Saat dia melihat foto itu hatinya sangat sakit dan hancur. Seperti sebuah mimpi buruk, terlebih difoto itu tertulis J Love K.
"Bukan kah ini foto Jin dan Kazusa? Kenapa bisa? Tidak, ini semua tidak mungkin...! Ini pasti bohong! Semua ini bohong...!" Karin terus meyakinkan dirinya sendiri jika foto itu bukanlah Jin, badannya lemas dan ia terus menangis.
Kemudian, Miyon masuk kedalam kamar Kazusa dan disaat yang sama ternyata Kazusa juga pulang dan ingin beristirahat dikamarnya.
"Ada apa Karin?" tanya Miyon, kemudian Miyon memeluk erat sahabatnya.
"Karin, Miyon... Kenapa kalian bisa ada dikamarku?" tanyanya yang terkejut melihat Karin yang sedang memegang fotonya bersama Jin.
.
.
~Because I Love You~
.
.
.
Diclaimer: Kamichama Karin; Kamichama Karin Chu ©Koge Donbo
.
.
Claimer : This Fanfic made by Kiyoko Hanazono 'ZaZaRu'-Chu (Tia)
.
.
_Chapter 6_
Is Not Always Beauty
.
.
Rating : T
Pairing : Hanazono Karin X Kujyou Kazune ; Yuuki X Myon
Genre : Romantic, Angst
.
.
Chara : Hanazono Karin, Kujyou Kazune, Kujyou Himeka, Jin Kuga, Kujyou Kazusa, Karasuma Rika, Michiru Nishikiori, Kujyou Kazuto, Kujyou Suzuka, Q-chan, Yuuki, Myon.
.
.
WARNING! : OOC ; Deskripsi gak jelas ; Jalan cerita gak nyambung ; GaJe ; Miss-typo ; de el el
.
.
~Because I Love You~
.
.
Kau Beri Aku Cintamu
Kau Tunjukan Pada Ku Apa Itu Cinta
Kau Beri Aku Harapan
.
.
Semuanya diam mematung, hanya tatapan mata mereka yang saling bertemu. Tatapan Karin yang memiliki arti, arti dikhianati dan sangat marah pada sahabat baiknya atau mungkin lebih tepat mantan sahabat baiknya.
Kazusa terdiam, dia melangkah perlahan mendekati Karin dan Miyon yang duduk sambil memegang foto tersebut.
"Tidak... Karin, itu bukan seperti yang kau pikirkan. Foto itu, foto itu... Foto itu... Bukan aku, a-ak-akuu..." Kazusa mencoba menjelaskan, namun dengan nada yang terbata-bata dan gugup.
Karin mencoba berdiri dengan kaki yang gemetar. Wajahnya pucat, matanya berair. Pipinya basah karena airmata yang mengalir karena rasa kecewa.
"Jika memang tidak ada hubungan apa-apa kenapa bisa ada barang seperti ini? Apa yang membuatmu melakukan hal sebodoh ini? Apa kau gila? Kenapa kau tega melakukan ini pada sahabatmu sendiri? Kau pikir aku orang bodoh yang bisa kau bodohi? Ternyata selama ini semua itu benar! Aku pikir kau dan Jin adalah orang yang bisa ku andalkan. Dua orang yang sangat penting bagiku setelah Tuhan dan keluarga. Tapi kenyataannya? Apa ini balasanmu padaku? Apa salahku? Salahku dimana? Kenapa? Kenapa jadi seperti ini?!" Karin berteriak dihadapan wanita yang telah menghianatinya itu.
Kazusa terdiam, dia hanya bisa menangis.
"Tidak, tak ada yang salah. Kau tak salah apa-apa. Aku yang salah, tapi Jin memaksaku. Awalnya aku tak mau, tapi Jin yang mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Aku tidak mau menyakiti sahabatku sendiri..." Kazusa menangis, belum usai dia bicara, Karin langsung memotong kalimatnya.
