FF ini milik TaniaMs, saya hanya meremake dari cerita aslinya.

Cast:

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Etc.

Happy reading

Tok! Tok!

"Ya?" Kyuhyun mengangkat kepalanya dari psp yang sedang ia mainkan ketika pintu kamarnya di ketuk. Namun dia tidak bergerak sama sekali dari tempat tidurnya.

"Ada Siwon di bawah, Kyu."

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak mau bertemu dengannya, Umma."

"Sayang, kau tahu dia sedang..."

Kyuhyun buru-buru bangkit dari tempat tidurnya, mengumpat keras ketika kakinya terbelit selimut. Tinggal selangkah lagi untuk sampai ke pintu hingga dia bisa mengunci pintu kamarnya ketika pintu kamarnya tersebut terbuka lebar.

Siwon muncul di hadapannya dengan seringai lebar. Mrs. Cho—ibunya hanya bisa tersenyum pasrah. Kyuhyun menatap keduanya dengan cemberut, lalu detik selanjutnya dia segara memutar tubuhnya dan kembali menuju tempat tidurnya. Melanjutkan gamenya.

"Siwon, kau mau cokelat panas?"

Siwon memutar tubuhnya dan tersenyum manis pada Mrs. Cho. "Jika Ahjumma tidak keberatan."

"Tentu tidak, Siwon." Mrs. Cho melirik putrinya yang terlihat tak acuh pada mereka berdua. "Nah, kusarankan agar kau hati-hati padanya," ujarnya sambil menunjuk Kyuhyun dengan dagunya.

Siwon tertawa kecil sambil mengangguk. Begitu Mrs. Cho meninggalkan mereka, Siwon menutup pintu kamar Kyuhyun.

Mengabaikan Kyuhyun, Siwon duduk pada sofa baca milik Kyuhyun. Dan dia mengedarkan pandangan. Kamar Kyuhyun tidak banyak berubah semenjak terakhir dia melihatnya. Mungkin hampir setahun dia tidak memasuki kamar Kyuhyun. Terakhir dia masuk ketika menjenguk Kyuhyun karena yeoja itu demam, dan tidak mau di rawat di rumah sakit.

Satu sisi dinding kamar Kyuhyun di isi dengan meja bacanya, dan ada seperangkat komputer yang sudah jarang di gunakan semenjak Laptop mulai bertebaran. Di samping meja itu berdiri sebuah rak setinggi satu meter dan di penuhi oleh koleksi kaset games dan novel yeoja itu. Meskipun penuh barang, jangan harap kau bisa menemukan debu disana. Bahkan setitik pun. Kyuhyun benar-benar merawat koleksinya dengan baik. Disamping rak itu, ada lemari kaca yang isinya adalah tas dengan berbagai model maupun warna.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kyuhyun.

Siwon tersentak, dan mendapati Kyuhyun sudah berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang. "Mwo?"

Kyuhyun mendengus. Dia bersidekap sebelum berkata, "Bukankah kau dengar? Aku tidak ingin bertemu denganmu, Tuan Choi Yang Terhormat."

"Wah, sayang sekali. Padahal aku sangat ingin bertemu denganmu," balas Siwon dengan wajah pura-pura terluka.

Kyuhyun berdesis dan memukul kepala Siwon dengan psp yang sedang di mainkannya. "Aku sedang serius!"

Siwon terkekeh dan ketika itulah Mrs. Cho masuk sambil membawa dua mug cokelat panas. Dia menatap putrinya itu dengan tatapan memperingatkan. "Kyuhyun, berhentilah bersikap kasar! Kau mau melajang seumur hidupmu karena sifat bar-barmu itu?!"

Kyuhyun menatap Mrs. Cho tak percaya. "Umma?"

"Bagaimana kalau tidak ada namja diluar sana yang mau denganmu, hah?! Kau bisa apa?!"

Kyuhyun semakin melongo. "Umma! Kau bicara apa?"

Siwon mengangkat tangan kanannya, meminta perhatian. "Ahjumma, kalau tidak ada namja diluar sana yang mau dengan Kyuhyun, aku rasa aku bersedia."

Kyuhyun memutar kepalanya dengan cepat ke arah Siwon. Dia melotot pada namja itu. "Bisa tidak kau tutup mulut besarmu itu sedetik saja?!"

