Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Drama, family, Romance, Hurt comfrot
Pairing: NaruSaku, SasuSaku, SasuHina, Naruhina,
Warning: AU, OOC, kata-kata tidak baku, gaje, abal,Typo (nongol mulu)
Don't like don't read~!
.
.
.
Summary:
Sakura di hadapkan dua pilihan yang sangat sulit. Haruskah dia memilih setia kepada tunangannya Sasuke atau justru memilih bersama Naruto yang notabennya adalah calon suaminya di masa lalu.
"Aku tak memaksa kau memilihku Sakura-chan"/ "kau harus bersamaku"/ "bisakah kau memberikannya kepadaku Nee-chan"/ "kau harus memilih salah satu di antara mereka Sakura"/semua itu membingungkannya.
.
~Happy Reading~!
.
Aku memilih setia
.
Sakura mengetuk sebuah kamar apartement sederhana yang di tempati oleh kekasihnya. Naruto atau yang di sering panggil Ruru. Panggilan kesayangan gadis itu. Sakura tampak menunggu beberapa detik jawaban dari sang pemilik kamar. Karena tidak dapat jawaban sama sekali akhirnya Sakura mengambil sebuah kunci di dalam saku bajunya, kunci cadangan yang di berikan oleh Naruto untuk dirinya.
Ia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam apartement Naruto yang sederhana. Apartemen dengan satu kamar yang hanya dilengkapi dengan dapur dan kamar mandi. Tidak terlalu banyak barang yang ada diruangan itu. Sakura hanya dapat mengelengkan kepalanya kecil saat melihat apartement itu sangat berantakan. Ia tahu kebiasaan Naruto yang selalu saja jorok. Membiarkan beberapa bekas ramen instannya dan beberapa kaleng minuman serta snack-snack berserakkan di atas meja tatami.
Sakura lantas mendesah kecil dan akhirnya ia memutuskan untuk membersihkan apartementnya Naruto. Padahal ketika ia datang ia ingin Naruto langsung memeluknya, mendengar keluh kesahnya tentang hubungan mereka yang di tentang oleh sang ayah. Hingga beberapa lama saatnya dimana ia telah selesai membersihkan apartement Naruto, Naruto tidak kunjung datang. Karena lelah menunggu akhirnya ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya di kasur kekasihnya. Hingga ia ketiduran.
Tidak lama Sakura terlelap Naruto datang. Pemuda itu sedikit mengerutkan dahinya ketika ia memutar knop pintunya yang ternyata tidak terkunci. Padahal ketika ia pergi ia sudah menguncinya. Dengan pelan ia membuka pintu apartementnya. Wajah tan itu lantas tersenyum tipis ketika melihat sesosok gadis berambut pink sedang tertidur di ranjangnya. Ia menghampiri gadis tersebut lalu duduk di pinggir ranjang dengan pelan agar tidak menganggu tidur sang pujaan hati.
Naruto tidak pernah berhenti tersenyum ketika ia sudah melihat Sakura. Apalagi ketika melihat sang gadis tertidur nyenyak. Sungguh wajah tidur damainya sangat di sukainya. Berbeda ketika kalau sang gadis pink marah dan mengomelinya ketika ia berbuat sesuatu yang kesalahan. Ia tidak pernah keberatan kalau ia harus diberi omelan setiap hari. Karena Sakura hanya miliknya.
Ketika Naruto baru saja akan menyingkap poni Sakura yang menutupi wajahnya tiba-tiba saja pintu apartementnya di dobrak kasar. Naruto terlonjak kaget. Sedangkan Sakura yang merasa terganggu tidurnya sedikit mengeliat kecil tapi tidak membuatnya langsung terbangun.
"Om Kiaz…''
Bughh.
Sebuah pukulan keras diterima Naruto, membuat pemuda itu terjungkal ke belakang. Jatuh membentur lemari yang berada di samping ranjang yang di tempati Sakura tidur. Dan sukses suara gaduh yang terjadi saat itu langsung membuat Sakura terbangun. Sakura memandang Naruto yang tersungkur di lantai yang sedang memandang lurus ke depan dan Sakura mengikuti pandangan mata Naruto.
Seketika juga Sakura langsung terbelalak kaget. Menatap takut sepasang mata Emerald yang berkilat tajam ke arahnya.
.
"Tou-San…''
Sakura memandang ngeri ke arah ayahnya. Wajahnya kini memucat seketika memandang Kiazhi yang berwajah merah membara. Marah.