"Kenapa tak bilang dari awal? Kau bilang kau tak ada hubungan apa-apa, tapi sekarang kau mengakui semuanya. Seperti orang yang tak pernah berbuat dosa, airmatamu apa itu juga termasuk dalam rencana? Kau pintar bersandiwara! Apa selama ini hanya berpura-pura? Mendekatiku, mendengarkan semua ceritaku, belajar bersama, pergi bersama, makan bersama, semuanya kita lakukan bersama! Bahkan disaat aku memilih kue untuk ulangtahun Jin kau juga ikut! Kau... Kau... Kau benar-benar tak punya hati! Manusia seperti apa kau ini? Wanita tak punya malu! Kau rendahan! Benar-benar rendahan!"
"Aku takut kau marah... Aku takut kau membenciku... Maaf... Aku tidak ingin hal itu terjadi, aku tahu aku salah. Maafkan aku."
"Kau tahu itu salah, tapi kenapa kau masih melakukannya? Meskipun kau membantah itu bukan berarti tidak terjadi apa-apa diantara kalian! Kau tahu bagaimana perasaanku padanya, tapi kenapa kau bisa tega melakukan semuanya? Bagiku kau itu seperti saudara, saudara kandungku! Apa ini balasanmu? Kau jahat... Lebih jahat dari seekor harimau!"
"Aku tahu aku yang salah, tapi bukankah wajar saja jika manusia melakukan kesalahan? Setiap orang juga punya kesalahan. Bahkan mungkin kau. Kau juga tanpa kau sadari telah menyakiti ku! Apa kau tahu? Sikapmu yang terlalu baik itu membuatku muak! Aku muak melihat semua orang memujimu, aku muak mendengar semua orang membicarakan tentang hidupmu! Aku benci saat semua orang bersikap seolah-olah dunia tunduk dibawah kakimu! Saat kau bisa meraih peringkat 1 umum, kau tahu apa yang dikatakan orang-orang? 'Karin orang yang sempurna. Wanita paling cantik, paling pintar, baik, ramah, dan dia itu sangat sempurna. Jin beruntung memiliki kekasih seperti dia.' Semua orang membicarakan kalian berdua. Aku muak! Aku muak dengan semua kesempurnaanmu! Jika semua yang kau miliki aku rampas, apa kau masih akan menjadi orang baik? Apa kau masih akan sama? Apa kau akan tetap ramah? Semua orang membandingkanmu dengan ku!" ujar Kazusa
"Tutup mulutmu! Kau benar-benar keterlaluan, Kazusa. Aku kira kau anak yang baik. Kau adikku, kau seorang manusia, tapi sikapmu? Sikapmu lebih buruk dari seekor hewan! Singa pun tak tega untuk memakan anaknya. Singa yang terkenal jahat dan mengerikan akan menyelamatkan sahabatnya jika dia terancam. Tapi kau? Kau membuat malu keluarga!" jawab seorang pria berambut pirang yang tiba-tiba saja datang dan memasuki kamar Kazusa.
"Kakak..." Kazusa terkejut saat mendapati Kazune tepat berada dibelakangnya.
"Keuntungan apa yang kau dapatkan? Apa dengan menjadi selingkuhan Jin, merampas hak milikku, mempermalukanku, membuatku sakit, dan bahkan memakiku bisa membuatmu puas? Kau akan mendapatkan balasan yang setimpal!" cetus Karin. kemudian, Miyon dan Kazune membawa Karin ke kamarnya yang ada di sebelah kamar Kazune.
.
.
Meskipun Membantah Sesuatu,
Bukan Berarti Tidak Terjadi Apa-Apa.
Keuntungan Apa Yang Didapat Dengan Menghianati Sahabat Sendiri?
.
.
.
