Hari ini aku masih bertahan, bertahan untuk mencintainya, bertahan untuk memperjuangkan perasaanku kepadanya meskipun dia tidak. Entah apa yang membuatku sesibuk ini memerhatikannya di setiap hariku. Padahal satu sapaan pesan panjang yang kukirim padanya setiap pagi, hanya mendapat balasan singkat. Terkadang tidak pernah ada satupun balasan darinya. Saat bertemu pun tidak pernah dia menegurku terlebih dahulu, dia juga jarang menatapku seperti halnya yang aku lakukan kepadanya.
Ah, tapi aku pikir akhir-akhir ini dia berubah. Dia bertindak seolah-olah dia memberikanku harapan, aku yakin dari sorot matanya yang dulu tidak pernah bisa aku baca, tapi sekarang sinar onyx itu nampak menunjukkan ekspresi yang beragam. Ya Tuhan, apa artinya ini? Bertahan sampai gunung es itu mencair ataukah berhenti dan melupakan keberadaannya? Aku benar-benar tidak tahan lagi menahannya.
Rasa sakit yang mendalam ketika melihatnya, melihatnya mengabaikanku begitu saja, apakah kejadian kemarin malam pun―saat dia mengantarkan aku pulang sudah dilupakan begitu saja? Mengapa Kau menciptakan makhluk seperti dia Tuhan? Mengapa Kau harus memberikan aku perasaan menyesakkan ini untuknya? Andai saja... Andai saja yang kucintai adalah laki-laki dihadapanku saat ini, andai saja Naruto yang aku cintai... Apakah perasaan menyesakkan itu akan hilang?
Bodoh, bodoh, aku bodoh! Sasuke bodoh!
Tell Me About Happiness and About Love
Genre: Romance/Hurt-Comfort/Tragedy
Rated: T+
Warning: Pshycology, Self-Injury, OOC, Typoo's, AU, DLDR, alur berantakan, so many failures, bertele-tele, dll
Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto
Tell Me About Happiness and About Love©Yara Aresha
Chapter 6
Sakura menatap kosong kaleng susu yang beberapa menit lalu telah dihabiskannya, kali ini binar matanya meredup, diketukkan jari telunjuknya pada kaleng digenggamannya, kemudian membuangnya ke dalam bak sampah disamping tempat duduk yang ditempatinya saat ini―atap sekolah―menikmati waktu istirahatnya bersama dengan Naruto.
"Berapa lama?" Suaranya terdengar lirih. Sakura mengangkat kepalanya yang semula tertunduk untuk melihat lawan bicaranya.
Naruto nampak tidak mengerti dengan arah pembicaraan Sakura, "maksudmu?" Tanyanya.
"Sasuke-kun, maksudku berapa lama lagi aku harus mati-matian mendapatkan hatinya?" Lanjut Sakura.
"Ah, entahlah. Aku juga tidak tahu," Naruto tersenyum miris, sedikit berhati-hati dengan ucapannya.
"Apa memang tidak ada kesempatan untukku? Padahal aku yakin, dia juga menyukaiku. Walaupun sikapnya terkadang membuatku bingung. Nee, Naruto, apa kau tahu sesuatu? Maksudku, apa ada sesuatu yang dia sembunyikan?" Sakura menatap Naruto penuh tanya.
"Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan, aku yakin hasil akhirnya akan bahagia. Percayalah Sakura-chan. Kalau pun ada sesuatu yang disembunyikannya, suatu hari nanti dia akan membicarakannya denganmu." Naruto menatap sekumpulan awan yang berarak di atas langit, tersenyum, kemudian melanjutkan perkataannya, "aku akan memberikan satu rahasia padamu..." Lanjutnya.
Sakura mengerutkan dahinya, batinnya bertanya-tanya, rahasia apa yang dimaksud oleh Naruto.
"―Sasuke mencintaimu jauh sebelum kau mencintainya." Dan perkataan Naruto sukses membuat iris emerald Sakura melebar.
Bangunan megah berlatar pohon mahogany tua di pelataran menjulang tinggi. Rasa hangat mulai menjalar dari nadi hingga ke jantung milik Sasuke, seharusnya saat ini ia berada di sekolah. Irama deguban jantung Sasuke mulai tidak beraturan, ketika melihat pintu depan bangunan yang lebih cocok disebut kastil itu terbuka. Seorang wanita yang menggunakan blazer berwarna merah berdiri di ambang pintu, dengan sebuah ponsel yang tergenggam di tangan kanannya. Kemudian wanita itu memasukkan ponsel kedalam saku blazernya, tersenyum ke arah Sasuke dan Shisui, dan mempersilahkan keduanya masuk.
Tirai beludru kecil yang menghiasi jendela bergerak melambai-lambai oleh sentuhan lembut angin, membuat tengkuk Sasuke bergidik pelan. Dinding batu bata tertata rapi, rak-rak buku yang terisi beragam macam jenis buku dan foto-foto yang di desain semacam scrapbook di dekat kaca besar disamping pintu membuat Sasuke takjub, meskipun ini bukan pertama kalinya ia mengunjungi tempat itu. Namun desain interior itu mampu membuat siapa saja terperangah berkali-kali. Seketika Sasuke teringat alasan ia dan pamannya datang ke tempat itu.
Psikiater. Ya, bangunan itu tempat sang psikiater tinggal.
