RootWood In!
Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lain yang muncul dalam Fic ini. Saya hanya meminjam apa yang diperlukan untuk membuat Fic ini.
Genre : Adventure, Friendship, Family, Supernatural, Mistery, Romance [Maybe], Etc.
Rate : M untuk Bahasa dan Storyline.
Pair : Akan muncul dengan sendirinya.
Warning : AU, Typo[s], Miss-Typo[s], Bahasa Gado-Gado, Mainstream [Mungkin], OOC [Jelas], OC, Yang Jelas Gaje serta Berantakan, DLL.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
The Half-Devil Lucifer
Arc II : Awal dari semua masalah!
Chapter 6 : Reuni!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Tadaima!" Hashirama mengucap salam lesuh. Pengguna Mokuton ini lalu meletakkan bahan belanjaan yang mereka beli pada lantai dan membuka alas kaki yang digunakannya.
"Aree?... Kok tidak ada jawaban?" Sambil melepas alas kaki sebelah kiri, Hashirama memandang ke depan mencari tanda-tanda kehidupan di apartemen Naruto. Hashirama kemudian menoleh ke kanan. "Ooii, Madar-… Ahh, dia kemana?" Hashirama kembali bingung untuk kedua kalinya karena sohibnya tidak ada di dekatnya. Hashirama mengembalikan pandangan ke depan dan…
"MATI KAU, SIALAN!"
Duagh! Brakk!
"GYAAHHHH!"
Secara bersamaan sebuah kaki besar berotot menerjang wajah bingung Hashirama hingga terpental dan menabrak pintu masuk apartemen mereka. Dengan posisi bersandar di pintu masuk, Hashirama mengusap wajah yang baru saja dihadiahi sebuah tendangan keras. Ketika pengguna Mokuton ini selesai mengusap wajah, terlihat sebuah cap kaki berwarna merah terpampang di wajah Hashirama.
"Apa-apaan kau-… Ehh, Naruto?... Kau sudah bangun?" Dengan wajah memerah terkena tendangan tadi. Hashirama malah melayangkan pertanyaan kepada sang penendang yang merupakan Naruto.
"Haa… Haa… Haa… Sudah dari tadi… Tapi karena kalian berdua, aku serasa mau pingsan lagi, bodoh!" Sebuah jawaban sarkatis keluar dari mulut Naruto. Hilanglah sudah panggilan -Ossan- ataupun panggilan hormat Naruto kepada -mantan- pemimpin Konohagakure yang duduk bersandar di pintu masuk apartemen.
Tak selang 2 detik...
Brakk!
Bruuk!
Hashirama hendak bersyukur karena Naruto sudah sadar tapi malah tersungkur ke depan dan mencium lantai dengan indahnya. Itu karena pintu tempat Hashirama bersandar tiba-tiba didobrak seseorang dari depan. Pelaku pendobrakan tidak lain...
Si Uchiha muka tebing, Madara.
"Haa?" Madara cengo melihat sahabatnya nungging tepat di depan mata.
Lain Madara, lain pula Naruto. Pemuda bersurai Dark-Silver ini tidak memperdulikan Hashirama dan lebih memilih menatap beringas Madara. Kedua tangan Naruto sudah gatal ingin memukul muka tebing Madara.
"Oh... Kau sudah siuman Naruto?" Madara yang baru menyadari keberadaan Naruto langsung melayangkan pertanyaan retoris dengan nada datar seperti biasa.
Ok, kemarahan Naruto akhirnya mencapai pucuk kepala. Tubuh Naruto bergetar hebat akibat sensasi kemarahan yang sudah berada di level tertinggi. Gemelutuk terdengar dari mulut yang berasal dari rahang atas dan bawah yang saling bergesekan. Tangan Naruto mulai memutih dan siap menyapa muka tebing Madara.
5!
4!
3!
2!
1!
"Tunggu!" Madara mengarahkan telapak tangan kirinya yang terbuka ke Naruto. Sepertinya Madara mengetahui jika Naruto akan mengamuk habis-habisan.
Naruto menahan seketika tubuhnya. Alisnya terangkat ke atas memadang Madara. Beberapa menit berlalu, Madara ataupun Naruto masih dalam posisi yang sama. Amarah Naruto kembali memuncak karena merasa dipermainkan oleh si Uchiha Muka Tebing di depannya.
"Tunggu Dengkulmu!... Akan kubunuh kau sekarang juga, MUKA TEBING SIALAN!"
Naruto berteriak keras mengeluarkan semua amarah yang terkumpul di dalam tubuhnya. Pemuda bersurai Dark-Silver ini langsung menerjang Madara dengan tangan kanan terkepal.
Madara yang bingung kenapa Naruto tiba-tiba berteriak penuh amarah... Oh, ternyata si muka tebing satu ini sama sekali tidak tau kalau Naruto akan emosi. Dia tadi hanya bingung kenapa Naruto hanya berdiri di depannya tanpa mengucap sepatah kata pun.
Duag!
Untuk pertama kalinya dalam hidup Madara, dia merasakan kerasnya pukulan Naruto tepat di wajah. Kepala Madara terdorong kebelakang, air liur dari mulut Madara muncrat ke udara dan tubuhnya sedikit terdorong kebelakang.
Hashirama yang masih nungging di lantai, melongo tidak percaya melihat Naruto memberikan bogem mentah yang belum matang ke muka tebing Madara.
Madara meneggakkan kepala. Wajahnya mengeras, tatapannya menajam, Iris Onix-nya membesar dan mulutnya tertarik sehingga terlihat seperti berteriak dan memang ia akan segera berteriak.
"Kau cari mati ya, BOCAH SABLENG?"
"AYO KELUAR... Halaman belakang cukup luas untuk membakarmu hidup-hidup, UCHIHA BANGSAT!"
Iris Onix Madara langsung berubah menjadi Iris merah darah ber-tomoe 3. "Tidak perlu diluar!... Cukup disini saja kau kukirim ke alam kematian, otak api!"
Tangan kanan Naruto kembali terkepal, api orange langsung menyelubungi kepalan itu. Madara tidak mau kalah, aura kebiruan menguar di sekitar tubuhnya, Chakra Uchiha-nya mulai merespon pengaktifan Sharingan.
"Makan ini, mata iritasi!..."
"Kau akan menyesal, bocah sableng!..."
"... HEEEYAAAHHH!"
Naruto dan Madara berteriak secara bersamaan. Keduanya juga sama-sama bersiap melakukan pukulan. Dalam gerakan slow motion, bojem Naruto sudah hampir mencapai wajah Madara begitupula sebaliknya. Namun Madara sedikit lebih unggul karena mempunyai Sharingan. Kepala Uchiha ini mulai bergerak ke kiri.
"HENTIKAN... NII-CHAN, MADARA-OSSAN!"
Teriakan imut yang mengandung sedikit kekhawatiran terdengar dari arah belakang Naruto. Madara dengan bodohnya memiringkan kepala ke kanan karena pandangannya terhalang kepala ubanan pemuda di depan. Sedangkan Naruto berbalik ke sumber suara dan...
Duag!
Duag!
Baik Madara maupun Naruto sama-sama terkena pukulan lawan mereka. Dan secara bersamaan kedua mahluk berbeda spesies ini berputar-putar terkena pukulan. Luka lebam sama-sama tercetak di pipi kanan mereka. Hashirama yang masih nungging, tidak bisa menahan tawanya melihat Naruto dan Madara berputar-putar di tempat mereka. Menurut Hashirama, adegan ini benar-benar lucu. Di awal mau saling membunuh namun malah berakhir dengan cara bodoh hanya karena teriakan imut dari Dedek Yuki.
Setelah berhenti berputar, Naruto memutar tubuh menghadap ke Yuki. Tatapan kesal dilayangkan Naruto untuk sang adik. "Kenapa Yuki-chan?... Padahal aku sangat ingin memukul muka tebing Uchiha Bangsat itu!" Keluh Naruto kepada sang adik sambil melirik Madara yang berdiri tidak jauh darinya. Madara tidak tinggal diam, sebuah glare langsung dikirim Madara untuk Naruto.
"Cih... bersyukurlah karena Loli-chan datang... Kalau tidak, muka sok tampanmu itu akan hancur." Madara memasang pose legend-nya. Bersikedep dada masih dengan glare yang selalu dikirim untuk Naruto.
"Kau'lah yang harus bersyukur, papan cucian..." Naruto memutar tubuh ke Madara. "... Kalau tidak muka papan cucianmu itu akan penyok!"
Bletak!
"A-Adaww!"
Sebuah sendal tiba-tiba mengenai kepala Naruto. Tawa Madara hampir lepas, pekikan kecil terdengar dari mulutnya melihat Naruto meringis terkena sendal sebelah kanan yang melayang dari Yuki.
"Makan tuh send-..."
Bletak!
"Adaww!"
Pasangan dari sendal yang mengenai Naruto ternyata tidak tinggal diam dan cemburu karena di tidak mendapat bagian. Dan alhasil, kepala Madara 'lah yang menjadi korban dari sendal sebelah kiri milik Yuki. Kini giliran Naruto yang harus menahan tawa.
"Pffftt... Makan tuh sendal!" Naruto mengambil perkataan Madara yang terpotong akibat lemparan sendal tadi.
Madara mendecih tidak suka dan kembali bersikedep dada memandang Naruto. "Maumu apa sih bocah sableng?... Kami baru datang langsung main pukul!"
Ok, Madara kembali serius dan menanyakan permasalahan apa yang membuat Naruto nekat melakukan pemukulan kepada dua Shinobi yang telah merawat dan melatihnya beberapa tahun di Konohagakure
"Cari tau saja sendiri." Respon pemuda bersurai Dark-Silver acuh tak acuh.
