Summary : Byakuya datang mengunjungi Rukia. Apakah yang akan terjadi? Bagaimana dengan Senna? Mind to R&R ?
Disclaimer : Always Kubo Taito-sensei. Tsubasa wo kudasai milik Hikasa Yoko dan Toyosaki Aki
Warning : Gaje, AU, Typo, OOC, OC, abal-abal
A/N : Cara Rukia berbicara dengan Byakuya akan Ai buat sopan. Jadi jangan aneh kalau Rukia menyebut dirinya "saya".
Previous Chapter
Hal terakhir yang ingin dilihatnya saat ini adalah mobil kakaknya, Kuchiki Byakuya. Karena dengan keberadaan mobil kakaknya itu, berarti sudah pasti pemilik mobilnya pun ada. Dan sekarang, mobil itu ada di depan rumah Rukia, terparkir dengan posisi yang tepat di tempat parkir.
Jantung Rukia berdetak kencang saat mengetahui kalau kakaknya ini datang berkunjung kerumahnya.
Ia segera keluar dari mobilnya dan memasuki rumah mewahnya itu. Dibukanya pintu depan, dan mendapatkan sambutan dari beberapa pelayan yang bekerja disana. Tanpa menunggu lama-lama, ia berjalan menuju ruang tamu dan akhirnya ia melihat sosok yang tidak terbayangkan olehnya akan berada dirumahnya.
Kuchiki Byakuya sedang duduk di sofa utama sambil memegang cangkir kopi dengan gaya yang sangat elegan.
Didepannya duduk para Kurosaki's serta Yoruichi dan Kisuke. Terlihat sekali kalau para Kurosaki's itu sangat gugup karena bertemu dengan seorang pebisnis yang teramat sangat terkenal dan kaya raya di Tokyo, bahkan di Jepang.
Setelah meminum sedikit kopinya, Byakuya mengalihkan perhatiannya kepada sosok adiknya yang berada tidak jauh darinya.
"Kau sudah pulang, Rukia?"
"Nii-sama?"
Chapter 7 : Senna's Flirtation
"Nii-sama?" hanya itu saja yang bisa keluar dari bibir Rukia. Ditatapnya sosok pria dewasa yang berdiri dengan tegapnya dan penuh wibawa. Charisma yang luar biasa sangat terlihat dari ekspresi wajahnya yang amat tenang.
"Seperti itukah sikap seorang Kuchiki? Diam dengan ekspresi yang menyedihkan seperti itu?" tegur Byakuya. Ia tidak suka dengan sikap Rukia yang sepertinya sangat terkejut dengan kehadirannya. Seorang Kuchiki tidak akan pernah memperlihatkan ekspresi terkejut seperti itu.
"Ah, sumimasen, Nii-sama. Saya hanya tidak menyangka kalau Nii-sama akan datang. Bukankah Nii-sama sedang sibuk dengan proyek pekerjaan Nii-sama yang sekarang?"
"Aku datang hanya untuk memeriksa keadaanmu. Sudah cukup lama kita tidak bertemu, jadi aku ingin memastikan kalau kau baik-baik saja."
"Arigatou Gozaimasu, Nii-sama. Rukia baik-baik saja kok." Sahut Rukia sambil membungkukkan badannya.
"Baguslah kalau begitu. Lalu…siapa mereka?" tanya Byakuya sambil melirik para Kurosaki dari sudut matanya.
"Oh, Rukia sampai lupa. Kurosaki-san, perkenalkan, beliau adalah kakak saya, Kuchiki Byakuya. Nii-sama, mereka adalah teman-teman Rukia. Yang pria itu adalah Kurosaki Isshin-san, lalu Istrinya Kurosaki Masaki-san. Putranya Kurosaki Ichigo-kun, dan kedua putrid kembarnya, yang berambut hitam adalah Kurosaki Karin-chan dan yang berambut cokelat muda adalah Kurosaki Yuzu-chan." Jelas Rukia memperkenalkan para Kurosaki.
