AFTER MIDNIGHT
Main Cast:
Krisyeol (Kris, Chanyeol)
Kaihun (Kai, Sehun)
Lumin (Luhan, Xiumin)
Sudo (Suho, Kyungsoo)
Taobaek (Tao, Baekhyun)
ChenLay (Chen, Lay)
Rating: T
Genre : Mystery, fantasy, death-chara, adventure, yaoi, horror, cannibalism, SADISM, violence, satanic cult(?), AU, OOC, Friendship, dll
Length: Chaptered
Bahasa: Indonesia
^^HAPPY READING^^
Chapter 5
We Are Not Alone
31/10/2015. Location: Mount Madahee, Mines Area – Shoshone Woods
Bayangan tinggi besar muncul tepat di depan hidung Kyungsoo. Sesuatu yang mengerikan, menyeramkan dan menakutkan seperti monster dari neraka. Namja itu langsung menarik kepalanya, membeku, spontan menyumbat napasnya. Untuk mengamankan keadaan, pemantik ditutup lalu ditekan lembut ke dadanya. Monster itu melihat ke sekeliling ruangan, mencari tanda-tanda pergerakan, tapi ketiga orang itu juga tidak ada yang berani bergerak. Ini membuat ketiga orang dalam ruangan kecil itu ketakutan setengah mati saat si monster menunduk lalu mengamati tiga bocah-bocah itu dengan dua mata kusamnya. Setelah beberapa detik, monster itu perlahan-lahan mundur dan menghilang lagi di kegelapan.
Situasi berbahaya belum berakhir, tapi setidaknya, mereka aman untuk sementara waktu.
Sebuah desahan lega lolos dari mulut Sehun. Sangat berisiko menyelinap ke jalur tadi tanpa bantuan senter. Tapi mereka tentunya tidak sudi menarik perhatian si monster tadi.
"Hyung, kalian kenapa bisa ada di sini?" tanya Sehun, baru sadar duo hyung kecil di sampingnya masih menikmati peran sebagai patung.
Suho menghela napas, lalu menjelaskan dengan suara pelan. "Tembok rahasia di perpustakaan, ingat? Kami curiga ada jalan pintas gaib, ruangan rahasia atau semacamnya di balik tembok itu. Niat awal mau kami hancurkan pakai cara manual."
Jidat Sehun berkerut. "Cara manual? Memangnya bisa?"
"Ya, tidak mungkin lah!" jawab Kyungsoo. "Tapi tau-tau saja temboknya menghilang saat hendak kami hancurkan menggunakan palu biasa, ringkas cerita—Ta-daaaa! Kami bisa sampai sejauh ini."
Sehun geleng-geleng skeptis. "Tidak masuk akal."
"Memang," Kyungsoo angkat bahu. "Kami juga sampai sekarang tidak percaya."
Sehun memijat keningnya. "Jujur nih, hyung. Aku masih belum begitu paham. Kalau tembok itu tiba-tiba menghilang, berarti kalian muncul di sini dengan bantuan sihir?"
"Bukan. Kami naik mesin waktu." kata Suho asal ceplos.
Kyungsoo melempar lirikan pedas ke arahnya. "Bukan pakai sihir atau mesin waktu. Jatuh dari ketinggian lebih tepatnya. Tahu berapa jarak dari jembatan ke Sungai Han? Nah, bayangkan kami jatuh dari jembatan itu. Tapi permukaan sungainya kita ganti dengan dataran batu-batu gua yang keras."
Sehun kembali mengurut keningnya. "Kok makin sulit dimengerti."
Suho menjentikkan jari. "Nah! Daripada kita memaksakan diri mengobrol tapi sama-sama pusing, mending cari jalan keluar."
Keduanya menyadari tubuh adik mereka dipenuhi luka-luka yang cukup parah.
"Hun, kenapa telapak tanganmu?!" Kyungsoo menarik tangan Sehun, cemas berlebih.
Maknae mereka menggeleng lemah. "Tidak usah dipikirkan."
"Tidak usah dipikirkan?! Tanganmu terluka!" seru Kyungsoo.
Suho meringis. "Sayang, jangan teriak-teriak. Suaramu cempreng dan mengganggu ketentraman."
"Jangan menghinaku! Kau tidak lihat tangannya?!"
"Iya tau tau! Makanya ayo bantu aku pegangi Sehun. Nanti kalau sudah berhasil keluar dari sini baru deh kau omeli dia sepuasnya."
Kyungsoo cuma mendengus, terpaksa menelan semua ocehan, dia tahu Suho ada benarnya.
Mereka langsung memapah bocah kelebihan tinggi badan itu, membawanya keluar dari ruangan.
Terengah-engah mereka berlari menyusuri terowongan, mengandalkan pemantik yang kini beralih di tangan Suho. Sehun menyeret kedua kaki beralaskan sepatu bot-nya, jalan terpincang-pincang di tengah. Kyungsoo setengah ngeden menahan beban besar di pundaknya, karena Sehun super tinggi. Kasihan dua orang itu.
Segera mereka berhenti saat mendengar suara jeritan serak bergema mengisi suasana yang hening dan lengang.
"Ya Tuhan!" pekik Sehun dengan tampang pucat. "DIA DISINI! Cepat! HYUNG! Cepat! Cepat!" perintahnya dikuasai panik tingkat tinggi.
Mana terowongan ini terlalu gelap untuk membedakan yang mana bayangan makhluk sialan itu dan yang mana bayangan dinding batu, tapi dia yakin ada sesuatu yang mengawasi mereka di belakang sana.
Botol hairspray yang dingin menempel di pipi kiri Kyungsoo, pemantik menempel di pipi kanan Suho. Gara-gara Sehun merangkul mereka tanpa melepas barang kesayangannya. Terowongannya dingin, tapi mereka justru merasa kepanasan.
Pintu keluar berikutnya hanya berjarak beberapa meter dari depan mata. Mereka terpaksa harus mengambil risiko dengan tetap bergerak meniti sisa terowongan. Raksasa di belakang mereka menggeram dan merangkak di langit-langit gua. Gesekan jari-jari kukunya meninggalkan gema nyaring yang menggesek gendang telinga. Itu pertanda bagi mereka untuk... LARIII! Berlari seperti orang gila! Jeleknya adalah, Sehun jadi tidak bisa menggunakan pemantiknya untuk menakut-nakuti makhluk itu karena keadannya sekarang.
Dia mendengar suara monster itu di atas kepalanya, tapi tidak berani melirik untuk memastikan.
"Sial! Keparat! Bangsat!" keluar semua kalimat sumpah serapah dari mulut Kyungsoo.
"Diam!" Suho balas membentak. Situasi sudah buruk, makin buruk lagi setelah mendengar Kyungsoo menyumpah pakai kosakata preman pasar. "Tenang! Jalan saja!"
"Mana bisa tenang?! Sial! Keparat! Bangsat! Bangsat!" Kyungsoo tidak mau patuh. Menyeret Sehun makin ngotot dengan tubuh kecilnya.
Makhluk itu meloncat ke depan mereka dan berdiri menjulang dengan pelototan keji yang seakan siap menyerang. Lalu berteriak marah dengan suara tinggi.
Suho melangkah mundur. Kyungsoo mundur. Sehun mengikuti.
Mereka melangkahkan satu kaki lagi ke belakang. Lalu kaki lainnya. Satu langkah lagi.
"GRAAAAAAAAAAAAAA!"
Kyungsoo tersentak, matanya menatap penuh ketakutan. Tubuh Sehun gemetaran parah.
Ketegangan memuncak. Ketiganya mematung waspada, tidak ada yang sanggup bergerak atau menimbulkan bunyi. Bahkan bernapas. Makhluk itu masih berdiri di tempat. Juga menunggu dengan waspada. Ada sesuatu yang ganjil dari makhluk itu. Suho juga menyadari hal yang sama, karena dia mencolak pundak Kyungsoo lewat belakang leher Sehun.
"Aneh sekali."
"Aneh?" bisik Kyungsoo, nyaris tanpa suara.
"Dia hanya terpaku pada Sehun. Lihat matanya."
Kyungsoo langsung konek dengan apa yang ingin disampaikan sang kekasih. Diam-diam mengamati bola mata sang makhluk kurus bertangan panjang. Sorotnya yang mengerikan terpaku di titik tengah. Mengabaikan dua sisanya.
"Dia mengincar Sehun," sambungnya.
Kyungsoo terperanjat dalam hati. Membenarkan dugaan Suho. "Dia... Matthew?"
"Hati-hati," bisik Suho lagi. "Aku akan melakukan sesuatu."
Tunggu...
Sesuatu?!
Kyungsoo mendadak dihujani perasaan tidak enak. Dan pikiran buruknya jadi nyata, karena tanpa aba-aba namja itu langsung memekik. "HEI MATTHEW!"
Gigi Kyungsoo mengatup rapat-rapat, rahangnya tegang, mengeluarkan bunyi gerungan sebal. "Hyung! Kau ngapain?!"
"MATTHEW! ITU NAMAMU KAN?!"
"HYUNG!" Kyungsoo ikut berteriak lantang karena jengkel.
Sehun menganga bodoh. Heran mengapa tiba-tiba Suho berminat memberi makhluk itu nama panggilan keren. Apa itu bagian dari rencana kedua hyung-nya yang tidak dia ketahui? Siapa saja! Tolong beri dia pencerahan! Karena cuma dia yang kurang paham duduk perkaranya.
"Matthew!" panggil Suho, dia sendiri tidak yakin apakah ini ide bagus. Tapi harus ada yang bisa berperan sebagai umpan.
Makhluk itu mengalihkan perhatiannya, memiringkan kepalanya sedikit seperti seekor anjing. Apakah dia mengerti ucapannya barusan? Apakah masih ada bagian dari Matthew dalam tubuh itu? Sayangnya sebelum Suho sempat berteriak memanggil namanya lagi, siluman tengkorak itu menyambarnya dan melemparkannya ke dinding. Dampaknya jelas fatal, karena batu-batu kasar nan keras menghantam tulang punggungnya telak-telak, walaupun tidak mengancam nyawa.
Kyungsoo terguncang, pegangannya ke Sehun terlepas, dia berlari menghampiri Suho. "Hyuuung!"
Perlahan Suho duduk dan berdiri kembali. Dia yakin salah satu tulang punggungnya remuk, tapi dia tidak punya waktu untuk mengeluh. Itu hanya akan memperlambat. Sehun dan Kyungsoo masih dalam bahaya. "Cepat kalian keluar dari sini! Bawa Sehun!"
Kyungsoo ternganga, "Jangan bertindak tolol!" Inginnya memaksa Suho, dia seret cowok itu kalau perlu, tapi apalah daya, Sehun juga butuh pertolongan. Lukanya lebih parah. Ditambah lagi, makhluk itu mengincarnya. Kyungsoo menoleh, adik kecil mereka sedang terpojok di sudut. Agak miris melihatnya, padahal Sehun itu jangkung sekali, sekarang dia persis bocah kecil kehilangan ibu.
Pada saat terakhir, sebelum makhluk itu sempat menyambar dengan kuku-kuku runcingnya, Sehun menggunakan kombinasi semprotan dan pemantik sebagai penyembur api. Wendigo itu berteriak dan mencoba menutupi wajahnya, tapi apinya terlalu kecil dan tidak cukup kuat, karena leher Sehun berada dalam cengkraman kukunya. Itu terjadi dalam hitungan detik.
"Kyung! Bawa Sehun kembali keluar! Kau dengar aku?"
"Lalu apa selanjutnya?" tantang Kyungsoo memekik, tidak rela meninggalkan kekasihnya sendirian. Tidak mungkin! Itu ide tergila sepanjang masa. Tidak mau!
"Kyungie... sayang..." Suho menggenggam kedua tangan nama di depannya. "Percayalah padaku." Dia tersenyum lembut, tangannya meraih ppi Kyungsoo dan mengusapnya. "Kita semua harus keluar dari sini. Semua."
Tatapan Kyungsoo tidak fokus. Masih menyiratkan keraguan.
"Kyung." Genggaman tangan Suho makin erat. "Kumohon... aku masih punya urusan disini, Sehun membutuhkanmu."
Kyungsoo melirik sekilas dari bahunya. Sehun sedang berjuang mati-matian melepaskan lehernya dari cengkraman tangan setebal besi itu. Matanya terbelalak lebar. Mulutnya megap-megap. Wajah pucatnya membiru. Jika dibiarkan begitu selama semenit, bisa dipastikan leher beserta kepala akan terlepas dari tubuh bagian bawah.
Tapi aku juga membutuhkanmu hyung...
Kumohon jaga diri!
Bagaimana denganmu?
Terlalu banyak uneg-uneg yang memenuhi kepalanya. Sampai tidak ada satu pun yang terucap. Kyungsoo tidak bisa mengatakannya. Entah mengapa ada beban yang mengunci rapat-rapat mulutnya. Sebagai gantinya, malah air mata yang mengalir turun.
"Sialan!" Suho tahu apa yang terjadi selanjutnya. Wendigo itu memaksa satu tangannya masuk terlalu dalam ke mulut Sehun, tangan abnormal berkuku runcing itu terlalu besar, melesak lebih dalam, terlalu menyakitkan, memenuhi rongga mulut Sehun yang sempit, hanya butuh satu kali gerakan...
Satu kali gerakan...
Jika monster itu berniat membunuh Sehun dengan cara melebarkan jari-jarinya...
Rahang Sehun hancur lebur dalam satu kali gerakan!
Makhluk itu mengeluarkan jari-jarinya, taringnya terbuka dan menancap di leher Sehun.
"AAAAAAAA!"
Suho melompat berdiri lalu mendaratkan satu kecupan kilat di puncak kepala Kyungsoo yang masih termangu. Sebelum akhirnya berlari ke arah belakang. Kyungsoo masih menyesali keadaan. Tidak tau musti melampiaskan amarah kepada siapa. Ini situasi yang sulit.
"KYUNGSOO! BAWA SEHUN!"
Begitulah. Suho tidak memberikannya pilihan lain. Seruan tadi adalah aba-aba baginya untuk segera bangkit. Berdiri dan laksanakan sebagai laki-laki. Berhenti menangis! Hadapi tantangan, tidak peduli resikonya. Komando dari ketua tim mereka itu tidak bisa diutak-atik lagi. Kyungsoo kenal Suho, terlalu mengenalnya sampai-sampai dia hapal kalau Suho tidak akan mundur. Apapun alasannya. Bahkan air mata Kyungsoo sekalipun tidak bisa merubah keputusannya. Mungkin bukan keputusan terbaik untuk memberikan nyawa Sehun ke tangan Kyungsoo seorang diri, tapi ada masalah lain yang menanti di depan sana.
Suho meraba-raba tanah, menemukan batu, dia lempar ke punggung ringkih penuh deretan tulang si monster jelek. Suho meloncat-loncat sambil melambai-lambai. "OIII! KEJAR AKU! MONYET! JAUHKAN TANGANMU DARI DIA! OIII!"
Wendigo itu memutar kepalanya, melotot. Situasinya sangat gawat. Suho bahkan mendengar jantungnya berdebar berisik di dada, sementara dia mengatupkan bibir rapat-rapat untuk menenangkan diri. Makhluk itu terus melotot, meski dia tidak bergerak sedikit pun, lalu berjalan mendekat, sementara matanya yang kusam masih melotot.
"Matt! Ayolah, bung! Aku tahu kau masih ada di sana. Ini bukan dirimu! Kau meninggalkan keluargamu demi... kehidupan ini?! Sehun bukan Rachel. Jadi tinggalkan dia. Biarkan kami pergi..." Mediasi. Hebat sekali! itulah yang dilakukan Suho! Mengajak pembunuh berdarah dingin berdiskusi! Tapi, yang mengejutkan, monster itu hanya berdiri diam, seperti mendengarkan pidatonya. Yang paling mengejutkan lagi, dia tidak menyerang Suho dengan cakar tajamnya.
