Chapter 6 : The Broken Bodyguard
.
.
Sehun berdiri di depan markasnya, matanya tidak berhenti mengikuti mobil Jongin yang semakin menjauh. Ia sengaja tidak mengikuti Jongin pulang ke apartemen mereka karena ada yang harus dirinya selidiki terlebih dahulu. Namun, ia sudah berjanji pada Jongin kalau ia tidak akan lama.
"Hmm, aku tidak tahu kalau kau-"
"Diam." potong Sehun membuat L.E tertawa. Gadis itu sengaja semakin membesarkan volume tawanya karena respon Sehun yang dianggapnya sangat menghibur.
Belum sempat Sehun membuka mulut untuk membentak L.E, ponselnya berdering keras di dalam saku celananya. Sekilas, ia mendelik tajam pada L.E seolah berkata kalau ia belum selesai dengannya. L.E hanya tersenyum miring jelas mencibirnya.
"Halo?" Sehun menempelkan ponselnya tersebut ketelinganya. Ia tidak melihat lagi kontak dari nomor tersebut karena ia pikir panggilan ini berasal dari Jongin, yang ingin mengerjainya saja.
"Se-Sehun! Ini Krystal. Tolong aku! Aku ada di gudang pabrik yang letaknya di sekitar stasiun tv-"
Samar-samar, Sehun mendengar suara lain; suara hantaman dan teriakan. "Bitch! Aku tidak menyuruhmu berkata begitu!" Lalu, sambungan telpon terputus.
Sehun terdiam sejenak berusaha memproses apa yang baru saja terjadi. Apa seseorang menculik Krystal? Lalu, apa hubungannya hal ini dengan dirinya? Jika mereka mengincar Krystal untuk menjebak dirinya.. berarti, mungkin, mereka juga mengincar Jongin? Persetan.
"L.E cepat telpon management Jung Soojung atau Krystal. Dan suruh Jongdae melacak gudang pabrik yang letaknya dekat dengan stasiun TV." perintah Sehun.
Pria itu berjalan ke samping rumah atau markasnya, memasuki garasi yang dipenuhi oleh lima macam mobil mewah dari tahun yang berbeda-beda. L.E berlari mengikuti dirinya yang sedang mencari kunci mobil di dalam laci meja yang berada di pojok garasi.
"Sehun, ada apa?" Tanya gadis itu tidak mengerti akan situasi yang dihadapinya.
Sehun mengambil kunci mobil yang bergantungkan angka lima. Ia beralih menghadap L.E berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun lidahnya terasa tertahan. "Kau lakukan saja apa yang kuperintahkan." Jawab Sehun.
Pria itu menepuk bahu L.E dengan senyum getir. Sebelum, dia melangkah masuk ke dalam mobil Jaguar yang biasa dirinya pakai ketika sedang menjalankan tugas. Suara mesin mobil yang menyala menutupi suara teriakan L.E yang masih menuntut penjelasan. Sehun memakai satu earphone yang dilengkapi dengan mic kecil, namun sangat sensitif dengan berbagai macam suara yang berada di sekitarnya, untuk menyambungkan dirinya pada Jongdae.
Ia membuka laci dashboard di bawah kemudinya dan menemukan dua pistol favoritnya di bawah sana. Good, Sehun menyeringai lebar. Tangannya terasa gatal ingin segera mengemudikan mobil yang secara tidak langsung sudah lama menjadi miliknya ini. Sebelum L.E sempat menghantam kaca mobilnya, yang sebentar anti peluru dan tahan oleh hantaman benda seberat maksimal 25kg, Sehun sudah menginjak gas mengendarai mobilnya keluar dari area markasnya.
"Hubungi Kim Jongin." suaranya yang segera diproses oleh komputer organisasi yang disambungkan oleh earphone ditelinganya, langsung menelpon Jongin yang masih dalam perjalanan ke apartermennya.
"Halo?"
"Jongin, kita bertemu di McDonald sekarang."
