Disclaimer

Naruto©Masashi Kishimoto
Kutukan Sang Kaisar©Green Maple

.

.

Chapter 7 : Mimpi

Selamat membaca

oOo
.

Dua minggu sebelum perayaan.

Sudah berulang-ulang kali dayang Hiruzen terlihat mendesah. Hari masih terlihat siang terik namun segala hal yang ia lakukan terasa salah. Sudah hampir 50 tahun ia mengabdi di kerajaan Uchiha, namun tugasnya kali ini terasa begitu sulit. Dua asisten wanita yang sudah ia pilih dan didik dengan cepatnya langsung ditolak oleh kaisar tanpa ia tahu apa sebabnya. Sebenarnya ini penyeleksian untuk siapa sih?

"Huhh.."

"Ada apa dayang Hiruzen?" Suara feminim seseorang membuat dayang Hiruzen yang sedang menatap lurus ke depan menoleh kearah samping. Terlihat dayang Tetsumi sedang membawa beberapa keranjang di ikuti beberapa dayang junior di belakangnya.

"Kau terlihat semakin tua saja jika terus menghela nafas seperti itu." Seperti tak mengacuhkan perkataan dayang Tetsumi baru saja, dayang Hiruzen menghela nafas sekali lagi. Tangannya bertautan di belakang punggung.

"Aku tidak apa-apa. Hanya mencari angin. Memangnya kau mau kemana?" Bola matanya yang sudah tua itu mengerling menatap dayang wanita senior yang sudah mengabdi bersamanya di kerajaan Uchiha.

"Aku harus mengantar ini ke istana Bulan. Sebentar lagi kan perayaan bulan purnama akan datang." Tukasnya. Dayang Hiruzen yang mendengarnya sedikit terkejut.

"Ah benar juga." Kepala dayang Hiruzen mengangguk-angguk. Sejenak ia lupa bahwa perayaan bulan purnama akan datang sebentar lagi. Saat perayaan bulan purnama tiba para selir akan berdandan secantik mungkin untuk menyenangkan hati Yang Mulia Kaisar.

Kaisar sendiri yang akan memilih dengan siapa beliau akan menghabiskan malam. Para selir akan berlomba-lomba untuk memenangkan hati kaisar saat perayaan bulan purnama tiba. Terkadang tak ubahnya perayaan ini seperti sebuah medan perang dengan persaingan yang sengit demi menduduki tahta permaisuri suatu hari nanti.

Buah persik yang tumbuh di halaman istana Jimmu akan disajikan bersama dengan beberapa kue tradisional dan segelas arak yang diracik khusus oleh sang selir sendiri. Setelah perayaan selesai Yang Mulia Kaisar akan berdoa di kuil persembahan Dewa Amaterasu dibelakang istana Jimmu.

Para dayang dan anggota keluarga kaisar dilarang untuk mendekati kuil saat Yang Mulia Kaisar menghabiskan malam di kuil istana. Kekhusukan dan kesakralan perayaan harus tetap di jaga. Beberapa pohon persik di ikat dengan sebuah tali putih dan diberi kertas doa agar sang dewa menjaga dan memberikan kemakmuran pada penduduk di kerajaan Uchiha. Perayaan ini dilakukan setiap bulan saat bulan mencapai titik tertinggi dilangit.

"Bergegaslah dayang Hiruzen, sebelum hujan turun dengan lebat. Lihatlah!" Dayang Hiruzen mendongak, menatap langit di ufuk timur yang jauh. Awan hitam terlihat bergerumul dengan burung-burung yang mulai terbang rendah. Sepertinya akan ada badai datang. Cuaca memang tidak bisa diprediksi.

"Berhentilah melamun dan segeralah selesaikan persiapannya. Masih banyak yang belum kita selesaikan. Aku harus pergi." Dayang Tetsumi mengambil langkah dan berlalu menuju istana Bulan yang berada disamping kiri bangunan. Selepas kepergian dayang Tetsumi, dayang Hiruzen bergegas menuju paviliun dan meminta beberapa dayang untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum melakukan persiapan perayaan bulan purnama.

