Cerita sebelumnya:
"Suzuna! Hati-hati!" teriak Sena mengingatkan.
"Tenang saja Sena! Aku mulai terbiasa dengan anginnya!" ucap Suzuna dengan senyum riangnya.
Ia pun mengambil bola itu, dan mencoba memperhatikannya.
"Tunggu..." Suzuna merasa aneh. "Ini bukan bola... bola tak mungkin sekeras ini... kalau dari teksturnya, ini seperti..."
"Suzuna! Itu bukan bola, itu telur!" teriak Sena takut-takut.
"Ah, benar juga.. ini telur.. eh? Telur?"
Tiba-tiba, sebuah bayangan raksasa hitam pekat menutupi Suzuna. Ia perlahan menengok ke belakang dan—
"ADA DARUZOOOOOOON!"
.
~~**An Eyeshield 21 Fanfiction**~~
~~**Devil Bats Camping! by Mayumi Koyuki**~~
~~**Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki and Yusuke Murata**~~
~~**Warning! Bila ada kesamaan dalam cerita, mohon dimaafkan, tapi itu murni kebetulan semata! Fic ini murni ide saya! dan tak pernah lupa akan OOC, OC, typo(s), etc**~~
~~**Genre(s): humor, parody, drama, friendship, romance, adventure, fantasy**~~
.
BRUK
Suzuna jatuh terduduk dengan lemasnya. Ia benar-benar shock melihat daruzon super raksasa dengan angin-angin puting beliung kecil yang mengelilinginya. Udara rasanya semakin bertambah dingin saja dengan semua hembusan angin kencang di sekitar lokasi.
"Su-Suzunaaaaa! Cepat kembali kesini, berlindung lagi dibalik perisainya Kak Kurita!"
Namun Suzuna tidak menggubris pernyataan Sena sedikitpun. Matanya hanya terus memandang dengan takut ke arah daruzon angin itu.
Suzuna pun perlahan meletakkan kembali telurnya di dekat kaki sang naga angin itu. Daruzon angin itu kemudian memandangi Suzuna dengan tatapan seolah sedang menemukan mangsa yang lezat untuk dijadikan santapan makan malam.
Daruzon itu mengendus-ngendus di dekat Suzuna. Suzuna hanya diam terpaku, tak bergerak dan berusaha menahan diri untuk tidak membuat gerakan apapun barang hanya mengedipkan mata.
"Su-Suzuna! Gawat, kita harus melakukan sesuatu!" Sena nampak panik.
"Tenanglah Sena, kita harus sabar, jangan gegabah!" ujar Musashi.
"Kuharap disaat seperti ini ada Kak Hiruma yang bisa memberikan rencana…"
"Aku juga berharap begitu, tapi bagaimanapun juga, kita harus berusaha sendiri sekarang…"
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kita harus menyelamatkan Suzuna terlebih dahulu…"
"Tapi.. bagaimana caranya?"
"Hmm, mungkin kita bisa mengalihkan perhatian daruzon itu dulu…"
"Kalau begitu, aku yang akan melakukannya!"
"Tapi, Sena—"
WHUUSSH!
Sena langsung berlari secepat angin puting beliung yang mengelilingi tubuh daruzon angin itu.
"Daruzon jeleeeek! Lihat akuuu! Ada daging enak disiniiii!" ujar Sena sambil terus berlari ke tengah-tengah sejauh mungkin dari daruzon itu. Jujur saja, Sena sangat takut, tapi demi gadis yang dicintainya—Suzuna—dia rela melakukan ini.
Daruzon itu otomatis melirik ke arah Sena. Dia melihat Sena dengan ekspresi lapar.
"Groooaaaarr!"
WHUSSH!
Daruzon itu langsung terbang ke atas langit dan kemudian terbang mendarat ke bawah, tepat menukik tajaam ke arah Sena.
"Bagus! Suzunaaa! Sekarang saatnya lariiii!" teriak Sena sambil terus berlari menjauhi dan menjadi umpan daruzon itu.
"S-Sena…" Suzuna hanya menatap Sena dari kejauhan.
GREP
Yume mencengkram bahu Suzuna erat.
"Ayo, kita cari tempat aman!"
