Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Multipairing:
Naruto x Hinata
Sasuke x Sakura
Issei x Rias
Rating: T
Rabu, 14 Oktober 2015
.
.
.
12 SEEKER'S
By Hikari Syarahmia
.
.
.
Chapter 7: Cinta dan harapan
.
.
.
AKADEMI PILOT LUAR ANGKASA (APLA), 12.40 P.M AT LUNAR TIME
Di pihak lain, masih di APLA, yaitu di gedung olahraga yang berada di lantai dua.
Gedung olahraga yang membentuk seperti oval dan sangat luas ini. Tinggi langit-langitnya sekitar 30 meter. Berdinding baja dan didesain futuristik. Terdapat banyak peralatan olahraga yang tersusun rapi dalam rak khusus yang berderet-deret pada bagian kanan ruangan. Lantai yang bening bagaikan kaca. Pokoknya terlihat menakjubkan dan elegan.
Di tengah ruangan yang dipakai untuk lapangan bermain bola basket, terlihat Hinata dan Koneko yang saling berhadapan cukup jauh. Mereka menatap dengan perasaan yang berbeda-beda.
"Ke-Kenapa kamu membawamu ke sini?" tanya Hinata yang duluan mengawali pembicaraan.
Koneko menyipitkan kedua matanya. Lantas ia memegang sebuah gelang berbentuk bola sebesar bola pingpong dengan tali besi berdesain tapak kucing. Gelang tersebut melingkari pergelangan tangan kirinya dengan manis.
Lalu keluarlah sebuah bola berwarna biru tua dengan corak matrix digital berbentuk jejak kaki kucing berwarna kuning emas dari dalam gelang tersebut. Ternyata sebuah alat untuk menyimpan Power Ball miliknya.
"Ayo, kita bertarung!" seru Koneko lantang dengan mengacungkan Power Ball-nya tepat di hadapan Hinata.
Hinata tersentak dengan tantangan dari Koneko yang tiba-tiba.
"Ber-Bertarung?"
"Ya, kita bertarung dengan Power Ball masing-masing. Tanpa berubah menjadi sosok Seeker. Tapi, bertarung dengan memakai hewan robot kita sendiri," kata Koneko sembari tetap berwajah datar."Apakah kamu mau bertarung melawan Power Ball-ku sekarang?"
Hinata terdiam sejenak. Ia menatap erat Power Ball milik Koneko tersebut. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak. Aku tidak mau."
"Tidak mau? Kenapa?"
"Power Ball bukan dijadikan ajang adu kekuatan. Tapi, Power Ball dijadikan untuk pelindung kita saat melakukan ekspedisi ke Planet Hitam. Power Ball itu teman dan kita tidak boleh membuatnya untuk saling bertarung antara satu sama lainnya."
"Tapi, aku ingin menantangmu sekarang. Untuk menguji siapa yang paling hebat di antara kita."
"Hah?"
Hinata tersentak kembali dengan kedua mata yang membulat. Koneko pun melemparkan Power Ball-nya ke lantai.
PAAATS!
Power Ball Koneko berubah bentuk menjadi seekor kucing berkaki dua dengan kedua tangannya seperti manusia. Bermata kuning emas. Tubuhnya berwarna biru tua. Ada lingkaran kuning emas mengelilingi lehernya. Di kedua tangannya terdapat sarung tangan berukuran besar berwarna kuning. Berekor dua. Tiap masing-masing ekor tersebut terikat bel berwarna emas. Namanya Kibby.
Ternyata Koneko benar-benar ingin menantangnya. Kini kucing robot itu menatap ke arah Hinata dengan tampang garangnya.
Koneko menatap Hinata lagi.
"Apa yang kamu tunggu, Hinata? Keluarkanlah Power Ball milikmu itu."
Hinata menurunkan kedua alisnya. Ia benar-benar kesal karena Koneko malah menggunakan Power Ball untuk melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya. Ia menggeram kesal dengan kepalan tangan yang mengerat.
"Akukan sudah bilang aku tidak mau," Hinata bersuara agak kencang dan menggema di seluruh ruangan.
Koneko menyipitkan kedua matanya. Ia juga menggeram kesal karena Hinata tidak mau menuruti permintaannya.
"Kalau begitu, aku akan memaksamu untuk bertarung!" ucap Koneko yang memberikan isyarat kepada kucing robotnya itu. Kucing itupun mengangguk patuh.
