Chapter 7
XOXO Class
Author: RyeoKaisoo / Park EunRim.
Cast: Member Exo.
Rated: T
Pairing: ChanKai, ChanSoo, HunKai, etc.
Genre: Romance, School, comedy, friendship, etc.
Disclaimer: EXO punya Tuhan Yang Maha Esa, SM Ent, EXO L, orangtua dll. Tapi cerita ini punyaku ^_^! Jadi aku pinjam EXOnya ya? Inspired by Korean Drama Sassy go go go and She Was Pretty.
Summary: Park Chanyeol murid tampan, kalem, pintar, dan popular di sekolahnya, sedangkan Kim Jongin atau yang lebih dikenal Kai murid yang lumayang manis, tapi sangat badung, bodoh selalu di peringkat bawah, popular karena membuat masalah, dan namanya selalu menghiasi buku siswa. Apa jadinya jika mereka satu kelas di tahun ajaran akhir dan terjebak perasaan yang tidak seharusnya? (ChanKai lagi)
Warning: Yaoi, typo, tidak sesuai EYD, cerita pasaran, alur kecepetan dll.
NO FLAME! NO BASH! NO PLAGIAT!
HAPPY READING ^_^
.
.
.
.
.
Chapter 7
Jongin membuka-buka kardus titipan Krystal, isinya hanya brosur, sticker, dan sebuah map berisi surat-surat. Sebenarnya menyusahkan ia harus pergi malam-malam begini di udara yang lumayan dingin tapi jujur ia tidak bisa menolak karena tidak enak menolak permintaan teman sendiri. Tiba-tiba saja taxi yang ia naiki berhenti membuat Jongin terkejut, ia melirik ke depan dan menemukan supir taxi berusia 40an itu menggerutu melihat Taxi nya berhenti tiba-tiba.
"Ceosonghamnida, mobil ini mogok saya akan memeriksanya dulu" Jongin mengangguk lalu tersenyum ke arah Ahjussi supir taxi. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel mengabari Krystal kalau ia akan terlambat tapi batre ponselnya lobert.
"Huft…" Jongin menghela nafas kesal. Ia keluar dari Taxi mengahampiri supir taxi yang sedang berkutat dengan mesin mobilnya.
"Ahjussi, aku jalan kaki saja lagipula sebentar lagi sampai. Uangnya aku tinggal di kursi penumpang"
"Nde, sekali lagi Ahjussi minta maaf" Jongin mengangguk lalu berjalan membawa kardus yang lumayan besar dan berat ini. Mungkin ini hari sial baginya baru beberapa meter ia berjalan sebuah sepeda dengan tidak tahu aturannya menyerempet Jongin hingga ia terjatuh.
"Kya! Sial, dasar!" Jongin bangun dari jatuhnya, memunguti barang-barang yang jatuh dari kardusnya. "Aaa! Aku sial sekali, seharusnya aku tolak saja tapi kalau aku tolak kasihan dia" Jongin bermonolog sendiri selama perjalan ke JinStar High School yang sebenarnya masih lumayan jauh. Akhirnya, perjalanan panjang itu berakhir tapi ia mengernyit melihat ada garis polisi di depan JinStar High School sepertinya ada kecelakaan. Jongin mengangkat bahu tidak peduli, ia berniat berjalan melewati jalan lain tapi ia memberhentikan langkahnya mendengar suara menyebalkan yang sangat ia hafal.
"APA ITU PENTING?! KATAKAN DIMANA PENUMPANG TAXI INI?"
Matanya membulat menemukan Chanyeol sedang membentak seorang polisi dengan tangan mencengkram kerah polisi itu. Ia menghampiri tempat kejadian dengan tergesa-gesa, apa yang dilakukan Chan gila itu pada polisi tua itu. Dia membuat SM High School malu karena tindakan brutal Chan gila itu.
"Chanyeol!" panggil Jongin sambil tersenyum tapi dengan mata menatap meminta maaf ke arah polisi tersebut. Chanyeol membulatkan matanya melihat Jongin berdiri tidak jauh darinya dengan tangan memegang sebuah kardus yang sama. Chanyeol menghampiri Jongin lalu memeluk tubuh mungil Jongin hingga kardus di genggaman tangannya jatuh, Jongin terkejut mendapat pelukan tiba-tiba seperti ini.
"Waegeurae?" tanya Jongin sambil melepas pelukkan Chanyeol, Chanyeol memutar-mutar tubuh Jongin lalu bernafas lega.
"Gweanchana?" tanya Chanyeol, Jongin mengangguk lalu menatap mobil berwarna hitam yang sangat Jongin hafal plat nomornya.
"Ka-"
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau melakukan tugas team lain sementara team mu saja kau belum tentu mau?! BAGAIMANA BISA?!" tanya Chanyeol lebih tepatnya membentak Jongin penuh emosi dan rasa kesal. Jongin terdiam mendengar bentakkan Chanyeol yang khawatir terhadapnya.
"KAU JUGA! Kau memiliki trauma dan kau bilang sendiri kau tidak bisa mengendarai mobil! KAU KEMARI MENGGUNAKAN MOBIL! BAGAIMANA BISA?!" balas Jongin berteriak juga, Chanyeol menatap Jongin kosong lalu berganti menatap mobil hitam mewah itu yang selamat sampai tempat ini tanpa tergores sama sekali. Jongin mengambil nafas, ia kehilangan kendali sampai-sampai ia berani membentak Chanyeol. Ia menangkap kedua wajah Chanyeol agar menatap wajahnya, ia ingin mencari jawaban di kedua mata itu tapi sama sekali tidak ada apapun.
"Bagaimana bisa kau kemari?" tanya Jongin kali ini dengan suara lebih pelan dan lembut. Chanyeol memejamkan matanya, merasakan kehangan dari kedua telapak tangan Jongin. Ia menggeleng lalu kembali memeluk tubuh Jongin.
"Mollaseo" jawab Chanyeol pelan persis seperti bisikkan. "Saat aku memikirkanmu aku tidak memikirkan traumaku, ini pertama kalinya bagiku. Karena aku memikirkanmu aku bisa sampai kemari" lanjut Chanyeol dengan suara yang masih pelan dan seperti bisikkan.
"Chanyeol…" perlahan tangan Jongin yang menggantung membalas pelukan Chanyeol sambil menepuk-nepuk punggung Chanyeol, membuatnya sedikit lebih tenang dan tidak khawatir lagi terhadapnya. "Gwenchana… Gwenchana geulkoya"
…
Sehun tersenyum lalu berjalan meninggalkan tempatnya tadi melihat Jongin dan Chanyeol berpelukkan. Seperti ada ribuan jarum menyerang dadanya melihat Jongin dan Chanyeol berpelukan sangat hangan di depan matanya sendiri. Tapi melihat senyum samar di bibir Jongin membuat ribuan jarum itu menghilang entah kemana. Ia berjalan pergi meninggalkan tempat itu, sebelum Jongin mengetahui ia ada di sini dan masalah ini semakin rumit. Ia harus pergi dan menelfon 119, lukanya perih dan sangat sakit.
"Kau baik, itu sangat melegakan"
.
.
.
"Pakai ini"
Jongin memandangi batre ponsel Chanyeol yang sengaja dilepas agar digunakan untuknya. Jongin menggeleng, Chanyeol menarik ponsel Jongin yang menyembul di balik saku celana bagian belakangnya. Memasangnya di ponsel Jongin lalu menyerahkannya pada Jongin.
"Hubungi Baekhyun dia sangat khawatir" Jongin mengangguk masih dengan kepala menunduk, ia menerima ponsel itu lalu mencari kontak Baekhyun dan menekan symbol gagang telfon hijau, setelah menunggu beberapa detik akhirnya terdengar suara nyaring itu.