Sore berganti malam. Kazusa merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur berwarna merah muda miliknya. Dia menatap ke langit-langit kamarnya, membayangkan masa-masa indah saat bersama Karin dan juga Jin. Pikirannya melayang. Sesekali dia memejamkan matanya, lalu membukanya kembali. Dan begitu seterusnya. Hingga di pikirannya kembali terlintas kejadian hari itu.
-flash back-
Bunga Sakura berjatuhan satu persatu. Angin berhembus lembut, cahaya matahari samar-samar mulai tak terlihat jelas. Di kejauhan terlihat suasana yang begitu hangat, seorang anak perempuan sedang berdiri tepat didepan gerbang sekolah, para siswa dan siswi pun mulai berhamburan memenuhi halaman Sakuragaoka Academy. Ya, saat itu adalah waktu pulang sekolah.
Seorang anak perempuan berambut coklat tengah berlari menerobos keramaian dengan nafas yang terengah-engah.
"Kazusaaa" ucapnya sambil melambaikan tangan kanannya kepada anak perempuan berambut panjang pirang yang telah menunggu didepan gerbang sekolah sejak tadi.
Anak perempuan yang bernama Kazusa itu pun membalas lambaian tangannya, kemudian ia tersenyum. "Cepatlah." Ujarnya kemudian.
"Maaf ya, apa kau telah lama menunggu? Aku tadi darriiiiii..." belum usai anak itu menjelaskan alasannya terlambat datang, Kazusa telah memotong pembicaraannya.
"Baiklah tak apa. Aku juga baru keluar dari kelas. Aku tahu, kau dari menemui 'pacar' mu itu kan?" tanyanya.
"Kau tahu? Bagaimana bisa kaauu..." jawab anak yang bernama Hanazono Karin dengan wajah yang memerah, namun lagi-lagi Kazusa memotong pembicaraannya.
"Aku tahu, karena kau mengikutimu.. Aku tahu, karena aku yang memintanya pada Jin. Jin itu kekasihku, bukan kekasihmu. Aku cemburu melihat kedekatan antara kalian." Batin Kazusa.
"Itu terbaca dari matamu." Jawabnya singkat dengan tatapan mata yang sedikit kecewa. "Oh ya, kenapa kalian tidak pulang bersama?" tanyanya untuk mengalihkan perhatian Karin, agar sahabat baiknya itu tak membahas tentang ekspresi 'mata' nya itu.
"Oh soal itu. Aku lebih memilih pulang bersama mu." Jelas anak perempuan berambut coklat yang memakai pita berwarna merah muda di rambutnya.
Mereka pulang bersama dengan bergandengan tangan. Suasana yang begitu dingin terasa hangat, dua anak berambut panjang itu berjalan beriringan sambil bercanda tawa bersama.
-end of flash back-
Kazusa mengubah posisi tubuhnya, ia berbalik kesisi kanan. Kemudian memegang ponsel yang berwallpaper foto saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu, Kazusa, Karin, Himeka, Miyon, Kazune, Michiru, Yuuki, dan Jin Kuga semuanya masih begitu dekat dan akrab. Tak ada perselisihan sama sekali.
Perlahan-lahan matanya mulai berair, beberapa kali dia menyeka air mata yang mengalir secara tak sengaja dari pelipis mata indahnya.
"Ah... ada apa denganku? Ada apa denganmu Kazusa? Sudah lah, lupakan saja! Itu bukan kesalahanku! Dia yang mengambil semua milikku! Dengan mudah dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi aku? Bukankah ini cukup adil untuknya? Bahkan mungkin aku masih terlalu baik. Sahabat? Sahabat apa? Apa yang dimaksud teman? Mungkin itu hanya omong kosong yang tak berguna!"
.
.
.
Apa Semua Manusia Itu Sama?
Mengapa Ada Orang Yang Bisa Mengkhianati Orang Lain?
Apa Itu Telah Menjadi Kebiasaan Manusia
Menyukai Lalu Menjadi Sangat Membenci?
.
.
