AI
Author : ShixunWu
Rate : M
Cast : ChanyeolxSehun and Others
DON'T LIKE DON'T READ
ini 3k lebih ya reader-deul! hehuehue rekor aku update panjang loh wkwkwkw
Chapter 7
Jongin diajarkan untuk taat pada penciptanya, laki laki yang sebentar lagi menginjak usia dua puluh satu itu berterimakasih pada ibunya yang mendidiknya sehingga tumbuh menjadi sosok yang religius. Jongin membawa kakinya untuk mengunjungi Kuil, hari ini ia akan berdoa untuk kebahagiaan tiap tiap orang yang ia cintai. Ibunya, Ayahnya, Baekhyun, dan Sehun lalu seseorang yang suatu saat nanti akan dikirimkan Tuhan padanya. Seseorang yang Jongin yakini adalah sosok yang mempu mengikis sedikit demi sedikit cintanya pada Baekhyun. Ya, suatu saat nanti pasti akan ada yang seperti itu.
Punggung kecil dengan bahu sempit dari sosok yang tengah berdoa itu adalah yang menyapa indra penglihatan Jongin pertama kali. Jongin mencoba tidak perduli, ia ikut berdiri disamping lelaki yang tengah begitu khusuk berdoa. Awalnya Jongin ingin untuk tidak perduli, namun sosok yang begitu tenang dengan kelopak mata yang terpejam itu membuatnya penasaran, tanpa sadar matanya bahkan tak berkedip sedikitpun memperhatikan wajah pemuda dengan hidung mancung dan bibir heart shaped merah muda yang sedikit pucat itu. Indah mungkin adalah definisi terbaik yang kiranya pantas untuk sosok ini.
Masih terpaku akan pemikiran tentang sosok disampingnya, Pangeran muda itu bahkan tak sadar jika saja kelopak mata yang sedari tadi tertutup itu telah membuka perlahan. Yang menyadarkannya untuk kembali kedunia nyata adalah ketika lambaian kecil dari jemari jemari berhiaskan kuku bersih itu mengacaukan pandangannya. Pipi Jongin memerah, ia benar benar malu karna tertangkap basah menatapi seseorang dengan begitu lekat.
"Mianhamnida, aku benar benar tidak bermaksud jahat. Kumohon jangan berfikiran yang tidak tidak". Jongin memasang wajah bersalah, atau sebenarnya takut karna ia tak ingin dicap jelek oleh seseorang yang pertama dikenalnya. Sosok dengan tubuh yang lebih mungil itu tersenyum kecil, ia mengangguk dan menggerakkan jari jarinya kecil, yang tentu tidak dimengerti oleh Jongin.
Bisu-kah ia? Mengapa engkau begitu jahat Tuhan, untuk sosok sesempurna ini kau berikan ia cela yang segini parah.
"Maaf, apakah anda bisu?". Setelah mengucapkan kata kata ini, Jongin benar benar ingin mengutuk mulutnya yang sembarangan bicara. Lelaki yang Jongin sadari memiliki iris gelap dengan diameter bola mata yang lebih besar itu malah memberikan senyum dan anggukan pelan, yang Jongin artikan sebagai jawaban juga fakta bahwa lelaki ini tidak marah ataupun tersinggung.
Hening sebentar, hingga pemuda bertubuh mungil itu memberikan salam untuk berpamitan pergi. Jongin ikut memberikan bungkukan, saat ia mengangkat tubuhnya dilihatnya laki laki itu tengah terbatuk batuk kecil tanpa suara. Telapak tangan dengan jemari jemari kurus itu menutupi mulutnya, Jongin kembali menyadari bahkan pemuda ini memiliki kulit yang lebih pucat dari yang seharusnya. Sosok itu masih terbatuk kecil, Jongin tercengang ketika dilihatnya darah mengotori bibir dan sekitar phyltrum lelaki itu.
"Apakah anda baik baik saja?". Jongin berusaha meraih tubuh pemuda yang dikiranya berusia lebih kecil darinya, namun ketika tangannya nyaris meraih bahunya yang sempit, pemuda itu berlari dengan cepat meninggalkan Jongin.
Dan hari ini, disetiap bait doa yang dikirimkannya pada sang Pencipta, Jongin menyelipkan sosok pemuda mungil yang ia belum ketahui namanya itu untuk selalu mendapatkan perlindungan dan diberikan berkah serta kebahagiaan dihidupnya.
