ya selamat datang di chapter 7!
semoga tidak mengecewakan nyu~
mohon maaf kalau di chapter sebelumnya ada reader yang tersinggung. iyun ga maksud gitu kok.
iyun sedih banget dengernya.
iyun gapapa di kritik. soalnya kalo nga di kritik iyun ga bakal belajar.
jadi,iyun nga mungkin nyindri orang yang udah mau luangin waktunya baca fic ini.
mohon maaf kalau ada salah paham tapi itu emang jalan cerita nyu~
uchihyuu nagisa
jangan minta maaf. iyun yg harus minta maaf kalo dikira menyinggung.
nah penjelasnya ada di chap ini mohon dibaca.
iyun emang suka bikin reader penasaran hehehe.
Dindahatake
wah sebenernya hina-chan nga mimpi dia cuman ya masuk ke hari baru ceritanya.
maaf kalo nga jelas hehehe -3
Sasuchaan
iya kamu bener. sebenernya cerita di chap 5 itu.
antar kisah yang di karang hinata sama yang kejadian itu sama.
liat aja dialogue nya sama. makasih udah mau baca ^^
Yumi michiyo
nga ko iyun ga bermaksud curhat atau nyindir siapapun.
itu emang jalan ceritanya.
maaf kalo jadi salah paham.
maaf ya nyuu~
Sora Hinase
iya aku juga setuju kok sama editornya.
#loh kan aku authornya*plak*
terima kasih udah membaca.
Lollytha-chan
makasih udah suka cerita iyun.
arigatou ne
Himeka Kyousuke
hai! siap update cepat ^^
RikurohiYuki03
hai!siap aupdate kilat
arigatou ne
Swifty
terima kasih banget dukunganya.
ia jadi bersemangat lagi buat lanjutin fac ini.
makasi juga mau baca fac ini
doumo arigatou gozaimasu!
Discalimer: Kishimoto Masashi
Warning: AU. OOC
Genre: General/Romance
Rate: PG-13/T
Sasuhina
Sasuke's pov
Aku menatap layer computer ku.
"Tch,dia sudah benar-benar melupakanku!"
Aku kembali berjalan ke arah lemari di ruangan ku.
Aku membuka laci yang berada paling bawah menariknya perlahan.
Dari dalam laci aku menarik sebuah foto.
Aku menatapnya lama.
Aku tersenyum menatap wajah indahnya. Senyum malu-malu menghiasi wajahnya.
Pipinya yang kemerahan saat aku merangkulnya erat.
Wajah ku yang tersenyum bahagia.
Senyum lebar yang menunjukan deret gigi susu ku .
Aku menatap gadis di foto itu lagi.
Sedari kecil ia sangat imut dan menggemaskan.
Dan sekarang pun ia tidak pernah kehilangan kecantikanya.
Kecantikannya merupakan hukuman bagiku.
Kelembutanya merupakan racun dalam hatiku.
Sejauh apapun aku berusaha menolaknya.
Sejauh apapun aku berusaha menjauh darinya.
Bayangan lembut dirinya selalu memanggil ku mendekat.
Seperti panggilan dosa dari kehidupan lama ku.
Semenjak tragedi yang terjadi di keluarga ku.
Aku tidak bisa memilikinya.
Aku tidak boleh memilkinya.
Ia terlalu indah.
Terlalu baik.
Terlalu suci.
Aku yang sudah dipenuhi oleh rasa dendam di dalam hatiku tidak bisa membiarkanya hancur bersama ku.
Sepertinya semua yang ku sentuh selalu hancur. Semua yang ku sayangi selalu meninggalkanku.
Mungkin,aku bisa mengorbankan semua orang. Aku bisa berlari jauh dan meninggalkan semua orang.
Tapi,aku tidak bisa meninggalkanya. Aku tak bisa membiarkanya hancur ditanganku.
Aku tidak cukup kuat untuk melindunginya. Oleh karena itu,aku berhenti mencintainya.
