HunSoo Version
Happy reading!
8 months later.
Seoul, South Korea.
Aku sampai di Korea pagi ini. Sekitar pukul 3 pagi Dad menghubungiku, ia berkata bahwa Luhan masuk rumah sakit untuk melahirkan. Setelah mengakhiri percakapan, aku bergegas memesan tiket pesawat.
And here I am.
Aku duduk di koridor ruang operasi. Luhan harus melahirkan secara caesar karena posisi bayi yang sungsang, sehingga tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Bisa ku lihat Sehun yang benar - benar kacau. Untuk pertama kalinya aku melihat ekspresi Sehun yang begitu cemas, panik, sedih bercampur jadi satu. Sedari tadi Sehun terus berjalan mondar - mandir sembari menatap pintu operasi.
Aku datang kemari bersama Kai, sedangkan Chanyeol sedang dalam perjalanan dari Roma. Disana ada Dad, ibu, orang tua Sehun, aku, Kai dan Sehun. Suasana koridor dipenuhi rasa khawatir yang kentara. Sedari tadi aku terus berdoa untuk keselamatan Luhan dan anaknya. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk. Aku tidak mau Sehun bersedih jika terjadi sesuatu pada Luhan, bisa kulihat Sehun teramat sangat mencintai Luhan. Aku tidak mau melihat orang yang ku cintai sedih.
Oeeekkk.. Oeekkkk
Bisa ku dengar semua orang yang berada di koridor bernafas lega. Ekspresi Sehun pun tak setegang tadi.
Cklek.
Pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar diikuti perawat yang membawa bayi Luhan. Sehun bergegas menuju sang dokter.
"selamat tuan Sehun, istri anda melahirkan seorang putra yang tampan tanpa kekurangan sesuatu apapun."
Bisa kulihat sebuah senyum simpul menghiasi wajah Sehun. Untuk pertama kalinya aku melihat senyum Sehun.
"DOKTER!"
Suara perawat yang berasal dari ruang operasi membuat semua orang terkejut. Dokter itu bergegas memasuki ruang operasi. Suasana menjadi panik karena banyak perawat berbondong - bondong memasuki ruang operasi dengan membawa berbagai alat.
Tuhan.. Apa yang terjadi pada Luhan?
Tak berapa lama, dokter keluar ruang operasi. Ia menghampiri Sehun dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"tuan Sehun, nyonya Luhan ingin bertemu dengan anda. Bersama Nona Kyungsoo. Itu pesan nyonya Luhan."
Aku menatap dokter itu tak percaya. Kenapa Luhan ingin bertemu denganku?
Aku hanya mengangguk saat Sehun mengisyaratkan agar aku ikut masuk bersama dengannya.
Disana Luhan terbaring dengan berbagai alat medis yang tak ku ketahui namanya tertempel di hampir seluruh tubuhnya. Sehun langsung berlari menghampiri Luhan dengan raut wajah sedih.
"chagiya.. Bagaimana perasaanmu?"
Aku bisa melihat Sehun mengenggam erat tangan Luhan seakan Luhan akan menghilang jika ia melepasnya.
Dengan lemah, Luhan membelai kepala Sehun, "gwaenchanayo.. Jangan khawatir ne.. Sehun -ah apa kau sudah bertemu dengan putra kita? Bukankah dia benar - benar tampan?"
Sehun mengangguk, namja itu tak bisa menahan tangis.
"ne.. Dia benar - benar tampan. Mata nya yang mirip dengan matamu membuatnya semakin menggemaskan. Cepatlah sembuh supaya kita bisa mengurusnya berdua."
Luhan tersenyum kecil, lalu ia menggeleng, "ani.. Aku tak bisa Sehun. Aku tidak yakin bisa mengurus dia dan terus berada disampingmu."
"yak! Apa yang kau katakan eoh?"
Saat Luhan hendak menjawab Sehun, tiba - tiba Luhan kesakitan. Sehun dengan panik memanggil dokter. Tiba - tiba saja Luhan menggenggam tanganku.
"kyu-kyungsoo.. To-tolong jaga a-nakku. A-aku tidak ma-u dia di sentuh o-rang lain selain ke-luarga kita. Maaf-kan a-ku yang selalu berisi-kap tidak ba-ik pa-damu selama i-ni."