Jika telah tiba saatnya aku jatuh cinta, kumohon padamu Tuhan, jangan kembali kau berikan aku cobaan yang begitu berat akan cinta itu.
{}
Rumah sederhana namun cukup luas itu memiliki aura yang begitu hangat. Rumah ini adalah kediaman keluarga Oh dimana saat ini tengah mengadakan jamuan makan malam sederhana untuk menyambut kepulangan putra sulung mereka. Sehun disana, menggunakan Gonryongpo merah muda yang terlihat kontras dengan kulit putih susunya. Jamuan ini sebenarnya hanya didatangi oleh Sehun, Jongin, juga Chanyeol.
"Sehunnie ku sama sekali tidak berubah nne, eomma. Masih cantik dan menggemaskan". Luhan tersenyum lebar, menekankan kata ku sebagai kepemilikannya kearah Chanyeol yang menatap laki laki yang lebih tua enam tahun darinya itu dengan sinis. Diam diam, telapak tangan Luhan menggenggam tangan kiri Sehun lembut.
"Hahaha, aku setuju denganmu hyung! Tidak heran sedari kecil jadi rebutan". Jongin menimpali, laki laki berkulit tan itu seolah memperkeruh wajah Chanyeol.
"aaah, tiga tahun berlalu dengan cepat nne, aku sangat merindukanmu Sehunnie! Bagaimana kalau nanti menginap disini saja?". Ucapan luhan barusan membuat Sehun menatap chanyeol meminta izin, namun raja Joseon itu sama sekali tidak meliriknya.
"Lu… mana bisa begitu, bagaimanapun Sehun harus kembali kekerajaan, nak". Tuan Oh menengahi, Luhan tersenyum kecil, lalu beralih menatap Chanyeol.
"Jeonha, untuk kali ini saja, anda harus mengizinkan sehun menginap disini. Anda sudah membawa sehunnie ku selama tiga tahun, dan aku hanya akan meminjamnya satu hari ah ani, dua hari, bagaimana?". Luhan masih dengan senyum lebarnya, sementara Sehun merasakan sebuah tangan hangat menggenggam tangan kanannya, dan dia mendapati Chanyeol tengah menatapnya. Pemandangan yang membuat Luhan mual, karena yang ia lihat dari mata Sehun hanyalah cinta yang tulus pada lelaki didepannya.
"Tentu saja, kakak ipar. Aku mengijinkan Jeonju menginap disini, lagipula Sehunnie-ku juga sepertinya merindukan rumah". Chanyeol tersenyum puas setelah menekankan kata kepemilikannya setelah menyebut nama Sehun. Luhan mengangguk kecil, ia tahu Chanyeol sedikit demi sedikit telah terbakar oleh apinya.
"Jeonha, apa tidak apa apa?". Nyonya Oh memasang wajah cemas, selama hampir tiga tahun usia pernikahan, putranya sama sekali belum pernah menginap kembali dirumah ini.
"Tentu ibu mertua, anda tidak perlu mengkhawatirkan apa apa". Nyonya Oh tersenyum lega, Chanyeol menatap tangannya yang masih menggenggam tangan Sehun, wajahnya mengeras saat tanpa sengaja mendapati tangan luhan juga menggenggam tangan Ratu-nya.
Sudah terlalu larut saat akhirnya Chanyeol harus kembali kekediamannya. Sehun yang mengantarkannya kedepan, dimana Yunho sudah menunggu. Chanyeol membalikkan tubuhnya, menatap Sehun yang seketika menunduk, namun Chanyeol menangkup pipinya hingga kini iris hazelnya menatap iris kelam pasangannya itu.
"Jeonha…".
CUP
Sehun terdiam, Chanyeol mencium singkat bibirnya, membuat dunianya membeku. Kenapa? Kenapa chanyeol melakukan ini? Sibuk dengan pemikirannya, Sehun kembali terkejut saat Chanyeol merengkuhnya dengan tiba tiba.
"Jeonha…".
"Dengar Oh Sehun, jangan melakukan hal yang macam macam selama disini. Jika aku mengetahui kau berbuat macam macam, aku benar benar akan marah". Chanyeol berbisik, meremas kecil pinggang Sehun dengan kedua tangannya, membuat posisi mereka semakin dekat.