"Hah? Ini Sehun, kan?"
"Iya. Anyways, nanti aku traktir jadi.. jangan banyak tanya."
"Oh, okay!"
Lalu, seenaknya saja Jongin memutuskan panggilannya. Beberapa saat kemudian, Sehun langsung tersambung dengan markasnya. Ia yakin Jongdae-lah yang menelponnya. "Jadi, dimana?" tanyanya sedikit tidak sabar.
"Tadi, L.E sudah menelpon agency Soojung dan mereka bilang Soojung dalam perjalanan menuju stasiun tv SBS sebelum dia menghilang. Aku sudah mengirimkan peta letak gudang pabrik di sekitar sana. Untungnya, hanya ada satu gudang di sana." Sehun menekan salah satu tombol pada GPS yang menempel di atas tape mobil. Layar GPS tersebut langsung menampilkan peta yang Jongdae kirimkan.
"Thanks, dude."
"No prob, man. Tapi, serius deh, kau punya hubungan apa dengan Krystal? Kau bisa saja menyerahkan masalah ini pada polisi, yang by the way, juga sedang mencari Krystal. Berita menghilangnya gadis itu menyebar cepat sekali, bro. Wartawan sedang berkumpul di depan gedung SMent sekarang."
Sehun terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Jongdae memang ada benarnya. Ia memang tidak memiliki kewajiban untuk menyelamatkan Krystal. Hubungan mereka tidak lebih dari sekedar rekayasa publik. Jadi, untuk apa ia menyelamatkan gadis itu? Sehun meringis. Bekas luka dipinggangnya masih terasa perih.
"Halo? Dude?"
"Dia menelponku tadi-" Sehun melirik layar GPS-nya, ia baru saja melewati McDonald. "-selain itu, aku yakin ini ada hubungannya dengan Jongin."
"What? Siapa yang menelponmu?"
"Krystal."
Sehun memutar kemudinya memasuki area dimana stasiun tv SBS berada. Jalan kota Seoul yang tidak begitu padat dan cenderung lancar membuat dirinya dapat menaikkan kecepatan mobil. Ia tidak perduli kalau ada polisi yang mengejarnya dari belakang. Seandainya, memang ada. Ia malah menganggap mereka sebagai bantuan baginya. "Man, jujur saja.. aku semakin tidak mengerti dengan hubungan kalian berdua."
"Kami tidak memiliki hubungan sama sekali." Sehun nyaris menggeram saat mengatakannya.
"Okay, okay, tenang, Oh Sehun."
Sehun menoleh ke samping kanannya. Ia sudah melewati gedung SBS yang dipenuhi oleh wartawan dan ada empat mobil polisi yang menepi di pinggir jalan. Ia jamin sebentar lagi jalan ini akan ditutup agar investigasi dapat dilaksanakan tanpa adanya gangguan. Namun, jika dilihat dari jumlah wartawan serta reporter yang berkumpul. Sehun cukup meragukan kelancaran investigasi ini. Arah pandangnya beralih pada layar GPS. Pada persimpangan yang jaraknya cukup dekat dengan gedung SBS, ia harus berbelok ke kiri.
"Trust me, Jongdae. Aku melakukan semua ini untuk Jongin."
.
.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" L.E menatap Jongdae yang tampak sibuk di depan layar komputernya.
"Heyy, jangan hiraukan aku!" rengek L.E saat Jongdae mulai menggerakkan kursor komputer.
Jongdae meliriknya sekilas, lalu mendengus keras. "Fuck off. Kau menggangguku saja."
Seperti dugaan Jongdae, L.E hanya membalasnya dengan jitakan keras dikepalanya. Sementara dia merintih kesakitan, L.E menarik kursi ke sampingnya untuk melihat apa yang sebenarnya Jongdae kerjakan dikomputernya. "Kau sedang mencari informasi tentang Kim Jongin?" L.E beralih menatapnya tampak kebingungan. "Untuk apa?"
