Disclaimer : Masashi Kishimoto
Tittle : Between Hate and Love
Genre : Drama, Romance
Rate : T.
Warn(!) : OOC, typo(s), ide pasaran, Gaje, Gender-bender, Fem!Naru.
Don't like, don't reading!
Selamat membaca~
.
.
.
Pagi hari yang cukup tenang. Itachi memeriksa beberapa dokumen di temani dengan secangkir kopi yang beberapa waktu lalu di antarkan oleh sekretarisnya. Di dalam ruangan yang cukup luas itu, mata onyxnya memeriksa dengan minat dokumen tentang relasi kerja barunya. Raut kagum Itachi jelas terpancar dari wajah tampannya. Lembar demi lembar kertas itu di buka pelan-pelan hingga hanya terdengar suara gesekan halus. Pintu ruangannya di ketuk pelan, memaksanya untuk melepas pandang dokumen yang sedang ia periksa. Dengan suara tegas, ia menyuruh si pengetuk masuk. Muncullah seorang dengan setelan jas hitam dari balik pintu.
"Uchiha-san, Namikaze-san dari Kiri telah tiba."
Senyum di bibir Itachi semakin terkembang saat mendapat informasi dari bawahannya. Akhirnya relasi kerjanya yang baru dan sering di perbincangkan di kalangan pebisnis karna perkembangan pesat perusahaan yang konon beberapa tahun mengalami kemunduran itu sudah tiba di konoha. Itachi melenggang keluar ruangannya setelah mengucapkan terima kasih kepada bawahannya tersebut. Dia sendiri berniat untuk menyambut relasi kerjanya itu.
Di lobi, Itachi bisa melihat punggung yang tampak asing, sedang sibuk dengan gadgetnya. Itachi menghampiri orang itu dan langsung memberi salam.
"Selamat datang di konoha dan selamat datang di Uchiha Corp, Namikaze-san."
Pemilik punggung itu berbalik, menampakan wajah tegas yang tetap terlihat tampan. Garis tipis terlihat melengkung di bibir pria itu. Mata rubynya yang terlihat tajam menatap wajah seseorang yang menyapanya. Dalam hati ia sudah menebak, siapa pria tampan yang memiliki keriput di wajahnya itu.
"Terima kasih, Uchiha-san."
Kyuubi mengulurkan tangan kepada Itachi, sebagai tanda perkenalan. Itachi dengan senang hati menyambut uluran tangan itu. Keduanya bersalaman.
"Anda pasti lelah bukan? Sebaiknya anda istirahat dulu, besok ba-"
"Tidak apa-apa, Uchiha-san. Saya tidak suka mengulur waktu. Kita bisa bicarakan semuanya sekarang, aku juga punya urusan lain di konoha, jadi ku harap kita bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat"
Itachi berdecak kagum dalam hati. Ia bisa merasakan ketegasan dalam diri seorang Namikaze yang ada di hadapannya ini.
"Baiklah, mari bicara di ruanganku."
xxxxxxxx
Pintu kelas 3B digeser menimbulkan bunyi gesekan pelan yang mengalihkan perhatian seluruh murid yang ada di kelas tersebut. Dari balik pintu muncul seorang gadis berambut pirang dengan membawa sebuah map. Gadis itu berjalan dan berhenti di depan didekat meja guru.
"Minna.. Ini hasil rapat guru tentang Festival budaya yang akan di gelar tahun ini"
Semua murid yang ada di kelas diam, mendengarkan dengan antusias informasi yang di berikan oleh gadis pirang itu, Naru.
Naru membuka map berwarna coklat itu dan mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya. Gadis itu menjelaskan secara detail sistem festival budaya tahun ini dengan detail. Tak lupa, Naru juga menyampaikan segala peraturan yang berlakukan selama festival berlangsung.
Naru menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Dia kemudian menatap temannya satu persatu lalu tersenyum misterius.
"Kita mendapat bagian menarik. Kelas 3B akan mengadakan Cosplay Cafe" ujar Naru dan seketika kelas itu menjadi heboh.
"Yeay! Aku ingin sekali mengcosplaykan karakter favorite ku" teriak Kiba, membuat Sai yang berada di dekatnya berjengit menutup telinga. Naru terkekeh pelan melihat tingkah teman-teman sekelasnya yang terlihat begitu bersemangat.
"Jaa, mohon bantuannya ya, minna~"
Sementara itu, di kelas 3A sudah dipenuhi aura suram yang jika saja aura itu bisa dilihat dengan mata telanjang, dapat di pastikan aura itu pasti berwarna hitam. Tenten, gadis berdarah campuran China itu terlihat tidak ingin di bantah. Dia sama sekali tidak gentar dengan aura suram yang sudah mendominasi ruang kelasnya yang di ciptakan oleh salah satu teman sekelasnya yang super tampan(?).
Tenten merupakan ketua kelas 3A sekaligus menjabat sebagai salah satu dewan elit sekolah yang mungkin satu-satunya setelah si gadis pirang dari kelas 3B yang sama sekali tidak berpengaruh dengan status Uchiha Sasuke yang notabene adalah anak dari pemilik sekolah elit yang ia tempati menimba ilmu. Meskipun Tenten biasanya tidak ikut campur dengan hal-hal yang berbau Uchiha's problems, namun lain halnya jika itu berkaitan dengan kelas yang sangat ia banggakan. Tidak peduli jika kau anak pemilik sekolah atau anak presiden sekalipun, kau harus tetap menerima keputusan yang sudah ia tentukan menyangkut kesejahteraan kelas.
