R&R ^^ Don't like don't read!

Cast :

-Yesung as namja (Ppalgan : Pengguna kekuatan merah)

-Ryeowook as yeoja (Hayan : Pengguna kekuatan putih)

-Kyuhyun as namja (Pharan : Pengguna kekuatan biru)

-Sungmin as yeoja (Pohwunsaek : Pengguna kekuatan merah muda)

-Luna as yeoja (Hwangsaek : Pengguna kekuatan kuning)

-Anggota Suju lainnya

-Anggota SNSD

Genre : Romance/Fantasi/Drama/Action

Disclaimer : Ye punya Wook, Wook punya ye, Ye dan Wook saling mempunyai. XD

Warning : Genderswitch, abal, typo, OOC, gaje dan menyesatkan. Tapi bergizi dan baik untuk pencernaan. *dilempar* Sebelum baca, disarankan (wajib) liat ava nya author supaya bisa ngebayangi tokoh2 fic. R&R ^^ Don't like don't read! NO BASH! NO FLAME!

Sran saya ada baiknya jika pada scene tertentu (ada tandanya) di fic ini dibaca sambil dengerin lagu Yesung and Luna yang judulnya AND I LOVE YOU. Happy reading ^^

.

Sepasang sayap hitam mengembang di kedua punggungnya. Beranjak terbang dengan seseorang dengan sayap perak yang sebelahnya telah berubah menjadi hitam, persis wanita di depannya.

"Aku, begitu merindukan kehancuran mereka!"

.

Duarrrrr

Sosok itu muncul diantara kepulan asap hitam yang kini mengelilingi tempat yang disebut-sebut sebagai bukit keramat itu. Beberapa Sora sudah mengelilingi kepulan asap, bersiaga penuh akan kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi malam ini juga. Mereka lah kelima Sora utama yang telah berwas-was tegang. Sebuah panggilan darurat mengharuskan mereka menunda segala aktivitas maupun istirahat mereka, demi bersiap menyerahkan diri pada sebuah pintu peperangan.

Perlahan asap hitam yang tadi berputar mulai memudar seiring munculnya sosok dengan jubah hitam yang menutupi tubuhnya. Tudung hitam yang melindungi wajahnya yang tertunduk membuat siapa saja yang menyaksikan pemandangan tersebut berkeringat penasaran.

Seringaian tajam muncul di bibir kelewat merahnya. Tangannya yang sepucat salju perlahan terangkat, menunjukkan telapak tangan bersih yang merentangkan kelima jari panjangnya.

"Apa kabar, para Sora yang terhormat?" kepalanya terangkat perlahan tanpa memudarkan seringaian yang menakutkan.

"Lama tidak berjumpa,"

Degg

Jantung Yesung seakan terhenti saat itu juga. Kakinya melemas seiring dengan matanya yang semakin lebar menangkap sosok yang begitu tabu baginya. Sebutir keringat sebesar jagung mengalir melalui celah pori-pori dahinya.

Kenapa bisa dia ada di sini? Wanita laknat itu, wanita yang telah membuat ia tak bisa lagi melihat appanya. Wanita licik yang telah memporak-porandakan Soraguene dan meledak bersama appanya, kenapa bisa hidup kembali?

Seketika rasa sesak merasuki ruang dadanya. Kemunculan wanita itu membuatnya harus kembali menguak masa lalu yang begitu menyakitkan. Ditambah lagi tempatnya berpijak sekarang, membuat banyak trauma berseliweran di otaknya. Diremasnya baju bagian dadanya perlahan. Wajah yang tengah pucat pasi itu mau tak mau ditangkap oleh penglihatan Wookie yang sedari tadi memperhatikan sosok Yesung.

"Yesung gwaenchana?" bisiknya sambil menepuk bahu gagah itu. Bahu yang beberapa saat lalu menjadi tempatnya bersender dan berbagi kehangatan. Seberkas rasa ketakutan merasuk ke dalam hatinya ketika ia merasakan apa yang tengah Yesung alami saat ini. Sungguh airmatanya pun tengah menggenang saat ini. Diraihnya tangan besar Yesung dalam genggaman hangatnya. Mengalirkan sebuah kehangatan yang perlahan mulai menenangkan kegelisahan pemuda itu.

"Kau tidak sendiri. Percayalah," bisiknya perlahan. Bisikan yang bagaikan sebuah mantra yang dapat membangkitkan kembali semangat Yesung. Perlahan keraguan itu mulai sirna seiring dengan tangannya yang semakin kuat menggenggam tangan Wookie. Dilepaskannya tangan mungil itu, beralih menatap wanita di depan sana dengan kilatan kemarahan yang luar biasa dari mata elangnya. Sejenak mata mereka bertemu, membuat si wanita hanya mampu melebarkan seringaian tajamnya.

"Kau kah Yesung itu? Ternyata anak Kangin oppa sudah tumbuh sebesar ini. Dia pasti senang jika bisa melihat mu tumbuh sebesar ini," ucapnya santai. Yesung menggeram, menggertakkan bagian giginya. Ia benci! Sungguh ia benci jika nama ayahnya dipanggil oleh mulut yeoja tengik ini.

"Jangan sebut appaku dengan bibir menjijikkan mu itu!" suara dingin Yesung mempu membuat Wookie bergidik sesaat. Bukan hanya Wookie, bahkan Kyuhyun, Luna dan Sungmin yang berada di belakang mereka pun merinding merasakan hawa Yesung yang terasa begitu kuat.

