.
FAIRY TAIL FANFICTION
"My Lovely, Fernandes"
By: Uchiha-Cla/Karura-Clarera
Disclaimer: Mashima Hiro-sama
Warnings: OOC, Abal, Tidak Menarik, Hasil seorang amatir.
Aloha! Karu kembali dengan 2 chapter sekaligus! Btw, terima kasih untuk reader dan reviewer setia sampai chapter 6 ini. Bagaimanapun itu sungguh berarti bagiku.
Nah nah, sekarang kita singkirkan dulu kekepoan tentang Fase Eight lah, Kutukan Gelap lah, ayo sekarang kita merapat dengan Fairy Tail! Tenang saja, urusan Kutukan Gelap akan ada di chap berikut kok. Hoho, entah reader akan suka atau tidak. Pokoknya Enjoy! ;)) dan kumohon jangan pelit-pelit untuk review. Jadi Karu tahu kekurangan dan kesan dari reader mengenai fict-ku ini. Thanks and HAPPY READING!
"Kita lihat saja, siapa yang sebenarnya 'pengganggu' di sini."
- Jellal Fernandes in My Lovely Fernandes
CHAPTER 6:
'Perkemahan Ala Fairy Tail! Erza Adalah Asisten Jellal!'
Bulan November, bulan kebahagiaan bagi para murid di SMA.
Mengapa?
Pertama, ini adalah bulan bebas mereka di sekolah seiring berakhirnya Ujian Akhir Sekolah mereka.
Kedua, ini adalah bulan dengan tema 'Aktif dalam organisasi'. Jadi setiap organisasi akan mengadakan event besar-besaran mereka. Tapi untuk tahun ini, osis tidak mengadakan event terlebih dahulu karena Wakil Ketua Osisnya sedang tidak aktif. *jadi siapa sebenarnya wakil ketua osis itu?*
Tetapi tentu saja kedua hal itu tidak membahagiakan sama sekali bagi Erza. Ia sudah menyiapkan acara besar-besaran untuk kegiatannya dengan anggota osis lainnya, sayangnya Makarov tidak menyetujuji karena ketidakaktifan sang wakil.
"Sial!mengapa wakil-ku rasanya lebih penting daripada aku sendiri yang merupakan ketua!" omel Erza saat ia sedang makan di kantin bersama Lucy dan Wendy. Eh, tumben sekali Wendy bergabung.
"Sudahlah, Erza. Yang lebih penting 'kan kau tidak diberi perintah aneh oleh Evil-sensei maupun Makarov-sensei." Hibur Lucy yang sedang makan bento bawaannya dari rumah itu, "lagipula kegiatan dari organisasi akan membuatmu lelah." Tambahnya.
Erza hanya mendengus.
"Benar, Erza-neechan." Sambung Wendy, kelas 1-A, anggota ke-3 Fairy Tail. Meski wajah dan tubuhnya seperti anak kecil, tetapi jangan salah. Ia sangat handal dalam wushu. "acara untuk Fairy Tail saja sangat merepotkan untukku yang hanya sebagai anggota. Aku lebih senang jika bulan ini hanya diisi dengan acara santai-santai di sekolah."
Itu sama sekali tidak menghibur Erza. Entah, Erza lebih senang jika ia mengikuti event organisasi sekolah ini. Ah lagi-lagi rencanaku gagal. Pikirnya.
Begitu mereka bertiga tengah asik makan bekal mereka masing-masing di meja kantin itu. Seorang perempuan berambut hijau muda datang menghampiri. "Halo, Wendy-sama... ini ada pesan dari Natsu-san." Wendy mendongak pada orang yang datang itu. Sedangkan Erza dan Lucy memandangnya sekilas lalu mengalihkan pandangan mereka ke makanan mereka lagi.
Wendy menerima sebuah amplop berisi surat dari Natsu. Ia segera membukanya. "Wah, acara kemahnya akan diadakan lusa, ya? Wah, Makarov-sensei sungguh murah hati." Ujar Wendy setelah membaca surat itu.