"Tenten, apa kau yakin Uchiha-san yang cocok mengambil peran itu? Kau lihat saja, wajahnya sudah seperti ingin memutilasimu sampai kebagian terkecil" Bisik salah satu siswi yang berdiri tepat di samping gadis keturunan China itu. Tenten menoleh dengan santai dan tersenyum manis.
"Tidak ada yang boleh membantahku, kau paham?"
"Tapi Tenten.."
"Sssttt.. Dia pasti mau. Iya 'kan, Sasuke-kun?"
Ujarnya sambil tersenyum miring ke Sasuke yang benar-benar sudah merasa ingin menjungkir balikan kepala bercepol dua milik Tenten.
"Oh iya, tidak perlu khawatir, Sasuke-kun. Peran ini tidak akan merendahkan martabatmu, justru peran ini sangat cocok untuk seorang putra bungsu Uchiha sepertimu." tambah Tenten dengan nada kagum yang sama sekali tidak di buat-buat. Artinya, gadis ini sudah memikirkan matang-matang tentang semua ini. Sasuke berdecak sebal, namun ia juga tidak menolak. Menentang sang ketua kelas adalah hal yang paling merepotkan, dia sedang tidak mood.
Tenten sumringah saat melihat Sasuke tidak mengeluarkan penolakan.
"Nah, yang mendapat peran yang kedua adalah..."
Semua murid yang ada di kelas itu diam, penasaran siapa yang akan mendapat peran itu. Para siswi sudah tidak sabar menanti dan harap-harap mereka yang di tunjuk oleh Tenten. Pasalnya, peran kedua yang akan di berikan Tenten adalah peran yang akan menjadi partner atau couple peran Sasuke. Yap, tepat sekali. Kelas 3A mendapat bagian untuk menampilkan sebuah drama dalam festival budaya yang akan di gelar dua hari lagi. Judul drama yang dipilih Tenten pun sudah sangat familiar, yaitu drama Snow White. Jelas para siswi itu menginginkan dirinya yang di pilih agar bisa -uhuk- mendapat kissu dari si Uchiha.
Wajah mereka sudah tidak sabaran, menanti kelanjutan kata-kata Tenten yang terhenti beberapa saat.
"...adalah.."
Ulang Tenten dramatis untuk memberi kesan mendebarkan. Kita perlu tahu, bahwa Tenten adalah salah satu Artis yang terkenal, makanya ia sangat ahli untuk hal seperti ini.
"Yang akan menjadi snow white adalah.. Neji!"
Krik Krik Krik!
Hening.
Yang terdengar saat ini hanyalah deritan spidol yang beradu dengan papan tulis saat Tenten menulis nama Neji di papan.
Detik berikutnya, beberapa murid dalam kelas tersebut menganga lebar. Sasuke pun tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, jelas ia sangat terkejut. Dalam hati ia meneriakan kata 'HAH' keras-keras mendengar keputusan si Tenten. Namun dengan sekuat tenaga Sasuke menahan diri untuk tidak histeris karena menurutnya itu sangat tidak Uchiha. Bahkan Shikamaru yang sedari tadi berkelana ke dunia mimpi, dipaksa kembali ke dunia nyata dan perhatian Gaara dari kekasih tercintanya -Re: Buku tebal- juga teralihkan, dan kini menatap Neji. Sedangkan orang yang di tunjuk sudah hampir kehabisan nafas karena terlalu shock.
"Kau bercanda, Tenten?!" Neji berujar geram. Dadanya terlihat naik turun karena kepayahan bernafas. Oh yeah! Gadis bercepol dua itu benar-benar ingin mempermalukan keluarga Hyuuga, batinnya tidak terima. Tenten melipat tangannya di depan dada. Sebelah alisnya terangkat menatap Neji dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Well, apa wajahku terlihat seperti sedang bergurau, Neji-kun?" Wajah sarkasme Tenten benar-benar mengesalkan, menurut Neji.
"Lalu kenapa kau memilihku? Apa kau sudah gila? Apa kau lupa aku ini siapa? Dan apa sudah tidak ada wanita di kelas ini yang bisa kau pilih untuk jadi Snow white?" Neji melontarkan berbagai pertanyaan dengan nada geram yang terdengar menggemaskan di telinga Tenten. Sedangkan gadis itu hanya memegang dagunya, terlihat seperti sedang berpikir.
"Oke. Pertama!" Tenten mengankat telunjuknya sebagai tanda 'pertama'. "Aku memilihmu karena kau cocok memerankan Snow white. Pahatan wajahmu terlihat sangat feminim" ujarnya polos dan jujur membuat Neji merasa dipermalukan.
"Kedua, aku tidak gila. Ketiga, kau pikir aku punya penyakit amnesia? Aku ingat siapa dirimu, Hyuuga Neji-kun" Tenten menarik nafas setelah berbicara panjang lebar.
"Keempat, disini banyak wanita, tapi tidak ada yang cocok untuk menjadi snow white" beberapa siswi menatap sinis ke arah Tenten karena tidak mengakui kehebatan mereka dalam memerankan peran Snow white.
