Chapter 7
Nafidah; jheinchyeon; ; MeIsSasuke; Over d Cloud; Alice Aking CC; StingyBee; Sarah Brownie; haru no haru; Guest; Chery Ryl-chan; hanazono yuri; Aiko Asari; suket alang-alang; ongkitang; ss; kana.
Tengkyu soooo much! Ane sayang kalian... ane juga sayang sama silent reader :D
1. Aahah emang agak bingungin sih yang chappi kemarin, ane akuin :3. Tapi semoga chappi ini mulai bisa menjawab satu per satu masalahnya ya :D
2. Potret misterius akan di bongkar di sini, semoga ga bikin bingung #harapharapcemas
3. Sakura seperti itu karena... baca aja deh XD
4. Kesekian kalinya ane ditanya cewe ato cowo. Ane jadi ngakak2 sendiri XD. Kehidupan nyata ane yang dipertanyakan, juga kebawa sampai ke sini XD
Saya cewek XD bentuk cewek jiwa setengah2 XD... perkenalkan minna-san, saya Petra Felicitas. Feel free to chat with me in RL
5. Saisaku... kyaa baca aja! XD lhoh, Sakura ga pernah bongkar rahasianya sama siapa-siapa kok, coba deh dibaca lagi pelan2 XD
6. TERIMA KASIH BUAT DOANYA SELAMA ANE SKRIPSI! SENANG BANGET JADI MAKIN SEMANGAT! WALAPUN SISA 1 BULAN DOANG BUAT GARAP PROGRAM SEBAJEK XD
Warning : Adventure, Humor, Romance, Friendship, Slight H/C, Slight Supranatural. Nggak pakai Beta Read. Maafkan kesalahan yang ada. Kritik yg sopan diterima, tapi Flame akan diabaikan. Mulai dari chapter ini, konflik akan bermunculan dan akan lebih serius, tapi tidak menghilangkan unsur humor. Karena humor adalah hidup ane XD Thanks :D
SEJUTA CINTA, SEJUTA TERIMAKASIH, DAN SEJUTA COOKIES! BUAT SEMUA YANG UDA SUPPORT ANE SELAMA ANE SKRIPSI. ANE SAYANG KALIAN SEMUA T...T
Enjoy new Chappi! :D
Reminder
"Psst, sebenarnya, ini rahasia, Sasuke-san. Tapi mungkin ini akan membantumu memberikan nasihat. Sebenarnya ... "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kagutsuchi Agire adalah kakak angkat Putri Akiochiba."
Sesaat setelah kontak fisik terjadi, ia merasakan lonjakan cakra asing yang luar biasa besarnya. Bayangan kuning memenuhi pandangannya. Rasa hangat dan sesak melingkupi tubuhnya secara riba-tiba. Pancaran cahaya menyergap dan membutakan penglihatannya.
Putih, yang ia lihat hanya putih. Ketika ia berkedip, seseorang berlari kearahnya. Orang itu dengan topi baseball hitam yang menyembunyikan wajah dan rambutnya, dengan semua pakaian hitam-hitam plus jaket putih khas miliknya, mengulurkan tangannya, dan menepuk pelan pipinya.
"SAKURA! Bangun! Naruto membutuhkanmu!"(*)
Terbukalah mutiara hijau itu dan dengan ekspresi dingin dan tatapan yang tak terbaca di matanya, ia mengulurkan kedua tangan ke belakang pundak Naruto yang tengah memeluknya. Diamond di keningnya bersinar dan sulur-sulur ungu merangsek keluar dan memenuhi seluruh wajah dan tubuhnya.
Dentuman dahsyat menyambar telinganya, menulikannya sesaat. Diiringi dengan ledakan beruntun, ia bisa merasakan lantai tempat mereka berpijak runtuh dan hancur menjasdi serpihan. Gadis musim semi itu memejamkan matanya, menanti usainya ledakkan yang entah akan menghancurkan mereka menjadi debu atau melenyapkan debu itu sendiri.
-xxxXXXxxx-
"Sial!" umpatnya. Gadis tak bernyawa ini menganggu konsentrasinya. Ledakkan dahsyat itu berasal dari tempat yang dituju oleh Naruto dan Sakura. Dan untuk bisa merasakan efek gempa bumi sampai sejauh istana, bukanlah hal main-main. Sasuke mengumpat lagi.
Ia harus menemukan tempat perlindungan yang tidak bisa dijangkau oleh musuh. Ia bergerak ke arah utara istana sejauh dua kilometer, yang padat penduduk. Di balik pedesaan, terlihat hutan lebat di kaki gunung, yang terlihat masih liar dan terlihat tidak pernah dijamah oleh manusia. Karena sulitnya medan pendakian menuju hutan tersebut – terimakasih untuk Kakashi dan dua partnernya, yang sempat melakukan patroli darurat –, bisa dipastikan lokasi persembunyian mereka tidak akan ditemukan oleh siapapun.
Ia melompat lebih jauh lagi, melewati atap-atap rumah dan pohon-pohon raksasa, menuju kaki gunung. Atmosfer terasa berat, akibat pekatnya cakra alam murni yang menggantung, melingkupi setiap partikel di udara. Sasuke melihat ke bawah dan menyadari banyak penduduk keluar dari rumah mereka untuk melihat peristiwa yang menyebabkan gempa bumi.
Ia berhenti sejenak di puncak pohon tertinggi dan melihat ke belakang. Tiang api menjulang di langit disertai dengan pilar cahaya raksasa. Asap hitam membumbung tinggi. Ekspresi kelam tercetak di wajahnya. Ia berbalik dan segera menembus rimbunnya hutan
Beruntung, pilar cahaya itu menerangi hampir seluruh daratan kecil itu dan membuat malam seolah siang hari. Dengan cepat ia menemukan gua yang cukup luas – telah ditandai oleh Sai sebelumnya, untuk keadaan darurat – yang terletak di dataran landai di kaki gunung. Setelah memastikan tak ada perangkap atau hal-hal yang membahayakan jasad Putri, ia meletakkan tubuh itu di atas lantai gua yang cukup landai dan licin. Sejumlah perangkap ia letakkan di mulut gua dan merapalkan genjutsu terbaiknya untuk menutupi kehadiran jasad Putri. Sasuke harus cermat dan teliti. Tubuh Akiochiba tidak boleh sampai rusak. Jika rusak, misi ini akan menjadi sia-sia.
Detik-detik terus berlalu, kaki berselimut cakra menjejak dan memompa tubuhnya ke udara lebih jauh lagi. Naluri masa kecilnya kembali menyergap. Biasanya, sosoknya selalu ada untuk melindungi mereka berdua, kapanpun ia merasakan marabahaya mendekat. Kali ini, jarak memisahkan mereka. Sungguh ajaib, saat semua hal yang buruk, saat sebuah hubungan mengabur, dan semuanya tengah dalam proses penyembuhan dan penguatan kembali, ia merasakan koneksi yang pernah tercipta, yang menghubungkan jiwanya dengan orang-orang yang berharga baginya, memberinya energi tambahan. Dalam sekejap, ia mendapati dirinya sudah memasuki komplek istana.
-xxxXXXxxx-
"Jadi, selama ini kau sudah tahu?" Pangeran itu mengangguk dan menyeringai kecil. Ia terus menyesuaikan laju kecepatannya dengan Kakashi. Mereka menuju selatan, ke arah mercusuar berada dan sebisa mungkin menangkap Agire sebelum bangsawan busuk itu melakukan sesuatu pada dua partner kesayangan Kakashi.