"Baekhyun"
"Aish! Jinjja! Kau membuat kami semua khawatir"
"Mianhae, na gweanchana. Beritahu ke Krystal kalau barang-barangnya sudah sampai meskipun terlambat. Aku tidak kembali ke sekolah aku akan pulang ke rumah… Nde" Jongin memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, ia melirik Chanyeol yang sedari tadi menatap tangan kirinya yang terluka akibat terserempet sepeda tadi. Jongin segera menyembunyikannya di dibalik punggungnya melihat gelagat Chanyeol.
"Kemarikan tanganmu" Jongin menggeleng membuat Chanyeol berdengus kesal, dengan paksa Chanyeol menarik tangan Jongin mengcek luka yang tergores lumayan lebar di telapak tangan Jongin. Chanyeol mengambil kotak P3K Kris, dengan lembut dan telaten Chanyeol membersihkan luka Jongin.
"Mollaseo, bagaimana bisa aku kemari dengan selamat? Dan terpenting, bagaimana bisa aku melupakan trauma sehebat itu? Tapi…" ucap Chanyeol disela-sela tangannya yang masih sibuk membersihkan luka Jongin setelah selesai membersihkan Chanyeol memberi obat merah dan kembali meneruskan ucapannya.
"Tadi aku baru sadar kalau isi kepalaku hanya ada 'Kim Jongin' aku tidak bisa memikirkan apapun termasuk traumaku itu. Kim Jongin, tadi aku hanya berpikir apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Dan aku sangat berharap korban taxi itu bukan kau. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa begini" Chanyeol menggunting sisa perban yang membalut telapak tangan Jongin lalu mengikatnya. Entah sejak kapan Jongin mengangkat kepalanya yang semula tertunduk menahan sakit, mungkin sejak Chanyeol mengucapkan namanya, pandangannya sedikit berkaca-kaca mendengar ucapan Chanyeol seperti ungkapan suatu perasaan.
"Wae?"
"Anniyo, antarkan aku pulang" sanggah Jongin cepat, dengan gugup Jongin memasangkap sabuk pengamannya tapi tidak mau terpasang juga. Chanyeol mendekati Jongin lalu membantunya memasang sabuk pengaman, Jongin segera mendorong Chanyeol setelah sabuk pengamannya terpasang.
.
.
.
Chanyeol memberhentikan mobil Kris di depan gang rumahnya dan Jongin.
"Gomawo" ucap Jongin cepat lalu segera turun dari mobil Kris, ia berjalan cepat meninggalkan mobil itu tapi langkahnya terhenti mengingat ucapan Chanyeol di mobil, ucapan Chanyeol di JinStar High School, dan perhatian Chanyeol kepadanya.
"Tadi aku baru sadar kalau isi kepalaku hanya ada 'Kim Jongin' aku tidak bisa memikirkan apapun termasuk traumaku itu. Kim Jongin, tadi aku hanya berpikir apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Dan aku sangat berharap korban taxi itu bukan kau"
"Mollaseo"
"Saat aku memikirkanmu aku tidak memikirkan traumaku, ini pertama kalinya bagiku. Karena aku memikirkanmu aku bisa sampai kemari"
Chanyeol menghampiri Jongin lalu memeluk tubuh mungil Jongin
Jongin menarik nafas dalam-dalam, ia tersenyum menyadari satu hal… satu hal tentang perasaan Chanyeol padanya. Ia tidak tahu ini benar atau tidak, tapi ia juga merasakan hal yang sama seperti Chanyeol mengkhawatirkan pemuda itu, cemas, dan masih banyak lagi. Hanya ada satu cara untuk memastikan ini yaitu, bertanya pada orangnya secara langsung. Jongin berbalik untuk menemui Chanyeol tapi pemuda itu sudah melajukan mobilnya untuk kembali ke sekolah, ia mengejar mobil itu tapi tidak sempat.
"Taxi!" Jongin menyetop taxi yang lewat di hadapannya, ia segera memberitahu tujuannya.
"SM High School"
.
.
.
Jongin turun dari Taxinya di depan gerbang sekolahnya yang masih terbuka, ia kembali berlari melihat siluet Chanyeol yang sedang berjalan menaiki tangga menuju XOXO Class.
"Chanyeol!" panggil Jongin sambil berlari sekencang-kencangnya tapi Chanyeol tidak mendengarnya sama sekali. Jongin tidak putus asa ia tetap berlari mengejar Chanyeol yang sekarang sedang memberhentikan langkahnya di hadapan seseorang yang sangat Chanyeol kenal.
"D.O" Jongin terpaku di tempat melihat D.O mendekati Chanyeol sambil memberikannya sebotol air minum.
"Gweanchana?" tanya D.O pelan tapi masih sangat jelas terdengar nada khawatir. Chanyeol mengangguk dengan sebuah senyum yang sangat dipaksakan, dirinya masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya. Apa tadi hanya semata-mata khawatir atau yang lain.
"Kalau tidak ingin tersenyum jangan tersenyum, kau makin membuatku khawatir" ucap D.O penuh perhatian. Chanyeol menghilangkan senyumnya lalu memeluk tubuh D.O yang jauh lebih mungil dari Jongin apalagi dirinya.
"Aku dulu pernah berjanji tidak akan membuat khawatirkan? Sepertinya aku tidak bisa menepatinya, Mian"
D.O tersenyum lalu balas memeluk tubuh tinggi Chanyeol, sudah sangat lama D.O menginginkan pelukan seperti ini dari Chanyeol.
Jongin menyembunyikan tubuhnya melihat adegan di hadapannya ini, ia menengadahkan kepalanya menahan sesuatu yang berniat keluar dari kedua pelupuk matanya. Ia berjalan pergi dengan loyo, tenaganya yang memang sudah terkuras sejak tadi ditambah adegan D.O dan Chanyeol membuat dirinya kehilangan tenaga.
.
.
.
Jongin tidak langsung pulang ke rumah, ia duduk sendirian di minimarket dekat komplek perumahannya yang buka 24 jam. Merenungi semua yang terjadi padanya satu bulan ini, Jongin menegak birnya rakus lalu kembali terdiam melamun. Memikirkan perkataan D.O beberapa hari lalu soal perasaan laki-laki mungil itu terhadap Chanyeol.
"Aku menyukainya"
"Mwo?"
Jongin menghela nafas berat, ia memeluk lututnya sendiri kembali melamuni semua hal yang terjadi sebulan ini. Kenapa tahun terakhir sekolahnya harus ada hal menyusahkan seperti ini, tapi saat menggrutu seperti itu Jongin teringat perjanjian kepala sekolah waktu itu. Ia kembali menghela nafas berat sambil menyembunyikan wajahnya di antara dua lututnya.
DREET DREET
Jongin mengangkat kepalanya mendengar suara getar telfon miliknya, ia menekan tombol hijau dengan malas-malassan. "Wae?" tanya Jongin dengan suara serak dan sangat pelan. Sepertinya ia sedikit mabuk.
"Eodiya?"
"Molla, Sehun" jawab Jongin sekenannya, ia kembali menegak birnya lalu mendengarkan ponselnya yang memperdengarkan suara yang lumayan berisik itu. Jongin menidurkan kepalanya di atas meja dengan ponsel masih menempel di telinganya, matanya menatap kosong beberapa kaleng di hadapannya.
Satu jam kemudian, sebuah mobil berwarna putih datang. Pemilik mobil itu adalah Sehun, ia sangat hafal kebiasaan Jongin yang pasti datang ke mini market ini kalau sedang frustasi. Ia menghela nafas melihat keadaan mengenaskan sahabatnya itu, ia menghampiri Jongin mengambil tempat di hadapan Jongin untuk duduk.
