Fiuh, maaf sekali untuk update-an yg amat lama ini. Selama ini saya bingung gimana menggambarkan dgn baik situasinya untuk dituangkan ke fic ini. Membangun suasana mencekam itu buat saya butuh usaha keras.
Well, this is it, with all the imperfection, I present to you the seventh chapter.
By the way, kembali saya ucapkan Terimakasih bagi semua pembaca fic ini : )
Disclaimer and Credits : JK Rowling has it all but the Original Characters, they're mine.
Fanfic ini TIDAK dibuat untuk tujuan komersil.
( Profesor Quirrell ternyata sangat cerdik, ia bisa menghadapi Fluffy dan tidak dimakan olehnya. Bersamaan dengan itu, sebuah rahasia menakutkan seorang Quirinus Quirrell terbongkar. )
Menatap Cermin Tarsah
"Profesor, JANGAN!"
BLAM!
Suara pintu kayu besar yang baru saja tertutup di ujung lorong sepi itu terdengar jelas. Suaranya menggema sampai ke tempat Valerie berdiri. Hatinya mencelos, dia semakin ketakutan karena baru saja dilihatnya Profesor Quirrel ikut menghilang ke balik pintu besar itu.
Valerie segera berlari menghampiri pintu tersebut. Dia tak peduli lagi dengan suara langkahnya yang mungkin akan mengundang Filch, Mrs. Norris, atau bahkan Peeves untuk mendekat. Dia hanya dapat memirkan satu hal, yaitu menolong Profesor Quirrell untuk segera keluar dari ruangan itu. Karena dari balik pintu Valerie bisa mendengar Fluffy sedang menggeram buas.
"Profesor Quirrell!" panggil Valerie saat mendekati pintu, suaranya bergetar. Dia meraih gagang pintu dan mencoba mendorong pintunya terbuka.
Tidak bisa. Pintu itu terkunci.
Tidak!, Valerie semakin panik.
Dengan napas yang semakin memburu, Valerie berusaha menggoyang-goyangkan pintu itu dengan lebih keras.
Profesor, keluarlah.
"Profesor Quirrell, Buka Pintunya!" teriak Valerie.
Sebuah gonggongan keras dari balik pintu menjawab teriakannya. Valerie kontan terdiam membeku, napasnya tercekat. Aliran darah ke wajahnya seakan terhenti, dia pucat pasi. Fluffy mungkin sedang marah, atau bahkan lapar.
Profesor Quirrell dalam bahaya!, jerit pikiran Valerie.
Dia masih mencoba menggoyangkan pintu itu. "Profesor, Keluarlah!"
Kali ini tak ada reaksi dari dalam. Hening. Tak ada suara gonggongan atau geraman dari Fluffy.
Pikiran Valerie berkecamuk. Bayangan-bayangan mengerikan tentang Fluffy dengan Profesor Quirrell memenuhi otaknya. Valerie tidak bisa menghilangkan semua pikiran itu, bayangan-bayangan itu terus berputar-putar otaknya.
Sebuah isakan tak sengaja lolos dari bibirnya, air mata menggenang di pelupuk matanya. Tetapi Valerie bersikeras menahan tangis. Tak ada jalan lain lagi, dia harus segera menolong Profesor Quirrell.
Valerie mengeluarkan tongkatnya dan mengacungkannya ke arah celah kunci. Dia bersiap merapalkan mantera untuk membuka pintu, dan berharap mantera itu cukup untuk melepas kunci pintu tersebut.
"Alohomora!" teriakannya bergetar.
Suara 'cklek' dan keriet pintu menggantikan keheningan setelah mantera tersebut dilontarkan. Pintu itu terbuka. Manteranya berhasil!
Sedikit kelegaan Valerie langsung tergantikan saat dari celah pintu yang melebar itu terlihat sebuah ruangan gelap. Bulu tengkuknya meremang, jantungnya sudah semakin cepat memompa darah. Ketakutan semakin merasukinya. Valerie menelan ludah dan mengeratkan rahang bawahnya untuk meredam gemeletuk giginya.
Valerie tidak yakin untuk melangkah masuk setelah sebuah pertanyaan muncul di otaknya. Bagaimana caranya dia bisa menolong Profesor Quirrell keluar dari ruangan itu? Sedangkan dia tahu kalau yang akan dihadapinya adalah seekor monster ganas. Memangnya dia mampu melawannya? Dia hanya seorang anak kecil, murid tahun pertama yang baru saja belajar memegang tongkat. Dia tak tahu caranya berduel atau bahkan cara menghadapi hewan sihir sejenis Fluffy. Tak mungkin dia bisa menang melawan monster itu.
Tetapi jika dia berhenti sekarang, nyawa Professor Quirrell semakin dalam bahaya. Tak ada waktu lagi untuk berlari memberitahu guru lain tentang ini semua.
Seiring kecamuk pikirannya, pintu itu pun telah melebar hingga separuhnya. Kesempatan menolong gurunya sudah di depan mata. Toh dia sudah berhasil sampai sejauh ini, yang menandakan bahwa keberuntungan masih menyertainya.
Valerie menelan ludah. Dia kemudian mengacungkan tongkat ke depan tubuhnya. Ujung tongkatnya bergetar, Valerie menyadari dirinya gemetar ketakutan. Benar-benar tak bisa buang waktu lagi, dia harus segera bertindak.
Merlin, tolong lindungi aku, limpahkan aku dengan semua keberuntunganmu. Bantu aku, kumohon, ucapnya dalam hati.
Beberapa langkah berat membawa Valerie melewati ambang pintu. Ruangan itu lebih gelap daripada lorong di belakangnya. Pikiran-pikiran buruk masih merasuki otaknya. Dalam hati, Valerie berharap pikiran-pikiran itu semua salah.
Valerie melangkah lebih dalam memasuki ruangan gelap tersebut. Matanya sudah mulai terbiasa dengan cahaya yang minim di tempat itu. Dia dapat melihatnya, tiga kepala anjing berukuran raksasa terhampar di hadapannya. Hampir saja dia berteriak. Valerie menahannya dengan cepat-cepat membekap mulutnya sendiri dengan tangan satunya. Karena kini yang dilihatnya bukanlah kepala-kepala anjing yang menggonggong, tetapi tiga kepala anjing yang sedang tertidur dan mendengkur. Valerie tahu bahwa kepala-kepala itu berbahaya kalau terbangun nantinya.
Inilah monster anjing berkepala tiga yang selama ini hanya dilihatnya dari Peta Perampok milik Fred dan George. Dan ini jugalah makhluk yang didengarnya dari cerita Neville. Memang benar-benar besar. Satu kepala berukuran sekitar dua puluh kali lebih besar dari ukuran kepala anjing normal.
"Rupanya kau anak kecil yang sejak tadi berisik dan menggangguku?"
