Another Day With Baekhyun

Home

.

.

Sebelumnya, Baekhyun suka bermain game di kamarnya dari subuh sampai petang.

Sebelumnya, Baekhyun suka melakukan olahraga indoor dimana dia akan melotot kepada semua orang yang mengambil gambarnya tanpa izin.

Sebelumnya, Baekhyun adalah simbol dari arogansi para publik figure.

Sebelum semua ini, Baekhyun adalah Baekhyun.

Aktor itu termenung menatap langit-langit kamar yang sejak kemarin dia tempati. Ukiran teratai yang setiap lekuknya sudah Baekhyun hafal. Aktor itu masih termenung.

Dia tidak ingin melihat ukiran teratai itu lagi. Baekhyun tidak ingin terbangun di dalam kamar bercat biru laut ini lagi. Dia ingin pergi. Kemanapun asalkan itu bukan di sini lagi.

Baekhyun termenung...

Chanyeol terbaring di sampingnya dengan tenang. Pria itu masih tertidur dengan suara dengkuran halus yang keluar dari sela bibirnya yang terbuka.

Dia bangkit berdiri dengan pelan. Beruntung, pergelangan kakinya sudah membaik, jadi hanya dengan bertopang ke tembok, dia bisa berjalan. Tatapan lesu itu jatuh menatap lemari yang ada di atas kompor.

Semua pisau disembunyikan di sana.

Aktor itu berjinjit mencoba membuka namun jangkauannya masih kurang. Baekhyun mengambil sebuah kursi dan menjadikannya tumpuan. Saat tangannya berhasil mengambil satu, deheman dari ambang pintu terdengar.

Chanyeol datang!

"Kau sedang jadi Baekhyun?" tanya pria itu dengan suara dalamnya.

Lelaki mungil itu bertekad bahwa ini adalah yang terakhir kali dia mempertaruhkan nyawa untuk membunuh Chanyeol. Sebilah pisau sudah ada di tangan dan apa yang aktor itu lakukan adalah berlari. Menahan pedih di pergelangan kaki sambil menghunuskan ujung pisau itu tepat ke jantung Chanyeol. Yang sejajar dengan wajahnya.

"Aaarrggghh!"

Sayang, nasib baik bukanlah teman karibnya. Chanyeol berhasil mencengkeram tangan Baekhyun dan bahkan, memelintir lengan kurus itu sampai tulangnya bergeretak.

"Aku mencoba memberitahumu, sialan! Kau hanya akan hidup jika kau bersikap baik!"

Pria itu membanting Baekhyun ke lantai. Tubuhnya mendarat keras namun Baekhyun tak hilang akal. Aktor itu merangkak cepat menuju kaki Chanyeol untuk menusuknya, tapi sekali lagi, nasib baik berkhianat padanya.

Chanyeol menendang tubuh itu sampai menabrak kaki meja. Baekhyun memeluk tubuhnya menahan sakit dan rupanya, semua ini belum selesai. Chanyeol sudah berdiri di hadapan. Mengambil alih pisau yang tadi Baekhyun acungkan.

"LEPASKAN AKU, BRENGSEK!" berontak Baekhyun saat Chanyeol mengangkatnya.

Pria itu membuat Baekhyun menungging dengan dadanya menempel di meja makan.

"Kau mengacungkan pisau ini di depanku, Baekhyun."

"BAJINGAN, LEPASKAN AK-"

Umpatan Baekhyun terhenti saat dirinya merasakan ujung pisau yang dingin menempel di tengkuk. Chanyeol tiba-tiba menekannya sampai sedikit menembus kulit, lalu menariknya untuk membuat luka sayat.

"AAARRRKKKK!" Baekhyun menjerit pilu.

"Ssshh! Pisau ini akan menembus lehermu semakin dalam jika kau terus melawan."

Darah keluar dari sela luka sayatan itu. Tak banyak tapi percayalah, rasa sakitnya bukan main tak tertahankan.

