Title : TURANDOT
Main Cast : Wu Yifan, Huang Zitao
Suporting Cast : Raja Wu Zhang, Permaisuri Mei Qi, Putri Xuan Yi, Pangeran Wu Shi Xun, Perdana Menteri Bian Cheng Long, Bian Bou Xian, Panglima besar Piao Xiang Ren, Piao Chan Lie, Penasehat Han Chong
Genre: Romance, dark Romance, Lil bit angst
Warning : GS for Uke, Typo, bahasa tidak baku
Disclaimer : ide cerita saya pinjam dari Opera tiga babak gubahan Maestro Giacomo Puccini dengan judul yang sama 'Turandot'.
.
.
.
.
.
Part 7
"Aku akan melakukan apa yang menjadi ketakutanmu," jawab Yifan sekenanya sebelum ia meraih pinggang ramping Zitao dan meraup bibirnya.
Nafas Zitao seolah terhenti, akal sehatnya seolah berhenti berfungsi. Tubuhnya serasa melemas seketika sama sekali tak bertenaga. Yifan memagut bibirnya seolah menuntut dan Zitao sama sekali tidak melakukan perlawanan berarti. Setelah beberapa saat Yifan melepas ciumannya, membawa bibirnya ke arah telinga Zitao,"Kita lihat saja , siapa yang akan bertekuk lutut pada siapa nantinya,"
"B-beraninya kau.." geram Zitao marah dan Yifan hanya tersenyum miring.
"Anggap saja ini hukuman, karena kau berani menunjukkan wajahmu pada orang lain," Yifan menatap tajam Zitao seolah tersulut amarah.
Zitao mengernyit, darimana dia tahu jika bangsawan asing itu melihat wajahnya, dan kenapa Yifan terlihat tidak suka.
"Sekali lagi aku akan mengingatkanmu bagaimana posisimu di Kerajaan ini," hanya itu yang Yifan katakan sebelum ia membawa tubuhnya keluar dari kolam dan meninggalkan Zitao yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Yifan membuka pintu memasuki istana Putri dengan kasar disana sudah ada Dayang Lee, Xiou Yu dan beberapa Dayang muda menunggu di balik pintu, menunduk seketika saat melihat sosok Yifan keluar dari area kolam pemandian.
"Malam ini aku akan menginap disini, siapkan sang Putri," perintah Yifan mutlak, ada amarah di nada suaranya lalu melenggang pergi meninggalkan sekumpulan Dayang tersebut.
"Baik yang Mulia Pangeran, akan saya laksanakan," jawab Dayang Lee, entah suaranya di dengarkan atau tidak oleh Yifan.
Xiou Yu memandang cemas ke arah Dayang Lee, ia begitu mengkhawatirkan Zitao, sang majikan. Apalagi Yifan terlihat diselimuti amarah.
"Kau tidak perlu khawatir Dayang Xiou" ujar Dayang Lee seolah mengerti ," Pada dasarnya Pangeran Yifan adalah orang yang lembut dan berperangai halus, Pangeran tidak mungkin akan menyakiti Putri Zitao,"
"Tapi, saya hanya-"
"Percayalah padaku, Putri Zitao pasti akan baik-baik saja," potong Dayang Lee lembut,"Lebih baik kita segera membantu Putri Zitao untuk bersiap, semoga saja para Dewa memberkati dan mungkin saja kita akan mendapatkan pewaris yang akan memimpin negara ini di masa depan,"
Xiou Yu terdiam, mungkin benar apa yang dikatakan Dayang Lee, toh selama ini Pangeran Yifan memang selalu berkelakuan baik, beliau hanya sedikit keras pada Putri Zitao saja yang bisa Xiou Yu maklumi melihat bagaimana Pangeran Yifan bisa berjodoh dengan majikannya.
###
Sedangkan di lain pihak, di kediaman pribadi milik Putri Xuan Yi, terlihat Pangeran Wu Shixun dan Perdana Menteri Bian Cheng Long, sepertinya mereka bertiga tengah membicarakan sesuatu.
