Chapter 7 – Sick
Johnny tak sempat memikirkan apapun hari ini. Ingin rasanya ia tak mempercayai semua yang diucapkan oleh Lee Sooman yang memandangnya dengan tatapan simpatik. Apa ini ? Hansol keluar dan semuanya terasa asing di telinganya. Ia memang tak bertemu istrinya itu selama beberapa minggu ini. Selama ini ia hanya tahu kalau Hansol masih di Busan bersama keluarganya. Ia sempat mengirim pesan pagi tadi pada Hansol dan dibalas dengan jawaban yang selalu Hansol berikan.
" Bagaimana bisa dia memutuskan keluar seperti itu ? Ia bahkan tak memiliki masalah dengan member NCT dan pelatihan ", ujar Johnny tak mengerti.
" Aku pun berharap seperti itu. Hansol adalah gadis yang sangat kuat untuk menjadi poros NCT. Dulu aku berangan-angan ia bisa menjadi leader NCT secara keseluruhan dengan gaya kepemimpinan Yunho dan komunikasi khas Leeteuk. Aku sama sekali tak mengerti dengan SM akhir-akhir ini ", kata Lee Sooman.
" Apa anda sama sekali tak tahu mengenai masalah ini, seosaengnim ? " tanya Taeyong.
" Semuanya berada di tangan CEO. Aku sama sekali tak tahu ", jawab Sooman dengan pasti.
Keduanya menghela napas. Mereka punya beban berat untuk memberi tahu semua ini pada member yang lainnya. Haruskah mereka yang memberitahu semuanya ? Keduanya pamit dan keluar dari ruangan Lee Sooman dengan wajah yang tak biasa.
" Kau pulang. Aku langsung siaran. Jika ada apa-apa, telpon saja aku ", putus Johnny.
" Ya. Johnny, sebaiknya kita beritahu mengenai Hansol-nuna besok pada member. Aku khawatir, jika sekarang, para member akan terganggu ".
" Aku mengikuti keputusanmu karena kau leadernya kini ".
" Johnny ".
" Jangan khawatirkan aku. Aku takkan apa-apa ".
Johnny segera meninggalkan Taeyong yang terus menatap punggung Johnny yang semakin menjauh.
" Terlalu jelas dia terluka. Bahkan aku bisa merasakannya ".
" Mark ", kata Taeyong terkejut.
" Aku tak bisa menyatukan NCT. Lalu apa peranku ? Aku tidak bisa membuat semuanya jadi bersatu ", ujar Mark frustasi.
Mark memukul-mukul tubuhnya dengan keras. Taeyong menarik tangan Mark dan menyeretnya ke atap. Matanya berkilat penuh amarah. Ia benci pada Mark yang selalu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada orang lain. Ia mencoba menenangkan dirinya sebelum menatap mata Mark yang sudah berair.
" Jangan salahkan dirimu. Kau sudah berbuat lebih dari yang kau bayangkan. Jangan pernah mengalahkan dirimu, kumohon ", ujar Taeyong lirih.
Hembusan angin di atap membuat Mark sedikit menggigil karena sama sekali tak memakai jaket. Taeyong menarik Mark dalam pelukannya dan membiarkan gadis Kanada itu menangis sepuasnya.
" Jangan pernah salahkan dirimu. Kau sudah lebih dari cukup berperan. Kau debut berulang kali demi melindungi kami. Kau melemparkan dirimu untuk mengikuti semua yang harusnya kami lakukan. Jangan pernah menyalahkan dirimu. Kau mengerti ? "
" Tapi Hansol-nuna keluar ".
" Nuna tidak keluar. Dia hanya pergi dengan jalan yang berbeda dari kita. Dia tidak pergi karena Hansol-nuna selalu menjadi keluarga kita ".
Mark menatap Taeyong tak mengerti.