"Aku tidak bisa memberitahumu alasan selengkapnya. Tapi, aku berjanji, suatu saat kau akan mengetahuinya. Untuk saat ini, kita fokuskan saja pengejaran Agire. Jangan sampai orang itu berbuat lebih jauh." Nadanya tegas dan penuh kekhawatiran, meskipun tak terlihat di air mukanya yang dingin dan datar.
"Jika kau tahu sejak awal Agire adalah orangnya, kenapa kau tidak mengatakan saja pada kami terus terang?" selidik Kakashi.
"Aku tidak bisa." Desahnya dengan kecewa. "Ada sesuatu yang membuatku tidak bisa mengatakannya. Lagipula, jika hanya aku sendiri, aku tidak bisa melakukannya." Lanjutnya. Hatake Kakashi menyerngitkan alisnya.
"Aku mengerti, kita lupakan sejenak isu ini. Agire adalah fokus utama kita." Sahut Kakashi tanpa ragu.
"Kebangkitan Akiochiba adalah kunci penting untuk Land of Four Season. Apapun yang terjadi, Akiochiba harus bangkit dari mati surinya." Tegas Kinoharu. Hatake mengangguk dan mempercepat laju pengejarannya, saat ia menangkap sekelebat bayangan berjarak 200 meter di depan mereka.
"Itu dia." Baru saja ia berucap, panah api berdesingan ke arah mereka dan meledakkan sasaran yang dikenainya. Kedua pengejar dengan cekatan menghindar dan memanfaatkan momentum ledakan untuk memberikan serangan kejutan.
Agire tertawa seperti maniak. Ia melaju dengan cepat melihat musuhnya kepayahan. Suara ledakan yang menggelegar mengalihkan perhatiannya sejenak.
Pria sakit jiwa ini belum mengenal Hatake Kakashi dari Konoha.
Sekelebat angin melewati hidung menawannya dan dalam sekejap, tubuh angkuhnya terhempas menghantam bumi. Bumi merekah menjadi kawah kecil. Seruan tertahan akibat terputusnya jalur pernapasan, merdu mengalun di telinga senior Konoha itu. Ninja Peniru itu memperhatikan mangsanya dan mengkalkulasi tindakan selanjutnya. Seringai kecil tercipta di balik topengnya. Dengan posisi berjongkok dengan kaki tangan berbalut cakra, ia bisa merasakan tulang rusuk Agire bergemeretak di bawahnya.
Kicauan jutaan burung memenuhi udara.
"Kakashi! Menjauh darinya! Jangan terlalu lama bersentuhan dengannya!" seru Kinoharu dari kejauhan. Mendengar peringatan itu, Kakashi langsung melompat tinggi dan mengambil jarak aman. Diperhatikannya sosok lunglai Agire.
"Itu saja?" tanyanya takjub.
Konyol kalau musuh mereka langsung K.O. dalam sekali serang. Mata hitam itu berkedip dan membelalak.
"Belum selesai."
Dan melayanglah Kakashi menghancurkan barisan pohon-pohon berusia ratusan tahun menjadi serpihan kecil. Agire berdiri dengan napas terengah-engah. Tangannya terulur, membentuk tapak Budha. Cakra putih berbentuk tapak Budha raksasa perlahan menghilang seperti kabut. Pemuda bermata hazel itu melihat jejak tubuhnya di kawah dan tertawa geli. Serpihan kristal memenuhi jejak tubuhnya.
"Hal seperti itu tidak akan membunuhku!" jeritnya. "Ninja amatir dan busuk! Aku benci dan aku mengutuk semua manusia yang hidup sebagai ninja! Mereka semua idiot dan sampah!" teriaknya. Tawa dan jeritan dan tangis bercampur menjadi satu. Agire benar-benar seperti orang kesetanan.
"Bajingan." Desis Kinoharu murka.
"Jangan meremehkanku, Yang Mulia Idiot. Jurus Palm of Light tidak akan membiarkan siapapun hidup. Termasuk kau!" seruan lantang menantang terbebas dari kerongkongannya. Ia melompat menyambut Kinoharu yang terdiam mematung di tempatnya.
Mungkin, mungkin saja hanya sekedar jeda dua detik, namun cukup bagi Agire untuk tercekat. Ia tidak bisa berlari mundur. Tujuh lingkar cahaya bertuliskan kanji Rengoku mengelilinginya dan merapat.
"APA?!"
Kinoharu dengan segel tangannya berbisik pelan.
"Purge." Teriakan kesengsaraan terpekik ke udara.
Api pelangi menyembur dari tiap lingkar cahaya dan menyusup masuk ke dalam tubuh Agire dan menyedot sebagian besar daya hidupnya. Proses penuaan terlihat jelas pada Agire.
"Jangan lupa, idiot yang kau maksud, juga yang menciptakan jurus Palm of Light, bitch." Kepribadian kedua Kinoharu – bengis dan keji – kini muncul ke permukaan. Setiap daya hidup yang diambil dari Agire, diserap oleh tubuhnya. Seringai bengis tercetak di wajah 'lugu' Pangeran.
"Bangsat!" Pekik Agire dengan suara parau. Cahaya menyilaukan, membutakan bola mata Pangeran. Kewaspadaannya turun.
"Shit."
Ledakan besar melontarkan Pangeran Kinoharu dan menciptakan kawah kecil di bumi. Agire dengan sisa-sisa kekuatannya, menganulir proses pembersihan daya hidupnya dengan memanaskan cakra yang mengalir dalam daya hidupnya, menjadi bom cakra, dan meledakkannya untuk membebaskan diri.
Kinoharu yang terhempas sejauh 250 meter, berdiri terengah-engah, setelah tubuhnya sempat menancap pada sisi bukit kecil . Hutan ini sudah tak berbentuk lagi. Ia melihat sekeliling dan kejengkelan tercetak jelas di air mukanya.
Kepala pinknya menunduk dan melihat tangan kanannya yang terkoyak. Serat-serat daging merah menghitam, menjuntai di sepanjang lengannya. Jarinya tak lagi lengkap. Sebagian tulangnya tercuil dan remuk. Telinga kanannya bahkan terkoyak dan menggantung di wajahnya. Lengan kirinya patah, dan tulangnya mencuat keluar menembus daging. Wajahnya terbakar. Kakinya terlihat bengkok ke arah yang menyakitkan.
"Sial." Desisnya pelan. Dengan langkah tertatih, ia berjalan menuju tanah terbuka dan dengan telapak kirinya, ia menyerap energi kehidupan yang tersimpan. Air, mineral, oksigen, fosfor, khlor, boron, dan semua materi kimia alami yang terkandung dalam bumi dan udara ia serap.
Perlahan, serat daging dari telinganya yang terkoyak mulai tumbuh dan saling mencari serta merajut satu sama lain. Tulang-tulangnya tumbuh kembali. Otot serta lapisan tipis serat daging mulai bertumbuh dan menyempurnakan kembali tangannya. Bunyi tulang dibengkokkan mencapai pendengarannya. Kulit wajahnya terkelupas, berganti dengan sel-sel kulit baru.
Tak cukup sampai di situ, Kinoharu beranjak pada pohon-pohon dan menyerap habis energi hidupnya. Luka-luka di tubuhnya pulih dan kerusakan organ dalam ia pulihkan dan perbaharui melalui regenerasi sel-sel yang luar biasa.
