The Curse and The Baby

A fanfic by Presiousca

.

7

.

BLADES FROM HEAVEN

.

Baekhyun tidak pernah tahu bahwa rasanya bisa sebahagia ini.

Hari ini, Chanyeol dengan sangat sukarela mau meluangkan waktunya sampai siang hari untuk menemaninya melakukan USG. Menemani Baekhyun melihat bagaimana wujud bayi mereka yang masih abstrak dengan luapan ketakjuban.

"Dia sangat aktif. Lihat, bayi kalian terus berputar-putar."

Seperti mau menangis, tapi Baekhyun tidak bisa. Seperti ingin berlari, tapi Baekhyun juga tidak bisa. Dia terlalu gembira, Baekhyun menyadari itu dan dia ingin melakukan sesuatu agar Chanyeol tahu.

Maka, dia meraih telapak tangan Chanyeol yang sedari tadi terdiam dan meremasnya kuat.

"Mari kita lihat apakah dia baby blue atau pinkeu baby."

Dokter itu memutar-mutar alat yang sedari tadi menempel di perut Baekhyun dengan kewalahan. Pasalnya, si jabang bayi terus bergerak dan itu bukan main mempersulit keadaan.

Baekhyun gugup. Semakin kuat meremas tangan suaminya yang baru dia sadari kalau sangat berkeringat.

"Ah! Dia Baby blue! Selamat tuan-tuan, bayi kalian adalah calon jagoan."

Baekhyun tidak pernah tahu bahwa rasanya bisa sebahagia ini.

Hanya dengan mengetahui bahwa calon bayinya dengan Chanyeol adalah seorang jagoan kecil, dunia sudah terasa sangat cukup. Baekhyun yakin dia tidak akan memerlukan harta melimpah, fasilitas mewah atau ketenaran.

Selama dia memiliki jagoan kecilnya, maka dunia sudah sangat cukup.

Chanyeol balas meremas tangannya. Baekhyun mendongak, menatap wajah pria yang sedari tadi tak lepas menatap monitor.

Chanyeol menunduk kepadanya. Dengan lamat-lamat mencium dahi si mungil lalu berbisik.

"Superboy kita sangat menakjubkan..."

e)(o

.

Luhan berdecak kesal setelah mobil Sehun menghilang di balik pagar.

Setelah semalam mabuk dan mengucapkan kata-kata aneh, Sehun sama sekali tidak berniat menjelaskan apa maksudnya. Luhan terus mendesak, bahkan mengancam kalau dia akan mogok bicara sampai sebulan, tapi itu tidak mempan.

"Kau selalu keceplosan kalau sedang mabuk! Aku saja tahu kalau kau juga menyukaiku setelah kau menghabiskan dua botol soju! Aku yakin semalam kau juga keceplosan. Oh Sehun jawab aku!"

Tapi Sehun adalah pria dengan prinsip sekeras baja.

Sekali tidak itu berarti tidak. Jika dia enggan maka memaksa-pun akan sia-sia. Luhan seharusnya sudah hapal dengan keteguhan hati kekasihnya itu dan mencari jalan yang lebih lembut.

Tapi rasa penasaran seperti ingin membunuhnya. Apalagi, Sehun terus menghindar dan malah mengacuhkan semua ancaman Luhan. Memancing emosinya semakin tinggi. Membuatnya lupa untuk bersikap lebih negosiatif.

"Kau tahu aku mabuk kan? Aku bisa mengatakan omong kosong apapun. Sudahlah lupakan saja, Dear."

Setelah penyangkalan terakhirnya itu, Sehun berjalan dengan cepat menuju mobilnya dan terus mengacuhkan umpatan Luhan. Meninggalkan kekasihnya itu ditengah emosi yang terasa akan menelan seluruh tubuhnya.

"Kunyuk itu benar-benar! Aku akan membuatmu mabuk lagi! Lihat saja nanti!"

e)(o

.

Antara ya dan tidak, Baekhyun merasa tidak memiliki pilihan yang tepat.

