".. Baekhyun .. k-kau harusnya jadian saja .. dengan Baekhyun," gumam Kyungsoo sesenggukan. "D-dia menyukaimu. S-sangat menyukaimu. Dari dulu."

.

.

.


Just A Neighbor

- Chapter 7 -

Chanyeol diam saja, membuat Kyungsoo terus menangis dalam diam. Ia tidak tahu kenapa tapi hatinya sangat sakit saat mengatakan hal yang terakhir pada Chanyeol.

".. Chan."

"Aku tahu Baekhyun menyukaiku sejak lama. Aku tahu rasanya menyukai diam-diam. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, Kyung. Aku juga menyukaimu dari dulu. Itu sebabnya aku tidak pernah menanggapi perasaannya-ataupun perasaan orang lain," jelas Chanyeol sembari menekan bintik kecil di hidung Kyungsoo. Bintik itu terlihat sedikit membesar dari terakhir Chanyeol lihat sore tadi.

"Aw, sakit," ringis Kyungsoo dengan suara sengau. Chanyeol tersenyum lembut sembari mengusap hidung Kyungsoo.

"Kau ini. Jadi Baekhyun lebih penting dari perasaanmu sendiri, huh ?"

".."

"Coba bayangkan," Chanyeol pun kembali duduk di sebelah Kyungsoo. "Kalau aku benar-benar jadian dengan Baekhyun."

Kyungsoo terdiam.

"Kau akan melihat kami berpegangan tangan setiap hari. Kami juga akan pulang bersama, kami akan makan siang bersama, mendengarkan musik bersama. Kencan di akhir pekan. Dan mungkin Baekhyun akan sering memelukku."

Kyungsoo merasa kembali ingin menangis saat mencoba membayangkan semua hal itu terjadi. Semua hal itu ia lihat langsung dengan mata kepalanya sendiri. Tidak, ia tidak suka hal itu.

"Kau tidak suka kan kalau aku seperti itu ? Kau tidak mau aku menjauh kan ?" Chanyeol menatap Kyungsoo yang hanya diam.

"Jangan mengorbankan perasaanmu sendiri untuk orang lain, Kyung. Atau kau akan benar-benar menyesal nantinya."

"T-tapi .. aku tidak tega melihat Baekhyun sedih-"

"Dia juga tidak akan tega melihatmu sedih. Dan seorang teman tidak akan berbahagia di atas penderitaan temannya kan ? Karena itu, aku sudah merencanakan sesuatu untuk Baekhyun."

".. Apa ?"

"Kau akan tahu sendiri nanti," ujar Chanyeol sembari berjalan ke dapur. Ia membuka rak yang paling tinggi di atas meja dapur-tempat susu bubuk. "Kyung, bagaimana kalau kita beli donat ? Tiba-tiba saja aku ingin donat."

Kyungsoo hanya merebahkan kepalanya ke pegangan sofa dengan kaki memeluk bantal. "Kau saja. Aku pusing."

"Benar juga, badanmu panas. Kau harus segera makan !" Dengan suara berisik, Chanyeol memasang wajan di atas kompor. Lelaki berambut hitam berantakan itu mulai memanaskan wajan, mencari mentega dan mengambil telur dari kulkas. "Kyungie, kau bisa kan menelepon Kris-hyung ? Suruh dia beli donat dan kopi."

Kyungsoo menggumam tak jelas, menghampiri Chanyeol di dapur. Tanpa perlu bertanya, ia mengambil ponsel Chanyeol dari saku hoodie merah yang dipakai pria jangkung itu. Chanyeol kembali meraba kening lalu leher Kyungsoo dengan tangannya saat Kyungsoo mendudukkan dirinya di meja dapur.

"Syukurlah panasmu tidak naik," ujar Chanyeol. Raut khawatir tidak hilang dari wajahnya. "Memangnya kau tidak lapar sama sekali ?"

"Tidak-Chan, sejak kapan kau menggunakan fotoku sebagai wallpapermu ?" tanya Kyungsoo senang sekaligus bingung setelah membuka kunci layar ponsel Chanyeol. Sebenarnya password ponsel Chanyeol juga adalah tanggal ulangtahun Kyungsoo, 1201. Meski pria itu berdalih ia suka angka 12 dan ibunya sendiri juga lahir tanggal satu.