"Wae?" tanya Sehun pada Jongin yang masih saja menidurkan kepalanya. Jongin melirik sekilas Sehun lalu menggeleng.
"Sehun, aku bingung dengan perasaanku"
Jongin mulai bercerita satu persatu pada Sehun dengan sesekali meneguk birnya, Sehun mendengarnya dengan seksama sambil menahan rasa sakit di lengan kirinya.
"Geuraseo?"
"Mollaseo, aku harus bagaimana dan aku harus apa" jawab Jongin mengangkat kepalanya menatap Sehun. Ia tersenyum lalu berdiri dari duduknya dengan susah payah berjalan pun sedikit tidak setabil. Sehun yang melihat itu dengan sigap membopong Jongin. Sehun meringis menahan sakit saat Jongin tidak sengaja menyentuh luka di lengan kirinya, Jongin melepas rangkulan Sehun lalu berdiri menghadap sahabat dekatnya.
"Na Chingu, Jongin Chingu, Oh Sehun" ujar Jongin setelahnya di akhiri tawa seperti orang mabuk. Sehun menatap Jongin aneh.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu"
"Mwo?" tanya Sehun sebisa mungkin untuk membuat nada penasaran, jujur saja keadaan Jongin yang frustasi seperti ini membuat dirinya juga ikut frustasi.
"Aku… aku mau pingsan" Sehun menangkap tubuh Jongin yang terjatuh ke samping, ia menghela nafas melihat Jongin seperti ini kalau sedang frustasi pasti dia lari ke minum. Sehun menggendong Jongin di punggungnya membawa namja tan ini pulang ke rumah, meskipun Sehun membawa mobil ia lebih memilih menggendong sahabatnya yang sangat istimewa ini.
"Kau… sahabat istimewaku… sahabat spesialku"
.
.
.
.
.
Jongin berjalan di koridor kelas dengan senyum seperti biasanya, saat melewati perpustakaan ia berpapasan dengan Chanyeol yang benriat masuk ke dalam perpustakaan. Tiba-tiba saja Jongin yang beberapa detik lalu ceria menjadi gugup dan kalap melihat wajah yang memeluknya dan menyatakan perasaan itu secara tidak langsung.
Chanyeol menghampiri Jongin lalu memeluk tubuh mungil Jongin
Chanyeol menghampiri Jongin lalu memeluk tubuh mungil Jongin
Chanyeol menghampiri Jongin lalu memeluk tubuh mungil Jongin
"Eotteokhae? Aku harus seperti apa? Aku harus bagaimana saat menatapnya? Kenapa aku gugup seperti ini?" batin Jongin gugup. Jongin yang melihat Chanyeol menghampirinya dengan senyum kaku seperti biasa membuat Jongin mau tidak mau balas tersenyum lalu kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Good Morning" sapa Chanyeol dengan nada suara tidak gugup atau rishi sama sekali.
"Nde, Good Morning" balas Jongin sambil tersenyum gugup. Chanyeol menarik Jongin mengikutinya ke depan pintu perpustakaan, Jongin melotot melihat tangannya digenggam erat oleh Chanyeol. Ia memberhentikan Jongin tepat di depan pintu perpustakaan, senyum kaku tadi berubah menjadi senyum lebar, penuh harap tapi juga memerintah dalam wakt bersamaan.
"Temani aku baca buku"
"Nde?" tanya Jongin sekali lagi, sejarah SM High School tidak pernah mencatat kalau murid XOXO Class bersedia masuk perpustakaan. Jongin menggeleng lalu berjalan pergi dengan tidak sopannya seperti biasa. Chanyeol menghela nafas lalu menarik tas Jongin ke belakang.
"Kau tidak suka?"
"Nde, aku tidak suka baca buku" jawab Jongin dengan senyum lalu kembali berjalan tapi lagi-lagi Chanyeol menarik tasnya.
"Kau harus suka" tanpa permisi Chanyeol menarik tangan Jongin masuk ke dalam perpustakaan tapi anehnya Chanyeol hanya mengajaknya sampai di pintu saja. Jongin melirik Chanyeol yang masih saja menatapnya terus menerus tanpa berkedip apalagi mengalihkan pandangannya.
"Kau tidur nyenyak?" tanya Chanyeol memulai basa basinya sebelum menyentil ke inti masalahnya. Jongin mengangguk, ia kembali memainkan ujung seragamnya menyalurkan perasaan gugupnya.
"Nde"
"Aku tidak, aku memikirkan tentang semalam"
"OH SEHUN!" teriak Jongin sangat keras bahkan sampai membuat Sehun yang berada di luar menoleh ke perpustakaan dan penjaga perpustakaan menatap tajam ke arah mereka berdua. Jongin tersenyum kikuk lalu membuka pintu perpustakaan.
"Aku harus bicara sesuatu yang penting dengan Sehun kalau kau mau bicara lain kali saja, Arracho?" Jongin berjalan cepat menghampiri Sehun nyaris seperti berlari. Chanyeol menghele nafas, ia keluar dari perpustakaan mengikuti Jongin juga. Menatap Jongin yang nampak sedang berbicara dengan Sehun entah soal apa, ia terus memperhatikan gerak-gerik Jongin dan Sehun tentunya.
"Jongin, kau keluar dari perpustkaan?" tanya Sehun tidak percaya, Jongin melirik ke belakang ia kembali melotot dan gugup melihat Chanyeol sudah keluar dari perpustakaan dan sekarang dia sedang menatap dirinya.
"Berjalanlah terus berpura-puralah kita sedang bicara" pinta Jongin berbisik sambil menyeret Sehun menjauhi perpustakaan. Sehun mengernyit lalu menoleh ke arah belakang tapi segera Jongin halangi.
"Andwae! Di sana ada Park Chanyeol! Aku tidak tahu harus berbuat apa dan bicara apa, kalau melihatnya aku serasa akan mati, semua tubuhku menegang dan rasanya aku hampir gila!" jelas Jongin menjawab kebingungan Sehun. Sehun ber'oh' ria mendengarnya.
"Jadi, kau memintaku berpura-pura?" tanya Sehun dengan wajah datarnya. Sehun tersenyum sebentar lalu kembali menatap wajah Jongin datar.
"Nde" jawab Jongin dengan anggukan keras di kepalanya.
Sehun mengangguk sambil berdehem, ia merentangkan tangannya lalu mengambil nafas dalam-dalam. Aktingnya sangat bagus, kalian harus lihat ini.
"Geureaeseo? Omo jinjjayo? WOW… Chukkhaeyo!" teriak Sehun girang tapi malah di balas tatapan bingung oleh Jongin. "Tertawalah…" bisik Sehun sangat pelan tapi masih dengan senyum orang gilanya. Jongin yang paham segera tertawa sekeras-kerasnya berusaha mayakinkan Chanyeol yang menatap mereka berdua semakin intents.
"Hahahaha… itu sudah cukup... hahaha… ayo pergi… hahaha!" Jongin menarik Sehun menjauhi tempat terkutuk itu dengan acting mereka yang lumayan meyakinkan.
Chanyeol menghela nafas melihat sikap Jongin yang menghindarinya seolah-olah dirinya berbuat salah pada Jongin atau dirinya pernah berbuat tidak menyenangkan pada Jongin. Chanyeol memijat pelipisnya rasa pusing di kepalanya semakin bertambah mengingat itu semua. D.O yang melewati Chanyeol menyapanya.
"Good Morning" sapa D.O, Chanyeol mengangguk sambil tersenyum. Tapi ia memberhentikan langkah D.O, dirinya teringat sesuatu hal yang sudah ia pikirkan matang-matang dan semua ada hubungannya dengan D.O dan Jongin.
