In Your Arm Tonight

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

In Your Arm Tonight © Ryuukaze Hikari & Hyorikazu

Genre(s) :

Hurt/Confort

Romance

Rated :

T

Pair :

AkaKuro slight KagaKuro

.

Chapter 7 : Just From a Morning Kiss

Apa ini yang selalu Tetsuya rasakan?

"... h-hiks.."

Apa sesakit ini saat ia mengetahui aku berhubungan dengan Daiki?

"...hiks..."

Jawab aku Tetsuya.. JAWAB AKU!

Di sebuah kamar yang luas dan tanpa penerangan. Dimana biasanya ada seseorang yang berujar 'oyasumi Seijuurou-kun' dan kemudian tertidur di sisinya... kini tidak ada.

.

.

Tetsuya terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara teriakan dari Seijuurou yang terasa menyakitkan hati. Di tarik selimut yang hanya menutupi setengah badannya menjadi sampai pundaknya. Jemari Tetsuya meremas selimut dan menggulung badannya. Ada rasa takut, sedih, dan bersalah hinggap di hati pemuda itu.

Kagami membuka matanya ketika mendengar suara isakan. Mata crimsonnya melihat Tetsuya terisak. Ini adalah hal yang paling di bencinya. Tidak cukupkah Tetsuya menangis karena di buang oleh Daiki waktu itu? Sekarang manik Aquamarine itu kembali meneteskan airmatanya untuk pemuda seperti Akashi? Air mata Tetsuya itu sangat berharga. Bahkan di dalam hati Kagami dia berjanji tidak akan membuat Tetsuya menangis lagi.

"Kuroko.." panggil Kagami

"Hiks.. Na.. Nanika?"

"Kumohon.. Jangan menangis lagi. Air mata milikmu itu berharga. Jangan lagi kau menangisi oranglain yang tidak bisa membalas apa yang telah kau lakukan padanya." Kata Kagami sambil mengelus kepala dan punggung Tetsuya agar sang Babyblue itu dapat menenangkan dirinya

"Ka-Kagami-kun.. hiks.."

"Ssstt~ Aku ada disini Kuroko. Menangislah. Tumpahkan semua yang kau tahan."

Setelah itu, Tetsuya menangis sekeras-kerasnya di pelukan hangat Kagami. Semua emosi yang tertahan perlahan terlepaskan bersama dengan beban yang dia tanggung selama 3 bulan terakhir. Sedangkan Kagami hanya bisa mengelus surai babyblue dan memeluknya semakin erat.

Beberapa puluh menit kemudian, Tetsuya berangsur tenang. Ia masih sesenggukan, akibat dari menangis terlalu keras. Setidaknya, perasaan yang sesak nan mengganjal berangsur sirna. Seakan terbawa keluar bersama tetes airmata. Merasakan Tetsuya yang mulai tenang, Kagami mengendurkan pelukan. Meraih dagu Tetsuya dan mengusap jejak air mata yang membekas di pipi porselen itu dengan ibu jarinya.

"Sudah lega, Kuroko?" senyum si iris darah sambil mengusap helaian babyblue dengan lembut. Yang ditanya hanya mengangguk pelan.

"Baiklah, ayo tidur lagi. Kau besok harus kerja kan?"

"Hai.."

.

.

.

Angin berhembus cukup kencang, awan gelap sedikit demi sedikit menginvasi langit. Matahari yang seharusnya menampakkan senyum cerahnya di pagi hari, kini tenggelam dalam lautan kelabu. Gemuruh petir juga terdengar bersahutan, membuktikan eksistensinya dalam pekatnya awan.

"Kuroko, kau jadi berangkat mengajar?" Kagami mengkonfirmasi lagi pada Tetsuya yang sedang merapikan rambut, hendak berangkat bekerja. Untunglah, satu seragam kerjanya tertinggal saat itu, jadi dia tidak perlu pulang untuk mengambil, juga tidak perlu bertemu 'orang itu' pastinya.

"Hai. Aku harus mengajar Kagami-kun. Anak-anak menungguku," tutur Tetsuya lembut. Mempertegas alasan kenapa ia rela berangkat kerja disaat cuaca tak baik.

