Title : Stubborn Couple

Cast : DBSK, dll.

Pair : Yunjae, dll

Disclaimer : These charactersare not mine, they belong to themselves. But this story is mine.

Warning : Yaoi, typos, dll. DON't LIKE DON't READ

CHAPTER 6

Hari ini adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua siswa-siswi Dong Bang High School, yaitu hari festival sekolah. Semua siswa sangat antusias menyambut hari ini. Satu hal yang menyenangkan dari festival ini adalah karena hari ini semua pelajaran ditiadakan. Siswa-siswi ini lebih memilih disibukkan oleh persiapan festival daripada disibukkan oleh pelajaran sekolah. Begitu pula dengan Yunho dan Jaejoong. Hari ini mereka bangun lebih pagi karena memang kemarin Taeyeon dan Seung Ri menyuruh anggota kelas mereka untuk datang lebih pagi agar lebih leluasa dalam persiapan.

Karena hari ini umma dan appa Jaejoong sedang tidak di rumah dan baru akan pulang 5 hari lagi, maka Jaejoonglah yang mengambil alih menyiapkan sarapan. Walaupun sebelumnya Jaejoong sudah enggan memasak untuk Yunho, namun bersyukurlah Yunho karena setidaknya Jaejoong masih memiliki hati nuran. Bangun sepagi ini dan kegiatan di sekolah nanti pasti menumpuk, jika tidak sarapan sudah bisa dipastikan mereka akan pingsan. Karena itulah sekarang ini dia di dapur sendirian sedang menyiapkan sarapan untuk kedua kakak beradik itu, yah hitung-hitung sebagai balasan juga karena Yunho sudah menolongnya.

Sedangkan kakak beradik yang dimaksud? Oh ayolah, menyuruh Yunho membantu sama saja dengan harus bersiap-siap memanggil tukang dan menyiapkan dana untuk memperbaiki dapur yang akan dipastikan hancur jika Yunho menyentuh alat-alat di dalamnya. Sedangkan Changmin? Mungkin saja dia bisa disuruh membantu, tapi dapat dipastikan sebelum makanan tersebut tertata dengan rapi di meja, makanan tersebut sudah bersarang terlebih dahulu di perutnya.

Saat Jaejoong sedang asik menyiapkan sarapan, Yunho yang sudah selesai bersiap-siap keluar dari kamar dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Namun, saat turun dia melihat Jaejoong sedang memasak. Jaejoong pun menyadari kehadiran Yunho dan langsung menyuruh Yunho duduk di meja makan.

"Hm? Kau sudah siap? Duduklah, aku sedang menyiapkan sarapan juga untukmu dan Changmin," kata Jaejoong tanpa melihat ke arah Yunho dan tetap sambil meneruskan pekerjaannya yang sudah selesai.

"Hari ini akan ada badai sepertinya," jawab Yunho yang berkesan tidak nyambung tapi tetap saja dia berjalan menuju ke meja makan.

"Mwo?" kata Jaejoong sambil mematikan kompor dan kemudian melihat ke arah Yunho.

"Lupakan," jawab Yunho cuek sambil menarik salah satu kursi di meja makan dan mendudukinya.

"Terserah," kata Jaejoong. Jaejoong kemudian berjalan menuju ke rak piring untuk mengambil tiga buah piring untuk menghidangkan masakannya tadi. Jaejoong pun mengambil piring satu demi satu dari rak, namun saat satu piring sudah ditangannya, pandangan Jaejoong tiba-tiba saja menjadi sedikit buram dan hilang keseimbangan sehingga piring tersebut jatuh dan pecah.

Yunho yang awalnya duduk sambil memainkan ponselnya langsung menoleh ke arah suara piring yang pecah tersebut. Mata musang milik Yunho melebar ketika dilihatnya Jaejoong sedang berdiri sambil menyangga tubuhnya di meja nakas dengan satu tangan dan tangan satunya lagi memegang kepalanya. Di bawahnya berserakan pecahan-pecahan piring yang tadi tidak sengaja dijatuhkan Jaejoong. Segera saja Yunho bangkit dan berjalan ke arah Jaejoong perlahan agar tidak menginjak pecahan piring tersebut.

