Sakura menyalin buku catatan milik Ino karena pada pelajaran terakhir tadi, ia dan Shino terlalu asik di rumah kaca sehingga mereka ketinggalan pelajaran. Di waktu pulang sekolah yang sudah sepi ini, hanya ada ia dan Shino yang sedari tadi sibuk dalam dunia mereka masing-masing. Sedikit kecanggungan tercipta diantara mereka.
Diam-diam, Sakura menyentuh keningnya dengan tangan bergetar. Pikirannya melayang ke peristiwa beberapa hari lalu, yang sanggup membuat hubungannya dengan Kakashi menjadi berubah.
Berubah menjadi semakin canggung!
"Kurasa tidak ada jerawat disana, Sakura. Kenapa kau terus memeganginya?" suara berat Shino terdengar dari depan Sakura. Gadis itu mengangkat kepalanya, mengernyit bingung karena mendapati laki-laki itu yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Kapan ia berbalik?
"Tidak.. hanya ingin memegangnya saja. Ino bilang, dahiku sangat lebar." Gumam Sakura, melanjutkan pekerjaannya karena tidak tahu harus berbicara apa lagi dengan laki-laki di depannya.
Shino berbalik dan menatap Sakura dengan senyuman jenakanya. "Menurutku, itu manis."
Wajah Sakura memerah. Baru kali ini Shinio memujinya. Mungkin, baru kali ini Shino memuji perempuan di sekolah. Itu merupakan prestasi yang luar biasa bagi dirinya, bahkan mungkin sesuatu yang sanggup membuatnya berdebar karena laki-laki seperti Shino-lah yang memberikan pujian seperti itu.
"Terimakasih." Ujar Sakura gugup, tidak tahu harus berkata seperti apa lagi. Tangannya kembali melanjutkan untuk menyalin catatan Ino yang tinggal sedikit lagi, sementara matanya terus melirik diam-diam ke arah punggung Shino yang tidak berbicara setelah perkataan tadi.
Perempuan itu menutup buku Ino dan melakukan perenggangan kecil, karena duduk terlalu lama membuatnya sedikit pegal. Ia membereskan buku-bukunya dan berjalan ke arah Shino yang sepertrinya masih mencatat. Matanya menatap ke arah laki-laki itu yang masih tertunduk.
"Kau sudah selesai sejak tadi?" tanya Sakura tidak percaya ketika melihat tangan Shino yang ternyata sedang memainkan ponsel.
Shino menoleh, lalu mengangkat alisnya. "Memang."
"Kenapa tidak pulang sejak tadi?" tanya Sakura masih bingung.
"Kenapa harus pulang? Tidak sopan meninggalkan seorang gadis sendirian, kau tahu? Setidaknya ayahku sudah mengatakan itu padaku, dan aku melakukan perintahnya." Gumam Shino, merapikan bukunya yang sudah tertutup dan menatap Sakura. "Kau mau pulang? Ayo keluar."
Sakura hanya mengangguk dan berjalan di samping Shino. Diam-diam ia berdoa di dalam hatinya semoga Kakashi sudah pulang, atau paling tidak ia tidak melihatnya bersama Shino seperti ini.
Tunggu. Kenapa aku harus takut? Pikir Sakura dalam hati.
Gadis itu tersenyum dan membungkuk singkat ke arah Shino sebagai ucapan terimakasihnya. Ia berjalan menuju ruang loker sembari mencari-cari kunci lokernya di dalam saku. Ketika sudah menemukannya, gadis itu membuka lemari lokernya dan meletakkan barang-barangnya ke dalam sana.
Sakua mengganti sepatunya dan meraih sepatu hitam dari dalam loker. Pelajaran biologi mengharuskannya memakai sepatu yang memang dibuat untuk dikotori, begitulah kira-kira kasarnya. Walaupun maksud sebenarnya adalah sepatu yang memang sudah biasa dipakai untuk berkotor-kotor ria.
Matanya mencari-cari sosok Kakashi secara tidak sadar. Ketika tidak menemukan pria itu dimana-mana, ia menghembuskan nafas kecewanya dan berjalan keluar dari ruang loker dengan gontai.
"Dimana pria itu?" gumam Sakura bingung.
