Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning : OOC, LIME/LEMON, AU, YAOI, typo, etc DON'T LIKE DON'T READ!


"Aku mencintaimu, Sasuke. Selalu..."

Kata-kata yang meluncur dari bibir Naruto cukup membuat Sasuke tidak mampu berkata apa-apa lagi. Direngkuhnya tubuh pria berambut pirang itu ke dalam dekapannya. Ia benar-benar merasa amat sangat bahagia. Tentu. Tidak ada seorang manusia pun yang tidak akan merasa bahagia saat orang yang kau cintai mengatakan kalau ia juga mencintaimu.

Apakah kata 'bahagia' cukup untuk menggambarkan perasaan Sasuke saat ini? Bahagia? Senang? Gembira? Tidak ada kata-kata yang lebih dari itu untuk menggambarkan perasaannya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Naruto akan mengatakan kalau ia mencintainya. Mencintainya... selalu...

Bukankah itu berarti kalau selama ini perasaan pria itu tidak berubah untuknya? Bukankah itu berarti tidak ada orang lain yang mengisi hati pria itu? Sepuluh tahun yang mereka habiskan karena sebuah kesalahpahaman akhirnya terbayar sudah. Bukankah ini suatu harga yang pantas?

"Aku mencintaimu, Sasuke. Tapi... aku tidak bisa bersama denganmu," bisik Naruto di dada Sasuke.

Perkataan Naruto itu mau tidak mau membuat kebahagiaan yang dirasakannya barusan hancur berkeping-keping laksana sebuah benda yang terbuat dari kaca yang membentur lantai yang keras. Ia merasakan dirinya terhempas dengan keras saat mendengar apa yang baru saja dikatakan pria dalam dekapannya itu.

"Apa maksudmu itu, Naruto?" kata Sasuke sembari mengeratkan pelukannya kepada tubuh Naruto. Jujur saja, ia merasa takut. Takut kalau ia akan kehilangan Naruto lagi.

Perlahan, Naruto mencoba melepaskan pelukan pria bermata onyx itu. Ditatapnya kedua iris mata sekelam malam tersebut. "Aku memang mencintaimu, Sasuke. Tapi bagaimana pun juga, kita tidak bisa bersama. Kau dan aku masing-masing mempunyai kehidupan yang berbeda saat ini. Aku... aku yang kau kenal sekarang mempunyai seorang tunangan. Seorang tunangan, Sasuke."


D E S T I N Y

-Chapter 7: Choice and Decision-


Lagi-lagi, Sasuke merengkuh tubuh pria berambut pirang itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia mengeratkan pelukannya. Tidak perduli kalau nantinya Naruto kesulitan bernafas.

"Apa wanita itu lebih penting dariku, Naruto?" bisik Sasuke. Nada suaranya saat ini menyiratkan keputus asaan.

Naruto tidak menjawab. Ia hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke. Bukannya ia menganggap kalau Shion itu lebih penting dari Sasuke. Tidak. Bagaimana pun, pria yang memeluknya saat ini lebih penting dari pada Shion. Bahkan mungkin lebih penting dari segala-galanya di dunia ini.

"...Naruto, jawab aku. Apakah wanita itu lebih penting dariku?" tanya Sasuke sekali lagi sambil mendorong pelan tubuh Naruto sehingga ia bisa menatap iris mata pria itu. "Apakah kau lebih mementingkan pertunangan itu walau kau tahu kau tidak akan bahagia karenanya? Atau kau takut kalau seandainya orang-orang mengetahui hubungan kita dan menentangnya? Itukah yang kau takutkan?"

Sekali lagi, Naruto tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pria itu. Memang, ia merasa takut dan ragu akan hubungannya dengan Sasuke. Ia merasa takut dengan reaksi orang-orang terhadap hubungan mereka nantinya. Apakah ia sanggup untuk menghadapi itu semua? Ia sama sekali tidak yakin dengan dirinya sendiri.

Sasuke menghela nafas pelan karena tidak juga mendapatkan jawaban dari Naruto. Dilepaskannya kedua lengannya yang memeluk tubuh pria itu dan membawa kedua tangannya ke wajah Naruto. Menangkupkan kedua tangannya agar ia bisa menatap dengan jelas wajah tan Naruto.

"Sebegitu ragukah kau dengan semua ini?" tanya Sasuke. "Kalau kau memang ragu, berarti memang jalan kita hanya sampai di sini. Mungkin sebaiknya kau melupakan saja apa yang kita bicarakan barusan."