"Lalu kenapa bukan kau menjadi Snow white, hah?"
Mulut Tenten sedikit terbuka saat mendengar pertanyaan Neji. Ia lalu tertawa garing sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Entah hanya perasaan Neji saja, atau ia memang melihat pipi gadis itu sedikit merona.
"Umm.. Karna aku sedang menyukai seseorang. Makanya aku tidak ingin bermesraan dengan pria lain, termasuk Sasuke-kun" ujarnya penuh percaya diri tanpa mempedulikan tatapan membunuh dari siswi-siswi yang ada di kelasnya plus Sasuke.
"Aku tidak mau tahu. Aku tidak suka penolakan! Kau yang akan jadi Snow white"
Neji lagi-lagi ingin membantah namun langsung di potong oleh Tenten. Tenten tersenyum penuh kemenangan, selanjutnya ia kembali membacakan peran yang juga ikut andil dalam drama tersebut.
"Pppffft, selamat ya, Snow white. Aku tidak sabar ingin melihat sang pangeran menciummu." Gaara meledek Neji. Detik itu juga Gaara mendapat deathglare mematikan dari Si Hyuuga. Pemuda itu lalu menoleh ke Sasuke yang terlihat tidak tertarik mengurusi drama itu lagi.
"Sasuke? Bagaimana bisa kau terlihat begitu santai dengan semua ini?"
"Hn."
"Sasuke!"
"Yang mendapat peran buruk itu kau, bukan aku! Jadi itu bukan urusanku!"
"Tapi.. Bagaimana dengan adegan itu?"
"Aku tidak keberatan untuk menciummu, Snow white-chan!"
Neji ingin mati saat itu juga melihat sikap OOC dari sahabatnya yang entah keracunan apa hingga mengatakan hal seperti itu. Gaara dan Shikamaru harus mati-matian menahan agar tawanya tidak meledak dan memicu amukan si Hyuuga itu.
Sehari sebelum festival budaya itu di gelar. Masing-masing setiap kelas melakukan persiapan dengan bersungguh-sungguh. Banyak murid yang berlalu lalang untuk mengurusi keperluan yang menunjang keberhasilan kelas mereka. Tidak terkecuali kelas Sasuke yang saat ini tampak tidak terkendali. Hal ini di karena kan Tenten yang bermain kejar-kejaran dengan Neji. Tenten ingin memakai kan pakaian Snow white ke pemuda itu, namun Neji bersumpah atas nama Tuhan dia lebih baik mati daripada memakai gaun biru-kuning itu. Hell no!.
Tenten tidak menyerah, dengan sigap gadis itu menghentikan Neji dengan menarik tangan pemuda itu. Neji sedikit terkejut, bagaimana bisa Tenten memiliki tenaga seperti laki-laki. Apa selain menggeluti dunia selebriti, gadis ini juga atlit karate? Batin Neji bertanya pada dirinya sendiri.
Tenten menghela nafa lega, seperti ekspektasinya, Neji terlihat sangat cantik dengan gaun snow white. Dari sudut ruangan, Neji sudah bisa melihat Gaara dan Shikamaru menertawai dirinya. Neji ingin sekali membunuh kedua teman tidak setia kawannya itu.
Sasuke keluar dari kelasnya. Ia sedikit pusing mendengar berbagai macam keributan yang salah satunya di ciptakan oleh Neji dan Tenten. Dua jarinya memijit pangkal hidungnya yang terasa sedikit berdenyut. Kaki jenjangnya kemudian ia langkahkan menelusuri koridor. Ia sedikit melamun hingga tidak menyadari seseorang yang keluar dari kelas dan menabrak orang itu hingga jatuh.
"Duh!"
Sasuke melirik untuk melihat sosok yang mengaduh di bawahnya. Ia menyeringai sombong.
"Perhatikan jalanmu, Bodoh!"
Sasuke bisa menangkap kilat kesal dari mata biru orang yang di tabraknya. Orang itu lalu berusaha untuk berdiri. Ia berdiri tepat di hadapan Sasuke. Tubuhnya yang sedikit lebih pendek dari Sasuke memaksanya untuk sedikit mendongak untuk menatap pemuda itu.
"Kau yang menabraku, Uchiha! Seharusnya kau minta maaf!" Ujarnya dingin. Sasuke tersenyum dalam hati. Seperti biasa, dia terlihat seperti rubah betina liar, batin Sasuke.
"Hn? Aku akan minta maaf setelah kau berterima kasih atas pertolonganku waktu itu. Kalau ku ingat-ingat, kau bahkan tidak pernah mengucapkan terima kasih"
Pelipis gadis itu berkedut. No way! Untuk apa ia berterima kasih untuk manusia seperti Uchiha Sasuke. Gadis itu berbalik berniat mengakhiri obrolan tak menyenangkannya dengan Sasuke, namun ia merasakan tangannya kemudian di tarik oleh tangan besar. Sasuke langsung memerangkap tubuh gadis itu diantara tubuhnya dengan dinding. Kedua tangan Sasuke berada di kedua sisi tubuh gadis itu. Naru, nama gadis itu, tidak ingat sejak kapan ia berada di posisi ini. Wajah Sasuke terlalu dekat dengan wajahnya, bahkan aroma mint yang keluar bersamaan dengan hembusan nafas Sasuke dapat ia rasakan. Mata onyx Sasuke seakan menghipnotisnya untuk tidak bergerak. Naru mengakui mata hitam itu sangat menawan. Sasuke mendekatkan wajahnya ke telinga Naru membuat gadis itu akhirnya tersadar dari pesona iris Onyx milik Sasuke. Gadis itu berjengit saat merasakan hembusan nafas Sasuke yang menggelitik telinganya.