"Duduklah," ujar wanita bernama Tsunade itu ramah. Sasuke dan Shisui pun duduk di atas sofa empuk berbahan beludru ungu di ruang tamu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Tsunade kepada Sasuke. Sasuke membenarkan posisi duduknya, menatap psikiater yang tidak lagi muda itu dengan tatapan jengah, "tidak ada perubahan." Katanya.
Shisui menggeleng dan memberi tatapan meminta maaf untuk perlakuan keponakannya itu kepada teman lamanya. Tsunade membalasnya dengan anggukan dan tersenyum maklum, menghela napasnya halus, "benarkah begitu? Buruk sekali, apa aku berhenti saja jadi seorang psikiater ya? Karena aku tidak bisa menangani bocah sepertinya." Candanya, Sasuke mencibir.
Shisui menatap tajam keponakannya, "berlakulah sopan Sasuke!" perintahnya.
"Hahaha, sudahlah Shisui tidak apa-apa. Aku mengerti bagaimana perilaku remaja yang masih labil. Ehem.. jika tidak ada perubahan, aku rasa terapimu harus lebih ekstra ketat mulai sekarang. Apa perlu aku mengawasimu, eh?" Tsunade tersenyum lebar.
"Mengawasiku? Jangan bodoh!" Sasuke mendelik, "aku sudah berusaha menahannya, tapi perasaan itu selalu muncul." Sambungnya.
Tsunade mengangguk-anggukan kepalanya sebanyak tiga kali, senyuman lebar tidak lepas dari bibirnya.
"Cobalah mengalihkannya dengan hal-hal lain, kau bisa memperbanyak kegiatanmu di luar sana. Yah, berkumpul dengan teman-temanmu juga bisa. Jangan mengurung dirimu sendiri, atau... Kau bisa mencari pacar?" katanya.
Sasuke hampir saja tersedak dengan salivanya sendiri, ia telan salivanya dengan cepat kemudian mengontrol dirinya kembali.
"Tch, omong kosong!"
Tsunade menyandarkan punggungnya, melipatkan tangannya di depan dada, kini senyum lebar yang tadi terukir di wajahnya lenyap begitu saja, digantikan oleh tatapan yang tajam seakan mengintimidasi Sasuke.
"Dengar, Sasuke. Kau mungkin berpikir bahwa kau tidak bisa mengontrol dirimu, kau salah. Kau bisa mengontrolnya, jangan biarkan penyakit itu yang mengontrolmu. Seorang pecandu narkoba pun bahkan bisa sembuh jika dia bersungguh-sungguh, maka aku harap kau juga seperti itu. Mulai sekarang, lakukan apapun yang aku perintahkan!"
"Ka―kau... bohong, kan?" Sakura tersentak dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut Naruto.
Naruto menggelengkan kepalanya pelan. "Untuk apa aku berbohong?" kembali Naruto meyakinkan gadis itu.
"Benarkah?"
"Ya." Naruto menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Ta−tapi―ini mustahil, kau tahu? Sejak tujuh tahun yang lalu? Bahkan aku belum mengenalnya..."
"Tidak ada yang mustahil jika Tuhan sudah berkehendak Sakura-chan, kau boleh saja terus menyangkalnya. Tapi yang aku katakan itu memang kenyataannya, dan aku harap kau tidak memberitahu Sasuke kalau aku membocorkan rahasia besar ini, berpura-puralah kau tidak mengetahuinya," Naruto terkekeh geli, Sakura menggembungkan pipinya.
"Kalau dia mencintaiku, kenapa sifatnya seperti itu? Kau pasti berbohong, Naruto. Ini hanya untuk menghiburku saja 'kan?"
Naruto merenggangkan kedua tangannya, dan menatap Sakura dengan tajam. "Kau tidak percaya padaku? Baiklah, memang tidak mudah memercayai seseorang yang baru kau kenal. Tapi, Sakura-chan, aku tidak berbohong. Tunggulah sampai Sasuke siap mengatakan semuanya padamu." Katanya.
Rasa penasaran semakin menjera Sakura, Sasuke benar-benar penuh misteri menurutnya. Entah sampai kapan misteri itu terkuak. Hanya Tuhan yang tahu, dan ia berharap Tuhan dengan cepat memberinya izin untuk menguak misteri itu dengan segera. Semoga saja.
Sakura menatap layar ponselnya. Satu pesan baru. Jarinya menekan tombol scroll trackpad ponsel barunya itu, berhati-hati membuka pesan itu dan membacanya. Jantungnya berpacu, deretan alfabet yang sudah dihapalnya diluar kepala itu menghiasi layar ponselnya. Sasuke membalas pesan singkatnya beberapa menit yang lalu. Sakura memberi tatapan berbinar kepada Naruto, Naruto terkikik geli dan melihat layar ponsel yang disodorkan ke arahnya. Naruto menyeringai melihat rona merah di wajah milik sahabat barunya itu.
Pesan yang berisikan alasan mengapa Sasuke absen hari ini benar-benar membuat Sakura mabuk kepayang, tentu saja karena bumbu manis di akhir pesan itu.
"Kau rindu padaku, eh? Cherry?" Naruto membaca pesan itu dengan suara lantang. Sakura mendelik ke arahnya dan memukul bahu Naruto pelan, "Naruto, memalukan! Jangan membacanya dengan suaramu itu, baca saja di dalam hati. Bodoh!"
"Hahahaha, bisa juga dia seperti itu. Aku pikir dia akan beku selamanya." Ujar Naruto masih dengan kikikannya.
