaaa, makasih.
Adriana697 : sudah update, dan salam kenal balik.
Mustika447 : okey, udah di jawab di chapter ini. alasannya author malas ngetik ulang lagi XD
luxianapmega : iya, semi lemon aja kok. bener, sumber masalahnya dari sasori. tapi salah, sasori cuma mau niat jahat pada Temari tapi gagal, hahah. kepo deh kayaknya. Yoi, author suka yang ceritanya santai-santai aja. makasih supportnya. wanita atau bukan yaaa?, nggak tahu deh, author cuman mau jadi penulis misterius aja. ohoho. oke deh, sepertinya kamu yang paling panjang reviewnya, see you next chapter...
syilachan : author juga nggak suka,,
mutiarachand07 : terima kasih, aduuuuh, jadi terharu. author udah usahain untuk update kilat... ^_^
innerene : sebenernyaa...~ udah di bongkar di chapter ini.
Hyuugadevit-Chery : terima kasih, heheeh, nggak heboh dimana? *pecahin piring biar heboh*
keziaf : hehe, nggak apa-apa, terima kasih sudah mau membaca dan mereview.
Kiki Kim : kamu yaa LEMON mulu, hahahaha, nih author kasih jeruk nipis banyak-banyak. buahnya,*kabur*
donat bunder : author udah jawab di chapter ini yaaa. uhm, Author juga suka sama sikap Temari,
Hana Natsumi : makasih, update...!
dytantri : dasar saku tuh, nggk mau akui kesalahannya,
saki : update...~
puma178 : bakalan di update kok klu udah kelar di ketik XD uhm anoo, uhmm foreplay itu apa sih? author bukan bocah sih, udah dewasa tapi beberapa istilah dalam LEMON author nggk tahu XD *jujur nih* mohon bimbingannya.
hanazono yuri : update..
OntokkiRoyLee : berasa Saku di ledekin XD Gaara ada kok, cuman jadi tokoh lewat-lewat aja, okey dah update..
Euri-chan : udah update yaaa... sorry kalau kelamaan, sibuk nih author
wowwoh (geegee) : Dia salah ucap, update XD
Mitsuki Uchiha : Yoi, udah di lanjutin yaaa
Kucing genduttidur : terima kasih, oh, nggk lama kok, author kalau update cepat aja XD
ai (uchiharunochan): makasih, udah update yoo, asalan kenapa pennamenya author kasih tanda () soalnya kalau sudah di save, tiba-tiba hilang pennamenya -_-"
echaNM : iya, author suka skali-skali bikin sasunya menderita. hohohoh *ketawa jahat*
nona hitam manis : ngeriiii... di tunggu ampe jaman batu..., hahaha. maaf nih author sibuk pake banget jadi updatenya agak lamaan, jangka waktu update itu 2 mingguan yaa XD tapi nggk sampai kok palingan seminggu...
Uchiha Sarada : Halo Sarada..., terima sudah membaca dan mereveiw.. tenang saja kok, Sarada tentunya pasti ada ^_^
uchiha lely : sama-sama. masih pendek yaa? athor pikir chapter kemarin udah panjang kok XD
Uchihamisato : Halo, terima kasih sudah mereview kembali. sepertinya fic ini udah lumayan lama sih, hehe, updatenya kadang harian kadang mingguan, jadi nggak terasa udah 6 chapter, eh, udah 7 chapter, makasih semangatnya..., udah update yaa.
Me : udah update yoo..~
t-chan : uhm pertanyaannya udah di jawab di chapter ini yaa. oeky, udah update yaa.
Diah cherry : updatenya kemungkinan seminggu sekali paling lama 2 minggu sekali, nggk terlalu lama kok. oh, nggak kok, konfliknya biasa aja. ^_^ okey dah udah update yoo..~
sudah? sudah semua...? ok deh. *jari pegal*
see you next chapter yooo... jangan bosan nunggu author, ohohoho, eh salah, ficnya maksudnya XD