"Katakan, perkedel ikan!... Apa kau mau tubuhmu gepeng kejepit lengan Susano'o?"
Hashirama yang sudah duduk bersilah di belakang Madara ikut nimbrung dalam percakapan. "Madara benar!... Sebenarnya apa yang terjadi Naruto?!" Hashirama mengelus pelan bekas tendangan Naruto di wajahnya. "Ouchh-Oucch... Tendanganmu lumayan keras juga ya."
Madara memandang datar Hashirama namun dalam hatinya ia bingung, bisa-bisanya Hashirama malah memuji tendangan Naruto bukannya membalasnya. Mungkin kepalanya perlu di perbaiki dulu.
Pria Uchiha mengembalikan pandangan ke Naruto dan memasang muka meminta penjelasan alias Datar. Hah?... Decihan kecil keluar dari mulut Naruto. Selanjutnya dengan tatapan yang tidak kalah datar dari Madara, Naruto mulai menjelaskan.
"Begini... Denger ya, Uchiha Bangsat, Muka Pribumi... Pasang kuping baik-baik, jangan jadi hiasan saja..."
Wajah Madara mengeras. Sedangkan Hashirama mengangguk dan merespon saran bodoh Naruto.
"Ya, sudah aku pasang!"
"Pertama... Apa kalian tau ini apartemen siapa?" Madara dan Hashirama menangagguk dan menunjuk si penanya. "Nah... Sekarang, kalian itu sebagai apa di apartemen ini?" Pertanyaan kedua dilontarkan Naruto.
"Penghuni!" Jawaban singkat, padat dan datar dilontarkan Madara dan Hashirama.
"Sejak kapan kalian menjadi penghuni apartemenku... Bukannya aku belum menyutujui itu?... Tapi karena kalian sudah memberiku hidup ketika di Konoha aku menyetujui-nya... Tapi,"
"Tapi?" Beo Hashirama dengan alis terangkat.
"Kata 'tapi' setelah 'tapi'? Maumu apa sih, babon laut?"
"Karena kalian berdua membuat apartemenku seperti kapal karam..." Intonasi suara Naruto mulai naik, ia kembali kesal mengingat kelalakuan Madara dan Hashirama dari cerita Yuki selama membersihkan apartemen mereka ketika kedua orang di dekatnya keluar membeli bahan makanan. "... Dan Yuki-chan yang selalu membersihkannya... Kalian kira Imouto-ku pembantu apa?"
"N-Nii-chan... Tidak apa, lag-"
"Diamlah, Yuki-chan... Ini urusan Nii-san!" Naruto memotong ucapan Dedek-nya dengan nada tenang lalu kembali memandangi Madara dan Hashirama.
"Oy, Bocah Sableng... Dengar! Kami bosan terus-terusan berada di dalam apartemenmu... Aku bingung mau ngapain dan terlalu malas membersihkan kandang kuda yang kau sebut apartemen ini." Madara mulai melakukan serangan balasan berupa pembelaan kenapa malas membersihkan kandang kuda... Ehh, apartemen Naruto.
"Kalau begitu, keluar saja dari apartemenku... Aku tidak sudi tinggal dengan Uchiha Bangsat pemalas macam kau... Sana tinggal di kolom jembatan kalau mau!"
"Hohohoho..." Madara berkacak pinggang di depan Naruto sambil membusungkan dada. "Kau sudah berani mengusir Madara-sama dari kandang kuda ini... Apa kau lupa siapa yang mengajarimu cara bertarung, memberimu tempat untuk tidur di Konoha... Dan yang paling penting... Dimana rasa hormatmu kepada Madara-sama dan pemimpin Konoha bodoh itu!" Madara mengakhiri penjelasan kelewat OOC-nya sambil menunjuk Hashirama yang sudah berdiri di samping kiri dengan wajah kurang mengerti. -Bingung.
"Aku tidak pernah menghormatimu, Uchiha Bangsat... Hanya Hashirama-ossan yang sedikit kuhormati disini!" Sanggah Naruto sedikit berbohong dengan wajah datarnya. Sebenarnya Naruto sangat menghormati Madara, Hashirama, Tobirama, Jiraiya dan Izuna. Dan rasa hormat paling besar Naruto berikan kepada Izuna karena dialah yang selalu menemani Naruto ketika di Konoha, mengajarinya hal-hal baru mengenai shinobi dan banyak lagi.
"Cih..." Madara mendecih tidak suka.
Otak Uchiha-nya mulai berpikir untuk segera meminta maaf ke Naruto. Kalau tidak ia akan tinggal di kolom jembatan. Mau ditaruh di mana wajahnya jika sampai Uchiha terakhir di muka bumi tinggal di kolom jembatan. Poor Madara-sama.
'Sialan kau bocah sableng!' Batin Madara berteriak kesal.
Madara menghela nafas berat dan memandang Naruto dengan tatapan menyesal yang teramat sangat dipaksakan. "Baiklah, Naruto... Aku minta maaf sudah membuat apartemenmu berantakan."
Wow!... Hashirama langsung melongo tidak percaya, mulutnya terbuka lebar-lebar. Madara meminta maaf?... Hashirama benar-benar tidak percaya mendengar sahabatnya meminta meminta maaf ke Naruto. Biasanya hanya ancaman, pukulan atau cacian yang Madara keluarkan untuk Naruto.
Madara yang risih melihat wajah melongo Hashirama langsung mengeluarkan teguran. "Heemm... Hentikan wajah goblokmu, Dobe... Cepat minta maaf ke Naruto!"
Wajah Hashirama kembali ke normal mendengar teguran tadi. Ia segera memandang Naruto dengan wajah benar-benar menyesal tidak seperti Madara yang sangat dipaksakan. "Aku minta maaf, Naruto!"
"Hanya itu?" Naruto mengukir seringai. Tampaknya pemuda satu ini hendak mempermainkan Madara.
Kendutan kecil muncul di kening Madara melihat seringai Naruto tadi. 'Sialan bener ni bocah!' Gerutu Madara dalam hati. Tampaknya dia sudah tau maksud dari Naruto yang hendak mempermainkannya.
Hashirama dan Madara saling melempar pandangan seolah-olah mengatakan -Bagaimana ini- ... Setelah beberapa detik, keduanya kembali mengalihkan pandangan mereka ke Naruto.
"Naruto-sama... Tolong jangan usir kami dari kandang-... Eh, apartemenmu. Kami tidak ada tempat lain untuk tinggal dan kami menyesal sudah... bla bla bla bla..." Madara langsung membuang muka setelah mengatakan kata-kata absurd di akhir kalimatnya.
Seringai Naruto semakin terlihat jelas. "Apaaa?... Aku tidak mendengarnya!" Seru Naruto agak keras sambil menaruh tangan kanan di sekitar kuping.
"Hentikan Nii-chan!... Madara-ossan dan Hashirama-ossan sudah menyesal." Yuki berteriak agak keras agar Naruto bisa mendengarnya.
"Ya... Yuki-sama benar!" Pipi Yuki sedikit memerah karena malu dipanggil dengan embel-embel -sama- oleh Madara.
Naruto mengalihkan pandangan ke sang adik lalu menghampirinya. Naruto menyamakan tingginya dengan Yuki dan memegang pundak sang adik. "Dengar ya, Yuki-chan... Aku belum memaafkan mereka karena memperlakukanmu seperti Maid di sini." Jelas Naruto lembut kepada mahluk terindah di muka bumi depannya.
Yuki menggeleng pelan. "Tidak apa Nii-chan... Lagipula sudah tugasku membersihkan tempat tinggal kita." Kata Yuki polos tanpa tau arti memperlakukan seperti Maid.
Naruto langsung memukul pelan jidatnya sendiri. Tampaknya ia baru menyesali perintahnya untuk melarang Yuki keluar apartemen yang membuat adiknya ini menjadi polos dan kurang tau apa-apa tentang kehidupan dunia luar. Setelah pulih dari penyesalan singkat yang tidak terlalu penting tadi. Naruto mendekatkan mulunya ke telinga Yuki dan membisikkan sesuatu.
"Ahh... kau itu, padahal aku masih mau mempermainkan mereka... Tapi sudahlah, kalau kau tidak keberatan jadi apa boleh buat." Setelah selesai, Naruto mengacak-ngacak surai putih tebal Yuki hingga membuat si empunya tersenyum.
Naruto menghela nafas dan menoleh kebelakang dengan senyumnya seperti biasa. "Selamat datang di keluarga untuk kalian."
"Cih... Daritadi kek bilangnya, Bocah Sableng!" Balas Madara dengan nada kesal. Setelah itu, Madara membuka alas kaki yang belum sempat ia buka dan berjalan memasuki apartemen baru mereka secara resmi karena sudah mendapat persetujuan dari sang empunya. "Ini..." Madara mengeluarkan dua ramen cup dari kantongan yang dibawa dan menyodorkan ke Naruto yang masih berjongkok di depan Yuki.
Ya, itung-itung sebagai tambahan permintaan maaf Madara untuk Naruto sekaligus hadiah karena sudah menerima dirinya dan Hashirama tinggal di apartemen Naruto. Tapi sepertinya ini bukan hadiah karena Madara menggunakan uang Naruto untuk membeli ramen cup.
"Taruh saja di lemari samping kulkas... Disana masih ada beberapa persedianku."
Akhirnya kedua belah pihak memilih jalan damai untuk menyelesaikan masalah apartemen yang tadi sempat memanas sampai-sampai mau diakhiri dengan acara bunuh-bunuhan.
.
.
.
.
.
.
.
