Difficult by. sarang-baek
.
Warning! Yaoi! Smut scene! No childern under 18! (NC-18)
.
Disclaimer: Fiction is mine!
.
"Mmhn.." Lenguhan demi lenguhan melantun indah di telinga Jongin ketika tangannya bermain dengan mahir di atas tubuh mungil yang terkunci di bawahnya.
Jongin tahu suara Kyungsoo merdu, tapi ia tidak tahu jika desahannya bisa menjadi semerdu ini. Jongin pikir ia gila, dia melakukan hal ini selain pada Baekhyun dan ia pikir ia bajingan karena menikmati ini dengan adik kekasih(asli)nya sendiri.
Jongin tidak bisa berhenti bahkan ketika nama Baekhyun melintas di pikirannya. Hatinya sakit tapi tubuhnya menghianatinya. Jongin melumat bibir tebal Kyungsoo sensual, bibirnya benar-benar berbeda dengan Baekhyun, tebal, kenyal dan lembut, aromanya pun sungguh berbeda, keringat Kyungsoo adalah campuran antara collegne bayi dan harum alami tubuhnya sendiri, sedangkan Baekhyun -tunggu, oh Jongin mulai sinting, kenapa ia membandingkan Baekhyun dengan Kyungsoo?
Jongin merasa perutnya di aduk-aduk, napsu dan rasa bersalah mulai menyelimutinya. Jongin berpikir untuk berhenti, tapi pemandangan di bawahnya membuat tubuhnya tanpa sadar melakukan lebih.
Kyungsoo mulai menggeliat tidak sabaran ketika Jongin menggesekan ereksinya yang sudah sangat keras ke ereksi Kyungsoo. Tubuhnya melengkung lentur, menekankan ereksinya lebih keras ke kejantanan Jongin yang masih terlapis jeans.
Mulutnya masih di bungkam Jongin, ciumannya semakin liar hingga membuat Kyungsoo kepayahan, ia terengah-engah ketika Jongin melepaskan pagutannya. Dadanya naik turun dengan puting yang mengeras membuatnya tidak nyaman karena bergesekan dengan kausnya, Kyungsoo ingin itu bergesekan dengan dada Jongin, bukan kausnya.
Kyungsoo mendorong pelan bahu Jongin untuk menjauhkan wajah Jongin dari lehernya dan membuka kausnya cepat. Ia dengan jelas melihat seringai di wajah Jongin yang menyebabkan kadar gairahnya melambung tinggi. Jongin melakukan hal yang sama, membuka kausnya dan Kyungsoo merasa sakit di selangkangannya ketika melihat Jongin membuka pakaiannya dengan sensual, menampakan chocolate absnya yang sempurna.
Perutnya bergejolak, darahnya mendidih, muka Kyungsoo sudah memerah sepenuhnya dengan bibir bengkak karena lumatan Jongin, matanya sayu, kenikmatan dan rasa kecewa akan penghianatan bercampur jadi satu membuat akal sehatnya tidak bekerja, ia mencintai Jongin, sangat.
Kyungsoo ingin bercinta maka Jongin memberinya. Jongin memperlakukan Kyungsoo dengan lembut namun keras. Ia hanya pernah melakukan hal seperti ini dengan Baekhyun, jadi sensasi nya benar-benar berbeda. Antara napsu dan rasa bersalah bercampur jadi satu dan itu membuat ia merasa gila.
Perasaan ini seperti sebuah tantangan yang memacu adrenalin. Rasa takut akan penyesalan terasa menegangkan ketika gejolak di dalam perutnya semakim menjadi-jadi. Sakit di hati dan selangkangannya terasa seperti terjun tanpa parasut. Jongin merasa ereksinya harus segera di bebaskan. Ia menurunkan zip celananya sambil menatap Kyungsoo sayu, begitupun dengan Kyungsoo. Kedua manusia itu punya arti yang sama dan berbeda disaat bersamaan lewat mata sayunya. Napsu dan sakit di hati.
"Aku akan mempersiapkanmu." Kata Jongin dengan suaranya yang berat dan serak.
Setelah menurunkan celananya dan celana Kyungsoo, Jongin mulai menciumi paha bagian dalam Kyungsoo agar Kyungsoo semakin basah dan mudah untuk dimasuki.
"Shh.." Kyungsoo mendesis pelan ketika Jongin menghisap paha bagian dalamnya, hangat dan basah menciptakan sensasi geli di perutnya dan itu semakin bergejolak.
Jongin berhenti di paha Kyungsoo ketika merasa lubang Kyungsoo sudah cukup basah untuk dimasuki jarinya terlebih dahulu. Ia berniat untuk membasahi jarinya agar lebih mudah masuk dan tidak terlalu menyakiti Kyungsoo tapi Kyungsoo menghentikannya dan menarik jarinya kedalam mulutnya sendiri.