"Aku merindukan tanda lahir yang ada di perutmu, Nona Beasiswa~" Bisik Sasuke seduktif yang terdengar sensual. Namun bagi Naru, itu terdengar seperti petir di siang bolong.
"Brengsek!" Naru menggeram. Dengan kekuatan penuh, ia mendorong dada Sasuke, menjauhkan tubuhnya dari tubuh pemuda itu. Wajah Naru merah padam antara malu dan marah. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum sarkatis.
Sai keluar dari kelas dan mendapati Sasuke dan Naru yang terengah-engah seperti orang yang habis berlari.
"Naru? Apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau ingin mengambil beberapa kain?" Sai memegang bahu Naru dan menghujani gadis itu dengan berbagai pertanyaan. Gadis itu tidak kunjung menjawab. Sai lalu menoleh ke arah Sasuke yang menatapnya dengan tatapan datar.
"Sasuke, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sai heran, tidak biasanya sepupunya itu berkeliaran di sekitar sekolah tanpa ditemani ketiga sahabatnya. Sasuke mendecih lalu berjalam pergi meninggalkan Sai yang masih menatapnya heran. Pemuda yang memiliki perawakan yang hampir sama dengan Sasuke itu kemudia menatap Naru.
"Naru, apa lagi yang ia lakukan padamu?"
"Tidak Sai, Uchiha itu tidak melakukan apa-apa" Naru tersenyum dan menggeleng. Gadis itu berbohong. Dia tidak mungkin memberitahu Sai apa yang di katakan oleh Sasuke beberapa waktu yang lalu.
"Yasudah. Aku pergi dulu ya, Sai. Teman-teman yang lain pasti sudah menungguku."
Sai mengangguk, dan Naru pun berlari menuju tempat tujuannya yang sempat terhenti akibat pertemuannya dengan si pantat ayam.
Tanpa Naru sadari, ada seseorang yang tidak jauh dari tempat itu sedari tadi menjadi saksi obrolan singkat antara dirinya dan Sasuke dengan tatapan gelap penuh kebencian.
"Gadis murahan!"
Xxxxxxxx
Hari yang di tunggu-tunggu oleh seluruh murid Konoha High School pun tiba. Semua tampak bersemangat. Mulai dari pintu gerbang sampai halaman dalam sekolah sangat ramai karna di padati oleh pengunjung untuk menikmati Festival Budaya yang di gelar KHS tiap tahunnya yang tentu saja di buka untuk umum. Banyak juga murid dari sekolah lain yang datang sekedar untuk menikmati festival yang memang di nantikan tiap tahun. Meskipun setiap sekolah mengadakan Bunkasai tiap tahun, namun KHS lah terbukti paling sukses dalam hal ini.
Kelas 3B yang mendapat bagian untuk mengadakan Cosplay Cafe tampak sudah siap menyambut tamu yang datang. Hinata kini terlihat bak putri disney yang sering ada di TV. Dengan balutan gaun berwarna biru muda dan rambut indigonya yang di sanggul sedemikian rupa hingga benar-benar terlihat seperti sosok putri Cinderella.
"Hinata? Ya tuhan, kau cantik sekali!"
Sakura yang berdiri di depan pintu histeris melihat sahabatnya yang kini bak putri itu. Hinata dengan malu-malu berjalan menghampiri Sakura. "Hehe, arigatou Sakura-chan." Hinata menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dia sungguh malu dengan pujian Sakura. Hinata kemudian melirik sesuatu yang di pegang Sakura dan mengerutkan alisnya.
"Ne, Sakura-chan. Mau kau apakan wig itu?". Sakura tersenyum misterius, mendengar pertanyaan yang ia tunggu-tunggu dari Hinata.
"Tunggu sampai kau lihat." Ujarnya sambil memakai wig rambut panjang berwarna hitam. "Waaaaaaa!"
Hinata berjengit saat Sakura bertingkah seperti Sadako. Hinata baru ingat bahwa kelas Sakura membuat rumah hantu.
"Kau benar-benar mirip Sadako, Sakura-chan"
Kedua gadis itu tertawa di depan kelas hingga tidak sadar bahwa mereka menghalangi jalan seseorang yang ingin masuk.
"Ekhem!"
Orang itu berdehem membuat kedua gadis itu menoleh dan detik itu juga mulut mereka sedikit menganga saat melihat orang itu.
"N-Naru?"
Semua yang ada dalam kelas itu menoleh. Dan lagi-lagi, ekspresi mereka jelas memperlihatkan bahwa mereka sangat terkejut.
Naru yang kini berdiri dengan senyuman manis. Tubuhnya yang di balut dengan gaun yang berwarna kuning dan biru itu tampak cocok di tubuhnya. Atasan baju yang berwarna biru membuat sinar matanya yang berwarna senada makin terpancar, dan bawahan baju yang berwarna kuning sesuai dengan warna rambutnya.