3 Hari kemudian di Underworld.
Di sebuah ruangan yang cukup gelap dan hanya terdapat satu kursi. Seorang pria berpenampilan muda dan tampan, bersurai merah crimson dan mengenakan armor khas seorang Maou tengah duduk, disamping kursi pria itu berdiri wanita bersurai perak yang mengenakan pakaian maid.
Iris Blue-Green pria ini terlihat serius memperhatikan layar proyektor yang menampilkan Rating Game antara adiknya yang mempunyai penampilan hampir mirip dengan dirinya melawan pewaris salah Klan dari 72 Pillar di Underworld. Riser Phenex.
"Sudah berakhir!" Pria itu bergumam pelan dengan nada tenang melihat sang adik baru saja menyerah dalam Rating Game tersebut sambil menidurkan pemuda bersurai coklat di pangkuannya.
"Sepertinya anda sudah tau bahwa Rias-ojousama tidak dapat menang dalam Rating Game ini, Sirzechs-sama!" Wanita di samping pria yang bernama Sirzechs itu membuka suara dengan nada datar dan hormat.
"Sudah dari awal."
"Aku mengerti... Jadi apa yang kita lakukan selanjutnya?"
Sirzechs tersenyum tipis. "Pertama... sepertinya masih Sekiryuutei, Hyoudou Issei-kun... Tapi jika kalah, maka..."
"Naruto!" Jawab wanita itu. Sirzechs mengangguk kemudian bangkit dari kursi yang diduduki.
"Kuharap Naruto-kun sudah siuman dan siap untuk menjalankan tugas ini."
"Tapi bagaimana kalau Naruto belum siuman?... Apa Hyodou Issei bisa diandalkan?" Tanya wanita itu lagi. Tampaknya Maid ini sedikit ragu pewaris [Bosted Gear] mampu melakukan apa yang Sirzechs rencanakan. Belum lagi kepastian Naruto sudah sadar belum mereka dapat.
"Sekarang sudah jam berapa di dunia atas, Grayfia-chan?" Tanya Sirzechs ke wanita bernama Grayfia yang merupakan istrinya. Sepertinya Maou-Lucifer ingin berkunjung ke Dunia Atas untuk melakukan sesuatu. Apalagi kalau bukan mengecek Naruto sudah siuman atau tidak.
"Rating Game tadi diakan pukul 21.00... Jadi sekarang sekitar 22.30."
"Kuharap penghuni apartemen Naruto-kun masih ada yang belum tidur... Aku akan mengunjungi mereka." Setelah berada di tengah-tengah ruangan, sebuah lingkaran sihir berlambang Gremory muncul di bawah kakinya dan langsung menghilang dalam lingkaran sihir tersebut.
Dan Sirzechs beruntung karena...
.
.
.
.
.
.
.
"Grrrr... Kembalikan Inarizhusi-ku, Bocah Sableng!"
"Tidak akan, sebelum kau mengakui Ramen lebih enak daripada makanan ini!"
"Oii, Madara itu sendokku!"
"Pinjam sebentar, Dobe... mau kupake nge-lempar si Bocah Sableng sialan!"
"Pakai saja sendokmu, Teme!"
"Moo~~ Nii-chan, Madara-ossan~~ Hentikan!"
"Adaw~~"
"Makan tuh sendok, bocah sabl-... Ugh, sialan!"
"Makan tuh Kenarizushi-mu, muka tebing!"
"Inari, goblok... bukan kenari!"
"Terserah, kuntil kuda!"
Makan malam telat yang indah di kediaman Quartet Mahluk Absurd.
Sebuah lingkaran sihir keluarga Gremory muncul di ruang santai yang letaknya bersemblahan dengan dapur dan ruanga makan. Naruto berhenti sejenak dengan Inarizushi yang siap dilempar ke Madara, ia segera menoleh ke pintu menuju ruang santai dan...
Ctin!
"Adaww~"
Sendok lain tiba-tiba melayang dan mengenai kepala Naruto. Pemuda bersurai Dark-Silver ini langsung mendelik Madara dan tidak berniat membalas karena kedatangan tamu tadi.
"Mooo~~ Kenapa sendokku Madara-ossan!" Yuki merajuk kesal, sendok miliknya menjadi bahan lemparan Madara untuk Naruto.
"Siapa Naruto?" Tanya Hashirama.
"Sepertinya..." Naruto memundurkan tubuhnya kebelakang dan menoleh ke arah pintu.
"... Sirzechs-sama!" Pekik Naruto ketika melihat sang tamu melalui pintu. Ia segera bangkit dan beranjak menuju ke ruang santai meninggalkan ketiga anggota keluarganya yang lebih memilih melanjutkan makan malam tanpa sendok untuk Hashirama dan Yuki. Hah?
.
.
"Sirzechs-sama!" Sapa Naruto ketika sudah berada di ruang santai.
"Wah, akhirnya kau siuman Naruto-kun!"
"Hehe..." Naruto tertawa pelan sambil menggaruk bagian belakang surai Dark-Silver miliknya. "Biasa, terlalu memaksakan diri jadi tepar deh' selama 4 hari."
"Tidak apa... Lagipula beberapa hari ini tidak ada tugas kok." Respon Maou-Lucifer di depan Naruto.
"Jadi... Ada apa Sirzechs-sama datang malam-malam begini?" Naruto langsung to the point karena tumben Maou-Lucifer malam-malam datang ke tempatnya.
"Begini... Satu minggu lagi, aku ingin kau bersiap-siap melawan Pewaris dari klan Phenex."
Naruto seketika tersentak mendengar tugas yang akan ia kerjakan. Ini pertama kalinya untuk dia melawan seorang pewaris Klan ternama di Underwold. "Apa tidak apa aku melawan pewaris klan dari salah satu 72 Pilar di Underword?" Tanya Naruto memastikan bahwa melawan pewaris Klan Phenex tidak akan merepotkan dirinya dan Sirzechs.
"Tentu saja... Lagipula Lord dan Lady Phenex sudah setuju dengan hal ini. Mereka ingin memberikan pelajaran ke putra bungsu mereka yang terlalu sombong."
Naruto mengangguk tanda paham. "Baiklah... Aku menerimanya!"
Sirzechs tersenyum mendengar Naruto mau menerima tugas ini tanpa banyak bertanya terutama alasan lain kenapa Naruto harus bertarung melawan Riser. Setelah itu, sebuah lingkaran sihir muncul di lantai tempat Sirzechs berpijak. Dan sebelum menghilang dalam lingkaran sihir, Sirzechs memberitahukan Naruto sesuatu yang hampir dia lupa.
"Satu lagi... Kau harus memakai pakaian yang menutupi hampir semua anggota tubuh kecuali mata."
Naruto terlihat bingung mendengar hal tadi. Memangnya ada apa sampai-sampai Naruto harus memakai pakaian yang sangat tertutup. Bukannya tidak punya, malah pakaian tertutuplah yang Naruto sering pakai jika melakukan misi di area kota Kuoh dan sekitarnya... Ia hanya bingung.
Sirzechs tertawa pelan melihat wajah kebingungan pemuda di depannya yang malah terlihat semakin bingung setelah mendengar tertawanya. "Begini... Pertarungan itu berlangsung di Underworld dan dihadiri banyak Puro-Blooded Devil."
"Aku mengerti... Anda tidak ingin mereka mengenalku 'kan?"
"Tepat sekali, Naruto-kun!"
Naruto hanya manggu-manggut paham. Setelah itu, tubuh Sirzechs akhirnya menghilang dalam lingkaran sihir berlambang Gremory tadi. Tak berselang lama, Madara datang dari arah pintu sambil menguyah Inarizushi.
"Gleek..." Madara menelan kunyahan makan favoritnya itu lalu bertanya kepada Naruto perihal kedatangan si kepala merah. "Mau apa si kepala Merah itu, bocah sableng?... Apa ada masalah lagi?"
Naruto memutar tubuhnya dan matanya terlihat menutup tanda bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi, Naruto lalu berujar pelan menjawab pertanyaan si Madara. "Cuma tugas dari Sirzechs-sama untuk menambah pundi-pundi kita."
Madara manggut-manggut paham dengan wajah datar lalu mengeluarkan trademark-nya. "Hn... Semoga berhasil!" Setelah itu Madara memasukkan Inarizushi yang dipegang tangan kananya. Dan tak berselang lama ia tiba-tiba saja Madara memutar kembali tubuhnya dan berjalan masuk ke dapur untuk mengambil air putih. Tampaknya ada sesuatu yang terjadi dengan si Uchiha.
Dia keselek Inarizushi!.
"Ahh... Sepertinya ada yang aneh dengan permintaan tadi... Tapi apa yah?" Ya Naruto baru menyadari hal ini. Tapi ia tidak terlalu ambil pusing. Yang terpenting ada pundi-pundi yang bisa ia dapatkan untuk biaya hidupnya dan tiga orang keluarganya.
.
.
.
.
.
.
.
Seminggu kemudian.
Hari ini merupakan hari yang sangat menyesekkan bagi Sang Heiress Gremory. Bagaiamana tidak?... Ia harus bertunangan dengan pria sombong, arogan, kriputan dan bersurai seperti warna kotoran. Siapa lagi kalau bukan Riser Phenex sang pewaris Klan Phenex. Kenapa menyesekkan padahal dia akan bertunangan?... Itu karena gadis ini tidak mencintai. Ahh lupakan mencintai!... Melihat saja gadis ini sudah jijik minta ampun sampai-sampai mau muntah. Dan seperti kalimat dibawah.
-Kita bisa memilih kepada siapa kita berjodoh... Tapi, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta-
Mungkinkah kalimat di atas ada benarnya?... Kalian bisa membuktikannya sendiri!... Karena Author masih ragu kalimat diatas ada benarnya!