"Itulah kenapa aku memanggilmu ke Ibu Kota Putraku, kita akan merebut kembali Tahta yang seharusnya menjadi milikmu," jelas Putri Xuan Yi sambil menyesap secawan arak.
Shixun terdiam sesaat, mencoba memikirkan apa yang baru saja Ibunya sampaikan.
"Tapi, Ibunda aku tidak pernah menginginkan Tahta itu," bantahnya.
Putri Xuan Yi terlihat tidak suka mendengar jawaban dari anak semata wayangnya itu, ia meraih tangan kanan Shixun dan menggenggamnya kuat.
"Mendiang Ayahmu menginginkannya," jelas Sang Ibu,"Apakah kau tidak sudi mengabulkan impian Ayahmu sendiri?"
Shixun mendesah lelah, Ibunya memang paling tahu jika sang Pangeran begitu lemah jika menyangkut soal sang Ayah.
"Pikirkanlah lagi Pangeran," Imbuh Perdana Menteri,"Tidak ada yang lebih pantas memimpin Tartar selain dirimu setelah sepeninggal Putra Mahkota,"
"Apa kau melupakan Pangeran Wu Yifan, Perdana Menteri?" balas Shixun.
"Dia hanyalah keturunan darah lumpur Putraku," sahut sang Ibu, "Kau jauh lebih pantas menjadi Raja daripada dirinya."
"Tapi tetap saja, Pangeran Yifan adalah putra sah dari Yang Mulia Raja," bantahnya,"Dan aku Ibunda, hanyalah anak dari seorang Pangeran, menurut kasta, Pangeran Yifan berkedudukan lebih tinggi dariku,"
Putri Xuan Yi tersenyum penuh arti mendengar penjelasan putranya,"Kau tidak perlu khawatir Putraku, karena dalam waktu dekat akau akan menjadikanmu seorang anak Raja, dan setelahnya tidak akan ada yang bisa mengganggu gugat kedudukanmu. Bukan begitu Perdana Menteri?"
"Benar Tuan Putri," jawab Perdana Menteri dengan senyum jahat di wajahnya.
Shixun tidak tahu apa yang direncakan Ibunya dan Perdana Menteri. Namun yang pasti ia punya firasat buruk akan hal itu.
###
Dibantu oleh beberapa Dayang muda, Dayang Lee dan Xiou Yu kini membantu Zitao untuk berbenah diri.
Setelah keluar dari kolam pemandian, dua Dayang senior itu segera membawa Zitao ke kamar pribadinya.
Zitao hanya diam saja saat para Dayang membantunya berpakaian. Mengeringkan rambutnya dan menyanggulnya hingga rapi hingga membubuhkan make up tipis diwajahnya yang sudah rupawan.
Zitao tidak bodoh, dia tahu apa maksud dari semua ini. Dia adalah seorang Putri, sejak ia kecil ia sudah dicekoki tentang tata Krama bagaimana menjadi seorang Istri yang baik. Seolah tujuan hidupnya hanyalah untuk menjadi seorang Istri.
Sesuai tradisi, seorang Putri umumnya akan menikah dengan Pangeran dari negara lain. Pernikahan politik, sebagai umpan perdamaian. Atau lebih parahnya sebagai tumbal perang jika negara sang Putri kalah dalam peperangan. Karena alasan itulah dulu Zitao berani mengambil sumpah untuk tidak menikah dengan Pangeran dari negara asing.
Zitao tersentak dari lamunan nya saat tiba-tiba Dayang Lee meraih tangannya dan mulai memotong kuku yang mulai memanjang di jari lentik Zitao.
"Apa kau takut aku akan mencakar wajahnya?" ujar Zitao membuka suara.
Mendengar itu Dayang Lee hanya tersenyum lembut,"Jangan tersinggung yang Mulia Putri, saya hanya menjalankan tugas,"jawab wanita paruh baya itu pelan sambil dengan telaten memotong kuku tangan Zitao.
Dada Zitao bergemuruh. Apakah benar ia akan melakukan ini? Membiarkan Yifan menyentuhnya? Seseorang yang bahkan tidak menginginkannya?
Lagi-lagi Zitao tersentak saat ia merasa Xiou Yu mengusap punggungnya.
