Rani : Well I'm back! But don't happy! I will Hiatus again.. TT_TT

Rin : That's bad! You know!

Len : Woi ane ga ngerti bahasa kalian.. Baru kursus bahasa Indonesia saya! = =

Rani : Eggh? Sorry! Oiya readers! Chapter-chapter disini 'Sengaja' Dibuat gantung!

Rin : Yah? Biar penasaran 'kan?

Rani : BETUL!*Nunjuk Rin* Untuk disclaimer... Baca di chapter.1-6 ini ngebut karna Okaa-san lagi tidur*Manfaatkan situasi*

Rin : OK! Let's go to the story and don't forget to Review!


FanFicku di flame shota-con~!

Chapter 7: What the-!

Warning : Alur ga jelas! Typo bertebaran karna buru-buru, Humor kayaknya lagi kosong...*Sweat drop*


(Normal POV)


"Aku memilih.." Kata Rin terputus.

Drt.. Drt..

KAWAIINA RIN!

Rin mengambil sesuatu disakunya.. Lalu Len melepaskan pelukannya. Rin mengeluarkan entah granat, entah pistol, ent- Baiklah.. SERIUS! Rin mengambil HPnya dan melihat ada seseorang memanggilnya..

"Moshi-Moshi Neruo-kun!" Kata Rin dengan riangnya.. Len dengan Rinto hanya memandang dengan puppy eyes.. "NANI? Masa kamu ga pulang!"

"Maaf sayang.. Aku harus main ke baitul mal(?)! Bantu-bantu ustad disini.." Kata orang yang bernama Neruo. Kuping Len cukup jelas mendengarnya.. Rinto? Dia sih cuek dan memandangi HPnya yang penuh dengan miss call dari para Fansnya.. 'Sigh.. Memuakan.." Ujarnya dalam hati sambil membalas satu persatu dengan SMS.

"AAH! Rinto-kun JAHAT!" Kata Rin sambil blushing.. Len memandangi Rin.. Dengan kebingungan.

"Ri-Rinto-kun? CIE! RIN JATUH CINTA!" Kata Neruo teriak-teriak. Rin hanya blushing dan mematikan telponnya. Rinto kemudian memasukan HP ke sakunya.. Lenpun memandang Rin dengan Serius.

"So? Sampai mana kita tadi?"

"Sampai kau mau memilih siapa.." Kata Rinto sambil melihat seekor kucing putih didekat pohon.

"Hm…. Aku milih dua-duanya!" Kata Rin memeluk Rinto.. Err.. Len langsung saja memberikan death glare.. Len memandang Rinto dengan tatapan –Menyingkir-kau!-. Rinto melihat tatapan Len dan membalasnya dengan tatapan –Lo-berani?- SINI!-. Rin yang menyadari adanya percikan diantara keduanya langsung menarik Len dan memeluknya.. Muka Len blushing. "Begini adilkan?"

"Tch! Rin.. Kau tau kau harus menentukan siapa pasanganmu.. Hanya 2 orang." Kata Len sambil memalingkan mukanya.. Yah, dia menyembunyikan rasa malunya..

"Hm.. Bagaimana kalau kita adakan pertandingan masak!" Kata Rin tersenyum. Rintopun tersenyum sementara Len cemberut.. Satu hal yang harus diingat.. LEN TIDAK BISA MASAK.

"Gi, gi, gimana kalau yang lain?" Kata Len canggung.. Daripada rahasianya ketahuan dan diledek oleh Rivalnya.. Rinto tersenyum.

"Ngaku ajalah~! Lo kagak bisa masak.." Kata Rinto sambil melepaskan pelukan Rin. Terlihat di wajah Rinto sebuah senyum jahil.

DEG!

Tepat dan setajam silet menusuk jantung Len.. 'Ni anak kok tahu bgt sih..' pikir Len dalam hati sambil memutar bola matanya.. Rinto memasang evil smile..

"He? Betul tuh?" Kata Rin sambil memandang Len. Rin menaikan satu alisnya.. "Hee.. Ternyata Shota itu.. Ga bisa masak ya? Cuma bisa makan doang.." Kata Rin. Disambut dengan Rinto yang lumayan terkekeh mendengarnya.

"TIDAK!" Kata Len. "AKU BISA MASAK!"