Sakura memutuskan untuk berjalan menuju ruang guu. Benar saja, ada satu lampu yang masih menyala disana. Ia paham ruangan apa itu; dulu ia sering menerima hukuman dengan membersihkan ruangan tersebut karena datang terlambat.
Ruangan guru sejarah.
Kakinya melangkah perlahan dan mendapati Kakaashi disana sedang berbicara dengan seseorang lewan telepon. Raut pria itu tidak dapat dijelaskan, namun dapat dipastikan bahwa rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu yang sayangnya tidak diketahui oleh Sakura.
Kakashi sepertinya sadar ada yang memperhatikannya walaupun dari jarak jauh. Terbukti, pria itu mengangkat kepalanya dan pandangan mereka bertemu. Sempat ada keraguan di benak Sakura untuk menyapanya atau tidak––namun akhirnya ia lebih memilih untuk menunduk dan menghindari tatapan Kakashi.
Kakashi masih berbicara selama beberapa belas menit dan Sakura dapat melihat geraman marah pria itu. Beberapa saat setelah itu, emosi Kakashi memuncak dan pria itu membanting teleponnya begitu saja. Mata Sakura mengerjap, sedikit rasa takut menjalar di hatinya melihat Kakashi seperti itu.
Pintu ruangan terbuka dan Kakashi dengan wajah kusut berjalan ke arah Sakura. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, pria itu berjalan melewatinya dan Sakura hanya bisa mengikuti tanpa berani bertanya apa yang terjadi di dalam sana.
Belum pernah ia melihat Kakashi semarah ini. Pria itu akan menjadi sangat diam dan bisa meledak kapan saja kalau ia marah, itulah yang dapat disimpulkan Sakura selama tinggal bersamanya. Namun ia tidak menyangka, hanya karena pembicaraan lewat telepon Kakashi bisa menjadi seperti ini.
"Kau bisa pulang sendiri, 'kan?"
Sakura mengangkat kepalanya dan berhenti ketika menyadari Kakashi telah berbalik dan memandangnya dengan pandangan kalut. Gadis itu mengangguk pelan, namun ekspresi bingung terlihat jelas dimatanya.
"Kau akan kemana?" tanya Sakura pelan.
Kakashi menatap Sakura dengan pandangan tajam. "Bukan urusanmu."
Dan setelah berbicara seperti itu, Kakashi langsung berjalan, pergi meninggalkan gadis di belakangnya yang memandangnya dengan tatapan tidak habis pikir. Dengan kesal, Sakura berlari sekuat tenaga ke arah Kakashi.
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berkelahi lagi! Ingat itu!" jerit Sakura marah, lalu segera berbalik dan berlari ke arah halte bus karena ada bus yang sedang berhenti disana untuk mencari penumpang.
Aku tidak habis pikir dengannya. Aku tidak mempunyai kesalahan apapun, namun ia bersikap seperti itu padaku! Dasar pria menyebalkan! Kukira ia sudah cukup dewasa untuk mengontrol emosi, namun ternyata tidak! Lihat saja, kalau perlu aku tidak akan membukakannya pintu! Umpat Sakura dalam hati tanpa berhenti. Tapi pikirannya yang terakhir––tentang tidak membukakan Kakashi pintu––sepertinya tidak pantas karena rumah itu adalah rumah Kakashi.
Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dan Sakura segera membuka pesan tersebut. Ia menggeram pelan karena kesal dan hampir saja ia ingin membanting ponsel tersebut.
Jaga rumah dengan baik. Jangan biarkan siapapun masuk.
Makan dan mandi setelah kau sampai.
Jangan menungguku.
Empat kalimat menyebalkan yang dikirimkan Kakashi sanggup membuatnya menggerutu di dalam hati. Meskipun begitu, mulutnya terus bergerak seiring dengan setiap umpatan yang diucapkannya.
Namun, sebesar apapun rasa kesalnya pada pria tampan itu, tidak bisa dipungkiri ada rasa khawatir yang amat sangat besar dan tersembunyi jauh di dalam relung hatinya. Diam-diam ia mengetuk layar, agar ia dapat mendengar suara Kakashi.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..
Sakura menggigit bibirnya dengan cemas.
Kakashi mematikan ponselnya setelah selesai mengetikkan pesan singkat yang merepotkan itu pada Sakura. Pikirannya yang terpecah-pecah saling melawan satu sama lain, membuatnya kalut hal mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu.