Sakura meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku seragamnya dan mulai membaca novel yang belum selesai ia baca, sambil berharap hubungannya dengan Sasuke akan membaik, dan tentu saja berlanjut ketahap yang jauh lebih baik.
Beberapa detik kemudian, tawa Naruto mereda, "kau tidak membalas pesannya?" Tanyanya. Sakura menggelengkan kepalanya tanpa sepatah kata pun.
"Kenapa?"
"Jawaban apa yang akan aku berikan? Memberitahunya bahwa aku merindukannya, begitu?" Sakura membuka bab selanjutnya dari novel yang dibacanya, kemudian berhenti sejenak. Pandangannya beralih, menatap penuh arti laki-laki dengan kacamata yang terbingkai manis di wajahnya.
"Naruto..." Katanya, memberikan jeda.
Naruto menatapnya bingung. "Apa?"
"Terimakasih sudah memberiku semangat."
Naruto tersenyum, "Ah, tidak usah sungkan."
"Kau sahabat yang baik." Ujar Sakura seraya memeluk tubuh Naruto dengan cepat, hal ini membuat keduanya sedikit terhuyung, namun Naruto berhasil menjaga keseimbangan sehingga mereka berdua tidak terjatuh.
"Aku menyayangimu," ucap Sakura kemudian.
Naruto terdiam untuk beberapa saat, "Aku juga menyayangimu." Katanya, kemudian membalas pelukan Sakura dengan tangan yang sedikit bergetar.
Aku juga menyayangimu Sakura―aku mencintaimu.
Aku pengecut.
Aku tahu.
Sekolah telah usai beberapa saat yang lalu, kini Naruto berjalan menyusuri trotoar, melangkahkan kakinya dengan lesu kembali ke apartemenya yang baru ditempatinya sambil menyesap secangkir kopi dingin dengan perasaan yang kalut. Biasanya secangkir kopi dingin―kesukaannya―dapat membuat perasaan hatinya lega dan tenang, namun kali ini minuman favorite-nya itu pun tidak sanggup membuat dirinya melupakan tentang hal-hal yang menyangkut Sakura, gadis yang telah mencuri hatinya.
Naruto menghembuskan napasnya pelan, mengumpat dalam hati. Tidak, ia tidak akan memikirkan gadis itu, tidak sekarang, tidak lagi. Jika sahabatnya tahu ia memikirkan gadis itu, apa yang akan sahabatnya lakukan? Naruto menggelengkan kepalanya, menghentikan segala pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya. Sakura, gadis yang baru beberapa minggu ini dikenalnya, ternyata telah mampu mencuri hatinya sedemikian rupa. Perasaan yang seharusnya tidak pernah dimilikinya, perasaan yang nantinya hanya akan membuatnnya menderita. Naruto tidak pernah mengira akan secepat itu jatuh hati, dan untuk pertama kalinya ia menyesali anugrah dari Tuhan itu.
Mencintai gadis yang sama dengan sahabatmu adalah hal yang paling tabu bukan? Dan Naruto benar-benar merasa bodoh, bisa-bisanya jatuh hati pada Sakura.
Tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya ditengah anak tangga apartemennya, ketika melihat sahabatnya berdiri di depan pintu.
"Oh, Shit." Rutuknya.
Sahabatnya, seseorang yang saat ini tidak ingin ditemuinya. Dan suasana hati Naruto pun kembali memburuk. Laki-laki itu berdiri membelakangi Naruto, menekan bel apartemennya berulang-ulang. Setelah beberapa kali menekan bel dan tidak ada jawaban, laki-laki itu menghela napas. Tentu saja tidak sadar bahwa Naruto tidak berada di dalam apartemennya, melainkan berdiri di belakangnya.
Naruto tidak berniat untuk menegur sahabatnnya itu, dan kembali menuruni anak tangga, hendak berlalu dari sana. Menurutnya menemui sahabatnya saat ini bukan saat yang tepat. Naruto berbalik arah dengan langkah mengendap-endap, berusaha meminimalkan suara yang ditimbulkan dalam setiap langkahnya. Tujuannya agar sahabatnya―Sasuke―tidak sampai melihatnya.
Namun belum sampai diundakkan pertama, suara baritone milik Sasuke masuk di indera pendengarannya, "Naruto? Mau kemana kau?" Naruto menahan napasnya sejenak ketika mendengar suara Sasuke yang saat ini tepat dibelakangnya.
Naruto menelan salivanya dengan gugup, lalu menoleh ke sumber suara dengan memasang senyum yang sebisa mungkin dibuat natural, "Er... Hahaha... Aku gagal mengejutkanmu, teme!" ujar Naruto. Sasuke mendelik dan menatapnya dengan jengah.
"Bodoh! Cepat buka pintunya, aku lelah,"
"Hei, kau kan punya rumah sendiri, istirahat ditempatmu sana!"
Segera saja Naruto memasukkan kunci apartemennya pada lubang kunci itu, memegang kenop pintu dan membukanya lebar, tidak lupa untuk menutupnya kembali, setelah ia dan Sasuke masuk ke dalamnya.
Naruto menghela napas berulang kali, pikirannya kembali berlayar. Sungguh, rasanya saat ini ia benar-benar seperti seorang maling yang sedang menyembunyikan identitasnya. Takut, jika Sasuke akan mengetahui perasaannya dan pada akhirnya akan membuat hubungan persahabatan mereka menjadi hancur. Tidak! Ia menggelengkan kepalanya dengan kencang, hal ini membuat Sasuke yang kini telah duduk di sebuah sofa kecil menatapnya bingung. "Kau kenapa? Ada masalah?"