Ya, ada seseorang di mata kusam ini... yang pernah ada selama bertahun-tahun silam. Seseorang yang mengenal Rachel. Sedikit senyum muncul di bibir Suho. Mungkin tidak perlu ada pertarungan keji—
"GRAAAAAAAAAAAAAA!"
Monster buruk rupa itu menginjak-injak harapannya saat dia mengangkat lengannya dan menampar tubuh Suho, benar-benar kuat.
Suho terlempar dan terseret beberapa meter jauhnya.
"Hyung!" Sehun dan Kyungsoo sama-sama menjerit. Kyungsoo yang paling heboh.
Arrkkk... adududududuh... remuk lagi satu tulang...
"Ukh!" Suho terbatuk-batuk. Efeknya menyakitkan minta ampun, ngilu sebadan, sehingga dia perlu beberapa menit untuk menarik napas dan memulihkan diri. Makhluk itu menjerit, lalu berbalik meninggalkannya.
Kyungsoo segera bertindak, dia menyambar tangan Sehun. Membawanya kabur secepat kilat. Makhluk besar itu mengaum marah. Suho harus segera bertindak. Sebelum kedua orang itu yang berubah jadi target. Tidak! Bukan begitu rencananya!
Dengan hati-hati Suho bangkit kembali, matanya tanpa sengaja melirik mayat berkaki buntung dan berkepala puntung. Entah siapa orang malang yang kehilangan kepalanya itu. Adik mereka bisa saja bernasib sama jika seandainya dia bergerak lamban tadi. Suho menaikkan alis, matanya menangkap sesuatu tersampir di saku jaket pria itu. Bentuknya mirip senjata api yang pernah dia lihat...
Langkah demi langkah, dia bergegas menghampiri si mayat.
"Maaf ya... maaf banget..." Suho bergumam penuh penyesalan sambil merogoh-rogoh saku jaket parka. Setidaknya, kepala orang ini hilang sehingga dia tidak bisa memelototi Suho dan menilai apa yang sedang dia lakukan sekarang.
Suho tercekat takjub, lumayan melotot saat dia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh telapaknya. Berat. Pasti ini pistol flamethrower yang sama. Amazing sekali bentuknya! Dia langsung bersemangat ingin membunuh.
"Keren! Tapi senjata ini berat juga ternyata." Suho bergumam kagum, agak terkejut dengan beratnya. OKE! Sekarang dia siap berkelahi dengan monster! Sayangnya, Suho masih harus menghadapi kegelapan, karena orang itu tidak memiliki senter di sakunya.
"Senang bisa bertemu denganmu, bung." Senyum sang jawara muncul di bibir Suho. Yap, dia bangga pada diri sendiri.
Pistol flamethrower adalah argumen yang bagus. Suho yakin akan memenangkan pertarungan ini. "Come on, Matt! Let's play a game." Satu tangan Suho yang bersembunyi di belakang punggungnya telah bertengger di pelatuk.
Makhluk itu memalingkan kepalanya perlahan. Perhatiannya tercurah pada Suho kali ini.
Suho melebarkan seringai. "Kau dapat salam dari anak-istrimu. Mau dengar?"
Makhluk itu berbalik, Suho berhasil menarik perhatian Matthew sepenuhnya! Tangan Suho berkeringat dingin karena adrenalin yang tersisa di pembuluh darahnya. Paling tidak, tangan dinginnya sangat cocok dengan dinding-dinding beku yang mengurungnya. Pemikiran positif menahan langkah Suho untuk mundur. Pikiran yang berbisik bahwa dia dibutuhkan oleh teman-temannya memberi Suho kekuatan.
"Ini... salam dari mereka... KEMBALILAH KE NERAKA!"
Sinkron dengan kata-katanya, pistol menyemburkan cahaya merah terang seperti bulatan api yang langsung menghantam dada makhluk itu dan memanggang habis tubuhnya. Makhluk itu memuntahkan jeritan kuat, terlihat begitu frustasi dan kesakitan pada saat bersamaan. Kecoak-kecoak lain berdatangan dan menggeram di belakang sana. Suho tidak takut. Dia tau apa yang harus dia lakukan.
"Show time."
.
.
.
.
Mereka dikuasai oleh hasrat keji. Psikopat tanpa kenal ampun. Makhluk yang senang menyaru menjadi bayang-bayang pepohonan. Pembunuh berdarah dingin. Kanibal yang diam-diam selalu mengintai dalam kegelapan, menunggu untuk bisa merobek kulit mangsanya. Dan karena Suho telah membunuhnya, sebuah jiwa terlepas, roh iblis pemarah itu berputar-putar menubruk dinding terowongan gelap nan panjang, melesat ke gunung seperti angin yang jahat, menunggu untuk merasuki tubuh manusia-manusia berjiwa lemah lagi.
Seluruh gua seperti terguncang. Makhluk-makhluk lainnya menggeram bersamaan, memperlihatkan deretan gigi kuning kusam dan taring-taring panjang.
Sehun dan Kyungsoo diselubungi kegelapan yang pekat. Tanpa melihat pun mereka bisa merasakan sesuatu berpindah dan bergerak cepat di sekelilingnya. Angin dingin berhembus di tengkuk, meniup bulu kuduk hingga berdiri. Mereka juga mendengar suara kaki diseret-seret di lantai gua yang keras. Semakin dekat. Semakin dekat.
Tangan dingin Kyungsoo menarik pergelangan tangan namja tinggi itu, mereka berlari menembus kegelapan. Kelihatannya berlari tanpa arah, karena mereka sendiri bingung dimana letak jalan keluar. Atau memang tidak ada?
"Lari! Lari!" Kyungsoo memekik nyaring. Sorot matanya liar. Napasnya terengah-engah.
Sehun terseok-seok di belakang, meringis tersiksa sambil mempercepat langkah, berusaha keras menyamai kecepatan kaki Kyungsoo. Tangan Kyungsoo yang dingin masih menggenggam erat tangan Sehun. Sampai terasa menyakitkan dan menjepit pori-porinya.
"Lari! Lari!"
Tanpa henti dia meneriakkan kata itu.
"Lari! Lari!"
Sehun mendengar langkah-langkah cepat, suara keresak panik seolah-olah binatang kecil berlari tergesa-gesa di atas dedaunan. Tiba-tiba sesosok makhluk muncul cepat di depannya. Kyungso berkelit ke samping, semakin merapat pada tembok. Otot-otot tubuh Kyungsoo tegang semua, ditariknya napas dalam-dalam. Suara-suara aneh saling bersahutan, memekakkan telinga, Kyungsoo tidak kepingin tahu siapa itu atau darimana asalnya. Dia hanya ingin berlari. Berlari. Terus berlari.
Ada yang berdiri menghadang mereka, dengan tinggi dua meter lebih, kurus kering mengenaskan. Keduanya nyaris menjerit. Makhluk yang menyerupai wanita itu balas menatap Kyungsoo dan Sehun dengan sepasang matanya yang dingin. Beberapa helai rambut hitam panjangnya yang masih tersisa seolah-olah ditiup angin, membingkai wajahnya yang sudah rusak dan busuk. Seringainya menampakkan sederatan gigi kuning yang tajam. Segumpal daging terkelupas dari pipi kirinya. Tulang berwarna kelabu mengintip dari balik daging merahnya. Kukunya yang kuning-kuning melengkung seperti cakar burung kenari.
Yang ini masih separuh manusia. Manusia zombie dalam film-film. Sehun mengarahkan semprotan api ke arahnya, makhluk itu berteriak, meloncat mundur dan menghilang ke dalam bayang-bayang.
Dua sosok berwajah buruk dan pucat meregangkan tangan, memutar kepala mereka, merangkak dari langit-langit, meloncat ke bawah tumpukan drum-drum kayu yang berdebu.
Kyungsoo menyeret tangan Sehun mengambil jalur kiri. Menelusuri rel tua panjang, berlari di sisinya agar tidak tersandung, besi-besi rel yang mencuat.
Kedua makhluk itu kembali meregangkan tangan. Yang satu laki-laki, yang satu baju terusannya compang-camping, sepertinya perempuan. Kulit mereka tipis sekali hingga tulang-belulang di baliknya kentara. Mata mereka kuning, terbenam dalam-dalam di dalam rongganya yang gelap. Bibir mereka pecah-pecah dan berwarna pucat.
Semua makhluk ini kelihatannya belum terlalu mengalami metamorfosis sempurna. Masih ada bentuk-bentuk manusia yang bisa dipakai untuk membedakan jenis kelamin. Si perempuan berteriak parau. Suaranya sekering keresak dedaunan yang telah mati. Mengejar dua orang itu, kuku-kuku cakarnya menggores tepi rel, dia memanjat ke tembok dengan cara merangkak seperti laba-laba.
Dua sosok jelek memanjat keluar dari balik celah-celah pilar batu. Dua-duanya laki-laki. Rambut mereka kering seperti jerami putih. Di mulut mereka tampak seringai menakutkan. Mereka melompat berdiri, meregangkan tubuh, mengerang seolah-olah mereka tak pernah bergerak selama ratusan tahun.
Napas Sehun kembang-kempis. Jantungnya memukul-mukul dada, memberontak, mencoba keluar dari dalam sana dan meninggalkan raganya.
Kyungsoo terkesiap saat menoleh ke kanan...
Apa itu yang bertengger di ujung tongkat itu?
Kepala... manusia?!
Dia membuka mulut dan berteriak histeris saat mengenalinya.
Kepala Paman Frans?!
Perutnya terasa mulas. Lehernya tercekat. Pening, pusing, dia buru-buru menyerbu pintu yang membentang terbuka di dinding seberang. Berjuang keras untuk bernapas, dengan jantung berdentam-dentam dan telunga berdengung, dia memaksa dirinya berlari kencang. Mencengkram tangan Sehun dan berlari semakin jauh. Makin kesini mulut-mulut gua semakin sempit, lorongnya semakin pengap, belum lagi dia takut tersandung batu. Entah kemana arah kaki membawanya. Tidak ada waktu untuk berpikir.
.
.
.
.
Kris dan Chanyeol melangkah ke dalam lubang persegi kecil yang tersusun dari potongan batu. Membungkuk rendah, lalu melalui satu terowongan sempit yang tanahnya miring dan menurun.
Kris memimpin di barisan depan, menyinari tanah dengan senter halogen terang di jidatnya. Lantai terowongan terasa lembut dan berpasir ketika diinjak. Hawanya juga dingin dan lembap.
"Dinding granit," kata Kris, berhenti untuk mengusap langit-langit terowongan yang rendah dengan satu tangannya. Maklum, mereka tingginya keterlaluan, tidak perlu susah payah berjinjit kepala mereka sudah kepentok di langit-langit. "Semua terowongan terbuat dari batu kapur." Dia mendekati pilar batu yang permukannya kasar, memberi tanda silang
Suhu tiba-tiba turun. Udara terasa lebih lembap.
Chanyeol hanya terdiam mengamati sekeliling.
"Kalau kau takut kita bisa kembali," saran Kris.
"Aku baik-baik saja," sahut Chanyeol cepat, tak lupa tersenyum riang.
Terowongan itu berkelok-kelok, kemudian bercabang menjadi dua terowongan. Kris masih memimpin di depan, berhenti sebentar untuk meninggalkan satu tanda, kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan, melalui terowongan di sebelah kiri yang begitu sempit hingga mereka harus mengerutkan tubuh supaya bisa lewat, jalan agak serong ke samping, kepala menunduk dalam-dalam, melangkah perlahan-lahan menyusuri jalan panjang dengan langit-langit yang rendah, sampai terowongan itu melebar ke dalam satu ruangan besar berlangit-langit tinggi.
Chanyeol meregangkan kedua tangannya lebar-lebar karena lega. Rasanya tidak enak sekali meringkuk di tempat sempit begini. Sensasinya mirip hamster gendut yang terjebak di lorong warna-warni.
Mereka menatap sekeliling ruang besar itu.
Sepatu mereka berderak di lantai berpasir. Kris melihat terowongan lain yang menuju ke kanan, kemudian terowongan lain di sebelah kiri.
"Hyung, kau yakin ada ruang staf atau apapun di sekitar sini?" tanya Chanyeol. "Ini gua tambang kan? Harusnya ada ruangan yang dipakai para pekerja terdahulu untuk duduk-duduk santai sambil nonton TV atau main billiard."
Kris mendengus. "Kau pikir ini hotel bintang lima? Ruangan monoton untuk para pekerja barangkali ada."
"Kau yakin ini jalan yang benar?"
"Aku yakin ini jalan yang benar."
Chanyeol mencibir. "Yakin sekali."
"Kalau tidak ada kita kembali ke terowongan awal. Hidup itu jangan dibikin susah. Tunggu, aku harus memberi tanda." Kris mendekati salah satu sisi tembok, lalu menggambar tanda silang besar-besar.
Bulatan-bulatan cahaya dari kepala mereka bergerak menyapu dinding.
"Pokoknya aku tidak yakin sebelum kita menemukan peta lokasi jelas di dalam tambang ini," tandas Chanyeol.
"Kalau gitu mari kita temukan petanya," sahut Kris enteng.
Gua itu menyempit, lalu menikung. Sayup-sayup mereka mendengar bunyi berdecit-decit. Arahnya berasal dari depan. Ada bunyi tetesan air di dekat mereka. Terowongan itu membelok, lalu tiba-tiba melebar lagi dan berakhir di suatu ruangan besar.
Bunyi berdecit tadi terdengar lagi, langkah Chanyeol mendadak terhenti. Kemudian terdengar bunyi mengepak-ngepak, mengibas-ngibas. Semakin lama semakin keras.
"Bunyi apa itu?" Chanyeol celingukan panik. Intonasinya yang meninggi memantul-mantul di dinding gua.
Sebelum Kris sempat menyahut, bunyi itu makin lama makin menyakitkan telinga. Datangnya dari atas.
Mereka melirik hati-hati ke atas dan melihat langit-langit gua yang hitam runtuh dan menimpa kepala mereka.
"AHHH!"
Chanyeol spontan berteriak sambil tiarap di lantai gua yang basah. Secara naluriah dan spontan melindungi kepalanya dengan kedua telapak tangan. Dia menunggu. menunggu tubuhnya diremukkan beton-beton batu karang. Bunyi hiruk pikuk di atas kepalanya seakan berputar-putar. Kemudian terdengar siulan nyaring yang melengking tinggi. Jantungnya berdebar-debar ketika dia memberanikan diri untuk mengintip. Seketika matanya melotot. Ribuan kelelawar terbang di atas kepala mereka.
Bukannya takut Kris malah cengar-cengir meledek.
Sialan.
Ribuan kelelawar hitam terbang mondar-mandir, mengepak-ngepakkan sayap, menukik. Langit-langit gua ternyata masih utuh. Tidak roboh menimpanya.
Rupanya tanpa sengaja mereka membangunkan kawanan kelelawar itu. Kini mereka mendesis-desis sambil terbang rendah.
"Hyung! Awas kepalamu disambar!" pekik Chanyeol.
Kris tetap senyam-senyum kalem. "Ayo," katanya sambil menunduk meraih tangan Chanyeol yang masih tiarap. "Nanti lehermu digigit. Aku tidak mau pacarku yang imut berubah jadi drakula."
"Ha-ha, alangkah lucunya." sindir Chanyeol.
Mereka terpaksa berjalan sambil merunduk karena kawanan kelelawar itu terbang rendah.
Keduanya menuju dinding belakang gua. Lalu memasuki terowongan lainnya yang juga meliuk-liuk. Saat melalui celah sempit, Chanyeol merapatkan punggung ke dinding terowongan, dan maju sambil meraba-raba. Kris terus menggenggam tangannya yang satu lagi, yakin mereka sudah dekat.
