Chapter 6,
Someone Who Choose me Over The World
Ivan terbangun dengan kepala yang serasa ditusuk ratusan paku, dan tubuh yang meringkuk kedinginan dibalik selimut putih yang tebal dan empuk. Pria itu menatap sekelilingnya, ia ada di ruang tamu Arthur.
"Maaf aku membaringkanmu di situ, aku tak kuat mengangkatmu ke atas"
Suara Arthur mengejutkannya, membuat Pria itu bangkit dari posisi tidurnya dan duduk menghadap Arthur.
"tak apa, da. Aku yang harus minta maaf sudah merepotkanmu dengan tingkah kekanakanku"
Arthur berjalan mendekati Ivan, dan duduk di sampingnya.
Pria itu menyandarkan kepalanya pada bahu Ivan, "boleh aku bertanya satu pertanyaan?"
"Jangankan satu, satu juta pertanyaanpun akan kuladeni"
Arthur tertawa kecil,
"Ivan, apa cita-citamu sejak kecil?"
"Eh? cita-cita, da?"
"ya, cita-cita"
"Hum.. bukan sesuatu yang spesial, sih.. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang kuat dan bisa melindungi orang-orang yang aku sayangi, da"
Arthur tersenyum, "apa itu terkabul?"
"sedikit lagi, da. Arthur, kau yang terakhir, da"
Arthur Kirkland tertawa kecil
"Bagaimana denganmu, Arthur? Apa cita-citamu, da?"
Arthur terdiam sejenak, ia menatap kedua iris Ivan, kemudian tersenyum kecil, "menjadi seseorang yang dicintai dan dirindukan" ujarnya, "seseorang yang tak tergantikan bagi seseorang lainnya, seseorang yang bila mati, akan membuat orang yang mencintainya sedih, kehilangan, dan hancur. Seseorang yang dibutuhkan, seseorang yang diharapkan keberadaannya"
Ivan menatap Arthur, "kurasa permohonan itu terkabul, bukan?"
Arthur menatap balik Ivan, "apa kau akan bersedih bila aku pergi?"
"sangat sedih, da"
"apa kau membutuhkanku?"
"butuh, da"
"apa kau mengharapkanku?"
"sangat, da"
"apa kau akan berdiri di sampingku bahkan saat dunia berbalik meninggalkanku?"
"dunia itu kecil, Arthur, bahkan saat seluruh makhluk di galaksi dan angkasa meninggalkanmu, aku akan berdiri di sampingmu"
Mereka berpandangan untuk waktu yang lama,
"apa kau mencintaiku?"
"Aku mencintaimu, Arthur Kirkland"
Arthur tersenyum lembut,
"aku juga mencintaimu, Ivan Braginski"
Keduanya tertawa kecil, kemudian menempelkan dahi mereka, membuat wajah keduanya begitu dekat bagi mata satu sama lain.
"Ivan.."
"Da?"
"Aku butuh bantuanmu.."
"Apa itu?"
"Aku ingin menemui Al"
Ivan nampak terkejut, namun melihat wajah Arthur yang tampak tenang, ia tahu Arthur memiliki rencana. "Apa yang ingin kau lakukan, da?" "Mengubah segalanya"
"Maukah kau ada di sana untukku?"
"Aku akan selalu ada dimanapun kau berada"
Arthur dan Ivan duduk berdampingan pada kursi kayu di tengah taman yang sepi itu. Arthur menelepon Alfred, memintanya untuk menemui Arthur, dan Alfred langsung mengiyakan dengan nada senang.
"Bloody Hell.. sejak kapan dia suka terlambat? Ia tak pernah terlambat sebelumnya"
"mungkin macet, da? HetaTown sering macet akhir-akhir ini"
"Mungkin.."
Arthur menoleh, dan matanya menangkap sosok Alfred F Jones yang turun dari mobil, berlari ke arah mereka. Semakin mendekat, raut wajah itu berubah kesal.
"Kenapa dia ada di sini?" Alfred tersenyum sarkas seraya melirik Ivan. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada tangan Arthur dan Ivan yang saling bertautan.