"Bagaima penampilanku?"
Tanya gadis itu sambil memegang kedua sisi gaunnya dan berputar-putar. Kiba yang dari tadi sibuk menata cangkir di atas meja tidak sadar hidungnya sudah mengeluarkan darah.
"Perfect!"
Ujar Ino yang tiba-tiba datang dengan kostum Kokkuri-sannya (re: siluman rubah).
Wajah Naru jadi merona, membuatnya terlihat makin manis.
"Hei, jangan diam saja di situ, bantu kami bersiap-siap. Sebentar lagi mungkin akan ada tamu yang datang!" Panggil Kiba yang sedang menyumpal hidungnya dengan tissue. Naru dan Hinata pun masuk ke dalam kelas setelah Sakura dan Ino pamit untuk kembali ke kelasnya lagi. Kedua gadis itu lalu membantu teman-temannya yang lain menata cangkir di atas meja.
Tidak lama kemudian pengunjung pun berdatangan. Mulai dari anak-anak, murid-murid KHS, orang dewasa bahkan dari sekolah lain pun mulai masuk dan menikmati pelayanan dari Cosplay Cafe kelas 3B.
Matahari kini berada tepat di atas kepala. Suasana di KHS masih meriah. Pengunjung benar-benar menikmati festival tersebut. Sepeanjang mata memandang, akan nampak murid-murid melayani pengunjung. Stand-stand makanan yang di sediakan seperti Stand takoyaki, permen apel, gulali, dan lain-lain siap memberikan pelayanan terbaik secara gratis. Tentu saja gratis, tujuan KHS mengadakan festival ini bukan hanya semata-mata menunjukan betapa hebat dan elitnya sekolah itu, tetapi juga untuk menyenangkan semua orang.
Beberapa klub juga mengambil bagian di festival ini. Untungnya bagi setiap klub yang di libatkan tentu saja untuk mempromosikan klub kepada orang-orang, agar kelak saat masuk ke KHS mereka tertarik untuk bergabung. Contohnya di sebelah timur KHS, klub memasak sedang mengadakan kontes memasak, di sebelah barat ada klub kaligrafi, di sebelah timur, klub seni memberi sovenir berupa lukisan kepada pengunjung yang ingin di lukis wajahnya, dan di sebelah selatan ada pertunjukan orkestra oleh klub musik. Semua pengunjung benar-benar di manja dari segala arah.
Sedangkan di dalam ruang aula utama, sudah banyak pengunjung baik non murid maupun murid KHS yang kebetulan sudah tidak memiliki tugas, telah duduk dengan rapi untuk menyaksikan pertunjukan terakhir dari kelas 3A. Kelas yang mereka ketahui adalah kelas sang Idola seantero konoha.
Di belakang panggung, semua sedang sibuk di bagian mereka masing-masing. Di sudut terlihat Sasuke, yang berperan sebagai pangeran kini duduk menatap pantulan dirinya di depan cermin. Pakaian ala kerajaan eropa yang ia kenakan sangat pas dengan pahatan wajah tampannya.
Sedangkan di lain sisi, Neji sudah ingin mati karena gaun Snow white yang ia kenakan. Siapapun yang melihat Neji sekarang, mereka tidak akan percaya kalau dia berjenis kelamin laki-laki.
"Oke, semuanya. Dua menit lagi dramanya akan di mulai. Bersiaplah!"
Tenten memberi informasi. Gayanya sudah seperti sutradara handal dalam film-film holywood yang pernah ia tonton. Tugas ini memang sangat cocok untuknya. Pekerjaannya dipermudah oleh profesinya sebagai artis yang sedikit banyak sudah mengerti dunia akting.
Lampu utama aula pun di padamkan. Kini cahaya hanya berasal dari stage. Tirai panggung terbuka pelan. Riuh tepuk tangan penonton menggema di seluruh penjuru aula. Orang yang pertama muncul adalah Snow white aka Neji. Semua penonton berdecak kagum atas kecantikan sang putri. Namun bagi Neji, pujian-pujian yang terlontar para penonton merupakan anak busur yang menancap di sekujur tubuhnya. Dengan enggan, ia memulai dramanya. Meskipun Neji tampak ogah-ogahan, namun tetap terlihat profesional di mata penonton.
"Ganbatte, Neji!" Gumam Tenten dengan mata berbinar.
Kini gilaran Sasuke yang muncul di atas stage. Jeritan para fangirl mendominasi aula besar itu. Jujur saja, akting Sasuke sangat buruk. Sasuke lebih cocok jadi penyihir jahat di bandingkan menjadi pangeran yang baik hati. Namun tetap saja, wajah tampannya yang menutupi semua kekurangan aktingnya. Proud to his face.
Drama itu berjalan dengan cukup baik dan Tenten senang. Namun gadis keturunan China itu tidak menyadari bahwa Neji sudah melarikan diri setelah adegan memakan apel dari si penyihir. Dia sudah tidak tahan mempermalukan dirinya sendiri dan menanggalkan harga diri seorang Hyuuganya.
"Tenten, adegan klimaksnya setelah pertarungan pangeran dengan penyihir. Suruh Neji-san bersiap."