Mrs. Cho meletakkan nampan yang di bawanya ke atas meja, dan melayangkan sebuah pukulan tepat di puncak kepalanya putrinya itu. "Jaga ucapanmu, Cho Kyuhyun!" lalu dia beralih pada Siwon, "Siwon, dengar. Jangan terlalu lemah dengan Kyuhyun. Kalau dia mengatakan hal-hal kasar padamu, kau bisa memukul kepalanya atau melakukan apapun asal dia menutup mulutnya itu! Mengerti?"

Siwon tertawa kecil karena Mrs. Cho berpihak padanya. "Tentu saja, ahjumma. Aku akan melakukan 'apapun' untuk menutup mulutnya. Ahjumma tidak perlu cemas."

"Bagus." Mrs. Cho menepuk pundak Siwon penuh sayang.

"Astaga, Umma! Kenapa umma berpihak padanya, hah? Umma lupa, aku ini putrimu!" seru Kyuhyun dramatis.

Mrs. Cho berdecak dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kyuhyun. "Kau bahkan akan 24 tahun musim dingin nanti, tapi kau masih kekanakan."

"Aku tidak kekanakan," bantah Kyuhyun.

"ya, kau yeoja yang kekanakan dan bermulut kasar!" Mrs. Cho segera meninggalkan kamar Kyuhyun sebelum semuanya bertambah kacau. Kyuhyun benar-benar bisa menyulitkan semua orang kalau dia mau.

Kyuhyun mendengus keras-keras. Dia mengipasi wajahnya sendiri dengan telapak tangannya. Seolah-olah keringat sedang menumpuk di wajahnya karena percakapannya dan Mrs. Cho barusan.

"Ah, ini benar-benar nikmat," decak Siwon. "Kyu, kau harus mencobanya."

Kyuhyun menatap Siwon sejenak, lalu berteriak keras. "Aaaaaakh!"

Siwon terlonjak mendengar teriakan Kyuhyun. Dia mengambil bantal sofa di dekatnya dan melemparnya tepat mengenai kepala Kyuhyun, membuat yeoja itu terdiam. "Kau mau membuatku tuli?"

Kyuhyun mendengus keras, lalu menatap Siwon dengan tatapan membunuh. "Kau mau mati?!" bentaknya sambil balik melempar bantal sofa pada Siwon.

Siwon terkekeh. "Ahjumma bilang, aku bisa melakukan apapun untuk menutup mulutmu itu. Apapun."

Mata Kyuhyun menyipit. "Simpan seringaimu, Sialan! Aku tahu kau sedang memikirkan hal kotor dengan otak mesummu itu!"

Siwon semakin tertawa. "Kau mengerti diriku dengan baik, Kyu. Kau pasti tahu kan, dengan apa aku akan menutup mulutmu? Jadi berhenti mengatakan kata-kata kasar."

"Cih!" Kyuhyun mencibir dan kembali menuju tempat tidurnya. Dia meletakkan pspnya di atas nakas, lalu mengubur seluruh tubuhnya di balik selimut.

Siwon menatap gundukan di tempat tidur. "Hei, Kyu! Kau benar-benar akan tidur? Sekarang bahkan masih jam 11 pagi."

"Silahkan bicara sendiri, Tuan Choi."

Siwon tertawa, dan menghampiri tempat tidur. Dia duduk di sisi kosong yang tidak di tiduri Kyuhyun. "Hei, aku serius. Aku penasaran kenapa kau tidak membalas pesan atau mengangkat teleponku sejak kemarin sore."

"Kau pikir saja sendiri," cetus Kyuhyun dari balik selimut.

Siwon mengulum senyum. "Aku sudah memikirkannya, dan kurasa tidak ada yang salah dengan ucapanku."

Kyuhyun menurunkan selimutnya hingga sebatas leher. "Tidak ada yang salah katamu?!"

Siwon mengangguk dengan polos.

"Yak Sialan! Kau—"

Cup!

Kyuhyun melotot karena Siwon baru saja mencuri ciuman darinya. "Sudah bosan hidup?!"

"Aku bisa memukul kepalamu atau melakukan apapun yang aku mau untuk menutup mulutmu ketika kau mengatakan hal-hal kasar. Dari pada memukul kepalamu, lebih baik aku menutup mulutmu itu, kan?" balas Siwon sambil tersenyum manis.

Kyuhyun menghembuskan napas keras. "Yang benar saja!" Kyuhyun meletakkan tangannya di atas keningnya. "Dasar namja! Dia benar-benar menjalankan otak mesumnya itu dengan baik," gerutunya.