"SEPARATION!" seru Kibby yang mengubah tubuhnya seperti potongan besi sampai beberapa bagian. Lalu tubuhnya menempel ke seluruh tubuh Koneko.
"COMBINATION!"
Tahap penggabungan tubuh Koneko dengan Kibby berhasil juga. Kini berdirilah Koneko dengan balutan pakaian besi berwarna biru tua dengan helmet berwarna senada. Di kedua tangannya terpasang sebuah sarung tangan berukuran besar berwarna kuning. Juga sepatu boots setengah betis berwarna kuning emas melengkapi penampilannya. Lalu di tangan sebelah kanan Koneko, terlilitlah sebuah kepala kucing yang disertai dua bel di telinganya.
Inilah wujud perubahan Koneko ketika menjadi Seeker. Hinata membelalakkan kedua matanya. Koneko memang benar-benar nekad.
"Baiklah, Hinata. Aku akan melawanmu sekarang!" ujar Koneko yang mulai mempersiapkan serangannya.
Hinata yang masih belum berubah sama sekali. Ia tetap bersikeras untuk tidak bertarung.
Koneko menyipitkan kedua matanya. Segera saja ia berlari kencang sekali untuk menyerang Hinata.
"HINATA, BERSIAPLAH!" teriak Koneko sambil melayangkan tinjunya ke arah Hinata yang masih diam di tempat."BEAT HARD LIGHTNING!"
WHUUUSH! BUAAAK!
Pipi Hinata sukses terkena hantaman tinju Koneko yang terbilang kuat. Alhasil, Hinata pun terpelanting ke belakang dan terseret beberapa meter.
BRUUUK!
Punggung Hinata mendarat keras di lantai yang bening itu. Hinata pun terbatuk-batuk. Mulutnya mengeluarkan darah sedikit.
Melihat adegan itu, Koneko terpaku di tempat sembari masih menonjolkan tinjunya ke depan.
"Hi-Hinata? Di-Dia malah tidak membalas pukulanku," gumam Koneko syok.
Hinata pun bangkit dari baringnya yang miring ke kanan. Ia terduduk sebentar.
Koneko menurunkan tangan kanannya yang sudah meninju pipi Hinata tadi. Ia masih syok dengan apa yang dilakukan Hinata. Mengapa dia malah tidak menghindar saat pukulan menerjang dirinya?
Koneko berjalan pelan ke arah Hinata. Hinata masih terbatuk-batuk sambil menundukkan kepalanya.
"Huk! Huk! Huk!" Hinata menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. Lalu Koneko pun berlutut di dekat Hinata.
"Kenapa kamu malah tidak menghindar?" tanya Koneko penasaran.
Hinata berhenti terbatuk-batuk. Kemudian ia melirik ke arah Koneko.
"Untuk apa aku menghindar? Akukan sudah bilang kalau aku tidak ingin melawanmu."
Begitulah jawaban Hinata. Cukup membuat Koneko terpaku mendengarnya.
"Tapi ...," Koneko melirik ke arah lain."Aku ingin mengetes sampai di mana kekuatan Power Ball-mu ketika melawan Power Ball-ku. Apakah memang hebat seperti dibilang oleh para ilmuwan itu? Katanya Power Ball-mu lebih hebat daripada yang lainnya."
"Ke-Kenapa kamu bilang Power Ball-ku yang paling hebat?" tanya Hinata.
"Dari orang tuaku. Power Ball-mu yang paling hebat. Soalnya ada teknik-teknik rahasia yang tersembunyi di dalamnya."
Hinata membulatkan kedua matanya. Ia baru mengetahui hal itu.
"Aku baru tahu soal itu."
Lantas Koneko berubah seperti biasa. Setelah mengucapkan "separation", Kibby terlepas dari tubuh Koneko. Lalu Kibby berubah kembali menjadi Power Ball dan dimasukkan kembali ke dalam gelang.
"Karena itu, aku mengajakmu bertarung untuk membuktikan kebenaran itu. Tapi, kamu malah tidak mau melawanku."
Koneko berwajah sewot. Hinata menatapnya dengan kikuk.
"Maaf," ucap Hinata.
"Tidak. Aku yang mesti bilang maaf," Koneko menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hah?"
Hinata ternganga. Koneko menunjuk ke arah pipi kiri Hinata.
"Lihat, pipimu jadi membiru begini. Ini akibat aku kelepasan kontrol saat mengeluarkan jurus Beat Hard Lightning."
Koneko menunjuk ke arah pipi kiri Hinata. Hinata memegang pipinya. Terasa sakit sekali.