" Ada kalanya saat kau melindungi seseorang, kau harus berada jauh dari mereka. Kau harus melihat mereka dari jauh dan melindungi mereka dengan cara yang sama sekali kau tak bayangkan. Hansol-nuna melakukan hal itu sekarang. Apa kau mengerti ? " ujar Taeyong.
" Nuna takkan pergi ? "
" Dia pergi tapi dia selalu mengawasi kita. Oh ya, saatnya pulang. Kau harus sekolah besok ".
Taeyong menuntun Mark turun dari atap SM Entertaiment ke arah basement dan mengambil motornya. Suasana begitu tak nyaman saat keduanya berada di lift. Mark terdiam sambil menatap ke arah kakinya. Gadis itu pasti sangat terpukul saat kakak perempuan yang jadi sandarannya pergi dari tim mereka. Begitu sampai di basement, Taeyong memasangkan jaket yang dipakainya pada Mark dan helm yang biasa Mark gunakan.
" Jangan katakan dulu hal ini pada member yang lain. Biarkan aku dan Johnny yang akan mengatakannya pada semuanya saat waktunya tiba ".
" Baiklah ".
Taeyong segera naik ke atas motornya dan diikuti oleh Mark. Motor Taeyong segera keluar dari basement dan melaju ke arah dorm NCT.
Dorm NCT
Yuta menatap Doyoung dengan tatapan tak biasa. Ia menemukan Doyoung dan Jaehyun tertawa bersama membahas sebuah nama untuk anak-anak. Jaehyun menarik Doyoung dan membiarkan Doyoung berada di belakang badan kekarnya. Jika hanya baku hantam dengan Yuta, Jaehyun bisa menang dengan mudah. Ia hanya perlu melayangkan beberapa pukulan mematikan ke tubuh Yuta.
" Katakan apa kau beralih pada Jaehyun ? " bentak Yuta.
" Jangan membentak Doyoung-nuna ", bentak Jaehyun pada Yuta.
" Diam kau. Ini urusanku ", kata Yuta.
" Urusanku juga kalau kau menyakiti Doyoung-nuna ", ujar Jaehyun sambil mencengkram leher Yuta.
" Yoonoh, andwae yo ", kata Doyoung.
" Murahan ", celetuk Winwin.
" Diam kau atau kusobek mulutmu ", ujar Jaehyun penuh amarah.
Tensi ruang latihan mereka makin panas saat Jaehyun yang tak pernah berbicara kasar tiba-tiba mengumpat keras. Hanya mereka berempat yang berada di sana.
" Jangan membentak Winwin ", kata Yuta.
" Jaga mulutnya, baru menyalak, Yuta. Kau meragukan Doyoung-nuna ketika kau memasukkan gugatan perceraianmu sejak dua bulan lalu. Kini apa ? Tanda tangan saja. Doyoung-nuna sudah lepas dari keluargamu ", kata Jaehyun.
Ucapan Jaehyun membuatnya tersentak. Doyoung mengetahui semuanya dan hanya memilih diam. Yuta cukup kesal dengan Jaehyun yang selalu menjadi tameng Doyoung sejak Doyoung menjauhinya bahkan Jaehyun mendapat dukungan penuh dari kakak Doyoung, Gongmyung dan anaknya Hyojee. Ayahnya bahkan marah karena Doyoung bisa keluar dari keluarganya. Yuta teringat saat ayahnya memanggilnya dengan keras.
Flashback
" Kau tahu apa ini ? " kata ayah Yuta sambil melempar sebuah map ke meja.
Yuta membaca dengan seksama berkas yang dilempar oleh ayahnya. Matanya terbelalak ketika melihat berkas perceraiannya diketahui oleh ayahnya. Bug. Pukulan keras mendarat ke arah perutnya. Yuta terhuyung ke belakang. Nunanya, dongsaengnya, dan eommanya tak bisa berbuat apapun.
