Disclaimer : I do not own Naruto
Warning : SasuFemNaru, one sided SasuSaku, semi-canon, dimensional travel, chapter ini mengandung mature content spt yg kujelaskan di bawah.
Rating : Mature (contains lime/lemon maybe some abusing scene. pls be wise people)
Genre : Romance, Drama, Adventure, Family
A/N : terungkapnya identitas naruto bakal disinggung di chapter-chapter depan ya.- dimohon untuk bersabar /plak/ dan untuk yg tanya ttng identitas naruto maka jawabannya iyaa naruto nyembunyiin gender dia jd orang-orang taunya doi cowo. trus aku mau tanya /maklum belum terlalu lama di website ini/ kalau cerita yg mengandung lime/lemon dgn deskripsi yg rada graphic itu masuknya masih mature atau lebih dari mature? makasiih.
selamat membaca!
ooOoo
Bertindak secara spontan tanpa berpikir panjang selalu menjadi kelemahan terbesar Naruto. Selama beberapa tahun terakhir, ia mungkin sudah mampu mengurangi kebiasaan buruk tersebut dan lebih bisa menganalisis sesuatu agar tidak merugikannya. Namun, untuk hal-hal sepele yang tidak melibatkan strategi pertarungan, Naruto masih kurang mampu mengendalikan spontanitas tersebut. Salah satunya adalah gerak refleksnya yang sangat ingin berterima kasih kepada Sasuke setelah mengurungkan... well, niat mencurigakan yang diinginkannya kepada Naruto--atau Sakura.
Tindakan Sasuke yang sangat tidak terduga tadi berhasil melemahkan pertahanan diri Naruto. Otaknya seperti berhenti untuk berfungsi selama sesaat dan ia hanya bisa tercenung sambil memikirkan berbagai skenario terburuk jika Sasuke benar-benar ingin berhubungan dengannya. Dulu, bagi Naruto yang berusia empat belas, ia takkan paham dengan maksud tersirat yang diungkapkan Sasuke.
Naruto terlalu tidak peka untuk sesuatu semacam itu. Ia terlalu bebal untuk mengetahuinya, terlebih dengan kondisi di mana ia yang telah melewatkan kelas kunoichi yang mengajarkan seduction art. Dengan Henge modifikasi yang diberikan Sandaime dan Jiraiya kepadanya, Naruto harus menyesuaikan kehidupannya sebagai laki-laki alih-alih perempuan. Ia hanya mengikuti kelas shinobi dan mengabaikan kelas kunoichi. Akibatnya, Naruto benar-benar kekurangan pengetahuan mengenai masalah yang menyangkut kebutuhan seksual dan semacamnya. Ketidaktahuan ini baru membaik ketika Jiraiya memaksanya untuk membantu proses pengeditan novel--yang tentunya membuat Naruto terpaksa untuk membaca.
Kala itu, ia sama sekali tidak tertarik. Namun, ketika ia sudah lebih dewasa dan memutuskan untuk melanjutkan karya gurunya sebagai tanda penghormatan... Naruto menjadi lebih awas terhadap sesuatu semacam itu, meskipun ia tidak menumbuhkan ketertarikan khusus kepada hal tersebut.
Selain itu, ia juga tidak terlalu memikirkan masalah romansa. Berbagai masalah yang menimpanya telah mencegah Naruto memikirkan sesuatu semacam itu. Selama ia memiliki teman-teman di sampingnya, segalanya akan baik-baik saja. Pola pikir semacam inilah yang membuatnya berbeda dengan kebanyakan perempuan seusianya. Naruto masih tidak mengerti konsep mencintai. Mungkin saja, ia meneruskan novel Jiraiya. Namun, konten novel tersebut jauh berbeda dari sang Sannin. Naruto membuat novel yang setipe dengan novel awal Jiraiya--sebuah buku yang berisi cerita tentang seorang pahlawan.
Jadi, mengetahui seluk beluk romansa?
Terima kasih. Naruto masih belum mengerti, bahkan di umurnya yang sudah menginjak dua puluh satu ini. Meskipun begitu, ia tidak sebodoh yang orang pikirkan. Naruto sangat jauh dari kata bodoh. Pola pikirnya yang berbeda dengan kebanyakan oranglah yang membuatnya tampak demikian. Naruto amat mengerti bagaimana kehidupan keluarga berjalan. Ia mengerti bagaimana reaksi seseorang ketika menginginkan orang lain. Ia mengerti bagaimana saat ketika kesadaran orang telah mengabur ketika mereka diliputi oleh keinginan gelap semacam nafsu seksual. Berbagi kekuatan dengan Kurama membuatnya memiliki kemampuan semacam itu.
Jadi, ketika sorot mata Sasuke berubah, Naruto langsung awas. Ia tahu apa yang akan terjadi kalau dirinya mengikuti permainan Sasuke. Ia tahu, konsekuensi apa yang bakal menimpanya kalau ia membiarkan hal tersebut terjadi. Itulah mengapa Naruto begitu ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada temannya itu karena secara tidak langsung Sasuke telah membantunya. Sasuke seolah mengerti...
Satu hal yang diinginkan Naruto adalah berterima kasih.
Namun, ia terkejut dengan dirinya sendiri ketika kakinya bergerak mendekat dan kemudian berjinjit guna mendaratkan kecupan ringan di bibir lelaki itu.
Bibir. Bukan pipi.
Apa yang ia pikirkan?
Ketika merasakan tubuh Sasuke yang menjadi kaku, Naruto baru sadar bahwa yang ia lakukan bukanlah tindakan yang bijaksana.
Lagi pula, sejak kapan ia menyatakan rasa terima kasihnya dengan mengecup seseorang tepat di bibir mereka?
Sebenarnya, apa yang salah dengan dirinya?
Menghantamkan dahi ke atas meja makan, Naruto menahan diri untuk tidak menyuruh sebuah bunshin untuk meninju kepalanya saat ini juga. Apakah tindakannya tadi dikarenakan oleh ia yang sudah kelelahan setelah latihan berjam-jam menggunakan Mode Rubah?
Pasti begitu.
Kau yakin, Naruto?
Fuck off, Kurama.
HAHAHAHA.
Merasa jengkel pada sang rubah, Naruto memutuskan komunikasi mereka secara sepihak. Menyesali sesuatu yang telah terjadi tidak akan mengubah apa pun. Ia akan belajar dari kejadian ini untuk lebih menguasai dirinya ketika berada di dekat Sasuke, sebab Sasuke yang ini entah mengapa berbeda. Naruto menebak bahwa perbedaan yang ada dikarenakan oleh perbedaan usia. Sosok yang lebih dewasa dari Sasuke yang dikenal Naruto ini membuat segalanya menjadi merepotkan. Naruto bahkan sama sekali tidak kepikiran bahwa sosok yang tampak aseksual seperti dia... bisa membutuhkan pelampiasan semacam itu juga. Bukankah ia lebih tertarik dengan pertarungan?
Merasakan pertanyaan yang hanya berputar-putar tanpa jawaban yang berarti, Naruto pun beranjak dan mengambil segelas ramen instan, menyeduhnya, dan memakannya dalam diam. Pikirannya berkemelut oleh segala hal, namun ia segera menggelengkan kepalanya, seolah menepis semua pikiran itu jauh-jauh. Satu hal yang perlu dilakukannya adalah fokus. Ia akan fokus untuk mencapai tujuannya selagi mengambulkan permintaan Sakura. Meskipun tidak selamanya, ia akan berusaha sebisa mungkin. Setidaknya, ia akan membuat Sakura seolah meninggalkan pesan dan berpamitan pada Sarada sebelum ia benar-benar pergi.
