Chapter 7
.
.
.
Mata itu akhirnya terbuka saat guncangan tak lagi dirasakan oleh tubuhnya. Ia akhirnya sadar jika mobil sudah berhenti, kembali ke halaman rumah yang ia tinggalkan lebih dari seminggu itu. Jantungnya tiba – tiba saja berdetak lebih cepat karena rasa bersalah yang kembali dirasanya, pun membuatnya meremas selimut yang sejak tadi membungkus tubuh kecilnya itu.
"Oh, Jimin kau sudah bangun?" tanya Hoseok yang hendak mengambil beberapa barang yang tertinggal di mobil.
"Eumh… iya, hyung. Di mana yang lain?"
"Mereka baru selesai memasukan semua barang dari mobil. Tadinya aku akan membangunkanmu, tetapi ternyata kau sudah bangun duluan. Yasudah, ayo kita masuk!"
Hoseok berjalan memutar dan kemudian membuka pintu di sebelah Jimin. Ia menarik tangan Jimin karena adiknya tak kunjung turun.
"Jim…" panggil Hoseok lembut membuat sang adik mengangkat kepalanya untuk menatap sang kakak, "tenanglah. Semua akan baik – baik saja."
Nada lembut serta menenangkan milik Hoseok membuat Jimin tersenyum. Keberanian itu akhirnya kembali muncul dari dalam dirinya. Jadi, ketika Hoseok menarik lengannya untuk berjalan masuk, Jimin tak lagi menahan langkahnya.
.
.
.
"Hyung! Kalian kemana saj…-" Jungkook segera berlari menuju pintu utama ketika mendengar suara ribut – ribut kakaknya.
Tetapi langkahnya berhenti begitu saja ketika mendapati Jimin berada di sana, bersama keempat kakaknya. Tangannya mengepal erat menatap kedua mata yang meliriknya takut itu tajam.
Taehyung tak lama datang dan juga menatap seseorang yang ditatap Jungkook bingung. Perasaan lega menghinggapi dirinya, tetapi suasana yang tercipta tak memungkinkan untuk dirinya bersorak gembira.
"Kenapa ia kembali, hyung?" tanya Jungkook dengan nada rendah penuh penekanan.
"Kook… kami bisa menjelaskannya," jawab Seokjin dengan pelan, berharap sang adik paling kecilnya akan mengerti.
"Aku membencinya!" teriak Jungkook dengan keras sebelum akhirnya berlari menuju kamarnya.
Taehyung yang juga terkejut di sampingnya terlihat bingung harus melakukan apa. Iapun akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah sang adik.
"Biar aku yang bicara padanya," ujarnya sebelum melangkah pergi.
Sedangkan Jimin, ia mematung di tempatnya dengan menggenggam tangan Hoseok erat. Ia seharusnya tau hal ini akan terjadi. Jungkook tak mungkin memaafkannya begitu saja.
"Jim, kau baik – baik saja?" Seokjin berbalik untuk menatapnya seraya meletakan tangannya di kedua bahu Jimin untuk sekedar memastikan. "Aku akan bicara padanya, kau tenang saja, ya?"
Kedua mata Jimin menatap balik kedua mata Seokjin.
"Hyung… itu… bisakah kau tidak mengatakannya pada Jungkook?" cicitnya pelan.
"Jim!" Yoongi yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. Ia masih saja merasa sangat khawatir dengan keadaan Jimin walaupun kini ia telah menemukannya. Apalagi dengan respon Jungkook barusan, Yoongi takut Jimin akan pergi lagi.
"Aku tau ini tidak akan mudah. Tapi… biarkan aku melakukannya dengan caraku sendiri," ujarnya mantap dengan senyum tipis yang terpatri di bibirnya.
"Baiklah," Seokjin pun mengangguk menyetujui keinginan Jimin.