Mendengar itu, Erza langsung melirik surat yang dipegang Wendy dan entah mengapa rasanya ia sangat iri. "Bisca-senpai, terimakasih. Kau akan ikut, bukan? Kalau tidak ada kau, bagaimana aku akan kuat menghadapi acara kemah itu?" sambung Wendy pada gadis berambut hijau muda yang dipanggil Bisca itu.
"Hmm, tenang saja, Wendy-sama..."
"Heh, jangan memanggilku formal begitu, dong. Kau 'kan senpai-ku." Erza masih menatap kedua orang itu dengan tatapan menyelidik. Benar, Bisca adalah siswi dari kelas 2-C, sekelas dengan Natsu dan Gray. Dia adalah mantan anggota Fairy Tail. Sangat ahli dalam menembakkan senapan. Tetapi mengapa ia jadi sangat dekat dengan Wendy kelas 1? Apa hubungan mereka? Rasa penasaran menggerogoti Erza.
"Baiklah, baik, aku hanya bergurau juga memanggilmu Wendy-sama..." Erza memasang kupingnya baik-baik untuk menangkap pembicaraan mereka berdua sembari melahap bekal makanannya. "karena kau sekarang adalah anggota Fairy Tail dan aku adalah asistenmu."
Erza langsung tersedak mendengar 'asisten'. Apa? Bisca asistennya Wendy di Fairy Tail. "Erza, kau kenapa?" ucap Lucy cemas. Kemudian Lucy menyodorkan segelas air pada Erza dan segera diminum Erza.
"Erza, Lucy, ternyata kalian juga ada di sini? halo." sapa Bisca yang baru menyadari keberadaan Erza dan Lucy.
Wendy yang malah mengangguk untuk mewakili Erza yang sedang sibuk menormalkan tenggorokannya lagi. "Aku sedang kesal dengan Levy. Jadi aku bergabung dengan Lucy-san dan Erza-san."
"Memang ada masalah apa kau dengan Levy, Wendy?" tanya Bisca yang kemudian ikut duduk di meja itu bersama Erza dan Lucy.
"Tu-tunggu, kau a-asisten Wendy di Fairy Tail?" potong Erza yang sudah baikan itu.
Bisca mengangguk sambil tersenyum kecil, "Yap! Oleh karena itu aku ikut ke camping Fairy Tail!" seru Bisca dengan bersemangat. Mendengar itu Erza malah terbatuk-batuk lagi.
"Erza, kau kenapa, sih, sebenarnya?" tanya Lucy sambil menepuk-nepuk punggung Erza agar berhenti batuk.
"Ah, ya. Aku penasaran siapa, ya, asistennya Gajeel, Freed dan Mest?" ujar Bisca lagi pada Wendy yang ada di sampingnya itu.
Wendy mengangkat bahu, "Entahlah. Sementara identitas asisten masing-masing anggota tidak diumbar. Oleh sebab itu aku juga tidak tahu, deh... Hanya Natsu dan Gray-san yang tahu." sahut Wendy dengan datar. Sedangkan Erza yang batuknya sudah reda itu akhirnya kembali memakan bekalnya yang hanya tersisa satu sendokan penuh itu.
"Hmm, di antara semuanya aku sangat penasaran siapa asisten Jellal. Memang ada yang mau jadi asisten dia?" tambah Bisca lagi sambil memutar matanya ke atas.
Lagi-lagi Erza batuk-batuk. "Heh, Erza. Kau yakin tidak apa-apa? Sudah berapa kali kau batuk-batuk seperti itu?" tanya Bisca dengan menaikkan sebelah alis. Wendy menyetujuinya dengan mengangguk-angguk.
"Aduh, Erza memang suka aneh belakangan ini. Maaf, ya, pembicaraan kalian jadi terganggu." Ucap Lucy yang kembali mengelus-elus punggung Erza itu.
"Tak apa, aku hanya khawatir padanya." Sahut Bisca yang menyodorkan air putih pada Erza.