Kembali ke cerita.
Seperti kalimat di atas. Gadis ini sepertinya sudah jatuh cinta pada seseorang, mungkin Pawn-nya yang mesumnya minta ampun 'lah gadis ini jatuh cinta. Kita tidak tau karena hanya gadis ini yang tau... Makanya secara terang-terangan sang gadis menolak pertunangan ini sampai-sampai harus diadakan Rating Game. Tapi karena Peerage-nya kurang kuat atau memang nasibnya si gadis lagi apes, ia kalah dan harus memilih secara terpaksa bertunangan bersama Riser Phenex dengan alasan agar iblis berdarah murni di Underworld dapat bertambah.
Alasan bodoh! Menurut sang gadis. Masih ada cara lain seperti... Pure-Blooded Devil bertunangan/menikah dengan Extra-Devil dan Reincarnation-Devil jika saling mencintai... Atau kalau perlu Underwold tidak melarang Incest di kalangan Iblis... Hell Yeah! Author sangat setuju saran ini!
Sudah tidak terhitung beberapa kali gadis ini menghela nafas pasrah. Namun ketika calon tunangannya hendak memperkenalkan dirinya. Seorang pemuda bersurai coklat datang dan mengakui bahwa sang gadis adalah miliknya. Para undangan acara termasuk Riser sendiri dibuat terkejut dan kesal oleh ucapan pemuda satu ini. Well cukup berani padalah hanya seorang Pion. Sedangkan gadis itu. Sudah merona muka dia mendengar pengakuan frontal pemuda tadi.
Akhirnya Sirzechs selaku Maou-Lucifer serta kakak dari gadis tadi memilih jalan pertarungan antara Riser melawan pemuda tadi yang merupakan Pion satu-satunya dari Peerage adiknya-nya. Gadis tadi terkejut tiba-tiba kekuatan Pion miliknya meningkat drastis sampai-sampai [Bosted Gear] pemuda itu masuk mode [Balance Breaker].
Pertarungan berjalan sengit selama 10 detik. Pion Gadis tadi berhasil melukai Riser dengan bantuan sebuah salib. Akan tetapi, karena [Balance Breaker] pemuda hanya bisa digunakan selama 10 detik, pemuda ini kalah dengan telak. Dipukul beberapa kali hingga babak belur hingga Riser menghampiri dan mengcengkram kerah baju pemuda itu.
.
.
Di balkon bangunan tempat berlangsungnya acara pertunangan. Sirzechs membisikkan sesuatu kepada Ratunya-nya.
"Sebaiknya kau segera memanggil Naruto-kun!"
"Baik, Sirzechs-sama!" Ratu Sirzechs segera mengaktifkan sihir teleportasi untuk menjemput orang yang disebut oleh Sirzechs.
.
.
Kembali ke arena. Setelah puas menceramhi pemuda lawannya selama beberapa menit. Riser langsung melayangkan sebuah pukulan yang dilapisi api dari klan Phenex. Lawannya terlempar jauh dengan luka di sekujur tubuh hingga pingsan.
Riser hendak menyelesaikan pertarungannya akan tetapi, sebuah lingkaran sihir Gremory muncul tepat di hadapannya. Dari lingkaran sihir itu Grayfia dan seorang pemuda berpakaian aneh. Sangat aneh malahan untuk Riser dan juga para penonton yang menonton pertarungan tadi.
Pemuda di samping Grayfia mengenakan baju dan celana hitam selutut dan sedikit tambahan warna putih di bagian pinggul. Sebuah jubah hitam menutupi bagian dada dan belakang tubuh. Lengan dan kaki sebagian besar tertutupi perban, untuk tangan memakai satung tangan biru gelap. Untuk bagian kepala, sebuah bandana biru tua dengan pelindung dahi perak. Terakhir masker hijau yang menutupi bagian bawah wajah hingga hanya mata dan pangkal hidung yang terlihat. [Pakaian Mystogan di FT]
Pemuda ini adalah Naruto yang mengenakan pakaian untuk melakukan tugas yang menginginkan agar tidak ada yang tau identitasnya.
Grayfia menghampiri lawan Riser yang pertama dan mengirimnya keluar arena pertarungan. Raja dari pemuda itu langsung menghampirinya dan memeriksa keadaannya. Saking khawatirnya, gadis ini sampai-sampai menghiraukan pertarungan lain yang akan menentukan apa ia harus bertunangan atau tidak.
.
.
Kembali ke arena.
"Hoy, siapa lagi kau, Sialan?" Tanya Riser agak keras dan dibumbuhi nada mengejek.
Mata Naruto menyipit mendengar ucapan Riser. Dan tak berselang lama, suara dari Maou-Lucifer menggema di arena.
'[Riser-kun... Karena kau sudah mengalahkan Hyodou Issei-kun, aku akan memberikan satu tantangan lagi dan sebagai imbalannya]'
Otak Naruto mulai merespon ucapan dari Sirzechs. Siapa itu Issei? dan apa maksud dari imbalan itu? Karena masih bingung, Naruto memilih tidak angkat bicara dan menunggu kelanjutan dari pidato Sirzechs.
"Apa tantangannya melawan orang aneh itu?" Riser menunjuk Naruto dan memperlihatkan senyum meremehkan ke Naruto. "Dari aura-nya dia hanya manusia biasa... Kalau begitu akan kulawan sebagai hadiah pertunangan untuk anda Sirzechs-sama!"
"Pertunangan?" Beo Naruto yang suara sedikit tidak dikenali karena terhalang penutup wajah.
'[Kau benar dia hanya manusia... Tapi jangan anggap remeh dia Riser-kun... Kalau kau bisa mengalahkannya, kau bisa langsung menikahi Ria-tan, tidak perlu pertunangan]'
'Ojou-sama!' Naruto tersentak mendengar panggilan khusus Sirzechs kepada adik Maou ini.
Terjawablah sudah pertanyaan yang tergiang di kepala Naruto. Ternyata pertarungan ini untuk menentukan masa depan adik dari Maou-Lucifer. Jika ia kalah Gadis bernama Rias itu harus menikah dengan Riser. 'Tunggu dulu... Jika Sirzechs-sama memberikan tantangan ke orang sombong ini... Itu berarti'
"Jika aku kalah... Ada pernikahan ataupun pertunangan?!"
'[Ya... Kau benar Naruto-kun... Pilihan ada di tanganmu. Jika kalah, Ria-tan akan bertunangan dengan pria didepanmu itu]'
Naruto menyeringai di balik maskernya lalu melayangkan sebuah pertanyaan ke Sirzechs. "Bagaimana jika aku menang?"
"Woy~Woy... Yakin sekali kau bisa mengalahk-"
Duag!
Sebuah pukulan langsung menghantam wajah Riser hingga terpental dan terseret beberapa meter pada permukaan arena. Ternyata selama mendengar Sirzechs berpidato, Naruto diam-diam mengumpulkan energi alam untuk memasuki mode Senjutsu miliknya.
'C-Cepat!' Syok beberapa penonton yang melihat Naruto memukul Riser. Ya mereka pastilah syok, mereka baru tau kalau pemuda itu adalah manusia biasa. Aslinya si manusia setengah Iblis.
"Diamlah! Bukan kau yang kuajak bicara!" Ujar Naruto tenang lalu memandang ke proyektor di atas arena.
'[Kau boleh meminta apapun]' Sirzechs akhirnya menjawab pertanyaan Naruto tadi yang sempat tertunda karena Riser yang tiba-tiba berkoar-koar meremehkan Naruto.
"Brengsek!... Akan kubakar kau, manusia aneh!" Riser bangkit dan perlahan kedua lengannya mulai dikelilingi api klan Phenex.
"Bakar?" Naruto mengepal tinju di depan wajah. Dan api orange menguar secara tiba-tiba di kepalan tinju tangan kanan Naruto tadi. "Seharusnya aku yang mengatakan itu."
Sebagian besar penonton langsung terkejut melihat Naruto yang seperngetahuan mereka hanya manusia biasa berpenampilan aneh bisa mengendalikan api seperti klan Phenex.
"Mari kita buktikan siapa yang akan terbakar, Manusia rendahan!" Riser melempar beberapa bola api dari kedua lengannya ke Naruto.
Naruto berlari ke depan sambil menghindari bola api Riser dengan gerakan simpel. Setelah bola api terakhir berhasil dihindari. Naruto mendorong kuat-kuat kaki kanannya sampai-sampai menciptakan lubang akbiat dorongan tadi. Hasil dari dorongan itu pun membuat Naruto seperti menghilang dari pandangan para penonton.
Duaarr!
Blaaarrr!
Tanpa Riser duga sebuah pukulan di sertai api orange menabrak wajahnya untuk yang kedua kalinya dalam rentang waktu 2 menit. Riser terdorong kebelakang dengan tangan meremas wajahnya yang serasa dihantam Power of Destruction.
"Brengsek!" Riser menyingkirkan kedua tangan dari wajah dan langsung terkejut ketika Naruto sudah berada di depannya dengan posisi berjongkok. 'Cepat sekali!' Batin Riser tidak percaya Naruto sudah berada di depannya padahal ia terdorong agak jauh dari Naruto ketika terkena pukulan tadi.
"Tidak terima kasih, aku tidak mau repot-repot membuktikan siapa yang akan terbakar." Balas Naruto tenang menjawab tantangan Riser yang pertama tadi.
Kaki kanan Naruto mulai diselubungi api dan langsung melompat dengan posisi tubuh horizontal yang berputar dengan cepat sampai-sampai jubah dan api di kaki kanan Naruto terlihat menggambar sebuah lingkaran. Tak selang beberapa detik...
Duagh!