Bagaimana bisa Mei terjatuh dari tangga dan tidak ada seorang pun yang tahu? Gumam Kakashi tidak habis pikir dalam hatinya. Nada bicara Kurenai tadi benar-benar membuatnya panik dan memaksanya untuk langsung pergi menuju rumah Mei tanpa bisa berpikir terlebih dahulu.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas aku sudah memanggil dokter untuk kesini. Pendarahan di kepalanya cukup parah dan aku datang tanpa membawa kendaraan.. jarang sekali ada taksi yang lewat disini.."
Ia sempat memarahi Kurenai karena tidak langsung meneleponnya. Bagaimanapun, Mei adalah temannya semenjak mereka masih remaja. Apapun yang terjadi pada gadis yang sudah dianggapnya adik itu merupakan masalahnya juga. Kalau ia terjatuh, Kakashi juga akan ikut merasakan sakit. Kalau Mei bahagia, Kakashi lebih memilih untuk ikut merasakannya dari jauh saja.
Karena itu Mei sangat penting baginya, dibanding dengan Kurenai dan Asuma.
Sebenarnya ia tidak tega untuk meminta Sakura pulang sendirian, walaupun ia tahu Sakura sudah bisa melakukannya. Ada suatu yang mengganjalnya setiap kali ia tidak bersama gadis itu, entah hal itu baik atau buruk ia tidak tahu.
Namun, Mei lebih penting sekarang.
Mei yang lebih memilih untuk tinggal di pinggiran kota membuatnya harus menempuh waktu selama satu setengah jam. Barulah setelah itu, Kakashi dapat turun dan tanpa basa basi pria berumur dua puluh delapan tahun itu langsung berlari masuk ke dalam rumah berukuran sedang dan bercat pastel di depannya.
Matanya segera mencari-cari sosok Kurenai dan dia menemukan wanita itu tengah berada di dapur. Ketika melihat Kakashi, segera saja Kurenai memeluknya dan menangis disana.
"Sangat parah?" ujar Kakashi terpaku.
Kurenai mengangguk dan menggeleng bergantian, membuat Kakashi bingung harus berkata seperti apa. Ia ingin melihat keadaan Mei, namun Kurenai dan pelukannya membuat pria itu harus berpikir dua kali. Dengan lembut, didorongnya kedua bahu Kurenai agar ia dapat menatap kedua iris wanita di depannya.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Kakashi, pertanyaan yang berbeda.
"Aku... aku tidak tahu, Kashi.." ujar Kurenai, sesenggukan dan tubuhnya tampak terguncang seiring perkatannya. "Baru saja.. aku ingin mengan.. mengantarkan baju pesanannya.. ketika pembantu rumah tangganya ber.. berteriak.."
Kakashi berdecak pelan, berusaha agar Kurenai tidak mendengar decakannya. Bukan itu yang ingin ia dengar dari bibir Kurenai, melainkan pernyataan apakah Mei Terumi baik-baik saja atau tidak.
Kakashi bodoh! Melihat Kurenai yang seperti ini, kau masih bisa berpikir gadis itu baik-baik saja, hah?
"Mei.. Mei seorang pemakai, Kashi.." Suara Kurenai melemah.
Kakashi menautkan alisnya, lalu menatap Kurenai. "Pemakai? Maksudmu...?" ujarnya terputus, lalu tertawa hambar. "Ia memang pernah memakainya, tapi ia bilang padaku kalau ia sudah berhenti memakainya dan aku percaya itu. Tidak mungkin ia kembali memakai lagi, kan?"
"Ia terjatuh karena overdosis pemakaian morfin, dan.. menurut dokter, Mei mengalami kejang otot sebelum ia jatuh. Itu merupakan salah satu dampak morfin, Kashi.." Gumam Kurenai, ia sudah bisa menjadi lebih tenang sekarang. "Dokter bilang padaku, Mei sedang mengalami depresi berat karena ia terus mengigau dan wajahnya terlihat ketakutan. Tidak. Lebih tepatnya, ekspresinya berubah dengan cepat. Dari takut, menjadi senang dan kemudian tertawa tanpa sadar. Efek obat yang dipakainya seperti itu.."