"Tapi… Sena…"
"Dia akan baik-baik saja, dia kan memegang akame bersamanya!"
"Tapi… tapi lawannya daruzon angin raksasa, dia punya kekuatan yang sejenis dan tak kalah dari Sena! Mana mungkin Sena bisa menghadapinya sendirian?"
"Sena pasti bisa!"
"Eh?"
"Kau percaya padanya kan?"
Suzuna menunduk. Merenung sejenak.
"Iya… aku percaya…"
"Bagus, ayo! Kita segera berlindung! Selagi ada kesempatan…"
"Tapi…."
"Eh?"
"Justru karena adanya kesempatan itu lah… aku akan mempersiapkan diriku.. untuk membantu Sena!"
Suzuna beranjak berdiri dan mengambil akame miliknya.
"A-apa? Kau gila ya?"
"Tidak… aku yakin… Sena selalu ada untukku ketika aku membutuhkannya… jadi…"
PLAK
PSYUUU~
SREEEEEK
"Aaaaggh!" Sena terkena pukulan keras dari daruzon angin itu, dan terlempar sangat jauh hingga dirinya—
DUAAAR
—membentur dinding batu diujung sana hingga hancur. Sebagian badan Sena ada yang tertindih batu besar.
"…..aku juga akan ada untuk Sena, disaat dia membutuhkankuuuu!" Suzuna segera berlari menuruni bukit kecil itu dan menggenggam akamenya erat.
"Suzunaaa!" Yume hendak berlari mengejar Suzuna, namun ditahan oleh sang kakak, Yuta.
"Sudah, biarkan saja, dia tahu apa yang harus dilakukan.." sahut Yuta sambil terus berusaha menahan Yume.
"Tapi…. Tapi Suzuna—"
"Lihat dia…"
Yume melirik ke arah Suzuna yang tengah berlari mendekati Sena.
~Suzuna's side~
"Senaaa!"
Suzuna langsung berusaha menyingkirkan batu-batu yang berukuran cukup besar itu dari Sena.
"Sena! Bertahanlah! Bertahanlah Sena!" ujar Suzuna sambil terus berusaha menyingkirkan batu-batu itu.
"Kita harus membantu Suzuna!" ujar Kurita yang kemudian beranjak turun menuruni bukit dan menghampiri Suzuna. "Biar kubantu!"
"Aah, terima kasih Kak Kurita!" ucap Suzuna sambil terus berusaha memindahkan batu-batu dibantu oleh Kurita.
"Grroaaar!" daruzon itu bersiap menyerang kembali. Ia sudah terbang tinggi ke atas langit.
"Sebelum ia menukik lagi, harus ada yang menahannya!" ujar Musashi.
"FUGOOO!" Daikichi merasa harus membantu, jadi dia langsung melesat menuruni bukit, dan melindungi Kurita, Suzuna, dan Sena.
"Bagus! Daikichi, tolong ya!" ucap Kurita sambil terus berusaha menyingkirkan batu-batu besar.
"FUGO!" Daikichi nampaknya senang karena dipuji oleh gurunya itu.
"Groaaarr!" daruzon itu pun menukik tajam ke arah Daikichi.
Daikichi sudah bersiap dengan ikat pinggang lasernya, dan….
"Grroaaa!"
PSYUUUU~
SRET
Saat Daikichi menembakkan lasernya, daruzon angin itu sempat menghindar!
"Fu-fugoooo!"
"Ah, gawaaat!"
Kurita langsung mengambil posisi di depan Daikichi, dan memasang perisai raksasanya.
"Daikichi, kau bantu Suzuna saja!"
"FUGO!"
Daikichi segera melaksanakan perintah gurunya itu.
"Baiklah, aku akan bertanggung jawab untuk mekindungi nyawa kalian!" ujar Kurita yang terus berusaha menahan serangan daruzon angin itu.
"Kak Kurita…." Suzuna nampak tersentuh dengan pernyataan mantap Kurita tadi. Ia pun bertekad, akan melindungi semuanya juga jika dia sudah selesai dengan urusan menyingkirkan batu besar ini.
SREK
"FUGO!"
"Ah, Sena!"
Wajah Sena sudah nampak terlihat dari dalam tumpukan batu itu.