"Kembali pada topik sebelumnya," ujar Siwon. "Jadi kenapa kau mengabaikanku?"

Kyuhyun menatap Siwon tajam. "Kau mengatakan pada Fanny eonni, kalau kau menciumku. Dan eonni, pasti tidak akan menyimpan informasi itu sendiri. Semua orang di kantormu pasti sudah tahu, sekarang! Aku harus menyembunyikan wajahku dimana, hah?!"

Siwon menatap Kyuhyun jengah. "Hanya karena itu? Astaga! Kau ini berlebihan sekali. Aku pikir karena masalah apa," ujarnya tak acuh lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.

Kyuhyun merubah posisinya menjadi duduk. "Ini masalah serius! Bagaimana mungkin aku bisa ke kantormu lagi tanpa merasa malu, hah?! Hei Siwon! jangan pura-pura tidur!"

"Itu hanya ciuman, Kyu. Tidak usah berlebihan," balas Siwon. "Memangnya apa yang salah dengan ciuman? Bahkan bocah-bocah yang masih di sekolah menengah saja sudah melakukannya."

Kyuhyun menjambak rambutnya putus asa. "Buanglah sikap tak acuhmu itu sedikit! Kau tidak memikirkan apa dampaknya terhadap reputasimu? Kau pemilik perusahaan!"

"Lalu kenapa?" tanya Siwon jengah. Terkadang dia memang tidak dapat mengerti jalan pikiran Kyuhyun. "Aku hanya bilang, aku menciummu. Bukan menidurimu. Itu bukan apa-apa." Siwon merubah posisinya menjadi menyamping, hingga dia bisa menatap Kyuhyun. "Lagipula, jika aku mengatakan kalau kita sudah tidur bersama, kenapa harus malu? Memangnya menidurimu sesuatu yang memalukan? Dan menciummu juga sesuatu yang memalukan?"

Kyuhyun menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan emosinya. Namun ketika melihat seringai Siwon, pertahanannya runtuh dan dalam sekejap dia sudah berada di atas tubuh Siwon dengan tangan mencengkram leher Siwon sekuat tenaga, hingga namja itu tidak bisa bernapas. "Seharusnya kau yang menjaga mulutmu baik-baik, brengsek! Dan sekarang, enyahlah kau ke neraka!" teriak Kyuhyun penuh dendam.

oOoOoOoOo

Kyuhyun menunggu dengan tegang. Saat ini, dia sedang berada di SM Elementary School, sebuah Sekolah Dasar yang cukup terkenal di daerah Seoul,. Menghabiskan waktu 20 menit dari rumahnya karena dia harus terjebak macet. Dan setelah melihat GPS pada mobilnya, memang tidak ada jalan lain yang dapat di laluinya tanpa terjebak macet sama sekali.

Tentu saja dia tidak dalam rangka reuni ke sekolah dasar itu, meskipun dulu dia memang bersekolah disana. Kali ini, dia mendatangi bekas sekolahnya dalam rangka wawancara. Dia memang telah mengirimkan lamaran sekitar sebulan yang lalu, dan baru hari ini lah dia di panggil untuk wawancara. Panggilan wawancara ini datang kepadanya dalam bentuk surat elektronik yang baru dia terima sabtu kemarin.

Peminat untuk menempati guru seni di sekolah tersebut benar-benar di luar perkiraan Kyuhyun. Dia pikir hanya ada segelintir orang, sepuluh paling banyak. Namun ternyata lebih dari itu, membuatnya sangat gugup.

Seorang namja berusia awal 30-an keluar dari ruangan wawancara, dan Kyuhyun merasakan tangannya semakin dingin. Gilirannya. Setelah seorang pegawai memanggil namanya untuk masuk, Kyuhyunpun bangkit dari duduknya sambil memberikan sugesti pada dirinya sendiri.

Tepat ketika dia akan memegang gagang pintu, ponselnya berbunyi hingga dia sendiri terlonjak kaget. Sambil menahan umpatannya, Kyuhyun melihat layar ponselnya dan menampilkan wajah Siwon yang tengah tertidur di pesawat. Ingatkan aku untuk membuang foto namja ini, batin Kyuhyun geram. Tidak akan ada lagi foto di setiap kontak yang ada di ponselnya.