Aku harus berhenti mencintainya.
Membiarkan dia terbiasa tanpa kehadiran ku.
Aku hanya berharap dia berhenti berbicara denganku.
Jika aku mulai mendengar suara lembutnya yang mengalun ringan mungkin aku tidak dapat menahanya. Mungkin,aku akan pergi membawanya dan meninggalkan semua yang dicintainya. Namun,aku tidak dapat melihat tangisan yang jatuh dari wajah indahnya.
Aku begitu mencintainya.
Hinata,cinta pertama ku
Aku terus mengatakan pada semua orang. Aku membencinya.
Pemalu. Lemah. Polos.
Mana mungkin aku mencintai gadis seperti itu.
Namun,setiap kali aku mengatakan itu. Jemariku bergetar darah menggelegak seluruh tubuhku serentak menolak ucapanku. Setiap bagian dari tubuh ku menginginkanya,memujanya.
Aku mengenang perlahan. Aku mengingat tangisan pertamanya.
Kejadian itu 5 bulan setelah tragedi yang terjadi di keluarga ku.
Setiap harinya dia selalu berkunjung ke rumah ku dan membawakan makanan.
Setiap harinya dia menelfon ku menanyakan keadaan ku.
Dan setiap hari itu juga aku membuatnya bersedih.
Setiap hari juga aku membanting pintu rumahku di depan wajah cantiknya.
Aku kira dia sudah menyerah.
Kapan dia akan menyerah.
Saat itu tahun pertama kami di smp.
Dia berlari mengejarku ke halaman sekolah.
"Sa-sasuke kun,tunggu aku." Ucapnya terengah-engah.
Aku mendengar suaranya dari balik punggungku.
Aku berjalan maju meninggalkanya.
Dia terus berlari berusaha menangkap langkahku.
Ia menyentuh pundakku ringan.
Aku bergeming merasakan sentuhan hangatnya di bawah kulitku.
Aku mendengar napasnya yang menderu.
"Ada apa Hinata?" jawabku dingin.
"Ma-maafkan aku Sasuke kun a-aku."ucapnya terbata-bata.
Kenapa ia selalu meminta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf karena telah membuat dirinya menderita setiap harinya.
"Pergilah Hinata. kau sangat mengganguku." Jawabku.
Aku mendengar dia terkesiap mendengar jawabanku.
"Ma-maaf Sasuke kun a-aku ha-hanya sangat me-merindukanmu." Balasnya.
Aku terdiam mendengar jawabanya.
Aku berbalik dan menatap wajahnya.
Wajahnya merona merah.
Rambut biru gelapnya terlihat kontras dengan warna merah wajahnya.
Ia menggerakan kakinya gugup dan menengadah menatapku.
Aku melihat ke dalam mata indah lavendernya.
Mungkin aku tidak dapat menahanya lagi. Mungkin aku tidak bisa terus menjauhinya.
Tapi,aku harus melindunginya dari diriku.
Hatiku berdegup sakit menahan gejolak dalam batinku.
Aku berusaha sekuat mungkin untuk membencinya.
Ini harus diakhiri dengan cepat.
Aku tidak tahan,pedih ini menyayat hatiku dalam-dalam.
Setiap detik aku menolak kehadiran kehangatnya bagaikan bisa yang menjalar disekujur tubuhku.
"Dengar baik-baik Hinata,aku hanya akan mengatakanya satu kali. Aku membencimu jadi jangan pernah bicara lagi denganku. gadis bodoh yang memuakkan. Aku benar-benar berharap kau tidak pernah muncul dalam hidupku. Setiap detik yang kuhabiskan bersamamu bagaikan neraka untukku. Jadi,jangan pernah tunjukan wajah sialan itu di hadapanku!lupakan semua tentang kita. Bahkan jangan sampai ada yang kita mengenal. kau hanya mengganguku,pergilah." Bisikku perlahan.