"Ino, apa itu perayaan bulan purnama?" Sakura terlihat sedikit kesulitan saat memindahkan beberapa peralatan dapur ke tempatnya. Apalagi yukata yang ia pakai sedikit mempersulitnya dalam bergerak. Ino yang sedang menyiapkan bahan masakan mendengus keras dan berdecak melewati Sakura yang telah meletakan sebuah panci besar diatas meja kayu.

"Aku tidak akan memberi tahumu, karena kau tidak akan percaya padaku." Sakura meringis mendengar jawaban Ino yang menyindirnya.

"Ayolah Ino-chan, maafkan aku. Aku tidak akan meledekmu lagi. Aku janji." Sebuah cengiran terbit di bibir Sakura. Ino menaikan kedua alisnya tinggi dan bersidekap dada.

"Kau berhutang satu buah kue madu padaku." Sakura cemberut mengerucutkan bibirnya bersenti-senti. Kue madu adalah kue yang biasa disajikan para dayang untuk kaisar. Kue itu berbentuk bulat berwarna kuning kecoklatan. Rasanya yang manis dan legit membuat beberapa orang akan ketagihan saat menggigitnya untuk pertama kali. Dan baunya yang harum dan manis membuat beberapa orang akan semakin sulit untuk berhenti.

"Kau tahu itu sulit untuk meminta pada juru masak kerajaan." Tiba-tiba tawa Ino meledak dan secepat itu pula ia membekap mulutnya. Ia tidak tega membohongi sahabat polosnya satu ini. Hanya koki kerajaan yang bisa membuatnya dan itu sedikit sulit untuk meminta kepada mereka. Harga madu yang mahal membuat kue madu agaknya tidak setiap saat dibuat.

"Tidak jidat, jangan kau pikirkan." Ino berdeham sejenak untuk meredam tawanya."Perayaan bulan purnama adalah perayaan yang biasa diadakan sebulan sekali di istana. Dan biasanya puncak acara itu adalah saat kaisar berdoa semalam suntuk kepada sang Mahadewa." Tukas Ino dengan kedua telapak tangannya yang menyatu di depan dada dan pandangan yang menengadah. Sakura terperangah, seolah ia baru saja mendengar sebuah kejutan yang membahagiakan. Sakura tidak pernah menyangka bahwa dibalik sikap dingin kaisar ternyata ia juga orang yang religius. Sudut bibir Sakura tertarik, mengulas senyum. Jantungnya jadi berdebar-debar . Ini terasa menyenangkan dan hangat.

"Kau tidak apa-apa Sakura? Wajahmu memerah." Sakura tersentak dari lamunannya dan mengerjap bingung saat jemari lentik Ino meremas pundaknya lembut. Ia tak menyadari bahwa wajahnya memerah hanya karena memikirkan kaisar. Sakura menoleh kearah Ino dan menggeleng cepat."Tidak apa-apa Ino. Aku baik-baik saja." Ia mengalihkan pandangan, tidak ingin sahabat baiknya ini tahu apa yang ia pikirkan. Itu akan sungguh memalukan.

"Kau aneh. Tadi kau senyum-senyum sendiri." Sakura tertawa kikuk karena Ino memergokinya sedang melamun."Oh ya ngomong-ngomong aku tadi melihat Shion keluar dari salah satu kamar selir di istana bulan. Apa dia sekarang dipindah kesana ya?" Ino menghendikan bahu dengan pertanyaan Sakura, tangannya dengan cekatan memotong-motong sawi."Aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu. Aku sangat tidak menyukainya. Aku malah senang dia dipindah tugaskan kesana. Lebih lama lebih baik daripada aku terus melihat wajah busuknya." Sakura terkekeh ringan dengan gerutuan Ino. Sahabatnya ini memang tidak menyukai Shion semenjak keributan yang menyebabkan bibir Sakura terluka tempo lalu.