Terowongan itu berakhir di sebuah ruangan yang kira-kira sama besarnya dengan ruangan pertama.
Keheningan yang meliputi tempat itu terasa mencekam. Tak ada yang bergerak. Tak ada yang berbicara. Satu-satunya bunyi yang bergema adalah angin yang masuk dan terpantul melalui dinding-dinding batu di kepala mereka.
Chanyeol memejamkan mata, membayangkan sepasang anak kecil. Anak-anak yang jadi korban penculikan. Para korban hilang yang nyawanya berakhir sia-sia. Mereka bingung, gelisah dan ketakutan. Berusaha bernapas dengan tenang di ruangan yang kelam ini. Lalu makhluk-makhluk yang belum pernah mereka temui seumur hidup tiba-tiba menyerbu dan membantai mereka, tanpa menyisakan apapun.
Di ruangan ini.
Di ruangan tempat mereka sedang berdiri sekarang.
Chanyeol membuka mata. Mendapati Kris memandang dengan sorot tajam ke arahnya, wajahnya juga tegang.
"Ada apa?" bisiknya.
Chanyeol menggeleng pelan. "Aku baru saja berandai-andai."
Untungnya Kris sedang tidak mood untuk banyak bertanya, hanya melayangkan satu tangan ke pundak Chanyeol, mendekap lebih erat. Seolah-olah dengan begitu dia bisa membuat sang kekasih merasa lebih terhibur.
"Apa hyung lihat susunan batu-batu besar yang tergeletak di samping mulut gua?" tanya Chanyeol.
Kris mengangguk. "Lihat."
"Menurutmu apa yang terjadi dengan para penambang itu? Kenapa mereka tidak keluar saja? Toh ada jalan keluar terbuka lebar di depan mata mereka. Kenapa memilih berdiam diri di dalam gua yang gelap tanpa cahaya matahari? Kenapa malah menunggu akal sehat pergi dari kepala mereka? Kenapa mereka tidak keluar saja? Bukankah mereka punya peralatan?"
Kris terdiam, berpikir keras. Memang sih tadi dia sempat melihat susunan batu-batu besar di sekeliling mulut gua. Bongkahan batu-batu putih berukuran raksasa itu beratnya paling tidak sekitar seratus kilogram. Terasa sangat pas dipakai menutupi mulut gua. Siapapun akan terperangkap di dalam untuk selama-lamanya.
"Hm... kok aku malah berpikir posisi batu-batu besar itu sebelumnya tidak begitu."
"Maksudmu..." Garis kerutan jidat Chanyeol bertambah satu. "Ada yang memindahkan batu-batunya dari pintu masuk?"
Kris mengedikkan bahu. "Mungkin, aku cuma asal menebak-nebak saja sih. Kalau memang... ada jalan keluar... misalkan nih ya, misalkan saja, batu-batu tadi tidak menghalangi akses jalan keluar satu-satunya, apa kira-kira tambang ini punya masa depan cerah? Inilah jawabannya. Bisa kau saksikan."
Cukup masuk akal, pikir Chanyeol.
"Jadi maksudmu sebelumnya gua ini...?" Chanyeol bersusah payah mengubek-ngubek otaknya. Menelaah satu pemikiran dari bukti. "Gua ini pernah tertimbun, lalu.. entah kenapa sekarang bebas dimasuki siapa saja?"
"Kira-kira begitu," sahut Kris.
"Apa itu perbuatan disengaja?"
"Disengaja?"
"Reruntuhan batunya? Disengaja atau faktor alam?"
Kris berdecak. "Ya mana kutahu. Aku 'kan bukan produk jaman dulu. Aku berani sumpah aku belum lahir waktu Mammoth masih merajalela wara-wiri di muka bumi."
"Lalu—"
"Intinya mari kita sama-sama mencari jawaban riil-nya dulu, oke?" sergah Kris. "Diskusinya kita lanjutkan nanti. Terlalu sulit kalau cuma modal berandai-andai terus."
Chanyeol menarik napas dalam-dalam dan menahannya. Kemudian, perlahan-lahan, mereka lanjut jalan lagi menyusuri terowongan.
"Kita menghirup udara berusia empat ratus tahun," celetuk Kris, menunduk menjaga senternya terarah ke lantai.
Fuaaaah! Hembusan angin topan mini keluar dari mulut Chanyeol. "Aku suka udara empat ratus tahun. Really. Baunya mirip telapak kaki mumi yang diawetkan."
Kris terkekeh kecil. "Bagus. Tetap begitu ya. Supaya kita tidak terlalu tegang."
Udara benar-benar berbau kardus tua. Semacam aroma berat dan pengap. Seperti loteng rumah yang jarang dibersihkan. Terowongan yang mereka lalui sedikit melebar, lalu melengkung ke kanan. Sesekali Kris berhenti untuk membuat tanda silang. Katanya dia berasa seperti Hansel dan Gretel yang mencoba bersembunyi dari komplotan penyihir.
"Bukan kompolotan penyihir," ralat Chanyeol. "Komplotan pemakan daging."
"Ssst! Jangan disebut-sebut, nanti yang kalau mereka berdiri di belakangmu, gimana?"
Bahu Chanyeol melorot. "Hyung, jangan bikin aku takut."
Cowok itu malah ketawa.
Selanjutnya mereka melalui terowongan sempit, lalu mengikuti terowongan lebar di sisi kiri. Memasuki terowongan yang melengkung ke kanan. Udara bertambah sedikit lebih hangat. Baunya apek, seolah-olah ada orang yang telah merokok di sana. Dinding-dindingnya kosong. Cahaya senter di kepala Chanyeol memindai seluruh lantai. Agak keras di sini, kurang berpasir.
Mereka tiba di ruangan yang lebih luas dan lapang. Ada semacam tongkat kayu tergantung di tembok. Kris menyorotinya. Oh, bukan tongkat ternyata. Obor!
Dia mengeluarkan korek dari dalam tas, menyalakan semua obor hingga ruangan itu terang benderang. Saatnya memadamkan senter.
"Wow..." Chanyeol tercengang kagum. "Lihat tempat ini."
"Yap," Kris berkacak pinggang ikut mengamati. "Pasti jaman dulu pusat aktivitas manusia-manusia sibuk."
Sebenarnya yang mereka lihat adalah gua tambang biasa pada umumnya. Dengan lampu-lampu minyak tanah super kuno yang sudah kadaluarsa, generator raksasa yang beralih fungsi jadi pajangan, alat-alat penggali dan pencungkil, sekop-sekop karatan tanpa tuan. Tertancap di beberapa tumpukan batu besar dan reruntuhan. Chanyeol memeriksa salah satu ruangan yang kemungkinan besar ruangan para pemantau atau mandor di lapangan. Ada beberapa macam tombol-tombol, panel-panel dan kabel-kabel elektronik dalam kotak logam besar dan datar. Terlihat seperti versi nenek moyang dari komputer. Iseng-iseng dia pencet satu tombol. Tidak ada yang bergerak. Mungkin sudah korslet. Begitu berbalik, dia melihat satu lemari kayu berisi helm jadul. Chanyeol menyambar satu helm penambang, lalu dia pakai di kepalanya.
"Hyung!" seru Chanyeol, lalu berpose. Kedua tangan di pinggang. "Gimana? Apa aku tambah keren?"
Kris geleng-geleng, sudut bibirnya berkedut menahan tawa. "Kau mau dengar pendapatku?"
Chanyeol manggut-manggut antusias.
"Menurutku kau mirip bocah dengan helm pekerja tambang yang sudah mati."
Chanyeol merengut. "Dasar perusak suasana. Kau cuma iri karena aku lebih tampan darimu."
Kris mencibir angkuh, angkat dagu tinggi-tinggi. "Aku tidak mau membantah. Karena yang barusan itu fitnah nyata."
Chanyeol melet-melet super kilat. Kemudian kabur ke ruangan berikutnya.
Saat melongok ke dalam, dia langsung mengenali ruangan itu sebagai ruang peristirahatan. Dia menghampiri sebuah ranjang kayu rendah yang menempel ke sisi dinding. Di sebelahnya ada kursi kayu berkaki tiga yang sengaja disandarkan ke dinding hingga tampak sangat kokoh untuk diduduki. Hanya ada dua perabotan di kamar sempit ini.
Membosankan, pikir Chanyeol.
Apakah salah seorang pekerja pernah duduk di ranjang itu? Dia mulai bertanya-tanya dalam hati. Apa saja yang mereka bicarakan di waktu luang? Apakah mereka berbicara tentang hal-hal yang bakal mereka kerjakan setelah bebas? Setelah mereka pulang ke rumah?
Miris kalau mengetahui bagaimana nasib mereka. Bukannya pulang untuk menemui keluarga. Malah...
Chanyeol mengampiri ranjang dan menyentuhnya. Ternyata keras sekali. Astaga... dia jadi semakin bersimpati. Kasur keras, tidak ada hiburan. Sempurna sekali hidup mereka.
Goresan-goresan hitam di dinding menarik perhatiannya. Tulisan? Mungkinkah salah seorang dari mereka sengaja meninggalkan pesan?
Dia membungkuk untuk mengamati goresan-goresan bekas cakaran kuku jari manusia yang tumpul, memicingkan mata. Entahlah, apa ini betul-betul digores oleh kuku atau dipahat... karena ada sedikit noda merah kering.
Darah?!
HURT.
Chanyeol mengernyit. Apa? Apa yang menyakitkan?
Dia menyalakan senter di kepalanya, menyoroti semua dinding. Tulisan-tulisan lain memenuhi dinding kusam nan kotor ini. Pesannya sama. Singkat saja. Tapi Chanyeol cukup merinding membacanya.
HURTHURTHURTHURTHURT
HURT!
Apa-apaan...
Satu napas tegang lolos dari mulutnya. Kedua matanya terbelalak.
Dia berdiri. Di sebuah kamar sempit. Dikelilngi pesan membingungkan dari masa lalu. Dipahat menggunakan kuku jari manusia. Entah apa maksudnya.
Satu tepukan di pundak membuat Chanyeol terlonjak.
"Hei, aku sudah menemukan peta. Ayo pergi..." Alis Kris berkerut menyadari reaksi Chanyeol. "Kenapa?"
"Coba baca sendiri," tangan Chanyeol menunjuk berkeliling. "Bisa kau bayangkan? Ini semua digores menggunakan kuku."
"Oh ya? Apa yang membuatmu yakin?"
Chanyeol menunjuk noda merah kehitaman yang mengering dan membentuk pola aneh. "Ini darah pasti. Jelas saja rasanya menyakitkan."
Kris mengusap-usap dagunya, menghela napas. "Kalau menurutku... siapapun orang ini... curhatan yang dia tulis di tembok ini bisa jadi... entahlah, pengalihan?"
"Pengalihan dari apa?"
"Rasa sakit." jawab Kris, tidak yakin dengan dirinya sendiri. "Iya kan? Sama seperti para tahanan ketika bosan. Mencorat-coret tembok penjara bisa jadi pengalihan yang bagus untuk menekan rasa jenuh."
Sesuatu di kepala Chanyeol segera terhubung dengan analogi Kris. "Itu berarti... orang yang membuat pesan ini sedang menderita?" tebaknya.
"Mungkin."
Chanyeol mendongak, menatap berkeliling sekali lagi. Pikirannya penuh dengan prasangka. Mencoba menyelami masa lalu yang tersimpan rapat-rapat di balik ranjang kayu usang itu, atau di kursi tiga kaki itu, serta dari tulisan yang memenuhi keempat tembok bau debu ini.
"Pertanyaan berikutnya..." Chanyeol garuk-garuk kepala. "Rasa sakit karena apa?"
"Kedinginan?" sahut Kris. Benang-benang di kepalanya langsung tergulung-gulung dalam jalinan rumit. "Mereka terjebak di sini, kelaparan, sakit-sakitan, mungkin salah satunya meninggal. Lalu yang lain frustasi, kemudian..." Kris berhenti. Pupil mata Chanyeol melebar, pengetahuan baru saja menghantamnya. Mereka akhirnya mencapai satu pemikiran.
"Hunger games..." Chanyeol menyeringai. "Hunger games!" serunya.
Kris memutar mata. "Chanyeol..."
"Ssst!" telunjuknya menabrak bibir Kris dengan sengaja. "Dengar dulu. Tidakkah kau berpikiran sama? Apalagi mereka punya peralatan. Daripada repot-repot menggali jalan keluar, butuh bertahun-tahun, mereka keburu mati kelaparan, lebih baik ambil jalan pintas tercepat menuju kesembuhan, bacok saja orang yang ada di sampingmu. Hunger games!"
"Bukan itu muncul di kepalaku, tapi... boleh juga." Kris menggangguk-angguk memaklumi. "Mereka harus bertahan hidup. Setidaknya sampai bala bantuan datang."
"Yang sayangnya tidak pernah datang," sambung Chanyeol berapi-api. "Karena seseorang mungkin menyebar pesan kalau para pekerja itu telah mati tertimbun reruntuhan di dalam gua."
Udara bertambah dingin. Cahaya remang-remang berwarna kekuningan menerangi pelataran kecil tepat di luar pintu. Suara angin terpantul melalui dinding, menimbulkan gema yang cukup riuh. Pusaran angin mengangkat debu dan tanah, yang kemudian menerpa wajah. Keduanya kompak memejamkan mata. Api-api dari obor di tembok bergerak-gerak gelisah. Nyaris padam tertiup hembusan angin kuat yang menerobos tiba-tiba ke dalam gua.
Mereka mendengar suara langkah. Langkah berat.
Chanyeol spontan meraih tangan Kris. "Siapa itu?" bisiknya lirih.
Suasana kembali hening.
Baru saja Chanyeol hendak menghembuskan napas lega, ketika dia mendengar suara lain. Mirip suara garukan.
Kedua orang itu menunggu dalam diam. Mendengarkan.
Garukan. Garukan. Garukan keras di tembok.
Suara langkah kaki. Suara langkah kaki pelan. Langkah-langkah kaki itu menuju ke arah mereka.
"Siapa—"
Mulutnya dibekap Kris. Cowok itu menggeleng samar, sebagai isyarat untuk diam.
Garukan. Garukan. Garukan.
Suara garukan pelan diiringi langkah kaki mendekat.
Siapa pun itu... atau apa pun itu... terus bergerak ke arah mereka.
Chanyeol mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Dia mencoba berteriak, tapi mulutnya masih terkunci tangan besar Kris. Lengannya gemetar, dan kedua tungkai kakinya terasa seberat ribuan pon. Tangan kanannya mencengkram kain di lengan Kris makin kuat.
Suara garukan itu semakin keras. Makin dekat.
Dan kemudian seluruh obor serentak diterpa angin kencang. Obor-obor itu berkelap-kelip, lalu padam. Seketika mereka diselubungi kegelapan yang pekat.
Apa ada yang mengikuti? Apakah sesuatu itu mengejar mereka sampai ke sini?
Chanyeol menahan napas. Mendengarkan.
Suara garukan kembali terdengar. Seperti decitan benda tajam yang sengaja digores sepanjang permukaan dinding gua.
Hening. Yang terdengar hanya suara langkah yang terus mendekat.
Chanyeol mencengkram lengan baju Kris makin kuat. Seolah-olah hendak merobeknya.
Ketika sosok gelap itu muncul di ambang pintu, Chanyeol kontan berseru kaget. "Oh!"
Dia melihat bayangan kepala hitam, disusul kemudian bahu yang gelap, diikuti dengan dada yang lebih gelap. Bayangan itu berdiri di pintu. Satu bayangan bisu... berdiri di sana...
Laki-laki itu tinggi besar, mengenakan mantel hitam dan topi lebar, sebagian wajahnya tersembunyi dalam kegelapan. Tapi matanya membara.
