Kim Taehyung, sang pangeran tampan baru saja kembali dari club dance nya. Ia membenarkan letak tasnya dan berjalan menuju loker untuk mengambil baju gantinya mengingat tubuhnya yang kini penuh dengan keringat.

PLUK!

Tiba-tiba sebuah benda asing mengenai kepalanya.

"Aw-. Apa ini?" Taehyung mengambil benda tersebut dan didapatnya sebuah liontin kecil berwarna biru. Pemuda pemilik senyum kotak itu mendongakkan pandangannya mencari-cari siapa yang telah menjatuhkan liontin tersebut.

Tunggu.

Taehyung merasa ia melihat seseorang dengan pergerakan mencurigakan, namun ia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sebenarnya seseorang itu telah lakukan. Seseorang tersebut tampak seperti sebuah siluet dan ia seperti sedang memegang sebuah benda yang cukup besar.

Taehyung kembali melangkah dengan tetap mendongakkan kepalanya, masih mengamati pergerakan seseorang itu. Hingga sebuah atensi seseorang harus merebut pandangan Taehyung dari seseorang dilantai dua. Dilihatnya Jungkook berjalan dengan setumpukan buku ditangannya. Taehyung sedikit tersenyum kecil dan berniat untuk memanggil Jungkook ketika sebuah pergerakan pada lantai dua kembali mengalihkan perhatiannya.

Wait! Apa yang akan orang itu lakukan?

Taehyung membelalakkan matanya begitu menyadari niat seseorang tersebut.

Sial!

Ia berlari.

PRANG!

.

.

Jungkook menatap tidak percaya dengan seseorang yang mendekapnya.

"Kau.

Min Yoongi sunbae."

Jungkook segera bangun –hanya duduk- dan kemudian membantu Yoongi.

"Kau lama sekali untuk sadar bahwa kau berada diatasku Jungkook-sshi, dapat kurasakan tulangku remuk saat ini."

Jungkook hanya menunduk malu. Salahkan saja otaknya yang begitu berjalan dengan lambat dalam mengidentifikasi kejadian yang begitu cepat ini.

"Jeosonghamnida sunbaenim. Ah- apakah kau baik saja?" Jungkook segera mengalihkan atensinya dan memeriksa kondisi sang sunbaenim.

Sebuah luka dengan darah mengalir di lengan Yoongi serta memar yang cukup terlihat di kedua lengannya.

"Sunbae! Tanganmu berdarah. Kita harus segera ke rumah sakit." Jungkook mencoba untuk menarik tangan pemuda dihadapannya sebelum ia mendapat jawaban sebuah gelengan kepala.

Yoongi mendengus sebal, anak kecil yang dikenalnya di Daegu ini masih saja cerewet.

"Jungkook, yang pertama, jangan panggil aku sunbae. Kita sudah saling mengenal. Yang kedua, kenapa kau begitu ceroboh dan tidak memperhatikan sekelilingmu. Bila aku terlambat satu detik saja, pot bunga itu sudah bersarang di kepalamu dan kau akan terluka. Yang ketiga, aku baik-baik saja tidak perlu berlelebihan."

Yoongi berdiri dari duduknya sambil mengibas-ngibaskan debu dari pakaiannya.

Jungkook memunguti buku-bukunya dan segera berdiri mengikuti pergerakan.

Yoongi menyentuh bahu Jungkook. "Aku pergi dulu."

"Ah sunbae, terimakasih." Jungkook berujar berulangkali diiringi dengan bungkukan 90 derajat.

Yoongi terkekeh geli. "Sama-sama. Ah, satu lagi, Kook, kurasa kau harus benar-benar berhati-hati. Menurutku ini adalah kejadian yang direncanakan dan-

ada seseorang yang berniat untuk mencelakaimu."

Ya.

Jungkook sudah menyadarinya, namun ia tidak menyangka bahwa yeoja itu akan bergerak secepat ini.

"Nde hyung, aku akan lebih berhati-hati. Hyung, lebih baik kita mengobati lukamu terlebih dahulu. Darah itu terus mengalir." Sejak tadi pandangan Jungkook tidak berhenti menatap pada bagian luka Min Yoongi, ia merasa bertanggung jawab atas luka yang terjadi pada tubuh pemuda Daegu itu.

"Ck, aku bisa mengobatinya sendiri. Tenang saja."