Di sisi lain, sebuah tangan ikut menyodorkan sebotol susu rasa green tea pada Erza. Lucy, Bisca dan Wendy mendongak ke orang yang menyodorkan susu itu. Mata mereka bertiga membulat karena terkejut.
"Heh, minum ini dan berhenti batuk!" ujar orang itu dengan nada memerintah. Erza langsung ikut mendongak dan mendengus.
"Tidak mau." Sahut Erza dengan ketus. Jellal, dialah orang yang menyodorkan botol susu itu. Ia malah menaruh botol susu itu di atas meja, lalu menarik pergelangan tangan Erza. "hei kau mau apa?" tanya Erza dengan kesal.
"Hei, aku pinjam Erza dulu, ya." Ujar Jellal pada ketiga gadis yang duduk bersama Erza itu. mereka bertiga hanya mengangguk dengan segan. Membiarkan pemuda berambut biru itu menarik Erza entah kemana.
Jellal terus menarik Erza ke lokasi pohon sakura kesukaan Jellal. Kemudian Jellal menghela napas begitu sampai di bawah pohon itu dan melepaskan pegangannya di pergelangan tangan Erza.
"Apa yang kau inginkan, baka?" tanya Erza sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah berkat ditarik Jellal.
Jellal hanya melirik Erza lalu memberikan selembar surat pada Erza. "Baca ini." Perintah Jellal kemudian. Erza hanya menurut dan membaca surat itu. Surat yang sama dengan yang diberikan oleh Bisca pada Wendy tadi.
"Jadi?" tanya Erza begitu selesai membaca surat itu.
"Kau harus ikut camping itu bersamaku." Sahut Jellal dengan datar.
"APA?!"
"Apa bagaimana maksudmu?" balas Jellal dengan datar. "asisten juga harus ikut, tahu! Lagipula ini camping untuk pelatihan anggota Fairy Tail." tambahnya.
"Hanya anggota." Ujar Erza menekankan.
"Baka, kau tidak baca? Disitu tertulis, asisten harus ikut serta. Untuk mempererat hubungan antara keseluruhan anggota Fairy Tail. Kau tidak tahu, ya, asisten itu juga bagian dari anggota, tahu." Jelas Jellal panjang lebar. Ada apa dengan pria ini? Tumben sekali berbicara sepanjang itu. batin Erza.
"Tapi, kau memperlakukanku sebagai asisten pribadi, baka!" balas Erza tidak terima.
"Karena kau berhutang padaku. Kau pantas menjadi asisten pribadiku." Tegas Jellal sambil menyeringai. Erza langsung memberengut kesal.
Jellal menahan senyum karena melihat ekspresi kesal Erza yang imut baginya itu. apaa? Imut?! Jellal kau sudah gila, ya?! Pikir Jellal yang kemudian menampar pipinya sendiri itu.
Erza sedikit bingung pada tingkah pemuda di hadapannya itu.
"Jadi, kau harus ikut. Titik!" sambung Jellal dengan nada perintah yang seolah tidak bisa disangkal.
"Kenapa harus aku? Apa hanya kau orang gila yang memilihku sebagai asisten, hah?!" tanya Erza masih tidak terima.
Jellal berdecak, "Kau telah menyetujui ini sejak awal, Erza." Balasnya dengan nada dibuat-buat seram. Sayangnya suara itu tidak membuat Erza gentar sama sekali. "kalau begitu aku tidak usah ikut saja."
Erza hanya menghela napas karena menyetujui perjanjian dengan Jellal beberapa waktu lalu. Sebenarnya ia cukup senang sih karena ada kerjaan organisasi dibanding santai-santai saja di sekolah. "Baiklah aku akan ikut." Sahut Erza pasrah.
Terukir seulas senyum tipis di wajah Jellal. Tipis sekali hingga Erza tidak menyadarinya. "Bagus! Tanpamu aku tidak tahu harus apa." Sahut Jellal yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Erza.