.
Sinar matahari perlahan mulai menerobos masuk melalui celah-celah jendela rumah keluarga Kujyou. Seorang pria tinggi berkulit putih berambut pirang, yang memakai baju berlengan panjang berwarna biru dan celana panjang berwarna putih dengan sepatu yang juga berwarna putih sedang duduk memandang keluar jendela kamarnya dengan secangkir kopi yang tengah ia nikmati.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa benar jika Kazusa dan Jin telah mengkhianati Karin?" gumamnya, sesekali ia meminum kopi hangat tersebut.
Ia meletakkan secangkir kopi itu disebuah meja kaca yang ada didepannya, dia berdiri dan mendekat kearah jendela. Menatap kearah luar dengan sungguh-sungguh.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa ini semua bisa terjadi?" tanyanya kembali, kemudian ia mengerutkan dahinya.
Dia melangkah pergi keluar dari kamarnya yang begitu nyaman, menuju kesebuah tempat. Ya, lebih tepatnya kamar Hanazono Karin.
'tok tok tok' suara pintu berwarna coklat itu. Pria tampan itu menunggu dengan penuh harapan jika dibalik pintu itu terdapat orang yang ia cari, gadis yang ia cintai, yaitu Karin.
Setelah menunggu beberapa menit, tak ada jawaban sama sekali. Ia mencoba mendengar hal apa yang terjadi dengan mendekatkan telinganya ke pintu tersebut, namun ia tak mendengar apapun.
"Karin! Karin...! Karin...! Karin...!" ujarnya yang terus memanggil-manggil nama gadis itu karena khawatir.
Lagi-lagi ia tak mendapat jawaban apapun. Ia semakin kesal, Kazune tak bisa menunggu lebih lama lagi. Saat ia mencoba membuka pintu kamar Karin, ternyata pintunya tidak dikunci.
"Pintunya tak dikunci? Ada apa sebenarnya?" batin Kazune khawatir.
Dengan begitu cepat ia melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar wanita itu. Ia mendapati Karin tengah terbaring lemas diatas tempat tidurnya dengan menggunakan piyama berwarna putih. Wajahnya begitu pucat, terlihat jelas dari wajahnya jika ia sangat lelah, sampai-sampai saat ingin tidur dia melupakan selimut hangatnya.
"Aku pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu, ternyata kau masih tidur. Huh, untunglah... Sekarang aku bisa merasa sedikit tenang." Gumamnya sambil menghela nafas.
Kazune mengelus kepala Karin dengan lembut, ia tersenyum. Kemudian, saat ia ingin pergi dari kamarnya Karin, wanita berambut coklat itu memegang lengan kiri Kazune.
"Jangan pergi. Tetaplah disini, temani aku. Aku sendiri, tak ada yang mengerti." ucap Karin dengan mata yang masih tertutup, nada bicaranya juga sedikit berantakan.
"Apa yang kau katakan?" jawab Kazune. "Bukankah kau ini masih tidur?" tambahnya kemudian.
"Pacar, sahabat, teman, semuanya sama! Mereka semua hanya mempermainkan ku, mempermainkan perasaan dan hatiku! Heh, kalian pikir aku ini boneka? Aku hanya ingin kau, tak lebiihh... Apa aku salah? Aku... Akuuu..." wanita itu tiba-tiba berhenti bicara, ia membalikkan badannya ke sisi kanan.
Kazune membalikkan tubuhnya kearah tempat tidur Karin, kemudian ia duduk menemani Karin sambil memegang tangan kanan Karin. Ia mengelus kepalanya, memandangnyaa dengan tatapan yang berbeda, bukan seperti sahabat namun lebih tepatnya seperti tatapan penuh cinta. Sesekali Kazune tersenyum dan tak pernah mengalihkan pandangannya.