"Ta- tapi hyung." ia masih khawatir.

"Kau begitu berisik, aku pergi dulu ne Jungkookie. Ah, satu lagi, kau harus berterimakasih kepada Taehyung. Tadi sebenarnya aku sedang mencarinya, tapi kulihat ia sedang mengamatimu dari belakang hingga aku sadar bahwa pot itu tiba-tiba terjatuh. Mungkin bila aku tidak disini, dia yang akan menyelematkanmu. Walaupun sebenarnya ia kalah cepat dariku haha." Yoongi tertawa, ia bisa melihat ekspresi Jungkook menjadi tidak tenang ketika kata-kata Taehyung terucap dari bibirnya. Ia terlihat gugup dan malu disaat bersamaan, oh man, menggemaskan.

"Berhati-hatilah Jungkookie, kalau bisa jangan pergi seorang diri. Minta sahabat bantetmu atau Taehyung menemanimu." Yoongi mengusap rambut Jungkook pelan dan pergi meninggalkanya.

"Terimakasih Yoongi hyung." Ia kembali membungkuk 90 derajat meskipun kini pemuda mermarga Min itu tidak bisa melihatnya.

.

.

Taehyung berlari namun ia segera menghentikan langkahnya ketika ada orang lain yang jauh lebih cepat telah menyelamatkan Jungkook.

Ia mendesah lega.

Ia tahu ia pasti terlambat dan ia hanya benar-benar bersyukur bahwa sahabatnya dari Daegu itu berada disana. Membuat Jungkook selamat dari bahaya yang dapat berdampak besar.

Bahaya.

Sial, orang itu!

Taehyung segera mengalihkan tatapannya dan mencari-cari keberadaan orang tersebut.

Nihil.

Tanpa pikir panjang lagi ia segera lari dengan membabi buta. Menaiki tangga menuju lantai dua untuk mengejar orang yang berniat melukai Jungkook tersebut.

Ia berlari mengelilingi sekeliling koridor dilantai dua, namun ia tidak menemukan sosok yang mencurigakan, ia hanya melihat segelintir orang yang berlalu lalang.

Lantai dua memang hanya berupa sebuah aula besar, sehingga jarang terdapat ditemukan seorang murid ataupun guru yang berada disini apabila tidak terdapat kegiatan yang mengharuskan mereka berada disini, mungkin hanya terdapat lima atau empat orang saja dalam satu hari. Hal itu sedikit menguntungkan Taehyung, setidaknya membuat ia dapat melacak keberadaan orang tersebut. Meskipun hal itu menguntungkan tetapi luas area dari lantai dua tidak bisa dianggap remeh, koridor-koridor dan tempat-tempat yang begitu mudah dijadikan tempat untuk bersembunyi sedikit menyulitkannya.

Taehyung menghentikan langkahnya setelah mengelilingi tempat ini. Ia yakin orang tersebut masih berada di lantai yang sama dengannya.

"KELUAR KAU KEPARAT!" bentaknya menggebu-gebu.

Sret!

Sekelebat bayangan nampak di ujung mata Taehyung.

Seorang pemuda. Menurut Taehyung.

Dan ia berlari sangat kencang.

Shit!

Taehyung kembali melangkahkan kakinya, berlari mengejar pemuda tersebut. Jaraknya dengan Taehyung kini tidak terlalu jauh, mungkin ia sudah mulai kelelahan. Berbeda dengan Taehyung yang semakin berapi-api untuk menangkapnya. Pemuda mengenakan topi hitam hingga menutup rambut, pakaian hitam yang panjang, celana hitam serta sepatu hitam. Ah, black man. Begitu sebutan yang Taehyung buat untuk pemuda yang masih berlari dihadapannya. Hingga-

BRUG!

Sial! Ia jatuh dengan tidak elitnya. Membuat jarak dengan orang tersebut semakin jauh.

Sungguh, kurang ajar! Padahal ia begitu yakin ia dapat menangkap sang pelaku.

Taehyung berdiri. Menghiraukan rasa sakit di bagian kakinya. Ia kembali berlari.

Dilihatnya pemuda tersebut sudah berbelok menuju tangga yang mengarah ke lantai satu. Sial! Ia tertinggal terlalu jauh.

Taehyung bergegas menuruni tangga dan-

dilihatnya begitu banyak orang yang berlalu lalang di koridor lantai satu.