Jimin sendiri tidak ingin membuat sakitnya dan kebenaran itu menjadi sebuah alat untuk mengambil hati saudara – saudaranya. Ia tidak pernah memikirkan hal itu dari awal. Akan menjadi sangat tidak adil jika ia harus bersikap egois dengan menggunakan dua hal itu menjadi alasannya untuk diterima di keluarga Kim. Jimin bukan orang yang memanfaatkan keadaan untuk kepentingannya sendiri. Ia tulus menyayangi setiap anggota keluarga barunya itu.
.
.
.
Pagi harinya Jimin duduk di meja makan hanya ditemani oleh Hoseok yang kebetulan bangun pagi hari itu. Kepalanya bergerak kesana kemari mencoba mencari saudaranya yang lain. Ia hanya tau bahwa Jungkook dan Taehyung sudah pergi ke sekolah tadi pagi. Iapun kemudian menyerah dan menunduk menatapi makanannya.
"Kenapa, Jim? Apa kau mau sarapan yang lain?" tanya Hoseok heran.
"Heum? Tidak… tidak. Ini sudah cukup, hyung."
"Lalu kenapa?" desaknya meminta jawaban.
"Apa yang lain tidak sarapan, hyung?"
"Ahh… kami memang sudah jarang sarapan bersama. Kami lebih baik tidur sampai harus melewati sarapan, atau sarapan di tempat masing – masing."
Jimin mengangguk – angguk paham. Itulah mengapa ia tak pernah melihat orang lain selain dirinya dan sang ayah yang berada di meja makan.
"Tapi kau tidak boleh melewati sarapanmu, Jim! Kupastikan kau mendapatkan sarapan yang baik tiap hari!"
"Kau janji akan menemaniku kan, hyung?"
"Tentu!"
Senyum Jiminpun berkembang seperti sinar matahari pagi. Hoseok pun ikut tersenyum dibuatnya. Iapun percaya moodnya akan baik seharian karena disuguhkan senyuman manis Jimin saat sarapan.
.
.
.
Setelah tiga hari hanya tinggal di rumah dan pergi ke rumah sakit, akhirnya Seokjin mengizinkan Jimin untuk masuk sekolah. Ia sudah menjelaskan pada pihak sekolah tentang alasan Jimin yang absen hampir tiga minggu ini, dan merekapun mengerti.
Dengan senyum manis yang terpampang di wajah pucatnya, Jimin memasuki kelas yang sudah diisi oleh beberapa anak. Mereka sedikit terkejut dengan Jimin yang tiba – tiba kembalii masuk. Beberapa anak bahkan menanyakan kemana saja Jimin hampir tiga minggu ini. Jimin merasa hangat karena ternyata teman – teman sekelasnya memperhatikan ketidak hadiran dirinya selama ini. Mungkin Jimin harus mulai mengurangi sifat tertutupnya saat di kelas.
Tanpa disadarinya sepasang mata milik Taehyung tengah memperhatikannya dari luar kelas. Ia tak sengaja lewat dan melihat Jimin sudah kembali sekolah.
"Ahh… kau akhirnya masuk juga, Jim," ujarnya sambil tersenyum dan kemudian melangkah pergi menuju kelasnya.
.
.
.
Angin dingin penghujung musim dingin membelai rambut yang bertengger manis di hidung mancung seseorang yang tengah duduk santai di rooftop. Matanya memandang jauh sedangkan bibirnya bersenandung pelan, menyanyikan apa yang ia dengar dari telinganya. Suara riuh anak – anak yang beristirahat di lapangan terdengar pelan dari atas sana. Nyatanya, ia sudah berada di rooftop itu jauh sebelum bel istirahat berbunyi.
Tiba – tiba saja bunyi berisik di belakangnya membuat kepala pria itu berbalik cepat untuk memastikan siapa yang berada di sana selain dirinya. Seorang pria kecil terlihat hendak kabur saat tertangkap basah.
"Jimin? Sedang apa kau di sana?" tanyanya santai dengan sedikit kekehan karena melihat kepanikan Jimin yang berada di hadapannya.