"Ya Jae! Gwenchana?" tanya Yunho dengan suara yang sedikit panik sambil menyentuh pundak Jaejoong. Merasa di sentuh oleh Yunho, Jaejoong segera berdiri dan menatap Yunho.

"Ah ne, gwenchana. Maaf mengagetkanmu. Tadi tanganku sedikit licin," jawab Jaejoong yang kemudian jongkok untuk membereskan pecahan-pecahan piring tadi. Merasa ada yang aneh dengan kondisi Jaejoong, Yunho segera ikut jongkok dan langsung memegang kening Jaejoong.

"Ya, apa maksudmu dengan gwenchana? Lihat, badanmu panas begini," kata Yunho terkejut karena merasakan dahi Jaejoong yang panas.

"Mungkin aku hanya sedikit flu karena kehujanan tadi malam," jawab Jaejoong cuek masih sambil membereskan pecahan-pecahan piring tersebut.

"Mwo? Kehujanan? Bukankah setiap hari kau bawa payung?" tanya Yunho. Ya, semalam memang turun hujan yang cukup lebat saat Jaejoong hendak pulang. Yunho yang sudah pulang terlebih dahulu sama sekali tidak merasa khawatir dengan Jaejoong karena setahunya Jaejoong selalu membawa payung kemanapun dia pergi. Terlebih di musim-musim hujam seperti ini.

"Ne, tapi kemarin tiba-tiba payungku hilang. Entahlah mungkin jatuh. Sudahlah, sana minggir, aku mau membereskan ini," perintah Jaejoong. Namun, Yunho tidak menuruti perintah Jaejoong. Yunho segera merebut pecahan piring yang ada di tangan Jaejoong dan meletakkannya kembali di lantai. Ketika Jaejoong hendak protes, Yunho segera meraih lengan Jaejoong dengan kedua tangannya dan menarik Jaejoong agar berdiri. Setelah itu, dia menuntuk Jaejoong duduk di kursi makan yang tadi didudukinya.

"Diam di situ, aku akan membereskan ini semua," kata Yunho memotong Jaejoong yang hendak melayangkan protes. Mendengar itu Jaejoong hanya diam dan melihat Yunho yang sekarang ini sedang membereskan pecahan-pecahan piring tersebut. Setelah beres, Yunho mengambil tiga piring lain dan dengan hati-hati dia membagi masakan Jaejoong tadi ke dalam pring-piring tersebut.

"Annyeong Hyungdeul," sapa Changmin ceria dengan suara high notenya itu sambil keluar dari kamarnya yang memang dekat dengan dapur tersebut. Namun, melihat keadaan di dapur, dia menjadi tercengang sendiri. Pasalnya yang sekarang ini dia lihat adalah Yunho yang sedang menghidangkan makanan dan Jaejoong sedang duduk dengan manis di meja makan. Benar-benar sebuah pemandangan yang benar-benar mustahil terjadi. Melihat itu, Changmin menghentikan langkahnya dan menepuk-nepuk pipinya sendiri.

"Omo, apa aku masih bermimpi?" tanya Changmin pada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri, "Ah, tidak. Pipiku terasa sakit, ini pasti bukan mimpi," setelah mengatakan itu tiba-tiba mata Changmin melebar dan berteriak pada Jaejoong dan Yunho.

"Ya, kalian berdua. Kemana Jaejoong Hyung dan Yunho Hyung yang asli?" tanya Changmin setengah berteriak sambil menudingkan tangannya pada Yunho.

"Ya, jangan berisik, maknae. Ini masih pagi tahu. Dan apa maksudmu? Tentu saja aku Yunho yang asli, pabo," balas Yunho.