Agire dengan tubuh yang terkoyak-koyak, serta kaki dan sepasang tangan yang hancur akibat ledakan tersebut, memanfaatkan sisa kakinya yang masih setengah menancap di pangkal pahanya. Tanah di sekitarnya menjadi tandus. Pohon-pohon mengering dan mati. Oksigen menipis. Dadanya yang mengalami luka bakar derajat empat, menghitam dan terlihat tulang di balik lapisan daging yang terbakar, kini perlahan mulai tertutup dan pulih. Kaki dan tangannya mulai bertumbuh. Dalam radius 50 meter, tidak ada kehidupan yang bertahan akibat Agire.
Jika saja Sakura melihat ini, lucu saja membayangkan wajahnya, sebab, setetes darah bahkan tak terlihat di tanah Kinoharu berpijak.
-xxxXXXxxx-
Gempuran cakra putih dari tapak raksasa itu menghempaskan Kakashi mundur hingga memasuki komplek istana. Sebagian dinding istana hancur. Kakashi bisa saja mati seketika jika bukan karena Sasuke yang datang menangkapnya dan menghentikannya. Pendarahan hebat terjadi pada kepala dan punggung Kakashi. Lebam hitam terlihat di tengkuknya. Sasuke berdecak kesal. Sharingannya berputar liar. Ia melihat ke udara dan mendapati cakra putih berkilauan dan pekat.
Napasnya terasa sesak. Energi the lost chakra membuatnya gemetar. Dengan kedua tangannya, ia mengangkat Kakashi untuk berdiri dan hendak membawanya ke tempat persembunyian. Tapi, pria itu menolak dan melepaskan diri dari partner kesayangannya.
"Tak ada waktu untuk lari. Sakura dan Naruto mungkin bahkan tidak bisa bernapas lagi saat kita melarikan diri." Tukas Kakashi dengan suara yang gemetar. Tangannya yang terbungkus sarung tangan, mengelus tengkuknya dan mengumpat pelan.
"Kenapa aku tidak mati..." bisiknya pelan. Sasuke mendengarnya dan mendengus.
"Kita cari tahu nanti. Apa kau masih bisa menghadapi Agire?"
"Apapun akan kulakukan demi mendapatkan kembali anak-anakku." Desisnya pelan. Dengan sisa-sisa tenaga, ia berlari dan melompat. Sasuke dengan Kusanagi di tangannya tak tinggal diam. Rinne Sharingannya berkilau dalam remang-remang pilar cahaya yang menyembur ke daratan. Perutnya terasa melilit. Ia sungguh-sungguh berharap, kedua sahabatnya bisa melindungi diri. Tak ada lagi yang ia miliki selain mereka, Kakashi, dan – aneh sekali, ia tidak bisa mengacuhkan 'duplikatnya' ini – Sai. Bahkan saat ini ia berharap Sai bisa mencapai kedua kawan mereka lebih dulu.
"Sasuke, kau lihat Kinoharu?"
Mata merah berapi itu melihat sekeliling dan mendeteksi pergerakan cakra yang cukup cepat dan besar di dalam tanah dan udara dari sebelah kanan mereka. Matanya terbelalak sejenak. Kata-kata hilang di ujung lidahnya.
"Ke sini." Hanya itu yang bisa dia ucapkan sembari menuntun Kakashi menuju sosok misterius Pangeran Kinoharu.
-xxxXXXxxx-
Suara pekikan burung nyaring menggema di angkasa. Sai menyipitkan matanya dan melihat ke bawah. Rentetan letusan dan hancurnya pohon mengiringinya menuju mercusuar. Kepakan sayap burung lukisannya perlahan melambat dan semakin lama, burung itu menukik turun. Menyadari kejanggalan pada burung lukisannya, Sai memutuskan untuk melompat dan menggunakan akses darat. Semakin ia mendekati pilar cahaya itu, ia merasa semakin lemas.
-xxxXXXxxx-
Panas. Perih.
Itu yang Naruto rasakan. Tangannya terasa terbakar. Ia membuka matanya takut-takut dan terbelalak saat menyadari bahwa mereka terjatuh dari ketinggian 175 meter.
"Sakura-chan!" gadis itu tak merespon. Saat akhirnya kedua mata Naruto terbuka lebar, terperangahlah dia.
Cakra biru kehijauan membungkus mereka dalam rupa kuncup bunga sakura yang bersumber dari kedua telapak tangan Sakura yang terbentang di belakang pundak Naruto. Bocah Kyuubi itu segera melepaskan pelukannya dan menjauhkan diri dari Sakura untuk melihat lebih jelas.
Mata ekspresif itu dingin dan kelam dan kosong. Dengan panik, Naruto mengguncang-guncang Sakura. Usahanya berhasil dan membuat gadis itu menarik napas dalam dan kuat hingga bersuara. Mata hijau itu kini kembali hidup. Kepanikan segera menyergap dan cepat-cepat ia berputar membelakangi Naruto dalam perisai kuncup bunga itu.
Dan terbukalah mata Naruto dalam kengerian.
Benda kecil berkilau melayang turun di langit ke arah mereka. Sakura dengan cakranya yang luar biasa, mengarahkan tangan kanannya ke atas dan mengirimkan bola cakra ke arah benda itu.
"Sakura-chan, apa yang kau lakukan?! Ka-"
"Tidak ada waktu Naruto! Benda itu adalah cincin Amaterasu! Jika cincin itu menyentuh kita, maka habislah kita! Aku akan membungkusnya dengan bola cakra dan mengalihkannya ke arah lain. Ini akan memberi kita waktu untuk menyelamatkan diri!" serunya. Rambut merah jambunya berkibar hebat menutupi wajahnya dari Naruto, sehingga keduanya tidak bisa melihat satu sama lain.
"Sakura-chan, dengark-"
"Shit!" cincin itu melaju cepat ke arah mereka, seolah tertarik dengan cakra senjutsu Naruto yang masih meninggalkan jejak. Dari pucuk-pucuk ukiran matahari, menyeruak serupa akar-akar tipis. Sakura dengan teror di depannya berusaha menarik tangannya kembali.
Mata hijaunya terbelalak. Napasnya tercekat. Akar-akar cincin itu membakar dan menembus perisai kuncup bunga sakura dan merengkuh tangan kecil gadis itu. Tanpa sempat memberontak, cincin itu telah melingkarkan dirinya pada jari manis Sakura, bagai parasit.
Lengkingan penuh siksa menulikan Naruto. Seakan-akan luka bakar menganga di punggung Sakura tidak cukup untuk menyiksa penglihatannya.
-xxxXXXxxx-
Langkah kakinya terhenti seketika. Ia mencengkeram kaus hitamnya. Dadanya terasa sakit. Rasanya seperti tangan seseorang tengah meremas jantungnya dengan kekuatan super. Kakashi berhenti sejenak dan melihat Sasuke yang tengah bersimpuh di atas kedua lututnya.
"Sasuke? Kau tidak apa?" tanyanya curiga. Kepala berimba hitam itu menggeleng cepat. Diaturnya napasnya. Rasa sakit itu perlahan menghilang. Ia menggeleng pelan sekali lagi. Dengan lutut gemetar, ia bangkit berdiri dan melanjutkan perjalanannya menuju Kinoharu.
Kakashi tidak menyukai apa yang dilihatnya. Jika seorang Uchiha Sasuke sampai bersimpuh dalam permulaan sebuah pertarungan, maka itu adalah pertanda buruk. Tangan terlatihnya mengusap tengkuknya yang lebam. Ia mengikuti pemuda labil itu.