Valerie kaget mendengar seseorang berbicara dari belakangnya. Dia kontan berbalik dan menghadap ke arah sumber suara.
Siluet samar Profesor Quirrell terlihat berada di salah satu sudut ruangan tak jauh dari tempat Valerie berdiri. Cahaya bulan yang masuk melalui celah tinggi di atas jendela jatuh menimpa sosoknya. Mata Valerie berhenti pada siluet tubuh pemilik suara tersebut.
Sesaat tadi dia hampir lupa dengan guru yang ingin ditolongnya itu.
"Profesor Quirrell, Anda..."
Profesor Quirrell mendengus. "Tentu saja aku tidak apa-apa. Karena kecerdikan dan kelihaianku, aku bisa membereskan anjing jelek ini sebelum mereka berhasil merobek-robek tubuhku karena teriakanmu yang mengganggu konsentrasiku."
Valerie mengalihkan tatapannya sejenak dari kontak mata dengan profesornya. Dia merasa bersalah mendengar perkataan orang di hadapannya ini. Tetapi ada yang lebih penting yang harus Valerie katakan padanya.
"Profesor, kita harus cepat keluar dari sini, sebl—sebelum monster ini bangun lagi."
"Begitu?" Profesor Quirrell menaikkan sebelah alis matanya, dan mendengus sinis.
Valerie tertegun dengan reaksi guru itu. Heran.
Ada sesuatu yang janggal dari raut wajahnya. Seorang Profesor Quirrell tidak pernah menampakkan raut wajah seperti itu di setiap kelas-kelasnya. Raut wajahnya kali ini sangat jauh berbeda. Raut wajah mengejek, dan jahat. Tak ada kegugupan, hanya ada sarkasme dibalik bola matanya. Itu membuat Valerie takut berhadapan satu satu dengannya sekarang.
"A—apa maksud Anda?"
Quirrell menyeringai. "Expelliarmus."
Valerie tersentak kaget ketika gurunya itu melucuti tongkat cemara miliknya. Dia benar-benar tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
Belum selesai Valerie memahami segala kejangalan ini, pintu kayu yang tadi dia lewati seketika tertutup rapat. Suara 'klik' menandakan kuncinya sudah kembali terpasang.
Valerie merasakan keringat dingin meluncur di balik tengkuknya. Ada sesuatu yang tidak beres di sini.
"Dasar bodoh. Kau membiarkan dirimu menghadapi bahaya demi menolongku? Oh, aku sungguh tersentuh nona kecil," ucap Quirrell dengan tenang, namun penuh sarkasme. "Tapi kurasa usahamu sia-sia. Kau lihat, aku tidak butuh pertolongan. Aku bahkan bisa membereskan anak anjing jelek ini dalam sekejap tanpa bantuan siapapun. Dan perlu kau ketahui, bukan aku yang sekarang sedang dalam bahaya, tetapi kau."
Kening Valerie mengerut. Dia semakin bingung dengan kalimat terakhir gurunya itu. Dia mencurigai hal yang lebih buruk akan terjadi.
"Aku akan segera membereskanmu, Miss. Karena kau sudah terlalu jauh ikut campur dalam hal ini. Petrifficus..Totalus!"
Seketika seluruh tubuh Valerie berdiri membeku. Ia masih bisa mendengar suara langkah Quirrell mendekatinya. Saat guru itu memasuki jarak pandangnya, ia tahu bahwa hanya kedua bola matanya yang masih dapat digerakkan. Semakin dekat sosok itu dengannya, ketakutan dalam diri Valerie semakin meningkat.
"Kau sama saja dengan teman kecilmu yang sok pahlawan itu. Rasa penasaran yang membahayakan diri kalian sendiri. Kalian terlalu banyak mengetahui apa yang seharusnya tidak boleh kalian ketahui. Aku berharap akan bertemu dengannya juga, secepatnya. Supaya aku bisa segera melenyapkan kalian. Oh, dan karena kau ada di sini, kau mendapat kehormatan untuk menjadi yang pertama, Miss Amber,"
Valerie tak mengerti siapa orang lain yang dimaksud Quirrell. Dia sibuk dengan pemahaman demi pemahaman yang kini memenuhi kepalanya.
Quirrell adalah orang jahat. Bahwa dia memiliki sebuah tujuan yang pastinya tidak baik. Kenyataan bahwa Quirrell di sini dan berhasil melumpuhkan Fluffy, memberikan alasan kalau memang anjing berkepala tiga itu menjaga sesuatu, dan Quirrell ingin mendapatkan sesuatu-entah-apa itu. Dan dengan amat ceroboh, Valerie telah mengambil keputusan yang salah dengan memasuki ruangan ini. Karena ternyata memang Quirrell tidak butuh bantuannya. Yang lebih gawat, Quirrell tak segan-segan untuk segera melenyapkannya, atau dengan kata lain, malam ini dia akan menjadi mayat di tempat ini. Dan yang paling buruk adalah, setelah Quirrell membunuhnya, ia juga akan melenyapkan satu orang lagi. Valerie tak tahu siapa itu. Tetapi yang pasti orang itu dan dirinya sedang dalam bahaya besar sekarang.
Rasa mual dan pusing menghampiri Valerie. Tak hanya karena ide bahwa Quirrell akan segera membunuhnya dan kenyataan kalau dia tidak bisa berteriak meminta bantuan, tetapi juga karena aroma bawang putih busuk yang memenuhi udara di sekitarnya. Semakin ia mencoba untuk tidak menghirup aroma bawah putih yang menguar, semakin besar rasa sakit yang menusuk kepalanya. Kengerian menyelimutinya.
Bodoh! Bodoh! Bodoh!, rutuk Valerie pada dirinya sendiri. Matanya memanas, ia tak bisa menahan air mata menetes ke atas pipinya. Ya, Valerie menangis, dia terjebak dalam situasi ini dan tidak dapat berbuat apapun.
"Menangis?" ucap Quirrell mendengus tak acuh sambil berjalan mengelilingi Valerie, "Untuk apa kau menangis, dear. Tenang saja, ini mudah dan cepat. Bahkan kau tidak akan merasakan apapun. Dengarkanlah alunan harpa yang juga membuat anjing jelek ini tertidur pulas. Nikmatilah, selagi kau bisa."
Quirrell mengatakannya seolah itu semua semudah mencari Bowtruckles yang menempel di batang pohon. Tetapi biar bagaimanapun, itu tidak membantu sama sekali. Kenyataannya, Valerie takut menghadapi kematian, dia tidak siap.
Quirrell kembali memasuki area pandang Valerie. Dengan senyuman ia lalu mengacungkan tongkatnya ke hadapan Valerie dan berkata, "Bersiaplah, dear,"
Tidak!, jerit Valerie dalam hati. Merlin, aku mohon aku tidak ingin mati di sini! Tolong aku! Aku mohon! Aku Mohon!