"Tidak mungkin. Kalian pasti alien yang menculik Yunho Hyung dan Jaejoong Hyung dan menyamar menjadi mereka. Tapi sayangnya penyamaran kalian tidak sempurna. Yunho Hyung sama sekali tidak bisa memasak," kata Changmin lagi.

Mendengar itu, Yunho menjadi gerah sendiri. Yunho segera berjalan menuju adik semata wayangnya itu dan menghadiahi sebuah jitakan gratis di kepala Changmin.

"Aishhh, appo. Apa yang kau lakukan makhluk jelek?" teriak Changmin.

"Ya, dasar pabo. Kau itu sudah SMP, bisa tidak berpikir dengan normal sedikit, hah? Aku hanya membantu Jaejoong karena dia sedang sakit," jawab Yunho. Sementara itu Jaejoong sweatdrop melihat tingkah laku kedua kakak beradik tersebut. Sebenarnya dia ingin sekali melerai mereka, tapi tubuhnya benar-benar lemas. Sepertinya dia benar-benar sakit, begitulah pikir Jaejoong.

Changmin membulatkan matanya mendengar Jaejoong sakit. Segera saja, Changmin berjalan cepat ke arah Hyungnya yang tersayang karena masakannya itu dan kembali mendramatisir keadaan.

"Omo, Joongie Hyung. Kau sakit? Gwenchana Hyung?" tanya Changmin dengan satu tangan memegang kening Jaejoong dan satu tangan lagi memegang keningnya sendiri untuk membandingkan suhu tubuh mereka berdua. Baru saja Jaejoong membuka mulutnya hendak menjawab, Changmin sudah menyela terlebih dahulu, "Omo, Hyung. Badanmu panas. Kau harus istirahat. Ayo kita ke kamar," kata Changmin sambil menarik Jaejoong. Tapi Jaejoong tetap bertahan di posisinya.

"Minnie-ah. Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, ne?" jawab Jaejoong sambil tersenyum.

"Tapi, Hyung…,"

"Benar kata Changmin. Hari ini kau lebih baik tidak usah sekolah. Istirahatlah," kata Yunho memotong ucapan Changmin sambil berjalan kembali ke meja makan.

"Ah, gwenchana. Aku tidak apa-apa. Lagipula semuanya akan repot jika aku tidak ada," kata Jaejoong sambil berdiri dan mengambil piring berisi makanan yang tadi sudah disiapkan Yunho dan mulai makan, diikuti oleh Yunho dan Changmin. Yunho hanya diam saja mendengar perkataan Jaejoong tadi karena tidak ada gunanya memaksa Jaejoong yang memang pada dasarnya keras kepala itu. Lagipula letak permasalahannya bukan di situ, Yunho sendirilah yang bingung harus membujuk Jaejoong dengan kata-kata seperti apa.

Mereka bertiga makan sambil sesekali berbincang-bincang. Di sini, Changmin lah yang bertugas mencairkan suasana selama Mr. Kim dan Mrs. Kim tidak ada. Jangan harap kedua orang yang seperti anjing dan kucing itu mau sekedar berbasa-basi walaupun itu hanya berdua saja. Lima belas menit kemudian, mereka semua selesai makan. Jaejoong tidak menghabiskan makanannya karena memang nafsu makannya berkurang karena flu tersebut. Changmin membantu mereka membereskan piring-piring kotor dan setelah itu mereka semua bersiap berangkat ke sekolah.

Yunho dan Jaejoong segera berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki seperti biasanya. Jalanan masih cukup sepi karena memang sekarang ini mereka berangkat sedikit lebih pagi daripada biasanya. Hari ini untuk pertama kalinya, sekali lagi untuk PERTAMA KALINYA mereka berdua berangkat sekolah dalam keadaan diam. Yunho berjalan sedikit di belakang Jaejoong, dalam hati sebenarnya dia merasa khawatir dengan keadaan Jaejoong sekarang ini, tapi rasa gengsinya menang.

