assassination classroom © yuusei matsui. no profit gained
rating / warnings. T / ooc, agak lebay, hurt gagal, rio centric, alur loncat-loncat dan ngga urut, apa itu eyd
summary. "Bagi Rio, dia adalah guru nomor satu di dunia."
.
.
.
[ day 7;
something she would say as a gratitude ]
.
.
.
Nakamura Rio ingat jelas bagaimana ia bisa berakhir di kelas E. Ia ingat jelas perbuatan apa yang membuatnya jatuh ke kelas itu, dan bagaimana perkataan pedas gurunya saat memberi tahunya kalau tahun ketiga Rio di SMP akan dihabiskan di kelas buangan itu. Ia ingat jelas. Bukannya Rio kecewa pada keputusan ini lantas terpuruk, tidak. Bukannya ia sudah merencanakan hal ini pula. Yang jelas, ketika surat resmi penurunannya ke kelas E, Rio menyambutnya dengan tangan lebar.
Ibunya berkata kalau ia masuk kelas E, hidupnya sudah tidak terjamin lagi. Masa depannya akan terenggut, ia tidak akan jadi orang sukses, begitu katanya. Rio hanya terdiam sambil menunduk seolah menyesali perbuatan-perbuatan yang membuatnya jatuh ke kelas E, padahal di dalam pikirannya terngiang-ngiang kalimat kalau aku di kelas E, aku bisa terus bersenang-senang.
Dan begitu yang benar terjadi. Ia bersikap bodoh, agar terlihat normal seperti yang lain. Karena anak kelas satu SD pada normalnya tidak akan bisa mengerjakan soal kelas enam dengan nilai sempurna 'kan? Karena anak kelas tiga SD yang mengikuti lomba cerdas cermat pada normalnya akan kalah dengan lawan yang lebih tua dua tahun darinya atau lebih 'kan? Karena anak kelas enam SD tidak ada yang lulus berjarak total skor sejauh lima puluh poin lebih dengan peringkat keduanya 'kan?
Jadi Rio menjadi bodoh. Bersikap bodoh, bersikap normal. Punya teman, dan tidak dijauhi karena kecerdasannya di atas rata-rata.
Rio bersikap bodoh. Tapi ia bahagia. Dan ia memilih jalan yang ini. Bukan jalan yang dipilih orang tuanya lagi. Ini jalannya.
.
.
.
Pertama kali Rio melihatnya, guru kuning aneh bertentakel itu, dan mendapat misi untuk membunuhnya sampai kelulusan, hatinya bersorak. Mengemban misi seberat itu pastinya membutuhkan kerja sama satu kelas. Bekerja sama berarti bersenang-senang bersama. Dan Rio bersumpah ia tidak akan membiarkan ikatan di kelas mereka putus barang satu kali saja.
Sumpahnya terbukti. Ia membela-belakan menentang ide Nagisa untuk menyelamatkan Pak Koro, bukannya membunuhnya.
Otaknya berputar, memikirkan segala cara dengan masing-masing dampak untuk ke depannya. Di kelas mereka ada Karma, si ambisius. Rio tahu perkembangan karakter pemuda itu di kelas E ini begitu pesat dengan adanya misi pembunuhan. Ada Terasaka, yang darahnya bisa mendidih kapan saja dan tentu dalam sekali lihat Rio bisa tahu pemuda ini tidak akan setuju akan ide Nagisa. Juga ada Chiba dan Rinka, kemampuan menembak mereka bisa sejauh itu berkat misi pembunuhan ini pula. Keberhasilan membunuh Pak Koro tentu merupakan penghargaan terbaik bagi mereka.
Perbedaan pendapat ini tentu akan menjadi konflik bagi kelas E yang biasanya kompak kalau anak-anak yang tidak menyetujui ide Nagisa tidak segera angkat bicara.
Rio bersidekap, wajahnya dibuat ketus. "Maaf mengganggu kesenangan kalian, tapi," ia maju ke hadapan Nagisa. "Aku tidak setuju."
Ada gurat keterkejutan di raut wajah anak-anak yang sejalan pikirannya dengan Nagisa.
Tapi seisi kelas 3E tidak ada yang tahu, inilah cara Rio untuk mempertahankan ikatan kelas. Inilah caranya, untuk menghindari perpecahan di antara mereka.
.
.
.
"Nakamura-san, tidak kusangka kau ternyata seserius ini..." ujar Pak Koro dengan berderai air mata.
Rio tertawa, satu kaki ia angkat ke atas kursi. "Haha, Pak Koro nggak sopan, ah! Begini-begini dulu aku jenius dan selalu peringkat satu, lho."