Sakura turun dari ranjang dengan ragu, gemetar, dan ketakutan. Sakura bergerak pelan membantu Naruto bangkit dan dengan perlahan mengusap darah yang mengalir pelan dari sudut bibir Naruto. Mati-matian dia menahan air matanya agar tidak menangis.
"Lepaskan tanganmu darinya, Sakura!'' suara tegas Tou-Sannya yang penuh amarah membuat Sakura dengan ragu melepas cengkraman tangannya dari lengan Naruto. Gadis itu menunduk takut. Terlalu takut memandang wajah kekecewaan di wajah tua ayahnya yang dulu selalu tersenyum untuknya. Setidaknya sebelum ia menjalin hubungan dengan Naruto. Ayahnya itu selalu marah akan hubungannya dengan Naruto. Yang seorang anak yatim piatu yang dulu tinggal dipanti asuhan sebelum akhirnya pemuda itu memutuskan untuk mandiri dan mencari kerja yang menurut ayahnya pekerjaan rendahan dan…
Berpenyakitan.
Ibu Sakura, Mebuki. Mencoba menenangkan amarah suaminya dengan menahan tangan Kiazhi yang ingin menarik paksa Sakura dari Naruto. Ruangan itu tampak gelap dalam amarah yang menyelimuti udara. Sang ibu hanya bisa menatap anaknya dengan prihatin. Yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk putri kesayangannya.
"Kaa-San bawa Sakura keluar dari sini! Kita akan pergi ke Tokyo malam ini juga."
Seketika ketiga pasang mata dalam ruangan itu terbeliak mendengar keputusan Kiazhi. Sakura mengerjap mendengar keputusan itu, dia menggeleng cepat.
"Tidak Tou-san! Aku tidak ingin ke Tokyo. Aku tidak ingin meninggalkan Naruto sendiri…'' Sakura mencoba memelas dan memohon kepada sang ayah yang sangat di sayanginya itu. Tapi sayang ayahnya segera menarik Sakura paksa dan kali ini Naruto menarik lengan Sakura hingga Kiazhi melepas pegangannya. Naruto menatap ayah Sakura dengan dingin dan menarik Sakura ke belakang punggungnya. Sakura mengenggam erat punggung kemeja yang di pakai Naruto saat itu dan bersembunyi , menghindarai pandangan ayahnya padanya.
Kiazhi memberi isyarat pada para Bodyguard yang saat itu mengikutinya kemana pun ia berada untuk memisahkan sepasang kekasih yang berada di depannya itu. Salah satu Bodyguard menarik paksa Sakura kepada Kiazhi dan dua lainnya menahan Naruto di tempatnya. Baik Sakura mau pun Naruto, keduanya terus memberontak paksa hingga akhirnya salah satu Bodyguard yang memegang tangan Naruto dan langsung meninju perut Naruto dan memukul tengkuknya dengan kuat hingga membuat Naruto muntah darah.
"Hentikan ayah! Hentikan!'' Seketika Sakura menjerit keras melihat Naruto yang di hajar oleh para bodyguard ayahnya hingga membuat pemuda yang dicintai itu muntah darah. Ia memberontak keras dalam pelukan ayahnya. "Aku mohon jangan sakiti dia ayah. Dia sudah cukup sakit ayah. Aku mohon hentikan.'' Ucap Sakura pilu. Air matanya kini telah membasahi pipinya. Tapi ayahnya tidak mengubrisnya dengan paksa ia langsung menyeret tangan Sakura keluar dari apartment Naruto. Tapi Sakura masih sedikit memmberontak ketika ditarik paksa keluar oleh sang ayah. Sakura memandang Naruto yang tersungkur dengan darah yang keluar dari mulutnya dengan hati yang sakit. Ia ingin sekali melindungi Naruto yang saat itu masih saja di tendang oleh bodyguard ayahnya.
"Kumohon lepaskan aku ayah!'' Sakura mencoba memukul tangan ayahnya dengan sebelah tangan. Tapi dengan sigap ayahnya langsung menangkap pergelangan tangannya dan menarik lebih paksa lagi. gadis itu ingin menghampiri Naruto yang memanggil namanya mencoba menggapai Sakura. Tapi anak buah ayahnya terus saja melayangkan tendangan ke perut dada Naruto berulang kali tanpa belas kasihan.
"KUMOHON HENTIKAN! SUDAH CUKUP!''