Sudah tiga hari semenjak dia mengikuti Chanyeol pada malam itu, sampai sekarang-pun dia masih merasa bingung. Pasalnya, dia memiliki empat angka kombinasi yang menjadi pin kamar rahasia itu.

Sayangnya, Baekhyun tidak tahu mana yang benar.

Dia menatap empat angka yang baru saja dia tulis di buku mewarnai. Mungkin kalian bertanya bagaimana laki-laki itu bisa mendapatkannya ya'kan?

Baekhyun sendiri, juga tidak habis pikir. Darimana keberanian itu bisa datang?

Saat Chanyeol keluar dari kamar mereka malam itu, Baekhyun mengikuti suaminya itu dengan super hati-hati dan menjaga jarak. Meminimalisir suara bahkan deru nafasnya sendiripun, Baekhyun larang untuk mengganggu.

Tiba saat dimana Chanyeol memasuki kamar itu dan menutup pintu, Baekhyun juga ikut turun dan mendekatkan wajahnya pada portal. Mencoba menyinari tombol-tombol logam itu dengan senter kecil yang sudah dia siapkan.

Baekhyun menghembuskan nafasnya pada tombol-tombol itu. Menguarkan uap dari nafasnya untuk membuat permukaan tombol dengan bekas sidik jari memburam.

Ternyata reaksinya berhasil!

Tombol yang lebih banyak ditekan akan membuat jejak dan itu adalah angka satu, empat, enam dan nol. Baekhyun terkejut, dia tidak mengira bahwa cara yang dia cari melalui internet akan bekerja.

Baekhyun mati-matian mengingatnya sambil berjalan kembali dengan pelan menuju kamarnya. Namun sayang, perut besar itu membuatnya terlalu lambat dan terpaksa bersembunyi di balik lemari piagam di ruang tamu.

Chanyeol, dengan tidak terduga kembali dengan cepat dan dia tidak boleh ketahuan. Sial karena pria itu kembali ke kamar mereka terlebih dahulu. Baekhyun tentunya harus mencari alibi.

"Demi Tuhan! Baekhyun kau darimana saja?" ucap Chanyeol saat dia kembali.

Dengan wajah panik dan tangan gemetaran.

"Aku haus. Aku turun sebentar untuk mengambil minum."

Masalahnya pada malam itu selesai. Baekhyun selamat dan dia tidak ketahuan sudah menguntit Chanyeol.

Case closed.

Tapi, masalah baru datang. Baekhyun memiliki empat angka itu tapi, keberanian dia tidak punya. Mengingat bahwa Chanyeol bahkan sampai membuang Luhan ke China hanya karena berhasil membuka pintu, membuatnya semakin takut.

Sayangnya, dia tidak senekat Luhan.

e)(o

.

Menjelang dua minggu menuju HBL yang sudah ditentukan.

Sampai pagi ini, kesehatan Baekhyun bisa dibilang sangat baik. Mual dan pusing di pagi hari sudah bisa dia atasi dengan handal. Nafsu makannya juga semakin naik dan bersyukurlah karena bukan hanya perutnya saja yang bertambah besar, tapi keseluruhan tubuhnya.

Chanyeol berulang kali memuji bagaimana Baekhyun begitu seksi saat hanya mengenakan kemeja putih juga tanpa celana.

Dia bilang, Baekhyun sangat menggairahkan. Membuatnya ingin berada di dalamnya sepanjang hari.

"Aku gemuk. Lemakku menempel dimana-mana." Ucap Baekhyun sambil cemberut.

"Dimana saja memangnya?"

"Di sini." Baekhyun menunjuk pipinya.

"Di sini." Menunjuk lengannya.

"Di situ." Menunjuk perutnya. Tentu saja.

"Dan di sana." Lalu menggerakan kedua kakinya untuk menunjukan bahwa bagian itu juga semakin besar.

Chanyeol tersenyum lagi. Kali ini dengan cara yang sangat tampan.