"Pulanglah kekerajaan besok siang, aku tidak menerima penolakan". Chanyeol semakin menenggelamkan kepalanya diceruk leher Sehun, menghisap kecil leher putih itu hingga membentuk sebuah tanda merah keunguan yang kontras dengan kulit leher Sehun yang putih. Sehun berusaha mati matian agar ia tidak mendesah karna tak ingin siapapun mendengar desahannya yang bisa saja lolos.
CUP
Chanyeol melepas pelukannya dengan mencium kecil leher Sehun setelah ia yakin bahwa kissmark yang ia tinggalkan bisa terlihat jelas, laki laki dua puluh enam tahun itu menyeringai, lalu pergi meninggalkan Sehun yang masih membeku ditempatnya. Sementara Luhan yang sedari tadi memperhatikan namun tidak bisa mendengar apa apa itu mengepalkan tangannya erat.
"Chanyeol sepertinya benar benar marah atas perbuatanmu tadi, Hyung". Luhan menoleh, dan Jongin ada disana dengan wajah datarnya.
"Apa peduliku? Bukankah dia memang memiliki emosi yang labil?". Jongin tertawa kecil, kemudian mengikuti tatapan Luhan yang menatap lurus kearah Sehun yang tengah menatap kepergian Chanyeol dalam hening.
"Apa kau masih mencintainya, Hyung?". Luhan menatap Jongin, atas pertanyaan yang pemuda itu baru saja lontarkan padanya.
"Tentu, dan untuk selamanya, Jongin".
{}
Sehun memasuki kamarnya dengan menggeser pintu kayu itu pelan. Kamar ini sama sekali tidak berubah, masih beraroma dirinya, dan masih penuh dengan lukisan lukisannya. Membaringkan tubuhnya perlahan, Ratu Joseon itu menghembuskan nafas berat. Chanyeol, pikirannya dipenuhi oleh Chanyeol, tentang kata kata sang suami sebelum ia pulang. Sehun tidak tau harus memberi alasan apa pada orangtua juga Hyungnya besok, namun ia tau Chanyeol akan marah besar jika ia tidak mengikuti permintaannya.
Suara pintu yang digeser, membuat Sehun mengubah posisinya menjadi duduk, dan disana ia melihat Luhan dengan pakaian tidurnya.
"Apa hyung menganggumu?". Luhan mengambil posisi untuk duduk disamping Sehun, ia mengelus rambut adiknya dengan lembut saat Sehun menggeleng pelan.
"Rasanya sudah lama sekali kita tidak berbincang sebelum tidur nne?". Sehun mengangguk, ya dulu saat masih kanak kanak ia dan luhan selalu berbincang kecil sebelum akhirnya jatuh tertidur.
"Nan, jeongmal bogoshippeoyo Sehunnie". Luhan menatap jauh kedalam iris hazel sang adik, iris yang membuatnya berdebar, iris yang membuatnya seolah memiliki dunia yang lebih indah hanya dengan menatapnya.
"Nado, Lu hyung". Sehun tersenyum, menampilkan eye smilenya yang menggemaskan.
"Kita belum sempat berbicara banyak, nne?". Sehun mengangguk, ya, pertemuan pertamanya dan Luhan beberapa hari lalu lebih banyak dihabiskan untuk berbincang tentang Baekhyun, dan cinta nya pada Chanyeol.
"Jadi, bagaimana kerajaan? Apa kau suka tinggal disana?". Sehun tersenyum kecil, ia memainkan jemari jemarinya dibalik baju tidurnya.
"Nne, semuanya memperlakukanku dengan baik, Hyung tak perlu khawatir".
"Lalu, bagaimana dengan Chanyeol?". Luhan menatap Sehun, menunggu ekspresi apa yang akan adiknya itu berikan saat bercerita tentang Chanyeol.
"Dia baik, dan selalu sibuk dengan urusan kerajaan. Dia memperlakukanku dengan baik, Hyung". Cinta, itu yang Luhan lihat dimata Sehun saat adiknya itu bercerita tentang Chanyeol. Cinta yang begitu kuat. Terlalu kuat mungkin.
"Jangan berbohong, Sehunnie. Jongin sudah menceritakan semuanya". Sehun menghela nafas, ya, dia tahu Luhan tidak akan semudah itu untuk dibohongi.
"Jongin tidak tau apa apa hyung, Chanyeol, dia begitu karna belum bisa melupakan Baek hyung". Luhan menggeram kecil, sambil terus memperhatikan Sehun yang menggigit pipi bagian dalamnya sendiri.