Detak jantung Valerie semakin kencang. Telinganya pun berdenging saat dirinya merasakan detak jantungnya yang semakin kacau. Pandangannya kabur karena air meta yang meggenangi pelupuk matanya. Dia ingin sekali berteriak, tetapi kutukan ikat-tubuh-sempurna milik Quirrell menghalanginya.
"Quirrell."
Sebuah suara mendesis dan melengking terdengar dari arah lelaki di depan Valerie. Suara yang menyedihkan juga sekaligus menyeramkan. Dia bergidik. Valerie yakin itu bukan suara Quirrell.
Siapa itu?!, tanya Valerie dalam hati.
Raut wajah Quirrell seketika berubah setelah mendengar suara tersebut. Ia menghamba. "Ya, Tuan."
"Berapa banyak lagi penghalang yang dipasang guru-guru bodoh itu di bawah sana?"
Quirrell kini benar-benar teralihkan perhatiannya sepenuhnya kepada pemilik suara tanpa tubuh tersebut.
"Lima, Tuan. Ada lima lagi yang sudah mereka pasang."
Suara itu tidak langsung menjawab. Sesaat hanya dengkuran Fluffy dan irama suara harpa yang memenuhi ruangan.
"Tahan keinginanmu. Bawa dia. Gunakan dia untuk melewati penghalang itu."
Dengan ini Valerie menyadari sesuatu, kematiannya akan sangat menyakitkan.
—o0o—
Quirinus Quirrell berdiri menatap sebuah cermin besar dengan bingkai ukiran kuno yang mengitari sisi-sisinya. Sebuah cermin setinggi tiga meter yang sudah sangat tua. Terlihat dari beberapa detail ukiran yang amat rumit mengelilingi setiap sudut bingkainya.
"Sial!" Suara kesal Quirrell menggema di dalam ruangan.
"Anda!"
Sebuah suara anak laki-laki terdengar dari salah satu sisi ruangan. Harry Potter, yang entah bagaimana caranya dapat mencapai ruangan itu, terkejut melihat siapa yang barusan merutuk kencang.
Quirrell melihat bayangan anak itu dari dalam cermin. Ia berbalik dan menampakkan sebuah senyum.
"Aku sudah bertanya-tanya apakah aku akan bertemu kau di sini, Potter."
"Tetapi saya kira—Snape..."
"Severus?" Quirrell tertawa dan tawanya bukan tawa gemetar seperti biasanya, tetapi dingin dan melengking. "Ya, Severus memang kelihatannya tipe yang cocok, ya? Dirinya sangat berguna, menyambar-nyambar seperti kelelawar liar. Dibanding dia, siapa yang akan mencurigai P-profesor Q-Quirrell y-yang g-gagap dan m-menimbulkan b-belas kasihan?"
Harry tidak mengerti. Ini tak mungkin benar, tak mungkin.
"Tetapi Snape mencoba membunuh saya."
"Bukan, bukan, bukan. Aku yang mencoba membunuhmu. Temanmu, Miss Granger, tidak sengaja menabrakku sampai jatuh ketika dia buru-buru mau membakar jubah Snape dalam pertandingan Quidditch itu. Dia memutuskan kontak mataku denganmu. Beberapa detik saja lagi aku pasti sudah berhasil menjatuhkanmu dari sapu. Aku pastilah sudah berhasil sebelumnya, seandainya Snape tidak menggumamkan mantra penangkal, berusaha menyelamatkanmu."
"Snape berusaha menyelamatkan—saya?"
"Tentu saja," ucap Quirrell dingin. "Menurutmu kenapa dia ingin menjadi wasit dalam pertandinganmu berikutnya? Dia berusaha memastikan aku tidak melakukannya lagi. Lucu juga. Dia tak perlu khawatir sebetulnya. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena Dumbledore ikut nonton. Semua guru lain mengira Snape berusaha menghalangi Gryffindor menang, dan dia memang pintar membuat dirinya tidak disukai. Benar-benar membuang waktu sia-sia. Toh setelah semua usaha itu, kau sendiri malah yang mendatangiku. Dan itu semakin mempermudah diriku untuk membunuhmu malam ini."
Quirrell menjentikkan jari-jarinya. Tiba-tiba seutas tali membelit Harry erat-erat.
"Kau terlalu ingin tahu dan terlalu suka ikut campur kalau dibiarkan hidup, Potter. Berkeliaran di malam Halloween seperti itu, tahu-tahu kau sudah melihatku datang untuk melihat apa yang menjaga batu itu."
"Anda yang memasukkan troll itu?"
"Ya. Aku punya bakat khusus menangani troll. Kau pasti sudah melihat apa yang kulakukan terhadap troll di kamar depan itu? Sayangnya, Snape, yang sudah mencurigaiku, langsung naik ke lantai tiga untuk menghadangku—dan bukan saja troll-ku gagal memukuli kalian sampai mati, si anjing kepala tiga itu bahkan tidak berhasil menggigit kaki Snape sampai putus.
"Sekarang, tunggu dengan tenang, Potter. Setelah aku mendapatkan batu itu, aku akan segera membereskan kalian berdua."
Baru saat itulah Harry menyadari apa yang berdiri di belakang Quirrell. Cermin Tarsah. Juga ada seseorang yang tengah berdiri di depan cermin itu. seseorang dengan jubah merah yang mirip dengan miliknya di kamar asrama.
"Nah, Amber, sudahkah kau mendapatkan batu itu?"
Harry Potter melirik pada cermin besar itu. Dia dapat melihat sosok Valerie Amber yang tampak amat kacau dari pantulan bayangannya pada cermin. Matanya bengkak dan sembab karena menangis, dan rambutnya awut-awutan. Jelas Quirrell tidak memperlakukannya dengan baik saat melewati semua rintangan yang dipasang tersebut. Tetapi Harry merasa sedikit lega melihat Valerie.
"B-b-be—belum, Sir." Harry dapat mendengar ketakutan yang dirasakan Valerie Amber dari getar suaranya.
Sebuah rasa ngeri meluncur di balik tengkuknya. Harry tahu dia harus segera bertindak. Nyawanya dan nyawa Valerie Amber sedang dalam bahaya. Satu-satunya caya yang bisa dipikirkan Harry hanyalah bagaimana membuat Quirrell terus bicara dan mencegahnya berkonsentrasi pada cermin. Dan dia juga berharap Valerie masih memiliki kekuatan untuk dapat bekerja sama dengannya melumpuhkan Quirrell.
"Tetapi Snape kelihatannya sangat membenci saya." Harry memulai percakapannya lagi.
"Oh, memang dia membencimu," ucap Quirrell sambil lalu. "Sangat membencimu. Dia sekolah di Hogwarts bersama ayahmu, kau tidak tahu? Mereka saling membenci. Tetapi dia tidak pernah menginginkan ayahmu mati."
