Ai no Ame Ga Furu
Bleach belong to : Tite Kubo
Story belong to : LR (me)
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama, Melodrama, Humor, Family, Friendship, Poetry, Parody, Mystery, Angst, Suspense.
Pairing : IchigoxRukia (will show slight each other with other)
...
Tak terasa, waktu berjalan dengan begitu cepat. Rasanya baru tadi pagi semenjak Ichigo bertemu dengan Rukia. Berbicara, bertengkar kecil, saling menertawai dan bercanda bersama itu-lah yang sempat mereka berdua lakukan tadi.
Tak disangka, saat ini keadaan langit telah menjadi siang hari yang lumayan terik. Mungkin dikarenakan waktu yang telah menunjukkan pukul 12 siang, dimana matahari dengan tegapnya berdiri sejajar menyinari bumi, sehingga panasnya menguar keseluruh pusat Karakura kala itu.
Terlihat beberapa mahasiswa-mahasiswi Karakura disana dengan senang hati melenggang pergi keluar dari kelasnya yang telah selesai. Dan sebaliknya, beberapa yang lain ada yang baru memulai kelas karena memang itu lah jam mereka akan membahas materi.
Tempat dimana masing-masing dari mereka tengah menuntut ilmu itu begitu terlihat ramai dan memang tak pernah sepi―terkecuali hari sabtu dan minggu―. Setiap waktunya selalu terlihat lautan pelajar muda maupun paruh baya dimana-mana, baik itu di ruangan kelas, kantin in/outdoor, taman, ruang olaharaga, dan beberapa fasilitas tempat lain yang terdapat disana.
Tetapi pengecualian saat ini diruang rapat badan kemahasiswaan aktif, karena disana hanya terlihat Ichigo dan Kaien...
Memang seharusnya ruangan itu penuh jika tengah diadakan rapat bersama untuk membahas suatu acara yang akan diselenggarakan, tetapi semenjak Yoruichi mempercayakan mereka berdua―Ichigo Kurosaki & Kaien Shiba― untuk menjadi penanggung jawab acara yang akan diracik pada awal pergantian musim yang akan datang, maka mau tak mau mereka harus rela ditinggal teman-temannya yang lain untuk pergi kekantin sekedar mengisi perut atau melepas penat sejenak.
Kedua anak ini kelihatannya tengah kehabisan ide-ide yang bagus demi membuat acara kebesaran bagi Universitas tercinta.
''Padahal bulan Desember saja masih beberapa bulan kedepan, bisa-bisanya dia membuat kita repot seperti sekarang ini~'' sewot Ichigo yang tiba-tiba memecahkan keheningan diantara mereka.
Seperti biasanya, cowok yang selalu terlihat ceria dan santai, juga bersifat kalem itu―Kaien― menjawab dengan bijak, ''Justru karena ini adalah perlombaan khas Karakura University maka dari itu harus dibuat repot jauh-jauh hari, malah kalau diberitahu sebulan sebelumnya kita malah akan kerepotan berkali-kali lipat dari yang sekarang~''
Ichigo pun nampaknya telah tercerahi oleh perkataan Kaien, ''Kau benar... Itu berarti kita memiliki waktu lima bulan kedepan untuk mempersiapkan semuanya.'' tutur Ichigo yang ketika itu tengah menghitung sisa bulan ditangannya.
''Kurang dari lima bulan, saat ini kan sudah pertengahan Juli, kau lupa?'' koreksi Kaien yang kelihatannya lebih jeli dari Ichigo.
Mendengar itu kontan Ichigo langsung menenggelamkan kepala kedalam kedua tangannya yang saat itu terlipat diatas meja rapat, ''Argh! Menyebalkan sekali! Kapan sih aku punya waktu untuk mengistirahatkan isi kepalaku sejenak?'' keluh Ichigo terang-terangan. Kelihatan sekali dirinya merasa frustasi dengan beberapa tanggung jawab yang harus ia tangani sendiri belakangan.
Merasa kasihan ketika melihat temannya bertingkah dan mengeluh demikian, Kaien pun bertanya, ''Masalah perusahaan keluargamu itu?''
Masih belum mau mengangkat kepalanya, Ichigo menjawab, ''Dalam hidupku kan isinya bukan hanya perusahaan menyebalkan itu saja, Kaien~''
Menganggap Ichigo tengah melawak, Kaien pun jadi tertawa, ''Hahaha~ Maaf, aku kan tidak tahu. Memang apa lagi sih yang mengganggu pikiranmu?''
Tepat ketika Kaien bertanya lebih jauh seperti itu, barulah Ichigo mengangkat kepalanya yang sedaritadi ia sembunyikan dibalik lipatan kedua tangannya, kemudian ia sandarkan dagunya diatas meja dan menatap kosong kesuatu sudut, ''... Ibu...''
Lagi, untuk kesekian kalinya Kaien merasa kasihan dengan Ichigo. Bahkan seolah ia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan temannya itu, karena sampai saat ini pun ia juga selalu merindukan Ibu-nya yang telah dipanggil lebih dulu oleh Kami-sama karena telah tutup usia.
''Tidak kau coba menghubunginya untuk mengunjungimu dan keluargamu, Ichigo?''
Ichigo menggeleng lemas, ''Aku tidak mau mengganggunya. Memintanya pulang malah akan membuat ia kerepotan, nanti yang ada pekerjaannya jadi terganggu~''
''Memang Ibumu sejahat itu sampai tidak mau direpotkan keluarganya sendiri?'' tanya Kaien yang jadi berburuk sangka.
Dengan ketus Ichigo pun menjawab, ''Jangan salah paham! Maksudku, aku yang tidak ingin membuatnya repot! Ibuku itu wanita yang sangat baik yang pernah aku kenal jika kau ingin tahu!''
''Oh~ Hahaha~ Habis nada bicaramu seperti itu sih, Ichigo. Aku kan jadi salah paham.'' ungkap Kaien yang lagi-lagi jadi tertawa lepas.
''Cih! Kau ini hobi sekali yah tertawa disaat seperti apapun? Menyebalkan sekali...'' kelihatannya kali ini Ichigo benar-benar marah karena kebodohan Kaien yang tidak bisa membaca situasi.
''Habis kau mau aku bagaimana? Menangis tersedu-sedu seperti ini? Hiks, hiks~ Ichigo sabar yah...'' canda Kaien sambil pura-pura bertingkah menangis seperti anak wanita didepan Ichigo.
Ketika melihat Ichigo sedang menahan tawa karena melihat ulahnya, tingkah konyol Kaien pun semakin menjadi. Ia bertingkah seolah-olah tengah menghapus air matanya yang terjatuh, kemudian ia mengkedip-kedipkan matanya dengan cepat persis seperti anak perempuan yang sedang menggoda laki-laki pujaannya.
Dan tingkah konyol Kaien itu nampaknya sukses membuat Ichigo tertawa geli, ''Hentikan, Kaien! Itu menjijikkan! Hahahaha~''
Kaien pun merasa lega ketika telah melihat Ichigo kembali menjadi dirinya yang seperti biasa, ''Tadi aku tertawa kau marah, aku menangis untukmu kau bilang menjijikkan~''
''Ya, maaf. Aku baru sadar kalau kau memang seperti itu.'' jawab Ichigo yang masih terlihat ingin tertawa, ''Sudahlah lupakan saja. Lebih baik kita fokus dengan tugas ini! Kalau tidak, bisa kena omel Yoruichi-san nanti.'' ujar Ichigo yang sudah siap mengambil sebuah pena dan beberapa lembar kertas file didalam tasnya.
''Oh iya, Ichigo~ Akhir-akhir ini kau selalu bertingkah aneh dikelas, apa karena salah satu diantara masalahmu yang tadi itu?'' tanya Kaien tiba-tiba saja.
Secara tidak sadar Ichigo pun menjawab, ''Bukan~''
''Wah~ Jadi, masalahmu itu banyak sekali yah. Kalau begitu tentang apa?''
Ichigo yang masih sibuk mencari-cari bolpoin didalam tasnya itu dengan santai menanggapi, ''Tentang si cebol...''
Tentu saja tindakkan Ichigo barusan menarik perhatian Kaien dan memunculkan sebuah tanda tanya dikepalanya, ''Si cebol? Siapa dia? Dan ada masalah apa kau dengannya?''
''Itu loh orang kerdil yang akhir-akhir ini sukses menarik perhatianku beberapa hari terakhir...'' jelas Ichigo lagi tanpa sadar.
Kaien jadi semakin terlihat kebingungan dengan penjelasan Ichigo yang terlalu bertele-tele itu, ''Orang kerdil? Siapa sih yang kau maksud?'' tanya Kaien sambil berwajah penasaran.
Setelah dirasa tangan Ichigo telah berhasil mendapatkan benda yang dicarinya sedaritadi, ia pun perlahan mengalihkan pandangan kepada Kaien seraya berkata, ''Itu loh gadis cebol―'' tiba-tiba saja Ichigo menutupi mulutnya sendiri dengan tangannya. Kelihatannya anak laki-laki itu baru menyadari bahwa dirinya hampir saja keceplosan.
Tingkah Ichigo itu tentu saja menjadi perhatian lebih untuk Kaien, anak laki-laki berwarna rambut menyerupai Rukia itu pun mulai merasakan ada sesuatu yang aneh yang telah dirahasiakan Ichigo darinya.
Dengan menyipitkan kedua matanya dan sedikit mencondongkan tubuh kearah Ichigo yang duduk berseberangan dengan dirinya, Kaien pun kembali bertanya, ''Gadis cebol?''
'Celaka!' batin Ichigo yang sangat mengutuk kebodohannya itu, semenjak kesadarannya datang anak itu terlihat jadi sedikit salah tingkah, ''I-Itu, adikku!''
''Adikmu?'' ulang Kaien sambil bertampang konyol.
''Ya, adikku! Si Karin, dia itu selalu saja bertingkah seperti anak laki-laki. Jadi, aku selalu memikirkan bagimana caranya agar ia tidak begitu lagi, itu sebabnya akhir-akhir ini aku jadi terlihat aneh, itu semua karena aku memikirkan ini~'' jelas Ichigo sedikit tegang.
Kaien sama sekali tidak merespon penjelasan temannya itu. Jujur saja ia tidak percaya dengan segala omong kosong Ichigo yang terdengar sedikit dipaksakan.
Menurutnya, apa wajar jika temannya itu bertingkah aneh hanya karena sikap dari seoranga adik? Apalagi Ichigo memanggilnya 'gadis', untuk apa Ichigo memanggilnya demikian? Akan terdengar lebih masuk akal jika Ichigo langsung menyebut nama adiknya saja bukan?
Semuanya sangat tidak masuk akal bagi Kaien, dari mulai cara Ichigo berbicara, bertingkah, memberikan alasan, dsb. Padahal semua sikap itu tidak pernah Kaien lihat sebelumnya selama berteman dengan Ichigo hampir beberapa tahun.
Merasa sedang ditatap aneh oleh Kaien, Ichigo memilih untuk mengalihkan perhatian dan pandangannya kearah buku file diatas meja, berpura-pura tengah memikirkan segelintir rancangan acara yang akan diadakan nanti.
Dengan santai Kaien memulai pembicaraan kembali, ''Hei, Ichigo~'' panggilnya.
''Hn?'' Ichigo sama sekali tidak menoleh kearah suara sang pemanggil namanya tadi. Ia masih berpura-pura tengah berpikir.
Kaien tersenyum licik setelah melihat itu, kemudian dengan jahil ia berkata, ''Apa kau sedang menyukai seseorang?''
''TIDAK! AKU TIDAK MENYUKAINYA!'' sanggah Ichigo yang keterkejutannya sangat berlebihan dimata Kaien.
Dengan sepasang bola mata yang tatapannya jadi melebar, dengan usil Kaien menebak, ''Oh~ Jadi...?''
'Dor!' tebakkan Kaien yang iseng itu sepertinya membuat Ichigo semakin terlihat bodoh. Ia juga menyadari bahwa sepertinya Kaien mendapatkan dirinya tengah berbohong tadi.
''Jadi, siapa gadis yang telah mencuri perhatianmu itu? Ayolah katakan saja padaku, jangan main rahasia-rahasiaan~ Aku kan temanmu, aku jamin rahasiamu itu aman ditanganku~'' canda Kaien yang terlihat jelas tengah menggoda Ichigo.
Walaupun sudah skak-mat, rasanya Ichigo masih belum mau mengakuinya dan dengan bersih keras menyangkal candaan Kaien, ''Aku pikir yang kau maksud itu adikku! Mana mungkin aku menyukai adikku sendiri, maka dari itu tadi aku bilang tidak menyukainya!''
''Sudahlah jangan berbohong~ Lagipula kalau dipikir-pikir ulang, untuk apa kau memanggil adikmu dengan sebutan 'gadis', lalu sangkalanmu yang terlalu berlebihan itu. Tanpa sadar kau telah membuka aibmu sendiri, Ichigo~ Hihihihi~''
''Itu... Argh! Sudahlah, jangan dibahas lagi! Membuatku pusing saja!'' kali ini kentara sekali wajah Ichigo terlihat malu-malu, meskipun tidak memunculkan rona merah seperti ketika berada didekat Rukia, namun sepertinya Kaien dapat membaca gerak-gerik itu dengan sangat baik.
''Pusing karena gadis itu?'' lagi, goda Kaien untuk yang kesekian kalinya.
''Kaiennn!'' marah Ichigo sambil menatap laki-laki dihadapannya itu dengan jutek, sedangkan yang ditatap hanya mengikik kegelian karena tingkah Ichigo yang kelewat bodoh dan terlihat lucu itu.
~30 minute after~
''Huft~ Akhirnya selesai juga rancangan ini.'' ujar Ichigo sembari meregangkan otot-otot yang terasa kaku.
''Jangan senang dulu, kita masih harus membuat proposalnya kan? Habis itu mencari sukarelawan yang mau ikut menjadi panitia.'' perkataan Kaien tentu saja membuat Ichigo jadi merasa lemas kembali.
Dengan kesal ia mengacak-acak keseluruhan rambut orange-nya hingga kemudian terlihat sangat berantakkan, namun apa yang ia perbuat itu sama sekali tidak membuat ketampanannya menghilang sedikitpun.
''Aku benar-benar bisa gila~'' keluh si rambut Orange.
Kemudian Ichigo meraih pena yang sempat ia letakkan beberapa waktu yang lalu, setelahnya ia mulai mencoret-coret sisi kertas kosong dihadapannya secara asal-asalan.
Lagi-lagi Kaien tertawa geli karena melihat tingkah Ichigo, ''Gila karena cinta?'' tanya Kaien yang sudah menyunggingkan cengiran usilnya dihadapan Ichigo.
Ichigo tak mampu menjawab candaan Kaien saat itu, karena dijawab pun percuma, malah akan membuat anak itu semakin bernafsu untuk menggodanya terus-terusan. Maka untuk menanggapi guyonan Kaien itu, Ichigo hanya menatapnya dengan sebal, sembari mulutnya terlihat tengah komat-kamit mengucapkan sesuatu yang tidak jelas.
''Hihihihi~'' untuk kesekian kalinya lagi-lagi Kaien mengikik kegelian.