"Aku seperti kentang berjalan ya'kan?"

Merasa kurang percaya diri itu manusiawi. Chanyeol memaklumi bagaimana Baekhyun mengkhawatirkan kadar pesonanya yang berkurang karena lemak. Tapi itu kehamilan. Siapa yang tega untuk mempermasalahkannya?

"Kau selalu seksi. Jangan khawatir." Chanyeol menggelitik perut buncit itu dengan belaian.

Menyelipkan tangannya dibalik kaos Baekhyun untuk menyentuh kulit yang membungkus bayi mereka. Chanyeol merasakan sesuatu bergerak-gerak. Memutar-mutar jemarinya untuk terus mengikuti kemana bayinya bergerak.

Membuatnya gemas dan berakhir mencium pipi berisi Baekhyun.

"Superboy kita ribut sekali. Apa tidak sakit?"

Baekhyun menggeleng. "Hanya saja, terkadang dia menendang ke bawah dan itu lumayan sakit."

Chanyeol meringis prihatin, melihat bagaimana Baekhyun terlalu memaksakan senyumannya. Membuat Chanyeol merasa harus memarahi bayi mereka yang terlalu aktif dan justru menyakiti Baekhyun.

Pria itu bangkit dari tidurnya. Meletakan bibirnya di samping perut buncit Baekhyun lalu menciumnya sekali.

"Hey superboy. Anak baik harus menuruti ucapan Daddy, Ok?"

Baekhyun tertawa seraya menatap wajah suaminya yang sedang berpura-pura marah.

"Berputar-putar boleh, tapi jangan menendang dengan keras. Deal?"

"Deal, Daddy!" Jawab Baekhyun dengan suara mencicit bak anak-anak.

Keduanya tersenyum saat tatapan saling bertemu. Buru-buru, Chanyeol menjemput bibir tipis itu dalam sebuah ciuman yang menyenangkan. Bermain-main dalam pagutan yang menuntut namun tetap terasa ringan.

Baekhyun tertawa disela cumbuan saat tangan besar itu merabai perutnya.

"Satu kali ya?" pinta Chanyeol sambil menciumi daun telinganya.

Berusaha membujuk si perut besar untuk memberikannya sarapan panas yang sudah jarang Chanyeol dapatkan. Mengingat perut itu semakin besar, jujur saja Chanyeol juga cukup dibuat segan untuk melakukannya.

Tapi bagaimana lagi? Baekhyun bernafas saja sudah terlihat sangat seksi.

Tiba-tiba, suami mungilnya itu melirik ke arah jam dinding di balik punggung Chanyeol.

Satu jam lagi, Chanyeol sudah harus berangkat ke kantornya. Itu berarti tidak bisa.

"Nanti malam saja. Ini saatnya kau bersiap-siap." Senyuman manis untuk sebuah penolakan dari Baekhyun teruntuk Chanyeol.

Masih belum cukup mengobati kekecewaan tentu saja. Chanyeol masih dalam usahanya.

"Satu saja, please?"

Tapi Baekhyun tetap menggeleng. Mencium sekali bibir cemberut itu lalu mendorong bahu Chanyeol untuk segera turun dan beranjak mandi.

Pagi yang sempurna bukan? Bagaimana setiap hari mereka selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dan lebih mendekatkan diri. Baekhyun bersyukur karena Chanyeol selalu bersikap sangat baik. Sangat lembut dan sangat pengertian.

Dia bahkan sempat heran bagaimana pria itu bisa sangat memperhatikan segala keinginannya, mengingat bagaimana buruknya pertemuan pertama mereka.

Perasaan bersalah mungkin?

Jika memang iya, itu sah-sah saja. Baekhyun tidak akan mempermasalahkan motif apa Chanyeol bersikap baik padanya. Lebih baik seperti itu. Daripada dia harus hidup di masa lalu dan terus mengingat bagaimana buruknya Chanyeol dulu.