Kedua mata safir itu melebar mendengar apa yang Sasuke katakan. Apakah karena keterdiamannya tadi membuat Sasuke menyangka kalau ia tidak menginginkan hubungan yang sepuluh tahun sempat terputus kini terjalin kembali? Tidak. Bukan itu yang Naruto inginkan. Yang Naruto inginkan saat ini hanyalah bersama dengan Sasuke. Persetan dengan apa anggapan orang-orang tentang hubungan mereka. Yang menjalani hubungan ini adalah mereka sendiri. Bukan orang-orang itu.

Lagipula, sejak kapan Naruto perduli dengan anggapan orang-orang terhadapnya? Bukankah ia itu adalah tipe orang yang tidak terlalu peduli dengan anggapan orang-orang itu?

"Sa-Sasuke..." panggil Naruto sambil menahan kepergian pria bermata onyx itu. "Jangan pergi, Sasuke. Tetaplah di sini, kumohon..."

Hanya satu kalimat itu sudah cukup membuat Sasuke yang saat itu hendak pergi meninggalkan apartemen Naruto, mengurungkan niatnya. Didorongnya pelan tubuh pria berambut pirang itu ke arah dinding terdekat. Mengunci tubuh Naruto di antara kedua lengannya yang menempel pada dinding.

Mata onyx Sasuke menatap lurus ke mata safir pria di depannya. Mencari sebuah kepastian di antara sorot mata itu. Kepastian atas apa yang baru saja Naruto ucapkan. Ia menghela nafas lega saat melihat kepastian di mata itu. Mata yang begitu ia kagumi selama ini.

Perlahan, Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah tengkuk pria di hadapannya. Dihirupnya dalam-dalam aroma khas yang menguar dari tubuh itu. Sampai kapan pun, Sasuke tidak pernah merasa bosan menghirup aroma yang memabukkan itu.

"Sa-Sasuke..." panggil Naruto saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh tengkuknya. Dicengkramnya erat kemeja hitam yang dipakai Sasuke saat merasakan bibir pria itu mulai bermain-main di tengkuknya. Ia berusaha menahan desahannya agar tidak keluar saat Sasuke menggigit keras perpotongan leher dan bahunya sambil sesekali menjilat dan menghisap keras bekas gigitan tersebut.

"Keluarkan saja suaramu, Naruto. Tidak akan siapa-siapa di sini, 'kan?" bisik Sasuke disela-sela kegiatannya di tengkuk pria itu.

"Umm... aahh~" desah Naruto saat lagi-lagi pria berambut raven itu menyerang titik-titik sensitif tubuhnya. Ia benar-benar tidak bisa menahan gejolak tubuhnya saat merasakan sentuhan-sentuhan Sasuke di setiap jengkal tubuhnya. Ia begitu merindukan sentuhan-sentuhan itu.

Merasa kalau Naruto menikmati apa yang ia lakukan, Sasuke mengalihkan bibirnya dari tengkuk pria berambut pirang itu ke arah leher, dagu kemudian bibir Naruto. Meninggalkan jejak basah saat bibirnya bergerak.

"Naruto, aku sudah tidak bisa menahannya lagi," bisik Sasuke sesaat sebelum ia mulai menyerang bibir merah Naruto. Dikecupnya bibir merah itu dengan lembut. Tangan kirinya bergerak perlahan ke bagian belakang tubuh Naruto. Membelai lembut punggung tegap itu sementara tangan kirinya menyisiri helaian rambut pirang Naruto.

Naruto tidak berkomentar apa-apa mengenai apa yang dikatakan Sasuke tadi karena ia sendiri juga berpendapat sama. Kelopak mata kecokelatannya yang terbuka, kini perlahan menutup. Ingin menikmati apa yang Sasuke berikan.

Kecupan lembut Sasuke pada bibir Naruto kini berubah menjadi lumatan kasar yang menuntut. Ditekannya pelan kepala pirang pria di hadapannya tanpa melepaskan lumatannya pada bibir Naruto. Rasa yang ia rasakan setiap kali berciuman dengan pria itu selalu sama.

Manis...

Itulah yang Sasuke rasakan setiap kali mengecup bibir itu. Rasanya berbeda sekali dengan bibir wanita-wanita yang pernah berciuman dengannya. Bibir merah yang sangat lembut dan tidak ternoda dengan berbagai macam kosmetik. Bibir yang tidak pernah tersentuh dengan lipstik ataupun lipgloss dan sebangsanya memang terasa berbeda.