Awalnya, Jongdae hanya terdiam tidak ingin membagi asumsinya yang belum tentu benar pada gadis itu. Namun, delikan tajam yang L.E berikan padanya jelas bukan ancaman yang sekedar main-main. Gadis itu serius dan sebut dirinya pengecut, tapi L.E adalah salah satu agent yang dirinya takuti. Jongdae menghela nafas. Cepat atau lambat, ia memang harus memberitahu seseorang tentang asumsinya ini. Mungkin, L.E adalah seseorang yang dapat dipercayainya.
"Oke. Jadi, sebelum Sehun resmi menjadi bodyguard Jongin. Aku terlebih dahulu mengecek latarbelakang pemuda itu dan.. aku pikir Kim Jongin tidak lebih dari sekedar bocah yang gila pesta. Sehingga, rasanya aneh kalau Sehun, yang jelas-jelas adalah salah satu agent terbaik di organisasi, dipilih langsung oleh ayah Jongin untuk menjadi babysitter anaknya." L.E mengangguk. Sesungguhnya, hal itu juga cukup menganggunya selama ini. Mengapa ayah Jongin harus memilih agent terbaik di organisasi kalau hanya untuk melindungi reputasi anaknya? Pasti ada alasan lain yang berusaha dia sembunyikan.
"Beberapa bulan ini, aku mencoba mencari-cari informasi tentang Jongin di internet. Dan berita tentangnya tidak lebih dari sekedar skandal. Tapi, dua hari yang lalu.. aku menemukan situs berita yang tidak begitu besar sehingga pengunjungnya tidak banyak. Dan aku menemukan berita ini." Jongdae membuka halaman bookmark di komputernya dan meng-klik situs paling atas. Beberapa detik kemudian, layar halaman berganti menjadi situa berita yang menampilkan foto mobil yang terbakar di malam hari.
L.E mulai membaca headline berita tersebut. "Ternyata, sekitar setahun yang lalu Jongin mengalami kecelakaan dengan dua temannya. Inisial keduanya adalah BB dan PC. Salah satu di antaranya meninggal dan satunya lagi mengalami luka bakar yang cukup parah. Bisa dibilang, kondisi Jongin-lah yang.. lebihbaik dari antara mereka semua. Aku belum mencari tahu siapa itu BB atau PC. Namun, dugaanku mereka juga berasal dari keluarga chaebol dan merupakan teman dekat Jongin."
L.E beralih menatapnya, berusaha untuk menyambungkan semua informasi Jongdae dengan insiden yang terjadi beberapa hari yang lalu. "Dan, FYI, aku mencoba mencari berita ini di situs besar lainnya. Namun, aku tidak menemukan apapun." ujar Jongdae.
"Mungkin, ayah Jongin berusaha menutupi kecelakaan ini darinya?"
"Mungkin saja. Dari situs berita itu, aku menemukan berita lain yang mengatakan kalau Jongin mengalami amnesia jangka pendek."
"Tapi, mengapa?" tanya L.E membuat Jongdae terdiam beberapa saat. Karena.. pertanyaan itulah yang juga selama ini dipikirkannya.
"Aku juga tidak tahu." jawab Jongdae. Pria itu kembali terdiam, matanya mengarah lurus pada LE.
"I think.. this is about revenge, Jongdae." kata L.E dengan suara rendah.
Kening Jongdae langsung mengerut. Wajahnya berubah menjadi terlihat rumit, sehingga L.E memilih untuk kembali menutup mulutnya. "Revenge?" tanya Jongdae, mengulang kata-katanya barusan.
"Ya, Jongdae. Balas dendam."
.
.