Pegangan Luhan melemas saat dokter datang. Aku masih terdiam, berusaha mencerna perkataan Luhan tadi. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Tiiiiiitttt~
Bunyi monitor jantung membuatku tersadar. Aku menatap Luhan yang terbaring lemas di ranjang. Aku mengalihkan pandangan kearah Sehun. Namja itu membeku, namja itu terdiam seribu bahasa. Ia menatap kosong ke arah Luhan yang terbaring lemas.
"jwesonghamnida tuan, Nyonya Luhan telah meninggal dunia. Sebelumnya saya ingin mengatakan sesuatu tuan, sebenarnya nyonya Luhan memiliki kandungan lemah. Seharusnya ia tak bisa mengandung hingga sejauh ini karena akan memengaruhi kondisi tubuhnya. Tapi nyonya Luhan memaksa ingin mempertahankan bayinya. Saya sudah menyarankan agar nyonya Luhan menggugurkan kandungannya saat masih berumur 3 bulan, namun nyonya Luhan menolak."
Sehun menghampiri ranjang Luhan. Ia berlutut sembari menggenggam tangan Luhan.
" chagiya.. Kenapa kau tak mengatakannya padaku? Kenapa kau terus mempertahankan kehamilanmu disaat kondisi tubuhmu yang tak mendukung? Mianhae.. Aku tidak memperhatikanmu, bahkan hal sensitif seperti ini aku tak menyadari nya."
Untuk pertama kalinya aku melihat Sehun menangis. Bisa kurasakan Sehun benar - benar terluka, ia terpukul atas kepergian Luhan. Aku hanya bisa diam, memandang Sehun yang menangis tersedu.
"jwesonghamnida tuan, kita harus segera mengkremasi jenazah nyonya Luhan."
Sehun beranjak, aku sedikit tersentak melihat perubahan raut wajah Sehun. Namja itu menunjukkan raut wajah dingin dengan pandangan mata menusuk. Dia beranjak keluar ruang operasi diikuti diriku.
" Sehun, apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Luhan?" pertanyaan ibu yang pertama menyambut kami saat keluar ruangan.
"Luhan telah pergi eommonim, dia tak bisa diselamatkan."
Sehun lalu duduk di sudut ruangan. Ia masih mempertahankan ekspresi dinginnya. Pandangan mata kosong itu memancarkan rasa kehilangan yang kentara.
Seketika ruangan itu dihiasi suara tangis ibu, dad dan orang tua Sehun. Aku menatap Kai yang juga menatapku saat itu. Ia berjalan menghampiriku lalu memeluk tubuhku erat.
"apa kau baik - baik saja?"
Aku hanya mengangguk dalam pelukan Kai. Aku mengalami shock. Bagaimana anak Luhan nanti? Bagaimana keadaan Sehun setelah ini?
-o0o-
Di pemakaman Luhan, Sehun tetap bertahan dengan ekspresi dinginnya. Ia terus menatap peristirahatan terakhir Luhan. Memberi banyak bunga mawar putih kesukaan Luhan di atas gundukan tanah itu. Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman. Aku masih berdiri disana, hanya ada aku dan Sehun. Aku terus menatap Sehun yang enggan beranjak dari makam Luhan. Aku menghampiri Sehun, aku tak mau Sehun berlarut dalam kesedihannya.
"we have to go. Luhan tidak akan senang melihatmu sedih seperti ini. Kau harus merelakan dia pergi, biarkan dia bahagia di tempat barunya. Kau harus kuat Sehun,"
Aku menepuk pundaknya. Sehun meletakkan setangkai mawar putih terakhir di makam Luhan, lalu ia beranjak pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
Untuk terakhir kalinya aku menatap makam Luhan," eonnie.. Annyeong~"
Walaupun kami tak pernah akur, aku tak pernah berpikir Luhan akan pergi secepat ini. Tak bisa ku bayangkan bagaimana hancurnya perasaan Sehun dan juga ibu. Mereka akan mengalami masa sulit atas kepergian Luhan.
Aku merebahkan tubuhku. Ini benar - benar hari yang menyedihkan. Ibu yang tak berhenti menangis sembari memeluk foto Luhan dan Sehun yang terus diam seperti orang linglung. Sehun mempertahankan ekspresi dinginnya dan terus diam.
Sulit untukku menebak apa yang sekarang ini Sehun rasakan. Yang jelas kehilangan orang yang kau cintai bukanlah hal yang mudah. Acara berkabung baru saja selesai, saat tamu terakhir meninggalkan rumah duka, aku langsung memasuki kamarku. Aku tak bisa bertahan dalam keadaan ini. Melihat Sehun yang berubah membuatku sakit, Sehun menjadi sosok yang dingin. Dan yang membuatku terkejut adalah Sehun yang menolak berdekatan dengan anaknya sendiri. Bahkan Sehun enggan dan bahkan menghindar saat orang tuanya meminta Sehun untuk menggendong putranya.