"Oh" Ia tertawa kesal, "kau hanya mau datang kemari untuk menumpahkan garam di atas luka, Artie? Kau hanya kemari untuk bilang kepadaku bahwa kau sudah melupakanku dan bahagia dengannya?"
"Al.."
"Apa? Kau mau bilang padaku untuk melanjutkan hidup dan mencari orang lain yang bisa membuatku bahagia? I'm sick of that shit! Jutaan orang mengatakan hal yang sama!"
Ivan menatap Alfred tajam, ia hendak maju dan menghajarnya, namun tangan Artie menggenggam telapak tangannya erat, menariknya ke belakang. "Ya, itu yang akan kukatakan, dan karena kau sudah bisa menebaknya, kurasa tak perlu mengulang-ulang, bukan? You're sick of that shit anyway"
Alfred terdiam, ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Arthur.
"Kenapa kau kembali?" Arthur bertanya
"Tentu aku kembali, aku sudah bilang bahwa aku bisa memperbaiki segalanya, kan?"
"Tidak, Al, tidak ada yang bisa diperbaiki, lebih tepatnya, tidak ada yang bisa dibangun"
"Itu tidak benar, Artie. Kita.. kita bisa pergi ke suatu tempat yang menerima kita, kita.."
Arthur menggeleng, "hadapi realita di depan matamu, Mr. Jones" ujarnya, "tidak ada tempat untuk kita"
"Arthur" Alfred nampak kesal, "sejak kapan kau menjadi tak punya mimpi begitu? Begitu pesimis! Ada apa dengan semua mimpi kita? Berkeliling dunia dengan van kecil dan memotret tiap langit berbintang yang kita temui di perjalanan kita? Memelihara dua ekor kucing kucing dan membawa mereka dalam perjalanan kita?"
Alfred menatap Arthur tajam, "apa semuanya, segala yang kita ukir dulu sebegitu mudahnya hancur jadi serpihan tak berarti?"
Arthur terdiam, ia terhenyak.
Ia tak menyangka bahwa Alfred mengingatnya.
Mimpi-mimpi mereka.
Angan-angan yang mereka tulis dalam sebuah buku catatan kecil.
Arthur menggeleng pelan, "aku bukan kau, Al. Aku tahu garis batas antara impian dan kegilaan. Keduanya berbeda tipis, tapi aku tahu bedanya" ujarnya, "Aku memilih melanjutkan hidupku, karena aku tahu apa yang ada di balik garis kemustahilan. Aku tak sepertimu, aku bukan pengejar mimpi-mimpi naif"
Raut wajah Alfred nampak bertambah kesal, "dan kau memilihnya" ia menunjuk Ivan, "kau memilihnya dibandingkan aku. Bahkan walau aku bisa mengabulkan mimpi-mimpi naif itu?"
"Ya" Arthur mengangguk
"Kenapa, Artie?" Alfred bertanya.
Arthur menarik nafas, Ia menatap Alfred, "di mana kau saat aku terpuruk, mengurung diri, dan ditinggalkan oleh seluruh dunia?"
Alfred terdiam sejenak,
"Ibu menyuruhku pergi, aku tak punya pilihan lain"
"kau punya. Kau bisa memilih untuk tinggal di sini bersamaku"
"Kau tak bisa egois seperti itu, Arthur"
"Ya, itu egois dan itu tidak benar. Tapi kadang, kalau manusia tak mengikuti egonya, manusia akan terus hidup di bawah manusia lain"
Alfred nampak kesal, "Lalu apa? Dia memilihmu dibandingkan hal lainnya?"
Ivan dapat merasakan genggaman tangan Arthur mengerat, "dia akan berada di sampingku saat dunia meninggalkanku" pria Russia itu tak dapat menahan keterkejutan di wajahnya ketika ia melihat Arthur tersenyum penuh rasa percaya diri dan kebahagiaan.
"Tidak, jangankan dunia. Dia berjanji tidak akan meninggalkanku bahkan walau seluruh galaksi meninggalkanku. Dunia itu kecil"
Ia merasakan kehangatan di tangan Arthur menjalar melalui tangannya, dan menguasai seluruh tubuhnya, dan mulutnya bergerak tanpa sadar..