Naruto mengerang tertahan saat tiba-tiba saja lidah Sasuke memasuki rongga mulutnya dan mulai bermain-main di dalam sana. Lidahnya yang basah sekaligus lembut itu mulai menjilati seluruh permukaan rongga mulutnya. Sedikit geli dirasakan oleh Naruto saat lidah itu menjilat bagian atas rongga mulutnya kemudian bergerak lincah mendata seluruh giginya.

Saliva mulai bercampur saat Sasuke semakin memperdalam ciuman mereka. Diajaknya lidah Naruto untuk bergerak bersama dan ternyata disanggupi oleh pria itu. Kedua organ pengecap itu mulai bergumul satu sama lain dalam rongga mulut Naruto. Mencari siapa yang mendominasi dalam permainan tersebut. Sesekali, terdengar suara keras saat Sasuke menghisap mulut Naruto. Menghisap, kemudian kembali melumatnya.

Tidak tahu bagaimana caranya, Naruto mendapati dirinya sudah berada di atas tempat tidurnya dengan Sasuke yang menindih tubuhnya. Lagi pula memangnya ia akan peduli bagaimana caranya ia sampai ke kamarnya saat dirinya tengah menikmati apa yang Sasuke lakukan padanya? Jawabannya tentu saja, tidak. Ia tidak peduli dengan hal-hal remeh seperti itu. Yang ia pedulikan sekarang hanyalah bagaimana menghabiskan waktunya bersama pria yang ia cintai itu.

Naruto mendapati kalau saat ini Sasuke tengah memandangnya dengan wajah serius. Tanpa berkata apa pun Naruto tahu apa yang diinginkan pria itu. Anggukan singkat dari Naruto sudah cukup bagi Sasuke untuk mengerti.

Dengan perlahan, ia kembali mendekatkan wajahnya ke wajah tan Naruto. Bibirnya lagi-lagi melumat dengan rakus bibir pria itu. Tidak berniat untuk melewatkan setiap jengkalnya.

Tangan Sasuke yang sejak tadi menganggur, kini tidak tinggal diam. Sambil mempertahankan kedua bibir mereka tetap bersatu, ia mulai membuka sisa kancing kemeja yang memang masih terkancing hanya beberapa. Ia tersenyum tipis saat jemari tangannya sukses mengenyahkan atasan pria itu sehingga menampilkan dada bidang Naruto.

"Bekas yang kemarin belum hilang ya?" tanya Sasuke yang beberapa saat yang lalu baru saja memutuskan ciuman mereka. Iris mata sekelam malam miliknya menatap ke aras bekas-bekas kissmark yang ia ingat betul ialah yang membuatnya tempo hati.

"Kau tahu sendiri kalau bekas ini tidak akan hilang dalam waktu dua hari," gerutu Naruto karena Sasuke dengan seenaknya menghentikan ciuman mereka.

"Hn," kata Sasuke. Jemari putih pucatnya mulai bergerak ke arah bekas-bekas berwarna kemerahan itu dan mengelusnya pelan. Membuat Naruto mendesis karena sensasi dingin yang ia rasakan dari jemari Sasuke.

[Warning: LIME/LEMON]

"Hmm... ahhh~ Sa-Sasuke~"

Suara desahan meluncur dengan mulus dari bibir pria berambut pirang itu saat Sasuke mulai menciumi bekas-bekas kissmark yang ia buat sebelumnya sembari mempermainkan tonjolan sebelah kanan di dada Naruto. Mendengar suara desahan kenikmatan dari sosok yang berada dibawahnya membuat Sasuke semakin bersemangat untuk melakukan yang lebih dari sekedar itu.

Merasa sudah cukup dengan bekas kissmark itu, bibirnya kini beralih ke arah tonjolan sebelah kiri. Ingin bersikap adil, ia mulai memperlakukan hal yang sama di kedua tonjolan tersebut. Dijilat, diremas, dan sesekali menggigit serta menghisap tonjolan itu sehingga lagi-lagi Naruto dibuat mendesah hebat. Puas dengan kerja tangannya, kini tangan Sasuke itu bergerak ke bagian bawah tubuh Naruto. Ia mendecak saat menyadari kalau tubuh bagian bawah pria itu masih tertutup kain.