Kehadiran Naruto di sini hanyalah sementara. Ia sudah merencanakan segalanya dengan Kurama... Meskipun konsekuensinya besar, meskipun diakhir nanti ia akan sendirian, Naruto sudah bertekad.
Lamunannya terpecah begitu melihat Sasuke yang sudah keluar dari kamar mandi. Ia bertelanjang dada dengan sebuah handuk yang melingkar di pinggang. Rambut hitam panjangnya yang basah masih sedikit meneteskan air ketika ia mencoba mengeringkannya dengan handuk lain. Tetesan itu tersebut mengalir dari leher hingga dada bidangnya yang menunjukan kulit seputih porselin yang tampak amat bersih.
Naruto mendapati dirinya mengamati tubuh atletis yang menunjukan hasil latihan fisik selama bertahun-tahun. Mengenai bagaimana otot-ototnya tampak begitu pas dan tidak terlalu berlebihan--bagaimana perut tampak terpahat dengan sempurna, bagaimana bisep di kedua lengannya berkontraksi ketika ia tengah mengeringkan rambut, bagaimana tubuh jangkungnya membuatnya tampak semakin menawan sehingga mampu menarik perhatian para wanita--
Sesaat kemudian, Naruto mengerjap.
Apakah ia baru saja mengecek penampilan Sasuke?
The hell, pikirnya dalam hati.
Ia sudah berkali-kali melihatnya tanpa pakaian, kenapa sekarang hal ini menjadi masalah untuknya?
Mengalihkan pandangan dari tubuh Sasuke, Naruto pun mendapatinya yang tengah menaikan sebelah alis--membuat Naruto segera sadar bahwa Sasuke menyadari apa tengah Naruto lakukan.
Ia pun mengumpat dalam hati. Wajahnya tiba-tiba seperti terbakar.
Sebelum Sasuke menanyakan ataupun mengucapkan sesuatu yang mampu membuat Naruto mengubur dirinya hidup-hidup, Naruto sudah lebih dulu melesat ke kamar mandi. Begitu sampai di sana, Naruto segera melepas Henge Sakura sebelum melucuti seluruh pakaiannya.
Ia mengisi bathtub dengan air, mencampurkannya dengan bubble bath yang tersedia di sana, dan pada akhirnya berendam sambil membersihkan dirinya dengan perlahan. Rambut panjang keemasannya mengambang di permukaan air, Naruto membasuhnya pelan. Ia kemudian menenggelamkan dirinya ke dalam air tersebut, mencoba menghilangkan pertanyaan mengenai kenapa ia yang tiba-tiba melihat Sasuke dengan cara yang berbeda.
Dengan seluruh kepelikan masalah yang dihadapinya, kenapa sesuatu mengganggu semacam ini harus terjadi?
Persetujuan Naruto atas permintaan Sakura dikarenakan oleh ia yang yakin atas ikatan yang dipunyainya dengan Sasuke. Sang Uchiha adalah temannya, meskipun dalam kondisinya ini Naruto tidak yakin masih bisa menyebutnya sebagai teman, namun ia tahu batasan yang dimiliki olehnya dan Sasuke. Sejak dulu pun ia menganggap sang Uchiha sebagai teman dan bahkan saudara lelaki. Ia tidak pernah melihatnya di sisi yang lain, tidak seperti bagaimana Sakura melihat Sasuke.
Dengan keyakinan Naruto atas ikatan yang ia miliki ini, ia pun menyanggupi permintaan Sakura. Selama dua puluh tahun hidupnya, Naruto tahu seberapa besar perasaan teman perempuannya ini kepada sang Uchiha. Naruto amat tahu. Bahkan, pasca peperangan dulu, ia kerap kali menggoda keduanya meskipun Sasuke terlihat sama sekali tidak tertarik. Menghalangi keinginan Sakura untuk bersama dengan Sasuke tidak pernah sekali pun terlintas di kepalanya.
Heck.
Ia bahkan tidak tertarik pada Sasuke dengan... dengan cara itu!
Yang diinginkan Naruto adalah teman, keluarga. Untuk itulah ia memilih untuk berpenampilan sebagai lelaki yang membuatnya lebih mudah dalam mencari teman. Dengan penampilan itu, Naruto tak perlu khawatir untuk semakin dibenci karena sikap tomboynya. Ia bisa dengan bebas berteman dengan siapa saja. Selain itu, bergaul dengan para anak laki-laki jauh lebih mudah dibandingkan dengan perempuan. Kala itu, Naruto cenderung lebih mengerti dengan topik pembicaraan anak laki-laki dibanding perempuan.
Kebiasaan tersebut telah menciptakan ikatan pertemanan yang kuat antara dirinya dengan sang Uchiha. Sakura mempercayai Naruto atas fakta ini. Naruto sendiri juga percaya. Ia percaya bahwa ia takkan mencampuri perasaan Sakura kepada Sasuke dan akan membiarkan mereka bersama. Naruto tahu batasan yang ada.
Jadi, kenapa tiba-tiba ia bereaksi asing seperti ini? Kenapa pula ia menjadi semakin merasa bersalah kepada Sakura ketika ia yakin... ia yakin bahwa Sasuke hanya seorang teman baginya? Seorang saudara?
Terperangkap oleh lamunannya sendiri, Naruto hampir lupa akan keberadaannya yang masih berada di bawah air. Ia segera muncul ke permukaan dan terbatuk. Hidungnya yang kemasukan air terasa perih. Naruto mengusapnya beberapa kali sebelum menyenderkan diri. Ia menutup matanya.
Kenapa Sakura-chan meminta hal ini padaku?
Bukankah semua ini membuatku seperti... seperti seorang penjahat? Dengan membohongi semua orang... Dengan mengambil kehidupan yang telah diimpikannya sejak dulu...
Helaan napas Naruto terdengar berat. Ia mengingat apa yang terjadi malam itu dan bagaimana Sakura membuatnya untuk tidak bisa menolak. Naruto takkan pernah bisa menolak permintaan tolong yang begitu terdengar putus asa. Ketika memutuskan untuk membantunya, Naruto sudah melihat konsekuensi yang akan ia dapat. Ia sendiri sudah yakin bahwa konsekuensi itu akan ditanggungnya dengan baik.
Tapi, kenapa ia tetap merasa bersalah pada Sakura?
Merasakan air yang sudah mulai mendingin, Naruto pun sadar berapa lama ia berada di dalam sini. Beranjak dari sana, Naruto segera membilas diri dan mengeringkan tubuh. Ia menyambar jubah mandi putih yang berada di sana dan mengenakannya sebelum beranjak. Sebelum keluar, ia membuat segel tangan yang membuatnya berada dalam rupa Sakura. Meski pikirannya masih berkemelut, Naruto merasakan bagaimana tubuhnya lebih segar dan ringan setelah berendam. Ia mungkin lebih memilih air terjun, namun sebuah bathtub dengan air hangat juga bukan pengganti yang buruk.
Ketika sampai di dalam kamar Naruto mendapati kamar kosong. Sasuke tidak kelihatan ada di sana. Kondisi tersebut membuat Naruto sedikit bernapas lega. Dengan begini ia bisa mengenakan pakaian tanpa was-was.
Kenapa juga aku harus was-was?
Menggelengkan kepala jengkel pada dirinya sendiri, Naruto pun menyambar pakaian Sakura. Ia menyisir rambutnya singkat sebelum keluar dari kamar untuk bergegas ke depan ruang kerja Sasuke. Lampu ruangan itu tampak menyala. Naruto menatap pintu dengan bimbang. Beberapa saat kemudian, ia berbalik dan beranjak ke dapur. Dibuatnya dua cangkir teh. Yang satu berupa original teh sedangkan yang satunya adalah teh hitam. Si berengsek yang ia kenal selalu menyukai sesuatu yang berwarna gelap, salah satunya adalah jenis teh ini. Naruto harap, Sasuke yang satu ini juga memiliki selera yang sama.