Tangan kiri Jongin berada di sisi kepala Kyungsoo untuk menopang badannya agar tidak terlalu menindih tubuh mungil Kyungsoo. Selama menunggu Kyungsoo membasahi jari-jarinya Jongin menghirup aroma Kyungsoo yang memabukan lewat lehernya. Benar-benar aroma baru karena Jongin tidak pernah berhubungan dengan orang lain selain Baekhyun.
Deg.
Jantungnya memukul secara tiba-tiba ketika nama Baekhyun melewati pikirannya. Bagaimana jika Baekhyun tidak menerima alasannya melakukan ini, pikirnya. Selain itu Baekhyun pasti akan sakit jika tahu kekasihnya berhubungan badan dengan orang lain. Jongin hanya berharap jika Chanyeol mendengarkannya dan membawa Baekhyun pergi dari rumah ini untuk sementara waktu.
Kyungsoo sudah selesai dengan jarinya, Jongin bangkit dan duduk dengan kedua lutunya, mengangkat satu kaki Kyungsoo dan menaruhnya di bahu kekarnya.
"Ini akan sangat sakit, karena kau seorang virgin." Kyungsoo merona parah ketika Jongin bicara seperti itu dengan suaranya yang berat. Juga ia sedikit malu ketika Jongin melihat bagian dirinya yang paling pribadi.
"Akh!" Kyungsoo memekik keras ketika telunjuk Jongin berhasil membobol lubang perawannya.
"Kau baik?" Tanya Jongin, dengan telunjuk yang terbenam dalam diri Kyungsoo.
"Rasanya sedikit aneh, dan, mengganjal." Ucap Kyungsoo polos, terengah-engah.
Jongin terkekeh kecil. "Aku akan memasukan jariku yang lain." Katanya.
"Jongin!" Kyungsoo meneriakan nama Jongin ketika Jongin sudah memasukan jari tengahnya
"Sakit?" Tanya Jongin sambil bersiap melebarkan lubang Kyungsoo.
"T-tunggu."
"Kau ingin berhenti?"
"Bukan. C-cium aku, rasa nya sakit sekali ketika meremas bed cover terlalu erat." Jelasnya sambil merona. Dan Jongin menciumnya.
Jari Jongin mulai melebarkan lubang Kyungsoo dengan gerakan menggunting. Dan ketika sudah siap Jongin mulai memosisikan penisnya di depan lubang Kyungsoo
"Shh.." Kyungsoo mendesis ketika kepala penis Jongin berada di depan lubangnya yang berkedut.
"Aku akan masuk." Jongin memberi aba-aba.
"AH!" Kyungsoo berteriak kesakitan ketika Jongin memasukinya dengan sekali hentakan. Air mata menggantung di pelupuk matanya.
Jongin memundurkan bokongnya dan menghentakannya sekali lagi.
"Angh.. Jonginh..hh.." Kyungsoo terengah-engah.
Jongin menggenjotnya dengan pelan dan berirama di awal, semakin lama semakin cepat dan gila menciptakan suara kulit yang beradu, menambah gairah mereka semakin memuncak.
Kyungsoo menarik leher Jongin mendekat lalu mengecup bibir Jongin singkat dan mulai menciumi seluruh wajah Jongin. Jongin tertegun ketika Kyungsoo menciumi seluruh wajahnya dengan air mata yang mengalir di pipinya yang merona.
"Kau menangis.. Shh.." Ucap Jongin sambil mendesis ketika lubang Kyungsoo mengetat.
Kejantanan Kyungsoo sudah mulai mengeluarkan pre-cum ketika Jongin mulai menyentuh titik kenikmatannya juga karena gesekan hangat perut Jongin pada penisnya.
Gerakan Jongin semakin cepat ketika ia merasa ejakulasinya sudah dekat, pun Kyungsoo yang mengetatkan lubangnya membuat Jongin semakin dekat.
Kyungsoo berhenti menciumi wajahnya ketika ia keluar, perutnya bergetar beberapa kali dan lubangnya ikut mengetat. Disusul dengan Jongin yang menyemburkan semennya di dalam Kyungsoo.
"Haah.. Haa..nh.." Kyungsoo terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Jongin ambruk di atasnya dan ketika Jongin mencoba bangkit Kyungsoo membalikan posisi.
"Belum.. Belum selesai." Ucap Kyungsoo dan dibalas oleh kerutan di dahi Jongin.
"Ayo lakukan lagi." Jelasnya.
Jika ini berakhir, maka Kyungsoo tidak bisa memiliki Jongin lagi. Jadi ia akan melakukan ini dengan Jongin sampai ia kehabisan energinya atau bahkan sampai ia kehabisan napas.
Kyungsoo duduk di atas Jongin dan mulai menaik-turunkan bokongnya.
"Kyungsoo-ya.." Jongin memanggilnya tapi Kyungsoo umenutup matanya sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kyungsoo belum ingin berpisah dengan Jongin, setidaknya untuk hari ini, ia ingin menghabiskan sisa hari ini dengan memiliki Jongin, karena setelahnya ia tidak akan bisa lagi.