Erza masih terdiam di bawah pohon sakura itu. "Ta-tanpaku Jellal tidak tahu harus apa..." ulangnya dengan semburat merah di pipi putihnya. Jantungnya berdebar kencang entah mengapa. Erza menatap punggung Jellal yang mulai menjauh itu. "gila! Erza sungguh gila. Sejak kapan kau mudah tersipu pada pria brandalan itu, Erza?!" ujar Erza kemudian sambil mengacak-acak rambut merahnya.
Meski Jellal sudah berjalan cukup jauh, namun ia tetap mendengar celotehan gadis berambut merah itu. Ia tersenyum tipis lagi, "Sudah kubilang. Kau akan menyesali perkataan kau membenciku." Gumam Jellal dengan pelan.
.
.
"Dengan bersama kita bahagia! Yohoo!" seru Natsu yang bernyanyi itu.
"Hentikan, membuat telingaku sakit saja, sih!" ujar Gray dengan memukul pelan perut Natsu. Akhirnya Natsu berhenti bernyanyi.
Saat ini, mereka berdua sedang berada di ruang Fairy Tail.
Pukul 5 pagi. Hari ini mereka akan berangkat ke Pegasus Hills, sebuah area untuk camping. Area ini terkenal sebagai area yang tenang, sejuk dan menyenangkan. Letaknya cukup jauh dari Fiore. Dihabiskan waktu sekitar 3 jam jika dengan bus.
Pukul 5.30 mereka baru akan berangkat, namun sejak pukul 3.30 pagi Natsu dan Gray telah berada di sekolah untuk mempersiapkan apa saja yang harus dibawa. Yang akan berangkat di acara camping ini adalah keseluruhan Fairy Tail ditambah para senior dari Fairy Tail yang sebelumnya.
Ketua Fairy Tail tahun lalu adalah Lyon Vastia, kakaknya Gray. Dia memang terkenal sebagai ahli Mage seperti Gray. Kini ia berada di kelas 3. Wakilnya adalah Sherry Blendy, seorang gadis populer yang cantik dan pintar. Guru pembina Fairy Tail adalah Evil-sensei alias Mirajane. Berhubung hari ini Mirajane sedang sakit, jadi ia digantikan oleh Warrod-sensei. Guru tua yang paling penyabar dan suka bergurau (?).
Begitu selesai mempersiapkan segalanya, Natsu dan Gray memindahkan kardus dan perlengkapan kebutuhan mereka ke dalam bus. Di sekitar bus, sudah banyak orang berkumpul. Dari sinilah, semuanya begitu senang mengetahui satu sama lainnya.
Mereka jadi tahu asisten masing-masing anggota dan juga jadi mengenal senpai-senpai Fairy Tail mereka.
"Apa sudah lengkap semua?" tanya Natsu dengan suara lantang. Semua anggota yang berkumpul menengok pada Natsu dan Gray yang berdiri di tengah-tengah mereka itu.
Masing-masing mereka menoleh satu sama lainnya. Untuk mengecek kelengkapan satu sama lain. Gray berdeham untuk memusatkan perhatian padanya karena ia ingin mengabsen.
"Aku akan mengabsen mulai dari para senpai." Ujarnya dengan lantang, "Lyon Vastia-san dan Sherry Blendy-san."
"Hadir!" balas Lyon dan Sherry serempak dengan wajah berseri-seri.
"Macao-san, Wakaba-san, Jet-san, Droy-san, Bisca-san?"
"Hadir!" balas kelima mantan anggota itu dengan serempak.
"Mantan Asisten kalian juga sudah lengkap?" tanya Natsu memastikan dan dibalas ya oleh kelimanya sambil menunjuk mantan asisten mereka.
Gray mengangguk, "Sekarang aku akan mengabsen anggota Fairy Tail tahun ini. Oh ya, mungkin beberapa ada yang belum saling mengenal dan belum tahu asisten anggota lainnya. Jadi, sekarang sekalian aku perkenalkan anggota baru dengan asistennya, ya." Ujar Gray kemudian.
"Baiklah!" sahut para senpai itu dengan bersemangat. Para anggota baru yang masih canggung dan malu-malu hanya terdiam.