Begitu sampai di depan ruangan itu lagi, Naruto kembali termenung. Ditatapnya pintu tersebut dengan nanar.
Hell. Kalau ia tidak harus membicarakan masalah Sora dengan lelaki itu, ia lebih memilih bergelung malas di tempat tidur. Ketika berlatih di Lembah Akhir, Naruto memang sempat ketiduran. Tapi, yang namanya ranjang tetap lebih baik dibandingkan dengan tanah kasar.
Menelan rasa jengkelnya dalam-dalam, Naruto pun memegang nampan di tangan kanan sementara tangan kirinya mengetuk pintu. Sebagai Sakura, ia harus mencoba mengerti Sasuke dan bersikap layaknya istri yang baik. Menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa memberinya minuman hangat di pagi yang cukup dingin jelas bukan sikap seorang istri yang baik, namun sikap Uzumaki Naruto.
Sekarang ini dia adalah Sakura.
Sakura.
"Masuk saja, Sakura," ujar Sasuke di dalam sana.
Lihat? Naruto sebenarnya bisa langsung masuk.
Memutar kenop pintu, Naruto pun masuk ke dalam ruangan yang penuh dokumen tersebut.
Woah.
Siapa yang menyangka dia dulu ingin berada di posisi itu?
Sosoknya dari dunia ini pasti sangat cerdas dengan memberikan seluruh tanggung jawab ini kepada Sasuke.
"Ada apa?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan mata dari gulungan yang tengah dibacanya.
Naruto menyipitkan alis, merasa tidak suka diabaikan. Ia meletakkan nampan tersebut di sela tumpukan dokumen sebelum menarik sebuah kursi tepat di depan meja Sasuke, menahan keinginan untuk mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan duduk bersila di sana. Sakura selalu memukul kepalanya ketika ia melakukan itu. Jadi, mencari aman, Naruto memutuskan untuk tidak melakukannya sekarang.
Alih-alih bersila, Naruto menyenderkan punggung dan menyilangkan kedua kakinya. Sebelah tangannya menopang pelipis.
"Warna rambutmu akan menjadi seperti Kakashi-sensei jika terus-terusan berkutat dengan semua kertas itu," ujar Naruto mencoba menarik perhatian Sasuke.
Lelaki itu mendongakkan kepala.
Gotcha.
"Kenapa kau tidak tidur?" tanya Sasuke balik, memandang Naruto dengan ekspresi tak terbaca.
Menurut Kurama, perilaku Naruto sejak kemarin terlalu berbeda dengan Sakura. Naruto menyangkal dengan berkata bahwa Kurama tidak tahu bagaimana Sakura bersikap. Namun, sang rubah dengan santainya berkata bahwa siapa pun perempuan selain Naruto akan bersikap lebih lembut. Apa yang diperlihatkan Naruto saat menjadi Sakura terlihat terlalu Naruto--alias kasar dan penuh dengan sarkasme, terutama ketika ia bercakap-cakap dengan Sasuke. Jadi, ketika mengobrol dengan Sasuke lagi, Naruto perlu memikirkan apa yang harus ia katakan.
Bagaimana Sakura-chan menanggapi ini?
Aku sudah salah bicara di awal tadi. Damn.
"Aku tidak mengantuk," jawab Naruto jujur. Setidaknya ia tidak menjawab dengan kalimat menjengkelkan. "Sudah ketiduran di lapangan training tadi," lanjutnya lagi, kali ini tidak sepenuhnya jujur. Ia kemudian menatap Sasuke lekat, melihat bagaimana matanya menandakan ia yang kurang tidur. Jika dibiarkan lebih lama, ia akan berakhir seperti Gaara.
Menasihati orang lain ketika dirinya melakukan hal yang sama adalah suatu kemunafikan. Naruto memilih untuk tidak berkomentar ataupun menyuruh Sasuke untuk ini itu. Temannya ini tahu apa yang dilakukannya.
"Aku membuatkan teh," ujar Naruto menjelaskan. Ia menyodorkan cangkir berisi teh hitam tersebut kepada Sasuke. "Jika dulu Godaime menenangkan dirinya dengan sake, maka kukira teh bisa sedikit membantumu meringankan... beban?" tambahnya dengan sedikit ragu. Ketika Sasuke tidak membalas, ia kembali berujar, "Atau kau ingin kubawakan sake? Aku tidak kepikiran karena kukira kau tidak suka kehilangan kesadaran dan menurunkan pertahanan dirimu."
Meletakan gulungan yang tengah ia baca, Sasuke menarik cangkir teh itu mendekat. Ia menghirup aroma minuman tersebut, menyesapnya pelan, dan kembali meletakkannya di atas meja. Naruto tersenyum samar. Ia melakukan hal yang sama. Alasan Sasuke tidak menyukai sake bukan hanya karena ia yang akan kehilangan kesadaran ataupun kontrol dirinya, namun karena hung over yang akan membuatnya hampir tidak bisa beraktivitas seharian. Naruto pernah melihatnya sendiri ketika mereka berdua tepar bersama-sama setelah minum-minum semalam suntuk. Keduanya berebut kamar mandi untuk muntah di pagi harinya.
Kurama bisa menetralisir efek minuman keras. Tapi, Kurama adalah rubah tua yang terkadang sangat menjengkelkan. Ia tidak ingin membantu Naruto untuk hal-hal remeh.
Ketika kembali menatap Sasuke, Naruto melihat sorot mata bertanya-tanya di oniks lelaki itu. Namun, secepat datangnya sorot itu, apa yang Naruto lihat pun segera menghilang. Ia mengerjap. Apakah ada yang salah dengan perilakunya... lagi? Sikap banyak bicara Naruto sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan Sakura di dalam mode normalnya--yakni ketika Sakura bersama dengan Naruto. Jadi, ia berasumsi bahwa tingkah tersebut tidak akan menimbulkan kecurigaan besar untuk Sasuke.
"Terima kasih," gumam lelaki itu. Ia memijat pelipisnya pelan sambil menutup mata. "Tumpukan dokumen ini tidak selesai sendiri jika kutinggalkan begitu saja."
Masih sarkas seperti biasa. Tentu saja.
Tapi, tidak sekaku kemarin, huh?
Naruto tertawa rendah. Ia menopang sebelah pipinya dengan satu tangan sebelum kemudian menghela napas pendek dan merengut.
"Kau tahu, aku tidak ingin membicarakan topik-topik berat, tapi karena kau adalah Hokage, aku harus membahasnya denganmu," ungkapnya mengawali. Sasuke terlihat lebih awas kali ini.
"Mengenai laporan misimu?" tanya Sasuke. Ia memandang Naruto lurus-lurus. "Kau belum melakukan laporan verbal."
"Tepat sekali," balas Naruto ringan. Ia menahan cengiran. Alasannya mudah saja. Sakura tidak nyengir lebar sepertinya. "Itulah kenapa aku, well, mengganggu jam kerjamu? Tidak sepenuhnya mengganggu kukira kalau aku menemuimu untuk melapor."
"Kau bisa melakukannya nanti pagi, di kantor."
Naruto menggeleng.
"Apa untungnya tinggal serumah dengan Hokage kalau begitu?" tanyanya dengan nada main-main. Ia kemudian mengedikkan bahu. "Ruang kerjamu adalah kantor yang lain. Jadi harusnya tidak masalah."
Sasuke menyatukan kedua alisnya, tampak menimbang-nimbang. Ia kemudian menyenderkan punggung dan mengibaskan tangan. "Katakan."