"Bukankah dia telah membuat aegya pergi? Apa kau tidak membencinya?". Sehun menatap Luhan, menatap kedua mata anak rusa yang selalu memperhatikannya sejak kecil itu dengan baik.
"Tidak, aku tidak bisa membencinya. Aku mencintainya Hyung".
TUK
Luhan terdiam, mendadak membeku atas ucapan Sehun barusan. Tatapan yang Sehun berikan padanya adalah tatapan yang Luhan tau mengisyaratkan sebuah keyakinan yang tinggi. Lantas Luhan merasa jatuh, keping hatinya baru saja dihempaskan oleh fakta bahwa saja ia tak akan pernah bisa masuk kedalam hati sang adik. Karna hati itu telah penuh dengan Chanyeol didalamnya.
"Hyung…". Luhan hanya diam, diam saat Sehun memeluk tubuhnya erat.
"Mianhae…". Inginnya Luhan mengatakan Sehun tidak salah apapun, untuk apa pemuda ini meminta maaf.
"Aku-jangan, jangan katakan Sehun Luhan merintih dalam hati, bagaimanapun, dia belum bisa menerima fakta yang akan menamparnya nanti, fakta bahwa Sehun tidak menginginkannya, fakta bahwa Sehun tidak bisa menerima cintanya. Namun Sehun harus memperjelas segalanya, dia tidak mau Luhan terluka, dan dia tidak mau mengkhianati Chanyeol.
"-tidak bisa bersamamu Hyung"
Duar!
Lengkap, Sehun mengatakan kata kata itu dengan lancar. Bukan hanya kepingan hatinya yang hancur, namun seluruh jiwanya seolah berhembus entah kemana. Luhan merasa hampa, ia bahkan belum memulai perjuangan apapun untuk merebut Sehun dari Chanyeol. Bukankah ini pertanda bahwa ia telah kalah? Cairan hangat menembus pakaian Sehun, membuat laki laki itu tersadar bahwa saja ia telah menyakiti kakaknya dengan amat sangat. Tapi, apalagi yang harus ia lakukan? Luhan bahkan layak untuk mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya, seseorang yang bisa mencintai Luhan lebih dari rasa cinta Luhan padanya.
"Mianhae… Mianhae hyungie". Malam itu, Sehun ikut menangis bersama Luhan, menangis hingga lelah, lalu tertidur dengan tubuh saling berpelukan. Sementara itu, nyonya Oh jatuh terduduk didepan pintu kamar sang putra. Satu kenyataan yang ia terima jika saja putra angkatnya mencintai adiknya sendiri membuatnya terpukul.
{}
Joseon memiliki sungai yang indah dengan pepohonan rimbun disekitarnya. Air yang tenang dengan angin berhembus pelan membantu Raja Joseon itu menenangkan fikirannya yang kacau balau. Seharusnya ia tidak disini sendirian, seharusnya dia tidak kabur dari kediamannya yang mungkin saja jika pengawalnya sadar akan membuat seluruh kerajaan panic. Ya, seharusnya Chanyeol tidak disini, karna pagi ini seharusnya ia duduk disinggasananya mendengarkan laporan wajib para mentri, bukan melarikan diri.
Semalam suntuk ia tidak tidur, memikirkan apa saja yang bisa luhan lakukan pada Sehun. Mulai dari menggoda hingga membawa kabur Sehun dari sisinya. Ya, Chanyeol tau akan perasaan yang luhan miliki pada Sehun. Perasaan menjijikkan karena -dimata Chanyeol-, betapa tidak tau dirinya luhan yang telah diangkat menjadi anak keluarga Oh dibesarkan dengan senang hati dan dianggap anak kandung telah dengan sangat berani mencintai adiknya sendiri. Luhan, laki laki itu menakutinya, menakuti Chanyeol dengan cara tak kasat mata. Menakutinya dengan sebuah bayangan dimana ia akan membawa Sehun pergi dari sisinya. Chanyeol tidak bisa, tidak bisa karna ia tak mau lagi kehilangan Sehun. Cukup rasanya dengan menggantikan Sehun dengan Baekhyun, namun kini ia tak akan membiarkan Sehun dibawa pergi lagi disaat ia sudah benar benar memilikinya.