Dan sekarang, wallpaper di iphone 6S putih dengan case hitam milik Chanyeol menampilkan empat foto selfie asal Kyungsoo. Kyungsoo bahkan tidak ingat kapan ia memakai ponsel Chanyeol untuk selfie terakhir kalinya.

Latar belakang fotonya di kelas. Foto kiri atas menampilkan wajah Kyungsoo yang tersenyum terlalu lebar (?)-menunjuk hidungnya dengan telunjuk (lubang hidungnya terlihat lucu, membuat Kyungsoo tertawa sendiri) dan mata menyipit. Foto di sebelah kanan atas, Kyungsoo merubah gayanya dengan mengerutkan kedua alisnya dan mengerutkan hidungnya. Foto di bawahnya, Kyungsoo menggigit bibirnya dan kedua bola matanya menatap ke atas dengan dahi sedikit mengerut (Kyungsoo merasa dirinya mirip Sehun di foto ini). Lalu foto yang terakhir-kiri bawah-foto Kyungsoo yang tersenyum cerah sambil mengedipkan sebelah matanya dan ada tangan seseorang yang membentuk 'v' di bawah matanya yang mengedip (Kyungsoo yakin itu tangan Chanyeol karena Chanyeol sering menjahilinya kalau ia sedang berfoto).

"Sejak tadi sore," jawab Chanyeol dengan wajah bersemu merah. Meski malu setengah mati, ia berusaha jujur. "Kau terlihat .. uh, sangat .. menggemaskan."

Wajah Kyungsoo ikut memerah mendengar perkataan Chanyeol. Ia merasa wajahnya sangat panas, dan jantungnya berdebar-debar. Tapi ia sangat senang. Ia bahagia. Ternyata Chanyeol benar-benar mencintainya. ".. Terimakasih, Chan."

Kyungsoo menatap Chanyeol yang membalikkan nasi goreng di wajan dengan gugup. Terlihat jelas dari cara tetangga kesayangannya itu memegang spatula (?). Tapi Kyungsoo membiarkan Chanyeol memasak sendiri. Sekali-sekali laki-laki itu perlu belajar tidak mengandalkan orang lain.

Ia pun beralih kembali ke ponsel Chanyeol dan mencari kontak Kris-hyung di sana. Sambil menggoyang-goyangkan kaki kiri lalu kaki kanannya bergantian, Kyungsoo meletakkan ponsel Chanyeol ke telinganya-setelah menekan tanda hijau di sebelah kontak Kris-hyung.

"Halo, Kris-hyung ?"

"Ah. Halo. Kyungsoo ?" Kris-hyung kedengarannya tidak terlalu terkejut mendengar suara Kyungsoo yang meneleponnya lewat nomor Chanyeol.

Kyungsoo tersenyum mendengar suara Kris-hyung, "selamat malam, hyung. Apa aku mengganggumu ?"

"Tidak, tidak. Sebentar lagi aku pulang kok. Ada apa, hm ? " tanya Kris-hyung yang diiringi suara seperti ketikan di keyboard komputer. "Chanyeol sedang apa ? Apa dia ketiduran ?"

"Tidak, hyung," jawab Kyungsoo. Matanya tak lepas dari pria jangkung yang sedang memasak di dapurnya saat ini. Setelah nasi gorengnya selesai, Chanyeol sepertinya mau membuat telur mata sapi dan sosis goreng. Ia meletakkan nasi goreng buatannya di sebelah Kyungsoo dan mengambil telur lagi serta sebungkus sosis di kulkas. "Chanyeol sedang masak untukku."

"Masak untukmu ? Yang benar ? Park Chanyeol ?"

Kyungsoo tertawa geli. "Iya, dia benar-benar masak untukku. Oh ya, Chanyeol bilang dia mau hyung belikan donat dan kopi."

