Musik

Dislclaimer : Assasination Classroom milik Matsui Yuusei, dan orang yang terlibat di dalamnya

Timeline : Setelah Ritsu datang tapi sebelum Itona dikenalkan dalam seri manga

Pairings? Still ChibaHaya


28 Juni, 2013

Ding Dong Ding Dong.

Bel tanda kelas selesai telah berbunyi, semua murid kelas 3-E merapikan barang mereka masing-masing dan memasukkannya ke dalam tas. Rinka juga memasukkan semua alat belajarnya ke dalam tas. Ia melihat jam di ponselnya, waktu menunjukkan pukul 2 siang. Rinka berencana untuk langsung pulang hari ini, untuk melakukan sesuatu yang bisa dianggap privasi untuknya. Rinka menoleh ke belakang, mendapati mesin pembunuh yang di-install oleh perusahaan yang terkait dengan pemerintah Jepang, yang satu kelas sepakat dengan Kataoka, memanggil mesin itu Ritsu. Setelah murid memberi hormat, Korosensei siap untuk pergi juga, seperti biasanya, memakan makanan eksotis.

"Nurufufufufu…sampai jumpa besok, semuanya. Jangan lupa kerjakan PR yang sensei berikan. Sensei akan pergi ke turki, untuk makan kebab domba dahulu! Sayonara!" Setelah mengucapkan kata-katanya, Sensei keluar lewat jendela dengan kecepatan Mach 20nya, bagi satu kelas, hal ini sudah biasa. Rinka bergegas pulang, sebelum itu ia melihat beberapa teman sekelasnya berkumpul, Yuzuki Fuwa, Nakamura Rio, Hinano Kurahashi, Touka Yada, Kaede Kayano sedang berkumpul di meja Fuwa.

"Kita jadi ke pameran buku komik lama, 'kan?" Gadis berambut pirang, Nakamura dengan rasa antusias, seperti biasa berkata ke teman-temannya itu.

"Tentu saja, jadi! Hari ini grand openingnya! Kita bisa membeli buku lama 50% off di situ! Aku tak sabar, akhirnya aku bisa mendapat manga-manga lama yang ada sebelum aku lahir!" Fuwa, berteriak dengan antusias, hingga beberapa orang yang masih ada di kelas melihat ke arahnya. Rinka melihat dan tersenyum kecil, melihat temannya berlaku TERLALU antusias dengan kesenangannya itu. Tapi tidak bisa disalahkan juga, begitu benak Rinka, ia pun memiliki…Obsesi yang hampir sama dengan Fuwa dalam tingkat antusiasmenya.

"Wah! Kamu bilang pameran komik lama, Fuwa? Aku mau ikut! Boleh 'kan? Aku mau sekali melihat buku-buku komik lama untuk inspirasi gambarku!" Sugaya, sang artist kelas 3-E berteriak dengan nada yang tak kalah antusias dengan Fuwa, memang anak ini senang sekali dengan seni. Ia langsung berlari ke meja Fuwa.

"Sugaya-chan, tentu saja boleh! Benar kan semuanya?" Hinano melirik ke arah Sugaya dan semua temannya.

"Tentu saja! Tidak ada yang boleh menghalangi apresiasi kita pada komik! " Fuwa berkata sambil tertawa, yang lainnya mengangguk. Tampaknya Fuwa memiliki partner dalam obsesinya.

"Tentu saja, komik merupakan seni, tiap zaman memiliki style yang berbeda-beda…" Sugaya mulai berceramah tentang hal seninya, Rinka tampaknya tertarik pula dengan ucapan Sugaya. Dalam hati, ia juga ingin ikut, kalau tidak ada hal yang ingin dikerjakannya hari ini.

"Ikutlah Sugaya-kun! Aku juga mengajak Sugino dan Nagisa, mereka ingin ikut juga." Kayano menambahkan. Setelah beberapa lama, mereka sadar Rinka masih belum keluar dari kelas. Mereka pun juga mengajak Rinka. "Sayangnya Karma-kun bolos hari ini…mungkin dia juga ingin ikut."

"Rinka-chan bagaimana?" Hinano bertanya. "Mau ikut?"

"Kau tak ada acara kan, Hayami-chan? Ayo ikut!" Ajak Fuwa dengan antusias.

"Maaf, aku sedang ada keperluan hari ini…" Rinka tersenyum kecil dan menolak mereka dengan sopan. Tapi tentu saja, ia tidak dapat mengatakan 'keperluannya ' itu.