Aktor itu menangis dengan wajah basahnya menempel di meja. Lelaki itu benar tak berdaya lagi ketika Chanyeol menurunkan celananya dan membuat kakinya membuka, memberi jalan. Baekhyun menahan rintihan ketika Chanyeol mulai memasukkan dua jarinya ke dalam. Menggaruk dan menggali dengan kasar.

"Hana adalah anak yang baik! Itu sebabnya kenapa aku membiarkan dia hidup! Aku bahkan memberinya makanan dan baju! Membesarkannya dengan layak! Aku memberinya semua hal yang tidak ayahnya sendiri berikan!"

PLAK!

Tamparan mendarat pada salah satu bongkah pantat Baekhyun. Aktor itu menggigit bibirnya menahan suara apa pun yang akan keluar dari bibir.

"Kau ayah yang jahat! Itulah sebab kenapa kau menderita!"

PLAK!

"Kau menderita? Salahmu sendiri karena tidak bersikap baik!"

PLAK!

"Aku minta maaf."

Chanyeol terdiam. Lelaki itu mengeluarkan jarinya dari lubang Baekhyun dan sebagai gantinya, dia beralih menjambak rambut lelaki malang itu. Menarik kepala Baekhyun untuk mendongak.

"Aku minta maaf. Aku minta maaf," rengekkan Baekhyun semakin menjadi-jadi. Ketakutannya kian membesar setiap detik karena sejujurnya, dia belum siap untuk mati.

Chanyeol membungkuk, menempelkan tubuhnya ke punggung Baekhyun, "itu berarti kau menyesal?"

"Aku menyesal! Aku sangat menyesal! Jangan lakukan lagi. Aku mohon."

Detak jantungnya bisa Baekhyun dengarkan saking sunyi situasi saat ini. Chanyeol tak melakukan apa-apa. Tak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya bernafas di dekat telinga Baekhyun yang sudah merah padam. Baekhyun menunggu dalam liputan cemas dan takut.

Dia sudah meminta maaf. Dia sudah mengaku bahwa dia menyesal. Tidakkah seharusnya Chanyeol mengampuninya?

"Hahaha, dasar bodoh!" Chanyeol tertawa dengan sebab yang tak jelas. Pria itu bahkan sampai menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Baekhyun untuk meredam tawa. "Kau pikir aku akan berhenti?"

Tiba-tiba saja, telapak tangan Chanyeol menangkup pantat Baekhyun dan meremasnya kuat. Wajah aktor itu mengerut menahan segala gejolak yang mengaliri seluruh tubuh. Namun nyatanya, semua sentuhan Chanyeol yang awalnya terasa kasar itu berubah memicu.

Tubuh Baekhyun tak mau munafik. Dia menerima seluruh sentuhan Chanyeol dan berusaha menyesuaikan diri. Baekhyun bahkan memutar pinggulnya saat sebuah benda tumpul menabrak belah pantat.

Chanyeol memijat penisnya yang sudah total ereksi itu dan sesekali, menamparkan ujungnya ke bokong sintal di hadapan. Matanya tak lepas menatap tubuh yang penuh dengan bekas cambukkan itu menggeliat di atas meja.

Tangan Chanyeol bergerak mengelus bekas kemerahan memanjang di punggung. Jari telunjuknya menjejak bekas cambuknya dari atas ke bawah dengan pelan. Pasti rasanya sakit saat kemarin dia mengayunkan ikat pinggangnya.

Maka dari itu, saat Chanyeol melesakkan penisnya masuk, lidahnya ikut memberikan sentuhan tepat pada bekas luka itu.

"Haa...aahh," Baekhyun menegang tubuhnya saat penis besar itu total menembus masuk.

Chanyeol tak henti menjilat dan mengecupi luka di seluruh tubuh Baekhyun sampai bibirnya naik ke telinga. Pria itu mengulum tulang daun telinga Baekhyun sambil mendengarkan nafas si mungil yang memberat.

"Apa penisku terasa nikmat?" bisiknya dengan parau.