Tenten mengangguk, ia kemudian masuk ke ruang ganti untuk mencari Neji, namun nihil. Tidak ada seorang pun di dalam. Gadis itu lalu berlari keluar mencari Neji di toilet, di kelas, dan di tempat lain. Dia sudah tidak peduli pada orang yang ia tabrak di koridor.
"Sial! Neji, kau dimana? Jangan hancurkan drama kelas kita, bodoh!"
Tenten terus mengumpat sambil terus berlari mencari Snow white.
"Ah, Tsukareta!"
Keluh Kiba sambil menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya. Pengunjung cafe benar-benar diluar ekspektasi, melebihi perkiraan mereka. Mungkin karena mereka melayani tamu dengan sepenuh hati, di tambah pemandangan indah dari gadis-gadis kelas 3B yang bercosplay sehingga benar-benar menarik pengunjung.
"Kerja bagus, semuanya!"
Ujar Naru menatap teman-temannya bangga. Dia mengancungkan jempol dan tersenyum lima jari. Setelah itu, Naru pamit sebentar untuk ke toilet. Ia berniat mencuci wajahnya yang sedikit berminyak. Baru saja ia akan keluar dari kelas, tiba-tiba ia di tabrak hingga terjatuh dengan pantatnya yang mendarat terlebih dahulu. Rasanya seperti de javu. Naru meringis dan berusaha berdiri.
"Naru-chan?"
Naru mendongak mendapati gadis bercepol dua yang menabraknya itu menganga melihat dirinya.
"Tenten-san?" Naru tentu saja mengenal gadis ini. Artis berbakat sekaligus salah satu dewan elit sekolah yang selalu membantunya menyelesaikan projek sainsnya.
"Naru-chan, syukurlah ada kau. Kebetulan sekali kau cosplay Snow White. Tolong bantu aku sebentar."
Tanpa pikir panjang, Tenten langsung menarik tangan Naru membuat sang empu tangan hampir saja terjatuh karena tidak menyangka Tenten akan menariknya.
"T-Tenten-san, ada apa ini?"
Naru menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman Tenten. Tenten menghentikan langkahnya dan menoleh ke Naru. Gadis secerah matahari itu mengusap pergelangan tangannya yang sedikit perih akibat di tarik secara paksa oleh Tenten.
"Maafkan aku Naru-chan. Aku sedikit panik, sebentar lagi adegan klimaks drama di kelasku, tapi pemeran uta- maksudku Snow White menghilang entah kemana. Drama ini akan hancur Naru-chan, penonton akan kecewa." Ujar Tenten dramatis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Naru merasa tidak tega melihat gadis ini. Tapi ia juga sedikit bingung mengenai drama. Seumur hidup dia sama sekali belum pernah memainkan sebuah peran.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan, Tenten-san? Aku bahkan tidak tahu cara berakting." Naru memelas. Tenten segera menatap Naru dengan mata berkaca-kaca. Dia memegang kedua tangan Naru di depan dada gadis itu.
"Naru-chan, kau tidak perlu berakting apa-apa. Cukup kau tidur dan pangeran akan menyelamatkan mu dari pengaruh sihir apel yang telah kau makan." Tenten menjelaskan dengan terburu-buru. Ia melirik jam yang melingkar manis di tangan putihnya.
"T-tapi, bukannya itu-"
"Naru-chan, kita tidak punya waktu! Aku mohon!"
Tenten mengeluarkan jurus andalannya. Kakinya menghentak pelan di lantai seperti anak kecil yang sedang merajuk. Naru menghela nafas. Naru meyakinkan diri bahwa ini hanya akan sebentar. Jarang sekali Tenten meminta bantuannya, anggap saja ini sebagai balas budi, pikirnya.
"Baiklah!" Naru mendesah pasrah. Bagaimana pun juga, menolong orang yang menbutuhkan bantuan adalah keharusan, bukan? Ya selagi kita mampu sih.
"Yattaaaa!"
Kedua gadis itu pun berjalan dengan cepat menuju ke aula tempat drama itu sedang berlangsung.
Saat sampai di belakang stage, Tenten segera memanggil salah satu temannya. Gadis itu meminta untuk memoleskan sedikit make ke wajah Naru. Gadis itu sedikit mengernyit heran mengapa Snow white berubah jadi wanita asli, maksudnya dimana Neji? Batinnya. Tanpa banyak bertanya, ia langsung melakukan yang Tenten titahkan. Tenten menghampiri Gaara.
"Sial! Si rambut iklan shampo itu menghilang!" Gerutunya membuat si pemilik kepala merah menoleh. Mata jadenya menatap Tenten dengan bosan.
"Itu salahmu!" Ujarnya tepat sasaran. Alih-alih memberi dukungan dan semangat ke Tenten, pemuda doyan begadang itu malah memojokan Tenten dengan dua kata yang baru saja ia keluarkan dari mulutnya. Tenten tertunduk menggigit bibir bawahnya. Perasaan bersalah tiba-tiba terasa seperti menusuk-nusuk ulu hatinya
"Aku tahu!"
Salah satu siswi memberi tanda kepada Tenten bahwa adegan antara pertarungan antara penyihir dengan pangeran hampir selesai, dan menyuruh snow white untuk bersiap di posisi. Tenten mengangguk. Saat ia hendak berbalik, ia berjengit terkejut ternyata Naru sudah berdiri di belakangnya. Gaara juga ikut menoleh. Alisnya saling bertaut ketika melihat wajah gadis yang begitu familiar.
