ZILONG POV


"Zilong," aku melihat punggung Alucard. Suasana di sini begitu damai, angin yang berhembus pelan dan burung yang bernyanyi merdu. Dengan latar belakang hamparan bunga cantik dan langit biru cerah yang sangat indah.

"Iya?" jawabku.

"Aku belum berterima kasih padamu," Alucard menolehkan kepalanya ke arahku dan tersenyum lembut, "Terima kasih, Zilong."

"A-ah, i-itu bukan apa-apa! K-kau ti... tidak perlu berterima kasih kepadaku!" Ugh, kenapa aku malah jadi gagap seperti ini?! Senyumannya itu membuat rasa menggelitik di perutku.

Dan aku menyukai rasanya.

"Aku bilang aku akan melakukan apapun jika kau menolong Sofia kan?" Alucard berjalan menghampiriku, dan memutar jari telunjuknya di dadaku, "Saat aku bilang apapun, aku serius lho," ucap Alucard dengan sedikit semu merah di pipinya.

"Aku… aku," aku ingin kau selalu ada di sisiku.

"Kau tau, semenjak pertama kali bertemu denganmu, kau membuat jantungku berdebar aneh," Alucard menatap tajam ke arahku, "Kau mengerti kan maksudku?"

Mendengar perkataannya yang disertai pipi memerah itu, aku langsung menarik bahu Alucard dan memisahkan jarak di antara bibir kami.

Ah, ini bukan mimpi kan?

"–Kak!"

Eh, suara itu? Chang'e?

Duak!

Aku merasakan rasa sakit yang sangat di perutku, aku pun membuka mataku dan melihat Chang'e sedang melompat-lompat tanpa rasa bersalah di atas perutku.

"Ah! Kakak akhirnya bangun juga!" sahut Chang'e ceria. Dia pun berhenti melompat di perutku, "Kakak mimpi apa sih, sampai bibir kakak dimaju-majuin gitu pas lagi tidur?"

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Berusaha memproses kejadian yang baru saja terjadi.

Cuma mimpi?

Serius?!


ETHEREAL

Fanfic yang menceritakan perjuangan para hero mengembalikan cahaya di Land of Dawn.


ZILONG POV


"Kakak, mimpi apa?" tanya Chang'e antusias.

"B-bukan apa-apa kok!" aku bisa merasakan pipiku yang memerah karena mengingat mimpi itu, "Kakak juga sudah lupa mimpi apa!"

"Ah, kakak ga asik ah!" jawab Chang'e ketus, "Omong-omong, Kak Alucard sudah bangun lho!"

"Eh? Serius?!" padahal aku ingin menjadi orang pertama yang dia lihat setelah dia bangun. Aku segera bangun dari kasurku dan berjalan ke luar.

"Ehm, kakak," panggil Chang'e.

"Apa?" tanyaku tidak sabaran. Aku ingin segera menemui Alu.

"Kakak yakin… ingin keluar?" tanya Chang'e.

Aku menatap Chang'e aneh, apa maksud pertanyaannya? "Tentu saja, aku mau keluar!"

"Dengan penampilan seperti itu?" tanya Chang'e lagi sambil menunjuk diriku.

Aku menatapnya bingung beberapa saat dan mengikuti kemana jari telunjuknya mengarah. Aku baru sadar aku hanya memakai celana dalam!

"Oh iya," seruku malu, "Untung kau mengingatkanku!" dengan segera aku berjalan ke arah lemari bajuku dan mengambil baju yang biasa kupakai saat di markas. Kaos berwarna putih yang nyaman dan celana biru panjang.

"Ah, harusnya aku tidak bilang ya," ucap Chang'e menyesal, "Yasudah, kakak ganti baju saja dulu… aku mau main sama Nana dan Sofia, dah!" Chang'e pun berlari ke luar kamarku. Ah, anak itu sangat hiperaktif.

Aku segera mengganti bajuku dan berjalan ke kamar Alucard. Tanpa mengetuk pintu, aku langsung membukanya.

Kamarnya kosong.


ALUCARD POV


Saat aku membuka mataku, aku menatap atap kayu yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Aku pun langsung terbangun, dan melihat sekeliling.

Kamar berukuran sedang dengan beberapa perabotan. Cahaya yang sangat menyilaukan dari jendela besar di samping kasur.

Dimana ini?!

Aku panik. Aku mengingat-ingat kejadian sebelum aku tidak sadarkan diri. Seingatku, aku sedang melawan iblis dengan sayap hitam besar itu… dan aku kalah. Apa jangan-jangan aku dibawa oleh iblis itu ke sini?!

Aku segera bangun dari tempat tidurku dan berlari ke arah pintu. Tidak terkunci! Dengan cepat, aku memutar kenop pintunya dan berlari ke luar.

Aku berlari di sebuah koridor panjang yang yang memiliki banyak sekali pintu. Dimana ini? Aku terus berlari secepat yang kubisa sampai ke ujung koridor ini.