"Konbanwa, Kuchiki-san. Saya Kurosaki Isshin. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda." Sapa Isshin sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Byakuya.
"Konbanwa, Kurosaki-san. Saya juga senang bisa bertemu dengan anda dan sekeluarga."
Tiba-tiba saja Kisuke dan Yoruichi muncul dari belakang Byakuya, mengejutkan semua orang yang ada diruang tamu.
"Yooo, Byakuya-boo! Ohisashiburi desu ne!" seru Yoruichi sambil memeluk leher Byakuya.
"Ohohoho apa kabarmu, Byakuya-san?" Kisuke masih dengan senyum lebarnya menyapa Byakuya dan mengipas-ngipaskan kipas bututnya *plakk*
"Lepaskan." Byakuya memberikan deathglarenya yang sangat mematikan kepada Yoruichi.
"Hahaha! Kau tetap tidak berubah, ya! Masih saja dingin!" kata Yoruichi.
Para Kurosaki hanya bisa melihat pemandangan aneh dari reunian ketiga orang itu.
"Apa mereka berdua tidak mengenal yang namanya takut?" itulah yang ada dipikiran mereka.
Beberapa jam sudah berlalu sejak kehadiran Byakuya. Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya penghuni mansion milik Rukia masuk kea lam mimpi. Kecuali Rukia.
Ia masih teringat dengan pertanyaan kakak iparnya.
~Flashback~
Kuchiki bersaudara, Kisuke, Yoruichi dan para Kurosaki sedang berkumpul di ruang tamu. Walaupun Byakuya bukan orang yang banyak bicara, tapi ia masih memiliki rasa hormat kepada tamu. Ia menemani Rukia mengobrol dengan tamu-tamunya.
"Ne, Kuchiki-san. Selama ini anda sudah pergi berbisnis kemana saja?" tanya Isshin.
"Aku sudah pergi ke beberapa Negara yang memiliki cabang Kuchiki Corp, seperti Amerika, Inggirs, Italy, China, Australia, Perancis, Spanyol dan Indonesia *?*"
"Wow…kalau begitu kemampuan bahasa asing anda pasti sangat hebat." Puji Masaki.
"Tidak juga. Yang terpenting adalah bahasa Inggris. Asalkan bisa menguasai bahasa Inggris, Negara manapun tidak jadi masalah."
"Benar juga, ya. Bahasa inggris kan bahasa internasional." Seru Isshin.
Yang bisa mengobrol dengan Byakuya hanya Rukia, Kisuke, Yoruichi, Isshin dan Masaki. Ichigo dan kedua adiknya tidak bicara apapun, karena memang tidak tahu apa yang harus mereka katakana. Mereka bertiga merasa terintimidasi dengan sikap Byakuya. Terksean seperti sedang dibully.
"Rukia."
"Hai, Nii-sama?"
"Apa kau sudah lihat berita di televisi?"
"Berita tentang apa?"
"Tentang penyelidikan di Rumah Sakit Karakura."
Dalam sekejap Rukia, Kisuke dan Yoruichi langsung terdiam. Topic tentang berita itu adalah hal terakhir yang ingin Rukia bicarakan dengan kakakknya.
"Tentu saja sudah. Berita itu kan sangat heboh." Jawab Rukia dengan senyum palsunya.
"Kau tidak ada hubungannya dengan penyelidikan itu, kan?" sambung Byakuya.
"Ap—apa maksud Nii-sama?"
"Kau bukan orang yang meminta agar dilakukan penyelidikan di rumah sakit itu, kan?"
Jantung Rukia berdegup kencang. Ia merasa Byakuya sudah mengetahui sebagian dari rahasianya. Walaupun baru sebagian, tapi tidak menutup kemungkinan kalau Byakuya sudah tahu satu pekerjaan Rukia yang lain.
"Mana mungkin. Memangnya saya ini siapa, sampai bisa meminta pihak kepolisian mengadakan penyelidikan terhadap rumah sakit yang besar itu?"
"Benar juga, ya. Baguslah kalau begitu."