"Hahaha... Benarkah menjijikkan? Kau tahu? Bahkan appamu begitu menikmati bibir ku setiap saat,"

"Jaga mulut mu, berengsek!"

Sreeettt

"Hyung!"

"Oppa!"

Trangg

Teriakan Kyuhyun dan Luna barusan bahkan tak bisa menghentikan langkah Yesung. Pemuda yang tengah kalap itu dengan tak sabarnya langsung lompat dan menyerang wanita berjubah hitam itu. Tapi bukan Kurai namanya kalau mereka tak bisa menangkis serangan mendadak seperti yang Yesung lakukan barusan.

"Besar juga nyalimu, anak muda," wanita itu kembali menyeringai ketika menangkis tiap serangan yang Yesung lancarkan. Sinar merah yang membentuk pedang milik Yesung tak sedikitpun bisa mengenai tubuhnya.

"Cih, walau kau adalah wanita, sekalipun kau seorang anak bayi yang baru lahir, aku tak akan segan-segan memotong-motong bagian tubuhmu, bibi Jung Jessica!"

Trangg

Kedua cahaya berbentuk pedang itu kembali beradu. Kedua sosok itu mundur, mengambil jarak untuk bersiap mengambil serangan berikutnya.

"Cih, aku belum setua itu untuk dipanggil bibi, bocah!" kembali sosok yang diketahui sebagai Jessica itu menyeringai. Seringaian yang mau tak mau ikut memancing seringaian Yesung keluar. Ia mendecih sesaat.

"Naif sekali! Memang pantas kau menjadi pemimpin Kurai. Bahkan aku tak pernah menyangka orang gila seperti mu pernah terlahir sebagai Sora," Yesung kembali mengambil ancang-ancang saat dilihatnya Jessica kembali tersenyum.

Tanpa disadari Yesung, keempat Sora yang tengah menyaksikan perseteruan penuh dendam, tengah bersiaga penuh. Berpikir dalam pikiran masing-masing untuk membantu Yesung memusnahkan yeoja licik di depan sana.

Bughh

"Agh,"

"Yesung!" tubuhnya terpental jauh seiring dengan kaki Wookie yang hampir melangkah mendekati Yesung yang perlahan mulai bangkit dengan memar di bagian pipinya.

"Jangan mendekat! Kalian berempat tetap di situ dan jaga Bridge Stone! Lengah sedikit, maka nenek sihir ini akan mengambil segalanya,"

"Tapi Yesung—"

"Diam disitu Wookie!" Wookie terdiam, kata-kata Yesung barusan berhasil mengerem laju langkahnya secara mendadak. Mata karamelnya menatap punggung lebar di depan sana yang sibuk naik turun mengatur nafas. Rasa cemas melesak begitu saja dalam dadanya. Entahlah. Rasanya Yesung yang kali ini sungguh berbeda dari yang biasanya.

Perlahan air matanya mulai menggenang seiring dengan Yesung yang kembali mengambil ancang-ancang untuk menyerang.

"Kyu," panggil Yesung tanpa sedikitpun menoleh ke belakang—tempat dimana Wookie dan 3 sora lain berkumpul.

"Tolong jaga Wookie dan Bridge Stone. Soal dia biar aku yang tangani!" ucapan serius Yesung sedikit membuat Kyuhyun terlonjak. Bagaimana bisa hyungnya itu menyuruhnya untuk diam di tempatnya berdiri, menyaksikan hyungnya berperang dengan berbagai kemungkinan terburuk yang akan terjadi? Sampai mati pun Kyuhyun tak akan pernah melakukan itu!

"Kau tak boleh gegabah hyung! Ayo susun strategi!"

"Tidak Kyu! Yang terpenting sekarang adalah Hayan dan Bridge Stone!" Yesung melompat, mulai mendekati yeoja yang sibuk menyunggingkan senyum kemenangan sejak tadi.

"Hyung! Tungg—"

"Oppa, apa yang Yesung oppa katakan benar!" langkah Kyuhyun terhenti ketika Luna dengan cepat menahan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Luna yang sedang mengerling ke arah Wookie. Memberi kode padanya agar mata onyx yang tajam itu ikut melirik ke arah Wookie yang tengah mematung.

"Wookie eonnie lebih butuh bantuan kita, oppa!" Kyuhyun melembut. Ketika melihat keadaan Wokie saat ini, ia merasa begitu iba. Sosok mungil yang tengah menerawang menatap pertempuran di depannya tampak begitu rapuh. Sesekali bahunya bergetar hebat kala matanya menagkap tubuh Yesung yang terpukul ataupun terpental jauh.

Grepp

Dirasakan Kyuhyun sebuah tangan mungil menggapai telapak lebarnya. Ia tolehkan kepalanya ke samping dan mendapati Sungmin tengah tersenyum ka arahnya. Seakan senyum manis itu memancarkan kekuatan yang bisa membangkitkan kembali semangatnya.

"Lakukan yang terbaik," Kyuhyun tersenyum. Dipereratnya genggaman tangan Sungmin, diangkatnya menuju wajahnya dan mencium tangan putih itu sekilas. Ditatapnya Luna dan mengangguk sesaat, memberi kode agar gadis itu menyuruh Wookie melindungi Bridge Stone.