"D.O apa kau ada waktu besok malam?" tanya Chanyeol, D.O diam sebentar mengingat jadwalnya untuk besok. Sebenarnya besok ia tidak terlalu padat, ia berpikir tentang kenapa Chanyeol mengajaknya bicara berdua.
"Nde, Waegurae?" tanya D.O.
"Besok malam datanglah ke atap sekolah ada yang mau aku bicarakan" ucap Chanyeol singkat, D.O mengangguk lalu berjalan pergi dengan senyum dan rona merah menghiasi pipinya. Pikirannya melayang membayangkan Chanyeol menyatakan perasaannya yang selama ini terpendam.
.
.
.
Jongin memasuki kelasnya karena ada rapat seperti biasa, tapi Jongin tidak langsung masuk ke dalam ia terpaku di tempat melihat Chanyeol sudah duduk di dalam dengan mata memandangi laptopnya. Tubuhnya serasa kaku melihat wajah serius itu yang sedang menatap laptop dan memencet pulpen seperti biasa, wajah tegas dan sexy membuatnya mengingat sesuatu.
Chanyeol menghampiri Jongin lalu memeluk tubuh mungil Jongin
Chanyeol menghampiri Jongin lalu memeluk tubuh mungil Jongin
Chanyeol menghampiri Jongin lalu memeluk tubuh mungil Jongin
Chanyeol menghampiri Jongin lalu memeluk tubuh mungil Jongin
Jongin segera berbalik tapi di hadapannya ada Sehun yang menatap dirinya bingung.
"Wae? Kau tidak masuk?" tanya Sehun, Jongin menunduk lalu menunjuk ke dalam kelas. Sehun tertawa melihat orang yang membuat sahabatnya ini bertingkah seperti yeoja yang sedang kasmaran dan malu-malu dengan orang yang dia sukai, seperti itulah Jongin.
"Di sana ada Chanyeol, tadi pagi saja sudah gemetar apalagi satu ruangan dengannya… Sehun"
"Lalu? Apa kau tidak mau ikut rapat?" tanya Sehun, Jongin menggigit bibirnya berusaha berpikir. Apapun yang terjadi ia harus mengikuti rapat ini dan ia harus bisa melawan rasa takut ini. Jongin menyelinap di antara trio XOXO saat mereka hendak masuk, dan Sehun memperhatikannya dengan senyum dan tawa yang tidak pernah pudar.
Saat rapat, Chanyeol terus menerus melirik Jongin yang duduk di samping Tao tidak jauh dari dirinya. Jongin yang menyadari itu segera menunduk dengan jari-jari yang masih mengetik di atas laptop. Berusaha menghindari tatapan intens Chanyeol yang semakin membuatnya gugup.
"Selain festival ini kepala sekolah memberi tugas kepada kita untuk menjadi panitia dalam acara SM Award, apa itu tidak bertabrakan?" tanya Baekhyun setelah membaca proposal yang baru saja di bagikan Chanyeol.
"Menurut saya tidak, festival akan di adakan dua bulan lagi sementara acara SM Award ini menjelang akhir semester. Jadi, jadwal dua acara tahunan ini tidak bertabrakan" elak Chanyeol, Baekhyun hanya diam dan kembali membaca proposalnya.
"Kita akan menggunakan konsep apa?" tanya Kris, semua terdiam mendengar pertanyaan Kris. Tao yang berada di sampingnya dengan kasar menyikut Kris karena mereka pasti akan mendengar kata 'out' berulang kali dari mulut iblis Park Chanyeol.
"Apa kalian ada pendapat?" tanya Chanyeol, "Entertainmant Team" panggil Chanyeol memulai diskusi. Mereka semua berdecih mendengarnya, mereka harus bersiap-siap mendengar omelan dan caci maki dari mulut seorang Park Chanyeol.
"Bagaimana menggunakan konsep glamour?" usul Baekhyun.
"Out!"
"Bagaimana behind the screen?"-Tao
"Out!"
"Black or White" semua orang langsung menoleh ke Jongin, asal suara itu adalah tempat Jongin. Jongin yang sadar menjadi pusat perhatian segera menengadah dan pandangannya bertemu dengan Chanyeol.
"Apa maksudnya dari 'Black or White'?" tanya Lay dengan wajah bingung mewakili teman-temannya. Jongin terdiam cukup lama, ia diam untuk mengendalikan degup jantungnya yang berdetak tidak normal.
"Kalian semua pasti tahu hidup ini memiliki dua warna hitam dan putih, keburukan dan kebaikkan. Mungkin kita bisa memuat beberapa kisah-kisah murid SM High School yang bisa dicontoh adik kelasnya" jelas Jongin dengan suara kecil dan ragu-ragu. Semua murid diam mencerna ucapan Jongin yang nampak seperti orang gugup tidak seperti Kim Jongin yang mereka kenal, sementara Chanyeol sibuk memainkan pulpen sambil mencerna ide Jongin.
"Kita juga bisa memakai murid SMA lain atau tokoh yang bisa menjadi teladan untuk kita dan adik kelas. Lagipula, tahun ini acaranya terbuka dengan sekolah lain" tambah Jongin. Sehun mengangguk mendengarnya, ia mengepalkan tangannya ke Jongin dan di balas kepalan tangan Jongin.
"Sepertinya kita bisa memakai ide dari Kim Jongin, ini rapat terakhir kita membahas festival dan sedikit menyindir SM Award. Setelah festival kita akan rapat tentang ide dari Kim Jongin dan team lainnya" ucap Chanyeol lalu berjalan pergi begitu saja. Jongin menghela nafas lega lalu menaruh kepalanya di atas meja, helaan nafas keluar dari bibirnya rapat hari ini benar-benar sangat lama.
.
.
.
.
Tao menatap beberapa kertas bergambar love di hadapannya yang jumlahnya masih banyak dengan bosan, sudah dua jam Tao duduk di tangga dengan kardus di pangkuannya yang berisi gambar love yang di buat oleh murid SM High School, ia kembali menempelkan kertas love ini ke dinding panggung aula.
"Hahh… punggungku" adu Tao merasakan nyeri menjalar di punggungnya, ia turun dari tangga dengan hati-hati. Entah sial atau memang kehendak Tuhan, Tao sedikit terpeleset dan jatuh ke bawah, ia hanya pasrah pada Tuhan kalau ia akan mengalami biru di punggung atau parahnya masuk rumah sakit. Tapi ia sama sekali tidak merasakan sakit atau bunyi debuman, apa ia memiliki kekuataan melayang diam-diam.
"Kantung mata" Tao membuka matanya yang semula terpejam karena takut dan pasrah dengan apa yang terjadi tapi ia mendongak dan menemukan dirinya ada di gendongan seorang namja-Kris.
"Seharusnya kau melakukan ini berdua atau bertiga, bagaimana kalau kau jatuh atau terpeleset aku dapat masalah. Ck! Dasar kantung mata!" omel Kris panjang lebar seperti kereta api. Sementara Tao sibuk memandangi wajah Kris dari bawah, hidung mancung, rahang yang tegas dan mata yang tajam menambah kesan tampan serta sexy.
"Kantung mata! Kantung mata!" Tao segera tersadar dari lamunannya soal ketampanan Kris, ia turun dari gendongan Kris. Tao kembali menatap diam-diam wajah Kris yang masih mengkhawatirkannya. Kris yang melihat keadaan Tao baik-baik saja berniat pergi tapi Tao menarik tangannya agar tetap di sini.