.
.

Seminggusebelum perayaan.

Daun-daun kering berhembus melingkar tertiup angin. Suaranya riuh gemerisik menyatu dengan cicitan burung dan suara serangga musim semi. Sepasang kaki melangkah menapaki jalan setapak ditengah taman inti istana Jimmu. Sakura menengadah merasakan sinar matahari yang menyengat kulitnya. Peluh membasahi punggung tangan saat ia menyeka tetesan air yang mengalir di pelipis. Seulas senyum terbit saat ia melihat burung-burung berkicauan diantara dedaunan terlihat begitu bahagia. Ia merasa menyatu dengan alam. Jika seperti ini ia jadi merindukan kampung halamannya. Saat ia memanen sayur dan buah di ladang bersama ibunya. Apa kabar ibunya sekarang ini? Apa dia sehat? Apakah ibu sudah makan? Sakura menghela nafas dalam. Seraut wajah sedih ia tampakan. Semoga saja ibunya baik-baik saja disana.

Tangannya kembali bergerak menyapu dedaunan kering yang memenuhi halaman istana Jimmu. Bibirnya bergumam menyenandungkan sebuah lagu masa kanak-kanak. Ibunya bilang ayahnya suka sekali menyanyikan lagu ini saat ia masih kecil. Sakura sedikit terkikik kecil saat mengingat kenakalan masa kecilnya.

Langkahnya terhenti saat ia menangkap sebuah pohon persik yang di ikat sebuah tali putih dengan kertas doa. Dengan langkah ragu-ragu ia mendekati pohon tersebut. Membungkukan setengah badan untuk sekedar melihat wujud dari kertas tersebut.

"Kemakmuran."

Bibirnya mengeja lirih. Tangannya bergerak menyentuh pohon tersebut. Tiba-tiba sebersit permohonan terlintas dibenaknya. Sakura segera menangkupkan kedua tangan di depan dada. Hijau emeraldnya bersembunyi dibalik kelopak mata. Seulas senyum manis merekah di bibir. Sakura memanjatkan doa untuk sang Mahadewa.

Suara benda jatuh mengusik kekhusukannya. Emeraldnya terbuka dan berkilat saat melihat satu buah persik yang terlihat ranum menggelinding tepat dibawah kakinya. Ini seperti sang dewa telah mendengarkan doanya. Tangannya mengepal ketika sebersit pikiran terlintas untuk mencicipi sedikit buah persik yang selama ini ia inginkan. Sakura menggigit bibir bawahnya cemas dan dengan ragu-ragu ia berjongkok untuk mengambil buah persik itu. Satu tarikan nafas ia ambil dan tegukan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang sudah menginginkan untuk mencicipi buah ini cukup lama. Ini sungguh menggiurkan.

Kami-sama, godaan ini sungguh berat.

Tangan yang mencengkeram buah persik masih tertangkup di depan dada. Pikirannya berkecamuk antara keinginan dan larangan istana. Demi dewa, tidak ada orang yang melihatnya saat ini. Sakura meneguk ludah sekali lagi. Cengkeramannya semakin erat. Ia teringat akan perkataan jenderal Namikaze tempo lalu yang membuatnya semakin tak bisa untuk menahan diri.

"Apa yang kau lakukan?" Sakura tersentak dari pemikirannya dan secara spontan menjatuhkan buah persik dari genggaman tangan hingga menggelinding menjauhinya. Ia menoleh dan seketika bergerak mundur dengan mata yang terbelalak saat melihat keberadaan Shion.

Gadis itu mengkerutkan alis melihat buah persik yang menggelinding di dekat kakinya. Ia kemudian membungkuk dan memungut buah persik itu.

"Apa kau ingin mengambilnya?" Sakura meneguk ludah susah payah tidak berani menjawab kebenarannya.