"Tenanglah. Aku akan disini untukmu. Kita akan tahu yang sebenarnya. Bersabarlah." Ucapnya. Kemudian Kazune membisikkan sebuah kalimat ke telinga gadis itu. "Aku mencintaimu."
.
.
.
Tentang Apa Yang Aku Rasakan,
Kau Hanya Bisa Bicara.
Kau Tak Akan Mengerti,
Jika Kau Tak Mengalaminya Sendiri.
.
.
.
Satu hari telah berlalu dengan sangat cepat, waktu berlalu terbuang sia-sia tanpa ada aktivitas apapun yang mereka lakukan. Hanya terdiam mematung, seolah-olah membeku dan terus mengeluarkan pertanyaan. Pertanyaan dan pernyataan yang sulit untuk di terima oleh akal sehat.
Tak satupun manusia didunia ini yang menginginkan penghianatan, apalagi dari orang-orang terdekat. Semua manusia hanya ingin hidup bahagia dengan apa yang mereka miliki, namun karena keserakahan manusia dan sifat iri manusia, seorang manusia bisa menghancurkan manusia lain yang sangat menyayanginya.
Langit mulai berwarna jingga, semua orang mulai menghentikan aktivitas mereka yang melelahkan dan menuju rumah masing-masing untuk beristirahat. Hari itu, rumah keluarga Kujyou terlihat seperti rumah 'mati'. Gelap, sunyi, sepi, tak ada canda tawa.
Bell rumah keluarga Kujyou itu pun berbunyi, dan ternyata yang datang adalah Michiru dan Himeka yang baru saja pulang dari tugas keluar kota bersama dengan seorang laki-laki berambut hitam.
"Hay Kazune. Maaf ya aku baru bisa pulang sekarang, oh ya bagaimana keadaan di rumah? Apa semuanya baik-baik saja?" Michiru mulai mengajukan sejuta pertanyaan kepada Kazune yang membukakan pintu dengan wajah cerianya. Namun, Kazune hanya diam.
"Cepat masuklah. Himeka, kau pasti lelah. Ada hal yang ingin ku bicarakan pada kalian."
"Maksud mu tentang apa?" tanya adik perempuan Kazune yang bernama Himeka.
"Aku punya kejutan untuk Miyon! Kami pulang bersama orang yang sangat spesial untuk Miyon, Yuuki akhirnya bisa meluangkan waktu untuk kembali ke Jepang!" seru Michiru.
"Hay, sudah lama sekali tak bertemu. Kau telah menjadi Dokter yang hebat! Bagaimana dengan Karin?" sapa Yuuki, dan sempat mengaju kan beberapa pertanyaan.
Kazune hanya menjawabnya dengan memberikan senyuman khas seperti biasa.
"Masuklah, kalian bertiga pasti sangat lelah." Ajak Kazune.
Mereka duduk sambil berbincang-bincang diruang keluarga. Ya, Kazune adalah anak seorang .Kujyou Kazuto, Beliau sangat menginginkan anak laki-laki satu-satunya bisa menjadi seperti dirinya. Tapi karena suatu hal Kazune mulai menghentikan impiannya untuk menjadi Dokter seperti apa yang diinginkan ayahnya.
"Em, bagaimana perasaanmu saat kembali ke Jepang?" tanya Kazune pada Yuuki.
"Hahahaaa. Tentu saja bahagia, aku sangat senang! Aku merasa seperti pulang kekampung halaman. Bunga Sakura, udara yang sejuk, pesta kembang api, dan semuanya. Sudah lama aku tak merasakan hal itu, terutama kehangatan keluarga dari kalian semua. Di tempat itu, aku merasa sepi. Terutama aku merasa sangat merindukan Miyon ku." Jawab Yuuki sambil tertawa lepas.
"Tentu saja, di Amerika tidak akan ada gadis seperti sahabatku Miyon. Jika kau bertingkah aneh, akan ku habisi kau!" ucap Kazune yang juga sambil tertawa, kemudian sesekali ia menikmati teh hangat di gelas berwarna putih yang ada di meja ruang keluarga.
