p.s; Terimakasih untuk yang sudah me-review dan memberikan sarannya. Author sangat menghargai review kalian untuk kemajuan FF ini.

Maaf kalo tulisannya ada yang salah, ga make huruf capital dan lain – lain. Soalnya keyboard author lagi error, shiftnya ga bisa difungsiin otomatis cuma bisa ngandalin caps lock jadinya author rada males kalo mau make capital -_-v oia satu lagi, chap ini ada ''sedikit'' adegan yang ber-rating M'-'v udah segitu aja curcolnya langsung baca lanjutannya aja deh =)

.

.

Expectation

.

.

Seorang yeoja berlari memasuki rumahnya dengan terburu - buru. Air mata nampak masih setia mengalir di kedua pipi mulus sang yeoja. Panggilan kedua orang tuanya dihiraukan oleh yeoja itu. Di pikirannya saat ini adalah segera masuk ke kamar dan menangis sepuas - puasnya.

BLAM

Baekhyun membanting pintunya dengan kasar. Tubuhnya merosot dibalik pintu itu. Hatinya benar - benar sakit. Bagaimana bisa kisah cintanya menjadi serumit ini. Kisah cinta yang awalnya ia pikir akan berakhir dengan ''happy ending'' pada kenyataannya harus berakhir seperti ini.

''Hiks. . .'' isakan lolos dari bibir mungil merah muda itu. Baekhyun menelungkupkan wajahnya yang nampak memerah karena terus menangis di kedua lututnya. Isakan sesekali masih terdengar kedua bibir mungil miliknya.

Menghapus air matanya kasar, Baekhyun mengambil smartphone yang ia letakan di sakunya. Menekan digit - digit angka yang telah ia hafal di luar kepala. Mencoba menelpon seseorang yang mungkin bisa menenangkannya. Ya, mungkin.

''yeoboseyo... K- Kris hiks...'' ucap baekhyun terbata dan masih diiringi dengan isakannya.

.

.

Kris sedang mengelilingi sebuah supermarket untuk membeli kebutuhan bulanannya. Setelah kembali dari China tentunya ia tinggal sendirian di Korea oleh karena itu semua kebutuhannya dia sendiri yang mengurusnya. Kedua orang tuanya hanya membiayainya saja.

Kris yang hendak mengambil sekotak susu menghentikan gerakan tangannya saat merasakan getaran dari smartphone yang ia letakan di saku celananya untuk.

Beralih mengambil smartphonenya, Kris nampak sedikit membulatkan matanya saat melihat tulisan yang ada di layar benda berbentuk persegi panjang itu.

Baekhyun's calling . . .

''Untuk apa Baekhyun menelponku?'' ucap Kris dalam benaknya. Sedikit perasaan bingung karena, tak biasanya Baekhyun mau membuang pulsanya untuk masalah yang tidak penting.

Mengabaikan semua pertanyaan yang ada di pikirannya, Kris beralih menekan tombol hijau yang ada di handphonenya.

''yeoboseyo... K- kris hiks...''

DEG!

Suara yang pertama kali terdengar di telinganya saat mengangkat panggilan tersebut cukup membuat sesuatu di dalam rongga dada milik Wu YiFan berdenyut sakit.

Pasti karena Park chanyeol lagi

Benaknya dalam hati. Ia sudah bisa menebak alasan mengapa Baekhyun menangis. Siapa lagi kalau bukan namja brengsek itu.

''Hey Baekkie. Kau kenapa? Apa namja brengsek itu menyakitimu lagi?''

''…...'' hening, tidak ada jawaban. Baekhyun masih sibuk mengatur isakannya agar bisa berhenti.

Kris semakin khawatir saat tak ada respon dari sebrang sana.

''Baekhyun-a? kau masih disana?'' tersirat nada kekhawatiran dari pertanyaan Kris barusan.

Baekhyun yang sudah berhasil menghentikan isakannya. Mulai membuka kedua belah bibir miliknya.