Quirrell berjalan mengelilngi cermin tua itu dan meneliti setiap sudutnya. Ambisi dan rasa penasaran berkobar menjadi satu dalam tatapan mata Quirrell.
"Minggir Kau!" bentak Quirrell sambil menyentakkan Valerie ke pinggir. Harry dapat melihat dengan jelas kengerian yang dipancarkan wajah temannya itu. Valerie terisak dan beringsut ke salah satu sisi.
"Aku melihat batunya... kupersembahkan kepada tuanku... tetapi di mana letak batu itu?" ucap Quirrel bergairah dan kesal di saat yang bersamaan.
Harry sedang berkutat melepaskan diri dari tali yang mengikatnya, tetapi percuma. Dia berpikir untuk terus mencegah Quirrell mencurahkan seluruh perhatiannya kepada cermin.
"Tetapi saya mendengar Anda beberapa hari yang lalu, terisak-isak—saya kira Snape sedang mengancam Anda..."
Untuk pertama kalinya ketakutan melintas di wajah Quirrell.
"Kadang-kadang," katanya, "sulit sekali bagiku untuk menjalankan perintah tuanku—dia penyihir hebat dan aku lemah..."
"Maksud Anda dia ada dalam kelas itu bersama Anda?" Harry terperanjat.
"Dia bersamaku ke mana pun aku pergi," kata Quirrell pelan. "Aku bertemu dengannya ketika berkelana keliling dunia. Waktu itu aku cuma pemuda yang masih bodoh, masih idealis tentang hal baik dan buruk. Lord Voldemort menunjukkan kepadaku betapa kelirunya aku. Tak ada baik dan buruk, yang ada hanya kekuasaan, dan mereka yang terlalu lemah untuk mencarinya... Sejak saat itu, aku melayaninya dengan setia, meskipun aku sering kali mengecewakannya. Dia harus keras terhadapku." Quirrell mendadak bergidik. "Dia tidak mudah melupakan kesalahan. Ketika aku gagal mencuri Batu Bertuah dari Gringotts, dia sangat marah. Dia menghukumku... memutuskan dia harus mengawasiku lebih ketat lagi."
Suara Quirrell semakin teringat perjalanannya ke Diagon Alley—bagaimana dia bisa sebodoh itu? Dia bertemu Quirrell hari itu, bahkan sempat berjabat tangan dengannya di Leaky Cauldron.
Aku tak mengerti... apakah batu itu ada di dalam cermin? Haruskah aku memecahkannya?, pikiran Harry berlomba. Yang sangat dia inginkan lebih dari apa pun di dunia saat ini adalah menemukan Batu Bertuah itu sebelum Quirrell.
Apa aku harus melihat ke dalam cermin itu dulu?, pikir Harry kemudian. Tetapi bagaimana aku bisa menatap ke dalam cermin tanpa Quirrell menyadari tujuanku?
"Apa kegunaan cermin ini? Bagaimana cara kerjanya? Tolonglah aku, Tuan!"
Dan betapa ngerinya Harry ketika terdengar suara menjawab.
"Gunakan anak itu!"
Valerie dan Harry sama-sama terkejut mendengar perkataan suara tanpa tubuh itu. Quirrell seketika menoleh kepada Harry.
"Ya—Potter—sini."
Dia menepukkan tangannya sekali dan tali yang mengikat Harry lepas sendiri. Pelan-pelan Harry bangkit.
"Sini," Quirrell mengulang. "Lihat ke dalam cermin dan beritahu aku apa yang kaulihat."
Harry melangkah ke hadapan Cermin Tarsah.
"Jangan!"
Quirrell dan Harry menolehkan wajah ke sudut di mana Valerie berada. Suara itu berasal dari teriakannya. Harry melihat Valerie kini sudah berdiri pada kedua kakinya.
"Ja-jangan dia," kata Valerie sambil mengatur napasnya agar tidak terisak. "Aku yang a-akan mengambil batu iitu untuk Anda."
Kedua mata Quirrell menyipit tajam menatap Valerie.
"Aku tadi hampir mendapatkannya. Sungguh." Valerie berusaha meyakinkan Quirrell.
Quirrell berpikir sejenak, lalu berkata, "buktikan ucapanmu."
Valerie berusaha berjalan tanpa gontai menuju ke depan Cermin Tarsah. Dia melirik kepada Harry, seolah ingin memberitahu sesuatu. Ttapi tatapan menyipit Quirrell masih mengikuti hingga bayangan dirinya berada tepat di hadapan cermin itu. Harry Potter hanya menatap kejadian ini tak jauh di tempat dia berdiri sejak tadi.
"Katakan dengan jujur apa yang kau lihat dalam cermin itu. Jika tidak, aku tak akan lagi membuang waktu untuk membunuhmu."
Quirrell sudah siap dengan tongkatnya. Valerie bisa melihatnya dari pantulan bayangan laki-laki itu di cermin.
Valerie menatap dirinya di dalam cermin. Sebenarnya, dia tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan batu itu. Dia tak pernah melihat cermin ini sebelumnya. Dan saat tadi dia pertama kali menatap cermin itu, anehnya dia bisa melihat Mandy dan mamanya tersenyum merangkul dirinya dari belakang. Hati Valerie menghangat saat melihat mereka.
Tetapi kali ini berbeda. Valerie di dalam cermin itu hanya ada pantulan dirinya dan Mandy. Dan kini Mandy tersenyum hangat padanya. Mandy membawa sebuah batu kristal berwarna merah darah di tangannya. Dia memperlihatkan batu itu pada Valerie. Batu yang indah. Valerie sudah membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, tetapi Mandy memberikan isyarat dengan menaruh jari telunjuk pada bibirnya supaya Valerie tidak berbicara apapun.
Kemudian di dalam cermin dia melihat Mandy mengedipkan sebelah matanya kepada Valerie dan menaruh batu kristal merah tersebut ke dalam saku jubahnya. Di saat yang bersamaan, Valerie merasa sebuah benda berat memenuhi saku jubah tempat Mandy menaruh batu merah tersebut.
Seperti dapat membaca mimik wajah Valerie yang terkejut, Mandy di dalam cermin itu mengangguk dan tersenyum. Valerie dapat menduga apa yang ada dalam saku jubahnya. Hanya saja, dia masih bingung bagaimana itu terjadi. Dirinya yakin bahwa tak ada Mandy yang berdiri di sampingnya. Mandy hanya ada dalam bayangan cermin itu. Dia tidak nyata. Tapi jelas-jelas ada sesuatu yang kini memenuhi saku jubahnya karena Mandy menaruh benda itu di sana. Bagaimana caranya?
Jika benar batu itu yang memang berada di sakunya, mungkinkah memang Mandy telah menghampirinya dan memberikan padanya? Mengapa Valerie tidak bisa benar-benar melihatnya dalam kenyataan? Mengapa hanya dalam cermin mereka bisa saling menatap?