Selagi dirinya masih asyik tertawa, Kaien mencoba mengalihkan pandangan pada sisi jendela besar diruangan itu. Jendela itu mengarah pada sebuah kantin outdoor, dimana beberapa meja berbentuk bulat disana telah diisi oleh beberapa kelompok mahasiswa untuk sekedar berdiskusi tugas, makan bersama, atau mengobrol.
Tak jauh dari pandangannya, Kaien melihat dua sosok manusia yang sangat ia kenali duduk disalah satu meja itu. Yang satu sipendek berambut putih, tengah lahap menyantap makan siangnya. Sedangkan yang satu lagi sipendek berambut hitam, sedang asyik mengutak-atik laptop miliknya, terlihat sekali anak yang satu ini sesekali senyam-senyum sendirian ketika melihat sesuatu yang ditampilkan pada layar laptopnya itu. Sangat membuat Kaien penasaran.
''Dia itu kenapa?'' ujar Kaien pelan pada dirinya sendiri.
Tapi karena ruangan itu dapat memantulkan suara Kaien, tentu saja Ichigo jadi mendengarnya, ''Apa katamu barusan?'' tanya Ichigo bingung.
Kaien menengok kearah Ichigo, ''Eh? Itu, anak itu senyum-senyum sendirian, membuatku penasaran~'' terang Kaien sembari menunjukkan orang yang ia maksud dengan jari telunjuknya.
Kedua hazel Ichigo pun mengikuti arah telunjuk itu dan terlihatlah sosok seorang gadis yang beberapa hari terakhir telah sukses membuat hatinya merasa gundah. Tak lama kemudian rasa penasaran yang Kaien rasakan kini mulai menjalar pada dirinya, ketika melihat gadis itu memang sesekali terlihat ia sedang tersenyum tidak jelas saat memainkan laptop miliknya.
Lalu saat ia sadar gadis itu tidak sendiri, Ichigo melirik sosok lain yang berada disamping anak perempuan itu. Ketika ia merasa sudah jelas siapa sosok manusia itu dimatanya, Ichigo jadi kehilangan rasa penasarannya begitu saja. Yang ada rasa penasarannya itu tergantikan dengan rasa kesal karena ulah anak pendek berambut putih itu beberapa waktu yang lalu.
''Mungkin karena kekasihnya itu ada disebelahnya, itu sebabnya dia tersenyum konyol begitu~'' ketus Ichigo yang kembali melakukan aktivitasnya yang tadi, mencoret-coret kertas dihadapannya. Namun kali ini setiap coretannya sepertinya penuh dengan emosi, terlihat dari caranya menekan dan mempercepat setiap goresan yang dihasilkan pena itu.
''Kekasih disampingnya? Maksudmu Toushiro?''
''Siapapun namanya aku tidak mau tahu!'' ucap Ichigo kesal, ''Dan dia mau jadi kekasihnya Rukia atau apapun juga aku tidak peduli!'' jelasnya sekali lagi seraya marah-marah.
Kontan Kaien pun jadi tambah bingung ketika mendengar nada bicara Ichigo yang penuh dengan penekanan disetiap kalimatnya itu, ''Kenapa kau?'' Kaien melirik temannya itu sambil menaikkan sebelah alisnya, ''Lagi pula siapa yang bilang padamu kalau dia itu kekasihnya Rukia? Dia itu temannya Rukia sejak kecil~''
Penjelasan Kaien tentu saja membuat Ichigo terbelalak, ''Apa? Dia sendiri yang mengatakan 'Jangan ganggu Rukiaku', begitu katanya~'' sambung Ichigo sambil memeragakan gaya Toushiro saat mengatakan hal demikian dihadapannya.
''Ha? Untuk apa dia berkata begitu padamu?'' tanya Kaien heran, ''Mungkin maksudnya itu adalah 'Jangan ganggu temanku'. Memang kau mengganggu Rukia ya?''
Walaupun kelihatannya Ichigo terlihat senang ketika mendengar penjelasan Kaien, namun ia masih mencoba memastikan dengan memancing beberapa pertanyaan lain kepada temannya itu. Setidaknya untuk menghapus rasa penasarannya tentang hubungan antara Rukia dan anak laki-laki bernama Toushiro itu.
''Tentu saja tidak! Untuk apa aku mengganggunya...'' bantahnya tegas, ''Tapi aku masih tidak percaya Kaien, sewaktu ia mengatakan hal itu wajahnya terlihat galak sekali!'' kemudian Ichigo melirik lagi kearah dua manusia pendek itu diluar jendela, ''Lihat itu! Anak itu kelihatannya dekat sekali dengan Rukia~''
Kaien tersenyum lebar, ''Kau tidak tahu ya? Mereka berdua itu seperti anak kembar, ikatannya kuat sekali. Wajar saja kalau salah satu dari mereka akan terlihat lebih protektif.''
''Begitu ya~'' sepertinya sekarang ini Ichigo sudah bisa tersenyum lega mendengarnya, tak disangka-sangka laki-laki itu pun berkata, ''Sayang sekali yah, padahal menurutku mereka berdua sangat serasi~'' sepertinya Ichigo hanya berpura-pura.
''Serasi apanya? Lihat, mereka berdua itu sama-sama pendek. Kalau mereka menikah aku akan kasihan kepada anak-anaknya nanti, masa depannya suram karena akan memiliki tinggi tubuh tak lebih tinggi dari kedua orang tuanya sendiri~'' gurau Kaien yang entah kenapa jadi tertawa sendiri ketika membayangkannya.
''Aku setuju!'' sambar Ichigo bersemangat yang juga hampir tertawa, tapi hal itu justru membuat Kaien menatapnya aneh.
''Mmm... Maksudku, kau benar~ Hehehe~'' Ichigo kembali berpura-pura, mengalihkan situasi dengan melakukan aktivitasnya yang tadi, mencoret-coret.
'Jadi, bukan kekasihnya...' batin Ichigo, entah kenapa semenjak Kaien menjelaskan tentang ini semua, Ichigo jadi merasa teramat-sangat lega. Sanking lega-nya ia bahkan tak sadar seulas senyum yang sangat lebar telah menghiasi wajahnya, bertepatan dengan itu Kaien pun juga menatap kearah Ichigo dan merasakan sesuatu yang aneh kembali merasuki temannya itu.
Puas melirik temannya itu dengan sorot mata yang cukup tajam, Kaien mengalihkan pandangannya dengan cepat kearah Rukia, 'Gadis cebol? Apa mungkin...'
...
''Wah! Ternyata ada Rukia-chan disini!'' suara seorang perempuan berambut orange kecoklatan itu membuat beberapa teman yang tengah berada beberapa centi dibelakangnya saat ini mengalihkan pandangan kearah dimana Rukia berada.
Suara yang terdengar sedikit nyaring dikedua gendang telinga Rukia itu pun menyadarkan dirinya―yang tengah asyik menekan-nekan tombol mouse-pad pada laptopnya― untuk melirik kearah sumber suara, begitu pun dengan teman disampingnya melakukan hal yang sama.
''Oh! Senior Orihime~'' sapa kecil Rukia dengan wajahnya yang penuh keceriaan, ''Ada Senior yang lain juga ternyata,'' ujar Rukia lagi saat melihat beberapa orang laki-laki seusia Orihime tengah berdiri dibelakang gadis cantik itu sambil memegangi nampan berisi makan siang mereka.
''Boleh kami bergabung Rukia-chan?'' tanya Orihime kemudian.
''Tentu saja, kursi disini masih banyak yang kosong kok!'' sambut Rukia dengan senang hati.
Tak beberapa lama kemudian, Orihime dan teman-temannya itu pun menempati beberapa kursi kosong yang masih tersedia disana.
''Kau sedang apa?'' tanya salah satu laki-laki disana bertepatan ketika ia tengah menaruh nampan diatas meja.
Ditanya begitu Rukia malah memberikan cengirannya sambil bertatapan mata dengan laki-laki tersebut, ''Kau tidak boleh tahu, Grimm.''
''Pelit sekali! Coba sini aku lihat sebentar!'' Grimmjow terlihat tengah mengambil laptop dihadapan Rukia dengan paksa.
''Hei, jangan!'' teriak Rukia secara spontan, membuat beberapa pasang mata yang tengah berada didekat sana melihat kearahnya.
Menyadari hal itu pun Rukia buru-buru membungkukkan badan dan meminta maaf setelahnya, sekaligus mengutuk Grimmjow yang telah membuat ia harus berteriak sekencang itu.
''Grimm! Kembalikan padaku!'' lagi pinta Rukia, namun kali ini dengan suara yang sedikit diperkecil agar tidak mengundang perhatian lagi dari yang lain.
''Pinjam sebentar kenapa sih? Aku kan penasaran ingin lihat.'' jawab Grimmjow santai dan masih menahan laptop itu pada kedua tangannya yang terangkat diudara.
''Sudahlah Grimm-kun kembalikan, kasian kan Rukia-chan...'' kata Orihime terlihat membela gadis yang tengah melompat-lompat dihadapan Grimmjow, berusaha menggapai dan merebut kembali laptop miliknya.
Pemandangan yang sangat lucu sekali dimata para Senior Rukia―Orihime, Ishida, Hisagi― dan tak terkecuali Toushiro, ketika melihat Rukia tengah melompat-lompat katak seperti anak kecil, mencoba merebut kembali barang miliknya dari tangan seorang anak laki-laki yang tingginya lebih dari 180 keatas itu, namun sayangnya tak kunjung berhasil. Alhasil, mereka pun tak bisa lagi menahan tawa.
''Grimm! Kembalikan!''
''Aku pinjam sebentar, aku mau lihat Rukia~''
Namun tiba-tiba saja seorang wanita dibelakang Grimmjow merebut laptop ditangan laki-laki itu dengan mudah sembari berkata, ''Kalian sedang apa sih?'' wanita itu melihat layar laptop yang masih terbuka dan menampilkan folder album foto milik Rukia yang kebetulan tengah menampilkan foto ketika Rukia tengah bersama Kaien.
Sebuah foto dimana Rukia tengah berdiri berdua bersama Kaien, dengan background sebuah gedung sekolah yang nampaknya tak asing. Dalam foto itu terlihat Rukia mengenakan seragam khusus―berkemeja putih polos dibalut sebuah rompi berwarna coklat muda, berdasi lipat merah dan terakhir sebuah jas berwarna hitam senada dengan warna rok dengan lipatan melebar miliknya ikut melengkapi― bertulis dan bergambarkan lambang Soul-Society Gakuen pada pocket jas disebelah kiri atasnya. Sementara Kaien―dengan penampilannya yang mengenakan baju basket bergambarkan angka 8 dibalik punggungnya― terlihat menyandarkan sebelah tangan kanannya pada pundak Rukia, sedangkan tangan yang lainnya memegangi bola basket yang dijepit pada tubuhnya secara menyamping.
Mereka berdua terlihat sangat serasi dan bahagia, kelihatannya dalam foto itu Kaien habis bertanding dan telah memenangkan pertandingannya. Terbukti dari setiap ujung rambut Kaien yang basah karena keringatnya yang mengguyur dari kepala hingga badan sambil memamerkan cengiran yang lebar. Sedangkan Rukia, ia nampak memegangi sebuah thropy yang cukup besar dikedua tangannya, sepertinya itu adalah piala kemenangan milik Kaien.
''Foto ini kan aku yang ambil,'' ujar wanita itu sambil tersenyum, ''Kejuaraan antar sekolah beberapa tahun yang lalu kan, Rukia-chan?''
''I-Iya, kau benar Rangiku...'' jawab Rukia yang sudah terlihat pasrah.
Merasa penasaran, Grimmjow pun berjalan kecil kesamping Rangiku, ''Yang mana? Coba aku lihat~''
''Oh, yang ini! Aku kan juga ikut bertanding, kalau begitu pasti ada aku juga kan disini, Rukia?'' tanya Grimmjow yang mulai antusias. Dengan tak sabar ia mencoba menekan tombol panah pada keyboard dilaptop itu.
Melihat Grimmjow dan Rangiku tengah menguasai barang elektronik fleksibel miliknya itu, Rukia tak dapat berbuat apa-apa. Rasanya ia sebal sekali dengan tindakkan Grimmjow yang bodoh diawal karena tiba-tiba saja merampas laptop itu seenaknya tanpa ijin. Habislah sudah, rahasia Rukia akan terbongkar...
Bukan takut terbongkar didepan Grimmjow, Rangiku bahkan sekalipun Toushiro. Melainkan didepan Orihime, Ishida, Hisagi dan terutama orang yang berada didalam folder album jepretan disana yaitu, Kaien Shiba.
Grimmjow terus saja menekan tombol panah pada gadget itu, sementara Rangiku yang memegangi dan ikut melihat foto-foto yang terus saja berganti-ganti ketika jari telunjuk Grimmjow terus menyentuh tombol.
''Apa hanya perasaanku saja ya? Daritadi kebanyakan foto Kaien...'' ujar Rangiku, entah bermaksud bertanya atau hanya sebuah ucapan iseng belaka.
Tentu saja Grimmjow menyadari hal itu, tak mau merasa kalah karena daritadi kebanyakkan foto rivalnya itu yang terus muncul, Grimmjow mengalihkan tangannya pada mouse-pad yang terbingkai dibawah keyboard peranti lunak itu.
''Hei! Kau malah menutup tab-nya, Grimm!''
''Justru kalau langsung lihat isi foldernya begini kan jadi kelihatan semua fotonya~'' jelas Grimmjow tanpa melirik Rangiku sama sekali. Jelas ia masih terlihat penasaran dengan ketiadaan dirinya didalam folder foto itu, padahal jelas-jelas ia ingat pada saat pertandingan kejuaraan beberapa tahun yang lalu di Soul Society Gakuen, dirinya ikut bertanding dan ikut berfoto bersama yang lainnya juga.
Tab garis panah pada layar laptop itu sudah menunjukkan batas paling bawah, tapi Grimmjow masih belum menemukan sesuatu yang ia cari-cari daritadi, ''Kenapa begini? Rukia, kenapa aku tidak ada disini? Seingatku, aku juga ikut berfoto~''
Rukia terkejut sembari bingung harus menjawab apa, karena sudah dipastikan, dijawab atau tidak hasilnya akan sama-sama membuat dirinya merasa malu.
''Oh! Pantas saja kau tidak ada didalam sini, Grimm!'' ujar Rangiku sambil mengotak-atik laptop milik Rukia ditangannya, Grimmjow pun melirik kearah Rangiku, ''Lihat ini, nama foldernya saja 'Just me and Kaien-Senpai'...''
Mendengar penjelasan singkat dari Rangiku itu pun membuat Grimmjow melirik layar laptop itu kembali, dimana sekarang layar itu menampilkan beberapa folder foto yang telah diberi nama yang berbeda-beda.
Bertepatan dengan itu Rangiku pun melihat sebuah folder yang menarik perhatiannya, ''Lihat ini, Grimm! Disini baru ada kau~'' ujar Rangiku santai sambil terus melihat foto-foto yang lain didalam folder yang diberi nama 'Tomodachi Together' oleh Rukia, ''Disini juga ada yang lainnya~'' lagi ujar Rangiku.
Tatapan Grimmjow tiba-tiba saja berubah, ia melirik Rukia dengan kesal, ''Kenapa kau tidak membuat folder khusus untukku juga, Rukia?'' tanyanya sedikit menggertak.
''I-Itu...''