Baekhyun terengah dengan bibir terbuka. Matanya terpejam dengan sedikit kerutan di alis. Chanyeol menatap wajah itu dalam rasa penasaran. Kenapa Baekhyun tak mau menjawabnya?

Dan satu hentakan keras dia berikan sebagai hukuman.

"Aaangh!" bibir tipis itu akhirnya meloloskan desahan.

Chanyeol tersenyum puas karena rintihan erotis itu sudah dia anggap sebagai jawaban. Pria itu tanpa ragu mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan keras. Baekhyun jelas kewalahan untuk menyesuaikan diri karena sejak awal, dia memang sudah tidak sehat.

Tangannya sibuk mencari pegangan di saat penis itu dengan sangat nikmat menubruk titik terdalam. Kakinya melemas dan terasa seperti melunak. Baekhyun hampir ambruk namun Chanyeol sigap mengangkatnya.

Pria itu membawanya ke dalam kamar lama Chanyeol yang dulu dia tempati. Tubuh telanjangnya dibuat telentang. Baekhyun membuang tatapan ke jendela saat Chanyeol memaksa kakinya untuk membuka. Pria itu hendak memasukinya lagi.

"Pegang ini dan acungkan padaku," Chanyeol entah bagaimana, memberikan sebuah pisau saku. Menggenggamkannya ke tangan Baekhyun dan dengan gila, menuntun tangan kurus itu untuk mengacungkannya ke wajah Chanyeol.

Saat pria itu melepaskan tangannya, Baekhyun tetap mengangkat pisau itu tinggi-tinggi.

"Aaah, kau dan pisau adalah perpaduan paling seksi sedunia!"

Baekhyun masih memegang pisau itu dengan erat saat Chanyeol mulai memasukkan kembali penis kerasnya. Hanya dengan satu tusukan di perut, maka dia bisa mengakhiri semua ini. Dia bisa membunuh Chanyeol dan keluar dari tempat busuk ini selamanya.

Hanya dengan satu tusukan.

"Aangh!" tapi tekadnya tiba-tiba meredup oleh sengatan yang begitu nikmat dari dorongan tiba-tiba Chanyeol.

Baekhyun seketika lemas dan lengannya jatuh ke sisi tubuh. Pisau itu masih berada di tangannya, tergenggam erat saat Chanyeol mulai menghentak berulang kali. Dan otomatis akalnya sudah hilang. Baekhyun tengah disibukkan dengan tubuhnya yang sedang diselimuti hasrat.

Semua keinginan untuk pergi dari Chanyeol digantikan oleh rasa gairah.

"Haha sial! Kau terlihat erotis sekali!" Chanyeol menggeram kesal.

Psikopat itu menurunkan wajahnya untuk menjemput bibir yang sedari tadi terbuka meloloskan desahan panas. Chanyeol melumat bibir tipis itu kelaparan tanpa sedikit pun mengurangi tempo hentakan. Desahan Baekhyun tertelan oleh ciuman dan pisau di tangan sudah dienyahkan oleh tangan yang lain.

Chanyeol menyatukan jari-jari mereka tautan tangan yang erat. Bibir keduanya masih beradu menyaingi tempo percintaan di bawah yang sudah terasa semakin dekat. Chanyeol memperdalam jangkauan sampai tiba-tiba, Baekhyun menjerit di dalam mulutnya.

"Aaa, aahh!" aktor itu mencapai orgasme pertama.

Chanyeol merasakan cairan Baekhyun menyemprot ke perut mereka. terasa hangat dan lengket. Chanyeol menunduk untuk melihat penis kemerahan itu berkedut setiap tetes demi tetes. Pria itu beralih menatap wajah kemerahan dan bibir terbuka itu lamat-lamat.

Kenapa ekspresi Baekhyun kali ini, jauh lebih erotis daripada persetubuhan mereka dulu?

Chanyeol begitu penasaran. Dia semakin cepat memaju-mundurkan pinggulnya, lebih dalam. Pria itu merasakan lubang Baekhyun mengetat setelah aktor itu orgasme dan itu membuat penisnya berkedut di dalam.