Lawannya menghela nafas maklum. "Baik baik, kau menang," tepukan pelan mendarat di lautan biru itu. Membuat si pemilik sedikit cemberut karena rambutnya yang susah payah ditata harus ditata kembali. Yah, setidaknya ia harus bersyukur diperbolehkan berangkat kerja di tengah cuaca seperti ini.

"Aku berangkat," Tetsuya berjalan mendekati pintu dan membukanya. Tapi sebelum sempat menutupnya lagi, ia merasakan sebuah benda basah menghampiri bibirnya.

"Selamat bekerja... Tetsuya."

Satu ciuman selamat kerja, ia dapatkan tanpa harus meminta.

Wajah stoic Tetsuya memerah sempurna berkat ciuman dari Kagami. Sang pemilik mata crimson tersenyum puas sedangkan Tetsuya hanya memberikan 'pout' imutnya yang membuat Kagami memerah. Impas. Di perjalanan, Tetsuya memegang bibirnya terus menerus. Masih terasa ciuman yang dia rindukan di bibir cherrynya.

"Akashi-kun.. tidak melakukan hal ini." gumamnya tiba-tiba

Tetsuya menggelengkan kepalanya keras. Tak habis pikir dirinya masih memikirkan Seijuurou yang sudah menyakitinya berulang kali. Namun, bagaimanapun juga Seijuurou tetaplah suaminya. Tapi kenapa.. dia melakukan semua itu.

"Apakah dari awal.. pernikahan kami ini salah?"

Kemungkinan saja bisa begitu. Mereka berdua tak saling mencintai dan sama-sama memiliki kekasih. Karena permintaan kedua orang tua mereka menikah. Bukan karena alasan cinta, namun karena paksaan sehingga semuanya menjadi kacau.

Kakinya tidak melangkah ke TK dimana seharusnya dia bekerja. Tetsuya baru menyadari kalau dia sedang berada di lapangan basket tidak jauh dari TK. Di lapangan basket ini dimana dulu semua anggota Kiseki no Sedai berlatih selain di GYM dan dimana Kagami-kun sering berlatih di hari libur.

Semua kenangan masa lalu ketika dirinya masih SMP kembali memenuhi hati dan pikirannya. Matanya mampu menampilkan dimana semua anggota Kisedai bermain basket dengan senyuman dan saling mempercayai sesama anggota team.

Tak lama berganti dengan dirinya melihat Kagami bermain basket dengan seluruh kemampuan dan menikmati setiap gerakan yang dia lakukan. Senyuman yang ingin dia kembalikan kepada anggota Kisedai.

Tetapi bukankah kalau begitu.. dia dulu memanfaatkan Kagami?

Rintik air satu per satu jatuh mengenai rambut, tangan, wajah, lalu seragam Tetsuya. Hujan tiba dan ia sama sekali tidak berpikir untuk membawa payung atau jaket. Tapi ia juga tidak ada niatan untuk beranjak dari tempat ini.

Tetsuya memejamkan mata dan menengadahkan kepala. Merasakan tetes air menyerang permukaan kulit wajah. Tidak peduli tubuh akan basah kuyup, ia tetap berdiri.

Sebenarnya... Apa yang aku nanti?

Tangannya terkepal erat. Membuat buku-buku jarinya memucat.

Kenapa hujan tiba-tiba berhenti? Aku belum merapal-

"Tidak perlu Tetsuya," kelopak mata Tetsuya terbuka lebar. Sontak ia membalikkan tubuh untuk memastikan suara siapa yang masuk ke indera pendengarnya.

"Tidak perlu merapal pada hujan untuk melihat Kiseki no Sedai tersenyum."

Tatapan dingin itu...

"Akashi.. kun.."

Pemuda berambut merah itu tersenyum.

Ya. Untuk pertama kalinya dalam pertemuan mereka, Seijuurou tersenyum pada Tetsuya.

Ia menengadah, menatap langit yang masih menitikkan airnya ke bumi. "Biasanya aku tidak membolehkanmu keluar saat hujan kan?"