Sakura menjerit keras melihat Naruto yang sudah babak belur di hajar oleh pengawal ayahnya. "Aku mohon hentikan.'' Ratap Sakura dengan pilu. Sedangkan Naruto hanya bisa memandang lirih pada gadis yang di cintainya itu. Gadis itu menangis pilu menatapnya yang sedang diseret paksa oleh ayahnya untuk keluar. Naruto mengulurkan tangannya mencoba menggapai tangan Sakura yang juga terulur untuk menggapainya. Tapi sayang hal itu hanya sia-sia. Sakura hanya bisa memandang Naruto pilu dengan air mata yang berurai dengan deras.
Bahkan ketika Sakura telah berhasil keluar dari apartementnya. Naruto masih mendengar gadis itu masih memanggil namanya, mencoba memohon, meminta kepada ayahnya untuk membiarkan dirinya bersamanya. Naruto hanya bisa menatap pintu tempat Sakura di paksa pergi dari tempatnya dengan pilu.
Hingga akhirnya ia sudah mencapai batasnya. Ia terbatuk hebat. Darah segar pun keluar lagi dari mulutnya. Hingga dimana akhirnya ia tidak bisa menjaga kesadarannya yang mulai menggelap dan jatuh pingsan. Ia sempat memanggil nama kekasihnya di saat kesadarannya yang mulai menghilang.
"Sakura… Sakura-chan.''
.
Sepanjang keluarnya Sakura dari apatement Naruto, Sakura sering meronta dalam pegangan ayahnya yang kuat. Ia menangis, meratap pilu agar ayahnya itu mau melepaskannya. Tapi sang kepala keluarga Haruno itu menulikan pendengarannya. Tidak menghiraukan setiap jeritan Sakura, tangisan anak kesayangannya itu. baginya saat ini adalah memisahkan anaknya dengan Naruto si anak miskin yang tidak pantas untuk putri semata wayangnya.
"Ayah… kumohon, lapaskan aku. Aku ingin ketempat Naruto ayah. Hiks Aku ingin melihat keadaanya…'' isak Sakura. Mebuki yang berada disamping kiri anaknya hanya bisa menatap lirih anaknya.
"Ibu… kumohon tolong aku bu…'' pinta sakura sambil menatap ibunya pilu.
"Sakura-chan…''
"Ayo masuk.'' Ucap Kiazhi memotong perkataan istrinya. Sakura menolak ketika di suruh masuk ke dalam mobil dengan sedikit dipaksa Sakura akhirnya pun masuk kedalam mobil. Sakura berusaha membuka pintu mobil ayahnya untuk berlari ketempat Naruto berada. Tapi pintu itu langsung dikunci dan ibunya langsung memegangi lengan Sakura agar gadis itu tidak keluar dari mobil di saat suaminya sudah menjalankan mobilnya. Melaju keluar dari area apartement Naruto.
Sepanjang perjalanan menuju kebandara, Sakura terus menangis dalam dekapan ibunya. Memohon kepada sang ayah untuk membiarkannya bersama Naruto. Tapi ayahnya masih diam seolah menulikan telinganya untuk tidak terpengaruh tangisan anaknya. Selama ini, kiazhi paling anti membiarkan Sakura menangis. Kiazhi tak pernah sekali pun membiarkan anak kesayangannya itu menangis. Karena itu apa pun yang Sakura inginkan selalu di kabulkannya. Tapi tidak untuk kali ini. Ayah satu anak itu mengeraskan hatinya bahwa ini adalah yang terbaik untuk putrinya.
"Diamlah Sakura! dia tidak pantas untukmu! Dia hanya seorang anak yang miskin.'' Kata kiazhi tegas sambil menekankan kata miskin sambil menengok memandang putrinya marah hingga ia sempat tidak memperhatikan jalanan di depannya yang kebetulan sebuah mobil hitam melintas di depannya dengan laju. Seketika Mebuki berteriak.
"Ayah… awas!'' tunjuk Mebuki ke depan seketika Kiazhi dengan cepat membanting stir mobilnya untuk menghindar dari mobil yang ada di depannya itu. tapi naas mobil mereka tertabrak dengan keras membuat mobil yang di kendarai oleh ayah Sakura terpelnting jauh berputar-putar hingga keluar dari pembatas jalan.
Seketika ayah Sakura dan ibunya meninggal ditempat. Tapi Sakura yang setengah sadar saat itu hanya bisa menatap syok ayah ibunya yang sudah tidak sadarkan diri dengan berlumuran darah. Dengan lemah Sakura mencoba menggapai tangan ayahnya dan ibunya. Menggengam tangan mereka sebelum akhirnya kesadarannya mulai menghilang.