"Kau berniat ingin mengambil buah persik ini dan memakannya?!" Shion semakin menyudutkannya. Sakura semakin didera rasa ketakutan. Ia hanya bisa bungkam dan berharap bahwa Shion tidak akan mengadukannya pada dayang Tetsumi.

Mata gadis itu mendelik tajam padanya seakan menatapnya dengan pandangan curiga. Buah persik adalah buah yang sakral dan tidak boleh sembarangan orang memakannya, apalagi dengan status Sakura yang hanya seorang rendahan di istana ini.

"Kau tahu bukan peraturan di istana ini?!" Tanya Shion sinis.

Sakura diam tak menjawab. Mencengkeram gagang sapunya dengan kuat. Buah persik masih berada dalam genggaman gadis itu. Sorot matanya yang tajam tak beralih dari giok zamrud Sakura yang memandang was-was. Shion menyeringai.

"Dengar rendahan. Ini adalah kesalahan fatal yang telah kau lakukan. Kau tahu apa yang mungkin dayang Tetsumi lakukan jika aku mengadukan hal ini padanya?" Seringaian keji terpampang jelas pada raut wajah Shion, ia melempar tangkap buah persik ditangannya. Seakan-akan nyawa Sakura ada ditangannya. Tentu saja Sakura merasa gentar dengan ancaman Shion. Gadis itu tidak menyukainya sejak awal dan Sakura yakin Shion tidak akan main-main dengan ancamannya.

"Shion, kumohon jangan lakukan." Suaranya terdengar gemetar.

Shion semakin diatas angin. Ia melangkah mendekati Sakura. Satu hentakan keras buah persik yang jatuh ditangannya menghentikan langkahnya.

"Mati kau budak!" Sedetik setelah kata itu terucap, Sakura dengan cepat mengejar Shion yang telah lebih dulu meninggalkannya.

"Shion, ku mohon jangan lakukan. Aku tidak mau dayang Tetsumi sampai tahu!" Sakura mencengkeram jubah Shion erat. Mencoba menghentikan langkahnya namun sentakan kuat dari Shion membuatnya jatuh terjerembab. Sakura tidak menyerah, ia bangkit dan mengejar Shion sekali lagi.

"Shion, hentikan kumohon. Akan aku lakukan apapun untukmu. Jangan katakan ini pada dayang Tetsumi." Seketika langkah Shion berhenti. Kilat keji bersinar di manik lavendernya. Tak perlu repot-repot untuk menunjukan seringaian licik di bibirnya.

"Apapun?"

Sakura meneguk ludah. Ia merasakan ketakutan merayap di punggungnya saat melihat seringai itu. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk menjauhi apapun yang berkaitan dengan Shion. Tapi ia seakan menggali lubang kuburnya sendiri. Shion merapat dan mencengkeram yukata Sakura. Bola mata hijau Sakura melebar waspada dengan apa yang akan Shion lakukan padanya.

"Menarik sekali tawaranmu itu budak. Aku akan memikirkan balasan apa yang pantas untukmu." Sakura rasanya ingin menangis saat itu juga. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain menyesali diri sendiri. Kebodohannya telah mendorongnya dalam jurang. Ia seperti seseorang yang berdiri diatas tebing dengan Shion yang berdiri di belakangnya sebagai eksekutor. Ia berharap jika ada setitik kebaikan saja dalam diri gadis bermanik lavender tersebut.

"Ada apa ini?"

Tubuh kedua gadis itu menegang. Sakura menahan nafas saat menangkap keberadaan Jenderal Namikaze di depan matanya. Shion yang melihat hal itu segera membenahi diri seakan tidak terjadi apa-apa dan membungkuk hormat pada sang jenderal.

"Hormat jenderal."

Jenderal Namikaze menatap bergantian pada kedua dayang di depannya. Raut wajah kebingungan tercetak jelas pada paras tampannya. Hingga manik blue sapphire-nya berhenti pada satu-satunya gadis yang akhir-akhir ini dekat dengannya.

