Title: Skylark's Days

Summary: Alaude dan Alfonso. Dua dunia yang berbeda. Dan telah digariskan untuk selalu berbeda.

Rate: T (for safe)

Disclaimer:

1. Sampai akhir dunia, Katekyo Hitman Reborn tetap milik Amano-sensei.

2. Brand-brand atau merek dagang yang tercantum di bawah ini bukan milik saya.

3. Lagu Con te Partiro bukan milik saya. Lagu itu milik Andrea Bocelli. Strongly recommended untuk mendengarkan lagu tersebut sambil membaca fic ini.

Pairing: Dino Cavallone X Kyouya Hibari plus Primo Cavallone X Alaude (tapi di chapter ini sepertinya lebih dominan CA)

Warning: Alternate Universe, OOC, OC, typo(s), Alternate Age, penuh kegalauan (yang lagi galau disarankan untuk tidak membaca chapter ini #slapped), DLDR!

nb: teks = past events


Chapter 6: Alfonso and Alaude – The Past

Università degli Studi di Roma La Sapienza, Rome, 5 Years Ago

Seorang pemuda melangkah memasuki gerbang utama Universitas Sapienza, merapatkan coat yang melindunginya dari angin musim semi yang masih berhembus dingin. Musim semi memang baru saja menyapa Italia, sehingga suhu masih cukup rendah. Rambut platinumblonde miliknya tertiup angin, seraya ia mempercepat langkahnya. Ia tak boleh tertinggal perkuliahan pagi ini. Mata biru es itu melirik arloji di pergelangan tangannya, lima belas menit lagi kuliah pertama akan dimulai.

Bersamaan dengan itu, telinganya menangkap suara motor sport di belakangnya. Tak menoleh sama sekali –lebih karena ia sudah bisa menebak siapa yang mengendarai motor itu–, ia memilih untuk mempercepat langkahnya. Ia tidak mau pagi ini rusak dengan kedatangan orang itu.

"Buongiorno, Alaude."

Terlambat.

"Apa yang kau inginkan? Jangan ganggu aku." Si pemuda platinumblonde, Alaude, mengernyit kesal. Ia terus berjalan, sementara orang yang baru saja menyapanya itu tetap mengikutinya dengan mengendarai motor sport Ducati dalam kecepatan rendah.

"Aku hanya ingin menyapamu, Alaude. Tidak boleh?" Si pengendara Ducati terus berusaha mengalihkan pandangan Alaude, meskipun ia tahu itu sia-sia.

"Tidak." Alaude menjawab dengan dingin, lalu melirik jam tangannya. Sial, 10 menit lagi. "Kau membuang waktuku, Alfonso Cavallone. Enyahlah."

"Alaude! Tunggu!" Si pemuda berambut raven, Alfonso, berseru berusaha menahan Alaude. Percuma, pemuda Perancis itu sudah menghilang dari pandangannya.

Alfonso menghela napasnya, pelan. Skylark yang satu ini memang selalu sulit untuk dikejar. Menyerah untuk pagi ini, ia lalu pergi menuju tempat parkir untuk selanjutnya melangkah menuju gedung fakultasnya.

Masih ada lain waktu untuk menikmati keindahan skylark-nya, ia hanya perlu mencari waktu yang tepat.


Interpol's Headquarter, Lyon, France

"Terima kasih atas laporannya, Agen Alaude."

Alaude terdiam, lalu menganggukkan kepalanya pelan. Atasannya masih membolak-balik laporannya, memeriksa apakah ada kesalahan pada laporan bawahannya itu. Nihil, ia lantas mengarahkan pandangannya pada pemuda di hadapannya.

"Kalau begitu, saya permisi, Sir." Alaude berdiri dari kursinya, memberi hormat pada sang atasan lalu berbalik untuk meninggalkan ruangan.

"Bagaimana kabar pemuda Cavallone itu, Alaude?" suara sang superior membuatnya membeku, lalu akhirnya menoleh. Menemukan mata atasannya yang bernama Ricardo itu memintanya untuk duduk kembali. Namun, Alaude jelas bukanlah orang yang mudah menuruti perintah orang lain.

"Pardon?"

"Alfonso Cavallone. Bagaimana kabar caporegime termuda Cavallone itu?" Ricardo menjawab dengan sabar, membiarkan pemuda itu mencerna penuh pertanyaannya.

"Saya meminta maaf atas kegagalan misi yang lalu, tetapi–"

"Ini tidak ada hubungannya dengan misi penyusupan yang lalu, tak perlu khawatir." Ricardo menatap Alaude dengan wajah rileks. "Nah, silakan duduk, Agen Alaude. Saya ingin membicarakan sesuatu."

Dengan terpaksa, Alaude harus kembali duduk di posisinya semula. Ia bungkam, menunggu apa yang akan dikatakan Ricardo padanya. Ricardo sendiri hanya menatapnya tanpa kata, membiarkan hening menguasai ruangan.

"Jadi," Ricardo –pada akhirnya– membuka pembicaraan, "sejauh apa kau mengetahui apapun tentang Cavallone?"

"Sir, saya kira Anda tadi berkata bahwa kita tidak akan membahas masalah itu." Alaude menatap bosnya sangsi.

"Anggap saja ini diskusi ringan. Saya tidak akan membahas misimu, saya hanya ingin mendengar pendapat agen terbaik Interpol mengenai keluarga mafia terbesar dan terkuat di dunia." Ricardo tersenyum, matanya teralihkan pada beberapa laporan yang menunggu untuk ia tandatangani sembari menunggu respon Alaude.

"Yang saya ketahui tentang Cavallone tidak lebih banyak dibandingkan dengan apa yang Anda tahu, Sir." Alaude menatap lurus emblem Interpol yang terpampang di dinding dibalik punggung Ricardo.

"Saya tidak yakin akan hal itu." Ricardo menopang dagunya, menatap mata sewarna es milik Alaude. Well, jangan salahkan ia kalau ia jadi memiliki intuisi yang lebih tajam ketika menjabat sebagai pimpinan Interpol. Menurutnya, nyaris tak mungkin pemuda di hadapannya ini tak mengetahui apa-apa tentang Cavallone. Menjalin hubungan khusus dengan salah satu anggota inti Famiglia Cavallone tentu membuat Alaude sedikit-banyak mengetahui aktivitas keluarga mafia itu.

"Anda tak akan mendapatkan informasi apapun dari saya jika ini perihal Famiglia Cavallone." Alaude berkata dengan tegas. "Jika tak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya permisi."

"Kalau begitu, setidaknya jawablah pertanyaan pertama saya tadi." Ricardo tersenyum simpul. Menuntut.