"Yang Mulia Putri tidak perlu takut, lakukan saja seperti apa yang sudah Tuan Putri pelajari selama ini," ujarnya berusaha menenangkan Zitao yang terlihat gugup.
"Kau benar-benar mengira aku akan mengijinkan Pangeran Sombong itu menyentuhku?" tanya Zitao sarkastik, tak perduli jika Dayang Lee mendengar ia berani mencela Pangeran negeri ini.
"Tuan Putri, jangan lupa jika hubungan suami istri antara Pangeran dan Putri berbeda dengan orang biasa kebanyakan. Hubungan Tuan Putri dan Pangeran Yifan tidak sesederhana menyatukan dua tubuh menjadi satu, ada tujuan yang lebih penting daripada itu. Yaitu masa depan negara ini, Negara ini butuh pewaris," sebisa mungkin Xiou Yu memberi Pengertian pada Zitao.
Zitao kehilangan kata, ia tidak bisa membantah kata-kata Xiou Yu karena dia sendiri yang paling tahu perannya sebagai seorang Putri. Tidak sedikit para Putri di daratan China menikah tanpa cinta, dengan keterpaksaan harus menerima kodratnya yang tak lain tidak bukan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris kerajaan.
Dada Zitao sesak, perjuangannya selama ini seolah sia-sia saja. Karena pada akhirnya ia juga terjun di jurang yang sama dengan para Putri pendahulunya, menikah karena kepentingan politik, tanpa cinta, tanpa ada rasa percaya.
"Tuan Putri, minumlah ini," Dayang Lee menyodorkan satu cawan kecil yang berisikan sebuah cairan.
Zitao menatap cawan itu nanar, lalu ia menoleh ke arah Xiou Yu dengan mata berkaca-kaca, kepalanya menggeleng menolak. Zitao tahu benar cairan macam apa yang berada di cawan itu.
Xiou Yu mendesah mengerti lalu menarik tangan majikannya dan mengusapnya lembut.
"Tuan Putri, Anda juga pasti sudah tahu dengan meminum ramuan itu tidak akan membuat Anda menjadi rendah," ujar Xiou Yu mengingatkan.
"Aku tidak akan meminumnya!" tolak Zitao keras,"Ramuan itu hanya akan membuatku terlihat seperti seorang Jalang di depan Pangeran Sombong itu,"
"Tidak Tuan Putri, tolong dengarkan saya," bujuk Xiou Yu,"Semua ini demi kebaikan Tuan Putri, ini akan menjadi yang pertama bagi Tuan Putri, akan sulit jika Tuan Putri terlalu menolak dengan keras karena hal itu justru akan menyakiti tubuh Tuan Putri sendiri. Ramuan itu hanya akan membantu Tuan Putri agar lebih tenang nantinya,"
Zitao tidak percaya, bahkan kini Xiou Yu pun tidak mau membelanya. Yifan akan merendahkan harga dirinya malam ini dan Zitao tidak bisa berbuat apapun.
"Tuan Putri, hamba mohon minumlah," Pinta Dayang Lee sekali lagi namun Zitao tetap diam tak bergeming.
Melihat ego majikannya yang terlalu tinggi akhirnya Xiou Yu memilih mengambil cawan itu dari tangan Dayang Lee lalu membawanya mendekati mulut Zitao.
"Minumlah Tuan Putri, saya mohon," Pinta Xiou Yu sangat.
Zitao dia tidak punya pilihan lain. Pikirannya berkecamuk, dengan setuju meminum ramuan itu berarti ia dengan rela hati mengizinkan Yifan untuk menginjak-injak harga dirinya.
"Tuan Putri..." bisik Xiou Yu dengan sabar.
Zitao menggeleng pada akhirnya,"Aku tidak akan melakukannya,"tolaknya keras,"Lebih baik aku mati," Benar, Zitao lebih memilih mati daripada harus meminum ramuan itu dan membiarkan Yifan menguasai seluruh tubuhnya.
Xiou Yu terlihat begitu sedih. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib majikannya jika Pangeran Yifan tetap memaksakan dirinya pada sang putri sekeras apapun ia menolak. Hal itu tentu saja akan merusak tubuh sang Putri sendiri.