Luna mengangguk sesaat. Didekatinya Wookie yang masih mematung dengan bahu bergetar. Disentuhnya bahu itu, dielusnya perlahan, membuat Wookie tersentak dari lamunannya dan berpaling menatap Luna yang menatapnya khawatir.

"Eonnie, jangan khawatir! Yesung oppa pasti bisa menangani nenek sihir itu," digenggamnya tangan mungil eonnienya, meyakinkah bahwa Yesung akan baik-baik saja. Wookie tertunduk, ia alihkan kembali pandangannya menatap Yesung. Tubuhnya tersentak begitu saja ketika mendapati Tubuh Yesung yang terlempar beberapa meter.

"Hiks," isaknya tiba-tiba tanpa suara. Hampir saja ia melangkah jika saja Yesung tak menatapnya dengan tatapan memohon untuk tetap tinggal di tempatnya berdiri. Sungguh hati Wookie sangat sakit. Entah apa yang membuat dadanya menjadi sesesak ini. Entah itu kemampuannya sebagai Hayan, atau karna ia dan Yesung memang sudah ditakdirkan untuk bisa saling merasakan.

"Eonnie, apa eonnie kasihan dengan Yesung oppa?" Luna menggenggam tangan Wookie lembut. Suara lembutnya yang mengalun mampu membuat Wookie tersadar kembali dan menundukkan kepalanya sedih. Masih dengan isak tangis tanpa suara, ia anggukkan kepalanya lemah.

"Apa eonnie mau membantu Yesung oppa?" pertanyaan Luna kembali disambut anggukan gusar dari Wookie. Sungguh yeoja ini begitu rapuh melihat belahan jiwanya tengah bertarung mempertaruhkan segalanya. Benar-benar tampilan yang beraantakan! Kalian tahu? Bahkan Sungmin tak henti-hentinya terisak di bahu Kyuhyun sejak tadi, begitu sakit melihat adik sepupunya yang sudah tak sanggup berkata apapun lagi.

"Eonnie, tatap mata ku!" Luna menggapai pipi Wookie, membuat gadis itu menatap wajah chubby adiknya dengan air mata yang senantiasa menggenang.

"Ayo kita bantu Yesung oppa! Ayo kita lindungi Bridge Stone, eonni!" Wookie masih diam. Sungguh! Sejak tadi bibirnya tak mampu bergerak sedikitpun. Apa yang harus ia lakukan pun ia tak tahu. Di pikirannya saat ini hanya ada Yesung, Yesung, dan Yesung.

"Eonni, eonnie tidak boleh lemah seperti ini! Kalau bukan eonnie yang melindungi Bridge Stone, Soraguene tak akan bisa selamat. Yesung oppa mungkin juga akan—" Luna menghentikan kata-katanya. Tangannya yang telah dilepas begitu saja oleh Wookie membuatnya bingung dan menatap Wookie yang dengan santainya berjalan menuju batu dimana Bridge Stone disemayamkan.

Tangannya bergerak, meraba udara disekeliling batu bening dengan kilauan pelangi di dalamnya. Seberkas sinar putih memancar melalui kedua telapak tangannya. Matanya terpejam, mencoba berkonsentrasi penuh atas apa yang tengah ia rasakan saat ini.

Tes

Setetes mutiara bening itu mengalir. Bisa ia rasakan, bisa ia pahami, bisa ia mengerti bagaimana perasaan para Sora di negri ini. Semua Sora sama hal nya dengan Bridge Stone dan juga dirinya. Penuh dengan rasa ketakutan dan cemas. Ia tahu! Ia tahu betul bagaimana rasanya jika suatu saat semua manusia ataupun Sora di kehidupan ini dilanda ketakutan yang tiada henti. Ia tak mau mereka merasakan apa yang pernah ia rasakan. Bukankah untuk itu ia berada disini? Benar! demi keselamatan Soraguene, Bumi, Sora dan manusia, dan juga... Yesung.

Luna mengangguk pada Kyuhyun dan Sungmin. Setelah sempat menenagkan Sungmin, kini Kyuhyun berjalan menuju sisi kiri Wookie. Demikian juga dengan Sungmin yang mengambil sisi kanan Wookie, dan luna tepat di depan dirinya. Mereka bertiga tengah mengelilingi Wookie yang sibuk dengan Bridge Stone nya. Sejenak ketiga pasang mata itu ikut terpejam bersama Wookie. Keenam tangan itu tengah terangkat, memancarkan sinar sesuai kekuatan masing-masing. Sinar yang kini membentuk sebuah perisai segitiga yang siap menjadi perisai bagi Wookie.

'Tuhan, aku mohon. Aku sangat menyayangi mereka.. hiks,'

.

"Itukah Hayan?"

Tranng

Yesung kembali menangkis serangan Jessica. Matanya yang menatap tajam ke arah Jessica sesekali ia kerlingkan ke belakang, sekedar memeriksa orang terkasihnya.

"Sepertinya banyak sekali yang menyayangi nya ya?" Yesung tak menggubris perkataan ratu laknat itu. Ia hanya fokus menyerang ataupun bertahan dan mencari celah agar dapat segera menamatkan riwayat yeoja tengik ini.

"Bagaimana kalau dia mati?"

Deg

Yesung tersentak sesaat sebelum ia menggeram marah.

"Tak akan pernah terjadi!"

Tranggg

Keduanya kembali mundur dalam jarak yang tak terlalu jauh. Yesung dengan nafas tersendat memandang Jessica yang tengah menyeringai senang.