"Eumh… itu… aku hanya… aku akan pergi jika kau terganggu, Taehyung, " Ujarnya seraya kembali membuka pintu di hadapannya lebih lebar.
Taehyung melirik roti dan sekotak susu yang berada di tangan Jimin. Iapun kemudian kembali tersenyum padanya.
"Mau berbagi rotimu? Aku sedikit lapar di sini."
Jimin berhenti seketika, melirik Taehyung sebentar lalu roti yang berada di tangannya.
"Tentu saja!"
Tanpa ragu Jiminpun berjalan mendekat ke arah Taehyung, menutup pintu di belakangnya dengan mantap. Ia pun kemudian duduk di sebelah Taehyung yang masih memperhatikannya.
Jimin membuka bungkusan roti di tangannya dan membelah roti miliknya menjadi dua untuk selanjutnya diberikan pada orang yang di sebelahnya. Taehyung menyambut pemberian Jimin dengan lembut dan langsung memakannya dengan lahap.
"Terimakasih, Jim," ujarnya dengan mulut penuh dengan potongan roti.
"Tak masalah. Apa kau mau susunya juga? Aku sedang tidak ingin minum susu siang ini."
"Dan aku tak ingin menolaknya. Terimakasih lagi."
Mereka menikmati makan siangnya dalam diam, ditemani kepulan uap yang keluar dari mulut mereka setiap kali bernapas. Musim dingin sudah selesai, tetapi cuaca dingin seakan enggan pergi.
Jimin tak sengaja menyentuk tanganTaehyung saat memberinya susu tadi. Tangan pria itu dingin. Jimin berpikir mungkin Taehyung sudah lama di sini. Ia pun menarik sesuatu keluar dari saku mantelnya.
"Pakai ini, kurasa kau kedinginan. Apa kau membolos jam pelajaran?"
Taehyung menatap sesuatu di tangan Jimin. Bukan, bukan hotpack yang diberikan Jimin yang ia lihat. Sesuatu yang melingkar di pergelangan tangan Jimin yang mengalihkan atensinya. Sedangkan sang pemilik tangan tengah kebingungan karena Taehyung tak juga merespon dirinya.
"Taehyung?"
"Itu… dari mana kau punya gelang itu?" Taehyung bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada gelang yang ia kenal itu.
"Ahh ini. Ibu pengurus panti memberikannya padaku saat kecil. Aku tak begitu ingat, hanya saja gelang ini selalu bersamaku. Kenapa?"
Taehyung tertegun beberapa detik sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima hotpack yang sejak tadi disuguhkan Jimin.
"Tidak ada. Hanya teringat sesuatu."
Jimin ingin bertanya lagi, tetapi ia mengurungkan keinginannya itu. Bisa makan siang dan mengobrol bersama dengan Taehyung saja itu sudah hal yang baik. Ia tak boleh merusak kesempatannya itu.
"Ngomong – ngomong, di mana pantimu berasal?" Taehyung kembali bertanya di sela – sela diamnya.
"Busan."
.
.
.
Sepanjang minggu Taehyung selalu makan siang bersama Jimin di rooftop sekolahnya. Sedikit demi sedikit iapun tau sifat Jimin yang sesungguhnya. Jimin akan tetap datang dan duduk bersama Taehyung menikmati udara yang masih terasa dingin itu dengan roti yang dibagi dua dan sekotak susu. Walaupun pada akhirnya hidung Jimin akan benar – benar menjadi merah karena anak itu tidak terlalu kuat dengan udara dingin tapi tetap memaksa memberikan hotpacknya untuk Taehyung yang suka sekali membiarkan tubuhnya kedinginan.
Satu hari itu Taehyung akhirnya membuka diri pada Jimin tentang masa lalunya. Tindakan dan perlakuan Jimin padanya, menumbuhkan kepercayaan di hati Taehyung untuk pemuda kecil di sebelahnya itu.