~Flashback End~
Rukia menatap langit berbintang dari kursi besi yang ada di taman mansionnya. Angin malam menerpa tubuhnya, membuat gadis mungil itu kedinginan. Dan bodohnya lagi, dia tidak memakai jaket. Yang dipakainya hanya dress untuk tidur. Tapi dia tidak peduli, karena saat ini dia sangat membutuhkan udara segar untuk mendinginkan kepalanya.
Tanpa disadari, Ichigo datang menghampirinya. Pemuda itu memang sudah mengkhawatirkan Rukia. Sejak Byakuya melontarkan pertanyaan itu, ia merasa sikap Rukia menjadi aneh. Baginya wajar saja. Kalau rahasia yang selama ini paling ingin ditutupinya akan terbongkar oleh keluarganya, pasti Ichigo juga akan bersikap seperti itu.
"Rukia!"
Gadis yang dipanggil itupun menoleh kearah suara yang memanggilnya. Dilihatnya Ichigo berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.
"Ichigo? Kenapa kau belum tidur?"
"Harusnya kau yang bertanya begitu. Kau tahukan udara malam itu tidak baik untuk kesehatan. Nanti kau bisa masuk angin."
"Tentu saja aku tahu. Hanya saja saat ini aku sedang membutuhkan udara malam."
Hening. Ichigo terus memperhatikan wajah Rukia yang sedang menatap bintang-bintang di langit. Di matanya, Rukia terlihat sangat manis. Dengan angin malam berhembus, membuat rambut hitam Rukia menari-nari. Selama ini ia memang menyadari kalau Rukia itu cantik. Hanya saja, ia tidak pernah memperhatikan wajah Rukia seperti ini.
"Kurasa Byakuya mencemaskan dirimu."
"Apa?"
"Dari pertanyaannya itu….sudah pasti dia khawatir dengan keadaanmu. Dia pasti tahu kalau kau belum bisa melupakan kematian kakak perempuan dan kedua orangtuamu, jadi wajar saja kalau dia menanyakan itu padamu."
"Mungkin. Tapi aku hanya takut Nii-sama mengetahui rahasiaku. Aku sudah cukup merepotkannya. Aku tidak mau membuatnya khawatir."
"Kenapa kau tidak mau Byakuya tahu rahasiamu?"
"Kenapa? Sudah pasti kan! Aku tidak mau dia marah padaku. Aku kan sudah pernah bilang, kalau dia memintaku untuk melupakan masalah pembunuh Hisana-nee. Kalau sampai Nii-sama tahu…dia pasti akan marah dan kecewa."
Raut wajah Rukia berubah menjadi sedih. Sangat jelas terlihat kalau saat ini Rukia bisa kapan saja menangis. Rukia memang adalah orang yang kuat dan tegar. Tapi kalau sudah menyangkut masalah keluarganya, ia bagaikan gelas wine yang mudah pecah.
Merasa sudah membuat Rukia sedih, Ichigo memutuskan untuk mengakhiri obrolan mereka dengan memeluk tubuh mungil Rukia. Tubuh kecil yang menurutnya sangat rapuh itu sudah mendingin. Kerutan di wajah Ichigo semakin bertambah.
"Dasar bodoh. Lihat, kau sedingin ini pasti tidak lama lagi kau akan sakit."
"Aku kuat, kok."
"Kau masih mau disini?"
"Iya."
"Kalau begitu…aku temani ya…" kata Ichigo lembut.
Entah kenapa Rukia merasa, berada didalam pelukan Ichigo seperti ini sangat nyaman. Selain nyaman, dia merasa tenang, aman, dan hangat. Kehangatan yang selama ini tidak pernah bisa didapatkannya selain dari Hisana. Meskipun dia merasakan kehangatan persahabatan dari teman-teman Haineko-nya, tapi kehangatan yang dirasakannya dari Ichigo sangatlah berbeda.
Satu hal yang belum disadarinya. Dia mulai jatuh cinta.
Bel tanda jam pelajaran pertama akan dimulai telah bordering, membuat seluruh siswa di Karakura High School berlarian memasuki kelas masing-masing.