"Kau begitu mencintainya kan?" Yesung mendecih pelan, menajiskan senyum wanita yang menurut nya terlalu menjijikkan.

"Bukan urusan mu," ucapnya dingin.

"Wah-wah.. Persis ayah mu! Bahkan dia rela meninggalkan orang sudah bersamanya sejak kecil demi sebuah sampah bernama Leetuk!"

"JAGA UCAPAN MU BERENGSEK!"

Duarr

Ledakan besar tak dapat terhindari. Perkataan laknat Jessica tentang Leetuk mau tak mau memancing amarah Yesung. Sebuah kekuatan besar, ia keluarkan untuk menyerang Jessica yang sayangnya terbuang percuma. Wanita licik itu dengan mudahnya dapat menghindar dan kembali tersenyum licik.

Yesung berdiri di tempatnya, masih dengan nafas tersendat ia pandangi sekelilingnya. Matanya bergerak liar mencari tahu keberadaan yeoja yang tengah menjadi lawannya saat ini.

Sreettt

Sosok yang dicarinya tiba-tiba saja muncul tepat di depan wajahnya. Sosok yang Yesung awasi sejak tadi, dengan ajaibnya kini tengah mengunci seluruh gerakkannya. Ditatap Yesung sosok itu dengan penuh kebencian. Sungguh! Kenapa rasanya seringaian yang dilontarkan wanita itu mendadak membuat tubuhnya kaku? Semuanya semakin kabur saat matanya menangkap iris penuh dendam yang dilemparkan untuknya. Tubuhnya melemas seketika. Pandangannya buram dan kini tatapannya beralih menjadi kosong. Seakan wanita yang berada beberapa senti darinya itu tengah membawanya ke dalam jurang gelap terdalam yang pernah ada.

"Kau tahu? Wajah mu ini sangat mirip dengan Kangin oppa. Membuatku ingin mencium mu sekarang juga!" Jessica mendesiskan suaranya. Tangan mulusnya bergerak untuk mengelus pipi Yesung seseduktif mungkin.

Gretakk

"Tapi.." tangannya meremas kuat dagu Yesung. Menatap wajah tampan itu dengan pandangan paling mematikan yang pernah ia lontarkan.

"Sifat dan pancaran mata mu itu persis sampah yang telah merebut Kangin oppa ku! Sampah yang telah membunuh orang yang ku cintai! Umma laknat mu!" genggamannya semakin kuat seiring dengan Yesung yang meringis pelan—masih dalam keadaan setengah sadar.

.

"Hiks, Yesung," rentetan butir air mata itu mengalir begitu saja melalui pipi tirusnya. Sosok yang tengah memejamkan mata dengan tangan yang bersinar terlihat begitu meyedihkan dengan raut wajah yang terisak pilu.

Wookie, ditengah konsentrasinya melindungi Bridge Stone sedang memikirkan seseorang yang tengah berjuang di luar sana. Sosok yang kini membuat hatinya dipenuhi rasa ketakutan yang amat mendalam. Cahaya yang keluar dari tangannya berputar tak stabil diantara Bridge Stone. Hatinya yang tengah berkeluh gundah rupanya bisa membuat konsentrasinya buyar seketika.

Tanpa Wookie sadari, 3 Sora di luar sana juga tengah mengernyit khawatir dalam pejaman mata mereka. Sebuah perisai yang tengah mereka ciptakan pun terlihat menipis seiring dengan pengaruh kesedihan yang mereka rasakan dari Wookie di dalam sana.

Dan tanpa mereka berempat sadari, seorang yeoja tengah mengawasi mereka di balik sudut matanya yang melirik tajam. Tangan yang sedang menahan bahu Yesung erat—mengunci pergerakan pemuda itu— semakin mengencang kala melihat gadis mungil yang tengah terpejam dalam balutan tameng segitiga. Keinginannya untuk segera membunuh yeoja itu dan segera mengambil Bridge Stone bertambah semakin besar.

.

Jessica menatap Yesung yang masih tampak seperti mayat hidup. Bahkan cengkramannya pada bahu dan dagu pemuda itu tak mampu membuatnya tersadar akan keadaan yang sebenarnya. Perlahan, yeoja itu mulai melepaskan cengkraman di dagu yesung. Tangannya beralih menelusuri wajah tampan itu dengan jari telunjuknya yang terhenti tepat di dahi Yesung.

"Para Sora itu memang memuakkan ya? Sama seperti diri mu," ditatapnya mata kosong Yesung. Sebuah seringai menakutkan kembali muncul di permukaan bibirnya.

"Kalian memuakkan dengan berbagai cinta yang saling terbalaskan! Sama seperti ayah mu dan si sampah Leetuk itu!"

"Arrgghh," jari telunjuknya perlahan mengeluarkan sinar pekat. Sebuah cahaya berwarna hitam kelam mengalir melalui kuku tajamnya yang perlahan mulai menembus dahi Yesung, menimbulkan darah yang menganak sungai kecil di dahinya.

"Hahaha... Kau menikmatinya Yesung? Rasakan!"Jessica tertawa semakin lebar ketika dilihatnya Yesung semakin menjadi. Pemuda itu tengah kesakitan oleh sesuatu yang keluar dari telunjuk Jessica yang sudah menancap di dahinya. Sebuah impuls yang dialirkan untuk membuatnya menoleh pada sesuatu yang menyakitkan.