"Apa yang dilakukan gadis ini disini?" Gaara membatin heran. Mata jadenya menyipit memperhatikan gadis matahari itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, memandangnya menyelidik.
Rambut Naru yang sudah dirapikan, make up natural dan lipstik merah merekah membuatnya benar-benar tampak seperti Snow White berambut pirang. Tenten menyeringai senang. Ia menguncang bahu kecil gadis pirang.
Ia lalu membawa Naru ke sisi lain Stage yang masih tertutup dengan tirai pembatas. Tenten lalu membantu Naru untuk berbaring di tempat tidur yang sudah di hias sedemikian rupa bak tempat tidur ala putri. Naru berbaring pasrah.
"Nah, kau cukup berbaring sambil menutup mata. Seperti orang yang tertidur, dan pangeran akan menyelamatkan mu! Oke?"
Tenten berbalik hendak melangkah pergi, namun tangannya di tahan oleh tangan Naru.
"T-tapi.."
"Tidak apa-apa, Naru-chan. Aku percaya padamu!"
Tenten turun dari stage, meninggalkan Naru yang kini berdebar-debar. Dalam hati, Naru berusaha menghilangkan ke gugupannya sambil menghitung gaji yang akan ia terima di tempatnya bekerja. Naru merasa mual, mungkin ini yang namanya demam panggung, pikirnya. Gaara sudah menunggu Tenten. Pemuda tampan itu melipat tangannya di depan dada dan mata jadenya menatap langsung ke mata Tenten membuat gadis itu sedikit risih.
"Apa?" Tenten sedikit sewot. Gaara menghela nafas berat.
"Apa kau sadar dengan apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Gaara dengan nada rendah, terdengar mengintimidasi.
"Apa maksudmu?" Tenten berkacak pinggang. Gadis itu sama sekali tidak suka ada orang yang mengitimidasi dirinya. Lagipula dia heran, sejak Gaara melihat Naru, pemuda itu tiba-tiba saja berubah jadi serius. Apa Gaara menyukai Naru? Tenten berpikir keras. Suara baritone Gaara menginterupsi imajinasi gadis itu tentang Gaara yang menyukai Naru.
"Kenapa gadis itu bisa berada disini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Tenten, Gaara malah melontarkan pertanyaan yang membuat gadis itu mendesis tidak suka.
"Ya karna Neji menghilang, kebetulan dia sedang bercosplay, jadi aku memintanya untuk kesini. Kau ini kenapa sih? Kenapa tiba-tiba kau jadi cerewet, Gaara? Apa kau suka dengan gadis itu?" Tuduh Tenten semena-mena. Gaara hampir saja menjitak kepala gadis itu karena terlalu blak-blakan. Mana mungkin ia menyukai Naru. Lagipula, tanpa orang-orang ketahui, dia sudah jatuh hati kepada seseorang. Semburat merah terlihat di pipi pemuda tampan itu. Ia mengutuk dirinya dalam hati karena di saat seperti ini, ia masih sempat-sempatnya mengingat betapa manisnya wajah gadis yang berhasil meluluh lantahkan hatinya, gadis yang masih belum di ketahui identitasnya oleh para sahabat-sahabatnya sendiri. Gaara menghembuskan nafas lelah. Tenten semakin bingung.
"Apa kau lupa siapa yang jadi pangeran?"
"Sasuke? Memangnya ada apa dengan Sasuke?"
Gaara mengutuk gadis di hadapannya ini karena terlalu sibuk dengan urusan komite sekolah dan keartisannya. Bahkan perseteruan Naru dan Sasuke yang menjadi trending topik pun tidak ia ketahui sama sekali.
"Kau tidak tahu perseteruan seperti apa antara gadis itu dengan Sasuke."
"...hah?"
"Sebentar lagi kau akan melihatnya sendiri"
Suara riuh tepuk tangan saat tirai pembatas di buka, dimana di atas stage kini menampilkan ilustrasi sebuah kamar dengan seorang putri yang tertidur dengan elegan/? akibat memakan apel beracun dari sang penyihir jahat. Sang pangeran, Sasuke, berjalan mendekati tempat tidur dimana sang putri berbaring. Jeritan kyaa kyaa dari beberapa gadis yang menggema di aula saat melihat betapa gagahnya sang idola saat sedang memerankan peran pangeran, membuat si pemeran pengganti yang mengambil alih peran putri yang melarikan diri dari kenyataan, semakin gugup. Ia memejamkan matanya erat, ia terlalu gugup untuk membuka mata meskipun hanya sekedar mengintip.
Sang pangeran sudah berdiri di sisi tempat tidur, memandangi wajah sang putri yang kini tertidur lelap. Bukannya terlihat sedih, sang pangeran malah memasang tampang terkejut. Sejak kapan sang putri memiliki rambut pirang? Batin sang pangeran tidak mengerti. Ia merasa seperti sedang bermimpi. Tidak! ini bukan mimpi, tegasnya. Ia kemudian berlutut, untuk memperpendek jarak pandangnya ke wajah sang putri.