"Wae?" tanya Kris bingung, Tao melepaskan tarikannya lalu menatap wajah Kris. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengatakan semua ini, mengatakan perasaannya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kau tidak boleh tertawa atau terkejut kalau kau tidak berkenan langsung katakan yang penting aku sudah mengatakan semua ini" ucap Tao sebelum bicara ke intinya. Kris menatapnya heran, ia hanya mengangguk saja sebagai balasan iya.
"Ak-"
"Kris!" ucapan Tao terpotong oleh panggilan dari arah belakang, seorang yeoja yang pernah Tao lihat, yeoja yang berciuman dengan Kris.
"Hai, kau kenapa di sini Victoria?" tanya Kris bingung, yeoja itu-Victoria tersenyum lalu mengecup pipi Kris. Pemandangan menjijikan menurut Tao, ia hanya bisa membuang wajahnya dengan kesal, bukan kesal tapi lebih tepat cemburu di tambah lagi Kris yang sepertinya tidak masalah kalau Tao melihatnya.
"Kita bicara lagi di parkiran kembali lah" Victoria mengangguk lalu berlari keluar, Kris kembali menatap Tao tanpa rasa bersalah yang semakin membuat Tao emosi. "Dia cantikkan, Tao?"
"Apa maksudmu?" tanya Tao yang mengubah arah bicaranya yang semula ingin menyatakan persaannya. Kris semakin bingung dengan ucapan Tao yang berbelit-belit.
"Apa kau berniat mempermainkan aku? Apa kau pikir aku ini namja gampangan?"
"Tao, apa maksudmu?" tanya Kris tidak mengerti dan tidak paham dengan sikap Tao sekarang.
"Kau bertanya apa maksudku? Seharusnya aku yang bertanya begitu, kenapa kau selalu membicarakan orang lain setelah membuatku tersenyum? Apa kau sengaja, HAH?" marah Tao berapi-api, ia berjalan meninggalkan Kris begitu saja sebelum mendengarkan penjelasan Kris.
"Anni, bukan begitu ak-" Kris menghela nafas tidak mengerti kenapa Tao bersikap seperti ini. "Ada apa dengan dia?" gumam Kris, ia berlari mengejar Tao yang ternyata memilih tempat sedikit aneh. Di depan ruangan laboratorium bekas, ia menyandarkan kepalanya di pintu kaca dengan wajah menghadap lorong yang kosong.
Kris menghampirinya lalu menarik Tao agar menghadap dirinya, Tao membuang wajahnya saat Kris memkasanya agar menatap wajah bajingan Kris.
"Kau adalah milikku" Tao mengernyit mendengar ucapan Kris yang seolah-olah mengcap Tao adalah milik Kris padahal ia bukan siapa-siapanya. Tao melepas tangan Kris yang berada di lengannya dan berniat pergi tapi Kris menahannya kembali.
"Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini, tapi yang jelas aku menginginkan kau menjadi milikku" Tao semakin bingung mendengarnya, apa Kris mempunyai perasaan yang sama dengannya? Tapi mana mungkin ia menjadi selingkuhan namjachingu orang lain.
"Kau milikku, jadi kau harus menurutiku" Kris memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Tao lalu menempelkan bibirnya dengan bibir Tao. Kris memojokkan Tao ke dinding, menghimpitnya dan semakin dalam mencium Tao.
.
.
.
Chen memandangi note dan laptop miliknya secara bergantian, sesekali ia membenturkan kepalanya di atas meja. Ia harus menanyakan atau meminta terlebih dahulu, ia bingung harus melakukan apa dulu. Chen mengambil nafas lalu menekan tombol play lalu mengajak Zen untuk bermain, lebih tepatnya mengobrol.
"Annyeong, Chen!"
"Annyeong, Zen" balas Chen sedikit kaku. Zen yang berada di seberang sana tersenyum. Chen hanya berdehem, membalas tawa kecil Zen.
"Kau mau bermain atau mengobrol?" tanya Zen.
"Mengobrol saja" jawab Chen jujur. "Aku juga ingin meminta sesuatu" ucap Chen setelah jeda cukup lama, ia sudah bertekad di dalam hatinya ia ingin pergi menemui Zen dan… mungkin memastikan perasaannya.
"Permintaan apa?" tanya Zen, Chen mengambil nafas dalam-dalam memberi jeda cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Zen.
"Aku ingin melihatmu"
…
Beberapa jam setelah mengatakan permintaannya pada Zen, Chen uring-uringan tidak jelas. Ia sedikit gugup untuk bertemu dengan orang yang sedikit membuat hatinya berdesir. Chen menegakkan kepalanya lalu menatap laptopnya yang menyala.
"Aku perlu jimat keberuntungan" gumam Chen pelan.
"Aku punya"
"Kkamjakya" gerutu Chen pada Lay yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Lay tersenyum lalu menarik tangan Chen dan menaruh satu buah koin.
"Ige Mwoya?" tanya Chen memperhatikan koin berlubang ini. Lay tersenyum dengan menggunakan dagunya Lay menunjukkan rantai kalung Chen.
"Itu koin yang sangat langka. Aku mendapatkannya dari Haraboji, katanya koin ini menyerap nasib buruk dan menyaring nasib baik" jawab Lay. Chen tersenyum meremehkan selain mesum Lay itu kekanak-kanakan.
"Kekanakan sekali" ejek Chen. Lay mengangkat bahu tidak peduli, ia berjalan kembali ke bangkunya yang berada di depan meja Chen. Melalui ponselnya, ia melihat pantulan Chen yang sedang memasangkan koin pemberiannya di rantai kalung peraknya. Hadiah dari perasaan yang Chen akan tahu sebentar lagi dan sebuah rahasia.
.
.
.
Jongin menatap dua dokumen yang ada di tangannya dengan horror, dokumen ini bukan nilai raportnya tapi dokumen yang harus segera diberikan kepada Chanyeol. Kalau kalian bertanya kenapa Jongin tidak menolak? Tentu saja Jongin menolak tapi dua dokumen ini diberikan langsung oleh Heechul guru paling ganas dan kalau ada murid yang berani melawan bisa ia pulang dengan betis yang membesar.
"Tenang" ucap Jongin menyemangati dirinya sendiri. Ia membuka pintu perpustakaan, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang penuh buku ini. Ia menghampiri penjaga perpustakaan lalu menyerahkan dua dokumen tersebut.
"Igo, berikan pada Park Chanyeol katakan seseorang bernama Taeyeon memberikan ini dari HeeChul sonsaenim. Katakan yang memberikan ini Taeyeon, Kim Taeyeon" ucap Jongin ramah dan sopan. Penjaga perpustakaan itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Sejak kapan kau berganti nama menjadi yeoja?"
"KYAAA!"
Jongin berteriak lumayan kencang mendengar suara yang sejak pagi membuat dirinya uring-uringan. Chanyeol tepat ada di belakangnya, ia melangkah mendekati Chanyeol sambil membawa dua dokumen tadi.
"Ini dari Heechul songsaenim" ucap Jongin sambil memberikan dua dokumen pada Chanyeol dengan gemetar. "Aku kembali ke kelas" pamit Jongin, tapi Chanyeol mencegahnya dan kembali menarik dirinya agar Jongin tetap di tempat.
"Kau harus menemaniku membaca" Jongin melotot kaget melihat tangannya kembali di genggam dan ditarik menuju meja yang biasa di duduki Chanyeol, tempatnya berada di sudut ruangan.
"Duduklah" perintah Chanyeol, Jongin menurut awalnya ia berniat duduk di samping Chanyeol tapi Chanyeol melarangnya dan Jongin berakhir duduk di hadapan Chanyeol. Kebiasaan gugup seorang Kim Jongin adalah kaki yang tidak berhenti bergerak saat gugup dan itu terjadi sekarang. Chanyeol menyodorkan sebuah buku tebal yang bahkan Jongin tidak membaca judulnya karena ditulis dalam bahasa Jerman. Alhasil, Jongin hanya membuka-bukanya saja tanpa membaca apalagi menyerap isinya.