"Siapa itu?" Kali ini suara Chanyeol jauh lebih kecil dari tiupan angin. Dia tergagap. "S-siapa kau?"
Orang berpakaian hitam-hitam itu tidak menyahut. Tidak bergerak juga. Chanyeol berusaha melihat wajahnya. Namun tampang pria itu terselubung bayangan dari pinggiran topinya.
Chanyeol menarik napas dan mencoba sekali lagi. "Siapa kau?!"
Sekali lagi orang itu hanya diam. Dan terus menatap dengan pandangan mengancam. Chanyeol menyadari bedebah hitam ini begitu besar. Seluruh celah pintu terhalang oleh badannya.
"Sir—?" Chanyeol kembali angkat bicara. Tapi orang itu mengangkat sebelah tangan. Tangannya besar sekali, dan terbungkus sarung tangan berwarna hitam, jari telunjuknya terangkat lurus, menuding ke satu titik di belakang mereka.
Chanyeol menoleh dengan sikap ragu-ragu. Jantungnya serasa berhenti. Ada apa sih? Kenapa orang itu menunjuk ke—HEI! Kemana perginya bapak-bapak berjubah hitam tadi?
"Hyung!" disikutnya lengan Kris penuh dendam. Cowok ini juga daritadi kenapa diam saja? Malah berubah jadi patung bisu. "Kau lihat bapak-bapak seram yang barusan?"
Kris mengerjap-ngerjapkan mata. "Bapak-bapak seram apa?"
Lho kok...? Kris tidak lihat? Berarti cuma...
Cuma aku yang melihatnya!
Pikiran itu terlalu mengerikan sehingga Chanyeol tidak berani mengutarakannya pada Kris.
"Kenapa kau ketakutan?" tanya Kris, tapi sorot matanya datar dan tanpa ekspresi. Dia memang sering begitu. Buktinya waktu lihat kelelawar tadi juga tenang-tenang saja. Makanya Chanyeol tidak heran atau curiga sama sekali.
Ekspresi Kris tak berubah. Dia terus menatap. Dalam cahaya redup lorong, wajahnya jadi tampak... beku? Ha-ha. Pikiran tolol! Ngaco! Ini gara-gara mereka habis main Midnight Man. Yang tadi itu ilusi optik. Chanyeol mencoba menghibur dirinya sendiri. Sudah jelas kan? Permainan telah usai. Jadi apa alasan makhluk itu meneror mereka?
"Hyung, ayo k—" Chanyeol mengernyit bingung, orang yang ditariknya tidak bergeser seinci pun, tetap membatu di tempat. Feeling-nya mulai tidak enak. Chanyeol menoleh. Dalam hitungan detik kegelapan melanda penglihatannya saat tangan Kris terangkat dan menyambar wajahnya.
.
.
.
.
Chanyeol tersentak bangun karena kaget sambil terbatuk-batuk, lehernya serasa dicekik. Dia meraup oksigen sebanyak mungkin. Pweh! Tidak enak. Bau debu!
Butuh beberapa detik untuk menyadari dia baru saja bangun dari ranjang kayu keras.
Hah? Sejak kapan dia tertidur? Sempat-sempatnya! Kris kemana pula? Keasikan menjelajah? Atau jangan-jangan... dia ditinggal?!
Chanyeol berdiri terengah-engah. Wajahnya terasa panas. Dia melirik ke pintu, tiba-tiba takut sosok gelap tadi akan muncul di sana seperti dalam mimpinya.
Mimpi. Yang tadi itu mimpi buruk yang bodoh sekali, pikir Chanyeol. Menggeleng kuat-kuat berusaha menghilangkannya dari ingatan. Lalu dia membersihkan sisa-sisa debu yang menempel di bajunya. Chanyeol mengambil napas dalam-dalam, membiarkannya keluar perlahan-lahan. Hanya mimpi, dia meyakinkan diri sendiri. Tenang, Chanyeol. Itu hanya mimpi.
Kris mengintip di pintu. "Tok-tok-tok, aku tadi menemukan—" Dia mesam-mesem. "Selamat pagi, putri tidur. Gimana? Sudah selesai coba-coba kasurnya? Mau dibungkus atau digendong di punggung?"
Chanyeol tergoda untuk menceritakan mimpi buruknya yang menakutkan. Tapi, sebaliknya, dia malah mengurungkan niat dan bertanya. "Apa yang kau temukan?"
"Peta." Satu gulungan terentang di tangannya, berubah menjadi kertas persegi yang lebar. "Nih. Kalau ada ini lebih gampang penelusuran kita."
Curiga. Itulah yang dilakukan Chanyeol. Menyipitkan mata curiga.
Kris mendengus geli. "Kok bengong? Masih kurang tidurnya?"
Perasaan lega mengguyur kepala Chanyeol bagai air dingin segar. Setidaknya Kris yang ini beda jauh dari robot kaku dalam mimpinya.
"Maaf ya. Aku tadi batal membangunkanmu, habis tidak tega. Kelihatannya kau capek sekali."
Chanyeol tersenyum canggung. "Tidak apa-apa. Aku..." Ada satu lagi hal yang mengganjal pikirannya.
"Hm?" Kris menatapnya serius. "Ada masalah?"
Dia buru-buru menggeleng. "Lupakan. Berikutnya, kemana tujuan kita?"
Setelah menelusuri berbagai kemungkinan, yang selalu berujung pada jalan buntu, mereka sampai di sebuah terowongan dengan satu lubang lagi menuju ke bawah. Cahaya senter di kepala Kris melesat di atas sebuah lubang gelap di lantai.
"Itu tujuan kita berikutnya," kata Kris. Lalu dia mendekat dan berlutut di sisi lubang. Bau tidak sedap menyerang lubang hidungnya. "Ugh!" Dia mengibas-ngibaskan tangan. "Bau sekali!"
Chanyeol berlutut di sampingnya. "Tidak mungkin Sehun ada di bawah sana." Belum apa-apa dia sudah ngeri duluan.
"Kalau kau makhluk kanibal yang suka tinggal di kegelapan, kemana kau akan membawa mangsa-mangsa buruanmu?" todong Kris. "Ini sepertinya tempat yang cocok untuk menyimpan persediaan makanan atau apapun istilahnya." Kris beralih ke dua pasak kayu yang tertancap di pinggiran lubang. "Aku tau kegunaannya. Tunggu sebentar ya, tadi kayaknya aku lihat tangga tali di kantor. Biar kuambil."
Kris melesat pergi.
Chanyeol membungkuk di atas lubang dan mengintip ke bawah, mengamati dasarnya yang gelap dan menguarkan aroma bangkai.
"Huek!" Chanyeol tutup hidung. Tidak mempan. Baunya masih menusuk. Dia mendengus berkali-kali untuk mengusir baunya. Tidak mempan juga. Terlalu gawat polusi udara ini! Kenapa sih Kris serba nekat daritadi? Chanyeol jadi tidak enak mau kabur. Kasihan cowok itu nanti keluyuran sendirian. Bagaimana kalau salah satu dari makhluk itu menculiknya juga?
"Jangan terlalu lama melongok ke bawah," saran Kris dari belakang. "Itu mungkin akan membuatmu pusing, dan kau bisa jatuh."
"Terima kasih sudah menghiburku," kata Chanyeol sambil memutar mata. "Aku akan turun duluan."
Terus terang, dia lelah sekali melihat akting Kris yang begitu sombong, tukang ngatur, sok tegar, dan sok berani. Dia putuskan untuk unjuk kebolehan. Chanyeol ingin membuktikan kalau dia juga berani.
"Tidak, biarkan aku turun dulu." tahan Kris sambil mengikat kedua ujung tangga tali pada pasak payu. Menyimpulnya kuat-kuat. "Setelah aku sampai di bawah, aku akan menyorotkan sinar ke atas supaya turunmu lebih gampang. Lagipula, aku bisa berjaga-jaga, siapa tahu kau terpeleset nanti. Siapa tahu..."
Chanyeol putar mata lagi. "Terima kasih atas doamu."
Kris menepuk kepala Chanyeol, kemudian mulai turun pelan-pelan meniti tangga tali.
Tangga tali itu tidak stabil. Berayun bolak-balik ditumpangi berat badannya. Hati-hati, Kris menjulurkan satu kaki ke bawah, lalu satu kaki. Begitu terus secara bergantian.
"Jauh sekali rupanya," Chanyeol bergumam pelan.
Kris tidak menjawab. Dalam cahaya senter halogen, Chanyeol bisa melihat ekspresi kekhawatiran cowok itu begitu jelas. Dia menggigiti bibir bawahnya saat kedua kakinya tiba di darat. Kentara sekali gugup berat. Ha! Bisa cemas juga ternyata! Entah kenapa Chanyeol gembira.
"Oke, aku sampai. Kau berikutnya," panggil Kris dari bawah sana. Sejurus kemudian matanya jelalatan. Sekarang raut mukanya pucat pasi. Rahangnya terbuka. "Ya Tuhan. Lihat semua ini..."
Chanyeol melongok lebih dekat ke lubang. "Apa? Apa yang kau lihat? Tidak terlalu kelihatan dari atas sini. Apa kau menemukan Sehun?"
Bukannya menjawab, dia malah ngeloyor pergi.
"Heeeeei!" seru Chanyeol protes. "Setidaknya tunggu aku turun kek!"
Kris muncul lagi. "Oh, sori lupa. Habisnya aku terlalu bersemangat."
Chanyeol berbalik, mengayunkan satu kaki ke tangga tali, disusul satu kaki lagi, tapi begitu tangan kanannya meluncur turun, dia terperanjat, mengaduh kesakitan.
Tali itu tidak mulus. Tali itu kasar dan melukai telapak tangannya. Tikaman tajam itu membuatnya nyeri. Chanyeol mengangkat tangan untuk memeriksanya. Sebelum dia sadar apa yang terjadi, badannya mulai oleng dan keseimbangan kedua kakinya goyah. Dia menggapai-gapai cepat di udara, meraih lempengan besi. Badannya tersentak kembali ke tangga.
"Wow..." desahnya lega. Menunggu jantungnya berhenti berdebar-debar. Chanyeol memejamkan mata dan terus begitu selama beberapa saat, meremas tali sampai tangannya merah.
"Sial! Berhenti menakut-nakutiku! Hampir saja!" umpat Kris. "Pelan-pelan makanya. Tidak perlu buru-buru. Pindahkan tanganmu seirama dengan kaki, jangan digeser."
"Oke, oke," ucapan Chanyeol keluar bersamaan dengan helaan napas tegang. Dia kembali menarik napas dalam-dalam. Menikmati momen dimana dirinya baru saja lolos dari tangan maut. Kemudian, perlahan-lahan dan berhati-hati, cowok jangkung itu kembali menyusuri tangga tali yang panjang.
Kris segera menangkapnya di bawah. "Selamat datang. Untung kau tidak jatuh tadi."
Tatapan Chanyeol fokus pada suasana mati di depannya. Tubuh-tubuh manusia digantung dan ditancapkan pada benda tajam yang mirip jangkar kapal. Gumpalan daging hitam setengah membusuk berceceran dimana-mana. Dinding-dinding penuh bercak-bercak darah. Tumpukan tulang di sudut sana. Ada kepala manusia yang matanya melotot dan mulutnya dibiarkan menganga. Ketahuan sekali meregang nyawa dengan cara tidak wajar. Chanyeol bahkan mengira dirinya lagi-lagi tersesat dalam mimpi buruk.
"Haloooo." Kris menjentikkan jari di depan hidung mancung Chanyeol. "Halo? Beeeb? Manusia Benua Tampan memanggil Park Chanyeol kembali pada teror."
Chanyeol speechless. Terlongo shock. "Ini benar-benar gila."
.
.
.
.
Makhluk-makhluk itu membaca gerak-gerik Suho dan terus mengikutinya, yang berarti untuk sementara ini dia bisa mengalihkan mereka dari kedua teman-temannya. Suho terus berlari sebelum cakar monster melukai kulitnya.
"Sialan! Sialan! Sialan!" Dia terus mengumpat berulang-ulang, berlari tanpa cahaya menembus kegelapan.
Yang mengejutkan, ayunan kaki Suho ternyata sedikit lebih maju dari para wendigo. Mungkin karena badannya kecil, jadi dia lincah. Suho terus berlari secepat yang dia mampu, memasuki bagian dari tambang di mana Sehun terbujur lemah. Suho meletakkan satu tangan di atas mulutnya, menekan napasnya jauh di dalam sana, sementara jantungnya mencoba melompat keluar dari dada. Siapa itu?! Kris? Chanyeol?
Keduanya juga sama-sama terkejut menemukan Suho ngibrit bak orang kesurupan.
"Ngapain kau lari-lari? Jogging?!" pekik Kris.
"Tutup mulutmu!" bentak Suho. Sejurus kemudian dia berjongkok tak jauh dari posisi duo menara itu bertengger. "Merunduk! Tutup mulut! Kalau kalian masih sayang diri sendiri."
"Dimana Sehun dan Kyungsoo? Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya tadi ada di kastil?"
"Mereka kusuruh kabur."
Alis Kris melejit tinggi. "Lho? Kabur?! Sekarang mereka dimana?"
"Berisik! Ngerti bahasa manusia, 'kan? Kubilang tutup mulut!"
Kris berdecak tidak sabar. "Kau yang tutup mulut, Cebol!"
Sebelum Suho punya kesempatan memanggang Kris sampai gosong, bukti nyata muncul beberapa saat kemudian di belakang sana.
Duo tiang kompak membisu.
Makhluk-makhluk itu berhenti, bingung mencari-cari dimana keberadaan buruannya. Matanya jelalatan liar, putus asa menoleh kesana-kemari, berusaha menangkap basah. Tiga orang itu kontan tidak berani bertingkah. Para monster itu mendekat pelan-pelan. Dengan setiap langkah yang membuat detak jantung berdebar dua kali lipat.
.
.
.
.
Sehun tersungkur di tanah, tubuhnya dengan letih jatuh ke permukaan keras. Dia terengah-engah melawan kelembaban dan dingin. Dia terbaring di sana, tubuhnya lemas dalam lapisan beku batu-batuan, butuh sesaat sampai dia bisa bernafas lagi, sepertinya dia akan pingsan. Mengusap wajahnya dari debu, Sehun bernafas dalam-dalam, merasakan embun dingin keluar dari mulut dan hidungnya.
Tuhan... dia lelah sekali. Sehun sangat lelah. Tenaganya terkuras. Tapi dia tidak bisa menyerah sekarang. Tidak bisa!
Paru-parunya terbakar Tangannya gemetar. Matanya sakit. Tapi dia harus... dia harus...
"Sehun! Ayolah, kumohon..." pinta Kyungsoo. "Sedikit lagi. Kita hampir sampai."
Hampir apanya?! Sehun tahu hyung-nya itu sengaja berbohong untuk membuat keadaannya lebih baik. Berbohong demi menyuntikkan semangat baru ke dalam dirinya. Menyuntikkan tenaga tambahan. Walaupun luka-luka di badannya menjerit, menyuruhnya menyerah saja.
Sehun bangkit, terbatuk-batuk, megap-megap, susah payah dia bangkit ditarik Kyungsoo.
Sehun tarik nafas sekali lagi, berdiri dan mulai berlari kencang. Semuanya terasa menyakitkan. Tapi dia harus berlari. Dia harus semangat.
Kyungsoo terus berlari dan tidak berhenti. Bahkan dia merasakan derita asma di paru-parunya. Masa bodoh. Langkahnya jutaan kali lebih cepat.
Sebelum mereka sadar arah mana yang mereka tuju, sebuah tangga menyambut. Tangga batu yang berputar-putar seperti ular, menuju ke atas. Kyungsoo menarik tangan Sehun, menyeretnya menaiki anak tangga. Menjauh dari suara jeritan dan raungan menakutkan di bawah.