"Halah, ga usah boong kali.. Lo aja waktu Tk pernah ngebakar roti sampai habis gitu.. Alias Gosong.." Kata Rinto sambil mengingat kejadian waktu TK. Len langsung blushing parah..

"Aku bisa!" Kata Len sambil memalingkan muka.

"Kalau begitu gimana kalau besok bawa makanan yang kalian masak? Dengan begitu adil'kan?" Kata Rin tersenyum sambil mengambil bukunya.

"Oki-doki Hime-chan.." Kata Rinto lalu mengecup dahi Rin..

"HEEEEEEEY! JANGAN NODAI KESUCIAN RIN!" Kata Len sambil menembakan pisang-pisang dari pistol pisangnya. Rinto yang reflek menghindar cepat sambil tertawa.

"LEN! Hentikan!" Kata Rin sambil berusaha mengambil pistol Len. Saat disadari, pistol Len sudah kehabisan pisangnya.. 'Ah, sue banget sih hari ini!' Kata Len sambil menyimpan pistolnya di sakunya.. Rinto tersenyum kemenangan.

"I'm a Victory!" Kata Rinto lari dari Rin dan Len.

"JANGAN SOMBONG KAU! AKU KEHABISAN PELURU!" Kata Len berjalan mengejar Rinto..

Sreet..

Rin menarik tangan Len.. Len menengok Rin. Len langsung kaget melihat Rin yang sedang blushing.

"A, ano.. Bisa mainkan aku 1 lagu?" Kata Rin dengan suara agak bergetar..


(Rin POV)


Akhirnya Rinto pergi juga.. Entah kenapa aku sangat ingin Len memainkan piano untukku. Akupun menarik tangannya, Len melihatku dengan sedikit terkejut. Sedikit berani dan sedikit takut akupun mencoba berbicara.

"A, ano bisa mainkan aku 1 lagu?" Kataku dengan tersenyum. Len melihatku dan tersenyum.. Diapun memainkan pianonya..

"Aiya! Kamu mau lagu apa?" Kata Len bertanya padaku.. Uggh.. Aku..

"Hem.. Yang enak saja.." Kataku dengan malu. Len lalu memainkan lagunya.. Alunannya sungguh indah.. Entah kenapa aku mengenal lagu ini? Akupun menyanyi asal-asalan.

"Aishiteru.. You know I very love with you..

Apakah kau tau? Aku menyukaimu..

Aku sangat ceria melihatmu tertawa..

Namun apakah semua itu akan bertahan lama?

Ini hanyalah mimpi bagi dirimu dan diriku..

Sebentar lagi kau pergi meninggalkanku, yang membuat semua orang melupakan kehadiranmu..

Sebuah jam berdetak mengukir kontrak bersamamu

Untuk hidup tidak lebih.." Nyanyianku terputus ketika Len berhenti memainkan pianonya.. "Ada apa Len?" Len melihatku dengan serius.. Tampaknya dia heran dengan sesuatu?

"Cukup.. Aku heran kenapa kau tau lagu ini?" Kata Len melihatku.. Eh.. Benar juga.. Padahal 'kan.. "Oiya, Rin.. Dulu kamu pernah pacaran atau sebagainya?" Nah, pertanyaanmu aneh sekali.

"Hm.. Coba kuingat-ingat.." Kataku..

GUBRAK!
Len terjatuh dan sempat tak sadarkan diri. Poor you Len.. Tiba-tiba sebuah memori muncul di kepalaku..


-Flash back-


"Rin-chan kau ingin lagu apa untuk dinyanyikan ketika Rinto-senpai pergi?" Kata Len tersenyum simpul sambil melihatku. Aku sedang menangis karna Rinto-kun ingin pergi..

"Apakah dia akan sembuh?" Kataku masih menangis. Len menepuk punggungku.. Dia memberikan senyuman.

"Pasti! Nah ayo kita buat lagu bersama!" Kata Len tersenyum manis. Aku dan Lenpun membuat lagu bersama.


-end flash back-


"Hoo.. Itukan lagu yang kita berdua ya? Untuk kepergian Ri-" Kata-kataku terputus mengingat apa yang tadi berada dipikiranku.. Berarti? Rinto-kun punya penyakit dulu?

"He? Masa sih Rin? Kenapa wajahmu pucat?" Kata Len menunjuk wajahku. Pu-pucat? A-apa benar?

"Tidak apa-apa! Jangan lupa dengan masakan buat besok!" Kataku sambil berjalan menuju pintu..