"Bilang padanya aku mau donat yang ada coklatnya semua," ujar Chanyeol sambil memotong sosis hati-hati. Ia jarang memasak, jadi memasak seperti ini agak membuatnya ragu masakannya akan terasa enak. Tapi demi Kyungsoo, ia akan melakukan apapun. Bahkan masak sekalipun.

"Hyung, Chan bilang dia mau donat coklat."

"Iya, iya. Nanti aku beli. Tolong jaga Chanyeol sampai aku pulang ya, Kyungsoo-ah."

Kyungsoo mengobrol sebentar dengan Kris-hyung selama beberapa menit. Setelah telepon ditutup ia membawa ponsel Chanyeol yang sudah low battery itu ke ruang tengah, mengambil charger ponsel milik ayahnya di bufet dan mencharge ponsel itu.

"Baby, ayo makan," Chanyeol memanggilnya dari meja makan. Dengan senyum di wajahnya, Kyungsoo berjalan cepat ke meja makan lalu duduk di salah satu kursi dan Chanyeol duduk di sebelahnya-mendekatkan kursinya sampai tak berjarak dengan Kyungsoo.

"Tahu begini, aku akan sering-sering sakit agar kau sering masak," kata Kyungsoo, mendekatkan piring berisi nasi goreng dengan dua telur mata sapi dan banyak sosis goreng yang dipotong berbentuk bunga kesukaannya.

"Tentu saja kau tidak boleh sakit," Chanyeol kembali menekan bintik kecil di hidung Kyungsoo. Entahlah-ia merasa tangannya gatal begitu melihat bintik itu. Rasanya ingin menghilangkan bintik yang mirip jerawat itu dengan tangannya. "Nanti kalau kau sakit, aku yang repot."

"Chan, hentikan," Kyungsoo berusaha menjauhkan tangan Chanyeol dari hidungnya. "Sakit tahu."

"Dasar jerawatan," Chanyeol mencibir.

Kyungsoo hanya memanyunkan bibirnya sebentar. Ia menyendok nasi gorengnya dan malah mengarahkannya ke mulut Chanyeol. "Buka mulut-aaaa," Chanyeol membiarkan Kyungsoo menyuapinya. Wajah Chanyeol berubah. Ia mengunyah nasi gorengnya lebih cepat.

"Kau harus mencobanya Kyung ! Rasanya enak !"

Setelah Kyungsoo mencoba nasi goreng buatannya dan mengatakan kalau masakannya lumayan enak, Chanyeol bersorak kegirangan.

.

.

"Kau tidak ngantuk ?" tanya Chanyeol dengan sebelah tangan tertekuk-menahan kepalanya di karpet. Ia dan Kyungsoo memutuskan untuk menonton film Avengers : Age of Ultron sambil menunggu Kris-hyung pulang. Kyungsoo yang tiduran di sebelahnya dengan mata menatap serius ke arah layar televisi berukuran besar di ruang keluarganya itu menggeleng asal. "Kalau kau ngantuk, kau tidur saja, Chan. Aku masih mau nonton."

Chanyeol menatap namja di sebelahnya. Rasanya ia tidak bisa tidur kalau Kyungsoo ada di sebelahnya seperti ini. Tangan Chanyeol mulai bergerak menyusuri helai-helai rambut Kyungsoo. Ia menyisiri rambut itu dengan jarinya perlahan.

"Coba kalau di dunia ini benar-benar ada seseorang seperti hulk. Pasti keren," gumam Kyungsoo. Ia melirik Chanyeol yang lagi-lagi menekan-nekan bintik kecil di hidung Kyungsoo. Sebenarnya Chanyeol hanya memijat bintik itu lembut, tapi entah kenapa rasanya sakit. Seperti ditusuk jarum. Padahal Baekhyun bilang itu bukan jerawat, paling hanya bekas digigit nyamuk. Mengingat Baekhyun, membuat Kyungsoo sedikit sedih. Ia merasa bersalah pada sahabatnya itu. Ia merasa ia telah merebut sesuatu yang sangat berharga dari hidup Baekhyun.

"Chan," panggilnya.

"Hmm ?"

"Hubungan kita ini .. apa ? Teman ? Sahabat ? Pacar ? Atau hanya tetangga ?"