Ada berapa anak tangga lagi yang harus mereka injak? Kaki Sehun keburu copot. Sampai di atas bisa dipastikan dia akan pincang seumur hidup. Sehun berjengit mendengar suara teriakan semakin dekat.
Bodo amat pincang permanen. Yang penting selamat. Lari! Lari! Lari!
Kyungsoo melihat barrel kayu ditumpuk bersusun menghalangi akses jalan keluar. Bagaimanapun caranya, tidak ada jalan putar atau kembali, mereka harus menyingkirkan barrel-barrel itu.
Dengan sigap dan tanpa pikir panjang dia mendobrak tumpukan barrel. Sehun membantunya. Mereka mendorong barrel-barrel itu hingga rubuh ke belakang. Untung tidak ada yang jatuh menimpa jempol kaki. Kyungsoo melompati satu-dua barrel yang berguling kesana-kemari, membantu Sehun melangkah. Gampang bagi Sehun, untung kakinya didesain untuk turnamen lompat indah.
"Dorong!" Kyungsoo berjongkok dan mulai mendorong salah satunya. "Dorong! Dorong!"
Kalau saja situasinya tidak emergency, Sehun pasti akan meledek Kyungsoo habis-habisan. Karena hyung mungilnya mirip sopir frustasi yang truk-nya mendadak mogok di tengah jalan. Sementara Sehun asisten sopir yang terpaksa ikut membantu mendorong pantat truk.
Apa Sehun masih punya sisa tenaga? Ternyata ada! Setelah ngeden bersama-sama untuk mendorong. Barrel-barrel itu akhirnya menggelinding ke bawah dan menghantam tubuh ceking makhluk-makhluk mimpi buruk itu. Sebagain tergelincir akibat cairan hitam yang tumpah dari barrel, sebagian melompat ke dinding dan merayap seperti cicak raksasa.
Kyungsoo berpikir cepat, matanya menangkap hairspray di kantong celana Sehun. Dia menyambar benda itu. "Hun! Mana pemantikmu! Cepat!"
Pemantik, pemantik... oh, ini dia.
Kyungsoo menyambar pemantik itu juga.
Semburan api melumat monster yang menerjang paling depan. Api merambat turun melalui cairan hitam di anak tangga membentuk barikade tinggi. Membakar para setan penguntit mengerikan.
Kyungsoo menarik tangan namja tinggi di sebelahnya, mereka berlari lagi. Kyungsoo bisa merasakan dirinya tertawa. Tawa pahit yang meledak lantang dari tenggorokannya. Dia terengah-engah lagi. Paru-parunya sakit dan... fuck matanya panas dan berair.
Tuhanku yang baik hati, bisik Sehun. Kapan lari maraton ini akan berakhir?
Kyungsoo melihat seseorang di kejauhan. Tidak kentara jenis kelaminnya karena jubah yang dikenakan orang itu. Orang itu membawa cahaya di tangannya yang mirip cahaya lilin. Dengan cepat dia berkelebat masuk dan menghilang dalam tikungan di depan.
"Hei! Tunggu!" panggilnya. "Tolong kami!"
Bayangan orang itu terpantul di tembok gua akibat cahaya, lalu tiba-tiba menghilang.
Apakah lilinnya padam?
"Heeei! Tunggu kami!" teriak Kyungsoo. "Paaak! Buuu! Siapapun!"
Keduanya menatap ke depan, ke dalam terowongan gelap itu.
Mengapa orang tadi diam saja? Cuek sekali. Kayak seakan-akan tidak mendengar mereka dan langsung kabur begitu dipanggil.
Cahaya redup tadi kembali muncul, kali ini lebih terang dari sebelumnya. Mereka sudah dekat.
Sehun refleks mengangkat satu tangan untuk melindungi matanya, di sekeliling mereka ada cahaya terang menari-nari.
Banyak sekali cahaya terang.
Kyungsoo maju beberapa langkah. Perlahan-lahan. Memberi kesempatan pada matanya untuk membiasakan diri dengan cahaya yang terasa menyilaukan itu.
Lilin. Mereka melihat lusinan lilin pendek berwarna putih, tersebar di seluruh lantai ruangan ini. Semuanya menyala dan apinya berayun pelan mengikuti pergerakan angin di sekitarnya.
Kyungsoo kebingungan. "Orang-orang kurang kerjaan apa yang meletakkan lilin-lilin ini di sini?"
"Mungkin..." Sehun menelan ludah. "Dulu ada yang pernah tinggal di dalam sini?"
"Tinggal di sini? Bareng monster keparat itu?! Idih."
Satu tangan kekar membekap mulut Sehun dari belakang. Sebelum Kyungsoo sempat bereaksi atau menjerit shock, satu orang menyelinap di belakangnya dan melakukan hal yang sama pada mulutnya.
Tumbang. Dua orang itu tak sadarkan diri. Roboh bersamaan dan terkapar di antara lautan lilin.
.
.
.
.
Location: Pocatello National Forest Ranger's Cabin/The Hogback Cabin – 18.12-19.30 PM
Xiumin mengintip ke luar jendela untuk terakhir kalinya, memastikan jika monster itu benar-benar menghilang dalam kegelapan. "Ya Tuhan, kupikir yang tadi itu momen terakhirku bernapas di alam manusia. Kuharap yang lain baik-baik saja, apa tidak sebaiknya kita turun menyusul duo menara?" tanyanya sambil berbalik, menunggu komentar.
Sungguh lega bisa sampai di kabin, Luhan mondar-mandir beberapa langkah di ruang tamu. "Kita tunggu dulu. Kalau di luar sana benar-benar oke baru kita turun ke lubang. Lagipula aku masih penasaran dengan elevator tadi. Barangkali mesinnya bisa diakali."
"Siapa yang pintar jadi tukang disini?" Xiumin memandangi semua wajah.
"Jong... kau anak elektro kan?" Tao menyikut Jongin yang kebetulan duduk di sampingnya. "Jadi tukang sana."
"Mesin-mesinnya terlalu kuno." Jongin geleng-geleng menyerah duluan. "Butuh lebih dari dua hari untuk memperbaikinya."
"Tapi kau sanggup kan?" tagih Luhan.
Jongin angkat bahu. "Entahlah. Musti kuperiksa dulu dimana masalahnya."
"Jangan angkat bendera putih dulu," Lengannya disikut Tao lagi. "Ingat Sehun. Kau mau jadi lebih berguna? Maka bantulah kami!"
Memangnya Jongin sanggup menolak kalau sudah disinggung-singgung soal Sehun? Tidak mungkin. Akhirnya dia cuma menunduk dalam-dalam. Menggalau sambil berpikir keras.
"Berdua deh kalian ngerjainnya. Lay kan seniormu di elektro, Jong." tukas Luhan main suruh. "Tugas kalian berikutnya adalah elevator. Catat di kepala! Lay? Gimana? Sanggup tidak? Masa jenius perakit robot tidak bisa memperbaiki elevator? Kecil itu!"
Jongin berdecak. "Kau bawel sekali, hyung. Ngomong itu singkat-singkat saja. Kalau kasih arahan tidak perlu panjang kali lebar, kami ngerti kok. Pantas saja kau kalah suara waktu pemilihan leader grup AM dulu."
Mata Luhan memicing hingga tinggal segaris. Tersinggung dia rupanya! Gara-gara ambisi gagalnya kembali diungkit-ungkit oleh Jongin. Aib itu. Masa lalu kelam yang berhasil dia lupakan. Jadi... dulu Luhan dan Suho sempat ribut besar demi memperebutkan kursi penguasa. Sampai rela bersaing tidak sehat dengan kawan sendiri. Tapi itu kan 3 tahun yang lalu. Harusnya semua orang sudah lupa. Harusnya sih. Sampai Jongin buka mulut barusan. Membeberkan fakta lama. Yang membuat Luhan terpaksa bungkam dan mati-matian menahan diri. Sangat tidak elit berkelahi sementara di luar sana banyak makhluk-makhluk jelek kelaparan. Makhluk-makhluk jelek yang gemas sekali ingin mengunyah bola mata mereka.
Kadang-kadang cowok tan itu luar biasa blak-blakan pas emosi. Mengalahkan nyelekitnya Kyungsoo dan Baekhyun jika keduanya digabung jadi satu.
Xiumin mendengus. "Bego. Malah berantem."
"Tauk nih." Baekhyun ikut mencibir. "Cari ring tinju sana."
Lay yang pada dasarnya memang anteng, tidak protes. "Oke," jawabannya simpel. Dia mendekat ke jendela di sisi kiri. Tersentak kaget, matanya kontan melebar. "Sialan!"
Masalahnya tadi ada bayangan menyelinap cepat melewati jendela. Pas di depannya! Pantas saja Lay terlonjak. Merasa telah meyaksikan sesuatu numpang lewat di depan matanya.
Suara-suara aneh tidak berhenti melolong. Lay masih mencoba bernapas dengan normal. Luhan masih berdiam diri mengendalikan pening di kepalanya. Banyak kanibal yang mengincar mereka—itu jelas sekali. Satu-satunya yang harus mereka lakukan adalah tetap tenang. Panik bukan pilihan sama sekali, tapi jalan tercepat menuju ajal.
Tiba-tiba sosok menyeramkan lewat di jendela belakang, jendela tempat dimana Baekhyun bersandar. Cowok itu menjerit sambil terlompat ke pangkuan Tao. Wajah makhluk itu benar-benar dekat, berusaha mengintip kedalam, untungnya tidak menyadari kehadiran Baekhyun di dekat situ gara-gara embun membuat kaca terlihat buram.
Baekhyun memeluk oknum yang dia tumpangi erat-erat. Seolah-olah kalau dia meleng sedikit Tao bakal kabur meninggalkannya sendirian.
Tao juga sama-sama tegangnya. Makhluk itu terlihat seperti... seperti... terlalu sulit untuk dijelaskan. Monster dari neraka?
Luhan membeku. Yang lain belum sangup bergerak dari posisi masing-masing.
Apa-apaan?! Jadi ceritanya mereka terkepung?!
Jongin menggeram sebal. Dia sudah sangat muak. Muak! MUAK! Harga dirinya betul-betul terinjak-injak parah karena memelihara luka-luka sebadan dan berubah jadi pengecut lemah. Masih ditambah harus menghadapi kenyataan pahit dia cuma bisa duduk-duduk pasrah seperti orang sakit kronis tanpa sanggup menyelamatkan sang pujaan hati. Itu membuat dadanya bergejolak dikuasai amarah.
Balas dendam bisa menyusul belakangan. Yang penting sekarang kakak-kakaknya aman. Itu dulu prioritasnya. Jangan sampai ada korban melayang sia-sia lagi gara-gara keteledorannya.
Cukup! Bukan saatnya duduk manis seperti anak gadis. Jongin menyambar tumpukan koran bekas dan kertas-kertas tak terpakai, merobeknya menjadi dua bagian, habis itu seluruh kaca jendela dia siram pakai air dari botol mineral. Kertas-kertas tadi dia tempel ke jendela. Secepat kilat. Nah, begini lebih aman. Selama tempat persembunyian mereka bisa disamarkan.
"Hyung! Bantu aku!" seru Jongin pada Luhan.
Bukan hanya Luhan yang tergerak, seruan Jongin seperti cambuk untuk telinga. Ramai-ramai merobek dan menempel. Gotong-royong membantunya mengkamuflase semua jendela. Makhluk-makhluk itu tidak bodoh. Xiumin sadar. Mereka semua sadar. Hanya saja, mereka perlu mengulur sedikit waktu untuk menenangkan diri, sambil menyusun rencana berikutnya. Dengan tidak lengkapnya jumlah anggota saat ini, tentu agak sulit menyusun rencana matang. Mereka harus mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi. Ada apa sih? Apa seluk beluk hutan terkutuk ini? Karena mereka yakin makhluk-makhluk itu bukannya tidak punya motif. Menunggu sambil terus-terusan bersembunyi juga tidak mungkin. Kris dan Chanyeol berada di kedalaman beberapa meter di bawah kaki mereka. Sehun belum jelas nasibnya. Suho dan Kyungsoo masih di kastil (menurut mereka).
Sebelum ada yang bisa memikirkan langkah selanjutnya, mereka lagi-lagi mendengar jeritan aneh. Tapi kali ini lebih keras dari beberapa menit yang lalu. Tepat di depan pintu!
Suara lolongan pilu yang mengirim getaran ke tulang belakang. Lolongan yang mengerikan. Mirip suara tangisan anjing sedang kesakitan. Tapi semakin didengar makin mirip lolongan manusia daripada anjing. Lolongan-lolongan itu terdengar melengking dan bergema memenuhi separuh isi hutan. Semuanya serempak memanjatkan doa khusyuk dalam hati. Harap-harap cemas para pemangsa tidak berminat mendobrak pintu, menghancurkan kaca atau melakukan segala macam tindakan ekstrem.
Baekhyun tersentak dalam pelukan Tao, berdiri gemetaran. Dia berbalik menatap wajah sang adik tingkat kesayangan, agak mendongak karena beda tinggi badan mereka lumayan jauh. Meskipun gelap, Tao bisa melihat wajah namja cantik itu tampak ketakutan setengah mati.
"Aku kebelet," bisiknya.
Tao terperanjat. "Apa?"
"Ssst!" Baekhyun mengedipkan sebelah mata. "Jangan berisik."
"Tapi hyung, diluar—" Tao berhenti bicara ketika dilihatnya Baekhyun meraih botol sirup kosong dari bawah meja. Mengguncang-guncangnya di depan hidung Tao.
"Kau tega melihatku buang air di benda ini?"
Tao buang napas pasrah. Masa dia musti keluar mengantar hyung-nya ini? Merelakan nyawa demi mengantar seseorang buang air kecil itu kayaknya... terlalu berlebihan. "Ya mau gimana lagi? Tidak ada pilihan."
"Ada kok." Baekhyun tersenyum. Senyum misterius yang bikin jantung Tao kebat-kebit tak karuan. "Selalu ada pilihan lain."
"Apa? Salto dari atap?"
"Bukan." Baekhyun meringis. "Bukan salto, kita harus melakukannya dari atas sana."
Tao melotot. "Kau mau kencing di atap?!"
Aduh. Baekhyun spontan tepuk jidat. Susah ya ngomong sama orang telmi. "Bukan! Bukan kencing di atap! Dengar dulu." Dia membisikkan satu rencana nekat di telinga Tao. Pelototan cowok itu makin lebar.
"Tidak. Tidak akan! Kau gila, apa?!" Tao menolak mentah-mentah. "Mending kau kencing di botol air mineral deh, hyung."
Luhan mendekat karena penasaran. "Kudengar-dengar tadi ada yang menyebut kencing? Kalian punya rencana?"
Chen menahan napas, tapi terus menatap lurus ke depan. Apa pun itu, sudah pasti mempunyai lengan dan kaki. Itu memiliki bentuk manusia, tapi tidak ada ciri khas, seperti rambut atau telinga. Benar-benar hitam di bawah sorot lampu teras, memantulkan siluet manusia bungkuk, dan menyerap cahaya bulan alih-alih merefleksikan bayangan. Persis lubang berbentuk manusia yang dibuat anak kecil saat menggunting selembar kertas. Bayangan-bayangan itu meloncat-loncat, berpindah cepat dari satu jendela ke jendela, tanpa suara. Jumlah mereka kira-kira lebih dari tiga!
Tanpa sadar Chen merapat ke tubuh Lay, meraih jari-jemarinya, menggenggamnya penuh kekuatan batin, berharap rasa takutnya bisa terbagi. Lay merasakan tangan Chen di telapaknya. Dia tersenyum lemah.
"Kurasa kita harus bekerja sama melakukan sesuatu."