"Kau tau Jim? Ayah Kim benar – benar penyelamat diriku," ujarnya pelan dengan roti yang masih di tangannya.
"Huh?" Jimin akhirnya mengalihkan atensinya dari jari – jari tangannya yang ia pilin sejak tadi, ujungnya sedikit membiru arti dirinya kedinginan.
"Dulu saat masih di panti asuhan, aku sangat senang saat ada sepasang suami istri akhirnya mengadopsiku. Tetapi, aku juga sedih karena harus meninggalkan sahabatku di sana. Ia anak yang manis tapi sedikit lemah karena ia terlalu baik. Anak – anak yang lebih tua darinya selalu mem-bully dirinya. Sedangkan yang bisa ia lakukan hanya menangis di punggungku. Aku sempat memohon untuk membawanya juga. Tetapi sayang, kedua orang yang akan menjadi orang tuaku dulu menolak. Ia pun tetap mendorongku pergi dan melambaikan tangannya dengan senyuman manis khasnya. Walaupun aku tau ia menitikan air matanya saat itu. Sahabatku yang cengeng hehe…"
Taehyung mengakhiri kalimat panjangnya dengan kekehan. Sedangkan Jimin menatap Taehyung dengan intense. Taehyung kembali menarik napas sebelum melanjutkan ceritanya.
"Aku sangat bahagia dengan keluarga baruku. Mereka benar – benar sangat baik padaku, mengabulkan semua permintaan bodohku. Tetapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa mereka. Mereka meninggalkanku sendiri, benar – benar sendiri. Saudara mereka tak ada yang ingin menampungku, bahkan kakek dan nenek angkatku tak ingin mengakuiku sebagai cucu mereka. Akhirnya dengan uang sisa tabunganku, aku berusaha untuk menghidupi kehidupanku sendiri. Saat itulah aku berpikir, jika aku tidak pergi dari panti asuhan saat itu, aku tidak akan kehilangan sahabat dan orang tua angkatku. Itu adalah kehilangan terbesar pertamaku saat hidup."
Taehyung kembali menarik napasnya ketika merasakan sesak di dadanya.
"Suatu malam, ayah Kim menemukanku tengah menangis di belakang restaurant tempatku bekerja. Sang pemilik mempekerjakanku dan memperalatku dengan semena – mena. Ayah Kim menyembunyikanku di balik tubuhnya yang kokoh seraya berteriak pada pemilik restaurant jika ia akan menuntunnya karena mempekerjakan anak di bawah umur. Tak kusangka ternyata ia juga akan membawaku pulang bersamanya, memberikanku kembali kehangatan sebuah keluarga. Ia bagaikan malaikat untukku dengan segala perlakuannya. Tetapi setelah ibu Kim meninggal, kami semua berjalan masing – masing karena terlalu larut dalam kesedihan. Itulah kehilangan terbesar keduaku, Jim. Ibu Kim adalah sosok cerminan dari ayah Kim. Kebaikannya tidak bisa dideskripsikan."
"Kami terlalu larut dalam kesedihan sampai mengabaikan fakta bahwa seseorang tengah kehilangan cinta sejatinya. Aku merasa bodoh karena tidak menyadari keterpurukan ayah Kim saat itu. Sampai akhirnya ia pergi. Kepergiannya menjadi kehilangan terbesarku yang ketiga. Malaikat penolongku akhirnya memutuskan pergi menyusul kekasihnya. Aku… aku tidak tau lagi harus bagaimana jika aku akan merasakan kehilangan yang lainnya setelah ini."
Setelah menyelesaikan ceritanya, Taehyung akhirnya kembali menatap Jimin yang sejak tadi membuka telinga di sebelahnya. Matanya tiba – tiba saja membulat ketika melihat air mata sudah membanjiri pipi pria di sebelahnya itu.
"Jimin!" serunya terkejut.
"Ma… maafkan aku, Tae. Maafkan aku…" ujarnya lirih dengan wajah yang kini tertutupi oleh kedua tangan yang hilang di balik mantel.