''Sudah jelas kan, Grimm~ Itu karena Kaien-Senpai 'masih' menjadi yang nomor satu dihati Rukia-chan, benar kan?'' terang Rangiku dengan sedikit penekanan pada kata-kata 'masih'.
Lontaran kata-kata Rangiku itu sukses membuat mereka yang tengah berkumpul satu meja dimana Rukia berada menjadi terlonjak kaget dan tak percaya.
''Apa artinya Rukia-chan menyukai Kaien Shiba?'' tanya Orihime yang masih tak percaya.
''Bu-Bukan begitu―'' bantah Rukia yang terpotong oleh keusilan Rangiku, ''Tenang saja Rukia, aku masih tetap mendukungmu. Aku pikir kau dan Kaien memang cocok―''
''Tidak cocok sama sekali!'' potong Grimmjow dengan teriakkan kerasnya, dan lagi-lagi sukses membuat banyak mata menarik perhatian kepadanya.
...
''Hei, Ichigo~'' panggil Kaien yang masih berada diruang rapat dan masih fokus melihat kearah jendela didalam ruangan itu sedari tadi.
''Hm?'' Ichigo yang masih bergelut dengan beberapa lembar kertas file diatas meja langsung saja mengangkat kepalanya melirik Kaien.
''Kau bisa tebak mereka sedang apa?'' lagi-lagi Kaien menunjuk sebuah arah dimana disana terdapat Rukia dan beberapa temannya yang lain.
Ichigo mengalihkan lagi pandangannya kearah yang dituju Kaien, 'Hm? Ramai sekali...' batin Ichigo.
Ia pun melirik meja disana yang sudah terisi nampan makanan milik masing-masing dari mereka, dan dengan malas Ichigo pun menjawab, ''Apa aku harus mengajarimu, Kaien? Mereka sedang ada dikantin dan diatas meja ada banyak nampan berisi makanan, aku kira mereka semua sedang buang air...''
Tentu saja kata-kata dari Ichigo itu mengejutkan Kaien, membuat sepasang emerald itu menatap Ichigo dengan tatapan konyol yang penuh tanda tanya.
Dilihat seperti itu pun Ichigo jadi menaikkan sebelah alisnya, ''Apa? Sudah tahu mereka sedang ada dikantin, ya pasti sedang makan siang. Kadang-kadang pertanyaanmu itu lucu sekali, Kaien~'' ujar Ichigo dengan berwajah seperti tengah meledek lawan bicaranya itu.
''Ish! Bukan itu maksudku, dasar bodoh!'' ledek Kaien yang merasa dirinya dianggap bodoh.
''Lalu apa?'' tanya Ichigo yang jadi merasa ikut kesal.
''Lihat yang jelas bodoh~''
Walaupun sebenarnya tidak terima karena telah disebut bodoh dua kali oleh Kaien, tapi ia lebih memilih untuk tidak merespon dan mencoba melihat segerombolan manusia disana dengan serius, seperti apa yang telah disuruh Kaien kepadanya.
Kedua mata Ichigo saling menyipit, tak lama kemudian sebuah expresi kebingungan menempel diwajahnya, ''Kenapa mereka semua terlihat tegang?'' tanya Ichigo.
''Itu dia yang bermaksud aku tanyakan tadi!''
...
''Grimm, pelankan suaramu!'' ucap Rukia yang mulai panik.
Setelah diperingatkan seperti itu Grimmjow hanya mampu terdiam tapi tak tahu harus berbuat apa.
''Pantas saja kalian berdua sangat dekat kalau aku perhatikan. Ternyata diantara kalian itu ada hubungan khusus yah?'' tiba-tiba saja Hisagi memecahkan suasana.
Dengan cepat Rukia menyangkal, ''Tidak! Kami berdua tidak ada hubungan apa-apa!''
''Kalaupun ada juga tidak ap―''
''Sudah kubilang tidak ada apa-apa!'' potong Rukia terhadap kata-kata Hisagi, dan setelahnya ia berlari menjauh dari tempat itu, meninggalkan barang-barangnya tanpa berpikir panjang.
Dibentak seperti itu tentu saja membuat Hisagi terlonjak dan ketika ia melihat Rukia telah menjauh, dirinya langsung bangkit dari tempatnya duduk, ''Rukia!'' teriaknya nyaring mencoba menghentikan langkah kecil Rukia yang perlahan-lahan mulai menjauh.
...
Pemandangan disana sungguh menarik perhatian beberapa orang, tak terkecuali Ichigo dan Kaien yang masih ada diruang rapat.
Meskipun tak mendengar dengan jelas pertengkaran dan pembicaraan apa yang terjadi diantara mereka semua saat itu, tapi hanya dengan melihat gerak-gerik mereka masing-masing, sudah dapat ditebak jika disana sedang ada masalah.
Melihat Rukia yang tiba-tiba saja berlari setelah meneriakkan sesuatu, membuat kedua kaki Ichigo yang sedaritadi disenderkan pada kursi roda yang ada disebelahnya jadi menapak ketanah, seolah merasakan atmosfir disana Ichigo pun berkata, ''Ada apa disana? Kenapa Rukia berlari begitu saja?''
''Entahlah~ Sepertinya ada sedikit masalah,'' sambung Kaien, tak lama kemudian ia bangun dari posisinya semula, ''Aku akan menyusul Ru―''
''Aku mau melihat Rukia dulu~'' potong Ichigo yang entah kapan sudah berada diambang pintu keluar ruangan itu, tanpa menggubris kata-kata terakhir dari Kaien.
Tentu saja tindakkan Ichigo itu lagi-lagi menarik perhatian Kaien, ''Sejak kapan anak itu peduli pada Rukia?'' tanyanya pada dirinya sendiri, ''Dan sejak kapan dia memanggil nama kecil Rukia?'' untuk kesekian kalinya Kaien mempertanyakan sesuatu yang mulai terasa mengganjal dikepalanya.
...
Suara genangan air terus menetes dari sebuah keran yang letaknya tak jauh dari lapangan olahraga Karakura University. Setiap detik tetesannya yang jatuh seolah mewakili tetesan air mata gadis yang tengah duduk tak jauh dari sana.
Gadis itu ingin sekali menangis atas kejadian yang telah mempermalukan dirinya hanya dalam hitungan menit tadi, namun sayangnya ia tidak bisa melakukannya ditempat seperti ini. Otaknya pun berfikir, jika saja ada cara untuk menyembunyikan wajahnya dari para Senpai-nya itu. Sungguh ia tidak tahu lagi bagaimana dirinya akan menjalani hari-hari kedepan jika harus berpapasan dengan mereka semua, karena masalahnya rahasia hatinya telah terbongkar begitu saja.
Meskipun begitu, sepertinya rasa malu memang lebih besar dibandingkan rasa sedih anak perempuan yang masih duduk termenung sendirian disana. Sejauh pengelihatan, ia hanya memandangi langit berhiaskan awan yang bergerak seiring angin berhembus.
''Bodoh...'' ujar Rukia, dan karena disana sepi, maka sama sekali tak ada yang mendengar apa yang Rukia katakan saat itu.
Sementara tak jauh dari tempat Rukia berada terdengar jelas suara hentakkan kaki yang beradu diatas tanah mendekat, tapi sepertinya Rukia tak menyadari suara itu.
Suara langkah kaki itu terus saja mendekat dan mendekat, perlahan namun pasti. Tak lama kemudian, anak itupun akhirnya berhasil memposisikan dirinya beberapa centi dibelakang sang gadis.
Kini ia bisa melihat dengan jelas sebuah pandangan semu dari anak perempuan itu lagi. Sebuah pandangan yang sangat tidak ia sukai karena membuat kecantikan sang gadis memudar, membuat sang gadis terlihat begitu lemah, membuat sang gadis terlihat sangat berbeda dan membuat anak laki-laki yang sedang memperhatikannya itu merasakan sesuatu yang ganjil dihatinya...
''Hhhhh~'' Rukia menarik nafasnya begitu dalam dan untuk kesekian kalinya lagi hal itu adalah sesuatu yang tidak ingin dilihat seseorang dibelakang Rukia saat ini.
''Kau kenapa?'' tanya anak itu tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
Mendengar ada suara lain didekatnya, Rukia pun terkejut dan menengok kearah suara itu berasal, ''Senior Kurosaki?''
Seolah ingin mendapatkan jawaban yang lebih jelas, Ichigo bertanya lagi, ''Apa ada yang mengganggumu?''
Walaupu merasa aneh dengan pertanyaan Ichigo namun Rukia tetap menjawab pertanyaan itu dengan nada biasa, ''Sama sekali tidak.''
Merasa Rukia belum jujur rasanya membuat laki-laki itu kesal, ''Jangan bohong! Katakan saja padaku!'' bentaknya, dan perbuatan Ichigo itu sangat tak beralasan dimata Rukia.
Tak terima dibentak oleh seseorang yang hubungannya tidak begitu dekat dengan dirinya sendiri, nada bicara Rukia pun ikut meninggi, ''Memangnya apa urusanmu? Lebih baik kau jangan ikut campur!'' ucap Rukia dengan wajah yang terlihat menyeramkan.
Namun sayangnya Ichigo merasa tatapan yang diberikan Rukia ketika itu terlihat seperti seseorang yang tengah menantangnya untuk berkelahi, begitu penuh dengan aura permusuhan.
Dengan gaya berjalannya yang setinggi langit, Ichigo bermaksud berdiri dihadapan Rukia agar jarak diantara mereka berdua dapat lebih dekat lagi, selain itu Ichigo juga bermaksud ingin menggertak gadis itu dengan balasan tatapan dinginnya.
Namun sepertinya kemenangan tidak berpihak pada laki-laki orange itu. Ketika ia baru berjalan dua langkah, tiba-tiba saja ia terjungakal jatuh begitu saja hanya karena sebuah kulit pisang yang tak terlihat didepan mata, tentu saja karena faktor jalannya yang terlalu dibuat-buat itu.
''Bwahahahaha~'' sebuah kebahagiaan tersendiri untuk Rukia, ketika menyaksikan cara jatuh Ichigo yang sangat bodoh.
''Aduhhh~ Sakit sekali...'' ujar Ichigo yang meringis kesakitan dan masih dalam posisi tertidur sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit karena telah berbenturan cukup keras dengan tanah.
Rukia masih tidak dapat mengontrol dirinya untuk menahan tawa, ''Ihihihi~ Bodoh, terjatuh seperti itu tentu saja sakit! Makanya lain kali kalau berjalan jangan banyak gaya, Senior!''
''Berisik! Bukannya membantuku malah tertawa!'' kesal Ichigo yang masih terlihat memegangi kepalanya.
Rukia pun menghentikan tawanya sejenak, sambil tersenyum kecut dan menahan kikikkannya, kemudian ia terlihat mengulurkan sebelah tangannya untuk Ichigo.
Sempat lama Ichigo terlihat diam saja saat tangan Rukia yang dipenuhi jemari lentik itu ada dihadapan wajahnya.
''Ayo cepat raih tanganku!'' ketus Rukia atas keleletan Ichigo.
''Tch!'' dengan gaya berjual mahalnya Ichigo pun meraih tangan Rukia.
Akhirnya Ichigo dapat berdiri sempurna, kemudian ia pun mulai mengibas-ngibaskan bagian belakang bajunya yang terlihat kotor akibat pasir-pasir tanah yang masih menempel pada tenun pakian miliknya.
''Ihihihihi~'' kikik Rukia yang masih tak tertahankan.
''Heh! Sudah diam! Memangnya apa yang lucu?'' marah Ichigo yang merasa kesal dan malu karena ditertawakan seperti itu.
Sambil tertawa Rukia pun menjawab, ''Ka-Kau... Hahaha~ Kau tahu tidak? Baru kali ini aku lihat sebuah jeruk jatuh karena pisang~ Hihihi~ Kalian kan teman, harusnya saling menyayangi~ Bwahahaha~''
Terlihat dari kedua pipi Ichigo terdapat goresan kecil berwarna merah muda menghiasi wajahnya. Sepertinya ia sangat-sangat merasakan rasa malu yang teramat dalam atas kata-kata Rukia yang baru saja terlontar.
''Ya, ya, ya! Bicaralah sesuka hatimu!'' Ichigo masih sibuk mengibas-ngibaskan pakaiannya yang masih terlihat noda kotor, ''Tapi, sepertinya perasaanmu yang sekarang sudah jauh lebih baik ya dari yang sebelumnya?''
Seolah seperti mantra, untain kata-kata dari Ichigo itu berhasil membuat Rukia menutupi tawanya seketika, mendengar hal itu membuat sang gadis mau tak mau mengingat kembali permasalahan yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Dan tentu saja perubahan Rukia itu dirasakan sangat jelas oleh Ichigo, padahal Rukia yang semenit lalu masih tertawa terbahak-bahak karena dirinya itu terlihat lebih manis dan sangat melegakan baginya.
''Hm... Ma... Maaf...''
Rukia melirik Ichigo dengan expresi keterkejutannya, ''Kau... Anti dengan kata-kata itu kan?''
''...'' Ichigo hanya terdiam dan tak berani menatap sepasang violet milik Rukia yang tengah melihat kearahnya.
''Ya, sudahlah~'' ujar Rukia yang sepertinya malas untuk membahasnya, ''Lagipula, kau tidak salah jadi tidak perlu minta maaf.'' Rukia kembali duduk dibangku taman yang sempat ia duduki tadi.
''Apa salah satu dari teman-temanku tadi ada yang mengganggumu yah?'' tanya Ichigo yang masih berdiri ditempat.
''A-Apa?'' Rukia terkejut, ''Maksudku, bagaimana Senior berfikiran seperti itu?''
''Tadi, aku melihatmu lari begitu saja ketika kau sedang bersama teman-temanku. Jadi, aku pikir pasti karena salah satu dari mereka.'' jelas Ichigo singkat.
''K-Kau... Lihat darimana? Aku tidak melihatmu...'' Rukia jadi sedikit gugup karena takut jika Seniornya itu ada didekat sana dan mendengarkan percakapan yang telah membongkar rahasianya itu.
''Tentu saja kau tidak melihatku, aku kan sedang bersama Kaien diruang rapat.''
'Bersama Kaien?' batin Rukia yang sudah merasa ketakutan setengah mati, ''A-Apa kau dengar apa yang kami bicarakan?''
''Bodoh! Jarak antara ruang rapat dengan tempatmu berada tadi lumayan jauh, bagaimana aku bisa mendengar apa yang kalian bicarakan~'' terang Ichigo yang akhirnya membuat Rukia menjadi lega.
''Memangnya kalian membicarakan apa sih? Lagipula kalau memang teman-temanku ada yang mengganggumu, katakan saja padaku! Biar nanti aku peringati mereka!''
''Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kau jadi perduli padaku?'' dari nada bicara Rukia, kedengarannya ia sedikit kebingungan dengan sikap Ichigo yang tiba-tiba saja menjadi aneh kepadanya.
Tak mau ketahuan, Ichigo pun buru-buru menyangkal, ''Kau jangan salah sangka! Aku bicara begitu karena aku tidak mau teman-temanku punya reputasi buruk dimata orang lain! Kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa aku nanti juga kena imbasnya!''
Rukia hanya termanggu mendengarkan penjelasan anak laki-laki yang entah sejak kapan sudah duduk disampingnya itu, tak lama kemudian wajahnya terlihat marah, ''Dasar egois!''
''Apa?'' sambung Ichigo yang jadi ikut memasang wajah yang sama dengan Rukia.