Naruto mendesis pelan saat merasakan udara dingin menyergap bagian bawah tubuhnya. Perlahan, ia mulai membuka kelopak matanya yang sejak tadi terpejam. Dilihatnya Sasuke yang baru saja mengenyahkan celana panjang yang sejak tadi dipakainya lengkap dengan celana dalamnya. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya. Walau ini bukanlah yang pertama kalinya ia melakukan 'hal itu' dengan Sasuke, tapi tetap saja ia merasa risih. Apalagi saat ini Sasuke memandangnya dengan tatapan seduktif seperti itu.

Sasuke memandangi tubuh tanpa busana di bawahnya. Sampai kapan pun, ia sama sekali tidak akan bosan melihatnya. Kulit kecokelatan yang tampak begitu eksotis membuatnya tidak tahan untuk segera menjadikan tubuh itu miliknya. Dengan cepat, Sasuke menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhnya dan melempar begitu saja ke sembarangan tempat. Ia pun segera mendekati sosok pria berambut pirang yang saat ini memalingkan wajahnya; menindih tubuh pria itu.

"Kau mau aku berhenti?" bisik Sasuke di telinga Naruto.

"Terlambat untuk berkata seperti itu, Sasuke," kata Naruto sambil menatap kedua bola mata sekelam malam itu. Dengan satu gerakan, ia menarik wajah Sasuke mendekat kemudian mencium sekilas bibir pria itu.

Mendapat jawaban yang diinginkan, Sasuke kembali menyerang Naruto. Tangan kanannya mengelus lembut tubuh pria itu. Bergerak perlahan sampai akhirnya jemari putih pucatnya menemukan apa yang sejak tadi ingin digapainya.

Lagi-lagi desahan yang dibarengi dengan erangan menggoda keluar dari bibir Naruto saat Sasuke mempermainkan bagian tubuhnya yang sejak tadi sudah menegang. Diremasnya seprei yang menutupi tempat tidurnya dengan keras saat merasakan kenikmatan yang tidak bisa digambarkan menyerangnya. Berkumpul di dalam perutnya; mencoba untuk keluar.

"Ughh... ahhh~ Sasuke~ le-lebih cepat!" perintah Naruto. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya. Mata pria itu terpejam erat dengan bulir-bulir keringat yang mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Membasahi seluruh permukaan kulit kecokelatan miliknya.

Sasuke yang mendengar perintah dari Naruto semakin mempercepat tempo permainan tangannya di benda milik pria pirang tersebut. Belum cukup, ia melepaskan genggaman tangannya dan menggantinya dengan mulutnya yang basah. Sekali lagi ia mendengar Naruto mendesah nikmat saat ia mulai memaju mundurkan kepalanya dalam tempo yang semakin lama semakin cepat.

"Sa-Sasuke... a-aku... ahhhh~" desah Naruto lega saat beban yang menekan tubuhnya kini sudah terbebas. Dengan nafas yang masih terengah-engah, ia kembali membuka matanya. Dilihatnya sosok Sasuke yang saat ini sedang mengelap bibirnya yang sedikit berlumuran sisa-sisa hasratnya dengan punggung tangannya. Lelah. Itulah yang ia rasakan saat ini karena baru saja ia bisa mengeluarkan hasrat di tubuhnya. Ia sudah sangat lelah. Tapi ia tidak akan tertidur. Tidak sekarang karena ia tahu masih ada yang harus ia lakukan.

"Sa-Sasuke, cepat se-selesaikan," kata Naruto masih dengan nafas yang tersengal-sengal.

"Jangan terburu-buru, Naruto," kata Sasuke sambil menampakkan seringaian di wajahnya. Mata onyx miliknya menatap sosok Naruto yang kelelahan. Ia memang sudah tidak tahan lagi untuk segera membuat Naruto menjadi miliknya. Tapi tidak dengan terburu-buru. Ia ingin apa yang ia lakukan malam ini berbeda dengan apa yang mereka lakukan tempo hari.

Mata pria berambut raven itu menangkap sesuatu yang ada di atas meja di dekat lemari pakaian milik Naruto. Tanpa membuang-buang kesempatan, ia meraih sebuah botol body lotion dari atas meja lalu kembali ke tempat Naruto.

"Kemarilah, Naruto," kata Sasuke sembari menyodorkan botol berwarna hijau kepada pria itu.