Rasa bersalah itu kembali hinggap di hati Jimin. Mendengar fakta bahwa saudaranya kehilangan sumber kebahagiannya secara langsung ternyata membuat rasa bersalah itu kembali membesar. Selain itu, ia merasa sudah terlanjur dekat dengan Taehyung, padahal dirinyapun tidak yakin akan bertahan lama. Bagaimana jika ia menorehkan luka lainnya di hati saudaranya itu? Jimin hanya tidak bisa mengenyahkan pikiran itu.
Tiba – tiba saja tubuh Jimin ditarik ke pelukan Taehyung. Ia mengusap – usap pelan tubuh yang bergetar itu. Taehyung bukannya tidak tau jika Jimin menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian sang ayah. Tetapi ia hanya tidak bisa menahan mulutnya untuk meluapkan perasaanya. Ia juga tak ingin jika Jimin terus menerus merasa bersalah.
"Kau tau, Jim? Setelah kau datang, aku akhirnya bisa melihat kembali senyum ayah."
.
.
.
Jimin membiarkan kepalanya menempel pada meja sesaat setelah guru Bahasa nya keluar dari kelas. Kepalanya terasa berputar hebat sejak pagi, dan sekaranglah puncaknya. Ia mengerjapkan pelan matanya, amat pelan karena sakit yang dirasa seakan membuat tubuhnya sangat lemas.
"Jimin, beristirahatlah di ruang kesehatan jika kau sakit. Aku akan memberitau gurunya," ujar temannya yang duduk di belakang.
Jiminpun sudah memantapkan hati. Tak ingin berlagak baik – baik saja di depan temannya yang pada akhirnya malah menyusahkan mereka. Ia pun menarik kepalanya dan berbalik.
"Terimakasih, Yoonjae-ya…" ujarnya dengan senyuman sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menuju ruang kesehatan dengan gontai.
.
.
.
Taehyung menahan luka di lengannya dengan ringisan pelan seraya berjalan menuju ruang kesehatan. Tadi temannya tak sengaja menyenggolnya saat tengah bermain basket mengakibatkan luka di tangannya. Iapun sedikit senang karena ia bisa terbebas selama satu jam dari jam pelajaran olahraga itu walaupun tak dipungkiri tangannya sakit.
"Sonsaengnim... seseorang terluka!" teriaknya saat memasuki ruangan kesehatan memanggil penjaga tanpa peduli jika tengah ada yang sakit.
"Sonsaeng…" teriakannya tiba – tiba saja berhenti ketika ia mendengar suara rintihan tertahan sayup – sayup hinggap di telingannya.
"Ugh…"
Taehyung memutuskan untuk berjalan perlahan ke sudut ruangan yang sepi itu, guna memastikan apa yang didengarnya. Ia hanya berharap jika itu bukanlah hantu atau hal aneh lainnya. Saat menemukan siluet seseorang di balik tirai, iapun tak segan untuk menariknya dan terkejut akan siapa di balik tirai itu.
"Jimin!"
Taehyung berteriak panik ketika melihat Jimin duduk di sudut ruangan, pucat… putus asa… dan darah yang mengotori tangan sampai ke baju seragam…
Pemandangan itu tak ayal membuat Taehyung segera berlari kepada saudaranya yang sudah lebih dari seminggu itu menemaninya makan siang.
"Jim… ada apa denganmu?" tanyanya dengan suara lirih. Ia terlihat takut menyentuh Jimin. Ia takut jika Jimin akan semakin kesakitan jika ia sentuh.
Jimin sendiri yang mengetahui Taehyung menemukannya, hanya bisa pasrah dan mencoba untuk menahan rasa sakitnya. Ia tidak boleh membuat Taehyung khawatir, tidak boleh.
"Jim…"
Lagi – lagi suara lirih itu hinggap di telinganya. Jimin berusaha duduk lebih tegak dan mengambil tissue yang tak jauh darinya, dengan seluruh badan yang masih teramat sakit.