Beeep Beeep

Ponsel milik Chanyeol menyala dengan sederet nomor asing yang belum tersimpan. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor asing dan Baekhyun samasekali tidak berniat untuk menjawabnya.

Lupakan saja. Nanti juga berhenti sendiri, pikirnya.

Beeep Beeep

Panggilan kedua datang lagi. Masih dengan nomor yang sama dan Baekhyun masih belum berniat menjawab.

Beeep Beeep

Panggilan ketiga datang. Masih dengan nomor yang sama namun kali ini, Baekhyun memantapkan diri untuk mengangkatnya.

Berpikir bahwa dia bisa sedikit saja bersikap layaknya asisten pribadi Chanyeol yang akan menyampaikan pesan. Tapi, ternyata si penelepon tidak sesederhana itu.

"KEPARAT KAU PARK CHANYEOL! KENAPA KAU JUGA MENGASINGKAN KELUARGAKU? AKU SUDAH MELAKUKAN SEMUA YANG KAU MINTA! AKU MENGAJAK BAEKHYUN BEKERJA DI CLUB SIWON DAN MENUTUP MULUT! BRENGSEK! KAU MELANGGAR KESEPAKATAN!"

Dalam kepalan tangannya, Baekhyun seperti ingin meremukkan ponsel itu. Baekhyun tentu saja tidak bodoh untuk sekedar tahu siapa laki-laki di ujung sambungan yang sedang menyumpahi suaminya.

"BAJINGAN JAWAB AKU! AKU BERSUMPAH KAU AKAN HABIS DI TANGANKU! AKU AKAN MEM-"

Tut Tut Tut

Sambungan tiba-tiba terputus. Bukan Baekhyun yang memutuskannya karena, berpikir saja dia belum mampu. Bibirnya juga masih kelu.

Baekhyun tahu siapa gerangan yang baru saja memaki Chanyeol. Mengutuk suaminya dan berkata bahwa dia yang sudah mengajak Baekhyun untuk bekerja di club Siwon dulu.

Dia adalah Minseok.

Pria lima tahun lebih tua darinya yang sudah Baekhyun anggap seperti hyung nya sendiri...

"Baekhyun?" suara berat itu menyapa.

Baekhyun berjingkat. Mendapati wajah mengkerut Chanyeol yang sudah segar setelah mandi itu ada di sampingnya.

"Kenapa melamun?" tanya Chanyeol. Baekhyun menggeleng.

"Aku akan mengambilkan baju."

Kalau boleh jujur, Baekhyun ingin berteriak. Dia ingin berteriak di depan wajah Chanyeol dan bertanya apa saja yang tidak dia ketahui. Tapi sekali lagi, Baekhyun itu tidak senekat Luhan.

Dia tidak memiliki keberanian sebesar itu. Yang bisa dia lakukan hanyalah memilih kemeja, celana katun dan dasi mana yang pas digunakan suaminya untuk bekerja.

Dengan tangan gemetaran dan tubuhnya yang masih tegang.

Beeep Beeep

Ponsel Chanyeol bergetar lagi. Membuat Baekhyun terdiam di depan lemari pakaian besar milik suaminya dalam rasa cemas.

"Ya, Sehun?"

Syukurlah, itu Sehun.

"Kerja bagus. Tetap monitor bagaimana perkembangannya."

Chanyeol mulai mengenakan setelan yang sudah Baekhyun siapkan. "Kita bicarakan lagi di kantor. Aku akan sampai dalam tiga puluh menit."

Sambungan ditutup. Selaras dengan rampungnya simpul dasi yang dipasangkan oleh tangan gugup Baekhyun.

"Aku berangkat dulu, Baby. Love you."

Chanyeol mencium bibir Baekhyun kilat, tak lupa juga meninggalkan satu untuk perut buncitnya.

"Love you, Superboy..."

e)(o

.

Menjelang sore hari, entah kenapa perutnya terasa sangat sakit.