" Aku memberimu kesempatan menjadi anak yang berguna dengan menikahi Doyoung. Bayangkan menikahi anak jenius itu dan memperoleh keturunan yang mampu melanjutkan bisnisku dengan baik tapi apa ? Kau memilih perempuan lain ".
" Winwin-oneesan tak kalah pintar dengan Doyoung, otou-san ", bela Haruka.
" Diam, ini urusan otou-san dengan onii-sanmu ".
" Tidak, otou-san. Otou-san hanya menginginkan Doyoung menikah dengan Yuta karena Kim Yoonhee-san. Otou-san masih memiliki perasaan terhadapnya ", kata Momoka.
Ayah Yuta terdiam.
" Otou-san melihat Yoonhee-san pada sosok Doyoung tapi Yuta tak mencintai Doyoung ", kata Momoka.
" Kalian tidak tahu apapun. Aku berusaha mengambil Doyoung untuk memberikan ide untuk perusahaan kita dengan percuma dan membiarkan gadis itu melahirkan pewaris yang membuat perusahaan kita makin besar. Menurut kalian, aku mengambil semuanya karena perasaan yang dulu ? Kalian salah besar. Kini kita kehilangan aset kita ", ujar ayah Yuta.
" Maksudmu semua demi perusahaan ? " tanya ibu Yuta.
" Tentu saja. Menurut kalian apa ? " jawab ayah Yuta kesal.
" Otou-san mengambil gadis miskin itu untuk kepentingan keluarga kita ? " ujar Haruka.
" Haruka ", kata Yuta memperingatkan.
" Apa ? Memang dia miskin kan ? Dia tak pantas dengan keluarga kita ", ujar Haruka.
Yuta terdiam. Memang benar dia hanya diam saat keluarganya mengatai Doyoung dengan kata miskin dan sebagainya tapi jujur saja, sedikit sudut hati Yuta sangat terluka karena itu.
Normal Pov
Yuta mengepalkan tangannya saat Jaehyun menatapnya dengan tajam. Tangan besar Jaehyun menahan agar Doyoung tetap berada di belakangnya.
" Kau ingin bercerai ? Baik, kita bercerai ", ujar Yuta pada Doyoung.
Doyoung menahan air matanya yang akan jatuh. Doyoung mengalihkan pandangannya dari Yuta. Ya, ini akhirnya. Ia berpisah dari Yuta. Jaehyun menggenggam tangan Doyoung. Ia tahu pertahanan Doyoung akan habis sebentar lagi. Yuta menandatangani berkas yang diangsur Jaehyun padanya. Yuta segera meninggalkan keduanya bersama Winwin. Bruk. Doyoung terduduk di lantai dengan linangan air mata yang deras.
" Selesai sudah. Semua sudah selesai ".
" Nuna, mianhe ", ujar Jaehyun sambil memeluk Doyoung.
Ia membiarkan Doyoung menangis sekeras yang ia bisa. Ia membiarkan kemeja basah karena tangisan Doyoung. Ia tak peduli jika hatinya sakit asal Doyoung tak apa.
" Jaehyun, jangan pernah tinggalkan aku ".
" Takkan. Bahkan jika kau ingin berpisah ".
Jaehyun menuntun Doyoung untuk berdiri. Ia menghapus air mata Doyoung dan menatap Doyoung dengan pandangan penuh cinta. Ia mengarahkan tangan Doyoung ke arah dadanya. Detakan jantung yang begitu keras terasa di tangan besar Doyoung.
" Kau tahu apa artinya nuna ? "
" Jaehyun, aku bukan memintamu menjadi suamiku tapi menjadi sahabatku ".
" Aniyo. Anakmu butuh seorang ayah. Aku tak ingin dia tumbuh dengan kebencian seperti Hyojee ".
" Tidak, Jaehyun. Kau tidak perlu melakukannya ".