''Kau egois! Hanya mementingkan dirimu sendiri dan tidak memperdulikan orang lain! Orang sepertimu itu tidak pantas hidup!''
''Apa kau bilang?'' kali ini Ichigo terlihat dua kali lipat lebih marah dan kesal dari Rukia. Mendengar orang lain berbicara seperti itu dihadapannya sangatlah menyebalkan.
''Kau-egois!-Tidak-pantas-hidup!-Sudah-jelas?'' tutur Rukia seolah tengah menyambungkan kalimat-per-kalimat layaknya anak TK yang baru belajar membaca.
Ichigo tak mampu berkata-kata kali ini, sungguh kata-kata Rukia itu sangat menusuk dirinya. Dibilang egois dan tidak pantas hidup? Siapa yang tidak marah?
'Dia pikir dia itu siapa? Asistennya Kami-sama yang setiap harinya harus mendata siapa makhluk ciptaannya yang tidak layak hidup kemudian nyawanya akan dicabut seminggu kemudian?' pikir Ichigo yang tentu saja masih merasa kesal.
Kedua alis berwarna orange-nya saling bertautan, membuat kerutan didahinya semakin terlihat jelas, sorotan kedua matanya menajam dan masih terus melirik wajah sang gadis yang selalu berhasil mencuri perhatiannya belakangan ini.
''Hhhh! Terserah kau saja!'' ketus Ichigo, sepertinya ia tidak bisa marah kepada Rukia, meskipun tadinya ia ingin sekali balas memarahi anak perempuan itu.
Saat Ichigo hendak mengedarkan pandangannya kearah lain, secara tak sengaja hembusan angin yang cukup kencang saat itu menerpa helai poni rambut milik Rukia yang tak terjepit, sehingga nampaklah sebuah goresan kecil yang disertai memar disekitarnya dan terlihat jelas dikedua mata Ichigo.
Spontan tangan kekar milik Ichigo memegangi sisi kening Rukia yang tidak luka, bermaksud menunjukkan sisi kening Rukia yang lain agar dapat dilihat jelas oleh mata musim gugur milik Ichigo.
''Hei! Apa yang kau lakukan?'' tentu saja Rukia jadi terkejut.
''Diam sebentar!'' Ichigo masih tengah memperhatikan luka dikening Rukia itu dengan seksama, entah apa yang tengah ia lakukan, tiba-tiba saja sebelah tangannya yang lain mencoba menyentuh daerah luka itu.
''Aw!'' jerit Rukia sambil memejamkan kedua matanya dengan paksa sebagai respon alamiah.
''Sakit?'' tanya Ichigo.
Rukia hanya menganggukkan kepalanya guna menjawab pertanyaan Ichigo. Jujur saja gadis itu bingung, hanya karena sebuah sentuhan dari Ichigo tiba-tiba keningnya bisa terasa sakit.
''Apa yang kau lakukan barusan?'' tanya Rukia penasaran.
''Luka dikeningmu ini, sejak kapan?''
''Luka? Dikening?'' tanya Rukia kepada dirinya sendiri, kemudian tangannya pun mencoba mencapai daerah luka yang sempat disentuh Ichigo.
Tak lama kemudian ia pun mengingat kejadian kemarin saat dirinya tengah berada diruang Yoruichi-san.
''Kalau tidak salah, ini sewaktu kau membuka pintu kemarin diruangan Yoruichi-san.'' terang Rukia yang pikirannya masih menerawang jauh pada kejadian itu.
Tak butuh waktu lama, Ichigo pun tersadar dengan perbuatannya kemarin, kedua tangannya mengepal erat, perasaan bersalah tengah menyelimutinya saat ini.
Dengan sigap Ichigo mencari-cari sesuatu didalam tas selempangnya, ia terus saja mengacak-acak isi tas itu untuk menemukan barang yang tengah ia butuhkan saat ini.
Tak lama kemudian, sebuah kotak kecil berwarna putih polos telah berada ditangannya, sembari membuka tutup dari kotak itu Ichigo berseru, ''Kau kan perempuan, harusnya kau bisa merawat dirimu sendiri, kenapa luka seperti ini harus ditangani orang lain...''
Rukia menoleh kearah Ichigo sembari memperhatikan apa yang tengah dilakukan orang itu, ''Mau mengobatiku? Kalau tidak ikhlas lebih baik tidak usah saja―''
Ichigo memotong kata-kata Rukia dengan perbuatannya, laki-laki itu menghadapkan bagian kening Rukia yang luka dengan tangan kirinya, sementara tangannya yang lain tengah memegangi sebuah salep gel bening yang sepertinya akan diarahkan kearah luka didahi Rukia.
''Apa yang Senior lakukan?'' tanya Rukia yang mencoba menarik kepalanya namun tidak bisa, karena tangan Ichigo yang menahan daerah belakang kepalanya jauh lebih kuat.
Ichigo sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, ia masih sibuk mengobati luka Rukia atas perbuatannya kemarin. Selain itu pijatan kecil yang diberikan Ichigo nampaknya membuat Rukia menjadi sedikit lebih rilex walaupun terkadang terlihat wajahnya meringis karena tiba-tiba saja pijitan kecil itu terasa nyeri.
Setelah selesai mengusapkan isi salep, Ichigo mengambil sebuah kapas yang ia lipat kecil berikut sebuah plester, ia menempelkan kedua benda itu dengan hati-hati agar tertempel tepat pada luka dikening Rukia.
Rukia terus saja terdiam dan tak berani berbicara sepatah katapun. Wajahnya yang terus saja sejajar dengan leher Ichigo membuatnya salah tingkah, belum lagi bagian kerah baju ichigo dimana tiga kancing teratas pada kemejanya itu tidak dikancing, sehingga memperlihatkan kaus dalam berwarna hitam miliknya. Disanalah indra penciuman Rukia menyesap aroma menyegarkan yang menguar dari tubuh Ichigo, wangi-wangian yang membuat Rukia serasa melayang diudara ketika menyesapnya.
'Deg!' detak jantung gadis itu mengencang seketika, 'Kenapa ini...' batin Rukia yang langsung meraih daerah jantungnya yang baru saja berdetak keras, membuat dirinya merasakan sesuatu yang tidak biasa.
''Plester ini jangan dibuka selama seharian, jangan sampai basah saat kau mandi dan jangan dibuka-buka, kalau tidak lukanya tidak akan kering dan sembuh.'' terang Ichigo yang sepertinya sudah selesai mengurusi pasiennya itu, ''Ini, besok ketika kau akan mengganti plesternya olesi dulu dengan salep ini seperti yang aku lakukan tadi, mengerti?'' terang Ichigo yang terakhir kali sambil memberikan salep miliknya itu ke tangan Rukia.
Mendengar suara dan tangan Ichigo yang menarik tangan mungil miliknya―guna memberikan salep― itu pun membuat Rukia terbangun dari khayalannya yang sempat melayang-layang karena aroma parfum Ichigo, ''I-Iya... Te-Terimakasih...'' jawabnya sedikit gugup.
Ichigo sempat merasakan nada bicara Rukia yang terasa aneh ditelinganya, namun tak mau ambil pusing, anak itu memilih untuk mengabaikannya dan merapihkan kotak kecil miliknya.
Rukia melirik kotak kecil itu, ''Apa kau selalu membawa itu kemana-mana?''
''Ya.'' jawab Ichigo singkat tidak seperti biasanya.
''Kenapa?''
''Aku ini mahasiswa kedokteran, seorang calon dokter harus mempersiapkan segalanya untuk keselamatan dari hal sekecil apapun.'' jelas Ichigo yang lagi-lagi terdengar singkat, kemudian hanya dibalas anggukan kecil dari Rukia, ''Lagipula ini bisa berguna disaat-saat seperti sekarang kan?'' tutup Ichigo yang sudah selesai membenahi kotak obatnya itu sembari melirik Rukia dengan wajah yang tersenyum polos kearahnya.
Melihat expresi wajah Ichigo yang tidak biasa itu sungguh membuat Rukia termanggu untuk kesekian kalinya, lagi-lagi Rukia mendapatkan sesuatu yang berbeda dari seorang Ichigo, sisi yang sangat berbeda dari dirinya yang selalu terlihat sombong dan angkuh, sisi Ichigo yang kali ini terlihat lebih polos dan manusiawi dimata Rukia.
Rukia merasa wajahnya sedikit menghangat, ia melemparkan pandangannya kearah lain dan hal itu membuat Ichigo kebingungan.
''Kenapa kau?''
''Ti-Tidak...'' sanggah Rukia cepat, setelahnya Ichigo hanya menggerakkan bahunya dengan cepat seolah tidak begitu memperdulikan dan kemudian memasukkan kotak kecilnya itu kembali kedalam tas.
''Senior Kurosaki...''
''Hm?''
''Mau makan es krim tidak?''
Ichigo menoleh dengan cepat kearah Rukia, seolah tidak percaya dengan ajakkan sicebol kecil itu kepadanya, ''Kau mengajakku?'' tanya Ichigo yang berusaha meyakinkan.
Rukia mengangguk kecil sembari tersenyum kearahnya, ''Hm~ Aku yang traktir~''
...
''Ini semua salahmu Hisagi, kau harus meminta maaf padanya.'' ujar Orihime sambil menyantap makan siangnya.
''Kenapa jadi aku yang disalahkan? Yang memulai pertama kali kan Grimmjow dan Rangiku.'' elak Hisagi, mencoba membela diri.
''Aku?'' saut Grimmjow dan Rangiku bersamaan.
''Aku kan hanya mengambil laptopnya untuk melihat foto-foto itu.'' terang Grimmjow.
''Dan aku hanya membantu Grimmjow memegangi laptop,'' terang Rangiku sepolos mungkin dan disambut dengan tatapan menakutkan dari Grimmjow, ''Dan melihatnya sedikit...'' tambah Rangiku setelahnya.
''Yang jelas Rukia berlari ketika kau yang menggodanya!'' ujar Rangiku dan Grimmjow bersamaan, membuat pemuda bertato 69 itu diam seribu bahasa karena kalah telak dua suara.
''Kalau saling menyalahkan seperti itu kalian tidak akan dewasa!'' kesal Toushiro dan sekarang teman-temannya yang lain melihat kearahnya.
''Jelas-jelas kalian bertiga salah! Kenapa malah melemparkan kesalahan seperti itu? Umur kalian delapan belas tahunan tapi kelakuan seperti anak delapan tahun!''
''Apa katamu!'' ujar Hisagi dan Grimmjow bersamaan, terlihat jelas mereka berdua kesal dikatakan seperti itu oleh Junior mereka sendiri.
''Dengar! Kalau saja Grimmjow tidak merampas laptop Rukia dan Rangiku tidak membuka-buka folder pribadi milik Rukia semuanya tidak akan jadi seperti ini kan?'' terang Toushiro, sedangkan Rangiku dan Grimmjow hanya menunduk lesu menyadari perbuatan mereka.
''Apa kataku! Kalian salah!'' ujar Hisagi yang merasa dirinya telah dibela.
Toushiro melirik Hisagi dengan sebal, ''Kau juga! Seandainya saja kau tidak menggoda Rukia seperti tadi pasti anak itu masih ada disini dan makan siang bersama kita sekarang!''
''Dia benar, aku setuju dengannya~'' sambung Ishida.
''Setuju tentang apa?'' suara Kaien yang tengah menghampiri kerumunan Toushiro dan yang lain membuat mereka semua panik setengah mati.
''Bu-Bukan apa-apa!'' saut Grimmjow.
Mendengar jawaban dari Grimmjow yang terbata-bata seperti itu tentu saja membuat Kaien tak langsung percaya, ''Hm, begitu ya.'' kemudian Kaien melirik anak laki-laki berambut putih disana, ''Toushiro, biasanya Rukia bersamamu, dimana dia sekarang?''
''Di-Dia sedang...'' pemuda itu tak tahu harus menjawab apa, tentu saja ia tidak ingin menceritakan situasi yang sebenarnya kepada Kaien, karena selain masalahnya akan menjadi semakin rumit, ia tidak mau Rukia marah kepada dirinya juga nantinya.
''Apa?'' tanya Kaien lagi.
''Ah! Kami akan ada kelas sebentar lagi jadi dia pergi duluan, kalau begitu aku juga ya~'' saut Toushiro asal kemudian beranjak pergi dari tempat itu sebelum Kaien menginterogasinya lebih jauh lagi.
''Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi?'' lagi Kaien berusaha memastikan kepada teman-temannya itu, namun sayangnya tak satu pun dari mereka yang berani menjelaskan dengan alasan yang sama dengan Toushiro.
...
''Perlombaan awal musim dingin?''
Rukia dan Ichigo tengah berada dikantin Indoor Karakura saat ini, seperti yang sebelumnya telah dijanjikan Rukia, ia tengah mengajak Seniornya itu untuk memakan es krim traktirannya.
''Ya, kami semua sedang disibukkan dengan rancangan perlombaan itu.'' Ichigo menjawab singkat pertanyaan Rukia.
''Apa sudah tersusun semua acaranya?'' tanya Rukia lagi sambil memasukkan es krim pada sendok ditangannya itu kedalam mulutnya.
Ichigo menusuk sendok ditangannya kedalam mangkuk es krim miliknya, kemudian ia melayangkan jari kelingking, manis dan tengahnya dihadapan wajah Rukia, sementara jari telunjuk dan jempolnya saling menyentuh membentuk lingkaran.
Rukia nampaknya bingung dengan jawaban yang diberikan Ichigo, ''Apa maksudnya? OK begitu? Atau SIP?'' ujar Rukia yang ikut melakukan apa yang dilakukan Ichigo.
''Hhh~ Bodoh. Maksudku ini tiga, lalu yang lingkaran ini nol, jadinya tiga puluh! Hanya dalam tiga puluh menit aku sudah merancang semua susunan acara dengan baik~'' jelas Ichigo yang sepertinya tengah membanggakan diri.
Rukia terlihat sebal dikatakan 'bodoh' secara tak beralasan oleh Seniornya itu, ia mengerucutkan bibirnya, ''Huh~ Mana aku tahu maksudmu seperti itu! Otakmu dan otakku itu kan isinya berbeda~'' ketus Rukia.
''Jelas saja berbeda, diotakmu itu kan isinya hanya ada es krim saja~'' sambung Ichigo sambil tertawa kecil dihadapan Rukia, ''Ditambah lagi sering makan es krim seperti itu maka otakmu jadi beku, adik kecil~'' Ichigo masih tertawa kecil dengan gurauannya itu, sambil mengetuk-ngetuk puncak kepala Rukia dengan jari telunjuknya tanpa dosa.
Kesal karena diremehkan terus sedaritadi oleh Ichigo, Rukia menendang tulang kering dikaki Ichigo sekuat tenaga, sehingga membuat laki-laki itu meng'aduh' kesakitan dan sempat terlonjak bangkit dari duduknya karena kaget.
''Apa yang kau lakukan! Sakit tahu!'' Ichigo mengelus-elus daerah kakinya yang baru saja ditendang Rukia.
''Yang disini dan disini lebih sakit tahu, Jleb!'' balas Rukia yang menunjuk kearah kedua telinganya, kemudian menepuk dadanya dengan tangannya yang seolah-olah tengah memegang pisau lalu ditancapkan disana dan berpura-pura berexpresi kesakitan.