Taehyung yang mengerti akhirnya membantu Jimin dengan memberikan tissue padanya. Ia bahkan tak segan untuk mengelap tetesan darah yang keluar dari hidung Jimin, juga yang ada di kedua tangan yang bergetar hebat itu.
Jimin menarik napas dalam dan berusaha mengumpulkan kesadarannya setelah darahnya berhenti keluar. Iapun menatap Taehyung sayu, yang terlihat sangat buram di kedua matanya.
"Tak apa, Tae… ini hanya mimisan."
Suara itu terdengar sangat lemah, bahkan di telinga Jimin sekalipun. Ia sadar kondisinya sedang tidak baik, dan Taehyung menemukannya.
"Kau, mau aku panggilkan Seokjin hyung? Sepertinya kau sakit, Jim. Biar kupanggil dia untuk menjemputmu. Atau, ayo pergi ke rumah sakit saja!"
Taehyung yang terdengar panik hanya dibalas oleh gelengan kepala dari Jimin.
"Tidak! Jangan panggil Seokjin hyung. Aku… aku hanya mimisan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."
Taehyungpun menurut dan memilih untuk menolong Jimin agar ia bisa berbaring di ranjang. Tak lama kemudian mata sayu itu tertutup setelah menggumamkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh pendengaran Taehyung.
Selama tiga puluh menit, Taehyung menunggu dengan hati yang tidak tenang. Ia yakin ada sesuatu dan ia merasa perlu untuk mencari tau. Iapun memutuskan untuk mengetikkan sesuatu di ponselnya, di sebuah window chat di bawah nama Seokjinnie hyung.
Hyung… tadi aku menemukan Jimin mimisan. Bisakah kau menjemputnya ke sekolah?
Setelah mengetikkan dua kalimat itu, Taehyung memutuskan untuk memeriksa Jimin. Ia terlalu lelap dalam tidurnya, dan Taehyung sedikit merasa takut. Seseorang yang tengah sakit, tidak mungkin tidur lelap seperti Jimin sekararang.
"Jim, bangunlah…"
Tidak ada respon.
"Jim…" Taehyungpun memutuskan untuk menepuk – nepuk pipinya pelan. Tapi masih tak kunjung ada respon.
Iapun menarik kembali ponselnya dan mengetuk – ngetuk kembali layar ponselnya.
Lupakan! Aku ke rumah sakit sekarang.
"Persetan dengan laranganmu, Jim!"
Tanpa ragu Taehyung menarik Jimin untuk ia letakan di punggungnya. Dengan perasaan tak menentu, sepasang kaki jenjang itu berlari keluar dengan menggendong Jimin yang benar – benar tidak terbangun sama sekali. Taehyung berlari amat kencang membuatnya tidak sadar jika ponselnya terus bergetar di saku celana seragamnya.
.
.
Tiga jam sudah Taehyung diam di taman rumah sakit tempat Jimin dilarikan. Pikirannya melayang pada wajah Seokjin yang begitu panik melihat Jimin yang terkulai lemas di ranjang rumah sakit yang didorong para suster. Oh, jangan lupakan seragamnya yang kini bernodakan darah karena hidung Jimin kembali mengeluarkan darah saat ia menggendongnya tadi.
Taehyung menghela napasnya kasar. Baru saja ia dekat dengan Jimin, tetapi sebuah misteri sudah kembali menghantuinya. Matanya berkeliling mengitari taman rumah sakit. Berharap ada sesuatu yang bisa merebut atensinya dari pikiran – pikiran beratnya ini. Sepasang mata itu akhirnya bertumpu pada wanita paruh baya yang terpogoh – pogoh di Lorong rumah sakit di depannya.
Taehyung merasa pernah mengenal wanita itu. Bukan, ia memang benar – benar mengenalnya. Jadi setelah dirinya yakin, iapun kembali mambaw tungkai panjangnya itu berlari pada wanita itu.