Pikiran Baekhyun juga terus gelisah karena ucapan Minseok masih berputar-putar di kepala. Hari ini terasa sangat buruk. Baekhyun sampai bingung sendiri kenapa bayinya jadi sangat nakal dan terus berulah.

Dia merintih. Mencari ponselnya untuk mencari seseorang yang bisa dimintai bantuan.

Tapi, Baekhyun justru menemukan hal lain.

'You got a new e-mail from Jongdae Kim'

Baekhyun membukanya.

From: Jongdae Kim

To: me

Subject: BALAS PESANKU PLEASE!

AKU MEMBALASNYA!

Hey, Baek! Temanmu yang paling tampan ini akan terbang ke Amsterdam besok! Beruntung pukul enam sore ini aku ada waktu. Kabari saja dimana tempatnya! +404 98770090

Tapi sekarang sudah jam lima sore. Untuk bergerak saja Baekhyun sudah sangat kewalahan. Tapi, dia benar-benar harus berbicara dengan Jongdae. Baekhyun harus menemui lelaki itu.

Jemarinya bermain di layar ponselnya. Menekan angka dua dengan lama lalu terhubunglah dia kepada seseorang di ujung sambungan.

"Halo, Luhan?" Baekhyun menyeka butiran keringat di dahinya.

Membelai perutnya yang terasa sangat-sangat sakit tapi tidak tahu apa penyebabnya. Tidak tahu bagaimana mengatasi rasa sakit itu sendirian.

"Bisakah kau mengantarku ke suatu tempat?"

e)(o

.

Picasso adalah tempat yang tepat untuk bertemu.

Bookstore yang juga memiliki minicafe ini masih menjadi tujuan terakhir Baekhyun kala dia bosan. Bukan karena seleranya yang tidak menarik, tapi karena si manis Kyungsoo masih bekerja di sini.

"Baek, kau Ok?" tanya Kyungsoo tak sampai hati melihat betapa hebatnya lelaki itu berkeringat.

Wajahnya juga sangat pucat. Seperti yang sudah Luhan ucapkan berulang kali.

"Baekhyun, aku pikir kau sedang sangat sakit. Kita ke rumah sakit ya?"ajak Luhan.

"Tunggu sebentar lagi."

Baekhyun sudah memberitahu kepada Jongdae bahwa dia menunggunya di Picasso. Waktu juga sudah menunjukan pukul enam sore, Baekhyun yakin si teladan Jongdae itu tidak akan terlambat.

"Kau bisa menanyakannya lain kali. Atau, hubungi saja nomornya! Baekhyun, kau membuatku takut."

Luhan bersikeras menuntun tubuh gemetaran kakak iparnya untuk kembali ke mobil, tapi batu tetaplah batu. Baekhyun bersikeras untuk menunggu di saat Luhan bisa melihat bibir tipis itu mulai gemetaran.

"Persetan dengan temanmu! Kita akan ke rumah sakit sekarang!"

Menolak-pun akan percuma karena Luhan itu juga batu. Bedanya, sekarang Baekhyun sedang tidak memiliki tenaga untuk berargumen karena bayinya yang terus berulah. Kyungsoo sampai harus turun tangan buku mewarnai milik Baekhyun yang sempat tertinggal.

Meletakannya di pangkuan Baekhyun dan berucap bahwa dia akan segera menyusul sepulang kerja. Tapi Baekhyun seperti kehilangan energi. Dia hanya terus bernafas sambil merasakan seluruh pinggulnya yang serasa disobek.

Perih. Panas. Sakit yang tidak bisa diungkapkan. Dan gelisah.

Luhan masih mencoba menghubungi Chanyeol melalu ponselnya. Dengan tetap berkonsentrasi pada jalanan dan mari dengarkan rintihan kesakitan Baekhyun yang menusuk hati.

"Luhan..." panggilan lemah itu terdengar.

Baekhyun terlihat membuka sebuah halaman pada buku mewarnai miliknya, dengan foto Chanyeol terselip di sana. Foto yang dulu juga dia perlihatkan kepada Tao, yang seharusnya dia tunjukan kepada Jongdae sore ini.