"Tidak salah lagi, ini bukan Neji!" Innernya meyakinkan. Alis Sasuke saling bertaut. Setelah memandang wajah gadis itu dari dekat, ia sudah bisa mengenali wajah gadis ini.
"Ckck, Dobe! Apa yang sedang kau lakukan disini? Kau sengaja masuk ke lubang buaya, ya?" Lagi-lagi hati iblisnya bersorak. Pangeran chicken ass itu mendengus senang.
Mata gadis itu terkatup rapat. Ia menunggu sang pangeran mengucapkan dialognya, dan merapalkan mantra untuk menyelamatkan dirinya agar segera bangun dan semua ini berakhir. Naru tak kunjung mendengar sang pangeran mengucapkan dialognya. Tiba-tiba, ia merasakan jemari yang sedang mengelus pipinya. Demi tuhan, Naru bersumpah ia seperti tersengat listrik saat kulitnya bersentuhan dengan jemari lembut itu.
Sasuke menyeringai dalam hati. Ia sangat ingin mengerjai gadis yang entah kenapa bisa berada disini dan menjadi Snow White. Padahal ia sudah menyiapkan rencana hebat untuk mengerjai Neji, hitung-hitung untuk memperbaiki moodnya tapi dewi fortuna malah memberinya mainan yang lebih sempurna, terima kasih untuk Ibunya yang telah melahirkannya ke dunia dengan berjuta keberuntungan.
"Oh, putri!"
Sasuke memulai dialognya. Suaranya terdengar lebih halus namun terkesan dramatis. Berbeda saat adegan sebelumnya, suara terdengar dipakasakan. Naru seperti kehabisan nafas. Dia ingin segera pergi dari tempat terkutuk sialan ini saat itu juga. Gaara dan Tenten menatap cemas sang putri, Shikamaru yang entah sejak kapan bergabung dengan kedua orang itu menyaksikan drama tersebut dari belakang panggung dengan mimik wajah yang sedikit mengeras. Sesaat mereka bertiga seperti lupa cara bernafas. Tenten yang sudah mengetahui kisah Sasuke dan Naru itu hanya bisa merapalkan kata maaf dalam hati, berharap Naru akan memaafkannya setelah ini.
"Maafkan aku, karena tidak bisa menjagamu dari penyihir sialan itu!"
Tenten menepuk jidatnya sendiri. Dia ingin berteriak kepada Sasuke yang seenak jidatnya menambah dan mengurangi naskah dramanya. Naru meremas bagian bawah gaunnya. Dirinya merasa begitu familiar dengan suara ini, tapi gadis pirang itu tidak bisa mengingat pemilik suara indah itu karena otak jeniusnya terasa tidak berfungsi saat ini karena terlalu gugup.
"Karena kebodohanku, kau jadi terkena sihir wanita jelek itu!" Sasuke semakin gencar mengelus wajah lembut Naru. Sama sekali tidak merasa bosan. Rasanya seperti ia sedang mengelus kain sutra kualitas terbaik. Matanya kemudian tertuju pada bibir tipis Naru yang di polesi lipstik berwarna merah darah, yang menjadi ciri khas Snow White. Jemari Sasuke turun hingga jempolnya menyentuh bibir gadis itu. Naru seperti lupa cara bernafas. Dia ingin sekali bangun dan menampar pemilik tangan kurang ajar yang sudah berani menyentuhnya. Namun bayangan wajah Tenten yang memohon padanya mengurugkan niat liarnya itu. Dan dia juga tidak berminat mengubah alur drama ini dengan menghajar mahluk sialan itu dengan bar-bar.
"..tapi.." Sasuke melanjutkan dialognya penuh penghayatan. Ia sepertinya berniat membuat penonton terkesima di bagian klimaks drama kelasnya yang tercinta.
"Ibuku pernah mengatakan padaku.." Sasuke terus menjeda perkataannya untuk memberi kesan dramatis, untuk menciptakan rasa penasaran kepada penonton. Namun bukan itu niat Sasuke yang sesungguhnya. Ia hanya ingin berlama-lama menyentuh kulit wajah gadis yang tengah berbaring itu.
"..bahwa, ada satu cara untuk mematahkan sihir. Bahkan sihir kuat sekalipun.."
Kuku jemari Tenten sudah hampir habis di gigit oleh dirinya sendiri. Sebelah tangannya mencengkram lengan seragam Gaara seperti sedang ketakutan saat menonton film horror sepanjang masa.
"..yaitu dengan cara.. True love kiss.."
Sasuke menyeringai senang saat merasakan tubuh gadis pirang itu menegang. Bingo! Gadis itu bergetar. Yang membuat Sasuke takjub adalah gadis ini masih sanggup menutup mata setelah ia mengatakan hal yang ia yakini bisa membuat gadis itu mengamuk.
"Jadi.. Izinkan aku menciummu, wahai Snow White.."
TBC
Anoo! Maap yak. Jujur ini idenya udah mentok banget. Ini ceritanya kerasa banget di paksain :"
Makin lama ceritanya kayak makin ngaco yah :" ampun kan aku.
Ku harap teman-teman semuanya, tidak bosan membaca fanfic ini :"
Makasih yang udah nyempatin diri ninggalin jejak di kotak review :D
Dan makasih juga untuk yang udah fol dan fav :D
Akhir kata, love you gaes~
Michimika^^
