Here, There, and Everywhere.

Author: Nacchan Sakura

I DO- not own Durarara!. Sadly.

.

.

.

Chapter 7: For my dear Master

Note(s): Drabble / Butler!Shizuo x Izaya / AU

.

.

Dear Master,

Mungkin sekarang, master membaca suratku dengan perasaan bingung, ya?

Ahaha, tapi, apa boleh buat. Aku tak bisa mengatakan hal ini langsung kepadamu. Bagaimanapun juga, aku hanya bisa menyampaikannya lewat tulisan ini.

Karena banyak halangan di depan mataku—yang membuat aku tak bisa bicara langsung padamu, master.

Ah, dan satu hal lagi, master—

Disini, aku akan berbicara sebagai "Shizuo Heiwajima".

Bukan sebagai butlermu.

"Shii—zuuu-chaaan!"

Izaya yang saat itu masih berumur 10 tahun, berlari menuju arah Shizuo dan memeluknya dengan erat.

"I-Izaya-sama?" Shizuo terkejut dan mendorong pelan Izaya. "Dame desu yo, pakaianku kotor. Lagipula, tidak pantas jika seorang master memeluk butlernya seperti ini—"

"BERISIK!" bentak Izaya. "Kau itu bukan butlerku! Kau itu, sahabatku!"

Master masih ingat, saat pertama kali kita bertemu?

Saat itu, aku benar-benar takut. Tanpa tahu apa-apa, orangtuaku mengatakan bahwa aku akan menjadi butler pribadi untuk Izaya Orihara.

Aku kira pada awalnya, master adalah orang yang sedikit galak, dingin, dan mungkin tak akan bisa akrab denganku.

Namun semuan pikiranku itu berubah ketika pertama kali bertemu denganmu, Master.

Kau tersenyum. Ya, kau tersenyum hangat kepadaku, dan mengatakan, "Semoga kita bisa jadi teman yang baik!"

Master, sedari awal, kau memang tidak pernah memandangku sebagai seorang butler semata.

Kau selalu memandangku sebagai teman. Sahabat.

Orang yang paling dekat denganmu.

"Nee, Shizu-chan." Izaya yang tengah duduk di ruang perpustakaan yang luas di rumahnya, kini memasang wajah bosan. "Aku bosan! Aku sudah belajar 3 jam! Payah, ayah bilang ini semua karena aku harus menjadi penerus perusahaannya. Tapi, itu 'kan masih lama! Aku baru 12 tahun!"

"Tapi.. ini perintah tuan besar, anda harus belajar—"

"AAAH, AKU TIDAK PEDULI!" Izaya berdiri dan membanting tumpukan buku yang sedari tadi ia baca ke atas meja. "Shizu-chan, ayo kita main!"

Aku selalu memperhatikan sosokmu, selalu dan selalu memperhatikan sosokmu.

Mataku tak pernah lepas dari sosokmu. Melihat wajahmu tertawa, melihat wajahmu marah, melihat wajahmu menangis..

Itu semua seakan sudah menjadi hobiku. Mungkin kedengarannya mengerikan, aku seolah-olah seperti stalker yang terobsesi padamu.

Tapi mau bagaimana lagi?

Aku menyukai semua hal tentang dirimu.

"Shizu-chan, kau sudah mengerjakan PR?"

"Ah, iya... tadi saat ada waktu luang."

"Curaaang~! Padahal kan aku ingin mengerjakan PR sama-sama. Ugh, pelajaran SMA itu susah semua!"
Shizuo tertawa kecil. "Mau aku ajarkan bagian yang tidak anda bisa?"
"Eh? Boleh? Kalau tidak merepotkan, aku mau~!"

Aku selalu, dan selalu ingin berada di sampingmu.

Aku selalu ingin melihat senyumanmu.

Aku ingin melihat setiap hal yang kau lakukan, mulai sekarang, sampai seterusnya.

"Shizu-chan! SHIZU-CHAN!"

Izaya hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya. Air matanya tak berhenti mengalir.

Ia melihat sosok Shizuo yang terbaring lemah di hadapannya. Darah mengalir dari tubuhnya—bagaikan air hujan yang basah.

"LEPASKAN AKU! KENAPA KALIAN MENYAKITI SHIZU-CHAN! DIA TIDAK ADA HUBUNGANNYA!"

Shizuo tak bisa berbuat apapun. Ia sudah kehilangan banyak darah, tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Bekas peluru berasap masih menempel di dadanya.

Shizuo terkena peluru dari sebuah tembakan pistol—yang seharusnya ditujukan ke arah Izaya.

Namun Shizuo berhasil melindunginya.

Walau harus mengorbankan dirinya sendiri.

Nee, Izaya.

Boleh aku meminta sesuatu?

Kumohon,

Izinkan aku berada di sisimu selamanya.

Walau suatu hari kau mungkin akan pergi meninggalkanku—

Tidak apa-apa 'kan, jika aku mengejarmu?

Aku ingin terus dan terus,

Menjadi sahabat dan butler milikmu seorang.

Dengan perasaan ini yang tak akan pernah hilang.

Ah, mungkin.. segini dulu saja surat dariku.

Maaf aku menyimpannya diam-diam di atas mejamu. Aku tak bisa menyerahkan langsung surat ini kepadamu.

Kuharap aku menerima balasannya darimu.

Salam,

Shizuo.

Izaya meremas pelan ujung dari kertas putih yang sedang ia pegang. Tes, Tes. Butiran air mata mulai menetes di atas kertas putih itu, membuat tinta hitam yang ditorehkan di atasnya menjadi pudar.

Izaya merapatkan kedua mulutnya. Ia menutup matanya yang masih mengalirkan air mata. Isakan tangisnya begitu keras, namun tak ada satupun orang yang mendengarkan ataupun peduli.

"Baka... kenapa kau harus pergi.. di saat aku belum bisa menyampaikan perasaanku?"

Izaya memeluk batu nisan berwarna abu-abu yang berada di hadapannya. Ia mengecup batu nisan itu dengan lembut.

Batu nisan yang bertuliskan,

R.I.P

Shizuo Heiwajima

15.11.2011