Satu hujaman keras memaksa tubuh Baekhyun untuk menggeliat karena cairan hangat itu terasa deras mengalir di dalam tubuh. Chanyeol baru saja mencapai klimaksnya.

Kamar bernuansa coklat itu diisi dengan sahutan nafas terengah dari dua lelaki ini. Baekhyun tak lepas menatap mata tajam Chanyeol yang juga menatapnya. Pria itu menjatuhkan tubuh untuk memeluk yang lebih mungil.

"Jika kau terus bersikap baik, aku akan membiarkanmu hidup."

Baekhyun terpejam saat merasakan kecupan-kecupan ringan berjatuhan di sekitar telinga dan rahangnya. Chanyeol berubah begitu lembut entah kenapa dan itu sama sekali bukan hal yang bagus. Sama sekali bukan. Percayalah.

"Untuk apa kembali jika orang-orang yang menontonmu di televisi hanya akan menghinamu, mengutuk keberadaanmu. Mereka berdoa untuk kematianmu, Baekhyun."

Jemari ranting Baekhyun tanpa sadar bergerak menyusuri setiap lekuk tubuh Chanyeol yang begitu kencang. Bahkan aroma pria itu setelah bercinta benar-benar jantan. Baekhyun tanpa sadar, mengelus punggung kokoh itu dengan lembut.

"Kau tidak perlu kembali jika berada di sini bisa membuatmu hidup. Kau hanya harus menjadi ayah yang baik. Jadilah baik untukku dan Hana. Kau mau?"

Chanyeol menempelkan hidung mereka. Baekhyun tak mau memejamkan matanya karena lekukan yang dihiasi bulu mata tebal itu nyatanya begitu menarik. Mengalun begitu lembut, membuatnya lupa dengan semua rasa sakit yang pernah Chanyeol berikan.

"Kau dan aku di sini. Bersama Hana sampai besok. Dan besoknya lagi. Selamanya," ucap Chanyeol tepat di atas bibir tipis Baekhyun yang jujur saja, sudah sangat tergoda.

"Aku akan bersikap baik," dan setelah janji itu Baekhyun ucapkan, mereka kembali berciuman dalam.

Memancing kembali hasrat yang sempat redup, juga menghidupkan kembali milik Chanyeol yang masih tertanam di dalam Baekhyun untuk kembali bergumul dalam gairah.

.

e)(o

.

Genap delapan hari sudah, Baekhyun dan dirinya hilang komunikasi.

Berbekal alamat yang sudah Jongdae kirimkan, Sehun berjalan menyusuri jalan berbatu di lereng gunung Hannam ini sampai senja tiba. Mobilnya terpaksa diparkir di persimpangan karena jalan yang dia tempuh berbatu dan licin.

Lagi pula, hari belum terlalu gelap jadi Sehun akan lebih mudah untuk menyusuri jalan. Manajer bermarga Oh itu terus menuruni jalan dengan bekal senter dan sebuah kertas. Di sisi kanan dan kiri dipenuhi dengan pohon yang tinggi.

Awalnya, dia sempat ragu untuk melanjutkan perjalanan karena hari semakin gelap, namun di ujung sana, Sehun melihat sesuatu.

Itu mobil milik Baekhyun!

Sehun berlari mendekati mobil yang sudah setengah hancur body-nya. Jelas sekali bahwa pengendara mobil ini mengalami kecelakaan dilihat dari bentuk kerusakan dan penyok di beberapa tempat. Tapi, di kursi kemudi tidak ada siapa-siapa. Dimana Baekhyun?

"Byun Baekhyun, hidupmu memang dipenuhi dengan kesialan," Sehun bergumam pasrah.

Diusap wajahnya sendiri karena frustrasi yang masih disebabkan oleh artisnya yang super bermasalah itu. Pria itu menendang sebuah kerikil dengan keras.