Tapi, Hinata malah tersenyum manis.
"Oh ini, tidak apa-apa," kata Hinata.
"Hah? Apa betul tidak apa-apa?"
"Iya."
Hinata manggut-manggut. Menandakan ia baik-baik saja. Koneko menurunkan telunjuknya. Ia berwajah datar tapi matanya sayu.
'Ternyata Hinata, orangnya baik sekaligus pemaaf. Pantas Naruto sangat dekat sama dia,' batin Koneko.'Tapi, ketimbang aku yang tidak ada manis-manisnya.'
Koneko menundukkan kepalanya. Ia pun juga menundukkan kepalanya. Hinata keheranan melihatnya.
"Lho, Koneko? Kamu kenapa?"
"Hinata, gomen. Kamu boleh membalas pukulanku yang tadi."
Hinata masih tersenyum.
"Tidak apa-apa kok. Aku tidak mau membalasmu."
Koneko mengangkat kepalanya. Ia mendapati Hinata yang sedang tersenyum lebar.
"Hi-Hinata ..."
Gadis berambut perak itu menampilkan tertawa lebarnya yang jarang sekali ia tunjukkan.
"Arigatou," sahut Koneko lagi.
Mereka berdua tertawa lebar bersama saat disoroti oleh capung yang terbang mengambang di udara. Capung tersebut adalah robot suruhan Kakashi untuk mengawasi pergerakan para 12 Seeker's. Sedangkan Kakashi sendiri sedang menonton mereka di layar udara yang diproyeksikan dari sorotan Pocket Book-nya. Kini Kakashi sedang duduk manis di ruang kerjanya.
"Bagus. Bagus. Satu persatu mereka mulai memahami antara satu sama lain. Mereka mulai mengerti dari artinya berteman dan kepercayaan. Semoga mereka cepat akrab dan saling percaya," ujar Kakashi yang tersenyum di balik maskernya yang aneh.
.
.
.
AKADEMI PILOT LUAR ANGKASA (APLA), 13.30 P.M AT LUNAR TIME
"Hah, Hinata? Kenapa dengan pipimu? Kok jadi biru gitu?" tanya Naruto yang kaget sekali saat berada di dalam kelas. Ia melihat Hinata yang baru masuk kelas bersama Koneko.
Hinata merasa kikuk.
"A-Ano, i-ini ..."
"Hinata tadi terkena pukulanku. Jadi, pipinya lebam dan membiru."
Datang Koneko yang menyela dan perkataannya memang jujur sekali. Ini sukses membuat kedua mata Hinata dan Naruto membulat sempurna karena mendengarnya.
"A-Apa?" sahut Naruto."Apa maksudmu Koneko?"
Koneko bersikap santai menanggapi pertanyaan Naruto.
"Itu betul. Tadi aku mengajak Hinata ke gedung olahraga. Aku menantangnya untuk bertarung."
"Ko-Koneko, apa yang kamu bilang?" Hinata merasa panik."I-Itu tidak benar, Naruto. Koneko bohong. A-Aku tadi ter-terjatuh ..."
"Cukup, Hinata!" Koneko menyela perkataan Hinata. Ia menatap Hinata serius. Naruto pun kebingungan karena harus mau mendengar yang mana.
"Hei, aku jadi bingung nih. Mana yang benar sih?"
Koneko menoleh pandangannya ke arah Naruto.
"Jadi, aku berubah menjadi Seeker. Lalu aku melepaskan kekuatan tinjuku yang kuat ke arah Hinata yang masih tidak mau berubah. Akhirnya pipi Hinata jadi membiru begitu akibat terkena pukulanku. Soalnya aku terlalu emosi waktu itu. Begitulah kejadiannya, Naruto."
PLAK!
Tiba-tiba pipi Koneko ditampar cukup keras oleh Naruto. Hinata kaget dibuatnya.
"Na-Naruto?!" bisik Hinata menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia sangat syok melihat adegan ini.
Terlihat Naruto memasang wajah kesalnya untuk Koneko. Koneko berdiri kaku di tempat sembari memegang pipinya yang sakit. Ia menundukkan kepalanya sedikit.
"JANGAN SAKITI HINATA LAGI. MENGERTI!" bentak Naruto sekeras mungkin dan menggema di ruang kelas itu. Hanya ada mereka bertiga di sana. Sementara yang lainnya masih berada di tempat lain.
Hening. Tempat itu sungguh menjadi sunyi dan menegangkan. Mereka terdiam sebentar.