"He definitely will be in a good condition in my absence, Sir." Alaude bangkit dari kursinya. "Saya permisi."

Anggukan singkat Ricardo mengakhiri sesi interogasi singkat pagi itu. Ricardo melesakkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya yang empuk. Agen Alaude memang agen muda yang menjanjikan, namun di satu sisi terasa begitu sulit untuk menggerakkannya. Pion yang hanya dapat digunakan pada saat-saat tertentu, dan jika saatnya tepat, kemenangan mutlak ada di tangan.

Dan jika benar setiap orang memiliki kelemahannya masing-masing, maka mungkin bagi Alaude kelemahan terbesarnya adalah affair antara dirinya dan Alfonso Cavallone di masa lalu. Segala keindahan cinta yang terbentang dari Roma hingga Paris di utara, serta dari Roma hingga Palermo di selatan. Semua yang telah terjadi di antara mereka hanya pantas tersimpan jauh di dasar hati mereka, tanpa perlu seorang pun tahu.

Alaude dan Alfonso. Dua dunia yang berbeda. Dan telah digariskan untuk selalu berbeda.


Palermo, Italy

Pagi musim gugur menyapa Sisilia. Daun-daun jingga kecokelatan jatuh dari batang-batang pohon yang mulai meranggas, menyambut musim dingin yang akan tiba di bulan ini. Matahari bersinar lembut, menyapu langit dengan warna kemerahan. Pagi yang tenang di mansion utama Cavallone.

"Tuan Muda, palang-palang telah dipasang. Scuderia juga sudah disiapkan untuk sesi latihan pagi ini." Tangan kanan Dino, Romario, menghadap sang calon Don.

"Grazie, Romario. Dimana Kyouya?" Dino memakai sepatu boot kulit sembari mengunyah croissant yang menjadi menu sarapannya pagi ini. Pemuda itu lalu berdiri dan merapikan coat kulit hitam yang melekat di tubuhnya.

"Signore Hibari sedang sarapan di kamarnya, Tuan Muda. Seperti biasa." Romario menyerahkan sarung tangan kulit pada Dino, menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan hormat. Tuan mudanya telah tumbuh dengan baik, dan seragam equestrian yang dikenakannya membuat Dino tampak semakin gagah.

Sudah beberapa bulan berlalu pasca-penyusupan Alaude ke mansion utama Cavallone dan menghilangnya Hibari. Kejadian itu sempat membuat Dino panik, dan tak habis pikir bagaimana mungkin pemuda Perancis itu bisa menyusup ke dalam kediamannya tanpa mengundang kecurigaan. Hingga insiden itu berakhir dengan ditemukannya Hibari di kapel kecil milik Famiglia Cavallone dalam keadaan tak sadarkan diri malam itu. Dan semenjak itu, Dino menjadi lebih protektif pada Hibari dan memastikan pemuda Jepang itu selalu berada dalam jarak pandangnya.

"Sampaikan padanya aku akan mengunjunginya setelah sesi latihan ini selesai." Dino melangkah meninggalkan kamarnya, diikuti dengan Romario di belakangnya. Siluet yang luar biasa jika kau mengamati pemuda itu dari belakang. Siluet pemuda yang selalu berhasil menaklukkan hati ratusan –atau mungkin ribuan– gadis diluar sana.

"Baik, Tuan Muda."


Hibari sama sekali tak menyentuh sarapan paginya, ia lebih memilih meringkuk di ranjangnya yang besar sembari membiarkan laptopnya menyala.

Ia menyerah.

Semua ini membuatnya gila. Telepon genggamnya berdering semalam, dan sebuah kabar tak mengenakkan terpaksa ditelannya.

Bagaimana mungkin ia bisa melupakan deadline-nya musim semi depan? Bahkan ia belum memutuskan plot macam apa yang akan ditulisnya dalam novelnya kali ini.

DRRRT!

Tuhan... Siapa lagi yang menghubunginya pagi ini?

"Halo."

"Kyouya-bocchan."

Hibari terdiam. Sirna sudah semua kekhawatirannya. Bukan, bukan karena telepon ini membawa berita baik.

Justru karena telepon ini pasti akan membawa berita yang jauh lebih buruk.

"Ya. Ada apa, Kusakabe?" Hibari bangkit dari tidurnya, melangkah menuju balkon. Memastikan tak ada siapapun yang menguping pembicaraannya.

"Para Tetua telah mendengar kondisi Anda sekarang, Tuan Muda. Saya tak bisa menutupi hal ini lebih jauh. Saya mohon maaf."

Tepat. Bencana besar.

"Lalu, apa yang orang-orang tua itu katakan?" Hibari bersandar di pagar pembatas balkon, menghela napas frustasi.

"Anda diminta untuk segera pulang ke Namimori, Tuan Muda."

"Katakan pada mereka, ada sesuatu yang harus kuselesaikan terlebih dahulu. Katakan juga pada mereka, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Alaude sudah lebih dari cukup untuk mengingatkanku." Ah, ya. Sepupunya itu dalam beberapa hal jauh lebih mengerikan dibandingkan para tetua Klan Hibari.

"Haik, Bocchan. Saya akan sampaikan segera."

"Ada lagi yang perlu kau katakan, Kusakabe?"

"Tidak ada, Tuan Muda."

"Hm." Lalu Hibari memutus telepon secara sepihak. Meremas telepon genggam di tangannya, mata onyx itu menatap langit pagi yang lembut. Ia harus pulang, dan jika ini sudah melibatkan para tetua maka tak ada tawar-menawar.

Namun keluar dari mansion ini jauh lebih tidak mungkin.

Ia harus menunggu saat yang tepat. Ya, saat yang tepat untuk melupakan semuanya. Saat yang tepat untuk menghilang dari hidup Don muda itu untuk selamanya. Saat yang tepat untuk berhenti mencintai Dino Cavallone dan kembali pada realita.

Yang ia tidak tahu adalah, mungkin saat-saat itu tak akan pernah datang.


Gare du Nord, Paris, France

Alaude menarik kopernya menuruni TGV –kereta cepat milik Perancis– dan bergegas melangkahkan kakinya. Dua jam perjalanan dari Lyon memang waktu yang cukup singkat, namun Alaude sudah sangat lelah. Berminggu-minggu menjalani misi di Argentina dan tiba di Lyon pada dini hari telah menguras tenaganya, dan sesi interogasi terselubung dari bosnya tidak membuat segalanya jauh lebih baik.

Menyetop salah satu taksi, Alaude menyebutkan sebuah nama jalan. Ia lalu masuk ke dalam taksi, membiarkan supir taksi itu memasukkan kopernya ke bagasi mobil. Tak lama kemudian, taksi itu melaju meninggalkan Gare du Nord dan segala kesibukan di dalamnya.