" Nuna, bahkan jika kau memiliki 100 anak pun, aku akan menerimamu. Kau tahu, aku berjuang demi dirimu. Aku berubah demi dirimu. Aku berada di NCT demi dirimu ".
" Jaehyun ".
" Apa kau meragukanku ? Meragukan bila aku bisa menjadi ayah dari anak-anakmu ? Meragukan aku bisa dewasa ketika menghadapi masalah ? "
" Tidak, Jaehyun tapi ... "
" Aku akan terus menunggu meski itu artinya selamanya nuna ".
" Yoonoh ".
" Sst. Sekarang hampir jam 10 malam. Aku akan berangkat siaran dulu. Istirahatlah dulu ".
Doyoung menganggukkan kepalanya. Ia mengantarkan Jaehyun keluar hingga halaman depan. Jaehyun tersenyum dan melambaikan tangan sebelum ia pergi. Mobil Jaehyun mulai menjauh. Doyoung menghela napasnya dan sedikit terkejut ketika Mark menepuk pundaknya.
" Astaga, kau mengagetkanku. Dari sekolah ? "
" Aniyo, aku dari SM ".
" Latihan comeback ? Bukankah selesai jam 8 tadi ya ? "
" Aniyo, hanya ingin di sana saja ".
" Pulang bersama siapa ? "
" Taeyong hyung. Dia sekarang memarkir sepedanya di basement ".
" Sendirian ? "
" Eum ".
" Dia takkan mengompol di celana kan ? " ledek Doyoung.
" Ya ! Ya ! Kim Doyoung jangan menjatuhkan imagesku di depan pacarku ", kata Taeyong yang tiba-tiba datang dengan kunci motornya.
" Oh, kau sudah berani rupanya ? "
" Sudahlah, sebaiknya kita masuk. Angin malam tidak bagus untuk eomma dan hyung ", kata Mark menengahi.
Ketiganya masuk ke dalam dorm dan melihat para maknae line yang sibuk mengerjakan tugas. Doyoung mendekati Ten yang menggerutu setengah mati karena tugasnya yang menggunung. Taeil sendiri berada di dapur membuat cemilan. Mark mendekati Lucas yang menggaruk kepalanya karena mengerjakan matematika. Sejujurnya Mark cukup alergi dengan pelajaran itu meski ia bisa menguasainya dengan baik. Yang lainnya larut dalam drama yang ditonton mereka. Taeyong sendiri memilih pergi ke dapur dan menemui Taeil. Hanya hyung tertuanya itu yang bisa menenangkannya. Ia melihat Taeil berhenti mengaduk tteobokkinya.
" Kau memikirkan apa hyung ? "
" Astaga kau mengagetkanku ", ujar Taeil sambil berbalik.
" Aku punya masalah ".
" Masalah NCT ? "
" Ya ".
Taeil mengecilkan api kompornya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Taeyong. Ia duduk berhadapan dengan Taeyong dan memberikannya kopi kaleng yang dingin. Ia membiarkan Taeyong meneguk semuanya.
Entah mengapa perasaannya mengatakan kalau ini akan menjadi masalah berat. Ia membiarkan Taeyong bercerita dengan penuh emosi. Ia jujur saja terkejut. Ia menyandang semua bebannya sendiri sekarang. Raut wajahnya tak berubah meski sinar matanya meredup.
" Mau kuberikan soju ? "
" Kau mau kita dihukum manager ? "
" Hari ini saja. Bukankah ini sangat berat ? "
" Tak perlu hyung. Aku masih harus tetap sadar hingga semuanya bisa kuberitahu ".
" Siapa yang akan memberitahu semuanya ? "
" Aku dan Johnny ".
" Kalian benar-benar ".