Asap kecil yang keluar dari alat pernafasannya mengepul kecil, suhu Joseon sudah mengalami penurunan mengingat ini telah hampir awal dari musim dingin. Lelaki dua puluh enam tahun itu duduk dibawah sebatang pohon cukup besar yang usianya mungkin telah cukup tua. Kekehan kecil keluar dari bibir tebalnya, pikirnya melayang pada beberapa tahun lalu saat Sehun kecil memintanya untuk menolong seekor kucing malang yang tersangkut diphon ini. Pertama kali, ah bukan, tepatnya kedua kalinya getaran aneh pada dadanya muncul.
Raja dengan usia muda itu mengistirahatkan dirinya dengan bersandar. Jauh, jauh sebelum Baekhyun mengisi hatinya Sehun telah terlebih dahulu disana. Chanyeol bahkan tak menyangka wajah polos anak laki laki berusia enam tahun kala itu mampu menggetarkan hatinya dengan segitu parah. Kala itu Chanyeol akui ia masih sangat pengecut untuk mengakui perasaannya, masih menggunakan Baekhyun sebagai perantara untuk menyatakan cintanya pada Sehun. Yang Chanyeol kira si manis itupun memiliki rasa yang sama, hanya saja Baekhyun selalu berkata tidak, Sehun tidak memiliki perasaan seperti itu terhadapnya.
Pemilik iris kelam itu tidak memungkiri bahwa ia pun tertarik pada Baekhyun ketika pertama kali bertemu. Sama sekali bukan salahnya untuk tertarik pada dua orang sekaligus, itu hal yang lumrah mengingat feromonnya pada masa itu memang menuntutnya untuk memiliki perasaan menggelitik seperti rasa suka. Chanyeol tidak pula munafik karna ia mengakui sempat bersemu merah ketika pertama kalinya mengenal Baekhyun, Tuhan, Baekhyun itu bahkan punya sejuta pesona yang tiap orang mampu meringis saking indahnya. Tapi ya hanya begitu, pesona Baekhyun hanya mampu membuatnya bersemu bukan bergetar dan berdebum kala ia bersama Sehun.
Baekhyun selalu mengatakan penolakan penolakan dengan kata kata halus sebagai jawaban yang Sehun berikan padanya soal rayuan rayuan juga surat cinta yang tak pernah mendapat balasan. Lagipula ini semua didukung oleh perilaku Sehun yang tidak menunjukkan apa apa, Chanyeol hampir putus asa kala itu, tapi Baekhyun selalu disisinya, mendukungnya dengan semangat sampai perasaannya pada Sehun terkikis layaknya erosi dan berpindah pada Baekhyun yang lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya.
Jatuh cinta pada Baekhyun bukan hal yang sulit, pemuda itu memiliki hati yang luar biasa baiknya. Chanyeol tidak menyesal untuk memindahkan hatinya pada Baekhyun, dan soal Sehun ia berfikir rasional saja mungkin memang belum waktunya Sehun mengerti akan cinta. Ya, begitulah mindset yang diterapkan Chanyeol dikepalanya. Sedikit demi sedikit waktu untuk bermainnya bersama Sehun berkurang, digantikan dengan menghabiskan waktu bersama Baekhyun. Waktu yang berkurang itu semakin pergi lalu berubah menjadi tidak sama sekali. Hubungannya dengan Sehun benar benar seperti memiliki jarak yang jauh. Dan Chanyeol telah benar benar jatuh hati pada Baekhyun yang manis.
Lalu pernikahan terjadi begitu saja, Baekhyun meninggal dan ia harus segera naik tahta. Sehun, Chanyeol bahkan bingung dengan perasaannya, mengapa ia menuduh Sehun membunuh Baekhyun? mengapa ia tidak menyukai laki laki itu? dan mengapa ia tidak ingin Sehun menikmati percintaan mereka? Chanyeol bahkan tidak punya jawaban akan itu semua. Dia, dia hanya terlalu bersedih akan kepergian Baekhyun yang telah memiliki hatinya secara utuh. Dia tidak punya tempat pelampiasan akan kekecewaannya sendiri, dan Sehun, sosok lemah itu menjadi sasarannya. Selain itu, mungkin satu satunya alasan Chanyeol berbuat jahat pada pasangannya karena ia telah berjanji untuk hanya mencintai Baekhyun selamanya sehingga Chanyeol sebisa mungkin menerapkan bahwa saja Baekhyun itu tidak tergantikan. Namun dalam diam Chanyeol selalu menyesali apa yang telah ia perbuat pada Sehun.