"Ah! Pasti janji dengan Chiba, ya?" Nakamura dengan seringai jahilnya berusaha meledek Rinka. Tetapi sesuai dengan julukan Takebayashi dan Okajima, nature tsundere Rinka tidak termakan dengan ledekan Nakamura Rio.

"Tidak. Maaf ya aku pergi dulu." Rinka berkata dengan langsung dan pergi meninggalkan kelas.

"Hayami memang pendiam ya..terkadang dia harusnya tak berlebihan dengan keseriusannya."

Rinka langsung membuka smartphonennya, dan menghubungkan headsetnya dnegan ponselnya, mendengar lagu Jazz yang merupakan jenis lagu favoritnya. Ia sesekali menepuk dan menggerakan badannya mengikuti irama lagunya, dengan senyuman yang manis—yang tidak pernah ia tunjukkan ke orang lain. Ia naik bus menuju arah rumahnya, tetapi ia berhenti dahulu, ke tempat 'keperluannya' yaitu, CD Store yang baru dibuka dekat rumahnya.

Ia dengan antusias masuk ke dalam genre lagu Jazz kesukaannya, ia memang menaruh obsesi yang rahasia pada lagu dan dansa Jazz, di luar dugaan, Rinka sangat mengerti dan lihai dalam berdansa ala lagu jazz, yang merupakan rahasia kelenturan badannya dan keseimbangannya dalam menembak. Belajar tarian dari video dan menirunya, melatih pula penglihatan kinetic Rinka yang berguna buat assasinasi. Di luar dugaan, ada orang yang ia kenal di tempat itu juga, yang memperhatikan ia mendengar dan melirik album Jazz dari tadi, termasuk melihat gerakan dansa kecilnya sambil mendengarkan lagu jazz dari sampel earphone yang ada.

Laki-laki berponi panjang , yang melihat dia dari tadi menepuk bahunya dari belakang, Rinka terkejut dan secara refleks menoleh ke belakang, mendapati teman snipernya….Ryuunosuke Chiba.

"Chiba-kun…sedang apa kamu di sini?" Tanya Rinka dengan bingung, ia benar-benar tak menyangka temannya itu ada di tempat yang sama…kenapa hal ini sering sekali terjadi di antara mereka berdua, seperti karakter dalam manga saja.

"Melihatmu, dong." Goda Chiba dengan seringainya, emosi yang sangat langka pada Chiba yang selalu serius dan hanya tersenyum dalam waktu tertentu saja, kali ini membuat seringai jahil yang mirip dengan Karma.

"…" Muka Rinka tertunduk, ia tak menyangka 'Rahasia'nya akan terbongkar. Tapi untung Chiba yang mengetahuinya, kalau Okajima atau Maehara, hal ini pasti akan jadi gossip di kelas, tentang sisi Rinka yang tak pernah dilihat semuanya. Rinka melanjutkan bicaranya . "Kamu melihatnya semua?" Tanya Rinka dengan gugup.

"Tentu, gerakanmu sangat bagus, Hayami-san." Tutur Chiba, masih dengan sedikit seringai jahilnya. Rinka mulai memiliki rona dengan warna yang muda di wajahnya.

"Jangan.." Kata-kata Rinka tertahan di mulutnya.

"Ya?"

"Jangan beritahu kepada siapapun….tolong." Rinka berkata dengan datar. Ia tidak ingin sisi ini diketahui semua orang. Sisi liar Rinka yang pendiam dan tsundere, memliki rasa antusias yang tinggi di dalamnya.

"Tentu saja. Sebagai gantinya.." Chiba melanjutkan.

"Ganti? Ganti apa?" Tanya Rinka, heran.

"Rahasiakan ini ke Okajima dan Mimura. Aku mengelak dari mereka untuk pergi ke sini juga….Mereka ingin melihat-lihat toko kamera dan…kamu pasti tahu kelanjutannya." Chiba berkata sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. Rinka melihat dan tersenyum ke arah Chiba.

"Deal. Meskipun aku jarang juga berinteraksi dengan mereka….Jadi, apa yang kamu lakukan di sini, Chiba-kun?"

"Tentu saja melihat-lihat album juga. Apa yang orang lakukan di toko CD dan album ini?" Jawab Chiba datar. Matanya yang tersembunyi oleh rambutnya melihat ke sekelilingnya.

"Oh. Musik apa yang kamu sukai?" Rinka penasaran juga dengan selera orang misterius ini.