Mereka sudah ejakulasi untuk yang kedua kalinya, sekarang Kyungsoo tumbang di atas Jongin. Tubuh mereka bermandi peluh, plus tubuh Jongin yang penuh oleh sperma Kyungsoo. Tapi Kyungsoo bangkit lagi, ia menggerakan bokongnya lagi untuk menggoda penis Jongin, Jongin melebarkan matanya.
"Kau tidak lelah?" Tanya Jongin ketika Kyungsoo mencoba membangunkan penisnya lagi.
Kyungsoo menunduk, memerhatikan abs Jongin. Ia tidak berani mamandang Jongin. Kyungsoo merasa matanya terbakar jika ia berpikir setelah ini ia tidak akan bisa bersama Jongin lagi.
"Angh." Kyungsoo melenguh ketika penis Jongin menyentuh titiknya lagi.
"Shh..." Jongin mendesis ketika Kyungsoo mengetatkan lubangnya, diikuti dengan ejakulasi ketiga mereka.
Mereka berdua berusaha mengirup oksigen dengan payah.
Kyungsoo menopang tubuhnya dengan kedua tangannya, tenaganya hambir habis, dadanya naik turun secara dramatis tapi ia masih belum ingin ini berakhir, ia menggerakan bokongnya lagi, tapi Jongin membalikan posisi, membantingnya ke kasur.
"Kau sudah lelah Kyungsoo, hentikan." Tegasnya dan mengeluarkan penisnya dari lubang Kyungsoo.
"Tidak, aku tidak lelah, ayo lakukan lagi." Kukuh Kyungsoo. Jongin menghela napas, kelopak mata Kyungsoo hanya terbuka sebagian, bibirnya terbuka untuk membantunya mengambil oksigen lebih banyak dan ia masih bilang ia tidak lelah?
"Tidurlah!" Titah Jongin. Ia mulai beranjak dari kasur dan memakai pakaiannya.
"..." Kyungsoo tidak menjawab, ia menenggelamkan dirinya di balik selimut. Bahkan lubangnya terasa sakit tapi Kyungsoo benar-benar tidak ingin berhenti. Kyungsoo mulai terisak begitu Jongin menutu pintu kamarnya, tanpa sepatah katapun.
.
Jongin keluar tanpa berbicara sepatah katapun karena ia bingung harus bilang apa. Aku mencintaimu? Tidak, ia bahkan melakukan ini agar putus dengan Kyungsoo dan hidup bahagia dengan Baekhyun. Ah mungkin setidaknya ia bilang "Aku menyukaimu" karena nyatanya Jongin menyukai kegiatan intim mereka.
Jongin mengacak rambutnya kasar. Ia harus segera pulang. Aroma Kyungsoo menempel di tubuhnya, ia harus membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Baekhyun dan bilang bahwa masalah mereka sudah berakhir, Jongin tersenyum kecil.
.
Chanyeol menunggu kelas Baekhyun berakhir di kantin gedung fakultas Baekhyun. Ia juga hanya tinggal menunggu wisudanya jadi ia senang karena bisa mengantar dan menemani Baekhyun.
Beruntung Baekhyun punya kelas hari ini jadi ia tidak perlu mencari alasan untuk membawa Baekhyun keluar dari apartemen.
Chanyeol sebenarnya tidak tahu apa yang Jongin dan Kyungsoo lakukan. Tapi ketika Jongin bilang mereka akan melakukan hal yang mungkin membuat Baekhyun sedih, tanpa pikir panjang Chanyeol harus segera membawa Baekhyun keluar. Dalam hidupnya ia hanya punya satu tujuan, yaitu kebahagiaan Baekhyun.
Pukul enam sore kelas Baekhyun berakhir. Chanyeol tersenyum kecil dan melambaikan tangannya ketika ia melihat Baekhyun berjalan ke arah kantin.
"Ada kelas lain?" Tanyanya.
"Tidak, ayo pulang." Jawab Baekhyun lirih.
"Ada apa? Seseorang mengganggumu?" Chanyeol terdengar sedikit marah di nada suaranya.
"Tidak, aku hanya lelah." Jelas Baekhyun.
"Baiklah, ayo pulang."
Mereka jalan beriringan ke parkiran. Baekhyun terlihat lemas dan tidak hidup. Chanyeol terlihat sangat khawatir jadi ia merangkul Baekhyun, kalau-kalau Baekhyun kehilangan keseimbangannya atau tersandung batu.
Baekhyun tidak memberikan respon apapun ketika Chanyeol merangkulnya. Ia tetap menatap lurus kedepan dengan pandangan yang kosong.
"Baekhyun, apa kau sakit?" Tanya Chanyeol khawatir.
"Hm, kepalaku sedikit pusing." Jawabnya singkat.
"Kau yakin tidak minum susu basi?" Tuduh Chanyeol.
"Aku tidak minum susu hari ini." Belanya.
"Kau mau kerumah sakit?" Tawar Chanyeol.