Pria itu masih tidak percaya akan perkataan Kurenai, namun tidak percaya nampaknya bukan jalan terbaik sekarang. Dengan langkah mantap, ia menuntun Kurenai untuk membawanya ke depan kamar Mei dan menatap teman dari remajanya itu dengan tatapan miris.
Kedua matanya terjaga dengan pandangan lurus ke atas. Dokter yang duduk di sampingnya terus memegang pergelangan tangan kirinya, seperti terlihat memastikan berapa kecepatan nadi dari wanita itu. Tangan kanan Mei yang bebas terlihat mengepal dan urat nadinya tampak menonjol.
Kakashi dan Kurenai terus menunggu sampai akhirnya sang dokter bangkit dan Kurenai mengantar dokter tersebut untuk sampai ke depan pintu pagar. Kakashi melangkahkan kakinya dengan perlahan, lalu mengambil tempat dimana dokter tadi duduk untuk memeriksa Mei.
"Mei..?" ujarnya lembut.
Wanita itu tidak menyahut. Pandangannya tetap lurus keatas, sepertinya menghiraukan kehadiran Kakashi. Atau mungkin memang ia tidak bisa merasakan kehadiran pria perak itu? Entahlah.
Kakashi mengulurkan tangannya untuk menggenggam kedua tangan Mei yang terkepal. Kepalan itu sangat kuat––yang sebetulnya hanya ditemukan dari diri Mei kalau gadis itu sedang mengeluarkan jurus karatenya ke arah musuh.
Sebuah senyuman tersungging di bibir Kakashi. Ia berjalan untuk menutup pintu dan tersenyum meyakinkan ke arah Kurenai yang menatapnya dengan pandangan 'apa-yang-akan-kau-lakukan-jangan-macam-macam'-nya.
Pria itu kembali duduk di tempatnya semula, lalu menggenggam tangan kiri Mei.
"Hanya ada aku disini. Berhentilah berpura-pura dan katakan semua padaku."
Kakashi dengan senyumannya yang masih ia pertahankan tetap menatap kedua mata Mei lurus-lurus. Tangannya bergerak untuk menyibak anak rambut Mei yang menutupi kening wanita itu dan kemudian menepuk pipi Mei dengan perlahan.
"Percaya padaku. Aku tidak akan men––"
Belum selesai perkataan Kakashi, sebuah cairan hangat mengalir turun dari kedua iris hijau milik Mei. Senyuman di bibir Kakashi makin terkembang dan ia menarik wanita itu masuk dalam pelukannya.
"Ingat, kau sangat payah kalau bermain peran di depanku. Mungkin kau bisa membodohi dokter tadi dan Kurenai, namun tidak denganku." Ujar Kakashi, membelai rambut karamel gadis di depannya. "Jadi.. kau mau menceritakan apa yang terjadi padaku sehingga aku tidak jadi membencimu karena membahayakan dirimu dengan serbuk keparat itu, 'kan?"
Mei sesenggukan perlahan. "Jangan membenciku, Kashi.."
"INI HARI TERBURUK! AKU BERANI BERSUMPAH!"
Sakura membanting buku pelajarannya ke lantai dan mematahkan pensil yang sedang dipakainya. Sudah jam dua pagi dan Kakashi belum juga pulang! Apa ada hal yang sangat penting yang membuat pria itu sampai tidak sempat untuk tidur di rumahnya sendiri?
Matanya yang tidak bisa terpejam mulai berair. Hidungnya memerah dan tenggorokannya terasa kering––jujur saja ia sangat takut berada sendirian di rumah itu, karena jujur saja banyak foto orang-orang yang tidak di kenalnya dan mereka seperti menatapnya bersamaan di malam hari. Berbeda jika Kakashi ada di sampingnya, setidaknya ia tidak akan merasa sendirian.
Sebelumnya, belajar adalah hal yang sangat ampuh untuk membuatnya mengantuk. Namun, kenapa sekarang sepertinya hal itu sudah tidak berlaku lagi? Matanya sama sekali tidak mau tertutup dan itu sangat menjengkelkan! Ditambah, besok ia masih harus sekolah dan pelajaran dari Nagawa sensei ada di jam pertama!
Memikirkannya saja sudah cukup membuatnya mual dan akibatnya Sakura harus mengeratkan selimut tebal yang membungkusnya.