SREK!
Koneko berbalik arah dan berlari keluar kelas. Naruto menatap kepergiannya dengan wajah kesal. Sedangkan Hinata kaget dan membulatkan kedua matanya.
"KONEKO!" panggil Hinata yang berusaha mengejar Koneko. Tapi, langkahnya dicegat oleh Naruto.
GREP!
Tangan Hinata ditangkap oleh Naruto. Hinata menoleh ke arah Naruto.
"Jangan kejar dia, Hinata."
"Ke-Kenapa?"
"Dia sudah menyakiti kamu, tahu."
"Ta-Tapi ...," Hinata menepis tangan Naruto dengan cepat."Ka-Kamu tidak perlu tampar dia begitu. Kasihan dia, kan? Aku harus mengejarnya, Naruto."
Hinata berlari kencang dan keluar dari kelas. Naruto memanggil Hinata dengan keras sekali.
"HINATA, TUNGGU DULU!"
.
.
.
AKADEMI PILOT LUAR ANGKASA (APLA), 16.00 P.M AT LUNAR TIME
Akhirnya tibalah waktu pulang. Para penghuni APLA pun berhamburan keluar dengan perasaan yang senang. Tapi, ada juga yang pulang dengan perasaan yang bercampur aduk. Pokoknya suasana hati mereka berwarna-warni seiring suasana sore seperti ini. Di mana matahari kian condong ke barat seperti di bumi.
Di antara kumpulan manusia yang hilir mudik untuk pulang ke tujuan masing-masing, tampak Naruto berlari-lari kecil ke arah gadis berambut panjang indigo yang diikat dua. Sasuke yang ditinggalkan oleh Naruto itu, keheranan melihat sahabatnya begitu terburu-buru untuk mengejar Hinata yang sedang berdiri di dekat tanaman bonsai.
"HI-HINATA!" panggil Naruto kuat ketika sudah hampir di dekat Hinata.
Namun, tiba-tiba muncul laki-laki berambut hitam panjang dikuncir satu, menghalangi langkah Naruto untuk mendekati Hinata. Wajah laki-laki itu sangat mirip dengan Hinata.
"HEI, BERHENTI!"
Naruto menghentikan langkahnya ketika menyadari ada seseorang yang menghalangi jalannya. Ia pun menatap tajam orang itu.
"Kamu siapa?" tanya Naruto.
Berdirilah dengan angkuh, seorang laki-laki berambut hitam panjang dikuncir satu. Bermata abu-abu. Memakai pakaian seragam berwarna merah dengan lambang APLA di dada kirinya.
"Aku adalah Hyuga Neji. Kakaknya Hinata."
Naruto bersikap datar saja setelah mengetahui nama dari kakak Hinata ini. Dia tidak kaget sama sekali.
"Oh ..."
Neji juga bersikap datar sambil terus melipat tangan di dada. Naruto terus menatap tajam wajah Neji. Begitu juga dengan Neji.
Hinata yang melihat mereka berdua. Ia hanya menghelakan napasnya sebentar.
"Kakak, itu Uzumaki Naruto yang pernah aku ceritakan dulu," sahut Hinata lembut.
Neji menoleh ke arah Hinata.
"Benar dia yang kita cari itu?"
Hinata mengangguk cepat. Lantas Neji menarik pandangannya kembali ke arah Naruto.
"Tapi, dia itu laki-laki yang tidak sopan."
KIIITS!
Wajah Naruto semakin sewot menatap Neji. Neji kembali melototi Naruto. Terjadilah aksi tatapan deathglare Naruto vs Neji di antara orang-orang lalu lalang di halaman dalam sekolah. Hinata menepuk jidatnya.
"Ini tidak akan ada habis-habisnya," ujar Hinata berjalan pelan mendekati sang kakak."Kakak, biarkan aku berbicara dengan Naruto sebentar. Kayaknya ada yang penting mau dibicarakannya padaku."
Neji melirik Hinata.
"Tapi, cuma satu menit saja."
"I-Iya."
Hinata mengangguk kecil. Lantas secara langsung Naruto menarik tangan Hinata, begitu Neji memberi izinnya.
"Aku mau ngomong sama kamu."
"A-apa itu?"
"Bagaimana keadaan Koneko? Apa kamu mencari dia sampai ketemu tadi?"
"I-Iya sih. Ta-Tapi, Koneko tidak ada di mana-mana."