Ucapan Quirrell dengan nada tak sabar mengejutkan Valerie, "Sekarang katakan apa yang sudah kau lihat dalam cermin itu, Amber."
Tidakkah Quirrell melihatnya juga tadi? Mandy sendiri menaruh batu itu di saku jubahnya. Mandy menghampirinya dan memberikan batu itu padanya.
"A—aku melihat sahabatku hidup lagi."
"Lalu?"
"Lalu...," Valerie mengerti sekarang bahwa Quirrell tidak melihat pa ayang dilihatnya. Dia tidak melihat Mandy atau juga apa yang telah diperbuat Mandy di dalam cermin itu. Quirrell tidak tahu kalau batu itu kini ada di saku jubahnya.
Valerie mencoba mengulur waktu agar dapat berpikir untuk memilih mengatakan hal yang sebenarnya pada laki-laki ini atau lebih baik berbohong.
"Dia memiliki batu itu!"
Suara mendesis itu terdengar lagi. Valerie dan Harry Potter terkejut dan juga bergidik ngeri kali ini. Suara itu melengking tinggi dan menggema menakutkan di dalam ruangan. Terdengar kemarahan pada nada bicaranya.
"Kau mencoba membohongiku, ya, anak kecil?!"
"Tidak!" jerit Valerie sambil beringsut berbalik dan melangkah cepat ke arah Harry Potter. Quirrell tidak sempat meraihnya. Valerie tidak tahu bagaimana suara itu dapat mengetahui kalau dirinya telah memiliki batu itu. Dia dan Harry secepatnya berlari menuju pintu keluar.
"Hentikan Mereka!"
Belum ada lima langkah mereka melangkah, sebuah pagar api menghadang tepat sebelum pintu keluar. Valerie dan Harry terpaksa menahan langkah. Mereka menyadari kini mereka telah terjebak di dalam ruangan itu bersama Voldemort dan Quirrell.
"Kembali Kalian! Aku tak akan segan-segan lagi membunuh kalian berdua!"
Suara melengking itu bicara lagi.
"Biarkan aku bicara dengan mereka... berhadapan..."
"Tuan, Anda belum cukup kuat!"
"Aku cukup punya kekuatan... untuk ini..."
Harry dan Valerie merasa seakan Jerat Setan memancang mereka di tempat. Mereka tak dapat menggerakkan satu otot pun. Ketakutan, dilihatnya Quirrell menjatuhkan tongkatnya, kemudian mengangkat tangan dan mulai mengurai turbannya. Apa yang terjadi? Turban itu jatuh. Kepala Quirrell tampak aneh dan kecil tanpa turban. Kemudian pelan-pelan dia berbalik.
Harry ingin menjerit, tetapi suaranya tidak keluar. Valerie sendiri sudah hampir pingsan melihat apa yang ada di hadapannya. Yang seharusnya bagian belakang kepala Quirrell, ternyata sepotong wajah, wajah paling mengerikan yang pernah dilihat mereka berdua. Wajah itu sepucat tembok dengan mata merah mendelik, dan lubang hidung yang hanya berupa celah, seperti ular.
Itu wujud Voldemort sekarang ini. seorang jahat yang sudah lama menghilang dan tidak diketahui keberadaaanya.
"Harry Potter...," bisik wajah itu. Harry mencoba mundur selangkah, tetapi kakinya tak mau bergerak.
"Kau lihat, aku jadi apa?" ucap wajah itu. "Kau lihat apa yang harus kulakukan untuk bertahan hidup? Ya, hidup dari makhluk lain. Menjadi parasit rendahan. Tetapi selalu ada yang mengizinkan aku memasuki hati dan pikiran mereka. Darah unicorn telah membuatku semakin kuat beberapa minggu terakhir ini. Kau melihat Quirrell yang setia meminumnya untukku di Hutan. Sayangnya, itu tidak bisa memberikanku tubuh. Tapi ada sesuatu yang dapat memberi itu. Sesuatu yang, saat ini, ada di saku jubah anak perempuan itu. Nah, sekarang, Nona Manis, berikan batu di sakumu itu!"
Harry dan Valerie saling menatap. Sebuah suara dari dalam kepala mereka mengatakan untuk jangan memberikan batu itu pada Voldemort. Dan dalam diam, mereka sepakat untuk mempertahankan batu tersebut.
"Jangan bertindak bodoh, bocah kecil," ucap wajah itu. "Kau bisa menyelamatkan nyawamu dan juga nyawa temanmu itu jika kau mau bekerja sama denganku.
"Bukankah kau tadi mengatakan kalau kau melihat sahabatmu kembali hidup saat kau menatap cermin itu? Katakan padaku, tidakkah kau ingin melihat sahabatmu kembali hidup? Tidakkah kau ingin melihat orangtua kalian berdua hidup lagi?," desis wajah tersebut.
Valerie dapat membayangkan Mandy dan mamanya berdiri sambil tersenyum padanya. Ucapan wajah itu menusuk hatinya, membangkitkan rasa rindu yang selama ini dia pendam. Valerie memang ingin sekali kembali bertemu mereka. Dia sangat ingin berkumpul bersama mereka sekali lagi.
Valerie memasukkan tangannya ke dalam saku jubah dan menggenggam batu itu di dalam saku. Perlahan dia mengangkat kakinya untuk mulai melangkah mendekati wajah itu.
"Bagus sekali. Kamu memang gadis pintar. Ya, benar. Kita bisa membawa mereka kembali. Menggunakan batu yang ada di sakumu itu, kita akan membuat mereka hidup kembali."
Valerie mengeluarkan batu itu dari saku jubahnya.
"DIA BOHONG!" teriak Harry. "Valerie, Jangan Percaya Omongannya! Dia Bohong! Orang yang Sudah Meninggal Tidak Akan Bisa Hidup Lagi!"
Perkataan Harry menyadarkan Valerie. Dia menghentikan langkahnya yang sudah semakin dekat dengan wajah itu. Tatapannya berubah horor. "Kau Bohong!" teriak Valerie.
"Sialan Kau, Potter!" Wajah itu mendesis penuh amarah. "Ambil Batu Itu!" perintahnya pada Quirrell.
"Lempar, Valerie!" teriak Harry sambil menjulurkan tangannya, siap menerima batu merah itu. Harry Potter menyadari situasi sudah semakin memburuk. Secepatnya mereka harus pergi dari tempat itu.
Quirrell melompat menerkam Valerie tepat setelah batu bertuah dilemparkan kepada Harry. Merasa gagal, Quirrell yang terbakar emosi kemudian meraih leher Valerie dan mencekiknya.
"Mati Kau!"
Valerie dapat merasakan tangan orang dewasa itu mencengkeram lehernya. Semakin lama semakin erat. Cekikan di lehernya menimbulkan rasa sakit yang hebat pada kepalanya. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari semua rasa sakit itu. Tetapi kelihatannya semua sia-sia. Tangan itu terlalu kuat untuk di lawan. Rasa sakit di kepalanya juga semakin menjadi-jadi.