"Aku ingin membicarakan tentang semalam" Jongin segera bangun dari duduknya lalu berjalan pergi tapi Chanyeol berhasil menyusulnya sehingga Jongin bisa di tahan untuk beberapa saat.
"Lukamu, kau harus memberinya plester" saran Chanyeol lalu memegang tangan Jongin yang terluka, ia merogoh saku celananya mengeluarkan selembar plester lalu menempelkannya.
"Apa kau mengejarku saat aku kembali ke sekolah?" tanya Chanyeol pelan disela-sela aktivitasnya menempelkan plaster, Jongin membulatkan matanya terkejut mendengar pertanyaan Chanyeol. Apa Chanyeol menyadari kehadiran dirinya? Tapi, kenapa Chanyeol tidak memberhentikan mobilnya atau menunggunya di depan gerbang sekolah? Apa Chanyeol sengaja? Sepertinya tidak, Chanyeol bukan tipe orang seperti itu.
"Tali sepatumu lepas" ujar Chanyeol lalu berjongkok dan merapihkan tali sepatu Jongin. "Aku tidak akan menuntutmu untuk menjawab pertanyaanku tadi, tapi yang kau harus tahu… aku tidak percaya dengan cinta pertama, aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang" setelah selesai sepatu yang kanan Chanyeol melanjutkannya ke sepatu sebelah kiri.
"Jujur, pertama kali aku bertemu dengan dirimu kau namja menyebalkan, tidak tahu sopan santun, tidak bisa berpikiri, pemarah, dan sebagainya. Tapi, di sisi lain kau juga membuatku tenang dan hangat saat bersamamu karena semua hal itu aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang" setelah selesai Chanyeol kembali berdiri menatap wajah Jongin yang sudah tidak menunduk gugup lagi. Mata Jongin kembali berkaca-kaca mendengar semua perkataan Chanyeol barusan, apa sebenarnya maksud Chanyeol? Apa maksud namja jenius ini?
"Tunggulah di sini, dokumen Heechul kau yang kembalikan aku hanya mentanda tanganinya sebentar" Jongin hanya diam tidak merespon perintah Chanyeol, ia menatap tali sepatunya yang sekarang lebih rapi daripada sebelumnya. Ia berlari keluar perpustakaan begitu saja tanpa memberi salam apapun pada penjaga perpustakaan, ia menyandarkan tubuhnya di dinding menetralkan deru nafasnya yang tidak stabil serta degup jantung yang berdetak tidak normal.
.
.
.
"WOW! Zion akan merilis film dalam waktu dekat ini!" jerit Tiffany yang baru saja membuka account SNS Zion, sutrada film terkenal yang tidak pernah menampakkan wajahnya ke media bahkan ia tidak pernah berada di lokasi, cara memantaunya melalui video call yang wajahnya di samarkan tidak ada yang pernah berhasil mengenali sutrada film ini.
"Film yang akan membuat penggemar film ku tersadar akan keadaan bumi jika mereka tidak merawatnya sejak dini, Memory Eart" ucap Seohyun yang membaca isi SNS Zion yang baru saja di publish beberap jam lalu yang langsung menjadi trending topic.
"Seperti biasa film-film Zion pasti memuat sindiran-sindiran terhadap masyarakat luas. Aku harus menonton film ini" ujar Taeyeon antusias. Semua murid yang berada di XOXO Class langsung membuka account SNS Zion, sutradara film terkenal yang bahkan film berjudul 'K&F' masuk dalam nominasi film terbaik dalam acara penghargaan 'Oscar'.
"Suho, aku ingin nonton film ini" rajuk Baekhyun melihat status Zion beserta poster film 'Memory Earth'. Suho yang mendengar keinginan Baekhyun tersenyum, jujur saja cukup sulit membeli tiket film buatan Zion karena hanya dalam waktu 2 jam setelah loket bioskop dibuka semua tiket habis dijual apalagi tiket online terlambat satu menit menekan tombol buy tiket sudah ludes terjual.
"Jika memungkinkan" ujar Suho yang membuat Baekhyun tersenyum riang, dirinya sangat ingin menonton film Zion, pertama kali Baekhyun menonton film buatan Zion yang berjudul 'You're Talent' Baekhyun sudah terjerat dengan sutradara kondang tetapi sangat misterius.
"Geundae, aku sangat penasaran siapa Zion?" tanya Chen termasuk salah satu penggemar Zion.
"Mungkin, penyanyi Zion T?" tebak Jongsuk yang langsung di hadiahi jitakan sayang di kepalanya dari WooBin.
"Kau bodoh atau apa? Kalau dia penyanyi terkenal itu, pasti sudah lama terbongkar" ucap WooBin membuat semua orang mengangguk dan sejalan dengan pikiran WooBin.
"Aku benar-benar pensaran siapa dia? Orang Korea? Jepang? Inggris? Atau yang tebaru beberapa paparazzi menduga kalau Zion orang Rusia" ucap Sehun mencoba menebak dan menerka pendapat beberapa paparazzi yang pernah mencoba mencari tahu siapa Zion melalui bukti Video Call tersebut tapi hasilnya nihil malah semakin menambah kemisteriusan sutradara Zion.
"Aku sangat berharap dia namja keren Korea" ujar Tiffany mulai berharap dan melipat jari-jarinya seperti berdoa.
"Jongin, Eodiya?" tanya Sehun setelah melihat semua murid XOXO berkumpul tapi hanya Jongin yang tidak ikut berkumpul.
"Heechul songsaenim menyuruh Kai untuk mengantarkan dua dokumen untuk Chanyeol" jawab Seohyun seadanya.
"Aku tidak bisa membayangkan beradu pandang dengan Chan gila itu" trio XOXO hanya bisa berteriak dan bergidik ngeri membayangkan kalau salah satu dari mereka disuruh melakukan itu. Sehun segera bergegas pergi, ia kahwatir apa Jongin baik-baik saja? Bagaimana cara Jongin menghadapi Chanyeol? Namja yang membuat Jongin seharian ini uring-uringan?
Sampai di perpustakaan tanpa permisi Sehun memasuki pintu perpustakaan, mengelilingi ruangan yang cukup luas ini mencari keberadaan Park Chanyeol.
"Chan gila" sapa Sehun menemukan Chanyeol sedang duduk melamun meskipun pandangannya mengarah pada buku tebal bertuliskan kamus bahasa Jerman. Sehun tanpa sopan, menggeser-geser kursi, buku-buku, mencari keberadaan Jongin tapi sepertinya tidak ada.
"Oh Sehun" panggil Chanyeol penuh penekanan tapi tidak di gubris Sehun. Chanyeol menahan tangan Sehun yang berniat mengacak buku-buku di rak perpustakaan.
"Apa kau wali Kim Jongin? Kenapa kau selalu di sisinya?" tanya Chanyeol yang mulai kesal. Sehun menghela nafas, lalu melepas cengkraman tangan Chanyeol pada tangannya yang terluka.
"Lalu kau siapa? Kesatria yang datang tepat waktu menyelamatkan seorang putri? Kau terlihat sangat keren saat itu" sindir Sehun masih dengan mata menatap sekeliling mencari keberadaan Jongin tapi tidak ada. Sepertinya Jongin sudah keluar sebelum dirinya datang.
"Sepertinya tidak ada aku harus pergi" pamit Sehun lalu keluar perpustakaan begitu saja. Chanyeol menarik Sehun agar kembali menghadapnya.