" Kami menjadi pilar, bukankah harus siap hancur demi menjaga atap tetap berdiri ? "
Taeil terdiam. Keduanya memutuskan tetap di dapur saat Ten mengambil tteobokki untuk semuanya. Keduanya membicarakan kemungkinan yang bisa menimpa NCT. Harusnya semua bisa diprediksi namun semuanya makin sulit. Jarum jam berdetik hingga pukul 24.00. Tak ada lagi keramaian di ruang keluarga. Keduanya masih larut dalam pembicaraan mengenai masa depan NCT.
Brak. Suara pintu dibuka dengan sangat keras mengganggu keduanya. Keduanya langsung melangkahkan kaki menuju ruang tamu. Keduanya terkejut melihat Hansol berdiri dengan tatapan tajam. Foto bersama mereka saat masih menjadi bagian SMRookies Boys hancur di bawah kaki Hansol. Semua member NCT dan SMRookies keluar dari kamar mereka. Mereka terbelalak melihat Hansol yang menatap mereka penuh amarah. Taeyong menahan Mark yang akan memeluk Hansol.
" Puas ? Puas kalian saat aku keluar ? Puas kalian saat aku tak bersama kalian ? " ujar Hansol sinis.
Semua terkesiap. Apa maksudnya Hansol keluar ?
" Apa maksudmu ? Tak ada keluarga yang menginginkan anggota keluarganya pergi, nuna ", kata Taeyong.
" Diam kau. Harusnya perusahaan tak pernah mendebutkanmu karena skandalmu ", tunjuk Hansol yang membuahkan para member yang menahan napasnya.
Tangan Taeyong mengepal. Hansol bukan seperti Hansol yang ia kenal. Dengan langkah santai, Hansol mendekati Mark.
" Karena kau, aku tidak debut. Karena kalian semua ", teriaknya.
" Mommy ", ujar Mark.
" Siapa yang kau panggi mommy ? Aku bukan Hanhee ".
Plak. Hansol menampar Mark dengan keras. Semuanya terkejut. Ia menarik rambut Mark hingga Mark merintih kesakitan. Taeyong menarik Mark dan menyembunyikannya di belakang badannya. Suasana makin memanas saat Johnny dan Jaehyun datang. Hansol menatap keduanya.
" Kau datang ? "
" Hansol, apa yang kau lakukan ? " bentak Johnny.
" Kau tak pernah membentak Hanhee dan kau membentakku ? "
Plak. Hansol menampar Johnny dengan keras.
" Semuanya brengsek. Kalian semua penyebab aku gagal debut ".
" Hansol-nuna, bukankah kau akan debut dengan NCT unit selanjutnya ? Bisakah kau bersabar ? " kata Mark.
" Diam. Kau tahu apa ? "
" Hansol, kau keterlaluan. Apa yang mengubahmu hah ? " kata Johnny.
" Aku berubah ? Wow. Kalian luar biasa. NCT, grup underrated yang menyedihkan ".
" Jangan pernah menjelekkan NCT atau kau berhadapan denganku ", ujar Taeil.
Hansol tertawa terbahak-bahak seakan ucapan Taeil adalah lelucon.
" Kalau aku meneruskannya memang apa yang kau lakukan ? "
" Jangan pernah menjelekkan NCT ", tekan Johnny.
" Toh aku akan pergi. Ah aku lupa. Kita bercerai Johnny. Aku sudah muak ".
Member lainnya sudah menangis sedari tadi. Johnny menahan tangan Hansol dan membuat Hansol melihatnya.
" Kau bukan Hansol ", ujar Johnny.
" Aku Hansol tapi bukan Hansol yang kau kenal. Hansol yang kalian kenal adalah Hanhee, kembaranku. Selamat kalian tertipu ".
" Unnie ", kata Doyoung yang maju ke arah Hansol.
" Oh, kau si lemah yang selalu berlindung pada Hanhee ".
Hansol mendorong Doyoung hingga Doyoung menabrak lemari buku. Tiba-tiba darah keluar dari selangkangan Doyoung dan membuat Doyoung meringis. Jaehyun terkejut dan langsung memapah Doyoung ke mobilnya. Mark memilih mengikuti Doyoung bersama dengan Ten dan Taeil. Johnny menatap ke arah Hansol.