Memandang jauh ketengah sungai, meninggalkan masa lalu dan menyapa masa kini. Chanyeol tau jika saja Baekhyun telah pergi, pria itu telah tenang disisi pencipta dan sedang mempehatikannya dari atas langit sana. Dan Sehun adalah Ratu Joseon, pasangan sehidup sematinya yang telah disumpah untuk setia apapun keadaan yang terjadi termasuk dimadu, disakiti, bahkan dibuat menangis sekalipun, ia harus tetap bertahan diposisinya sebagai ibu Negara.
"Chanyeollie….". Memang hanya perasaannya saja, atau memang telah beberapa kali dirinya menghayalkan Baekhyun muncul dihadapannya. Kali ini, laki laki itu datang dengan wajah sedih dan wajah yang basah seperti habis menangis begitu seringnya.
"Mianhae". Chanyeol belum sempat mengeluarkan satu katapun dari bibirnya ketika secepat kilat hayalnya akan munculnya Baekhyun pergi begitu saja, meninggalkan dirinya dengan hati yang tidak karuan. Untuk apa kiranya Baekhyun meminta maaf? Kalimat itu layaknya mantra yang terus diucapkan hati kecilnya.
Chanyeol kembali dari pelariannya ketika siang menjemput. Ia bisa melihat Yunho menghela nafas lega atas kedatangannya, ah pengawal setianya itu pasti sangat mencemaskannya yang pagi pagi buta sudah menghilang begitu saja. Chanyeol memasuki kediamannya, sudah memakai Gonryongpo merah nya dengan rapi.
"Apa Junjeon telah kembali kekediamannya?". Ucap chanyeol sambil membaca salah satu laporan keuangan Joseon.
"Ye, Jeonha. Junjeon pulang tak lama sebelum anda kembali". Chanyeol merasakan senang dalam hatinya, puas jika saja ternyata Sehun menuruti perintahnya.
"Tuan Luhan, menitipkan ini pada saya, Jeonha". Chanyeol mengangkat kepalanya, mengambil gulungan kertas yang diserahkan Yunho padanya. Apa gerangan yang dimaksud luhan dengan mengirim surat kepadanya?. Chanyeol membuka surat itu cepat, membacanya sekejap.
"Aku harus bertemu Sehun".
{}
Sehun melepas satu persatu lapisan pakaiannya lalu memasuki bak air hangat disalah satu ruangan kediamannya. Pulang dari rumah orangtuanya, entah mengapa Sehun merasa bersalah karena telah berbohong, karna itu ia perlu sedikit merilekskan tubuhnya sebentar saja. Dirinya juga telah meminta Changmin, juga para dayang menunggu diluar, karna kali ini ia benar benar ingin sendiri.
Kedatangan Yang Mulia Raja disiang bolong seperti ini menjadi sebuah kejutan oleh para dayang dikediaman Sehun. Ini terlalu tiba tiba, selain itu sang Ratu juga tengah berendam. Chanyeol datang bersama Yunho dibelakangnya. Wajahnya, entahlah, memiliki ekspresi yang tak terbaca.
"Dimana Junjeon?". Itu pertanyaan Chanyeol saat ia tak menemukan Sehun diruangan biasanya.
"Mama, beliau tengah mandi, jeonha".
"Aku akan kesana". Dayang Kim terlihat kaget, dia cukup banyak tau jika Chanyeol datang tiba tiba suatu yang buruk pasti akan terjadi pada Sehun nantinya.
"tapi…"
"Apa kau berani melarangku?". Chanyeol sama sekali tidak berteriak, ia bahkan bicara dengan pelan, namun penuh tekanan dan juga mutlak dipatuhi.
"Aniya, Jeonha. Jeosonghamnida. Saya akan mengantar anda".
"Tidak perlu, aku tau ruangannya, dan Yunho! Lakukan apa yang harus kau lakukan".
Harum anggrek menyebar keseluruh ruangan, Sehun merasa sangat tenang. Ia bahkan masih memejamkan matanya saat menyadari seseorang telah masuk keruangan mandinya.
"Dayang Kim, aku tau itu kau. Izinkan aku berendam sebentar lagi nne". Ya, seingat Sehun hanya dayang Kim yang berani masuk ketika ia sedang berendam saat seluruh dayang ia perintah keluar.