"OH SEHUN!" bentak Chanyeol. Sehun kembali menyingkirkan tangan Chanyeol, ia balas menatap mata Chanyeol dengan tatapan dingin.
"Jangan pernah mempermainkannya, aku sangat tidak suka kau mempermainkan Kim Jongin" perintah Sehun dingin. Chanyeol menatapnya garang lalu mencengkram kerah Sehun.
"Memang kau siapa? Kau memiliki hak apa? Apa hubunganmu dengan Kim Jongin? APA?!"
"Aku menyukainya"
Chanyeol diam, rahangnya semakin mengeras mendengar pengakuan Sehun di hadapannya. Ia menahan emosinya yang siap meledak mendengarnya, sebisa mungkin ia menahan kepalan tangannya agar tidak melayang ke wajah Sehun.
"Aku menyukai Kim Jongin. Apa itu sudah cukup?" tanya Sehun lalu melepas cengkraman Chanyeol pada kerahnya. Ia berjalan keluar perpustakaan lalu melirik pintu perpustakaan, lebih tepatnya Chanyeol yang masih diam di tempat, dia terlalu terkejut mendengar pengakuan Sehun.
"Aku terpaksa mengatakan ini"
.
.
Baekhyun menggerakkan kakinya ke atas lalu bawah berulang kali, terlalu gugup untuk menghadapi keluarga Suho yang sangat super elegan ini. Ia memandang cemas ke pintu yang menghubungkan ruang tamu ini dengan ruang keluarga, Suho memang anak orang kaya bahkan dia termasuk keturunan chaebol. Apa ia pantas berpacaran dengan Suho? Meskipun ia anak pemilik perusahaan yang sedang maju tetap saja, ia berpikir apa pantas ia bersama Suho.
Saat pintu itu sedikit terbuka, Baekhyun segera berdiri lalu membungkuk hormat setelahnya berdiri menatap satu-persatu anggota lainnya. Tapi, ada satu orang yang membuat Baekhyun tercengang dan menghilangkan senyum manisnya. Yeoja berrambut panjang yang membuat kehidupan orangtuanya hancur.
"Byun Baekhyun"
Baekhyun semakin tercengang mendengar yeoja itu menyebut namanya. Suho mengernyit mendengar kakak keduanya menyebut nama kekasihnya dengan lancar.
"Nonna, kenal Baekhyun?" tanya Suho. Yeoja itu-Yuri. Baekhyun menggigit bibirnya mengingat memory kelam dan menyedihkan itu. Berputar seperti film di kepalanya, ia mengambil tas miliknya berlari keluar dari mansion ini.
"Baekhyun! Byun Baekhyun!" panggil Suho dan berniat pergi tapi Yuri dan Eommanya-RyeoWook menahan Suho.
"Namjachingu mu, kenapa dia tidak memberi salam dan langsung keluar begitu saja"
"Molla, aku akan mengejarnya"
Yuri menatap kepergian Suho dengan mata tajam. Kenapa namdongsaengnya jatuh cinta dengan namja yang pernah ia hancurkan. Ia masih ingat betul itu, tujuh tahun lalu ia pernah berbuat licik untuk menghancurkan perusahaan Ayah Baekhyun dengan cara menggoda tuan Byun. Rencananya berhasil, perusahaan hancur dan orangtua Baekhyun hampir bercerai tapi mereka berhasil bangkit dan perusahaan kembali bangkit.
"Namanya Byun Baekhyun?" tanya RyeoWook, Yuri mengangguk. "Sepertinya kita harus meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada Suho dan Baekhyun"
"Aku melakukan dosa itu karena mantan suami kedua Eomma" ucap Yuri sinis lalu segera menaiki tangga menuju kamarnya. RyeoWook menghela nafas, terhitung ia sudah menikah 3 kali dan ini adalah pernikahan terakhirnya.
"Dasar bajingan itu, aku terhasut"
…
"Baekhyun! Byun Baekhyun! BYUN BAEKHYUN!" teriak Suho mengejar Baekhyun yang berlari lumayan kencang tanpa alas kaki. Baekhyun terlalu terkejut, kecewa, dan marah karena ia mengetahui sebuah fakta bahwa Suho adik kandung dari yeoja yang membuat keluarganya hancur. Suho semakin mempercepat laju larinya, ia berhasil mencengkram lengan Baekhyun dan menahan namja mungil ini agar berhenti berlari.
"Baekhyun…"
"WAE? Apa kau berniat mempermainkan aku? Kenapa kau lakukan ini? WAEEE?!" teriak Baekhyun mengeluarkan semua emosinya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu" ucap Suho berusaha menenangkan Baekhyun tapi sepertinya Baekhyun benar-benar pada dirinya.
"Kenapa kau tidak pernah menceritakan tentang riwayat keluarga mu?" tanya Baekhyun berusaha mengendalikan nafasnya yang semakin tidak beraturan mengingat wajah jalang yeoja itu dan keadaan rumahnya 7 tahun lalu.
"Apa hubunganmu dengan Yuri Noona?"
"Yeoja jalang itu menghancurkan keluarga dan perusahaan Appaku 7 tahun lalu" jawab Baekhyun mengepalkan tangannya menahan emosi yang siap meledak kapan saja.
"Kau…"
"Kau marah aku memanggil Noona mu yeoja jalang?" Suho mencengkram kedua pundak Baekhyun sangat kasar. Matanya menajam mendengar mulut mungil yang selalu menyanyi itu mengeluarkan umpatan yang ditujukan untuk Noona nya.
"Kau juga sama! Kau tidak pernah mengatakan riwayat keluargamu. Kalau kau mengatakan riwayat keluargamu aku bisa…"
"Aku bisa menghentikan perasaanku dan hubungan ini" ucap Baekhyun melanjutkan ucapan Suho yang menggantung. Ia melepas cengkraman Suho pada pundaknya lalu mengambil sepatu miliknya, ia memberhentikan sebuah taxi dan segera memasukinya. Meninggalkan Suho yang terdiam di tempat.
Sementara di Taxi, Baekhyun menatap ke belakang lebih tepatnya ke Suho yang masih diam di tempat. Ia mengambil ponselnya berusaha menghubungi siapapun.
"Chen… hiksss…"
"Baekhyun… Waeyo? Ada masalah?" tanya Chen yang berada di seberang dengan nada khawatir. Baekhyun semakin menangis mendengarnya.
"Baekhyun… Waeyo? Neo Eodiyo?" tanya Chen lagi.
"Mollaseo… hiksss… Chen"
"Aku akan menemukanmu"
Baekhyun semakin menangis, ia tidak tahu apa yang terjadi? Dia dimana? Bagaimana ia harus menghadapinya?
.
.
Jongin menutup laptop miliknya lalu melakukan peregangan beberapa kali. Duduk berjam-jam seperti ini benar-benar membuat tubuhnya serasa lepas. Ia melirik meja Sehun yang nampak berantakan, kertas, bungkus snack, dan kaleng soda masih menghiasi mejanya.
"Aish, jinjja!" Jongin menggerutu melihat sifat Sehun lebih jorok darinya. Ia mulai membereskan meja Sehun. Beberapa kertas tidak asing di matanya, design stand kelas lain, proposal yang di bagikan Chanyeol dan sebuah amplop berstample rumah sakit.
"Sehun? Dia sakit apa?" gumam Jongin lalu membuka amplop putih berisi dua lembar kertas. Ia membaca deretan tulisan yang membuat tangannya gemetar dan mata membulat sempurna. Saat mabuk kemarin, samar-sama Jongin melihat Sehun meringis saat ia pegang lengan kirinya dan perban yang melingkari kepalanya.