"Sekarang kau tahu kan bagaimana rasanya jadi aku?"

.

"Hiks, Yesung.. Bertahanlah," isak suara jauh di depan sana.

"AARGGHHH!"

~0o0o0o0~

"Haruskah oppa pergi?" tangannya menggapai ujung baju pemuda itu, menatapnya dengan penuh mata memelas.

"Ne Sicca. Oppa harus bertanggung jawab pada keluarga kerajaan," pemuda itu tersenyum, mencoba mengatakan bahwa dirinya akan baik-baik saja.

"Tapi oppa akan mati kalau pergi!" perlahan air mata mulai berlinangan dari kelopak matanya. Tangannya bergetar hebat, menunjukkan betapa ia khawatir akan keadaan oppa yang begitu ia cintai.

"Sudah menjadi reksiko oppa, Sica. Oppa telah melanggar peraturan dengan menikahi Putri Leetuk secara diam-diam, jadi oppa harus bertanggung jawab atas semuanya," digenggamnya tangan yeoja yang sudah seperti adik baginya. Sedangkan si yeoja, tanpa ia ketahui telah dipenuhi oleh dendam yang begitu membara. Kangin melepaskan genggaman tangannya lalu mengacak rambut Jessica perlahan. Senyum tulus mengembang di permukaan bibirnya.

"Jaga diri Sica ya. Oppa akan kembali sesegera mungkin untuk menemui dongsaeng mungil oppa ini," ia membalikkan tubuhnya, berjalan perlahan menjauhi dongsaengnya.

"Kangin oppa!" Kangin berbalik dan menatap Jessica yang tengah tertunduk dengan bahu bergetar.

"Apa oppa benar-benar mencintai yeoja itu?" Kangin tersenyum menatap Jessica yang kini memelas kepadanya.

"Tentu sica! Dia segalanya bagi oppa. Jaga dirimu," Kangin berbalik, mengeluarkan sepasang cahaya berpendar dari kedua punggung lebarnya. Punggung yang hanya bisa ditatap nanar oleh gadis di belakangnya. Perlahan sayap hitam yang berpadu dengan emas itu mulai mengepak, membawa tubuh Kangin melayang jauh meninggalkan Jessica yang semakin tertunduk lesu.

Tangannya terkepal erat penuh dendam. Diambilnya sesuatu dari saku jubah Soranya. Sebuah lipstick berwarna hitam mengkilap dengan simbol ular dan kutang(?) di bagian luarnya berada di atas telapak tangannya. Ia buka penutup lipstick itu. Tanpa berpikir lama, ia sapukan warna merah merekah itu pada permukaan bibirnya.

Sebuah sinar hitam menyelimuti tubuhnya. Jubah hitam tersampir di pundaknya dengan tiba-tiba, serta sepasang sayapnya yang kini telah menjadi hitam sepenuhnya. Sebuah seringaian keluar dari bibir merahnya. Ditatapnya lipstick yang tengah ia genggam. Sebuah lipstick yang diberikan oleh mantan Kurai terdahulu yang bertenu secara tak sengaja dengannya.

Akhirnya! Akhirnya demi sebuah kecemburuan ia telah menjadi Kurai. Demi sebuah cinta yang sama sekali percuma ia rela menanggalkan kehidupan suci para Sora dan melakukan pekerjaan kotor para Kurai. Semua hanya untuk satu tujuan! Menghancurkan mereka yang telah merebut Kangin oppa darinya. Kangin oppanya yang begitu ia cintai.

"Mati kau Leetuk!"

.

.

Sosok tegap itu berdiri membelakanginya yang tengah terperangkap dalam ruangan gelap. Dari belakang saja Yesung tahu pasti siapa sosok itu. Sosok yang amat sangat ia rindukan ada di hadapannya. Ingin ia segera berlari dan memeluk sosok itu erat, menagatakan betapa ia rindu akan kehadiran seorang sepertinya. Namun ia harus mengurungkan niatnya saat ini. Sosok yang tengah membelakanginya itu terlihat sangat berbeda.

Matanya membulat menyadari Kangin—ayahnya— tidak mengenakan jubah emas yang biasanya ia pakai sebagai Keomta. Yang membuatnya terkejut adalah bagaimana bisa ayahnya memakai jubah hitam seperti yang para Kurai kenakan?

Matanya bertambah lebar ketika sepasang sayap hitam berpendar dari kedua punggungnya. Bukan sayap Keomta dengan aksen emas di tiap pinggir sayapnya. Sungguh nafasnya terasa tercekat melihat pemandangan ini. Perlahan Kangin mulai berbalik menghadap Yesung. Ketika itu pula waktu serasa berhenti bagi Yesung.

Rasa sesak menjalari rongga dadanya ketika menangkap mata ayahnya yang hitam pekat dengan kilauan kelicikan di dalamnya. Bibirnya yang menyunggingkan seringaian tajam mampu membuat bahu Yesung bergetar menahan takut.

"Appa—" suaranya tercekat seiring dengan tangan besar yang kini mencekik erat lehernya.

Gretakkk

~0o0o0o0~

"ARGHHH!"

"YESUNG!" Wookie terisak hebat. Tangannya yang masih berusaha melindungi Bridge Stone terlihat semakin kacau. Apa yang baru saja di putar Jessica dalam otak Yesung, secara sendirinya merasuk ke dalam pikiran dan ruang hatinya. Ia kacau! Sangat kacau dengan beribu perasaan sesak yang menyelimuti hatinya.