Alaude mengalihkan pandangannya keluar jendela, menatapi setiap jengkal kota Paris. Kota ini akan tampak begitu indah di sore hari, saat petang tiba dan lampu-lampu kota mulai dinyalakan. Yeah, meskipun ini masih pagi dan pemandangan seperti itu belum tampak.

Alaude bersandar lelah, menghela napas frustasi. Terpaksa ditenggelamkan dalam pekerjaannya di Buenos Aires dan meninggalkan Paris demi mengejar raja kartel narkoba Amerika Selatan bukan hal yang menyenangkan untuk pemuda blasteran Perancis-Jepang ini.

Pulang ke Paris selalu memperbaiki mood-nya. Namun, ada satu tempat yang tabu untuk ia kunjungi.

Tepian sungai Seine. Champ-de-Mars. Menara Eiffel.


Eiffel, Paris, 4 years ago

Musim panas menyapa Paris, itu artinya libur panjang yang menyenangkan siap dimulai. Ribuan orang memadati Champ-de-Mars, baik yang sekadar duduk-duduk atau yang berniat mendaki Eiffel hingga puncaknya.

Alaude termasuk satu diantara ribuan pengunjung kompleks Eiffel hari itu. Dengan kemeja putih polos dan celana jeans, ia menenteng kamera SLR beserta sebuah lensa tambahan besar, berusaha mengabadikan beberapa titik di Champ-de-Mars. Sementara di punggungnya, ada sebuah ransel besar yang memuat alat-alat melukisnya. Kanvas beserta kakinya, cat minyak, palet, kuas, sketchbook, dan beberapa alat tulis. Inilah kegiatannya diluar kuliah, melukis dan memotret.

Mencari tempat yang nyaman dan view yang menarik, ia berkeliling di Champ-de-Mars selama 30 menit terakhir. Sontak langkahnya terhenti ketika tubuhnya menabrak sesuatu, tanpa sengaja karena ia terlalu asyik mengarahkan matanya ke setiap sudut Champ-de-Mars. Ia mendongak, menatap benda macam apa yang ia tabrak.

Sebuah teddy bear besar yang memegang puluhan balon di tangannya. Dan teddybear itu mengulurkan tangannya, menyodorkan sebuah balon berwarna biru lembut. Alaude, masih dalam keterkejutannya, menerima balon itu. Ia menganggukkan kepalanya pelan, lalu melanjutkan langkahnya.

Hingga tangan si teddybear itu memeluk tubuhnya dari belakang.

Dan tindakan itu dibayar dengan sebuah sikutan keras dari pemuda Perancis itu.

"Lepaskan aku." Alaude memberontak, mendaratkan sikutan-sikutan kasar pada si teddybear malang.

"Tunggu, tunggu! Jangan pukuli aku terus, Alaude!"

Akhirnya sang boneka besar bersuara juga. Suara yang sangat Alaude kenal, sepertinya.

"Siapa kau?" Alaude mengangkat kepala beruang besar yang menutupi kepala siapapun yang ada di balik kostum itu dengan lembut. Hingga akhirnya ia tahu siapa yang ada di balik kostum itu. "Cavallone?"

"Hei! Sudah kukatakan, jangan memanggilku dengan formal begitu!" Sang Cavallone, Alfonso, merengut tak setuju.

"Apa yang kau lakukan di Paris, dengan kostum bodoh macam itu?" Alaude mengernyitkan keningnya, menatap pemuda Italia di hadapannya dengan tatapan aneh.

"Sebelum itu, bisakah kau pegang balon-balon ini dulu? Ini merepotkanku." Alfonso tersenyum lebar, menyerahkan puluhan balon ke tangan Alaude.

"Kau tahu ini merepotkan, dan kau masih mau melakukannya?" Alaude menatap Alfonso risih, sementara pemuda itu mengambil sesuatu dari balik kostumnya. Sebuah tongkat dan sehelai sapu tangan. Ia lalu menutup tongkat itu dengan sapu tangan.

"Perhatikan aku, Alaude." Pemuda itu menggerak-gerakkan tangannya di sekeliling tongkat itu. "Abrakadabra!" Alfonso menarik sapu tangan itu, lalu seketika tongkat tadi berubah menjadi sebuah buket bunga yang cantik. Sementara itu, orang-orang di sekeliling mereka bertepuk tangan. Tanpa mereka sadari, sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian puluhan orang yang mengerubungi mereka.

"Lalu?" Alaude menimpali, dingin.

Namun, perkataan dingin itu dibalas dengan senyuman hangat dari si pemuda Italia. Ia berlutut di hadapan Alaude, dengan buket bunga di tangannya. Menatap mata es Alaude dengan hazel-nya tanpa ragu.

"Alaude, jadilah kekasihku."

Alaude terdiam, terpaku. Hening.

"Ya."

Dan yang ia tahu selanjutnya adalah lepasnya puluhan balon dari genggamannya ke langit Paris yang cerah, Alfonso yang mengangkat tubuhnya (beserta ransel berat dan kamera besar, tentu saja) lalu berputar-putar kegirangan, dan suara riuh tepuk tangan dari ratusan orang di Champ-de-Mars.

Ia bahagia.


Palermo, Italy

Suara derap langkah kuda memecah keheningan pagi itu. Seekor kuda putih tampak ditunggangi seorang pemuda berambut blonde, sekalipun rambut itu kini tertutupi helm berkuda warna hitam. Melompati palang-palang tinggi dengan mulus, lalu kembali memacu kuda yang ia beri nama Scuderia itu dengan cepat.

"Tuan Muda!" sebuah suara menghentikan pemuda itu dari memacu kudanya, menatap kearah sumber suara.

"Ada apa, Romario?" Si pemuda penunggang kuda, Dino, mengarahkan kudanya untuk berjalan mendekati subordinatnya.

"Ada masalah di Roma, Tuan Muda. Anda diminta untuk pergi ke Roma segera." Romario berkata dengan cepat, mengirimkan kepanikan dan kebingungan pada Dino.

"Bagaimana dengan Padre? Bukannya Padre yang mengurus masalah di Roma?" Dino turun dari kudanya, menimbulkan suara derap sepatu boot di lapangan equestrian pribadi Cavallone. Pemuda itu lalu menuntun Scuderia kembali ke kandangnya.

"Boss harus segera pergi ke Moskow hari ini, jadi masalah ini dilimpahkan pada Anda." Romario mengikuti langkah Dino menuju kandang, masih menjelaskan kondisi terkini pada tuan mudanya.