Chen menoleh bingung. "Hah? Maksudmu?"
"Sampai kapan kita begini? Terdesak seperti tikus? Lalu mereka apa? Kucingnya? Kita bukan tikus dan mereka bukan kucing!"
"Umm... Lay-ge, mereka jelas bukan kucing, kucing tidak makan daging manusia dan memojokkannya dalam rumah kabin tua jelek begini."
"Maka dari itu, gantian kita bikin mereka terpojok. Menunggu mereka pergi akan memakan waktu lama. Coba pikir keadaan teman-teman yang lain. Mereka mungkin sedang bertarung dalam hidup dan mati."
Chen meringis. "Caranya?"
"Bertarung dalam hidup dan mati?" Lay malah balik bertanya.
Chen memutar mata. "Maksudku gimana cara bikin mereka terpojok."
Baekhyun ngotot menyeret tas penuh flare gun ke tengah-tengah para hadirin yang membeku. Seringai sombong terpaku di bibirnya.
"Ini caranya."
.
.
.
.
Bobot senjata terasa familier di tangan Jongin. Terakhir kali dia tidak sanggup menyelamatkan Sehun. Sambil merengut menyembunyikan penyesalan dia mengikuti rombongan naik ke lantai dua, berjalan ke pintu yang langsung mengarah ke balkon atap persegi yang luas.
Luhan menempelkan satu telunjuk ke bibirnya, menatap semua wajah tegang di belakangnya.
Lagi-lagi mereka mendengar suara geraman, disusul geraman berikutnya. Secepat mungkin Jongin menyelipkan pistol cadangan di antara ikat pinggang dan celana, menyembunyikannya di belakang jaket. Lucu sekali tiba-tiba dia merasa tangguh setelah mengantongi senjata.
"Satu..." Dia mulai menghitung aba-aba. "Dua..."
Cengkraman senjata di tangan mereka makin kuat.
"SEKARANG!"
Pasukan pemburu wendigo menyerbu keluar berbarengan.
Chen malah pakai efek-efek jeritan pendekar karate. "Hiaaaaaaaaaaaaaaaat!"
Dengan napas berat terengah-engah Jongin terbang dari pintu depan lalu mengeluarkan flare gun dari balik jaket. Asal bidik, senjatanya melontarkan peluru api. Peluru itu melesat dan menyentuh sasarannya. Dia tidak punya waktu memeriksa ledakan di belakangnya. Xiumin dalam bahaya! Namja itu terpelanting dengan posisi kepala membentur lantai duluan, satu tangan kering menggenggam pergelangan kakinya dengan kuat. Dia memberontak berusaha membebaskan diri, tapi genggaman itu begitu kokoh.
Terjadi lagi! Makhluk itu akan meremukkan tulang kakinya!
Seperti Sehun...
Jongin menarik napas dalam-dalam, lalu menyerbu ke arah Xiumin. Salah satu wendigo meloncat dari atas genteng, melayang di udara sambil mengulurkan tangan untuk menggores leher Jongin dengan cakarnya, tapi Luhan bergerak sigap untuk berurusan dengan monster itu. Bola api menghantam dan membakarnya hidup-hidup sampai tinggal jasad gosong. Arwah wendigo terbang melewati pundak Luhan lalu menghilang ke udara pekat. Satu tropi diboyong oleh Luhan.
YES! Luhan sungguh teramat bangga karena aksi heroiknya barusan. Dia jatuh berlutut dengan sengaja sambil angkat dua tangan tinggi-tinggi. Berpose layaknya pemain sepak bola setelah berhasil membobol gawang lawan.
"Let's party like we are fucking porn stars!"
Makhluk besar mengendap diam-diam di belakang Luhan.
Langsung dihabisi oleh Baekhyun dalam satu kali tembakan. Siluman tengkorak itu terlontar, meronta-ronta kepanasan dan jatuh dari balkon. Rohnya lenyap dibawa angin.
Baekhyun meniup ujung pistolnya penuh gaya. "I've saved your life, King of Porn Stars." Kedipkan sebelah mata, terus nyengir sok keren.
Tawa Luhan memecah dinginnya malam teror. Bergema sampai ke bulan.
.
.
.
.
Seorang laki-laki tua dengan rambut putih panjang dan hidung menyerupai paruh burung. Pucat dan kurus sekali. Pupil matanya besar, gelap dan cekung. Jubah gelapnya yang panjang nampak kebesaran di tubuh kurusnya. Tangan kanannya memegang satu lilin putih panjang. Api dari lilin beberapa kali goyah, nyaris padam oleh angin. Angin-angin marah yang mondar-mandir kalang-kabut meneriakkan tangis pilu.
Lelaki itu seakan ikut berkelap-kelip bersama cahaya lilin yang menyelubunginya. Seakan-akan merupakan bagian dari cahaya itu. Bagian dari cahaya yang menyeramkan. Dia memandangi ledakan demi ledakan di atap pondok pengawas dari sini. Perlahan-lahan dia mengangkat jari-jarinya yang tinggal tulang terbungkus kulit ke mulut. Bersiul parau. Seolah memberi tanda.
Orang-orang dalam jubah gelap lainnya muncul beriringan. Ikut menonton hiruk-pikuk di kejauhan sana. Wajah mereka pucat, tanpa ekspresi.
Sorot tajamnya perlahan melunak. Dia menoleh dan berbicara dengan nada terkendali yang penuh wibawa. Memerintahkan sesuatu kepada orang-orang itu.
"Kumpulkan semuanya."
Tidak perlu banyak basa-basi, orang-orang berjubah gelap itu mengangguk paham.
.
.
.
.
Suara siulan melengking menghentikan aktivitas para pembela kebenaran di atap.
Bulu kuduk mereka serentak berdiri. Masalahnya siulan itu kedengaran ganjil. Seperti tiupan terompet malaikat kematian. Luhan dan kawan-kawan membeku di tempat, menyaksikan makhluk-makhluk yang tersisa buru-buru pergi dan menghilang di balik bukit.
"Mereka kabur!" Chen pasang kuda-kuda, hendak mengejar komplotan yang lari terbirit-birit. Dasar. Belum puas rupanya.
Segera ditahan oleh Lay. "Tugas kita bukan membunuhi mereka satu-persatu. Yang penting mereka pergi."
Tao mengangguk setuju. "Betul banget! Yang penting mereka pergi."
"Siapa yang membuat suara tadi?" Luhan menggeleng, tak habis pikir. "Apa ini hanya perasaanku saja? Kok monster-monster itu seperti—"
"Mematuhinya?" potong Xiumin. "Bukan hanya perasaanmu. Aku juga berpikir begitu."
"Kita menang! Menang! Yeaah!" Baekhyun lompat-lompat kegirangan, lalu menghambur ke pelukan Tao, yang juga mesam-mesem kegirangan.
"Terlalu cepat untuk merayakan pesta, hyung." Jongin memperingatkan. Tampangnya sedih dan murung. "Selama Sehun dan yang lain belum jelas kabarnya."
Baekhyun berhenti bersorak, ketularan sedih. "Oh iya ya..."
"Kita masuk dulu," tukas Luhan sambil merangkul Xiumin. "Di dalam baru kita pikirkan rencana berikutnya."
.
.
.
.
Pondok tempat bersantai para pengawas hutan ini lumayan elit, dengan langit-langit tinggi dan banyak jendela besar di kedua sisi tembok. Cukup untuk lima sampai enam orang lebih. Ada empat tempat tidur bertingkat yang dirapatkan pada ketiga sisi dinding, dan rak buku di dinding keempat, di tengah-tengahnya ada ruang kosong persegi yang lapang. Tidak ada kamar mandi. Kayaknya kamar mandinya terdapat di bangunan lain, mungkin? Lebih miris lagi, bisa jadi kamar mandinya Cuma berupa WC alam (baca: sungai di dekat pohon).
Luhan berdiri di tengah-tengah ruangan. Memerintahkan teman-temannya untuk mencari bukti. Apa saja. Yang bisa menjawab tumpukan teka-teki di kepala mereka.
Jadi mereka mulai sibuk mengobrak-abrik lemari, laci-laci dan kardus di bawah meja komputer. Chen mencoba menghidupkan power komputer, mengira ada akses wi-fi gratis, ternyata isinya cuma file-file membosankan. Dia mengamuk.
"Menurutmu tidak apa-apa nih kita melakukan ini? Membongkar properti orang 'kan termasuk kejahatan illegal," seloroh Lay.
"Memangnya ada kejahatan yang tidak illegal?" Luhan terkekeh. "Lagipula apa yang kita lakukan sejak awal memang illegal. Menerobos masuk ke rumah orang. Bisa jadi pemiliknya sedang keluar. Sekalian saja kita basah-basahan. Tanggung kalau cuma nyemplung."
"Basah? Nyemplung kemana? Memangnya ada sungai ya di sekitar sini?" komentar Lay polos, kambuh bloonnya. "Daritadi tidak ada yang main basah-basahan. Kau berkeringat? Bajumu basah? Sana ganti dulu."
Luhan berdecak kesal. "Yang tadi itu cuma kiasan!"
"Oh, kukira bajumu basah." Lay nyengir.
Luhan berdecak lagi. "Ya ampun! Jujur ya, aku tidak mengerti bagaimana caramu memenangkan lomba robot. Apa kau menyogok para juri pakai tarian erotismu?"
"Ih!" Lay bergidik. "Aku tidak sekotor itu, ge!"
"HAH? Kau kotor? Sana mandi dulu. Mandi di sungai." Gantian Luhan yang tidak nyambung. Habis itu dia cengengesan. "Bercanda."
Di lantai dua, Jongin sedang mengamati dapur yang berantakan, piring-piring kotor yang belum dicuci, serta kulkas kosong tanpa isi. Siapa pun yang pernah tinggal di sini, kemungkinan tidak pernah pulang selama berhari-hari. Kentara dari bau piringnya. Genangan air keruh di wastafel sampai beralih fungsi jadi markas nyamuk.
Jongin melihat ada lipatan kertas di meja. Dia kembali lagi ke dapur, iseng-iseng membuka lipatannya dan membacanya.
Dearest Billy,
Hurry home safely.
From your loving wife and daughter,
Agnes and Louise
xx
Surat ini berusia 63 tahun! Kalau pun orang-orang yang orang menulis surat ini masih hidup, mungkin usianya sudah diatas tujuh puluhan. Wow.
Bulu-bulu halus di tengkuk Jongin mendadak berdiri tegak. Barusan ada angin dingin lewat di belakangnya. Jongin buru-buru menoleh. Ha-ha. Bodoh. Sudah jelas tidak ada siapa-siapa di pondok ini kecuali hyung-hyung-nya.
Dia bergidik sekilas, lalu cepat-cepat pindah ke ruangan berikutnya.
Xiumin sendirian di dalam ruang kerja, membongkar lemari arsip yang untungnya tidak dikunci. Para pengawas hutan biasanya punya informasi lengkap tentang lokasi ini. Apalagi kalau mereka terdiri dari pendatang muda penuh rasa ingin tau seperti mereka. Pasti selalu mengumpulkan bukti. Terlalu mustahil tidak bertanya-tanya kalau di sekelilingmu ada makhluk aneh mengintai dari balik jendela.
Tangannya berhenti mencari ketika menemukan satu arsip tebal yang diberi judul "BUKTI KEBERADAAN" di sampul depan.
Xiumin buru-buru membuka halaman pertama, langsung disambut sejarah singkat.
"Legenda Wendigo berasal dari suku Asli Pertama yang menempati Gunung Madahee dari tahun 1400 sampai 1850-an. Suku Indian Shoshone sangat menghormati gunung dan alam. Percaya nasib buruk jika menyakiti seekor binatang di gunung suci, mereka biasanya berburu di tempat lain. Mereka percaya melukai gunung dengan cara apapun akan membawa kutukan yang mengerikan..."
"Peneliti Eropa dan para penambang tiba di kawasan Pocatello, sangat ingin menghasilkan uang. Pada tahun 1865, mereka secara resmi mulai menambang gunung. Mereka menemukan timah dan perak. Mereka kemudian menambang lebih dalam hingga menembus area gunung suci. Shoshone mengklaim bahwa gunung tersebut sedang menyerukan protes. Roh-roh Wendigo terlepas ke dunia luar. Sejak itu, banyak yang dikuasai kutukan..."
"The North West Mining Company menambang gunung demi perak, melawan saran penduduk asli, sampai bencana terjadi dan gua menjebak mereka di dalam gunung. Membangunkan kutukan itu lagi. Ada puluhan pria. Tidak ada makanan, tidak ada cahaya. Dan dalam kegelapan itu, rasa lapar datang. Dipengaruhi oleh Roh Wendigo, para penambang ini dipercaya saling membunuh dan saling memakan..."
"Dalam ritual suku Indian Shoshone, ada tarian tradisional yang disebut 'Wihtikokansimoowin', atau 'Wendigo-like-dance'. Selama tarian tersebut, sosok Wendigo yang menakutkan diperagakan oleh para penari. Selain meniru gerakan Wendigo, beberapa penduduk asli Amerika bahkan berperan sebagai 'pemburu Wendigo' dalam ritual tersebut..."
Perasaan merinding membuat punggungnya tidak nyaman.
Xiumin membuka halaman berikutnya yang melampirkan isi surat kucel, ujung-ujungnya mulai pudar dan kuning akibat bintik-bintik jamur.
"Mereka sekarat di luar. Kudengar mereka menjerit dan menangis.
Neraka inilah satu-satunya warisanku.
Hukuman Tuhan atas kesalahanku
Tidak lepas dari takdirku. Kematian menanti saya sekarang." —Jefferson Blackwood
Kali ini dia mengernyit. Siapa Jefferson Blackwood? Apa dulunya salah salah satu pengawas yang tinggal di sini?
Selanjutnya Xiumin menemukan salinan peta tambang dan lokasinya dalam mode hitam-putih. Dia menyipitkan mata bola pingpong-nya untuk mengamati secara cermat.
Peta tambang itu menunjukkan banyak bahaya-bahaya yang dilingkari merah. Peta tersebut menunjukkan ikhtisar tentang Tambang Blackwood, dengan titik-titik bahaya yang disorot serta rentannya struktural tambang, juga resiko-resiko yang mungkin terjadi. Peta yang menunjukkan kesalahan struktural di tambang, ditandai oleh insinyur tambang. Sepertinya pihak pengelola dan pemiliknya tahu ada risiko tambang itu bakal ambruk. Berarti memang tambang ini sudah rentan dari sononya? Kenapa tidak ada satu pihak pun yang memberitahu anggotanya supaya menjauhi tambang?! Sebelum semuanya runtuh dan hanya tinggal menyisakan kenangan. Kalau sudah gawat begini siapa yang mau bertanggung jawab?!
Berikutnya dia menemukan Telegram yang memuat peringatan kepada khalayak untuk tidak membawa korban-korban yang berhasil selamat setelah terjebak selama 24 hari ke Sanatorium. Dia juga melarang wartawan melakukan publikasi. Pemilik tambang sepertinya mencoba menutupi sesuatu...
Tambang dibuka kembali?! Berarti pemiliknya sudah tahu bencana yang lebih buruk akan menimpa orang-orang awam? Ya Tuhan... inilah dampak dari sok-sokan dan tidak mengindahkan petuah.
.
THE IDAHO POST
24 March, 1866
SEORANG REPORTER DISERANG DI SANATORIUM BLACKWOOD
Seorang reporter asal Alberta Bugle diserang dan dirawat di rumah sakit kemarin oleh petugas di Sanatorium Blackwood. Chuck Bernstein, seorang reporter berita senior, pada saat kejadian penyerangan dilaporkan oleh pihak Sanatorium tengah mewawancarai para penambang yang secara dramatis diselamatkan pada hari Selasa. Orang-orang itu telah terjebak di bawah tanah selama lebih dari tiga minggu setelah keruntuhan struktural tambang yang terjadi sekitar akhir bulan Januari lalu, hingga sekarang dirawat di Sanatorium karena kekurangan gizi dan trauma.