Disaat Wookie dan ketiga Sora lainnya mulai lengah, disaat itu pulalah Jessica semakin memperdalam seringaiannya. Dengan wajah yang dibuat-buat, ia lihat sekilas Yesung dengan tatapan sendu.

Diturunkannya sebelah tangannya yang tadi mencengkram bahu pemuda yang tengah mengatur nafas itu. Perlahan namun pasti, sebuah cahaya hitam kembali memenuhi telunjuknya. Ia arahkan telunjuknya ke arah Wookie, Hayan yang masih larut dalam kesedihannya.

Syuuw

Tepat disaat sinar itu melesat dari jarinya Yesung tersadar dan segera membelalakkan matanya. Gadisnya sedang dalam bahaya!

Duarrrr

Ledakan besar tak dapat dihindari. Baik ketiga Sora atau bahkan Wookie sendiri tengah terlempar oleh sinar hitam Jessica. Wanita itu menyeringai senang. Jika benar sasarannya tepat mengenai Wookie si Hayan, maka lengkaplah sudah jalannya untuk mengambil Bridge Stone dengan mudah. Dengan begitu, sukseslah rencananya untuk menghancurkan kehidupan apapun yang ada di dunia ini dan tinggal berdua dengan kekasih hatinya. Cinta abadinya.

Jessica mengernyit, menyadari sesuatu yang kurang. Begitu lebar ia membelalakkan matanya ketika tak mendapati Yesung di hadapannya. Sial! Pemuda itu masih sempat mengumpulkan tenaganya untuk menyelamatkan gadis mungil di depan sana saat ia sedang lengah. Ia jadi makin muak sekarang! Hampir saja ia melakukan serangan sekali lagi jika saja sebuah suara tidak menginterupsinya.

"Hentikan sampai disitu, Jessica!" Jessica menoleh dan mendapati Leetuk, Siwon serta beberapa Sora seperti Donghae dan Eunhyuk mengelilinginya. Ia mendecih sesaat sebelum membuang sendiri ludahnya di hadapan mereka.

"Cih, memuakkan!" ia mengerling ke atas, dimana seseorang telah menunggunya sejak tadi. Sosok berkacamata yang tak mengambil tindakan apapun sejak tadi dan hanya mengamati dari balik dahan pohon tempatnya bersembunyi. Sosok itu hanya bisa terkejut setelah matanya menangkap sebuah bayangan yang begitu ia kenal di bawah sana.

"Hei, mantan Sora! Ayo pergi!" Jessica mengeluarkan sayap hitamnya. Beranjak pergi tanpa menunggu orang yang masih melamun di atas pohon.

Sosok itu tersentak ketika melihat Jessica yang sudah terbang menjauhinya. Perlahan ia kembangkan sayap belangnya, membuat semua yang ada di situ beralih dan menatap kaget ke arahnya.

"KAU?" pekik Siwon yang paling kaget diantara semuanya. Dengan tidak menggubris teriakan Siwon, sosok itu mengepakkan sayap perak dan hitamnya. Membuatnya terangkat dan segera meninggalkan orang-orang yang masih kaget menatapnya.

.

"Wook-ie, gwaen-chan-ha?" Wookie membuka matanya perlahan. Seketika itu juga ia terkejut ketika mendapati Yesung tengah menindihnya, melindunginya dari kematian yang sempat menjemputnya. Setetes air mata kembali membasahi pipi tirusnya. Ia menangis! Sungguh hatinya tersayat oleh keadaan Yesung saat ini. Memar dan luka dimana-mana, ditambah raut wajahnya yang masih seperti orang stress, bagaimana bisa Wookie mengabaikan pemuda ini begitu saja?

Perlahan disentuhkannya jemarinya pada dahi Yesung yang masih dialiri oleh darah. Ia usap cairan pekat itu, kemudian mengecupnya tulus. Ia pun tak tahu harus bagaimana. Yang ia tahu, semua ini belum berakhir dan ia masih perlu untuk berlatih lebih keras lagi. Agar nanti, ketika Kurai menyerang lagi, ia tidak lagi melihat Yesung yang melindunginya seperti ini! Ia ingin, Yesunglah yang ia lindungi suatu saat nanti.

Direngkuhnya tubuh yang mulai kehilangan sadar itu. Dielusnya punggung Yesung penuh kasih, menyalurkan segala kekhawatiran yang selalu merasuki otaknya ketika memikirkan pemuda ini.

"Aku... Begitu mengkhawatirkan mu,"

.

(A/N: Coba baca sambil denger lagu Yesung and Luna yang judulnya And I Love You ^^)

.

Berhari-hari berlalu semenjak kemunculan Jessica di bukit SM. Berhari-hari pula para Sora diliputi perasaan cemas akan pertarungan yang sebenarnya datang berkunjung. Tak terkecuali dengan Wookie. Gadis dengan julukan Hayan ini mati-matian berlatih dengan Bridge Stone nya, berharap ia dapat mengendalikan batu ini dan menggunakannya untuk memusnahkan Kurai untuk selamanya.

Yesung yang tengah berbaring di ruang perawatan Sora telah membangkitkan semangatnya untuk berlatih dan terus berlatih. Tak mengindahkan setiap mulut yang membentaknya untuk berhenti. Yang ia mau hanya bertambah kuat dan dapat melindungi Yesung serta seluruh kehidupan.