"Tidak mengapa jika itu mau Tuan Putri," Kini giliran Dayang Lee yang bersuara.
"Tapi Dayang Lee," protes Xiou Yu dan Dayang paruh baya itu hanya tersenyum maklum.
"Sudah saya katakan, jika Pangeran Yifan itu memiliki perangai yang lembut, saya yakin beliau tidak akan menyakiti Tuan Putri," lanjut Dayang Lee.
Perangai Lembut? Hah Zitao ingin sekali tertawa mendengarnya.
"Sebaiknya kita keluar Dayang Xiou, karena Pangeran sudah lama menunggu," pamitnya.
Mendengar itu, tiba-tiba saja Zitao terserang rasa panik. Zitao tidak ingin melakukan ini, benar-benar tidak ingin.
"Xiou Yu!" tahan Zitao saat Dayang kepercayaannya itu bangkit dari duduknya untuk segera pergi.
Xiou Yu mendesah sedih melihat raut wajah ketakutan Zitao.
"Semuanya akan baik-baik saja Tuan Putri, percayalah padaku," hiburnya dengan senyum.
Zitao tidak percaya ini, kedua bola matanya menatap nanar para Dayang yang satu persatu mulai meninggalkan kamarnya. Zitao pasti sudah gila, karena ia membiarkan semua ini terjadi. Dia adalah Putri Turan yang Agung, seharusnya tidak ada seorangpun yang berkuasa atas dirinya. Namun karena termakan sumpahnya sendiri kini ia harus berakhir disini, menunggu Pangeran Tartar untuk merendahkan dirinya, tanpa perlawanan.
Zitao memeluk lututnya di atas tempat tidur dengan gelisah. Degub jantungnya memburu. Zitao merasa terancam dan ia tidak menyukai hal ini. Bahu sembitnya terlonjak saat ia mendengar pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok Yifan disana.
Zitao semakin memeluk lututnya erat, beringsuk mundur ke belakang saat ia mendengar langkah kaki mendekat. Jujur Zitao ingin mengumpat, nafasnya tercekat seolah udara enggan masuk ke kerongkongannya. Bola matanya bergerak gelisah, dia ingin secepatnya lari dari tempat ini.
Yifan memandang Zitao yang duduk meringkuk di atas ranjang sambil memeluk lututnya. Mencoba mempertahankan diri? Begitu pikir Yifan. Pangeran tampan itu lalu melirik sebuan cawan yang masih utuh isinya terletak di samping tempat tidur. Yifan tidak merasa terkejut, karena dia sudah mengira Zitao pasti akan menolak meminumnya.
Tanpa memperdulikan tubuh Zitao yang mulai gemetaran, Yifan mendudukkan tubuhnya ditepian ranjang. Yifan juga tahu betul jika Zitao benci akan kehadiran laki-laki. Hal itu terbukti saat ia menoleh untuk melihat wajah Zitao, gadis itu semakin menunduk, bahkan menarik ujung kakinya yang menyembul keluar kembali ke balik jubah tidurnya.
Ada desiran halus yang muncul di dada Yifan, Zitao yang terlihat tak berdaya seperti ini semakin membuat Yifan ingin memilikinya. Pelan ia mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh wajah cantik itu namun Zitao menampiknya kasar. Membuat Yifan sadar bahwa seindah apapun bunga mawar, mereka tetap saja berduri.
"Kau tahu, sebuah dosa besar menolak suamimu sendiri," akhirnya Yifan membuka suara yang berhasil membuat Zitao mengangkat wajahnya.
"Aku tidak pernah menginginkan untuk menjadi istrimu," balasnya pedas membuat Yifan menatapnya tajam dan seketika Zitao benar-benar ingin mati saja. Betapa ia membenci mata itu.
Zitao menjerit tertahan saat ia merasa tubuhnya diangkat paksa, detik kemudian ia sadar telah duduk di atas pangkuan Yifan. Lagi-lagi Zitao kesulitan bernafas, rasa takut mengusai dirinya. Kedua tangan besar Yifan kini menahan pinggangnya kuat, menyadarkan Zitao bahwa ia sudah tidak bisa lari lagi.