"Ayo, kita harus berusaha lebih keras lagi!" ucap Suzuna membara.
"FUGO!" Daikichi juga nampak bersemangat sekali.
"Cepatlah… ugh.. teman-teman… aku tak tahu sampai berapa lama aku bisa bertahan…" sahut Kurita yang nampaknya sudah mencapai batas.
"Baik Kak Kurita, kami berusaha secepat mungkin!" ujar Suzuna.
~di bukit~
"Kita harus membantu mereka!" ujar Yume tetap bersih keras memberontak ditahanan Yuta.
"Diam, jangan! Terlalu berbahaya!"
"Lepaskan aku!"
"Tenanglah Yume, kau pikir apa yang akan kau lakukan jika kau sudah sampai disana? Mempertaruhkan nyawamu dengan sia-sia? Hah?"
"Tapi… tapi—"
"Sudah, biarkan saja…" Musashi tiba-tiba menanggapi.
Yume dan Yuta menoleh dengan ekspresi terkejutnya masing-masing.
"Itu hak Yume, kau tidak boleh melarangnya…"
"Tapi, Yume bisa—"
"Kau sebagai seorang kakak, seharusnya bisa lebih mengerti perasaan adikmu yang ingin menolong sesama…"
"Tapi… kalau dalam situasi seperti ini…"
"Sekarang coba kau lihat Kurita dan yang lain disana.." Musashi melirik ke arah Kurita yang mulai kelelahan. "Jika kau yang ada dalam posisi Kurita saat ini, kau juga pasti akan membutuhkan bantuan kan? Bagaimana jadinya bila bantuan itu tiba-tiba dilarang hak nya untuk membantu? Apa kau sanggup bertahan terus seperti Kurita?"
Yuta hanya diam.
"Kakak… kumohon…" Yume kembali ke pada topik semula.
…
"Baiklah…"
TREK
Yuta memberikan pedangnya pada Yume. "Pakailah pedang ini… ini akan sangat membantumu…"
"Terima kasih, kak…" Yume pun menerima pedang itu, dan segera berlari menuruni bukit, mencoba mengalihkan perhatian daruzon itu.
BLETAK
"Grroooaar!"
Yume melempar batu kecil tepat di kepala daruzon itu.
"Hehe, kemarilah, daruzon bau! Kerjaanmu hanya buang angin saja!" Yume berlari sekencang yang ia bisa agar diikuti daruzon itu. "Kak Kurita, sekaranglah saatnya! Bantu Suzuna agar bisa mengeluarkan Sena lebih cepat!"
Kurita segera menghilangkan perisainya dan membantu Suzuna juga Daikichi. "Baik!"
Yume masih terus berusaha mengalihkan perhatian daruzon itu. Sejenak ia mencoba memperhatikan senjata milik kakaknya itu.
"Eh? Ini kan… sejak kapan?"
Yume tercengang melihat senjata hebat yang tengah ia genggam sambil terus berlari ini.
"Ini… ini bisa sangat membantuku!" Yume tersenyum dengan mantap, dan melompat tinggi hingga menyamai tinggi daruzon itu.
"Rasakan ini!" Yume menebaskan pedangnya di angkasa, dan tiba-tiba, muncul semprotan air yang begitu dahsyat.
Lalu…
BYURRR!
Air itu menyemprot wajah sang daruzon angin dengan sangat keras!
"Grroaaar!"
SREEEK
DUAR!
Daruzon itu menubruk dinding batu raksasa, dan jatuh tepat disamping kerumunan Sena.
"Yaaaa~ Yumeeee, kau bisa hati-hati sedikit tidaaak?" Suzuna nampak pucat.
"M-maaf… hahaha…"
Daruzon itu pun tak lama kemudian kembali bangkit, dan terbang dengan cepat ke arah Yume.
"Tch, terima ini!"
Yume mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi ke langit, dan tiba-tiba sebuah cahaya besar membentuk bola raksasa muncul diatas pedang itu.
"A-apa itu?" Jumonji berkomentar.
"Besar sekali!" Kuroki ikut mempelopori.
"Luar biasaa!" diakhiri oleh Togano.
Tiba-tiba, cahaya itu berubah menjadi..