"Aku suka musik dari negara Eropa klasik. Karangan Bach, Beethoven, dan lainnya." Tutur Chiba, sambil melihat CD kumpulan lagu klasik yang ia ambil. Rinka menaikkan alisnya sedikit. Ia tidak menyangka, orang misterius ini bisa menyukai music klasik seperti itu.

"Oh. Itu…menarik juga." Rinka berkata sambil melihat CD yang Chiba ingin beli. "Aku memang menyukai Jazz dari dulu."

"Ya, aku tahu, kamu pernah melakukan tarian Jazz setelah pelajaran P.E. waktu itu 'kan? Saat itu yang lain sudah masuk kelas, tapi aku sempat melihat ke belakang saat jalan, kamu bersama Fuwa-san, Hara-san, dan Kurahashi-san. Kamu sedang memperlihatkan tarian Jazz itu, badanmu lentur juga." Ucap Chiba dengan senyuman yang kecil. Dalam hati, ia mengagumi juga, kelebihan Rinka itu, ia tahu kenapa keseimbangan dan kinetic visionnya memiliki level yang tinggi, untuk anak SMP.

Wajah Rinka sedikit memerah. Ia tak menyangka ada siswa lelaki yang melihat ia berdansa a la Jazz itu. Untung saja itu bukan si mesum Okajima Taiga atau si pecinta wanita Maehara. Bisa diakui, gerakannya sedikit…meningkatkan daya tarik tubuhnya yang kecil tetapi ber-tuned itu. Kalau mereka berdua yang melihat, pasti sudah berfikir yang aneh-aneh, apalagi Okajima.

"K-Kamu melihatku? Ugh…aku tak menyangka ada laki-laki yang melihat.." Rinka sedikit menundukkan kepalanya karena malu.

"Memangnya kenapa? Gerakanmu bagus.". Puji Chiba. "Tampaknya, kamu berbakat juga dalam seni menari, aku tak menyangka sama sekali, serius, Hayami-san." Rinka membuang muka, karena sudah tidak dapat menahan rasa malu yang berakumulasi tiap pujian yang Chiba berikan.

"Uh..T-terima kasih. Aku rasa." Mode Tsundere Rinka mulai menunjukkan dirinya. "Tapi jangan salah paham! A-aku tidak melakukannya karena aku menyukainya, hanya gerakannya bagus, aku kira dapat melenturkan tubuhku untuk kemudahan assasinasi, jangan salah!"

"Ya, baiklah." Chiba tampaknya sudah terbiasa dengan sikap Rinka seperti ini, ia tahu kalau yang benar isi hatinya adalah yang ia sangkal dalam kalimatnya.

"Jadi, kamu sudah selesai? Aku mau membayar ini ke kasir?" Tanya Chiba.

"Hmm..aku juga sudah selesai. Ayo kita bayar ke kasir dan langsung pulang." Rinka tampaknya tidak mau menghabiskan waktu lagi di sini, kehadiran Chiba tampaknya membuat moodnya hilang.

Setibanya di kasir,saat Rinka meraih dompetnya untuk membayar, tangan Chiba menghalangi dirinya dan meraih sejumlah uang di tangannya.

"Biar aku saja yang bayar." Ujar Chiba dengan nada datarnya.

"Apa? Tidak! Kenapa kamu mau membayar barang yang kubeli?" Protes Rinka. Gadis itu memang tidak suka diberikan perlakuan…special oleh orang lain.

"Sudah, diam saja, biar aku yang bayar."

"Tidak, Chiba-kun. Tidak usah repot-repot. Aku bisa membayarnya sendiri!" Rinka melanjutkan protesnya. "Aku tak mau berhutang dan merepotkan orang lain!" Perdebatan mereka membuat kasir yang ada bingung dengan keadaan yang dia hadapi.

"Er…maaf, dapat diselesaikan nanti? Ada pelanggan lain yang mengantre di belakang kalian." Kasir itu berkata dengan nerves.

"Maaf, biar saya yang membayar. Ini uangnya." Chiba bergerak cepat saat ia melihat Rinka sedikit bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Rinka bermaksud untuk protes, tetapi ia memutuskan untuk menyerah, agar tidak menghambat lebih jauh.

Setelah itu Chiba segera membayar barang yang ia beli. Setelah barang yang ia beli dibungkus dengan plastik dan karton, kasir itu tersenyum.