Yifan melirik tangan bergetar Zitao yang kini berada di dadanya, berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar tetap ada sekat diantara mereka walaupun Zitao sendiri tahu hal itu tidak ada gunanya. Aroma tubuh Zitao yang lembut mengusik penciuman Yifan, pemuda itu menggeram tertahan. Tidak ada satu katapun yang bisa menggambarkan betapa ia menginginkan Zitao saat ini.
Ia menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Zitao, dan menghirup aroma yang menguar dari tubuh istrinya itu. Tak memperdulikan tubuh Zitao yang menegang ketakutan di dekapannya.
"H-hentikan..." tolak Zitao saat ia merasa lidah basah Yifan menyapu kulitnya. Mata Zitao mulai memanas, tidak dia tidak boleh menangis sekarang. Zitao tidak akan membiarkan Yifan melihat dirinya yang lemah.
'Milikku...'batin Yifan penuh otoritas sebelum ia menghisap kulit leher Zitao kuat, meninggalkan tanda kepemilikan disana.
"Akh-" Zitao mengerang tertahan, dan setelahnya ia merasa Yifan menarik hiasan rambut yang menahan sanggul di kepalanya, membuat rambut panjang Zitao tergerai bebas, turun menyusuri punggung dan sisi wajahnya yang rupawan.
Dan sebelum Zitao bisa melayangkan protes apapun, Yifan sudah lebih dulu melepas sampul jubah tidurnya membuat bahu sempitnya terlihat. Zitao tercekat, dia tidak percaya dengan apa yang menimpa dirinya saat ini.
Yifan mendorong jatuh tubuh Zitao ke tempat tidur. Tak memperdulikan pekikan keras dari sang Putri , merangkak ke atas tubuh rampingnya, menempatkan tubuhnya di antara kaki jenjang Zitao.
"Tidak-" Zitao menolak, menolehkan wajahnya ke samping tak sanggup melihat wajah Yifan yang kini melingkupinya.
Namun Yifan menahan wajah Zitao paksa. Mengusap sisi wajahnya lembut yang membuat Zitao kesulitan bernafas.
Yifan menurunkan wajahnya dan meraup bibir Zitao, gadis itu menolak menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri untuk menghindari ciuman Yifan namun tentu saja Yifan jauh lebih kuat. Pangeran Tartar itu meraih kedua tangan Zitao dan mengaitkan jemari mereka , menahannya di kedua sisi tubuh Zitao, mengunci pergerakannya.
Zitao meracau tidak tapi siapa yang bisa menghentikan Yifan saat ini, pemuda itu menciumi Zitao seperti orang kesetanan. Mulai dari bibir, belakang telinga hingga menuruni leher dan bahu. Yifan tidak ingin melewatkan seinchipun tubuh Zitao.
Zitao mulai menggeleng putus asa saat Yifan mulai menjamah bagian tubuh bawahnya. Lagi-lagi Zitao memohon jangan namun sepertinya itu sia-sia saja. Dan Zitao merasa hancur saat Yifan berhasil memasuki dirinya, tanpa sadar air mata mulai muncul di pelupuk matanya.
Perasaan apa ini, perasaan ingin memiliki yang begitu besar, Yifan tidak pernah merasakannya sebelumnya. Ego menguasai dirinya, Yifan tahu Zitao mampu membuat orang lain jatuh hati padanya dengan mudah, namun para pemuja itu tidak akan punya kesempatan untuk memiliki Zitao jika Yifan sudah menjadikan Zitao miliknya seutuhnya.
Zitao itu miliknya, miliknya dan hanya miliknya. Keserakahan menggerogoti hatinya dan Yifan tidak perduli. Bahkan Yifan tidak perduli jika saat ini Zitao mulai terisak karena ia memaksakan dirinya pada istrinya itu.
Yifan tidak perduli jika ia harus disebut pendosa, segila kedengarannya Yifan semakin ingin menekan Zitao semakin istrinya itu menolaknya.