"Kau belum menjawab pertanyaannku." Tukasnya tegas. Shion melirik tubuh tegap jenderal. Buah persik yang berada ditangannya segera ia sembunyikan dibalik lengan yukatanya.

"Tidak ada apa-apa jenderal. Kami hanya sedang membersihkan halaman." Jawabnya meyakinkan. Sakura berharap jenderal Namikaze dapat menolongnya kali ini. Mungkin dirinya lancang karena berani menatap mata jenderal cukup lama. Sakura menggigit bibirnya cemas dan menyiratkan kegelisahan dalam matanya agar sang jenderal mengetahui maksud hatinya dan mau menolongnya. Ia mungkin terlalu banyak berharap hingga tautan jemarinya menguat saat ia melihat punggung jenderal Namikaze yang justru memilih menjauh pergi.

Shion berbalik dan menyeringai menang. Mengeluarkan buah persik dibalik yukatanya. Menggigit seperempat buah persik itu dan berlalu pergi meninggalkan Sakura yang menatapnya nanar. Entah apa yang ada dibalik pikiran gadis itu.

Oh kami-sama.

.
.

Sasuke sama sekali tidak menyangka bahwa segala hal yang sudah ia rencanakan akan berbalik menjadi sebuah malapetaka besar dalam kehidupannya. Selama ini ia hanya berjalan sesuai dengan apa yang ia yakini. Kerajaannya berkembang pesat hanya dalam kurun waktu dua tahun. Semua kerajaan tunduk di kakinya. Tentu saja ia merasa berbangga hati. Ia berambisi untuk merebut separuh kerajaan wilayah bumi agar berada pada kekuasaannya.

Dia tak akan segan untuk membunuh dan membantai pihak yang berani melawannya. Sasuke merasakan kepuasan saat pihak lawan bersujud meminta ampun kepadanya. Ia merasakan darahnya mendidih, bergejolak dan membakar seluruh tubuhnya. Ia haus akan darah dan tak akan berhenti jika separuh wilayah bumi tidak berada di bawah kakinya. Pedang yang masyarakat yakini sebagai ujung tombak dari dewa kematian, Kusanagi, membawanya dalam puncak tertinggi kekuasaannya.

Ia tinggi hati dan disaat itulah awan gelap datang dengan menggelegar. Mendung yang disertai angin kencang juga kilat yang menyambar. Mahadewa telah mengutuknya. Tersiksa bertahun-tahun. Menyendiri dengan segala hal yang ia sembunyikan diam-diam. Yang akan muncul saat bulan bersinar penuh di puncak tertinggi. Tepat disaat ia terlahir di dunia ini.

.
.

Sasuke membuka matanya saat sekelebat bayangan itu terbersit dalam benaknya. Cahaya lampion dalam ruangan tak bisa menyembunyikan wajahnya yang terlihat pucat. Ia merasa darahnya berdesir dan dingin yang menyakitkan merayap di punggungnya. Kepalanya mendongak menatap bulan yang hampir bersinar penuh. Cahayanya memantul pada pedang Kusanagi yang tergeletak diam di depannya.

Seseorang mengetuk pintu dan ia bisa mendengar lantai kayu yang berderit berulang-ulang.

"Se-selamat malam Yang Mulia. Hamba datang sesuai permintaan Yang Mulia." Sekejap Sasuke melirik pada pedang Kusanaginya sebelum bola mata hitamnya bergulir dan menangkap keberadaan seorang gadis yang bersimpuh dengan jubah kimono berwarna biru muda yang cantik. Rambutnya digelung dan diberi hiasan bunga lily disisinya. Wajahnya bersinar dengan rona merah muda bersemu dipipi.

Sasuke merasakan gejolak luar biasa saat melihat paras ayu gadis tersebut.

"Kemarilah!" Titahnya.