Gadis itu kembali memusatkan cahayanya pada Bridge Stone, angin malam yang bertiup membuat jubahnya berkibar dan menggetarkan lutunya perlahan. Tak ia pedulikan telapak tangannya yang telah melepuh panas—terlalu memaksakan diri.

"Jangan jadi pembangkang, Wookie. Berhenti sekarang juga!" suara familiar itu sanggup membuat pancaran sinarnya terhenti. Matanya melebar khawatir ketika menangkap sosok Yesung dengan perban di kedua lengannya berjalan mendekati nya.

"Apa yang kau lakukan di sini? Jangan jadi pembangkang Yesung! Kembali ke ruang perawatan!" Yesung tersenyum sesaat sebelum tergelak dalam tawa. Membuat Wookie mengernyit dalam heran.

"Kau baru saja melempar kembali kata-kataku, gadis burung!" kembali Yesung terkekeh saat Wookie melemparkan raut tak sukanya. Wajah yang cemberut itu memang selalu bisa membuat Yesung terkikik dalam geli.

Dihentikannya tawanya saat menangkap pergelangan tangan Wookie. Diraihnya telapak tangan mungil itu, memperlihatkan luka melepuh yang hampir menutupi telapak tangan yang dulu mulus. seperti mengalami de javu, hanya saja posisinya kali ini sedang berbalik.

"Hentikan saja semua ini," suara Yesung terdengar begitu lirih seiring dengan tatapan nanar matanya pada telapak tangan Wookie.

"Eh?"

"Kubilang hentikan!" ditatapnya wajah Wookie dengan beribu rasa khawatir yang memuncak .

"Hentikan usaha mu! Pulanglah! Berhenti menjadi Hayan dan kembalilah ke Bumimu!" seketika itu juga Wookie menghentakkan tangan Yesung. Membuat tangannya bebas dari genggaman hangat itu.

"Kau pikir aku gila? Mati-matian aku berlatih untuk mu, untuk negri mu, lalu kau suruh aku kembali ke Bumi tanpa melakukan apa-apa? Ku kira kau sudah gila, tuan helem!" Wookie bringsut tak trima. Ia begitu marah ketika Yesung menyuruhnya kembali ke Bumi tanpa melakukan apapun untuk menyelamatkan Soraguene ini. Ia kira dirinya sudah lebih berguna, tapi jika Yesung mengusirnya seperti ini, rasanya sama saja dengan membuang orang tak berguna ke tempat sampah.

"Bukan begitu Wookie, hanya saja..." Yesung menatap sosoknya lekat. Ribuan rasa cemas tertuang di sana, membuat Wookie yang mengerti akan tatapan itu hanya bisa ikut menunduk sedih.

Diangkatnya sebelah tangannya, menyentuh pipi Wookie penuh kelembutan.

"Aku tak mau sesuatu terjadi pada mu. Sesuatu berputar di kepala ku dan mengatakan bahwa pertempuran selanjutnya akan lebih mengerikan. Aku hanya ingin kau tetap hidup dan menjalani hari mu seperti biasa. Aku yang telah membawa mu kemari, maka aku juga yang harus bertanggung jawab atas itu," Wookie menutup matanya. Merasakan sesuatu melesak keluar dari kelopak matanya ketika merasan belaian tangan Yesung di pipi tirusnya. Kata-kata yang baru saja dilontarkan pria itu sungguh menyakiti hatinya. Bukan karna apa, hanya saja pemuda itu berucap seolah mereka tak akan pernah bertemu lagi.

"Kalau begitu, lindungi aku!"

"Eh?" Yesung menatap bingung Wookie yang tengah menatapnya menuntut, masih dengan mata yang memerah basah.

"Kau bilang bertanggung jawab atas ku kan? Maka lindungi aku selama pertempuran!"

"Tapi Wookie akan lebih baik jika—"

"Apa yang membuat mu takut, Yesung?" kontan Yesung terdiam. Bayangan akan racun yang telah disebarkan Jessica dalam pikirannya mampu membuatnya terdiam sesaat. Cuplikan dimana ia melihat Kangin dengan sayap hitam pekatnya yang mencekik erat nadi lehernya, mampu membuat nafasnya tercekat sesaat. Dadanya terasa sesak saat itu juga.

Wookie meraih telapak tangan Yesung dari pipinya, ia genggam sesaat sebelum ia buahi dengan ciuman lembut miliknya. Hal yang selalu ia lakukan ketika pemuda di depannya sedang gundah.

"Manil geudega, ne harul bondamyon~" Yesung tersentak, suara merdu Wookie barusan mampu membuatnya tersadar dan beralih menatap gadis yang tengah menyanyi dalam kegiatannya mengecup tangan Yesung. Kembali airmata mengalir perlahan di kedua pipi Wookie. Airmata bukanlah apa-apa dibanding sakit yang ia rasakan saat ini.

"Maeumi apa, gogel holgulji molla~ hiks," Yesung tersenyum miris. Pemandangan di depannya lebih mengoyak hati dari apapun. Bisa-bisanya gadis ini memikirkan kesedihannya sementara nyawa nya sendiri terancam dalam bahaya!