"Ibu!" panggilnya pada wanita itu tanpa ragu.
Tubuh yang hampir tua itupun berbalik menghadap Taehyung. Matanya melebar karena tak percaya jika salah satu anaknya dulu kini berada di hadapannya. Sedetik kemudian, tubuh itu dipeluk hangat oleh seseorang yang dirindukannya.
"Ibu… ini aku, Taehyung. Kau masih mengingat anak nakalmu ini kan?"
"Ohh Tuhan… Kau sudah besar sekali, Taehyung. Ibu benar – benar merindukanmu," ujarnya dengan terus mengelus wajah Taehyung.
Mereka kini duduk di kursi tempat Taehyung tadi duduk. Mengadakan reuni kecil yang benar – benar tidak terencana.
"Tae juga sangat rindu pada ibu."
"Jadi, bagaimana keluargamu? Sedang apa kau di sini? Apa kau sakit?"
"Tidak bu, aku baik – baik saja. Kini aku tinggal dengan keluargaku yang baru, mereka tidak kalah baiknya dengan keluargaku yang lama. Tidak perlu diungkit bu, aku tak ingin membuatmu sedih."
"Kau harusnya menghubungi ibu, Tae. Bagaimanapun juga, tempatku masih rumah untukmu."
"Aku sungguh baik – baik saja, bu. Hmmm… bagaimana dengan Chimchim?"
Sang ibu menghela napas. Ia tau jika Taehyung pasti akan menanyakan sahabat kecilnya itu.
"Setelah kau pergi… keadaannya berubah, Tae. Ia pernah terjatuh dari tangga dan membuat dirinya kehilangan ingatan. Aku bahkan harus meyakinkan dirinya jika aku bukan orang jahat. Kemungkinan juga ia melupakanmu, Tae."
Hati Taehyung seperti diremas mendengar kenyataan bahwa sahabatnya melupakannya. Tetapi, dengan perasaan kecewa, Taehyung tetap ingin mendengar ceritanya.
"Lalu… apa dia sudah memiliki keluarga?"
"Dulu, ia pernah diadopsi oleh sebuah keluarga. Tetapi, tak sampai dua minggu ia tinggal di sana, keluarga itu dengan jahatnya mengembalikan ia padaku. Alasannya karena mereka baru mengetahui bahwa ia sakit. Ia sakit, Tae. Sahabatmu sakit parah."
"Bu…" air mata itupun turun, mendengar pernyataan sang ibu. Ia bahkan kesulitan menghirup udara di sekitarnya.
"Tetapi kini ia bersama keluarga barunya. Mereka sangat baik padanya, bahkan sang kakak berjanji akan menyembuhkannya. Aku hanya bisa berdoa untuk anak itu. Kau juga akan mendukungnya kan?"
Taehyung kembali terdiam. Ia ingin mengenyahkan semua fakta menyakitkan itu. Bagaimana bisa ia dulu meninggalkan sahabatnya seperti itu. Penyesalan menggunung di hati Taehyung. Seharusnya ia tidak pernah pergi. Seharusnya ia tidak pernah meninggalkan sahabatnya itu.
"Tae, ibu yakin ia membutuhkanmu. Walaupun tidak ingat padamu, kau masih akan menjadi sahabatnya kan?"
Yang ditanya masih terdiam.
"Ibu tau kau anak yang baik, dan kau menyayanginya. Daripada kau menyesalkan semuanya sekarang, bagaimana jika kau ikut dengan ibu untuk menjenguknya?"
Seketika mata yang berkaca – kaca itu menatap sang ibu yang kini tengah berdiri di hadapannya, menjulurkan tangannya dengan penuh kasih.
"Ia ada di sini, bu?"
Sang ibu menarik tangan dingin itu untuk mengikutinya. Taehyung yang mungkin ragu, tetapi tak juga menghentikan langkahnya. Ia terus mengikuti setiap langkan di hadapannya itu dengan kepala tertunduk, sampai tidak sadar jika ia sudah berada di depan kamar yang mungkin adalah kamar milik sahabatnya. Sahabat yang amat ia rindukan itu.