Wajah yang berurai air mata, nafas yang memburu, kulit yang saling bergesekan dan ciuman yang menuntut, Yifan menyukai rupa Zitao saat ini. Wajah asli sang istri , tanpa topeng keangkuhan, kesombongan dan kepalsuan.
Zitao seperti mati rasa, rasanya sudah tidak ada harganya lagi. Rasanya ia ingin menangis meraung saat ini, Zitao merasa begitu kotor dan untuk pertama kali ia begitu membenci tubuhnya sendiri.
Yifan sudah melihat semuanya, melihat dirinya yang sama sekali tak berdaya. Zitao benci, ia benci kekalahan. Benci dengan kenyataan bahwa kini Yifan berhasil merenggut harga dirinya.
###
Malam sudah begitu larut namun Bou Xian belum tertidur, ia masih sibuk membaca buku tentang siasat perang, namun tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Menampilkan sosok sang Ayah.
"Kau belum tidur?" tanya Perdana Menteri.
"Belum Ayah," jawab Bou Xian sambil menutup buku yang baru saja ia baca.
"Kau belajar lagi?!" ada nada tidak suka pada nada suara sang Ayah dan Bou Xian hanya memilih diam.
"Wajar saja tidak ada pria terhormat yang mau melamarmu. Mana ada pria yang mau memperistri seorang gadis yang pandai bicara,"
"Ayah!" Bou Xian merasa tersinggung. Dia sama sekali tidak menyesali keputusannya, Bou Xian itu gadis cerdas yang berpendidikan membuatnya terlihat berbeda dari gadis-gadis pada umumnya yang hanya menerima kodrat mereka dengan rela hati yang hanya tahu bagaimana cara bersolek, mengatur Rumah tangga dan melahirkan anak-anak.
"Berterima kasihlah pada Ayah kali ini Bou Xian, ayah berhasil mendapatkan calon suami yang pantas untukmu," ujar sang Ayah yang membuat Bou Xian tersentak tak percaya.
"Apa?"
"Putri Xuan Yi ingin mengambilmu sebagai menantu, kau akan menikah dengan Pangeran Wu Shixun,"
"Aku tidak mau!" tolak Bou Xian tanpa berfikir panjang.
Perdana menteri terlihat geram mendengar jawaban putrinya.
"Jaga mulutmu, kau tidak pantas menolak lamaran keluarga kerajaan,"
"Aku tidak perduli!" Bou Xian kukuh pada pendiriannya,"Aku tidak akan menikah dengan pangeran Wu Shixun!"
'PLAKS!'
Perdana Menteri tega menampar Bou Xian,"Aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi pembangkang seperti ini,"geram pria paruh baya itu. "Renungkan kesalahanmu dan kita bicara lagi besok pagi," setelah mengatakan hal itu Perdana Menteri pergi meninggalkan kamar Bou Xian.
Sepeninggal Ayahnya, Bou Xian langsung meneteskan air matanya. Ia sudah lelah dengan semua keadaan. Sang Ayah yang haus akan kekuasaan, semakin lama Bou Xian merasa ia tidak mengenal Ayahnya sendiri.
Namun Bou Xian tidak membiarkan kesedihan membelenggunya lebih lama. Tanpa berfikir lagi Bou Xian segera mengganti pakaiannya dengan pakaian laki-laki, pakaian yang sering ia gunakan untuk menyusup keluar. Ia mengikat rambut panjangnya asal dan memakai topi petani.
Mengendap-endap Bou Xian keluar dari kamarnya melalui jendela, berlari ke arah kandang kuda dan menaiki salah satunya. Hanya dalam hitungan detik Bou Xian sudah pergi meninggalkan rumahnya.
Angin malam menyapu kulitnya bak sayatan pisau namun Bou Xian mencoba untuk tidak perduli. Ia terus melajukan langkah kudanya, sampai setelah beberapa lama, tepatnya setelah kediaman Panglima Besar Piao terlihat ia melambatkan langkah sang kuda.
Bou Xian berbelok ke arah pintu belakang. Seperti biasa gerbang belakang tidak tertutup. Diam-diam Bou Xian memasuki pekarangan kediaman Panglima Besar Piao. Turun dari kuda dengan tergesa dan mengikatkan tali pengendali kuda di salah satu pohon besar yang tumbuh di sana.