Untuk ketiga kalinya wajah Riser terkena serangan, kali ini adalah kanan Naruto kembali menghantam wajah Riser. Itu karena kecepatan Naruto yang tidak bisa dilihat dan dihindari. Itu berkat Senjutsu Naruto yang menambah kecepatannya sampai ke tahap hampir menyamai bidak Knight.
Riser terpental kebelakang dengan kecepatan tinggi dan...
Duarr!
... Menghantam salah satu menara di arena tersebut hingga menciptakan lubang besar dan kepulan debu pekat. Naruto berhenti berputar dan mendarat dengan posisi berjongkok. Kibaran jubah yang dikenakan Naruto mulai turun dan kembali menutupi punggung.
Di dalam kepulan debu, Riser berbaring dengan bekas tendangan Naruto mulai sembuh secara perlahan. Inner Riser meringis kesakitan terkena tendangan yang diselubungi api Kurama ditambah energi Senjutsu milik Naruto.
Riser bangkit sambil berteriak keras mengumpat lawannya. "Sialan kau, manusia rendahan!"
Pewaris klan Phenex menyibak kepulan debu di tempat itu dengan sekali kibasan tangan. Kini terlihat Riser tengah berdiri dengan wajah marah memandang Naruto. Bahu Riser naik turun mengikuti ritme nafasnya tersenggal-senggal. Bukan karena lelah tapi, karena tengah emosi dipukul sebanyak tiga kali oleh Naruto tanpa melakukan pembalasan.
"Sudah lelah?... Ayolah ini baru beberapa menit, Riser-sama." Kata pemuda berpenampilan seperti ninja yang berdiri sekitar 10 meter di depan Riser.
"Diam, manusia rendahan!" Pewaris Klan Phenex berteriak keras. Di punggungnya tiba-tiba keluar kobaran api menyerupai sayap. Sesudah itu, Riser langsung terbang tinggi ke atas.
Naruto mengerjit heran. Riser melayang dan membentangkan tangan, kobaran api menyerupai burung Phoenix langsung menyelubungi tubuh Riser.
"Akan kuperlihatkan keindahan dari api Phenex..." Riser terbang memutar ke atas lalu melesat menuju Naruto dengan kecepatan tinggi. "... Untukmu, manusia rendahan!" Teriak Riser yang berniat menghantamkan tubuhnya yang diselubungi api.
Wushh!
Namun secepat apapun Riser, Senjutsu Naruto masih mampu memprediksi pergerakan. Dengan gerakan tidak kalah cepatnya dari Riser, Naruto menghindari serangan pertama tadi. Riser berputar ke atas dan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
Wushh!
Naruto lagi-lagi menghindar dengan melompat ke kiri. Kilatan kecil terlihat di iris biru sapphire Naruto ketika melihat Riser kembali memutar dan hendak menghantam tubuhnya dari arah depan.
"Kena kau!" Naruto menyeringai di balik masker.
Duagh!
Naruto bergeser ke kiri beberapa centi dan langsung menghantamkan lutut kanan ke perut Riser ketika tepat berada di sampingnya.
"Gyahhh... Uhook..." Riser memuntahkan darah segar.
"Cih.. Sialan kau!" Umpatan dikeluarkan Riser setelahnya. Tangan kanannya terkepal dan melayang sebuah pukulan.
Duagh!
Naruto segera menyilangkan kedua lengannya di depan wajah dan memblok pukulan Riser. Tubuhnya terseret sekitar 2 meter kebelakang. Melihat pandangan Naruto terhalang dua lengan, Riser kembali terbang ke atas dan menciptakan bola api seukuran 5x5 meter.
"Matilah, manusia rendahan!" Riser melakukan kesalahan karena berteriak keras.
Naruto melompat kebelakang denga telapak tangan terbuka di sisi tubuhnya. Perlahan api orange menguar dengan hebatnya di kedua tangan Naruto. Setelah menapak permukaan arena, Naruto menggerakkan kedua lengannya secara melingkar.
"[Ring Dance of Fire]"
Dua aliran api yang berputar membentuk cincin api yang ukurannya lebih besar dari bola api Riser diciptakan Naruto dari gerakan melingkar kedua lengannya.
Blaarr!
Ledakan terjadi ketika api berbeda bentuk dan intensitas itu bertemu. Bola api Riser yang kalah dalam segi ukuran dan kualitas menghilang entah kemana seolah-olah termakan cincin api Naruto. Riser membulatkan mata melihat cincin api yang semakin membesar mengarahkan ke dirinya dengan kecepatan tinggi.
Duaarrr!
Ledakan besar pun terjadi untuk kedua kalinya. Saking besarnya, ledakan tersebut menciptakan cahaya orange menyilaukan bagi para penonton.
Brakk!
Riser tiba-tiba mendarat pada permukaan arena dengan kondisi acak-acakan, pakaian yang digunakan compang-camping di beberapa bagian, beberapa luka bakar bekas ledakan tadi terlihat di beberapa anggota tubuh. Riser meringis kesakitakan sembari berusaha bangkit.
Tap! Tap!
Duag!
Naruto tiba-tiba mendarat tepat di atas Riser dan langsung memberikan bogem mentah pada wajah pewaris klan Phenex. Alhasil, Riser kembali tersungkur ke permukaan arena.
Takk! Takk!
Naruto menginjak kedua tangan Riser. Berniat menghalangi pergerakan pewaris klan Phenex.
"Bagaimana?... Menyerah?"
Riser mengerang, ia tidak dapat melihat ekspresi wajah dari Naruto yang tertutupi kain. Hanya iris biru sapphire yang bisa ia lihat. Tangannya berusaha ia gerakkan. Tapi, injakan Naruto terasa berat. "Jangan bercan-"
Duag!
Wajah Riser kembali dihantam bogem mentah dari Naruto.
"Aku tidak mengerti... Kau sudah babak belur, tapi kenapa masih menyombongkan dirimu, Haa?"
"Tidak akan... Aku-"
Duag!
Ya, bogem lain kembali menghantam wajah Riser. Tampaknya pewaris klan Phenex ini merasa regenerasinya bisa menang melawan Naruto. Tapi apa? Kini ia tidak dapat melakukan apa-apa. Naruto berdiri tepat di atasnya. Kedua tangannya diinjak, kakinya tidak bisa mencapai Naruto jika digunakan untuk menendang. Namun, sebuah cara langsung terpikir oleh Riser. Tubuhnya mulai mengeluarkan api Phenex
Blaaar!
Naruto langsung mengantisipasinya dengan ikut mengeluarkan api Kurama yang kuatnya setara dengan Power of Destruction klan Bael dan Gremory.
"Bukannya tadi kau sudah melihatnya sendiri!... Apimu tidak bisa mengalahkan apiku! Jadi sia-sia saja yang kau lakukan, Riser-sama!"
"Brengsek, siapa kau sebenarnya, Haa?" Riser berkata agak keras diikuti tatapannya yang menajam .
"Orang yang ditugaskan mengalahkanmu!"
Hening terjadi diantara kedua spesies berbeda itu. Hingga Naruto kembali membuka suara.
"Begini saja..." Suara Naruto memelan. "Menyerahlah di pertarungan ini... Dan suatu hari nanti, ketika kau sudah menyadari kelemahanmu. Datanglah padaku!... Kita bertarung untuk kedua kalinya untuk membuktikan api siapa yang terkuat."
"Jangan bercanda!... Aku tidak akan menyerah disini, Sialan!"
Naruto mendesah di balik maskernya. Ia benar-benar frustasi melihat kegigihan Riser. "Kau ini... Lihatlah, kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi?... Apa kau mau kubuat menyerah dengan hanya nama dan kabar kematianmu yang keluar dari sini, Haa?"
Riser membulatkan mata. Apa dia tidak salah dengar? Naruto ingin membunuhnya jika tidak menyerah. Apa pemuda di atas Riser ini tidak takut membunuh pewaris Klan Phenex?. Bibir Riser terlihat bergerak ingin mengatakan sesuatu.
"Ya, aku serius!" Naruto mendahului Riser seolah-olah tau apa yang mau dikatakan pria di bawahnya. Naruto mengepal tangan kanan yang diselubungi api orange. "Sekalian menguji seberapa abadi Iblis dari Klan Phenex!" Naruto menambahkan ancamannya.
Riser pun diam seribu bahasa. Dan ia menyadari sesuatu, regenerasinya mulai melambat karena beberapa luka bakar di tubuhnya belum sepenuhnya sembuh.
.
.
Di lokasi acara pertunangan. Para penonton setia menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa Iblis dari Klan Phenex yang mendengar ucapan dari Naruto melalui layar proyektor menggeram marah. Bisa-bisanya manusia merendahkan dan mengancam pewaris klan mereka.
Sementara di tempat Sirzechs dan Grayfia. Maou-Lucifer tersenyum tipis melihat Naruto benar-benar membuat Riser yang diketahui besar mulut, arogan dan sebagainya bisa dibungkam. Senyum Sirzechs semakin melebar ketika melihat Naruto dan Riser kembali membicarakan sesuatu setelah dilanda keheningan beberapa menit.
Di ruangan lain. Terlihat empat Iblis muda tengah berkumpul. Salah satu dari mereka tengah berbaring di atas sofa panjang, tubuhnya babak belur.
"Ise..." Gadis bersurai merah crimson berujar lirih di samping pemuda yang dipanggil Ise itu. Matanya berkaca-kaca melihat satu-satunya bidak Pion miliknya terluka parah karena berusaha membatalkan pertunangannya dengan bertarung melawan pewaris Klan Phenex.
"B-Buchou... B-Bagaimana pertunangannya?!"
"Aku tidak tau Ise... Tenang saja, ada Koneko yang berada bersama Onii-sama untuk mengetahuinya."