"Apa dia kecelakaan? Tapi… dimana?" gumam Jongin. Perhatiannya teralih mendengar suara pintu kelasnya terbuka menampilkan seseorang yang membuatnya bingung. Sehun menghampirinya, menaruh sekotak pizza di atas mejanya, tidak menyadari sebuah amplop yang Jongin pegang bahkan bertanya pada Jongin dengan nada santai, "Kai, kau belum pulang?"
"Apa yang…" barulah Sehun sadar kalau kertas yang dipegang Jongin adalah amplop berisi hasil pemeriksaan dirinya saat kecelakaan waktu itu.
"Igo… Igo Mwoya Sehun?" tanya Jongin menunjuk kertas yang bertuliskan 'Hasil Pemeriksaan Fisik Tuan Oh Sehun' 'Tanggal 9 Juli 2014'. "Hari… hari yang sama saat aku ke JinStar High School. Apa kau menyusul ku?" tanya Jongin pelan. Sehun diam lalu mengambil kertas itu dan menyembunyikannya. Jongin menatapnya kesal. Kesal karena Sehun tidak pernah menceritakannya. "Percuma saja, aku sudah tahu isinya. Apa kau terluka karena aku?" tanya Jongin lagi, ia memegang tangan kanan Sehun memohon agar namja berkulit putih ini menjawabnya.
"Jebal… Jebal Sehun-ah. Jawab aku" Sehun mengacak-acak rambutnya bingung. Apa yang harus ia katakan? Semuanya? Atau hanya separuhnya saja?
"Sehun tatap aku dan jawab aku" pinta Jongin lagi kali ini nada bicaranya mulai melemah dan matanya mulai memerah berkaca-kaca. "Apa kau terluka karena aku? Katakan sesuatu Oh Sehun" pinta Jongin yang masih bersikeras ingin mendengar jawaban Sehun. Tapi Sehun tetap diam, helaan nafas berat keluar dari mulutnya.
"Kau benar-benar terluka karena aku? Aku? Jawab aku, Sehun"
"Nde, kau sangat benar" jawab Sehun sambil tersenyum santai tanpa ada beban sama sekali mengatakan semuanya. "Teruslah merasa bersalah" perintah Sehun. Jongin menatap wajah Sehun yang terlihat sangat bahkan lebih frustasi setelah mengakui semuanya.
"Teruslah merasa bersalah. Nado Jongin-ah" Jongin membelakkan matanya mendengar Sehun memanggilnya dengan Jongin bukan Kai. Jongin kali ini paham, apa maksud Sehun dan arah pembicaraan Sehun. Mengenai sesuatu yang serius dan melibatkan Kim Jongin bukan Kai XOXO Class.
"Nado. Aku juga merasa bersalah karena memiliki perasaan ini. Perasaan yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang sahabat" kedua mata Sehun mulai berkaca-kaca, ia harus mengatakan ini apapun resikonya.
"Mwo? Apa maksudmu?" tanya Jongin bingung. Apa maksudnya? Perasaan? Apa Sehun memiliki perasaan yang lebih dari sahabat? Jongin ingin sekali mendengar tidak, ia tidak mau kehilangan sahabatnya karena sebuah perasaan. Karena ia tidak akan pernah membalasnya, perasaannya sudah terikat oleh seseorang yang selalu membuatnya kesal.
"Igo"
Tanpa peringatan Sehun menarik Jongin ke dalam pelukannya, memeluknya sangat erat. Jongin membelakkan matanya mendapat pelukkan erat dari Sehun, bukan pelukkan seperti di perpustakaan itu. Pelukkan ini lebih mengarah ke hangat dan… perasaan tertarik bukan melindungi seperti di perpustakaan itu.
…
Di atap sekolah, D.O dan Chanyeol berdiri saling berhadapan. Mereka berdua pada tempat yang sama, tatapan yang sama, tapi tujuan mereka sangat berbeda. D.O menanti ungkapan Chanyeol, sementara Chanyeol meluruskan permasalahan ini.
"Aku ingin mengatakan lebih dulu" ucap Chanyeol memecah keheningan malam ini. D.O hanya mengangguk, tangannya yang sudah di genggam Chanyeol sejak tadi semakin erat.
"Aku tahu perasaanmu selama ini sangat dalam padaku. Dulu aku menolakmu karena aku belum memiliki alasan, sekarang aku memiliki sebuah alasan" senyum D.O memudar, ia mengerti arah pembicaraan Chanyeol sekarang.
"Alasanku bukan karena aku tidak menyukaimu. Masih sama tapi aku akan menambahkan satu hal" D.O menundukkan wajahnya menyembunyikan wajahnya lebih tepatnya matanya yang memerah.
"Aku… aku menyukai Kim Jongin"
'Sehun bisa mengatakan hal seperti itu enteng sekali. Kenapa aku tidak?'-Chanyeol
'Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa bersalah karena mengabaikan dan tidak akan pernah membalas perasaan Sehun. Karena perasaanku terikat dan sudah terukir untuk Park Chanyeol'-Jongin
'Tapi, setelah pengakuan ini. Masalah sesungguhnya akan datang, bukan hanya masalah kami tapi masalah sahabat-sahabat kami. Tapi kami yakin, kisah klise ini akan berakhir manis… kami percaya'-Chanyeol & Jongin
To Be Continue
(Next Chapter)
"Kalau kau ragu-ragu akan perasaannya dan perasaanmu… datanglah padaku. Beri aku kesempatan juga"
"Sehun"
"Gomawo, aku sekarang benar-benar mengerti dan akan benar-benar pergi. Sekarang aku benar-benar sada, Gomawo… Neomu Neomu Gomawo"
"Mianhaeyo"
"Aku tidak bermaksud apa-apa padamu. Aku tidak pernah mengatakan aku menyukaimu atau kau cinta pertamaku"
"Sepertinya aku selama ini salah… aku sangat salah…"
"Kau tidak paham? Aku sudah mengatakan hubungan kita berakhir"
"Aku tidak pernah mau hubungan ini berakhir"
"Aku sangat benci ada orang yang menipuku"
"Aku tidak bermaksud seperti itu, dengarkan aku"
"Aku tahu, mungkin hal yang mustahil membuatmu membalasnya. Tapi, jangan menghindariku, jangan mendiamiku dan jangan pernah mengalihkan pandanganmu dariku. Aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh"
"Aku akan katakan kenapa aku melakukan itu semua"
Ryeo note:
Hai~~~~~~
Aku balik setelah sekian lama. terimakasih yang sudah review, follow, favorite, pokoknya terimakasih banyak. saking lamanya nggak update aku lupa review udah dibales atau belum, maaf kalau ada yang belum dibales. Dikarenakan sinyal dan hal-hal private aku telat banget update, tapi dalam beberapa hari ini aku akan berusaha update. Aku juga mau buat pemberitahuan, aku akan remake ff LOVER. Jadi, ff LOVER yang kemarin aku discontinue dan aku remake total tapi garis besarnya masih sama. Dan LOVER baru ini bener-bener aku ganti alurnya dari mulai umur dan pertemuan mereka juga kisah hidup Chanyeol punya mantan pacar dan blablabla aku tiadakan.
LIGHTSABER aku akan buat baru dan mungkin cukup lama karena aku harus banyak research karena waktu itu ada satu kritikan bagus dari… aku lupa namanya tapi sangat bagus. Dia kritik untuk pendalaman bumi tahun 3015 lebih baik lagi dan aku akan wujudkan tapi cukup lama dan aku akan ganti jadi Rated M!
Aku juga mau ngepost ff tentang dunia barista! Tunggu aja ff barista itu, arrachi?
Itu aja pemberitahuan penting karena bersangkutan dengan ffku. Jangan sumpah serapahi aku karena banyak ff aku remake, hahaha~~~
See you in chap 8~~~~~~~~~~~~