Bou Xian kini melangkah mengendap, menghampiri sebuah ruangan yang jendelanya masih terbuka. Tanpa ragu Bou Xian memasuki ruangan itu lewat jendela. Sesampainya di dalam Bou Xian segera melangkah mendekati ranjang, naik ke atasnya dan langsung memeluk tubuh seorang pemuda yang terbaring di atasnya. Sebisa mungkin mencari kenyamanan yang ia cari.
"Kenapa, kau bertengkar lagi dengan Ayahmu?" tanya pemuda yang kini tubuhnya Bou Xian peluk tanpa membuka mata.
Hal ini sudah biasa bagi Bou Xian dan Chan Li, kebiasaan ini sudah terjadi sejak mereka masih kecil. Bou Xian pasti akan pergi menemui Chan Li jika ia bertengkar dengan Ayahnya. Sebenernya mereka sadar jika mereka harus menghentikan kebiasaan ini saat mereka tumbuh dewasa. Karena mereka takut akan ada kabar yang tidak baik tersebar, namun Bou Xian tetaplah Bou Xian, gadis itu akan melakukan apapun yang ia anggap benar.
"Hei, kau tidak mau cerita?" Tanya Chan Li lagi sambil menyamankan Bou Xian dipelukannya, namun yang ia dapat hanyalah gelengan dari kepala mungil Bou Xian di dekapannya.
"Baiklah jika kau tidak mau cerita, aku tidak akan memaksamu," ujar Chan Li pada akhirnya. Sejujurnya tidak ada yang tahu hubungan macam apa antara Chan Li dan Bou Xian. Mereka bukan sepasang kekasih namun lebih dari sekedar teman dekat.
Malam itu Chan Li membiarkan Bou Xian tertidur di pelukannya lagi. Lagi? Ya, karena ini memang bukanlah yang pertama.
###
Tubuh Zitao terasa sakit semua, kedua matanya begitu terasa berat. Namun sekuat tenaga ia berusaha utuk membuka mata. Namun saat ia melihat wajah Yifan pertama kali saat membuka mata membuatnya menyesal seketika. Bayangan kejadian semalam kembali memenuhi otaknya dan itu membuat Zitao kecewa luar biasa. Ia tidak perduli kini Yifan memandangnya tajam dan lebih memilih membalik tubuhnya, memunggungi suaminya itu. Jujur saja saat ini Zitao tidak ingin melihat wajah Yifan.
Lama mereka berdua terdiam dengan posisi seperti itu, sampai Zitao merasa ada pergerakan di belakangnya. Yifan turun dari tempat tidur dan mulai melangkah menghampiri pintu.
Zitao masih tetap memunggunginya saat ia mendengar Yifan bersuara.
"Bantu Putri Zitao membersihkan diri," Perintah Yifan lalu melangkah pergi.
"Baik Pangeran ," jawab Xiou Yu, setelah Yifan sudah mulai menjauh Xiou Yu segera bergegas ke dalam dan menghampiri sang Majikan.
"Tuan Putri, apa anda baik-baik saja?" tanya Xiou Yu, ia sedih melihat punggung polos Zitao yang terlihat rapuh. Ada beberapa bercak keunguan di beberapa tempat, cukup untuk menjelaskan bagaimana keadaan Zitao saat ini.
Zitao tidak menjawab, masih setia berbaring ke samping memunggungi Xiou Yu. Namun pertahanannya runtuh juga saat Xiou Yu mengusap kepalanya lembut. Isakan Zitao lolos, bahunya bergetar, rasa sedih tiba-tiba merayapinya.
"Sstt, tidak apa-apa Tuan Putri, semuanya akan baik-baik saja," hibur Xiou Yu namun Zitao seperti tidak mendengar. Ia menangis terisak, dadanya sakit sekali dan tidak akan ada seorangpun yang akan memahami perasaannya.
TBC
Kenapa ya, sekarang aku ga bisa buka ffn kalo ga pake VPN :(