"Sayang sekali Issei-kun... Kau harus kalah melawan tunangan Buchou. Padahal tadi kau sudah sangat keren menghentikan acara di tenga-tengah!" Ujar seorang pemuda cantik bersurai pirang yang mengenakan tuxedo hitam.
"Diamlah, Kiba!" Bentak Ise. Namun pemuda bernama Kiba itu hanya tersenyum menanggapi bentakan tadi.
Beberapa menit kemudian. Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Empat sosok langsung berjalan masuk, mereka adalah Sirzechs, Grayfia, seorang gadis bersurai putih dan ... Naruto?
Rias dan Peerage-nya langsung menatap pemuda yang berpakaian sangat tertutupi itu. Hanya bagian mata dan pangkal hidung yang terlihat.
"Siapa dia?... Pakaiannya aneh sekali?" Issei yang tengah berbaring di sofa langsung menanyakan siapa Naruto.
"Dia adalah orang yang menggatikanmu melawan Riser ketika kalah, Issei-kun." Sirzcesh langsung menjawab pertanyaan dari pemilik [Bosted Gear] tadi.
Gadis bertubuh mahluk terindah di muka bumi atau Loli berjalan menuju gadis bersurai raven diikat ponytails yang mengenakan Kimono dan membisikkan sesuatu.
"Dan pemuda itu berhasil mengalahkan Riser Phenex." Setelah berbisik seperti tadi. Tubuh gadis ini sedikit bergetar ketika mengingat aura Naruto setelah Grayfia mengeluarkannya dari arena. 'Dia juga menguasai Senjutsu secara sempurna.'
Gadis ber-Kimono terkejut mendengar informasi. Lalu memasang senyum palsu seperti biasa. "Ara~Ara..." Ya, gumaman khas gadis ini akhirnya keluar.
"Ada apa Akeno-san?" Kiba menoleh ke gadis bernama Akeno tadi.
"Buchou..." Akeno memanggil Raja-nya namun tidak ada respon karena terlalu sibuk mengkhawatirkan Ise. "Bochou!" Panggilan kedua Akeno sedikit lebih keras sehingga membuat Rias menoleh ke arahnya dengan tatapan sedikit tajam.
"Riser sudah dikalahkan!"
Semuanya langsung terkejut mendengar ucapan Akeno. Bahkan Issei yang tengah berbaring langsung duduk dan menatap Akeno dengan tatapan tidak percaya. Rias lalu mengalihkan pandangannya ke sang kakak disertai tatapan meminta kepastian.
Sirzechs tersenyum dan mengangguk memberi kepastian. "Dan orang yang mengalahkannya adalah pemuda ini!" Lanjut Sirzechs sambil menunjuk Naruto yang berdiri di samping kirinya.
"Terima kasih!"
Sirzechs dan Grayfia langsung mengerutkan kening mereka mendengar ucapan datar dari Rias. Bahkan tidak ada ekspresi tulus ataupun senang karena keinginannya untuk tidak bertunangan dengan Riser akan segera terkabul. Sedangkan Naruto sedikit tersentak
'Apa yang terjadi dengan anda Ojou-sama?... Apa karena aku?... Kalau memang iya, aku akan meminta maaf! Tapi Sirzechs-sama melarangku membuka identitas.' Batin Naruto yang sepertinya menyesali sesuatu antara dirinya dan Rias.
Setelah itu Rias langsung berbalik dan kembali fokus pada Iseei yang sudah dalam posisi duduk. Andaikan saja ada bidak Menteri-nya yang bernama Asia, penyembuhan Issei akan tidak selama ini. Ya, setelah mendengar Riser telah kalah, Rias langsung berpikir bahwa pertunangan mereka sudah batal karena perjanjian Issei sebelum pertarungan yang meminta kembali Rias jika menang.
"Rias, apa-apaan wajahmu tadi!" Sirzechs memanggil sang adik dengan nada tegas namun tidak ada respon sama sekali. "Rias Gremory!... Sebagai Maou-Lucifer, pemimpin dari Underworld... Aku perintahkan kau untuk berbalik!"
Wajah Rias mengeras, ia mencengkram kuat-kuat gaun yang ia kenakan. Kenapa baru sekarang kakaknya bersikap sebagai seorang pemimpin Underworld. Dimana kakaknya ketika ia butuh seseorang untuk menolak pertunangannya dengan Riser, malahan kakaknya bertindak seolah-olah setuju dengan pertunangan itu walaupun sudah tau Riser adalah tipe cowok yang dibenci Rias.
Dan diluar dugaan Rias, ternyata Pion dari Peerage-nya 'lah yang berusaha mati-matian memperjuangkan keperawanannya hanya karena ingin memasukkan dia dalam Harem yang merupakan mimpi dari Pion-nya itu. Bahkan Pion yang merupakan pemuda bernama Issei itu rela memberikan salah satu tangan ke Heavenly Dragon yang bersemayam di dalam [Bosted Gear].
Tapi sayang.
Issei harus kalah dari Riser hingga membuat tubuhnya terkena luka bakar dan lebam di beberapa bagian. Walaupun setelah kalah, masih ada Naruto yang berhasil mengalahkan Riser dan menyelematkan Rias dari pertunangan. Tapi bagi Rias, kepada Issei-lah dia harus berterima kasih. Karena berkat Issei, acara pertunangannya dengan Riser menjadi terhenti sementara sampai akhirnya batal di tangan Naruto. orang yang belum dikenal Rias kerana belum melihat wajah orang itu.
Di sisi Sirzehs. Maou-Lucifer ini langsung menggerakkan tangan ke Naruto dan menyibak dua aksesoris di kepala Naruto. Kini terpampanglah wajah tampan bersurai Dark-Silver Naruto ditambah Iris saphhire yang mampu membuat orang-orang yang melihatnya merasa tenang.
Mata Rias membulat sempurna ditambah iris blue-greennya yang bergetar pelan... Iris Sapphire? Surai Dark-Silver? Dan wajah yang sangat familiar baginya. Bibirnya mulai bergerak pelan dan memgumamkan nama pemuda itu. "N-Naruto?!"
Akeno dan Koneko pun terkejut mendengar nama dari orang yang telah menang melawan Riser. Pemuda itu ternyata teman pertama sekaligus pelindung dari Raja mereka. Sedangkan Issei dan Kiba yang belum tau hubungan Rias dan Naruto malah terlihat kebingungan. Namun yang tidak kalah terkejutnya adalah Naruto sendiri. Itu karena Sirzechs sendiri yang memberi saran kepada Naruto menyembunyikan identitasnya, tapi malah Sirzechs sendiri yang membongkarnya. Apa sebenarnya mau Sang Maou Lucifer ini?
"Lama tidak bertemu, Ojou-sama." Sapa Naruto dengan nada pelan. Dan jika didengarkan dengan seksama, terdapat nada menyesal yang terdengar disana.
Setelah mendapat kepastian bahwa pemuda di depannya adalah Naruto dari sapaan tadi. Ekspresi wajah Rias berubah dari terkejut ke kecewa dan marah.
"Ojou-sama semakin cantik saja." Naruto sedikit basa-basi untuk mencairkan suasana.
Tapi apa yang diharapkan Naruto malah sebaliknya. Rias sama sekali tidak termakan ucapan Naruto. Ia sama sekali tidak 'merona'... Jangankan merona, senang dan bahagia saja tidak terlihat di wajah cantiknya. Hanya ada kekecewaan dan sedikit kemarahan. Dan tak berselang lama, semuanya akhirnya dimulai!
"DARI MANA SAJA KAU, NARUTO!... Dan kenapa baru sekarang munculnya, Haa?!"
Seisi ruangan langsung terkejut ketika Rias berteriak kepada Naruto. Akeno dan Koneko 'lah yang paling terkejut. Ternyata apa yang mereka prediksikan salah. Itu karena mereka pernah mendengar Rias bercerita tentang teman pertama sekaligus pelindungnya. Ketika Rias menceritakan itu, Akeno dan Koneko bisa merasakan bahwa Rias sangat merindukan orang bernama Naruto itu.
"A-Aku minta maaf, Ojou-sama..." Naruto menundukan kepala sambil meminta maaf dengan nada getir.
"Apa kau lupa bahwa dulu kau pernah berjanji padaku..."
"Aku Uzumaki Naruto... Berjanji akan menjadi teman sekaligus pelindung yang akan selalu berada di samping Ojou-sama dan membantunya menyelesaikan masalahnya... Apapun yang terjadi."
Ya, baik Rias ataupun Naruto. Masih mengingat dengan jelas janji itu dan secara bersamaan mereka mengucapkannya.
"Sekali lagi minta maaf, Ojou-sama..." Naruto menundukan kepala, kedua tangannya terkepal sampai-sampai kaos tangan yang dipakai basah. "... Sunggu, aku benar-benar menyesal, Ojou-sama!"
"Penyesalanmu sudah terlambat Naruto..."
Naruto mendongak dan menatap sang Ojou-sama yang berdiri di depannya. Orang-orang yang berada di ruangan itu memilih diam karena tidak ingin ikut campur masalah Rias dengan Naruto yang seperti menyangkut masa lalu keduanya.
"DENGAR NARUTO... Apa kau tau seberapa senangnya aku waktu kau mengatakan janji itu?... Tapi apa, kau malah pergi meninggalkanku dan menginkari janjimu... Awalnya aku percaya bahwa kau akan kembali... Tapi, beberapa tahun menunggu kau tidak kembali-kembali juga!"