Hari sudah gelap dan dia harus kembali jika tidak ingin terjebak kabut. Tapi matanya menangkap sesuatu seperti cahaya lampu. Tepat di ujung jalan sana, Sehun yakin dia melihat sebuah lampu menyala. Langkahnya menjuntai mendekati sumber cahaya.

Benar saja. Sehun menemukan sebuah rumah dengan pagar menjulang tinggi mengelilingi rumah. Tapi anehnya, gerbangnya terbuka. Sehun berjalan masuk dan memutuskan untuk langsung mengetuk pintu depan.

Pintu sudah diketuk. Sehun menunggu dengan tenang sambil melihat ke sekeliling. Tatapannya berhenti pada sebuah gambar di tembok pagar.

Itu adalah gambar tiga orang lelaki dengan tinggi badan yang kontras. Sehun menatapnya intens sampai tak sadar bahwa pintu depan telah dibuka.

"Oh, permisi. Maaf mengganggu malam-malam."

Pria berambut hitam nan tinggi itu mengangguk, "tidak masalah. Ada yang bisa kubantu?"

"Eer begini, aku melihat mobil yang ada di ujung sana. Aku yakin itu milik temanku melihat dari nomor polisinya," ucap Sehun sesopan yang dia bisa.

Pria di hadapannya mengangkat alis tinggi-tinggi, "ya, lalu?"

"Mungkin temanku pernah datang kemari untuk meminta bantuan? Sepertinya dia mengalami kecelakaan. Mobilnya rusak parah," jelas Sehun yang anehnya, mengundang kekehan dari bibir sang tuan rumah.

"Kau mencari Byun Baekhyun?"

Jackpot!

"Ya! Aku manajernya. Namaku Oh Sehun. Dia menghilang sudah sekitar satu minggu dan tidak bisa dihubungi. Apa dia di sini bersamamu?"

Pria itu, Park Chanyeol, mengangguk kecil. "Kau bisa masuk dulu. Di luar dingin,"

Mereka berdua berjalan masuk. Rumah Chanyeol tak terlalu besar memang, tapi pria itu dengan cerdas menempatkan barang-barangnya dengan tertata. Sehun melihat sekeliling dengan teliti dan dibuat kagum dengan betapa rapihnya Chanyeol menata perabotan.

Dan seketika, matanya melotot kepada sosok berbaju putih yang berdiri di ambang pintu dapur.

"Baekhyun!"

Sehun berlari mendekat lalu meraih kedua lengan kurus itu. Manajernya dibuat begitu prihatin dengan betapa banyaknya bobot Baekhyun yang sudah lenyap. Artisnya terlihat begitu kurus hanya dengan menghilang selama seminggu.

Parahnya, Sehun juga menemukan luka di betis dan kaki, juga memar di kepala dan lebam di lengan Baekhyun. Kecelakaannya pasti sangat parah.

"Ya Tuhan, kau harus segera ke rumah sakit!"

Sehun mencoba meraih tangan yang sedari tadi Baekhyun sembunyikan di balik punggungnya. Tapi artisnya itu tak mau dan bahkan tak sudi berpindah sedikit pun dari tempatnya berdiri. Sehun menggeleng bingung.

"Baekhyun, kita harus segera pulang. Seluruh Korea sedang mencarimu."

"Mencari agar apa? Agar mereka bisa menghinaku lagi?" sahut Baekhyun.

Sehun terus menggeleng, "Baekbeom mencarimu kemana-mana. Dia sangat cemas."

"Baekbeom mencemaskan uangku, bukan adiknya."

"Kita bicarakan masalah keluargamu nanti, oke? Kau harus ke rumah sakit dulu. Lukamu parah," Sehun kembali mencoba meraih salah satu tangan Baekhyun namun lagi, aktor itu menolaknya.

"Aku tidak butuh rumah sakit. Aku tidak butuh Baekbeom, kau atau seluruh Korea. Aku hanya ingin tinggal di sini, bersama Chanyeol dan putraku."