Naruto menoleh pada sahabatnnya itu dan ikut duduk disampingnya, tersenyum canggung dan menggeleng, "tidak ada. Apa hari ini lancar? Kau melakukan terapi lagi?" Sasuke mengangguk, "aku ingin segera menyelesaikan terapi bodoh itu―dan Naruto, kau tidak bisa menyembunyikan hal apapun dariku, katakan apa yang sedang kau pikirkan!" Sasuke memutar tubuhnya kesamping dan menatap Naruto dengan penuh selidik.
Untuk sesaat, tubuh Naruto menegang. Keringat dingin meluncur dari kedua pelipisnya, ia meneguk salivanya. Naruto bahkan sudah berjanji bahwa tidak akan ada satu hal pun yang akan disembunyikannya dari Sasuke, begitupun sebaliknya. Maka tidak ada gunanya ia menutup-nutupi. Naruto yakin, jika ia mengatakan hal yang sebenarnya, Sasuke akan mengerti. Bahkan Naruto pun sudah menyerah sejak awal, dan akan mendukung Sasuke bersama gadis yang dicintainya, meskipun dirinya yang tersakiti.
"Aku jatuh cinta."Hanya tiga kata yang terkesan sangat sederhana tapi sanggup membuat Sasuke menyemburkan air mineral miliknya yang belum sampai di kerongkongannya.
"Kau….apa?!" Sasuke mengerutkan keningnya.
Naruto mendelik, "aku jatuh cinta." Ia mengulangi perkataannya dengan nada sedih yang sama seperti sebelumnya.
"Sudah lama aku tidak mendengarmu berbicara tentang itu," ujar Sasuke.
"Kau kaget? Bisa juga kau bereskpresi seperti tadi, tampangmu sangat lucu." Naruto mengolok-olok Sasuke, namun alih-alih menanggapi Naruto, Sasuke justru mengacuhkannya sambil meletakkan botol mineral yang telah kosong diatas meja.
"Ngomong-ngomong, kau tidak bertanya tentang siapa gadis beruntung itu?" Tanya Naruto sambil berdiri dari sofa yang ia tempati, menuju tumpukan buku yang terjejer rapih di rak buku untuk mengurangi rasa gelisah yang tiba-tiba menyerangnya.
"Apanya yang beruntung?" Sasuke balas bertanya.
Naruto menoleh kearahnya. "Gadis yang aku sukai itu beruntung bukan? Disukai oleh laki-laki tampan sepertiku, bukannya itu suatu keberuntungan?"
"Tch, kau narsis juga." Sasuke tertawa geli, ia merebahkan tubuhnya diatas sofa dengan kedua tangannya sebagai bantalan.
Naruto tersenyum dan menatap Sasuke dengan sendu, "jadi apa kau tidak mau tau siapa gadis beruntung itu?"
"Katakan saja jika kau ingin memberitahuku, Naruto, kau terlalu panjang lebar." Ujar Sasuke.
"Gadis itu adalah gadis yang sangat kau kenal, Sasuke."
Tubuh Sasuke terlihat menegang, Naruto tahu itu. Naruto yakin, Sasuke pasti tahu siapa gadis 'beruntung' yang dimaksud. Dan insting tajam Sasuke mengatakan kalau gadis itu adalah dia. Siapa lagi gadis yang dikenalnya selain sosok merah jambu itu?
"Oh."
"Responmu hanya seperti itu? Kau benar-benar tidak mau tahu?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin mendengarnya."
"Kau harus mendengarnya, Sasuke!" Naruto menghampiri Sasuke yang kini tengah memejamkan kelopak matanya, "kau benar-benar tidak mau tahu siapa gadis yang ditaksir sahabatmu ini?"
Bukan, Sasuke bukan tidak mau tahu siapa gadis itu. Ia selalu ingin mendengarkan celotehan dari bibir sahabatnya itu, apa saja akan didengarkannya. Tapi kali ini berbeda. Sasuke tidak mau mendengarnya, benar-benar tidak ingin mendengarnya. Jika bisa, Sasuke ingin Tuhan menulikan telinganya sekarang juga.
"Meskipun kau tidak ingin mendengarnya, tapi aku akan tetap memberitahumu. Dengar, Sasuke. Aku menyukai Sakura Haruno."
Bingo!
Mendengar kata-kata Naruto, membuat jantung laki-laki pemilik onyx tajam itu berdesir. Tidak percaya mendengar nama itu terucap dari mulut sahabat pirangnya. Segera saja Sasuke membuka kelopak matanya, onyx-nya menatap langit-langit apartement Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan. Sasuke mengepalkan tangannya dengan erat. Berusaha mengontrol emosinya yang siap meledak kapan saja, menarik napas dan kembali memejamkan matanya.
"Maaf, Sasuke." Naruto menundukan kepalanya.
"Maaf? Untuk apa?" Masih dengan mata terpejam Sasuke kembali bertanya.
"Maaf, karena aku juga mencintai gadis yang kau cintai." Sasuke membenahi posisinya, ia berdiri dan menggenggam bahu sahabatnnya dengan kuat. Naruto mengangkat kepalanya.
"Bodoh, untuk apa kau minta maaf?"
"Kau tidak marah padaku Sasuke?" Naruto menatap Sasuke ragu.