Ia tidak dapat tidur di kamar. Bagaimanapun, pikiran-pikiran negatif akan selalu datang menyerangnya, meski ia––sejujurnya––memang sangat takut untuk berada di rumah ini sendirian.
"Kakashi.. cepatlah pulang.." gumam Sakura sedih, memeluk kedua kakinya sendiri.
Dengan kasar ia mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Sakura menghela nafas dengan malas, berjalan untuk menghidupkan lampu dapur dan membuka kulkas. Siapa tahu, ada yang bisa menghiburnya di dalam sana.
Senyuman samar tersungging di bibirnya. Sekotak es kirm yang entah sejak kapan ada disana tampak memanggilnya dari dalam kulkas yang bercahaya. Tangannya terulur dan ia segera meraih es krim tersebut dengan harapan bisa menghibur dirinya sendiri.
Rasa dingin menyengat kedua telapak tangannya. Sakura berjalan kembali menuju ruang tengah yang sekarang penuh dengan buku-buku berserakan, lalu duduk di sofa dan menyalakan televisi.
Tidak ada satupun acara televisi yang menghiburnya. Hampir semuanya iklan tentang masakan yang sudah ribuan kali di ulang––membuatnya hanya bisa menguap bosan tanpa tertarik untuk menontotnnya lebih lama dari dua puluh detik.
Es krim lembut yang perlahan mencair ketika menyentuh lidahnya membuat Sakura menjadi sedikit tenang. Gadis itu terus mencari-cari saluran televisi yang menayangkan dorama atau semacamnya––mungkin film? Apa saja yang bisa membuatnya mengantuk dan akhirnya tertidur.
Ia sangat membutuhkan tidur.
"Aaaaah! Jauhkan ia dariku! Shinji––!"
Sakura membelakakkan matanya. Bagaimana bisa Subaru Kotogami mengambil peran di sebuah film horor? Dan kenapa ia baru tahu? Demi Tuhan, Sakura sangat menyukai akting pria tampan itu! Tanpa pikir panjang, Sakura membesarkan volume dan menatap layar televisi dengan serius.
"Jangan membawa dia bersama kita, Aiko! Ia sudah mati––tinggalkan saja dia disana!"
Sebuah cahaya tampak dengan cepat berkilat di luar. Setelah itu, petir menyambar, suaranya masih lembut dibandingkan dengan petir yang ada biasanya.
Sakura menelan es krimnya dengan susah payah. "Ah, yang benar saja.."
Tangannya bergerak untuk mematikan televisi dan ia segera berguling di atas sofa. Ia sudah tidak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya karena dengan cepat semua cahaya padam begitu saja.
Nox.
Gadis itu menghela nafasnya, lalu menarik nafas kembali.
Tangannya terkepal kuat. Dan..
"TERKUTUK KALIAN INSTANSI LISTRIK!"
Jeritan Sakura membahana di seluruh ruangan, menimbulkan gema yang entah kenapa terasa aneh di pendengaran Sakura. Ia dapat merasa rambut di tubuhnya meremang––dan detik kemudian hujan deras mengguyur kotanya.
Sakura memeluk guling yang sudah diambilnya dari kamar beberapa jam lalu dengan sangat erat. Sangat menakutkan jika kau sendirian berada di rumah orang, dalam situasi mati lampu dan hujan deras mengguyur di daerah tersebut. Ditambah lagi, dengan bodohnya ia baru saja menikmati film horor karena ada aktor kesayangannya disana.
Hembusan angin dingin membuatnya harus menggosok tangan satu sama lain dan sedikit rasa hangat timbul karenanya.
Klop.
Tubuhnya mengejang. Sakura membulatkan matanya dan mendekap gulingnya dengan erat.
Bunyi langkah kaki membuatnya semakin waspada. Apa mungkin Kakashi sudah pulang? Kenapa pria itu tidak memanggilnya atau setidaknya bunyi pintu terbuka tidak terdengar?
"Sakura..?"
Gadis itu berusaha menggapai dalam gelap, entah siapa yang memanggilnya. "Kakashi? Kau disana?"
"Ya, kenapa..." ujar pria itu, sanggup untuk membuat Sakura menghembuskan nafas dengan sangat lega. "Kenapa semuanya gelap? Apa kau sengaja mematikan semua lampu?" lanjutnya, berjalan dan sampai di samping Sakura.