Membenarkan posisi duduknya untuk lebih serius, Naruto pun mengingat informasi yang ia ketahui. Entah itu dari pengetahuannya sendiri ataupun dari Sakura. Memikirkan orang-orang itu membuat darahnya mendidih, namun Naruto tidak bisa menampakkan kemarahannya sekarang. Ia mencoba menenangkan diri dan berseru pada dirinya sendiri untuk bersikap profesional.
"Aku menyamar sebagai salah satu anggota mereka, tepat seperti apa yang kau arahkan. Selagi menjadi anggota, aku mendapatkan beberapa informasi ini. Pertama, mereka bekerja sama dengan Sora dalam menjalankan eksperimen. Bahan eksperimen yang dimaksud adalah anak-anak. Mereka menculiknya dan membawa anak-anak itu ke markas tersembunyi yang disembunyikan dengan sangat baik.
"Hasil eksperimen akan menentukan nasib mereka. Jika berhasil, anak tersebut akan direkrut oleh Sora. Namun, jika gagal, ia mati. Untuk mereka yang tidak terlalu terinfeksi akan dicuci otaknya dan dikembalikan ke rumah. Bagi yang hanya mendapatkan infeksi kecil, akan diberi transplasi sharingan--" Mata Sasuke menajam ketika mendengarnya, namun Naruto tetap melanjutkan. "--untuk memerangkap orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya dalam genjutsu. Tujuannya untuk memeras uang guna membiayai riset penelitian. Sedangkan bagi mereka yang mendapat infeksi lebih parah, akan diubah menjadi... bom. Mereka meledakkan diri setelah sampai di lingkungan tempat tinggal mereka.
Kemudian, yang kedua, mengenai isi eksperimen racun yang mereka kembangkan. Penggunaan racun dalam dosis tertentu bisa membunuh. Namun, di dosis yang lain justru akan memperkuat. Inilah yang sedang mereka cari, jumlah dosis yang pas untuk membuat anggota Sora tanpa kegagalan. Lalu yang ketiga, tentang anggota laboratorium sindikat itu. Mereka tidak tampak normal dan terlihat--" ingatan di malam itu membanjiri kepala Naruto. Ia merasa tenggorokannya tersekat. Dihirupnya napas dalam-dalam. "--gila. Mereka terlihat gila. Jauh lebih buruk dari Orochimaru," lanjut Naruto. Ia menatap Sasuke dengan sorot mata kosong. "Selesai."
Sasuke terdiam. Lama.
Sementara Naruto, ia tengah mencoba menetralkan perasaannya. Mengingat apa yang terjadi malam itu terlalu menyakitkan. Melihat keadaan terakhir Sakura terlalu menyakitkan. Mengingat segala yang dikatakan Sakura... terlalu berat.
Semua darah itu. Semua air mata itu. Semua senyum sedih itu. Semua gelak tawa dan omelan lirih itu.
"Aku tahu kau hidup, Naruto. Aku tahu kau ada."
Gelak tawa dan air matanya.
"Selalu bersikap pahlawan, huh? Kau sama sekali tidak berubah. Kenapa kau tidak segera kembali ke Konoha?"
Nada jengkel di suaranya. Kemudian, darah yang mengalir di dagunya ketika ia terbatuk.
"Begitukah? Aku tidak peduli. Kau adalah kau. Dari mana pun asalmu. Apakah di sana kau mengorbankan diri lagi? Mencoba meninggalkan kami semua demi kedamaian sementara kau sekarat? Menurutmu, kami bisa bahagia tanpa segala sikap antikmu?"
Omelan lirih dan air mata masih terus berlinang. Kemudian, darah kental itu lagi. Merah di bawah rembulan. Merah di tangannya. Merah. Seperti saat itu. Di rengkuhannya.
"Pengorbananmu begitu berarti, Naruto. Aku berterima kasih. Sangat. Tapi, aku membencimu, kau tahu? Aku benci karena kau sangat sulit untuk direlakan, dilupakan. Aku benci karena tanpamu, aku tidak bahagia. Sasuke-kun begitu menderita. Seperti mayat hidup selama dua tahun penuh. Kakashi-sensei menjadi kacau."
Kemudian, deru napas yang tersendat. Pegangan tangan yang melemah. Gelak tawa getir.
"Ya, kami melanjutkan hidup. Tapi, segalanya tidak lagi sama. Maaf karena memarahimu atas apa yang tidak kau lakukan. Tapi, kau adalah kau, aku sudah mengatakannya. Jadi, kumohon, di sini... jangan berbuat bodoh seperti itu lagi. Lupakan pengorbanan diri. Kembalilah ke Konoha dan jadikan aku sebagai perisai agar identitasmu tidak terungkap. Jadilah aku, jadilah penggantiku, Naruto. Kaulah yang seharusnya berada di posisiku. Kau bebas bersikap apa pun menggunakan namaku. Tapi, tolong, jaga Sarada dan Sasuke-kun. Buat mereka bahagia karena hanya kau yang bisa melakukannya. Sebulan, sebulan saja, aku mohon. Terima kasih atas kesempatan yang telah kau berikan padaku untuk membangun keluarga yang kuinginkan."
Setelahnya, air mata. Kali ini berasal dari matanya sendiri. Bukan Sakura. Malam itu, Uzumaki Naruto kembali kehilangan. Ia kehilangan untuk ke sekian kali dengan tangan yang sama-sama bersimbah darah. Senyum di wajah itulah yang membuatnya bangkit. Permohonan itulah yang membuatnya berada di sini. Menyamarkan laporan misi Sakura di depan suami sang ninja medis.
Matanya tiba-tiba panas. Teramat panas.
Naruto mengumpat dalam hati. Ia tidak bisa menatap Sasuke sekarang. Tidak bisa.
Kenapa rasanya masih saja sakit?
"Sakura--"
"Ada yang ingin kau tanyakan?" potong Naruto, suaranya terdengar serak. Ia menelan salivanya dan berusaha tertawa. "Dengar, laporanku pasti kurang jelas, Ne? Tanyakan saja. Aku akan coba menjawabnya. Mungkin tentang jumlah orang itu? Penyebab kegilaan mereka? Atau tentang motif sindikat ini? Aku tidak tahu banyak ataupun rinciannya, tapi aku cukup tahu garis besarnya. Mereka orang keji dan kotor, aku bisa melihatnya. Namun, kegilaan mereka tidak normal. Kegilaan tidak pernah normal, kan? Tapi, mereka lebih dari itu. Mereka menikmati darah. Rasa sakit. Teriakan. Mereka bahagia dan puas dengan apa mereka sebut dengan karya. Mereka bukan orang normal dan menikmati rasa sakit yang bahkan dirasakan oleh mereka sendiri. Tawa hebatnya--tawa memuakkannya--lebih menjijikan dari Madara. Madara adalah shinobi yang hebat, kau tahu? Mereka bahkan bukan shinobi. Mereka hanya--"
"Sakura--"
"--hanya sekumpulan orang haus darah yang menginginkan kematian korbannya secara tidak manusiawi, secara sadis, secara mengerikan. Mereka bermain-main dengan mayat dan bahkan tidak ingin mayat tersebut dikuburkan secara utuh. Mereka tertawa ketika menggoreskan luka. Mereka tertawa ketika korbannya berteriak sakit, mereka--"
Sasuke tidak lagi duduk di kursinya. Ia tidak lagi berada di belakang meja yang penuh dengan tumpukan dokumen. Ia tidak lagi diam dan hanya menyaksikan bagaimana sosok yang ia lihat sebagai Sakura gemetar oleh rasa sakit karena alasan yang bahkan tidak diketahui oleh Sasuke. Ocehan perempuan ini, wanita ini, sosok yang berstatus sebagai istrinya--terlalu menyakitkan untuk didengar. Bukan karena isi perkataannya. Namun, lebih kepada bagaimana ia mengatakan kalimat itu. Bagaimana matanya memancarkan kegetiran. Bagaimana sebelah tangannya mengepal dengan kuat, menahan luapan emosi yang seolah tertahan setelah sekian lama.