Saat akhirnya pintu itu terbuka, saat itu juga Taehyung mengangkat kepalanya untuk menghadapi orang di dalam sana. Jantungnya berdegup kencang, dan napasnya ia atur setenang mungkin.
"Ibu Nam?"
Suara seseorang mengalihkan atensi Taehyung dari ranjang yang terlihat kosong. Seokjin, sang kakak, kini berdiri di depannya terlihat panik. Bukankah terakhir kali ia melihat sang kakak, saat Jimin dibawa masuk olehnya?
'Jangan – jangan…'
"Seokjin-ah, apa yang terjadi? Di mana Jimin?" tanya Ibu Nam.
'Jimin… Jimin… Chimchim…'
"Jimin menghilang, bu."
Sesaat setelah Taehyung mendengar jawaban Seokjin, ia segera berlari untuk mengambil selimut dan keluar dari ruang rawat itu. Kecurigaannya tak mungkin salah. Jimin adalah sahabat kecilnya dulu, Chimchimnya yang manis dan polos. Itulah mengapa Taehyung seperti selalu merasakan hal aneh sejak pertama ia bertemu Jimin. Sesuatu yang terasa familiar tetapi tak dapan ia temukan kepingan memorinya itu. Busan… dan liontin di gelang Jimin… seharusnya ia langsung tau.
Langkah kakinya menapaki undakan tangga terakhir menuju rooftop rumah sakit itu. Perasaan Taehyung mengatakan jika Jimin berada di sana, dan ia tak mungkin salah. Tangannya bergerak cepat membuka pintu besi itu, yang menyuguhkan pemandangan seorang pemuda dengan baju pasiennya tengah duduk di lantai tanpa beralaskan apapun. Jimin, ada di sana.
Taehyung segera berlari dan memeluk tubuh yang terlihat lemah itu.
"Aku menemukanmu, Chim…" ujarnya lirih di tengah pelukan itu.
"Kau akhirnya tau..." senyuman getir itu dibumbui dengan air mata yang mengalir di pipinya. "Maafkan aku jika aku hanya akan menjadi luka bagimu…"
Taehyung terdiam seketika. Bukan, bukan hal itu yang ingin ia bahas kali ini. Walaupun mungkin itu akan menjadi luka baru baginya, tetapi ia tak akan menyesalinya. Taehyung bertekad akan menjaga Jimin, seperti dulu.
Taehyung melepaskan pelukannya guna melihat wajah yang seharusnya bisa ia langsung kenali saat pertemuan pertama mereka. Ia menghapus air mata di wajah pucat itu, dan memberikan senyuman hangatnya. Tak lupa ia membukus tubuh sahabatnya itu dengan selimut sebelum kembali menariknya ke pelukan hangatnya.
"Aku menemukanmu, Chim. Aku akan menjagamu, seperti dulu..."
"Taetae…"
Taehyung merindukan panggilan itu. Walaupun ia yakin jika Jimin masih tidak mengingatnya. Tidak apa, selama kini mereka telah kembali dipertemukan.
"Chimchim, sahabatku…"
.
.
.
TBC
.
.
.
Such a long drama, right? Just cannot get rid of this VMIN vibe dari pas Jimin sakit di Hongkon kemaren. Ergghhh their friendship is tooo daaaammnn qyuuuuttt
Chapter ini emang khusus untuk V. Karena (frankly speaking) aku terlalu biingung untuk nambahin terlalu banyak karakter. Jadi, kemungkinan chapter depan juga masih belum banyak yang muncul. Yup, I think it's gonna be such a long fanfic, heemmmm. I hope you will still hang in there.
Aku berpikir untuk pindah ke WP sih, cuma belom tau juga. Ada yang suka baca di WP juga?
Anyway, thanks for reading it!
Please leave your review :)
.
catastrophile101