"Baiklah, siapkan saja semua yang kubutuhkan. Kita berangkat setelah makan siang." Dino mengarahkan pandangannya pada Scuderia, mengelus surai keemasan dari kuda kesayangannya itu. "Terima kasih untuk latihan hari ini, Kawan."

Tugas sebagai calon Don telah menantinya.


Alfonso duduk terpaku, dengan grand piano hitam berada tepat di hadapannya. Pemuda 26 tahun itu hanya terdiam selama 15 menit sejak ia memasuki kamarnya, memandangi piano dengan tatapan kosong.

"Al?"

Alfonso menoleh, mengarahkan matanya menuju pintu. Menemukan sesosok wanita paruh baya tersenyum lembut kepadanya. Sang Signora Cavallone.

"Buon giorno, Madre." Alfonso tersenyum lembut, berjalan kearah orang yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri. "Ayo masuk, Madre."

Senyum lembut menghias wajah wanita itu, seraya melangkahkan kakinya menuju kamar sang caporegime termuda Cavallone.

"Kalau kau sudah terdiam di hadapan pianomu tanpa melakukan apapun, itu berarti ada masalah. Ada yang mengganggu pikiranmu, anakku?" Mata musim gugur Madre-nya itu menatap mata hazel Alfonso, menelisik. Alfonso tertawa, canggung.

"Madre memang orang yang paling memahamiku." Senyum Alfonso merekah, pemuda itu lalu kembali duduk di hadapan grand piano kesayangannya.

"Bukan hanya aku yang sangat memahamimu. Alaude juga sangat memahamimu, anakku." Sang Signora mengelus surai raven Alfonso lembut, sementara sang putra terdiam.

"Madre, itu masa lalu. Dan Alaude tak memahamiku." Alfonso tersenyum, setelah menghela napasnya pelan.

"Alaude meninggalkanmu, justru adalah satu tindakan yang menggambarkan bahwa ia mengerti dirimu." Merangkul pundak Alfonso yang tegap, ia tersenyum.

"Kalau ia mengerti aku, ia tak akan meninggalkanku, Madre. Aku mencintainya, seharusnya ia juga memahami itu." Alfonso berkata pelan, meletakkan jemarinya di atas tuts dan mulai memainkan sebuah lagu. Signora Cavallone terdiam sebentar, menebak lagu apa yang dimainkan putranya. Ia bermaksud turut menyanyi bersama Alfonso, seperti biasanya.

Memang, sebelum menikah dengan Cavallone Nono, beliau adalah seorang penyanyi seriosa yang terkenal di daratan Eropa. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan dunia yang membesarkan namanya dan mengabdi sepenuhnya pada sang suami dan Famiglia Cavallone. Dan ia akhirnya menangkap lagu apa yang dimainkan putranya, dan turut bernyanyi.

"Time to say goodbye,

Paesi che no ho mai

Veduto e vissuto con te

Adesso si li vivro

Con te partiro

Su navi per mari

Che io lo so

No no non essistono piu,

It's time to say goodbye"

Con te Partiro. Saat untuk mengucapkan selamat tinggal. Pada masa lalunya, pada sosok pemuda Perancis yang menguras seluruh emosi dan rasa cintanya. Pada Alaude.

"Madre yakin, suatu hari ia akan kembali padamu." Senyum sang ibu merekah, menghentikan lagu yang dimainkan Alfonso. "Seperti burung yang kembali ke sangkarnya, seperti sungai yang kembali ke pelukan samudera." Lengan hangat sang ibu memeluk pundak putranya lembut, mengarahkan pandangan Alfonso pada sosok bundanya. "Karena sejauh apapun awan pergi, ia tak akan pernah meninggalkan langitnya."

"Madre..."

"Percaya padanya, maka ia akan kembali padamu."

Dan Alfonso memilih untuk percaya pada ucapan bundanya.


Paris, France

Alaude melesakkan tubuhnya pada sofa di apartemennya, setelah meletakkan kopernya di samping sofa. Ia lelah, namun ia masih harus melakukan banyak hal. Mengerjakan beberapa laporan, lalu menghubungi beberapa orang yang ia kepalai dan sedang menjalani beberapa misi di berbagai penjuru dunia.

Lalu mengerjakan lukisan yang belum selesai.

Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan, ruangan lukis yang memiliki sebuah jendela besar –lebih tepatnya salah satu dindingnya berupa kaca– yang tepat mengarah ke tengah kota Paris. Ia melepaskan sehelai kain putih yang menutup sebuah kanvas besar, lalu ia menatap dalam-dalam kanvas itu.

Lukisan Taman Champ-de-Mars. Lukisan yang tak pernah selesai sejak 2 tahun lalu.

Banyak kolektor yang tertarik dengan lukisan itu, sekalipun lukisan itu belum selesai. Mereka menemukan banyak cinta pada lukisan itu, begitu katanya. Dan mereka berani membayar berapapun demi lukisan itu.

Namun, mereka tak tahu kalau sang pelukis mengerjakannya dalam keadaan terburuk sepanjang hidupnya.

Alaude terdiam, mengingat bagaimana ia melukis taman itu dengan hati yang tak nyaman –kalau kau tak mau mengatakan bahwa hatinya remuk. Ia memulaskan berbagai warna yang bahkan tak sesuai dengan perasaannya kala itu. Anak sekolah dasar sekalipun pasti mengerti bahwa lukisan itu sangat ceria. Langit yang biru, Eiffel, Paris di musim panas yang menyenangkan, puluhan balon yang lepas ke angkasa.

Alaude bahkan tak bahagia saat melukiskannya.

Ia menyentuh kanvas itu dengan jemarinya, menutup matanya. Ia ingat bagaimana kejadian yang ia lukiskan itu, bagaimana cintanya berakhir, dan bagaimana ia bisa memutuskan untuk mengabadikannya di atas kanvas.

Ia juga ingat kalau ia berkata bahwa ia tak akan menjual lukisan ini pada semua kolektor yang berniat menawarnya. Yang berakhir dengan kekecewaan para kolektor yang berharap bisa memiliki karya yang sangat-tidak-Alaude ini. Karya pemuda itu tak pernah seberwarna ini, dan mereka berpikir bahwa mungkin ini adalah pertama dan terakhir kalinya Alaude akan melukiskan suasana seperti itu. Dan itu artinya mereka harus memiliki karya ini.

DRRRT!

Alaude tersadar dari lamunannya, lalu merogoh saku coat-nya dan mengambil telepon genggamnya. Ricardo meneleponnya.

"Ya, Sir?" Alaude berbicara setelah mengangkat panggilan itu.

"Alaude, ada berita buruk untukmu."

"Ada apa?" Alaude mengerutkan keningnya, mulai merasakan ketidaknyamanan pada cara bicara atasannya.