Sasuke tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak punya hak untuk melarangmu jatuh cinta pada siapapun bukan? Dan Naruto, mungkin Sakura akan lebih baik jika bersamamu... Tapi, maaf aku tidak akan pernah menyerahkannya kepadamu." Naruto terkekeh, ia layangkan tinju kecil tepat di depan dada bidang Sasuke.
"Aku tidak akan menghalangi cintamu, aku bahkan sudah menyerah sejak awal. Aku hanya ingin kau tahu saja, aku mencintainya, tapi aku sama sekali tidak berharap bahwa ia harus menjadi milikku. Karena, dia hanya untukmu Sasuke." Naruto tersenyum tulus, kali ini perasaannya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Yah, biarlah kau kehilangan cintamu. Karena cinta yang baru akan kembali, meskipun tidak pernah sama. Bukankah cinta dari seorang sahabat itu jauh lebih penting?
Pukul 21.00, kediaman Haruno
Malam itu ketika Sakura sampai di rumahnya, ia menemukan ibu, ayah dan kakak perempuannya tidak ada disana. Mendesah pelan, teringat pesan yang dikirim oleh ibunya beberapa saat yang lalu, mengabarkan bahwa mereka bertiga mendapatkan undangan makan malam dari rekan kerja ayahnya. Sakura sedikit menyesal, lebih memilih acara karaoke yang sama sekali tidak asyik itu. Dan harus bersabar karena hari ini mungkin ia tidak akan makan malam. Sakura meletakkan tas gendongnya sembarang diatas meja dapur dan membuka kulkas. Bibirnya yang semula tertekuk membentuk lengkungan tipis, ternyata ibunya tidak melupakan dirinya begitu saja. Ia menemukan segelintir buah dan makanan fast-food, cukup untuk makan malamnya hari ini. Kemudian, Sakura memasukkan makanan itu kedalam microwave, meraih tasnya dan masuk kedalam kamarnya.
Tiga puluh menit kemudian, Sakura telah menyelesaikan kegiatan mandinya dan duduk di depan televisi yang ada di kamarnya sambil melahap fettuccine bolognese-nya, tidak lupa dengan buah apel segar yang telah dipotong kecil-kecil.
Berita yang disiarkan di televisi membuatnya sedikit bosan, tidak ada tayangan yang menarik. Maka ia memtuskan untuk mematikan televisinya. Tidak lama kemudian, santapan makan malamnya telah habis.
Sakura sedikit tersentak ketika tiba-tiba ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas itu berbunyi nyaring. Jantungnya berdebar kencang membaca caller ID yang tertera di layar ponselnya.
"Ya?" jawabnya singkat setelah menekan tombol hijau dan menempelkan ponselnya di telinga kanannya.
Sakura mengatur napasnya, berusaha meminimalisir debaran jantungnya yang lepas irama. Sudut bibirnya melengkung keatas membentuk senyuman. "Sasuke-kun, ada apa?" Sambungnya.
"Kau rindu padaku?" Alih-alih memberi jawaban, suara diseberang sana kembali melemparkan sebuah pertanyaan.
Sakura terkikik pelan, "Rindu padamu? Hm, tentu saja. Kau meneleponku hanya untuk menanyakan hal itu?"
Sasuke mendesah pelan disana, lalu berkata. "Kalau begitu aku tutup saja teleponnya."
"Jangan! Ma-maksudku, um... Kukira ada hal penting yang ingin kau sampaikan? Kan' aneh jika kau tiba-tiba menanyakan aku rindu padamu atau tidak seperti itu, seperti bukan Sasuke-kun saja," Sakura meneguk salivanya, gugup. Ayolah, kedekatannya dengan Sasuke beberapa hari ini sangat membuatnya gila.
"Lihatlah keluar! Ada sesuatu disana," jawab Sasuke, jawaban yang sama sekali tidak nyambung menurut Sakura.
Sakura mengerutkan keningnya. "Maksudmu? Sasuke-kun, jangan bilang kau mau menakutiku. Aku sendirian sekarang," kemudian ia melihat jam dinding yang terpajang manis di dinding kamarnya, jam 21.00. Sakura mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Hari sudah semakin larut dan gelai diluar sana.
"Tidak, kupikir hal ini akan membuatmu senang. Lihatlah keluar jendela." Perintah Sasuke.
Sakura menurut ragu dan berjalan kearah jendela kamarnya, membuka tirai jendelanya dan mendongak keatas langit malam, tapi tidak menemukan sesuatu yang indah―seperti yang Sasuke katakan―malam itu. Ia melihat langit-langit yang gelap, tanpa bintang atau benda langit lainnya. "Sasuke-kun, tidak ada apa-apa. Aku tidak merasa senang melihat langit yang gelap seperti itu." Katanya.
"Hn, kau melihat ke arah yang salah, Sakura." Ujar Sasuke.
Mendengar Sasuke menyebut namanya seperti itu, Sakura merasakan sesuatu seperti melompat di dalam dadanya dan perutnya terasa teregelitik di waktu yang bersamaan. Ia menjadi salah tingkah.
Terdiam sesaat, lalu Sakura berkata. "Maksudmu?"
"Lihat kebawah!"
Sakura kemudian menundukkan kepalanya kebawah, mulutnya terbuka, seakan tidak percaya dengan hal yang dilihatnya saat ini.
"Oh, Tuhan."
Sasuke ada disana, dibawah sorotan dari cahaya lampu jalan. Dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Kau senang melihatku?" Tanya Sasuke penuh percaya diri.