" Jika terjadi apa-apa pada Doyoung, aku sungguh akan membuatmu menyesal. Pergi dan jangan pernah tunjukkan wajahmu di dorm ini lagi ".
Deg. Semua member terkejut dengan ucapan Johnny namun mereka langsung menuju ke arah luar dorm untuk mengejar Doyoung. Taeyong sendiri menatap Hansol sebelum keluar. Hansol tertawa namun sedetik kemudian ia menangis. Semuanya pergi meninggalkannya. Ia menekan beberapa nomor dan menunggu nada tunggu.
" Bunuh Hanhee sekarang ", ujarnya sebelum ia mematikan ponselnya.
Ia menatap sekeliling dorm sebelum pergi. Ia menghapus air matanya sebelum ia menaiki mobilnya dan pergi dari sana. Ia sudah memutuskan hubungannya dengan NCT. Sementara itu, anggota NCT langsung memenuhi depan ruang operasi dari Kyunghee University Hospital. Jaehyun langsung menyuruh perawat untuk memberikan pertolongan pertama pada Doyoung. Mark sudah menghubungi keluarga Doyoung dan Hyojee. Semuanya berdoa untuk keselamatan Doyoung karena Doyoung sempat tak sadarkan diri saat perjalanan ke rumah sakit tadi. Puk. Seorang wanita paruh baya menepuk bahu Jaehyun.
" Ada apa kau di sini ? " tanya wanita yang ternyata ibu Jaehyun itu.
" Eomma. Doyoung dalam kondisi gawat darurat. Kumohon selamatkan dia dan bayinya ", ujar Jaehyun yang mengagetkan semuanya.
" Eomma akan berusaha. Kau teruslah berdoa ".
Jaehyun menganggukkan kepalanya. Ibu Jaehyun masuk ke dalam ruangan operasi dengan pakaian bedahnya. Ya, ibu Jaehyun sendiri adalah dokter kandungan yang sangat terkenal. Jaehyun mondar-mandir menunggu jalannya operasi. Ia berharap Doyoung bisa selamat terlebih wanita itu memiliki riwayat anemia yang cukup parah dan tekanan darah rendah. Mark, Ten, Johnny dan yang lainnya khusyuk untuk berdoa demi kesembuhan Doyoung. Operasi selama dua jam itu membuat Jaehyun seakan tak bisa bernapas. Semuanya berakhir ketika monitor pemberitahuan meredupkan lampunya. Ibu Jaehyun keluar dengan senyuman khasnya.
" Doyoung baik-baik saja. Ia hanya kekurangan banyak darah dan tekanan darahnya terlalu rendah tapi semuanya sudah diselesaikan dengan baik. Operasi berjalan lancar. Keduanya selamat. Kalian mendapatkan keponakan laki-laki ", kata ibu Jaehyun.
" Apa Doyoung-eomma akan segera dipindahkan ke ruang rawat ? " tanya Mark.
" Oh tentu. Dia sudah dipindahkan sekarang ke VVIP lantai 2 di gedung 1. Kamarnya nomor 10. Sebaiknya kalian istirahat dulu. Biarkan Jaehyun yang menjaga di sini. Kembalilah besok jika ingin tahu dengan keponakan kalian ".
Jaehyun langsung merengkuh ibunya. Ia menangis gembira dan berulang kali mengucapkan kata terima kasih pada ibunya.