Ichigo melihat itu, yang tadinya ia meringis kesakitan tiba-tiba saja jadi tertawa geli, ''Hahaha~ Iya, adik kecil maaf.''
''Jangan panggil aku adik kecil terus! Aku bukan adikmu! Dan aku juga bukan anak kecil!'' lagi-lagi Rukia mengerucutkan bibirnya, wajahnya ditekuk lesu dan terlihat sedikit kesal, membuat Seniornya mau tak mau tertawa lagi.
''Hahaha~ Bagaimana aku tidak memanggilmu adik kecil kalau tingkah dan wajahmu saja memang seperti itu...''
''Jadi aku harus seperti ini?'' Rukia menempelkan kedua telapak tangannya pada kedua pipinya, kemudian menyunggingkan senyum agak berlebihan, terakhir mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat didepan Ichigo, ''Jangan pangil aku adik kecil~'' kata Rukia dengan nada bicara agak berlebihan.
Kontan hal itu membuat Ichigo ber-sweatdrop ria, ia tak tahu antara harus tertawa karena wajah Rukia yang terlihat seperti pelawak, atau harus mengejeknya lagi agar anak itu bertingkah aneh untuk kesekian kalinya hingga membuat Ichigo harus tertawa.
''Tidak cocok sekali denganmu~'' ujar Ichigo yang masih terlihat sweatdrop ditempat.
''Hhh! Kau ini!'' lagi-lagi Rukia kesal, sanking kesalnya dengan kasar ia menyendok es krim dihadapannya itu kedalam mulutnya.
''Nah, begitu baru cocok~'' canda Ichigo.
''Ish! Kalau begitu aku beginikan saja wajahku sekalian!'' Rukia menarik kedua matanya dengan kedua tangannya sembari menjulurkan lidah kearah Ichigo.
Lagi-Lagi Ichigo tertawa, ''Hahaha~ Boleh saja, asal kau mau menahan malu...''
Rukia hanya tersenyum tanpa membalas perkataan Ichigo, baginya melihat seseorang bisa tertawa karena dirinya itu sangat menyenangkan. Dan sepertinya hal itu sukses membuat Rukia melupakan kejadian yang tadi untuk sejenak. Dan setidaknya Rukia sudah bisa kembali tertawa dan tersenyum bersama pemuda berambut orange itu.
''Senior bilang semua acaranya sudah direncanakan kan? Lalu kapan akan dimulai persiapannya?'' Rukia kembali memfokuskan topik pembicaraan mereka berdua yang sempat membelot.
''Entahlah~'' jawab Ichigo asal.
Tentu saja jawaban itu membuat Rukia bingung, ''Apa maksudnya itu?''
''Memang susunan acara dan rancangannya sudah fix semua, tapi kelompok badan kemahasiswaan aktif kami kekurangan orang untuk pelaksanaan dan persiapannya.''
''Masa sih? Kelompok badan kemahasiswaan aktif sebanyak itu bisa kekurangan orang?'' Rukia sangat terkejut.
''Ya, untuk itu juga kami membutuhkan beberapa mahasiswa Karakura yang mau menjadi sukarelawan untuk membantu kami, barulah persiapan untuk pelaksanaannya bisa berjalan.'' jelas Ichigo dan hanya ditanggapi sebuah anggukkan oleh Rukia, ''Mungkin kau mau mencalonkan diri?''
''Aku?'' Rukia menunjukkan jari telunjuknya kearah dirinya sendiri.
''Ya, kau. Bagaimana?''
''Aku rasa tidak...'' jawab Rukia tanpa berfikir terlebih dahulu.
Ichigo cukup kecewa dengan jawaban dari Rukia, ''Kenapa?''
''Aku tidak mau repot-repot mengerjakan banyak hal yang bukan menjadi urusanku~'' terang Rukia santai.
''Eh? Payah, kau ini kan mahasiswa di Karakura, itu berarti segala kegiatan yang menyangkut Karakura University adalah urusanmu juga~''
''Begitu yah? Tapi... Tetap saja, rasanya aku malas melakukannya~''
''Hhh~ Dasar pemalas―''
''Cepat habiskan es krimmu, sebentar lagi aku akan ada kelas~'' potong Rukia cepat dan kelihatannya ia kembali lagi menjadi Rukia yang sedang tidak mood.
Mau tak mau Ichigo pun menuruti kata-kata sang gadis, walaupun sebenarnya ia masih ingin berlama ditempat itu, menikmati es krim dengan santai berdua bersama Rukia.
~(^_^)~
Setelah akhirnya Ichigo berhasil menghabiskan es krim dengan porsi besar hasil traktiran Rukia, mereka berdua memutuskan untuk berjalan bersama disekitar areal koridor universitas tersebut sembari menuju kelas Rukia, dimana pelajaran yang akan dituntut oleh si gadis bertubuh mungil itu sebentar lagi akan dimulai.
Sebenarnya Rukia berniat untuk menuju ke kelasnya sendirian, tapi entah mengapa Senior yang tengah bersamanya saat ini memaksa untuk ikut, setelah sebelumnya beralasan pada sang gadis bahwa ia harus melakukan olahraga kecil seperti berjalan, untuk membakar kalorinya karena telah memakan es krim terlalu banyak, karena ia takut kandungan gula didalam makanan itu akan membuat tubuhnya gemuk dan tidak proporsional lagi nantinya.
Pada awalnya Rukia memang sempat merasa alasan Ichigo terdengar sangat konyol, terlebih lagi Seniornya yang sangat nyentrik dengan rambut orange itu terlalu berlebihan sebagai seorang laki-laki. Namun pada akhirnya, seorang Ichigo Kurosaki sepertinya memang harus ditakdirkan untuk menang atas segala keinginannya yang harus selalu dituruti.
Sepasang kaki mungil namun masih terlihat jenjang dan sepasang kaki panjang yang terlihat proporsional itu terus melangkah kecil beriringan sepanjang koridor. Namun sama sekali tak terlihat tanda-tanda mereka sedang melakukan percakapan satu sama lain semenjak mereka berdua telah keluar dari kantin.
Secara tak disangka-sangka, sepertinya keberadaan mereka berdua yang saling berjalan berdampingan itu memancing pusat perhatian segerombolan manusia yang tengah berada disana ataupun yang hanya sekedar berpapasan dengan kedua anak itu―Ichigo dan Rukia―.
Tak ayal terkadang beberapa dari mereka saling berbisik satu sama lain dengan pandangan mata yang masih tertuju pada pemandangan yang sangat jarang terjadi saat ini di Karakura University yakni, seorang Ichigo Kurosaki tengah berjalan bersama dengan seorang gadis asing selain Orihime Inoue―satu-satunya teman perempuan Ichigo yang selalu terlihat dekat bersama laki-laki itu di universitas, tentunya ketika sedang bersama dengan teman-teman Ichigo yang lainnya juga―.
Dan sepertinya sinyal-sinyal keanehan itu diterima baik oleh insting Rukia yang peka.
''Senior apa ada yang salah denganku?'' tiba-tiba saja Rukia bertanya demikian.
Ichigo menundukkan sedikit kepalanya agar dapat melihat wajah sang gadis yang tengah berada disebelahnya saat ini.
''Apa?'' tanya laki-laki itu terlihat bingung.
''Maksudku, apa ada yang aneh dengan penampilanku? Atau hal lain yang semacamnya?'' Rukia mencoba untuk sedikit memperjelas maksud dari pertanyaannya.
Ditanya seperti itu pun Ichigo jadi memperhatikan Rukia dengan seksama dari bawah hingga keatas, ''Tidak.'' jawabnya santai, ''Memangnya kenapa? Ada apa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?''
''Mmm... Itu, ano...'' entah kenapa Rukia jadi sedikit ragu untuk mengungkapkannya.
''Apa? Kalau bicara itu yang jelas, jangan setengah-setengah seperti itu, membuatku bingung saja~'' saut Ichigo.
Dengan menarik nafasnya perlahan untuk mengumpulkan keberanian, Rukia kembali mencoba untuk menjelaskan maksudnya, ''I-Itu, entah hanya perasaanku saja atau bukan tapi sepertinya sedaritadi orang-orang disekitar sini selalu melihat kearah salah satu dari kita, Senior.''
Tak langsung menggubris kata-kata Rukia, Ichigo mencoba mengedarkan pandangannya pada beberapa orang disana yang memang terlihat sedang melirik kearah Ichigo dan Rukia saat itu. Maklum saja Ichigo tidak sepeka Rukia, karena saat berjalan ia tidak pernah memandang pandangan dari siapapun yang ada disekitarnya jika orang itu bukanlah seseorang yang ia kenal.
Tanpa perlu berpikir panjangpun sepertinya Ichigo dapat mengerti maksud dari pandangan itu. Dan dengan malas Ichigo berkata, ''Jangan kau perdulikan, anggap saja mereka sedang kagum melihat artis papan atas nomor satu di Jepang~''
Merasa pertanyaannya dianggap sebuah permainan, Rukia meninju pelan lengan Seniornya itu seraya berkata, ''Kau ini! Aku bertanya serius! Kau malah bercanda! Menyebalkan sekali!''
Tanpa memberi komentar apapun atas tinjuan dari sang gadis, Ichigo hanya bisa menampakkan cengirannya atas raut muka Rukia yang sepertinya tengah marah, sungguh terlihat seperti anak kecil baginya.
''Dengar ya cebol, ini kan negara bebas. Mereka mau melihat siapa, itu hak mereka. Apalagi mereka diciptakan memiliki sepasang mata kan memang untuk melihat. Sudahlah, tidak usah kau perdulikan, santai saja~'' jelas Ichigo tanpa memberikan penjelasan pasti yang lebih ia ketahui daripada Rukia.
Rukia mendengus pelan, ''Aku tahu. Hanya saja aku merasa sedikit risih diperhatikan oleh mereka, kesannya aku seperti penjahat atau buronan kelas kakap, Senior.'' ungkap Rukia dengan posisi kepala yang agak ditundukkan.
Melihat hal itu, entah kenapa Ichigo jadi merasa tidak enak, mata batinnya seolah terbuka dan dapat merasakan perasaan yang tengah dirasakan Rukia.
''Hhh~ Baiklah!'' desah dan ujar Ichigo sembari menutup kedua matanya dengan paksa, kemudian disambut dengan lirikkan lemas tak bernafsu dari Rukia terhadap anak laki-laki berambut jeruk itu.
''Apa maksudmu berkata begitu?'' tanya Rukia kebingungan.
''Kau mau mereka semua tidak melihat kearah kita lagi kan?'' tanya Ichigo yang seolah-olah dapat membaca isi pikiran Rukia sekarang.
''Memangnya kau bisa?'' tanya balik Rukia yang kelihatannya tidak begitu tertarik dengan ucapan sang Senior. Ia menganggap bahwa paling-paling Seniornya itu hanya sedang bercanda seperti biasanya.
''Tentu saja~ Aku kan―''
''Ya, ya terserah kau saja~'' potong Rukia yang masih terlihat tidak bersemangat.
''Hei! Aku serius!''
''Kalau begitu tunjukkan saja. Jangan banyak bicara~'' tantang Rukia yang lagi-lagi menanggapi dengan biasa.
Ichigo yang merasa ditantang seperti itu pun tiba-tiba saja berteriak sambil berjalan, ''KALIAN YANG SEDANG MELIHAT KEARAH KAMI TOLONG JANGAN KURANG KERJAAN!''
Oops! Tindakkan Ichigo barusan sukses membuat Rukia berhenti ditempat, kedua mata yang membulat sempurna serta mulutnya yang tiba-tiba saja terbuka lebar kontras sekali menampakkan expresi dirinya yang sangat konyol dan bahkan belum pernah ia tunjukkan sebelum-sebelumnya.
''JIKA TIDAK MAU AKU BERBUAT SESUATU KEPADA KALIAN MAKA SEBAIKNYA KALIAN―''
Rukia yang entah sejak kapan sudah berlari menyamai langkah Ichigo buru-buru menutup mulut bodoh Seniornya rapat-rapat dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain mencoba menuntun Ichigo untuk pergi ketempat lain, mencoba menjauh dari kerumunan disana agar tidak membuatnya merasa malu lebih jauh lagi.
Cukup jauh Rukia membawa Ichigo pergi dari tempat itu dan setelah dirasa menemukan tempat yang cukup aman, Rukia menempelkan tubuh Ichigo pada dinding tembok dengan posisi tangannya yang masih mengunci mulut Ichigo. Sedangkan Ichigo hanya bisa terkejut setengah mati mendapatkan perlakuan seperti itu, yang lagi-lagi dilakukan oleh seorang gadis yang selalu menarik perhatiannya akhir-akhir ini.
Sebelum mencaci-maki laki-laki dihadapannya itu, Rukia mencoba membaca keadaan disekitarnya terlebih dahulu, memastikan tidak ada seorangpun yang akan melihat, sementara Ichigo terus saja membatu memperhatikan gerak-gerik sang gadis.
Setelah dirasa situasinya aman, Rukia pun melirik kearah Ichigo dan mendapati laki-laki itu terus menatapnya, sehingga membuat ia terlihat salah tingkah ketika harus menarik tangannya dari mulut sang Senior.
''K-Kau...'' tiba-tiba saja Rukia menjadi gugup dan mencoba untuk menguasai dirinya kembali, ''Bodoh! Kau pikir apa yang kau lakukan tadi?''
''Kau sendiri kan yang bilang, kau ingin agar mereka tidak memandangimu seperti tadi? Lalu, aku sudah kabulkan permintaanmu tapi kau malah marah-marah dan mengatakan aku ini bodoh? Begitukah caramu berterimakasih kepada orang yang sudah menolongmu? Aku tidak percaya, kau ini... Sangat luar biasa~'' cela Ichigo sedikit jengkel.
''Tapi bukan begitu caranya! Kau malah memperburuk keadaan! Kau... Hhh!'' Rukia mencoba untuk menenangkan dirinya sebentar, ''Baiklah, terimakasih kau sudah berusaha menolongku. Tapi untuk besok dan besoknya lagi kalau ingin menolong sebaiknya pikirkan dulu dengan benar~'' dan Rukia menutupi kata-katanya itu dengan melenggang pergi meninggalkan Ichigo.
Tak mau ditinggalkan sendirian, dengan langkah kakinya yang cukup panjang Ichigo mencoba menyamai langkah Rukia, ''Hei! Tunggu! Kau mau kemana?''
''Sudah jelas kan aku mau kemana?'' jawab Rukia sedikit jutek dan mempercepat sedikit langkahnya.
''Kau kenapa sih? Marah padaku?'' Ichigo sepertinya bisa membaca tingkah laku Rukia yang sekarang.
''Tidak.'' singkat Rukia dan semakin mepercepat langkahnya dari yang sebelumnya. Dan tentu saja hal itu disadari oleh Ichigo.
''Hei! Tunggu!'' ujar Ichigo sambil mencoba mengejar langkah Rukia hanya dengan beberapa langkah kecil, ''Kalau kau tidak marah, lalu kenapa sekarang kau terlihat sedang menjauh dariku? Lalu kenapa nada bicaramu seperti itu? Lalu kenapa kau menjawab pertanyaanku dengan singkat? Lalu kenapa―''
''Senior! Aku tidak, Ugh!―'' Rukia tidak berhasil menyelesaikan kata-katanya, ia terlihat terhuyung dan hampir jatuh kebelakang kalau saja tidak cepat-cepat dibantu oleh seseorang yang tidak sengaja menabraknya dari arah yang berlawanan.