"Ingat kalau Interpol sedang menyelidiki pergolakan pada seluruh organisasi mafia dunia yang disebabkan oknum yang belum diketahui jelas siapa?"

"Ya, saya mengingatnya. Lalu?" Alaude masih belum menangkap arah pembicaraan sang superior.

"Agen yang bertugas untuk menyelidiki kasus ini baru saja kembali, dan ia berkata kalau ada sebuah organisasi yang berniat melakukan penyerangan dan perang terbuka dengan mafia. Dan target utama organisasi itu adalah Famiglia Cavallone."

Alaude terdiam. Perang terbuka, itu artinya akan banyak korban berjatuhan, baik dari pihak organisasi itu, mafia, sipil, ataupun dari pihak aparat seperti dirinya.

Famiglia Cavallone.

Alfonso.

"Saya akan kembali ke markas sore ini, Sir." Alaude berkata setelah beberapa saat hening.

"Baiklah. Aku menunggu."

Lalu telepon terputus.

Alaude meremas telepon genggamnya, otaknya buntu. Ini buruk. Sangat.


Rome, Italy, 2 Years Ago

"Lebih baik hubungan ini kita akhiri." Alaude tertunduk, menghindari tatapan tak percaya pemuda di hadapannya.

"Apa maksudmu, Alaude?!" Alfonso memukulkan kepalan tangannya pada tembok di belakang tubuh Alaude. Ia memang baru saja memojokkan pemuda itu ke tembok, berusaha untuk menyadarkan Alaude dari korslet yang mungkin saja terjadi pada pikiran pemuda Perancis itu.

"Kita tidak mungkin melanjutkan hubungan ini, Alfonso Cavallone!" mata sewarna es itu menantang hazel di hadapannya. "Dunia kita berbeda, dan selamanya akan berbeda. Kau harus mengerti!"

"Tidak, kau yang harus mengerti!" Alfonso balik menantang pemuda di hadapannya. "Kematian orang tuaku tak ada hubungannya dengan dirimu, kau tak perlu merasa bersalah atau merasa bertanggungjawab."

"Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan hal seperti itu, dasar bodoh!" Jari-jari Alaude mencengkeram kerah Alfonso kuat-kuat. "Yang membunuh mereka itu ayahku! AYAHKU, ALFONSO!"

"Itu dia poinnya, bukan kau yang membunuhnya!" Alfonso mengguncangkan tubuh Alaude, melakukan apapun agar pemuda di hadapannya tersadar. "Lagipula, ayahmu akhirnya turut tewas bersama orang tuaku."

"Dengarkan aku, Cavallone." Ah, panggilan Cavallone itu. Bukan lagi Alfonso. "Aku telah menerima titah dari Paris untuk segera mengisi posisi kepala keluarga dan segera menghubungi Interpol untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan kepala keluarga sebelumnya. Dan itu artinya..."

"...kau adalah musuhku. Famiglia Cavallone adalah musuh Interpol, dan itu menjadikan Famiglia Cavallone musuhku."

Hening lalu menguasai udara. Dua pemuda itu membiarkan berbagai pikiran berkecamuk di benak mereka. Hingga akhirnya Alfonso membuka suara.

"Kita selesai?"

"Kita selesai." Alaude tersenyum, miris. Ia melepaskan cengkeraman di kerah Alfonso. "Kau tahu letak pintu keluar. Silakan keluar dari apartemenku."

Alfonso melepaskan tangannya dari pundak Alaude. Ia balas tersenyum miris.

"Arrivederci, Alaude."

Hingga pintu apartemennya tertutup, Alaude masih mematung di tempatnya. Hingga tanpa sadar, ia melangkah menuju sebuah kanvas kosong di sudut ruangan lalu duduk di hadapannya. Ia, secara brutal, mengambil kuas, palet, dan mencampurkan cat-cat. Ia lalu melukiskan Champ-de-Mars, momen saat ia menerima cinta si pemuda Italia. Beberapa saat kemudian, sungai-sungai kecil mulai terbentuk di pipinya.

Selesai sudah. Tak ada lagi cinta dalam hidup mereka. Alaude dan Alfonso melangkah pada jalan yang berbeda mulai saat itu.


Palermo, Italy

"Kau belum menyentuh sarapanmu?"

Hibari mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang menginterupsi jalan pikirannya.

"Aku sedang tak ingin makan." Hibari menjawab sekenanya ketika melihat siapa yang menyambanginya, Dino.

"Kau bisa sakit kalau kau tak makan." Dino melangkahkan kakinya menuju Hibari yang duduk dibalik meja kerja dengan laptop di hadapannya. "Apa yang sedang kau lakukan memangnya?"

"Bukan urusanmu, Cavallone." Hibari kembali mengetik, namun akhirnya berhenti ketika ia menyadari bahwa Dino berada tepat di seberang meja.

Dan dengan tidak-tahu-malu-nya menutup laptop Hibari, bahkan tanpa membiarkan Hibari menyimpan dokumennya terlebih dahulu.

"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh?!" Hibari meledak, lalu dengan segera menyalakan kembali laptopnya. Sementara Dino mengernyit heran melihat perubahan drastis pada reaksi Hibari hanya karena masalah sepele.

Oh, seandainya Dino tahu bahwa itu adalah masalah yang sangat krusial bagi Hibari.

"Setidaknya makanlah dulu sebelum mulai mengerjakan sesuatu, Kyouya." Dino masih bersikeras dengan pendapatnya. Seandainya Dino mengerti bahwa ide itu tak mengenal waktu dan tempat untuk singgah di otak seorang penulis.

Hibari tak menggubris perkataan Dino, dan memilih untuk memeriksa dokumennya.

Dan menemukan bahwa data miliknya masih bertahan.

Hibari menghela napas lega, datanya masih bisa diselamatkan. Karena kalau tidak, ia bersumpah tak akan membiarkan Dino keluar kamarnya dalam keadaan selamat.

"Apa sih yang sedang kau kerjakan?" Dino berjalan ke samping Hibari, melihat dokumen apa yang sanggup membuat pemuda itu sangat panik.

Hingga akhirnya ia melihat dokumen bernama The Sequel of "In The Sky" terbuka di laptop Hibari.

Dino jatuh diam.

Hibari sendiri turut terdiam. Menyadari bahwa pemuda Italia itu –yang notabene mengaku sebagai fansnya– akhirnya mengetahui siapa sebenarnya penulis favoritnya.

Dan akhirnya membuat ia sadar bahwa selama ini Nuvola ada tepat di depan hidungnya.

"Kyouya... kau sebenarnya... Nuvola...?"

Hibari terdiam, hingga akhirnya mengangguk pelan.

"Ya, aku Nuvola. Kau menyukai karya-karyaku?"