Dia memang punya masalah dengan kesabaran. Tapi anehnya, dia sangat menyukai anak-anak dan tidak bermasalah meskipun kebanyakan orang menganggap anak-anak menyebalkan. Karena itulah dia ingin menjadi guru sekolah dasar. Mungkin dia hanya mudah tersulut emosi pada orang-orang dewasa.

Dengan kasar, Kyuhyun menggerser layarnya ke arah tanda merah pada ponselnya. Sebelum Siwon meneleponnya lagi, Kyuhyun memutuskan untuk mematikan ponselnya. Aku bisa tenang sekarang,Kyuhyun mengucap dalam hati dan melangkah memasuki ruang wawancara dengan lebih percaya diri.

30 menit kemudian, Kyuhyun sudah berada dalam perjalanan menuju kantor Siwon. Dia tidak sabar memberi tahu namja itu bahwa dia sudah melakukan wawancara, dan pasti di terima. Bukannya dia terlalu percaya diri, hanya saja dia merasa bahwa dia melakukannya dengan baik. Lagipula, nilai-nilainya yang memuaskan tentu tidak akan dianggap angin lalu oleh para penyeleksi. Setidaknya dia juga punya pengalaman.

Ketika kembali berhenti karena terjebak macet, Kyuhyun mengambil ponselnya. Mengerutkan kening karena Mrs. Cho tidak kunjung meneleponnya. Biasanya Ibunya itu suka tidak sabaran. Dan teringat kalau dia mematikan ponselnya sebelum masuk ke dalam ruang wawancara saat Siwon menelepon.

Setelah memastikan kendaraan di depannya belum bergerak, Kyuhyun menghidupkan ponselnya. Tidak terkejut ketika banyaknya voice mail dari Mrs. Cho, dan satu dari Siwon. Aneh sekali namja itu hanya menghubunginya sekali. Seingatnya Siwon setipe dengan Ibunya. Mereka tidak akan berhenti mengirimkan voice mail hanya dalam satu kali. Mereka akan terus mencobanya, dan kalau seandainya operator telepon bisa marah, mereka berdua pasti sudah di damprat habis-habisan.

Kyuhyun memilih pesan suara dari Siwon. Sedetik kemudian, suara Siwon menyambutnya.

"Hai Kyu. Aku mengerti kau tidak mau bicara denganku,"

Kyuhyun mengerutkan kening begitu mendengar kalimat pembuka dari Siwon. Memangnya dia kenapa tidak mau bicara dengan namja itu?

"Aku tahu kata-kataku kemarin siang keterlaluan. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud berkata kasar dan mengungkit-ungkit masalah sampai menidurimu dan semua kekacauan lainnya. Aku benar-benar minta. Kau tahu, aku hanya bercanda."

Kyuhyun mengerti sekarang. Dia ingat kejadian kemarin siang. Setelah Siwon bicara omong kosong tentang masalah tidur dan mencium, dia benar-benar menerjang namja itu dan mencekik lehernya. Begitu Siwon megap-megap tidak bisa bernapas, dia menjauhkan tangannya, dan langsung mengusir namja itu sambil mengatakan bahwa dia tidak akan bicara dengan Siwon di sepanjang sisa hidupnya.

Kyuhyun tertawa kecil. Namja itu seperti tidak mengenal dirinya saja. Dia memang marah saat itu. Tapi hanya di sepanjang hari itu. Begitu malam tiba, dan berganti dengan pagi, dia sudah melupakannya. Lagipula, bagaimana mungkin dia tidak bicara dengan Siwon di sepanjang sisa hidupnya?

"Aku tahu ini terdengar seperti sogokan, tapi kalau kau mau memaafkanku, datanglah ke restoran Sapphire. Kita makan disana. Aku traktir."

Kyuhyun meletakkan ponselnya di tempat ponsel yang ada di mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya. Lima menit sebelum jam istirahat kantor untuk makan siang. Masih 10 menit lagi sebelum sampai di kantor Siwon. Jadi begitu terlepas dari kemacetan, dia segera berbelok ke arah kanan. Memutar arah. Menuju restoran yang disebutkan Siwon.

"Dia tidak main-main," gumam Kyuhyun sambil menyeringai. Restoran yang di sebutkan Siwon merupakan restoran yang cukup terkenal. Terkenal karena makanannya sangat lezat, dan juga mahal. Dari lantai dua, kita bisa melihat namsan tower yang indah. "Aku akan membuatnya bangkrut dalam sekali makan," ujarnya penuh tekad.

***TBC***

Thanks for R&R ^_^