"Waktu itu aku tidak punya pilihan Ojou-sama... Iblis golongan Maou lama terlalu banyak sehingga satu-satunya pilihanku adalah mengirim mereka ke tempat lain di Underword... Tapi entah kenapa aku malah terdampar di dunia atas... Setelah lolos dari Iblis-Iblis itu, aku mencoba kembali ke Ojou-sama dengan tehnik teleportasiku... Tapi hasilnya nihil, aku selalu saja muncul di tempat lain dunia atas... Mungkin karena Underworld dan dunia manusia memiliki alam atau dimensi berbeda jadi tehnik teleportasiku tidak bekerja." Jelas Naruto lalu menundukkan kepala.
'Dan asal Ojou-sama tau seberapa frustasinya aku ketika tau tidak bisa kembali ke anda.' Batin Naruto yang mulai kecewa karena melihat Rias sama sekali tidak peduli atau lebih parahnya tidak percaya dengan alasan Naruto tadi.
"Lalu sekarang, bagaimana kau bisa ada disini?"
"Aku yang menjemputnya, Rias-Ojousama!" Bukan Naruto yang menjawab melainkan Grayfia.
"Cih!" Rias mendecih tidak suka. Ia menyilangkan kedua lengannya di bawah gunung kembar di dada sehingga gunung itu mengalami sedikit gempa. "Jujur saja Naruto... Setelah kau pergi aku sangat kecewa dan..."
"Membenciku!" Naruto memotong cepat membuat Rias mengembalikan pandangannya ke Naruto. Rias diam beberapa detik hingga mengangguk ragu-ragu. Tampaknya pewaris klan Gremory masih ragu untuk membenci Naruto yang merupakan teman pertamanya. Bagi yang lain ini berarti Rias membenci Naruto. Dan untuk Naruto, ini adalah sebuah pukulan telak untuknya. Sekarang ia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri dan juga kecewa pada... Rias?
Apa itu benar? Naruto kecewa pada Rias?
Hanya waktu yang bisa menjawab.
Naruto tersenyum tipis. "Aku tidak keberatan dibenci oleh Ojou-sama... Asalkan itu bisa membuat Ojou-sama senang dan bahagia sudah cukup untukku." Ini adalah kebohongan Naruto. Sebenarnya Naruto merasa sangat sakit hati. Alasan tadi tidak dipercayai oleh Rias dan yang kedua dari respon Rias ketika mengatakan hal tadi yang hanya memasang wajah datar.
Dan yang terburuk.
Rias membencinya!.
Oke ini sudah cukup. Naruto sudah tidak tahan berada di ruangan ini. Pemuda ini menunduk dan mengambil bandana serta kain penutup wajah yang tadi dijatuhkan oleh Sirzechs. "Kalau begitu... Ojou-sama, Sirzechs-sama, Grayfia-san dan Minna-san... Aku pamit dulu! aku merasa tidak enak mengganggu penyembuhan dari Errr..."
"Hyodou Issei... Pion dari Bochou, Naruto-san!"
"Issei-san!"
Naruto memutar tubuh dan mulai berjalan ke arah pintu keluar dari ruangan itu. Issei menatap heran kepergian Naruto karena bisa-bisanya pemuda itu menambahkan embel-embel -san- pada namanya. Padahal Issei hanyalah Pion dari Bochou-nya dan dari perkiraan Issei, Naruto lebih kuat darinya karena mengalahkan Riser tanpa luka sedikit pun.
"Naruto-kun!" Ketika hendak meraih gagang pintu Sirzechs tiba-tiba memanggil Naruto, pemuda itu segera menoleh kebelakang. "Bagaimana dengan imbalan atas kemenanganmu atas Riser-kun?"
Naruto mengalihkan pandangan ke Rias dan sekali lagi tersenyum. "Berikan saja ke Ojou-sama sebagai tanda permohonan maafku." Dan tepat setelah mengatakan itu. Naruto meraih gagang pintu bergaya eropa ruangan itu dan membukanya.
Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu. Naruto memberitahukan lokasinya ke Grayfia agar mudah untuk menemukannya jika sudah waktunya pulang. "Grayfia-san... Di balkon barat bangunan ini." Ya, Naruto masih hafal bangunan ini karena sering mengunjungi ketika hidup di Underworld.
Beberapa dari mereka meras iba akan nasib Naruto. Dibenci oleh orang yang ditolongnya sendiri. Seberapa menyesakkan hal itu jika mereka merasakannya. Tapi mereka ada yang mereka pertanyakan di kepala mereka. Bisa-bisanya Naruto tersenyum walalupun Rias sudah kecewa dan membencinya.
Apakah Naruto menyukai Rias sampai-sampai masih tersenyum walaupun sudah dibenci.
Hanya Naruto yang tau itu!.
.
.
Beberapa menit setelah Naruto pergi. Rias kembali ke sisi Issei duduk sehingga membuat pemuda mesum super akut itu sedikit memerah. Sirzechs yang melihat itu mulai kehabisan kesabaran. Ia menghela nafas sejenak dan langsung melotototi adiknya itu.
"Rias aku sangat kecewa padamu... bisa-bisa kau mengatakan hal itu di depan Naruto."
"Memangnya kenapa Onii-sama... Itu pantas untuknya yang sudah melanggar janjinya!" Ya, Rias tidak mau kalah dan masih mempertahankan bahwa Naruto 'lah yang salah dan menggunakan janji itu sebagai senjata utamanya.
"Apa kau tau... Minggu ini sangat berat bagi Naruto, ratusan orang desa tempatnya tumbuh sebelum ke sini dibantai habis-habisan oleh golongan Maou lama... dan kau semakin memperparah dengan mengatakan membenci Naruto tepat di depannya... Seingatku dulu kau tidak seperti ini, kalau tidak salah Naruto pernah secara tidak sengaja menghilangkan salah satu Anime kesukaanmu dan hanya ngambek dan tidak berbicara dengannya selama seminggu." Ceramah panjang lebar Sirzechs dimulai. Tapi Rias belum terlihat mau kalah bahkan setelah mengetahui perihal pembantai Konohagakure.
"Tapi ini berbeda... Dia pergi dan tak kembali selama beberapa tahun."
"Kurasa Naruto tadi sudah memberitahukanmu kenapa ia tidak bisa kembali?" Sirzechs sepertinya tidak mau kalah juga bung. Bagaimana balasan dari Rias? Mari kita saksikan setelah pesan-pesan berikut ini. Hah? ... Lupakan kalimat tadi!
"Lalu bagaimana Onii-sama bisa bertemu Naruto?"
"Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja satu tahun yang lalu ketika mengunjungi seseorang di dunia atas. Dan apa kau sadar... Siapa yang mengalahkan Riser dan memberikan imbalannya kemenangannya ke dirimu yang sudah pasti meminta pertunangan ini dibatalkan."
"Ya, itu yang aku minta... Tapi asal Onii-sama tau... Berkat Ise-lah pertunangan ini bisa batal!"
"Apa maksudmu?" Sirzechs malah bingung sendiri. Bukannya Naruto yang mengalahkan Riser dan Rias malah bilang Ise yang membuat pertunangan ini batal.
"T-Tapi Buchou... Naruto-san yang mengalahkan Riser kenapa aku?" Ise juga ikut bingung bagaimana Rias bisa menyimpulkan seperti ini. Bukan hanya Ise, Grayfia dan Peerage Rias pun demikian.
"Begini... Berkat Ise, pertunangan berhasil tertunda walaupun kalah setidaknya memberi waktu untuk Naruto... Dan disitu aku semakin kecewa dan mulai me-membencinya saat tau kalau dialah yang melawan Riser setelah Ise kalah, kalau memang Naruto tau aku akan bertunangan dengan Riser dan secara terang-terangan menolaknya. Kenapa bukan dia yang datang? Bukannya sudah tugasnya untuk membantuku ketika dalam masalah?"
Sirzechs memijit pelipis sambil meringis. Adiknya benar-benar membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Niat awalnya untuk membuat Rias berterima kasih ke Naruto dengan tulus tanpa mengetahui kalau yang menolongnya adalah Naruto sepertinya gagal. Dan itu karena ulah Rias yang lebih mementingkan Ise daripada berterima kasih secara tulus Naruto membuat Sirzechs kelepasan dan membuat identitas Naruto terungkap. Sungguh, ini diluar perkiraaannya dan harusnya dialah yang disalahkan disini kenapa tidak langsung mempertemukan Naruto dan Rias setahun yang lalu. Ya, Sirzechs baru menyelesainya.
"Anoo... Sirzechs-sama, aku minta ijin untuk menemui Naruto-san... Aku takut dia bertindak gegabah." Ya, Grayfia hanya beralasan. Ia sebenarnya tidak mau mengganggu perdebatan Sirzechs dan Rias.
"Pergilah!"
Grayfia mengangguk dan beranjak keluar dari ruangan. Setelah istrinya pergi. Sirzechs mengembalikan pandangan ke adikknya.
"Dengar ya Rias... Aku sudah merencakana semua ini... Pertunangan ini pasti kau tolak mentah-mentah... Jadi Rating Game adalah jalan satu-satunya dan aku sudah tau Riser pasti menang sehingga aku membuat rencana lain yaitu pertarungan di hari pertunanganmu untuk menyadarkan Riser atas kearagonannya atas permintaan dari Lady dan Lord-Phenex... Dan terakhir Naruto, aku sengaja tidak memberitahukan bahwa kau akan bertunangan sehingga aku menyuruhnya memakai pakaian seperti tadi dan Naruto hanya sebuah rencana cadangan apabila Issei-kun kalah!... Kau mengerti!"
"Ya~Ya aku mengerti!" Rias merespon bentakan dari kakaknya dengan nada acuh tak acuh. "Dan sekarang... Bisa aku lanjutkan merawat Ise, aku ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini!"