Begitu juga dengan Ichigo. Dengan tergesa-gesa dia berlari menuju kelasnya. Tidak memperhatikan jalan, ia bertabrakan dengan orang yang paling tidak ingin dilihatnya.
Buakkk *sfx: suara tabrakan*
"Gyaa!"
"Aww!"
Orang yang Ichigo tabrak itu jatuh ke lantai. Ichigo menatap orang yang ditabraknya itu sedang meringis kesakitan.
"Kau!" seru Ichigo.
"Ah, Kurosaki-kun! Kalau jalan lihat-lihat, dong!" kata Senna yang masih terduduk di lantai.
"Ah, maaf, aku sedang terburu-buru. Kau tidak apa-apa, kan?"
"Bagaimana mungkin aku tidak apa-apa! Kau tidak lihat nih! Kepalaku sakit, tahu!"
Sebenarnya Senna tidak marah. Dia hanya berpura-pura marah agar Ichigo merasa bersalah dan melakukan apa yang Senna inginkan sebagai permintaan maaf.
"Kalau begitu kau ke UKS saja. Sudah dulu, ya, aku harus segera ke kelas." Dengan begitu Ichigo langsung ngacir ke kelasnya, meninggalkan Senna yang terbengong-bengong di lantai.
"Ap—apaaa! Kau membiarkan seorang wanita yang jatuh begitu saja! Hei!"
Teriakan Senna tidak digubris Ichigo. Ia tidak peduli dengan cewek yang satu itu. Bukannya Ichigo tidak sopan atau tidak gentleman, tapi ia malas meladeni Senna karena ia tahu kalau cewek berambut ungu itu hanya pura-pura sakit. Dia jatuh dengan posisi bokongnya *hehe* yang mengenai lantai, lantas kenapa bisa kepalanya yang sakit. Walaupun Ichigo itu bodoh *di bankai Ichi* tapi dia tidak sebodoh itu sampai bisa ditipu.
Senna hanya menatap punggung Ichigo yang semakin lama menghilang dari pandangannya. Ia tidak mengira Ichigo akan membiarkannya seperti itu. Baru kali ini ada pria yang mengacuhkanny. Kesal kesal dan kesal yang sekarang sedang dirasakannya.
"Akan kubuat kau menjadi milikku, Kurosaki Ichigo."
Ting tong teng tong
Sore hari telah tiba. Sudah waktunya jam pulang sekolah di Karakura High School. Terlihat para siswa berhamburan keluar dari kelas dan gedung sekolah yang besar itu. Tidak terkecuali Ichigo. Ia berjalan menuju loker sepatu bersama dengan Rukia.
"Ne, Ichigo. Hari ini aku ada latihan di studio. Kau mau ikut?" ajak Rukia.
"Heh? Memangnya boleh ya orang luar datang?"
"Siapa bilang kau orang luar? Kau itukan tamu di rumahku, jadi boleh-boleh saja. Lagipula Kyoutaku-san bukan orang yang tegas dan pelit, kok. Pasti kau diizinkan masuk."
"Baiklah kalau begitu."
Baru 3 langkah keluar dari pintu kaca Karakura High School, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Ichigo.
"Kurosaki-kun!"
Ichigo dan Rukia menoleh, mendapati sosok Senna sedang berlari kecil mengejar mereka berdua.
"Ugh…apalagi sih maunya anak itu?" pikir Ichigo.
Akhirnya Senna behasil mengejar Ichigo dan Rukia. Ia terdiam sebentar untuk mengatur nafasnya. Begitu selesai, dengan wajah yang berseri-seri dia bertanya, "Kurosaki-kun! Kau mau tidak melihat latihanku di studio?"
Ichigo dan Rukia hanya bisa sweatdropped.
Kenapa bisa pas begini sih timingnya? Batin Ichigo dan Rukia.
"Wah, kebetulan sekali! Aku juga baru saja mengajak Ichigo. Kau mau pergi sama-sama, Senna?" Rukia mengajak Senna dengan senyuman.