"Oh ya, bukankah kau sangat merindukan Miyon? Bagaimana jika aku memanggilkan Miyon untukmu? Kalian tunggu disini, aku juga akan panggil kak Kazusa dan Karin untuk bergabung." Ucap gadis yang memakai dress berwarna hitam tersebut, kemudian Himeka segera berdiri bermaksud untuk pergi kelantai dua dan memanggil Miyon, Kazusa, dan Karin untuk mengobrol bersama.
"A-ap-apaa? I-iya... Baiklah, kau boleh melakukan semua yang kau mau. Ajak mereka untuk bergabung." Ucap Kazune sambil terbata-bata.
"Karin juga ada disini? Wah, ini bagus sekali! Kita semua berteman akrab, bagaimana jika malam ini kita mengadakan pesta? Pakai uang ku saja, bukankah aku yang mengusulkannya? Hahahaa. Ini seperti reuni masa SMA!"
"Iya Kazune, aku setuju dengan usul Yuuki. Lagipula keadaan Hanazono sudah jauh lebih baik, ini pertama kalinya kita semua punya waktu untuk berkumpul bersama. Himeka juga berhasil mendapatkan pekerjaan dikantor yang sama denganku berkat kerja kerasnya selama ini. Mau ya? Ayolah Kazune." Michiru terus merayu Kazune.
Kazune hanya terdiam, bagaimana mungkin bisa mengadakan pesta di tengah suasana mengerikan seperti ini? Sama saja seperti menabur garam di atas luka!
"Tidaakk..." kata Kazune dengan wajah yang cemas.
"Ada apa denganmu Kazune? Tak biasanya kau begini." Tanya Yuuki.
"Tidak, maksudku bukan begitu. Kalian tidak mengerti apa yang terjadi. Aku belum memberitahu semuanya pada kalian. Tolong, jangan buat semuanya semakin rumit!" jelas Kazune.
Tiba-tiba saja, dari lantai dua terdengar suara teriakan dan suara tangisan.
"Kau wanita jahat! Apa yang kau inginkan? Ada apa denganmu? Aku memberikan segalanya untukmu! Tapi kenapa kau seperti ini? Apa aku pernah berbuat salah? Apa aku pernah berbohong padamu? Aku pikir kita teman, aku kira kita keluarga. Tapi setelah apa yang kau perbuat, kau tak lebih dari SEBUAH SAMPAH!" cetus Karin dengan volume suara yang keras, emosinya meluap begitu saja saat melihat Kazusa keluar dari 'sarang persembunyiaannya' dengan dress coklat dan mantel berwarna putih miliknya.
Himeka yang tak tahu apa permasalahan yang sebenarnya merasa heran dengan apa yang terjadi didepan matanya.
"Kenapa ini? Apa yang terjadi Kazusa? Sebenarnya Karin dan Kazusa kenapa Miyon?" tanya Himeka, namun pertanyaan itu hanya melayang diudara.
"Kenapa kau hanya diam saja? Ini sangat berbeda dengan sikapmu yang sebenarnya! Kenapa? Kenapa kau tak membunuhku saja? Kenapa, kenapa, kenapa, dan kenapa...? Aku bertanya padamu! Kenapa kau tak bisa menjawab satu pun pertanyaan dariku?!" Karin terus saja bicara sambil berteriak dihadapan Kazusa, sementara Miyon terus memeluknya erat-erat berusaha untuk membuat sahabatnya itu merasa tenang.
"Hentikan Karin, percuma bicara dengan sampah seperti dia!" ucap Miyon sambil bercucuran airmata.
Kazusa turun menyusuri satu persatu anak tangga, airmata yang sudah ia tahan kini telah meluap. Kesedihan, rasa malu, menyesal, marah, dan kecewa. Itulah perasaannya ia tunjukkan lewat airmatanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi disini? Setelah kecelakaan Jin dihari pernikahan, maksudku setelah hari itu apakah ada hal yang lebih buruk dari itu?" tanya Yuuki yang heran.