Melihat Sakura seperti itu... terlalu asing bagi Sasuke. Ia seperti tidak mengenal Sakura. Sakura yang ada di depannya tampak seperti orang lain. Sorot pedih di mata zamrudnya mengingatkannya pada seseorang, seseorang yang dulu berdiri bersamanya di medan perang, seseorang yang hampir kehilangan harapan tepat ketika Jinchūriki Jūbi membangkitkan Pohon Dewa untuk pertama kali dan membunuh ratusan shinobi yang dengan susah payah telah ia lindungi.
Sorot mata itu mengirimkan kepedihan yang sama. Sasuke tidak bisa diam saja. Sama seperti dulu. Ia tidak bisa diam karena tubuhnya seolah bergerak dengan sendirinya, seperti ketika ia melindungi orang yang telah gagal ia lindungi.
Sasuke tidak pernah bereaksi seperti ini kepada siapa pun selain Uzumaki Naruto. Kenyataan yang demikian menciptakan kejanggalan besar di dalam dirinya. Kejanggalan itu mencakup perilaku sang istri yang terasa asing akhir-akhir ini. Namun, meskipun begitu, ia tidak memikirkannya sekarang. Yang harus ia lakukan adalah menghentikan kepanikan di mata itu. Menghentikan sorot pedih dan putus asa yang bersarang di sana.
Ditarik secara tiba-tiba oleh Sasuke, Naruto merasakan percikan emosi lain yang merayapi dirinya. Ia seperti tersadar akan posisinya, akan apa yang sedang ia lakukan sekarang ini.
Dihentakannya cengkraman tangan itu dari pergelangan tangannya. Mereka berdiri beberapa langkah dari ambang pintu.
"Aku--kita belum selesai," ujar Naruto dengan suara yang masih terdengar serak. Kepalanya terasa berdentum-dentum. "Maaf untuk ketidakjelasanku tadi. Kau tahu, efek racun yang mengenai--"
"Kau selesai. Aku sudah mendengar laporanmu dengan jelas," ungkap Sasuke dengan kaku. Ia kembali meraih lengan Naruto. "Sekarang, kau akan kembali ke kamar dan tidur," lanjutnya.
Naruto melebarkan mata, ia menggeleng.
"Tidak. Masih banyak yang belum kukatakan. Masih banyak yang harus kau ketahui--"
"Apa yang terjadi padamu?"
Naruto merasa mulutnya mengering. Kedua tangan Sasuke memegang bahunya. Ia menatap Naruto lurus-lurus, mencoba mencari jawaban dari mata safir yang terkamuflase oleh mata zamrud. Garis rahang Sasuke terlihat lebih kaku dari biasanya. Ia tampak tidak senang dengan perilaku Naruto yang seperti itu, seolah tindakan Naruto membuatnya terganggu oleh sesuatu.
"Tidak ada. Aku baik-baik saja, kau lihat?"
Bibirnya membentuk garis lurus. Sasuke menajamkan kedua matanya. "Aku tidak melihatnya," ungkapnya dingin. "Beritahu aku. Apa yang terjadi?"
Yang mana?
Tentang kematian Sakura-chan? Kehancuran Konoha dan empat desa lainnya? Kematianmu?
Naruto mengambil napas dalam.
"Aku sudah mengatakannya di rumah sakit. Mereka mengetahui penyamaranku dan aku kabur. Di perjalanan, mereka menyerangku dan menyuntikkan racun ketika aku lengah. Itu saja."
"Katakan yang sebenarnya."
"Aku sudah mengatakannya! Memangnya apa yang ingin kau dengar jika nyatanya aku sudah--"
Sasuke mengencangkan pegangannya pada kedua bahu Naruto, membuat perempuan itu seketika mengatupkan mulut.
"Tidak ada racun. Aku tahu," ungkapnya tanpa meninggalkan pandangan dari Naruto. Sementara itu, kalimat tersebut membuat Naruto mengalihkan pandangan, merasa kalah. Sasuke menghela napas pelan ketika melihatnya, ia mengendurkan pegangannya di bahu Naruto sebelum kemudian menarik dagunya agar kembali menatap mata oniksnya. "Kau tidak baik-baik saja. Berhenti bersikap seolah tidak ada yang salah."
Berhenti bersikap seolah tidak ada yang salah.
Berhenti bersikap seolah tidak ada yang salah.
Berhenti bersikap seolah tidak ada yang salah.
Berhenti bersikap seolah tidak ada yang salah.
Berhenti bersikap seolah tidak ada yang--
Tenggorokannya kembali tersekat. Memandang mata oniks Sasuke sedekat ini--dengan pertanyaan semacam ini--membuat hatinya remuk. Kenapa ia harus melihatnya dengan sorot khawatir seperti itu? Kenapa ia harus melihatnya dengan cara yang sama seperti ketika Naruto memangku tubuh lunglainya yang bersimbah darah?--seolah kondisinya yang sedang sekarat bukan apa-apa dibandingkan dengan kondisi Naruto.
Kembali mendapatkan tatapan yang sama terasa begitu menyakitkan.
"Kau benar," ungkap Naruto, suaranya masih terdengar serak. Ia memegang lengan Sasuke yang tadi berada di bahunya untuk diturunkan agar menjauh darinya. "Aku... butuh tidur."
Dengan begitu Naruto berlalu pergi.
Dan hanya untuk kembali berbalik ketika Sasuke memutuskan pembicaraan mereka belum selesai. Ia kembali menarik lengan Naruto, kali ini ia tidak memegang bahu tersebut ataupun membuatnya menatapnya lekat.
Alih-alih kembali berbicara untuk meminta jawaban atas pertanyaan awalnya, Sasuke membalikkan tubuh Naruto yang tadi memunggunginya. Ia bermanuver sedemikian rupa hingga Naruto menghadap tepat di depannya. Sebelum perempuan itu memproses apa yang terjadi, Sasuke sudah lebih dulu meletakan tangannya di belakang tengkuk sang Uzumaki yang masih tampak seperti istrinya. Ia menekan tengkuk Naruto sebelum kemudian memiringkan kepala untuk menyatukan bibirnya pada bibir perempuan itu.
Tindakan tersebut membuat Naruto mematung. Ia amat terkejut hingga tidak mampu mengantisipasi saat ketika Sasuke mencium bibirnya kasar, memagutnya, menyesapnya, dan bahkan membelainya menggunakan lidah--secara tidak langsung menuntut Naruto untuk membalas ciuman dan mengizinkannya untuk menyusupkan lidah ke dalam rongga mulutnya.
Kesadaran melingkupi diri Naruto. Ia merasakan segalanya. Bagaimana bibir Sasuke menyatu dengannya. Bagaimana Sasuke menggigit bibir bawahnya. Bagaimana ia menghisap sudut bibir Naruto dan memintanya untuk membalas ciuman tersebut. Naruto amat sadar. Ia sadar akan aroma mint yang dikeluarkan oleh Sasuke, akan hidungnya yang menekan wajahnya, akan deru napas mereka yang saling bertabrakan.
Ia merasakannya. Semua. Segalanya. Keseluruhan ciuman itu berhasil membuat Naruto lemas. Ia masih belum membalas ciuman tersebut, namun Sasuke terus memojokkannya. Ia telah merengkuh Naruto dengan sebelah tangan yang melingkar di pinggang. Naruto mencoba melepaskan diri dan menjauh dan menggunakan akal sehatnya bahwa semua ini salah--bahwa semua ini berpotensi besar untuk merusak segala rencana yang telah berusaha keras ia jalankan.