Mengerti apa maksud Sasuke, Naruto mengambil botol tersebut dan membuka tutup botolnya lalu mulai melumuri benda milik Sasuke sembari memijat dan meremas dengan agak keras yang sukses membuat Sasuke mengerang. Sambil menikmati sentuhan Naruto pada benda miliknya, jemari Sasuke bergerak perlahan ke arah bagian belakang tubuh pria itu. Ditusukkannya satu jemarinya yang panjang pada lubang milik Naruto.

Seperti sebelumnya, rasa tidak nyaman segera Naruto rasakan saat Sasuke mulai memainkan jari-jari lentiknya pada bagian bawah tubuhnya. Ia mengerang tertahan saat jari kedua ditusukkan kembali. Tanpa sadar, ia mencengkram benda milik Sasuke lebih keras dari yang seharusnya.

"Tahan sedikit lagi, Naruto," kata Sasuke berusaha menenangkan Naruto. Ditawannya kembali bibir Naruto yang sudah membengkak hanya agar ia melupakan sedikit rasa sakit saat ia memasukkan jari ketiganya ke dalam lubang Naruto.

Naruto menarik wajahnya dari wajah Sasuke dan mendesah keras saat pria berambut raven itu menemukan prostatnya. Segera saja Sasuke menarik kembali ketiga jemarinya. Ia membetulkan posisi duduknya lalu mulai menuntun tubuh Naruto sehingga benda miliknya berada tepat di bawah lubang pria itu.

Naruto berteriak keras saat Sasuke mulai memasukkan benda miliknya. Dicengkramnya dengan keras bahu Sasuke sehingga membuat pria itu meringis pelan. Naruto benar-benar tidak tahan lagi atas rasa sakit yang menyerang bagian bawah tubuhnya sehingga tanpa sadar setitik air mata keluar dari sudut matanya.

Melihat kalau pria di hadapannya tampak menahan sakit, jemari tangan Sasuke pun bergerak ke arah benda milik Naruto. Diremas dan sesekali mengocok benda itu. Tidak lama kemudian, tampaknya Naruto sudah mulai tenang. Ia pun mulai menggerakkan pinggulnya untuk melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.

Desahan, erangan serta rintihan lagi-lagi terdengar di ruangan tersebut. Suhu di kamar itu meningkat drastis. Pendingin ruangan pun tampaknya tidak lagi berguna karena apa yang mereka lakukan. Walau pendingin sudah di-stel di bawah suhu yang seharusnya pun, tetap saja kedua insan yang sedang memadu kasih itu bermandikan keringat.

Selama beberapa lama, hanya terdengar suara-suara yang menyiratkan kenikmatan duniawi di ruangan itu sampai akhirnya suara-suara itu terhenti saat masing-masing dari mereka meneriakkan nama pasangannya. Mengakhiri aktivitas yang mereka lakukan.

[LEMON END]

"Terima kasih untuk yang tadi, Naruto," kata Sasuke sembari mengecup pelan kening pria dalam pelukannya. Keringat yang mengalir dari pori-pori kulitnya tidak menghentikan Sasuke untuk memeluk tubuh pria berambut pirang itu.

"Terima kasih juga, Sasuke," gumam Naruto. Mata safirnya menatap jam dinding yang ada di kamarnya. Ia tidak menyangka apa yang mereka lakukan tadi bisa selama ini. Sambil menguap lebar, Naruto mengeratkan pelukannya ke tubuh Sasuke. Perlahan, ia mulai memejamkan matanya. Menyambut kantuk yang menyerangnya.

"Good night, Naruto," bisik Sasuke sembari menyusul Naruto untuk tidur.

...

Naruto merasa sangat bahagia saat melihat wajah tidur Sasukelah yang ia lihat pertama kalinya begitu ia bangun tidur pagi ini. Jemari kecokelatan miliknya bergerak perlahan ke arah wajah tampan Sasuke. Ia tersenyum tipis mengamati wajah di hadapannya. Sepuluh tahun yang telah mereka lalui memang telah mengubah segalanya.

Sasuke yang sekarang dilihatnya sudah banyak berubah dibandingkan dengan Sasuke sepuluh tahun yang lalu. Wajahnya masih tampan seperti dulu. Hanya saja Sasuke yang sekarang terkesan lebih dewasa.

Naruto mengelus lembut tulang pipi pria yang masih juga belum membuka matanya padahal hari sudah hampir mendekati siang. 'Apa selama sepuluh tahun ini sudah membuat Sasuke menjadi orang yang malas untuk bangun pagi?' batin Naruto.