"Anggota nomor satu, Gajeel Redfox." Dibalas hadir oleh Gajeel, "asisten: Sheria Blendy." Dibalas hadir oleh gadis berambut pink yang berdiri di sebelah Wendy itu.
"APA?! Gajeel pintar juga memilih asisten!" komen Lyon sambil menggeleng pelan.
"Adikku mau-mau saja lagi dijadikan asisten oleh pria aneh yang suka gosip itu." tambah Sherry yang menyentuh kepalanya itu.
Gray melanjutkan kegiatan mengabsennya, "Anggota nomor dua Freed Justine dan asistennya Ren Akatsuki?"
"Hadir!"
"Anggota nomor tiga, Wendy Marvell dan asistennya Bisca Connell?"
"Hm, hadir!"
"Anggota nomor empat, Mest Gryder dan asistennya Alzhack."
"Hadir hadir!" pekik Mest dan Alzhack kompak.
Gray mengangguk, "Baik, anggota terakhir, anggota nomor lima..." Gray melirik kesana kemari mencari Jellal yang tidak tampak.
"Ada apa, Gray?" tanya Natsu begitu Gray berhenti bicara beberapa saat. Seluruh orang di sekitarnya menjadi heran.
"Jellal tidak ikut?" bisik Gray pada Natsu.
Natsu pun ikut mencari-cari Jellal. namun pria biru brandalan itu memang belum hadir. "Mungkin ia terlambat." Bisik Natsu.
"Mungkin juga ia tidak akan ikut." Ujar Gray di telinga Natsu lagi.
"Tenang saja, kan ada Erza." Bisik Natsu lagi.
"Erza tidak mungkin menarik-narik Jellal untuk ikut. Sudah tahu Erza saja sedang sedih karena event osisnya dibatalkan." Ujar Gray balas berbisik pada Natsu.
Melihat tingkah kedua orang itu, Lyon sedikit tersinggung. "Hey, bung! Kalian ini berbisik-bisik tentang apa, sih? Kenapa berhenti mengabsen, Gray? Siapa anggota kelima?" tanyanya dengan menggerak-gerakkan tubuh Gray yang masih berbisik pada Natsu itu.
Semua yang ada di sekitar situ bertanya-tanya. Ada apa? Suasana jadi sedikit ribut, namun keributan itu hanya berangsur sebentar. Karena setelah itu keheningan kembali meliputi mereka.
Semua yang baru saja diabsen itu menoleh ke arah yang sama. Ke arah dua orang yang berdiri sambil terengah-engah itu.
"E-erza-san?" gumam Wendy dengan heran.
"Erza, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sheria dan Bisca dengan serempak. Gajeel dan yang lainnya pun memiliki pertanyaan yang sama. Seingat mereka acara camping ini khusus untuk Fairy Tail, mengapa osis juga ikut? Batin mereka semua.
"Maaf, Natsu. Kami terlambat." Ucap Jellal dengan santainya. Ia berjalan mendekat barisan anggota baru Fairy Tail. "Hai, apa kabar?" sapa Jellal begitu mendapat tatapan bertanya-tanya dari para anggota baru Fairy Tail itu.
Gray tersenyum kecil melihat Erza yang berdiri di sebelah Jellal itu dengan tas ransel besarnya. "Maaf, aku lanjutkan. Anggota terakhir Fairy Tail, anggota nomor lima, Jellal Fernandes. Dengan asisten Erza Scarlet." Ujar Gray mengabsen sekaligus memperkenalkan Jellal dan Erza pada semuanya yang hadir di situ.
Semua orang di sekitarnya kecuali Natsu, Erza dan Jellal sendiri, sangat terkejut. Mata mereka terbuka lebar karena tidak percaya, "APAAA...?!" seru mereka secara serempak.
"Er-erza... a-asisten Jellal..." gumam Lyon dengan mulut setengah terbuka.
"Mu-mustahil." Gumam Mest sambil menggeleng-geleng pelan.
Erza dan Jellal menjadi pusat perhatian. Membuat Erza sedikit kikuk dan salah tingkah. "Ha-hai..." sapa Erza bermaksud untuk mencairkan suasana ini.