Jefferson Blackwood, pemilik tunggal dari North West Mining Company dan Blackwood Sanatorium, mengatakan kepada awak media bahwa insiden tersebut "tidak menguntungkan". Maka dari itu diberlakukan "penyelidikan internal penuh". Dia juga mengklaim Bernstein telah "masuk ke Sanatorium tanpa izin".
.
Makin lama semakin intens. Xiumin sampai harus berhenti dulu untuk mengambil asupan oksigen. Mana isinya masih bejibun pula! Dibelakang artikel ada Memorandum, tanpa pandang bulu Xiumin menghajarnya.
.
MEMORANDUM
9 Februari 1866
Kepada: Staf Sanatorium
Dari: Rouche Blackwood
RE: Penarikan Para Penambang
Harap diperhatikan bahwa penyelamatan penambang ini akan selesai besok (10 Februari). Karena jumlah penambang yang masih hidup tidak diketahui, persiapkan semua tempat tidur di Ward A.
Pers akan hadir besok. Kita harus terlihat memberi para penambang perawatan terbaik.
Perhatikan bahwa pengunjung pers tidak diizinkan memasuki Bangsal Jiwa. Kegagalan dalam hal ini akan sangat mempengaruhi karir Mr. Blackwood dan Sanatorium secara keseluruhan, dan akan mengakibatkan pemecatan di tempat.
P.S: Kalian mungkin membutuhkan penutup hidung. Orang-orang itu baunya mengerikan!
TTD:
Rouche
.
Dugaan lain muncul di kepala Xiumin. Kalau memang begitu dikeluarkan kondisi orang-orang ini sudah mengenaskan, kenapa mereka malah nekat membawanya keluar? Apa mereka tidak pernah nonton film Zombie?! Tidak. Mungkin film mayat hidup belum diproduksi di tahun segitu. Terus... dimana sih Blackwood Sanatorium ini? Dia penasaran. Mungkin ada penjelasan di bagian belakang. Peta lokasi atau apa. Hebat juga yang mengumpulkan bukti-bukti ini. Siapa pun dia, Xiumin merasa sangat berterima kasih karena berkat pengawas hutan misterius tukang kepo ini, sekarang beberapa teka-teki di kepalanya terjawab.
Dia juga penasaran sama si pemilik arsip. Mana sih? Tidak ada catatan atau riwayat hidup atau apa?
Xiumin terpaku pada tulisan tangan di halaman kedua dari belakang. Gotcha! Ini dia! Belum terlalu kuno kertasnya.
Mungkin ada cara untuk berlindung dari serangan. Dukun setempat pernah menulis tentang ritual. Aku telah menemukan artefak asli di gunung, dan menyalinnya. Totem, daun-daun herbal dan bulu. Aku menyalin desainnya. Aku telah mengujinya. Di gunung mungkin akan bekerja. Salah satu cara untuk menjauhkan mereka (Para Wendigo). Tidak begitu efektif, karena efeknya sesaat, tapi cukup untuk beberapa hari. Di dalam ini bangunan tidak akan bekerja.
Karena wendigo berburu dan mengejar mangsa dengan cara membaca gerakan mereka, siapa pun yang diam tak bergerak, akan menjadi tidak terlihat dalam sorot mata mereka. Bahkan, meskipun wendigo tahu ada orang di daerah itu, pada akhirnya akan kehilangan minat jika tidak dapat melihat mangsanya.
Legenda Shosone mengatakan bahwa Wendigo bisa juga bangkit dari gigitan Wendigo lain. Tapi gigitan itu sendiri tidak berbahaya, aku sudah digigit, tapi tidak berubah. Satu-satunya cara adalah makan daging manusia lain. Tidak ada jalan lain.
.
TUNGGU.
TUNGGU TUNGGU TUNGGU.
Xiumin memelototi jurnal senyureng mungkin. Penuh ambisi Xiumin membongkar susunan artikel yang di-klip rapi. Mana? Mana keterangan lengkapnya?!
Apa tadi orang itu sempat menulis "cara menjauhkan mereka"? Mereka itu maksudnya...
GIMANA CARANYA?! Bulu-bulu apa?! Totem apa?! Ritual apa?! Artefak apa?! Apa? Apa yang sudah duji? Apa desainnya? Desain apa? Daun herbal apa? Mengapa di dalam rumah tidak bekerja? Siapa penulisnya sih?! Kalau dia ada di sini Xiumin akan bertanya terus-menerus sampai orang itu capek bicara dan memutuskan gantung diri untuk mengakhirinya. Syukurlah yang orang menulis ini mungkin telah terbaring di rerumputan dalam kondisi kehilangan kepala dan jari kelingking, jadinya... yah, beruntunglah.
Sialan! Kalau tidak iklas memberitahu jangan ditulis dong! Sekarang dia penasaran setengah mampus. Arrghhhh!
Luhan membanting tumpukan buku di samping Xiumin. Tidak hanya terlonjak kaget dan latah mengumpat, cowok itu juga menjerit seperti balita.
"Terima kasih karena telah meledakkan jantungku," sindirnya. "Pelan-pelan taruhnya, bisa kan? Jangan ikut-ikutan barbar!"
"Jangan ikut-ikutan lebay." balas Luhan cuek. Entah hilang kemana sikap mesraannya. "Ini buku-buku dari lemari depan. Isinya tentang sejarah Halloween. Lay juga dapat info soal beberapa anggota sekte kanibal yang kabur dari penjara dan menyaru di desa sebagai pendatang."
"Terus?"
"Rencananya kita mau rekaman."
Xiumin tercengang. "REKAMAN?"
"Tidak usah nyolot."
"Tidak, tunggu, serius—Rekaman!? Buat apa?"
Luhan mengernyit lihat reaksi negatif Xiumin. "Buat apa? Itu tujuan klub ini dibentuk! Untuk mengungkap segala hal yang kita alami."
"Tidak ada acara publikasi! Kau tahu alasan mengapa penduduk setempat sangat tertutup? Karena mereka sangat anti dan menghindari pendatang baru. Apalagi turis sok tahu seperti kita. Mereka benci itu! Mereka tidak mau kota ini dan sejarah kelamnya jadi konsumsi publik. Ini bukan tempat hiburan. Hutan ini berbahaya. Kalian paham, tidak?! Bagaimana kalau puluhan anak-anak baru di kampus berbondong-bondong datang kemari setelah menonton rekaman kita di website? Bagaimana kalau rekamannya jadi viral di dunia maya?! Itu sama dengan kita yang dungu, mengirim pasokan makanan untuk monster-monster tolol. Kita yang disalahkan nanti! Kau tahu pola pikir manusia modern? Semakin penasaran semakin nekat. Ujung-ujungnya jadi makin runyam! Jangan menambah masalah. Plis. Bisa kan?"
Luhan terhenyak dengarnya. Antara takjub dan segan setelah diceramahi panjang-panjang. Niatnya jadi maju mundur untuk melaksanakan sesi rekaman di lokasi alias Revealing The Truth Behind Cursed Place. Terpaksa. Untuk kali ini, petualangan mereka tanpa embel-embel pengungkapan. Xiumin benar. Ini bukan taman hiburan atau rumah sakit angker terbengkalai biasa. Tempat ini terlalu berbahaya bagi orang-orang awam. Salah-salah mereka jadi amukan awak media dan keluarga mahasiswa baru yang anak-anaknya raib di hutan. Masalah baru. Dosa baru. Suho bangkrut. Masa depan suram menanti.
"Oh iya, Jongin mana?" tanya Xiumin.
"Ada di atas."
"Chen?"
"Nongkrong di meja komputer ruang tengah."
"Lay?"
"Di ruangan utama tadi bersamaku."
"Tao dan Baekhyun kemana? Di lantai dua?"
Luhan kembali terhenyak. Efeknya sampai bikin dia garuk-garuk kepala panik akibat gerah, kepanasan, dan merasa bersalah. Eh iya ya. Tao sama Baekhyun kemana? Cuma dua orang itu yang kehadirannya menjadi tanda tanya besar. Daritadi batang hidung mereka tidak tampak di manapun. Luhan tenang-tenang saja karena di pikirannya Baekhyun cuma kebelet pipis dan Tao...
Luhan baru ingat. Masalahnya di dalam kabin sebesar ini tidak ada toilet...
DIMANA MEREKA?!
Jongin menelusuri koridor. Ada foto pria eropa tampan berambut gelap tergantung di tembok koridor. Dia mengambil foto vintage dari tembok, mengamati si pria beserta anak perempuan dan istrinya yang cantik. Di belakangnya ada tulisan: 1952
Tua juga usia foto ini.
Dia menggantung foto itu kembali. Disampingnya adalah foto berbingkai delapan pemuda gagah berani yang sepertinya para pengawas hutan dan pernah menempati pondok ini. Tahun yang tertera di belakang juga sama. Pria yang mejeng di foto keluarga tadi berdiri di tengah-tengah. Jongin membaca urutan nama dari kiri ke kanan yang tercetak kecil di pojok bawah. Baru ngeh kalau nama pria itu Billy Bates.
Billy...
Pria yang surat keluarganya tergeletak di meja makan tadi?
Jongin tersentak. Getaran di kepalanya bereaksi secepat tenaga kereta listrik. Berpacu memompa seluruh darah ke otaknya. Menarik jiwanya keluar dan membuatnya terlepas dari raga. Melayang ke suatu tempat yang jauh.
.
.
.
.
Pria itu tersedak, meraung-raung.
Pemandangan wajahnya di pantulan genangan air membuat jantungnya merosot. Dia tampak seperti monster menjijikkan. Pria itu menggesek genangan menggunakan tangannya yang bercakar. Menepuk-nepuk wajahnya untuk memastikan dia tidak berhalusinasi. Air matanya terasa panas, mengalir turun di kulit putih susunya. Gemeletuk giginya terdengar nyaring saat dia menyentuh kulit longgar di bawah matanya.
Sebuah rengekan menggelegak di tenggorokannya, tapi keluar menjadi raungan keras saat dia menepuk air berkali-kali dan meninju dinding gua dengan tinjunya yang bugar. Kepalan tangannya berdarah, kulitnya terkelupas. Pria itu bahkan tidak merasakan sakit. Kulitnya betul-betul kebas.
Pria itu menjerit kesal dan takut saat dia menenggelamkan giginya yang tajam ke leher benda berkulit pucat itu. Terdengar suara basah yang menjijikkan ketika gigi-gigi itu merobek daging, pancuran darah tumpah-ruah dari kulit makhluk malang itu...
Makhluk itu punya rambut...
Manusia?! Seorang gadis?!
Gadis itu meronta-ronta dan berteriak, berusaha mendorong pria itu menjauh dari lehernya. Menggaruk wajahnya dan mencengkeram kepalanya. Pria itu menderu marah lalu memisahkan kepala si gadis dari lehernya. Serabut spinalisnya basah kuyup, meneteskan kolam darah, menyiprat ke segala arah dengan suara menjijikkan, meluncur keluar bersama... trakea?!
Entahlah. Jongin tidak sanggup, tapi dia terlanjut melihat semuanya. Seolah-olah dia berdiri di sana.
Sebelum dia sempat berbuat sesuatu, dirinya kembali terlempar ke alam nyata.
.
.
.
.
Iris mata Jongin yang gelap kembali fokus.
Apa-apaan itu tadi? Mimpi? Dia mimpi sambil berdiri? Jongin tidak ingat kapan dia tertidur. Atau... yang barusan bukan tidur? Jongin menerawang. Masa mimpi? Tidak. Tidak. Rasanya terlalu nyata untuk sebuah mimpi.
"Jong!" Luhan muncul dan mengagetkannya. "Tao dan Baekhyun kemana? Kau lihat mereka?"
Jongin menggeleng, masih dengan tampang idiot super bodoh. Kepalanya berat dan telinganya berdengung.
Luhan meremas rambutnya, mengumpat pelan. "Dammit! Cepat kemasi barang-barangmu. Kumpul di bawah. Ada yang ingin kusampaikan. Kita atur rencana."
.
.
.
.
Location: Sacred Mountain, Shoshone Woods – 20.13-21.07 PM
Pohon-pohon di sekeliling mereka tinggi dan benar-benar indah. Sebagian besar daunnya berwarna kuning cerah campur merah-oranye menyala, tumpah di sepanjang lantai hutan atau terselip di dahan-dahan tinggi.
Tao sadar, ini bukan saatnya menikmati pemandangan alam, tapi matanya tetap susah lepas dari warna daun-daun itu. Dia menyorotkan cahaya senter kesana kemari.
Beberapa saat kemudian, Baekhyun, tiba-tiba berhenti. Tindakan ngerem mendadaknya hampir menyebabkan efek domino lucu karena tubuh mereka saling bertubrukan.
"Apa itu..." gumam Baekhyun, berjinjit dengan mimik waspada.
"Apa?" Tao juga menyipitkan mata ke kejauhan. Dan, samar-samar mereka melihat ada sesuatu berkelebat di kejauhan, terayun bolak-balik membentur permukaan pohon, tergantung di cabang yang keras.
"Apakah itu... anak kecil?" Baekhyun tampak ragu-ragu.
"Haruskah kita membantunya?" Suara Tao terdengar lemah.
Mereka berdua mulai melintasi semak-semak duri, Tao menarik lengan baju Baekhyun supaya jalan pelan-pelan saja dan tidak gegabah.
"Hyung, keberanianmu sudah mencapai titik kebodohan," desisnya.
"Trims. Aku lebih suka menganggap itu sebagai pujian." Baekhyun membuka ritsleting bagian depan hoodienya untuk menjaga kulit lehernya tidak gerah.
Mereka melangkah melewati akar-akar pohon yang gemuk, mendekati apa pun itu. Manusia asli atau bukan.
Tao tersandung di salah satu akar, dan terjerembap dalam posisi tersungkur super payah, dapat bonus banyak kotoran di dagunya. Baekhyun memutar mata dan menarik cowok itu sampai berdiri, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
Si anak kecil itu, atau... entah anak orang atau bukan... tali yang mengikat tubuhnya tiba-tiba terlepas akibat sabetan sesuatu. Sekarang, bocah itu tergeletak di tanah seperti bintang laut.
Saat mereka mendekat, kekhawatiran Baekhyun tumbuh lebih besar dari sebelumnya. Pertama-tama dia curiga ada pembunuh berkapak sedang bersembunyi di belakang salah satu pohon. Kedua, dia curiga ini kerjaan iseng orang.
"Hyung, apa sih yang terjadi." Tao dempet-dempet ke Baekhyun. "Siapa anak itu?"
"Aku tidak tahu." Baekhyun menarik napas. "Kau bertanya siapa anak ini? Bukan aku yang melahirkannya! Jangan bikin pertanyaan bodoh dulu saat ini, bisa tidak?"
Tak satu pun dari mereka berpaling. Penampilan anak itu sangat mencurigakan. Mereka kesulitan membedakan jenis kelaminnya karena wajah anak itu tertutupi jubah hitam mengerikan. Tidak pakai sepatu, menampakkan kulit telapak kakinya yang telanjang dan kotor. Dia pucat dan rapuh, seperti jarang bergaul dengan sinar matahari. Kedua matanya tertutup rapat.
Tapi itu bukan bagian terburuknya. Bagian terburuknya adalah kawat berduri yang terlilit rapat di leher anak itu sehingga kelihatannya seperti tertanam dalam daging. Kulit di sekeliling kawat bergerigi dan terkelupas dengan darah merah kering menghiasi. Apa pun yang terjadi, mungkin kawat itu sudah tertanam di lehernya cukup lama, dan anak ini dipaksa untuk memakainya.