Dong Bang High School sudah cukup ramai walaupun masih pagi seperti ini. Semuanya sedang bersiap-siap untuk festival sekolah ini yang akan dibuka pada pukul 10 nanti. Dimana-mana sudah tertempeli dengan poster promosi acara dari masing-masing kelas karena perlombaan ini adalah perlombaan mengumpulkan pengunjung sebanyak-banyaknya. Begitu sampai di sekolah, Jaejoong dan Yunho segera menuju ke aula yang sudah disulap menjadi panggung dengan dekorasi yang cantik. Di sana semua anggota membantu persiapan yang kemarin belum sempat selesai. Jaejoong dan Yunho masuk ke dalam aula tersebut dan bertemu dengan Yoochun dan Junsu.

"Joongie, kemari," panggil Junsu. Mendengar itu, Jaejoong segera melangkahkan kakinya menuju Junsu dan Yunho mengikutinya di belakang.

"Jae, mukamu pucat. Kau sakit?" tanya Yoochun yang memperhatikan Jaejoong. Junsu yang melihat itu juga menatap Jaejoong dengan pandangan khawatir.

"Ne, hanya sedikit flu. Gwenchana," jawab Jaejoong sambil tersenyum agar Junsu dan Yoochun tidak khawatir.

"Jinja? Harusnya kau istirahat saja di rumah, Joongie," kata Junsu.

"Sudahlah Su-ie. Aku baik-baik saja. Lagipula semuanya akan repot jika aku tidak datang," kata Jaejoong.

"Jae, kau sudah datang? Cepat kemari. Kami membutuhkan sedikit bantuanmu" panggil Siwon.

"Ah ne, Hyung," jawab Jaejoong karena merasa namanya dipanggil dan segera berjalan ke tempat di mana Siwon berada. Junsu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Jaejoong yang keras kepala seperti itu.

Pagi itu mereka semua bersiap-siap, khususnya untuk tim properti. Mereka harus menyelesaikan tata panggung sebelum pementasan. Ya, pekerjaan mereka memang cukup berat apabila dibandingkan dengan tim yang lain. Karena itu semua orang yang sudah menyelesaikan tugasnya masing-masing beralih membantu tim property. Pertunjukkan mereka akan dimulai pada pukul 1 siang, dan sekarang ini sudah menginjak pukul 11 siang. Jaejoong sendiri masih membantu tim property membereskan sisa-sisa peralatan yang berceceran di atas panggung.

"Ah gawat, sepertinya badanku semakin terasa tidak enak," kata Jaejoong pada dirinya sendiri sambil mengelap keringat dingin yang keluar dari pelipisnya. Tanpa disadarinya dari tadi sepasang mata musang milik Yunho mengawasinya terus. Tidak dapat dipungkiri bahwa Yunho sedikit khawatir pada kondisi Jaejoong saat itu, namun rasa gengsinya membuat dia hanya diam sambil mengawasi Jaejoong secara diam-diam.

"Jae, gwenchana?" tanya Siwon yang tiba-tiba muncul. Jaejoong hanya menatap Siwon sambil mengerjap-ngerjapkan matanya karena bingung dengan pertanyaan Siwon barusan. Mengerti Jaejoong kebingungan, Siwon memperjelas kalimatnya.

"Kau sakit? Dari tadi kuperhatikan wajahmu sedikit pucat, dan lihat, keringatmu banyak sekali. Ruangan ini kan sudah ber-AC," tanya Siwon.

"Ah, gwenchana Hyung. Aku tidak apa-apa. Tidak usah khawatir," jawab Jaejoong begitu mengerti arah pembicaraan Siwon.

"Tapi Jae, wajahmu benar-benar pucat sekarang ini. Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Siwon lagi.