Sudah sejak tujuh tahun mereka saling mengenal, Sehun baru kali ini melihat keteguhan Baekhyun untuk satu hal. Satu hal yang bahkan tak bisa Sehun pahami karena putra yang mana yang Baekhyun maksud?

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Baek. Kita bicarakan itu nanti saja oke? Ayo kita-"

"Baekhyun!"

Chanyeol memotong ucapan Sehun dan berhasil menarik atensi dari dua orang lain yang ada disana. Sehun menoleh ke belakang untuk mendapati sang tuan rumah mengangguk. Entah maksudnya apa.

Dan saat dia berbalik, sebuah hantaman super keras mendarat di pelipis.

Baekhyun baru saja memukulnya dengan tongkat perapian sampai tubuhnya ambruk. Lelaki itu bahkan terus memukulkan tongkat berbahan besi itu ke kepala Sehun sampai tengkoraknya pecah.

Darah mengucur dimana-mana. Lantainya berubah merah begitu pula dengan wajah Baekhyun yang dihiasi cipratan darah manajernya.

Oh Sehun telah tewas dengan tragis di tangan artisnya sendiri.

Baekhyun menjatuhkan tongkat perapian itu ke lantai. Langkahnya gemetaran mendekati Chanyeol yang sudah membuka lengan, menawarkan pelukan.

"Aku sudah bersikap baik. Aku membunuh orang jahat untukmu dan Hana. Aku sudah bersikap baik, Chanyeol. Biarkan aku hidup. Biarkan aku tinggal di sini," pinta Baekhyun di dalam rengkuhan yang lebih besar.

Chanyeol melepaskan pelukan mereka berdua dengan lembut. "Kau sangat baik. Hana pasti senang karena ayahnya lebih memilih tinggal di sini daripada kembali bersama orang-orang jahat di luar sana."

Pria itu membalik tubuh Baekhyun untuk dihadapkan kembali ke mayat Sehun yang wajahnya juga telah hancur. "Sayangnya, kau itu jahat. Kau ayah dan teman yang jahat. Kau membunuh putra dan temanmu sendiri," ucap Chanyeol berbisik di samping wajah terguncang Baekhyun.

Aktor itu termangu.

Ini tidak mungkin...

"Orang jahat harus tetap diberi hukuman. Seperti ayahku," tangan Chanyeol terasa memijat kedua bahunya bergantian. "Aku sendiri yang mengiris tenggorokannya."

Dan saat itu juga, tangis sesal Baekhyun pecah.

"Ayahku mati karena dia jahat."

Dunia memang tak pernah berpihak kepada Baekhyun. Bahkan, seorang psikopat gila macam Chanyeol saja, tak pernah benar-benar berada di sisinya. Dia tertipu. Dia telah dibutakan oleh rasa takut dan keinginan untuk diampuni.

Baekhyun menangis tanpa air mata. Sebagai gantinya, dia menertawakan kebodohannya sendiri karena telah mempercayai di licik Chanyeol.

Sayang, sesalnya sudah terlambat karena Chanyeol tiba-tiba menghantam kepala belakangnya dengan siku. Baekhyun tersungkur di samping jenazah Sehun, terbaring di genangan darah sang manajer yang aktor itu ciptakan sendiri.

"Dan kau, dipenjara karena kau juga jahat."

Pria itu tersenyum di akhir kalimatnya. Dengan tenang mengambil ponsel milik Sehun yang tersimpan di saku mantel untuk menelepon seseorang. Akhirnya, semua ini berakhir juga.

"Halo, Polisi? Byun Baekhyun ada di rumahku! Dia baru saja membunuh seseorang di sini! Bisakah kalian segera kemari?"

.

.

Kaki kaki kaki...

Ada kaki kecil berlari. Anak kucing berlari dari salju, dari salju. Salju. Salju. Salju. Salju yang dingin dan putih...

Tapi anak kucing jatuh. Jatuh. Jatuh. Jatuh. Dia jatuh menangis di atas...

.

..

...