"BATU RAKSASAAAA!" ucap tiga bersaudara Ha-Ha secara bersamaan.
"Hiyaaaaaah, makan iniiii!" Yume perlahan mengayunkan pedangnya seperti hendak memukul bola baseball.
"Grroaaar!" daruzon itu membuka mulutnya lebar-lebar, dan mengeluarkan angin yang begitu besar dan dahsyat.
Namun, Yume tak menyerah sedikitpun. Ia terus berusaha melawan angin itu, untuk memukul batu raksasa yang ada di depannya.
"He-hebat…" Yukimitsu berkomentar. Mulutnya menganga dengan lebar.
"Ini adalah kekuataan bawaan dari daruzon-daruzon yang sudah ditebas oleh pedang itu.." Yuta tiba-tiba menjelaskan.
"A-apa?"
"Ketika semua daruzon yang lengah mati oleh tebasan pedang itu, akan ada permata muncul sesuai warna elemen daruzon tersebut, kemudian memberikan efek pada pedang itu sesuai elemen yang ada, dan otomatis akan menempel pada tempat yang sudah disediakan oleh kakek di pedang itu. Selama ini, yang tahu soal ini hanya aku dan kakek, karena kami tidak ingin menceritakannya pada Yume agar ia tak menyalahgunakannya.. tapi ternyata, dugaanku salah…"
PSYUUUU~
Yume mulai mengayunkan pedangnya ke depan.
"Yume ternyata.. sudah tumbuh dewasa…"
DUAK!
Batu raksasa itu pun terpukul oleh pedang Yume dan mengarah tepat ke mata sang daruzon!
"GROAAA!"
"Daruzonnya mengamuk!" ujar Yuta memperingatkan.
Terlihat daruzon itu terbang tak beraturan di langit dan merintih kesakitan.
Tiba-tiba, ia jatuh ke daratan, dan getarannya menghempaskan Yume ke atas langit!
"Kyaaaaa!"
"Tunggu aku, aku datang MAAAAAAX!"
CRING!
Akame milik Monta bersinar terang!
Dan permata itu berubah menjadi sarung tangan berwarna merah merekah dengan simbol permata akame itu sendiri sebagai penghias.
"Keren MAX!" Monta segera melompat tinggi dengan posisi siap menangkap Yume.
GREP
Monta pun menangkap Yume dengan sukses!
"Terima kasih Monta…."
"Tak masalah MAX!"
~Suzuna's side~
"Yaaaa~ Monta keren!" Suzuna melompat girang dengan pom pom nya yang entah sejak kapan sudah ia genggam.
Terlihat, Sena juga sudah berhasil dibebaskan dari tumpukan batu-batu itu.
Yume sudah selamat, namun sepertinya, meski hanya mata yang terkena, masih belum cukup untuk memusnahkan daruzon itu.
"Sekarang kita harus bagaimana…" Suzuna nampak berpikir dengan keras.
Kurita kembali maju dan membuat perisai. Jaga-jaga, bila daruzon itu kembali menyerang. Daikichi juga nampak sudah siap disamping Kurita.
"Suzuna, sebaiknya kita lari dari sini…" ujar Sena sambil sedikit merintih kesakitan.
"Tidak.."
"Eh?"
"Aku sudah bertekad, akan melindungimu dan yang lain… jadi.. kumohon.. jangan halangi aku..."
"Kau gila? Kau tak akan sanggup melawannya Suzuna, atau kau bisa saja berakhir sepertiku! Bahkan… bahkan mungkin bisa lebih buruk!"
"Aku tidak peduli.. selama aku melakukannya demi kebaikan, aku tak akan pernah menyesalinya.."
"Suzuna…"
"Maka dari itu…"
CRIIING
Akame miliki Suzuna mulai bersinar!
"Aku akan terus berusaha.. untuk melindungi semuanya!"
CRIIIING
Suzuna mengacungkan akamenya ke atas langit, dan berteriak…
"Yaaa~ SEMANGAAAAT!"
Akame itu pun berubah menjadi sepasang pom pom.
Tunggu… pom pom?