Sakura segera memeluk Kakashi, entah bagaimana caranya yang jelas ia merasa ia sudah memeluk Kakashi. Tangannya bergerak untuk memeluk Kakashi dengan erat––dan tanpa bisa dicegah, air matanya mengalir turun.
Kakashi, yang merasa ada sesuatu yang hangat membasahi kemejanya menautkan kedua alis peraknya dengan bingung. Ia mendorong bahu Sakura perlahan dan mencoba menatap gadis itu dalam kegelapan, meskipun pada akhirnya usahanya tersebut sia-sia belaka.
"Baiklah, apa kau mempunyai masalah?" tanya Kakashi bingung.
"Ya, kau-lah masalahnya. Dan kenapa bajumu basah? Kenapa kau tidak memakai payung dari mobil, hah?" tanya Sakura, suaranya berubah drastis menjadi sangat kesal. "Cepat ganti bajumu, jangan sampai kau sakit! Besok kau harus mengajar, 'kan?"
Kakashi berdecak perlahan. "Jawab pertanyaanku dengan benar.."
"Sudahlah, kau harusnya meng––"
Lumos.
Mereka berdua menyesuaikan pandangan dan Sakura segera mendorong Kakashi menjauh. Gadis itu menatap Kakashi yang sedang menatapnya dengan pandangan 'hei-apa-yang-terjadi-denganmu-bodoh'.
"Cepat ganti bajumu!" jerit Sakura, akhirnya mendorong Kakashi setelah sebelumnya gadis itu mengunci pintu rumah dan membereskan buku-bukunya. "Aku tidak mau kau sakit lagi, sensei no baka. Sangat susah untuk mengurusmu, kau tahu?"
Kakashi tersenyum. "Kau harus membiasakan diri. Jadi nanti, kau tidak akan kerepotan lagi karena sudah terbiasa mengurusiku."
Sakura menoleh dengan cepat. "Apa maksudmu?"
Kakashi tidak menjawab. Pria yang berusia sebelas tahun lebih tua darinya itu hanya mengibaskan tangannya dan masuk ke dalam kamarnya, membuat Sakura menghela nafasnya dengan sangat kesal.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar Kakashi kembali terbuka.
"Kau tidak ingin menggantikan aku baju?"
Wajah Sakura memerah sempurna, dan tanpa pikir panjang gadis itu segera melemparkan buku-bukunya pada pintu kamar Kakashi yang dengan gesit menutup tepat pada waktunya.
"DIAM, MASUK DAN GANTI BAJUMU SENDIRI!"
Hanare berjalan tergesa-gesa menuju ruangan direktur, tempat Tatsuya Hatake berada. Di tangannya ada beberapa map yang sepertinya berisi sesuatu yang sangat penting, terlihat dari raut wajah gadis muda itu yang tampak tidak tenang sama sekali.
Gadis itu membuka pintu ruangan dan ia melihat atasannya sedang membaca beberapa berkas lain. Dengan dehaman perlahan, Hanare berjalan mendekat dan meletakkan map-map tersebut di hadapan Tatsuya.
"Keadaan memburuk, presdir. Perkembangan saham di Tokyo memburuk." Ujar Hanare, wajahnya tampak tegang dan serius. "Empat puluh persen saham kita yang ada di perusahaan Mebel Ankostu terancam hangus karena perusahaan tersebut sedang mengalami krisis."
Tatsuya mengangkat kepalanya dengan bingung. "Maksudmu? Aku tidak pernah mendengar ada masalah dengan perusahaan itu. Kenapa tiba-tiba ia langsung mengalami krisis?"
"Maaf, aku tidak mengetahui dengan pasti alasannya," Hanare tampak menyesal. "Tapi kalau presdir memeriksa grafik yang ada di dalam map tersebut, anda bisa melihat ada perubahan ganjil yang terjadi secara mendadak dalam kurun waktu satu minggu ini. Dan.. semuanya berhubungan dengan UCH Corp, secara tidak langsung."
Pria paruh baya itu menatap Hanare dengan pandangan tidak habis pikir. "UCH Corp? Yang benar saja..."
Tatsuya terdiam cukup lama. Pikirannya menelaah beberapa peristiwa yang dapat dikaitkan perusahaan kakaknya, namun hanya peristiwa akhir-akhir ini yang menghubungkan kedua perusahaan tersebut.