Tapi bukan itu yang ingin Baekhyun tunjukan.

Di satu sudut pada kertas, terdapat banyak rangkaian angka yang hanya terdiri dari nol, satu, empat dan enam. Baekhyun menunjuk bagian itu dengan nafasnya yang sudah sangat berat.

"Pin kamar rahasia Chanyeol..."

e)(o

.

Chanyeol dan Sehun berlari dari ujung koridor dengan dikerubungi rasa panik.

Pasalnya, Luhan menelepon mereka berdua sampai seratus kali dan mengirim puluhan pesan berisi nama rumah sakit dimana Baekhyun akan segera melahirkan.

Aku ulangi, Baekhyun akan segera melahirkan.

Ketiganya sepakat untuk menutup mulut dan mendapati bahwa mondar-mandir adalah tindakan yang tepat. Sudah hampir satu jam Baekhyun ada di dalam sana. Bersama paramedis dengan segala usahanya untuk mendorong agar bayinya keluar.

Luhan beringsut turun. Meremas selembar kertas yang tadi dia sobek dari halaman buku mewarnai milik Baekhyun dengan gelisah.

Lalu, semua kepanikan akhirnya berakhir saat suara tangisan itu terdengar. Menggaung memenuhi kepala ketiga manusia yang sedang dilanda rasa takjub.

Dia sudah lahir ke dunia...

Seorang suster dengan sarung tangan berdarah menyapa dan mencari ayah si bayi. Chanyeol mengangguk di belakang sana, bergegas untuk memasuki ruangan yang sedang menyembunyikan Baekhyun juga bayinya.

Ini seperti surga.

Pikir Chanyeol untuk pertama kali, saat melihat Baekhyun yang terbaring dengan airmata dan si superboy yang diletakan di atas dada. Chanyeol seperti melangkah tanpa kaki. Mendekati suaminya untuk berjongkok di depan wajah berdarah bayi mereka.

Dia masih menangis. Dengan sangat kuat. Sampai kedua tangan kecilnya itu terkepal. Sampai kedua matanya itu menutup sangat rapat.

Baekhyun tersenyum hingga matanya membentuk lengkungan, membuat satu tetes turun mengalir di pipi.

Dia bersinar seperti malaikat.

Pikir Chanyeol untuk pertama kali, saat melihat wajah penuh syukur Baekhyun seolah tidak ada pengorbanan nyawa seperti yang baru saja terjadi.

Tiba-tiba saja, tangan kecil itu terbuka. Menempel pada pipi Chanyeol dan merabai permukaan itu. Merambati wajahnya dengan jemari kecilnya. Menyentuh hidung, pipi dan bibir Chanyeol hingga tangisannya hilang.

Superboy mereka membuka mata. Mendapati mata berkilau milik sang Daddy yang tersenyum sambil berbisik. "Hey, ini Daddy..."

Tangan kecil itu dengan sangat lemah menepuk pipi Daddy-nya. Seolah sedang menyapa.

"Dia menyukai Daddy-nya."

First touch bayi mereka boleh saja menjadi milik Baekhyun, tapi first love itu nyatanya jatuh kepada Chanyeol.

Dan begitu pula sebaliknya.

"Welcome home, Superboy..." ucap Chanyeol, lamat-lamat menatap bibir kemerahan bayinya yang mengkerut dengan gemas.

Dia tidak tahu. Chanyeol tidak paham tentang apa yang sudah bayi itu berikan padanya. Bagaimana mata bening itu terasa seperti obat yang menyembuhkan. Betapa sentuhan tangan itu nyatanya mampu mendamaikan hati.

Bayinya, datang seperti obat. Seperti penyembuh luka rasa. Bak ramuan termujarab yang Baekhyun berikan untuknya dengan pertaruhan nyawa.

Bayi mereka yang tidak ada bedanya dengan ribuan pedang dari surga.