"K-kenapa berubah jadi pom pom? Kukira akan jadi sepatu roda yang bagus.. huh, ya sudahlah…" Suzuna segera meluncur ke tengah-tengah arena pertarungan, dan mendekati daruzon angin yang tengah berusaha bangkit dan menstabilkan keadaannya itu dengan mantap.
"Waaa, Suzunaaa! Jangan memaksakan diri!" Kurita nampak panik.
"Tenang saja!" Suzuna mengedipkan matanya dengan manis, dan menggenggam pom pom nya dengan erat.
"Change!" Suzuna melemparkan pom pom nya, dan ajaib! Pom pom itu berubah menjadi dua tombak panjang berwarna merah yang tajam.
"Groaaar!"
"Huwaaah, kenapa dia tiba-tiba bangkit lagi?" Suzuna mendadak panik sendiri.
"Bagaimana ini? Suzuna dalam bahaya!" Sena juga mendadak panik.
"Tapi, aku tidak akan menyerah! Yaaa~"
Suzuna melompat tinggi dan mencoba melemparkan tombak panjang itu ke arah jantung sang daruzon.
"Groaaar!" daruzon itu menepis tombak milik Suzuna dan tombak itu sekarang berbalik menuju ke arah Suzuna!
"Change!" Suzuna segera mengubah tombak itu menjadi pom pom kembali. "Gawat, ini sulit…"
Daruzon angin itu kembali terbang tinggi, dan menghembuskan angin yang sangat besar.
"Uuh, dasar daruzon jelek! Kerjamu hanya sendawa dan buang angin! Untung saja tidak bau!" gerutu Suzuna sambil menahan hembusan angin yang begitu dahsyat.
"Etto, Suzuna, itu memang elemen miliknya…" ucap Sena sweatdrop.
"Nah, sekarang, apa yang harus kulakukan…" Suzuna nampak berusaha memikirkan jalan keluar, sambil terus berusaha menahan serangan angin yang bertubi-tubi. "Ah, aku tahu!"
Suzuna langsung melemparkan pom pom nya, dan merubah senjatanya itu.
"Change!" pom pom itu berubah menjadi sebuah permen karet raksasa.
Semua yang menonton sweatdrop, kecuali Kurita dan Daikichi yang terlihat sangat tergiur.
"Bagus! Rekatkan mulut baunya!" teriak Suzuna. Dan permen karet itu pun menempel di mulut besar daruzon itu, sehingga mulutnya terbungkusi permen karet yang begitu rekat menutupi mulutnya. Daruzon itu terus berusaha untuk membuka mulutnya, namun tetap tak bisa. Ia kembali kehilangan ke stabilan, dan hendak jatuh tepat menimpa Suzuna!
"Suzunaaa!" Sena segera berlari kencang dan memeluk erat. "Aku memegangmu, Suzuna.."
Daruzonnya akan segera menimpa Sena dan Suzuna!
"Dasar bodoh.." gumam Musashi.
"HIIIIEEE!"
CRIIIING
"Eh?" akame milik Sena bercahaya. Dan perlahan berubah menjadi sepasang sepatu yang berwarna merah merekah. "Baiklah…"
Sena langsung memakaikan sepatu itu di kakinya, dan ia langsung menggendong Suzuna ala bridal.
"S-Sena.." Suzuna nampak merona.
"Ayo, saatnya lari…" ujar Sena yang kemudian—
WHUUUSSH!
—langsung lari dengan cepat—sampai ada efek anginnya—menghindari daruzon itu.
BRUK
Daruzon angin itu langsung terkapar dan terus berusaha membuka mulutnya.
Sena langsung menurunkan Suzuna dari pangkuannya. Dan setelah dipastikan aman, Sena langsung melesat ke arena pertempuran.
"Sena, hati-hatiii!"
"Tak masalah!" Sena langsung berlari memutari daruzon itu. Terus memutari, hingga terbentuklah angin puting beliung raksasa, yang tengah membawa daruzon angin yang terkapar itu.
"Daikichi!" kurita seolah memberikan perintah.
"FUGOO!" Daikichi langsung mengarahkan senjatanya ke arah daruzon angin itu, dan…
PSYUUUU~
BLEDAR!
Angin milik Sena hilang, dan daruzon itu mulai melemah akibat terkena serangan dari Daikichi tadi.