"Tidak." Jawabnya singkat. Aku bahkan ingin mati daripada menyembuhkan diriku, batinnya berteriak.
"Tapi badanmu hangat." Tegas Chanyeol ketika ia memeriksa suhu Baekhyun dengan menyentuh keningnya.
"Manusia hidup memang hangat, kecuali kalau aku mati." Baekhyun terlihat aneh, ada apa, pikir Chanyeol.
"Pakai sabuk pengamanmu." Titah Chanyeol ketika ia mulai melajukan mobilnya.
.
"Aku pulang." Ibu Kyungsoo pulang dengan gelap menyambutnya.
"Ck, kemana semua orang, kenapa lampu tidak dinyalakan." Monolognya. Ia menerengkan seluruh penjuru rumah lalu memeriksa kamar anak-anaknya. Ia pikir mereka tidur dan lupa untuk bangun. Ck.
"Baekhyun? Kyungsoo? Chanyeol?" Panggil nya mengabsen.
"Tidak ada." Katanya setelah memeriksan kamar Chanyeol dan Baekhyun.
Knock knock.
Ibu Kyungsoo mengetuk kamar Kyungsoo yang berada di sebelah kamar Chanyeol dan Baekhyun. Tidak mendengar jawaban, Ibu Baekhyun masuk dan wow.
"Wow." Kamar Kyungsoo gelap, aroma seks menyapa indra penciumannya dengan kuat.
Ia menyalakan lampu dan melihat anaknya meringkuk dan menenggelamkan diri di balik selimut tebalnya.
"Kyungsoo! Hey!" Sang ibu mengguncangkan tubuh anaknya tidak sabaran.
"Kau sudah pulang." Sapa Kyungsoo serak.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya. Setahunya hanya Jongin yang memasuki kamar Kyungsoo, jadi, apakah mereka bercinta? Muka sang ibu memerah memikirkan itu.
"Bisakah Ibu keluar dulu? Aku akan membereskan kekacauan ini." Ucap Kyungsoo lemas. Kepala nya terasa berat, pun lubangnya terasa perih.
"Ok-ok." Balasnya dengan muka yang merona dan senyuman geli membingkai wajahnya.
.
Ibu Kyungsoo memasak sambil bersiul. Anaknya sudah dewasa, ia tersenyum sampai pipinya kram.
Ironis. Ia bahkan tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
Ting.
Terdengar suara pintu yang terkunci jadi ia menebak bahwa Chanyeol atau Baekhyun atau Chanyeol dan Baekhyun sudah pulang.
"Kau langsung kekamar?" Tanya Chanyeol tapi Baekhyun berlalu begitu saja.
Chanyeol pergi kedapur untuk mengambil air dan menemukan Ibu Kyungsoo selesai dengan masakannya.
"Bi." Sapa Chanyeol.
"Oh, kau sendiri?" Tanyanya.
"Aku bersama Baekhyun." Jawabnya.
"Kalau begitu panggil Kyungsoo dan Baekhyun untuk makan malam." Titahnya. Masih dengan senyuman kecil di wajahnya.
"Baik, bi."
.
"Baek, Bibi sudah menyiapkan makan malam. Makanlah dulu sebelum tidur." Ucap Chanyeol pada punggung Baekhyun. Chanyeol masuk ke kamar dan ia hanya mendapati punggung Baekhyun dengan selimut sebatas pinggul nya.
"Bisa kau katakan pada Ibu aku minta maaf? Aku tidak makan." Kata Baekhyun tanpa bergeming dari posisinya.
"Kau harus makan, Baekhyun." Kata Chanyeol khawatir. Ia tidak tahu kenapa Baekhyun seperti ini. Ok, mungkin masalah mereka membuat Baekhyun tidak bersemangat, tapi ia tidak seperti ini sebelumnya.
"Aku mengantuk, aku akan makan setelah tidur beberapa menit." Balasnya.
"Baiklah." Chanyeol keluar dan beralih ke kamar di sebelah kamarnya.
Knock knock.
"Kyungsoo ayo makan." Ajaknya.
"Ya." Kyungsoo sedang mengganti bed covernya, tersenyum kecil ke arah Chanyeol.
Chanyeol melebarkan sedikit matanya, apa Jongin benar-benar membuat semuanya selesai? Chanyeol bertanya-tanya.
"Aku akan siap dalam dua menit." Nada suara Kyungsoo lebih hidup di banding beberapa jam lalu. Chanyeol tersenyum kecil.
"Baiklah." Ucap Chanyeol lalu keluar dari kamar Kyungsoo.
Chanyeol tersenyum miris. Semuanya sudah selesai, Kyungsoo memaafkan mereka dan Baekhyun tidak perlu berpura-pura lagi. Ia juga tidak perlu berdiri di depan Baekhyun untuk melindunginya ataupun berdiri debelakangnya untuk menangkapnya, lagi.
Chanyeol senang jika Baekhyun bisa bahagia dan tidak perlu bersembunyi lagi. Tapi ia juga merasa sedikit hilang, matanya berkaca-kaca.