Aku melangkah menjauhinya.
Ia berdiri diam.
"kalau kau benar memperhatikanku,anggaplah kita tidak pernah saling mengenal." Bisikku.
Ia masih terus membatu.
Hanya menatapku menjauh.
Ia menatapku dalam diam yang menyesakan.
Aku berbalik dan melihat air mata menuruni wajahnya.
Air mata pertama yang dikeluarkan dari mata indahnya.
Ia lemah,gugup tapi aku tau ia tidak pernah menangis.
Ia terus menatapku dan aku meninggalkanya dan berjalan menjauh.
Semenjak kejadian itu. Hinata berhenti mencariku.
Hinata berhenti memanggilku.
Hinata berhenti menatapku.
Hinata berhenti mencintaiku.
Ia telah melepaskan semua tentang diriku.
Ia berhenti menjadi Hinata ku.
Mungkin ini yang terbaik.
Aku telah bertahan selama 2 tahun untuk menjauhinya.
Lalu,kenapa aku harus memulainya lagi sekarang?
Aku merebahkan tubuhku di kursiku.
Surat cinta sialan.
Seandainya saja surat itu tidak ada mungkin aku tidak akan pernah berhubungan lagi dengan Hinata.
Tapi,surat itu membuat ku membayangkan bahwa dia masih mencintaiku.
Mengatakan ia akan selalu bersamaku telah merubuhkan pertahananku.
Aku tidak bisa,aku tidak bisa menjauhinya kalau ternyata ia masih mencintaiku.
Aku tidak bisa menjauhinya kalau ternyata ia masih menginginkanku.
Setelah apa yang telah ku perbuat kepadanya.
Surat cinta itu sudah membobol pertahanan terakhir ku.
Aku hanya ingin dia mengatakan padaku bahwa ia mencintaiku.
Hanya itu yang dia perlukan untuk menariknya ke dalam pelukanku.
Menjeratnya dan tak akan pernah melepaskanya lagi.
Membawanya menjauhi dunia sialan ini.
Aku menatap balasan email dari penulisku.
Maafkan aku . aku akan berusaha lebih baik.
Ya,tentu saja dia harus berusaha lebih baik. Dia benar-benar tidak menunjukan emosinya dalam tulisan. Aku telah membaca semua karyanya.
Tentu saja karyanya sangat mengagumkan.
Well,bukan karena seluruh karyanya menjadikanku sebagai pemeran utamanya.
Tapi karena ia benar-benar menjiwai setiap kalimat dalam ceritanya.
Aku tak pernah menyangka ia akan menulis tentang diriku.
Setelah aku melukainya.
Aku pikir dia tidak akan pernah memaafkan ku.
Aku megetikan balasan e-mailku padanya.
Aku menyeringai senang membayangkan mungkin ia akan mulai menulis cerita tentangku lagi.
Jujur saja novelnya kali ini benar-benar buruk.
Baiklah. Kau harus memulainya dari awal. Tulislah tentang sesuatu yang berasal dari hatimu. Tulislah sesuatu yang membuatmu merasakan marah. Tulislah sesuatu yang membuat perih hatimu. Ungkapkan semua emosimu. Aku telah membaca semua ceritamu. Aku merasakan emosi cinta yang mendalam dalam semua ceritamu. Aku membacanya seakan aku benar-benar mengalami itu. Namun,kau kehilangan sentuhanmu hyuuga-san. Tulislah sesuatu yang berasal dari hatimu. Rasakan emosinya mengalir cepat di atas tanganmu.
Ya kau benar-benar kehilangan sentuhanmu,Hinata.
Aku beranjak ke laci kantorku. Menarik sebuah album foto. Album foto yang telah aku kumpulkan 2 tahun ini.
Aku melihat foto pertama. Hinata saat membaca buku di perpustakaan. Bibir kecilnya yang terbuka dan mata indahnya yang menatapka arah buku. Aku tak akan pernah bosan menatap wajah indahnya.