Sakura begitu terkejut ketika sesosok laki-laki bertubuh atletis itu ada di bawah sana. Hari itu Sasuke terlihat jauh lebih tampan dari biasanya. Aliran darah Sakura pun berdesir, ia membalas senyuman Sasuke dan menganggukkan kepalanya kelewat antusias. Bukan senang lagi yang ia rasakan, rasanya kata senang saja tidak cukup untuk melukiskan perasaannya saat ini. Sakura menarik napasnya dalam, matanya sedikit berkaca-kaca. Ajaib.
"Kau, sedang apa disana?" tanya Sakura masih melalui ponselnya. Sasuke berjalan lebih dekat kedepan.
"Melihatmu,"
Sakura terkekeh, kemudian berkata. "Tunggulah, aku segera kesana." Sasuke tidak menjawab, ia hanya memberikan sebuah anggukan sebagai tanda setuju.
Beberapa menit kemudian, Sakura telah sampai di bawah dan menghampiri Sasuke. Mempersilahkan Sasuke masuk ke dalam rumahnya dan memberikan secangkir teh hangat untuk laki-laki yang dicintainya itu.
Perasaanku tidak akan pernah berubah, aku sudah terlanjur mencintaimu
Dan aku tidak akan lelah untuk menanti
Menanti sebuah jawaban yang aku harapkan keluar dari mulutmu
Kini kau datang padaku dengan segala rasa yang begitu ambigu
Adakah sama rasamu dengan rasaku?
Kau membuatku goyah...
Ya, kau begitu membingungkan
Cintakah kau?
Sakura memandang Sasuke seraya tersenyum. Sejak sepuluh menit yang lalu, Sakura tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya memandangi laki-laki pujaannya yang kini tengah menyesap secangkir teh hangat yang ia hidangkan. Sasuke kemudian meletakan cangkir yang telah kosong diatas meja dan menatap ke arah Sakura, kedua alisnya terangkat. "Sejak tadi kau memandangiku." Katanya.
Sakura terperanjat dan membenahi posisi duduknya, "Eh? Ti-tidak, aku tidak memandangimu. K-kau terlalu percaya diri!" Sakura mengelak.
"Che~ benarkah?"
Sakura salang tingkah karena ketahuan memandanginya. Sontak saja wajahnya memanas. Merutuki kekonyolannya, betapa bodohnya ia. Bahkan, Sasuke sampai mengoloknya dan menyeringai. Ini pertama kalinya Sakura melihat Sasuke seperti itu. Melihat seringaiannya membuat Sakura semakin menggila.
"Te-tentu saja!" Bentak Sakura. Sasuke terkekeh dan tersenyum kecil, benar-benar membuat gadis bersurai unik itu mabuk kepayang.
"Aku sejak tadi memperhatikanmu, dan aku tahu kau tengah memandangiku kurang lebih selama sepuluh menit."
Cerdas, kau memang sangat jenius pangeranku. Oke, ini berlebihan.
"Ng, hey. Jadi kau juga memperhatikanku? Ah, jangan-jangan kau suka padaku Sasuke-kun. Hahaha," tanpa sadar Sakura mengatakannya. Ekspresi Sasuke sedikit tersentak, muncul rona kemerahan dari pipinya.
"Orang tuamu masih lama?" Katanya, bukan jawaban yang Sakura harapkan.
Yah, mana mungkin dia menyukaiku 'kan? Mustahil! Naruto pasti berbohong. Aku tahu itu.
Sakura mengedikkan bahunya, "entahlah. Tidak ada satu pun dari mereka yang membalas pesanku. Jangan pulang saja sekalian, huh!" Sakura mendengus seraya menguap lebar, perasaan kantuk tiba-tiba saja menyerangnya, wajar saja waktu tengah menunjukkan pukul 23.19, seharunya ia telah mengarungi dunia tanpa batasnya.
"Kau yakin tidak apa-apa jika keluargamu tidak pulang? Bukankah kau sangat penakut, Cherry?"
Seketika keringat dingin mengalir dari pelipis Sakura, ia meneguk salivanya, meringis, beranjak dari sofa yang ia duduki dan mendekatkan tubuhnya ke samping Sasuke.
"Temani aku sampai mereka pulang!"
Di lain tempat di waktu yang bersamaan, Naruto nampak gelisah diatas tempat tidurnya, digerakan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Menandakan bahwa ada sesuatu yang tengah dipikirkannya, bukan menyangkut masalah kakeknya yang masih saja bersikukuh untuk menjodohkannya dengan gadis yang tidak jelas, bukan juga menyangkut tugas-tugas sekolahan yang beberapa menit lalu ia selesaikan dalam waktu yang singkat, ini menyangkut hatinya, perasaannya. Pada seseorang gadis bernama Sakura Haruno yang ia cintai. Meskipun rasional logikanya menerima bahwa Sakura hanya untuk sahabatnya, Naruto masih tidak bisa mengendalikan hatinya. Hatinya, bahkan seluruh organ tubuhnya menderita, bersebrangan dengan logikanya.
Keberadaan Sakura merupakan obat mujarab baginya, awalnya ia tidak pernah menduga bahwa ia akan melabuhkan hatinya kepada Sakura. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan itu muncul, perasaan ingin melindungi, ingin membahagiakannya, bahkan ingin memilikinya. Namun, kali ini logikanya jauh lebih unggul dari hatinya. Ia lebih memilih mencintai dan melindungi gadisnya dengan caranya sendiri.