Di ujung koridor koridor ini, aku menemukan sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan ini berisi cukup banyak meja panjang dan kursi yang mengitari meja itu. Semua kursi itu diduduki oleh elf, orc, dan manusia yang sedang berbincang-bincang santai sambil menyantap makanan yang tersedia.

Aku melihat sebuah papan kayu yang tergantung di dekat pintu masuk. Kantin. Aku bisa menduganya sih tanpa melihat papan itu.

Aku melangkah perlahan ke dalam ruangan itu dan mengamati sekeliling lagi. Ada sebuah pintu di ujung ruang ini, mungkin pintu itu akan mengantarku keluar?

Tapi, saat aku berjalan ke arah pintu itu, seorang elf wanitamelihatku dan senyum lebar mekar di wajahnya. Dia langsung memanggil teman-temannya dan menunjuk ke arahku. Dalam waktu singkat, semua perhatian tertuju ke arahku.

Sial.

"Itu Alucard kan?" tanya seorang wanita berambut pirang pasir panjang yang dikepang. Dia menggunakan pakaian putih seputih angsa.

"Iya! Zilong membawanya kemari!" jawab wanita yang melihatku pertama kali. Wanita itu memiliki rambut putih perak panjang yang diikat ponytail.

"Akhirnya! Dia yang paling sulit diajak jadi hero dari kita semua!" sahut seorang manusia yang memakai kacamata hitam yang keren. Bagiku.

Aku hanya bisa menatap mereka saat mereka mulai membicarakanku.

Zilong? Membawaku kemari? Hero….

Oh, tidak.

Aku langsung berlari ke arah pintu keluar(mungkin). Aku bisa mendengar suara derap kaki yang banyak sekali dari belakangku. Mereka semua mengejarku!

Ugh, aku tidak mau menjadi hero, ini pemaksaan!

Aku tidak tau kemana aku berlari. Setelah melewati pintu itu, aku hanya melihat koridor panjang yang sama seperti sebelumnya.

"Alucard!"

"Hei, berhenti!"

"Kenapa kau lari?!"

Karena kalian mengejarku, tentu saja. Aku mengabaikan teriakan mereka dan mempercepat langkahku. Aneh, kenapa tubuhku rasanya seperti baru lagi?

Setelah apa yang kulakukan kemarin, seharusnya… aku tidak akan bisa bergerak sama sekali, bahkan mungkin tidak sadarkan diri untuk beberapa hari, mungkin minggu.

Agh! Itu tidak penting sekarang! Aku harus kabur dari tempat ini secepat mungkin!

Dan keinginanku untuk kabur langsung kandas seketika.

Jalan buntu.

"Hehe, mau kemana kau sekarang?" tanya manusia yang memiliki kaki kuda dengan senyum mengejek.

Aku menatapnya tajam. Jalur yang tadi kulewati sudah ditutupi kerumunan orang yang tadi mengejarku. Aku terperangkap.

"Hentikan itu, Hylos. Jangan mengganggunya, dia calon rekan kita, tau!" seru gadis elf itu.

"Iya-iya, aku mengerti," jawab makhluk yang bernama Hylos itu.

"Aku bukan calon rekan kalian!" seruku lantang, "Jika kalian sudah paham itu, antar aku keluar!"

"Eh? Tapi kata Zilong kau sudah setuju untuk menjadi hero?" tanya gadis elf itu bingung.

"Tidak, aku tidak ingat aku pernah bilang begitu," jawabku.

"Kau sudah datang kemari, artinya kau mau!" seru manusia berambut coklat yang memakai jirah besi besar. Kelihatan panas.

"Aku… aku kemari bukan karna keinginanku sendiri, ok? Aku bahkan tidak tau ini dimana!"

"Kau ada di Emerald Woodland, tempat tinggal para elf, orc, dan hero," jelas gadis elf itu, "Ehm, namaku Miya, aku bisa membawamu berkeliling tempat ini jika kau mau."

"Tidak perlu, terima kasih, tapi tidak," jawabku tegas, "Oh, mungkin kau bisa menunjukkan jalan keluar?"

"Tidak," jawab gadis elf itu yang diiringi gelengan dari yang lain.

"Agh! Bukannya sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak mau menjadi hero!?"ucapku dengan penekanan di beberapa katanya.

"Kau tidak bisa bilang tidak mau, Alucard," ucap gadis itu lagi, "Ini takdirmu, kau tidak bisa lari dari takdir."

"Aku bisa! Keluarkan aku dari sini, atau aku akan menggunakan kekerasan!" sahutku.

"Kekerasan? Kau yakin bisa melawan kami semua?" tanya Hylos, "Asal kau tau saja ya, kami semua ini lumayan berbakat dan kuat, makanya kami bisa menjadi hero."