"Ini barangnya. Kalian sepasang kekasih ya? Lain kali tolong jangan berdebat dengan lama seperti itu, ya. Membayar barang kekasih anda itu wajar, tapi jangan menghambat kerja saya. Mendengar itu, wajah Chiba dan Rinka sama-sama menimbulkan rona yang kecil. Keduanya menjawab dengan kompak.

"Bukan." Jawab keduanya.

"Maaf, sudah menganggu, sampai jumpa." Chiba berpamitan dengan kasir itu dan pergi keluar toko bersama Rinka. Mereka terdiam untuk beberapa saat, sebelum Rinka mengakhiri kensunyian mereka berdua itu.

"Kamu tidak perlu melakukan itu, tahu." Protes Rinka dengan muka yang cemberut. Ia merasa tidak enak dengan Chiba karena sudah membayarnya. "Biar aku ganti sekarang—" Ujar Rinka sambil merogoh dompetnya, tetapi diinterupsi oleh Chiba.

"Tidak usah." Chiba menahan bahu Rinka. "Kita teman, bukan? Teman wajar melakukan hal itu." Jawab Chiba. Rinka bisa merasakan ketulusan temannya itu.

"Aku tidak mau berhutang padamu."

"Kalau begitu, jangan anggap itu hutang, karena aku ikhlas memberikannya bagimu." Rinka cukup kaget dengan ucapannya. Mendengar ucapannya itu ia memutuskan untuk menerima pemberian Chiba.

"B-Baiklah. Tapi jangan salah paham. Aku tetap merasa berhutang padamu, dan CD ini tidak kunilai lebih hanya karena kamu memeberikannya. Jangan salah." Rinka, dengan muka yang sedikit memerah, mengaktifkan mode tsunderenya lagi.

"Tapi..aku tak menyangka kamu menyukai musik klasik. Dari mukamu, kau tampaknya lebih menyukai musik yang depresi atau emo begitu." Ujar Rinka dengan datar.

"Ya..setiap orang memiliki keunikannya masing-masing, dengan kepribadianmu kukira kamu menyukai music dengan jenis yang sama denganku." Chiba kemudian menepuk bahu Rinka. "Setiap orang memiliki keunikannya sendiri, itu yang membuatmu jadi individual.

Rinka sedikit terkejut dengan ceramah Chiba, ia sadar juga kata-katanya benar, karena ini juga sisi Chiba yang belum pernah ia lihat. "Benar juga katamu…buktinya kamu sendiri memiliki hati filosofik seperti itu, orang memang memiliki keunikan masing-masing." Chiba hanya mengangkat sebelah bahunya mendengar tanggapan Rinka.

"Baiklah, aku akan lewat jalan sini, sampai jumpa besok." Tak terasa, mengobrol bersama Chiba membuat mereka berjalan terasa cepat. Rinka tersenyum kecil dan menjawab Chiba.

"Iya, sampai jumpa Chiba-kun." Balas Rinka. Dalam perjalanan pulang ia menyadari, tampaknya ia bisa lebih terbuka dengan rekan snipernya itu. Tampaknya rasa suka bukan hal yang mustahil juga bagi mereka berdua, karena sudah memiliki bibit perasaan yang tertabur dalam diri mereka berdua, meskipun keduanya belum ada pada tahap hubungan sejauh itu.

END FLASHBACK.


"Mama menyukai jazz juga?" Anaknya yang bungsu, Hayama bertanya pada ibunya, dengan antusiasme yang ditahan, tampaknya anaknya yang bungsu ini menyukai tipe music yang sama dengan ibunya.

"Iya, kamu menyukainya juga?" Tanya Rinka.

"Erm…iya, sedikit." Jawab anaknya, masih menyembunyikan antusiasmenya, ia bermaksud untuk melihat koleksi album jazz ibunya, mungkin dengan diam-diam di lain waktu.

"Ada benarnya juga, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya itu…" Gumam Rinka sambil tersenyum, ia memahami sifat anaknya yang mencerminkan dirinya itu.

"Hmmm..ceritanya kurang menarik kali ini! Lanjutkan ma!" Anaknya yang sulung berkata sambil menarik bahu ibunya.

"Baik, baik, berhenti menarik bahu mama, Risa." Rinka membalikkan lagi buku hariannya.


Akhirnya update selesai juga. Mudah-mudahan pembaca sekalian menyukainya. Di sini keahlian dansa Jazz Rinka berasal dari wikia. Tetapi music klasik Chiba murni karangan. Maaf kalau kurang romance di sini, tapi chapter ini lebih ke arah Friendship.

Rate and Review, please, terutama dari fandoms Chiba Haya :D