Setelah berbelok di persimpangan, jalanan semakin mengecil hingga menjadi jalan buntu di ujungnya. Sehun memarkirkan mobilnya di depan rumah kosong yang berada tidak jauh dari area gudang pabrik. Di sekitar gudang tersebut, dibatasi oleh pagar tinggi yang di atasnya terdapat gulungan kawat. Mata Sehun memicing tajam saat melihat dua orang pria bersenjata yang berjaga di depan pintu gerbang. Ia segera membuka dashboard dan mengeluarkan dua buah pistol dari dalam sana.
Keduanya merupakan pistol dengan jenis MAC-10. Pistol dengan peredam suara serta jarak jangkaun sekitar 100 meter itu merupakan jenis favoritnya. Sehun menggenggam erat kedua pistol tersebut. Ia harus bergerak cepat.
Sehun langsung membuka pintu mobilnya dan mengarahkan kedua pistolnya pada dua orang pria itu. Ia menembak keduanya sambil berlindung dari balik pintu. Kedua pria itu langsung terjatuh tidak bernyawa karena tidak memiliki waktu untuk menghindar. Sehun segera menutup pintu mobil dan berlari menuju pintu gerbang. Ia bergerak dengan hati-hati sambil mengawasi sekelilingnya.
Di balik pintu gerbang, terdapat halaman yang cukup luas dan dua gedung dengan ukuran berbeda. Sehun yakin Soojung ditahan di gedung utama, yang berada di tengah dan letaknya lebih besar. Di sekitar halaman, ada satu mobil sedan biasa dan satu mobil van. Sehun menduga kalau ada sekitar enam orang atau tidak lebih dari sepuluh di dalam sana.
Sehun bergerak menuju belakang gudang. Ia yakin kalau di belakang sana ada pintu yang dapat memberikannya akses masuk tanpa perlu menarik perhatian. Sehun menundukkan tubuhnya, tidak ingin para bajingan itu melihat berlari dari kaca. Ada empat kaca yang menempel di sisi gudang, setiap kaca itu berukuran cukup besar sehingga Sehun harus semakin berhati-hati. Pada kaca terakhir sebelum ia mencapai pintu belakang, Sehun memberanikan diri untuk berhenti sebentar dan menoleh ke dalam.
Seperti dugaannya, hanya ada enam orang di dalam sana. Satu orang berjaga di samping Krystal yang diikat pada sebuah kursi, gadis itu menundukkan kepalanya, sehingga Sehun tidak bisa melihat seperti apa kondisinya sekarang. Ada tiga orang yang berjaga di pintu depan dan dua lainnya berpencar; ada yang berjaga di pintu belakang dan yang satunya lagi berjaga tidak jauh dari jangkauan Sehun.
Sehun tahu apa yang dilakukannya. Ia sudah memiliki rencana yang tersusun jelas di dalam otaknya. Ia mengarahkan pistolnya pada pria yang berdiri membelakanginya. Tanpa ada suara, pria itu langsung terjatuh saat Sehun menembaknya.
Sesuai dengan rencananya, suasana di dalam gudang berubah menjadi kacau. Sehun mendengar teriakan berupa perintah untuk segera menghabisi dirinya di pintu belakang. Sehun menyeringai. Matanya memicing tajam, tidak sabar merenggut nyawa para bajingan itu.
Ia berlari. Sehun merasa sudah cukup lama ia tidak berlari secepat ini. Pintu belakang terbuka dan dua orang pria bertubuh kekar langsung menghadangnya. Sehun mengarahkan pistolnya ke salah satu pria itu. Sementara, pria yang satunya lagi berusaha meninju wajahnya. Sehun bergerak sangat cepat. Ia berhasil menembak targetnya dan menendang perut pria yang menyerangnya sebelum pria itu berhasil menghajar pipinya. Tubuh pria itu terpental persis mengenai dua orang pria yang berada di ambang pintu.
Sehun bergerak sangat cepat. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia langsung mengarahkan kedua pistolnya pada dua pria yang baru saja datang itu. Tubuh mereka jatuh bersamaan, meninggalkan dirinya dengan pria malang yang masih duduk di lantai.