Pikirannya langsung tertumbuk pada Kakashi. Beberapa saat lalu, bukankah salah satu putra dari Fugaku Uchiha meminta keponakannya itu untuk bertemu? Apa semua ada hubungannya dengan pertemuan tersebut?
"Hubungi Kakashi. Katakan padanya kalau aku ingin dia ada di hadapanku dalam waktu tiga puluh menit. Tidak ada perlawanan." Ujar Tatsuya tegas, diikuti anggukan patuh Hanare. "Dan katakan juga padanya untuk tidak terlalu berpikir karena situasinya sangat mendesak."
"Aku mengerti, presdir. Permisi." Hanare membungkuk singkat.
Sekertaris muda itu berjalan menuju kubikelnya dan segera melakukan perintah Tatsuya.
"Ya?" ujar suara diseberang sana.
"Selamat siang, Tuan Kakashi?" sapa Hanare, tanpa bisa dicegah sebuah senyuman tersungging di bibirnya. "Anda mendapat panggilan dari Tuan Tatsuya, ia ingin bertemu dan anda diminta untuk datang secepatnya menuju kantor cabang tanpa banyak alasan.."
Terdengar sebuah kekehan dari seberang sana. "Begitu, ya? Terimakasih, Hanare."
"Ah, tunggu!" cegah Hanare, yang tidak mau waktunya bertelepon dengan Kakashi hilang begitu saja. "Maksudku, maaf bersikap lancang, tuan––aku tidak bermaksud kurangajar. Tapi, Tuan Tatsuya berpesan agar kau sampai dalam waktu tiga puluh menit."
"Aku mengerti. Sekali lagi, terimakasih, nona."
Berpuluh-puluh kilometer dari kantor cabang tersebut, Kakashi sedang memberesi meja kerjanya sebagai guru di sekolah tempatnya mengajar. Ia tidak tahu dan sejujurnya tidak peduli––kalau ternyata kalimat terakhirnya pada Hanare sanggup membuat gadis tersebut melonjak girang di kantor.
Beberapa guru tampak menyapa Kakashi yang berjalan keluar dari ruang guru dengan senyum ramah namun bangga. Entah apa maksud senyuman itu, apa mungkin karena masih ada orang muda yang tampan sepertinya, mau menjadi guru di sekolah menengah? Apalagi, mata pelajaran yang diambilnya cukup ekstrem––sejarah.
Matanya mencari-cari sosok Sakura diantara gerombolan siswi di lantai paling atas. Jam istirahat memang yang teramai, semuanya sibuk melepaskan penat dan lelah mereka. Untung saja Kakashi telah menyelesaikan mata pelajaran terakhirnya dan ia bebas untuk pulang sekarang.
Seseorang menyentuh pundaknya. Kakashi menoleh, lalu memasang wajah datarnya ketika melihat Sakura tengah tersenyum ke arahnya.
"Kau akan pulang?" tanya Sakura, mengeluarkan kunci dari sakunya. "Jangan lupa untuk memasak, ya?"
"Tidak, aku masih ada banyak urusan. Jaga rumah dengan baik, mungkin aku akan pulang malam. Jangan memasak terlalu banyak karena aku akan makan di luar." Tolak Kakashi halus, menutup telapak tangan Sakura yang terbuka. "Hati-hati pada orang asing. Banyak penculikan akhir-akhir ini."
Sakura berdecak. "Kau berbicara seakan-akan aku adalah seorang bocah berusia tujuh tahun."
"Kau memang terlihat seperti itu. Sudahlah, aku buru-buru."
Pria itu langsung meninggalkan Sakura tanpa mengucapkan apa-apa. Sakura memandang punggungnya dengan sedih. Bahunya terjatuh begitu saja dan nafasnya terhela dengan keras.
Kakashi tersenyum ketika ia membalikkan tubuhnya dan melihat Sakura yang kembali berjalan berlawanan arah dengannya. Dalam benaknya timbul satu pertanyaan. Ada situasi seburuk apa sampai pamannya memanggilnya untuk kembali ke perusahaan tersebut?
Waktu yang dibutuhkan cukup singkat untuk menuju perusahaan tersebut karena jalanan cukup lengang. Wajar saja, ini masih jam kerja dan hanya segelintir orang yang bebas untuk melakukan apa saja, termasuk dirinya saat ini karena ia sudah selesai mengajar.