Naruto berpikir, mungkin ini merupakan sebuah karma dari Tuhan. Ia terlalu banyak menolak gadis-gadis pilihan kakeknya. Padahal, Naruto sadar betul kakeknya tidak mungkin memilihkan calon istri yang tidak baik untuknya. Tapi, tetap saja ini masalah hati. Naruto tidak ingin ikatan sakral itu tanpa landasan cinta.
Ia menghela napas, mengotak-atik ponselnya, membuka file berisi foto gadis yang dicintainya. Foto itu ia ambil secara diam-diam saat pelajaran fisika tiga hari yang lalu, disana wajah Sakura nampak terlihat bosan dengan kedua pipinya yang menggembung.
"Sakura-chan, kau membuatku gila."
Naruto memandangi foto itu dengan senyuman, tanpa ia sadari perasaan cintanya kepada Sakura terus berkembang. Namun, seakan kembali tersadar dari mimpinya, tatapannya berubah sendu, sebesar apapun perasaan cintanya, pada akhirnya ia tidak akan bisa meraih cintanya. Dengan lapang dada, ia harus merelakan perasaannya terkubur dalam dasar hatinya, bukankah ia sudah berjanji kepada sahabatnya untuk membantunya bersatu dengan gadis itu?
Naruto tidak ingin menjadi orang ke sekian yang membuat sahabatnya itu kecewa, sudah cukup penderitaan yang sahabatnya alami, Naruto akan selalu berusaha membahagiakan sahabatnya dan berkorban untuknya.
Sasuke sahabatnya sejak kecil, mereka tumbuh bersama di tempat yang sama. Keduanya saling melengkapi, ada yang berbeda jika mereka berdua tidak bersama. Banyak hal yang mereka lewati bersama, senang dan sedih. Bahkan Naruto tahu betul seluk beluk masa lalu kelam yang dialami oleh Sasuke. Masa lalu yang merenggut orang-orang yang dicintai sahabatnya, masa lalu tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Naruto tidak akan pernah lupa raut wajah Sasuke saat ia mengetahui kebenaran tentang ibunya yang menghianati dirinya dan ayahnya sebelum peristiwa yang hampir merenggut nyawa Sasuke itu terjadi.
"Aku harus melupakanmu Sakura-chan, hah~ Tuhan bantu aku!" ucap Naruto, kemudian meletakan ponselnya diatas meja nakas dan mencoba untuk tidur.
"Tidurlah, jangan memaksakan diri!" Sasuke menatap Sakura yang terkantuk-kantuk disampingnya dengan geli, hampir saja tubuh gadis itu terjengkang kebelakang jika saja Sasuke tidak menarik tubuhnya.
Sakura menggelengkan kepalanya dengan kuat, membuka kelopak matanya lebar-lebar sambil menepuk-nepuk pipinya.
"Aku tidak akan tidur sampai keluargaku pulang, Sasuke-kun, aku tidak mau sendirian di rumah." Rengek Sakura.
"Ck, mereka bilang mereka terjebak macet 'kan? Mungkin mereka akan tiba beberapa jam lagi, lebih baik kau tidur. Aku akan menemanimu, sampai kau tertidur. Jadi, sekarang tidurlah!" Ucap Sasuke penuh dengan perintah. Sakura menatap laki-laki disampingnya dengan bosan, ternyata Sasuke bisa jadi sangat menyebalkan seperti ini jika banyak bicara. Lebih baik dia menjadi pangeran es saja selamanya.
"Lalu, saat aku telah tertidur, kau akan pulang? Begitu? Bagaimana jika keluargaku belum pulang juga saat kau pulang? Lalu, aku terbangun dan menemukan keadaan rumah yang sunyi? Lalu..." ucapan Sakura terputus, ia tampak terkejut dengan perlakuan Sasuke, yang dengan sigap mengangkat tubuh Sakura.
"Tunjukkan kamarmu!"
"A-heii! Turunkan aku Sasuke-kun,kyaaa... Kau mau apa?" Sakura menyilangkan kedua tangannya diatas dada dan berteriak.
"Jangan teriak. Kau pikir ini jam berapa? Kau mengganggu tetanggamu," Sasuke menatapnya dengan bosan.
"Ta-tapi, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri Sasuke-kun," Sakura berusaha turun dari pangkuan Sasuke, sejujurnya ia sangat senang saat itu, tapi gengsinya terlalu besar.
Sasuke menurunkan Sakura dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya. "Baiklah, sudah kuturuti perintahmu. Sekarang masuklah ke kamarmu dan tidur!"
"Oke! Tapi benar ya? Kau akan menemaniku sampai aku tertidur! Kau tidak boleh pulang sampai keluargaku datang!" ucap Sakura seraya melangkahkan kakinya memasuki kamar dan membaringkan tubuhnya diatas kasur empuknya, diikuti dengan Sasuke di belakangnnya.
"Hn. Cepat tidur, kau pikir aku tidak lelah?"
Sakura meringis dibalik selimut hangatnya, "maaf, lagipula aku 'kan tidak menyuruhmu datang kesini. Oh ya, kau bisa tidur di sofa itu sampai orang tuaku pulang," Sakura menunjuk sofa yang ada di kamarnya, "aku tidak mau sendirian Sasuke-kun."