"Sekarang, kak Yuta!" sahut Yume sambil melemparkan pedangnya ke arah Yuta.
GREP
Yuta menangkap pedangnya dan segera menebaskannya tepat ke arah kepala sang daruzon berbentuk naga angin itu.
DUAARRR!
WHUUUSSHHH!
Setelah berhasil membunuh daruzon itu, muncul angin yang sangat besar!
Dan semuanya yang berada di arena pertarungan memutuskan lari kembali ke atas bukit dan Kurita memperbesar perisainya untuk melindungi semua.
…
…
…
Perlahan, hingga akhirnya daruzon itu menghilang dan berubah menjadi ribuan burung yang cantik!
Kurita segera menghilangkan perisainya, dan terduduk lemas. "Haaah, akhirnya…."
PUK
Musashi menepuk bahu Kurita. "Aku bangga padamu sobat…"
"Musashiii…" Kurita nampak berlinang iar mata.
Permata berwarna hijau pun menempel pada tempat di pedang Yuta yang sudah disediakan. "Bagus, sudah tiga permata terkumpul… ada dua lagi yang harus kita ambil." Ujar Yuta sambil menyimpan kembali pedangnya di tempat semula.
"Suzuna, Sena, kalian tidak apa-apa kan?" tanya Ishimaru cemas.
"Kami baik-baik saja… tapi, ada sedikit luka di tangan dan kepalaku.. haha.." ujar Sena sambil tertawa kikuk seperti biasanya.
"Oh iya, pom pom ku!" Suzuna terasa melupakan sesuatu.
Yume memberikan pom pom yang berasal dari akamenya itu kepada Suzuna. "Ini.. dia tadi berubah sendiri dan kembali ke bentuk semula…"
Suzuna menerimanya dengan wajah senang dan lega. "Terima kasih, Yume…"
"Baiklah, kurasa, kita harus beristirahat dulu disini malam ini… perjalanan esok hari akan lebih melelahkan…" sahut Musashi. "Semua, dirikan tenda!"
"Baik!"
Maka hari itu berakhir setelah melalui pertarungan yang panjang dan melelahkan.
*malam harinya…*
Musashi terus mencoba dan mencoba untuk menghubungi Hiruma atau Mamori. Tapi sayang sekali, ponsel keduanya tidak ada yang aktif. Musashi merasa semakin cemas.
"Si bodoh itu…"
"Musashi…" Kurita beranjak keluar tenda. "Kenapa kau belum tidur? Ayo, siapkan tenaga untuk besok…"
"Iya, aku akan menyusul nanti…"
"Kau.. masih memikirkan Hiruma dan Mamori ya?"
Musashi hanya diam.
"Kita pasti akan menemukannya…. Iya kan?"
"Heh, apa yang kau bicarakan? Kita pasti menemukan mereka!" Musashi tersenyum, lalu kembali masuk ke dalam tenda.
"Hiruma… Mamori… tunggulah… kami akan menyelamatkan kalian!" gumam Kurita membara.
~To Be Continued~
Lagi-lagi telat update, gomenasai… (_ _)
Banyak tugas, jadi ga sempat ngetik fic.. DX *duar*
Ok, mari balas review dulu… :3
.
Kei Raisuna: oh, banyak typo ya, maaf deh.. DDX ini udah update, makasih udah review dan review lagi ya.. xD
Yamano: nah kan, typo lagi dah.. oke, makasih udah review dan review lagi ya.. xD
Saki.k: iya, ini udah update, maaf telat yah…. DXv
Shihouin.Y: hehe, maaf ya, ada selingan.. disini, fokus dulu ke Sena dkk… tapi di chap depan, kayanya mulai fokus ke hirumamo lagi.. :3 maaf telat update.. DX
.
Yosh, segitu balasannya, dan yang lain sudah dibalas lewat PM… :D
Makasih yang udah review cerita gaje nan abal2 ini.. xD
Sekali lagi, maaf untuk kesekian kalinya atas keterlambatan update saya… DX
Dan sepertinya, chap depan pun bakal update agak lama, hontou ni gomenasai.. DX
Baiklah, Mayu mau beranjak bikin lagi cerita lain… jaa nee~
.
Keep Spirit Up!
Mayu-chan