Beberapa orang menyapanya dengan ramah dan masih terdengar teriakan kecil dari para karyawan––wanita tentu saja––yang tidak menyangka Kakashi akan datang kembali ke kantor cabang tersebut. Kakashi hanya menanggapinya dengan senyum formal yang biasa ia berikan dahulu, lalu segera berjalan ke arah lift.
Ia bertemu dengan Hanare di dalam lift. Wanita itu terlihat sangat bersyukur dan tanpa babibu lagi, ia menjabat tangan Kakashi. Banyak perubahan yang Kakashi dapatkan dari wanita itu. Rok mini, baju berpotongan rendah dan lipstik membara sudah hilang dari dirinya. Sekarang gadis itu menjadi jauh lebih sederhana, celana panjang pun tampak serasi dengan tubuhnya yang memang cukup tinggi. Kakashi mengakui kalau wanita itu jauh lebih cantik sekarang.
"Aku hampir tidak mengenalimu. Penampilan terbaikmu yang pernah kulihat." Ujar Kakashi, tersenyum ke arah Hanare. "Kenapa selama ini kau tidak berpakaian seperti ini saja?"
Hanare tersenyum. "Tuan Tatsuya cukup keras padaku, jadi aku tidak mau mengecewakannya." Gumam Hanare, lalu menatap Kakashi. "Situasi sangat kacau, tuan. Aku bahkan tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Padahal, aku yakin sekali kalau aku selalu mengamati perkembangan saham setiap harinya."
Kakashi mengangkat alisnya. "Memangnya kenapa..?"
Perkataannya tidak dapat dilanjutkan karena lift sudah terbuka dan mereka berjalan beriringan menuju raungan direktur. Beberapa gadis tampak menatap mereka dengan iri dan terkejut––tidak menyangka Kakashi akan datang ke perusahaan tersebut lagi.
"Kakashi. Tuhan memberkati." Ujar Tatsuya begitu melihat keponakan mudanya yang tampan itu tersenyum ke arahnya. "Aku sangat bingung menghadapi situasi sekarang. Aku benar-benar––"
"Tarik nafas, paman." Kakashi tersenyum geli. "Siapa yang terlibat?"
"UCH Corporation."
Kakashi mengerutkan keningnya. "Pertanyaanku disini adalah, siapa yang menyebabkan hal tersebut. Paman yakin, Uchiha yang menyebabkannya?"
"Hanare telah memberiku grafik perkembangan perusahaan, dan memang semuanya berawal sekitar beberapa hari sampai minggu yang lalu." Ujar Tatsuya, menyerahkan map yang tadi di berikan Hanare padanya. "Tadinya aku juga tidak percaya, Kakashi, tapi.."
Tatsuya tidak melanjutkannya karena melihat keponaknnya yang kini tengah menatap berkas tersebut dengan pandangan mata serius. Dengan sekali hentak, map tersebut sudah terlempar ke sembarang arah dan Kakashi terlihat membanting dirinya ke sofa di ruangan tersebut.
"Ia membawa masalah pribadi untuk urusan pekerjaan. Benar-benar wadam."
Tatsuya belum pernah melihat maupun mendengar keponakannya ini mengumpat. Walaupun suara Kakashi cukup lirih, namun Tatsuya mendengar umpatan wadam dengan sangat jelas.
"Kau.. mempunyai masalah dengan Uchiha?"
Kakashi mengangkat kepalanya dan menatap sang paman. Pandangannya terlihat cukup kesal, karena ia tidak menyangka kalau Sasuke akan bertindak sampai sejauh ini. Ia kira, anak laki-laki itu tidak akan serius..
Pria perak itu menghela nafasnya. "Biar kujelaskan, paman.."
hai! aku update cepet banget ya
hahaha, ini semua karena monogatari udah selesai di ketik! jadi tinggal publish publish aja.
makasih banget buat kalian yang udah follow, fav, dan review cerita amatir ini. siapapun kalian, aku minta maaf karena gak bisa balesin satu satu, dan siapapun kalian, percaya deh. aku sayang kalian. kalian itu semangat buat aku.
oke deh, itu aja. dadah, tungguin monogatari 8, ya! ^^