Laki-laki itu masih memegangi kedua tangan Rukia dengan erat, ''Kau itu kebiasaan sekali yah tidak melihat jalanmu ketika sedang berjalan?'' protes laki-laki itu.
Rukia terlonjak, ''Ma-Maaf, Kaien-nii...''
Kaien hanya tersenyum kecil menanggapi keterkejutan Rukia saat itu, ''Kau tidak apa-apa?'' tanyanya memastikan.
''Ti-Tidak.'' jawab Rukia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan terlihat sekali ia sedang salah tingkah.
Ichigo melihat dan merasakan hal itu dengan sangat jelas, untuk pertama kalinya Rukia terlihat sangat berbeda ketika tengah berhadapan dengan temannya yang satu itu yakni, Kaien.
''Kebetulan sekali, aku mencarimu kemana-mana sedaritadi, Rukia.'' ujar Kaien.
''A-Aku?'' Rukia mencoba memperjelas maksud pertanyaan Kaien dengan mengacungkan jari telunjuk kearah dirinya sendiri, ''M-Maksudku, ada apa mencariku?''
Melihat tingkah Rukia yang aneh saat itu mau tak mau membuat Kaien harus mengeluarkan tawa kecilnya, ''Ahahaha~ Kau itu memang tidak pernah berubah yah, Rukia. Selalu menggemaskan!'' ujar Kaien sembari mencubit kedua pipi Rukia begitu nafsu.
''Aduhhhh! Kaien lepaskan! Sakit!'' pinta Rukia sembari mencoba melepaskan cubitan tangan Kaien dari kedua pipinya.
Namun sayangnya Kaien sama sekali tidak menggubris permohonan Rukia tersebut dan masih saja mencubit pipi halus milik Rukia semakin gemas dan Rukia hanya bisa meng-aduh kesakitan.
Sebuah tontontan yang menyebalkan dimata Ichigo, dimana ia harus melihat keakraban antara Rukia dan Kaien yang terlihat seperti sepasang kekasih dimatanya. Apalagi ditambah dengan aksi sepasang tangan Kaien yang bisa menyentuh kulit halus pada pipi Rukia tanpa canggung dan sepasang tangan Rukia yang balas menyentuh lapisan kulit pada tangan Kaien dengan genggaman yang terlihat sangat erat. Sungguh sepertinya membuat dirinya merasa iri(?).
''Ehm!'' dehem Ichigo mencoba memecahkan suasana diantara mereka.
Tapi sayangnya, sepertinya kedua anak manusia itu―Rukia dan Kaien― belum menyadari interupsi dari laki-laki berambut orange tersebut.
Ichigo terlihat membatu karena merasa dicueki, kemudian ia mencoba berdehem kembali, ''Ehm!''
Responnya masih sama dengan yang sebelumnya...
Karena kesal Ichigo pun memperkeras dan memperpanjang intonasi suaranya, ''EHMMMMM...!''
Kali ini berhasil, suara kontras dari Ichigo itu sukses mengambil perhatian Rukia dan Kaien sehingga membuat keduanya menghentikan apa yang tengah mereka lakukan.
''H-Hentikan permainan anak kecil seperti itu!'' ujar Ichigo.
Kaien pun merasa ada sesuatu yang aneh pada nada dan kata-kata Ichigo, ''Apa masalahmu, Ichigo?''
''S-Sadarlah sekarang kalian sedang ada dimana! Memalukan sekali...'' jawab Ichigo sedikit salah tingkah.
Kaien mencoba menatap sepasang mata musim gugur disana lebih jauh, ia sangat berharap dapat menemukan sesuatu yang lebih dari sebuah jawaban atas tingkah Ichigo yang lagi-lagi mulai terlihat aneh sekarang.
Jujur saja sebagai teman, laki-laki yang sudah menganggap Ichigo seperti saudaranya sendiri itu merasa turut cemas dan dihantui rasa penasaran yang teramat sangat atas sifat-sifat Ichigo yang kentara sangat konyol belakangan.
Cukup lama mereka bertiga hanya saling diam serta melemparkan pandangan satu sama lain. Rukia melirik kearah Kaien, sementara Kaien memperhatikan gerak-gerik Ichigo dan terakhir Ichigo hanya terus memandangi Rukia tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Ya, entah kenapa atmosfir disana rasa-rasanya terasa tidak enak...
''Ah! Kaien-nii sepertinya aku tidak bisa memenuhi permintaanmu yang tadi karena kelasku akan segera dimulai, maaf ya~'' ujar Rukia yang baru saja tersadar.
''Eh? Begitu yah...'' tanggap Kaien cukup singkat, ''Apa hari ini kau pulang dengan Toushiro?''
Rukia tidak langsung menjawab pertanyaan yang sulit untuk dijawab olehnya saat itu, ia tahu bahwa dirinya baru saja berbaikkan dengan Toushiro, tapi itu bukan berarti anak itu tidak akan meninggalkannya sendirian lagi seperti yang sudah-sudah dan itu semua disebabkan suatu hal didalam Toushiro yang belakangan dijadikan sebuah misteri dan teka-teki yang seolah harus dicari dan dijawab sendiri olehnya nanti. Kesimpulannya, kemungkinan besar Toushiro akan menghilang lagi dan melupakan Rukia karena masalah pribadinya itu.
''Rukia? Hei, Rukia?'' Kaien memanggil nama itu secara berkala sembari melambaikan sebelah tangannya dihadapan wajah gadis tersebut, sepertinya gadis violet itu sedang termenung.
Rukia mengerjapkan kedua matanya, ''Ah? Ya?''
''Kau ini, kau pulang dengan Toushiro tidak?'' Kaien kembali mempertegas pertanyaannya yang tadi.
Sementara disisi lain Ichigo sepertinya masih dianggap benda mati diantara mereka berdua yang sedang asyik bercakap kecil, jujur saja ia cukup merasa kesal. Tapi, mau tak mau ia harus bertahan berdiri disana untuk mendengarkan semua percakapan yang sedang dibicarakan, tentu saja semua itu ia lakukan agar dirinya tidak merasa penasaran.
''Oh! Mmm... Sepertinya tidak. Memangnya ada apa?'' jawab Rukia sedikit ragu.
Kaien menjentikkan jarinya hingga tedengar bunyi suara, ''Bagus! Kalau begitu nanti kita pulang bersama, oke? Sudah lama juga kan kita tidak jalan berdua seperti dulu?''
Rukia sedikit terkejut, padahal jawaban yang baru diberikannya itu hanya sekedar asal saja. Bagaimana jika kenyataannya Toushiro akan pulang bersamanya hari ini? Tentu saja ia akan merasa tidak enak dengan Toushiro kalau sampai menerima ajakkan dari Kaien. Bisa-bisa hubungan persahabatan mereka yang baru saja berbaikkan dalam hitungan jam bisa kembali menjadi buruk hanya dalam hitungan detik.
Tapi sayangnya sisi pemikiran Rukia yang lain ikut menguasai dirinya, pikirnya ini adalah sebuah kesempatan dapat berjalan berdua bersama Kaien lagi setelah sekian lama, walaupun hanya sekedar jalan biasa dan bukan disebut dengan 'kencan' Rukia tetap saja pernah mendambakan hal ini akan terulang kembali suatu saat dan pada kenyataannya hal itu terjadi sekarang. Tapi...
'Tidak bisa!' batin Rukia.
Diam bukan berarti setuju, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan Ichigo saat ini. Mendengar Kaien berkata hal demikian kepada Rukia lagi-lagi membuat dirinya harus merasakan keirian untuk kesekian kali. Saat ini laki-laki yang juga kontras dengan kerutan didahinya itu hanya bisa berharap Rukia akan menolak mentah-mentah ajakkan dari mantan Senpainya itu.
''A-Aku... Hari ini aku pulang lebih lama, jadi sepertinya tidak bisa untuk hari ini.'' tolak Rukia halus, tentu saja ia tidak ingin membuat sang mantan Senpai kesayangannya itu merasa kecewa.
Sungguh ajaib, doa si jeruk dikabulkan.
''Tidak masalah, aku bisa menunggumu. Kebetulan aku sudah tidak ada kelas dan akan membicarakan rapat dengan Ichigo setelah ini. Jadi, nanti kalau kau sudah selesai kita bisa langsung pergi~'' jelas Kaien santai.
''M-Mana bisa begitu! Lalu kau akan meninggalkanku untuk mengerjakan semua tugasnya sendiri?'' protes Ichigo yang sebenarnya 99%-nya hanyalah sebuah alasan belaka.
''Ayolah Ichigo~ Sekali ini saja~'' ujar Kaien terlihat memohon.
''Tidak mau!'' tolak Ichigo mentah-mentah.
Rukia hanya tersenyum tipis melihat kejadian saat itu, ''Sudahlah Kaien-nii, lain kali saja. Kasihan Senior Kurosaki jika harus bekerja sendirian~'' tuturnya yang terdengar tengah membela Ichigo dan hal itu disambut baik oleh Ichigo sendiri.
''Begini saja, bagaimana selagi rapat nanti kau menungguku sampai selesai? Nanti setelah itu baru kita pulang bersama.'' usul Kaien yang justru tedengar sangat konyol.
''Itu namanya kau menyusahkan orang lain~'' komentar Ichigo yang sudah terlihat jutek sekarang.
Kaien melirik Ichigo dengan tatapan kesal, kemudian kembali memohon kepada Rukia, ''Ayolah Rukia, kita kan sudah lama tidak berbicara, Aku mohon! Aku mohon! Yah?'' Kaien terus saja merengek dihadapan Rukia seperti anak kecil, sedangkan Rukia tak tahu harus bagaimana.
''Iya, Iya, Iya! Baiklah!'' mau tak mau Rukia mengalah. Tepat saat itu juga Kaien terlihat sangat senang sekali, sampai tak menyangka akan menggendong Rukia sembari berputar kecil seperti yang sering ia lakukan dulu sekali.
''Kaien-nii turunkan aku! Tidak enak dilihat yang lain!'' pinta Rukia dengan tegas sampai akhirnya sepasang kaki miliknya itu bisa kembali menapak tanah, setelah sebelumnya diturunkan oleh Kaien yang masih bercengar-cengir ria dihadapan Rukia.
Menyadari dirinya sudah terlambat Rukia pun buru-buru mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan tempat dimana ia sedang berada sekarang, ''Ah! Aku telat! Sudah dulu ya!''
'Cih! Menyebalkan sekali' batin Ichigo, wajahnya benar-benar terlihat kesal. Hingga Rukia sudah berlari menjauh tanpa berpamitan pada dirinya pun raut wajah Ichigo masih terlihat sama.
Selesai memandangi punggung kecil Rukia yang sudah menghilang dari fokus matanya, Kaien melirik Ichigo dan bermaksud mengajaknya kembali membicarakan soal rapat, tetapi ia mendapati Ichigo masih terus memandangi arah Rukia berlari meskipun sang gadis sudah menghilang dari pandangan.
''Ichigo?''
Laki-laki itu hanya melirik kearah suara sang pemanggil namanya tanpa menjawab.
Kaien sedikit terkejut dengan tatapan jutek dari Ichigo yang diberikan padanya saat itu, ''Ayo kita kembali keruang rapat.'' ajaknya.
Masih enggan membuka mulutnya, Ichigo hanya merespon dengan menganggukkan pelan kepalanya, kemudian sebelum membalikkan badan untuk menuju tempat yang dimaksud, Ichigo kembali melirik kearah koridor dimana Rukia sempat berlari melewatinya, setelahnya ia membalikkan badan lalu mulai melangkahkan kakinya dan berjalan kecil.
Tentu saja Kaien menangkap gerak-gerik keanehan dari Ichigo barusan, 'Kenapa dia...?' batin Kaien.
\(^_~)/
Disebuah pusat perkotaan Karakura City, terdapat banyak gedung tinggi berjajar dimana-mana, lautan manusia yang berjalan kesana-kemari terlihat dikeramaian jalan khusus pusat kota tersebut, tak kalah dengan beberapa kendaraan yang sering melintas dengan tertib disana, memperlihatkan sebuah kota yang sangat indah, rapih, aman dan jauh dari persepsi negatif.
Setiap manusia yang tertangkap mata disana kelihatannya memiliki kepentingan sendiri-sendiri, tak terkecuali untuk seorang Byakuya Kuchiki.
Siang ini merupakan hari yang menyebalkan untuknya, namun juga penting baginya. Menyebalkan karena hari ini Kurosaki Corporation akan mengumumkan kemenangannya―dimana kemenangan itu sendiri masih belum dapat direlakan oleh Byakuya― atas keputusan rapat beberapa hari yang lalu. Sedangkan dikatakan penting karena beberapa calon investor pendatang baru akan hadir disana, sehingga dapat dijadikan sebuah kesempatan untuk membangun relasi baru, sebagai ajang perkenalan kerja sama antar-perusahaan dimasa mendatang.
''Kalau wajahmu ditekuk seperti itu, akan terlihat betapa kekalahanmu itu sangat menyedihkan dimata mereka, tuan.'' laki-laki yang mendampingi Byakuya disebuah gedung pertemuan saat itu mencoba menyadarkan tuannya yang masih terlihat kesal.
''Aku hanya mencoba serius seperti biasa.'' tanggap Byakuya datar dan mencoba merileks-kan dirinya.
''Tapi aku rasa yang itu terlalu serius. Tenanglah tuan, ini bukanlah akhir dari Kuchiki Corp.'' ujar laki-laki itu, terdengar tengah menyemangati.
''Ya, aku tahu.'' lagi-lagi Byakuya hanya menanggapi dengan datar, ''Tetaplah didekatku, Gin. Kalau-kalau wajahku seperti tadi lagi, maka kau bisa memperingatkanku dan menyamangatiku seperti tadi.''
''Baik, tuan~'' jawab Gin menyanggupi, ''Kita sudah sampai, persiapkan dirimu...'' ujar Gin sebelum akhirnya membuka pintu dihadapan mereka berdua secara perlahan.
Dibalik pintu itu terlihatlah sebuah ruangan mewah dengan beberapa hiasan yang sangat khas dimana-mana. Beberapa meja tamu, hidangan makanan hingga tata panggung, seluruhnya dikemas secara mewah hanya untuk melaksanakan acara penobatan Kurosaki corp tahun ini atas perusahaannya yang telah memenangkan tender dan berhasil menggeser Kuchiki corp yang sempat melayang jauh diatas langit tahtanya beberapa tahun terakhir, sungguh-sungguh sebuah acara yang sangat diapresiasikan dari para tamu undangan atas pencapaian tersebut.
Banyak sekali tamu undangan dari kalangan pengusaha bahkan sampai bangsawan ikut datang memeriahkan suasana disana. Tak jauh dari panggung ruangan, terlihat beberapa kerumunan tengah memberikan ucapan selamat kepada seorang pemilik Kurosaki corp sembari terus melontarkan pujian yang tak ayal terdengar sedikit berlebihan. Meski begitu, Ishin Kurosaki sang pemilik perusahaan tersebut tetap menyambut pujian itu dengan positif dan rendah hati.