Sasuke sedang terguncang. Terlihat dari menurunnya kelincahannya. Dengan kekuatannya yang semakin lama semakin menurun, keraguan mulai memasuki hatinya. Ini bukan pertarungan biasa. Dirinya tengah berhadapan dengan musuh yang menguasai sumber utama dari kemampuan mereka sebagai ninja. Digigitnya bibir tipisnya. Semuanya sangat menjengkelkan. Uchiha bukan orang lemah. Lemah tidak ada dalam kosakata mereka.
"Sasuke, bangun." Kepalanya terangkat seketika. Ia menoleh ke arah Kakashi yang sudah mendahuluinya. Mata sayu nan tajam mantan gurunya itu memandangnya dalam tanda tanya.
"Tidak biasanya kau seperti ini."
"Tidak ada apa-apa." Jawabnya dingin. Tapi Kakashi tahu Sasuke, seperti seorang ayah pada anaknya. Kerutan-kerutan di wajah Sasuke, cara kedua alisnya menukik, cara sudut bibirnya melengkung ke bawah, jelas mengatakan ada yang sangat mengganggu pikirannya. Terkadang yang bisa dilakukannya hanyalah tersenyum kecut dan berharap anak kesayangannya itu bisa menghadapi masalahnya.
Apa yang dilakukan Sasuke, tidak luput dari pengawasan Kakashi.
Tangan itu, terus mencengkeram dadanya. Wajah aristokrat Sasuke terlihat menahan sakit. Rasa itu datang dan pergi. Dan semakin ia memikirkannya, rasa sakit itu perlahan menghinggap. Ia mengerjapkan matanya. Dan untuk suatu alasan yang tidak ia ketahui, kedua bola matanya basah.
-xxxXXXxxx-
Sai tidak berharap menemukan mereka berdua dalam keadaan seperti ini. Perang Besar Shinobi keempat sudah memberinya pengalaman lebih dari cukup. Sebab, kali ini, dirinya sudah mengenal kepedihan dan kesedihan. Dirinya yang mati rasa kini sudah mengenal ego. Emosinya yang padam sudah tersulut dan mengenal berbagai macam dinamika emosi manusia yang seharusnya.
Itulah mengapa, ketika ia melihat Sakura yang terkulai dalam pelukan Naruto dengan luka bakar menganga di punggungnya, ego dalam dirinya menguar. Tiba-tiba saja ia merasa egois utuk menyerahkan Sakura pada tangan Maut. Pandangannya keras dan dingin, mulutnya terkatup rapat. Ia tidak boleh berdiam diri terlalu lama.
"Naruto!" panggilnya dengan suara parau. Kakinya berlari cepat menghampiri mereka berdua, yang berlindung di depan mulut gua.
"Sai! Cepat kemari! Sakura-chan..." putra Minato itu mengatupkan bibirnya dan memeluk bahu Sakura.
"Bagaimana bisa seperti ini?" tanya Sai. Ia berjongkok dan mulai menggambar burung raksasa sebagai kendaraan mereka. Diam-diam dilafazkannya doa pada siapapun yang menguasai kehidupan, agar monster ciptaannya bisa memperpanjang kontrak hidup Sakura dengan Sang Pencipta.
"Aku sedikit terlambat." Bisik Sakura. Dia kesakitan. Jauh dari yang bisa ia bayangkan. Rasanya seperti daya hidupmu ditarik paksa dan kau hanya disisakan sedikit napas untuk merasakan daya hidupmu perlahan menyusut. Tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini kecuali menerima sakit itu.
"Apa?"
"Aku sedikit terlambat, Sai." ia berhenti sejenak. Ia bernapas pelan-pelan. "Perisainya tidak sempat menutup sempurna saat ledakan terjadi. Sebagian ledakan masih mencapai punggungku." Ia tertawa kecil dan membenamkan kepalanya dalam dada Naruto.
"Aku hanya mampu memulihkan tangan Naruto." Bisiknya lagi. Kini Naruto berdiri dan dengan sangat perlahan, menggendongnya di punggungnya. Sai membantu mereka berdua naik ke atas lukisan berbulunya yang hidup.
"Berhenti bicara." Tegur Naruto.
"Tidak apa, bodoh. Aku baik-baik saja." Kening calon Hokage itu berkedut hebat mendengar jawaban Sakura yang terkesan masa bodoh.
"Sakura-chan,"
"Mm-hmm..." lirihnya. Matanya sudah menutup saat ini. Di posisinya sekarang ini, ia hanya ingin merasakan hangatnya punggung kokoh sahabatnya itu.
"... Maaf ..." suara jinchuuriki itu bergetar. Suara kepakan sayap terdengar nyaring. Perlahan hembusan angin menjadi semakin kencang. Jarak mereka semakin jauh dari bumi tempat mereka berpijak.
"... Maafkan aku, Sakura ..." punggungnya berguncang. Mata kanan gadis musim semi itu terbuka sedikit. Cahaya kehidupan perlahan meninggalkan iris dedaunan itu. Sai memunggungi mereka. Kepalanya sedikit tertoleh ke belakang. Dadanya seperti diremas-remas.
"Na ... to..."
"Ak-aku tidak bisa melindungimu! Aku membiarkanmu sekarat di depan mataku! Aku bahkan tidak bisa mencegahmu untuk tidak memulihkanku! Sahabat macam apa aku ini?! Hah?! Mana ada orang yang membiarkan saudaranya menderita padahal orang itu masih bisa bertahan!? Aku ..." rentetan penyesalan Naruto terputus. Mata azurenya terbelalak. Tangan kecil yang semula halus dan kuat, kini terasa kasar dan ringkih. Tangan itu dengan susah payah membelai pipinya.
"St ... op." Sai menoleh seketika dan hatinya terenyuh melihat curahan kasih sayang Haruno Sakura. Tangan kanannya yang merah kehitaman membelai pipi kiri Naruto dengan gemetar. Seperti ibu yang sekarat berusaha menenangkan buah hatinya.
"Semua terjadi karena suatu alasan, Naruto." Bisiknya parau. "Aku tidak pernah menyalahkanmu ... berhenti meminta maaf ... karena aku tidak tahu apa kesalahanmu sampai kau meminta maaf ... aku berterima kasih, karenamu ... aku berani berharap akan masa depan yang baik ... " lanjutnya. Jinchuriiki Kyuubi itu menyandarkan wajahnya pada tangan gemetar Sakura. Air matanya membasahi telapak tangan itu.
Seperti Uzumaki Kushina yang terus mensyukuri eksistensi Naruto di dunia.
"Sai, kemari..." mantan ROOT itu mendekat. Tak disangka tangan kiri Sakura menggapai wajahnya dan membelainya dengan cara yang sama dengan Naruto. Matanya terpejam merasakan jari-jemari Sakura. Ini pertama kali ia mengenal sisi lembut gadis bertemperamen tinggi itu.
"Aku menyayangimu, Sai ... jangan pernah merasa tersisih ... sebab bagaimanapun juga, kau adalah keluargaku..." bisiknya dengan senyum kecil.
"Aku tahu, Jelek." Jawabnya dengan senyum muram. Mata hitamnya semakin kelam saat melihat cincin Amaterasu melekat erat di jari manis dan mengakar seperti akar pohon di tangan kanan Sakura.
"Sekarang ... bawa aku ke tempat Akiochiba." Perintahnya letih.