Pria itu mencoba untuk bangkit berdiri, namun Sehun menahannya dengan satu kakinya. Ia menginjak perut pria itu, lalu menembak pria itu tepat di tengah keningnya. Ia tidak memiliki banyak waktu. Ia harus bergerak cepat. Krystal membutubkan dirinya di dalam sana.
Sehun harus bergerak cepat. Ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Langkah kaki itu terdengar buru-buru. Tanpa menoleh ke belakang, mengikuti insting miliknya, Sehun menembakan pelurunya ke arah orang itu. Dan lagi-lagi, orang itu terjatuh ke atas aspal. Tidak bernyawa.
Sehun menarik nafas. Ia menoleh ke dalam gedung dengan perasaan geliaah. Matanya langsung tertuju pada seorang pria yang berdiri di belakang Krystal, pria itu menempelkan ujung pistol persis dipelipis mata gadis yang seharusnya tidak pernah terlibat ke dalam kekacauan ini.
"Oh Sehun, kami semua sangat menantikan kedatanganmu." ujar pria itu, lalu tertawa.. jelas hanya untuk menghina dirinya.
Sehun berjalan mendekat. Ketika ia ingin menarik nafas kembali, nafasnya terasa seperti tertahan. Ini bukan pertanda yang baik. Ada suatu keraguan di dalam dirinya dan itulah yang membuatnya frustasi tiba-tiba.
Fuck, gadis malang itu tidak akan berakhir.. selamat.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Sehun dan ini memang pertanyaan yang sepenuhnya jujur. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?
Pria itu tersenyum miring. Apapun yang dilakukannya membuat Sehun muak. Tangannya terangkat hendak mengarahkannya pada bajingan itu, namun-
"Kalau kau berani macam-macam, akan kubunuh dia. Aku tidak main-main, Oh Sehun." Sehun tahu. Ia tidak perlu mengambil resiko yang fatal hanya untuk membuktikannya.
"Pertanyaanku masih sama." Sehun menggertakkan giginya, menahan geraman yang terdengar seperti binatang keluar dari bibirnya.
Senyuman mencibir bajingan itu semakin melebar. "Kami hanya ingin membuatmu.. takut, Sehun. Hanya itu." jawab pria itu jujur.
Dan sungguh, Sehun sama sekali tidak mengerti. Ia tahu kalau pria itu berkata jujur. Entah mengapa, Sehunyakin kalau pria itu tidak berbohong padanya. Apa maksudmu?
Seolah bisa membaca pikirannya, pria itu menjawab. "Kau harus menjauh dari Kim Jongin. Berhenti jadi bodyguard-nya. Atau kalau tidak, Jongin akan berakhir seperti ini."
Tanpa ada yang menduga pria itu menekan pelatuk pistolnya. Mata Krystal yang berwarna coklat terang terlihat seperti menggelap. Semuanya terjadi begitu cepat. Peluru menembus kepalanya dan suara jeritan yang tertahan mengantar tubuhnya jatuh tak bernyawa ke lantai. Sehun menonton semuanya dengan teror diwajahnya.
Apa yang sebenarnya mereka inginkan?
Sehun bergerak begitu cepat. Ia langsung mengangkat pistolnya dan menembak bajingan itu. Dia ingin menangis. Namun, air matanya tertahan di suatu tempat. Sehun seperti orang mabuk. Ia berjalan tanpa ada tumpuan, bahkan nyaris terjatuh. Ketika ia berada di hadapan Krystal, ia jatuh berlutut. Tangannya yang basah karena keringat menyentuh lembut rambut gadis itu. Ia ingin mencium keningnya sebagai tanda perpisahan. Tetapi, ia sadar akan posisinya. Bagaimanapun juga, dia-lah yang membuat Krystal berakhir seperti ini. Semua ini salahnya.
Sehun memang tidak mengenal baik siapa itu Jung Soojung. Namun, yang dirinya tahu.. gadis ini tidak pantas mati karenanya.
.