.
Kyungsoo menghela napas setelah membereskan kamarnya dan membersihkan dirinya. Sekarang, ia yang harus berpura-pura untuk menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Ia harus berpura-pura baik-baik saja jika bertemu pandang dengan Baekhyun. Kyungsoo hanya berharap kedepannya ia akan lupa bahwa ia berpura-pura. Kyungsoo akan mencoba untuk ikhlas. Karena Jongin menginginkan Baekhyun, hanya Baekhyun. Jadi Kyungsoo bisa apa selain menerimanya? Lagipula ia sudah berjanji, pikirnya.
.
Kyungsoo berjalan ke ruang makan dengan pelan. Lubang nya masih terasa perih tapi ia mengabaikannya toh luka dihatinya jauh lebih perih.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan mulai bersikap seperti dulu kepada Baekhyun." Batinnya.
"Oh sayang, cepat kemari, makananya hampir dingin." Sang Ibu menyiapkan semangkuk nasi yang baru untuk anaknya.
"Dimana Baekhyun?" Pertanyaan Kyungsoo membuat Chanyeol tersedak.
"Uhukk.." Chanyeol tersedak sampai ia memuntahkan nasinya kembali.
"Eww. Chanyeol kau baik?" Tanya Ibu Kyungsoo. Kyungsoo memberinya segelas air dan tissue.
"Terima kasih. Uhk.." Kyungsoo mengusap-usap pelan punggung Chanyeol.
"Jadi, dimana Baekhyun?" Tanyanya lagi.
"Hm-hm!" Ibunya bergumam sambil mengunyah makanannya.
"Baekhyun bilang ingin tidur sebentar." Jawab Chanyeol.
"Tidak makan?" Kyungsoo mulai bersikap seperti biasa, pikir Chanyeol.
"Hm, setelah bangun, mungkin ia akan makan." Ujar Chanyeol.
"Hm." Kyungsoo bergumam sambil mulai memakan makanannya.
"Hm, besok Ibu pulang ke Kanada, apa kau benar-benar tidak ingin ikut?" Tanya Ibu Kyungsoo memastikan.
"Tidak, aku lebih suka tinggal di tempat dimana aku dilahirkan." Jelasnya.
"Maaf, aku tidak bisa tinggal disini." Ucapnya sedih.
"Oh ayolah, Bu. Jangan membuat napsu makanku hilang, lagipula ada Chanyeol dan Baekhyun yang menjagaku." Kyungsoo membuat Chanyeol hampir tersedak lagi.
Chanyeol merasa senang karena Kyungsoo mau memaafkan mereka, tapi ia tetap merasa bersalah, mungkin setelah Ibunya pulang ia akan meminta maaf(lagi) langsung pada Kyungsoo.
"Dan Jongin." Ujar Ibu Kyungsoo dan sekarang Kyungsoo yang hampir tersedak.
"Hm." Gumamnya.
.
Ini sudah satu jam sejak Chanyeol menyuruh Baekhyun makan. Tapi Baekhyun belum keluar kamar juga. Chanyeol memeriksanya lagi, Baekhyun masih tertidur, di posisi yang sama, tanpa mengeluarkan suara mirip anak anjing yang terjepit, seperti biasanya. Chanyeol pikir Baekhyun terlalu lelah jadi ia tidak membangunkannya, mungkin Baekhyun akan bangun karena lapar nanti.
Chanyeol keluar lagi dari kamar dan pergi ke supermarket untuk membeli ramyun kalau-kalau Baekhyun bangun larut malam dan kelaparan.
Chanyeol bertemu teman semasa SMAnya, Jongdae. Jongdae mengajaknya untuk minum dan mengobrol karena mereka sudah lama tidak bertemu, melepas rindu katanya.
Mereka berbincang-bincang dan tertawa sangat keras, tidak peduli ketika pemilik kedai menatap tajam sesekali ke arah mereka. Chanyeol tidak tahu berapa lama ia tidak tertawa selepas ini, ia bahkan tertawa sampai menitikan air mata.
Chanyeol pulang jam setengah sepuluh malam dalam keadan sedikit mabuk, Jongdae yang baik mengantarkannya kedalam taksi. Kepalanya sedikit sakit tapi ia merasa lumayan lepas. Minum sambil tertawa lepas bersama teman adalah obat mujarab penghilangkan stres, batinnya.
Ia pulang dan keadaan rumah sudah sepi, mungkin Kyungsoo dan Ibunya sudah tidur. Chanyeol bertanya-tanya apa Baekhyun sudah bangun, ia melangkahkan kakinya sempoyongan karena merasa kepalanya mulai terasa sakit. Chanyeol masuk ke kamar mereka dan melihat Baekhyun masih tidur, dengan posisi yang tidak berubah. Chanyeol berpikir apakah ia harus membangunkannya atau tidak, ia mulai naik keranjang dan mencoba membangunkan Baekhyun, tapi Baekhyun tidak bangun juga dan ia merasa kepalanya semakin terasa sakit, jadi ia berbaring sambil terus menyebut nama Baekhyun, mencoba membangunkannya.