"Aaah, ini memang salahku. Aku malah menamparnya," cetus Naruto mengacak-acak rambutnya."Aku harus minta maaf sama dia."
"Ba-Baguslah jika kamu mau minta maaf sama dia, Naruto," Hinata tersenyum manis membuat semburat merah hinggap di kedua pipi Naruto. Ia berhenti mengacak-acak rambutnya.
"HINATA! AYO, PULANG! INI SUDAH LEWAT SATU MENIT!"
Terdengar suara mengerikan yang berat dari kakak Hinata.
"I-iya, kak," jawab Hinata cepat.
Hinata langsung berbalik badan dan hendak berlari-lari kecil untuk mengejar kakaknya yang sudah menunggunya di mulut pintu gerbang.
Hinata menoleh sebentar ke arah Naruto. Ia tersenyum lebar.
"Naruto, cepat temui Koneko. Lalu minta maaf sama dia ya. Jangan lupa!"
Setelah mengatakan hal itu, Hinata langsung berlari-lari cepat mengejar kakaknya. Meninggalkan Naruto yang terpaku dengan wajah yang merona merah.
"I-Iya, Hinata," balas Naruto.
Ia menatap kepergian Hinata tanpa berkedip sama sekali. Naruto seperti patung hidup dibuatnya.
["Ehem! Wajahmu merah sekali, gaki. Tampaknya kamu memang jatuh cinta sama Hinata ya?"]
Terdengar suara yang berasal dari jam tangan yang tersemat di pergelangan tangan kiri Naruto. Rupanya si Kyuubi.
Membuat lamunan Naruto buyar seketika. Kyuubi malah tertawa terkekeh-kekeh sambil terus menggoda Naruto.
["Hehehe ... Kamu benar-benar suka sama gadis keturunan Hyuga itu. Lihat, wajahmu semakin memerah padamu!"]
"DIAM KAU, RUBAH MENYEBALKAN!" seru Naruto kesal sambil menepuk pelan jam tangan tersebut.
["Ma-maaf. Jangan pukul aku begitu dong. Sakit tahu!"]
"Biarin. Biar tahu akibatnya gimana kalau kamu terus menggodaku."
["I-IYA, IYA. KALAU GITU, MAAF DONG!"]
Mereka berdua malah bertengkar adu mulut membuat semua orang yang berada di sana, menjadi sweatdrop melihat mereka. Juga Sasuke yang mematung tak jauh dari Naruto berdiri.
"Dobe, sepertinya hari ini kamu agak aneh," gumam Sasuke mengangkat salah satu alisnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Naruto sekarang.
.
.
.
AKADEMI PILOT LUAR ANGKASA (APLA), 06.45 A.M AT LUNAR TIME
"Ja-Jadi, sifatku yang pemalas dan suka tidur-tiduran pas di hari libur, jadinya Power Ball-ku membentuk dirinya menjadi singa," kata Irina sambil memegang dagunya dengan tangannya.
"Iya, begitulah kira-kira," ujar Rias sambil tertawa lebar."Power Ball itu satu DNA dengan kita. Jadinya seratus persen karakter kita akan sama dengan karakter Power Ball kita. Karena di DNA tersebut, semua informasi tentang diri kita sudah tertanam di sana. Sehingga Power Ball ini akan membentuk dirinya sesuai pikiran yang direspon oleh pemiliknya dan hampir seratus persen laginya informasi sifat dari DNA kita akan diambilnya untuk pembentukan kepribadian yang sesuai dengan dirinya. Makanya Zhi hanya keluar saat kamu mengalami bahaya."
"Oh, begitu," Irina manggut-manggut.
"Zhi memang hebat ya. Dia mengalahkan suara supersonik-nya Frenklin. Lalu suaranya itu membuat kita mati rasa mendengarnya," sahut Akeno.
"Iya, kita malah pingsan kemarin dibuatnya," Rias menghelakan napasnya.
"Hehehe, pada akhirnya aku bersyukur kalau Power Ball-ku menjadi aktif gara-gara dibantu Sasuke. Aku sangat berterima kasih sama dia."
"Tapi, kalian berdua serius mau masuk lagi ke dalam pasukan dua belas Seeker?" tanya Rias.
Akeno dan Irina mengangguk bersamaan. Rias tertawa lebar melihatnya.
"Baguslah, kalian berdua sudah masuk lagi ke dalam anggota dua belas Seeker," tiba-tiba ada yang menyahut. Ketiga gadis yang sedang duduk di bangku masing-masing. Mereka menoleh bersamaan ke arah asal suara.