''Ne Kris, aku masih disini'' dan kalimat itu sedikit membuat Kris merasa lega.

''Jadi, ada perlu apa kau menelponku? Dan…. Mengapa kau menangis tadi?'' ungkap Kris setelah terjadi keheningan beberapa saat.

''C-chanyeol…. Hiks….''

Lagi, air mata kembali keluar dari kedua mata milik yeoja cantik itu saat menyebut nama ''Chanyeol''. Oh sepertinya nama itu benar – benar membawa dampak buruk bagi yeoja ini.

''Uljima Baekki-ah. Sebaiknya nanti sore kita bertemu di taman dengan rumahmu. Dan kau bisa menceritakan semuanya. Sekarang kau istirahat saja. Tenangkan pikiranmu''

Baekhyun hanya menganggukan kedua kepalanya saat mendengar ucapan Kris. Tentu saja itu tak dapat dilihat oleh sang namja berambut pirang.

Tak ada suara yang terdengar lagi. Kris-pun segera memutuskan sambungan antara keduanya.

''sebegitu berartinya kah Chanyeol bagimu Baekki?''

Tatapan Kris berubah menjadi sendu saat mengucapkan pertanyaan itu entah pada siapa.

.

.

Baekhyun beranjak dari posisinya semula setelah –untuk kedua kalinya- mencoba menghentikan isakannya. Ia beranjak menuju cermin yang ada di dalam kamarnya. Disana ia dapat melihat pantulan dirinya disana. Sangat berantakan mungkin itu yang terlintas dibenak yeoja ini saat melihat pantulan dirinya.

Mata sipitnya yang nampak membengkak, wajahnya yang nampak memerah serta baju seragamnya yang basah.

''sudah berapa kali aku nampak seperti orang frustasi karena kau, hm? Aku… aku bahkan tidak tau sudah berapa liter air mata yang keluar dari mataku hanya untuk menangisimu, HaHa.''

Ucap Baekhyun –lebih tepatnya meracau- entahpada siapa.

''aku, aku tidak tau, kenapa aku bisa begitu terpesona pada sosokmu… Aku…''

Lagi dan lagi, setetes air mata kembali meluncur dari mata yang nampak membengkak itu.

''hiks… aku ingin membuatmu tersiksa sepertiku.'' Menyeka sejenak air matanya sebelum kembali membuka kedua bibirnya.

''tapi, kenapa? Kenapa malah aku yang semakin tersiksa dengan keadaan ini? Hiks, kenapa!?''

Tubuh itu mulai merosot, kedua kakinya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Tenaganya seolah terkuras habis entah kemana.

''aku, aku mencintaimu Chanyeol. Sangat… hiks…''

.

Seorang namja jangkung dengan rambut hitam kelam miliknya sedang duduk di balkon kamarnya.

Pandangannya kosong, entah apa yang sedang namja itu pikirkan.

Namja itu –Park Chanyeol- sejak 2 jam lalu sudah berada disana. Meskipun dinginnya udara di malam hari menusuk kulitnya yang hanya terbalut kaus v-neck berlengan pendek.

Mengusap wajah tampan miliknya, Chanyeol menghembuskan nafasnya berat berusaha menghilangkan semua perasaan sesak yang menghinggapi hatinya sejak ia bertemu dengan Baekhyun.

''Argh! Sebenarnya ada apa denganku?'' ucap Chanyeol sambil menjambak rambutnya pelan.

''hhh... sebaiknya aku menemui Jessica.'' Ucap Chanyeol dan beranjak dari tempat duduknya.

.

.

.

Chanyeol kini berada di depan pintu apartement milik Jessica. Ia hendak memasukan password yang telah ia hafal di luar kepala sampai suara aneh dari dalam membuatnya menghentikan gerakan tangannya sejenak.

''Ahhh… hah… op-oppah~ nghh~''

DEG

''Itu… bukankah itu suara Jessica?'' Tanya Chanyeol dalam hati.