"Sakura-chan? Kau mau apa?" tanya Naruto. Perasaanya jadi tak menentu sekarang, mendengar permintaan Sakura.
"Naruto, aku punya satu permohonan." Lirihnya mengacuhkan pertanyaan pemuda berkumis itu. Pemuda itu mengangguk cepat.
"Bagikan aku cakra Kurama."
"... Apa...?"
"Lakukan saja, Naruto." Bujuk Sai. Seniman itu tahu maksud Sakura. Maka, ia berbalik badan, berusaha mengacuhkan mereka berdua.
"Naruto..."
"Sakura-chan..." ia mendesah pelan dan akhirnya dengan setengah hati memasuki Kurama Mode dan membagikan cakra Kurama sebanyak yang dibutuhkan Sakura.
"Sembuhkan lukamu, Sakura. Cakra ini lebih dari cukup untuk memulihkanmu." Pesan Naruto. Gadis itu hanya diam dan menerima semua cakra itu, menyimpannya dalam keningnya.
"Naruto," suara gadis itu kini lebih tegas dan terdengar lebih berenergi. "Kau tahu di mana Sasuke dan Kakashi?"
"Aku bisa merasakan mereka, mereka ada di dekat sini." Sakura mengangguk.
"Sai, bawa aku ke tempat mereka." Tidak ada yang berani membuka mulutnya saat Sakura berbicara dengan nada dingin seperti itu. Dengan satu tanda dari Sai, burung itu berkelok cepat membawa ninja Konoha.
Mendekati lokasi, Sakura melepaskan diri dari gendongan Naruto dan berdiri tegak. Ia memandang Naruto dengan raut wajah sedih dan menyesal. Telapak tangannya berselimutkan cakra hijau-putih membara, disandarkan pada tempat jantung Naruto berdenyut.
"Maaf," bunyi benda jatuh mengikutinya. Kawah kecil tercipta. Naruto mengerang keras. Tubuhnya menghantam bumi dengan kecepatan tinggi. Ia memaksa membuka matanya dan terbelalak melihat Sakura, berdiri angkuh di atas burung raksasa itu. Ekspresinya dingin dan kosong. Telapak tangan kanannya yang terbungkus dengan akar parasit dari cincin Amaterasu, terbuka. Cakra hijau-putih menekan tubuh Naruto untuk tetap bertahan di tanah.
"Stay."
"S-sakura-chan!"
"Ayo, Sai."
Kepakan sayap terdengar dan dengan cepat, Sakura menghilang.
-xxxXXXxxx-
Terkejut tampak jelas di wajah Sasuke. Ia melihat semuanya. Kakashi dan Kinoharu juga melihatnya. Cara Sakura mencampakkan Naruto. Ekspresi dingin dan kosong, yang belum pernah diperlihatkan oleh Sakura kepada siapapun, termasuk mereka, kini terpatri jelas dalam ingatannya.
Jantungnya berdenyut menyakitkan. Mata hijau itu kelam dan gelap. Membuatnya tiba-tiba merasa jengkel. Ia mencengkeram dadanya lagi.
"Kakashi, jangan mengikutiku." Dengan demikian ia menghilang. Ninja senior itu ternganga melihat kejadian di depan matanya, hingga tidak sempat mencegah kepergian Sasuke. Iris hijau jamrud di sebelahnya mengamati kepergian Sasuke dalam diam.
"Jemput Naruto. Kita harus memulihkan tenaga terlebih dulu. Aku yakin, Agire tidak bisa melakukan apa-apa saat ini." Pangeran itu mendahului Kakashi. Dengan rahang mengatup keras di balik topengnya, Kakashi menuruti saja kemauan Kinoharu.
-xxxXXXxxx-
"Sakura, apa yang kau lakukan pada Naruto?" tanya Sai.
"Aku tidak ingin melibatkan dia dalam urusan ini." Jawabnya singkat. Alis Sai saling bertaut. Ia menengok ke punggung Sakura yang duduk di sebelahnya dan mendengus keras.
"Sembuhkan punggungmu."
"Tidak perlu."
"Jangan bodoh, Sakura."
"Hanya menghabiskan cakra saja." Lagi-lagi dingin dan ketus.
Sai bersidekap dan terbang berputar-putar di atas pemukiman warga. Ia baru saja menyadari sesuatu. Betapa bodohnya dia.
"Sakura, kita bahkan tidak tahu, Putri Akiochiba di mana. Kau lihat sendiri 'kan kondisi istana tadi? Kakashi atau Sasuke pasti sudah mengevakuasi jenazahnya." Terang Sai. Seringai sinis terulas di bibir Sakura.
"Ah, aku rasa aku ta-"
"Kalau begitu, biar Sasuke-kun yang menuntun kita." Gumamnya, memotong Sai. Ia membalikkan badannya ke arah ekor burung itu dan melihat Sasuke berlutut dengan satu kakinya. Sai mengikutinya dan tercengang.
"Bagaimana ... "
"Sakura, apa yang kau lakukan?" Uchiha sudah muak dengan semua permainan rahasia ini. Ia menghunuskan Kusanaginya pada Sai.
"Buat kendaraanmu sendiri." Tanpa banyak bicara, Sai menciptakan lagi kendaraannya dan berpindah. Mengekor di belakang mereka adalah keputusan terbaik saat ini. Selain memberi mereka privasi, ia ingin menjaga keduanya dari tindakan bodoh. Sai menghela napas panjang.
'Semuanya begitu memusingkan.' Pikirnya.
-xxxXXXxxx-
"Punggungmu."
"Tidak."
"Kenapa?"
"Hanya menghabiskan cakra saja."
"Jangan bodoh."
"Diam dan bawa aku pada Akiochiba." Mulut pemuda itu terkunci seketika. Perempuan ini tidak pernah berani menyuruhnya diam. Tiba-tiba saja bersikap seperti ini? Sekarang jelas mengapa Sasuke tidak suka bergaul dengan kaum hawa. Mereka sangat aneh.
Bibir tipisnya menyeringai angkuh. Diangkatnya kepala tampannya dengan congkak.
"Mengapa kau begitu yakin aku akan membawamu kepadanya, Sakura?"
"Teruskan saja sikap keras kepalamu dan kau akan melihatku mati di depan matamu." Sharingan Sasuke berkilau. Wajahnya membersut, melihat tangan kanan Sakura. Ia menghampiri gadis keras kepala itu dan menarik tangan kanannya.
"Aku tidak menyangka kau sebodoh ini." Ujarnya ketus. Sakura hanya menghembuskan napas pelan.
"Kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja, Sasuke." Ninja medik itu menelengkan kepalanya sedikit dan melihat Sai yang terus mengikuti mereka dan memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Aku kurang berlatih menyempurnakan jurus pertahanan yang diajarkan Oma Tsunade. Sai membantuku melakukannya. Aku tidak menyangka akan menggunakan jurus itu di saat seperti ini." Sakura tidak tahu mengapa ia menceritakan hal ini pada Sasuke. Tapi pria itu hanya diam dan mengamati tiap pergerakan Sakura. Dia harus waspada. Perempuan ini bisa memperlakukannya sama seperti Naruto.
"Mengapa bukan kau atau Naruto? Atau bahkan Kakashi? Jujur saja, pada awalnya aku tidak tahu mengapa." Lanjutnya dengan senyum getir. "Tapi, setelah kupikir-pikir, selama ini aku hidup dalam bayangan kalian, dan aku hanya berperan sebagai pemain pendukung." Mendengar itu, kepalan tangan Sasuke terbentuk. Kicauan burung bernyanyi di ujung Kusanagi.