Apa Sehun trauma? Apa Sehun membenci putranya sendiri karena Luhan memilih mempertahankan bayinya?
Aku berjalan menuju lantai bawah. Bisa kulihat orang tua Sehun bersiap untuk pulang, tapi aku tak melihat Sehun diantara mereka. Aku membungkuk saat orang tua Sehun berpamitan. Bisa kulihat ibu masih menangis tersedu di pelukan dad. Aku bisa merasakan bagaimana kehilangan orang yang berarti dalam hidup kita. Daddy berusaha menenangkan ibu yang masih tersedu.
"Kyungsoo, dad akan membawa ibu ke kamar. Kau carilah Sehun,"
Aku mengangguk lalu berjalan mencari Sehun. Menyisir setiap ruang didalam rumah, lalu aku menyadari sesuatu. Aku lalu berjalan cepat menuju taman.
Bingo. He's here.
Dia hanya diam sembari menatap kosong kolam ikan didepannya. Aku perlahan berjalan mendekatinya.
"kau harus berusaha ikhlas Sehun. Kau harus bisa melanjutkan hidupmu demi anakmu. Dia masih membutuhkanmu, dia masih terlalu kecil menanggung semua kekesalanmu. Berhenti beranggapan bahwa dialah penyebab kematian Luhan."
Sehun menatapku tajam, "kau tak tahu apapun. Kau tak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang teramat sangat beratı dalam hidupmu. Dan lagi.. Gara - gara mempertahankan anak itu, Luhan pergi. Jadi dialah penyebab kematian Luhan dan patut disalahkan!"
Aku mendengus, "ohh.. Really? Apa kau gila menyalahkan putramu sendiri? Heol.. Kukira kau adalah Sehun yang pandai dalam menyikapi setiap masalah, ternyata aku salah. Kau kekanakan, menyalahkan bayi tak berdosa atas kematian istrimu. Dan lagi.. Kau bilang aku tak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang berharga dalam hidup? Apa kau lupa? Aku kehilangan ibuku saat aku berumur sama seperti anakmu. Aku kehilangan kasih sayang dad, kehilangan semua perhatian Dad. Aku selalu menjadi pilihan kedua setelah Luhan hadir dalam kehidupan kami."
Kyungsoo terdiam sejenak," Aku menjadi orang asing di rumah, apalagi dengan semua prestasi yang Luhan capai. Aku seperti tak dianggap. Aku marah, kecewa, sedih dan juga iri. Dulu sebelum kami menjadi keluarga, ibu dan Luhan selalu bersikap baik padaku. Semua khayalanku memiliki keluarga harmonis akan terwujud. Namun sayang, mereka berubah saat kami resmi menjadi keluarga. Inilah alasan kenapa kau tak pernah melihat aku dan Luhan akur. Aku berdiri sendirian saat dad hanya memperdulikan Luhan. Sekarang, siapa yang tidak tahu rasanya ditinggalkan? "
Sehun memandangku tak percaya,"lalu aku percaya akan semua omong kosongmu itu? Luhan tidak mungkin seperti itu. Berhenti membenci dan menuduh Luhan melakukan hal - hal buruk padamu."
"itu terserah padamu untuk percaya atau tidak padaku. Aku hanya menceritakan hal yang sebenarnya. Kau bisa melihat perlakuan ibu padaku suatu saat nanti, yang jelas berhenti membenci anakmu sendiri. Dia tidak tahu apa - apa. Dad menyuruhmu masuk, istirahatlah."
Aku meninggalkan Sehun yang masih terdiam. Aku hanya bisa menghela napas, akan sulit membuat Sehun bangkit dari rasa sedih. Akan sulit membuat Sehun tak membenci anaknya sendiri, karena hatinya telah tertutup rasa benci.
Hae..Long time no see guys, sorry for long hiatus. Emg sih, aslinya gue udh rada males maen di ffn, soalnya kebanyakan udh pada pindah lapak ke Wattpad. But.. Gue pen selesain story gue dimari. Buat yg FALL keknya ga bisa gue lanjut. I'm so sorry.. Gue buntu bgt mau lanjutin FALL macem mana..Gypsophila30