"Pacar," jawab Chanyeol cepat. "Kemarin aku menembakmu. Kau bilang kau mencintaiku. Titik."

"Lalu ... "

TOK. TOK. TOK.

Suara pintu diketuk membuat Kyungsoo dan Chanyeol menoleh. Chanyeol langsung berdiri dari posisi tidurannya, lalu membuka pintu.

Ia sudah bisa menebak siapa yang datang ke rumah Kyungsoo jam segini.

Kris langsung masuk begitu Chanyeol membukakan pintu. Tangannya menenteng bungkusan plastik berisi donat dan kopi dari Dunkin Donuts.

"Ini pesananmu, Tuan Park." Kris menyerahkan bungkusannya pada Chanyeol yang nyengir lebar. "Hyung baik sekali."

"Yah, selama aku dapat uang dari ibumu ini tidak apa-apanya sama sekali." Kris mendahului Chanyeol ke ruang tengah. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke karpet, di sebelah Kyungsoo. "Film apa ini Kyungsoo ? Avengers ?"

"Iya, hyung. Avengers." Kyungsoo mengangguk lalu menatap Kris di sebelahnya. "Hyung baru pulang ? Pasti hyung lelah. Istirahatlah dulu. Mau kubuatkan coklat hangat ?"

"Iya, hyung memang lelah sekaliiii. Tapi setelah melihat wajah manismu, rasanya semua lelah di tubuh hyung hilang. Hyung tidak butuh lagi coklat hangat," goda Kris lalu ia dan Kyungsoo tertawa.

"Gombal sekali," ujar Kyungsoo.

"Dasar playboy jelek," sahut Chanyeol dari meja makan. Ia sudah membuka kotak donat yang Kris belikan. Isinya 12 potong donat. Enam dari dua belas donat itu adalah donat coklat (adonannya coklat) dengan topping berbeda. Dua large iced coffe diletakkan di sebelah kotak donat. Ia pun membawa satu large iced coffe dan sepotong donat coklat bertopping selai kacang ke ruang tengah.

"Oh ya, tadi aku melihat salah satu teman kalian di dunkin donuts," ujar Kris sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya-mengecek timeline instagramnya.

"Teman ? Siapa ?" Mulut Chanyeol penuh donat.

"Itu-siapa tuh, yang badannya pendek."

"Hyung menyindirku ?" Kyungsoo langsung sewot. Ia yang tadinya mau mencomot donat yang dimakan Chanyeol tidak jadi melakukan aksinya karena perkataan Kris.

Kris menatap Kyungsoo bingung. "Tentu saja tidak. Dia memang pendek. Matanya sipit. Siapa namanya-duh, aku lupa. Pokoknya dia sering ke sini dulu Kyungsoo."

Mata Kyungsoo melebar begitu menyadari seseorang yang dimaksud Kris. "Maksud hyung Baekhyun ? Dia ada di dunkin donuts ?!"

"Nah ! Iya ! Itu dia namanya ! Baekhyun ! Dia duduk di bangku dekat jendela bersama seseorang berwajah tampan. Tapi aku tidak pernah melihat pria tampan itu sebelumnya. Kelihatannya mereka membicarakan sesuatu yang serius," kata Kris yang memang mengenal Kyungsoo sejak kecil. Bahkan Kris hafal betul siapa saja teman sekolah Kyungsoo yang sering datang ke rumahnya.

"Siapa ?" Chanyeol sedikit bingung. "Pria berwajah tampan ?"

Kyungsoo menatapnya, "jangan-jangan itu Suho-hyung yang baru saja menembak Baekhyun beberapa hari lalu."

"Suho ?" ulang Kris. Ia mengalihkan tatapannya dari ponselnya.

"Iya. Baekhyun cerita kalau ia punya kenalan seorang anak kuliahan. Dia kuliah di universitas Seoul, katanya sih anak jurusan ilmu hukum. Namanya Suho. Mereka kadang bertemu di akhir pekan. Suho-hyung ini sering mengajak Baekhyun makan di luar. Baekhyun bilang Suho orang yang sangat baik. Dia juga dewasa dan pintar. Lalu, beberapa hari lalu Suho menembaknya lewat telepon. Ia meminta untuk bertemu Baekhyun langsung, tapi saat itu Baekhyun menolak dengan alasan harus mengerjakan tugas sekolah. Sampai sekarang Baekhyun belum memberikan jawaban untuk Suho-hyung karena .." Kyungsoo terdiam sebentar. "Dia masih menyukai Chanyeol."