Byakuya dan rekannya Gin, terus berjalan menyusuri karpet merah disana, yang akan membawanya menuju sang laki-laki paruh baya yang sedang menjadi trending topic bersama dengan perusahaannya diberbagai media di Karakura saat ini. Beberapa dari tamu hadirin nampaknya tak ingin melewatkan momentum ini sampai tak mau mengedipkan mata walau hanya sekejap, dimana seorang Byakuya Kuchiki akan menghampiri Ishin Kurosaki untuk mengucapkan selamat.
Ishin masih terus saja menyalami beberapa sodoran tangan kepadanya sebagai ucapan terimakasih, wajahnya terlihat sangat senang sekali, dapat ditebak dari senyumannya yang sangat lebar terlukis disana.
Saat hendak mengalihkan pandangan kearah lain tak sengaja ia bertemu pandang dengan Byakuya yang tengah berjalan menuju kearahnya, sekitar lima sampai empat langkah lagi sosok laki-laki berambut panjang itu sepertinya akan sampai dihadapannya, sanking terlalu terpakunya Ishin menatap laki-laki tersebut sampai ia berhenti untuk menyambut salam tangan dari rekan-rekannya yang masih ada disana.
''Selamat atas pencapaian Kurosaki corp, Ishin Kurosaki.'' ujar Byakuya datar dihadapan Ishin sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman.
Tanpa keraguan Ishin menyambut sodoran tangan dihadapannya sembari tersenyum, ''Terimakasih banyak. Aku sangat tersanjung mendapatkan ucapan selamat darimu hari ini, Byakuya Kuchiki.''
Byakuya memberikan senyuman tipisnya, ''Aku rasa usaha dan kerja keras perusahaanmu selama ini memang pantas mendapatkan kemenangan tersebut, dan untuk itu kau layak diberikan ucapan selamat...''
''Hei, kau terlalu berlebihan dalam memuji, dibandingkan denganmu perusahaanku masih kalah jauh, hahaha~'' tawa renyah Ishin terdengar disana, disambut dengan tawa ringan dari beberapa tamu yang mendengar percakapan diantara mereka berdua saat itu.
'Tentu saja...' batin Byakuya. Laki-laki itu sama sekali tidak menyambut tawa dari Ishin yang nampaknya sangat bersahabat. Entah kenapa, mungkin karena salah satu faktornya adalah, pria itu masih belum bisa melepaskan era keemasannya dan harus menerima kekalahannya yang terasa pahit.
Saat itu juga pembawa acara sudah menaiki anak tangga kecil yang terdapat pada panggung aula. Sebelumnya ia sempat memastikan mic dihadapannya, agar ia dapat meyakini bahwa seluruh penghuni ruangan dapat mendengar suaranya dengan sangat jelas.
Tak lama kemudian sang pembawa acara pun mulai berseru, ''Baiklah para hadirin sekalian, sepertinya semua tamu undangan sudah hadir dan saya harap semua tamu dapat menduduki kursi meja yang sudah disediakan.''
Para tamu disana termasuk Byakuya Kuchiki dan sang tangan kanannya Gin Ichimaru pun mengikuti arahan dari sang pembawa acara. Tanpa harus kerepotan mencari posisi meja yang strategis, ternyata disana sudah tersedia meja khusus untuk Byakuya duduk sebagai tamu istimewa. Setidaknya Byakuya masih menghargai usaha dan tindakkan dari Ishin tersebut.
''Baiklah. Sebelum kita masuk kedalam acara penobatan, kami persilahakan terlebih dahulu kepada Ishin Kurosaki untuk memberikan sepatah atau duapatah kata dihadapan para hadirin yang sudah datang, mari kita beri sambutan yang meriah kepada beliau.'' tutup sang pembawa acara sembari memberikan tepuk tangannya kepada Ishin yang tengah menaiki panggung, diikuti dengan tepuk tangan dari para tamu termasuk Byakuya―walaupun sebenarnya tepuk tangan yang diberikan Byakuya sangat pelan dan nyaris tak menghasilkan suara, hal ini semakin membuktikan sekali ketidak relaan yang masih belum bisa ia terima―.
(―_―)
''Kau sama sekali tidak memiliki orang yang bisa diajak untuk menjadi sukarelawan, Ichigo?''
''Tidak. Satu-satunya orang yang sempat aku ajak sudah menolakku.''
Kaien melebarkan sepasang emeraldnya, ''Apa? Yang benar? Cintamu ditolak―''
Ichigo memelototi Kaien dengan ganas sebelum anak itu berhasil menyelesaikan kalimatnya.
''Ehehehe~'' Cengir Kaien tanpa rasa dosa, ''Maksudku, siapa yah seseorang yang mau menolak tawaran dari Ichigo Kurosaki? Aneh sekali, tidak seperti biasanya...'' ujar Kaien masih dengan nada bercandanya, tanpa berani menatap kearah Ichigo dan malah menyampirkan pandangannya kearah lain sembari menggoyang-goyangkan kursinya.
Ichigo meringis sebal karena Kaien masih terus saja menggodanya dengan hal demikian, padahal ia berpikir anak itu akan melupakan kejadian beberapa waktu yang lalu, saat dirinya tidak sengaja nyaris berkata jujur soal seseorang yang dia sukai―meskipun sebenarnya hal itu masih belum dapat dipastikan oleh Ichigo sendiri―.
''Bagaimana dengan kau sendiri? Kau banyak teman disini kan? Mungkin kau bisa mengajak salah satu dari mereka untuk bergabung~'' kata Ichigo sembari menyibukkan kedua tangannya bermain diatas keyboard laptop miliknya, guna menyusun laporan yang nantinya akan diberikan kepada Yoruichi.
''Aku?'' Kaien mengangkat ibu jarinya didepan wajahnya sendiri, ''Kau bercanda, memang menurutmu siapa yang mau kuajak kedalam acara yang merepotkan seperti ini?''
Dengan bertingkah seperti tengah berfikir Ichigo menjawab, ''Mmmm... Mungkin Rukia.''
Mendengar pernyataan itu Kaien tak merespon apapun, ia hanya menatap Ichigo datar.
Merasa aneh dengan tatapan itu Ichigo pun buru-buru mencoba menyangkal, ''Atau mungkin anak laki-laki berambut putih itu, siapa namanya? Taro?''
''Toushiro.'' koreksi Kaien masih datar.
''Ah! Iya, dia! Kau bisa kan mengajaknya?'' lagi-lagi Ichigo masih berupaya untuk mengalihkan pembicaraan agar Kaien tidak menatapnya seperti itu terus-terusan.
''Apalagi dia kan anak laki-laki pasti lebih mudah untuk mengajaknya bekerja sama, ya kan? Ah-hahaha~'' tawa Ichigo sebagai penutup itu terdengar terlalu dipaksakan.
''Hei, Ichigo...''
''Y-Ya?'' jawab Ichigo sedikit gugup.
''Sejak kapan kau dekat dengan Rukia?'' pertanyaan Kaien itu sungguh membuat Ichigo terkejut setengah mati.
''De-Dekat? Dengan gadis itu? Ja-Jangan asal bicara, Kaien! Mana mungkin aku dekat dengannya! Kau ini ada-ada saja...'' sanggah Ichigo dengan cepat.
''Lalu, bagaimana kau bisa menjelaskan soal memanggil anak itu hanya dengan nama kecilnya saja? Bukankah itu terdengar aneh dan terlihat... sangat akrab...?'' saat ini cara Kaien menginterogasi Ichigo kontras sekali terlihat seperti difilm-film detective yang sering disiarkan diacara telivisi setiap minggu pagi. Nampaknya laki-laki itu memang tengah serius.
''I-Itu...'' pertanyaan yang sungguh sulit dijawab oleh Ichigo, tak disangka-sangka pula pertanyaan itu mampu memaksa cairan ion bening dalam tubuhnya keluar begitu saja dari pori-pori kulit miliknya, ia berkeringat dingin.
Tepat ketika Ichigo kebingungan harus bagaimana menjelaskan hal tersebut kepada Kaien, ponsel milik Ichigo yang berada diatas meja bergetar, getaran tersebut mampu menghasilkan bunyi nyaring dan memecahkan suasan tegang diantara mereka berdua dan tentunya menyelamatkan nyawa Ichigo meskipun hanya untuk beberapa menit kedepan.
Ichigo segera menyambar ponselnya untuk melihat nama sang penelepon dari layar utama ponsel tersebut, ''Ayah?'' raut wajah Ichigo berubah seutuhnya, ia melirik kearah Kaien sesaat.
''Angkatlah.'' kata si laki-laki yang tengah dilirik Ichigo.
Ichigo menganggukkan pelan kepalanya, kemudian ia membuka flip pada ponselnya dan buru-buru menempelkan speaker telepon kesebelah telinganya, ''Ya, Ayah?''
''Hei, Ichigo kau sedang bersama perempuan yah? Kenapa lama sekali mengangkat telepon?'' obrolan pembuka sang ayah sangat membuat Ichigo jengkel ketika mendengarnya.
''Ayah apa-apaan sih! Aku sedang rapat itu sebabnya aku lama mengangkat telepon!'' jelas Ichigo marah-marah sambil bertampang aneh, ''Ada apa sih kau menelepon?''
Setelah tertawa nyaring atas respon anaknya yang berlebihan tadi Ishin pun menjawab, ''Kau ini benar-benar, Ichigo~ Hari ini kan penobatan perusahaan kita, kenapa kau tidak datang? Banyak tamu disini yang mencari my son-ku~'' tutur Ishin dengan nada bicara yang terdengar berlebihan diujung telepon.
''Baka oyaji! Jangan berbicara dengan nada seperti itu ayah!'' ujar Ichigo yang lagi-lagi merasa sedikit ilfeel dengan tingkah ayahnya yang terkadang seperti anak kecil, ''Lagipula aku ada urusan lebih penting disini dan harus menyelesaikannya. Jadi, aku tidak bisa datang.''
''Apa? Urusan apa yang lebih penting dari perusahaan kita Ichigo?'' tanya Ishin masih dengan nada bicara yang sama.
Ichigo meringis kesal, ''Itu perusahaan ayah, aku belum resmi terlibat sepenuhnya. Sudahlah! Ayah menganggu saja, aku tutup ya yah, Jaa!'' tutup Ichigo.
~ di tempat lain ~
''Hallo? Hallo? Ichigo!'' Ishin terus mencoba memanggil ulang anak laki-lakinya itu lewat ponselnya, ''Hhh~ Dasar anak nakal, padahal aku belum selesai bicara.'' gerutu Ishin yang sekarang sedang berada dibalik panggung.
''Permisi, Kurosaki-san?''
Suara yang terdengar dibelakang Ishin cukup menganggetkannya, ''Ya?'' Ishin membalikkan badan, ''Oh? Ada apa Kuchiki-san?''
''Aku bukan orang yang pandai berbasa-basi. Jadi, langsung saja aku ingin mengatakan, apa aku bisa bertemu dengan anakmu, Ichigo Kurosaki?''
''Oh, tentu saja~ Aku juga lebih menyukai orang-orang yang to the point. Tapi, masalahnya hari ini anakku berhalangan hadir, sepertinya dia sedang ada tugas sebagai mahasiswa aktif. Hahaha~'' jelas Ishin yang terlihat sangat bersahabat.
''Hm, begitu.'' tanggap Byakuya datar, ''Apa anakmu merupakan mahasiswa Karakura?''
Ishin menghentikan tawanya sejenak, ''Bagaimana kau bisa tahu? Jangan-jangan kau bisa membaca pikiran yah? Hahaha~'' lagi, Ishin mencoba membawa suasana diantara mereka terasa sedikit lebih santai.
Tapi nampaknya usaha Ishin masih belum membuahkan hasil, dengan berwajah tenang Byakuya kembali bersuara, ''Begitu ya. Baiklah, aku permisi...'' tutur Byakuya singkat dan kemudian meninggalkan Ishin sendirian disana, menuju ketempat semula ia berada.
'Hhh~ Dia itu tidak memiliki selera humor, wajahnya terlalu serius~' pikir Ishin dengan wajah sweatdropnya.
''Ada apa, Ichigo?'' tanya Kaien penasaran.
''Hanya masalah kecil perusahaan, tidak perlu dipikirkan. Jadi, sampai mana kita tadi?'' ujar Ichigo yang sudah kembali berkutat dengan laptop miliknya.
''Oh, sampai pada Rukia, kau belum menjawab pertanyaanku tadi.'' sambung Kaien yang juga sedang melakukan aktivitas yang sama dengan teman dihadapannya itu, hanya saja pandangannya teralihkan untuk menatap lawan bicaranya saat ini.
Ichigo merasa menyesal karena telah menanyakan hal demikian kepada Kaien, padahal ia baru saja terselamatkan oleh telepon dari ayahnya yang sempat mengganggu dan membuyarkan suasan tadi. Sungguh ia mengutuk kebodohan dirinya saat itu.
''Eh? Oh, itu... Mmmm...'' Ichigo jelas sekali terlihat kebingungan harus menjelaskan apa dan memulainya darimana.
Namun ajaibnya lagi-lagi Ichigo diselamatkan dengan getaran ponsel diatas meja yang berdering, tapi kali ini ponsel Kaien lah yang mendapat giliran.
Buru-buru Kaien mengangkat telepon genggam yang berada didekatnya saat itu tanpa melihat nama si pemanggil terlebih dahulu, ''Ya, hallo? Rukia?''
Mendengar nama sang gadis disebut Ichigo memalingkan wajahnya kembali kearah Kaien.
''Oh! Kau jalan terus saja sampai menemukan ruangan dengan pintu bertuliskan 'Gakusei Office', masuk saja tidak usah diketuk.'' sepertinya Kaien tengah memberikan Rukia petunjuk jalan agar sampai diruangan tempat dimana ia sedang berada sekarang.
Tak lama kemudian, suara engsel pintu yang diputar seseorang dibalik pintu terdengar ditelinga Ichigo dan Kaien, pintu yang sudah terbuka sepenuhnya itu lagi-lagi menampakkan sosok sang Rukia Kuchiki, gadis yang beberapa hari belakangan menjadi sorotan beberapa mahasiswa Karakura.
''Hei! Cepat juga kau, Rukia~'' ujar Kaien sembari menutup ponselnya, seulas senyum lebar tentu menghiasi dirinya saat itu juga.
Sambil berjalan kecil mendekati Kaien dan Ichigo berada, Rukia bertutur, ''Tentu saja, itu semua kan karena aku punya GPS yang sangat hebat, tepat dan akurat disini yaitu, Kaien Shiba, Tadaaa~'' Rukia melayangkan kedua tangannya kearah Kaien seolah tengah memperkenalkan sebuah manusia canggih kepada Ichigo. Ya, Rukia tengah menatap kearah Ichigo saat ini, sukses membuat Ichigo termanggu,
''Cih! Jangan samakan aku dengan alat elektronik itu atau benda mati semacamnya, Rukia! Aku ini manusia!'' tampik Kaien yang berusaha terlihat marah dihadapan Rukia yang entah kapan sudah dalam posisi duduk disamping Kaien.
Ichigo memberikan cengirannya yang sangat lebar, ''Masa sih? Beberapa hari belakangan aku melihatmu sedang berbicara berdua dengan motor kesayanganmu diparkiran, aku jadi meragukan identitasmu sebagai manusia, Kaien.''