Ibu Jaehyun tersenyum dan membiarkan anaknya meluapkan emosinya. Meski bukan anak kandung Jaehyun, ibu Jaehyun sangat menyukai anak Doyoung. Semuanya menangis terharu dan mengucapkan selamat pada Jaehyun dan ibunya bukan pada Yuta yang ayah kandung anak Doyoung. Johnny menggiring para membernya untuk pulang sementara Jaehyun mengikuti ibunya yang menuju ruangan bayi. Tanpa mereka ketahui, Yuta mengikuti keduanya. Dari jendela kaca luar ruang bayi, Yuta bisa melihat Jaehyun menggendong anaknya dengan gembira. Ia tersentak saat melihat nama keluarga bayi Doyoung. Jung menjadi marga dari anaknya meski ia yakin Doyoung akan mengubahnya menjadi Kim.
" Dia gagah sekali. Matanya sepertimu, Doyoung. Dia sama sekali tak mirip denganku ", ujar Yuta.
Yuta meninggalkan rumah sakit setelah melihat anaknya. Malam itu, semuanya gembira akan kelahiran anak Doyoung meski ada dua kesedihan lainnya. Kesedihan pertama milik NCT karena keluarnya Hansol dan kesedihan kedua milik Yuta karena lepasnya Doyoung.
Beberapa bulan kemudian.
Suasana ceria di dorm NCT kembali karena kehadiran Hyojee dan adik laki-lakinya, Youngjae. Magnae line punya kebiasaan untuk pamit pada Youngjae sebelum mereka pergi sekolah. Ya semuanya ceria setidaknya. Beberapa member NCT lainnya berlatih di SM sementara Ten menunggui Youngjae sambil menggodanya. Ten benar-benar punya kesibukan baru karena Youngjae. Ia lebih senang sejak ia resmi menjadi Ten Moon beberapa minggu lalu. Ia menimang Youngjae yang kelihatan cukup aktif saat mendengar lagu Cherry Bomb. Beberapa kali Ten tertawa saat Taeil melakukan kesalahan hingga dimarahi oleh koreografer mereka. Tak hanya Ten saja, Seulgi dan beberapa member Red Velvet lainnya betah berada di ruang latihan NCT karena keberadaan Youngjae.
Saat istirahat, semua member NCT 127 mengerubungi Youngjae meski Doyoung akan marah bila mereka berteriak tak jelas. Tanpa mereka sadari, Johnny memilih keluar dari ruang latihan dan pergi sendirian ke atap dengan segelas americano miliknya. Jujur saja ia merindukan sosok Hanhee yang menemaninya selama ini. Matanya menerawang melihat arakan awan yang seakan membuatnya makin merindukan Hanhee. Ia hanya tahu Hanhee sudah pergi dan mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya di Amerika. Air matanya menetes. Ia jujur merindukan istrinya dan calon anaknya itu.
" Bagaimana kabar kalian ? NCT makin besar meski kami masih harus berusaha. Apa kalian baik-baik saja di sana ? " tanya Johnny pada angin yang menerpa wajahnya.
Lain hal dengan Johnny, keluarga Ji makin tak teratur. Kakak laki-laki Hansol dan unnienya memutuskan mengakhiri hubungan keluarga dengan keluarga Ji. Hansol sendiri kini masuk ke agensi barunya, J-Flo Entertaiment. Ia semakin giat berlatih meski dirinya merasa kalau bakatnya masih kurang. Brak. Ia terjatuh.
Kakinya terkilir meski tak parah.
" Hyung, kau tak apa ? " tanya seorang trainee.
" Tak apa. Aku pulang dulu ".
" Eum ".
Hansol berjalan tertatih saat keluar dari gedung agensinya dan menunggu di taman dekat agensinya. Ia tak sengaja melihat kedua saudara kembar yang berada di taman itu. Sang adik terjatuh dan membuat Hansol hampir berdiri.
" Sohye-ah, kau tak apa ? Gwaechani ? " kata seorang anak yang Hansol yakini sebagai kakak dari anak itu.
" Appo unnie ", ujar gadis kecil itu.