"Baekhyun.. Baekhyun.. Baek.." Chanyeol berhenti menyebut nama Baekhyun pertanda ia sudah pergi ke alam mimpinya.
.
Baekhyun membuka matanya, ia tidak benar-benar tidur. Baekhyun hanya menunggu semua orang tidur agar ia bisa sendiri. Baekhyun mulai beranjak dari ranjang dan Chanyeol telinga sangat sensitive jadi ia membuka matanya.
"Baekhyun, kau mau makan? Akan kutemani." Tawarnya.
"Tidak perlu, tidurlah." Balasnya lalu menyelimuti Chanyeol.
"Hmm.." Chanyeol bergumam, kepalanya sakit jadi ia tidak memaksakan diri menemani hanya untuk menemani Baekhyun makan.
Baekhyun keluar kamar dan pergi ke kamar mandi di dekat dapur. Perutnya berbunyi, cacing-cacingnya berteriak minta makan, tapi Baekhyun tidak peduli. Pikirannya tidak pernah pergi dari kejadian tadi siang, sebelum ia berangkat ke kampus.
Flashback.
"Ah Chanyeol, tugasku tertinggal, kau pergilah keparkiran lebih dulu." Baekhyun menghentikan langkahnya dan menyuruh Chanyeol untuk pergi lebih dulu karena barangnya tertinggal.
"Biar aku yang ambil." Pinta Chanyeol, tapi Baekhyun berlari kembali ke apartemennya.
Chanyeol mengangkat bahunya, mungkin sebentar tidak apa-apa. Lagipula Baekhyun hanya mengambil barangnya dan ia tidak akan mungkin mendengar apa yang Jongin dan Kyungsoo bicarakan (yang mungkin dapat membuatnya sedih, kata Jongin).
Baekhyun masuk ke apartemennya tergesa-gesa, 30 menit lagi kelasnya di mulai dan perjalanan menuju kampus adalah 15 menit dari apartemen jika jalanan tidak macet.
Baekhyun mengambil tugas makalahnya di rak buku di kamarnya, ia memasukannya ke ranselnya dan keluar dengan tergesa. Baekhyun memakai sepatunya kembali tapi ia menepuk jidatnya keras, menyebabkan itu memerah. Ia lupa menutup jendela, Baekhyun benci jika ada serangga masuk ke kamarnya saat sore hari.
Baekhyun kembali ke kamarnya untuk menutup jendela, tapi gerakannya terhenti ketika ia mendengar suara Kyungsoo lewat jendela kamarnya yang terbuka.
"Angh.. Ngh.. Jonginh.."
Jantung Baekhyun memukul dadanya, sakit. Perutnya terasa di cabik dari dalam, dan ia mual ketika mendengar suara orang nomor satu di hatinya.
"Asshh.. Shh.." Baekhyun dapat dengan jelas mendengar desahan Jongin yang sangat familiar di telinganya.
Jantungnya seakan memaksa untuk keluar dari tempatnya. Kakinya terasa lembek bagaikan jelly. Napasnya mulai tersendat, Baekhyun cepat-cepat menutup jendelanya dan mengambil napas dalam-dalam ketika ponselnya berdering, Chanyeol menghubunginya.
"Baekhyun, kenapa lama sekali?" Tanyanya di sebrang.
"..Aku baru menemukannya.. Aku akan turun sekarang.." Kilahnya susah. Baekhyun mengontrol napasnya mati-matian.
Matanya memanas, dan itu mulai berair. Baekhyun mengambil segelas air untuk menenangkannya tapi tidak berhasil. Dadanya sakit sekali ketika mendengar Jongin mendesah untuk orang lain.
Deg deg deg deg deg.
Jantungnya berdetak tidak stabil.
"Sakit sekali." Batinnya berteriak.
Otaknya mulai mengirimkan kata-kata yang membuat ia tertekan.
Ini sakit sekali. Sekarang Baekhyun tahu apa arti dari sakit hati. Bagaimana dengan Kyungsoo dan Chanyeol, mereka juga merasakan ini, lebih dari ini. Baekhyun semakin sesak. Perasaan bersalah bagai luka disiram cuka. Baekhyun merasa brengsek. Ia menyakiti Kyungsoo dan Chanyeol sangat tidak berperasaan.
Drrt.. Drrt..
Ponselnya bergetar lagi, ia cepat-cepat keluar dari rumah dan berlari secepat yang ia bisa, tidak lupa menghapus air mata dan memakai kacamata untuk menyembunyikannya.
Flashback end.
Baekhyun mengambil pisau yang tergeletak di counter dapur sebelum masuk ke kamar mandi. Wanginya seperti strawberry, mungkin Ibunya mengiris beberapa strawberry untuk hidangan penutup.
Baekhyun mengisi bath tub dengan air dingin sampai penuh lalu ia masuk dan berbaring.