Kaien terkejut setengah mati, ia sama sekali tidak menduga bahwa akan ada orang lain yang melihat hal bodoh yang ia lakukan ketika itu, apalagi orang yang melihatnya adalah Ichigo, ''Ish! Kau ini! Kalau tahu diam-diam saja!'' cetus Kaien yang terlihat kesal.
''Hahaha~ Sudah-sudah.'' Rukia yang sedang tertawa saat itu berusaha menengahi, ''Jadi, bagaimana hasil susunan acaranya? Dan kapan sudah mulai mendekor?''
''Susunan acara sih sudah seratus persen tapi kami masih ragu kapan persiapannya akan dimulai.'' jawab Kaien lemas.
''Kenapa?'' tanya Rukia heran.
''Aku kan sudah bilang padamu tadi, kita kekurangan orang disini...'' sambung Ichigo yang tiba-tiba saja ikut masuk kedalam topik pembicaraan.
''Begitu ya. Sayang sekali...'' tanggap Rukia yang sangat menyayangkan hal tersebut.
Ichigo dan Kaien sama-sama masih asyik berkutat menyusun laporan pada laptop mereka masing-masing, sementara Rukia hanya terus berganti pandangan sebentar-sebentar kearah Kaien dan sebentar-sebentar kearah Ichigo. Baru sekarang kedua anak laki-laki itu nampak serius padahal sebelumnya kemana saja... -_-
''Kau bilang tadi kau akan lama, Rukia?'' Kaien mencoba memecahkan suasana hening.
''Oh, hari ini aku ujian. Jadi, kupikir tadi akan lama, tapi karena semua soalnya mudah aku bisa mengerjakannya dengan cepat dan itu sebabnya sekarang aku bisa kesini.'' jelas Rukia yang kelihatannya sangat bersemangat hari ini, entah apa penyebabnya.
Hanya ada tiga kemungkinan. Pertama ia dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan baik, kedua ia bisa mengakhiri kelas hari ini karena keluar paling cepat dan pulang lebih awal, ketiga ia akan pulang bersama Kaien dan berjalan-jalan sebentar dengan Senior kesayangannya itu. Guess what? The answers only on Rukia's head. *plakkk*
''Wah~ Seperti biasa yah, Junior kesayanganku ini memang sangat hebat!'' ujar Kaien sembari mengacak-acak pelan puncak kepala Rukia.
Ichigo melihat itu, bagaimana tangan besar Kaien mengacak lembut puncak kepala Rukia dan Rukia menerima perlakuan itu dengan senang hati. Nampaknya Ichigo merasa kecolongan banyak dari Kaien. Laki-laki orange itu nampaknya tak terima jika ada tangan lain menyentuh Rukia begitu saja. Tapi, apa boleh buat? Toh, Rukia sama sekali bukan siapa-siapa Ichigo. Dan Ichigo pun masih belum menyadari perasaan apakah yang tengah ia rasakan saat ini kepada Rukia, yang ia tahu apa yang dia rasakan kepada Rukia saat ini adalah sesuatu hal yang sangat aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
''Tentu saja, aku kan pintar! Dan kau harus memberikanku hadiah untuk merayakannya nanti. Hahaha~'' Rukia terlihat sedang meminta imbalan atas prestasinya itu.
''Hhh~ Dasar tukang palak! Kebiasaan sekali selalu seperti itu dari dulu~'' ujar Kaien sembari berpura-pura memasang wajah kesalnya dihadapan Rukia.
''Sudah tahu masih mengomel! Awas yah kalau sampai tidak memberikan aku hadiah, kau akan mendapatkan ini dariku!'' Rukia meninju kecil lengan Kaien dan ikut berpura-pura memasang wajah yang sama dengan mantan Senpai-nya itu.
''Aduh! Sakit!'' lagi-lagi Kaien menginterupsi drama kecil diantara mereka berdua saat itu dengan menatap jutek Rukia.
Mereka berdua―Rukia dan Kaien― saling bertatapan jutek satu sama lain dan tak lama kemudian, ''Hahahaha~'' mereka berdua sama-sama saling tertawa.
Ichigo masih terus memperhatikan dua pasangan―yang masih dipertanyakan hubungan kedekatannya kepada dirinya sendiri― dihadapannya saat itu, jelas ia sangat merasa terganggu.
Sebelumnya sempat mencoba mengalihkan pandangan kearah layar laptopnya dan mencoba kembali bekerja tapi yang ada malah suara ribut dari dua anak manusia itu terus saja mengganggu pikirannya, sehingga membuat dirinya terus saja merasa penasaran untuk melihat apa yang tengah mereka lakukan.
''Baiklah bagaimana kalau nanti aku traktir kau es krim?'' ajak Kaien yang masih tertawa.
''Wah! Es krim!'' teriak Rukia yang senang bukan kepalang ketika mendengar kata-kata itu disebutkan oleh Kaien.
''Tapi...'' dalam sekejap tiba-tiba saja Rukia terlihat lemas, ''Sepertinya hari ini aku sedang tidak mau makan es krim dulu, Kaien-nii.''
Kaien membesarkan kedua pandangannya dihadapan Rukia, ''Eh? Kenapa? Bukannya kau sangat suka es krim?''
''Iya, aku sangat suka es krim. Tapi, hari ini aku sudah puas memakan banyak es krim bersama dengan Senior Kurosaki tadi...''
''Apa?'' ujar Kaien tidak percaya. Pikirnya sejak kapan Ichigo mau makan berdua bersama dengan orang yang tidak begitu dekat dengannya, apalagi mengingat kemarin mereka berdua masih sempat bermusuhan layaknya seperti Tom & Jerry, saling melemparkan kata-kata, umpatan, ejekkan, makanan, minuman bahkan hampir saja melemparkan meja kantin Karakura kemasing-masing pihak.
Keganjilan yang lagi-lagi ditemui oleh Kaien secara kebetulan, ia melirik Ichigo dihadapannya sembari memberikan tatapan yang seolah-olah tengah mengintimidasi anak jeruk itu, berharap Ichigo akan menjelaskan sesuatu yang ia tutup-tutupi belakangan ini kepadanya.
Ichigo tak mampu berkata-kata dan tak tahu harus berbuat apa, dia hanya mengalihkan pandangan yang kembali tertuju kepada layar kotak bersinar tajam kearah retina matanya, sembari kedua tangan seolah-olah tengah mengetik lanjutan proposal yang belum terselesaikan.
''Baiklah kalau begitu, kita lihat nanti saja hadiah apa yang cocok untukmu, oke?'' ujar Kaien yang seolah-olah tak mempermasalahkan hal ini, kemudian dijawab anggukkan kecil dari Rukia.
''Oh iya, Senior Kurosaki!'' panggil Rukia, sementara Ichigo melirik cepat kearah gadis itu.
''Sepertinya aku bisa membantumu mendapatkan sukarelawan dalam acara ini.''
''Benarkah?'' saut Ichigo dan Kaien bersamaan.
''Hm!'' Rukia hanya mengangguk penuh semangat, ''Beberapa dari temanku ada yang tertarik ketika aku memberitahukan hal ini dan tidak aku sangka kalau responnya sangat positif. Jadi, bagaimana?''
''Hm, kalau begitu nanti akan aku beri tahu cara dan syarat-syaratnya kepadamu.'' Jelas Ichigo, ''Dan... Terimakasih atas bantuannya.'' akhir penutupan kata-kata Ichigo terdengar sedikit canggung.
Kaien terlonjak, 'Anak ini... Sejak kapan jadi sopan?' batinnya masih tidak percaya.
''Sama-sama Senior.'' ujar Rukia sembari tersenyum lebar.
Setelahnya, Ichigo kembali mencoba mengkonsenterasikan penuh dirinya kedalam pekerjaannya―yang belakangan bisa ditebak bahwa sebenarnya anak laki-laki itu malas mengerjakannya, malah kalau bisa ia ingin sekali membiarkan Kaien yang mengurus semua proposal ini yang nantinya akan diberikan kepada Yoruichi-san―.
Walaupun sempat kebingunan dan bertanya sendiri dalam hati, namun tiba-tiba saja Kaien mendapatkan ide yang datang begitu saja kedalam otaknya.
''Nah!'' cetus Kaien sambil menjentikkan jari secara tiba-tiba dan tentunya perbuatannya itu cukup mengagetkan temannya yang lain, ''Rukia, bagaimana kalau kau ikut menjadi panitia? Membantu kami!''
''A-Apa aku?'' jawab Rukia terbata-bata, padahal sebelumnya ia baru saja menolak ajakkan yang sama dari Ichigo dan tentunya penolakkan itu berhasil mulus.
Namun pada kenyataannya, bagaimana cara Rukia menolak ajakkan dari Kaien sekarang? Ya, gadis berotak cemerlang itu memang paling tidak bisa menolak ajakkan Kaien sedari dulu. Meskipun ia pernah mencoba mencari-cari alasan untuk menolak, tapi pada akhirnya dia harus selalu menerima kekalahannya jika Kaien-lah yang sudah meminta.
'Hn, percuma saja...' batin Ichigo sembari tersenyum-senyum sendirian, karena merasa usaha temannya itu hanya akan berbuah sia-sia saja pikirnya.
''Iya! Bagaimana? Mau yah!'' ajak Kaien sekali lagi kepada Juniornya itu.
''T-Tapi, aku tidak bisa melakukan tugas panitia, Kaien-nii.''
''Tentu kau bisa! Buktinya saja kau bisa merekrut teman-temanmu agar tertarik menjadi sukarelawan dalam acara ini.''
Rukia masih mencoba menolak dengan halus, ''I-Itu kan hanya kebetulan saja. Maaf Kaien-nii aku tidak bi―''
''Ayolah Rukia! Aku mohon! Kami semua sangat membutuhkan panitia sukarelawan disini. Lagipula kalau nanti ada kau suasana pasti akan lebih menyenangkan!'' Kaien masih saja terus membujuk Rukia agar memenuhi keinginannya itu.
Rukia tak tahu harus menjawab apa kali ini sebagai alasan penolakkan, dengan berwajah bingung nampaknya gadis itu masih terus berpikir-pikir. Sementara Ichigo tengah memfokuskan pikirannya yang terpecah menjadi dua, fokus yang pertama ia tumpahkan kedalam tugasnya, kemudian fokus yang kedua ia tumpahkan kedalam percakapan antara Kaien dan Rukia.
''Rukia! Ayolah! Aku mohon! Aku mohon!'' pinta Kaien kembali, namun kali ini cara ia meminta terlihat seperti anak kecil yang tengah merengek kepada Ibunya, sepertinya Kaien sudah terlalu berlebihan.
Lagi-lagi Rukia menjadi salah tingkah, karena saat ini Kaien tengah memegang kedua tangannya sembari terus saja memohon.
Tiba-tiba saja Ichigo mendengus sebal, ''Kalau dia sudah tidak mau jangan dipaksa, bodoh!'' ketus Ichigo yang entah dipicu karena apa.
Kaien tidak menanggapi perkataan Ichigo dan masih terus saja memohon kepada Rukia, ''Rukia! Ayolah! Please! Please! Pleaaassseee―''
''Iya-iya baiklah!'' saat itu juga lontaran kata-kata Rukia sanggup memotong kata-kata Kaien dan menghentikan aktivitas Ichigo―yang sedaritadi sibuk mengetik diatas keyboard laptop miliknya―.
''Aku akan mencobanya untukmu. Jadi, mohon bantuannya yah, Senpai!'' ujar Rukia sembari tersenyum lebar kearah Kaien.
''Yeah! Baiklah! Aku sudah menduga kau memang tidak akan pernah mengecewakanku dari dulu, Rukia!'' Kaien nampaknya terlihat senang sekarang karena telah berhasil membujuk Junior kesayangannya itu.
''Tunggu dulu! Tapi dengan satu syarat!'' pinta Rukia.
''Apa?''
''Toushiro juga ikut, boleh kan?''
Dengan penuh semangat Kaien menganggukkan kepalanya, ''Tentu saja!''
''Wohooo!'' teriak Rukia sembari meninju langit dengan kedua tangannya, Kaien yang melihat hal itu jadi tertawa lepas, tak lama kemudian mereka berdua saling tertawa bersama.
Disisi lain, Ichigo yang sedaritadi hanya mendengar percakapan diantara mereka berdua saat itu sungguh tidak menyangka, bahwa Rukia akan menerima ajakkan dari Kaien yang bahkan sebelumnya sudah ia tawari lebih dulu kepada sang gadis violet.
Entah kenapa suasana disana mulai terasa menyebalkan baginya, tombol-tombol yang terpasang berjejer pada gadget miliknya itu ia tekan-tekan kasar saat dirinya telah kembali mencoba fokus kedalam tugas, tentu saja perbuatannya itu menyebabkan bunyi yang sangat kontras ditelinga Kaien dan Rukia.
Mereka berdua hanya melirik Ichigo bingung, selain perbuatan Ichigo itu tiba-tiba saja menjadi aneh, wajah si orange juga tiba-tiba saja jadi terlihat jutek. Tak ada salah satu dari mereka yang berani bertanya saat ini, hanya saja mereka saling bertukar pandang satu sama lain seolah bertanya, 'Ada apa dengannya?'
'Anak laki-laki bernama Toushiro dan Kaien sebenarnya ada hubungan apa mereka semua dengan Rukia?' Ichigo mempertanyakan hal itu kepada dirinya sendiri.
|.T.B.C.|
Panjang yah chapter kali ini? MUAHAHA~ *ketawa ala-ala evil* X_x
Tapi semoga ga mengurangi minat kalian untuk terus mengikuti update-an cerita ini. ^^
Sebelumnya saya juga mau ucapin terimakasih banyak buat para pe-review:
kokota, Riruzawa Hiru15, IchiRuki Lovers, corvusraven, nenk rukiakate, anonim, are tea9, Bloody, ICHIRUKI, Taviabeta-Primavera, Na-chan, Ryoma Ryan -Le Renard Roux, tsuki sora, yuinayuki, Dark is Zero, Twins, Aoi, Yuuka Aoi, silent readers, dsb.
Juga buat yang sudah menjadikan saya sebagai fav. author berikut fic-nya:
Kurosaki Miyuki + Yuuka Aoi
Terimakasih banyak atas review, kritik, saran dan semuanya yang bersifat membangun dari kalian buat saya dan fic ini terutama. Saya senang fic ini bisa disambut baik oleh kalian. Terimakasih juga buat kalian-kalian + para silentreader―dan buat kalian yang mungkin belum saya sebutkan tapi kelewatan X_x― yang sudah mau menyempatkan waktu untuk baca fic ini... ^.~
Biar ga ribet bolak-balik buka email untuk bales review, saya bales sisa review yang kemarin disini yah, :D
* Yuuka Aoi: arigatou yuuka...! XD Fb+Tw kemarin sudah d'pm + ud friends juga yah. Boleh mampir+review lagi... XD *ditimpuk sendal*
* nenk rukiakate: iya untung aja diingetin sama nenk, aku baru sadar sama warna bola matanya IchiRuki yang ketuker. Akhirnya buru-buru aku edit lagi deh~ XD Duomo arigatou sudah diingatkan, ;) iya pelajaran juga buat Ichigo kalau mau manggil Rukia ya panggil aja ga usah malu-malu kunyuk yah? *plakkk* XD Hm, oke deh sankyu atas saranmu nenk, jangan bosan2 baca + kasih saran + review~ XD MUAHAHAHA~
Review