Valerie mulai kehabisan tenanga. Dia merasa tubuhnya semakin melemah. Pandangan matanya mulai kabur, telinganya berdenging, suara-suara di sekitarnya semakin riuh rendah, dan dia kesulitan untuk bernapas. Mulutnya megap-megap, tetapi tak ada udara yang dapat diraihnya. Bahkan dirinya tak lagi bisa merasakan ujung kakinya menyentuh tanah.
Harry Potter terus menerjang Quirrell dan menghantamnya dengan batu yang dia pegang. Berharap itu akan membuat perhatian Quirrell teralihkan dan dia masih sempat menyelamatkan nyawa Valerie. Dia menghantamkannya berkali-kali. Dan saat mengetahui bahwa itu tidak cukup berhasil, Harry mencoba meraih tangan Quirrell dan menariknya lepas dari leher Valerie.
Dia dapat mendengar Voldemort mendesis marah dari belakang kepala Quirrell. Dan di saat itu juga rasa sakit yang amat tajam menyengat bekas luka berbentuk sambaran petir di kepalanya. Harry merasa kepalanya akan terbagi dua karena rasa sakit itu. Dia melepaskan cengkeraman tangannya pada tangan Quirrell untuk memegang bekas lukanya yang menyakitkan.
Rasa sakit di dahinya berkurang. Dia memandang berkeliling, melihat Valerie yang sedang terbatuk-batuk. Quirrell telah melepaskan cekikannya.
Harry menyapukan pandangannya sekali lagi ke seluruh ruangan. Dia mencari Quirrell, dan melihatnya tengah meringkuk kesakitan sambil memandangi jari-jarinya. Jari-jari itu melepuh.
"Tangkap Potter! TANGKAP DIA!" teriak Voldemort lagi dan Quirrell menerjang Harry sampai jatuh dan mendarat di atas tubuhnya, kedua tangannya mencoba meraih leher Harry, tetapi dia mencoba menahannya. Tiba-tiba saja bekas lukanya terasa sakit luar biasa, sampai dia merasa nyaris buta. Tetapi dia masih bisa melihat Quirrell melolong kesakitan.
"Tuan, aku tak bisa memegangnya—tanganku—tanganku!"
Dan Quirrell melangkah mundur menjauhi Harry. Di saat itu Harry bisa melihatnya, tangan itu terbakar, kelihatan merah dan berkilat.
"Kalau begitu bunuh dia, bodoh. Bereskan anak itu! Cepat!" lengking Voldemort.
Quirrell meraih tongkat sihinya untuk melakukan kutukan yang mematikan terhadap Harry. Tetapi, tanpa pikir panjang, Harry mencengkeram wajah Quirrell, dan….
"AAAARGH!"
Quirrell berguling di atas lantai batu sambil memegangi wajahnya yang juga melepuh, dan Harry pun tahu: Quirrell tak tahan menyentuh kulitnya. Jika tersentuh, dia akan menderita kesakitan yang amat sangat. Satu-satunya kesempatan Harry adalah memegangi Quirrell, membuatnya cukup kesakitan sehingga tak bisa melakukan kutukan itu.
Harry melompat bangun, menangkap lengan Quirrell dan mencengkeramnya sekuat mungkin. Quirrell menjerit dan mencoba mengibaskan Harry. Rasa sakit di kepala Harry semakin hebat, dia tak bisa melihat. Harry hanya mendengar jerit mengerikan Quirrell dan teriakan-teriakan Voldemort, "BUNUH DIA! BUNUH ANAK ITU!" dan suara-suara lain, ada juga suara lemah anak perempuan memanggilnya. Suara itu terus berseru-seru, mungkin di dalam kepalanya sendiri, "Harry! Harry!"
Dirasakannya lengan Quirrell ditarik lepas dari cengkeramannya, dia tahu dirinya telah kalah, dan jatuh dalam kegelapan. Jatuh...makin lama makin dalam...
—o0o—
Harry Potter melihat benda keemasan yang terbang di atas kepalanya. Itu Snitch. Dia berusaha menangkapnya, tetapi lengannya terlalu berat.
Dia mengejap. Bukan Snitch, ternyata kacamata. Aneh sekali.
Dia mengejap lagi. Wajah Albus Dumbledore yang tersenyum melayang masuk ke dalam pandangannya.
"Selamat sore, Harry," ucap Profesor Dumbledore.
Harry bingung menatapnya. Kemudian dia ingat. "Sir! Batunya! Dan Valerie! Sir, Quirrell mencoba membunuh Valerie dan mengambil batunya!"
"Tenangkan dirimu, nak, kau sedikit ketinggalan," ucap Dumbledore tenang. "Valerie selamat, dia baik-baik saja. Dan kupastikan Quirrell tidak mendapatkan batu itu."
Sebuah rasa lega memenuhi hati Harry, lalu dia bertanya lagi, "kalau begitu, siapa? Sir, saya..."
"Harry, tenang. Kalau tidak, Madam Pomfrey akan mengusirku keluar."
Harry menelan ludah dan memandang berkeliling. Dia sadar dirinya berada di rumah sakit. Dia berbaring di tempat tidur berseprai linen putih, dan ada sedikit aroma antiseptik yang memenuhi udara, khas aroma Sayap Rumah Sakit. Sebuah tumpukan tinggi memenuhi meja sebelahnya. Berbagai macam permen dan camilan sepertinya ditaruh berdesakan di atas meja itu.
"Kiriman teman-teman dan pengagummu," ucap Dumbledore berseri-seri. "Harry, aku berterimakasih kepadamu dalam peristiwa ini. Terutama karena kau telah menyelamatkan Valerie. Apa yang terjadi di ruang bawah tanah antara kalian dengan Profesor Quirrell adalah rahasia besar, maka tentu saja seluruh sekolah tahu.
"Kurasa temanmu, Mr. Fred dan George Weasley bertanggung jawab atas usaha mengirimimu tutup kloset. Pasti mereka mengira kau akan geli dan senang menerimanya. Tetapi Madam Pomfrey merasa hadiah itu tidak begitu higienis, dan menyitanya."
"Sudah berapa lama saya di sini?"
"Tiga hari. Mr Ronald Weasley dan Miss Granger akan lega sekali mengetahui kau sudah sadar, mereka sangat cemas."
"Valerie, bagaimana dia?"
"Dia baik-baik saja. Berkat kau yang menyelamatkannya. Dia sadar beberapa jam sebelum dirimu, dan kini dia sedang beristirahat lagi di tempat tidur sebelah."
Harry merasa ada kelegaan mendengar penuturan Profesor Dumbledore.
"Sir, di kamar itu—saya—, Quirrell tidak bisa menyentuh saya," ucap Harry, dia kehilangan kata-kata untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Quirrell saat dirinya menyentuh laki-laki itu. Dumbledore hanya tersenyum sambil terus menyimak. Harry semakin heran dan akhirnya bertanya, "kenapa?"