"Aku tidak bisa termaafkan." Ucapnya sebelum mengiris urat nadinya dan menenggelamkan tanganya kedalam bath tub.
Mungkin darahnya akan mengalir sampai habis, membuat air yang jernih menjadi merah pekat dan berbau seperti karat besi. Baekhyun bermandikan darahnya sendiri. Darah penyesalannya yang begitu dalam.
.
.
Baekhyun dibawa kerumah sakit setelah Ibunya berteriak sangat kencang, membangunkan Kyungsoo dan Chanyeol secara tidak enak. Mereka menghampirinya dan Kyungsoo jatuh terduduk sedangkan Ibunya menangis histeris.
Chanyeol melebarkan matanya sampai bola matanya hampir meloncat. Dia memukul kepalanya, ini mimpi buruk, tuduhnya. Chanyeol berhenti memukul kepalanya ketika ia merasa pusing. Kakinya mulai melangkah mendekati Baekhyun. Menyentuhnya, nyata. Tangannya bergetar hebat, menyentuh kulit dingin sedingin es yang biasanya hangat ini. Chanyeol mulai bangun dari mimpinya. Ia mengangkat Baekhyun dari bath tub dan pergi keluar dengan piama, diikuti Ibu Kyungsoo yang berlari tak kalah kencang sedangkan Kyungsoo masih shock tidak bergeming sedikitpun.
Chanyeol mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, tidak lupa memakaikan sabuk pengaman pada Baekhyun. Ibu Baekhyun masih menangis histeris seakan airmatanya adalah air laut yang tidak akan pernah habis.
Chanyeol menggendong Baekhyun ke dalam gedung rumah sakit dan meneriaki semua orang untuk menyelamatkannya, tapi dokter bilang Baekhyun telah tiada.
Chanyeol merasa tubuhnya meledak dan hancur berkeping-keping. Ibu Kyungsoo menangis makin histeris dan semua orang di rumah sakit memandang mereka prihatin.
Baekhyun bersiap dikebumikan setelah dimandikan. Ibu Kyungsoo pulang ke apartemen dengan taxi untuk mengambil tas dan dompetnya. Ia mencari Kyungsoo di kamarnya tapi tidak ada.
Deg.
Apa Kyungsoo masih di kamar mandi?
Deg deg deg.
Jantungnya mulai berdetak tidak biasa. Ia tidak ingin kehilangan anaknya lagi. Sang Ibu berlari dengan sisa tenaganya dan mendesah lega ketika melihat Kyungsoo baik-baik saja, kecuali tentang ia yang tertidur di kamar mandi.
"Kyungsoo.. Baekhyun akan segera di kebumikan." Sang Ibu mengguncang tubuh anaknya pelan.
Kyungsoo terbangun dan memeluk Ibunya erat. Ia menangis sekuat tenaga. Kyungsoo pikir ini mimpi, ia berharap ketika ia terbangun lagi semuanya bohong. Tapi takdir tidak pernah berbohong.
Sang Ibu mengusap punggung anaknya walau ia ikut menangis.
"Sudah, ayo bersihkan dirimu. Kita harus ikut berdoa sebelum Baekhyun di kebumikan."
Kyungsoo bangun tanpa nyawa. Ia merasa kakinya melayang. Kyungsoo terisak sampai terbatuk dan Ibunya memandang sedih.
.
Baekhyun sudah di doakan dan di kebumikan. Para kerabat yang datang dan memberikan penghormatan terakhir sudah pulang satu persatu. Disana tersisa Chanyeol, Jongin, Kyungsoo dan Ibunya.
Kyungsoo menangis sambil memeluk makam Baekhyun, Jongin tertunduk dengan air mata yang terus mengalir, Ibu Kyungsoo sudah berhenti menangis tapi isakan tidak terelakan sedangkan Chanyeol memandang nisan Baekhyun kosong.
"Kyungsoo, Ibu harus segera berangkat. Apakah tidak apa?" Ucap nya di telinga Kyungsoo.
Kyungsoo tak acuh, ia masih menangis sambil memeluk makam Baekhyun. Ibunya mengusap-usap kepalanya lembut.
"Chanyeol, aku titip Kyungsoo, aku benar-benar harus berangkat, aku akan kembali lagi dalam dua minggu. Tolong jaga Kyungsoo." Pintanya pada Chanyeol.
Chanyeol menatap Bibinya. "Mari kuantar, Bi." Tawarnya.
"Bagaimana dengan Kyungsoo?" Khawatirnya.
"Jongin, bisa kau jaga Kyungsoo dan antarkan ia pulang jika Chanyeol terjebak macet dijalan?" Pintanya.
Jongin mendongkak, dengan mata yang bengkak. "Tentu, Bu." Jawabnya.
Chanyeol pergi mengantar Ibu Kyungsoo ke airport.
Kyungsoo berhenti memeluk makan Baekhyun dan mulai memukul-mukul tanah padat itu.