"Apa Michiru dan Himeka tak menceritakan apa-apa padamu?" Kazune berbalik mengarahkan pertanyaan kepada pria berjas hitam itu.
"Tidak, bahkan mereka tak memberitahuku jika Miyon tinggal disini karena ada Karin." jawab Yuuki polos.
"Aku pikir aku tak perlu menjelaskannya, Kazune." Jawab Michi singkat.
"Terserah padamu, tapi ada beberapa hal yang belum kalian ketahui. Dan mungkin ini sulit untuk menerima kenyataan yang sebenarnya." Ucap Kazune pada Michiru.
"Tanyakan pada Michi." Tambah Kazune.
Kazusa pergi entah kemana, Kazune berusaha mengejarnya yang baru saja keluar dari pintu utama rumah keluarga Kujyou.
"Kazune... Apa kau marah padaku? Hei, Kazune! Kazune! Kazune!" pertanyaan dari Michiru itu terabaikan, hanya melayang di udara. Karena Kazune tak mendengarkan perkataan darinya lagi. Pria berkemeja putih dengan celana panjang berwarna hitam itu telah pergi mengikuti adik perempuannya.
.
.
.
Haruskah Ini Yang Terjadi?
Hal Yang Lebih Buruk,
Tak Pernah Terbayangkan Sebelumnya.
Sekarang, Telah Menghancurkan Hidupku.
.
.
.
Bulan telah menggantikan posisi matahari, malam ini suasana begitu hening. Himeka terus duduk didepan pintu kamar Karin, Michiru berusaha menghubungi Kazune, Miyon mencoba menjelaskan semuanya pada Yuuki agar Yuuki bisa mengerti dan memahami, sementara Karin hanya terdiam disamping tempat tidurnya. Ia menenggelamkan kepalanya kedalam dua buah kaki yang telah ia lipat dan memeluknya rapat-rapat dengan kedua tangannya.
Karin POV.
Aku tak pernah memikirkan hal buruk akan terjadi dihidupku. Yang aku tahu, aku memiliki orang-orang yang menyukaiku, menyayangiku dengan tulus, dan menerimaku apa adanya.
Kami... maksudku, aku dan Kazusa adalah sahabat baik. Lebih dari 1.709 jam waktu yang telah kami habiskan.
Bagiku, tak ada yang salah. Aku menyayangi mereka semua. Aku tak pernah membenci mereka. Yang ku inginkan hanyalah hidup bahagia dengan orang yang ku cintai dan tetap bersama teman-teman yang menyayangiku.
Apakah salah jika kita terus berbuat baik?
Mengapa mereka tega menghianati orang yang tak pernah berpikir buruk tentang diri mereka hanya karena keegoisan sesaat?
Apakah ini yang dinamakan 'karma' ? Lantas, karma akan apa? Aku tak pernah mengambil hak milik orang lain. Aku selalu menghargai mereka. Semua yang mereka inginkan selalu ku berikan, tapi apa ini cara mereka membalasku?
Sesekali aku melihat kearah dinding yang ada didepanku, melihat kearah luar jendela. Burung-burung beterbangan bersama-sama menuju arah yang sama. Bulan menggantikan posisi matahari. Satu persatu tetes air hujan turun membasahi bumi, apa langit juga ikut menangis karena melihat hidupku yang seperti ini?
Entah mengapa, aku tetap tak bisa menghentikan airmataku. Aku tak pernah membayangkan Kazusa berubah menjadi orang yang sangat jahat seperti ini!
.
.
.
Normal POV.
Hujan turun semakin reda, sementara Kazune mau pun Kazusa belum ada yang kembali pulang. Jangankan untuk pulang, mengangkat telpon saja tidak.