Aku membalik halaman album dan melihat foto kedua Hinata. Ia dan Tenten sedang berbicara,Hinata yang gugup memainkan resleting dari hoody yang ia pakai. Pipinya merona merah karena suatu hal.
Ya tuhan bagaimana mungkin ada mahluk sesempurna ini.
Aku mengabadikan setiap momen yang kulewati tanpa Hinata. Aku diam-diam mengoleksi seluruh fotonya. Mungkin,ia akan marah kalau mengetahuinya.
Aku merebahkan tubuhku ke kursi sekali lagi.
Menunggu balasan e-mail dari Hinata.
Awalnya aku tidak menyangka Hinata akan menulis di perusahaan yang sama dengan ku. Namun,karena pengaruhku yang cukup penting disini aku bisa memaksa menjadi editor untuk Hyuuga Hinata.
Dan disinalah aku menunggu balasan e-mail dari gadis yang paling ku cintai.
Kantuk menyerangku. Aku membaca chapter 1 dari Hinata dan terkaget.
Na-nama karekter utamanya.
Sasuke?
a-aku?
Tubuhku melonjat senang. Dinding pertahanan yang selama ini kututup rapat-rapat tidak lagi dapat ku bendung. Ia menulis tentang ku lagi. Jadi dia masih mencintaiku.
Ia mencintaiku?
Kebahagiaan meledak di dalam dadaku.
"Yes!yes!dia mencintaiku!" teriakku ke seluruh penjuru kantor.
Aku meloncat bahagia tidak terkendali.
"Oh yeah! Dia mencintaiku!dia mencintaiku!" ucapku sambil menari ala hawai menggoyangkan pinggulku ke kanan dan ke kiri.
Mencintaiku~ mencintaiku~ oh~
"yes!yes!wuhhuuuuuuuuuuuu!"teriak ku bahagia.
Dari balik pintu kaca ruanganku,aku melihat asisten ku menatapku bingung dan kaget.
"A-anda tidak apa-apa Uchiha-san?" ucapnya keras.
Aku tergugup gugup merapikan jas ku.
"ehem.. i-iya a-aku tidak apa-apa lanjutkan saja tugasmu." Jawabku malu.
Hancur sudah image yang kubangun selama ini. Sial!
"hhh.." helaku.
Tapi tak apalah yang penting aku telah mengetahui Hinata masih mencintaiku.
"Oh yeah!" teriakku dalam hati.
Aku tidak bisa berhenti tersenyum.
Kalau ada yang bisa melihatku sekarang pasti ia mengiraku aku mengalami down syndrome atau demam kuman yang menyebabkan penderita menari hula-hula.
Oke sasuke sekarang kau harus melakukan ini dengan benar.
Bagaimana membuat kisah membuat cintamu bahagia.
Aku menatap sekali lagi ke arah computer.
Menatapa tulisan Hinata.
Aku punyaa ide.
Ide yang sangat brilian.
Bukankah untuk itu aku dilahirkan menjadi pintar?
CONTINUE
ya nyuu itu akhir dari chapter 7
semoga sesuai harapan.
walaupun ga ada sasu hina
dimohon sabar ya nyu.
abis ini ada sasuhina dulu.
iyun juga nga sanggup nyu liat mereka jauh-jauhan
rasanya kalo iyun authornya udah pengen iyun kawinin tuh berdua huhu..
oia ada yang sadar ga kalo di chap 5
cerita yang di buat hina sama kejadian di dunia nyata itu sama.
sebenernya iyun ga pengen buat begitu jelas sih
tapi penasaran aja hehehe
yosh dimohon-mohon reviewnya nyu
hidup review!
tidak bisa hidup tanpa review*hulahuladance*
terima kasih udah baca. jangan bosen ya
dont be gentle or I wont learn.
arigatou gozaimasu minna san