Senna sempat terkejut dengan tawaran dari Rukia. Ia tidak menyangka mantan sahabatnya itu akan menajaknya pergi bersama. Padahal sudah sangat jelas kalau dia membenci gadis berambut hitam itu.
Tapi, demi memiliki Ichigo, dia bersedia melakukan apapun, meskipun harus jalan bersama dengan musuhnya.
"Boleh juga! Ayo kita pergi!" sahut Senna riang.
"Apa dosaku….harus diikuti cewek berisik seperti dia!" jerit Ichigo didalam hatinya.
Mereka bertiga segera memasuki mobil jemputan Rukia dan mobil itupun melesat menuju studio tempat dimana Rukia, Senna dan Haineko akan berlatih.
ima watashi no negaigoto ga
kanau naraba tsubasa ga hoshii
kono senaka ni tori no you ni
shiroi tsubasa tsukete kudasai
Suara Rukia dan Senna terdengar merdu. Saling beriringan menyanyikan bagian masing-masing.
kono oozora ni tsubasa wo hiroge
tonde yukitai yo
kanashimi no nai jiyuu na sora e
tsubasa hatamekase yukitai
ima tomi to ka meiyo naraba
iranai kedo tsubasa ga hoshii
kodomo no toki yumemita koto
ima mo onaji yume ni mite iru
Suara Rukia tegas tapi lembut, sedangkan Senna imut tapi terkesan dibuat-buat. Sudah pasti Rukialah yang lebih baik.
kono oozora ni tsubasa wo hiroge
tonde yukitai yo
kanashimi no nai jiyuu na sora e
tsubasa hatamekase yukitai
Bagi Kyouraku, yang terpenting adalah suara asli, bukan suara yang dibuat-buat agar cocok dengan image lagu.
kono oozora ni tsubasa wo hiroge
tonde yukitai yo
kanashimi no nai jiyuu na sora e
tsubasa hatamekase
kono oozora ni tsubasa wo hiroge
tonde yukitai yo
kanashimi no nai jiyuu na sora e
tsubasa hatamekase yukitai
Melodi alat music berhenti, menandakan kalau lagu sudah berakhir. Rukia dan Senna kembali duduk ke kursi masing-masing dan meneguk minuman dingin yang telah disediakan untuk mereka. Tapi khusus untuk Rukia, Ichigo sendirilah yang menyiapkannya.
Selama Rukia bernyanyi, Ichigo hanya bisa menatap gadis mungil itu dengan tatapan yang penuh kekaguman. Meskipun tidak didandani ataupun tidak memakai baju untuk tampil dipanggung, dimatanya Rukia sangatlah bersinar. Mungkin bidang suara memang tempat yang tepat untuk Rukia.
"Kau sangat hebat, Rukia!" puji Ichigo saat Rukia meminum minumannya.
"Ah, biasa saja kok. Aku tidak sehebat itu."
"Tapi bagiku kau sangat hebat. Suaramu bagus . tidak aneh kalau kau penyanyi yang terkenal."
"Itu benar, Ru-chan! Kau jangan merendah begitu! Selalu saja tidak mau menerima pujian!" omel Rangiku.
"Ran-chan…itu kan sudah sifat asli Rukia-chan…jangan marah-marah begitu…" kata Miki, berusaha untuk membela Rukia.
"Ya ya aku tahu, aku tahu."
Rukia dan Ichigo mengobrol ria dengan Haineko, sementara Senna diam-diam saja. Dia kesal *lagi* karena di cuekin oleh mereka semua.
"Kurosaki-kun! Bagaimana penampilanku tadi? Pasti bagus, kan?" tanya Senna menampilakn ekspresi terimutnya.
"What the hell?" batin para Haineko.
"Hm? Oh ya, bagus kok." Jawab Ichigo ragu-ragu. Sebenarnya Ichigo tidak tahu harus menjawab apa, karena sejak tadi yang diperhatikannya hanya Rukia saja.
"Benarkah? Yeii!"