"Karena itu, aku putuskan untuk menggantikan peran kalian dalam misi ini." Lanjutnya, seraya tersenyum.
"Kau sakit!" desis Sasuke keras.
"Terkadang, bahkan pahlawan tersuper sekalipun, butuh beristirahat dari perjuangannya, Sasuke." bantah Sakura lembut.
"Tidak ada yang memintamu untuk melakukannya, Sakura!" sentaknya. Kesabarannya semakin menipis. "Jangan uji kesabaranku." Geram Uchiha. Matanya nyalang dan membara, sementara kesedihan dan putus asa diteriakkan Sakura melalui sorot matanya.
"Aku menginginkannya dan aku akan mendapatkannya. Yang bisa menjadi keras kepala dengan tekadnya bukan hanya Kakashi, Naruto, dan juga kau, Sasuke-kun." Helaian merah muda terayak di sekitar wajahnya. Membingkainya dan membuatnya seperti fallen angel. Sasuke mendengus keras. Tanpa disadarinya, ujung Kusanagi bersandar di tengah dada Sakura.
"Aku sama keras kepalanya dengan kalian, Sasuke." bisiknya. Tangan kirinya perlahan meraba dada Sasuke. Kilauan cakra hijau yang lembut dan hangat menggoyahkan amarah pemuda cinta masa kecilnya. Sasuke tampak tertegun. Sorot matanya melembut melihat tangan Sakura di dadanya, namun kembali mengeras saat menyadari letak Kusanagi.
"Itu bukan alasan untuk menutupinya dariku, dari kami semua." Jawab Sasuke ketus.
"Maafkan aku, Sasuke ... hanya ini yang bisa aku lakukan." Ia tersenyum masam. "Kau bilang, kau akan mempercayaiku tanpa mempertanyakannya."
"Aku tidak pernah mengatakannya." Sahutnya cepat. Ditariknya bilah pedang itu menjauh dari jantung musim semi. Rasa bersalah perlahan bertumbuh di benaknya.
"Meskipun aku tidak mengenalmu, seperti Naruto mengenalmu, aku tahu kau mempercayaiku dengan caramu." Urainya. Uchiha menatap sepasang mutiara dedaunan itu intens. Napasnya tiba-tiba tercekat saat Sakura melakukan gerakan yang sama, untuk menenangkan dirinya dulu saat Kinoharu mencercanya pertama kali.
"Senyum," katanya. "Dan ingat, jangan membatasi kesabaranmu, Sasuke. Tuhan memberikanmu kesabaran yang tak terhingga. Jangan kau batasi pemberianNya." Kutip Sakura, mengingat pesan ayah keduanya, Kakashi. Tertegun dengan ucapan itu, Sasuke hanya bisa menelan ludah dan perlahan menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya.
"Sekarang antar aku pada Putri, aku mau mengembalikan cincin ini pada pemiliknya."
Untuk kesekian kalinya dalam hidupnya, Sasuke harus menyerah pada permohonan gadis menjengkelkannya.
-xxxXXXxxx-
"Lakukan dengan cepat." Sakura mengangguk dan memasuki gua. Nyeri di punggungnya sudah membuatnya hampir pingsan. Tapi, dia harus bertahan. Sai mengikutinya.
Tepat di saat Sasuke hendak memasuki gua, perisai dari cakra hijau putih Sakura terbentang dan menghalanginya. Kini ia berhadap-hadapan dengan Sai, yang sekujur tubuhnya sudah dipenuhi dengan sulur-sulur ungu. Tangannya terulur, perisai terbentuk dari telapaknya. Bayangan Uchiha Obito melintas di benaknya. Kondisi ini persis seperti saat Sakura dan Obito berusaha menyelamatkan dengan cara membuka dimensi lain.
"Apa yang kau lakukan?" geramnya. Dihantamkannya Kusanagi berbalut chidori nagashi berkali-kali, tapi perisai itu tak bergeming sama sekali.
"Sakura!" sepasang mata spesial itu mencari-cari sosok mungil Sakura yang tersembunyi di balik tubuh Sai. Uchiha menggeram dengan liar.
"Pergilah Sasuke. Aku tidak ingin membahayakanmu. Kita tidak akan pernah tahu apa bisa dilakukan cincin ini padamu. Kembalilah pada Naruto dan yang lainnya. Aku dan Sai akan segera menyusul kalian." Sasuke bisa mendengarnya dengan jelas. Suara perempuan ini bergetar.
Sakura menundukkan kepalanya. Digigitnya bibirnya kuat-kuat, agar isak tangisnya tak sampai terdengar. Kedua tangannya mencengkeram pakaian Sai kuat-kuat.
"Idiot." Desis Sasuke keras. Ia berbalik badan hendak meninggalkan perempuan keras kepala itu namun langkahnya terhenti. Sepasang tangan berbalut cakra hijau-putih memeluknya erat. Tubuhnya kaku dan tegang. Ia bisa merasakan lekuk tubuh Sakura yang hangat di punggungnya.
"I'll see you soon."
.
.
.
.
.
"Hn."
Sakura mengeratkan pelukannya sejenak dan melepas Sasuke. Dalam sekejap, yang tersisa dari Uchiha hanyalah dedaunan di udara. Ninja medik itu tersenyum tipis. Ia berharap bisa melihat wajah Sasuke, namun tidak ada keberanian untuk menghadapinya. Andai saja dia tahu, bahwa Sasuke tersenyum pahit mendengarkan kata perpisahan Sakura.
-xxxXXXxxx-
"Sai, kau ingat cerita soal Kazekage Gaara dan Putri Akiochiba 'kan?" pelukis itu mengangguk dengan enggan.
"Ini saatnya." Gadis itu berlutut di samping jasad Akiochiba. "Ini saatnya aku menerapkan jurus terlarang yang kukembangkan dengan Oma Tsunade. Ingat Sai, jangan katakan pada siapapun." Sai terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Tangannya mengepal.
"Aku harap, aku bisa melakukannya dengan baik dan benar seperti Nenek Chiyo." Kedua iris hijau itu perlahan tersembunyi di balik kelopak mata yang mulai terpejam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kalau Nenek Chiyo bisa meluputkan Gaara dari maut, maka kali ini, aku yang akan meluputkan Putri Akiochiba dari kematian."
-xxxXXXxxx-
Naruto mengerang untuk kesekian kalinya. Cakra yang ditumpahkan Sakura padanya membuatnya gemetar hebat. Perpaduan cakra asli Sakura dengan the lost chakra membuat pusaran cakranya kacau sejenak. Kakashi membersihkan dirinya yang bersimbah darah. Kolam kecil itu membantunya membersihkan darah kering yang menempel di kulitnya. Kinoharu duduk di pinggir kolam. Matanya awas, menjelajah lingkungannya.
"Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini." Gumam Naruto. Ia bersandar pada dinding grotto, tempat bermain Putri Akiochiba semasa kecil. Gua tersembunyi di balik bukit, di arah barat daya istana. Pakaiannya yang terkoyak sudah berganti, begitu juga Kakashi. Kinoharu memberikan pakaian ganti pada mereka. Untung saja ia selalu memeriksa persediaan, berjaga-jaga untuk keadaan darurat.
"Katakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi antara kau, Putri, dan Agire." Perintah Kakashi. Pundak Kinoharu yang semula tegap kini meringkuk. Tanpa membalikkan badannya pada mereka, ia bercerita.
"Agire dendam pada Akio."
"Dendam?" tanya Naruto.
"Semua berawal dari keinginan Akio untuk belajar menjadi shinobi. Meskipun Akio keturunan ningrat, hal itu tidak menyurutkan keinginannya untuk bisa beraksi layaknya shinobi. Gadis konyol keras kepala mencoba menjadi pahlawan kesiangan." Ia terkekeh geli mengingat tingkah Akio kecil yang tomboi dan suka membangkang. Kedua shinobi Konoha itu dia dan terus mendengarkan dengan seksama.
"Raja Akiuta berpandangan terbuka dan dengan senang hati mengajarkan berbagai ninjutsu, taijutsu, genjutsu, fuinjutsu, hiden, kinjutsu, dan medical ninjutsu. Begitu banyak yang dipelajarinya sampai-sampai tidak ada bangsawan dari manapun yang mau memperistrinya. Mereka takut, kalau Akio akan menggunakan kelebihannya itu untuk mendominasi pemerintahan."
"Wow, badass Princess, ne?" komentar Naruto. Kinoharu tersenyum dan mengangguk menyetujui. Ia menengadah melihat pilar cahaya di langit, dari balik teduhnya atap grotto.
"Justru, Akio sangat bijaksana dalam menggunakan kekuatannya. Terlebih, setelah ia ditahbiskan menjadi pemegang cincin Amaterasu. Sejujurnya, Akio ingin sekali membagi pengetahuan mengenai the lost chakra pada dunia luar, namun kebijakan para menteri melarangnya." Ia mendengus kesal.
"Sudah sejak dulu aku tidak menyukai kementerian Akai Aki, sudah sejak lama mereka ingin memberontak. Aku mengetahuinya, karena aku pernah tidak sengaja mendengar salah satu menteri berdiskusi mengenai kudeta. Mereka tidak ingin the lost chakra dikuasai oleh shinobi. Mereka ingin menyimpannya sendiri demi kepentingan mereka."
"Tunggu, tampaknya kau tahu begitu banyak mengenai seluk beluk pemerintahan Akai Aki. Boleh aku bertanya?" Kinoharu mengangguk menanggapi pertanyaan Kakashi.
"Siapa kau sebenarnya? Dari mana kau berasal?"
"Aku Sakuraga Kinoharu, Pangeran Land of Spring, Midohana, teman masa kecil Akio, tunangan alias calon suami Putri Akiochiba, penguasa Land of Fall, Akai Aki. Tentu saja, Akio banyak bercerita padaku. Akai Aki akan bersatu dengan Midohana, sudah seharusnya aku memahami latar belakang politik Akai Aki, bukan? Bagaimana? Cukup memuaskan?"
"Hmm, itu artinya, kau dan Putri akan mempersatukan dua daratan? Menakjubkan." Komentar Kakashi seraya tertawa kecil.
"Untuk mudahnya, sebut saja begitu." Jawab Kinoharu.
"Lalu, apa yang membuat Agire dendam pada Putri? Agire terlihat begitu baik di depan kami, pertamanya saja, sih" gumam Naruto jengkel, mengingat-ingat kemesuman Agire saat mengajaknya ke laboratorium. Tawa geli mengalun dari mulut Pangeran sebelum ia melanjutkan ceritanya.
"Nah, dendam Agire timbul karena ketidaksengajaan Akio. Saat itu, Akai Aki sempat berperang dengan Aoyuki, negara Land of Winter, karena kesalahpahaman semata. Perang cakra berlangsung cukup menakutkan dan berbahaya, saat itu pengguna cakra terbatas pada bangsawan saja. Akio sebagai calon penerus kerajaan, memilih turun tangan. Saat semua saling berperang, Akio sempat lengah dan hampir diserang oleh salah satu putra mahkota Aoyuki. Di saat itulah, Aino Hikari muncul."
"Aino Hikari?"
Semua kepala tertuju pada sosok baru di mulut grotto.
-xxxXXXxxx-
"Dalam buku catatan itu, aku menemukan satu nama yang menjadi sumber dendam Agire, Aino Hikari." Urai Sakura. Bulir-bulir keringat mengalir di keningnya. Tangannya terpusat pada kepala Akiochiba. Cakra hijau-putih mengalir masuk ke dalam kepala Sang Putri. Sakura menggigit bibirnya. Ia berkonsentrasi membagi life forcenya.
Jurus terlarang ini ia kembangkan bersama Tsunade semenjak kematian Nenek Chiyo. Three Path of Life. Membagi daya hidupnya menjadi tiga bagian, sehingga penggunanya tidak akan mati dalam sekejap.
Sai memalingkan wajahnya dari mulut gua dan memperhatikan Sakura yang terlihat pucat. Untung saja, ia sempat meminta cakra Kurama, sehingga kondisi fatal berujung pada kematian langsung bisa terhindarkan. Alisnya menyerngit.
"Siapa dia?"
"Putri yang lengah, berusaha melindungi diri, namun, secara mengejutkan Aino Hikari muncul untuk melindunginya dari serangan putra mahkota negara Aoyuki. Kemunculan Hikari yang tiba-tiba membuat Putri tidak sempat membatalkan serangannya. Palm of Light – yang sepertinya aku lakukan pada Naruto tadi secara spontan, aku sendiri kaget aku bisa melakukannya – terlepas dari tangannya dan malah menghantam Hikari hingga tewas. Tubuhnya remuk dan hampir tidak bisa dikenali. Karena begitu terkejut atas kematian Hikari, Putri langsung mengadakan gencatan senjata dan memilih mengalah pada negara Aoyuki." Sakura menghembuskan napas panjang. Pipinya mulai terasa cekung dan matanya mulai mengantuk.
"Sakura, bukankah sudah cukup?" tanya Sai khawatir. Kondisi Putri kini hampir pulih seutuhnya. Sakura menggeleng pelan dan menghela napas panjang.
"Sedikit lagi, Sai." lirihnya sendu. "Sekarang kita sampai pada bagian mengejutkan." Lanjutnya.
"Mengejutkan?"
"Aino Hikari adalah putri tiri Raja Akiuta." Alis Sai langsung mencuat mendengar hal ini
"Potret dalam mercusuar menjadi bukti nyata. Aino Inochi adalah Ibu tiri Putri Akiochiba. Ibu Ratu yang sesungguhnya sudah meninggal akibat penyakit kanker yang sudah lama dideritanya. Dengan demikian secara otomatis, Putri dan Hikari adalah saudara tiri. Karena tidak sanggup menerima kenyataan, Ibu Ratu bunuh diri dengan membakar dirinya."
"Tragis..." gumam Sai.
"Itulah sebabnya Agire murka. Aino Inochi adalah ibu kandungnya, sementara Aino Hikari adalah adiknya. Agire tiga tahun lebih tua dari Putri, dan secara otomatis menjadikannya kakak kandung Aino Hikari sekaligus kakak tiri Putri Akiochiba."
"Kepalaku sakit mendengarnya. Begitu rumit." Pelukis itu mengurut pangkal hidungnya dan mengerang pelan.
"Aku rasa juga begitu. Namun, masalah ini belum selesai. Karena kematian ibu dan adiknya, Agire jatuh dalam depresi berat. Dia menyalahkan Raja Akiuta yang membuat Putri bisa bertindak seperti shinobi. Karena itu, dia membunuh Raja Akiuta dalam tidurnya. Para menteri yang menentang Raja mendukungnya dan dibiarkan hidup, namun menteri yang setia, dibunuh oleh Agire."