Dino terdiam, hingga akhirnya ia berlari keluar kamar Hibari, terjatuh di depan pintu, lalu menghilang. Dan kembali sembari berlari membawa beberapa jilid novel karangan Nuvola dan sebuah pulpen.

Lalu berlutut di hadapan Hibari yang masih kebingungan, sembari menyodorkan benda-benda tadi pada pemuda Jepang itu.

"Aku fans beratmu, Nuvola! Tolong tandatangani novel-novel ini!"


Dino tersenyum lebar, memandangi novel-novel yang ia koleksi telah ditandatangani oleh penulisnya secara langsung. Sementara itu, Hibari terdiam dengan wajah merona. Jujur saja, selama ini ia selalu menyembunyikan identitasnya sehingga tak pernah ada yang tahu siapa sebenarnya Nuvola. Jadi ini adalah pengalaman pertamanya memberikan tanda tangan pada seorang fans.

"Aku tak tahu kalau kau Nuvola, Kyouya!" Dino berkata dengan sangat antusias, melihat kearah Hibari yang masih terdiam menahan malu.

"Bisakah kita tak membahas masalah ini?" Hibari melesakkan tubuhnya pada kursi kerjanya, melipat tangannya.

"Jadi ini yang kau katakan ketertarikan lain itu?" Dino mengingat saat Hibari mengatakan kalau ia tak tertarik memimpin Klan Hibari karena ia memiliki ketertarikan lain. Ternyata selama ini Hibari menulis novel-novel yang selalu ia puja.

"Ya, seperti yang kau lihat. Aku selama ini menulis, dan aku tak tertarik untuk menjadi pewaris klan." Hibari menatap laptop yang menyala di hadapannya, membiarkan Dino terus-menerus memandangi tanda tangannya di halaman pertama novel-novelnya.

"Lalu, kapan kau akan menerbitkan sekuel In The Sky?" Dino mendongak, melihat Hibari yang tampak tenggelam dengan pikirannya sendiri.

"Deadline-nya sendiri musim semi ini, mungkin akan terbit di musim panas." Hibari menatap Dino sengit. "Dan tadi kau nyaris menghilangkan dokumenku, Kuda Bodoh."

"M...Maafkan aku!" Dino dengan segera merasa bersalah. "Ah, aku lupa harus mengatakan sesuatu padamu."

Hibari mengangkat alisnya, merasakan nada bicara Dino yang mulai serius.

"Masalah yang kita alami di Roma akan menjadi masalah besar." Dino membiarkan Hibari tenggelam dalam pikirannya sejenak, lalu melanjutkan. "Setelah makan siang, aku akan segera pergi ke Roma untuk menyelesaikan masalah ini. Sebisa mungkin, jangan keluar dari mansion. Cavallone akan ada dalam kondisi siaga selama aku dan Padre pergi."

"Aku akan ikut denganmu." Hibari melihat Dino yang menatapnya dengan pandangan bertanya. "Ada beberapa hal yang harus kuurus di Roma. Aku butuh beberapa bahan untuk tugasku, lalu menghubungi dosen. Aku juga harus melapor pada Kedutaan Besar."

"Baiklah, tapi kau tak akan bisa pergi kemanapun di Roma selama aku tak mendampingimu. Ini demi keamananmu, bagaimana?" Dino membiarkan Hibari memikirkan tawarannya, sebelum akhirnya pemuda itu mengangguk.

"Aku mengerti."

"Baiklah, kita akan berangkat setelah makan siang." Dino bangkit dari tempat duduknya. "Aku harus bersiap-siap, kau juga. Ah, iya. Terima kasih tanda tangannya, Nuvola!"

"Sudah kukatakan, jangan bahas hal itu."

"Hahaha, baik, baik! Aku menunggumu di ruang makan."


Interpol's Headquarter, Lyon, France

Alaude berjalan dengan tergesa menuju ruangan Kepala Interpol, Ricardo. Berbagai pikiran dan sugesti berkelebat di dalam otaknya, membuatnya sesak dan buntu. Telepon dari Ricardo tadi pagi membuyarkan semua rasa lelah yang ia punya, lalu memaksa tubuhnya untuk terus bekerja. Beberapa anggota Interpol memandanginya heran, melihat Alaude berjalan setengah berlari begini adalah sebuah keanehan untuk mereka. Biasanya, Alaude selalu bisa menjaga ketenangannya dalam kondisi apapun.

Perang terbuka. Mafia. Famiglia Cavallone.

Alfonso.

Semua itu terus bergumul di dalam pikirannya, hingga ia tak mampu lagi menahan diri. Siang ini, dengan segera ia pergi ke stasiun Gare du Nord dan memesan tiket kereta menuju Lyon. Ia berhasil mendapatkan tiket keberangkatan sore hari, sesuai rencana. Dan kini, ia kembali ke markas Interpol. Itu artinya, ia membatalkan cuti selama seminggu yang ia ajukan.

"Permisi, Sir." Ia mengetuk pintu menuju ruang atasannya itu, berusaha terlihat setenang mungkin.

"Silakan masuk."

Alaude masuk ke ruangan Ricardo, menghadapi sang atasan yang menatapnya dengan tatapan khawatir, gusar, dan bingung.

"Silakan duduk, Agen Alaude." Ricardo tersenyum, berusaha tampak rileks. Alaude lantas duduk dan menatap atasannya dengan tatapan bertanya.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Sir?" Alaude melihat Ricardo dengan mata biru es miliknya, menangkap Ricardo menghela napas.

"Masalah besar, Alaude. Itu yang akan terjadi di Italia, terutama Sisilia. Setidaknya itu yang dikatakan oleh hasil penyelidikan Interpol." Ricardo menyodorkan sebuah laporan pada Alaude. "Bacalah."

Alaude membaca laporan itu dalam diam, menciptakan keadaan hening yang mencekam. Ricardo bisa menangkap perubahan pada raut wajah pemuda Perancis itu. Tentu saja, laporan itu adalah mimpi buruk.

Rencana penyerangan ke markas-markas mafia di seluruh dunia. Hongkong, Shanghai, Jepang, Irlandia, Rusia, Amerika, Asia Tenggara.

Italia.

Siapapun yang merencanakan penyerangan ini pasti berniat memulai perang dunia, karena seluruh target tersebar di seluruh dunia. Kalau organisasi ini tidak sangat besar dan sangat berani, berarti organisasi ini sangat gila. Kekuatan sebesar apa yang mereka miliki hingga merasa mampu untuk menundukkan dunia hitam di seluruh dunia? Alaude tak bisa membayangkannya.

"Apa data ini bisa dipertanggungjawabkan?" Alaude menatap Ricardo tak percaya.