Sial! Ia kehilangan jejak blackman tersebut. Taehyung kembali memperhatikan sekelilingnya, tidak ada pemuda dengan pakaian serba hitam yang tadi Taehyung lihat telah turun menuju lantai satu.

"ARRGHH! BRENGSEK!" bentaknya frustasi.

Pandangan setiap mata kini tertuju padanya, ada yang bergidik takut sekaligus ngeri, ada yang keheranan, dan ada yang menatapnya iba. Kenapa pangeran kampus tiba-tiba berteriak dengan keras? Padahal yang mereka tau pangeran tersebut begitu berwibawa.

Taehyung seakan tidak peduli dengan segala pandangan tersebut. Ia menyerang seseorang yang tidak bersalah dengan serampangan. Dicengkramnya kerah salah satu namja yang berada di sebelahnya dan menghempaskannya kedinding.

"KAU! APAKAH KAU MELIHAT ADA SESEORANG YANG TURUN DARI TANGGA DENGAN PAKAIAN SERBA HITAM?!" bentaknya marah.

"Ti.. tidak sun-sunbae." Jawabnya kepayahan.

Taehyung semakin mencengkram kerah namja tersebut.

"JANGAN BODOH! JELAS-JELAS AKU MELIHATNYA TURUN BEBERAPA MENIT YANG LALU!"

"A.. aku tidak bohong sunbae." Jawabnya melemas.

Taehyung melepaskan cengkramannya.

Ia masih menatap pemuda dihadapannya dengan tajam, membuat sang hoobae hanya menunduk ketakutan.

"Pergi kau dari sini. Dasar tidak berguna!"

Tanpa pikir panjang hoobae itu segera berlari terbirit-birit meninggalkan Taehyung yang begitu menyeramkan dalam mode marahnya.

Taehyung kembali mengedarkan pandangannya, berniat untuk menyelidik sekali lagi. Semua tatapan yang tadi tertuju padanya telah mengalihkan pandangan ketempat lain. Terlalu takut untuk bersitatap dengan sang pangeran kampus yang sedang kesetanan.

Sebuah suara tiba-tiba mengalihkan Taehyung dari sesi menyelidiknya. "Aku melihat siapa saja yang turun dari sini sebelum dirimu."

Taehyung mengalihkan pandangannya menuju seseorang yang baru saja berbicara tersebut.

"Kim Mingyu! Benarkah kau mengetahuinya?" tanya Taehyung tertarik dan mendekati namja yang sedang duduk diseberangnya.

"Ya, aku sudah duduk ditempat ini sejak tiga puluh menit yang lalu dan sebelum dirimu ada empat orang yang turun dalam waktu berdekatan." Ujarnya yakin.

"Empat orang?!"

"Ya, tiga namja dan satu yeoja. Mereka turun hampir dalam waktu bersamaan, mungkin hanya selang beberapa detik sebelum akhirnya kau turun dengan membabi buta dan menyerang seseorang tidak bersalah."

Taehyung menghembuskan nafasnya kasar.

"Aku memiliki alasan mengapa aku begitu marah."

.

.

.

Jungkook menelungkupkan kepalanya pada lipatan tangannya. Kelas terakhir ini sangat membatnya tidak bersemangat. Padahal kelas menyanyi adalah salah satu kelas favoritnya. Tapi itu sebelum kejadian yang hampir membahayakan nyawanya terjadi.

Mengenai kejadian tersebut masih membuat Jungkook khawatir. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa rencana sang ibu tiri berjalan dengan cepat. Ia tidak boleh lengah dan harus berhati-hati mulai saat ini.

Tidak ada seseorang yang mengetahui perihal kejadian tersebut, tentu saja selain Min Yoongi yang telah menyelamatkannya, dan mungkin juga Kim Taehyung. Entah, ia tidak tahu mengenai pemuda tersebut dan ia tidak berniat untuk mencari tahu.

KRRINGG!

"Baiklah, pelajaran selesai." Ucapan sang songsaenim menyadarkan Jungkook dari lamunannya. Sang songsaenim itu pun keluar dari ruang kelasnya.

Eoh, sudah saatnya pulang. Tapi rasanya ia begitu malas kembali ke rumah.

"Jungkook."

Im Nayeon. Yeoja itu memanggil Jungkook dan mendekat kearahnya.

Jungkook menatapnya malas. "Ada apa?"