Yang pada awalnya, hendak Chanyeol jadikan sebagai senjata.

Namun, justru membunuh dirinya sendiri dalam jatuh cinta.

Chanyeol membisikan ribuan maaf ke depan telinga suaminya. Mengabaikan pertanyaan kenapa dari bibir gemetar Baekhyun yang bukan main bingung.

"Aku akan menjaga kalian, sampai mati. Aku janji..."

e)(o

.

Setelah melihat kondisi Baekhyun dan keponakannya yang baik-baik saja, Luhan diam-diam kembali ke rumah sang kakak demi sesuatu.

Sambil membawa sobekan kertas itu, dia turun ke ruangan bawah tanah. Menyalakan lampu dan berdiri menghadap portal yang memintanya memasukan pin.

6401

Kombinasi pertama yang Luhan coba, tapi portal menyala merah. Percobaan pertama gagal.

1046

Kombinasi kedua yang hasilnya masih saja menyala merah. Membuat Luhan mendesah marah.

4061

Portal kembali menyala merah, dan hilanglah kesempatannya yang ketiga.

Luhan tahu betul jika dalam percobaan keempat dia masih memasukan kombinasi yang salah, maka portal otomatis mengirim notifikasi kepada Chanyeol. Memberitahukan bahwa seseorang sedang mencoba membobol kamarnya.

Dengan gemetaran, Luhan hendak mencoba lagi. Namun, sebuah suara menginterupsi.

"Kau sudah mencobanya tiga kali, Dear."

Itu Sehun. Yang diam-diam mengikuti kemana perginya sang kekasih juga terus mengamatinya sejak awal.

"Katakan saja kepada Chanyeol. Aku tidak takut." Luhan hendak memasukan beberapa angka lagi tapi Sehun mencegahnya.

Menarik tangan itu dan menatapnya dengan tegas.

"Aku akan membukakan pintu ini, tapi dengan satu syarat."

Sehun memasukan empat kombinasi angka. 6104 yang nyatanya membuat portal menyala hijau. Kembali mencegat kekasihnya yang hendak memasuki kamar rahasia itu dengan terburu.

"Apapun yang kau lihat nanti, jangan pernah membenci Chanyeol."

e)(o

.

Baekhyun merasa seperti terbang.

Dia tidak ingat apa yang terjadi setelah melihat bayinya yang dengan lahap meminum susu yang didapatkan Chanyeol dari bank ASI. Baekhyun hanya ingat bahwa suaminya itu pamit pulang demi mengambil baju ganti untuknya.

Tapi, kenapa sekarang tempat tidurnya terasa seperti bergerak?

Baekhyun membuka mata. Mendapati langit-langit rumah sakit yang melintas dan Luhan yang mendorong tempat tidurnya dengan dua suster lain.

Lelaki berdarah China itu melihat ke arahnya dan tersenyum.

"Kita akan memindahkanmu ke rumah sakit yang lebih bagus." Begitu kata Luhan.

Maka, Baekhyun sontak mencari dimana bayinya.

"Bubble ada di sampingmu." Ucap Luhan.

Dan memang benar, bahwa bayinya sedang berada di dalam gendongan Sehun. Juga berjalan di sampingnya dengan wajah tegang yang begitu kentara.

Entah akan membawa mereka berdua kemana.

.

.

To be continued


Bacod's:

Chapter depan 90% flashback ya!

Makasi udah ngingetin typo 'maksut' ke 'maksud'. Mungkin dari kalian ada yg punya kritik ato saran semisal, gaya bahasanya alay lah? ato cara penulisannya norak lah? Apa gimana lah? Please feel free to tell me, Ok?

Eh mau nanya, aku mumet mau manggil Baek pake sebutan apa. Is that Mommy? Papa? Appa? Ayah? Or Bapake? Karena kalian yang baca, senyamannya kalian gimana? Suara terbanyak yang tak pake. Thankyou!

Sweetest regards,

Presiousca