"Kita harus menghubungi polisi," bisik Tao.
Baekhyun memukul bahunya. "Sudah jelas," desisnya. "Kabari dulu yang lain. Apa kau bawa ponsel?"
Tao menggali saku celana untuk memeriksanya. Menggelengkan kepala sambil berdecak kesal begitu melihat layar. "Tidak ada jaringan."
"Persetan. Ayo kembali kalau begitu."
Mereka berpaling ke jalur utama yang mereka lewati tadi.
Tenggorokan Tao kering kerontang. "Mungkin ada komplotan aneh yang melakukan hal kejam itu pada bocah tadi. Gimana dengan sekte yang kita baca di koran?"
"Tutup mulut sialanmu, Tao, aku tidak perlu omong kosong itu di kepalaku sekarang." tepis Baekhyun. Padahal dalam hati dia gelisah seperti cacing. "Apa yang akan kita lakukan?"
"Kita tidak bisa keluar dari sini jika yang lain belum ditemukan." Tao melihat sekeliling dengan harapan salah satu dari Kris, Chanyeol, atau Sehun tiba-tiba muncul dari semak-semak.
Mereka jalan beriringan menuju jalan setapak. Tao mencoba berteriak memanggil teman-temannya. Baekhyun terus berusaha membedakan arah tengara dan selatan, tapi pada akhirnya, mereka bahkan tidak yakin dari arah mana mereka berasal atau dimana letak kabin pengawas hutan.
Tao merasa tenggorokannya kering dan mengancamnya untuk menyerah, akhirnya dia diam. Duh, haus sekali! Suaranya serak.
"Kenapa tidak ada yang mendengar suara kita?" tuntutnya pada Baekhyun.
"Oke, tunggu di sini," perintah Baekhyun. "Aku mau pipis. Panggilan alam ini mendesak," Dia meringis. "Aku akan balik dari pohon itu, aku akan segera kembali."
Tao mengangkat kedua alisnya. "Serius nih? Kita tidak boleh berpisah, hyung."
Aw. Manisnya! Tao mengucapkan kalimat gombalan di momen yang salah.
"Tao," desis Baekhyun, "Aku sedang tersesat di tengah hutan sialan bersamamu dengan kandung kemih yang akan meledak karena kita mungkin telah berjalan selama... berapa? Tujuh jam? Jika kau coba-coba merenggut privasi satu ini dariku dan melarangku menyingkirkan limbah beracun dari tubuh indahku ini, aku akan membunuhmu dan menemukan jalan pulang sendiri. Jadi... bersabarlah, tunggu disini."
Tao mengenal Baekhyun. Dia adalah orang yang penuh semangat dan teguh, yang seringkali marah kalau dia merasa benar dan jika seseorang membantahnya. Tao juga tahu bahwa Baekhyun hanya meneriakinya karena dia stres, jadi namja tinggi itu dengan berat hati membiarkannya buar air kecil. Setelah mendapat persetujuan, dia berbalik dan menghilang di balik pohon cedar besar.
Tidak lama kemudian, dia kembali sambil menyapu bagian depan celananya. Tampak lebih baik dalam mood yang lebih baik. Tao senang bisa melihat hyung kesayangannya tersenyum ceria.
"Baiklah, ayo jalan!" Hanya itu yang dia katakan. Baekhyun mulai melangkahkan kaki, tapi Tao malah berdiri melongo di belakang sana. Baekhyun berbalik, tampak kesal. "Nungguin siapa sih? Kubilang ayo jalan!"
Tao mengangkat alis dan menunjuk ke barat, arah berlawanan dari yang dipilih Baekhyun. "Perasaanku tadi bukan ke arah situ, hyung." katanya sambil merengut.
"Ah masa sih? Aku punya feeling bagus kita harus ambil arah ini," katanya singkat, tapi nada suaranya tegas. Tao rela mengalah daripada musti berdebat, langsung saja dia mengekori Baekhyun.
Suara-suara bisikan terdengar, mereka berhenti.
Tao celingak-celinguk mencari sumbernya. Kedengarannya cukup jauh dari posisi mereka berdiri, beberapa ratus kaki ke arah timur, tapi cukup untuk membuat keduanya diam tak bergerak.
Baekhyun tiba-tiba melesat menerobos semak belukar penuh semangat, hilang dalam hitungan detik.
"Hyuuung tunggu! Apa apaan?!"
Tao sebisa mungkin mengikuti berdasarkan intuisi, karena beberapa alasan: Tao tidak ingin Baekhyun tersesat lebih jauh, dan barangkali suara-suara pengecoh tadi adalah wendigo yang meniru suara manusia, perompak hutan atau lebih buruk lagi, dan yang terpenting, Tao tidak ingin sendirian di hutan gelap ini. Dia bisa mati di pagi hari!
Terlalu tergesa-gesa, Tao tidak sadar ada cabang kokoh menghadang di depannya. Cabang itu menampar jidatnya. Tao terpelanting jauh dengan posisi pantat mencium tanah. Setelah meringis sebentar, dia bangkit lagi dan buru-buru mengejar. Cemas sesuatu terjadi pada Baekhyun. Kenapa kelakuannya mendadak ganjil? Tiba-tiba kabur dan menghilang. Tidak biasanya dia begitu. Tadi masih normal-normal saja kok.
Tao merinding.
Saat dia berlari, sesuatu menabrak kepalanya lagi, meski tidak di dahan. Cukup mengejutkan hingga membuatnya terperanjat.
Tao meraihnya dengan satu tangan. Dan makin terkejut begitu mengetahui bahwa benda itu adalah boneka. Yang lebih buruk, boneka seram itu tergantung di cabang dengan leher yang terlilit benang panjang. Bagian paling mengerikan dari semuanya adalah cara berpakaiannya. Kawat berduri menancap di leher boneka. Hoodie yang dikenakan boneka itu warna biru gelap. Kok... kayaknya familier ya...
Milik Baekhyun?!
Tao melotot, saraf-saraf tubuhnya makin tegang. "Apa-apaan...?"
Itu jelas-jelas harusnya jaket Baekhyun. Tapi... bagaimana bisa dipakai boneka ini? Siapa yang mencurinya? Apa ada seseorang memata-matai mereka saat ini?
Baekhyun!
Tao hampir melupakan namja mungil itu. Mungkinkah dia telah bertemu dengan kru-kru lain di pondok? Bisa jadi. Semoga dugaannya ini yang benar. Tapi... kenapa mendadak...
Tidak mungkin Baekhyun meninggalkannya tanpa sebab yang jelas. No-Fucking-Way! Baekhyun memang agak judes, tapi dia tidak mungkin serendah itu. Tao hapal betul hyung manis kesayangannya memiliki perasaan khusus untuknya. Tidak mungkin dia kelewat sadis begini. Sampai kabur duluan.
Tao melemparkan boneka plastik itu ke tanah dan menginjaknya sekuat tenaga.
Singkirkan dulu! Terlalu seram dipandangi. Tao celingukan berusaha mencari tongkat pemukul, patahan cabang pohon atau apa saja yang keras-keras.
Teriakan berikutnya membuat Tao membeku, karena yang barusan itu adalah Baekhyun. Jeritan yang dalam dan melengking.
Angin lembut bertiup membawa suara-suara tidak jelas, terbang menerpa wajah tegangnya, bercampur aduk: ada suara-suara orang bergumam rendah, ada yang berbicara riuh dari suatu tempat entah dimana, suara-suara asing itu saling berebut untuk menyeruak masuk ke lubang telinganya. Kini terdengar begitu jelas. Sampai Tao bisa membedakan yang mana suara laki-laki muda dan suara perempuan tua.
Bunyi nyaring seperti siulan menembus udara. Rasanya datang sekitar sini, disusul kemudian suara teriakan, bisik-bisik dan tawa cekikikan.
Itu seribu suara digabung jadi satu. Ada yang menjerit dengan nada tinggi, ada yang berbisik-bisik, menggelitik bagian belakang lehernya. Lalu ada satu teriakan yang menonjol dari yang lain, pecah dengan suara nyaring yang mengerikan
Jantung Tao berdebar. Dia yakin betul pernah merasakan yang seperti ini dulu, waktu dia dan regunya tanpa sengaja terguling dan tercebur ke rawa-rawa, bagian seramnya mereka tertangkap basah oleh penguasa rawa-rawa—Seekor buaya raksasa sepanjang sepuluh meter. Yap. Itulah yang dia rasakan saat ini. Sama persis.
Takut. Waspada. Perasaan terancam.
"He's come out to play, out to play, brace yourselves, the Prince is out. The Prince is out to play. Brace yourselves, the Trickster Prince is out..."
Tao cukup berjiwa petualang, tapi ketika orang-orang misterius di hutan mulai meneriakkan mantra aneh di tengah malam, Tao tahu dia harus keluar dari sana secepat mungkin. Sayangnya dia kehilangan arah. Merasa tak berdaya tanpa teman-temannya yang lain.
Kemudian dia mendengar gumaman nafas, yang meningkat menjadi desahan tidak wajar. Mendesis di udara. Tao tidak tahu apa yang mereka incar. Tao tidak tahu di mana teman-temannya berada atau apa yang terjadi pada Baekhyun, tapi ada satu hal yang dia petik dari kejadian ini adalah: berkeliaran di hutan tengah malam untuk menemani gebetanmu kencing benar-benar tindakan gila.
Suara-suara itu meningkat, terus berbisik, mengucapkan kalimat-kalimat random yang sulit dimengerti. Suara terorganisir dari seribu orang yang berbisik sekaligus.
Tenang, tenang, dia jago karate. Pendekar Ban Hitam. Kalau ada apa-apa banting saja. Yup. Oke. Beres. Banting saja. Keputusan yang cerdas.
Secara ajaib, semua suara-suara itu berhenti. Hening total. Tidak ada jangkrik, tidak ada angin, tidak ada daun berdesir.
Ini sih lebih seram!
Kedua tangan Tao terkepal, dan dia tidak bisa berpikir jernih. Ketika berbalik. Di sanalah dia berdiri tegak.
Baekhyun...
Lihat betapa anehnya dia. Kepalanya tertunduk rendah, saat cowok itu mengangkat dagu, matanya putih. Jari-jarinya melengkung kaku dan kejang di sisi pinggangnya, mulutnya terbuka lebar. Dia terus menggeram dengan suara yang sama sekali asing. Kepalanya terpental dari sisi ke sisi, bergerak-gerak liar, seolah-olah lehernya terbuat dari karet elastis.
"H-hyung... kau kenapa? Kenapa kau... jadi... begitu?"
Baekhyun—atau-makhluk-mirip-Baekhyun—mengangkat kepalanya dengan sorot tajam, kali ini dia berbisik dengan suara berbeda. Mulutnya terbuka lebar dan tertawa, dadanya bergetar menumpahkan suara gemuruh seperti angin puting beliung.
Lari adalah gagasan yang bagus. Selain itu, Tao yakin Baekhyun kebal dibanting. Dia mirip setan di film Exorcist. Tidak mungkin Tao menang.
Sambil berlari, dia terus mendengar suara-suara bisikan yang sama. Suara-suara yang diduga Tao sebagai ribuan pelayan kecil si iblis tukang rebut tubuh orang. Bagaimana cara menyelamatkan Baekhyun? Pikirannya buntu total. Dia bahkan terlalu takut untuk sekedar menoleh.
"The Prince is ready to play... The Trickster Prince will play tonight... Run, run, run, here comes the Prince..."
"DIAAM! BERISIK!" teriaknya. "BANGSAT! TINGGALKAN AKU SENDIRI! SIALAAAN!"
Dia menerjang barisan pepohonan, kali ini melihat boneka-boneka digantung di pohon, persis seperti sebelumnya. Hanya saja... dalam jumlah ratusan! Dan variasi yang berbeda. Ada boneka yang mirip dia tergantung di pohon sudut sana, ada yang mirip Jongin, Chen, Xiumin, dan seluruh kawan-kawannya. Apa maksudnya ini!?
Jeritan lain terdengar, dan tiba-tiba saja Baekhyun muncul di sebelah kanannya. Tao berpaling dan berbelok ke jalur lain.
"Jangan berhenti..." desisnya, menggelitik bagian belakang leher Tao. Malah memacunya untuk berlari.
Lagipula, dia masih belum tahu apa yang terjadi dengan Baekhyun. Dia bisa saja mati, atau hilang, atau ditangkap, atau benar-benar kesurupan roh jahat. Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu apa yang menimpa hyung kesayangannya itu. Tidak ada waktu untuk berpikir, Tao meluncur setengah terpejam melewati pepohonan. Merunduk untuk menghindari boneka-boneka menyeramkan itu.
Seseuatu yang keras menjegal langkahnya, Tao tersungkur di tanah. Dadanya terasa remuk karena pendaratan yang kurang mulus di permukaan berbatu. Begitu mendongak untuk melihat benda apa tadi yang menyandung kakinya...
Tidak ada apa-apa. Bukan akar pohon. Jadi... apa itu tadi?
Pertanyaannya segera terjawab ketika beberapa orang berpakaian serba hitam keluar dari balik pohon. Beringsut mendekatinya. Tao mundur, terpojok di pohon besar. Jelalatan waspada.
Matanya melotot melihat salah seorang dari mereka membawa palu, paku dan tali tambang. Mau diapakan dia?!
Seorang pria berdehem di sisi kiri, Tao sontak menoleh. Hantaman benda tumpul yang diterima kepalanya membuat Tao terkapar detik itu juga.
.
.
.
—TBC—
.
.
~Coming Soon Chapter—"Playing With Fate"—Coming Soon Chapter~
A/N: Akhirnyaaaa! Akhirnyaaa saya berhasil update :'). Makasih ya yang udah sempat meninggalkan kritik di kolom kemarin. Makasih juga yang udah sempet review. Dan makasih buat temen-temen yang tetep setia nungguin saya :(. Oh iya, untuk ff ini sengaja saya update ulang chapter2 kemarin karena ada beberapa perubahan tanggal. And... makasih juga untuk temen-temen yang udah ngasih semangat buat saya, jadi apapun yang terjadi, saya nggak ambil pusing, tetep nulis dan akhirnya... BISA JUGA UPDATE :'). Oh satu lagi, yang di goa tambang itu sengaja gak saya kasih keterangan waktu karena ceritanya mereka gak pusingin soal waktu (-_-), yang penting bisa keluar dengan selamat :v. Dan momen pas KrisYeolSuDoHun di goa itu bertepatan sama temen-temennya yang lagi berjuang mati-matian melawan 'para penjajah kedamaian' di luar. Semoga teman-teman lumayan 'puas' dengan chap ini ;D. Jika ada tanggapan, komentar, kesan dan pesan atau pertanyaan harap dibagikan di kolom review ya guys. Supaya saya tetap bisa semangat ngetik ini. Mumpung mood lagi berkiblat ke horor.
Terus soal Jongin... kalau kalian baca ff ini baik-baik, kalian pasti tahu apa sebabnya dia jadi bisa punya visi begitu.
Oh iya, kalau ada yang bertanya-tanya "what happen with Kris", saya gak bisa bercerita banyak, cuma mau bilang... Midnight Man gak segampang itu melepaskan para pengundangnya. Jadi...
Teringat cerita seorang temen yang pernah main games itu dan akibatnya luar biasa fatal. Midnight man gak mau pergi. Dia sampai pindah dari rumah itu. Meskipun.. untungnya, alhamdulillah, gak sampai ada kematian. Tapi... tetep aja (-_-;). Don't try THAT at home!
Ya sudah. Cukup segitu saja. And bila berkenan review atau masih ada pertanyaan silahkan tanyakan. (^^). Feel free to comment :*
C u in the next chap geeenggs ;D!
Thanks for read this fanfic! Love you guys. Tebar kecupan gratis #PLAK!
Oke enough xD.