Gadis itu mendongak dengan mata yang berkilat. Hatinya berdegup kencang seakan ia tak bisa menahannya lagi. Dengan perlahan ia mendekati meja kaisar yang berada didepannya. Terlihat ada beberapa arak dan makanan lezat yang tersaji di atas meja. Beberapa cangkir dan mangkuk makanan serta sumpit.

"Tuangkan aku arak!"

Gadis itu sedikit terhenyak dan dengan hati-hati ia melaksanakan titah Yang Mulia. Ia bisa merasakan dirinya gemetar saat menuangkan arak ke dalam cangkir namun tak menutupi bahwa ia merasakan kebahagiaan. Suatu hal yang membanggakan bisa melayani kaisar seperti ini.

Cairan tak berwarna dan berbau sedikit menyengat itu memenuhi cangkir kecil dari bahan tembikar berpola melingkar dengan aksen rumit. Gadis itu dengan penuh hati-hati menyerahkan cangkir araknya kepada kaisar. Sasuke yang melihatnya kemudian meraihnya, meneguknya dalam sekali teguk dan membantingnya sedikit keras diatas meja. Gadis itu hendak menuangkan arak sekali lagi namun terhenti saat kaisar menyelanya.

"Hentikan!" Tangan Sasuke mengambil alih cawan kecil dari sang gadis. Tanpa ragu-ragu kaisar memenuhi cangkirnya dengan arak.

"Ini minumlah!" Sasuke mendorong cangkir itu ke depan.

Gadis itu mendongak tak percaya. Bola matanya gemetar menatap ke dalam oniks hitam kaisar yang tajam. Gadis itu merunduk dan perlahan ia mengambil cangkirnya.

Rasa terbakar mengalir dalam kerongkongan saat cairan berbau menyengat itu membasahi tenggorokannya. Ia sedikit terbatuk-batuk, namun ia bisa merasakan bahwa arak ini memiliki rasa yang unik. Manis juga ada sedikit pahit.

"Makanlah, aku tidak ingin kau kelaparan dan terjatuh sakit." Tangan kanan kaisar dengan cekatan mengambil beberapa lauk diatas meja dan meletakkannya pada mangkuk kecil hingga penuh. Ia menyodorkan mangkuk itu ke depan sang gadis yang masih menatapnya dengan wajah yang bersemu.

Gadis itu merasakan hatinya berbunga-bunga dengan segala perhatian kaisar. Hatinya melambung dan dipenuhi dengan kepingan kebahagiaan yang meluap. Dengan hati-hati ia meraih sumpit diatas meja dan memakan makanan yang ada di dalam mangkuk. Kaisar tak bisa mengalihkan pandangannya untuk merekam segala gestur yang gadis itu lakukan. Jemarinya yang lentik saat menggenggam sumpit. Bibirnya yang terus menyunggingkan senyum.

Sesuatu terasa berdesir dan mendesaknya untuk keluar dan mengais sedikit kepuasan.

"Apa kau bahagia?" Sontak gadis itu berhenti dari kegiatannya dengan pertanyaan kaisar. Genggaman sumpit ditangannya sedikit mengetat, ia memberanikan diri mendongak dari mangkuk dan menatap wajah kaisar dengan oniks hitam yang mempesona. Semburat merah secara cepat menjalar di pipinya. Gadis itu mengangguk kecil dan tersenyum malu-malu. Dia terlihat menggemaskan. Sasuke meraih dagu gadis tersebut dan membawanya mendekat ke wajah. Kelopak mata itu terlihat berkedip, menyembunyikan netra lavendernya dalam sekejap.

Gestur itu terekam dalam netra kelamnya, memercikan sebuah kilat berbahaya dan seringai kecil di sudut bibirnya yang tak bisa gadis itu lihat.