"Itu karena ibumu yang telah mengorbankan dirinya untukmu. Ibumu meninggal karena berusaha menyelamatkanmu. Tindakan semacam itu meninggalkan bekas, Harry. Tidak—tidak," ucap Dumbledore cepat saat Harry menyentuh luka di dahinya. Ia melanjutkan, "bukan seperti bekas luka, bekasnya tidak seperti tanda yang kelihatan. Bekas seperti itu tertingal di dalam dirimu, di setiap inchi kulitmu, Harry. Tindakan yang disebut cinta dan kasih sayang. Ibumu memberikan perlindungan terakhirnya padamu dengan seluruh cinta dan kasih sayangnya. Hal yang tidak akan pernah bisa dimengerti oleh mereka yang memiliki jiwa yang tidak baik.
"Nah, Harry. Istirahatlah kembali. Kau perlu tenaga untuk menghadapi pesta besok malam."
Harry tersenyum mendengar penjelasan Dumbledore barusan. Hatinya menghangat. Setidaknya dia kini tahu bahwa sekalipun ibunya sudah meninggal, tetapi ia tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Dan itu dibuktikan dengan cinta dan kasih sayang yang telah melindunginya dari serangan Quirrell dan Voldemort.
Kini Dumbledore menjadi sangat tertarik pada seekor burung yang hinggap di ambang jendela. Ini memberi Harry kesempatan untuk mengeringkan matanya dengan seprai. Ketika sudah bisa bicara lagi, Harry berkata, "Dan Jubah Gaib—tahukah Anda siapa yang mengirimnya kepada saya?"
"Ayahmu menitipkannya kepadaku dan kupikir kau akan menyukainya." Mata Dumbledore bersinar-sinar. "Sangat berguna. Ayahmu terutama menggunakannya untuk menyelinap ke dapur untuk mencuri makanan waktu dia di sini dulu."
Dumbledore memperhatikan beberapa tumpukan permen di sebelah meja Harry. "Ah, Kacang Segala-Rasa Bertie Bott! Aku cukup beruntung waktu masih muda dapat yang rasa muntah, dan sejak saat itu aku jadi kehilangan selera—tapi kurasa aman kalau aku ambil rasa karamel, ya?"
Dumbledore tersenyum dan memasukkan kacang berwarna cokelat keemasan itu ke mulutnya. Kemudian dia tersedak dan berkata, "Ya ampun! Rasa kotoran telinga!"
Harry hanya tersenyum lebar melihatnya.
Saat Dumbledore pergi, Harry melihat seorang pria bermata madu menghampiri Dumbledore dan sedikit bercakap-cakap dengannya. Kemudian pria itu menoleh pada Harry dan tersenyum. Harry merasa cukup familiar melihat wajahnya, tetapi dia tidak tahu siapa pria itu dan hanya membalas senyumnya dengan kaku. Kemudian pria tersebut bersama Dumbledore berjalan dan menghilang di balik tirai pembatas di samping tempat tidurnya.
Malam hari ini Harry bermimpi indah. Gryffindor memenangkan piala asrama dan mengalahkan Slytherin. Dirinya memegang piala itu dan diangkatnya tinggi-tinggi dari atas meja Gryffindor. Dari dalam piala itu keluar banyak sekali permen-permen yang jatuh membanjiri kaki Harry. Anak-anak Gryffindor dengan gembira mengambilnya. Bahkan Ravenclaw dan Hufflepuff pun ikut bersorak-sorai melihatnya. Dan betapa bahagianya Harry saat wajah pucat Malfoy cemberut karena asramanya kalah.
Sebuah suara gelak tawa membangunkan Harry dari mimpi indahnya tersebut. Dia membuka matanya. Sinar matahari terlihat menyoroti ruangan Sayap Rumah Sakit dari jendela-jendela panjang di salah satu sisinya. Harry kembali mengerjapkan mata. Buram. Dia tidak memakai kacamata.
Harry meraih meja di samping tempat tidurnya utnuk mencari kacamatanya dan—brak! Tumpukan tinggi di mejanya tak sengaja tersenggool.
"Harry, kau tidak apa-apa?" Kerai pembatas telah ditarik oleh seseorang. Harry kini bisa melihat dengan samar penghuni kamar tidur di sebelahnya, dan memperkirakan ada beberapa orang yang sedang menjenguknya, salah satunya yang baru saja bertanya padanya.
"Ya, aku tidak apa-apa, hanya ingin mengambil kacamata—" balas Harry.
Orang itu lalu membantu Harry menemukan kacamatanya dan mengembalikan beberapa permen yang jatuh ke lantai. Harry menerima kacamata yang diberikan orang itu lalu memakainya. Pandangannya ini sudah jauh lebih jelas, dan dia melihat orang tersebut berdiri di salah satu sisi tempat tidurnya.
"Hai, thanks, er—George," ucap Harry bingung. Itu adalah salah satu dari si kembar Fred dan George.
"Sama-sama. Dan Harry, aku Fred, kalau George yang ada di sana, dekat Valerie," balas orang itu.
"Oh, maaf, Fred. Aku kira kau George."
Fred tertawa. "Tidak masalah, Harry. Banyak, kok, orang-orang yang masih salah menebak kami."
Harry tersenyum lebar mendengar ucapan Fred. Dia menengok ke arah samping, sekarang dia tahu siapa orang yang di rawat di tempat tidur sebelahnya. Itu adalah Valerie Amber, karena dia berbaju tidur khas rumah sakit seperti yang dipakainya. George dan Valerie sedang melihat ke aranya. Pastilah karena keributan yang tak sengaja diperbuatnya tadi.
Harry dapat melihat kondisi Valerie yang jauh lebih segar ketimbang terakhir kali dia lihat di ruang bawah tanah itu. Walaupun wajahnya masih pucat dan ada ikatan perban di kepalanya, Valerie kelihatan lebih sehat sekarang.
"Jam berapa sekarang?" tanya Harry pada Fred.
"Jam 9 pagi. Ada apa?"
Harry spontan menjawab, "Aku lapar."
Dan ketiganya pun tergelak mendengarnya. Pipi Harry memanas, tetapi memang itulah yang dia rasakan. Semalam dia tidak sempat makan karena kepalanya masih pusing setelah sadar. Kini saat dia merasa lebih baik, perutnya mulai memprotes minta diisi.
"Tenang aja, sarapanmu udah disiapkan. Ada di meja sebelah sana," tunjuk Fred pada meja di sisi lain tempat tidur Harry. "Tadi Madam Pomfrey yang menaruhnya untukmu."
Harry mencoba mengambil sarapannya dengan dibantu Fred saat Hermione Granger dan Ron Weasley datang menghampirinya. Keduanya tampak baik-baik saja. Baguslah.