"EH! Ups!" Kata Len yang kelihatannya kaget dengan ucapan barusan.. Jangan-jangan.

Tap.

Aku berhenti berjalan dan melihat Len..

"Len?" Kataku seperti menyelidikinya.

"Ya?" Kata Len dengan wajah pucat.

"Kau tidak bisa masak ya?" Kataku dengan datar dan tatapan sinis. Len langsung kaget.. Sepertinya benar? Tapi mau bagaimana lagi? "Jangan curang ya?"

"I, iya!" Kata Len.. Lalu aku keluar dari ruangan piano sambil menatap langit..


(Rinto POV)


Aku sudah sampai dirumah dan langsung tiduran di kasur. Aku memengang dadaku yang merasakan sakit luar biasa.. Tidak, aku tidak patah hati.. Tidak, aku tidak sakit karna cinta. Aku sakit karna.. Aku mempunyai penyakit yang berbahaya yang sebentar lagi akan mengambil nyawaku.

"Tch! Bisakah kau berhenti memberikan rasa sakit ini..? Uugh.." Kataku sambil menggenggam erat bantalku. Terlintaslah sebuah senyum dari gadis yang kusukai.. Rin-chan.. Rasa sakitku sedikit berkurang.. Tapi.. Aku tidak sanggup untuk bertahan hidup lebih lama dari ini. Menurut dokter aku merupakan pasien pertama yang dapat hidup lama..

-Flash back-

"Ah.. Apa rahasiamu sampai mempunyai niat yang sangat besar yang bisa membuatmu hidup lebih lama?" Kata Dokter berambut hitam dan mempunyai iris hitam. Aku hanya tersenyum.

"Apa ini penting? Aku sedang menyukai seseorang sejak lama.." Kataku sambil tersenyum dan mukaku memerah.. Err.. Aku malu sebenernya memberitahukannya.

"Ohohoho.. Tapi berusahalah pertahankan niat itu.." Kata dokter dengan getir. "Jika semangatmu turun.. Apalagi saat kau mengalami kaget, bisa saja kau mati."

DEG!

Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.. Aku akan mati jika Rin menolakku? Sungguh tidak menguntungkan..

"Ba, ba, baiklah Dokter.." Kataku lalu keluar dari ruangan dokter itu..

-End flash back-

Air mataku menetes satu persatu.. Aku.. Akan segera mati.. Ya, aku tau hal itu.. Tapi bisakah Kami-sama memberikanku waktu untuk menemuinya ketika ia tidak selugu dulu? Baiklah.. Semua juga tau jawabannya..

BRAAK!

DEG!

Nafasku langsung memburu.. Astaga! Siapa yang membuka pintu dengan saking kencangnya? Akupun mengambil obat yang berada di dekat meja dan sedikit demi sedikit meminumnya.. Kulihat sesosok wanita berambut honey blond panjang dengan mata azure membuka pintu dengan emosi.

Glek..

"Ah, hai.. Lenka? Kau kenapa? Hahaha." Kataku masih meminum obat.. Sungguh, hari ini entah kenapa obatnya pahit banget,

"EMANG DARI TADI AKU KENAPA?" Kata Lenka berbalik nanya kepadaku.. Lah? Emang dari tadi kamu kenapa sih?

"Eng? Manaku tahu.." Kataku sambil mengangkat bahu dan meletakan gelas. "Ya udah sono… Siapin jeruk ama es jeruk buat aku ngedengerin curhatanmu.." Aku mengusir Lenka dari kamarku dan menghempaskan tubuhku kembali ke kasur..

"Baiklah.. Aku bakalan siapin!" Kata Lenka yang langkahnya terdengar menjauh.. Aku hanya menghela napas.

"Akhirnya monster itu per-

ZRAAAAAAAAAK!

"WUAAAAAAA!" Kataku super duper kaget melihat pintu kamarku dibuka (lagi) dengan kencangnya. Kulihat Lenka dengan tatapan horror.. Nafasku sama seperti sebelumnya.. Sial, aku bisa mati jika Lenka begitu terus!

BRAAK!

Lagi-lagi, Lenka menaruh gelas dan jeruk yang ada disebuah wadah dengan tidak elit.. Cukup menakutkan bagiku…

"Silahkan!" Kata Lenka dengan senyum entah ikhlas atau ga.