''Hah~ opp-ah. Terus op-pah ah! DISANA! Engh''

Chanyeol mengepalkan tangannya. Mengambil smartphone miliknya, Chanyeol mengetikkan pesan untuk yeoja yang kini tengah mendesah di dalam sana.

To : Love jsj

Kurasa kita harus putus.

Chanyeol kembali memasukan smartphonenya ke dalam saku celananya setelah mengirimkan pesan tersebut dan melangkahkan kakinya, pergi dari tempat itu dengan perasaan kesal.

.

.

BRAK !

Terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras. Chanyeol mengepalkan tangannya berusaha meluapkan segala emosinya.

''ARGH!'' menjatuhkan semua benda yang berada di meja tepat disampingnya.

Tubuhnya merosot bersamaan dengan air mata yang keluar dari kedua bola matanya.

Ya. Seorang Park Chanyeol menangis.

Ia tidak menyangka, bahwa orang yang dicintainya melebihi apapun di dunia ini, hingga membuat seorang yeoja dengan eye smilenya tersakiti.

Sekilas pandangan Chanyeol terjatuh pada sebuah photo,

Photo dimana seorang yeoja dengan rambut hitam kelam miliknya tengah tersenyum dengan manisnya. Gigi – gigi kelincinya yang ia tunjukan menambahkan kesan imut pada yeoja itu. chanyeol tersenyum melihat foto itu. entah kenapa ia masih menyimpan foto Baekhyun yang notabennya adalah mantan pacarnya.

Kembali mengingat masa – masanya bersama Baekhyun. Dari awal ketika ia bertemu yeoja itu, mata sipitnya, bibir pink miliknya, rambut hitam kelam yang tergerai indah dan kulit seputih susu miliknya. Jangan lupakan gigi kelincinya yang nampak menunjukan dirinya ketika yeoja itu tersenyum.

Bukankah penyesalan memang selalu datang terlambat?

Dan sekarang itulah yang dirasakan Chanyeol.

''maaf.. maafkan aku Baekhyun. Maaf''' ucap Chanyeol yang jelas tak akan didengar oleh yeoja itu.

.

Dilain tempat seorang yeoja dengan rambut pirang nampak menggeliatkan tubuh polosnya yang hanya dibalut sebuah selimut tebal.

Jessica nampak mengerjap – ngerjapkan matanya. Merasa terusik dengan sinar matahari yang mulai masuk melalui celah ventilasi udara.

Merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam tubuhnya yeoja itu tersenyum sekilas, sebelum menggoyangkan lengan namja yang berada disampingnya.

''Oppa-ya! Irreona~'' ucapnya sembari menggoyangkan lengan namja itu. merasakan ada guncangan di lengannya namja itu mulai mengerjapkan matanya.

''waeyo chagi?'' tanya namja.

''keluarkan itu mu.'' Pipi Jessica sedikit merona saat mengucapkan kalimat tersebut.

''itu apa chagi?'' tanya namja itu sambil menyeringai.

''Aish. Aku tau kau mengerti apa yang ku maksud oppa! Sekarang cepat keluarkan dan pergi mandi.'' Ucap Jessica dengan kesal saat namja itu berpura – pura tak mengerti apa yang ia maksud.

''hahaha. Baiklah chagi.''

Plop

Terdengar bunyi genital yang terpisahkan, Jessica sedikit meringis menahan sakit yang terasa di bagian bawahnya.

Setelah itu namja tadi segera memasuki kamar mandi yang ada disana.

Jessica mengambil handphone-nya yang terletak di nakas tepat disebelah ranjangnya.

Melihat ada satu pesan masuk dari ''kekasihnya yang lian''.

Mata yeoja itu membulat ketika membaca pesan dari Chanyeol –sang kekasih. Dan sesaat kemudian isakan mulai terdengar dari kedua bibir yeoja itu.

.

TBC