"Ne, Hyung. Percayalah padaku. Aku mengembalikan ini dulu ke belakang," jawab Jaejoong sambil mengankat kardus yang berisi kertas-kertas bekas property yang sudah tidak terpakai. Setelah itu, Jaejoong segera berjalan ke belakang panggung. Tapi di tengah jalan, tiba-tiba saja matanya menjadi berkunang-kunang dan sedetik kemudian seluruh pandangannya menjadi buram.

BRUKKK

Suara tersebut membuat orang-orang yang ada di ruangan tersebut kaget dan segera melihat ke asal suara. Begitu menyadari dan memastikan suara apa itu, mereka semua membulatkan matanya dan langsung berlari ke arah suara tersebut. Dalam sekejap, tubuh Jaejoong yang jatuh tak sadarkan diri langsung dikerumuni oleh banyak orang. Junsu pun langsung berjongkok meraih tubuh Jaejoong dan menepuk-nepuk pipinya pelan, di sebalahnya ada Yoochun dan Yunho yang juga ikut jongkok dengan wajah yang tak kalah khawatir dari Junsu.

"Jae? Jaejoongie? Kau kenapa? Bangunlah," kata Junsu, namun tidak ada jawaban. Kemudian tangan Junsu beralih ada kening Jaejoong dan betapa terkejutnya Junsu saat merasakan tubuh Jaejoong yang sangat panas.

"Omo, panas sekali," kata Junsu. Yunho yang mendengar itu langsung beralih dari posisinya semula dan memegang kening Jaejoong yang masih tidak sadarkan diri.

"Aish, badannya tambah panas. Ini gara-gara dia memaksakan diri," kata Yunho yang langsung meraih tubuh Jaejoong dan menggendong tubuh Jaejoong bridal style, bermaksud membawa Jaejoong ke ruang kesehatan.

"Ya, Yunho Oppa, kau harus bersiap-siap. Biarkan orang lain yang membawa Jaejoong" teriak Taeyeon.

"Hanya sebentar. Setelah membawanya ke ruang kesehatan aku akan langsung kembali," kata Yunho. Taeyeon hanya diam mendengar kata-kata Yunho. Kemudian Yunho, diikuti Junsu dan Yoochun segera membawa Jaejoong ke ruang kesehatan.

"Dia hanya demam karena kelelahan. Aku sudah memberinya obat penurun panas, tidak lama lagi dia pasti akan sadar," kata dokter yang bertugas setelah memeriksa tubuh Jaejoong.

"Lebih baik, setelah ini dia langsung pulang dan istirahat. Ah, aku lupa aku ada janji, kalau begitu aku tinggal dulu ne," lanjut dokter tersebut.

"Ah ne, kamsahamnida soensaengnim," kata Yunho, Junsu, dan Yoochun bersamaan sambil membungkukkan badannya.

"Yun, kau tidak kembali? Taeyeon pasti sekarang ini sedang marah-marah mencarimu," kata Yoochun.

"Ah, benar juga. Kalau begitu aku kembali dulu," kata Yunho.

"Ne, kami akan di sini menjaga Jaejoong," kata Junsu.

Mendengar itu, Yunho pun keluar dari ruang kesehatan dan langsung berjalan menuju ke ruang ganti, namun sebelumnya dia mampir ke toilet. Saat akan keluar dari bilik toilet, dia mendengar percakapan orang di luar, Yunho kemudian mengurungkan niatnya keluar dan mendengarkan pembicaraan orang-orang tersebut karena orang-orang tersebut mengungkit-ungkit namanya.

"Ya, Karam-ah, kau benar-benar keterlaluan," kata sebuah suara yang dikenali Yunho adalah suara Suhoon, teman baik Karam.

"Mwo? Enak saja, itu kan belum tentu salahku," kata Karam.

"Apanya? Jaejoong sakit seperti itu kan karena salahmu," kata Jihoon lagi tapi dengan nada yang santai, sama sekali tidak berkesan menyalahkan. Yunho yang mendengar itu dari dalam bilik toilet hanya mengerutkan keningnya bingung.

"Huh, dia saja yang lemah. Jadi bukan salahku," kata Karam.