.
Hujan.
Jongin kembali melirik jam tangannya. Sudah tiga jam lebih dirinya menunggu, ia mulai merasa ragu kalau Sehun akan datang. Matanya berkeliling menatap setiap pengunjung di sekitarnya, sampai akhirnya dia berhenti pada sekumpulan siswa SMA yang sedang melempar lelucon pada satu sama lain. Jongin tersenyum sambil memperhatikan mereka. Ia teringat akan Taemin, Baekhyun dan dirinya-
Tunggu, siapa itu Baekhyun?
Pandagan Jongin berpindah pada burger di hadapannya yang semakin mendingin. Matanya bergerak gusar keluar kaca restoran dan bertemu pandang dengan seorang pria yang berdiri di tengah hujan. Pria itu menatapnya dengan wajah sedih membuat dirinya bertanya-tanya.
Hujan di luar sana sangat deras. Butir hujan yang jatuh ke tanah terasa seperti menyerang siapapun yang mencoba menantangnya. Suara hujan sangat keras. Telinga Jongin mungkin bisa menjadi tuli karenanya. Namun, jika Sehun di luar sana.. mau membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Ia akan mendengarkan.
Jongin menunggu. Ia menunggu sampai Sehun berhenti menatapnya dan melangkah masuk ke dalam restoran. Namun, pria itu sampai detik ini hanya menatapnya, mencoba mengatakan sesuatu lewat tatapan sedihnya, yang sama sekali Jongin tidak mengerti. Damnit, dirinya bukan paranormal atau semacam mind-reader!
Sehingga, Jongin memutuskan untuk keluar. Ia tidak bisa berdiam lebih lama lagi menonton Sehun yang terlihat seperti sedang menghukum dirinya. Jongin melangkah melewati pintu restoran. Ia membiarkan hujan menyapa dirinya dan Sehun masih di sana. Mata pria itu tidak berhenti menatapnya. Jongin mendekat. Langkahnya cepat, namun terasa lambat dna begitu jauh bagi Sehun.
Ketika pemuda itu berada di hadapannya, Sehun sama sekali tidak tahu harus menciumnya atau melukai perasaannya. Ia bisa saja mengatakan sesuatu yang membuat Jongin berubah membencinya sekarang. Namun, anehnya, ia tidak bisa. Ia sudah terlanjur jatuh ke dalam pemuda idiot bernana Kim Jongin.
Jongin hanya menatapnya. Pemuda itu merasa kalau kata-kata tidak mampu mengungkapkan apa yang dirasakannya sekarang. Sehingga, ia menarik kedua pipi Sehun dan menciumnya. Tidak berlangsung lama, tidak agresif atau bahkan, dapat menghangatkan bibirnya yang mulai bergetar. Namun, bagi Sehun, ciuman itu.. cukup spesial.
Mungkin, itu adalah ciuman terakhir darinya.
Jika ia dapat melindugi Jongin dengan melepaskannya.. maka, ia akan merelakannya.
.
.
Rin's note :
Chapter ini aku sengaja gak center-nya ke sekai.. karena aku udah mulai masuk ke konflik nih hehe
Aku bener-bener nguras otak pas nulis chapter ini.. dan aku tahu kalau kalian semua pasti lagi kesel sama Sehun karena tbh aku yang nulisnya aja kesel.. SEHUN YOU IDIOT! tapi janji deh.. antara Jongdae or LE bakal nyadarin Sehun kalau keputusan bodohnya itu malah bikin nyawa Jongin terancam..
Anyways, aku nggak tau kenapa.. tapi aku suka banget scene pas Krystal mati.. somehow aku mendadak jadi Sehun.. kayak aku bisa ngerasainnya gitu (apasihrin)
Di scene terakhir juga, itu aku nggak tau darimana datangnya.. hehe
P.S aku janji akan update lebih faster lagi for next chapter
P.S.S work in progress nya WTBBFIL.. maybe update besok?