"Kau kalau tidak mau juga tidak usah gebrak-gebrak pintu dan.. Err.. Tidak jadi.." Kataku sambil melihat Lenka yang sudah menyiapkan muka sangarnya.. Kok, aku bisa takut sih sama Lenka? Dengan berat hati, aku menghela napas. Lalu meminum es jerukku..

ZRUT!

Aku memuntahkan jus jeruk yang baru beberapa menit kuminum.. Migod…

"THE HELL! KENAPA MANIS BANGET!" Kataku yang baru saja memuntahkan jus jeruk. Lenka cuma nyengir khas kuda. Anjrit.. Ini mah ga niat bikinnya!

"Sorry, baru aja aku masukin gula 10 sendok tadi.." Kata Lenka datar dengan wajah datar. Hah? Mau ngebunuh aku minum jus gulanya 10 sendok?

Aku meletakan jus yang super manis itu. Manisnya masih terasa ditenggorokan yang dari tadi ngejerit karna manis banget ni jeruk. Akupun mengambil santapan ke 2. Kuharap lebih normal.. Akupun memakan jeruk dan..`

1

2

3

4

5

"ASEM!" Kataku sambil menuju kamar mandi.. Sumpah.. Lenka lagi ga minat ampe milih buah jeruk asem banget buatku.

"Dasar manja.. Kapan gua curhat coba?" Kata Lenka sambil melihatku. Beberapa saat kemudian, aku kembali dan duduk dikursi menatap Lenka yang sedang meminum jusku dengan santainya.. Gila, tahan banget..

"Ya sudah.. Cepet ceritain.." Kataku masih kesel.

"Kau tau yang namanya Len dan Rin?" Kata Lenka sambil cemberut.

"Tentu saja aku kenal.. Kenapa?" Kataku dengan nada menyelidik. Muka Lenka mulai memerah perlahan.. Kulihat-lihat ternyata dia manis juga, hahaha.

"Aku suka dengan Len.. Tapi Len melihat Rin terus entah sejak kapan..!" Kata Lenka menggebrak meja yang tak berdosa hingga retak. Aku hanya geleng-geleng kepala. Incaran Lenka adalah Len.. Hm.. Aku bisa manfaat 'kan ini. Kekeke..

"Ada apa Rinto?" Kata Lenka yang melihat senyum licikku. Hihihihi.. Kesempatan emas..

BLETAK!

"Ittai~~~!" Kataku sambil memengang kepalaku yang benjol karna pukulan Lenka. Lenka hanya mendengus dan menatap sinis. "Aku menyukai Rin-chan dan kau menyukai Len? Bagaimana kalau kita kerja sama?" Aku tersenyum licik dengan menepuk pundak Lenka. Lenka ikut tersenyum manis dan menggangguk.

"Kalau gitu.. Sayonara…." Kata Lenka lalu pergi dengan santai. Akupun menuju dapur dan membuat masakan untuk besok..

"Susah susah.. Buat steak aja deh~" Kataku santai dan memulai memasak.


(Normal POV)(Rumah Len)


Len menatap masakan 'gagal' nya dengan horor.. Sudah 95 kali lebih dia mencoba memasak pisang goreng. Dan hasilnya gagal semua.. Len menatap sinis.. 'kalau aku tidak menang.. Rinto pasti akan menjadi pasangan RIN!' Pikir Len dengan amarah menggebu-gebu. Lenpun mencoba terus menerus dan

30 menit kemudian...

"AKHIRNYA!" Kata Len tertawa senang. Pisang gorengnya kali ini tidak gagal sama sekali. Lenpun menambahkan coklat yang sudah ia panaskan dengan meses warna warni diatasnya.. Iapun bersantai sambil memakan pisang-pisang gagalnya yang bejibun.. Len melihat pisang kebangaannya dengan bahagia.

"Kehehehe.. Siapa bilang aku tidak bisa masak?" Kata Len dengan senyum bangga.

"Kau baru saja memakan masakan-masakan gagalmu Len.." Kata seorang gadis berambut ungu tua dan mata senada Tone Rion. Dia menunjuk makanan yang dimakan Len. Muka Len memerah hebat..

"Be- BERISIK!" Kata Len melempar masakan gagalnya ke Tone Rion. Tapi Tone Rion sukses ngabur sambil terkekeh. "Liat saja besok!"


-Besoknya- Skip time- Istirahat siang- dikelas-


Rinto dan Len saling memancarkan percikan diantara mereka. Mereka berdua membawa 2 buah bekal yang khusus buat Rin..