Kegagalan bukanlah pilihan.
Naruto tahu dan amat sadar dengan kondisi tersebut.
Namun, sama seperti saat ia yang mengecup Sasuke secara tiba-tiba, Naruto juga seolah kehilangan kontrol dirinya untuk saat ini.
Ciuman Sasuke begitu menuntut. Naruto tidak bisa mengabaikannya. Ia tak tahu berapa lama dirinya berusaha untuk menolak, namun ketika merasakan kedua lengannya yang telah melingkar di leher lelaki itu, Naruto sudah menanggapi dan mengikuti permainan Sasuke. Ia membalas pagutan tersebut dengan ceroboh, melupakan fakta bahwa inilah ciuman asli pertamanya.
Dengan pengalaman nol, Naruto mencoba mengimbangi Sasuke yang tentunya sudah jauh lebih mengerti hal semacam ini dibanding perempuan yang berada di rengkuhannya. Apa pun perbedaan yang dirasakan Sasuke pada diri istrinya, ia tampak tidak masalah, seolah kecerobohan Naruto dalam membalas ciumannya bukanlah hal yang mencurigakan. Ia tetap melakukannya dan bahkan memperdalamnya ketika Naruto membuka mulut setelah ia menggigit bibir bawahnya. Begitu lidahnya menyusup ke dalam rongga mulut perempuan tersebut dan mulai mengeksplorasinya, Sasuke mendengar Naruto yang seperti tersentak--seakan kembali terkejut dengan tindakan tersebut.
Ciuman mereka yang sejak awal jelas-jelas tidak diliputi kelembutan tampak semakin liar ketika Sasuke mendorong Naruto hingga punggungnya bertabrakan dengan dinding yang berada di dekat pintu. Naruto mengerang ketika tubuh mereka secara kasar bersentuhan. Dada bidang Sasuke menekan tubuhnya, begitu juga dengan pinggangnya. Masih belum melepaskan pagutan di bibir, Sasuke menyusupkan tangannya yang berada di pinggang Naruto ke dalam kaus rumahan yang dipakainya. Ia membelai punggung perempuan itu, terus hingga ke depan--di mana perutnya berada.
Sementara itu, tangannya yang tadi berada di tengkuk kini telah perpindah untuk menangkup sebelah pipi Naruto. Ia baru melepaskan ciuman ketika napas keduanya tersendat dan Naruto yang melemas hingga menjadikan Sasuke serta dinding di belakangnya sebagai penopang tubuh. Napas perempuan itu menderu. Gelenyar aneh malingkupi tubuhnya. Dadanya naik turun dikarenakan napas yang tidak stabil.
Hidung keduanya bersentuhan sedangkan bibir mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Naruto meremas pakaian yang dikenakan Sasuke ketika oniksnya yang kini berkabut menatap lurus ke matanya, menampilkan sesuatu yang amat kentara.
Naruto hampir lupa cara untuk bernapas ketika menyadari arti tatapan itu ataupun ketika melihat Sasuke lebih lama dan memperhatikan tiap detail wajahnya di jarak yang sedekat ini--tentang bagaimana bibirnya memerah akibat ciuman mereka, bagaimana garis wajah tegasnya yang membuatnya tamak lebih gagah, bagaimana wajah putih poselinnya memerah akibat panas tubuh mereka berdua, bagaimana mata hitam itu menatapnya dengan pandangan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya...
Tanpa sadar, Naruto melayangkan tangan untuk menyingkap rambut panjang Sasuke yang menutupi sebagaian wajahnya. Ia mengamati rupa itu lamat-lamat, bertanya-tanya kenapa ia melewatkan pemandangan seindah ini sejak dulu selagi mempertanyakan apa yang sebenarnya dilihat oleh para wanita--yang tergila-gila pada Sasuke--di diri lelaki ini. Kini, ketika matanya terbuka, Naruto akhirnya mengerti.
Daya tarik Sasuke begitu besar. Ia sulit diabaikan.
Terutama dengan rupa dan kemampuan bercumbu seperti itu.
Seakan terhipnotis oleh feromon yang melingkupi Sasuke, Naruto pun menarik wajahnya mendekat dan kembali menabrakkan bibirnya pada bibir lelaki itu. Begitu bibir keduanya kembali menyatu, Sasuke langsung memagutnya dalam. Ia menekankan telapak tangannya di tengkuk perempuan itu guna memperdalam ciuman mereka. Ia mencumbu, menggigit, dan juga menyesap bibir tersebut sebelum berpindah ke garis rahang Naruto. Tangan yang berada di tengkuknya kini telah merayap ke rambut perempuan itu, menariknya ke bawah selagi menyapukan bibir di sepanjang garis rahang hingga leher jenjangnya .Sementara bibirnya memberi cumbuan di sana, sebelah tangannya yang lain telah merayap ke dada Naruto, meremas pelan payudara yang masih terbalut oleh bra.
Bersamaan dengan Sasuke yang menyesap lehernya dan ia yang meremas buah dadanya, Naruto mengerang. Ia mengencangkan pegangannya di bahu sang Uchiha ketika gelenyar aneh kembali menghampirinya. Reaksi Naruto yang amat reaktif membuat Sasuke semakin menginkannya.
Meninggalkan rambut Naruto dan menyusupkan kedua tangan ke bawah baju yang dikenakan olehnya, Sasuke melepas kaitan bra wanita tersebut. Dalam seperkian detik, dua buah dada pun terbebas. Sasuke meraih salah satunya dengan satu tangan. Ia menangkup dan meremasnya lagi sementara bibirnya kembali menemukan bibir Naruto.
Di sela ciuaman mereka, Naruto mengerang, merasakan tubuhnya yang semakin memanas dengan gelenyar asing yang semakin kuat. Sasuke menggigit pelan bibir bawahnya sebelum kembali turun ke leher Naruto dengan sebelah tangan bermain dengan buah dadanya. Ia meremas dan memilin puncak yang secara refleks menegang dalam tangkupannya.
Naruto melengkungkan punggung. Napasnya tersendat dengan perut bagian bawahnya yang mengencang.
Kesadaran seolah menghujaninya. Perasaan asing ini sangat sulit untuk diatasi. Terlalu banyak. Naruto merasakan terlalu banyak di saat pertamanya. Jika semua dibiarkan lebih lama lagi...
"Sasu--ke.. " erang Naruto. Perasaan itu seakan membutakannya. Sasuke hanya bergumam di sela tulang leher Naruto sementara tangannya yang lain masih bermain-main dengan buah dadanya yang belum tersentuh. Naruto menggertakan giginya ketika sebelah tangan Sasuke yang lain bergerak ke bawah untuk menangkup pantatnya. Ia meremasnya, keras bersamaan dengan ia yang memilin serta menjepit puncak dada sang Uzumaki dengan dua jari. Gelenyar itu menguat. Perut bagian bawahnya mengencang sebelum kemudian Naruto merasa dirinya meledak. Berkeping-keping--di tangan sahabatnya sendiri. Pandangan matanya memburam. Ia tidak melihat apa pun selain rasa nikmat hebat yang baru saja menerjangnya. Dengan bibir mengatup, ia berusaha keras untuk tidak menyuarakan apa yang berseru di kepalanya saat ini.
Bastard!
Alih-alih berseru yang demikian, ia justru mengerang sambil menyerukan nama Sasuke selagi merasakan bagian bawahnya basah setelah menemukan pelepasan pertamanya.