"Bagaimana bisa seperti itu? Apa Putri mengetahuinya?" tanyanya takjub.
"Akiochiba seorang jenius. Ia tahu Raja dibunuh dan meskipun ia tahu pelakunya siapa, dia tidak bisa melawannya. Putri terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Hikari. Ia meyakinkan Agire untuk memberikan kesempatan menghidupkan kembali Hikari, namun Agire nampaknya tidak memberikan kesempatan panjang."
"Itu sebabnya, Agire meracuni Putri? Catatan harian itu begitu detil, eh?" Sakura mengangguk.
"Aku rasa cukup." Ia melepaskan tangannya dari kepala Akiochiba dan dengan segera jatuh pingsan. Sai dengan sigap menangkapnya dan mendekapnya.
Dengan lembut ia merebahkan tubuh ringkih Sakura dan berusaha sebisa mungkin agar luka di punggungnya tidak terusik. Konsentrasinya terganggu saat suara itu menggema di dinding gua.
"Ini semua salahku, ini saatnya aku sendiri yang mengakhirinya." Sai seketika menoleh pada sosok Putri Akiochiba yang sudah berdiri tegap menghampirinya. Suaranya dalam dan berwibawa. Sai sampai dibuat terkesima dengan kharisma yang ditunjukkan wanita berambut merah-jingga membara itu.
"P-Putri ... ? Anda sudah sadar..." gumam Sai terbata-bata. Bangsawan tertinggi itu mengangguk dan berlutut di samping Sakura. Cakra pelangi mengalun lembut di tangannya dan perlahan membungkus punggung Sakura.
"Aku tidak bisa menyembuhkan lukanya secara total. Energiku belum terkumpul sepenuhnya. Tapi, aku bersyukur, tanpa Sakura, aku mungkin akan selamanya memberi penderitaan pada rakyat Akai Aki." Urainya dengan setengah berbisik. Sai yang tercengang hanya bisa memperhatikan luka terbakar Sakura perlahan mulai menutup.
"Aku tidak sanggup lagi," ucap Putri.
"Tidak apa, Putri. Saya mengerti kondisi Anda. Saya ucapkan terima kasih." Akio menggelengkan kepalanya pelan dan menyentuh pundak Sai lembut.
"Jaga dia, kita beristirahat di sini untuk mengumpulkan tenaga." Perintah Putri. Sai menyetujuinya dan memberikan ruang luas sebagai privasi untuk Putri. Namun, Putri itu tak bergeming dan meraih tangan kanan Sakura.
"Gadis bodoh, aku sudah bilang jangan sampai dia menyentuhnya." Gumamnya. Lembut sekali, ia mengambil cincin Amaterasu dari jari manis Sakura. Akar-akar itu terlepas dengan cepat dan meninggalkan luka bakar di sekujur lengannya.
"Aku akan membalas kebaikan kalian. Aku berjanji." Mata merahnya menatap Sai dengan tekad bulat. Seniman itu mengangguk mantap dan membawa Sakura ke dalam dekapannya. Berharap, partnernya itu tidak menghilang. Sebab, ia sungguh tidak siap jika suatu saat Maut meminta Sakura dari dekapannya.
-xxxXXXxxx-
"Ehm, Sasuke, kau masih merasa sakit?" Sasuke mencengkeram dadanya dengan kuat. Dalam perjalanan menemukan mereka, ia sempat mengalami kejang-kejang. Efeknya masih terasa sampai sekarang. Untunglah penguasaan dirinya begitu baik sehingga ia tidak sampai pada tahap yang fatal.
Kinoharu tersenyum tipis dan mengambilkan futon untuk Sasuke dan Kakashi beristirahat, setelah ia menyelesaikan kronologi peristiwa ini. Naruto sibuk mengambilkan minum dan pakaian baru untuk Sasuke. Uchiha itu bernapas berat. Dadanya terasa sesak. Ia sudah mendengar semua.
Sesampainya di grotto, Kinoharu melanjutkan ceritanya. Sasuke hanya berdiam diri di bagian terdalam grotto. Naruto yang menyadari gerak-gerik sahabatnya, memaksanya berbicara. Mau tidak mau, Sasuke mengatakan yang ia rasakan.
"Tenanglah, Uchiha-san. Kau akan segera baik-baik saja. Jangan sampai istrimu itu khawatir." Goda Kinoharu. Lirikan setengah hati dilemparkan Uchiha pada Pangeran yang masih menyimpan sisi tengilnya itu.
"Aku harap, Sakura dan Sai baik-baik saja. Tapi, aku tetap masih tidak percaya, Sakura-chan melakukan itu padaku!" gerutunya bak anak kecil. Ia menenggak air minumnya cepat-cepat dan mendengus kesal.
"Percayalah pada Sakura. Kau sudah lupa soal keyakinanku padanya?" tegur Kakashi yang semakin letih akibat pendarahannya.
"Ah, maafkan aku Kakashi. Aku masih terbawa perasaan. Tapi, jangan khawatir, aku tidak akan meragukan Sakura-chan." Jawabnya dengan cengiran khasnya.
Ninja peniru itu mengangguk dan mendesah pelan. Ia masih tidak menyangka, ia bisa bertahan menghadapi jurus mematikan itu. Ia menutup matanya sejenak dan terbuka kembali saat percakapan itu terjadi.
"Kau mengkhawatirkannya, Uchiha-san?" gumamnya pelan.
"Panggil aku Sasuke." balasnya setengah berbisik. Matanya sudah lelah. Rinne Sharingannya berdenyut-denyut.
"Ah, jadi kau khawatir, Sasuke."
"..."
"Aku anggap itu, iya." Jawabnya setengah bersorak. Mata hitam itu memandangi Pangeran unik itu dengan pandangan bertanya-tanya.
"Tenang saja, pinky sister akan segera pulih dan dia pasti baik-baik saja." Hiburnya.
" ... bagaimana kau tahu?" tanya Sasuke di tengah kantuknya. Pikirannya kalut, memikirkan Haruno Sakura yang entah bagaimana sekarang.
"Aku tahu. Sudah, aku pokoknya tahu." Senyum muram mengiringinya. "Tidurlah, siapa tahu, kalian bertemu dalam mimpi."
"..."
"Sebab, saat ini Sakura sedang memikirkanmu." Mendengar itu, tidurlah pemuda penyandang klan Uchiha. Aneh saja, memikirkan Sakura tengah mengkhawatirkannya, membuat jantungnya berdenyut lebih tenang. Senyum tipis, tak sadar ia ulaskan dalam tidurnya.
Update tercepat eh? Hahaha Ane pusing soalnya script codingan program ane lagi error, jadinya melarikan dulu deh mumpung otak ini mau bekerja sama dengan fanfic :3
Semoga ini bisa menjawab sebagian besar kemelut EC : Finding The Ring... jangan sungkan kritik ato bertanya yah? Ane senang bisa komunikasi dengan ente sekalian :D
Sekuel.. sekuel.. sedang digarap XD
Aish, bubye dulu ya? Garap skripsi lagi! Doakan ane :D
Love you all people :*
RnR Pliss?
Matursuwun...:3
Psst! (*) ada hubungannya dengan 'It's Not The Last Fireworks' #bukanpromosi XD