Yeoja itu meletakkan sebuah map dihadapan Jungkook. "Tadi Jeongyeon menitipkan ini padaku dan itu untukmu."

Jeongyeon? Bukankah itu salah satu fans Kim Taehyung yang mengerjainya waktu itu. Jungkook menatapnya heran. Ia membuka map tersebut.

Sebuah surat perintah resmi dari kampusnya.

Aneh.

Surat perintah resmi lengkap dengan kop dan nomor surat serta stempel yang membuatnya semakin formal. Surat perintah tersebut berisi perintah untuk menjadi asisten dosen olahraga, Choi Siwon songsaenim. Guru killer yang telah menghukumnya tempo hari yang lalu, yang membuat Jungkook kembali masuk rumah sakit untuk yang kedua kalinya. Lengkap dengan prosedur serta tugas-tugas dari asisten dosen olahraga.

Surat perintah ini terkesan aneh, tapi Jungkook tidak menemukan kejanggalan apapun dari lembar yang ia pegang saat ini. Segalanya tampak resmi dan benar-benar rapi.

Namun apa alasan Choi songsaenim untuk menjadikannya seorang asisten setelah kejadian beberapa hari yang lalu terjadi. Walau memang sebenarnya Jungkook cukup menonjol dalam kelas olahraga.

"Nayeon-sshi." Panggil Jungkook. "Bagaimana bisa Jeongyeon mendapatkan surat ini?"

"Ehm, entahlah. Tapi, setauku ia sedang menjalani hukuman dari Choi songsaenim untuk membantunya mengatur berkas-berkas. Jadi, sejak pagi tadi Jeongyeon sudah sibuk mengantar berkas kesana kemari, yang kau pegang adalah berkas ketiganya yang diberikan padaku di hari ini, dan baru bisa kuberikan padamu saat ini karena aku tidak menemukanmu sejak tadi."

"A-Ah, baiklah terimakasih."

Jadi begitu, sepertinya ketidakaslian surat itu hanya sekedar firasat. Jungkook menjadi merasa bersalah karena ia telah berpikiran yang tidak-tidak mengenai Jeongyeon. Kini setidaknya ia sedikit yakin bahwa surat yang dipegangnya memang surat perintah asli.

"Jungkook-ie."

Panggilan dari Jimin membuat Jungkook mengalihkan pandangannya. Sang hyung sudah berdiri disampingnya.

"Bagaimana kondisimu?" tanyanya langsung.

Jungkook memutar matanya malas. "Hyung, sungguh ini adalah keempat kalinya kau bertanya hal itu kepadaku."

Jimin menyentil kepala Jungkook. "Itu karena aku khawatir bodoh!"

"Aku sudah baik-baik saja."

"Baiklah, ayo pulang. Aku akan mengantarmu."

"Ah, mulai hari ini aku ada tugas tambahan hyung. Kau bisa pulang lebih dulu."

Jimin mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Jungkook. "Hah?"

"Ya, ada sesuatu yang harus aku lakukan."

"Apa?"

Sebelum Jungkook sempat menjawab pertanyaan dari Jimin tiba-tiba ponsel yang ada di dalam saku Jimin membuatnya berhenti berbicara.

"Ah, tunggu Jungkookie."

Jimin mengangkat panggilan di ponselnya bersamaan dengan Jungkook yang membereskan barang-barangnya.

"Jungkookie, apakah kau masih lama untuk menyelesaikan tugas tambahan itu?"

"Waeyo hyung?" Jungkook balik bertanya kepada Jimin.

"Ah begini, sepupuku hari ini berkunjung ke Seoul dan aku berencana menemaninya seharian ini."

"Sepupu? Apakah Park Jihoon?"

"Ya, si manja Jihoon."

"Waaah, aku jadi ingin segera bertemu dengannya." Jungkook berbicara antusias.

Dan Jimin hanya menghela napasnya. "Kalian begitu mirip, sama-sama manja, merepotkan dan begitu berambisi."

"Hyung lebih baik kau pulang terlebih dahulu, jangan buat Jihoon terlalu lama menunggumu. Aku akan segera pulang setelah menyelesaikan tugas tambahan ini."

"Kau akan pulang dengan siapa?" Jimin bertanya khawatir.

"Ck, kenapa kau begitu khawatir, aku kan sudah terlalu sering pulang seorang diri. Sudah sana hyung, cepat pergi! Jihoon pasti sudah menggerutui dirimu." ujar Jungkook sambil terkekeh.