Dengan napas menderu dan tubuh yang hampir roboh, Sasuke menekankan tubuhnya pada Naruto, membuat perempuan itu merasakan sesuatu yang keras menekan perut bagian bawahnya.
Wajahnya memanas ketika mengetahui apa itu. Ia hendak mengalihkan wajah kalau saja Sasuke tidak menangkupnya dengan satu tangan. Mata hitam yang tak lagi terlihat jernih itu menatapnya lurus-lurus. Naruto benar-benar merasakan pipinya terbakar, ia pasti lebih merah dibanding wajah Sasuke sekarang ini.
Dengan suara berat, Sasuke berujar, "Jangan sembunyikan sesuatu dariku."
Keras kepala, Naruto tetap mengelak.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun," ungkapnya dengan suaranya sendiri yang terdengar tidak fokus.
Mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Naruto, Sasuke menggigit pelan cuping telinganya. Naruto mengencangkan pegangannya pada Sasuke sambil menahan erangan rendah agar tidak keluar dari mulutnya.
Bagaimana... menghentikannya?
Bangaimana--
SHIT.
"Katakan padaku," ujar Sasuke pelan selagi bermain-main dengan area sensitif di telinga Naruto. "Apa yang mereka lakukan padamu?"
Menahan tangan Sasuke yang ada di belakang sana agar tidak bergerak lebih jauh lagi, Naruto membiarkan dahinya beristirahat di dada Sasuke, ia menghirup aroma mint yang bercampur dengan aroma memabukkan yang hanya dimiliki Sasuke. Naruto merasakan kepalanya berdenyut kabur, bertanya-tanya mengapa ia yang lagi-lagi baru menyadari fakta ini.
"Hanya penyiksaan biasa," ujar Naruto kering, mamaksa mulutnya untuk berbicara selagi otaknya memutar ide untuk mengatasi kekacauan ini. "Aku sudah mengobati diriku sendiri, seperti yang kau lihat, tidak ada bekas luka ataupun efek serius lain."
Hembusan napas Sasuke terasa menggelitik telinganya. Naruto memejamkan mata, mencoba memfokuskan diri agar tetap mendengar perkataan Sasuke dengan benar tanpa memikirkan hal lain yang berkaitan dengan ereksi lelaki itu di perutnya dan apa yang bisa ia lakukan untuk mengatasinya.
Naruto mengumpat dalam hati.
Bagaimana bisa ia memikirkan hal semacam itu? Bagaimana bisa ia sempat terpikir untuk--untuk--
"Kau tidak kelihatan baik-baik saja," gumam Sasuke malas. Suaranya masih terdengar berat, seolah ia juga berjuang untuk menjaga fokusnya agar tetap utuh tanpa kembali pada aktivitas awal mereka.
Dengan berbagai kejangalan yang ia rasakan, perempuan yang berada di dalam rengkuhannya ini begitu memabukkan. Aromanya. Reaksinya. Sasuke merasa gila. Ia hampir melupakan tujuan awal mengapa ia mencium istrinya--sesuatu yang begitu jarang ia lakukan, bahkan ketika mereka berhubungan badan--begitu aroma tubuh wanita itu menyerang indera penciumannya, bagaimana erangan dan lenguhan itu mengalun rendah di indera pendengarannya, bagaimana tubuhnya menjadi lebih reaktif dari biasa--seolah Sasuke tidak pernah mendaratkan tangan di bagian itu sebelumnya.
"Apa lagi yang mereka lakukan?" tanyanya selagi kembali merayap ke garis rahang Naruto, turun hingga ke leher jenjangnya. Ia menghirup aroma memabukan itu dalam-dalam, merasakan sesuatu yang berdenyut sakit di bawah sana. Sasuke mengumpat dalam hati, bertanya-tanya mengapa tubuhnya juga bisa terpengaruh pada Sakura dengan cara yang seperti ini, bahkan ketika wanita itu sama sekali tidak menyentuhnya. Sesuatu mengenai perubahan di dirinya, Sasuke tidak bisa menjelaskan. Ia tidak tahu bagaimana bisa ia sangat menginginkan wanita ini, sosok yang takkan ia sentuh jika sosok itu tidak mengawalinya. Apa yang membuatnya begini?
Napas Naruto menderu ketika merasakan pinggang Sasuke yang semakin menekan tubuhnya dan ketika bibirnya yang tengah menghujani ciuman ringan di lehernya bergerak semakin turun ke bawah. Dari tulang leher dan masih belum berhenti. Sebelah tangannya menarik pakaian Naruto ke atas, mengekspos perut datarnya--dan akan memperlihatkan seluruh tubuh bagian atasnya jika ia tidak mencoba menghentikan.
Naruto tentunya menghentikan. Ia menangkap pergelangan tangan Sasuke dan meremasnya pelan sebelum memindahkannya ke bahu--tempat yang lebih aman. Ia juga menarik rambut hitam lelaki itu, menyuruhnya berhenti. Sasuke merasakannya. Ia berhenti melakukan apa yang tengah dilakukannya dan mendongak untuk kembali menatap Naruto, melihat bagaimana mata hijau yang telah berkabut itu tampak sedikit disinari oleh sepercik tekad--tekad untuk tidak terbawa suasana dan kehilangan kontrol diri.
"Melukai orang lain. Mereka melukai orang lain tepat di depanku sementara aku tidak bisa melakukan apa pun," ujar Naruto serak. "Aku melihatnya mati perlahan."
Dengan tangan menangkup sisi wajah Naruto, pandangan Sasuke melembut, sesuatu yang sangat jarang diperlihatkan olehnya. Di detik selanjutnya, ia sudah kembali mendaratkan bibirnya di bibir perempuan itu. Kali ini, ciumannya lebih berhati-hati, lebih halus, menenangkan, seolah ia ingin memberi tahu sosok yang ada di depannya bahwa tak perlu ada yang dikhawatirkan. Kejadian itu telah berlalu dan sekarang segalanya baik-baik saja.
Sejak tadi, Naruto selalu menutup matanya ketika bibir mereka menyatu. Namun, kali ini, ia membukanya, seketika berbagai percikan emosi langsung ia rasakan. Salah satunya bagaimana ia yang mampu menangkap sorot mengasihi di mata oniks itu, sorot menyayangi, sorot yang dilihat Naruto ketika ibunya menceritakan bagaimana ia bisa menikah dengan ayahnya.
Tenggorokan Naruto tersekat. Ia seolah baru saja dialiri oleh listrik yang tentu saja langsung menyadarkannya.
"Kematian mereka bukan salahmu, Sakura," gumam Sasuke di sela ciuman. "Kau sama sekali tidak perlu merasa bertanggung jawab atas kematiannya."
...bukan salahmu, Sakura.
Sakura.
Sakura.
Sakura.
Sakura.
Dammit.
Sasuke melihat Sakura. Bukan aku. Di sini tidak ada Naruto.
Apa yang baru saja kulakukan, huh?
Memaksakan diri untuk melepaskan pagutannya dari lelaki berambut hitam di depannya, Naruto berusaha menstabilkan deru napasnya selagi mengabaikan sengatan sakit di dada ketika ia mendengar nama Sakura yang disebut. Apa pun yang ia rasakan sekarang ini, ia harap segera berakhir.
Dia memang bodoh. Sangat bodoh.
Bagaimana bisa ia menurunkan pertahanan dirinya begitu saja?
"Terima kasih," ujar Naruto kering. Ia masih merasakan sensasi aneh di tubuhnya, namun sekarang bukan saatnya untuk mengkhawatirkan hal tersebut. "Aku merasa lebih baik sekarang."
Kuharap.
Kabut di mata Sasuke masih belum sepenuhnya lenyap. Ia menyapukan jemarinya di bibir Naruto yang masih basah dan bengkak akibat ciuman mereka.