Mendadak, suara dering telepon menyadarkan Naruto dari kegiatannya mengamati wajah tidur Sasuke. Meringis pelan menahan sakit yang menyerang bagian bawah tubuhnya, Naruto beranjak dari tempat tidurnya; mencari di mana suara yang ia yakini berasal dari ponsel miliknya itu berada. Ia tidak peduli kalau saat ini dirinya tidak mengenakan sehelai pakaian pun.

Selama beberapa saat mencari, akhirnya Naruto menemukan ponsel miliknya tergeletak di atas sofa di kamarnya. Buru-buru ia melihat siapa yang menghubunginya.

"Hinata?" gumam Naruto membaca nama yang tertera di LCD ponselnya.

"Ada apa Hinata-chan?" kata Naruto menjawab telepon dari sekretarisnya itu.

"Ma-Maaf saya menganggu Anda, Naruto-sama. Saya sedikit cemas karena sampai siang ini Anda tidak juga muncul di kantor. Apa Anda baik-baik saja?" tanya Hinata dari seberang telepon.

Naruto mengutuki dirinya sendiri atas kecerobohannya kali ini. Gara-gara apa yang ia dan Sasuke lakukan sampai jam tiga pagi tadi, ia melupakan kalau hari ini masih hari kantor.

"Aku baik-baik saja, Hinata-chan. Aku hanya sedikit tidak enak badan. Bisa kau membatalkan semua agendaku hari ini dan memindahkannya ke hari lain? Kurasa aku tidak akan ke kantor hari ini."

"Baiklah. Akan saya laksanakan. Apa saya perlu memanggilkan dokter untuk Anda, Naruto-sama?"

"Tidak. Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Hinata-chan," kata Naruto.

"Sama-sama, Naruto-sama. Semoga cepat sembuh,"

Naruto menghela nafasnya setelah sambungan teleponnya dengan Hinata sudah terputus. Hari ini ia memutuskan untuk membolos kerja. Berarti besok pekerjaannya di kantor pastilah menumpuk. Sepertinya setelah ini ia lebih baik memutuskan untuk mengambil cuti barang beberapa hari saja.

"Apa kata karyawanmu kalau tahu kau ternyata membolos, bukannya sakit seperti yang kau katakan."

Tubuh pria berambut pirang itu sedikit tersentak saat merasakan lengan yang kekar memeluk pinggangnya. Menolehkan kepalanya sedikit, ia mendapati kepala Sasuke yang bersandar pada bahunya. Sensasi aneh kembali ia rasakan saat kulitnya yang tidak dilapisi sehelai benang pun kini bersentuhan dengan kulit pria itu.

"Kapan kau bangun?" tanya Naruto yang kini mengalihkan pandangannya ke arah jendela di kamarnya yang masih tertutup tirai berwarna kuning gading.

"Baru saja saat mendengar suara berisik dari ponselmu," jawab pria bermata onyx itu.

"Maaf membangunkanmu."

"Hn,"

Keheningan kembali menyelimuti kedua orang itu. Bagi mereka, kata-kata itu tidaklah penting saat ini. Bersama dengan orang yang disayangi itu jauh lebih penting. Bukankah itu yang seharusnya?

"...Ini sudah siang. Kau tidak lapar, Sasuke? Kau mau makan apa?" tanya Naruto setelah hampir sepuluh menit lebih mereka hanya diam seperti itu.

"Aku lebih memilih untuk memakanmu daripada makan makanan lain," kata Sasuke dengan nada santai sambil menguap kecil. Perlahan, ia mulai melepaskan lengannya dari pinggang Naruto kemudian berjalan ke arah tempat tidur di kamar itu. Dengan asal-asalan ia mulai memakai celana panjang yang semalam ia pakai tanpa berniat memakai kemeja hitamnya.

"Shut up, Sasuke!" bentak Naruto.

Pria berambut pirang itu berjalan ke arah tempat tidurnya dan mulai memunguti baju-bajunya yang berserakan di lantai apartemennya. Saat ia hendak meninggalkan kamarnya untuk pergi ke kamar mandi, lengannya telah terlebih dahulu ditarik oleh pria bermata onyx itu. Membuatnya kini terduduk di pangkuan Sasuke.

"Mau ke mana?" tanya Sasuke.

Naruto mendengus pelan menanggapi kata-kata yang diucapkan Sasuke barusan. "Aku mau mandi. Kau tidak merasa tubuhmu lengket?"