Rupanya si Issei. Ia baru datang ke dalam kelas yang baru diisi oleh ketiga gadis tersebut. Ia berdiri di dekat meja milik Rias.
"Hei, selamat pagi, Issei!" sapa Irina bersemangat.
"Ya, selamat pagi buat semuanya!" balas Issei juga bersemangat. Akeno yang tersenyum. Sedangkan Rias malu-malu kucing begitu karena Issei berdiri di dekat bangkunya.
"A-Ano, begini. Tumben kalian akrab lagi sama Rias," tanya Issei kelihatan agak gugup sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia kelihatan aneh hari ini.
"Memangnya kenapa kalau kami akrab lagi?" Irina malah balik bertanya.
"Ng, kalau gitu aku mau ngomong sama Rias dulu," Issei langsung menarik tangan Rias begitu saja. Membuat Rias kaget setengah mati.
"Eh? Eh? Issei?!" Akeno dan Irina juga kaget ketika Rias diseret cepat oleh Issei keluar dari kelas. Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba Issei menjadi berani untuk mengajak Rias untuk membicarakan sesuatu.
.
.
.
AKADEMI PILOT LUAR ANGKASA (APLA), 07.00 A.M AT LUNAR TIME
Naruto sedang berjalan santai untuk menaiki tangga ke lantai dua. Saat yang bersamaan, ia berpapasan dengan seorang gadis berambut perak yang akan menaiki tangga yang sama.
"Na-Naruto?"
"Koneko!"
Mereka berdua pun berhenti berjalan. Terlihat Koneko yang terpaku menatap Naruto dengan kemerahan di kedua pipinya. Lalu Naruto yang tersenyum karena sudah bertemu dengan Koneko.
"Selamat pagi, Koneko!"
"Se-Selamat pagi juga, Naruto!"
Koneko malah gugup begitu ketika menjawab sapaan Naruto. Mengapa dia malah gagap seperti Hinata?
"A-Ano, begini ... Koneko ...," Naruto menggaruk-garuk kepalanya sembari melirik ke arah lain."Waktu kemarin itu, maafkan aku ya karena tanpa sadar aku menampar pipimu. Aku tidak bermaksud begitu kok. Kamu mau memaafkan aku, kan?"
Naruto berkata sangat lembut. Sangat menggetarkan hati Koneko yang kini dilanda rasa sakit hati. Walaupun Naruto telah menamparnya karena ia telah membuat Hinata terluka. Tapi, ia tidak akan pernah bisa marah kepada laki-laki yang sangat ia sukai ini.
"Tidak apa-apa kok, Naruto."
"Hm? Maksudnya?"
Naruto menatap Koneko dengan serius. Koneko pun menundukkan kepalanya.
"A-Ano, a-aku yang salah. Seharusnya aku yang meminta maaf. Bukan kamu," suara Koneko terdengar lirih. Naruto terpaku mendengar perkataan Koneko itu.
"Tidak," kata Naruto dengan tegas."Aku yang harus minta maaf padamu, Koneko. Aku memang laki-laki yang tidak tahu diri karena menampar seorang gadis manis sepertimu. Cuma karena masalah sepele."
BRUUUUSH!
Meronalah kedua pipi Koneko karena mendengar perkataan Naruto itu. Lalu ia mengangkat kepalanya. Naruto tersenyum manis untuknya.
"Naruto ..."
Naruto mengulurkan tangan kanannya ke arah Koneko.
"Kalau begitu, maafkan aku ya, Koneko."
Koneko terpana memandangi tangan kanan Naruto itu. Sedetik kemudian, Koneko menyambut tangan Naruto dengan senang hati.
"I-Iya, kalau begitu. Maafkan aku juga ya, Naruto."
"Iya, aku memaafkanmu, Koneko. Tapi, ada syaratnya."
"Sya-Syarat?"
Koneko mengerutkan keningnya. Naruto menyengir lebar untuk Koneko. Mereka melepaskan jabatan tangan masing-masing.
"Syaratnya adalah maukah kamu menjadi sahabatku?"
Mendengar permintaan Naruto yang tiba-tiba, membuat Koneko tertegun.
"Sa-Sahabat?" tanya Koneko tidak percaya.
"Hn, sahabat."
Naruto mengangguk kepalanya dengan cepat. Koneko menatap wajah Naruto lama sekali. Sepertinya ia harus berpikir keras.