Kris mengangguk-angguk. "Mungkin Baekhyun menerima perasaannya Suho."

"Bisa saja sih," gumam Kyungsoo tak yakin.

.

.

.

23.45 pm.

"Tidurlah." Chanyeol merapatkan selimut warna abu-abu bermotif garis-garis sampai ke dagu Kyungsoo. "Kau bisa kesiangan kalau tidak segera tidur." Ia duduk di ujung kasur Kyungsoo sambil mengusap pipi Kyungsoo lembut.

"Chan," Kyungsoo merubah posisi tidurnya menjadi menghadap Chanyeol.

"Hm ?"

"Apa yang harus kukatakan pada keluargaku kalau mereka tahu kita pacaran ?" tanya Kyungsoo dengan wajah memerah sempurna.

Chanyeol tertawa. "Yang benar saja Kyung ! Kau khawatir pada hal seperti itu ?"

"Jangan tertawa !" sahut Kyungsoo sambil menarik selimutnya sampai ke pipi. Wajahnya panas sekali sekarang ini. "Kau tidak tahu rasanya. Mereka menyebalkan," gumam Kyungsoo. "Mereka pasti bakal menggodaku habis-habisan."

"Itu sih, urusanmu," ujar Chanyeol-tak bisa menahan seringainya. "Siapa suruh kau selalu bilang kalau aku jelek, aku idiot, aku bau, aku menyebalkan dan sebagainya. Pada akhirnya kau menyukai orang jelek idiot bau dan menyebalkan ini kan ?"

Wajah Kyungsoo makin memanas. Malu sekali rasanya. Ugh, kalau bisa ia ingin tiba-tiba saja menghilang dari hadapan Park Chanyeol dan bersembunyi.

"Kau juga bilang aku jelek," gerutu Kyungsoo setelah sedikit mengatasi kegugupannya.

"Yah, kau memang jelek-kalau sedang marah," Chanyeol menambahkan.

"Lalu, kalau aku jelek saat sedang marah," Kyungsoo mengabaikan jantungnya yang berdentum-dentum dan wajahnya yang merah padam, "kenapa kau masih menyukaiku ?"

Oke, ia benar-benar bersusah payah mengucapkan pertanyaan itu. Rasanya malu, gugup, takut-Kyungsoo bahkan tak berani menatap Chanyeol. Ia hanya menunduk, memainkan ujung selimutnya.

"Kau mau tahu alasannya ?" tanya Chanyeol pelan.

Kyungsoo hanya mengangguk sekali sebagai jawaban.

"Karena aku mencintaimu, Kyung. Kau tahu," Chanyeol memasukkan kedua kakinya ke balik selimut tebal yang juga menutupi tubuh Kyungsoo. "Setiap malam-sebelum tidur-saat aku memejamkan mata, wajahmu selalu muncul."

Kyungsoo menendang kaki Chanyeol pelan, "kau ketularan sifat gombal Kris-hyung."

Chanyeol terkekeh, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Kyungsoo. Ia menumpukan kedua tangannya di bawah kepalanya-menatap Kyungsoo lekat-lekat. "Sejak kapan kau berubah menjadi semanis ini, Kyung ? Kenapa aku menjadi sangat tergila-gila padamu ?"

"Hentikan, Chan. Aku mau tidur."

"Hei, kau tidak mau mengucapkan sesuatu padaku ?"

"Apa ? Ohh-selamat malam, Chan."

"Bukan. Bukan itu."

"Huh ? Mimpi indah ?"

"Bukan. Bukan. Tiga kata."

"Apa ?"

"Oh, ayolah. Kita sudah jadi sepasang kekasih."

"Aku benar-benar tidak mengerti, jerapah."