Pak Koro terdiam, tampak mempersilakan Rio untuk melanjutkan ceritanya.
"Tapi aku lebih suka menjadi biasa saja. Aku ingin menjadi orang biasa saja. Aku juga ingin bertingkah bodoh dan konyol bersama teman-temanku. Di Kunugigaoka ini aku bisa bertingkah bodoh, dan akhirnya menjadi benar-benar bodoh. Kemudian aku sadar betapa pentingnya yang sudah kubuang jauh-jauh itu saat orang tuaku terus-terusan menangis. Tapi aku tetap ingin melakukan kekonyolan bersama teman-teman juga." Seulas senyum terukir di bibirnya, senyuman tulus dan lembut murni sebagai tanda terima kasih. "Di kelas ini aku bisa melakukan keduanya."
Rio menurunkan kakinya dan agak menunduk pada guru yang sangat ia hormati dan sayangi di depannya.
"Terima kasih, ya, Pak Koro."
.
.
.
Tiga belas Juli, tercatat sebagai hari dimana mereka lulus dari SMP Kunugigaoka. Tapi sebelum itu, dua puluh delapan siswa kelas 3-E, sudah lulus dari kelas pembunuhan mereka.
Ada rasa bersalah di lubuk hatinya karena ialah yang mengingatkan kelemahan Pak Koro kalau tentakelnya dipegangi semua ia tidak bisa bergerak. Ada rasa menyesal saat ia mengeratkan pegangannya pada Pak Koro. Dan ada rasa sakit yang seolah merobek jantung Rio pula saat melihat Nagisa menghunuskan pisaunya ke dada Pak Koro.
Dan saat tubuhnya terpecah menjadi ribuan kerlap-kerlip cahaya kuning yang membubung tinggi menuju langit, puluhan tangis pecah dan menorehkan pilu bagi semua yang mendengar. Ini tangis kesedihan, ini tangis kehilangan.
Tangan Rio tidak mau berhenti bergetar sampai-sampai ia harus memegangi pergelangannya sendiri bersamaan dengan tangisannya. Ia terisak-isak saat ratusan kenangan yang dialaminya bersama satu kelas dan juga Pak Koro menyeruak memenuhi pikirannya seperti potongan-potongan film yang tidak pernah berakhir.
Hari itu diakhiri dengan tangis yang kian mereda, dan mereka semua yang tertidur di atas buku peninggalan Pak Koro.
.
.
.
a/n. gils gimana ga baper gils nulisnya aja kudu bolak balik rewatch eps 24:( tp hasilnya ngga maksimal gini hiqz w gabisa bikin hurt kampred mohon maklumi
satu fik isinya murni headcanon semua duh yg rio tanya ke korosen tentang kelemahan tentakel dipegangin semua dan rio nangis sambil megangin tangan itu gabisa kalo ga disambung2in /bercucuran air mata berlian/
day 7, clear; she's dripping like a saturated sunrise komplit sudah! yuhuu ngga nyangka kuat bikin full satu minggu wkwkwk demi waifu apasih yang engga #EA
special thanks buat yang udah ngereview, fav, dan follow apalah aq tanpa qlean hanya setitik noda di galaksi bima sakti /sungkemin
untuk nakamura rio, ajudanku tersayang tsah, semoga makin banyak yang menyadari keunikan karaktermu (matsuisen juga amin) dan makin banyak archive fanfikmu yaahh huhu she's the best girl, indeed /kecupinrio tahun depan adain lagi yaaa mb sashaaa luvluv /woy
ps. asik tau nulis korosen jd pak koro wwww
.
.
.
.
omake.
Hari itu, siluet gadis berambut panjang mendatangi bangunan bobrok kelas E yang membawa banyak kenangan saat memasuki area gunungnya. Ia tidak pernah lupa dimana mereka biasa melakukan aksi pembunuhan di hutan ini pada guru mereka.
Sosok itu menangkupkan kedua tangannya dan memejamkan mata, mengirim doa untuk yang di atas sana saat ia berada di depan sebuah dasi hitam dengan lubang di tengahnya yang tergantung di dalam bangunan ruang kelas itu.
Ia mendongak dan melarikan jemarinya ke fabrik halus meski sudah terhitung tujuh tahun dari waktu dibuatnya. Senyuman di bibirnya melebar dan menjadi sebuah cengiran.
[ "Terima kasih, Pak Koro. Kau benar-benar guru terkeren yang pernah ada." ]
.
.
.
[7/7] end.