"Hn. Nanti saja, aku masih ingin seperti ini dulu."

Tahu kalau dirinya tidak akan bisa membantah pria yang kini memeluknya itu, Naruto pun akhirnya menyandarkan dirinya pada dada Sasuke. Mata safirnya memandang ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Lagi-lagi kedua orang itu lebih memilih keheningan sebagai teman mereka.

...

"...Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Sasuke memecah keheningan diantara mereka.

"Apa maksudmu?"

"Kau tahu maksudku, Naruto," kata Sasuke yang kini mulai menyandarkan kepalanya lagi di bahu pria berambut pirang itu. "Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana dengan tunanganmu? Bagaimana dengan keluarga kita? Apa kau pernah memikirkan semua itu?"

Naruto menundukkan kepalanya memandangi lantai di kamarnya. Bohong kalau ia tidak pernah memikirkan apa yang Sasuke katakan barusan. Memang, dulu ia tidak terlalu memikirkan masalah ini karena ia sudah bertunangan dengan Shion, calon yang kedua orang tuanya pilihkan untuk menjadi pendamping hidupnya.

Tapi hari ini berbeda. Ia dan Sasuke bukan lagi teman, rival, atau mantan kekasih seperti beberapa hari kemarin. Hubungan mereka boleh dikatakan tidak sedangkal itu sekarang. Mau tidak mau, Naruto pun memikirkan perkataan Sasuke tersebut.

"A-Aku tidak tahu," jawab Naruto.

Ya... ia memang tidak tahu apa yang akan ia lakukan sekarang. Di satu sisi, ia ingin bersama dengan orang yang sejak dulu dicintainya. Tapi ia sadar, hubungan yang ia jalin dengan Sasuke saat ini pastinya akan mendapat banyak tentangan. Baik dari keluarganya ataupun keluarga Sasuke.

"Kau ragu dengan hubungan kita ini?"

"Aku tidak pernah ragu, Sasuke. Hanya..." Naruto berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "...hanya saja keadaan kita saat ini berbeda dengan keadaan kita sepuluh tahun yang lalu."

Naruto bisa merasakan kalau sosok yang sedang memeluknya saat ini sedikit tersentak.

"Di mananya yang berbeda?" desis Sasuke. "Bukankah dulu dan sekarang kita mengalami hal yang sama. Kalau dulu akulah yang dijodohkan oleh orang tuaku, maka sekarang adalah kau. Di mananya yang berbeda?"

Terdengar Naruto menghela nafasnya. Memang, posisi mereka dulu dan sekarang tidak ada bedanya. Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya. Dirinya yang sekarang bukanlah seorang Namikaze Naruto yang polos, hyperactive, serta ceroboh. Dirinya yang sekarang adalah seorang Namikaze Naruto, Direktur dari Rasengan Interprize. Segala tindak-tanduknya diamati oleh orang-orang sekitarnya.

"...Kita tidak akan bisa menyembunyikan hubungan ini dari orang-orang sekitar kita. Cepat atau lambat, mereka pasti akan mengetahuinya juga. Apa yang akan kau lakukan kalau seandainya mereka tahu?" tanya Sasuke.

Bukannya Sasuke takut terhadap reaksi tidak setuju keluarganya. Ia sudah bersiap-siap menerima konsekuensi dari hubungan yang ia dan Naruto jalani saat ini. Ia tidak pernah berharap lebih kalau seandainya nanti Ayah dan Ibunya akan merestui hubungan ini. Tidak. Bermimpi pun ia tidak pernah.

Yang menjadi pikirannya saat ini hanyalah sikap Naruto nanti. Apakah ia peduli terhadap apa kata kedua orang tuanya atau tidak, hanya Naruto yang berhak untuk mengambil keputusan itu. Bagaimana pun juga, Naruto harus mengambil keputusannya sendiri.

"Naruto..." panggil Sasuke karena tidak juga mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya barusan. Tangan putih pucatnya bergerak dari pinggang pria itu. Dengan perlahan, ia membalik tubuh Naruto sehingga pria itu kini berhadapan dengannya.

Sasuke menempelkan keningnya pada kening Naruto. Jarak yang sangat dekat memungkinkan Sasuke untuk merasakan setiap hembusan nafas yang keluar dari hidung pria itu. Bola matanya yang sekelam malam tersebut memandang lurus ke arah bola mata safir Naruto.

"Kita akan menghadapinya bersama, 'kan?" tanya Sasuke.