"Aku memilihnya" ujar Ivan
"Aku memilihnya dari ribuan orang lainnya, aku memilih senyumnya dari ribuan senyum lainnya, aku memilih suaranya dari ribuan suara lainnya, aku memilih untuk terus memilih apapun yang dilakukan dan dipilihnya, apapun yang terjadi, walau ia tak memilihku"
Alfred dan Arthur nampak terkejut mendengar perkataan sang Ivan Braginski. Arthur tersenyum lembut, "Al" ia menoleh pada Alfred, "apa dulu kau memilihku?"
Pria berkacamata itu terdiam sesaat, kemudian menghela nafas, "tidak, Artie"
"Apa-apaan, ini?"
Sebuah suara mendadak muncul, memecah keheningan taman itu. Ketiganya menoleh, dan menemukan seorang wanita, berdiri tak jauh dari mereka. Arthur dapat merasakan pipinya kembali sakit.
Wanita yang dulu meninggalkannya sewaktu kecil.
Wanita yang bertemu kembali dengannya pada waktu yang kurang tepat.
Wanita yang menyisakan sebuah rasa ngilu yang hingga hari ini masih berasa di pipi Arthur
"Ibu.."
Wanita itu menatap Arthur dengan tampang jijik, "Ibu? Jangan panggil aku Ibu!" bentaknya, "kau sungguh menjengkelkan, sama seperti ayahmu!" Wanita itu menuding Arthur, "tak puaskah kau merusak reputasi adikmu dan keluarga ini? Kau masih menemuinya juga? Sungguh tak tahu diri!"
"Ibu, ini tidak seperti yang ibu pikirkan.."
"Sudah, kau diam! Dasar anak kurang ajar!"
Wanita itu mengayunkan lengannya, bersiap melayangkan tamparan ke wajah Arthur, namun tangan itu terhenti di tengah jalan.
Arthur menatap sosok yang berdiri di hadapannya, menghentikan tangan sang Ibu sebelum bersarang di pipinya untuk kedua kalinya.
"Al, lepaskan tangan ibu"
"tidak"
Arthur dan Ivan, keduanya terperangah menatap Alfred
"Tidak, Artie, dulu aku tak memilihmu, tapi aku tak menyesalinya, karena jujur saja, aku tak akan mampu memenuhi ego itu" ujarnya, "maka dari itu, hari ini saja, aku akan memenuhi egomu"
"Aku memilihmu"
Arthur terkejut, sementara Alfred hanya tersenyum.
Sang Ibunda nampak kesal, "lepaskan tanganku!" ia menarik tangannya, "kita pulang! Aku akan segera pesan tiket pulang besok! Kupikir kembali ke Heta Town sudah aman, tapi kau masih menemuinya"
"Aku tak mau pulang" ujar Alfred
"apa?"
"Aku hidup selama bertahun-tahun mengikuti keinginan ibu, memilih semua yang Ibu pilih, tapi itu semua berakhir hari ini"
Alfred tersenyum, "aku tidak memilih Ibu, aku juga tidak memilih Arthur" ia menunjuk ke arah Arthur yang kebingungan.
"Aku tahu apa yang salah denganku, Arthur menyadarkanku akan hal itu. Hanya satu hal yang aku inginkan di dunia ini, tapi aku tak pernah berani memilih hal itu, dan aku menyalahkan orang-orang di sekitarku"
Ia merentangkan tangannya, "Aku memilih kebebasan! Aku memilih untuk hidup atas kehendakku sendiri!"
Alfred F Jones kemudian menundukkan kepalanya, "terimakasih atas segalanya, Bu, tapi mulai hari ini, aku akan berjalan di jalan yang berbeda, bukan, aku akan membangun jalanku sendiri"
Wanita itu nampak kesal. Ia menggeram dan beranjak dari tempat itu menuju mobilnya, dan segera berkendara menjauh dari taman. Arthur dan Ivan masih terperangah menatap Alfred.
Alfred menghela nafas, kemudian ambruk berlutut di tanah. "Dude, you see that? Yang kukatakan barusan benar-benar freaking awesome, man!" Ia tertawa, kemudian berdiri, dan dalam beberapa detik, raut wajahnya kembali serius.