'Sahabat? Jadi, Naruto hanya menganggap aku sebagai sahabatnya. Padahal aku suka padamu, Naruto. Tapi ...,' Koneko bergumam di dalam hatinya sendiri.'Tidak apa-apa. Kalau menjadi sahabatnya, berarti aku bisa dekat denganmu, Naruto.'
Koneko menampilkan senyuman manis yang jarang ia tunjukkan. Membuat Naruto tersentak kaget melihatnya.
"Kamu tersenyum, Koneko."
"Hah?"
Koneko ternganga. Senyuman manis itu pun hilang seketika. Giliran Naruto yang tersenyum.
"Kamu manis juga ya kalau sedang tersenyum," Naruto memegang bahu Koneko."Aku senang melihat kamu tersenyum seperti itu."
"Naruto ..."
"Jadi, apa jawabanmu? Mau tidak menjadi sahabat perempuanku yang pertama?"
Koneko mengangguk cepat. Naruto senang melihatnya. Tangan Naruto yang tadi memegang bahu Koneko, kemudian diulurkan ke depan Koneko lagi.
"Mulai sekarang kita berdua adalah sahabat. Aku akan selalu berada di dekatmu, Koneko," sahut Naruto memasang wajah yang berbinar-binar."Ayo, bersalaman sebagai tanda kita adalah sahabat untuk selama-lamanya! Kamu mau berjanji?"
Koneko mengangguk. Dengan cepat, ia menyambut tangan kanan Naruto itu.
"KITA BERSAHABAT!" seru Naruto dan Koneko dengan kompak. Mereka berdua saling tersenyum lebar.
.
.
.
AKADEMI PILOT LUAR ANGKASA, (APLA), 07.00 A.M AT LUNAR TIME
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda, yaitu di atap sekolah yang sepi. Di mana Issei dan Rias berada. Sepertinya ada pembicaraan serius yang terjadi di antara mereka.
Rias menjadi heran mengapa Issei mengajaknya ke atap sekolah. Kini mereka berdua berdiri saling berhadapan.
"Kenapa kamu mengajakku ke sini?" tanya Rias memasang wajah yang sedikit kemerahan.
Issei yang asyik menoleh kesana dan kemari. Dia memastikan keadaan sudah aman. Lalu ia menjawab pertanyaan Rias itu.
"Ng, be-begini, Rias ...," Issei malah gugup sambil menggaruk-garuk pipinya."Hari sabtu nanti, kamu ada acara tidak?"
Rias mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Kenapa? Hari sabtu, kita ada jadwal latihan di PEB. Kamu tahu, kan?"
"I-Iya, aku tahu itu. Kita latihan cuma sampai jam dua belas siang kok. Setelah itu, tidak ada acara lagi. Jadi, setelah pulang dari latihan, kamu tidak ada acara, kan?"
"Tidak ada. Setelah latihan, tentu saja aku pulang."
"Kalau begitu, setelah pulang dari latihan di hari Sabtu, aku ingin mengajakmu pergi jalan-jalan ke taman planetarium. Bagaimana?"
Perkataan Issei itu cukup mengagetkan Rias.
"Heh? Ka-Kamu mau mengajakku jalan-jalan? Cu-Cuma berdua saja?"
"I-Iya," Issei mengangguk cepat."Karena itu, aku mengajakmu berbicara di sini. Nanti Irina dan Akeno malah mendengarnya. Jadi, aku takut mereka juga ikut bersama kita. Aku ingin cuma kamu yang bisa menemani aku. Soalnya aku mendapatkan dua tiket taman planetarium dari Ayahku. Kata Ayahku, ada pertunjukan teknologi terbaru di sana. Kamu maukan, Rias?"
Issei mengeluarkan dua tiket masuk taman planetarium dari saku celana panjangnya dan memperlihatkan tiket itu pada Rias. Rias terpaku menatap dua tiket itu. Dia tidak percaya bahwa Issei memilihnya untuk ikut ke taman planetarium itu.
'Jadi, ini sama saja kalau Issei mengajakku kencan. Hehehe, aku senang sekali,' batin Rias tersenyum senang di dalam hatinya.
BATS!
Rias menyambar satu tiket itu dari tangan Issei. Issei tersentak kaget dibuatnya.
"Baiklah, aku mau ikut ke sana," ujar Rias tertawa lebar. Membuat rona merah tipis hinggap di kedua pipi Issei.
Sedetik kemudian, Issei tertawa lebar mendengarnya.
"Oke, Rias. Aku akan membawamu ke sana."