"Kenapa?! Kenapa kau yang bunuh diri?! Kenapa kau memilih pergi ketika aku mencoba memaafkanmu! Kenapa!? Bukankah aku yang disakiti disini? Seharusnya aku yang bunuh diri! Kenapa malah kau yang mati dan membuatku sedih! Membuatku menyesal! Kau benar-benar sialan.." Kyungsoo berteriak seperti orang gila. Ia terengah-engah, kerongkongannya sakit karena berteriak terlalu kencang.
Kyungsoo melotot ketika merasa seseorang memeluknya dari belakang.
"Kumohon.. Jangan pernah berpikiran untuk mati.. Jangan tinggalkan aku.. Huks.. Jangan.." Jongin memohon lirih di telinganya.
Kyungsoo berbalik, menatap Jongin sebentar lalu memeluknya erat. "Tidak Jongin, aku tidak akan menginggalkanmu." Yakinnya.
.
Chanyeol sudah mengantarkan Ibu Kyungsoo dan ia berniat kembali ke tempat pemakaman. Melihat apakah Jongin sudah membawa Kyungsoo pulang, juga mengatakan "Aku mencintaimu" pada Baekhyun sebelum pulang.
Chanyeol tersenyum mengingat kali pertama ia berjanji akan mencintai Baekhyun, selamanya.
"Baekhyun! Apa yang kau lakukan?" Chanyeol berlari untuk menggapai Baekhyun yang berada di taman belakang rumahnya.
"Chanyeol! Sini!" Baekhyun menepuk tempat yang tersisa di ayunanya, tanda agar Chanyeol duduk di sebelahnya.
"Sedang apa?" Tanya Chanyeol penasaran.
"Chanyeol, apa kau mencintaiku?" Tanya Baekhyun balik tak kalah penasaran.
"Apa yang kau bicarakan?" Bingung Chanyeol.
"Aku nonton teve dan orang itu bilang dia melakukan apapun karena dia mencintai temannya." Jelas Baekhyun.
"Eng?" Chanyeol terlihat bingung, ia memiringkan kepalanya kesatu sisi.
"Chanyeol 'kan selalu melakukan apapun untukku jadi artinya kau mencintaiku, 'kan?"
"Eng? Tapi ibuku bilang anak kecil tidak boleh cinta-cintaan."
"Benarkah? U-uh."
"Eh? Kenapa kau cemberut."
"Aku ingin kau selalu mencintaiku agar kau selalu melakukan apapun untukku, tapi ibumu melarangnya."
"Nanti kalau kita sudah dewasa, aku akan mencintai Baekhyun!"
"Tapi itu masih lama! Bagaimana jika Chanyeol lupa!"
"Tidak-tidak! Aku tidak akan lupa! Janji, deh."
"Janji?"
"Hum!"
"Selamanya?"
"Selamanya!"
.
Selamanya. Selamanya. Chanyeol berjanji dan ia menepatinya. Ia mencintai Baekhyun dan melakukan apapun untuknya. Selama Baekhyun hidup di dunia yang penuh kepahitan ini, pun selama ia hidup.
Chanyeol tersenyum.
TIN! TIN!
Chanyeol tersenyum sampai pipinya kram.
TIIIIIIN!
Chanyeol tersenyum, tapi mobilnya tiba-tiba berhenti dan kepalanya tiba-tiba sakit. Chanyeol jadi mengantuk, mungkin efek lelah, pikirnya. Chanyeol menutup matanya sambil tersenyum.
.
Chanyeol tidak ingat apa yang terjadi kemarin, ia terbangun di ranjangnya yang empuk dengan kicau burung menjadi alarmnya pagi ini. Pagi ini terasa lebih hangat dari pagi-pagi sebelumnya. Matahari bersinar dengan cerah. Chanyeol meregangkan otot-ototnya yang kaku lalu beranjak dari kasur.
Chanyeol tersenyum ketika melihat Baekhyun dan Kyungsoo sedang bersenda gurau sambil memakan sandwich di ruang makan. Mereka menoleh ketika menyadari Chanyeol berjalan kearah mereka, lalu tersenyum dengan sangat manis ke arahnya.
Chanyeol balas tersenyum dengan lebih lebar, ia pikir apakah ini mimpi, karena jika ya, Chanyeol akan memohon agar tidak di bangunkan.
THE END.
Yahat. Akhirnya selesai juga. Dan akhirnya Chanyeol tidak pernah bahagia. Chanbaek pun tidak bersatu. Hiks. Maafkaaaaan aku..
I really like sad ending so yeah hehe.
Kosakata ku masih kurang, jadi aku belum bagus untuk menyampaikan cerita ini. Tapi semoga kalian ngerti intinya hehe.
Untuk yang mau protes, tanya-tanya, atau sekedar mengobrol sama aku, yuk ask me di askfm ku deezxynz. Hehe.
Thanks to all my beloved reviewers. Love you so much! and sorry for typo(s).
Sign.
XOXO, Sarang-Baek.