"Myotbon ye gejol, gochi-hiks go gochoya~" tak tahan lagi! Hati Yesung begitu gundah melihat gadisnya seperti ini! Ia tarik tangannya dari genggaman Wookie. Diletakkannya kedua telapak tangannya di kedua sisi pipi tirus itu. Membuat sang empunya menatapnya dengan mata berkaca-kaca, memperlihatkan jejak air mata yang masih jelas terlihat.

"Seulpun kkumeso, hiks Jankkelsu itnayo~ Hiks," Yesung menatap lekat sosoknya. Sorot matanya melembut seiring dengan wajahnya yang semakin mendekat. Keadaan gadis ini sungguh membuat sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Hatinya juga sakit saat ini! Dan ia juga tak tahu bagaimana cara untuk bangun dari segala mimpi buruk ini. Yang ia tahu saat ini, dirinya dan juga Wookie sedang perlu kehangatan untuk segala beban yang mereka alami.

Perlahan kedua bibir itu menyatu, menyapu tiap kegundahan dengan ciuman lembut penuh ketenangan. Kedua ibu jari Yesung bergerak di atas pipi Wookie, menghapus tiap tetesan hujan yang dikeluarkan oleh kelopak matanya. Sebuah rasa kian berkecamuk, ketika kedua bibir itu saling melumat lembut. Dengan sebuah rasa yang Yesung belum tahu pasti apa namanya, dieratkannya pegangannya pada kedua pipi Wookie. Menarik wajah itu lebih dekat dan erat, mencium gadisnya lebih dalam dengan penuh kelembutan. Pagutan yang saling bersambut penuh gundah mereka layangkan seiring dengan lidah yang mulai saling bersalaman.

Mereka berciuman! Beradu perasaan dengan beribu kegundahan yang melanda. Saling ber bagi rasa dengan frustasi yang amat menyesakkan dada. Tiada suara, bahkan isak tangis telah terhenti. Biarkan mereka! Tolong biarkan mereka seperti ini! Saling menuang rasa dalam ciuman lembut namun penuh keintiman. Sebuah ciuman intens yang begitu sarat akan kefrustasian.

Kegundahan akan orang yang disayangi yang bisa saja menghilang.

Tamat *dilempar popok Shindong*

TBC kok :D

Anyeong yeorobunnnnnn~ :D *dilempak panci*

Mian apdetnya lama ^^" *bow* Sungguh tugas author lagi numpuk, ditambah kesibukan author ikut demo #plak*abaikan* author baru bisa apdet heheh ^^a Segali lagi mian yak ^^v *deep bow*

Ini sebagai gantinya author bikin chap ini apdet. Dan bagi yang minta YeWook buat kissu ini uda author kabulin. Tapi mian yak, KyuMin nya blm bisa author nongolin, mungkin chap depan. Mian *bow*

Jadi gimana sama chap ini? Sudah mulai terang kah? Atau makin gelap? Mian kalo makin bingung yak dan banyak kesalahan atopun typo. Maklum, author ikut demo :D *plak*

Chap ini sama chap depan humor nya nyaris hilang, jadi maaf ya bagi reader yang ngarepin humor : ( Abis, masa lagi perang tiba-tiba mereka NC-an?*Loh?* Ga etis banget kan? Walau eksotis sih :D *dilempar*

Kemungkinan 2 chap lagi tamat ni Rumput-rumputan. Semoga chingudeul sabar dan tetep setia ngeriview fic gaje ini ya. mian belum sempet bales riview. Tapi ada satu tamu spesial nih yang harus di balas riviewnya... eng ing eng... taraa... Siapakah dia? *nabuh Sindong(?)* Ini dia!

WONKYU FRVR : Yeiyy tepuk tangan buat dia! Plok plok plok *nepok2 pantat Kyuhyun* Aduh cyin, makasi banget uda mampir loh! Eyke terharu yei uda mau ngeriview fic eke, jadi nambah satu deh~ akakakak... Maaf, tadi kelepasan ngomong banci. Abis saya ketularan kamunya sih~ :D Wakakakak :p. Salam kenal aja deh kalo gitu ^^ Semoga dengan banyaknya kamu 'ngeriview' fic YeWook ataupun KyuMin, kamu bisa tobat dan mencintai pair terpopuler ini. Punya banyak temen itu indah lo ching :D Hahahah. Oke deh, makasi riviewnya ya ching. Beruntung lo Cuma riview kamu yang saya balas XD hahaha. Jangan lupa R&R lagi ya say! Muahh :*

Dan makasi juga yang sebesar2nya bagi chingudeul yang uda nunggu, baca sekaligus riview fic aku :D I'm in love with all of you :* *reader muntah jijik*Terus read and riview ya ^^

SungYesungie Kim'YeWook, kikihanni, mykyu, LeeSungHye040497, Memey Clouds, RyeoCi69, THreeAngels K.R.Y, Jesca Mentar-Mentar, kim jongwoon2508, nara-chan a.k.a Gadis, uthyRyeosomnia, Kim Ayuni Lee, ryeocloud, ryeocloud, yongie13, CloudSomnia, RyeoRim, winda1004, YeMiharuginzz, rizkyeonhae,

Makasi juga buat silent reader yang diam2 nunggu kelanjutan fic saya :D I'm in love juga deh :D Kalo sempat riview yak ^^a *dilempar*

Oke, mian sebelumnya kalo misalkan aku bakal apdet lama lagi. Tolong semangati authro satu ini (_ _)

At the last, GOMAWOO YEOROBUNNN \(^O^)/ SARANGHAE :*

RIVIEW PLEASEE ^^