"Tim yang menyelidiki kasus ini adalah tim terbaik yang Interpol miliki, langsung di bawah kepemimpinan saya. Saya bisa menjamin kebenarannya." Ricardo menopang dagunya, menatap Alaude yang terus membaca laporan itu seperti kesetanan.

"Apa Interpol di negara-negara target telah dihubungi?" Alaude terus membaca hingga akhir laporan. Rencana perang besar-besaran, penaklukan keluarga-keluarga mafia terbesar di dunia, semua itu membuatnya tercengang.

"Interpol telah menghubungi mereka, dan mereka telah diperintahkan untuk siaga penuh dan mengamati kondisi. Agen-agen Interpol telah diterjunkan, saya sendiri akan memantau dan turun tangan secara langsung."

"Bagaimana dengan Europol? Beberapa tempat target ada di Eropa."

"Kami sudah menghubungi Den Haag tadi siang, dan mereka sudah mulai bergerak."

"Bagaimana dengan Dewan Keamanan PBB?"

"Mereka telah diberitahu, semua mulai bersiaga."

"Bagaimana dengan Palang Merah Internasional? Tak menutup kemungkinan akan banyak korban sipil berjatuhan."

"Hah?"

"Bagaimana dengan–"

"Bagaimana dengan dirimu sendiri, Alaude?" Ricardo memotong pertanyaan Alaude, menatap bawahannya itu. "Semua penyerangan yang mereka lakukan akan berpusat di Palermo. Tinggal menunggu waktu hingga seluruh Sisilia berubah menjadi medan perang. Kalau kita salah langkah, seluruh Italia akan merasakan Perang Mafia Ketiga mereka."

Alaude terdiam. Wajahnya pucat pasi.

"Famiglia Cavallone akan menjadi target utama mereka. Cavallone adalah keluarga mafia terkuat di dunia, kita semua tahu itu. Tapi kita tak tahu seberapa kuat musuh kita. Tak menutup kemungkinan kalau Cavallone bisa runtuh dalam insiden ini."

"Bukankah itu yang Interpol inginkan?" Alaude angkat bicara, meskipun suaranya tak sekeras biasanya.

"Tapi apakah itu yang kau inginkan?" Ricardo membalikkan pertanyaan pada Alaude. Membuat agen terbaik Interpol itu kembali terdiam.

Lalu ruangan Ricardo hening sejenak.

"Saya akan menugaskanmu ke Palermo. Selidiki apapun tentang masalah ini, dan awasi markas utama Cavallone. Laporkan apapun yang terjadi di sana pada Interpol, pastikan kau tak kehilangan kontak dengan markas. Kau boleh bertindak secara bebas, selama itu diperlukan. Hubungi kami kalau keadaan semakin memburuk, kami akan segera mengirimkan bantuan." Ricardo tersenyum, menemukan Alaude menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Berangkatlah esok pagi ke Palermo. Saya menyerahkan Palermo padamu, Agen Alaude."

"Yes, Sir."


Palermo, Italy, 2 Years Ago

"Apa kau yakin dengan keputusanmu menjadi Capodecina Cavallone, Alfonso?" Cavallone Nono menatap keponakannya dengan tatapan bingung. Apakah pemuda ini yakin rela melepas mimpinya untuk menjadi teknisi pesawat terbang dan terjun ke dunia mafia?

"Aku yakin, Zio." Alfonso tersenyum lembut. "Aku berharap suatu hari bisa menggantikan posisi Padre di Famiglia Cavallone, sebagai Capo Bastone untuk mendampingi Dino yang akan menjadi Don Cavallone."

"Fratello..." Dino menatap kakak sepupunya itu dengan sedih.

"Hei, sudah kubilang jangan memanggilku Fratello, Dino. Panggil aku Alfonso." Alfonso tersenyum pada calon Don kesepuluh itu.

"Jangan memaksakan dirimu, Al. Famiglia Cavallone masih berkabung atas perginya orang tuamu. Kau tak perlu secepat ini mengambil keputusan." Cavallone Nono merangkul Alfonso lembut, sementara Dino dan Signora Cavallone memandang pemuda itu penuh rasa khawatir.

"Aku tak apa-apa, Zio. Zio tak perlu khawatir." Senyum lemah merekah di bibir Alfonso.

"Apakah ini karena masalahmu dengan Alaude, Al?" Signora Cavallone memandangi keponakan iparnya dengan mata musim gugurnya, sementara Alfonso tertawa dipaksakan.

"Mana mungkin ini semua berhubungan dengan Alaude, Zia?" Alfonso tertawa, menertawai dirinya sendiri lebih tepatnya. Semua yang bibinya katakan memang tepat, Alaude mengubah dirinya. Tapi kini, ia akan melawan pemuda Perancis itu semampu yang ia bisa. Demi lari dari rasa cinta yang masih tersisa untuk pemuda itu.

"Kalau itu keputusanmu, pengangkatanmu sebagai Capodecina akan dilaksanakan secepatnya. Kau boleh memilih timmu segera, dan laporkan padaku dan Consigliere." Cavallone Nono menepuk lembut kepala Alfonso. "Oh, ya. Jangan memanggil kami dengan Zio dan Zia lagi. Panggillah kami dengan Padre dan Madre. Kami mungkin tak bisa menggantikan orang tuamu, tapi kami akan menjadi keluargamu yang baru."

Alfonso terdiam, lalu tersenyum bahagia. Ternyata benar, dibalik semua kesulitan, ada kebahagiaan yang menantinya.

"Baik, Padre, Madre."


Interpol's Headquarter, Lyon, 2 Years Ago

"Selamat bergabung dengan Interpol, Agen Alaude." Ricardo menjabat tangan Alaude, sementara Alaude hanya mengangguk.

"Terima kasih, Sir." Alaude menjawab dengan nada hormat.

"Saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya ayahmu. Beliau adalah agen yang sangat berdedikasi pada Interpol." Ricardo tersenyum canggung, pemuda di hadapannya ini terlalu datar sehingga ia bingung harus bersikap seperti apa.

"Atas nama keluarga, saya mengucapkan terima kasih." Alaude kembali menjawab dengan datar, mengirimkan gelombang kecanggungan pada semua anggota Interpol yang hadir.

"Ini kartumu, dan ini kunci ruanganmu. Kau adalah salah satu agen termuda kami, kami menaruh harapan padamu." Ricardo menyerahkan beberapa barang pada Alaude, sebelum akhirnya acara selesai dan Alaude pergi ke ruangannya.

Mulai hari ini, ia menjadi salah satu agen Interpol. Sekaligus menjadi kepala keluarga menggantikan ayahnya yang telah tiada. Ia merasakan pundaknya seperti dibebani banyak hal sekaligus, dan ia terpaksa berjalan terseok-seok.