Gadis kecil itu membersihkan luka saudaranya dengan air dari botol yang dibawanya dan menutupnya dengan plester. Sesekali gadis kecil itu meniup luka saudaranya dan mengucapkan mantera khas anak-anak. Keduanya kembali bermain dan membuat mata Hansol meredup.
" Mereka berdua begitu saling menyayangi. Aku bertanya-tanya kapan aku dan Hanhee seperti itu ? Hanhee sudah pergi karena keegoisanku. Semuanya menderita karenaku ", ujarnya pelan.
Kilasan masa lalu saat ia dan Hanhee masih kecil memenuhi kepala Hansol. Ia serasa mengingat semuanya. Ia mengingat saat Hanhee membelanya. Ia mengingat saat Hanhee melindunginya meski ia menyakitinya.
" Tidak bisakah kau kembali ? Kembalilah dan umpatlah aku. Kumohon jangan pergi seperti ini, Hanhee-ah. Kembalilah. Keluarga kita membutuhkanmu. Jika tidak kembalilah untuk Johnny. Kembalilah untuk NCT. Kembalilah untuk Mark. Kembalilah untuk Doyoung. Kembalilah untuk orang yang kau sayangi. Kumohon kembalilah ".
Okinawa, Jepang
Hembusan angin dari laut tak membuat seorang gadis yang duduk di atas kursi roda berpindah ke rumahnya yang berada di tepi pantai. Ia membiarkan hembusan angin laut menerpa wajahnya dan menerbangkan rambut panjangnya. Ia tersenyum saat melihat beberapa anak bermain dengan pasir dan laut. Sesekali ia mengumamkan sebuah lagu.
" Hanhee-ah ", panggil seorang laki-laki yang seumuran dengannya.
" John-oppa ".
" Masuklah, Haruna membuatkan sup rumput laut untukmu. Kau melihat apa ? "
" Aniyo, hanya merindukan seseorang di seberang laut sana ".
" Johnny ? Nae dongsaeng ? "
Gadis yang ternyata Hanhee itu menganggukkan kepalanya. John Seo, laki-laki Johnny itu menghela napasnya. Ia amat paham dengan kerinduan Hanhee pada Johnny meski mereka harus memalsukan kematian Hanhee demi keselamatan gadis itu.
" Kita akan kembali begitu operasi dan rehabilitasimu selesai ".
" Benarkah ? "
" Tentu saja. Besok kita ke Tokyo. Kita berobat ke sana ".
" Gomawo yo oppa ".
" Tak perlu berterima kasih. Kau adalah adik iparku. Sudah kewajibanku membantu. Kita akan kembali ke Korea setelah semuanya selesai ".
Hanhee menganggukkan kepala dengan semangat dan melemparkan senyuman terbaiknya.
Apakah semuanya akan berakhir bahagia ?
Ok, Akira di sini... Akira minta maaf sudah lama sekali mengupdate ff ini dan yang lainnya. Terima kasih untuk para reader-nim dan reviewer-nim yang sudah membaca ff Akira... Ok langsung aja ke review corner...
.75470-nim : Hai .75470-nim. Hehehe itu nggak kebalik kok atau salah ketik. Wah makasih udah nungguin. Semoga suka dengan chapter ini walau sedikit absurd karena Akira nggak nemu ide lagi buat ngelanjutin... Happy reading...
Rencananya Akira akan mengakhiri ff ini sekitar 2-3 chapter lagi. Gimana menurut reader nim ? Absurd banget cerita di chapter ini karena Akira jujur aja buntu untuk ngelanjutin ff ini. Akira minta maaf telat update karena Akira lagi sibuk dengan UTS tapi Akira janji tetap akan update semuanya. Sama seperti chapter kemarin, Akira butuh banget dukungan reader-nim dan reviewer-nim dengan kritik dan sarannya... Jujur itu ngebantu Akira banget... Oh ya makasih buat semua yang sudah favorite dan follow ff ini...
See You in Next Chapter...
To Be Continue ?
Mind To Review ?