"Mina! Gokurosama! Kalian sudah bekerja keras, sekarang kalian boleh pulang dan beristirahat!" seru Kyouraku dari singgasananya *Kyouraku punya kursi tersendiri untuknya*
"Haii!"
"Nah Ichigo-kun, ayo pulang." Ajak Rukia.
"Ok."
"Kurosaki-kun!"
"Hmm? Ada apa?"
"Boleh pulang bareng?" pinta Senna dengan puppy-dog-eyes-nya.
"Hmm gimana ya…"
"Hei Senna! Rumahmu itu kan berlawanan dengan mansionnya Rukia. Mana mungkin kau ikut dengan mereka!" seru Chiho.
"Tapi kan—"
"Tidak ada tapi-tapian. Nah Ichigo-kun, Rukia-chan, cepat pulang. Sudah malam, lho…" perintah Rangiku sambil mendorong punggung mereka berdua.
"Ah baiklah. Mata ashita, mina!" seru Ichigo.
"Oyasumi, mina!" Rukia mengikuti langkah Ichigo dari belakang.
Setelah sosok Ichigo dan Rukia sudah tidak terlihat, Rangiku dan Haineko yang lainnya segera berpaling menatap sinis Senna.
"Senna! Apa sebenarnya maumu? Kenapa kau terus mendekati Ichigo-kun?" bentak Chiho.
"Aopa mauku? Kalau begitu apa urusan kalian? Aku mendekati Kurosaki-kun atau tidak itu adalah urusanku. Tidak ada hubungannya dengan kalian." Sanggah Senna mempertahankan dirinya.
"Terserah kau saja. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Kalau kau macam-macam pada Rukia, kau pasti akan menyesal telah kembali kesini." Ancam Saki.
Haineko pun pergi meninggalkan Senna yang menatap mereka dengan pandangan penuh kebencian. Matanya menyipit dan dia menggumam, "kalian akan menyesal berani mengancamku."
Trrrtt trrrt trrt
Sebuah melodi dan getaran terasa dari ponsel milik Senna yang ada di saku celananya. Dia segera mengambil ponsel itu dan menekan tombol accept.
"Moshi moshi."
"Yaa Senna. Bagaimana kabarmu?" tanya orang yang ada di seberang telepon.
"Biasa saja. Ada perlu apa?"
"Aku sudah mempunyai misi pertama untukmu."
"Benarkah?"
"Ya. Tidak perlu khawatir akan gagal. Karena akan selalu ada cara untuk menghancurkan anak itu. Aku akan mengirimkan email yang berisi rencana tersebut."
"Baiklah, aku mengerti, Aizen-san."
Setelah telepon itu terputus, Senna memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku dan dia menyunggingkan senyuman licik.
"It's show time…"
~Chapter 7, End~
Fuuhh selesai juga! Ai ngebut lho ngetiknya…makanya jangan aneh kalau ada banyak kesalahan.
Special thanks to :
Yanz Namiyukimi-chan
Sara Hikari
Yurisa-Shirany Kurosaki
Chappy Ruru
Aika Ray Kuroba
Yuuna hihara
Fuchsia Puff
Ichirukiluna gituloh
Meyrin Mikazuki
So-chand cii Mio imutZ
Dorami fil
Ichi Nightray
Aichii Chiyuri
Chappythesmartrabbit
Bl3achtou4rou
Ruki1415
Nadeshiko sakura
Hontouni arigatou gozaimasu! Ai ga akan bisa sejauh ini tanpa dukungan dari para readers.
Gomenasai karena lagi-lagi AI ga bisa balas ripiu dari kalian. Tapi Ai paling suka baca ripiu dari teman-teman sekalian….rasanya Ai jadi bersemangat!
Oya, Ai boleh nanya, ga? Yang masuk jadi nominasi di IFA itu emang panitianya yang seleksi, atau dari orang-orang yg merekomendasikan fic itu buat jadi nominasi?
Ai masih bingung sama IFA, jadinya ga tahu deh.
Ok, kita sudahi dulu cuap-cuapnya.
Akhir kata….
~Aizawa Ayumu Oz Vessalius~
~Review Please~