"Hm," Rias mengangguk dengan wajah yang senang. Issei menatap Rias dengan pandangan yang lembut. Begitu juga dengan Rias.
Sepertinya ada bunga-bunga cinta yang bersemi di antara mereka berdua. Entah kapan mereka akan saling menyatakan perasaan masing-masing.
.
.
.
SEKTOR LUNAR E, 19.00 P.M AT LUNAR TIME
"Ini ada dua tiket ke taman planetarium," sahut Orochimaru menyodorkan dua benda berbentuk kartu kepada Sasuke.
"Tiket apa ini, Kakek?" tanya Sasuke. Ia duduk berhadapan dengan sang Kakek. Lalu di samping Sasuke, duduklah sang Kakak laki-laki bernama Itachi.
"Itu tiket untuk masuk ke taman planetarium, Sasuke," jawab Itachi sambil mengunyah makanannya."Ada teknologi terbaru yang ditunjukkan di sana."
"Teknologi terbaru?" Sasuke menoleh ke arah Itachi. Sasuke menghentikan aktifitas makan malamnya sebentar.
"Iya, teknologi yang berhasil diciptakan para ilmuwan yang menciptakan Power Ball itu. Para anggota PEB dan kalian para dua belas Seeker harus melihat teknologi itu. Teknologi itu bisa menjadi salah satu senjata tambahan saat ekspedisi Planet Hitam dimulai. Karena itu, kamu berikan satu tiket lagi untuk temanmu, Sasuke," kata Itachi menjelaskannya dengan panjang lebar.
"Iya, itu betul, Sasuke," Orochimaru manggut-manggut.
"Hm, rasanya menarik kalau ada senjata tambahan untuk dua belas Seeker," Sasuke tersenyum tipis sambil memegang erat dua tiket itu."Pasti teknologi itu hebat."
"Sepertinya kamu tidak sabar untuk melakukan ekspedisi itu. Sasuke, bocah yang manis."
Itachi tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang berkilau. Membuat Sasuke sewot mendengarnya.
"KAKAK, JANGAN SEBUT AKU BOCAH YANG MANIS! AKU GELI MENDENGARNYA!"
"HAHAHA, SASUKE YANG SELALU DATAR WAJAHNYA BISA JUGA BERTERIAK KENCANG BEGITU!"
"KUCEKIK KAU, KAK ITACHI!"
Mereka pun bertengkar di sela-sela makan malam yang belum selesai. Orochimaru tersenyum tipis melihat keakraban dua laki-laki bersaudara ini.
'Sasuke, Itachi. Semoga melalui ekspedisi ini, kalian bisa menemukan orang tua kalian kembali di Planet Hitam itu. Terutama kamu, Sasuke,' batin Orochimaru tersenyum ke arah Sasuke.'Tunjukkan kekuatanmu sebagai kapten yang memimpin dua belas Seeker itu, Sasuke. Aku mengandalkanmu. Aku yakin kamu bisa membawa pulang semua orang yang hilang di Planet Hitam itu.'
Harapan yang tertanam di lubuk hati Orochimaru. Semoga semua harapan itu terwujudkan. Tentunya pada pasukan 12 Seeker's itu.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
KETERANGAN JURUS POWER BALL YANG MUNCUL DI CHAPTER KALI INI:
Kibby (kucing): Power Ball milik Koneko
Elemen tanah (mode 1)
BEAT HARD LIGHTNING: pukulan beruntun secepat kilat dengan menggunakan tangan yang telah memakai sarung tangan yang telah dialiri oleh listrik sehingga energi listrik akan berpusat pada sarung tangan mekanik. Teknik ini merupakan gabungan elemen tanah dan elemen listrik.
.
.
.
A/N:
Chapter 7 update!
Terima kasih atas perhatian kalian yang telah membaca fic ini. Terima kasih banyak.
Tinggal satu chapter lagi, perjalanan ekspedisi ke Planet Hitam akan dimulai. Jadi, di chapter 8 adalah chapter khusus buat romance. Baru di chapter 9, dimulai petualangan Naruto dkk dalam menempuh bahaya menuju pencarian orang-orang yang hilang di Planet Hitam atau Planet bumi.
Oke, bagaimana pendapatmu tentang chapter kali ini? Berminat mereview?
Hm, chapter kali ini pendek ya? Ya, saya lagi malas ngetik yang panjang-panjang. Jadi, sampai di sini saja.
Salam ...
Hikari Syarahmia
Jumat, 16 Oktober 2015