"Yah, tapi karena kau mengambil payungnya diam-diam semalam dia jadi kehujanan dan akhirnya jatuh sakit kan?" kata Jihoon.

"Itu kan salahnya sendiri karena selalu dekat-dekat dengan Yunho Hyung," jawab Karam. Yunho yang mendengar itu mendadak menjadi emosi dan mengepalkan tangannya erat. Namun masih menahan diri untuk tidak keluar.

"Dekat? Harusnya kau ralat ucapanmu itu, mereka kan tidak dekat bahkan mereka itu seperti anjing dan kucing," kata Jihoon lagi.

"Justru yang seperti itu yang berbahaya. Pokoknya aku harus mendapatkan Yunho Hyung apapun yang terjadi," kata Karam. Mendengar kata-kata Kara mini, emosi yang sudah Yunho tahan daritadi semakin memuncak. Dia membuka pintu bilik dengan sedikit bantingan dan keluar, namun tetap diam. Karam dan Jihoon langsung membulatkan matanya kaget, tidak menyangka kalau Yunho ada di balik bilik tersebut dan dapat dipastikan Yunho mendengar semua pembicaraan mereka barusan.

Yunho memilih tidak menanggapi Karam dan Jihoon. Dia keluar toilet tersebut dalam diam sambil masih mengepalkan tangannya karena menahan emosi. Melihat itu, Karam segera menahan Yunho, sedangkan Jihoon memilih diam dan tidak ikut campur.

"Yunho Hyung, tunggu. Kau salah paham," kata Karam berusaha menjelaskan. Yunho kemudian berhenti berjalan dan berbalik menghadap Karam. Karam yang mendapat tatapan tajam seperti itu hanya menundukkan kepalanya.

"A-ah, i-itu, tadi, ma-maks-maksudnya….," kata Karam terbata karena takut dengan tatapan tajam dari Yunho.

"Kuperingatkan kau hanya sekali ini. Jika kau berani melakukan perbuatan semacam itu lagi pada Jaejoong, kupastikan kau akan menerima hal yang berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada yang kau lakukan padanya. Kali ini kulepaskan kau," kata Yunho sambil mengertakkan giginya. Setelah itu Yunho segera berjalan meninggalkan Karam yang masih mematung mendengar ucapan Yunho menuju aula, tidak menuju ke ruang ganti yang menjadi tujuannya semula.

Sampai di ruangan tersebut, Yunho segera mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Setelah menemukan orang yang dimaksud, Yunho segera berjalan mendekati orang tersebut.

"Siwon-ah," panggil Yunho. Siwon yang merasa dipanggil kemudian berbalik.

"Ne? Ah, kau Yun. Bagaimana keadaan Jaejoong?" tanya Siwon.

"Ah, dia baik-baik saja. Kata soensaengmin dia hanya kelelahan. Ah, ngomong-ngomong, boleh aku minta tolong sesuatu?" tanya Yunho. Siwon yang tidak mengerti hanya mengerutkan keningnya.

"Ne, kau mau minta tolong apa?" tanya Siwon.

"Setelah ini tugasmu sebagai tim property sudah selesai kan? Tolong gantikan aku memerankan tokoh pangeran ya? Jebal," kata Yunho sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya untuk memohon. Siwon yang mendengar itu kemudian membulatkan matanya.

"Mwo? Kau gila Yun. Taeyeon dan Seung Ri bisa membunuhmu jika kau tiba-tiba lari seperti ini,"

"Urusan mereka biar aku yang urus, tapi kumohon gantikan aku ne? Aku harus membawa pulang Jaejoong. Tadi soensaengnim menyuruhku membawanya pulang," kata Yunho.

"Kenapa tidak Junsu dan Yoochun saja?"

"Ah, itu. Mereka ada urusan. Aku tidak mungkin membiarkan Jaejoong pulang sendiri. Di rumahnya sedang tidak ada orang karena orangtuanya sedang pergi sampai lima hari ke depan," kata Yunho sedikit berbohong.