Kecemasan di wajah Hermione sepertinya hilang setelah melihat Harry menyantap sarapannya. "Oh, Harry, kami sangat takut kalian akan—Dumbledore sangat cemas—,"
"Seluruh sekolah membicarakannya," potong Ron cepat. "Apa sebetulnya yang terjadi pada kalian?"
Harry menengok kepada Valerie untuk meminta persetujuan. Valerie pun menanggapinya dengan anggukan, dia tahu kalau Fred dan George juga sudah sangat penasaran ingin mengetahui hal ini.
Benar-benar salah satu kejadian langka ketika kenyataan yang sebenarnya justru lebih aneh dan mencekam dibandingkan desas-desus liar. Sambil melahap sarapannya sedikit demi sedikit, Harry menceritakan apa yang terjadi di dalam kamar bawah tanah itu. Valerie menambahkan beberapa detil dialaminya dan juga mengapa dia bisa bersama Quirrell. Ron dan Hermione serta Fred dan George menjadi pendengar yang sangat baik; mereka kaget pada saat-saat yang tepat, dan ketika Harry memberitahu mereka apa yang ada di balik turban Quirrell, Hermione menjerit keras.
"Itu pasti Dumbledore," ucap Ron saat Harry bertanya siapa orang yang memanggilnya sesaat sebelum dirinya jatuh pingsan. "Kami bertemu dengannya di Aula Depan saat sedang berlari ke kandang burung hantu. Dia sudah tahu—dia cuma berkata, 'Harry mengejarnya, kan?' lalu bergegas ke lantai tiga."
"Jadi itu Dumbledore. Quirrell—bagaimana dia?"
"Quirrell sudah mati. Tubuhnya ditemukan dalam keadaan melepuh dan terbakar. Itu yang kami dengar," ucap George.
"Valerie, apa kau yang mengambil kunci bersayap itu? Karena setahuku, Quirrell tidak bisa menggunakan sapu terbang," tanya Hermione pada Valerie.
"Ya, itu aku. Quirrell menyuruhku menaikinya dan mengambil kunci yang ditunjuknya. Dia tidak mau susah payah mengambilnya sendiri. Kunci-kunci itu sangat susah ditangkap. Mereka ada ribuan, dan selalu terbang kesana-kemari. Dan banyak sekali yang mirip satu sama lain. Beberapa kali kunci yang aku tangkap ternyata tidak sesuai dengan pintu itu."
"Sebenarnya kau bisa kabur dengan sapu itu, Val." ucap Fred.
"Sudah. Aku sudah siap-siap kabur dengan sapu itu sesaat setelah Quirrell berhasil memutar kunci yang benar. Tapi belum jauh aku terbang, Quirrell menangkap ujung belakang sapuku dan menariknya sampai aku jatuh. Setelah itu dia tidak lagi membiarkanku kabur dengan mengikatku agar selalu berada dalam jarak pandangnya.
"Tapi aku menemukan satu kesempatan lagi untuk menjauh, setidaknya untuk menyelamatkan batu itu darinya dan Kau-Tahu-Siapa. Saat dia sibuk menghadapi troll di rintangan terakhir," Harry, Hermione, dan Ron mengangguk mengerti di sini. Sedangkan Fred dan George hanya menyimak. "Aku berhasil melepaskan diri dari tali itu dan cepat-cepat aku menyambar botol paling kecil. Aku hanya sempat meminumnya beberapa tenggak karena tahu kesempatanku tidak lama. Quirrell menyadarinya dan aku berlari menerobos api ungu dan berjalan sampai ke ruangan terakhir. Aku langsung berkeliling ruangan mencari tempat di mana batu itu disembunyikan. Tetapi nihil. Aku tidak sempat menemukannya sampai akhirnya Quirrell datang dan melemparkan sebuah mantera padaku—tidak, itu sebuah kutukan. Karena aku merasa seluruh tubuhku sangat sakit seperti ditusuk oleh ribuan pisau."
Valerie bergidik mengingat apa yang Quirrell lakukan padanya di kamar itu.
"Quirrell tahu di mana batu itu disembunyikan," ucap Harry mengembalikan topik pembicaraan.
"Ya, dia memang tahu," ucap Valerie menanggapi Harry. "Dia tertawa jahat saat mengetahui kalau aku belum mendapatkan batu itu. Dia tahu kalau cermin itu adalah kunci untuk memperoleh batunya. Dia sempat marah dan kesal saat tidak berhasil mendapatkan batu itu setelah berdiri di depan cermin tersebut. Dan suara Kau-Tahu-Siapa memberinya perintah untuk menyuruhku menatap cermin itu sampai kau akhirnya datang, Harry."
"Kami sudah berpikir kalau kau dalam bahaya saat menemukan tasmu tergeletak di depan pintu koridor. Apalagi kau menjatuhkan tongkatmu di dekat Fluffy," ucap Harry.
Fred dan George mengalihkan topik pembicaraan dengan membahas tetang pertandngan Quidditch terakhir mereka. Mereka digilas habis oleh Ravenclaw karena tidak adanya Seeker. Harry meminta maaf pada keduanya, tetapi mereka berdua hanya menanggapinya enteng. Slytherin memenangkan Piala Asrama tahun ini, karena semua nilai sudah dimasukkan dan Slytherin memiliki nilai tertinggi. Sangat kontras dengan apa yang dimimpikan Harry semalam.
"Tapi kalian tetap harus datang pesta nanti malam. Makanannya dijamin enak-enak," ucap Ron.
Sebuah suara mengagetkan mereka semua. Madam Pomfrey baru saja masuk ruangan dan mengomeli mereka, "Astaga! Kalian mengganggu istirahat mereka. Sekarang Keluar!" ucapnya tegas.
Valerie dan Harry masuk ke dalam selimut mereka lagi. Madam Pomfrey jika sedang seperti ini, tidak ada yang berani melawan. Maka Harry dan Valerie hanya menurut saat ia menyuruh mereka istirahat kembali.
"Harry, terimakasih sudah menyelamatkanku," ucap Valerie sesaat sebelum Madam Pomfrey datang untuk memasang kembali tirai pembatas di antara keduanya. Harry tersenyum mendengar ucapan tulus dari Valerie barusan.
— [ Selanjutnya, Chapter 8 ] —
*Yep. Kalau kalian juga tidak dapat merasakan ketegangannya, atau kalian merasa ini berlebihan, atau aneh, atau nggak nyambung, atau—ah, sudahlah, itu berarti saya memang perlu banyak banyak belajar bagaimana cara menterjemahkan imajinasi ke dalam bentuk kata-kata.
Rasanya emang masih kurang greget.*
*Oh iya, mumpung bentar lagi mau memperingati hari Battle of Hogwarts (2 Mei), ikut memeriahkan The Day Of Victory yuk, infonya ada di profile saya ya. tengkyuuu*