Jimin mengusak rambut Jungkook dengan sayang. "Berhati-hatilah. Aku menyayangimu dan jangan sampai kembali terluka."

Hangat.

Sesungguhnya untuk saat ini Jiminlah yang selalu memberikan kehangatan dan kasih sayang untuknya. Hinga terkadang ia merasa bersalah karena terlalu sering membuatnya khawatir.

Jungkook menganggukkan kepalanya dan Jimin berlalu meninggalkannya.

Untuk menghemat waktu Jungkook segera berlalu dan bergegas menuju gudang olahraga untuk menyelesaikan tugas pertamanya.

Membersihkan gudang olahraga.

.

.

.

Huh, melelahkan. Taehyung baru saja selesai menginterogasi ketiga namja yang telah diberitahu oleh Mingyu tadi. Namun bukannya mendapat jawaban, hal ini malah menjadi semakin rumit. Ketiga namja itu memang tidak memiliki alibi namun ia juga tidak mempunyai bukti bahwa mereka pelakunya, selain sebuah liontin biru yang berada di sakunya. Disisi lain, mereka menjawab segala pertanyaan Taehyung dengan begitu santai dan seperti tidak dibuat dibuat. Entah karena mereka bukanlah pelakunya atau karena mereka yang terlalu pandai berakting.

Sungguh melelahkan, ia harus menahan amarahnya dan berusaha untuk tidak memukuli mereka satu persatu. Beruntung Mingyu berada di sampingnya hingga ia tidak sampai lepas kendali.

Taehyung sangat yakin bahwa liontin itu memang milik si pelaku.

Tapi-

-siapakah pemilik liontin biru itu?

.

.

.

"A-Aku tidak.. bisa membunuhnya nyonya." Ujarnya dengan tergagap kepada seseorang di seberang line telepon.

"Bodoh! Aku tidak peduli! Habisi Jungkook bagaimanapun caranya. Jangan sampai gagal seperti tadi. Bila malam ini Jungkook tidak tamat maka ucapkan selamat tinggal kepada keluargamu."

"Jangan nyonya! Baik, akan saya usahakan untuk membunuh Jungkook hari ini juga."

Dan sambungan itu terputus, menyisakan seseorang yang nampak gundah sekaligus resah.

"Maaf Jungkook, Tuhan ampuni aku."

TBC

Author's Note

Terimakasih untuk semuanya yang sudah menyempatkan membaca ff ini. Ya, saya tau ff ini masih memiliki begitu banyak kekurangan dari berbagai sisi, feel free to let me know.

Terimakasih juga untuk yang sudah mereview :)

.

.

Vkook adalah salah satu ship yang membuat saya begitu jatuh cinta. Itulah mengapa saya memutuskan untuk publish book ini. Saya ingin menumpahkan kecintaan saya sama Vkook dan ngasih tau ke semua orang kalau Vkook shipper itu masih ada dan akan terus berkarya. Itulah mengapa saya minta maaf sebesar-besarnya kalau book ini udah telat satu minggu. Padahal saya udah berencana untuk konsisten update setiap satu minggu sekali, tapi mohon maaf sekali lagi ternyata saya belum bisa memenuhi tugas tersebut. Mungkin untuk saat ini book ini akan terbit setiap dua minggu sekali, paling maksimal, InsyaAllah. Tapi saya akan tetap berusaha untuk update satu minggu sekali.

Ya saya tau ini terlalu alay, karena mungkin tidak akan ada yang begitu peduli dengan book ini. Saya tidak masalah dengan itu :), tapi masalahnya disini adalah janji yang sudah saya buat untuk selalu konsisten. Ternyata menjadi konsisten itu tidak mudah. Saya acungi jempol kepada banyak penulis maupun creator diluaran sana yang tetap konsisten ditengah kesibukan yang mereka lakukan.

Anyway, terimakasih sekali bila ada yang menyempatkan membaca author's note ini. Dan beribu terimakasih untuk yang menyempatkan waktu membaca book ini.

Daaaaannn, karena pekan uts di kampus saya sudah tiba, mungkin untuk update part selanjutnya akan molor. Tapi saya akan berusaha yang terbaik.

Sekali lagi terimakasih semua dan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Saranghae Vkook Shipper.

Saranghae readers~deul.