"Michi, bagaimana? Apa yang dikatakan Kazune?" tanya Miyon menghampiri Michiru yang berdiri didepan jendela sambil memegang ponsel miliknya.
"Apanya yang bagaimana? Mengangkat telpon saja tidak! Aku tidak tahu mereka berdua ada di mana!" jawab Michiru dengan nada kesal.
"Maaf Miyon, aku membentakmu. Aku tak bermaksud sama sekali." tambah Michiru.
"Iya, aku tahu. Sudahlah, jangan memperburuk keadaan." Jawab Miyon yang mencoba menenangkan Michi.
"Aku akan mencari Kazune." Kata Yuuki, kemudian dia memakai mantel hitam miliknya.
Miyon menggelengkan kepalanya, "Tidak. Itu tak akan terjadi. Kau tidak boleh pergi di cuaca yang seperti ini! Kau baru saja tiba, kau pasti lelah. Tak akan ku biarkan kau pergi mengemudi dengan kondisi seperti ini, Yuuki!" bentak Miyon.
"Lalu, apa kita harus menghabiskan waktu untuk berdiam diri ditempat ini? Bertanya lalu menjawab sendiri. Itu hal bodoh!" ucap Yuuki.
"Jika kau pergi, maka kau lebih bodoh dari seekor keledai!" cetus Miyon.
.
.
.
Sementara itu, ternyata Kazusa sedang bersama Rika. Kazusa setengah mabuk, dia terus berbicara seperti orang gila.
"Aku ini pacarnya! Aku yang merencanakan semuanya! Kau itu diam saja. Coba lihat dirimu, apa kau lebih baik dari ku? Kau hanyalah SAMPAH Hanazono Karin!" ucap Kazusa, kemudian ia tertawa.
"Kazusa, kau mabuk berat. Ayo pulang, kau mau menjatuhkan harga diriku?" kata Rika pada Kazusa.
"Rika, aku mabuk atau pun tidak itu bukan urusanmu! Kau tidak tahu apa-apa. Kenapa kau ada disini? Tak usah mengaturku, kau bukan siapa-siapa!" bentak Kazusa tanpa sadar.
"Terserah kau, tapi kau sendirilah yang datang dan meminta bantuanku. Aku akan mengantarmu pulang, kali ini ku maafkan kau karena sepertinya kau stres berat. Tapi sekali lagi kau bicara kasar, maka jangan harap aku akan membantumu!"
Rika mengantarkan Kazusa pulang dengan menggunakan mobil pribadi Kazusa, sementara mobilnya ia meminta supir pribadinya yang mengemudi dan menunggu di kediaman keluarga Kujyou.
Bell Keluarga Kujyou pun berbunyi, dengan langkah cepat Michiru segera membuka pintu.
"Kazune, kau kah itu?" ucap Michiru yang membuka pintu, kemudian wajahnya berubah 360 derajat menjadi sangat kesal melihat wanita yang menggunakan dress merah dan mantel hitam sedang bersama dengan Kazusa.
"Bukankah kau Karasuma Rika?" tanya Miyon kaget yang tiba-tiba muncul.
"Hai, apa kabar?" Rika melambaikan tangannya dengan tatapan sinis.
"Kenapa kau bersama Kazusa?" tanya Michiru.
"Wah... Wah... Wah... Apa kalian semua sekarang tinggal bersama? Benar-benar teman akrab! Jika kau ingin tahu, maka tanya lah langsung pada teman akrab mu ini!" cetus Rika.
Michiru membawa Kazusa masuk, sementara semuanya hanya bisa terdiam mematung. Bingung dan tak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
.
.
.
Semuanya Terjadi Diluar Kendali Manusia.
Aku Menyadari, Bahwa Hati Manusia
Selalu Berubah-ubah.
Namun, Sulit Untuk Menerimanya.
.
.
.
To Be Contineud
.
.
.
~Because I Love You~
.
.
.
Review Please?