"Kaa-san… Tou-san…''
0o0o0o0o
Hinata berlarian di sebuah koridor rumah sakit dengan panik. Ia sangat syok ketika menerima telepon dari seseorang laki-laki yang mengatakan bahwa kakaknya Sakura masuk rumah sakit. Tanpa pikir panjang Hinata segera meluncur di mana Sakura dirawat. Ia sendirian saat itu. padahal sepanjang perjalannanya menuju ke rumah sakit, ia sempat menghubungi Sasuke. Tapi pemuda raven itu tidak menganggkat telefonnya sama sekali.
Disana, tepat di depan sebuah ICU, terlihat seorang pemuda berambut kuning tampak berjalan mondar-mandir dengan panik. Terkadang pandangannya sedikit menyelinap ke arah pintu untuk mengetahui keadaan di dalam. Hinata segera menghampirinya. Tapi ketika jaraknya dengan pemuda itu semakin memendek dan tepat ketika pemuda itu menatapnya, Hinata terbelalak kaget begitu pun dengan pemuda tersebut.
"Hinata?''
"Na-Naruto-kun?''
Keduanya tidak mampu menutupi rasa kaget ketika saling bertatap muka. Hinata tidak tahu bahwa yang menelfonnya tadi adalah Uzumaki Naruto.
"Apa yang kau lakukan di sini Naruto-kun?'' tanya Hinata kaget. "Dan apa yang terjadi pada Nee-chan?'' Hinata memandang penuh tanya ke iris shapire Naruto.
"Sakura…'' belum juga Naruto selesai berkata tampak pintu ICU terbuka dan menampilkan sesosok dokter yang sudah Naruto sangat kenal. Sabaku Gaara. Dokter pribadinya.
"Gaara!'' Naruto segera mendekati Gaara begitu pun juga dengan Hinata. Gaara memandang bergantian ke arah Naruto dan Hinata.
"Bagaiaman keadaanya Gaara?" Tanya Naruto.
Dokter tampan dan muda itu menatap Hinata dan Naruto bergantian. "Apa kau keluarga Sakura?" tanya Gaara ke arah Hinata. Hinata segera mengangukkan kepalanya cepat.
"Keadaannya sekarang –'' ia menjeda kalimatnya, "kritis.''
Hinata dan Naruto terkejut mendengarnya. Kritis? Bukanlah jawaban yang mereka inginkan. Kritis? Itu berarti antara hidup dan… mati.
Hinata yang tidak kuat menahan tangisnya sedari tadi akhirnya menangis juga. Gadis itu menangis dengan tersedu-sedu sambil menutup mulutnya tidak percaya apa yang di dengarnya sedangkan Naruto hanya bisa mematung ditempatnya seakan rohnya tidak ada ditubuhnya.
"Besi yang berada di kepalanya, kami tidak bisa mencabutnya. Karena itu akan membuat Sakura mengalami pendarahan hebat di kepalanya.'' Gaara menatap iba ke arah Naruto. "Aku hanya bisa memberikan dia obat penghilang rasa sakitnya. Tapi tidak dengan kematiannya. Hanya tinggal menunggu hari di mana Sakura tidak akan bisa bertahan dengan rasa sakit yang akan di rasakannya. Saat itu tiba Ia akan mati.'' Selesainya Gaara berbicara seketika tubuh Naruto ambruk ke lantai. Tidak sadarkan diri. Membuat Hinata terpekik kaget.
.
.
.
Tbc
A/N :
Hallo minna ketemu lagi sama fict saya yang abal ini, membosankan, bikin mual, depresi, gangguan kehamilan dan janin. Heheheheheh ;p
Maafnya chap ini lumayan pendek dan lama. lantaran karena saya banyak kesibukkan akhir-akhir ini.
Untuk chap ini kebayakan flashback tentang masalah hubungan narusaku yang ditentang oleh keluarga. Atau lebih tepat bokapnya yang menentang hubungan mereka.
Mungkin untuk chap depan ku usahakan secepatnya dan panjang (tapi gak janji lo) #digampar warga FFN
ok. maaf gak bisa balas riview satu-satu. dan aku harap senpai-senpai mau memberi riview pada chap ini, apa fict ini pantas untuk lanjut atau ku delete saja :)
see uuuu...
salam cherry.