"Mungkin aku bisa. Bagaimana aku tau kalau belum kucoba?" aku tersenyum sinis dan mengaktifkan skill terbaikku.

Lifesteal mode on.


ZILONG POV


"Lepaskan aku! Ini caranya kalian memperlakukan tamu?!"

Aku bisa mendengar suara Alucard samar-samar dari arah kantin. Dengan segera aku berlari ke sana.

Ehm, aku menemukan Alucard sedang terikat di salah satu pilar yang menghiasi kantin. Dia kelihatan kesal.

"Salahmu sendiri mencoba melawan kami semua!" sahut Tigreal.

"Ugh, aku kan hanya meminta kalian mengantarku keluar, tapi kalian malah tidak mau!" ucap Alucard kesal. Dia membuang mukanya dan menggembungkan pipinya. Manisnya.

"Haha, tidak kukira Pemburu Iblis Alucard yang terkenal itu kekanak-kanakkan seperti ini," Tigreal tertawa lepas sambil mencubit pipi Alucard gemas.

"Hentikan! Sakit tau!" protes Alucard sambil menjauhkan wajahnya dari Tigreal.

Melihat Tigreal mencubit pipi Alucard, aku rasanya jadi panas. Dengan cepat aku berjalan ke arah mereka.

"Hentikan kubi– eh? HEI ZILONG! APA MAKSUDMU KAU BILANG KE MEREKA AKU MAU JADI HERO?" seru Alucard marah.

Aku mengangkat tanganku dan meletakkannya di atas kepala Alucard, lalu memberikan senyuman yang mengintimidasi ke arahnya, "Kau bilang kau akan melakukan apapun untukku? Selama kau tidak sadarkan diri, aku menjaga Sofia dengan baik lho."

Alucard menatapku bingung beberapa saat sebelum akhirnya dia membelakakkan matanya. Pertanda dia masih ingat dengan perkataannya dan kejadian kemarin-kemarin itu.

"T-tapi yang ini… pengecualian! Kau bisa meminta yang lain… kan?" tanya Alucard sambil menatapku dengan kedua mata birunya yang besar itu.

"Tidak," jawabku singkat.

"Minta yang lain! Aku tidak mauuu," rengek Alucard.

"Kukira kau lelaki sejati yang selalu memegang perkataannya, hm?" aku berusaha memanasi Alucard.

"Tapi kan–,"

"Aku kecewa, padahal kukira kau orang yang hebat, tapi ternyata kau hanya orang yang tidak bisa melakukan apa yang dikatakannya sendiri, kau menye–,"

"Iya! Iya! Apapun!" potong Alucard kesal, "Aku akan melakukan apapun yang kau mau! Puas?!"

"Puas!" senyum lebar merekah di wajahku, "Aku mau kau menjadi hero bersamaku, selamanya! Ok?"

"Tch," Alucard membuang muka tapi tetap mengangguk.

"Itu terdengar seperti pengakuan cinta, atau seperti kata-kata yang sering kudengar saat ada yang ingin melamar seseorang," bisik Miya ke Tigreal.

"Sama, aku juga merasa begitu," jawab Tigreal.

Aku menoleh ke arah mereka dan menatap tajam, "Kedengaran, tau!"

Mereka hanya mengangkat bahu tidak peduli.

"Aku tidak akan kabur lagi, bisakah kalian melepaskanku?" tanya Alucard.

"Tentu," jawab Miya, "Zilong, kau lebih dekat, lepaskan ikatannya."

"Hmm, ok," aku mengikuti arahan Miya. Tali yang digunakan untuk mengikat Alucard terbuat dari besi, mereka sepertinya benar-benar tidak ingin Alucard kabur.

Setelah terlepas dari belenggunya, Alucard menghela napas panjang, "Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang… sebagai hero?"

"Hmm, pertama-tama tentu saja upacara pelantikan!" jawab Miya ceria.

"Eh? Ada upacaranya segala?!" wajah Alucard memucat sedikit, dia memasang ancang-ancang untuk berlari lagi. Tapi, dengan cekatan aku langsung mencengkram bahunya.

"Kau tidak akan bisa kabur lagi, Alu," aku tersenyum manis.

Alucard hanya bisa menatapku tajam. Tatapannya penuh amarah.

Tidak apa-apa kalau kau menatapku seperti itu, toh aku menyukainya.


TO BE CONTINUED


Mungkin ada yang bingung, jadi saya jelasin dikit.

Pas Zilong bangun, Alucard udah keiket di kantin, makanya Chang'e tau Alucard udah bangun.

( ͡° ͜ʖ ͡°) saya lagi mikir… buat bikin sequel tentang pertemuan pertama Alu sama martis. Gimana? Setuju ga? Kalau iya, mungkin fanfic ini bakal up lebih lama, karna sequel ini.

Sebenernya, saya udah bikin sampe chapter 9 wkwk, lupa post terus :'D

Reviewmu selalu kutingguuuuu~ :'0