"Terserah kau... Tapi ingat ini Rias... Kalau sampai Naruto membenci kita... Para Iblis, jangan menyalahkanku jika kau langsung dihukum seumur hidup di penjara atau diusir dari Underwold!"
"Bagaimana bisa?"
Rias malah bingung. Kenapa mesti dia yang dihukum jika Naruto sampai membenci Iblis. Jika memang itu terjadi tinggal bunuh Naruto dan Wallah!. Masalah selesai... Tapi Rias masih yakin satu hal mengenai Naruto.
Pemuda itu bukan seorang pendendam!.
Dan pembicaraan kedua adik kakak itu pun berlanjut.
.
.
Beralih ke balkon bagian barat gedung tempat pertunangan yang sudah batal. Terlihat Naruto tengah duduk pada pagar balkon dan menyandarkan tubuh pada dinding. Mata Naruto terpejam dan nafas pemuda ini terlihat normal. Itu artinya Naruto tengah berada di alam bawah sadar untuk menenangkan diri bersama sahabat yang selama ini selalu mendukung Naruto.
Siapa lagi kalau bukan Kurama. Youkai Kitsune di dalam tubuh Naruto.
Tak berselang lama, Grayfia tiba di tempat Naruto. Dan secara tidak sengaja Grayfia melihat Naruto tersenyum dengan mata terpejam. Tampaknya ada yang terjadi dengan Naruto dan Kurama sampai-sampai tersenyum selebar itu.
Aneh?
Bagi Grayfia, Naruto benar-benar orang aneh namun menarik. Bisa-bisanya ia tersenyum ketika dilanda masalah. Tanpa Grayfia sadari, dia ikut tersenyum melihat senyum Naruto. Cukup tampan juga Naruto jika sedang tersenyum ditambah sifat Easy going semakin menyempurnakan sosok pemuda yang tengah duduk bersandar di pagar balkon, inilah yang dipikirkan oleh Grayfia.
Kalau saja Grayfia masih Jomblo. Mungkin Naruto menjadi orang yang tepat. Tapi sayang...
Dia sudah menikah.
Kelopak mata Naruto perlahan terbuka dan memperlihatkan iris biru saphhire. Pemuda ini segera menoleh ke kanan ketika menyadari Grayfia sudah berada di disana.
"Oh, Maaf Grayfia-san... Aku tertidur!" Naruto berkata agak canggung karena berbohong.
"Jadi... Bagaimana perasaanmu Naruto?"
"Errr... Sudah mendingan!" Kebohongan belaka Naruto!.
"Jangan berbohong... Aku tau itu!" Grayfia langsung membantah ucapan Naruto. "Katakan Naruto... Kenapa kau begitu mudah menerima dibenci oleh Rias-Ojousama?... Kenapa Naruto? Jujut ketika melihat senyummu tadi aku benar-benar percaya kalau kau sangat kecewa dengan Rias-Ojousama!"
"Bagaimana ya..." Naruto mendongak ke langit Underworld. Jujur saja, bagi Naruto sangat sulit untuk mengatakan bahwa ia menyukai Rias.
Kebenaran akhirnya terungkap!
"Aku akan mengatakannya... Tapi Grayfia-san harus berjanji tidak akan memberitahukannya ke siapapun terutama Sirzechs-sama dan Ojou-sama!"
"Ya, aku berjanji!" Naruto mengangguk menerima respon dari Grayfia.
"Begini... Aku sebenarnya menyukai Ojou-sama!"
Grayfia membulatkan mata mengetahui fakta dibalik semua sifat Naruto kepada Rias. Ternyata pemuda ini menyukai sang pewaris klan Gremory. Pantas saja Naruto meneriama dengan senang dibenci Rias dengan alasan agar gadis itu senang . Tapi kenapa Naruto malah menyembunyikannya dan tidak memberitahukan langsung kepada Rias.
Masih sebuah pertanyaan!
"Lalu kenapa-"
"Perasaan ini..." Naruto menyentuh bagian hati atau jantung? Yang mana aja deh yang penting hepi dan lanjut. "... Muncul sehari sebelum meninggalkan Ojou-sama, itulah kenapa aku tidak pernah mengungkapnya."
'Dan kau cukup bodoh tidak mengatakannya ketika pertama kali merasakannya dan apa-apaan itu-' Suara Kurama tiba-tiba tergiang di kepala Naruto.
'DIAMLAH KURAMA!' Pemuda tampan ini pun berteriak kesal dalam hati yang ditujukan untuk Kurama, tentu saja.
"Begitu rupanya..." Grayfia tiba-tiba mengalihkan pandangan menuju ke halaman dimana Rias dan Peerage-nya siap kembali ke dunia manusia karena Issei tampaknya sudah sembuh. "... Kalau begitu aku kebawah dulu... Sepertinya Ojou-sama sudah menunggu."
"Ya, silahkan Grayfia-san... Aku tunggu disini setelah selesai."
Grayfia mengangguk tanda mengerti dan segera beranjak meninggalkan balkon untuk turun ke halaman mengantar kepulangan Rias dan Peeragenya.
Naruto tersenyum getir ketika melihat seekor mahluk mythologi Yunani dikeluarkan oleh Issei dari sebuah kertas sihir. Tanpa babibu Issei langsung naik diikuti Rias yang membuat Naruto tersentak bukan main.
Tubuhnya mulai bergetar, perasaaan asing mulai muncul dari hatinya, apakah ini yang namanya cemburu karena melihat orang yang disukai naik burung berboncengan dengan pemuda lain? Senyum di wajah Naruto seketika menghilang. Dan perasaan asing yang diprediksi Naruto adalah kecembuaruan semakin meluap-luap dari dalam tubuhnya.
Dan Ketika mahluk terbang yang membawa Issei dan Rias itu berada tepat di depan bulan di langit malam Underworld.
Hal paling membahagiakan bagi Issei terjadi.
Dan untuk Naruto...
Hal paling menyesakkan 'lah yang terjadi.
Di bawah sinar bulan pada langit Underword sekaligus Di depan mata Naruto...
Issei dan Rias berciuman. Dan lebih parahnya lagi, Rias 'lah yang melakukan ciuman dan dengan wajah mungkin sok terkejut, Issei menerima ciuman dari Rias.
Kecewa... Sudah pasti...
Marah? Mungkin tidak, mungkin juga iya...
Cemburu... Sudah pasti...
Itulah yang dirasakan oleh Naruto ketika melihat orang yang disukainya mencium pemuda lain yang awalnya malu-malu dan sok terkejut ... Malah menerima dan menikmati ciuman itu dengan suasana mesra dibawah rembulan.
Tapi menurut Naruto, ia masih punya kesempatan yang bisa dibilang sangat kecil karena tiga hal yang menghalanginya. Pertama... Rias sudah kecewa dan membencinya, kedua adalah Rias tampaknya lebih menyukai pemuda bernama Issei itu ketimbang dirinya. Dan yang terakhir ... Mungkin karena Naruto hanya seorang manusia yang dipandang sebagai seorang teman dan pelindung oleh Rias.
Dan Naruto menetapkan satu hal walaupun sudah dilanda kekecewaan. Itu adalah...
Naruto tidak akan berhenti menyukai gadis yang sejak mereka bertemu harus ia lindungi.
Naif memang. Tapi apa boleh buat. Memang seperti itulah Naruto.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Well... Chapter yang benar-benar Gak Jelas dan berantakan kan?...
Dan diakhiri dengan adegan nyesek spesial untuk Naruto.
#Save_Naruto
.
.
AN ... INI CUKUP PENTING DAN JIKA BERKENANG SILAHKAN BACA!
PERTAMA DAN YANG PALING PENTING ADALAH... FIC HALF-DEVIL LUCIFER INI SEKARANG YANG MENJADI PRIORITAS SAYA... KARENA ALUR DAN PLOTNYA SUDAH DISUSUN OLEH TEMAN SAYA SAMPAI KE DETAIL TERKECILNYA SAMPAI ENDING. JADI JANGAN HERAN KALAU FIC INI AKAN LEBIH SERING UPDATE DIBANDING EMPAT FIC SAYA YANG LAIN ... JIKA INGIN TAU LEBIH JELASNYA KUNJUNGI BIO SAYA ... DISANA INFORMASI YANG LEBIH JELAS.
Kedua... Saya mengubah Tittle Arc kedua ini karena ada sedikit perubahan pada rencana alur setelah teman saya menyusunnya secara detail. Tapi musuh di Arc kedua ini tetap Orochimaru kok...
Dan ketiga ... mengenai Umur Naruto... Di A/N Chapter dua saya salah menghitung umur Naruto ... Jadi untuk sekarang umur Naruto "TIDAK DIKETAHUI", begitupula Madara dan Hashirama... Dan untuk Jiraiya, dia lebih tua dari keduanya dan umurnya juga tida diketahui... karena ada sedikit perubahan rencana seperti yang beritahukan sebelumnya... Mungkin beberapa Chapter ke depan baru saya perjelas berapa umur mareka.
.
.
Oke... Mungkin itu saja yang perlu saya sampaikan... Saya mengucapkan Terima Kasih telah Menunggu... Fav... Follow... Me-Review... Ataupun sekedar membaca Fic ini.
Terakhir... Jangan lupa meninggalkan komentar mengenai Chapter ini... Baik itu Pertanyaan, Saran, Kritikan, Tanggapan, Apresiasi atau... Flame?
Tulis semuanya pada Kotak Review dan akan saya tampung menjadi satu dan membalasnya...
.
.
.
"Kita bisa memilih kepada siapa kita berjodoh... Tapi, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta!"
- ILK
.
.
.
RootWood Out! ... Mau Tidur Cantik dulu :v :v !