"Artie, mungkin, selama ini perasaan yang ada di dalam hatiku bukanlah rasa menyesal karena tak memilihmu, karena jujur, bagiku permintaanmu terlalu egois. Tapi perasaan itu adalah rasa kesal karena tidak bisa melawan orang-orang yang terus memaksaku melakukan hal-hal yang tak ingin kulakukan.. " ujarnya.
"Maafkan aku membuatmu melalui semua ini"
Arthur menggeleng, "hei, cupid itu buta, kita tak pernah tahu bahwa dia akan menembak kita berdua saat itu, bukan?"
Alfred tertawa kecil, "well, yang itu memang tak terhindarkan, tapi.. kejadian berikutnya, meninggalkanmu, marah padamu dan sebagainya.. aku minta maaf"
"well, kurasa segala hal yang baik akan berakhir dengan baik"
"ya.. kurasa kau sudah bahagia dengan orang lain juga sekarang.."
Alfred melirik Ivan, "Hero tak pernah menyerah, jadi tolong jangan anggap perkataan barusan adalah semacam penyerahan Artie kepadamu, ya!"
Ivan hanya tersenyum, dengan aura ungu menyeruak di balik punggungnya, "memangnya kau mau apa, da? Kau takkan bisa mengambilnya dariku"
"Tentu bisa, tidak ada yang tak bisa dilakukan hero semacam aku"
"Pada akhirnya akan ada saatnya seorang hero dicabik-cabik karena melewati batasnya, da.."
Aura keunguan Ivan makin membara.
Arthur mundur selangkah.
Alfred, seratus persen cuek dengan aura yandere itu, hanya tertawa, "Jaga Arthur baik-baik sampai aku datang kembali untuk mengambilnya!" Alfred berbalik, "sekarang Hero punya misi untuk menikmati kebebasannya, see ya!" Alfred melambaikan tangannya, dan berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Er.. that's it?" Arthur nampak kecewa
"Apa yang kau harapkan, Artie?" Ivan bertanya
"Sesuatu seperti klimaks novel yang keren, kata-kata perpisahan terakhir yang mengangumkan! Bukan seperti anak TK yang pamit dan menitipkan barangnya!"
Ivan tersenyum, dan melingkarkan tangannya di pinggang Arthur, "well.. anak TK itu takkan mendapatkan apapun kembali, da, soalnya aku tidak suka dititipi barang"
Wajah Arthur memerah.
"B-Baka! Apa maksudnya itu?!"
To be Continued..
A/N :
dan.. diakhiri dengan kalimat tsundere khas Arthur~ tralalala~
Meski ini sudah terlihat seperti ending, tapi ini bukan ending ^^ btw, maafkan Ryuu karena terlambat mengupdate (Biasanya kan Ryuu update hari Sabtu atau Minggu) akhir-akhir ini tugas Ryuu makin menumpuk dan menumpuk.. Terimakasih bagi yang sudah mau bersabar dan tetap setia membaca Spokoynoy Nochi, Love! ^^
Balasan review :
MoscowNewYork :
Untuk penyakitnya Gilbert, Ryuu sendiri belum memutuskan apa penyakitnya secara detail.. maafkan Ryuu atas kelalaian ini.. Mungkin pada fanfic yang memang dikhususkan untuk kisah Gilbert sendiri, Ryuu akan sudah memutuskannya.. terimakasih atas dukungan dan penyemangatnya! Ryuu akan selalu semangat! ^^
YuanChan48 :
Terimakasih sudah membaca fanfic ini ^^ I'm glad you like it! Untuk pair di fic ini sendiri sebagian besar RusUK, sih, kalau untuk Gilbert nanti ada SpaPru dan sedikit PruCan, tapi itu di fic yang masih dalam tahap pengerjaan dan kisahnya masih menyangkut sama fanfic ini.. Ryuu berniat mempublishnya saat Spokoynoy Nochi sudah tamat ^^ terimakasih juga atas saran penulisannya.. Ryuu sudah berusaha menerapkannya di chapter ini, maaf kalau masih kurang rapi, Ryuu akan berjuang meningkatkannya lagi ^^
Terimakasih sudah membaca ^^
Orijima Ryuu, 2015