"Aku pasti menang!" Kata Len memandang sinis.

"Hai.. Hai.. Terserah dirimulah!" Kata Rinto santai. Akhirnya mereka berdua sampai dikelas Rin. Rin melihat mereka dengan tersenyum..

"Hore! Kalian bawa! Luka-nee! Tolong cicip keduanya.. Dan pilihkan yang enak untukku!" Kata Rin menyeret gadis berambut pink lembut dengan mata azure..

DEG!

Rinto dan Len saling berpandangan.. Tentu saja mereka syok dengan perkataan Rin tadi.. Lukapun mendekati mereka dan mengambil kotak bekal mereka dan memakannya..

"Hm..." Kata Luka setelah selesai mencicipi keduanya walau hanya satu sendok. Luka tersenyum..

"Yang mana yang enak?" Kata Rin penasaran.

"Aku memilih kotak bekal..." Kata Luka terputus. Rinto dan Len hanya memainkan jari jemari mereka karna penasaran... Dan agak takut..


-TBC-


Rani : Minna... Sebenarnya kemaren aku sakit 3 hari lebih.. TT_TT

Rin : Dan lagi kau mau hiatus lagi?

Rani : Betul sekali... Aia... Bales review ntar ato sekarang ?


Kyon kuro Black:

Wihi.. Asik.. Makasih!

Ni baru dilanjutin..

Makasih udah di Fave dan Reviewnya! Keep review ya~

Christi mashiro:

Ah! Makasih! ^^ Makasih Reviewnya ya~~ Keep review nyo~!

Kumiko 'hi-chan' Hamano..

ngehehehe*Devil keluar*

Yah, kan Rei saudaranya Rinto.. :3 Wahahaha, belum tau tuh si Rin milih siapa..

Hore.. Makasih Hi-chan!

Hm.. Soal hiatus ga jamin ya.. X( Gomen..

.kawaiine kaori -gloria :

Hai.. Makasih!

Hah? Dapet flame?

Diemin aja.. Setch-chan 'kan flamer yang sebenernya suka sama ficmu..

Khekhekeh... Thanks ya!

Makasih Reviewnya anda keep review!

You-Know-Who :
Makasih dan gapapa kok!

Len : Jah, ni orang... Maksudku minggat ke chapter selanjutnya..

Hikarin Shii-Chii :

Hihihihi... Aku juga kena dag dig dug nih..*Loh?*

Rin pilih Len? Hem..*mikir*

Hem, Rahasia..*Digebuk*

Makasih atas Review saran, dan pemberitahuannya! Keep review ya~

Running Until 300KMH:

Eh.. Emang lucu ya?*Malu*

Makasih pemberitahuannya, Dan reviewnya~

Keep review ya~

Ryu Kago :

Hai Ryu-kun!

Hore~ Dibilang seru juga~~~*Nari hula-hula*

Eh, gomen.. Kamu suka pisang ya ^^"

Eh? RYU-KUN BISA MAIN PIANO?*Kaget*

Makasih koreksinya, Reviewnya! And seperti biasa.. Keep Review...

Chisami Fuka :

Hai, Fuka-chan senpai..

.

Hegh, go-gomen...

*Siul-siul ga jelas*

Em ya, Typo chapter 6 mudah-mudahan saya bisa perbaiki..

Aduh, yang itu.. susah Fuka-chan..

Huwa~~~ Makasih udah di Favo..*Peluk Fuka*

Makasih Koreksinya, Reviewnya and... Seperti biasa... Keep review!

IchigoMei-Chan :

Hai-hai.. Senpai betul banget...

Hehehhee..

TT_TT Aduh.. Kalau yang itu habis chap ini hiatus lagi...

Makasih Review, semangatnya! Keep review ya~

Miki Abaddonia Lucifen :

Baha, Senpai.. Masa Len buat Kaito*Guling-guling*

Saya juga, tuh ide dapet pas lagi nonton Game of life..

Yang itu.. Kayaknya harus Hiatus.. Gomenne..

Makasih Review dan semangatnya! Keep review!


Rin : Oiya jangan lupa review, dan kalian boleh Favo kok! ^^

Rani : Karna itu Review please!

Len : Review please*Efek bling-bling*

Rani : Review or...

Luka : Keep or delete? Review please!

.

.

Keep or delete?

.

.