Tetsuya hanya mengangguk pelan. Paham kalau sebenarnya sang suami selalu memperhatikan kesehatannya.

"Nah.. Tahu kan apa yang harus kau lakukan?"

Tetsuya mengangguk lagi.

Suaminya, tetaplah suaminya.

"Cepat ganti pakaianmu dan berangkat ke TK. Anak-anak kecil itu sudah menunggumu dari tadi."

Eh?

Apa.. aku tidak salah dengar?

Apa benar ini Akashi-kun? Dia yang mengatakan hal tadi?

"Kenapa denganmu Tetsuya?"

Ini pasti bohong..

"Apa.. aku mengatakan hal yang salah?"

Uso.. jyanai.. ka..

"Tetsuya?"

"Apa.. yang Akashi-kun lakukan di sini?" tanya Tetsuya yang baru saja tersadar dari ketidak perayaannya

"Aku hanya ingin menyegarkan diri."

"Di bawah guyuran hujan?"

"Ah begitulah."

"Gomen aku harus segera ke TK. Mereka semua pasti menungguku."

Sebelum Tetsuya beranjak, Seijuurou memeluk Tetsuya dari belakang sangat erat. Rasa menyesal yang dia tahan kini berhasil di salurkan. Bahkan Seijuurou meneteskan air matanya.

"Gomen.. Tetsuya.. Gomen.." kata Seijuurou

Tetsuya merasakan semua sakit yang di rasakan oleh suaminya itu. Perlahan air matanya ikut meleleh namun sama sekali dia tidak berbicara. Rasa sakitnya jauh lebih besar dan dalam.

"Gomen Akashi-kun.. Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus segera pergi ke TK." kata Tetsuya lalu melepaskan pelukan suaminya itu dan segera bergegas ke TK dengan keadaan basah kuyup dan meninggalkan Seijuurou sendirian di taman itu.

Namun, Tetsuya memutuskan untuk kembali ke rumah Kagami. Moodnya benar-benar menurun drastis untuk mengajar lagipula bajunya juga basah kan? Kaki kecilnya berlari sekencang-kencangnya menahan dingin yang menusuk kulit. Entah kenapa dirinya yakin, begitu sampai di sana ada Kagami yang akan memberikan kehangatan pelukan untuknya.

.

Seijuurou terdiam di tempat. Guyuran hujan yang rintik semakin lama semakin deras saja. "Perhatianku masih kurang ya..." gumamnya sambil menertawakan kebodohannya sendiri. Sadar kalau perbuatannya kemarin melampaui batas.

Dengan tubuh basah kuyup, ia akhirnya berjalan masuk ke mobil yang tidak diparkir jauh dari tempat itu.

.

"Kuroko kenapa kau bisa basah begini?!" kaget Kagami. Saat ia membuka pintu rumah sudah mendapati Tetsuya memeluk diri sambil menggigil di depan pintu. Dengan jantan ia membantu pemuda itu berjalan ke kamar. Mengambilkan handuk juga baju ganti, melepas baju basahnya, dan terakhir mengeringkan helaian secerah langit itu.

"Sudah kubilang kan, tidak perlu memaksakan diri untuk berangkat. Begini deh jadinya.." gumam si merah sambil tetap menggosok-gosokkan handuk ke kepala Tetsuya. Yang di ceramahi hanya menunduk, memainkan bantal di dekapannya.

Kagami menghela nafas. Pasti sudah terjadi sesuatu dengan pemuda ini, pikirnya. Ia selesai mengeringkan rambut Tetsuya dan menaruh handuk basah itu di kamar mandi.

"Doushita Kuroko?" pemuda jangkung itu duduk di ranjang, tepatnya di sebelah pemuda yang lebih kecil. Menatap kepala yang tertunduk itu.

Tetsuya hanya menggeleng pelan.

"Jangan bohong Kuroko. Berangkat tadi kau tidak seperti ini," ketus Kagami sambil menajamkan pandangannya. Menunggu jawaban dari Tetsuya meski sebenarnya ia tahu benar apa penyebabnya.

Hanya ada satu alasan yang bisa membuat Tetsuya kembali murung seperti ini.