"Berhenti memanggilku jerapah. Panggil aku sayang."

"Kedengarannya sangat menjijikkan."

"Oh, please, panggil aku sayang sekali saja agar aku bisa tidur nyenyak."

"Chanyeol sayang, selamat malam. Mimpi indah."

"Aku juga mencintaimu, Kyungsoo," Chanyeol mengecup kening Kyungsoo sebentar lalu beranjak meninggalkan kamar itu.

Saat Chanyeol mematikan lampu kamarnya, Kyungsoo berujar pelan, "aku juga mencintaimu, Chan."

Chanyeol hanya tersenyum dan memberi isyarat 'kau harus segera tidur' tanpa suara lalu benar-benar pergi.

.

.

.

Keesokan paginya, Kyungsoo terbangun dengan perasaan berbunga-bunga. Tentu saja, saat ia baru bangun dan mengecek jam di ponselnya, Chanyeol mengajaknya video call. Katanya ia rindu sekali pada Kyungsoo-padahal baru tadi malam mereka bertemu.

Kyungsoo tertawa geli melihat Chanyeol dengan rambut super berantakan dan kaos dalam putihnya dari layar ponselnya. Chanyeol sedang menggombalinya-seperti biasa, mengatakan kalau Kyungsoo sangat manis, bahkan saat baru bangun tidur sekalipun.

".. Mandi sana," ujar Kyungsoo pada Chanyeol yang menguap lebar di kamarnya sendiri. Mereka masih bervideo call karena jam baru menunjukkan pukul lima lewat dua puluh menit. Sekolah mereka dimulai pukul delapan pagi. "Lalu segeralah ke sini."

Chanyeol memasang wajah cemberut sambil mendekatkan kamera depan ponselnya ke wajahnya-sehingga Kyungsoo bisa melihat wajah full-face Chanyeol di layar ponselnya sendiri. Mereka diam beberapa saat, memandangi wajah satu sama lain. Sampai Chanyeol berkata, "Kyung, ayo mandi bersama."

"Dasar gila," dengus Kyungsoo. Ia beranjak dari kasurnya menuju lantai bawah, dengan ponsel yang ia pegang di depan wajahnya. Ia menuju ke dapur. Setelah menyandarkan ponselnya ke rak piring-sehingga Chanyeol masih bisa melihatnya, ia pun membuka kulkas.

"Kyunggg, babyyyyy."

"Hmm ?" Kyungsoo mengeluarkan susu kotak cair rasa full cream dari kulkas dan menuangkannya ke gelas.

"Ayo kita kencan sepulang sekolah," cetus Chanyeol. Matanya menyiratkan semangat, membuat Kyungsoo sedikit menunduk malu.

"Kemana ?" Kyungsoo meneguk susu full-creamnya sebentar, "pokoknya tidak boleh pulang terlalu sore."

"Kau maunya kemana ?"

"Mmmm," Kyungsoo berpikir. Ia mengerjapkan matanya lambat-lambat, membuat Chanyeol gemas sendiri di seberang sana. Ia mengamati Kyungsoo-nya tak sabar. "Naik bianglala !" sahut Kyungsoo dengan senyum lebar di wajahnya.

Chanyeol mengerutkan dahi, "bianglala ?"

"Iya, bianglala," Kyungsoo mengulang perkataannya. "Aku mau naik bianglala. Lalu beli es krim cone. Lalu main gokart dan naik roller-coaster."

"Kyung, kau ini umur berapa sih sebenarnya ?" tanya Chanyeol geli. Kyungsoo benar-benar mempunyai pola pikir dan sikap seperti anak kecil. Sungguh. "Aku benar-benar ingin mencubit pipi bakpaumu itu."

"Bakpau apanya ?!" tukas Kyungsoo tak terima. "Dan jangan samakan aku dengan anak kecil !"

"Iya, iya, mianhae. Aku hanya bercanda, sayang." Chanyeol tersenyum-membiarkan Kyungsoo cemberut.

"Kenapa kau sok-sok lembut begitu ?"

"Kan sudah kubilang wajahmu jelek kalau marah."

"Yak ! Park Chanyeol !"

.

.

.

TBC