Pria berambut pirang itu memejamkan matanya mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sasuke. Ia sedang berpikir. Berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan. Ada dua pilihan yang harus diambilnya saat ini. Pertama, apakah ia harus memilih Sasuke walau apapun yang akan terjadi. Memilih laki-laki yang dicintainya dibandingkan dengan keluarga dan tunangannya walau nantinya banyak pihak yang tidak menyetujui apa yang ia pilih. Ataukah pilihan kedua di mana ia akan menerima apa yang sudah dipersiapkan kedua orang tuanya untuk masa depannya. Menikah dengan Shion yang tidak dicintainya dan membahagiakan kedua orang tuanya.

Tapi apakah ia akan bahagia saat memilih Shion dan kedua orang tuanya? Naruto sudah tahu kalau ia tidak akan bahagia dengan semua itu. Ia tidak akan bahagia walau ia memiliki semua benda di dunia ini tapi tidak ada sosok yang kau cintai di dunia ini. Sebenarnya sangat mudah bagi Naruto untuk memilih dua pilihan itu. Tidak apa-apa kan kalau seandainya kita lebih memilih kebahagiaan kita? Bukankah hidup itu mengajarkan kita untuk mencari dan menggapai kebahagiaan kita sendiri?

Perlahan, Naruto membuka kelopak matanya yang terpejam. Dipeluknya erat tubuh Sasuke. Kali ini ia yakin apa yang harus dipilihnya. Ia sudah memutuskan.

"Kita hadapi ini bersama," kata Naruto pelan.

Sasuke tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya saat mendengar apa yang ia harapkan akhirnya keluar dari bibir pria bermbut pirang itu. Tangannya kembali merangkul tubuh Naruto. Kali ini tidak akan ia biarkan lagi sosok itu menghilang dari hidupnya. Tidak akan pernah lagi.

"Terima kasih," bisik Sasuke sembari mengecup pelan ujung telinga Naruto. Ia bersyukur Naruto memutuskan apa yang terbaik baginya walau nantinya mereka harus berhadapan dengan banyak pihak yang tidak menyukai hubungan mereka.

Kedua orang itu kembali mempersatukan kedua bibir mereka dalam kecupan lembut. Mereka sama sekali tidak sadar kalau di saat yang sama seseorang tengah berjalan memasuki pintu apartemen Naruto dan berjalan ke arah kamar pria berambut pirang itu.

Shock... adalah ekspresi pertama yang terlukis di wajahnya saat melihat dua orang pria tengah larut dalam ciuman mereka.

"Na-Naruto..." panggil sosok berambut pirang yang mempunyai ciri-ciri fisik yang hampir sama dengan Naruto.

Merasa namanya dipanggil, otomatis Naruto mengalihkan dirinya dari kegiatan yang mereka lakukan. Mata safir-nya menatap tidak percaya ke arah sosok yang begitu dikenalnya yang saat ini menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Nee-Nee-chan..."


TBC


Review`s Reply:

Just Ryu: Ryu-san sampe deg-degan? Sepertinya sisi puitis saia sedang kumat *sepaked*. makasih untuk reviewnya ya...

Kiryuu: Yosh! Makasih untuk reviewnya ya, Kiryuu #peluk2#

Micon: Makasih sudah menyempatkan untuk mereview fic ini, ya...

Qby-chan: Salam kenal juga, Qby-chan~ Untuk MinaKushi disini, saia buat mereka ga setuju hubungan SasuNaru. Yah, karena disini memang hubungan sesama jenis itu saia buat menjadi hubungan yang tidak wajar(?) semacam itulah. Makasih untuk reviewnya...

Dark Dobe: Maaf Dobe-san, kali ini saia tidak bisa update super fasterrrr *pundung di pojokan* makasih untuk review-nya ya...

Rosanaru: Makasih atas pujiannya. Lemon? Udah kan? Makasih reviewnya ya...

Sou`s Note: ugh... lagi-lagi dipotong pas scene seperti itu #dilempar ke laut#

yang kemaren2 minta Lemon, sudah dikabulin di chapter ini ya. Mudah-mudahan sesuai dengan selera *readers: emang makanan?*

Umm... A-Ano, maaf kalau saia updatenya lama. Bukan maksud untuk menelantarkan fic ini atau apa. Hanya saja, saia memang lama meng-update kalau membuat Lemon. Mencari mood-nya susah sekali.

Hontou ni gomennasai, minna-san~

Review?