Alaude akhirnya tiba di depan pintu yang memiliki papan bertuliskan namanya. Ia memasukkan kunci dan membuka pintu ruangan itu, ruangan yang cukup luas dan minimalis. Cukup nyaman sebagai ruangan kerja. Ia melangkahkan kakinya menuju jendela, menikmati pagi di kota Lyon yang tenang.

Pikirannya melayang, mengingat semua yang telah terjadi hingga membawanya menuju kantor ini. Memikirkan betapa dunianya telah berubah.

Memikirkan bahwa kini ia telah menjadi musuh Famiglia Cavallone. Menjadi musuh Alfonso. Alfonso mungkin membencinya sekarang, tapi ia rasa itu lebih baik. Dibandingkan harus saling menyiksa diri dengan rasa cinta yang abstrak dan tak berpangkal-berujung.

Senyum sedih mengembang di bibir Alaude. Ia sendirian sekarang. Dan ia bahagia.

Atau setidaknya itu yang coba ia camkan pada hatinya.


Paris, France

Alaude menyetop taksi di depan apartemennya, lalu menyebutkan tujuannya pagi itu, Bandara Charles de Gaulle. Koper dan tiket menuju Palermo telah ada di tangannya, siap membawanya menuju ibukota para mafia itu. Ia melesakkan tubuhnya pada jok taksi, lalu membiarkan taksi membawanya menuju bandara.

Hingga akhirnya sebuah bangunan membuatnya menghentikan taksinya.

Ia lalu membayar taksi itu, sekalipun ia belum sampai ke tujuannya. Ia melihat arlojinya, ia masih punya waktu beberapa jam sebelum pesawat lepas landas. Alaude lalu melangkahkan kakinya menuju bangunan tersebut.

Cathédrale Notre-Dame de Paris.

Bangunan bergaya French-Gothic itu menarik matanya, lalu kini membuatnya melangkah memasukinya. Masih dengan menarik koper, ia lalu duduk di salah satu kursi jemaat di dalam katedral terbesar di Paris itu. Tangannya mencari rosario di balik coat panjangnya. Ia lalu menggenggamnya, dan memejamkan mata.

"Ave Maria, gratia plena,

Dominus tecum,

benedicta tu in mulieribus,

et benedictus fructus ventris tui, Jesus.

Sancta Maria, Mater Dei,

ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in hora mortis nostrae.

Amen"

Ia merapal Ave Maria beberapa kali, hingga akhirnya membuka mata dan mencium rosario perak di genggamannya. Ia lalu berdiri dan berjalan kembali meninggalkan gereja.

Karena Palermo telah menantinya.


Author's Note:

Baiklah, disini konfliknya mulai gila-gilaan ya... Udah bawa-bawa Interpol, berkembangnya chapter ini juga super luas. Jadi maaf ya kalau alurnya jadi kecepatan atau malah cenderung lompat-lompat. Dan ide-ide diatas tiba-tiba muncul di sebuah hari Minggu dimana hujan turun pertama kali setelah sekitar 2 bulan tidak turun. Ternyata hujan memang efektif buat menyembuhkan WB! Sangkyu, Yamamoto! XDD

Saya disini memasukkan beberapa latar baru, seperti Lyon (Lyon itu markas besar Interpol), lalu muncul Paris (karena Alaude orang Perancis, headcanon, hahaha!). Den Haag kena sebut karena markas Europol ada di sana. Beberapa nama negara kena sebut, karena di negara tersebut ada organisasi mafia juga (Yakuza, Triad, dan semacamnya). Beberapa tempat di Paris juga kena sebut, seperti stasiun Gare du Nord, bandara Charles de Gaulle, Katedral Notre Dame, Champ-de-Mars, dan Eiffel. Oh ya, soal adegan di Eiffel itu... rasanya terlalu romance ya? Padahal cerita ini genre-nya bukan romance, hahaha!

Chapter ini bercerita cukup banyak soal masa lalu Alfonso dan Alaude, bagaimana mereka bisa berseteru, dan bagaimana perasaan mereka sekarang. Saya harap kemunculan mereka jadi memperseru dan memperberat alur fic ini, hahaha! Dan mulai chapter depan, semua bakal berubah serius saya rasa. Saya berusaha buat nulis adegan-adegan baku tembak, dan semoga berhasil.

Saya bingung harus ngomong apa lagi. Banyak banget yang harus diomongin. Ada Nuvola yang terbongkar identitasnya (dan adegan minta tanda tangan yang aneh banget), lalu ada sebuah organisasi berbahaya yang siap mengacaukan dunia hitam, dan ada Ave Maria (maaf kalau saya salah mencantumkan, berhubung saya bukan pemeluk agama Nasrani). Saya bingung mau menjelaskan dari mana, jadi kalau para pembaca bingung soal trivia-trivia yang ada diatas silakan mengajukan pertanyaan via review atau PM. Saya akan membalas secepatnya.

Last but not the least, REVIEW PLEASE? Karena review adalah semangat dengan kontinuitas terbaik buat saya!


Balasan Anon:

Stranger: Aduh, makasih ya udah sempetin baca! Dan terima kasih atas pujiannya! #slapped Dan tolong, jangan bahas adegan itu... Saya malu... Oh ya, di sini udah dibahas masa lalunya Alaude dan Alfonso. Semoga suka ya! Dan makasih reviewnya! *bows*

ktlicious: A...aah, syukurlah kalau suka sama pairingnya, hehehe... Dino udah berhasil menemukan Kyouya, dan yep, semoga Alfonso dan Alaude bisa bersatu ya nanti! Makasih reviewnya! *bows*

alwayztora: Hehehe, semoga suka sama CA a la saya ya. Anoo, saya gak berani ekspos kemesraan karena genrenya sendiri bukan romance. Tapi disini ada beberapa adegan romance, semoga gak aneh ya! Udah update, makasih reviewnya! *bows*

DinoSayangKyouya: M-Maaf, saya lama updatenya! *bows, jedot-jedotin kepala ke lantai* Udah update nih, makasih reviewnya! *bows lagi*

sinister Landstainer: Gak apa-apa, saya senang kok sekalipun reviewnya baru sekarang! J-Jangan panggil saya Yuu-sama, panggil saya Yuu aja. Hehehe! Dan makasih buat jempol-jempolnya! Lalu adegan itu... *blushing* Jangan dibahas ya, malu... Saya udah update, makasih reviewnya ya! *bows*

D18: A...Arigatou gozaimasu! Satu kata yang bermakna banget, D18-san! Dan makasih reviewnya ya! *bows*