"Mwo? Tapi aku tidak bisa memerankannya. Aku kan belum pernah latihan," kata Siwon masih ragu.

"Kau hanya tinggal keluar dan mencium putrinya. Kata-katanya juga tidak banyak. Kau kan hanya muncul di bagian terakhir. Pasti kau bisa menghafalnya, kau kan pintar. Ayolah, Siwon-ah. Kumohon ne," kata Yunho masih dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin.

Melihat Yunho yang memohon seperti itu, Siwon menganggukkan kepalanya ragu. Melihat itu Yunho tersenyum dan kemudian menarik tangan Siwon, bermaksud mengajaknya ke tempat Seung Ri dan Taeyeon.

"Ah, Yunho Oppa. Cepatlah bersiap," kata Taeyeon segera menarik Yunho menuju ruang ganti.

"Taeyeon-ah. Ada yang ingin kubicarakan," kata Yunho.

"Apa? Cepatlah, Oppa. Kita tidak ada waktu lagi," kata Taeyeon.

"Siwon akan menggantikanku menjadi pangerannya," jawab Yunho yang sontak membuat Taeyeon membulatkan matanya.

"Mwo? Ya Oppa. Apa-apaan kau ini? Tidak mungkin kan tiba-tiba aktornya harus diganti?" kata Taeyeon panjang lebar. Yunho yang sudah bisa mengira reaksi Taeyeon hanya menghela napas dan kemudian melakukan cara yang sama dengan caranya membujuk Siwon agar mau menggantikannya.

"Ayolah, Taeyeon-ah. Apa kau tidak kasihan pada Jaejoong? Dia kan anggota kelasmu juga," kata Yunho setengah merayu Taeyeon agar mau menggantinya dengan Siwon.

Taeyeon yang mendengar itu hanya menghela napasnya. Dalam hati dia membenarkan semua perkataan Yunho tadi dan sedikit merasa kasihan juga dengan Jaejoong. Bagaimanapun juga Jaejoong juga sudah membantu banyak dalam acara ini.

"Hahhh, baiklah. Tapi, Siwon Oppa, kau pasti bisa melakukannya dengan baik kan?" tanya Taeyeon memastikan. Siwon hendak menjawab pertanyaan Taeyeon, tapi Yunho langsung memotongnya.

"Tentu saja dia bisa Taeyeon-ah. Lihat, dia bahkan lebih tampan dari aku. Dia juga sangat pintar, pasti bisa menghafalkan dialogku dalam waktu singkat, lagipula dialogku tidak banyak. Dan aku yakin, dia akan berakting lebih bagus daripada aku," kata Yunho. Siwon hanya diam sambil melirik Yunho dengan tatapan mengancam yang seolah berkata awas-kau-Jung-Yunho.

"Baiklah kalau begitu. Siwon Oppa, segeralah menuju ruang ganti. Dan tolong hafalkan ini," kata Taeyeon sambil menyerahkan kertas naskah yang berisi dialog yang seharusnya dikatakan Yunho dalam pementasan nanti.

"Ne," jawab Siwon singkat.

"Kalau begitu, aku pulang dulu ne. Sekali lagi, terima kasih semua," kata Yunho sambil tersenyum dan meninggalkan mereka berdua. Siwon dan Taeyeon yang melihat kepergian Yunho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jelas-jelas dia menyukai Jaejoong, namun masih tetap saja tidak mau mengakuinya. Dasar pabo," kata Siwon dalam hati. Setelah memastikan Yunho pergi, Siwon segera mengikuti Taeyeon menuju ke ruang ganti.

TO BE CONTINUED

Annyeong yorobun!

Btw, saya mau bilang FF super gaje ini sebenernya udah tamat di blog saya :

1002jaejoongie . wordpress . com

Review please?

Twitter : Kei_1091

Kakao Talk : Kei_1091

Feel free to chat with me..