"Ha-hamba bahagia sekali Yang Mulia." Gadis itu bergerak gelisah dalam duduknya, matanya mengerling menghindari oniks hitam kaisar yang seakan menjeratnya begitu dalam,"Ha-hamba selalu menantikan saat ini. Hamba ingin selalu berada di dekat kaisar dan melayani kaisar setiap hari." Manik lavendernya menatap malu-malu. Pipinya masih bersemu. Ada secercah asa yang melambung yang membuatnya tidak ingin membuang semua ambisi dalam hidupnya.

Sasuke menarik sudut bibirnya. Tangannya secara perlahan bergerak menyentuh helaian rambut sewarna matahari yang terlepas dari ikatannya. Matanya menatap tajam kedalam bola mata lavender gadis tersebut. Cahaya lampion dalam ruangan bergerak-gerak, membuat bayangan kedua insan tersebut seakan menari bersama-sama.

"Kau menginginkan untuk menjadi permaisuriku?"

Bola mata lavender itu membeliak kaget mendengar pertanyaan yang diajukan kaisar. Tubuhnya menegang dengan bibir yang sedikit terbuka. Seakan sebuah bongkahan batu tersangkut ditenggorokan. Perutnya melilit dan letupan-letupan didadanya siap meledak bagaikan gunung berapi yang aktif. Dan tak menunggu lama sebersit senyuman merekah dari bibir gadis berparas ayu tersebut.

Oniksnya berkilat. Sudut bibirnya tertarik.

Burung gagak mengepakan sayapnya gelisah meninggalkan pohon dengan koakan yang begitu keras.

Bulan seakan menyadari dan menutup diri dibalik awan.

Disaat bersamaan, Sakura berhenti berjalan dan menatap langit. Memandang bulan yang tertutup awan. Ia mengeratkan yukatanya saat hawa dingin terasa menusuk kulit. Satu langkah ia ambil dan mulai berjalan kembali menuju kamarnya di paviliun dayang.

Malam itu Sakura bermimpi melihat siluet seorang gadis yang sedang duduk diatas batu besar. Pohon-pohon tumbuh begitu rimbun menutupi segala hal yang bernaung dibawahnya. Dua kelinci kecil meloncat-loncat riang mengitari rerumputan. Seekor kijang dengan tanduk besar menatapnya. Gadis itu sedang memainkan alat musik kecapi. Suaranya yang merdu menarik kerumunan kupu-kupu untuk beterbangan diatas kepalanya. Sepoi-sepoi angin menerbangkan kelopak-kelopak bunga yang berwarna-warni.

Di belakang gadis itu ada sebuah telaga yang ditengahnya tumbuh pohon sakura yang besar. Gadis itu tiba-tiba berhenti memetik kecapinya. Ia kemudian melangkah menuju ke arah telaga. Sakura mengikutinya. Jejak-jejak langkah gadis itu membuat rerumputan bersemi mengembangkan kelopaknya. Kelinci kecil berlari mendahului sang gadis dengan lincah. Ikan-ikan melompat girang saat gadis itu menapak diatas air. Sakura takjub. Tak ada riak air yang tercipta saat gadis itu melangkah.

Gadis itu berhenti dibawah pohon sakura. Sakura merasakan hatinya menggelembung saat melihat dengan jelas pohon sakura itu dari dekat. Seekor kijang berdiri tepat disampingnya. Kijang itu setinggi tubuhnya hingga ia tak perlu mendongak untuk menatap mata hitam dari sang kijang.

Telinganya bergerak-gerak lucu, terlihat imut dimata Sakura. Sakura tak tahan dan ada keinginan untuk menyentuh telinga kijang besar itu. Dengan ragu-ragu ia mencoba menyentuh telinga sang kijang. Kijang itu tak menghindar. Dengan perasaan yang berdegup Sakura mencoba semakin mendekat. Saat beberapa senti lagi tangannya akan menyentuh telinga itu, tiba-tiba sebuah suara menggema entah darimana.

Sakura, bangunlah.

.
.

Chapter 7 : Mimpi - End