"Aku tahu. Tidur!" Sasuke membenahi selimut yang menutupi setengah tubuh Sakura dan mengusap puncak kepala Sakura dengan lembut, ada perasaan hangat yang menjalar di sekujur tubuh Sakura saat itu. Sakura tersenyum dan berusaha menutup kelopak matanya, aroma khas yang menguar dari tubuh Sasuke membuat dirinya nyaman, seakan menjadi bius untuk dirinya. Tidak lama kemudian Sakura telah berlayar menuju alam mimpinya.
Setelah beberapa kali memastikan Sakura tertidur, Sasuke memutuskan untuk pulang dan beristirahat, ia harus segera pergi dari rumah Sakura sebelum orang tuanya tahu, Sakura bilang ayahnya sedikit galak dan Sasuke belum siap menerima 'hadiah manis' dari ayah Sakura yang mengetahui seorang laki-laki tengah menemani putrinya berduaan di kamarnya.
Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah gadis yang dicintainya, kemudian mendaratkan bibir sensualnya tepat dibawah bibir tipis Sakura, mengecupnya dengan lembut dan penuh perasaan.
"Aku mencintaimu, aku sangat ingin memilikimu." Bisiknya, "maaf, tunggulah sebentar lagi. Jangan berhenti mencintaiku, Sakura."
Selang beberapa menit dari kepulangan Sasuke, keluarga Sakura sampai di rumah.
"Dasar, Sakura lupa mengunci pintunya. Bagaimana kalau ada orang yang masuk saat dia tidur? Hah, tapi...anak itu baik-baik saja kan bu? Tumben dia berani sendirian seperti ini," ujar Karin, kakak perempuan Sakura. Kedua orang tuanya hanya mengedikkan bahu, entahlah mungkin mereka sudah terlalu lelah untuk menanggapi pertanyaan itu.
Dan malam itu Sakura bermimpi indah, sang pangeran memberinya sebuah kecupan di bibirnya. Memeluknya dengan mesra dan membisikkan kata cinta untuknya. Mimpi terindah yang terasa nyata―memang nyata―untukknya.
Malam ini sepi kian mencakari wajah tampan Sasuke Uchiha. Dan rindu kian mencengkerami hatinya yang rapuh. Padahal baru beberapa detik yang lalu ia bertemu dengan sang pemilik hati. Namun rasanya itu tidak cukup untuk mengobati kegamangan hatinya.
Sasuke selalu berharap seseorang dapat mendengar resah yang dirasakannya. Menepis lara lewat sentuhan lembut, ya, ia berharap Sakura orangnya. Namun terkadang kenyataan tidak selalu seindah dengan apa yang diharapkan.
Sasuke tahu betul. Bahwa kerikil-kerikil yang berserakan akan merintangi dan menghadang kehidupan. Bahkan jika ia kurang beruntung, ia akan menemui sebuah lubang ditengah jalan. Tidak ada pilihan lain, ia harus menghadapinya.
Deritanya, dukanya, segala macam hal yang membuat hidupnya hancur. Sasuke tidak ingin mengingatnya kembali. Namun, entah apa yang Tuhan rencanakan untuknya, Sasuke tidak pernah mampu menutup lukanya sendiri.
Angin malam yang berdesir itu seakan menusuk tubuh Sasuke dengan tajam. Menerobos melalui celah diantara jendela kamarnya yang tidak tertutup rapat. Hembusannya yang kian menguat, mampu mendobrak, membuka paksa jendela kamarnya. Sehingga suara keras bantingan jendela terdengar memekakan telinganya, berdengung, sakit. Rasa sakit yang sebanding―atau lebih―dengan rasa sakit di dalam hatinya. Tidak sadar linangan air mata kembali jatuh membasahi kedua pipi tirusnya. Menangisi kemalangannya yang tiada akhir.
Sekejam inikah takdir mempermainkannya?
Pikirannya hanyut dalam beribu pertanyaan yang ia lontarkan sendiri. Tidak mengerti, sebenarnya mengapa ia tidak bisa bersikap jujur pada Sakura. Sasuke tersenyum sinis, salah, bukan tidak mengerti, ia sangat mengerti malah. Alasan dibalik sikapnya, ia merasa bodoh. Berpura-pura untuk tidak peduli dan acuh pada gadis itu, menyimpan segala macam rasa yang menggebu di dalam hatinya, diam-diam memberinya perhatian, memendamnya entah sampai kapan. Sungguh Sasuke melakukan hal itu karena ia terlalu mencintai gadis itu, aroma tubuh Sakura bahkan masih tercium oleh inderanya. Kemudian ia sentuh bibirnya, memutar kembali kejadian yang terbilang nekat beberapa jam yang lalu. Mencuri ciuman Sakura bukan hal yang menyenangkan untuknya.
Andai Sakura tahu. Bahwa Sasuke sangat ingin mendekap hati dan tubuhnya, membagi duka dan deritanya bersama. Namun ketakutan dan egonya terlalu besar, mengalahkan akal sehatnya.
To be continued
AN: Ceritanya makin ancur sumpah . maaf aku bener-bener stak sama ceritanya. Tapi pasti bakalan nyelesein ini sampe klimkas :') InsyaAllah. Makasih buat yang udah RnR dan setia *halah* baca ini fic -_-" hontou ni arigatou, and gomen ne~ . cerita ini masih panjang untuk sampe ke inti cerita, masih banyak misteri2 saskey yang belum dikuak... Aku harap semuanya masih mau ya bacanya hahaha X'D
Special Thank's
untuk yang sudah mereview di chap lalu:
NE, hanazono yuri, Hinamori Miko Koyuki, sasusaku uciha, Rannada Youichi, desypramitha2