"Bagus," gumamnya rendah. Ia mengeratkan lengannya yang melingkar di pinggang perempuan itu. "Kalau begitu, kita bisa melakukan hal yang lain."
Hal yang lain.
Hal yang lain.
My ass. Bastard.
Kau takkan menghancurkan rencanaku.
Mengalihkan tangan Sasuke dari wajahnya, Naruto berusaha memasang senyum termanisnya--yang dibuat-buat.
"Kurasa tidak bisa," ujar Naruto polos. Ia melihat bagaimana mata Sasuke yang menajam secara perlahan, menuntut penjelasan lebih lanjut. "Aku sedang datang bulan."
Sudut matanya tampak berkedut.
Naruto menahan senyuman miring.
Eat that shit. Asshole.
That's for attacking me with your damn mouth and frickin' hands.
Memberi jarak antara dirinya dan Naruto, Sasuke mengamati Naruto yang membenarkan pakaiannya dengan ringan--seolah pernyataannya yang barusan bukanlah masalah besar bagi sosok yang ada di depannya.
Sasuke mengumpat dalam hati. Pemandangan istrinya yang tampak berantakan terlihat begitu memikat. Bagaimana bisa dia--
Ereksinya berdenyut ngilu.
Damn.
"Kau tidak memberitahuku," ujar Sasuke kering. Ia menatap Naruto jengkel, tatapan yang hanya mampu disebabkan oleh Naruto, bukan Sakura. Namun, lelaki itu tampak tidak menyadarinya. Ia sedang sangat kesal untuk menyadari sesuatu yang telah menjadi kebiasaannya itu.
Dengan ringan, Naruto mengedikkan bahu. "Kau tidak tanya," ujarnya tak acuh. Detik selanjutnya ia memiringkan kepala sambil menunjuk Sasuke dengan telunjuknya. "Selain itu, aku sudah--well--memberimu clue? Ketika hendak mandi, tadi. Kau sama sekali tidak kepikiran?"
Rahang Sasuke mengeras. Ia menatap Naruto sesaat sebelum beranjak dari sana, hendak turun ke lantai dasar ketika Naruto memanggilnya. Kepalanya menoleh dengan tidak sabaran.
"Kau mau ke mana?" tanya Naruto polos.
Sasuke terlihat ingin membunuh seseorang di sana dan saat itu juga.
"Mandi."
Naruto mengerjap. Ia kemudian menahan senyum. Senyum kemenangan.
"Baiklah kalau begitu. Temui aku di meja makan kalau kau sudah selesai. Aku masih belum memberi tahumu semuanya."
Sasuke hanya mengangguk singkat sebelum beranjak dari sana. Naruto mengamatinya dalam diam, teringat sengatan kecil di dalam dirinya ketika sadar bahwa saat ini Sasuke melihatnya sebagai Sakura, istri terkasihnya. Bukan Naruto. Tidak ada Naruto.
Detik selanjutnya, ia kembali ke dalam ruang kerja Sasuke, menyenderkan punggung ke dinding dan merosot terduduk. Rupanya sebagai Sakura memudar. Rambut pendeknya memanjang hingga menyentuh lantai. Warna merah muda berubah menjadi pirang keemasan. Kulit putihnya menjadi kecoklatan cerah. Pipi yang awalnya tampak mulus kini dihiasi oleh tiga buah tanda lahir bak kumis kucing di sisi kanan dan kirinya. Pakaian Sakura tampak lebih mengetat di bagian dada dengan celana pendek yang menjadi lebih tinggi beberapa senti. Naruto mengusap wajahnya dengan kedua tangan, ia mengacak rambutnya pelan.
Ingatannya melayang pada apa yang baru saja terjadi. Apa yang dilakukan Sasuke padanya. Apa yang dilakukan mereka berdua dan bagaimana reaksi Naruto atas segala sentuhan Sasuke di tubuhnya.
Ia bahkan mencapai pelepasan hanya dengan ciuman dan sentuhan tangannya di beberapa bagian tubuh.
Pengalaman itu adalah yang pertama bagi Naruto dan ia tidak bisa mengelak bahwa apa yang ia rasakan begitu menakjubkan.
Apa yang dideskripsikan di dalam Icha-Icha sama sekali bukan hanya bualan belaka.
Naruto kembali mengusap wajahnya kasar.
Sial, serunya dalam hati.
Rasanya akan sangat tidak mungkin untuk melupakan semua ini begitu saja ketika hampir seluruh indera yang ia miliki sadar dan merasakan tiap sentuhan yang diberikan Sasuke padanya.
Bagaimana bisa dia semahir itu? pikirnya jengkel. Adakah sesuatu yang tidak dia kuasai?
Menutup matanya, Naruto tiba-tiba mendengar suara mengejek Kurama.
Yang tadi itu hampir, Naruto. Aku sangat tidak menyangka.
Terpancing oleh ejekan Kurama, Naruto berseru di kepalanya, "Tutup mulut, Rubah Tua. Kejadian ini takkan terjadi lagi."
Kurama mendengus menahan tawa mengejek di dalam sana.
Kau lemah di tangannya, Naruto. Seluruh energimu seperti menguap entah ke mana begitu dia--
"Aku masih bisa menendang bokongnya kalau aku mau, Kurama! Tapi, tindakan itu hanya akan membuatnya curiga," elak Naruto, merasa hanya setengah yakin dengan perkataannya sendiri. "Kita harus segera membereskan Sora dan mencari tahu dalang di balik mereka. Aku masih yakin semua ini ulah si alien berengsek."
Kau yakin bisa menanganinya sendiri?
"Aku bersamamu, kau ingat? Selain itu, tubuhku sudah pulih dan tidak kekurangan chakra lagi."
Kurama mengibaskan kesembilan ekornya dengan malas. Ia menutup mata sambil tersenyum miring.
Hati-hati jika si Uchiha tahu siapa dirimu, Naruto. Kau akan dimakan hidup-hidup.
"Tutup mulut jika kau tidak ingin kusegel lagi, Kurama!"
Rubah tersebut hanya tertawa menanggapi omelan wadahnya. Ia berhenti bicara ketika Naruto membuka mata dan menatap setumpuk dokumen yang menghiasi meja kerja Sasuke. Melihat lelaki itu dengan cara yang sama setelah apa yang terjadi akan sedikit sulit, pikirnya. Kenangan buruk tentang Sasuke mungkin masih bercokol kuat di kepalanya, namun kenangan semacam ini juga sama kuatnya.
Mengumpat di dalam hati, Naruto pun berdiri. Rambut panjang keemasannya yang terurai jatuh hingga mencapai paha. Menggelungnya dengan lihai, ia kembali memasang segel tangan sebelum keluar dari ruangan itu. Ada beberapa hal yang harus ia kerjakan. Yang kedua adalah memasak. Sedangkan pertama adalah... mengganti pakaian dalamnya.
Ya.
Sasuke memang seberengsek itu. ]
TBC
A/N
that was my first lime that i ever wrote wow /shock sendiri/ itulah kenapa aku tanya rating tadi xD haruskah rate nya kunaikan? maaf jika ada yg terganggu dgn scene tadi tapi serius kuingin sekali nulis sasufemnaru dgn mature content macam ini. they're so hot together /nahan teriak/ okayy tolong untuk yg berkenan tinggalkan review di bawah. scene semacam ini masih jauh lagi. jauh.
duh, semoga saja aing tidak dosa ya kawan:") /brb tobat/ terima kasih sudah baca sampai chapter tujuh ini. maaf kalau aku campur-campur pakai bahasa inggris karena kalo ngumpat entah kenapa enaknya ditulis pakai bahasa inggris. jd, begitulah.