"Oh Sehun". Suara ini? Sehun terperanjat, membuat air yang sedari tadi tenang memunculkan bunyi kecipak cukup keras.
"J-jeonha". Sehun menatap tak percaya, namun lebih tak percaya lagi saat Chanyeol ikut melepas satu persatu lapisan Gonryongpo miliknya.
Saat Chanyeol ikut masuk kedalam bak tersebut, Sehun merasakan pipinya memerah, ini pertama kalinya mereka berendam berdua. Sebisa mungkin Sehun tidak gugup, namun ketika merasakan Chanyeol mendekat jantungnya seperti ingin copot. Dia benar benar malu.
"Apa kau tak ingin menatapku?". Hanya saja, Sehun merasa ada sesuatu yang salah, tatapan itu, tatapan yang chanyeol tujukan padanya benar benar berbeda.
"Kemarilah". Sehun mendekat, ia bisa merasakan kulitnya bergesekan dengan kulit chanyeol, memberikan efek berdebar yang makin menjadi jadi. Untuk kali ini saja, Sehun berharap ia tengah bermimpi dan tak ingin terjaga lagi.
"Mianhae". Membeku, Sehun seolah tak bisa menggerakkan satupun anggota tubuhnya saat Chanyeol meremas pelan bahunya. Chanyeol tidak menatapnya, laki laki itu menunduk. Cukup lama dalam posisi seperti itu, Sehun merasakan bahu Chanyeol bergetar. Apa ia menangis? Kenapa?
"J-jeonha, uljjimayo, jebbal". Chanyeol mengangkat kepalanya, air matanya mengalir lewat hidungnya yang mancung. Sedetik kemudian ibu jari Sehun berada disana, menghapus air matanya dengan sangat lembut.
"Aku sudah sangat jahat ya, padamu?". Chanyeol menyandarkan tubuhnya, namun satu tangannya menggenggam tangan lembut milik Sehun. Laki laki duapuluh enam tahun itu menatap lurus kedua hazel Sehun yang indah.
"Tidak, anda tidak melakukan apapun yang jahat, Jeonha". Sehun menunduk, ia tersenyum kecil lewat sudut bibirnya. Ya, dia telah memaafkan segala yang Chanyeol lakukan padanya, bahkan dari sebelum laki laki ini meminta maaf padanya.
"Bohong sekali". Lantas mengangkat kepalanya, rasanya sudah sangat lama tak mendengar suara Chanyeol yang sesantai ini. Suara yang dimasa dulu selalu menghiasi mimpi mimpi kecil Oh Sehun.
"Jeonha…"
"Panggil aku seperti dulu, Sehun-ah". Bukankah chanyeol berubah terlalu cepat? Ini membingungkan. Dan tatapan itu, astaga, sudahkah Sehun katakan ia begitu merindukan tatapan ini?
"Chan-hyung".
"Nne, Sehun-ah". Sehun bersemu, wajah Chanyeol begitu dekat dengannya, ia bahkan bisa merasakan helaan nafas sang raja diwajahnya.
"Kenapa, kenapa begitu tiba tiba seperti ini?". Sehun terbata, ia menunduk lagi, tapi chanyeol menahan wajahnya. Chanyeol mempertemukan iris mereka yang berbeda warna, namun begitu menyatu ketika membuat debaran didada masing masing.
"Kau tak perlu tau". Sehun merengut, reflex sebenarnya, namun bibir tipisnya yang mengerucut benar benar menggemaskan. Chanyeol sampai meneguk ludahnya payah.
"Bolehkah aku menciummu?". Bola mata Sehun membulat lalu mengedip lucu. Chanyeol tak bisa menahan keinginannya, dengan cepat ia mencium bibir sehun dengan lembut, menghisap bibir bawah sang pendamping. Sehun mengerang lemah, ini memang bukan ciuman pertamanya, namun ciuman ini terasa begitu berbeda. Lembut, dan menyenangkan!
TBC
Nah, readerdeul, ini dia chap 7! sepertinya aku ga bisa update double chap pas b'day nanti, tapi insyaallah chap 8 bakal di update secepat yang aku bisa. Ini juga di update disela sela sakit abis kecelakaan huhuhuhuhu, aku udah liat Love me right, aaaaaaaaa... CHANHUN MOMMENT BANYAK BRRROOOOh!