Jellal memalingkan wajahnya seolah tidak peduli dengan tatapan anggota lain dan para senpainya.
"Semuanya telah hadir! Dan Warrod-sensei yang menggantikan Evil-sen... eh maksudku Mira-sensei, sudah berada di dalam bus." pekik Natsu kemudian mengalihkan pembicaraan. "ayo kita berangkat!" tambahnya dengan nada bersemangat.
Semuanya membalas perkataan Natsu itu dengan bersemangat pula. Terlebih Gajeel dan Lyon yang saat ini terlihat paling bersemangat juga setelah Natsu. Tanpa menghiraukan tentang Erza Jellal lagi, mereka semua pun memasuki bus dan duduk di masing-masing kursi sesuai keinginan mereka.
"Erza, Jellal, taruh tas kalian di bagasi saja." Ucap Gray yang menghampiri Erza.
"Baik, Terima kasih, Gray." Sahut Erza tersenyum kecil, sedangkan Jellal yang berjalan di belakang Erza itu hanya mendengus.
"Berat sekali sepertinya, sini aku bantu." Ujar Gray sambil menyentuh tas yang digendong Erza bermaksud untuk membantu membawanya. Erza pun melepaskan tas ranselnya dan hendak memberinya pada Gray, namun gagal.
Jellal yang duluan meraih tas ransel besar milik gadis berambut merah itu. "Aku saja." Ucapnya dengan datar. Ia sekilas melirik Gray sambil menyunggingkan senyum kemenangan. Lalu Jellal berjalan mendahului Erza dan Gray menuju bagasi bus.
"Ada apa dengan orang itu.."gumam Erza tidak mengerti. Gray hanya mendengus kesal tanpa arti.
Erza bersama Gray pun memasuki bus bersama. Disusul oleh Jellal. Hanya mereka bertiga yang belum duduk di dalam bus dan hampir seluruh kursi sudah diduduki oleh para peserta camping Fairy Tail ini. Hanya tersisa sebaris kursi yang dapat diduduki kurang lebih 3 orang di paling belakang bus.
"Ayo kita duduk bersama, Erza." Ajak Gray sambil menunjuk kursi di paling belakang itu.
Erza mengangguk menyetujui. Mereka berdua pun duduk di barisan kursi paling belakang itu dengan Gray yang berada di posisi paling ujung dekat jendela. Erza duduk di sebelah kiri Gray.
"Sudah siap semuanya?" tanya Warrod-sensei yang berdiri di depan.
"Tentu!" balas semua murid dengan bersemangat.
Begitu semuanya bersemangat, Erza tentu saja tidak. Sebab serigala biru pengganggu itu datang dan duduk di kursi kosong sebelah kanan Erza.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Erza pada Jellal yang telah duduk bersandar di sebelahnya itu.
"Duduk. Tidak ada kursi kosong selain di sini, baka." Balas Jellal datar, "jangan berpikir terlalu indah hanya karena aku duduk di sebelahmu, asisten." Tambahnya sambil menyeringai.
Sungguh menyebalkan, batin Erza.
Ia pun sedang tidak ingin terlalu banyak berargumen dengan Jellal. akhirnya ia memutuskan untuk menutup wajahnya dengan jaket dan berusaha tertidur.
Jellal tersenyum puas melihat reaksi pasrah gadis berambut merah itu. Lalu ia melirik Gray yang sedari tadi menatap Jellal dengan kerutan di keningnya. "Hm?" tanya Jellal yang berupa dengusan. Seperti menantang Gray.
"Dasar pengganggu." Balas Gray dengan pelan agar hanya Jellal yang mendengarnya. Jellal pun hanya menyeringai menanggapi Gray.
"Kita lihat saja, siapa yang sebenarnya 'pengganggu' di sini." tantang Jellal masih dengan seringaiannya.
Gray hanya menatap Jellal dengan datar. Berusaha tidak gentar pada gertakan serigala yang brandalan itu.
CHAPTER 6 END!
TBC... Review, Review, Review!