"Kau bertemu dengan Akashi." Tebak Kagami

Tetsuya yang menunduk kini mendongakkan kepalanya menatap iris crimson itu tidak percaya. Dia bertanya kenapa Kagami-kun bisa mengetahui kalau aku bertemu dengan Akashi-kun?

Tapi.. memang benar.

"Hai." Jawab Tetsuya singkat.

"..ttaku. Kenapa kau bisa bertemu dengannya?"

"Aku.. Bertemu dengannya di lapangan basket dulu Kagami-kun berlatih basket sendirian."

"Eh? Kau tidak langsung ke TK tadi?"

"Hai. Sumimasen."

"Daijyoubu. Sekarang mandilah lagi. Akan aku buatkanmu coklat hangat dan bubur, oke?"

"Hai."

.

Seijuurou tidak berniat sama sekali untuk melajukan mobilnya kembali ke rumahnya. Dirinya berdiam didalam mobil dengan penghangat yang di nyalakan sejak dari tadi. Sebagian bajunya telah kering dan dirinya telah mendapatkan beberapa kali kehangatan. Namun, semua itu tidak dapat menenangkan hati Seijuurou.

Dia teramat sangat yakin bila Tetsuya sama sekali tidak bisa memaafkannya dalam waktu dekat. Tetapi, Seijuurou membayangkan bahwa sekarang Tetsuya sedang mengeringkan rambutnya dengan lembut lalu memeluknya dengan erat. Air mata yang sudah lama mengering kini kembali menetes.

"Apa.. Tetsuya merasa sesakit ini bila bertemu denganku?"

Seijuurou bertanya entah pada siapa. Dia hanya ingin memperbaiki semua kesalahan yang dia perbuat pada orang yang berharga baginya. Namun, ini jauh lebih sulit dari yang di bayangkan. Tidak semua berjalan sesuai dengan rencannya.

Otak jenius Seijuurou serasa membeku. Ia bisa menaklukkan banyak klien, inventaris, bahkan CEO perusahaan lain dengan wibawa dan kejeniusan otaknya. Tapi, hei, kenapa kali ini ia merasa bodoh- ralat, sangat bodoh. Bahkan tolol. Seijuurou tak perlu transplantasi otak untuk kembali mendekap Tetsuya 'kan?

Pemuda itu meraih IPad hitam-nya yang ada di bangku sebelah. Mengecek informasi apa yang masuk ke perusahaannya. Kurs hari ini, index saham hari ini. Menghela nafas, sepertinya tidak ada yang lebih penting daripada 'istrinya' sekarang.

Seijuurou memutuskan koneksi internetnya. Menutup layar browser dan beralih pada folder penyimpanan berkas.

Ia membuka folder bertuliskan 'penting'. Lalu membuka folder 'dokumen', lalu 'arsip', kemudian folder 'rahasia' dan terakhir tinggal satu folder yang tersisa.

'Our marriage'

Ternyata, folder itu berisi sekitar 114 foto. Dan kesemuanya hanya di dominasi warna baby blue dan merah. Lalu di beberapa foto ada warna pastel. Saat dimana Seijuurou dan Tetsuya mengikat janji suci mereka di sebuah gereja.

Dia mengingat setiap detil dari kejadian itu. Kejadian yang tidak akan pernah terlupakan olehnya dan.. mungkin Tetsuya. Tetapi sayang, semua janji itu sama sekali tidak atas namakan cinta. Hanya karena kepalsuan semata dan sama sekali tidak dari hati dan kesungguhan dari mereka.

Ingin rasanya Seijuurou kembali mengajak Tetsuya pergi ke altar itu sekali lagi dan mengucapkan janji suci itu dari hati bukan karena paksaan atau sebagainya. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Air matanya terus menetes tanpa henti dari iris merah dan emasnya itu.

"Inikah.. rasanya bila berbuat kesalahan?"

Akashi bertanya entah pada siapa. Dirinya tidak mengira akan sesakit ini rasa bersalah. Motto yang selalu di pegang teguh olehnya kini mulai runtuh dan perlu di tanyakan kembali.

"Tetsuya.. Kumohon.. Kembalilah padaku.."

~ To be Continue ~